Category: Sejenak Merenung

  • BUMI DIHANCURKAN

    Sahabat, Yesaya 24 berkisah di zaman Pra Pembuangan. Dalam dunia perdagangan di Yehuda muncul orang-orang kaya yang berkolusi dengan para penguasa sehingga menimbulkan gejolak-gejolak sosial dan kemerosotan moral, munculnya jurang pemisah antara kaya dan miskin, keadilan dan kebenaran dilecehkan dan dijungkir balikkan.

    Lebih parah lagi Yehuda tidak mengandalkan kekuatan dan pertolongannya kepada Tuhan, melainkan pada bangsa Asyur. Bangsa Asyur ini yang nantinya dipakai Tuhan untuk menghukum Yehuda karena kejahatannya dan kemurtadannya. Namun juga, oleh karena kesombongan bangsa Asyur sendiri, bangsa Asyur tak luput dari hukuman Tuhan.

    Yesaya telah menerangkan pada pasal pasal 13-23 bahwa dosa sudah mengakar di antara bangsa-bangsa, termasuk Yehuda dan Israel (Utara) yang seharusnya menjadi terang bagi dunia ini. Maka pada pasal 24-27 Tuhan menyatakan akan membuat perubahan besar dengan mengembalikan kerajaan Israel ke keadaan semula. Pasal 24-27 berisi nubuat tentang akhir zaman. Khusus untuk pasal 24 diberi judul: Bumi dihancurkan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “BUMI DIHANCURKAN”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 24:1-23. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini  Yesaya  bernubuat tentang kehancuran seluruh isi bumi. Jika hal itu terjadi, semua orang akan bernasib sama (ayat 1-2). Tidak ada satu pun dari umat manusia yang bisa menghindarinya. Itulah hukuman Allah kepada manusia yang melanggar ketetapan-Nya.

    Dalam situasi seperti itu, air anggur tidak menggirangkan lagi (ayat 7). Semua orang akan mengeluh karena suasana mencekam. Arak menjadi pahit dan rumah-rumah tidak dapat dimasuki lagi (ayat 9-10). Banyak orang menjerit, sukacita dan kegirangan hilang tak bersisa.

    Bumi akan hancur luluh (ayat 19), bergoncang terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Dosa pemberontakannya akan menimpanya dengan sangat hebat. Dia akan rebah dan tidak akan bangkit lagi. Allah akan menghukum langit dan raja-raja. Mereka dikumpulkan seperti tanaman dimasukkan ke liang. Bulan purnama tersipu dan matahari akan malu melihat keadaan bumi dan penduduknya.

    Sahabat, kengerian hari kiamat hendaklah membawa kita pada pertobatan. Dia yang memerintah alam semesta akan menunjukkan kemuliaan-Nya. Keadilan-Nya menyelamatkan orang yang hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

    Ya bumi akan dihancurkan, namun kita tidak perlu takut. Saat kita hidup di jalan Allah, berjalan bersama Dia dalam kehendak-Nya, maka dalam lembah kekelaman sekalipun, tidak ada bahaya.

    Sahabat, hari kiamat adalah hari Allah menghakimi manusia. Semua akan diadili menurut perbuatannya masing-masing. Orang-orang yang percaya kepada Kristus akan diselamatkan. Mereka akan mengenakan pakaian putih sebagai tanda telah dikuduskan. Nama mereka tercatat dalam buku kehidupan dan mereka mengenakan mahkota kehidupan. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berusahalah terus untuk menjadi umat Tuhan yang setia, patuh dan taat kepada-Nya. Menjaga apa yang baik yang Tuhan cipta bagi kita. (pg).

  • Tiada yang dapat MENANDINGI TUHAN

    Sahabat, tidak semua orang yang percaya kepada Tuhan mengenal pribadi-Nya dengan benar dan intim. Adakalanya, pengenalan kita terhadap Tuhan karena kepentingan dan ego pribadi. Ada juga orang yang memahami Tuhan berdasarkan khayalan pikiran yang sempit. Ternyata, itu bukanlah Tuhan yang dinyatakan Alkitab. Apakah kita mengenal Tuhan dengan benar?.

    Pengenalan bahwa Tuhan itu sangat besar dan TAK TERTANDINGI akan menyebabkan ungkapan pujian yang semakin besar kepada Allah. Semakin biasa dan datar sebuah ungkapan pujian seseorang menunjukkan kadar pengenalannya akan Allah juga biasa-biasa saja.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “Tiada yang dapat MENANDINGI TUHAN”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 21:16-31 dengan penekanan pada ayat 30. Sahabat, Kitab Amsal kental sekali dengan pengajaran tentang kehidupan orang yang berhikmat dan yang tidak berhikmat, seperti halnya yang terdapat pada bacaan kita pada hari ini.

    Sekali lagi, pengamsal memberikan gambaran yang mendetail tentang kehidupan ORANG YANG TIDAK BERHIKMAT sebagai berikut:  Orang yang tidak mau menerima pengajaran(ayat 16); orang yang suka berfoya-foya dan gila harta (ayat 17); orang fasik dan pengkhianat (ayat 18 dan 27); orang yang suka bertengkar dan pemarah (ayat 19); orang yang bebal (ayat 20); orang yang kurang ajar dan sombong (ayat 24); dan orang yang malas (ayat 25).

    Sahabat, jika dilihat dari penampilan luar, orang yang tidak berhikmat tampaknya berkuasa dan kuat. Tetapi, sekuat apapun kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki orang yang tidak berhikmat, sesungguhnya kemenangan ada di tangan Tuhan (ayat 31).

    Sedangkan ORANG YANG BERHIKMAT dipaparkan oleh Pengamsal sebagai berikut: Orang yang mengejar kebenaran dan kasih (ayat 21); orang yang memelihara mulut dan lidahnya (ayat 23); orang yang suka memberi (ayat 26); orang yang bersedia mendengarkan keluhan dan penderitaan orang lain (ayat 28); dan orang yang jujur (ayat 29).

    Sahabat, sedalam apapun hikmat yang dimiliki oleh seseorang, Pengamsal mengingatkan bahwa tidak ada HIKMAT dan PENGERTIAN yang DAPAT MENANDINGI KEMAHATAHUAN TUHAN (ayat 30).

    Pengajaran amsal pada bagian ini sangat indah, karena mengingatkan kita sekali lagi SIAPAKAH KITA di hadapan Tuhan. Apapun yang kita perbuat, Tuhan tahu. Sebesar apapun kekuatan kita, tetap tidak dapat menandingi kemahakuasaan Tuhan. Sedalam apapun hikmat yang kita miliki, TIDAK DAPAT MENANDINGI HIKMAT TUHAN.

    Semua itu disebabkan oleh status serta kedudukan Tuhan sebagai Pencipta semesta alam, sedangkan kita hanyalah ciptaan-Nya yang fana. Kiranya pemahaman ini mendorong kita untuk lebih mengagumi, mengasihi-Nya, serta hidup seturut kehendak-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 28?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tetaplah bertekun di dalam Tuhan karena kemenangan orang percaya ada di dalam Dia sepenuhnya.  (pg).

  • Menjadi KAYA itu BOLEH

    Sahabat, KESOMBONGAN adalah dosa yang sering  kurang disadari oleh banyak orang, termasuk orang percaya, padahal dosa ini mengantarkan si pelaku kepada kehancuran. 

    Ada pun ciri-ciri orang yang berlaku sombong adalah:  Merasa diri hebat, paling benar dan patut dihormati.  Orang yang berlaku demikian memiliki kecenderungan untuk merendahkan orang lain.  Sadar atau tidak kesombongan akan terus membawa orang kepada dosa-dosa yang lain. 

    Sahabat, kesombongan sering kali menjadi pemisah dalam sebuah relasi. Sebab, kesombongan membuat kita merasa lebih baik daripada orang lain. Ironisnya, manusia berani menyombongkan diri di hadapan Allah Yang Mahakuasa dan Empunya segalanya. Jadi, tidaklah mengherankan jika dikatakan bahwa kesombongan manusia mendahului kejatuhan dan kehancurannya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Menjadi KAYA itu BOLEH”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya  23:1-18. Sahabat, topik kita pada hari ini: Menjadi kaya itu boleh. Lalu apa yang tidak boleh? Jelas, yang TIDAK BOLEH itu kalau kita menjadi orang kaya kemudian kita MENJADI SOMBONG.

    Kesombongan itulah yang dilakukan oleh penduduk Tirus dan Sidon sehingga Allah menghukum mereka (ayat 9). Kedua kota itu  maju, menjadi pusat perdagangan, dan memiliki pelabuhan terbesar pada masa itu. Kehidupan penduduknya sangat sejahtera karena memiliki kekayaan besar. Kota Tirus dan Sidon merupakan kota yang kaya raya. Penduduknya banyak yang menjadi saudagar yang kaya. (ayat 8)

    Sayangnya, kekayaan itu hanya sebatas materi, tidak diikuti dengan kekayaan

    Moral. Hati dan perbuatan mereka penuh dengan kejahatan. Mereka menjadi sombong. Allah tidak menyukai kesombongan. Sebab, hal tersebut merusak atau memisahkan relasi antara kita dengan-Nya..

     Maka tidak heran jika banyak nabi yang diutus Allah untuk menegur mereka. Misalnya, Yeremia, Yehezkiel, Yoel, Amos, Zakharia, dan termasuk Yesaya. Tujuannya supaya mereka bertobat dan terhindar dari penghukuman Allah. Namun, mereka tidak mau mendengarkan teguran itu. Mereka justru semakin tenggelam dalam kejahatan dan tidak mau bertobat. Akibatnya, Allah menyatakan penghukuman-Nya (ayat 11).

    Oleh sebab itu, marilah kita mencoba memeriksa hati dan mengevaluasi diri. Adakah kesombongan dalam hati kita? Adakah kita menyadari bahwa kita mulai tidak melibatkan Allah dalam rencana hidup kita? Apakah kita tidak pernah lagi melibatkan Allah dalam mengambil keputusan penting dalam hidup kita? Apakah kita sudah merasa mampu mengatasi semua persoalan hidup seorang diri saja dengan kekuatan dan kemampuan diri sendiri? Jika ya, mari kita mohon ampun pada Allah dan bertobat, sebab itu adalah tanda dan bentuk kesombongan kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesungguhnya, kita lemah dan tidak berdaya tanpa pertolongan Allah. Oleh karena itu, mari kita tinggalkan kesombongan dan bergantung penuh kepada-Nya. (pg).

  • Hampir SEMUA menjadi RELATIF

    Sahabat, dalam konteks zaman yang serba pragmatis, relatif, dan konsumtif, batasan antara yang benar dan salah; baik dan yang tidak baik sudah menjadi semakin samar. Tanpa disadari, cukup banyak orang sudah terpengaruh semangat zaman ini,  apa yang benar dan salah MENJADI RELATIF. Seolah-olah segala sesuatu diarahkan bergantung kepada kepercayaan dan pandangan masing-masing orang.  Dengan demikian hampir  semua menjadi relatif.

    Sesungguhnya Tuhan menghendaki kehidupan anak-anak-Nya senantiasa kudus dan terpisah dari hal-hal duniawi, atau bisa dikatakan hidup selaras dengan firman-Nya. Karena itu kita harus menjaga segenap roh, jiwa dan tubuh kita tanpa cacat cela setiap waktu dengan menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan  (1 Tesalonika 5:22-23).

    Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, kehidupan kita harus benar-benar berubah.  Perubahan itu harus tampak jelas.  Kita harus mengubah diri dari tingkah laku kita yang lama dan hal-hal yang biasa kita lakukan, termasuk juga dalam hal berpikir (Roma 12:2 dan 2 Korintus 5:17) 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “Hampir SEMUA menjadi RELATIF”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 20:1-15. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan pandangan Pengamsal mengenai apa yang benar dan yang tidak benar. Pengamsal dengan tegas mengajarkan hal ini kepada umat Allah.

    Pengamsal menyampaikan beberapa potret kepribadian yang tidak benar di dalam hidup: Peminum (ayat 1), orang yang suka membangkitkan amarah orang lain (ayat  2), orang bodoh yang pemarah (ayat 3), pemalas (ayat 4 dan 13), dan orang yang berlaku curang (ayat 10 dan 14). Orang-orang seperti itu hidupnya hanya akan menyusahkan orang lain dan mencelakakan dirinya sendiri.

    Sahabat,  menurut  Pengamsal, berikut perilaku yang  benar dan yang seharusnya dilakukan umat Allah di dalam hidupnya: Menjauhi perbantahan (ayat 3), merancang hidupnya dengan baik (ayat 5), hidup dengan setia (ayat 6), berlaku bersih dan jujur (ayat 11), serta bijaksana dalam perkataan (ayat 15). Semua perilaku seperti itu akan membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Terlebih lagi, sikap hidup seperti itu akan mencerminkan  karakter Allah melalui hidup kita.

    Karena itu mari jalani hidup ini dengan benar di hadapan Tuhan. Belajarlah dari firman Tuhan hari ini: Jauhilah perbantahan dan pertengkaran yang tidak perlu; rencanakanlah hidupmu dengan baik; hiduplah dengan bersih dan jujur di hadapan Tuhan; bijaksanalah dalam perkataan dan perbuatan; hiduplah setia dengan pasanganmu dan keluargamu; dan terlebih lagi kepada Tuhan. Semua itu agar kehidupan kita  mencerminkan kemuliaan Tuhan.

    Tidak hanya itu, kita juga harus selalu menyenangkan hati Tuhan dan berserah penuh kepada kehendak-Nya di setiap aspek kehidupan.  Itu berarti kita perlu memiliki ketaatan penuh kepada Tuhan. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2 dan 3?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4 dan 13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berjalan bersama Tuhan berarti hidup benar di hadapan Tuhan! (pg).

  • BERSYAFAAT bagi SANG PENGUASA

    Sahabat, saat ini  kita sering  melihat di layar kaca atau membaca di koran atau majalah  ada pejabat pemerintahan tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) karena menerima suap.

    Akhir-akhir ini kita juga disuguhi berita yang  menyedihkan:  Aparat keamanan justru menjadi pelindung dan pendukung dari para bandar judi dan bandar narkoba. Aparat penegak hukum mau diperalat oleh para pelanggar hukum.

    Apa yang Sahabat lakukan ketika kita melihat atau membaca para penguasa yang melakukan tindakan pidana dan para penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan dirinya sendiri dan merugikan negara dan rakyat? Apakah kita hanya ikut mengutuki mereka dan mencaci maki mereka habis-habisan di media sosial?

    Kita sebagai komunitas orang percaya, apakah selama ini kita sudah tekun bersyafaat bagi sang penguasa?

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “BERSYAFAAT bagi SANG PENGUASA”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 22:15-25. Sahabat, kisah pejabat yang mencintai materi dan rela menukarnya dengan kebenaran bukanlah hal yang baru. Pada masa Yesaya, praktik korupsi juga terjadi. Satu nama yang tercatat melakukan hal tersebut adalah Shebna (ayat 15).

    Shebna adalah pelayan pengadilan tinggi. Demi jabatan dan kekayaan, ia rela bersekutu dengan bangsa asing. Ia mengabaikan teguran Yesaya. Akibatnya, Allah berjanji akan menghukum Shebna dan mencopot jabatannya sampai ia dipermalukan (ayat 17).

    Sahabat, Allah juga berjanji bahwa Elyakim akan menggantikan kedudukan Shebna (ayat 20). Allah berjanji akan meneguhkan kedudukan tersebut. Bahkan, Elyakim akan menjadi orang yang sangat berpengaruh di Israel. Keputusan Elyakim akan berlaku, baik dalam perkara besar maupun perkara kecil.

    Sayangnya, keadaan itu tidak berlaku selamanya. Sebab pada saatnya nanti, Elyakim pun tidak lagi setia kepada Allah. Oleh karena itulah, Elyakim juga akan jatuh dan hancur (ayat 22).

    Sahabat, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin banyak pula godaan yang datang menyerang, sehingga orang tersebut menjadi mudah jatuh dalam dosa. Seperti pepatah mengatakan: “Semakin tinggi sebatang pohon atau ranting berdiri, semakin keras pula angin menerpa.” Seorang pemimpin, entah pemimpin negara, gereja, lembaga atau instansi, rumah tangga, dan lain sebagainya, rentan jatuh ke dalam dosa. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan dukungan dalam bentuk doa, saran, pengawasan, peringatan, atau bahkan teguran dari kita.

    Kita seharusnya dengan tulus menopang mereka dalam doa dan tindakan nyata, bukan hanya mencela (1 Timotius 2:1-2). Dengan demikian, mereka akan kuat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan benar, menjadi mawas diri, dan menghormati Allah dalam setiap hal yang mereka rencanakan dan kerjakan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15-19?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 20-25?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mendukung pemimpin merupakan pilihan warga negara, BERSYAFAAT untuk  mereka merupakan keharusan bagi warga gereja. (pg).

  • The LORD: a MIGHTY TOWER

    MENARA dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknaI sebagai bangunan yang menjulang tinggi dan lebih tinggi daripada bangunan induknya. Pada masa abad pertengahan, para petani biasanya menjaga hasil panen mereka sampai waktunya ketika serangan musuh sudah terlihat dari jauh, maka mereka beserta keluarga akan melarikan diri ke kota pertahanan yang berbenteng untuk melindungi diri dari para penjarah.

    Sahabat, kota Carcassonne telah menjadi tempat perlindungan dari generasi ke generasi. Dibangun pada abad ke-5 SM, kota yang dibentengi dengan tembok batu ini telah memberikan perlindungan bagi bangsa Romawi, Galia, Visigoth, Franka, dan Perancis. Dengan tanah yang terbentang luas dan menara pengawas serta menara penembak yang menjulang tinggi, kota itu memberi rasa aman bagi orang-orang yang bersembunyi di balik tembok-tembok perlindungannya.

    Sebagai orang percaya, kita dapat menemukan perlindungan dalam hadirat Allah yang hidup. The Lord is a mighty tower. Tuhan adalah menara yang kuat.

    Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “The LORD: a MIGHTY TOWER”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 18:1-24 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, keunikkan kitab Amsal adalah kitab ini mengajarkan banyak sekali nilai-nilai praktis kehidupan, sehingga kita dapat belajar banyak mengenai bagaimana menjalani hidup sebagai orang benar.

    Dalam Amsal 18, Pengamsal mengajarkan seputar perilaku dan perkataan manusia sehari-hari. Mengenai perilaku: Penyendiri akan meledak dalam amarahnya (ayat 1), orang yang berpihak pada orang fasik bukanlah orang yang baik (ayat 5), pemalas akan merusak (ayat 9), orang yang  bersemangat dapat menanggung penderitaannya (ayat 14), orang kaya mengandalkan hartanya, penyuap yang mengandalkan pemberiannya (ayat 16). Pelbagai perilaku itu disoroti oleh Pengamsal karena semua itu terjadi dalam keseharian,  agar kita belajar dari dalamnya.

    Hal kedua yang disoroti oleh Pengamsal adalah mengenai perkataan orang yang dapat menimbulkan penghinaan (ayat 3, 13, 23), pengkhianatan (ayat 8,18), pertikaian (ayat 17, 18), pengaruh yang kuat (ayat 4, 20, 21). Secara khusus, perkataan dari orang bebal hanya membeberkan isi hatinya (ayat 2), menimbulkan perkelahian (ayat 6), dan menjerat hidupnya (ayat 7).

    Jika demikian, lalu apa yang seharusnya kita lakukan dalam hidup ini? Pengamsal menyebutkan beberapa hal: Hidup rendah hati (ayat 12), berpengertian (ayat 15), mendapat istri (ayat 22), dan sahabat (ayat 24). Namun yang terpenting di atas semua itu adalah hidup bersandar pada Tuhan. Menarik sekali, Pengamsal menggambarkan Tuhan sebagai menara yang kuat, “Nama Tuhan adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat”  (ayat 10).

    “Nama Tuhan” mengacu kepada karakter Allah yang melimpah dengan kesetiaan, kuasa dan belas kasihan. Sedangkan  “selamat”  berarti terlindungi di tempat tinggi dan aman dari bahaya.

    Sahabat, ketika hidup kita dipenuhi hal-hal yang menakutkan atau pun kita mengalami banyak persoalan dan kesulitan, berlarilah kepada Tuhan karena Ia mampu melindungi hidup kita dengan kekuatan kuasa-Nya. Dalam Dia ada keselamatan dan perlindungan, karena Allah adalah menara yang kuat bagi setiap orang yang berlindung kepada-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawabalah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2, 6, dan 7?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika hari ini Sahabat sedang menghadapi suatu ancaman, datanglah kepada TUHAN, Sang Menara Yang Kuat. Sahabat akan mendapat perlindungan dalam pemeliharaan-Nya. (pg).

  • BUANGLAH jauh KETERGESA-GESAAN

    Sahabat, judul di atas merupakan nasihat dari Dallas Albert Willard, seorang filsuf Amerika yang dikenal karena tulisannya tentang pembentukan spiritual Kristen.

    Saya dan istri pada suatu sore secara tidak sengaja bertemu dengan seorang teman sesama guru sekolah minggu pada masa muda kami. Sudah lama kami tidak pernah bertemu sejak dia pindah keluar kota. Dulu kami menjadi guru sekolah minggu di gereja yang berbeda, tapi dalam satu wilayah sehingga kalau ada kegiatan di wilayah kami sering bertemu.

    Sebut saja teman kami tersebut dengan nama Tentrem. Dengan tersipu-sipu dia bercerita bahwa sudah lama hidup sendiri. Usia pernikahannya hanya 6 bulan. Dia berhenti sejenak, kemudian dia melanjutkan ceritanya. Pada waktu itu usianya sudah 36 tahun, maka ketika ada seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahun mendekati dia dan mengajak dia menikah, tanpa berpikir panjang langsung dia terima saja.

    Dia menyesal tergesa-gesa menikah dengan laki-laki tersebut.Tidak melalui masa pengenalan yang cukup. Dia baru mengenal laki-laki tersebut sekitar 3 bulan, sudah mau diajak menikah.  Ternyata suaminya seorang yang temperamental, gampang marah, dan ringan tangan. Akhirnya dia minta cerai karena sudah tidak tahan lagi hidup bersama dengan laki-laki tersebut. Sikap tergesa-gesa bisa membawa kita salah dalam mengambil keputusan.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “BUANGLAH jauh KETERGESA-GESAAN”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 19:1-5 dengan penekanan pada ayat 2.  Sahabat,   ayat 2-b dari bacaan kita pada hari ini memperingatkan bahwa orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.

    Belajar dari pengalaman Ibu Tentrem di atas, orang yang tergesa-gesa membuat keputusan rentan salah melangkah atau berpotensi keliru membuat keputusan. Hal tersebut merupakan peringatan yang perlu mendapat perhatian yang serius dari kita.

    Sahabat, orang yang sedang tergesa-gesa dalam melakukan apa pun, biasanya cenderung abai atau kurang waspada, sehingga hal yang seharusnya dicermati atau penting, malah luput dari perhatian. Dampaknya, mulai dari salah mengambil keputusan, hasil kerja kurang maksimal, kehilangan barang berharga, salah membaca jadwal, mengabaikan rencana penting, kena tipu, keluar dana ekstra,  terjadi kecelakaan, dan berbagai dampak merugikan lainnya dapat dialami oleh seseorang.

    Maka dari itu, jika sampai hari ini kita masih berteman akrab dengan yang namanya “tergesa-gesa”, ini saat  yang tepat untuk mulai berubah. Aturlah waktu dengan lebih baik sehingga kita tak harus tergesa-gesa dalam melakukan segala sesuatu, terlebih ketika kita harus mengambil keputusan yang penting, yang menyangkut hidup kita ke depan.   

    Kebiasan tergesa-gesa dapat membuat kita melewatkan atau kehilangan hal yang penting dan bernilai bagi hidup kita. Karena itu buanglah jauh ketergesa-gesaan.

    Sahabat, jika orang tergesa-gesa berpotensi salah langkah, sebaliknya mereka yang mampu meminimalkan hal tersebut berpotensi melangkah dengan tepat. Mana yang Sahabat pilih?

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Memercayai Allah dengan pikiran yang terpusat kepada-Nya merupakan obat yang manjur bagi hidup yang tergesa-gesa. (pg).

  • FAJAR PAGI atau MALAM GELAP?

    Sahabat, ada ungkapan  yang menyatakan bahwa KESEMPATAN tidak datang untuk kedua kalinya.  Oleh karena itu jangan pernah sia-siakan setiap kesempatan yang ada.  Banyak orang yang menyesal begitu rupa saat kesempatan itu tidak digunakan dengan baik.  Yang ada tinggallah penyesalan.

    Apakah Allah juga hanya sekali saja menyediakan kesempatan untuk bertobat? Allah itu memang adil, Dia dengan tegas akan menghukum orang yang melakukan segala bentuk dosa. Allah tidak pernah kompromi dengan dosa. Namun, Allah juga berlimpah dengan kasih karunia. Dia selalu mengampuni dan memberi kesempatan kepada siapa pun yang mau berbalik kepada-Nya.

    Sahabat, ada sebuah ungkapan yang mengatakan Our God is the God of second chance. Begitu panjang sabar dan kasih setia Tuhan, sehingga Dia terus berulang-ulang memberikan kita kesempatan demi kesempatan untuk berubah, berbalik dari jalan-jalan yang sesat untuk kembali ke jalan Tuhan. Alkitab mencatat begitu banyak kisah mengenai pertobatan, pengampunan dan pemulihan. Terbuka kesempatan untuk bertobat. Tersedia pilihan: Fajar pagi atau malam gelap?

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar kitab Yesaya dengan topik: “FAJAR PAGI atau MALAM GELAP?”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 21:11-12. Sahabat, bacaan kita pada hari ini menceritakan tentang malapetaka yang dialami oleh Duma, yaitu nama lain dari Edom yang selalu bermusuhan dengan Israel. Dikisahkan, orang Edom bertanya kepada Sang Pengawal (Yesaya):  Kapan MALAM akan berlalu (ayat 11). Malam adalah simbol kegelapan yang mereka alami akibat penghukuman Allah.

    Yesaya menjawab bahwa PAGI akan datang dan malam juga akan tiba (ayat 12). Pagi merupakan simbol sinar pengharapan dari Allah, sedangkan malam berarti penghukuman dari Allah. Hal itu menunjukkan bahwa penghukuman dan anugerah dari Allah bisa terjadi bersamaan. Dengan demikian, pilihan dan respons Edom akan menentukan anugerah atau penghukuman dari Allah. Fajar pagi atau malam gelap?

    Sahabat, jawaban Sang Pengawal terhadap seruan orang Edom menunjukkan besarnya kasih karunia Allah kepada setiap orang. Meskipun Allah tidak kompromi terhadap dosa, namun tidak selamanya Dia murka. Asalkan Edom mau bertobat dan berbalik, maka Allah akan mengampuni dan mengasihinya (Mazmur 103:6-14). Jika memilih FAJAR PAGI, Edom harus mencari Allah, beriman, menyembah-Nya, dan tidak lagi hidup dalam dosa.

    Firman Allah tersebut juga berlaku bagi kita. Alkitab sudah memaparkan betapa MENGERIKANNYA MALAM, yaitu penghukuman Allah karena kegelapan dosa. Sebab ketika Allah telah menumpahkan penghukuman, maka tidak ada yang dapat luput. Mengerikan bukan? Gelap gulita.  Namun di sisi lain, ada fajar pagi yang penuh kasih karunia, kebahagiaan, dan pengharapan baru.

    Sahabat, oleh karena itu, marilah kita memilih fajar pagi, yaitu kesempatan bertobat di hadapan Allah. Marilah kita mencari Allah dan bergantung penuh kepada-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita. Tangan Allah yang penuh kasih pasti terbuka menerima kita. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Mazmur 103:6-14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Selagi Tuhan memberi kesempatan, gunakan sebaik mungkin supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari! (pg).

  • MEZBAH bagi TUHAN di tengah-tengah tanah MESIR

    Sahabat, Mesir merupakan salah satu bangsa yang memiliki budaya politeisme yaitu kepercayaan atau pemujaan kepada lebih dari satu Tuhan atau  memiliki agama dengan banyak dewa. Mereka punya banyak sekali dewa, dengan satu dewa utama, yang biasanya ditetapkan oleh raja Mesir (Firaun).

    Jika ada pergantian Firaun, maka bisa jadi dewa utama tersebut berganti pula, sesuai dengan kepercayaan yang dianut Firaun baru. Maka tidak mengherankan apabila bangsa Mesir terbiasa dengan dewa-dewa yang banyak, dengan banyak patung-patung dan tugu-tugu pemujaan bagi para dewa mereka.

    Maka sepertinya HAMPIR MUSTAHIL  bagi bangsa Mesir untuk bisa percaya kepada TUHAN, Allah Israel. Mereka sudah punya banyak dewa, untuk apalagi mereka harus percaya kepada TUHAN? Tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil, ada mezbah bagi Tuhan di tengah-tengah tanah Mesir.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “MEZBAH bagi TUHAN di tengah-tengah tanah MESIR”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 19:1 – 20:6 dengan penekanan pada Yesaya 19:19. Sahabat, saat menghadapi ancaman bahaya, bangsa Israel sering kurang tekun bersandar kepada Tuhan dan memilih untuk bersandar kepada musuh-musuh mereka, antara lain kepada bangsa Mesir.

    Sikap bangsa Israel tersebut jelas salah karena Mesir bukanlah tempat bersandar yang kokoh. Tuhan akan membuat Mesir mengalami perang saudara (Yesaya 19:2), sehingga mereka menjadi lemah dan akhirnya bisa ditaklukkan oleh Asyur (Yesaya 19:4). Bukan hanya Mesir, tetapi Etiopia juga berhasil ditaklukkan (Yesaya 20:1-6), sehingga untuk sementara, Asyur menjadi amat berkuasa.

    Sahabat, pada saat Tuhan menghukum Mesir tersebut, ada catatan menarik dalam bacaan kita pada hari ini, yaitu bahwa ADA LIMA KOTA di Tanah Mesir yang BERBICARA BAHASA KANAAN dan yang bersumpah demi TUHAN semesta alam (Yesaya 19:18). “Berbicara bahasa Kanaan” adalah suatu ungkapan yang menunjukkan bahwa di lima kota itu, penduduknya menyembah Allah bangsa Israel (Yesaya 19:19-22).

    Dapat disimpulkan  bahwa ada penduduk Israel yang memberi kesaksian yang baik yang membuat sebagian penduduk Mesir percaya kepada Allah Israel. Yang lebih mengesankan, pengaruh terhadap bangsa Mesir kemudian menjalar kepada bangsa Asyur (Yesaya 19:23-25).

    Sahabat, ternyata di tengah situasi yang secara umum merosot secara rohani, ada orang-orang beriman yang kesaksiannya mempengaruhi bangsa-bangsa lain. Situasi yang dihadapi orang percaya saat ini berbeda dengan situasi yang dihadapi bangsa Israel, namun mungkin sama-sama menghadapi kemerosotan secara rohani.  Apakah dalam situasi saat ini, kita masih sanggup menunjukkan kesaksian hidup yang baik yang dilandasi oleh iman kepada Yesus Kristus?

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari Yesaya 19:18-19?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Yesaya 19:23-25?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika TUHAN  bisa membuat bangsa Mesir yang selama ini percaya kepada dewa-dewa untuk berbalik kepada-Nya, bagaimana dengan iman kita bagi bangsa kita? (pg).

  • What matter most are who and how WE ARE INSIDE

    Sahabat, ajang Miss Universe  (dan yang sejenisnya)  adalah kontes kecantikan perempuan sejagat raya.  Di dalam kontes ini yang dinilai bukan semata-mata kecantikan fisik, tetapi termasuk juga kecerdasan dan juga kepribadiannya, yang lebih dikenal dengan istilah 3B  (brain, beauty, dan behaviour):  brain memiliki arti cerdas dan berwawasan luas;  beauty artinya memiliki wajah yang eye catching  (menarik)  dan juga memiliki bentuk tubuh yang proposional;  behaviour  mengacu kepada kepribadian, sikap dan perilaku. 

    Sesungguhnya CANTIK merupakan idaman hampir semua PEREMPUAN di jagat raya. Karena itu tidaklah mengherankan bila perempuan suka sekali berdandan atau bersolek.  Namun banyak perempuan yang berdandan secara berlebihan  (menor)  sehingga mereka bukan tampak terlihat semakin cantik, tetapi malah sebaliknya. Firman Tuhan mengingatkan kita supaya kita lebih mengutamakan kecantikan batin (inner beauty). What matter most are who and how we are inside. (Yang paling penting apa yang ada di dalam) .

    Hari ini, 21 September 2022, anak kami yang pertama, Elisse Myra Karina, berulang tahun yang ke-38. Dalam rangka mensyukuri ulang tahunnya, hari ini saya mengajak Sahabat untuk merenungkan satu topik: “What matter most are who and how WE ARE INSIDE”. Bacaan Sabda saya ambil dari 1 Timotius 2:8-15 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, pertama, Rasul Paulus memberi nasihat kepada kaum laki-laki agar ketika mereka berdoa, mereka melakukannya dengan tangan yang suci, tanpa marah dan perselisihan (ayat 8).

    Rupanya sering terjadi pertengkaran di antara mereka, karena munculnya berbagai ajaran sesat dalam ibadah jemaat. Oleh sebab itu, Paulus memperingatkan mereka untuk mempunyai sikap hati yang tenang, hening, damai, bersih, dan berfokus saat berdoa.

    Lebih lanjut Rasul Paulus mengingatkan, tak ada gunanya berdoa kepada Allah jika mereka masih mencemari diri dengan dosa. Kesucian hidup sungguh-sungguh sangat diperlukan, supaya doa-doa itu berkenan kepada Allah.

    Sahabat, kedua, Rasul Paulus  menasihati kaum perempuan. Perhatian pertama Paulus adalah mengenai dandanan,
    “… Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal,”  (ayat 9).  Seorang perempuan akan terlihat cantik ketika ia berdandan secara tepat, tidak harus menggunakan pakaian yang berharga mahal, mewah dan serba wah, tetapi berdandan dengan secukupnya, pantas,  dan tidak melebihi batas kesopanan.

    Sesungguhnya kecantikan perempuan itu akan terpancar melalui sikap perbuatannya. “… hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.”  (ayat 10).  Jadi perempuan akan terlihat cantik dan menarik bukan semata-mata dilihat dari pakaian yang dikenakan, perhiasan yang melekat di tubuh, atau karena ia sangat lihai dalam hal bersolek, melainkan dari budi bahasa dan perbuatannya.  Inilah yang disebut inner beauty, yaitu kecantikan yang terpancar dari dalam melalui kepribadian, tutur kata dan perbuatannya sehari-hari.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Marilah kita mulai membereskan hati, berdandan dengan kebaikan dan kesederhanaan, serta hening di hadapan-Nya, sehingga ibadah, doa-doa, dan hidup kita berkenan kepada Tuhan. (pg).