Category: Sejenak Merenung

  • SAHABAT: Dibutuhkan dan Membutuhkan

    Sahabat, salah satu kisah persahabatan yang paling indah dicatat dalam Alkitab adalah persahabatan Yonatan dan Daud.  Yonatan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri (1 Samuel 18:3).

    Ujian terberat dalam persahabatan diantara mereka adalah ketika Saul ayah Yonatan menyatakan sikap menjadikan Daud tidak hanya sebagai musuh pribadinya tetapi juga musuh negara. Saul berusaha melenyapkan Daud dari kehidupannya akibat kecemburuannya yang sangat besar terhadap keberhasilan Daud, selain itu juga untuk menjaga status dan kedudukannya dalam kerajaan. Saul melihat Daud sebagai ancaman bagi mahkotanya.

    Yonatan pasti berada di sisi yang sulit. Kalau ia memilih Daud maka ia akan di cap anak  durhaka, jika ia memilih berdiri di sisi ayahnya ia menghianati hati nuraninya sebagai seorang sahabat yang telah berjanji menjaga dan mengasihi sahabatnya. Tetapi Yonatan adalah seorang manusia yang memiliki komitmen tinggi kepada kebenaran. Ia memilih di sisi Daud bukan karena Daud sahabatnya tetapi karena Daud ada di pihak yang benar.

    Persahabatan tidak terjadi bila hanya seorang diri. Persahabatan bisa terjadi jika kita berinteraksi dengan orang lain. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, kita membutuhkan sahabat, dan kita dibutuhkan  untuk menjadi seorang sahabat.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Amsal dengan topik: “SAHABAT: Dibutuhkan dan Membutuhkan. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 17:1-28 dengan penekanan pada ayat 17. Sahabat, Walter Winchell, seorang wartawan dan juga komentator radio kenamaan Amerika berpendapat tentang arti seorang sahabat:  “Sahabat adalah seseorang yang menghampiri Anda, menemani Anda, di saat orang lain meninggalkan Anda.”  Artinya seorang sahabat  sejati   hadir bukan hanya di kala senang saja, melainkan juga saat susah. 

    Ayat 17 menyatakan: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”  Kualitas seorang sahabat akan teruji saat sahabatnya sedang berada di  “bawah”  atau jatuh atau disingkirkan banyak orang.  Karena didasari oleh kasih yang tulus, seorang sahabat akan tetap berada di sisi sahabatnya di segala keadaan dan mau menerima keberadaannya secara utuh apa adanya.

    Selain itu sahabat adalah orang yang tidak hanya sekadar menyenangkan hati sahabatnya semata, tetapi juga mau menegor dan ditegor, mau mengoreksi dan dikoreksi, yang kesemuanya itu demi kebaikan bersama.  Tidak seperti Yudas, meski secara kasat mata mencium Yesus, namun sesungguhnya ia menikam dari belakang dan mengkhianati Dia,  “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.”  (Amsal 27:6). 

    Sikap yang ditunjukkan Yudas adalah bentuk persahabatan yang palsu, penuh kepura-puraan karena ada motivasi yang terselubung.  Kasih yang tulus tidak mencari keuntungan diri sendiri  (1 Korintus 13:5).  Sahabat yang sejati juga akan menjaga komitmennya untuk tidak membuka rahasia pribadi sahabatnya ke orang lain demi kepentingan diri sendiri.  Kasih itumenutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.  (1 Korintus 13:7).

    Oleh karena itu  “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib.”  (ayat 9).  Kasih yang tulus identik dengan kesetiaan!  Tanpa kasih mustahil seseorang akan menunjukkan kesetiaan dengan sungguh.  Itulah sebabnya  “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; …”  (Amsal 19:22).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 27?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita perlu terus belajar saling mengasihi satu dengan yang lain, agar kita dapat menjadi sabahat yang baik dan benar bagi orang lain. (pg).

  • PERAN ALLAH Tak Tergantikan

    Sahabat, kecenderungan untuk berlindung pada sesuatu yang kelihatan kuat itu sebenarnya wajar (manusiawi), tetapi kurang tepat. Allahlah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan kita. Dalam kehidupan, kita pasti akan menjumpai berbagai kekuatan yang menakutkan di sekitar kita. Kekuatan yang menakutkan itu bisa berwujud suatu negara atau suatu bangsa, tetapi bisa juga berwujud seorang preman atau sebuah organisasi.

    Sesungguhnya satu-satunya yang patut kita takuti dan kepada-Nya kita harus takluk adalah Allah sendiri! Kita harus meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih kuat daripada Allah. Peran Allah tak tergantikan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “PERAN ALLAH Tak Tergantikan”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 18:1-7. Sahabat, ucapan Ilahi pada pasal 18-20 merupakan satu kesatuan, yaitu ucapan Ilahi bagi bangsa Etiopia dan Mesir yang adalah satu negara kesatuan. Khusus pasal 18 ini ditujukan kepada Etiopia. Ucapan Ilahi ini dimulai dengan teriakan: Wahai! (ayat 1)

    Yesaya menyebut Etiopia sebagai negeri dengan dengingan sayap (ayat 1) karena tempat ini penuh dengan berbagai jenis serangga. Orang Etiopia kulitnya mengkilap, jangkung, tangkas, ditakuti, ulet, dan lalim (ayat 2). Karena itulah Etiopia melihat citra dirinya sebagai bangsa yang tak terkalahkan. Mereka menawarkan dukungan kepada Yehuda dan bersepakat melawan Asyur.

    Etiopia begitu merendahkan Yehuda dan bertindak seolah-olah hanya mereka yang mampu memberikan pertolongan kepada Yehuda. Tindakan Etiopia ini mengundang murka Allah. Akibatnya, Allah akan memusnahkan mereka. Perkataan itu memberikan peringatan kepada Yehuda agar tidak mencari solusi lain di luar Allah (ayat 3) karena Allah akan memusnahkan musuh yang lalim itu dan membebaskan umat-Nya.

    Sahabat, keinginan bangsa Etiopia memberi pertolongan kepada Yehuda tidak didasari maksud yang baik untuk membebaskan mereka dari derita. Etiopia mengajak Yehuda bersekutu dan bersepakat menjalankan kepentingannya sendiri. Di mata Allah, tindakan Etiopia adalah mengambil alih peran Allah. Sesungguhnya peran Allah tak tergantikan.

    Allah memperingatkan kita untuk tidak menggantikan peran Allah dengan mencari pertolongan dari sumber lain. Pergumulan yang membuat kita tidak mampu berpikir jernih tidak bisa dijadikan alasan bahwa Allah tidak berdaya untuk menolong.

    Sahabat, situasi saat ini yang barangkali menekan kita, seperti kondisi kesehatan yang menurun atau perekonomian yang terguncang, hendaknya tidak menjadikan kita mengambil alih kendali kehidupan kita dari Tuhan.

    Allah sudah membebaskan Yehuda dari pergumulannya. Dia juga akan membebaskan kita asal kita tidak meremehkan kekuatan Allah dengan menggantikan peran Allah dengan kekuatan lain.

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pelajaran apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Satu-satunya yang patut kita takuti dan kepada-Nya kita harus takluk adalah Allah sendiri! Kita harus meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih kuat daripada Allah. (pg).

  • PERENCANAAN itu PENTING, TUHAN itu SEGALANYA

    Sahabat, seperti halnya menempuh perjalanan jauh untuk mencapai suatu tempat yang hendak dituju, demikian pula dengan kehidupan ini, kita pun harus memiliki tujuan yang jelas.  Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan perencanaan yang benar-benar matang.  Perencanaan itu bagaikan peta petunjuk yang menuntun kita kepada suatu tujuan.  Ada banyak orang mengingini kehidupan yang lebih baik dan bermasa depan cerah, namun dalam kehidupan sehari-hari mereka berlaku sembrono dan tidak memiliki perencanaan yang jelas.  Mungkinkah keinginannya bisa terwujud?

    Ada ungkapan berbunyi: “Orang yang tidak mempunyai rencana dalam hidupnya, sesungguhnya ia merencanakan kegagalan.” Ada satu lagi ungkapan yang berbunyi: “Kalau kita membuat perencanan dengan matang untuk program yang akan kita laksanakan, maka 50% dari keberhasilan program kita sudah ada di saku kita.”

    Perencanaan itu penting dan perlu tapi bukan segalanya. Hanya Tuhan yang segalanya.

    Hari ini kita masih sedang belajar kitab Amsal dengan topik: “PERENCANAAN itu PENTING, TUHAN itu SEGALANYA”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 16:1-16 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat,  Pengamsal memberikan nasihat abadi kepada para pembacanya bahwa “Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak” (ayat 16). Pertanyaannya: Bagaimana kita dapat memperolehnya? Dalam ayat 1-4, penulis Amsal menegaskan bahwa jawaban dari segala kehidupan dan pergumulannya adalah Tuhan Allah, bukan manusia.

    Sahabat, manusia memiliki hikmat dan pertimbangan, tetapi Allah yang menjadikan segala hal. Allah yang penuh kasih dan kemurahan memberikan undangan kepada manusia untuk bersekutu dengan-Nya (ayat  7). Karena itu amatlah penting bagi kita untuk mengenali nilai-nilai kebenaran dan mempraktikkannya (ayat 8-15).

    Sikap demikian hanya bisa diperoleh ketika kita belajar untuk menyerahkan segala rencana kita kepada Tuhan (ayat 3). Allah adalah TUHAN yang menciptakan segala sesuatu di dunia dengan arah dan tujuan masing-masing (ayat 4), dan Dia juga sanggup melihat dan menguji isi hati manusia (ayat  2, 5). Takut akan TUHAN haruslah menjadi sikap hidup yang mendasari semua perbuatan dan penilaian kita (ayat 6).

    Sahabat, hampir semua orang tahu bahwa keberhasilan itu tidak terjadi dalam waktu semalam, tidak ada keberhasilan tanpa harga yang harus dibayar.  Artinya keberhasilan merupakan sebuah proses dan setiap proses selalu diawali dengan perencanaan dan kemudian diikuti dengan komitmen yang tinggi, kerja keras, ketekunan, dan menyerahkan segala rencana dan pekerjaan kita kepada Tuhan. 

    Mengapa kita harus menyerahkan segala rencana dan perbuatan kita kepada Tuhan? Itu karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan. Kita hanya bisa memprediksi sesuai dengan kemampuan analisa kita tetapi yang tahu dengan  pasti hanya Tuhan. Selain itu, hanya Allah yang berkuasa menjadikan segala hal.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menyusun rencana dalam iman berarti menyusun rencana dengan mengandalkan penyertaan Tuhan. (pg).

  • TRANSFORMASI HIDUP

    Sahabat, hari ini, 29 September 2022, atas kasih karunia Tuhan, saya dapat mensyukuri ulang tahun saya yang ke-66. Ulang tahun menjadi momen yang  menyenangkan bagi saya. Pertambahan usia menandai begitu banyak pengalaman hidup yang telah saya alami:  Ada suka dan duka, ada belajar dan mengajar, ada mendapat dan memberi, ada masalah dan solusi. Singkatnya, saya selalu mengalami transformasi di sepanjang hidup.

    Sesungguhnya jika kita dapat menjalani hari-hari hingga detik ini dan bisa menikmati berkat-berkat-Nya, itu semua adalah karena anugerah-Nya semata.  Kalau bukan karena tangan Tuhan yang menuntun dan menopang, kita pasti tidak memiliki kesanggupan untuk menjalani dan melewati hari-hari yang berat selama lebih dari dua tahun terakhir ini. 

    Karena itu kita harus tetap berkeyakinan bahwa di hari-hari mendatang Tuhan pasti tetap menyertai dan terus melanjutkan perbuatan baik-Nya atas kita,  “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”  (Filipi 1:6).

    Hari ini dalam rangka mensyukuri ulang tahun saya, kita akan merenungkan satu topik: “TRANSFORMASI HIDUP”. Bacaan Sabda saya ambil dari 1 Korintus 15:1-11 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, seringkali kita merasa tidak puas dan menggerutu dengan keadaan kita saat ini, Pengalaman buruk di masa lalu terkadang terus menghantui perjalanan hidup kita. Inilah yang membuat kita tak dapat mengucap syukur kepada Tuhan. Andaikata kita dapat menyadari keadaan diri sendiri, seberapa kekuatan atau kelemahan kita, kita akan lebih dapat menerima diri kita sebagaimana adanya.

    Sahabat, bagaimana pun keadaan kita di masa lalu janganlah menjadi masalah yang dibesar-besarkan. Yang penting adalah keadaan kita sekarang ini yaitu “…bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan , dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci,” (ayat 3b-4). Keberadaan kita adalah karena kasih karunia Allah.

    Rasul Paulus tidak merasa rendah diri atau menyalahkan dirinya di masa lalu. Sebaliknya dia semakin giat bekerja buat Tuhan tanpa merasa lelah atau menggerutu meski harus menghadapi banyak penderitaan. Paulus mengakui, “…aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetap karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (ayat  9-10).

    Sahabat, pernahkah kita merenungkan waktu dan peristiwa hidup yang telah kita tempuh sampai saat ini? Apakah kita sungguh menyadari bahwa ada begitu banyak pemberian Allah yang membuat kita ada sebagaimana adanya saat ini? Memang, tidak semua berupa pengalaman yang manis. Mungkin saat ini juga kita sedang mengalami pergumulan yang berat. Tetapi, biarlah kita tetap percaya bahwa kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepada kita tidak sia-sia. Selalu ada transformasi kehidupan di dalam kasih karunia-Nya. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini,jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pertolongan dan berkat Tuhan pasti datang tepat pada waktunya. (pg).

  • JAGALAH Perkataan Kita

    Sahabat, seorang perempuan kulit putih mengajak anaknya naik taksi yang dikemudikan laki-laki  berkulit hitam. Anak tersebut baru pertama kali melihat orang berkulit hitam sehingga ia ketakutan, “Bu, apakah orang itu penjahat? Apakah yang dilakukannya sehingga kulitnya begitu hitam?”

    Sang sopir terdiam sedih. Ibu itu menjelaskan, “Bukan, Nak. Ia orang yang baik. Kamu ingat ketika kita bermain di kebun bunga? Ingat biji-biji bunga yang kita lihat itu? Banyak yang berwarna hitam, tetapi bunga yang memenuhi taman itu berwarna-warni!” Anak itu mengangguk-angguk. Kini ia tersenyum, tidak takut lagi pada sang sopir taksi.

    Sahabat, menjaga sikap, tingkah laku dan perbuatan itu baik dan perlu. Namun jangan lupa bahwa ada bahaya yang mengancam lewat mulut yang tidak terjaga. Karena itu jagalah perkataan kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Amsal dengan topik: “JAGALAH Perkataan Kita”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 15:1-33 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, topik hari ini mengingatkan kita agar berhati-hati dengan mulut/ucapan kita, karena kekuatan dari perkataan  sangat luar biasa.  Apalagi kita sebagai orang percaya harus bisa menjadi teladan/kesaksian bagi orang-orang di luar Tuhan, salah satunya melalui perkataan  (1 Timotius 4:12b).

    Di ayat pertama, penulis Amsal 15 membandingkan antara jawaban yang lemah lembut dengan perkataan yang pedas.  Di ayat yang kedua, dia membandingkan antara lidah orang bijak dengan mulut orang bebal. Sedangkan di ayat ketujuh, dia membandingkan bibir orang bijak dengan hati orang bebal.

    Lebih lanjut Sang Penulis menjelaskan bahwa  hati orang benar menimbang-nimbang jawabannya, tetapi mulut orang fasik mencurahkan hal-hal yang jahat (ayat 28). Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan (ayat 2), tetapi lidah curang melukai hati (ayat 4).

    Menyadari betapa besar peran perkataan,  Pemazmur memiliki tekad, untuk menjaga diri, supaya jangan berdosa dengan lidahnya, ia hendak menahan mulutnya dengan kekang (Mazmur 39:2), dan memohon Tuhan untuk mengawasi mulut dan berjaga pada pintu bibirnya (Mazmur 141:3).

    Pengalaman hidup kita dalam bermasyrakat bercerita bahwa cukup banyak orang menggunakan mulutnya untuk mengucapkan kata-kata yang melemahkan dan menghancurkan kehidupan orang lain. Hampir setiap berbicara, dari mulutnya keluar:  Silet, pisau, parang, clurit, golok, samurai,  yaitu perkataan yang menyayat, menyakiti, melukai dan memedihkan perasaan orang lain.

    Sahabat, hendaklah kita menggunakan mulut secara bijak sehingga jawaban dan penjelasan kita dapat membangun, menguatkan orang lain, menenangkan dan menyejukkan suasana.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Yakobus 1:26?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” (Amsal 21:23). (pg).

  • KEANGKUHAN mendatangkan HUKUMAN

    Sahabat, kapan biasanya kita mendengar orang meratap dan berkabung?  Ketika kita menghadiri sebuah acara pemakaman, atau ketika kita ditinggalkan oleh orang yang terkasih untuk selama-lamanya  Saat kita sedang berada di rumah duka dalam keadaan meratap dan berkabung saat itulah kita menyadari betapa fananya kehidupan manusia di dunia ini;  dan kita pun diingatkan untuk lebih memperhatikan hidup, tidak lagi sembrono dan menghargai betapa pentingnya waktu dan kesempatan.

    Dalam kitab Yesaya 15:2 dinyatakan bahwa ratapan dan perkabungan harus dialami oleh orang-orang di Moab.  Tuhan menjatuhkan hukuman dan malapetka atas mereka oleh karena mereka memberontak kepada Tuhan dan melakukan banyak kejahatan. 

    Kita tahu bahwa orang-orang Moab adalah keturunan Lot dari hasil inses (persetubuhan   sedarah)  dengan anak kandungnya.  Suku bangsa Moab dikenal sebagai suku bangsa yang keras kapala dan tegar tengkuk. Suku bangsa Moab adalah suku bangsa yang angkuh, mereka lupa akan asal-usul mereka yang dicap menjadi kekejian bagi TUHAN, bahkan sampai TUHAN melarang suku bangsa Moab untuk masuk menjadi bagian di dalam rumah TUHAN (Ulangan 23:3). Keangkuhan mereka mendatangkan hukuman yang mengerikan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “KEANGKUHAN mendatangkan HUKUMAN”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 15:1 – 16:14. Sahabat, Allah mengizinkan Asyur menghancurkan dua kota paling penting di Moab, yaitu Ar-Moab dan Kir-Moab dalam satu malam (Yesaya 15: 1).

    Penduduknya berlarian karena tidak bisa menyelamatkan diri. Siapa yang mampu menolong mereka? Orang Moab pergi ke bukit-bukit penyembahan untuk menyembah dewa-dewi sembahan mereka di Dibon (Yesaya 15:2), padahal berhala itu hanya diam dan tidak mampu berbuat apa-apa. Tindakan mereka itu membuat Allah makin murka.

    Jeritan dan perkabungan terdengar di seluruh kota. Tentara yang gagah sekalipun tak mampu bertindak. Atas segala penderitaan yang terjadi, Yesaya menjerit karena tak sanggup menyaksikannya (Yesaya 15:2-9).
    Gambaran dari penghakiman dan penghukuman TUHAN kepada Moab dipaparkan dalam Yesaya 16:7-8.


    Sahabat, Allah bukan tidak pernah memberikan peringatan kepada Moab agar bertobat, menanggalkan keangkuhannya, lalu berpaling kepada Allah dan menyembah-Nya. Ada keselamatan melalui takhta Daud.

    Rencana Allah untuk menyelamatkan Moab dari kebinasaan bukan tidak pernah disampaikan nabi kepada mereka. Karena keangkuhan, mereka tidak mau mendengarkan dan tunduk kepada perkataan Allah.

    Peristiwa kehancuran Moab membuktikan bahwa Allah tidak kompromi terhadap umat yang menyembah berhala. Tetapi melalui Mesias, Allah menyediakan keselamatan bagi mereka yang mau bertobat dan setia kepada-Nya.

    Sahabat, keangkuhan  akan mendatangkan penghakiman dan penghukuman. Di satu sisi,  keangkuhan seseorang akan membuatnya mengandalkan dirinya sendiri; dan di sisi yang lain,  keangkuhan itu membuatnya menolak TUHAN dan tidak percaya kepada-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari Yesaya 15:2-9?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Yesaya 16:7-8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.”  (Ayub 5:17). (pg).

  • MENYEMBAH BERHALA: Membuat TUHAN MURKA

    Sahabat, mendengar kata berhala, hampir semua orang pikirannya langsung tertuju kepada sesuatu yang berwujud patung, pohon besar, kuburan kuno, keris, ukiran, jimat, atau hal-hal yang berkaitan dengan dunia perdukunan atau paranormal, yang didewakan, disembah, dikultuskan, diagungkan dan dipuja-puja.  Itu tidak salah!  Semuanya adalah bentuk-bentuk berhala yang secara kasatmata dapat terlihat, di mana cukup banyak orang datang untuk menyembah. 

    Tapi dalam teks bahasa Yunani, berhala adalah idololatres, ini berkaitan erat dengan pengabdian atau pelayanan.  Jadi berhala adalah sesuatu yang menggerakkan seseorang untuk melakukan pengabdian atau pelayanan terhadap suatu obyek tertentu, selain Tuhan.

    Satu hal yang sudah pasti, menyembah berhala membuat Tuhan murka. Menyembah berhala membuat Tuhan menghakimi dan menghukum siapa yang melakukannya. Waspadalah!

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “MENYEMBAH BERHALA: Membuat TUHAN MURKA”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 17:1-14 dengan penekanan pada ayat 7-8. Sahabat,  Tuhan tegas melarang umat ciptaan-Nya menyembah berhala atau membuat patung untuk disembah (Imamat 19:4). Secara logika saja jelaslah bahwa berhala atau patung adalah buatan tangan manusia sendiri, mungkinkah ia dapat menolong dan menyelamatkan para pemujanya?

    Kehancuran Moab diikuti oleh kehancuran bangsa-bangsa lain. Hal itu karena mereka melupakan Allah dan kebenaran-Nya. Sungguh tragis. Hal ini merupakan ucapan Allah yang diberikan melalui nabi Yesaya.

    Damsyik (ibukota Kerajaan Aram) akan dihancurkan: Rumah, gerbang, dan benteng-bentengnya akan diruntuhkan, dan penduduknya dijadikan tawanan. Kemuliaan Damsyik dihancurkan menjadi reruntuhan dan puing-puing. Efraim (Kerajaan Israel Utara)  pun akan dibuat-Nya menderita. Benteng-benteng Israel dan kerajaan sepuluh suku akan hancur. Kubu-kubu akan hilang dari Efraim karena Efraim bersekutu dengan Aram dan bersepakat menyerang Yehuda secara biadab (ayat 1-6).

    Allah murka kepada mereka yang ikut serta mengambil bagian dalam tindakan dosa. Perbuatan mereka setimpal dengan hukuman yang mereka terima. Pada akhirnya, mereka yang tersisa meninggalkan berhala dan berbalik kepada Allah Israel.Tak ada gunanya bersandar pada berhala karena ilah buatan manusia tidak bisa membantu umatnya (ayat 7-8).

    Selain itu, Allah bukan hanya menghardik, tetapi juga menghancurkan bangsa-bangsa yang terus-menerus meneror dan mengancam umat Allah. Dalam sekejap Allah menghancurkan kekuatan para musuh, sekalipun kekuatan mereka terlihat tangguh (ayat 10-14).

    Sahabat, masalah penyembahan berhala bukanlah masalah yang sepele atau bisa kita remehkan.  Jika kita melanggarnya ada konsekuensi yang harus kita tanggung. Tuhan yang adalah Sang Pencipta langit dan bumi dan segala isinya, tidak menghendaki umat yang diciptakan-Nya menyembah kepada allah lain, selain Dia, Tuhan yang hidup dan berkuasa, yang bertahta di dalam Kerajaan Surga.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Peringatan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di mata Tuhan menyembah berhala adalah dosa yang sangat mematikan, sebab Ia telah berfirman:  “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”  (Keluaran 20:3). (pg).

  • Firman-Mu TAKKAN KULUPAKAN

    Sudahkah Sahabat MEMBACA ALKITAB sampai tuntas, mulai dari kitab Kejadian sampai dengan kitab Wahyu?  Jawabannya mungkin beragam.  Ada yang sudah. Ada yang belum. Tapi mesti banyak yang belum. Meski sudah menjadi orang percaya bertahun-tahun, masih belum mampu menyelesaikan pembacaan Alkitab secara tuntas. 

    Sementara kita sering mendengar banyak orang dari kepercayaan lain justru sudah membaca kitab suci mereka sampai khatam  (tamat)  berkali-kali.  Mungkin kesibukan menjadi alasan klise bagi orang percaya sehingga belum sempat membaca Alkitab secara teratur setiap hari atau bahkan tidak pernah membaca Alkitab, kecuali ketika di gereja. 

    Kalau membaca Alkitab saja kita sering bolong-bolong, bagaimana mungkin kita berani berkata: Firman-Mu takkan kulupakan?

    Hari ini, 20 September 2022,  sebagai Keluarga Besar Yayasan Christopherus kita memperingati HUT ke-2 program video “Satu Menit Bersama Andreas Christanday”. Maka “Sejenak Merenung” pada hari mengangkat topik khusus: “Firman-Mu TAKKAN KULUPAKAN” dengan Bacaan Sabda yang saya ambil dari Mazmur 119:1-16 dengan penekanan pada ayat 16.

    Sahabat, Mazmur 119 unik. Pertama, merupakan mazmur terpanjang. Kedua, mazmur ini dalam bahasa aslinya (Ibrani) ialah puisi akrostik. 176 ayatnya disusun menjadi 22 bait. Setiap bait terdiri dari 8 baris (ayat). Bait pertama setiap barisnya dimulai dengan abjad pertama huruf Ibrani. Demikian seterusnya sampai bait yang ke-22, dimulai dengan abjad terakhir.

    Pemazmur menyatakan bahwa orang yang berbahagia adalah yang memegang firman Tuhan dalam hidupnya, yang artinya melakukan firman (ayat 1-3). Tidak mungkin bisa tetap hidup kudus jika tidak menghidupi firman Tuhan, sebab kekuatan dan hikmat untuk menghadapi dunia hanya dapat diperoleh dalam firman. Bagi Pemazmur, saat ia hidup dalam firman, ia tidak akan mendapat malu (ayat 6).

    Sahabat, Pemazmur tidak menganggap firman Tuhan hanya sesuatu yang sambil lalu dalam hidupnya, juga bukan hanya direnungkan saat diperlukan. Ia rindu akan firman Tuhan. Ia menyimpan dan menjaganya dengan baik di dalam hatinya sehingga itulah yang menuntun jalan hidupnya setiap hari (ayat 11). Baginya, firman Tuhan bukanlah beban, melainkan pembawa sukacita. Pemazmur tidak menyimpan firman itu untuk dirinya sendiri; ia membagikannya dan mengajarkannya kepada orang lain (ayat 12-13).

    Bagaimana agar kita dapat tetap hidup dalam firman-Nya? Bagaimana caranya agar kita tidak melupakan firman-Nya?  Pertama, menyediakan waktu untuk membaca dan mempelajari firman-Nya. Kedua, belajar untuk menghafal ayat-ayat firman Tuhan. Ketiga, mempraktikkan firman yang telah dipelajari dan mengingatnya dalam langkah hidup setiap hari. Firman yang telah dipelajari dan diingat itu akan berakhir sia-sia jika tidak pernah diterapkan dalam kehidupan sehari demi sehari.

    Tindakan mengingat firman-Nya diperlukan supaya firman itu benar-benar menguasai seluruh pikiran, sehingga mengalir keluar dalam setiap perkataan maupun tindakan yang kita lakukan.

    Sahabat, oleh sebab itu, mari kita senantiasa mempelajari, mengingat, dan melakukan firman-Nya. Marilah kita hidup dalam firman-Nya agar kita mampu menghadapi dunia ini, dan menjaga kekudusan hidup sampai kita bertemu kembali dengan Tuhan kita di surga kelak dalam kekudusan dan kemuliaan-Nya. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesibuk bagaimana pun kita, mari meluangkan waktu untuk sesuatu yang paling penting yaitu mendalami firman-Nya. Salah satu cara dengan menyaksikan video program “Satu Menit Bersama Andreas Christanday” setiap hari. (pg).

  • Orang BEBAL itu MENGESALKAN

    Siapa yang mau disebut atau dijuluki sebagai ORANG BEBAL?  Saya yakin hampir tidak ada yang mau. Kemungkinan besar ia akan marah besar dan tersinggung bila dikatakan sebagai orang bebal, sebab berbicara tentang orang bebal selalu mengacu kepada orang yang sepertinya tidak dapat berubah lagi hidupnya, hatinya sangat keras  (membatu)  karena tidak mau menerima nasihat dan teguran. 

    Sahabat, orang bebal adalah orang yang tidak mau dan sulit menerima nasihat dan teguran dari firman Tuhan atau pun dari sesamanya.  Ia selalu merasa diri sebagai orang yang benar dan tidak pernah melakukan suatu kesalahan, karena itu ia mencari berbagai alasan untuk selalu membenarkan diri sendiri dan merasa tidak perlu diajar dan digurui oleh orang lain. 

    Ia menganggap yang harus berubah itu orang lain, bukan dirinya.  Orang bebal adalah orang yang tidak pernah mau belajar dari pengalaman, sehingga ia berkali-kali melakukan kesalahan yang sama, tapi tidak pernah disadari atau pura-pura tidak sadar.  Penulis Amsal menyatakan,  “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.”  (Amsal 26:11). Wuuuiiih benar-benar orang bebal itu mengesalkan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “Orang BEBAL itu MENGESALKAN.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 14:1-20 dengan penekanan pada ayat 16. Sahabat, Amsal 14 menguraikan perbandingan jalan orang bijak dengan orang bodoh. Si bijak membangun rumah yang kokoh, sementara si bodoh membangun rumah yang rapuh (ayat 1) Jalan orang bodoh digambarkan sebagai: Menghina Tuhan (ayat 2), membenci teguran dan didikan (ayat 3), merendahkan agama (ayat 9), melampiaskan nafsu (ayat 16), dan lekas naik darah (ayat 17) .

    Pada dasarnya, mereka tidak memiliki rasa takut dan hormat kepada Tuhan (ayat 2). Ayat kunci yang membedakan kedua jalan ini didasarkan pada Amsal 14:12, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Amsal mengajarkan kita untuk hidup dalam kekudusan menurut jalan Allah. Namun ada orang-orang yang mencoba untuk hidup kudus tanpa melibatkan Allah. Mereka percaya bahwa “kesucian” adalah sebuah lencana yang bertuliskan “Lihatlah Betapa Istimewanya Aku.” Dengan kata lain, kekudusan mereka diperoleh dari banyaknya perhatian manusia, bukan dari Allah.

    Sahabat, dua orang jatuh ke dalam lubang. Yang pertama seorang anak kecil yang belum bisa membaca tanda peringatan tentang lubang tersebut. Yang kedua seorang dewasa yang meskipun sudah membaca tanda peringatan, memilih untuk mengabaikannya. Apakah perbedaan keduanya? Si anak kecil celaka karena ketidaktahuan, tapi si orang dewasa celaka karena kebebalan. Yang pertama bisa kita maklumi, yang kedua tentu  tidak.

    Orang bebal adalah orang yang meskipun sudah mengerti kebenaran, diajar tentang kebenaran, mereka tetap saja hidup menyimpang dari kebenaran.  Sekalipun tahu sesuatu tidak boleh dilakukan, mereka tetap saja melakukan yang dilarang,  “Berlaku cemar adalah kegemaran orang bebal,”  (Amsal 10:23).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup dalam kebebalan adalah pintu menuju kepada kehancuran hidup! (pg).

  • Ada HARAPAN di MASA DEPAN

    Coba amati ketika sebuah  mobil sedang berjalan, rodanya  terus berputar. Tentu ada bagian yang kadang di atas dan kadang di bawah. Kehidupan manusia pun seperti roda. Saat di bawah, ingatlah bahwa kita pernah di atas. Saat di atas, ingatlah juga bahwa kita pernah di bawah.

    Sahabat, ketika seseorang mengalami hidup yang tidak menentu karena kekalahan, penindasan, penawanan, dan serangan musuh, seringkali ia tidak dapat lagi melihat adanya harapan untuk masa depan.

    Sebaliknya orang yang mengalami kemapanan hidup menjadi angkuh karena apa yang telah ia capai sehingga ia merasa bahwa masa depannya terjamin turun temurun. Kedua hal yang terjadi di atas dapat berubah.

    Orang yang percaya kepada Tuhan tidak perlu kehilangan pegangan hidup walau sedang dalam keadaan susah. Ingatlah selalu ada HARAPAN di MASA DEPAN. Di lain pihak, seseorang tidak seharusnya menjadi sombong hanya karena telah memiliki segala sesuatu.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Ada HARAPAN di MASA DEPAN.” Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 14:1-23, Sahabat,  Israel pernah berada di titik terendah dalam kehidupan mereka: Dibuang ke Babel dan dipaksa bekerja sebagai budak selama 40 tahun. Sementara, Babel pernah berada dalam situasi kehidupan paling tinggi: Bangsa yang besar, hebat, dan berkuasa. Babel berhasil menaklukkan Siria, Mesir, Aram, Filistin, dan Israel.

    Keberadaan yang kontras antara Israel yang di bawah dan Babel yang di atas dinubuatkan secara terbalik oleh Nabi Yesaya. Israel yang rendah akan ditinggikan, dibebaskan dari perbudakan (ayat 4), menjadi pemimpin dari bangsa-bangsa (ayat 2-3), pulang kembali ke tanah airnya.

    Sedangkan Babel yang berada di posisi tinggi yang digambarkan sebagai Bintang Timur dan Putra Fajar (ayat 12) akan direndahkan. Kerajaan ini akan mengalami kehancuran kekal. Penyebab utama kehancuran Babel adalah kesombongannya. Babel ingin menjadi sama seperti Allah, bahkan lebih tinggi dari Allah. Inilah yang membuat murka Allah jatuh menimpa Babel (ayat 13-14).

    Sahabat, karena itu, bagi kita yang saat ini merasa di bawah, janganlah tawar hati, sedih, atau putus asa. Tuhan senantiasa memberikan pengharapan serta jalan keluar yang terbaik. Habis hujan tampak pelangi. Badai pasti berlalu, asalkan kita mau taat dan setia serta mengandalkan Tuhan. Di dalam Tuhan ada HARAPAN di MASA DEPAN.

    Sementara itu, bagi kita yang merasa di atas, janganlah sombong, apalagi takabur, lalu merendahkan orang-orang yang sedang berada di bawah. Justru sebaliknya, mari kita pergunakan kekayaan dan kesempatan yang Tuhan berikan untuk makin mengasihi dan menolong banyak orang, terutama mereka yang saat ini mengalami situasi hidup yang sulit karena merosotnya perekonomian. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat dapatkan dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita tetap berjalan dengan mata yang tertuju kepada Tuhan dan berharap penuh kepada-Nya apa pun yang terjadi. (pg).