Category: Sejenak Merenung

  • The Wise Calling

    Sahabat, hampir tidak ada orang yang mau disebut sebagai ORANG BODOH. Tetapi ironisnya ada cukup banyak orang yang menjalani hidup sebagai orang bodoh, yaitu hidup mengabaikan nasihat dan didikan firman Tuhan.

    Kitab Amsal dan Pengkhotbah banyak berbicara tentang kebodohan dan hikmat. Ketika Alkitab berbicara tentang kebodohan, maka yang dimaksudkan dengan kebodohan itu bukan dalam arti kecerdasan  intelektual, tingkat pendidikan atau gelar sesesorang; tetapi selalu berhubungan dengan pengabaian didikan firman dan tidak takut akan Tuhan.

    Sangat menarik, pertama kali muncul di dalam kitab Amsal, orang bodoh dikontraskan dengan orang yang takut akan Tuhan. “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” (Amsal 1:7).

    Sesungguhnya bijak atau bodoh selalu berkaitan dengan firman Tuhan. Orang yang bijaksana adalah orang yang senantiasa mendengarkan nasihat firman Tuhan. Allah memanggil kita untuk tidak menjadi bodoh, melainkan MENJADI BIJAK, yaitu mendengarkan didikan firman Tuhan. The Wise Calling.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “The Wise Calling”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 10:1-20. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, Pengkhotbah memaparkan ciri-ciri orang bodoh sebagai berikut: Pertama, tidak diperlukan banyak hal untuk menjadi bodoh (ayat 1). Untuk menjadi bijak perlu belajar seumur hidup, tetapi untuk menjadi bodoh tidak diperlukan banyak hal. Untuk menghancurkan satu timbunan urapan cukup seekor lalat saja yang menjadikannya busuk.

    Kedua, hati orang bodoh cenderung ke kiri (ayat 2). Dalam budaya Timur, KIRI merupakan simbol KETIDAKMAMPUAN  dan KEBENGKOKAN. Hati yang ke kiri berkaitan dengan MOTIVASI yang bengkok.

    Ketiga, orang bodoh tidak perlu publikasi besar-besaran kepada publik, hanya cukup membuka mulut dan semua akan tahu siapa dan bagaimana dirinya (ayat 3).

    Keempat, lidah orang bodoh mencelakakan, tak terkendali dan menyesatkan (ayat 12-15).

    Sahabat, karena itu, jangan bodoh dan HATI-HATILAH DALAM BERTINDAK! Jangan pernah merasa pintar! Sebaliknya, teruslah mengejar hikmat agar kita peka akan kebodohan.

    Dengan demikian, hidup kita akan BERMAKNA bagi orang lain. Mintalah kepada Tuhan supaya Ia menjaga kita dari kebodohan yang mematikan. Kita perlu serius belajar dan mendalami firman Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Manusia dapat memuliakan nama Tuhan hanya jika mereka mau bertekun, setia dan bekerja keras. (pg). 

  • God’s Warning is God’s Love

    Sahabat, pengalaman kita dalam bermasyarakat bercerita bahwa ada cukup banyak orang yang tidak suka bila DITEGUR.  Sekalipun sudah jelas-jelas dia melakukan kesalahan. Orang-orang yang tak berjiwa besar tak mau mengakui kesalahan yang diperbuatnya, malah merasa tersinggung, marah dan menyalahkan orang lain saat ditegur. 

    Selain itu, ada cukup banyak orang percaya yang mengambek dan kemudian mogok tak mau lagi beribadah, bahkan pindah ke gereja lain, karena merasa tersinggung dengan teguran firman Tuhan yang disampaikan Gembala Jemaat di atas mimbar, apalagi kalau teguran tersebut berkenaan dengan dosa.

    Sesungguhnya jika Tuhan menegur kesalahan atau dosa yang telah kita perbuat seharusnya kita bersyukur dan berbahagia.  Mengapa?  Teguran Tuhan adalah bukti bahwa Dia masih memerhatikan dan mengasihi kita.  Terkadang teguran-Nya memang keras dan menyakitkan tapi bertujuan mendidik kita (Ibrani 12:5-6). Yakinlah: Ditegur Tuhan itu berarti dikasihi Tuhan. God’s warning is God’s love.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “God’s Warning is God’s Love”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 43:22-28. Sahabat, adakah seorang anak yang tidak pernah ditegur oleh orangtuanya?  Tuhan menegur kita supaya kita tidak tersesat dan menyimpang jauh dari jalan-jalan-Nya, sebab menyimpang dari jalan Tuhan berarti sedang berjalan menuju kepada kehancuran dan kebinasaan. 

    Dalam bacaan kita pada hari ini, umat Israel mendapat teguran yang keras dari Allah. Mereka dilepaskan untuk masuk ke dalam pembuangan di bawah penindasan bangsa Babel. Ini karena mereka terbukti bersalah di hadapan Tuhan (ayat 26-28).

    Sahabat, bangsa Israel hidup dalam pemeliharaan Allah, namun rupanya mereka mengecewakan Allah. Mereka tidak memanggil-Nya, itu berarti mereka meninggalkan doa-doa kepada Allah (ayat 22). Padahal, Yakub leluhur Israel adalah seorang PENDOA. Mereka tidak lagi mempersembahkan korban penebusan dosa kepada Allah. Mereka bersungut-sungut karena harus mengeluarkan biaya untuk ibadah mereka kepada Allah (ayat 23). Mereka tidak pula bersedia mengeluarkan biaya untuk membeli tebu wangi bagi minyak kudus sebagai wewangian dalam ibadah (ayat 24a).

    Lebih parah lagi, sebagian di antara mereka bersikap ceroboh dan munafik, padahal Allah telah memberikan keringanan bagi mereka (ayat 24b). Umat Israel tidak mau diberatkan dengan perintah Allah; tetapi sebaliknya, mereka MEMBERATKAN Allah dengan DOSA dan PEMBEROTAKAN mereka.

    Sesungguhnya,  TEGURAN ALLAH merupakan wujud KASIH SAYANG dan BELAS KASIHAN ALLAH yang dinyatakan kepada umat Israel. Sebab, Ia tetap menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang mengampuni dosa (ayat 25). Apa yang dinyatakan Allah mendorong umat untuk bertobat, sebab DALAM ALLAH ADA PENGAMPUNAN.

    Sahabat, jika saat ini kita sedang ditegur oleh Allah, hayatilah bahwa di dalamnya ada KASIH dan RAHMAT Allah. Dia tengah membentuk kita menjadi pribadi yang makin kuat dan taat kepada-Nya. Bersyukurlah dalam melakukan kehendak-Nya. Dalam keadaan yang berat, mintalah hikmat Allah supaya kita mengerti bahwa apa yang kita alami adalah cara-Nya untuk membentuk kita menjadi pribadi yang berkenan kepada-Nya. 
    Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 25?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pengampunan Allah yang sempurna memampukan seseorang melakukan hal yang sama terhadap sesamanya. (pg).

  • ENJOYING LIFE before the Death comes

    Sahabat, hidup kita di dunia ini hanya sekali dan singkat. Itu berarti hidup adalah kesempatan yang sangat berharga. Maka  Rasul Paulus mengingatkan kita agar kita benar-benar serius memerhatikan bagaimana kita hidup (Efesus 5:15-16)

    Kita dapat berkarya dan bekerja hanya selama kita hidup. Demikian juga kita hanya dapat menikmati hasil dari karya dan kerja kita selama kita hidup. Maka mari menikmati hidup sebelum kematian datang. Enjoying life before the death comes.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “ENJOYING LIFE before the Death comes”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Pengkhotbah 9:1-12. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini Pengkhotbah berpesan: Nikmatilah hidup sebelum kematian datang (ayat 7-9). Mengapa demikian?

    Pertama, NASIB SEMUA ORANG SAMA. Baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. … MEREKA SEMUA MENUJU ALAM ORANG MATI (ayat 2-3).

    Kedua, SEGALA SESUATU YANG HIDUP LEBIH BERHARGA DARIPADA YANG  MATI. Siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan. Ingatlah anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati (ayat 4). Hal tersebut menunjukkan bahwa sehebat bagaimanapun manusia, ia tidak akan ada artinya apabila sudah mati.

    Ketiga, HANYA DALAM DUNIA ORANG HIDUP ADA: Harapan, pekerjaan, upah, kenangan, dinamika hidup, pertimbangan, pengetahuan, dan hikmat (ayat 4-6 dan 10).

    Keempat, MANUSIA TIDAK TAHU KAPAN IA AKAN MATI (ayat 12).

    Sahabat, jika kenyataan memang seperti itu, lalu bagaimana cara kita menikmati hidup? Pertama, menikmati hidup harus dengan berpusat pada Allah. Ia adalah penguasa atas hidup manusia dan segala sesuatu yang dimiliki manusia itu. Hikmat dan cara Allah tidak sama seperti hikmat dan cara manusia. Allah memberikan hikmat kepada yang dikehendaki-Nya dengan cara-cara diluar nalar manusia.

    Kedua, menikmati hidup harus dengan sukacita. Secara gamblang Pengkhotbah mengatakan,
    Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu. Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.” (ayat 7-8). Pakaian putih adalah simbol sukacita. Minyak mengacu kepada tanda berkat dan ekspresi sukacita.

    Ketiga, menikmati segala sesuatu yang sudah disediakan Allah. Roti yang  kita makan, anggur yang  kita minum, minyak yang kita curahkan, istri yang dikasihi, dan tenaga untuk mengerjakan segala sesuatu, adalah berasal dari Allah.

    Sahabat, Pengkhotbah menyatakan bahwa nasib semua orang sama, yang membedakan antara yang satu dengan yang lain adalah apakah kita bisa menggunakan kesempatan dalam hidup ini dengan baik, ataukah justru menyia-nyiakannya   Selagi ada waktu dan kesempatan, selagi kita masih diberi nafas hidup oleh Tuhan, mari kita kerjakan segala sesuatu yang Tuhan sudah percayakan dalam bidang apa pun dengan  sepenuh hati (ayat 10). Haleluya. Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup berarti bekerja memberi buah bagi kemuliaan Allah. (pg).

  • The SECRET of Happy Life

    Sahabat, mungkin tanpa  sadar, kita sering mengidentikkan kebahagiaan dengan banyaknya harta, tingginya jabatan, atau mempunyai keturunan. Oleh karena itu, kita tidak perlu heran kalau cukup banyak orang mendewakan dan mengejar semua itu dengan cara apa saja. Lalu pertanyaan yang  diajukan oleh cukup banyak orang, “Apa yang menjadi rahasia hidup bahagia?” The secret of happy life.

    Bagi Pemazmur, hidup bahagia itu tumbuh melalui serangkaian pilihan dan keputusan yang membentuk kebiasaan seumur hidup. Coba kita simak Mazmur 1:1-6. Pada ayat 1 Pemazmur meyakinkan kita bahwa kebahagiaan tidak didapat dari perbuatan fasik/berdosa.  Maka, orang yang mau berbahagia harus menjauhi semua hal yang membawanya berdosa. Jikalau tidak, kehidupan berdosa akan membawa kegagalan hidup (ayat 4), dan akhirnya kebinasaan (ayat 6b). 

    Lebih jauh Pemazmur menyampaikan bahwa kebahagiaan hanya didapatkan di dalam hidup sesuai dengan firman Tuhan (ayat 2). Orang yang hidup seturut firman- Nya akan diberkati dengan keberhasilan (ayat 3) dan Tuhan berkenan kepadanya (ayat 6a). 

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Pengkhotbah dengan judul: “The SECRET of  Happy Life”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 8:9-17. Sahabat, Pengkhotbah mengamati ada satu ironi yang terjadi di tengah-tengah kehidupan. Ia seolah ingin menyampaikan bahwa orang benar harus pergi dari kota sedangkan orang fasik diperbolehkan berada di dalam kota (ayat 10).

    Adapun salah satu fungsi kota adalah memberi perlindungan dan keamanan kepada penduduknya. Namun, ia justru melihat kenyataan yang berbeda. Orang benar mendapat hukuman, sedangkan orang fasik mendapat pujian (ayat 14). Hal tersebut sungguh-sungguh ironis. Ironi tersebut seakan-akan mengatakan bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan cara apa pun.

    Namun, sesungguhnya Pengkhotbah tidak berpendapat  demikian. Justru ia berkata bahwa semua itu adalah kesia-siaan belaka (ayat 10 dan 14). Orang fasik tidak akan pernah bahagia, sekalipun mereka bebas melakukan kejahatan. Mereka akan segera lenyap dengan seketika seperti bayang-bayang. Mereka tidak akan bertahan lama.

    Pengkhotbah menggaris bawahi bahwa mereka yang berbahagia adalah orang yang takut akan Allah dan hadirat-Nya (ayat 12). Takut dapat berarti menghormati Allah, beribadah kepada-Nya, atau menaati peraturan-Nya. Jadi, mereka yang berbahagia adalah orang-orang benar karena merekalah yang takut akan Allah.

    Sahabat,  rahasia hidup bahagia adalah hidup yang berpusat pada Allah. Kebahagiaan bukanlah perkara mendapatkan sesuatu. Sesungguhnya apa pun yang kita miliki sekarang adalah murni pemberian Allah. Kebahagiaan adalah perkara menikmati pemberian itu.

    Allah adalah sumber segala yang kita miliki dan kita nikmati. Oleh karena itu, berbahagialah dalam Tuhan. Kebahagiaan sejati kita adalah menikmati kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupan kita.

    Sahabat, jadi pilihan kebahagiaan adalah tanggung jawab kita sendiri. Allah menyediakan jalannya, tetapi Ia tidak memaksa kita untuk menjalani kehidupan ini menurut kehendak-Nya. Keputusan ada di tangan kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat perloleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berbahagia pada situasi apa pun adalah ciri orang beriman pada Allah, sebaliknya karena iman pada Allahlah, kita disebut berbahagia. (pg).

  • Learn How to SEE and LISTEN More

    Sahabat, coba luangkan waktu sejenak untuk mengamati apa yang ada di kepala kita.  Tuhan memberi kita dua telinga, dua mata,  dan satu mulut, dengan tujuan agar kita lebih banyak melihat dan mendengar daripada berbicara. Masalahnya, tidak semua orang otomatis punya keterampilan melihat dan  mendengar.

    Coba kita evaluasi apa yang terjadi dengan diri kita sendiri. Kadang kita terlihat sedang memerhatikan dan mendengarkan, namun pikiran kita menerawang jauh entah ke mana,  ke dunia lain. Banyak orang tidak dapat mengulangi atau meringkaskan inti dari sesuatu yang baru saja mereka perhatikan dan dengar. Banyak juga yang mendengarkan hanya untuk berbasa-basi, agar dapat sekadar menanggapi percakapan. Maka kita perlu terus belajar untuk lebih banyak melihat dan mendengar. Learn how to see and listen more.

    Hari ini kita melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Learn How to SEE and LISTEN More”.  Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 42:18-25 dengan penekanan pada ayat 20. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini Tuhan mengecam umat-Nya yang buta dan tuli.

    BUTA dan TULI di sini bisa menunjuk kepada orang-orang (ayat 7), yang memerlukan pimpinan Tuhan karena kebutaan mereka (ayat 16). Namun, di sini UMAT ISRAEL, sebagai hamba Tuhan dikatakan sebagai buta dan tuli (ayat 19).

    KEBUTAAN merupakan metafora untuk kebutuhan rohani pada ayat 16-17. Kebutaan Israel menunjukkan bahwa sama seperti bangsa yang lain, Israel juga membutuhkan keselamatan dari Tuhan.

    Sedangkan KETULIAN  Israel menunjukkan bahwa mereka tidak mau mendengarkan apa yang telah Allah firmankan, walau sesungguhnya Allah telah banyak berbicara kepada umat-Nya (ayat 20).

    Sahabat, sesungguhnya Tuhan berkenan untuk menunjukkan pengajaran-Nya kepada bangsa-bangsa lain melalui Israel. Yang terjadi justru sebaliknya. Israel malah ikut-ikutan keberdosaan bangsa-bangsa lain, sehingga mereka yang menjadi dominan dan Israel menjadi jarahan mereka (ayat 22).

    Namun masih ada pengharapan, di tengah-tengah umat yang tidak taat, Tuhan memanggil mereka yang mau memasang telinga untuk Tuhan pakai di kemudian hari (ayat 23).

    Sahabat, sangat menarik, dalam ayat 24 terdapat kata pengganti yang berubah dari “KITA ” menjadi “MEREKA” (“Sebab kepada-Nya kita telah berdosa, tetapi mereka tidak mau mengikuti jalan yang telah ditunjuk-Nya; LAI menerjemahkan “MEREKA” dengan “ORANG”). Itu berarti Yesaya mengidentifikasikan dirinya dengan umat Allah dalam keberdosaan mereka, tetapi ia memisahkan diri dengan umat yang tidak mau mengikuti Allah.

    Apakah kita merupakan umat yang seperti Yesaya yang mau mengikuti jalan Tuhan? Ataukah kita seperti umat yang buta dan tuli, yang tidak mau mendengarkan perintah Tuhan? Harusnya mengikuti jalan Tuhan bukan pilihan bebas melainkan kebutuhan dan kesadaran diri! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut  ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat pereoleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-25?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan ingin kita senantiasa memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan hanya  yang di bumi, karena keberadaan kita di bumi ini hanyalah sementara. (pg).

  • HUMAN FOOLISHNESS

    Sahabat, sesungguhnya tidak masuk akal bila manusia menolak Allah yang Mahakuasa dan lebih memilih bergantung kepada sesama manusia atau kepada berhala. Namun itulah yang sering terjadi. Itulah yang dilakukan oleh umat Israel. Itulah KEBODOHAN MANUSIA. HUMAN FOOLISHNESS.

    Maka tidak heran Allah menyebut umat Israel  “cacing” dan “ulat” (Yesaya 41:14). Ke manakah gambaran yang lebih enak dibaca seperti: “Kawanan domba Allah,” “Kebun anggur Tuhan,” atau “Umat kesayangan”?

    Dari dulu sampai sekarang pada umumnya orang  jijik melihat cacing dan ulat, apalagi menyentuhnya. Jadi, tampaknya, pada zaman itu, Israel adalah umat Allah yang menjijikkan! Mengapa bisa begitu? Dosa dan pelbagai pelanggaran menjadi penyebab Israel terpuruk, tidak berdaya, dan menjijikkan. Israel berulang kali melakukan pelbagai pelanggaran.  Mereka berulang kali membelakangi Allah.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “HUMAN FOOLISHNESS”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 41:1-7. Sahabat, bacaan kita pada hari ini menggambarkan suasana seperti di pengadilan. Bangsa-bangsa diundang untuk datang dan “tampil bersama-sama untuk BERPERKARA” (ayat 1). Yesaya telah menyatakan bahwa bangsa-bangsa lain diundang juga untuk menjadi pewaris bersama-sama Israel (bdk. Ayat 19; 24-25;dan Yesaya  27:13). Maka Tuhan mengundang juga bangsa-bangsa lain untuk datang kepada Dia supaya mendapatkan kekuatan baru. Namun ada masalah yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Oleh sebab itu Yesaya memakai terminologi pengadilan untuk menyelesaikan perkara tersebut.

    Telah muncul seorang penakluk yang tidak disebutkan namanya. Mungkin karena dia bukan yang paling penting. Namun kebanyakan penafsir melihat bahwa penakluk itu adalah raja Koresy, yang terkenal dengan kemudahan dan kecepatannya. Tentu yang lebih penting adalah siapa yang menggerakkan Koresy, sang penakluk itu, yaitu yang menentukan apa serta bagaimana ia harus melakukannya (ayat 2-3), dan yang dimaksud adalah Tuhan (ayat 4).

    Namun manusia sering melakukan hal yang tidak masuk akal. Allah mengundang “pulau-pulau” untuk mendekat (ayat 1), tetapi bukannya mendekat kepada Allah, “pulau-pulau” itu malah saling mendekat satu kepada yang lain (ayat 5), dan mereka bersama-sama datang kepada berhala yang merupakan buatan tukang besi dan tukang emas (ayat 6-7).

    Yesaya menunjukkan bahwa selain merupakan buatan tangan manusia (ayat 6-7), berhala-berhala itu juga merupakan hasil dari rasa takut manusia (ayat 5-6). Maka sangat ironis bila tukang-tukang tersebut saling “menguatkan” satu dengan yang lain ketika mereka datang kepada berhala yang mereka “kuatkan” dengan paku supaya jangan goyang (ayat 7).

    Sahabat, sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, merupakan KEBODOHAN kalau kita memilih memercayai dan menyembah berhala yang hanya ciptaan manusia. Baik berhala masa lampau, berupa patung-patung dan benda-benda alam, maupun teknologi, uang, dan kenikmatan duniawi yang diberhalakan manusia modern, keduanya hampa. PERCAYA dan SEMBAHLAH ALLAH! Karena Dia berdaulat atas hidupmu, dulu, sekarang dan yang akan datang! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bagi Allah tidak ada yang terlalu kotor dan menjijikkan asalkan kita mau bertobat. (pg)

  • The Death and The Meaning of Life

    Sahabat, teman sepelayanan saya, Pdt. Andi O. Santoso dalam suatu pertemuan dia berkata, “Pada suatu saat kita pasti akan mati karena mulai saat ini kita perlu memikirkan apa yang akan kita wariskan kepada mereka yang akan  kita tinggalkan. Kemudian dia menullis sebuah buku yang berjudul: Live Simply, Leave Legacy

    Kebanyakan manusia memiliki paradigma bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak menyenangkan: Ada tangisan, kehilangan, dan kemuraman dalam setiap kematian. Selain itu  kematian adalah akhir dari eksistensi manusia di dunia. Kematian juga begitu mengerikan karena misteri yang terkandung di dalamnya: Apa yang terjadi saat orang mati dan ke mana perginya gerangan?

    Kita tahu bahwa kematian tidak mengenal usia, jenis kelamin dan juga status sosial yang dimiliki oleh seseorang, dan tak seorang pun dari kita dapat menolak atau melarikan diri dari kematian.  Kematian juga tidak dapat kita wakilkan. Maka sebelum kematian menghampiri, mari sejenak kita renungkan: Kematian dan arti hidup. The Death and The Meaning of Life.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “The Death and The Meaning of Life”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 7:1-8 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, bagaimanapun panjangnya suatu masa, pasti ada akhir dari masa tersebut. Contoh: Kalau umur kita  bisa mencapai 100 tahun di dunia ini, pasti tetap ada saat dimana kita harus mati.

    Kita perlu menyadari bahwa kekekalan hanyalah milik Tuhan. Oleh karena itu, Pengkhotbah menulis sebuah prinsip yang sangat penting dan luar biasa: “Akhir suatu hal lebih baik daripada awalnya. …” (ayat 8a). Mengapa demikian? Bagaimanapun suatu hal pasti ada akhirnya. Akhir tersebut berbicara tentang tujuan dan visi yang akan dicapai. Akhir suatu hal berbicara apakah kita sudah bisa mengakhiri segala sesuatu dengan baik sesuai rencana dan target yang telah kita tetapkan sejak semula ataukah tidak.

    Pengkhotbah mengingatkan segala sesuatu ada waktunya. Masa lalu sudah berakhir, masa sekarang harus kita jalani. Masa lalu tidak akan dapat berubah, sehingga untuk apa membandingkannya dengan masa sekarang? Justru yang menjadi persoalan adalah kita harus hidup sebaik-baiknya di masa sekarang ini agar di masa depan kita boleh menuai hasil yang baik pula.

    Pengkhotbah mengajar kita untuk hidup dengan memikirkan bagaimana kita dapat menyelesaikannya dengan baik. Pada akhirnya, setiap manusia akan mati. Pertanyaannya, warisan seperti apa yang kita tinggalkan? Manakah yang lebih penting: KENIKMATAN atau HIKMAT Allah? Apa yang kita nilai berharga akan mengarahkan cara kita hidup. Kita perlu berhikmat dalam menjalani hidup. Hiduplah dengan meninggalkan NAMA YANG HARUM dan HIKMAT YANG BENAR, sebab hal itu memuliakan Allah. Dengan memuliakan Allah dan mengasihi sesama, kita memberi teladan yang baik bagi generasi berikutnya.

    Sahabat, di rumah duka seseorang seharusnya mulai memikirkan nilai-nilai kehidupan yang lebih mulia dan kekal daripada nilai-nilai yang sementara dan yang akan tersapu dengan waktu. Marilah kita merenungkan bahwa realita kematian adalah realita yang membuat kita memikirkan apa arti hidup kita. Bagaimana kita menjalani hidup ini? Bagaimana kita ingin mati kelak? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejena merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita dipanggil tidak hanya untuk memulai suatu pekerjaan baik, tetapi juga untuk menyelesaikan dan mengakhirinya dengan baik. (pg).

  • How Great My God is

    Sahabat, salah satu himne favorit saya terdapat di buku “Puji-Pujian Rohani 1 No. 171 dengan judul: “Betapa Mulia-Mu”. Dalam bahasa Inggris lagu tersebut berjudul: “How Great Thou Art”. Dalam buku nyanyian berbahasa Indonesia banyak  diterjemahkan menjadi: “Besarlah Allahku” 

    Syair asli lagu tersebut berasal dari puisi Swedia yang berjudul “O Store Gud”, yang ditulis oleh seorang pendeta Swedia bernama Carl Boberg pada tahun 1886. Selain pengkhotbah evangelikal yang terkenal di masanya, Boberg juga seorang editor sukses di Sanningsvittnet.

    Ada pun inspirasi yang melatarbelakangi penulisan teks lagu tersebut muncul saat kunjungannya di pantai sebelah tenggara Swedia. Ia terjebak dalam hujan angin ribut disertai petir dan guntur di tengah hari. Setelah badai itu berlalu, sayup-sayup ia mendengar kicauan indah dari burung-burung di atas pohon di sekitar pantai itu. Pengalaman itu mendorong Boberg bertelut, berdoa, menyembah Allah yang Mahabesar. Ia mengabadikan pengalaman itu melalui pujian dan penyembahan terhadap Allah:  Betapa besar Allahku. How Great My God is.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “How Great My God is”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 40:12-31. Sahabat, Kita bisa menyimak bahwa TUHAN sebagai PENCIPTA:  Begitu luar biasa pengetahuan-Nya (ayat 12), kebijaksanaan-Nya (ayat 13-14), kebesaran-Nya (ayat 15-17), keagungan-Nya (ayat 22-24), dan kekuasaan-Nya (ayat 26).

    Anehnya, segala keluarbiasaan Tuhan tersebut sering kita lupakan. Bahkan, Allah sering kita pertanyakan dalam hidup ini ketika hidup kita sedang berada dalam tekanan berat. Sebagaimana dalam ayat 27, orang Israel mempertanyakan Tuhan yang seolah tidak peduli dan tidak melihat kesusahan mereka dalam pembuangan. Beban tersebut menutupi pikiran dan hati mereka untuk melihat, menyadari, dan memercayai Tuhan sebagai Allah sumber kekuatannya (ayat 29-31).

    Sahabat, bacaan kita pada hari ini mengingatkan kita akan beberapa hal:

    Pertama, kita harus melihat alam sekeliling kita untuk kembali menyadari bahwa Tuhan  Sang Pencipta segala sesuatu bukan Pribadi yang lemah, Dia Pribadi yang luar biasa, Dia  mengetahui persis apa yang sedang terjadi dalam hidup kita.

    Kedua, kita tidak boleh menyamakan dan membanding-bandingkan  Allah dengan apa pun dan siapa pun, karena Ia adalah Pencipta, sementara kita dan segala hal yang ada di dunia ini adalah ciptaan-Nya. Jangan sampai Tuhan Pencipta yang kekal kita gantikan dengan berhala yang fana.

    Ketiga, kita harus senantiasa bergantung pada Tuhan karena hanya Dialah sumber hidup dan kekuatan kita. Untuk itu, kita seharusnya  tetap percaya dan bergantung sepenuhnya pada-Nya.  Ingatlah, Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Harus selalu kita ingat bahwa pertolongan-Nya datang pada waktu yang Dia tentukan, bukan pada waktu yang kita tentukan. Mana mungkin kita mengatur Dia, Sang Pencipta?

    Sahabat, karena itu sudah selayaknya kita bersyukur memiliki Allah yang begitu luar biasa, begitu dahsyat.  Apa pun yang akan kita hadapi, kita tidak perlu merasa kecil hati dan gentar, karena Tuhan Sang Pencipta senantiasa bersama kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenungan pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 27?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan itu kasih dan Mahakuasa. Dia Mahadasyat. (pg).

  • God’s Gift to Enjoy

    Sahabat, apa yang kita cari dalam hidup ini? Yesus berkata, “… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24). Mengapa Yesus berkata demikian? Karena Yesus tahu bahwa uang atau harta seringkali menjadi berhala dalam kehidupan manusia. Manusia begitu mencintai uang sehingga bersedia berbuat apa saja demi mendapatkan kekayaan.

    Pengkhotbah adalah seorang berhikmat yang mengerti bahwa dalam banyak hal uang dan kekayaan ada gunanya dan memang kita butuhkan dalam hidup. Namun, kekayaan merupakan sesuatu yang fana dan memiliki keterbatasannya. Misalnya, uang tidak dapat memberikan rasa puas kepada pemiliknya. Sebaliknya, semakin seseorang memiliki uang, rasa ketidakpuasannya semakin tinggi (Pengkhotbah 5:9).

    Sahabat, selama kita hidup di dunia, kita perlu berjerih lelah untuk dapat menghidupi hidup kita. Kita perlu berusaha untuk mendapatkan uang guna menopang kebutuhan hidup kita. Bagaimana caranya agar kita dapat menikmati hasil jerih payah kita? Ternyata kita perlu karunia Allah untuk dapat menikmati hasil jerih payah kita. God’s Gift to Enjoy.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Pengkhotbah: “God’s Gift to Enjoy”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 6:1-12 dengan penekanan pada ayat 1-2. Sahabat,    dalam Pengkotbah pasal 3:13 Salomo mengingatkan kita: “Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.”  Jika kita bisa menikmati makan, minum serta menikmati hasil kerja kita, itu pun merupakan pemberian atau anugerah dari Tuhan dan bukan atas usaha kita.

    Lalu dalam Pengkhotbah 5:18 kembali kita diingatkan: “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itupun karunia Allah.”

    Selanjutnya dalam bacaan kita pada hari ini, Salomo menegaskan: “Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia: orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.”  (ayat 1-2)

    Sahabat, jika Pengkotbah merasa perlu mengingatkan pesan tersebut berulang-ulang, tentu itu artinya ini adalah hal yang sangat penting. Kita hendaknya bisa belajar dari apa yang telah dialami Pengkotbah, karena ia menuliskan itu agar menjadi sebuah pelajaran bagi kita untuk tidak melupakan bahwa ada yang namanya kuasa untuk menikmati yang berasal dari Tuhan sendiri.

    Itulah kunci yang memampukan kita untuk bisa menikmati setiap hasil jerih payah kita dengan penuh sukacita. Kita memang harus mencari nafkah, tapi kebahagiaan bukan tergantung dari besaran harta yang kita miliki. Sejauh mana kedekatan, kesetiaan dan ketaatan kita kepada Tuhan, itulah yang akan menentukan, apakah kita bisa menerima berkat yang lengkap dari Sang Pemberi, baik berkat-berkat jasmani, kesehatan, kecukupan, kelengkapan maupun sebuah kesempatan bagi kita untuk menikmati itu semua. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berbahagialah kita, jika kita bisa menikmati semua yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, karena itu merupakan karunia dari Tuhan. (pg).

  • ALLAH Sang Penyembuh

    Sahabat, tujuan dokter  memberikan obat kepada pasien  supaya si pasien mengalami kesembuhan dari sakit-penyakit yang dideritanya. Untuk membeli obat diperlukan uang atau biaya, namun untuk mendapatkan kesembuhan ilahi  (mukjizat)  dari Tuhan tidak diperlukan uang satu sen pun, yang diperlukan adalah iman atau percaya.

    Jadi syarat mendasar untuk menerima kesembuhan Ilahi adalah beriman 100% kepada Tuhan Yesus, sebagaimana yang Ia katakan,  “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”  (Matius 9:29).  Sakit-penyakit apa pun tidak menjadi persoalan bagi Tuhan karena Dia adalah Dokter di atas segala dokter, Tabib yang ajaib.  Tuhan  mampu menyembuhkan segala jenis penyakit yang diderita oleh manusia.

    Apa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan!  Tanpa iman percaya kesembuhan Ilahi tidak akan pernah kita alami. Bagi Sahabat yang saat ini sedang sakit, mari datang kepada Allah Sang Penyembuh.

    Hari ini kita melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “ALLAH Sang Penyembuh”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 38:1-22. Sahabat, saya yakin setiap orang pasti pernah mengalami sakit. Orang akan merasa sedih apabila penyakitnya divonis tidak dapat disembuhkan. Hal tersebut tentu membuatnya terpuruk dan putus asa. Ternyata seorang raja seperti Hizkia juga dapat sakit dan hampir mati.

    Yesaya menyampaikan firman Tuhan bahwa Hizkia tidak akan sembuh dari sakitnya. Mendengar hal tersebut, Hizkia berdoa menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Sebagai jawaban doa Hizkia, Tuhan menjanjikan kesembuhan kepadanya, karena sikap Hizkia yang berserah kepada-Nya. Tuhan memperpanjang umur Hizkia, bahkan melepaskan Yehuda dari ancaman Asyur (ayat 4-6).

    Sahabat, setelah kesembuhannya, Hizkia memuji Tuhan karena di kala kematian mengancam, ia dapat berteriak minta tolong dan berharap kepada Tuhan (ayat 9-16). Tuhan telah menyelamatkan Hizkia, sehingga ia dapat bersyukur dan menyanyikan pujian kepada Tuhan (ayat 17-20).

    Memang ada saat penyakit membawa penderitaan berat. Namun, jangan sampai penyakit menjauhkan kita dari Allah. Bagi orang Yahudi, penyakit bukan hanya masalah badani, tetapi juga iman. Saat itu Raja Hizkia merasa dikutuk Allah. Dengan perasaan yang remuk, Hizkia menerima kenyataan tersebut, lalu Ia berdoa kepada Allah.

    Sahabat, penyakit yang kita alami dapat digunakan oleh si jahat untuk menjauhkan kita dari Allah dengan cara menumbuhkan keputusasaan dan kemarahan kepada Allah. Jika kita tidak bisa menerima kenyataan itu, kita dapat meninggalkan Allah. Karena itu mari kita meneladani sikap Hizkia yang tetap berdoa dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ia tetap setia sebagai hamba Tuhan. Ia memahami bahwa kesembuhan akan datang sesuai dengan kehendak-Nya. Ia tetap memuji keagungan-Nya pada saat sakit sekalipun.

    Bersyukurlah bahwa Tuhan Allah kita adalah Allah Sang Penyembuh. Jika ada penyakit yang memberatkan, Ia sumber kekuatan kita. Jangan biarkan penyakit membuat kita melupakan kasih setia Tuhan. Tetaplah berharap kepada-Nya, jalani proses pengobatan dengan sabar, dan biarkan Sang Dokter Agung menyembuhkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Berkat apa yang Sahabat terima dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan selalu punya cara untuk menyembuhkan anak-anak-Nya. (pg).