Category: Sejenak Merenung

  • Mother’s LESSONS for LEMUEL

    Sahabat, syukur kepada Tuhan, hari ini kita sudah tiba di bagian akhir dari kitab Amsal. Ada dua nama yang disebut di bagian akhir kitab Amsal, yaitu Agur (30:1) dan Lemuel (31:1). Kita tidak tahu secara pasti siapa kedua nama tersebut. Namun, ada yang berpendapat bahwa Agur adalah nama lain untuk Salomo. Walau demikian, usaha untuk membuktikan bahwa dia adalah Salomo tidak terlalu meyakinkan.

    Kitab Amsal dapat digolongkan sebagai sastra kebijaksanaan dalam Perjanjian Lama. Kitab Amsal berisi banyak ajaran dan nasihat untuk memperoleh cara hidup yang baik dan bahagia. Ajaran atau nasihat-nasihat tersebut dibungkus dalam bentuk pribahasa atau petuah. Banyak diantaranya adalah petunjuk-petunjuk praktis dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya:  Petunjuk dalam hal pekerjaan, relasi dengan sesama, dan bahkan di dalam kehidupan berkeluarga.

    Hari ini kita akan belajar dari bagian akhir dari kitab Amsal dengan topik: “Mother’s LESSONS for LEMUEL”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 31:1-9. Sahabat, bacaan kita pada hari ini berbicara mengenai nasihat seorang ibu kepada anaknya.  Mother’s lessons for Lemuel. Ibu yang bijaksana dan peduli kepada anaknya yang telah manjadi pemimpin.

    Amsal-amsal untuk Lemuel dari ibunya perlu kita perhatikan. Sang ibu memperingatkan putranya mengenai dua kejahatan: Pertama, tentang SEKS (ayat 3). Sang Ibu mengajar anaknya agar tidak menghamburkan waktu dan kekuatan untuk bersenang-senang dengan perempuan. Nafsu seks yang berlebihan merupakan kelemahan utama Raja Salomo yang akhirnya membuat dia berpaling dari Tuhan dan menyebabkan Kerajaan Israel, yang semula merupakan satu kerajaan, terpecah menjadi dua kerajaan (1 Raja-raja 11:1-11).

    Kedua, tentang ALKOHOL (ayat 4-5). Ayat-ayat tersebut membicarakan tentang bahaya alkohol yang dapat menjatuhkan seseorang, termasuk para raja. Peringatan ini penting, terutama bagi para raja dan para pembesar. Para pemimpin tidak boleh minum alkohol karena saat mabuk mereka bisa melupakan hukum, lalu mempermainkan orang lemah serta melupakan kewajibannya.

    Lebih jauh dalam ayat 8-9, Sang Ibu memberikan nasihat agar Lemuel berbicara demi orang miskin dan tidak berdaya. Bagi seorang pemimpin, tidak cukup bila ia hanya menjauhkan diri dari kejahatan. Seorang pemimpin harus berusaha menolong orang yang tertindas dan yang miskin serta membela hak mereka secara adil.

    Sahabat, bacaan kita pada hari ini memberi peringatan yang tegas mengenai bahaya minuman keras dan perempuan. Hal tersebut dengan jelas ditujukan kepada mereka (kaum laki-laki) yang memiliki kuasa, jabatan dan harta benda. Minuman yang memabukan dapat memberi kenikmatan, tetapi di sisi lain membuat kita terlena dan kecanduan bahkan melupakan tugas dan tanggung jawab kita.

    Demikian juga halnya dengan perempuan, ia dapat memabukan kaum laki-laki bahkan membuat mereka tidak berdaya. Peringatan tersebut sangat krusial bagi para pemimpin yang menjadi panutan banyak orang dan menentukan nasib banyak orang. Minuman keras dan perempuan dapat membuat para pemimpin atau yang memiliki kuasa menjadi tidak berdaya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita terus bersikap bijak terhadap pasangan hidup, serta tidak terjebak di dalam kenikmatan hidup  yang memabukan. (pg).

  • OPPORTUNITY to Start A New and Better Life

    Sahabat, sesungguhnya TRAGEDI  jika dilihat dari KACAMATA  IMAN, akan memberi daya yang berbeda. Seperti pengalaman warga Alabama, Amerika Serikat, yang semula terkenal sebagai penghasil kapas.

    Pada tahun 1915 ketika populasi kumbang kapas di Alabama tiba-tiba meningkat. Selama 3 tahun, serangga itu secara aktif menghancurkan ladang kapas dan petani lokal yang pendapatannya bergantung pada penjualan kapas berada di ambang kebangkrutan. Mereka tidak tahu bagaimana cara memberantas hama ini.

    Ekonomi kota hancur. Banyak penderitaan terjadi. Namun, tragedi itu mencelikkan mata warga Alabama untuk melihat bahwa mereka dapat menanam sayuran dan buah- buahan. Akhirnya kota Alabama menjadi penyumbang pendapatan besar melalui usaha pertanian mereka. Kenangan yang tragis, hama kumbang, mereka jadikan maskot kota; tugu/monumen untuk mengenang bahwa kumbang membuat mereka berubah menjadi petani yang berhasil.

    Monumen tersebut terletak di Enterprise, Alabama ini. Patung tersebut menggambarkan dewi pertanian, tanaman gandum, kesuburan, dan hubungan keibuan. Ceres, dewi pertanian Romawi, memegang kumbang kapas, hama, di atas kepalanya. Monumen tersebut  didirikan pada tahun 1919 sebagai pengingat bahwa kadang-kadang bencana bukan akhir dari segala sesuatu, tetapi kesempatan untuk memulai kehidupan baru dan lebih baik.  Opportunity to start  a  new and better life.

    Hari ini kita melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya  dengan topik: “OPPORTUNITY  to Start A New and Better Life”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 33:17-22 dengan penekanan pada ayat 22. Sahabat, Israel melewati 3 perang besar berurutan, yakni:  Mesir, Babel dan Babel kembali.

    Dalam perang kedua dengan Babel, Israel dikalahkan dan umat Allah dibuang. Umat Allah hidup di pembuangan sekitar 80 tahun; sekitar dua generasi. Mereka tidak pernah membayangkan  akan kembali ke kampung halaman mereka, Israel. Namun, janji pemulihan Allah dikabarkan oleh Yesaya. Allah menjadi Penolong bagi Israel. Allah akan menyelamatkan mereka kembali.

    Yesaya juga menyatakan bahwa Allah adalah Raja bangsa Israel. Ia akan menyelamatkan mereka dari ketidakadilan. Allah akan menyatakan keadilan dan kebenaran di tengah umat-Nya. Ketakutan dan penindasan akan sirna. Umat-Nya akan hidup di dalam jaminan keselamatan Allah. Allah akan memberkati dan melindungi mereka. Mereka akan selalu merasa aman dan akan melihat kemuliaan Allah.

    Allah adalah Hakim yang Mahaadil dan Raja yang akan menyelamatkan bangsa Israel (ayat 22). Itulah janji-Nya dan tidak akan pernah dilupakan-Nya. Meski umat kerap melukai hati-Nya tetapi Allah memegang janji-Nya selamanya. Dia akan datang untuk menggenapi pengharapan umat-Nya tentang Raja yang adil.

    Sahabat, Allah mengetahui segala tragedi hidup yang telah kita alami. Ia tidak tinggal diam. Ia memakai segala sesuatu untuk menyelamatkan kita. Ia menolong kita dengan melihat kepada- Nya, Sang Sumber Pertolongan. Ia juga dapat menolong kita melihat semuanya dengan jernih, sehingga kita dapat memperoleh hikmat dari tragedi yang kita alami. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 20-22?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan tidak pernah melepaskan kita. Dia menjagai kita dengan segala kuasa yang ada pada -Nya. (pg).

  • JUST GIVE ME MY DAILY BREAD

    Sahabat, saya ingat dengan sebuah dongeng dalam bahasa Inggris yang berjudul: “The Greedy Dog”. Seekor anjing berlari-lari membawa tulang dari tong sampah. Ketika melewati jembatan, ia menunduk dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air sungai. Ia mengira, ada anjing lain membawa tulang yang lebih besar dari miliknya. Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan tulang yang digigitnya dan langsung terjun ke air. Anjing itu akhirnya harus bersusah payah berenang ke tepian. Akhirnya, ia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang digigitnya tadi sudah hilang.

    Dongeng tersebut menggambarkan sikap tidak berpuas diri yang berkembang menjadi keserakahan. Sesungguhnya kaya dan miskin itu adalah relatif. Persoalannya apakah kita bisa menikmati semua keadaan kita? Itu yang sering menjadi persoalan. Baik kaya maupun miskin sejatinya kita harus mampu menikmatinya.

    Pada masa kini banyak orang berorientasi kepada kekayaan dan itu sudah merupakan gaya hidup banyak orang. Rasanya hampir tidak ada seorang pun yang menginginkan hidup miskin, serba kekurangan dan terus kesulitan dalam memenuhi biaya hidup yang terus semakin tinggi. Tapi di sisi lain, sebuah status kekayaan akan dengan mudah menjerumuskan kita ke dalam rasa kepuasan berlebihan yang malah bisa membuat kita lupa kepada Sang Pemberi, bahkan lalu berkembang menjadi sebuah keserakahan.

    Semoga kita sebagai komunitas orang percaya berani berdoa: “Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.” Just give me my daily bread.

    Hari ini kita melanjutkan untuk belajar dari kitab Amsal dengan judul: “JUST GIVE ME MY DAILY BREAD”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 30:1-14 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat,  sebelum dia mati, Agur bin Yake memohon  dua hal kepada Tuhan (ayat 7):  Pertama, agar Tuhan menjauhkannya dari kecurangan dan kebohongan. Kedua, agar Tuhan tidak memberinya kemiskinan atau kekayaan. Intinya, ia memohon agar Tuhan memberikan apa yang memang menjadi bagiannya (ayat 8). Alasan dari permohonan ini ada di ayat selanjutnya, “Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku” (ayat  9).

    Permohonan Agur menunjukkan kepercayaannya: Tuhan sudah menyiapkan berkat khusus baginya. Sesungguhnya hal tersebut penting, karena Tuhanlah sebenarnya yang tahu sampai dimana kemampuan dan kapasitas kita untuk menerima sesuatu. Jangan sampai kita menderita miskin lalu sulit untuk melakukan firman Tuhan, di sisi lain jangan sampai kekayaan membuat hubungan kita dengan Tuhan menjadi renggang.

    Apa yang baik adalah sesuai dengan takaran Tuhan, bukan takaran kita. Dia tahu apa yang kita butuhkan, Dia jauh lebih mengenal diri kita, oleh karena itu yang terbaik adalah menyerahkan keputusan ke dalam tangan Tuhan. 


    Sahabat, menyadari bahwa kita memiliki bagian kita sendiri akan menghindarkan kita dari keserakahan atau mengingini milik orang lain. Keserakahan berpotensi membuat kita kehilangan kebaikan-kebaikan yang kita miliki. Jiwa kita akan dirundung oleh kekecewaan dan kekhawatiran. Karena itu, baiklah kita belajar bersyukur atas bagian khusus itu. Dalam pemeliharaan-Nya, kita tidak akan mengalami kekurangan. Dalam penjagaan-Nya, kita akan mengalami kepuasan dan kecukupan yang sesungguhnya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Keserakahan mendatangkan kekurangan, rasa syukur membuahkan kecukupan. (pg).

  • There is HOPE

    Sahabat, siapa bilang hidup itu mudah? Hidup itu memang penuh dengan tantangan dan kesulitan, dan itu seringkali menjadi sebab terampasnya kebahagiaan dari hidup seseorang. Mereka berubah menjadi pribadi-pribadi kaku, dingin, dan beku  karena tekanan pekerjaan dan tekanan hidup yang merubah mereka hidup seperti tanpa jiwa.

    Untuk itu sebuah sikap hati yang baik untuk ditanamkan dalam melakukan aktivitas atau pekerjaan adalah bekerja atau berusaha dengan PENGHARAPAN. Sangatlah penting bagi kita untuk tetap memiliki pengharapan dalam bekerja, bukan hanya melakukannya tanpa jiwa, tanpa target, tanpa impian dan harapan.

    Mengapa hal itu penting? Karena tanpa pengharapan kita tak ubahnya seperti robot yang hanya berjalan sesuai program tanpa kerinduan apapun dalam hati kita. Senyumlah … Masih ada pengharapan. There is  hope.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “There is  HOPE”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 32:1-20. Sahabat,  pada ayat 1-8 nabi Yesaya mengungkapkan harapannya kepada bangsa Yehuda, yaitu terwujudnya keadilan di Israel. Telah diungkapkan di pasal 28:7-19 bahwa para pemimpin Yehuda berlaku korup dan tidak adil. Karena itu Sang Nabi mendambakan munculnya seorang raja yang berlaku adil, yang menegakkan pemerintahan atas dasar keadilan. Bila sang raja berlaku adil, bawahannya pun akan bertindak adil.

    Dalam hal ini Sang Nabi mengkritik tindakan raja. Di satu sisi, jika raja atau pemimpin Yehuda adil maka jalannya kepemimpinan di seluruh Yehuda akan didasarkan atas dasar keadilan (ayat 1-8). Di sisi lain, yang terjadi adalah pemimpin di Yehuda berlaku korup sehingga ketidakadilanlah yang terjadi. Tak heran bila Sang Nabi mengharapkan Allah mengutus seorang mesias, raja yang akan menegakkan keadilan di bumi Israel. Pengharapan Sang Nabi dapat digolongkan sebagai pengharapan mesianis.

    Sahabat, setelah mengungkapkan harapannya, Sang Nabi mengajarkan bahwa semua tindakan ada konsekuensinya. Ungkapan “perempuan-perempuan” pada ayat 9-20 lebih berarti kota Yerusalem (kota dalam bahasa Ibrani dipakai dalam bentuk feminin, dan kota Yerusalem sering juga disebut “putri Sion” menurut kelaziman waktu itu). Bangsa Yehuda (dalam hal ini diwakili ibukotanya, Yerusalem, yang saat itu disebut dengan “perempuan-perempuan”)  merasakan aman dan tenteram. Ini tentu karena mereka mendapat perlindungan dari Mesir di bawah ancaman Asyur (ayat 9-14). Namun keamanan itu bersifat semu, sebab mereka akan hancur jika memohon perlindungan  bukan dari Tuhan.

    Syukur, ada saatnya  Tuhan akan membela umat-Nya dan akan mencurahkan keadilan di bumi Yehuda (ayat 15-20). Ternyata masih ada pengharapan bahwa Tuhan akan menegakkan keadilan bagi umat. Itulah pengharapan bagi umat di tengah kesulitan.

    Sahabat, jika Sahabat merupakan salah seorang dari orang-orang yang melihat masa depan sebagai sesuatu yang suram, bahkan gelap gulita. Terangilah pandanganmu  dengan pengharapan. Ini adalah salah satu buah dari iman yang seharusnya ada pada diri setiap orang percaya.

    Jika  merasa apa yang sedang Sahabat kerjakan hari ini sepertinya menyita hidupmu secara sia-sia, berdoalah dan tanyakan kepada Tuhan dimana titik masalahnya. Izinkan Tuhan berbicara dan memberitahukan rencana-Nya kepadamu sambil terus memupuk pengharapan dalam ketaatan. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Berkat apa yang Sahabat pereoleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tetap miliki nyala pengharapan dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. (pg)

  • FEAR to OTHERS Will LEAD to A SNARE

    Sahabat, rasa takut sungguh manusiawi, kita semua sewaktu-waktu bisa merasa takut, tetapi kalau rasa TAKUT itu ditujukan kepada MANUSIA pastilah merugikan karena akan mendatangkan JERAT. Biasanya, orang yang takut kepada manusia hidupnya tidak akan tenang, orangnya tidak kreatif sebab ia akan terus mencari muka di dalam setiap tindakannya. Orang yang takut kepada manusia pastilah orang yang tidak percaya diri bahkan orang yang tidak percaya kepada Tuhan, sehingga hidupnya tidak tenang, ia akan terus merasa gelisah dan pada akhirnya ia akan dililit oleh permasalahan yang bagaikan jerat. 

    Takut kepada manusia akan mendatangkan jerat dalam kehidupan kita. Banyak orang yang terjerat dengan apa yang akan orang lain katakan dan lakukan kepadanya. Seringkali kita berusaha untuk menyenangkan orang lain, agar mereka mengatakan dan melakukan yang baik kepada kita. Ketika kita takut dengan apa yang orang lain akan lakukan dan katakan tentang kehidupan kita, kita sebenarnya sedang menempatkan diri kita pada posisi yang rentan

    Sesungguhnya takut kepada orang mendatangkan jerat. Fear to others will lead to a snare.

    Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “FEAR to OTHERS Will LEAD to A SNARE”.  Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 29:16-27 dengan penekanan pada ayat 25. Sahabat, manusia cenderung takut kepada manusia daripada takut akan Allah. Tidak mengherankan Pengamsal berkata jika orang fasik bertambah, maka bertambah pula pelanggaran (ayat 16). Artinya, pengaruh mereka semakin besar. Mereka dapat memengaruhi orang yang tadinya tidak mau berbuat jahat ikut melakukan kejahatan, sehingga kawanan orang fasik bertambah.

    Walaupun orang fasik kelihatan berkuasa dan membuat banyak orang takut dan ikut berbuat jahat, Pengamsal mengajarkan bahwa ketakutan itu hanya mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN pasti dilindungi (ayat 25).

    Kita harus menyadari bahwa seberapa besar kuasa orang fasik, pada akhirnya kefasikan mereka akan menjadi jerat bagi dirinya. Orang benar akan menang atas mereka.

    Pemerintah adalah instansi manusia yang sangat berkuasa di muka bumi. Karena itu, banyak orang lebih takut kepada pemerintah dan mencari muka pada pemerintah (ayat  26). Tetapi, kita harus menyadari bahwa semua pemerintah di dunia berada di bawah kekuasaan Allah,  “… tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah” (Roma 13:1).

    Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa seberapa besar kuasa seseorang atau sebuah pemerintahan, kekuasaan tersebut tetap ada dalam kedaulatan dan kontrol Allah. Pada akhirnya, kita semua akan mendapatkan penghakiman dari Allah. Kita harus lebih takut kepada Allah, daripada takut kepada manusia. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika Sahabat ingin lepas dari jeratan yang menjerat kehidupanmu, percayalah kepada Tuhan dan hormatilah Dia! (pg).

  • Mengapa MENGANDALKAN MESIR?

    Sahabat, setiap orang yang mengikut Kristus dan percaya kepada-Nya selain disebut sebagai  Kristen juga disebut orang percaya.  Anehnya, walaupun disebut sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, masih ada diantara mereka yang tidak benar-benar percaya kepada-Nya. 

    Mereka tidak bergantung penuh kepada Tuhan dan mengandalkan Dia.  Sebaliknya mereka cenderung mengandalkan kekuatan sendiri dan juga sesama manusia yang sedang berjaya atau punya kuasa.  Ada akibat yang sangat mengerikan jika seseorang lebih mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri, bukan hanya tidak mendatangkan berkat, melainkan akan mendatangkan kutuk (Yeremia 17:5)

    Sahabat, dalam Alkitab Perjanjian Lama, kata  “Mesir”  melambang dunia;  sedangkan kuda, kereta dan pasukan berkuda melambangkan kekuatan dunia.  Firman Tuhan mengingatkan agar kehidupan orang percaya tidak bergantung padanya, dan tidak bersandar atau mengandalkan apa pun yang ada di dunia ini. Lalu mengapa mengandalkan Mesir?

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Mengapa MENGANDALKAN MESIR?”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 31:1-9. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan pengulangan dari perikop-perikop sebelumnya. Ini menandakan bahwa berita itu sangat penting untuk didengarkan oleh umat, karena umat diajak untuk bertobat, yaitu dengan kembali menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya Pelindung Israel.

    Israel pergi ke Mesir untuk meminta pertolongan. Mereka mengira pasukan Mesir mampu menolong dalam perang menghadapi kerajaan Asyur. Israel melihat bahwa Mesir memiliki banyak pasukan berkuda yang handal (ayat 1). Oleh karena itulah, mereka langsung datang meminta pertolongan meski harus menempuh perjalanan jauh. Keputusan ini keliru karena mereka tidak datang kepada Allah. Mengapa mengandalkan Mesir?

    Apa yang kemudian terjadi? Mesir justru dikalahkan Asyur. Allah memakai Asyur untuk menyadarkan bangsa Israel bahwa orang Mesir adalah manusia biasa (ayat 3). Mereka dan kuda-kudanya adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Seandainya Allah mau, bangsa Israel pun bisa ikut hancur bersama Mesir. Namun, kasih Allah masih tetap ada untuk umat pilihan-Nya. Oleh sebab itu, Dia memperingatkan bangsa Israel untuk mendekat kepada-Nya.

    Sahabat, seperti halnya Allah menolong bangsa Israel, Dia juga sanggup menolong kita yang percaya kepada-Nya. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN” (Yeremia 17:7). Dia adalah Allah yang sama dari dahulu sampai selama-lamanya. Pribadi-Nya tidak berubah, begitu juga dengan kuasa dan kasih-Nya. Dia selalu dapat kita andalkan dalam segala aspek kehidupan.

    Hari ini kita diingatkan untuk TIDAK MENGANDALKAN MESIR, sebaliknya mari kita mengandalkan Tuhan dan menaruh pengharapan  hanya kepada-Nya sebab pengharapan di dalam Dia tidak pernah mengecewakan. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1?
    2. Apa yang Sahabat pahmi dari Yeremia 17:7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ada dampak yang luar biasa ketika seseorang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan kepada-Nya, yaitu diberkati secara berlimpah dan tinggal tenang. (pg).

  • The Right Choice of being A Blessing

    Sahabat, sadar atau tidak, setiap hari kita  bertemu dengan begitu banyak pilihan dan  keputusan kita akan sangat menentukan langkah selanjutnya. Ketika kita bangun pagi, kita  bisa memilih apakah mau mengambil waktu sejenak untuk benar-benar bangun  terlebih dahulu, kemudian bersaat teduh; atau langsung mandi; atau langsung menikmati segelas kopi hangat; atau langsung menikmati sepiring buah segar?

    Sampai kita kembali tidur kita akan terus bertemu dengan berbagai macam pilihan yang akan berbeda hasilnya tergantung  dari apa yang kita pilih. Ingatlah: Pilihan tepat jadi berkat. The right choice of being a blessing.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kita Amsal dengan topik: “The Right Choice of being A Blessing.” Bacaan Sabda saya ambil dari kitab Amsal 28:1-28 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat,  Pengamsal dalam Amsal 28  mencoba membandingkan kehidupan orang fasik dan orang benar. Betapa orang yang terus-menerus berbuat fasik akan senantiasa dilanda ketakutan, mereka siap lari walaupun tidak  ada yang mengejarnya. Meskipun mereka berpura-pura tenang, ada ketakutan- ketakutan tersembunyi yang menghantui mereka ke mana pun mereka pergi, sehingga mereka takut sekalipun tidak ada bahaya yang menimpa atau mengancam mereka.

    Sebaliknya, alangkah tenteramnya orang-orang yang senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni dan bebas dari pelanggaran, dan dengan demikian menjaga diri mereka tetap ada di dalam kasih Allah, mereka menikmati keamanan dan ketenangan pikiran dengan rasa kudus: Orang benar merasa aman seperti singa, ya seperti singa muda.

    Selanjutnya dalam ayat 18, Pengamsal  membandingkan orang jujur dan tidak jujur. Orang yang jujur selalu aman. Orang yang berbuat jujur, yang berbicara seperti ia berpikir, yang matanya dalam segala hal hanya tertuju semata kepada kemuliaan Allah dan kebaikan saudara-saudaranya, yang tidak mau, demi apa pun di dunia, melakukan suatu hal yang tidak adil jika ia mengetahuinya, yang segala perilaku hidupnya tidak bercela, ia akan diselamatkan di kehidupan nanti. Kita mendapati sekumpulan orang-orang mulia dari orang-orang yang di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta (Wahyu 14:5). Mereka akan aman sekarang.

    Sahabat, kejujuran dan kelurusan akan menjaga orang, akan memberi mereka rasa aman yang kudus di masa-masa terburuk. Mereka bisa saja terluka, tetapi tidak bisa disakiti.

    Sebaliknya, orang-orang yang palsu dan tidak jujur tidak pernah aman: Siapa berliku-liku jalannya, yang ingin mengamankan dirinya dengan perbuatan-perbuatan curang, dengan menipu dan berkhianat, atau dengan menumpuk harta benda yang diperoleh secara keji, ia akan jatuh, bahkan, ia akan langsung jatuh ke dalam lobang, bukan secara perlahan-lahan, dan dengan diberi peringatan sebelumnya, melainkan secara tiba-tiba, tanpa diberitahu sebelumnya.

    Keadaannya paling tidak aman ketika ia merasa paling terlindungi. Ia langsung jatuh, sehingga tidak mempunyai waktu entah untuk berjaga-jaga melawan kehancurannya atau membuat persediaan untuk menghadapinya,  karena datangnya mengejutkan, maka itu akan menjadi kengerian yang luar biasa hebat baginya.

    Sahabat, jatuh bangunnya seseorang dan juga institusi tergantung pada pilihan kita sendiri. Pilihan untuk hidup dalam kefasikan atau kebenaran, kejujuran atau kedustaan, takut akan Tuhan atau mengeraskan hati, dan seterusnya. Selamat menjalani hidup dengan pilihan yang tepat. The right choice of being a blessing. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam kehidupan, kita selalu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Karena itu, pilihlah sesuatu yang membawa kepada kehidupan. (pg).

  • TUHAN siap MENOLONG kita

    Dalam menempuh perjalanan hidup, kita seringkali dihadapkan pada ujian, tantangan dan rintangan, dan tidak bisa dipungkiri hal itu membuat kita lemah, patah semangat dan frustasi.  Saat berada di situasi sulit seperti itu terkadang kita baru menyadari bahwa kehadiran Tuhan dan pimpinan-Nya sangat kita butuhkan. Kita butuh pertolongan Tuhan dan sesungguhnya Tuhan siap menolong kita.

    PERTOLONGAN.  Semua orang yang pernah berada dalam kondisi terdesak dan tanpa daya tahu persis betapa berartinya hal tersebut. Pemazmur bercerita: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:1-2)

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “TUHAN siap MENOLONG kita.” Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 30:1-17. Sahabat, bacaan kita pada hari ini menceritakan bahwa pada saat itu situasi politik sangat genting dan panas. Bangsa Israel mendapat ancaman yang mengerikan. Negeri Asyur yang saat itu merupakan kekuatan adidaya, mengancam untuk menyerang dan menghancurkan mereka.

    Jika dibandingkan, kekuatan militer Asyur dengan Yehuda sangat tidak seimbang. Sebagai negara adidaya, Asyur jauh lebih kuat dibandingkan Yehuda. Ini membuat Yehuda sangat gentar di dalam menghadapi kekuatan yang sangat besar itu.

    Sahabat, namun yang mengherankan, Israel tidak memohon pertolongan kepada Tuhan. Padahal mereka tentu tahu pengakuan iman mereka kepada Tuhan. Mereka tahu bahwa yang membawa mereka keluar dari Mesir dan membuat mereka berhasil melawan kekuatan-kekuatan besar dalam perjalanan mereka hanya Tuhan saja.  Ya, hanya karena Tuhan menyertai dan menolong mereka.

    Namun hal itu semua seolah hilang dari ingatan mereka karena mereka justru memohon pertolongan kepada kekuatan Mesir. Itulah sebabnya Tuhan berkata: “… Mesir yang memberi pertolongan yang tak berguna dan percuma; …” (ayat 7). Maka ajakan untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan diberikan kepada umat Yehuda. Namun jika mereka masih tetap tidak mau berbalik kepada Tuhan maka hukuman akan dijatuhkan (ayat 15-17).

    Pengakuan iman bahwa pertolongan bagi kita hanya datang dari Tuhan, kiranya  ada pada kita. Hal  itu bermakna bahwa kita harus senantiasa menantikan pertolongan dari Tuhan, dan bukan yang lain. Ingatlah selalu sesungguhnya Tuhan siap menolong kita.

    Sahabat, kita sebagai komunitas orang percaya dipanggil untuk mencerminkan Tuhan di dunia ini. Setiap kita yang telah merasakan pertolongan, anugerah, dan kasih-Nya, seharusnya berkenan  menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong sesama. Tiap hari di sekitar kita ada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Kiranya kita tidak hanya puas menjadi penonton-penonton yang duduk manis, tetapi menyediakan diri dipakai menjadi saluran berkat, membawa mereka mengenal Tuhan, satu-satunya Penolong yang sejati.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini,jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-5?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan menolong kita agar kita dapat menolong sesama. (pg).

  • ETIKA dalam KESEHARIAN

    Sahabat, ETIKA yaitu Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

    Etika akan menentukan beberapa prinsip atau asas apakah suatu tingkah laku baik atau buruk, apakah tingkah laku tersebut dapat dipertanggungjawabkan atau tidak yang berkaitan dengan kemanusiaan. Etika dapat berupa peraturan dan ketetapan secara lisan maupun tertulis mengenai bagaimana menusia bertindak agar menjadi manusia yang baik, sehingga tercipta perdamaian di dunia.

    Etika juga sangat erat kaitannya dengan perilaku, perbuatan, dan tingkah laku suatu individu. Dengan begitu, umumnya, etika akan terbentuk secara alami akibat adanya perilaku, perbuatan, dan tingkah laku dari individu tersebut. Intinya, bagaimanapun  juga etika sangat amat berkaitan dengan perilaku dan perbuatan yang dilakukan oleh individu itu sendiri.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “ETIKA dalam KESEHARIAN”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 27:1-14. Sahabat, bacaan kita pada hari ini memberikan kita nasihat bagaimana beretika dalam keseharian. Pertama, kita jangan bersikap sombong berkenaan dengan hari esok, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Begitu pula jangan menyombongkan diri tentang kehebatan sendiri, dan biarlah orang lain yang memuji (ayat 1-2).

    Kedua, hati-hati tentang perasaan kita, terutama perasaan negatif. Sakit hati manusia merupakan sesuatu yang terasa berat, terutama sakit hati yang ditimbulkan orang bodoh (ayat 3). Perasaan negatif lain yang sangat berat adalah perasaan cemburu, bahkan lebih parah dari panas hati dan murka (ayat 4).

    Sahabat, Amsal14:30 mengingatkan kita:  “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.”  Karena itu  jangan terus menimbun sakit hati dan cemburu, karena pada akhirnya hanya akan mencelakan diri kita  sendiri.

    Ketiga, orang bijak tidak takut dengan teguran. Bahkan ia mengharapkan orang lain dapat memberinya teguran atau kritikan, supaya ia dapat belajar menjadi lebih berhikmat (ayat 5-6). Karena itu, jangan mencari orang yang memuji dengan berlebihan, Sebaliknya  carilah teman yang memikirkan tentang kemajuanmu dan mau mengkritikmu.

    Keempat, ingatlah madu yang manis akan diinjak oleh orang yang sudah kenyang. Namun segala yang pahit dirasakan manis oleh orang yang lapar (ayat 7). Dengan demikian, kita akan menerima secara berbeda sesuai keadaan kita. Lagi pula kita sering meremehkan hal yang baik, ketika kita terus diberkati dengan berlimpah. Sebaliknya, saat dalam keadaan susah, kita akan lebih menghargai sedikit yang diberikan kepada kita.

    Kelima, hati-hati, jangan sembarangan memberikan jaminan bagi orang asing, jika tidak ingin merasakan akibat buruknya (ayat 13). Kita perlu berhikmat dalam berbuat baik, supaya tidak mencelakakan diri sendiri. Demikian pula dengan memberi selamat. Jika tidak dilakukan dengan hikmat dapat menjadi sesuatu yang buruk. Untuk itu, kita perlu belajar mengatakan segala sesuatu dengan tepat dan pada waktu yang tepat (ayat 14).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-2?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:  Seringkali pujian atau sanjungan yang berlebihan itu akan menjerat diri kita sendiri kepada suatu kesombongan. (pg). 

  • BLESSING in DISGUISE

    Sahabat, ada ungkapan lama dalam bahasa Inggris yang sangat terkenal:  “Blessing In Disguise”, yang artinya berkat yang tersembunyi atau berkat terselubung. Ungkapan tersebut hendak menyampaikan bahwa kadang kita sulit mengenali berkat Tuhan yang diberikan kepada kita. Berkat itu tersamar dalam suatu peristiwa yang tidak terduga.

    Berkat itu sulit terlihat karena tertutupi pengalaman yang tidak menyenangkan. Teman sepelayanan istri saya bercerita, pagi itu dia berencana terbang dari Semarang ke Jakarta dan selanjutnya bersama-sama dengan teman-temannya dari berbagai daerah akan mengikuti tur ke Thailand. Pagi itu dia terlambat tiba di bandara karena ada hambatan di perjalanan daratnya, akibatnya dia ketinggalan pesawat. Ketika dia sedang mencari peswat pengganti,  HP- nya berbunyi dan ada berita yang sangat mengejutkan: Suaminya mendadak meninggal dunia karena suatu kecelakaan. Maka cepat-cepat dia kembali ke rumahnya

    Pada mulanya dia merasa menyesal, jengkel, dan tidak beruntung karena ketinggalan pesawat. Namun pada akhirnya, ia melihat peristiwa itu sebagai berkat Tuhan yang luar biasa baginya. Memang tidak mudah untuk mengenali berkat yang tersembunyi itu. Butuh waktu untuk mengendapkan dan mengenalinya.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “BLESSING in DISGUISE”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 29:1-8. Sahabat, Dalam bacaan kita, Yesaya menyampaikan bahwa Yerusalem akan mengalami pengepungan oleh musuh, keadaan mereka pada saat itu akan sangat mengerikan (ayat 1-4).

    Memang pada akhirnya Allah melepaskan mereka. Namun, cara Allah menolong umat-Nya sungguh mengerikan karena dengan menimbulkan guntur, gempa, suara hebat, puting beliung, badai, dan nyala api (ayat 5-6).

    Memang semua itu membuat musuh mundur, akan tetapi penduduk Yerusalem juga merasakan kengeriannya. Bagaimana mereka bisa melihat bahwa hal itu adalah cara Allah menolong mereka? Mungkin saja pada akhirnya mereka justru bersungut-sungut karena ketakutan. Sudah dikepung musuh, mereka masih juga harus dikelilingi bencana alam.

    Sahabat, mungkin kadang sesekali kita  mengalami peristiwa yang membuat Allah sulit dipahami. Dalam situasi seperti itu, sebaiknya kita berusaha untuk diam dan tenang. Melihat ke dalam diri kita dan bertanya, “Mengapa Allah mengizinkan keadaan yang sulit terjadi? Apa yang harus diubah dalam hidupku?”

    Kita perlu merendahkan hati dan melakukan refleksi dari pengalaman buruk itu. Marilah kita membuka mata lebih lebar untuk melihat lebih dekat supaya dapat belajar mengerti kehendak Allah melalui peristiwa tersebut. Semoga dengan usaha tersebut, Allah yang tadinya sulit dipahami akan semakin kita kenal lebih dekat. Dengan demikian, kita dapat melihat berkat-Nya yang tersembunyi.

    Sahabat, pertolongan Tuhan memang tak dapat dideteksi kapan dan bagaimana akan terjadi. Kita hanya perlu mengimaninya. Kita mungkin tidak dapat menebak jalan-Nya, namun kita dapat meyakini kebaikan-Nya. Jika pertolongan-Nya dapat dideteksi, kita mungkin tidak  mau bergantung pada-Nya lagi. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita mungkin tidak dapat menebak jalan-Nya, namun kita dapat meyakini kebaikan-Nya. (pg).