Category: Sejenak Merenung

  • Memang LIDAH TAK BERTULANG

    Sahabat, penyanyi senior Indonesia Bob Tutupoly tutup usia, Selasa dinihari 5 Juli 2022. Ia meninggalkan banyak lagu legendaris yang pernah populer, salah satunya adalah lagu yang berjudul  “Tinggi Gunung Seribu Janji”.

    Syair bait pertama dari lagu tersebut berbunyi, “Memang lidah tak bertulang;/ Tak terbekas kata-kata;/ Tinggi gunung seribu janji;/ Lain di bibir, lain di hati.

    Saya angkat lirik di baris pertama dari bait pertama dari lagu tersebut sebagai judul “Sejenak Merenung” pada hari ini.

    Adapun arti peribahasa: Lidah tak bertulang yaitu mudah saja mengatakan (menjanjikan)  sesuatu, yang berat adalah melaksanakannya; manusia sangat mudah untuk mengumbar janji; janji seseorang yang tidak bisa dipegang.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “Memang LIDAH TAK BERTULANG”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 26:17-28. Sahabat, berkata-kata yang benar dan baik akan menghasilkan hal yang baik pula. Jika berkata-kata hal yang tidak sepantasnya, pasti menimbulkan perpecahan, ibarat menembakkan panah api (ayat 18-19).

    Lebih lanjut Pengamsal berkata bahwa pertengkaran tidak akan terjadi apabila informasi yang disampaikan tidak diplintir kebenarannya (ayat 20-21). Memang tidak semua informasi benar adanya. Karena itu, kita harus menyelidiki dengan saksama. Adakalanya muncul berita-berita yang kelihatannya baik, sebenarnya berita hoax (ayat 22-23).

    Selain itu, Pengamsal juga memerhatikan adanya bahaya lain, yaitu si pembawa berita. Ia digambarkan sebagai orang yang berpura-pura ramah (ayat 24-25). Tidak jarang orang-orang terjerat pada berita yang disampaikannya, padahal isi dan motif berita itu mengandung kebencian terhadap musuhnya (ayat 26-28).

    Raja Salomo memberi nasihat kepada kita untuk waspada dalam berkata-kata. Adakalanya saat bersosialisasi dengan orang lain, tanpa disadari kita menyampaikan hal-hal yang yang tidak sepantasnya. Pengamsal juga tidak menghendaki kita menggunakan kata-kata indah yang isinya tipu muslihat. Karena dalamnya hati dan pikiran seseorang tidak dapat diketahui orang lain. Takutnya ada kekejian terselubung yang tidak kita ketahui, yang mungkin dapat berakibat fatal di kemudian hari.

    Sahabat, Pengamsal  memberikan gambaran jelas bagaimana seharusnya kita sebagai komunitas orang percaya mempergunakan lidah. Tidak sepatutnya kita menggunakan lidah dengan tujuan penipuan, sebab siapa yang menggali lubang akan jatuh di dalamnya. Bijaksanalah menggunakannya, sebab memang lidah  tak bertulang.

    Mari kita menggunakan lidah untuk kebaikan dan memberkati sesama. Bukan lidah yang menguasai kita, tetapi kita yang menguasai lidah. Kita bisa memulainya dengan melatih diri bergaul dengan firman Tuhan sehingga terhindar dari perbendaharaan kata yang dapat melukai orang lain. Hendaknya lidah kita gunakan untuk bersaksi tentang kasih Kristus pada manusia melalui kalimat-kalimat penghiburan, penguatan, teguran yang lembut dan peneguhan. Biarlah lidah kita bukan merusak sesama, melainkan membangun hidup mereka. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 22-23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Memang lidah tak bertulang, tetapi cukup kuat untuk menghancurkan atau memelihara sebuah kehidupan. (pg).

  • Untuk SEGALA SESUATU ada WAKTUNYA

    Sahabat, Salomo dalam  Pengkotbah 3:1-2 mengingatkan kita:  “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.  Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;”  

    Saya sangat tertarik dengan 2 ayat tersebut terutama di bagian paling akhir yang berkaitan dengan dunia pertanian, dunia bercocok tanam, “…ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;”  

    Kita yang hidup di Indonesia, tentu tidak asing dengan dunia pertanian. Bagi seorang petani, dia tentu paham betul bahwa ada waktu untuk membajak, mencangkul dan juga menabur.  Jadi tidak seluruh waktu harus digunakan untuk membajak, atau tidak seluruh waktu kita gunakan untuk menabur saja, sebab nantinya juga ada waktu untuk menuai. Untuk segala sesuatu ada waktunya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Untuk SEGALA SESUATU ada WAKTUNYA”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 28:23-29. Sahabat, bacaan kita pada  hari ini merupakan sebuah metafora yang mengambil latar pertanian untuk menunjukkan kebijaksanaan Allah.

    Di sini, petani itu adalah Yesaya yang melaksanakan kehendak Allah, yaitu menyampaikan pesan Allah kepada umat-Nya dan kepada semua pembesar.

    Sahabat, seorang petani akan melakukan segala kebiasaannya dalam bercocok tanam agar semua tumbuhan yang ditanam menghasilkan yang terbaik pada waktunya. Kebiasaan yang dimulai dengan menabur benih itu, diatur dalam waktu-waktu yang telah ditentukan dan dilakukan dengan tidak asal-asalan (ayat 24-25).

    Proses mempersiapkan lahan subur merupakan keharusan awal. Setelah lahan subur disiapkan, tibalah saat menabur. Banyaknya jenis benih yang ditanam menunjukkan bahwa firman keselamatan bukan hanya monopoli Yehuda dan Israel, melainkan juga bagi bangsa-bangsa lain.

    Di dalam merawat tanam-tanaman yang sudah tumbuh, para petani menjalankan adat kebiasaan yang telah ditentukan (ayat 26). Mengirik, memukul, dan menggiling tidak dilakukan secara terus menerus agar hasil pertanian tidak menjadi hancur (ayat 27-28). Karena itu ada waktu untuk berhenti mengirik, memukul, dan menggiling. Alat-alat yang digunakan untuk pekerjaan itu berbeda-beda juga. Maka harus digunakan secara tepat agar menghasilkan yang terbaik, dan tidak menghancurkannya.

    Hukuman merupakan konsekuensi bagi manusia yang berbuat salah di mata Tuhan. Namun hukuman itu akan berhenti bila manusia berbalik kepada Tuhan karena Dia adalah Allah yang adil dan mengasihi. Tidak selamanya Dia menghukum manusia. Untuk itulah kita seharusnya bersyukur dengan pujian: “… Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan” (ayat 29).

    Sahabat, berkat disediakan bagi umat yang hidup menurut ketetapan Tuhan dan perjanjian-Nya.  Ini berbicara tentang berkat penuaian, dan berkat ini diberikan dengan maksud supaya kita giat menabur. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Berkat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 24?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah memberikan dan mengatur tatanan umat-Nya agar kita selalu hidup berpadanan dengan kehendak dan hukum-Nya. (pg). 

  • Ketika aku HARUS MEMILIH

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa setiap pagi, begitu kita membuka mata, maka kita diperhadapkan dengan pilihan: Mau ngopi dulu atau saat teduh dulu?. Mau langsung mandi atau olahraga dulu? Mau berangkat kerja bersama istri atau berangkat sendiri-sendiri? Tentu saja akan diikuti oleh banyak pilihan yang lain-lain yang saling susul menyusul.

    Sesungguhnya dalam hidup ini pilihan itu bukan hanya berkaitan dengan kegiatan kerutinan kita, tapi kita juga sering diperhadapkan dengan pilihan-pilihan dalam kegiatan insidental kita. Memang tidak mudah ketika kita harus memilih.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “Ketika aku HARUS MEMILIH”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 25:7-12. Sahabat, Pengamsal dalam bacaan kita pada hari ini memberi kita beragam didikan, ajaran dan nasihat yang sungguh sangat dahsyat dan tidak ternilai harganya. Pengamsal menyampaikan pilihan kepada kita.

    Pengamsal menyatakan kepada kita: Pilihlah tempat duduk di bawah; janganlah terburu-buru memperkarakan teman kita; jangan buka rahasia orang lain; jangan orang yang mendengar akan mencemoohkan; perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya seperti buah apel di pinggan perak; dan teguran orang bijak seperti cincin emas dan hiasan kencana bagi pendengarnya.


    Mengingat keterbatasan halaman yang tersedia, saya harus memilih 3 hal saja yang saya kupas lebih lanjut.  Pertama, secara duniawi, jika seseorang duduk di tempat yang tinggi dan terhormat dalam suatu kesempatan, boleh jadi ia merasa bangga. Tetapi, jika kemudian ia disuruh turun oleh orang yang memiliki kewenangan, tentu akan memalukan. Pengamsal mengatakan bahwa lebih baik jika kita diminta: “naiklah ke mari”, daripada direndahkan di hadapan yang mulia dan orang banyak. (ayat 7)

    Kedua, jika kita memilih untuk berkata-kata, Pengamsal  mengingatkan dan menasihati kita bahwa perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah sangat luar biasa dan sangat memberkati. Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya bagaikan buah apel emas di pinggan perak (ayat 11)

    Ketiga, selanjutnya jika kita memilih menegur seseorang, dalam ayat 12 Pengamsal menyampaikan bahwa teguran orang bijak seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar. Pada umumnya, hampir setiap orang tidak suka ditegur. Setiap orang tidak suka pada teguran. Karena mereka menganggap bahwa teguran adalah kritik, peringatan, jeweran atau sentilan yang bersifat negatif. Karena itu ada cukup banyak orang yang beranggapan bahwa  teguran sebagai ejekan, olok-olok, hinaan atau kemarahan kepadanya.

    Namun Pengamsal meyakinkan kita bahwa teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar. Teguran orang bijak adalah kritik, peringatan, jeweran atau sentilan yang membangun. Karena teguran yang disampaikan oleh orang yang berhikmat dan berakal budi dari Allah kepada seseorang, merupakan didikan, ajaran dan nasihat yang sangat berharga dan tidak ternilai harganya. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?
    2. Apa yang Sahabt pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: : “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (ayat 11). (pg)

  • INSIDE BEAUTY

    Sahabat, ketika muda saya senang tampil trendi (modis). Sesungguhnya tampiltrendi dan menawan itu hak semua orang, tidak peduli jenis kelaminnya. Tentu saja tidak salah menjaga penampilan. Yang salah adalah ketika kita melakukannya secara berlebihan, sehingga melupakan aspek-aspek lain. Tidak jarang mereka yang terseret gaya hidup metropolitan  harus mengeluarkan dana jauh di atas kemampuan atau pendapatan mereka. Hal itulah yang perlu kita waspadai.

    Jika dahulu urusan perawatan tubuh didominasi kaum perempuan, sekarang pria pun demikian. Malah terkadang para pria ini bisa lebih pesolek dibandingkan dengan perempuan. Para pria ini seolah menjadi gambaran pria modern yang sangat peduli terhadap penampilan fisiknya. Baik pria maupun perempuan yang sangat mementingkan penampilan, biayanya bisa mencapai jutaan atau bahkan puluhan juta sebulan.

    Menjaga penampilan agar terlihat menarik tentu baik. Tapi ada yang jauh lebih penting daripada segala penampilan luar.. Segala sesuatu mengenai keindahan yang tampak dari luar tidaklah kekal. Tapi yang kekal, yang tidak akan binasa, justru apa yang ada di dalam diri kita. Inside beauty (Keindahan  dalam).

    Hari ini, 2 Oktober 2022, anak kami yang kedua, Johan Rama Iswara Gunawan, berulang tahun yang ke-35. Dalam rangka mensyukuri ulang tahunnya, saya mengajak Sahabat untuk merenungkan satu topik: “INSIDE BEAUTY”. Bacaan Sabda saya ambil dari 1 Petrus 3:3-4. Sahabat, menjaga penampilan agar terlihat menarik tentu baik dan perlu, tapi dalam bacaan kita pada hari ini Rasul Petrus mengingatkan bahwa sesungguhnya   keindahan sejati yang berasal dari dalam diri kita yang mampu membuat kita bersinar, dan itu akan jauh lebih berkesan ketimbang penampilan luar. 

    Sahabat, inside beauty akan memancar kepada orang lain lewat sikap, tindakan, perbuatan dan tingkah laku kita sehari-hari. Bagaimana kita bersikap, bagaimana perbuatan kita, bagaimana kita memperlakukan orang, bagaimana kita menghargai orang lain, menjadi teladan bagi orang lain, mengasihi, seperasaan dan sepenanggungan, ringan tangan dan murah hati, itu bisa menggambarkan seperti apakah sisi kita di bagian dalam, apakah sudah ditata dengan benar atau belum.

    Apakah orang merasa gembira lewat kehadiran kita atau malah menimbulkan rasa kesal? Apakah kehadiran kita membawa terang atau malah membawa gelap? Itu bisa menggambarkan sejauh mana keindahan sejati di dalam diri kita.

    Bagaimana dengan Tuhan? Tuhan sendiri lebih melihat keindahan yang ada di dalam hati kita (1 Samuel 16:7). Karena itulah penting bagi kita untuk membenahi dan menjaga hati. Itu pula yang diingatkan Pengamsal, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23).

    Sahabat, memprioritaskan keindahan lahiriah berlebihan, lebih dari segala sesuatu, berpotensi menjerumuskan kita dalam berbagai kesesatan. Tidak salah menjaga dan memperindah penampilan, tapi janganlah jadikan keindahan lahiriah, apa yang tampak dari luar sebagai tujuan hidup yang terutama.

    Adalah sia-sia mementingkan penampilan luar di atas keindahan dalam diri kita, karena hal itu tidaklah membawa manfaat apa-apa untuk sebuah keselamatan. Kita harus sadar bahwa bukan orang yang paling ganteng atau cantik, berpenampilan paling keren yang diselamatkan, melainkan orang-orang yang terus menjaga keindahan hatinya, dipenuhi ucapan syukur dan terus menjadi berkat buat orang lain dalam nama Yesus. Haleluya!

    Berdasarkan  hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 1 Samuel 16:7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Keindahan diri kita  akan terpancar dari perbuatan, bukan semata-mata karena penampilan kita. (pg).

  • I WILL NOT FORGET THEE

    Sahabat, judul di atas merupakan judul sebuah lagu himne ciptaan Charles H. Gabriel. Dalam bahasa Indonesia lagu tersebut diterjemahkan dengan judul: “Janji Yang Manis” Refreinnya sebagai berikut: “Kau tidak kan Aku lupakan; Aku memimpinmu Aku membimbingmu; Kau tidak kan Aku lupakan; Aku penolongmu, yakinlah teguh.”

    Janji Tuhan merupakan janji yang manis, yang pasti akan ditepati-Nya sesuai dengan waktu-Nya. Gabriel begitu yakin akan janji Tuhan, coba simak syair lagu tersebut di bait pertama: Janji yang manis “Kau tak Ku lupakan”; tak terombang-ambing lagi jiwaku; walau lembah hidupku penuh awan; nanti kan cerahlah langit di atasku.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “I WILL NOT FORGET THEE”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 27:1-13 dengan penekanan pada ayat 13. Sahabat, umat Allah yang dibuang ke dalam pembuangan karena dosa-dosa mereka tidak akan terus berada dalam pembuangan, melainkan Allah akan mengembalikan mereka ke Tanah Perjanjian setelah hukuman Allah itu selesai. 

    Perkataan “Pada waktu itu …” (ayat 1-2) menunjuk kepada masa depan, saat Tuhan menghukum musuh umat Allah yang digambarkan sebagai Lewiatan, yaitu monster laut yang amat mengerikan dalam kepercayaan bangsa Kanaan, serta memberkati umat-Nya  yang digambarkan sebagai kebun anggur yang elok.

    TUHAN yang memposisikan diri-Nya sebagai Penjaga kebun anggur menyirami, merawat, dan menjaga kebun anggur itu. Puteri malu dan rumput yang menghambat pertumbuhan pohon anggur itu menggambarkan penyesatan yang harus diberantas dari kehidupan umat Allah (ayat 3-4). Perkataan “kecuali kalau mereka mencari perlindungan kepada-Ku dan mencari damai dengan Aku, …” (ayat :5) menunjukkan anugerah Allah bagi orang-orang tersesat yang mau bertobat dan kembali kepada Allah.

    Israel yang berkembang dan bertunas dan memenuhi muka bumi dengan hasilnya (ayat :6) menunjuk kepada berkat keselamatan yang tersedia bagi setiap orang dari segala bangsa yang mau bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Walaupun dalam Kitab Ezra dan Nehemia hanya dijelaskan tentang kembalinya umat Yehuda (Kerajaan Israel Selatan), nubuat dalam  ayat 12-13 memberi petunjuk bahwa terdapat pula pemulihan bagi umat Israel Utara yang dibuang oleh tentara Asyur. Saat ini, kita masih menantikan terjadinya pemulihan umat Allah sepenuhnya yang akan terwujud saat Tuhan Yesus datang kembali untuk kedua kalinya. 

    Keadaan Israel akan dipulihkan. Kota yang semula kosong dan gersang akan kembali dipenuhi. Penduduknya yang terserak-serak akan dibawa pulang kembali ke Yerusalem dan di sana mereka akan menyembah Allah Israel.

    Percayalah kepada janji manis Allah! Mari yakini bahwa Allah akan membebaskan kita dari belenggu penjajahan dan penindasan Lewiatan. Oleh karena itu, marilah kita memercayakan diri kepada Allah. Kita wajib membuang segala bentuk berhala yang dapat mendatangkan murka Allah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12-13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Umat pilihan-Nya harus hanya  menyembah Allah saja dan memusnahkan semua bentuk penyembahan berhala. (pg).

  • TAWAR HATI: Kecil Kekuatan Kita

    Sahabat, sesungguhnya hidup yang kita jalani adalah hidup yang dinamis. Kadang kita merasa hidup begitu indah dan cerah, namun kadang juga merasa hidup ini kelam dan suram. Kelamnya hidup biasanya kita alami jika kita berhadapan dengan kesusahan hidup, kesulitan, atau pergumulan hidup lainnya. Pada saat seperti itulah seringkali godaan datang berupa pikiran-pikiran yang membuat kita menjadi tawar hati, dan iblis tentu senang dengan keadaan ini. Ia akan memanfaatkannya untuk membujuk kita menjadi pribadi yang lemah. 

    Tawar hati diartikan sebagai suasana hati yang tidak gembira, tidak bernafsu, tidak bersemangat, atau tidak menaruh perhatian. Tawar hati membuat kita menjadi lemah, tidak memiliki daya, kecil kekuatan kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “TAWAR HATI: Kecil Kekuatan Kita”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 24:1-18 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, tawar hati adalah merupakan suatu kondisi emosional negatif atau energi negatif yang akan merusak hidup dan kesehatan seseorang. Tawar hati merupakan akumulatif dari beragam energi negatif sepeti patah semangat, pesimis, tidak mempunyai pengharapan, tidak berdaya, putus asa dan perasaan negatif lainnya. Tawar hati dipicu oleh persoalan yang berkaitan dengan kesehatan, masalah keuangan, persoalan dalam keluarga, problematika dalam dunia kerja, persoalan sosial yang tidak sehat dan sebagainya.

    Ayat 10 mengajarkan kepada kita bahwa akan ada saatnya kita mengalami kesesakan akibat masalah-masalah kehidupan. Kita dapat merasakan kesesakan ketika muncul sakit penyakit, bisnis yang tidak berjalan lancar, atau ketika musibah terjadi. Ya, kita tidak dapat memilih apa yang akan terjadi dengan kehidupan ini. Namun, kita selalu dapat memilih respons atau sikap kita terhadap segala situasi kehidupan.

    Sahabat, lalu apa yang sebaiknya kita lakukan agar kita tidak menjadi tawar hati? Pertama, menerima kenyataan dari hidup ini.  Hidup yang kita jalani adalah hidup yang riil atau nyata. Karena hidup kita nyata, maka ada masa di mana kita mengalami keadaan yang baik, tetapi juga ada saat di mana kita mengalami keadaan yang buruk. Artinya bahwa dalam realita kehidupan kita sesungguhnya ada beragam musim dan kita tidak bisa menghindarinya.

    Kedua, kita harus memperkuat manusia roh kita.  Kata “kekuatan” dalam ayat 10 bukan berbicara fisik atau materi tetapi berbicara tentang kejiwaan. Orang yang berfisik besar atau orang yang hartanya limpah belum tentu kuat ketika menghadapi persoalan hidup. Sedangkan kata “kesesakan” bukan identik dengan kekurangan saja tetapi juga keadaan yang kecukupan. Jadi kesimpulannya kesesakan bisa terjadi kepada siapa saja.

    Ketiga, kita harus belajar untuk mengucap syukur dalam semua situasi. Bersyukur dalam segala hal itu adalah kehendak Tuhan, artinya dalam keadaan baik maupun buruk tetap bersyukur (1 Tesalonika 5:18). Bersyukur artinya kita memercayai apa yang sedang terjadi dalam hidup kita semua atas seizin Tuhan dan tidak ada sedikitpun keraguan. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari  ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sambutlah hari esok dengan iman dan jangan tawar hati lagi! (pg).

  • TUHAN Menjagai dengan DAMAI SEJAHTERA

    Hampir semua orang merindukan sebuah kehidupan yang penuh damai sejahtera.  Begitu pentingnya damai sejahtera sampai-sampai orang rela membayar dengan harga yang sangat mahal. 

    Dengan harapan mendapatkan damai sejahtera, orang berkelana ke berbagai negara di dunia atau mengunjungi tempat-tempat wisata yang terkenal.  Ada pula orang yang mengeluarkan uang miliaran rupiah demi membangun sebuah rumah super mewah, lengkap dengan fasilitasnya, dengan tujuan supaya hatinya merasakan damai sejahtera. 

    Sahabat, sayangnya kalau kita amati kehidupan di sekeliling kita, semakin lama semakin banyak orang yang kehilangan damai sejahtera dalam hidupnya. Hidup yang berat dan keras menimbulkan tekanan bagi mereka. Ada banyak pula yang harus melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan panggilannya karena merasa tidak punya pilihan lain. Stres, depresi, berbagai kecemasan itu dengan cepat bisa merampas damai sejahtera dari hidup mereka. Hidup pun menjadi getir, senyuman hilang dari wajahnya, emosi cepat tersulut dan sebagainya.

    Seperti itukah yang Tuhan inginkan terjadi pada kita? Tidak. Tuhan ingin kita penuh dengan damai sejahtera yang membawa sukacita. Untuk itu, Tuhan menjagai dengan damai sejahtera bagi  setiap orang yang percaya kepada-Nya.

    Hari ini kita masih melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “TUHAN Menjagai dengan DAMAI SEJAHTERA”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 26:1-21 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat,  Tuhan akan selalu menjagai setiap orang yang teguh berpegang kepada-Nya, orang yang percaya kepada-Nya dengan damai sejahtera. Dalam beberapa pasal berikutnya, Yesaya kembali berkata “dimana ada kebenaran disitu akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran adalah ketenangan dan ketenteraman.” (Yesaya 32:17).

    Ada korelasi antara kebenaran firman Tuhan dengan damai sejahtera, ketenangan dan ketentraman. Kita akan sulit hidup dengan perasaan stres, takut, atau cemas setiap saat. Tapi bagi orang percaya, bagi anak-anak-Nya yang selalu hidup dengan menggantungkan kepercayaan sepenuhnya di tangan Tuhan, ada  damai sejahtera yang membawa ketenangan dan ketentraman. Ini adalah sesuatu yang tidak akan bisa kita beli dengan uang sebesar apapun, dan itu bukan berasal dari kondisi, melainkan dari Tuhan dan kebenaran Firman-Nya sendiri.

    Damai sejahtera sejati sesungguhnya hanya berasal dari Allah. Artinya, Tuhan sanggup mengaruniakan damai sejahtera dan ketenangan kepada siapapun yang teguh hatinya untuk bertumpu pada Tuhan. Itulah yang menjadi dasar untuk menerima damai sejahtera yang berasal dari Tuhan dan bukan tergantung dari keadaan yang kita alami saat ini di dunia (Yohanes 14:27 dan 2 Petrus 1:2). Pengenalan akan Allah dan Yesus akan membuat kita dilimpahi oleh kasih karunia dan damai sejahtera.

    Tuhan sudah menyediakan damai sejahtera dan ketenangan pikiran bagi kita, yang akan memampukan kita untuk menghadapi segala sesuatu tanpa kehilangan sukacita. Yang dibutuhkan adalah iman kita untuk percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati. Tidak ada janji Tuhan yang tidak Dia genapi. Memang akan selalu ada situasi sulit dalam hidup kita. Namun kita akan senantiasa tenang jika kita percaya pada Tuhan, karena Tuhan membekali kita dengan damai sejahtera yang memberi ketentraman dan ketenangan. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3 dan 12?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Yohanes 14:27 dan 2 Petrus 1:2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tidak ada tempat bagi stres dan cemas karena Tuhan menjagai kita dengan damai sejahtera. (pg)

  • SERAKAH: Untukku dan Untukku

    Sahabat, KESERAKAHAN adalah salah satu sifat yang bisa timbul dalam diri seseorang.  Serakah bisa diartikan:  Suatu hasrat yang berlebihan atau keinginan untuk memperoleh sebanyak-banyaknya.  Serakah dapat nyata dalam cinta akan uang  (materi).  Karena serakah terhadap warisan seseorang bisa mengorbankan hubungan dengan saudara kandung sendiri. 


    Keserakahan selalu menuntun seseorang kepada perilaku yang salah dan menyimpang dari kebenaran, yang semata-mata bertujuan untuk kepentingan diri sendiri.
    Keserakahan ibarat penyakit yang mewabah. Dengan gampang orang menjarah milik orang lain, dengan mudah teman makan teman.

    Manusia sulit mengontrol hasrat untuk memiliki apa yang bukan haknya. Keinginan manusia yang tidak terbatas, menjadikan sifat rakusnya tak terkendali. Akibat keserakahan, tidak sedikit orang yang harus berhadapan dengan penegak hukum dan menghuni hotel prodeo. Ingatlah, serakah orientasinya untukku dan untukku.

    Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “SERAKAH: Untukku dan Untukku.” Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 23:1-16 dengan penekanan pada ayat 4-5. Sahabat, dalam Amsal 23 Salomo
    mulai dengan gambaran tentang perjamuan dan hubungan seseorang dengan lingkungan istana atau para petinggi negara.

    Seseorang harus takut dan berhati-hati sebab perjamuan dengan raja bukan sekadar jamuan makan kenyang dan makan enak, melainkan untuk bercakap-cakap dan berdiskusi. Sikap terhadap raja dan apa isi pembicaraan dalam perjamuan itu menjadi latar belakang peringatan-peringatan melawan ambisi dan ketamakan akan kekayaan, serta kekuasaan dan kemewahan (ayat 4-5). Maka hati-hati jangan terlalu fokus pada makanan yang lezat dan menggiurkan yang tersaji di hadapan kita.

    Dalam jamuan itu, seseorang begitu mudah masuk ke dalam pencobaan dan terancam jatuh dalam dosa ketamakan, kemewahan, hawa nafsu daging, serta makan minum secara berlebihan. Jika pandangan mata senantiasa terarah pada kekayaan, maka kekayaan akan terbang lenyap. Saat itu seperti Haman yang tidak memikirkan hal lain selain kehormatan diri (Ester 5:12) dan menyenangkan langit mulutnya, maka jerat pun terpasang di kepalanya.

    Sahabat, jika kita tidak mau terjerat, ada dua hal perlu diperhatikan. Pertama, memperhatikan apa yang ada di depan kita (ayat 1b). Artinya, perlu kehati-hatian dalam melihat, memilih, dan memutuskan sesuatu, agar hal itu tidak membahayakan diri sendiri (ayat 6-8). Kedua, siapakah yang ada di depan kita (ayat 1-a dan  9). Artinya, perlu hikmat dalam berkata-kata, tetapi lamban mengucapnya untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman atau pun pertengkaran.

    Jadi, saat ada hidangan lezat terbentang di depan kita, hendaknya menahan diri seolah-olah ada pedang di leher kita (ayat 2-3). Karena godaan dari kemewahan dan ketamakan terasa lebih kuat dan berbahaya bagi orang yang tidak terbiasa dengan jamuan besar. Hati-hati dalam jamuan besar terdapat unsur ketidaktulusan dari orang-orang yang memiliki kepentingan pribadi.

    Sahabat, pada dasarnya Tuhan tidak melarang seseorang memiliki kekayaan, dan juga tidak menganjurkan umat-Nya hidup miskin. Yang membahayakan adalah sikap serakah dalam memperoleh kekayaan. Orientasi hidup yang hanya ditujukan untuk memenuhi keinginan duniawi, itulah yang salah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Keserakahan itu sama dengan penyembahan berhala dan mendatangkan murka Tuhan  (Kolose 3:5-6). (pg)

  • A PLACE of SAFETY for the POOR and NEEDY

    Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) terjadi pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakartaibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad HattaSjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, mereka menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke Ibu kota RI di Yogyakarta. Agresi militer tersebut menebar ketakutan bagi   masyarakat di Yogyakarta dan sekitarnya. Akibatnya, mereka pun harus mencari tempat pengungsian.

    Sahabat, berita baik bagi kita semua: Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah Bapa, Tuhan kita, adalah tempat pengungsian bagi orang-orang lemah. Dia adalah tempat mengungsi bagi orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam kekurangan dan kesesakan. Dia, Yesus Kristus, Mesias dan Juru Selamat manusia berdosa adalah tempat mengungsi semua orang berdosa yang percaya kepada-Nya. A place of safety for the poor and needy.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “A PLACE of SAFETY for the POOR and NEEDY”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 25:1-5 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, Yesaya menggambarkan Allah sebagai tempat pengungsian bagi orang lemah dan miskin. Dia melindungi umat-Nya dari angin ribut, panas terik, dan kesombongan amarah orang gagah (ayat 4). Allah menunjukkan kepedulian-Nya kepada orang-orang yang disingkirkan, baik oleh lingkungan sosialnya karena kemiskinannya maupun yang disingkirkan oleh agama.

    Allah yang setia telah mengerjakan rancangan-Nya yang ajaib sejak dahulu (ayat 1). Dia mengalahkan musuh-musuh bangsa pilihan-Nya. Dia membuat kota-kota yang kuat dan berkubu menjadi timbunan reruntuhan dan tidak akan dibangun lagi untuk selama-lamanya (ayat 2). Dia membuat bangsa yang kuat akan memuliakan-Nya dan bangsa-bangsa yang gagah akan takut kepada-Nya (ayat 3).

    Sahabat,kondisi kehidupan kita saat ini juga tidak mudah. Kita tampaknya belum bisa keluar dari krisis dan tekanan ekonomi yang sulit. Pengangguran yang terjadi, persaingan kerja, dan pasar bebas bisa menakutkan bagi kita. Hal itu menyebabkan semakin banyak orang terpinggirkan karena kemiskinan dan ketidakmampuannya dalam bersaing. Situasi ini kian diperparah dengan munculnya jenis penyakit baru yang mengkhawatirkan karena mematikan. Singkatnya, ancaman hidup di sekitar kita makin menakutkan. Lalu, ke mana dan kepada siapa kita berlindung?

    Allah, jawabannya. Dialah tempat pengungsian bagi orang yang lemah dan miskin. “You have been a place of safety for the poor and needy in times of trouble” (ayat 4 – CEV). Dialah tempat berteduh dan batu karang yang kuat sebagai sandaran jiwa. Kita tak akan jatuh, bahkan diberi-Nya perasaan aman dan kelegaan. Allah akan memberikan kekuatan yang baru sehingga kita mampu menjalani hidup. Hendaklah kita tidak takut karena kita ada di dalam Allah.

    Sahabat, oleh sebab itu, janganlah kita takut, manakala kita lemah. Janganlah kita khawatir, ketika kita miskin. Jangan pula kita gamang, ketika dalam kesesakan. Bersukacitalah! Bergembiralah! Sebab kita mempunyai tempat pengungsian yang aman dan nyaman. Tuhan adalah tempat pengungsian kita, ketika kita dalam kesusahan. Tuhan sangat mengenal pada orang-orang yang berlindung kepada-Nya (Nahum 1:7 dan 2 Samuel 22:33). Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Berkat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Nahum 1:7 dan 2 Samuel 22:33?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan sangat mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya. Dialah yang menjadi tempat  pengungsian kita yang kuat dan sempurna. (pg).

  • Pilihlah JENENG

    Sahabat, sesungguhnya tidak ada orang yang bermimpi untuk hidup miskin. Jika bisa, tentu kita semua ingin hidup tanpa harus selalu mengencangkan ikat pinggang erat-erat. Kita bekerja banting tulang seharian bukan hanya ingin untuk hidup pas-pasan atau malah kekurangan.

    Semua orang ingin bisa menikmati hidup, dan cukup banyak orang yang percaya bahwa kenikmatan hidup itu berasal dari kekayaan. Uang dipercaya banyak orang bisa mendatangkan kebahagiaan. Karena pola pikir yang sudah mendarah daging seperti itulah,  kemudian cukup banyak orang yang rela melakukan apapun agar bisa memperoleh uang lebih dari ala kadarnya.

    Sering tanpa disadari, harga diri dan nama baik atau kehormatan keluarga pun tidak lagi dipandang sebagai sebuah hal yang penting kalau sudah bicara soal uang. Betapa ironisnya ketika orangtua bersusah payah membesarkan anak-anaknya agar mampu hidup dengan baik di masyarakat dan berbakti kepada  mereka, tetapi kemudian anak-anaknya malah melukai hati mereka dengan melakukan berbagai tindakan-tindakan yang tidak terpuji.

    Bapak Pdt. Paulus Hartono, teman sepelayanan yang tinggal di Solo, menyampaikan nasihatnya dalam campuran bahasa Indonesia dan bahasa Jawa: “Dapatkan JENENG (nama baik), maka JENANG (uang atau harta) akan mengikutinya.” Benar Pak Paulus, sesungguhnya NAMA BAIK itu lebih berharga daripada emas, intan, permata, dan istana. Nama baik merupakan warisan yang mulia dan berharga bagi anak cucu kita. Katena itu pilihlah JENENG.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “Pilihlah JENENG”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 22:1-6 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, ayat 1 mengajarkan bahwa ada dua hal yang lebih penting dibanding harta dan kekayaan. Pertama:  NAMA BAIK dan yang kedua: DIKASIHI ORANG.

    Reputasi bisa terbangun dengan baik bila kita melakukan kebaikan secara konsisten dengan tulus. Sedangkan kita memperoleh kasih bila kita telah menanam benih kasih kepada orang lain dalam jangka waktu yang panjang. Harta dan kekayaan mungkin memberi kita kenikmatan sementara, namun sekaligus godaan lebih besar untuk berdosa. Sebaliknya, membangun reputasi mendatangkan rasa hormat. Dikasihi orang membuat kita berbahagia.

    Sesungguhnya sekaya bagaimana pun seseorang, namun jika ia dibenci orang, semuanya tidak akan berarti. Bukan saja diri si pelaku korupsi yang akan susah, tetapi keluarga dan orangtuanya pun akan terkena dampak pula dari perilaku mereka. Banyak orang lupa menjaga nama baik demi mengejar harta, dan pada akhirnya penyesalanlah yang mereka dapati. Betapa mereka telah mempermalukan keluarga, mencoreng dan mencemarkan nama baik keluarga yang mereka sandang.

    Sahabat, bekerja dan berusahalah dengan jujur, lakukan semuanya dengan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan. Muliakan Tuhan dengan segala yang kita lakukan, teruslah berbuat baik dan tolonglah orang-orang yang kesusahan semampu kita. Tuhan sanggup melimpahkan semuanya tanpa kita harus menggadaikan kehormatan, nama baik keluarga atau malah mengorbankan keselamatan kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kehormatan dan kasih sayang adalah harta yang jauh lebih berharga daripada kekayaan materi fana. (pg).