Category: Sejenak Merenung

  • SANJUNGAN: Bak MINYAK yang LICIN Tertuang di Jalan

    SANJUNGAN. Sahabat, di ZAMAN NOW hampir semua orang ingin  menjadi orang terkenal, yang DIPUJI dan DISANJUNG oleh banyak orang.  Dunia memang haus akan sanjungan, penghargaan dan pujian.  Banyak yang rela mengorbankan waktunya demi meraih popularitas dan sanjungan dari pihak lain.

    Namun bagi kita sebagai orang percaya, khususnya para pelayan Tuhan, berhati-hatilah!  Jangan sampai kita haus pujian dari orang lain, karena biasanya kata-kata pujian dan sanjungan itu sangat berbahaya.  Sebab apabila kita mabuk SANJUNGAN kita akan tergelincir.  Sanjungan itu bagaikan minyak yang licin tertuang di jalan, siapa pun yang lewat pasti akan jatuh tergelincir. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “SANJUNGAN: Bak MINYAK yang LICIN Tertuang di Jalan”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 39:1-8 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Raja Hizkia sakit dan nyaris mati. Namun Tuhan menyembuhkannya. Mendengar sang raja telah sehat kembali, raja Babel mengirim utusan dan memberikan hadiah sebagai tanda sukacitanya. Merasa TERSANJUNG karena mendapat perhatian dari penguasa negeri yang besar, Hizkia memamerkan seluruh harta bendanya, termasuk gudang senjatanya kepada para utusan tersebut. Ya semuanya dipamerkan!

    SANJUNGAN membuatnya kehilangan kepekaan. Ia lupa bahwa Babel adalah musuh bangsanya. Lalu Nabi Yesaya menegur sang raja. Ia menubuatkan bahwa semua harta berharga di Kerajaan Yehuda itu akan diangkut ke Babel, termasuk keturunan sang raja. Namun itu tidak terjadi pada masa hidupnya.

    Ternyata SANJUNGAN raja Babel membuat kepekaan raja Hizkia menjadi tumpul. Mendengar nubuat tersebut, Hizkia berpura-pura senang. Ia bahkan memuji bahwa firman Tuhan yang Yesaya sampaikan itu sangat baik.

    Keterlaluan, Hizkia bukannya menyesali tindakannya dan bertobat, malah merasa lega karena hukuman itu tidak terjadi semasa hidupnya. Hizkia, yang sebelumnya sangat mengandalkan Tuhan, serta dengan berbagai upaya telah menjauhkan bangsanya dari penyembahan berhala, akhirnya menjadi picik dan tidak peduli dengan masa depan bangsanya. KEMAPANAN  dan SANJUNGAN MANUSIA membuatnya lupa diri, mabuk kepayang.

    Sahabat, sesungguhnya hidup mengandalkan Tuhan bukanlah perkara sekali jadi, melainkan komitmen setiap hari. Ada banyak hal yang dapat membuat kita tergelincir darinya: Sanjungan manusia, kemapanan, kekayaan, kesuksesan, kuasa jabatan, godaan gemerlap dunia, dan lain-lain. Karenanya kita perlu tetap waspada, agar tidak menjadi picik dan hanya memikirkan diri sendiri.

    Segala yang kita miliki adalah karya kasih Allah dalam kehidupan kita. Semuanya mempunyai tujuan untuk memuliakan Allah. Jangan sampai kita mencuri kemuliaan-Nya dengan menghilangkan peran Allah. Akuilah kasih-Nya dalam semua keberhasilan yang ada dan muliakanlah selalu keagungan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan  tidak pernah tertidur dan terlelap, Dia senantiasa memerhatikan dan menyediakan upah untuk setiap jerih lelah kita bagi Dia. (pg).

  • MENIKMATI HIDUP

    Sahabat, pada suatu sore, Santo bercerita tentang Nining, istrinya. Ketika kedua anaknya masih kecil, penghasilannya kecil, kondisi ekonomi keluarganya tentu saja pas-pasan. Kemudian Nining minta izin supaya dia diperbolehkan  kembali bekerja.

    Akhirnya Nining  mulai bekerja lagi. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, ia dipromosikan untuk jabatan yang cukup tinggi. Tentu materi tidak lagi menjadi persoalan bagi keluarganya. Namun, Nining sekarang terlalu sibuk untuk mengurus anak-anak atau menemani suaminya. Saat mereka mendapatkan kesempatan untuk pergi sekeluarga pun, ia tak pernah bisa lepas dari tuntutan pekerjaan. Ponselnya selalu berdering.

    Seiring berjalannya waktu, anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tertutup. Hubungan dengan suaminya pun memburuk. Seolah ada jurang yang makin menganga yang memisahkan mereka. Lama-kelamaan, Nining berubah menjadi pribadi yang cepat marah, sulit puas, dan banyak menuntut.

    Sahabat, ironis bukan? Penghasilan yang diperoleh seseorang dari pekerjaannya seharusnya membuatnya lebih leluasa melakukan apa yang ia inginkan. Nyatanya, tak selalu demikian. Kesibukan bekerja dapat berbalik menjadi penghambat. Lebih parah lagi, pekerjaan yang seharusnya membuat seseorang bisa membahagiakan keluarga, tidak jarang justru menjadi sumber kehancuran keluarga.

    Jangan izinkan pekerjaan menghancurkan kebahagiaan keluarga kita. Kita harus tahu, kapan kita harus berhenti sejenak untuk MENIKMATI HIDUP.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “MENIKMATI HIDUP”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 5:7-19 dengan penekanan pada ayat 17-19. Sahabat, menurut Pengkhotbah, alangkah baiknya jika orang makan-minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih-payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya. Allah juga mengaruniakan kepada manusia kekayaan dan harta benda serta kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya (ayat 17-18).

    Sahabat, sesungguhnya setiap hari yang Tuhan sediakan bagi kita merupakan  kesempatan bagi kita untuk menikmati hidup. Setiap jam dan menit sangat berharga. Kita seharusnya menikmati pengalaman hidup setiap hari dengan gembira. Bukan berarti kita hidup selalu berfoya-foya dan sembrono. Kita menikmati hubungan, pelayanan, waktu, kegiatan, kekayaan, dan harta secara bijaksana, penuh syukur, dan sukacita. Kita juga menikmati hidup sebagai kesempatan untuk mencari, mengenal, dan mengalami Tuhan.

    Pengkhotbah menasihati kita untuk bekerja dengan baik (Pengkhotbah 9:10). Dengan demikian, melalui pekerjaan kita, kemuliaan Allah dinyatakan. Melalui pekerjaan kita, semakin banyak orang diberkati. Karena itu, jangan izinkan pekerjaan menjauhkan kita dari impian kita. Jangan izinkan pekerjaan menghancurkan kebahagiaan keluarga kita. Kita harus tahu, kapan kita harus berhenti. Bukan untuk terus berpangku tangan, tapi untuk beristirahat dan menikmati hidup. Berhentilah sejenak dari kesibukan kerja. Bersukacitalah dalam hasil jerih payah kita (ayat 17-18). Nikmati hal-hal yang menyenangkan hati (ayat 19). Itu semua merupakan karunia Allah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tidak ada salahnya menikmati kesenangan hidup, itu juga karunia Allah. (pg).

  • The Meaningful Life

    BERGUNA! Berguna berarti berfaedah, bermanfaat, mendatangkan kebaikan. Albert Einstein, sang maestro Fisika asal Jerman berkata,”Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusalah menjadi manusia yang berguna.” Sebenarnya jauh sebelum itu, Plato, seorang filsuf asal Yunani sudah mengajarkan pentingnya hidup yang berguna, “Kerendahan seseorang diketahui melalui dua hal: Banyak berbicara tentang hal-hal yang tidak berguna, dan bercerita padahal tidak ditanya.”

    Sahabat, Allah mendesain manusia sebagai makhluk sosial, maka tidak ada seorang pun manusia yang dapat hidup dengan dirinya sendiri untuk dirinya sendiri. Dia butuh orang lain untuk hidupnya dan di dalam hidupnya. Saya dapat ada sebagaimana adanya saya saat ini karena ada teman-teman di sekeliling saya yang memberi kepercayaan, yang membuka kesempatan, dan yang memberi dukungan kepada saya. Sesungguhnya hidup kita menjadi berguna ketika hidup kita berguna bagi sesama.

    Sesungguhnya cukup banyak jalan,  baik yang  sederhana maupun spektakuler,  yang bisa dipakai agar orang berguna bagi sesama dan alam semesta.Sebaik-baiknya orang, orang yang berguna bagi sesama dan alam semesta adalah orang yang sungguh bernilai. Sedangkan orang yang paling nelangsa adalah orang yang merasa sudah tidak berguna lagi. Jangan sampai hidup kita menjadi sia-sia. Semoga hidup kita menjadi berguna. The meaningful life.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “HIDUP yang BERGUNA”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 4:9-16 dengan penekanan pada ayat 13. Sahabat, jika membaca kitab Pengkhotbah secara sekilas, orang akan menganggap bahwa kitab ini adalah kitab yang pesimistis. Pandangannya begitu pesimis terhadap kehidupan di dunia, sebab semuanya sia-sia. Benarkah demikian? Tidak. Apakah ada hidup yang tidak sia-sia? Ada! Ada hidup yang tidak sia-sia yaitu HIDUP YANG BERGUNA. The meaningful life.

    Di bawah kolong langit ini, masih ada hidup yang bermakna. Kita mulai menangkap pesan tersebut dari perbandingan yang dibuat oleh Pengkhotbah. Kalau semua sia-sia, untuk apa ia membuat perbandingan? Perbandingan itu dilakukan untuk mendapatkan yang lebih ideal, “Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, …”  (ayat 13)

    Maka, berhikmat lebih baik dari pada bodoh. Lebih jauh lagi, bagaimana agar orang menjadi berhikmat? Ia tidak boleh terpaku pada apa yang ada di bawah langit. Ia harus menatap ke atas langit, ke Tuhan. Dengan mengandalkan Tuhan sebagai pemberi hikmat dan tuntunan, hidup yang dijalani di bawah matahari tidak menjadi sia-sia, tetapi menjadi bermakna. Menjadi berguna. Menjadi berdampak.

    Sahabat, sesungguhnya Pengkhotbah menasihati kita untuk tidak melekat pada dunia yang fana, tetapi melekat kepada Tuhan yang kekal. Hidup di dunia memang sementara, tetapi bukan kesia-siaan, asalkan kita bersandar pada  Tuhan. Hikmat-Nya memberikan tuntunan mengenai misi penting yang mesti kita kerjakan dalam kesementaraan waktu, yaitu:  Menyatakan kasih-Nya bagi semua ciptaan-Nya. Dengan demikian niscaya hidup kita  tidak sia-sia! Haleluya! Allah itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup yang tidak menjadi parasit sosial, tapi berguna bagi orang lain dan alam semesta merupakan imunitas luar biasa bagi kesejahteraan manusia dan kelestarian alam semesta. (pg).

  • The true UNDERSTANDING of GOD is the ROOT of our FAITH

    Sahabat, ada cukup banyak orang yang berpendapat bahwa beriman berarti tidak dapat memakai akal budi. Ini pemikiran kurang tepat. Iman dan akal budi seharusnya dapat berjalan bersama karena akal budi kita juga diberikan oleh Allah.

    Sesungguhnya pengenalan akan Allah merupakan pusat dari keselamatan kita dan dari semua pengalaman kerohanian kita yang benar. Kita diciptakan untuk mengenal Allah. Dalam Alkitab, pengenalan akan Allah hampir setara dengan keselamatan itu sendiri. Yesus sendiri berkata bahwa hidup yang kekal atau keselamatan berarti pengenalan akan Allah, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17:3).

    Menjadi seorang percaya bukanlah pengalaman yang tanpa akal, tetapi mencakup pula hikmat dan pengertian. Menjadi orang percaya berarti sebuah hubungan yang begitu dekat dan intim dengan Allah, Pencipta Langit dan Bumi. Pengalaman hidup kita bercerita bahwa pemahaman yang benar  tentang  Allah  adalah akar dari iman kita. The true understanding of God is the root of our faith.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “The true UNDERSTANDING of GOD is the ROOT of our FAITH”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 37:1-20. Sahabat, mendengar perkataan utusan Asyur, Hizkia mengoyakkan pakaiannya dan menyelubungi badannya dengan kain kabung, lalu masuk ke rumah Tuhan (ayat 1).

    Hizkia sadar bahwa ia hanya dapat berharap kepada Tuhan, karena sejauh itu tidak ada negeri yang dapat melepaskan diri dari Asyur. Ia pun mengirim utusan kepada Yesaya untuk berdoa supaya Tuhan menghukum Asyur yang telah mencela Dia (ayat 4). Kemudian Yesaya mengirim pesan supaya Hizkia tidak takut karena raja Asyur akan pergi dan nantinya akan mati dibunuh di negerinya sendiri (ayat 7).

    Lalu utusan Asyur kembali kepada Hizkia dengan sekali lagi menyuruh Hizkia untuk tidak percaya kepada Allahnya, sebab selama itu tidak ada allah yang dapat melepaskan negerinya dari tangan Asyur (ayat 9-13). Mendengar ini, Hizkia pergi ke rumah Tuhan dan berdoa agar Tuhan bertindak bagi nama-Nya yang telah dicela oleh Asyur dan menyelamatkan mereka dari tangan raja yang sombong itu (ayat 20).

    Mengapa Hizkia tidak terpengaruh oleh fakta bahwa Asyur sudah menaklukkan banyak negeri? Itu  karena Hizkia memahami bahwa “… Hanya Engkau sendirilah Allah segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi” (ayat 16), sedangkan allah-allah lain hanya buatan tangan manusia, sebab itu dapat dibinasakan orang (ayat 18).

    Sahabat, pengertian yang benar tentang Allah membuat Hizkia beriman kepada Allah. Maka kenallah Allah dengan baik agar kita bertumbuh dalam iman dan bertindak berdasarkan iman. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hanya kepada Allah saja kita dapat bergantung dan berserah total. (pg)

  • BEAUTIFUL in its Time

    Sahabat, ORANG PERCAYA  sama dengan ORANG YANG BELUM PERCAYA. Dalam hal apa?  Keduanya sama-sama tidak dapat mengendalikan apa yang akan mereka alami dalam hidup. Semua orang mengalami banyak hal yang menyenangkan hati, tetapi juga banyak hal yang memedihkan hati. Jadi, apa yang berbeda dalam kehidupan orang percaya dengan orang yang belum percaya?

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “BEAUTIFUL in its Time”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 3:1-15 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, sangat menarik, bacaan kita pada hari ini menampilkan  ungkapan yang berpasangan, ada 7 ayat dengan 14 pasang MERISM  (gaya bahasa yang memakai kata-kata yang berlawanan untuk menunjukkan segala sesuatu yang tercakup di dalamnya) yang menekankan ada waktu untuk mengalami hal-hal yang baik dan menyenangkan, tetapi juga yang buruk dan menyedihkan (ayat 2-8).

    Sesungguhnya Pengkhotbah hendak menyatakan bahwa hidup adalah campuran antara kegembiraan dan kesedihan. Hal tersebut menekankan pada ketidakmampuan manusia mengendalikan berbagai peristiwa yang terjadi. Karena itu Pengkhotbah mengajukan  pertanyaan, “Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?” (ayat 9). Namun, Pengkhotbah juga menyadari bahwa tidak mungkin manusia tidak berjerih payah, karena Allah sudah menetapkan pekerjaan yang harus dilakukan manusia dengan bersusah payah (ayat 10, bdk. Kejadian 3:17-19).

    Sahabat, supaya kita tidak putus asa, Pengkhotbah menegaskan bahwa Allah akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. BEAUTIFUL in its time. Jika kita perhatikan ungkapan berpasangan yang diberikan, itu dimulai dengan “ada waktu untuk lahir” (ayat 2) dan diakhiri dengan “ada waktu untuk damai” (ayat 8).

    Pengkhotbah menyatakan bahwa bagi ORANG PERCAYA, walau harus melewati berbagai hal yang menyenangkan dan menyedihkan, kita dilahirkan untuk BERAKHIR DENGAN DAMAI BERSAMA ALLAH. Inilah arti segala sesuatu indah pada waktunya.

    Meskipun kita juga mengalami pasang surut seperti orang yang belum percaya, tetapi ada perbedaannya. Pada akhirnya, KITA BERDAMAI DENGAN TUHAN. Damai tersebut tidak dapat diubahkan oleh peristiwa apa pun dalam hidup kita. Karena itu, segala sesuatu menjadi indah pada waktunya.

    Sahabat, kadang  kesulitan hidup membuat kita letih dan frustasi. Meski kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa depan, Pengkhotbah telah memberitahukan bahwa Tuhan akan membuat segalanya indah pada waktunya. Karena itu, kita harus beriman bahwa Allah merancang kehidupan orang percaya UNTUK BERAKHIR DENGAN SHALOM  dalam hadirat-Nya. Marilah kita menjalani hidup dengan optimis dan tabah.

    Dengan mengetahui bahwa pada akhirnya kita akan menikmati hidup kekal di dalam damai sejahtera bersama Tuhan, kita akan dimampukan untuk menikmati kehidupan ini dan menjalaninya dengan lebih tenang. Waktu kita menjadi sangat berharga. Kita perlu memohon kepada Allah agar dimampukan untuk melihat indahnya hidup bersama-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-8?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Percayakan semua pada Tuhan Yang Mahatahu, Dia telah menyediakan segala sesuatu indah pada waktunya. (pg).

  • Be Careful of Mockery and Influence

    Sahabat, menurut KBBI, “EJEKAN” berasal dari kata dasar  “EJEK” yang berarti: Perbuatan mengejek, olok-olokan, dan sindiran. Fakta sosial juga membuktikan bahwa ejekan merupakan ungkapan yang sangat menyakitkan dalam hubungan sosial. Ejekan selalu bernada negatif yang dapat menyakiti kelompok tertentu bahkan secara individu.

    Sedangkan “AJAKAN”  berasal dari kata dasar “AJAK” yang berarti  mengharapkan suatu tindakan dari orang lain;  meminta kepada seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan sesuatu bersama-sama. Selain itu dapat berarti menyuruh seseorang atau sekelompok orang melakukan sesuatu atau memercayai sesuatu.

    Sahabat, kehidupan kita bisa saja tidak luput dari ejekan dan ajakan. Ejekan ditujukan kepada keyakinan kita kepada TUHAN, yaitu bahwa keyakinan tersebut tidak cukup untuk menolong dan menyelamatkan kita. Ajakan ditujukan agar kita mau mengikuti dan bersandar kepada ilah-ilah mereka. Karena itu kita perlu hati-hati terhadap ejekan dan ajakan. Be Careful of Mockery and Influence.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan tema: “Be Careful of Mockery and Influence”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 36:1-22. Sahabat, kisah dalam bacaan kita pada hari ini adalah tentang bagaimana bangsa Asyur, dengan rajanya yang bernama Sanherib, menyerbu dan menguasai kota-kota berkubu Yehuda.

    Raja Asyur mengutus juru minumannya ke Yehuda untuk berbicara dengan raja Hizkia. Yang menemui utusan tersebut adalah utusan raja Hizkia. Perkataan Raja Asyur merupakan penghinaan terhadap kepemimpinan Raja Hizkia. Raja Asyur tahu bahwa Yehuda berharap kepada Mesir. Bagi Asyur, Mesir itu seperti tongkat bambu yang patah dan justru akan melukai Yehuda (ayat 6).

    Sahabat, ejekan Asyur tidak berhenti sampai di situ. Ejekan terhadap Yehuda bukan saja dikaitkan dengan Mesir, tetapi juga dengan keyakinan kepada TUHAN. Utusan itu memberi bukti-bukti bahwa Asyur telah mengalahkan banyak bangsa dan ilah-ilah bangsa-bangsa itu tidak dapat menolong mereka (ayat 18-20).

    Mereka bukan saja mengejek raja Hizkia, tetapi juga menghasut rakyat Yehuda untuk tidak mempercayai TUHAN. Raja Asyur menyuruh rakyat Yehuda membuat perjanjian dengan Asyur dengan janji akan kesejahteraan.

    Menghadapi serangan mental seperti itu, Hizkia memilih untuk tidak memberikan respons. Ia memilih untuk DIAM. Ia memerintahkan kepada semua rakyatnya untuk tidak memberikan respons apa-apa, kecuali diam (ayat 21).

    Menghadapi ancaman, hinaan, dan intimidasi dari orang lain yang begitu merendahkan, apalagi jika sudah menyangkut pada kepercayaan bisa membuat kita kesal, marah, sakit hati, atau memberikan perlawanan. Namun ada satu teladan raja Hizkia yang sangat bijaksana, yaitu BERDIAM DIRI!

    Berdiam diri di hadapan Allah akan menghindarkan kita dari keinginan untuk membalas dan melawan yang justru bisa berakibat merugikan diri sendiri. Diam bukan berarti membenarkan, juga bukan berarti kekalahan. Diam artinya memberikan ruang bagi Allah untuk bekerja. DALAM DIAM DAN PERCAYA, DISITULAH TERLETAK KEKUATAN KITA. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18-20?

    Selamat sejenak merenung.  Simpan dalam-dalam di hati: Kita tidak perlu takut kepada kesombongan orang fasik. Allah pasti akan menghancurkan mereka berikut kesombongannya. (pg).

  • LIFE in VAIN?

    Uang, kekayaan, kedudukan, pangkat dan  popularitas merupakan hal-hal yang selalu dikejar oleh hampir semua orang yang ada di muka bumi.  Ketika seseorang memiliki semuanya itu, ia berpikir hidupnya sudah lengkap dan tak ada yang patut dikhawatirkan lagi.

    Dunia selalu mengukur dan menilai keberhasilan hidup seseorang dari apa yang dimiliki atau yang kasatmata, padahal semuanya itu hanya bersifat sementara dan sampai kapan pun takkan pernah memberikan kepuasan.

    Sahabat, syukur kemarin kita telah menyelesai belajar kitab Amsal. Mulai hari ini kita akan belajar kitab Pengkhotbah, dengan topik: “LIFE in VAIN?” Bacaan Sabda saya ambil dari  Pengkhotbah 1:1-11. Sahabat, Pengkhotbah adalah seorang yang merenungkan secara mendalam arti hidup manusia dari mengamati berbagai peristiwa yang terjadi di bawah matahari. Ia tiba pada kesimpulan yang mengejutkan: SEMUANYA SIA-SIA. Kata yang digunakannya berarti hampa, sesuatu yang tanpa bobot seperti angin.

    Dengan menyebut kata itu dua kali (ayat 2) ia sungguh menegaskan bahwa hidup ini amat sangat sia-sia. Manusia lahir lalu mati, demikian seterusnya. Hari lepas hari lewat, berbagai peristiwa alam bergulir rutin. Semuanya berulang tanpa makna.

    HIDUP ITU SIA-SIA? LIFE in VAIN? Segala sesuatu yang ada di dunia ini, yang mungkin kita bangga-banggakan,  kita agungkan, dan usahakan serta pertahankan adalah sia-sia. Bukan saja rutinitas peristiwa alam membuatnya menyimpulkan kesia-siaan hidup, namun semua kerja, kekayaan, hikmat yang boleh manusia alami pun sia-sia saja.

    Penekanan pada kefanaan hidup terlihat pada ayat 4 yang mengontraskan manusia yang pergi dan datang, dengan bumi yang tetap ada.  Kondisi bumi digambarkan sebagai matahari terbenam dan akan terbit kembali (ayat 5), angin yang terus berputar kembali ke tempat yang sama (ayat 6), dan sungai yang terus mengalir (ayat 7).

    Walau bumi tetap ada, segala sesuatu pasti membosankan karena semua bergerak monoton, membuat mata tidak puas melihat dan telinga tidak puas mendengar (ayat 8). Tingkah laku manusia selalu sama dan tidak ada yang baru (ayat 9-10). Yang lebih menyedihkan adalah singkatnya hidup manusia membuat dirinya dilupakan setelah mati, kenangan-kenangan dari masa lampau tidak ada (ayat 11).

    Sahabat, lalu apa maksud pengkhotbah sebenarnya? Pengkhotbah bukan meremehkan arti penciptaan Allah, akan tetapi ingin menghancurkan semua harapan palsu manusia pada dunia ini atau diri sendiri. Ia ingin menyadarkan kita bahwa segala sesuatu hanya akan berarti bila dalam iman kepada Allah. Berharap kepada dunia dan diri sendiri adalah sia-sia, tetapi berharap kepada Allah tidaklah sia-sia. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ambillah komitmen untuk menggantungkan harapan hanya kepada Allah bukan kepada dunia dan diri sendiri! (pg).

  • STRENGTHEN the Weak Hands

    Sahabat, kita harus mengakui bahwa tidak mudah menjadi orang percaya. Masih cukup banyak yang mengira setelah percaya kepada Tuhan Yesus, kehidupan akan lancar dan bebas hambatan. Sejatinya, Allah tidak pernah menjanjikan hal tersebut.

    Selama kita masih hidup di dunia, kita pasti akan mengalami persoalan hidup: Sakit, masalah keluarga, perselisihan, masalah keuangan, dan pergumulan lainnya yang bisa saja berkepanjangan.

    Bahkan dalam menghadapi pergumulan hidup, seringkali tangan kita lemah dan lesu bahkan lutut kita pun goyah. Kita tidak mampu lagi menghadapi permasalahan hidup yang menerpa kita. Ada banyak masalah yang terbentang di hadapan kita yang tidak bisa kita hindari dan kita pun bingung mana yang harus kita selesaikan lebih dulu. Kita hampir putus asa dalam menghadapinya.

    Hanya Tuhan yang dapat menguatkan tangan yang lemah lesu. Strengthen the weak hands.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “STRENGTHEN the Weak Hands”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 35:1-10 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, Yesaya dalam tulisannya beribu-ribu tahun yang lalu, telah menuliskan sebuah prinsip penting bagi kita, yaitu agar kita MENGUATKAN TANGAN YANG LEMAH LESU dan MENEGUHKAN LUTUT YANG GOYAH (ayat 3).

    Tangan yang lemah lesu berbicara tentang orang-orang yang sudah tidak mampu melakukan hal lain, yaitu orang-orang yang sudah mengalami masalah berat dan sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sementara itu lutut yang goyah menggambarkan orang-orang yang sudah tidak dapat berdiri dan bangkit karena masalah yang ia hadapi. 

    Sahabat, Tuhan meminta kita untuk mengabarkan berita sukacita ini: “Kuatkan hati dan jangan takut” (ayat 4a). Satu-satunya alasan yang membuat kita boleh kuat dan tidak takut adalah karena kita memiliki Allah (ayat  4b). Kita memiliki Allah yang luar biasa, yang mampu datang dengan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas untuk menyelamatkan kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita juga mengabarkan berita sukacita itu kepada orang lain yang membutuhkan, kepada orang-orang yang tangannya sudah lemah lesu, kepada orang-orang yang lututnya sudah goyah.

    Adakah orang-orang yang membutuhkan kita yang saat ini sedang ada di sekitar kita? Adakah orang-orang di sekitar kita yang tangannya lesu dan lututnya goyah? Mungkin orang itu sesama anggota jemaat di gereja kita, atau mungkin teman sekantor, atau mungkin dia tetangga kita? Sudahkah kita membantunya? Hanya ada satu jalan untuk masalah mereka, yaitu Yesus Kristus. Ia akan memberi kelegaan kepada orang-orang yang mau datang kepada-Nya (Matius 11:28).

    Tugas kita adalah menuntun orang-orang tersebut kepada Yesus, melalui perkataan kita, perbuatan kita, atau dengan cara-cara pendekatan lainnya. Mari kita menguatkan orang-orang yang lemah dan membutuhkan kita.

    Sahabat, jadilah sama seperti Kristus yang memberikan solusi kepada mereka, sehingga mereka menemukan jalan keluar dalam hidupnya. Karena itu, jadilah kita menjadi orang yang menolong dan menguatkan Saudara kita yang lemah lesu agar mereka mendapatkan pertolongan. Haleluya! Tuhan itu baik. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6a?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 6b-7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan pernah berhenti berharap kepada Tuhan. (pg).

  • Hard Work’s Fruits

    Sahabat, di tengah pendapatan kami (saya dan istri) yang cenderung menurun, dalam menetapkan  anggaran bulanan setiap awal bulan, kami tetap  menganggarkan dana untuk rekreasi. Hampir setiap Sabtu dan Minggu kami  meluangkan waktu berdua untuk menikmati makan bersama di tempat yang kami suka. Bagi kami, menyediakan anggaran khusus untuk rekreasi dengan makan  bersama di tempat yang kami suka merupakan salah satu bentuk kami menikmati berkat yang  Tuhan berikan melalui jerih lelah kami. Sesungguhnya merupakan satu karunia Tuhan kalau kita dapat menikmati hasil jerih payah kita. Kita diberi karunia untuk menikmati buah dari kerja keras kita. Hard work’s fruits.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Pengkotbah dengan topik: “Hard Work’s Fruits”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Pengkhobah 2:1-26 dengan penekanan pada ayat 24-25. Sahabat, sosok Pengkhotbah adalah Raja Salomo, anak Daud. Ia sangat kaya dan berdaya upaya mencari kunci kehidupan melalui semua kesenangan yang dapat dibeli dengan harta (ayat 4-8).

    Sangat menarik dalam ayat 4-8, kata “BAGIKU” muncul beberapa kali: mendirikan bagiku rumah-rumah; menanami bagiku kebun-kebun anggur; mengusahakan bagi ku kebun-kebun;  menggali bagiku kolam-kolam; mengumpulkan bagiku perak dan emas, dan mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita. Hal tersebut memperlihatkan bahwa ia melakukannya untuk kesenangan diri belaka. Pada saat yang sama, semua yang dilakukannya berdasarkan akal budi (ayat 3) dan hikmatnya (ayat 9).

    Sahabat, dalam pencarian arti hidup melalui semua kesenangan, Pengkhotbah melihat bahwa semuanya sia-sia dan usaha menjaring angin (ayat 11). Artinya, ia tidak dapat menemukan arti hidup yang sejati melalui semua kesenangan tersebut. Tetapi, ia menemukan sesuatu dari hasil uji coba tersebut, yaitu hatinya bersukacita karena segala jerih payahnya dan itulah buah segala jerih lelahnya (ayat 10). Walau ia tidak mendapatkan arti hidup yang sejati dari semua eksperimen terhadap kesenangannya, setidaknya ia telah menyelidiki apa yang baik untuk dilakukan oleh manusia (ayat 3). Akhirnya, ia dapat menikmati jerih payahnya (ayat 10).

    Menurut Pengkhotbah, tak ada yang lebih baik selain makan, minum, dan bersenang-senang sebagai bagian dari menikmati hasil jerih payah dalam berkat Tuhan. Jika tanpa berkat Tuhan, sekuat apa pun seseorang berusaha, hasilnya bisa menguap dalam sekejap. Tak ada yang dapat merasakan makan, minum, atau menikmati hidup di luar Dia (ayat 25).

    Namun, dalam menikmati berkat yang Tuhan berikan, baik untuk makanan, minuman, atau hiburan, tetaplah ada batasan yang perlu kita perhatikan. Konsumsi berlebihan akan menyebabkan penyakit dan tidak semua hiburan yang ada berkenan di hadapan Allah.

    Sahabat, Tuhan memberikan berkat, dalam hal ini pendapatan, supaya kita dapat menikmati hasil jerih payah kita di dalam Dia. Tak ada yang salah dengan menikmati berkat Tuhan, selagi masih dalam takaran normal dan tidak menabrak kebenaran firman Tuhan.

    Mari bersyukur atas berkat yang Tuhan berikan. Bersyukurlah, bersukacitalah, bersenang-senanglah, dan nikmatilah berkat-Nya bersama dengan orang yang kita kasihi. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kemampuan untuk menikmati, itupun merupakan karunia Allah yang penting untuk kita miliki. (pg).

  • DEFENDED or PUNISHED?

    Sahabat, coba  bayangkan sejenak. Di hadapanmu terbentang laut biru diiringi suara debur ombak. Di atas, langit cerah dengan beberapa gumpal awan putih yang berarak. Di kiri kanan, gunung-gunung dan hutan menghampar dengan pepohonan hijau. Betapa indah dan nyaman suasana di sekelilingmu, bukan? Bagaimana kalau tiba-tiba ombak meninggi? Tsunami terjadi. Langit berubah gelap gulita dengan petir menyambar dan terjadilah hujan badai. Apa yang Sahabat rasakan? Seketika rasa kagum berubah menjadi kengerian.

    Kalau selama ini kita mengenal Tuhan adalah kasih, murah hati, lemah lembut dan sifat-sifat yang baik lainnya, maka ketika membaca Yesaya 34:1-17  dapat mengubah gambaran kita terhadap Tuhan. Ternyata Tuhan juga dapat murka dan panas hati-Nya.

    Hal tersebut menjelaskan bahwa Allah adalah pribadi yang  memiliki perasaan. Berbeda dengan perasaan atau pribadi yang dimiliki manusia. Pribadi Allah adalah kudus. ALLAH MURKA DAN MARAH KARENA ADANYA DOSA ATAU PELANGGARAN YANG DILAKUKAN, bukan karena benci atau tidak senang dengan seseorang atau sekelompok orang.

    Murka dan kemarahan Allah tidak langsung dinyatakan pada saat umat-Nya berdosa. Tetapi ada waktunya Allah menyatakan keadilan-Nya. Mereka yang berdosa dan tidak bertobat, Tuhan sudah khususkan atau pisahkan untuk dihukum dan ditumpas pada waktunya kelak. Bagaimana dengan kita, mau dibela atau dihukum? DEFENDED or PUNISHED?

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “DEFENDED or PUNISHED?”. Bacaan Sabda pada hari ini diambil dari Yesaya 34:1-17 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, Yesaya menggambarkan hukuman atas bangsa-bangsa termasuk Edom. Sekitar 589-587 SM, Nebukadnezar, Raja Babel, dengan segala tentaranya menyerang Yerusalem. Ketika Yerusalem hancur, orang Edom menyatakan permusuhan kepada Yehuda. Mereka memanfaatkan kemalangan Yerusalem. Itu sebabnya, orang Israel kerap mengutuk Edom.

    Dalam bacaan kita hari  ini, penghakiman atas Edom mewakili semua bangsa yang melawan Allah. Tampaknya Allah mengkhususkan bangsa yang melawan-Nya untuk ditumpas. Alkitab juga menulis akan ada hari penghakiman dan kehancuran seperti lautan api Sodom. Gambaran mengenai penghukuman atas bangsa-bangsa ini memang sangat mengerikan. Pada waktu Allah menghajar manusia, tak ada satu pun yang luput (ayat 2-9).

    Sama seperti ketika Allah menurunkan air bah. Allah mengasihi dan menyelamatkan Nuh beserta segenap keluarganya karena Nuh hidup benar dan mendengarkan suara Allah. Nuh menerima dan melakukan apa yang Allah perintahkan. Ia melakukan firman Allah dengan menyiapkan bahtera yang menyelamatkannya dan seisi keluarganya.

    Sahabat, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah hidup benar di hadapan-Nya? Apakah kita sudah menaati firman dan melakukan tugas dari-Nya? Janganlah kita melawan firman Allah! Akan tetapi, lakukanlah kehendak-Nya. Pada masa kini, kita sebaiknya mengikuti teladan mereka yang setia memelihara firman Allah. Seperti Nuh yang menyukakan hati Allah. Mari kita menyukakan hati Allah dengan menghidupi firman-Nya. Haleluya!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pelajaran apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang dapat tetap tegak berdiri bila menentang Yang Mahakuasa, Tuhan kita. (pg).