Category: Sejenak Merenung

  • Do you miss me still?

    KERINDUAN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata kerinduan adalah perihal rindu. Arti lainnya dari kerinduan adalah keinginan dan harapan akan bertemu.

    Sahabat, apakah kamu masih merindukanku? Jika pertanyaan tersebut diajukan kepada sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta, maka sudah pasti jawabannya masih. Atau kepada sepasang pengantin baru, mereka pun akan menjawab dengan lantang dan cepat bahwa pasti masih saling merindukan bila sedang tidak bersama. 

    Namun bila pertanyaan tersebut diajukan kepada suami istri yang sudah lebih dari 10 tahun menikah, seringkali hanya dijawab dengan senyuman. Jawabannya tidak setegas dan sepasti sepasang muda-mudi dan sepasang pengantin baru. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kerinduan diantara mereka mulai memudar.

    Hal yang kurang lebih sama terjadi juga dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Ketika awal berjumpa dengan Tuhan, orang akan memiliki kasih mula-mula yang menggebu-gebu. Kasih seperti itu akan membuatnya selalu rindu akan Tuhan. Setiap hari setiap waktu akan ingat Tuhan. Saat ini, apakah kamu masih merindukanku? Do you miss me still?

    Hari ini kita akan melanjutkan  belajar dari kitab Kidung Agung dengan topik: “Do you miss me still?”. Bacaan Sabda saya ambil dari Kidung Agung 3:1-5. Sahabat,  kerinduan dan kekhawatiran sang mempelai perempuan agar segera bersatu dengan kekasihnya mungkin yang menyebabkan mimpi yang dicatatkan dalam bacaan kita pada hari ini.

    Kekhawatiran merupakan hal yang wajar bagi seorang perempuan, mengingat budaya timur yang menempatkan kaum perempuan dalam posisi menantikan tindakan inisiatif dan aktif dari sang pria. Kalau pria tidak cepat meminang, kalau ia menunda memperkenalkannya kepada orangtua, maka sang perempuan menjadi resah. Apalagi ketika usia terus merambat semakin tua.

    Oleh karena itu mimpi sang mempelai perempuan berlanjut, ketika sang kekasih ditemukan, ia segera memegangnya erat-erat, dan membawanya ke kamar ibunya. Ibu, yang bagi sang perempuan adalah tempat mengadu kegalauan hati, kiranya dapat meneduhkannya. Ibu dengan sikap melindungi putrinya, pasti mengharapkan kata-kata janji dan pengharapan bahwa sang pria tidak akan menyia-nyiakan anak perempuannya. Sekali lagi hasrat bersatu yang begitu menggebu-gebu, harus dikendalikan sampai tiba waktu yang tepat.

    Bagi para pasutri, kapankah terakhir kali kalian saling merindukan dengan begitu kuat? Kapan kalian mengkhawatirkan relasi kalian? Jangan hanya saat belum saling memiliki, justru saat sudah saling memiliki, pererat tali kasih, jaga dan lindungi kekasihmu, agar dia dan hanya dia yang menjadi fokusmu dalam mengarungi bahtera pernikahan. Tentu, dengan menempatkan Tuhan sebagai kepala rumah tanggamu.

    Sahabat, adakah kita merasakan kerinduan pada Tuhan seperti kita merindukan kekasih atau pasangan atau keluarga kita? Tuhan selalu menunggu kita. Kapan saja kita datang kepada-Nya, Dia senantiasa menyambut dengan tangan terbuka. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan selalu menunggu kita, datanglah pada Tuhan, jika kita merindukannya. (pg)

  • CATCH those LITTLE FOXES

    RUBAH-RUBAH KECIL. Rubah merupakan hewan omnivor (pemakan segala), tetapi makanan favoritnya  buah-buahan. Rubah merupakan binatang kecil yang suka sekali merusak hasil panenan.  Rubah mampu beradaptasi dalam segala musim dan lingkungan, bergerak secara diam-diam tapi sangat gesit, dan hanya meninggalkan jejak.  Rubah bisa dikatakan pemburu yang ulung, ahli strategi, dan lihai menarik perhatian mangsa. 

    Sahabat, kitab Kidung Agung  selain menggambarkan tentang hubungan antara Kristus sebagai kepala jemaat dengan orang percaya sebagai tubuh-Nya, juga menggambarkan tentang hubungan antara gereja-Nya dengan rumah tangga.

    Dalam kehidupan bergereja dan berumah tangga seringkali kita tidak menyadari adanya persoalan-persoalan kecil yang seringkali dianggap remeh atau sepele, tapi kalau dibiarkan dapat merusak kehidupan rumah tangga, pekerjaan, dan bahkan pelayanan gereja.  Kebanyakan fokus dan perhatian orang hanya tertuju kepada hal-hal besar, sedangkan hal yang kecil disepelekan, padahal dari yang kecil kalau terus dibiarkan dapat menjadi perkara besar yang membahayakan dan sulit teratasi kalau terlambat penanganannya.

    Beberapa penafsir menganggap rubah-rubah yang ditulis Salomo dalam Kidung Agung 2  melukiskan hal-hal kecil yang bisa merusak hubungan dalam pernikahan. Karena itu tangkaplah rubah-rubah kecil itu. Catch those little foxes.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Kidung Agung dengan topik: “CATCH those LITTLE FOXES”. Bacaan Sabda saya ambil dari Kidung Agung 2:8-17 dengan penekanan ayat 15. Sahabat, entah apa yang istimewa dengan rubah sehingga Salomo menyebutkan hewan ini dalam syairnya (ayat 15). Mungkin ia memang benar-benar melihat sekawanan rubah ketika ia sedang jalan-jalan mengelillingi kebun anggur bersama kekasihnya.

    Sahabat, ada beberapa penafsir menganggap rubah-rubah ini melukiskan hal-hal kecil yang bisa merusak hubungan dalam pernikahan. Karena kecilnya, seringkali luput dari perhatian. Rubah posturnya mirip anjing peliharaan, tampaknya tidak berbahaya. Namun, orang yang tahu sifat rubah yang merusak tidak akan membiarkannya. Kalau sekadar dihalau, rubah-rubah  bisa datang kembali, Karena itu mereka perlu ditangkap untuk dihabisi.

    Di dalam Alkitab hubungan pernikahan dipakai  untuk menggambarkan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Seperti hubungan pernikahan, hubungan kita dengan Tuhan juga sering dirusak oleh hal-hal yang tampaknya sepele. Dosa-dosa yang tidak diakui, kesibukan yang mengambil alih waktu persekutuan pribadi dengan Tuhan, kemalasan untuk bersaat teduh, kecintaan pada hobi yang melebihi kecintaan pada Tuhan. Silakan diteruskan sendiri daftarnya.

    Sahabat, sepintas tidak berbahaya, kita masih ke gereja dan masih aktif terlibat dalam  berbagai kegiatan gereja. Status kita sebagai anak Tuhan tidak berubah. Namun, kita tak lagi menikmati hubungan yang intim dan indah dengan Tuhan. Kebun anggur kita tak lagi semerbak, habis dilalap rubah. Rubah-rubah kecil apa yang harus kita tangkap dan bereskan di hadapan-Nya pada hari ini? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan sepelekan hal-hal kecil, karena perkara yang besar berawal dari perkara kecil! (pg).

  • PEACEFULNESS and HAPPINESS from GOD

    DAMAI SEJAHTERA DAN KEBAHAGIAAN. Nabi Yesaya menegaskan bahwa damai sejahtera dan kebahagiaan hanya bisa didapatkan apabila orang mau melakukan firman Tuhan (Yesaya 48:18). Untuk menjadi pelaku firman dibutuhkan kerendahan hati,  hati yang mau dididik, ditegur dan diajar (Amsal 3:11 dan 6:23).  

    Sahabat, KETAATAN kepada Tuhan itulah yang mendatangkan damai sejahtera dan kebahagiaan, baik untuk hidup hari ini maupun untuk hari-hari yang akan datang.  Ketaatan adalah standar yang dipakai Tuhan untuk mengukur kehidupan rohani orang percaya.  Ukuran Tuhan bukan apa yang terlihat secara kasat mata, karena itu takkan menyentuh hati Tuhan.  Yang menyentuh hati-Nya sehingga Ia tidak akan tahan untuk tidak mencurahkan damai sejahtera dan kebahagiaan adalah ketaatan kita dalam melakukan firman-Nya.

    Sermoga kita dapat menikmati damai sejahtera dan kebahagiaan dari Tuhan. Peacefulness and happiness from God.

     Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “PEACEFULNESS and HAPPINESS from GOD”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 48:12-22 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat, Bangsa Israel tiga kali diminta Tuhan untuk mendengarkan (ayat 12, 14, 16).

    Kata “dengar” atau “mendengarkan” dalam bahasa Ibrani mempunyai arti tidak mengizinkan adanya pemisahan antara persepsi dengan tindakan. Jika kita benar-benar mendengarkan  peringatan, maka kita harus menaatinya. Jika kita tidak menaatinya, itu artinya kita tidak mendengarkan

    Sahabat, bangsa Israel merasa begitu tertekan selama masa pembuangan. Banyak peristiwa telah mereka alami dan membuat mereka terpuruk. Namun, Tuhan berjanji bahwa Dia akan memulihkan Israel dengan kekuatan-Nya. Dia akan mengajarkan hal-hal yang berfaedah kepada mereka, dan akan menuntun langkah hidup mereka.

    Dengan kekuatan-Nya, Allah menebus Israel, bahkan Allah akan membuat Israel menjadi bangsa yang besar. DAMAI SEJAHTERA  dan KEBAHAGIAAN akan diterima oleh bangsa Israel dengan berlimpah. Hanya saja, bangsa Israel harus bersedia mendengarkan Allah dan memperhatikan perintah-perintah-Nya. Jika mereka menaati Tuhan, maka mereka akan diberkati dengan damai sejahtera dan kebahagiaan yang YANG TIDAK AKAN BERKESUDAHAN.

    Sahabat, apakah yang menjadi tolok ukur kebahagiaan kita saat ini? Apakah harta, jabatan, ketenaran, atau keberhasilan?  Ingatlah, semua itu hanya merupakan kebahagiaan sesaat dan semu. Hanya Tuhanlah yang mampu memberi damai sejahtera dan kebahagiaan kekal, yang tidak akan bisa diberikan oleh dunia. Kita hanya perlu peka mendengar suara panggilan Tuhan, berpegang pada perintah-Nya dan menaati-Nya.

    Sebagai orang percaya dan pelayan Tuhan kita senantiasa diminta dengar-dengaran akan  firman Tuhan. Mendengar dan melakukan kehendak-Nya, maka, janji-Nya kepada Israel akan menjadi janji bagi kita juga (ayat 18-19). Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12-16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Peganglah terus perintah Tuhan sehingga kita dapat menemukan damai sejahtera dan kebahagiaan yang Ia sediakan bagi kita! (pg).

  • The Time has Come

    BEKING. Sahabat, manusia seringkali berusaha membuat RASA AMAN yang palsu. Manusia juga seringkali percaya dengan “Tempat Perlindungan” yang palsu.

    Ada orang-orang yang berani melakukan usaha atau kegiatan yang melanggar hukum yang berlaku di negara kita karena dia merasa mempunyai BEKING  orang kuat, yang dapat diandalkan. Bekingnya petinggi negara yang mempunyai kekuasaan yang besar dan luas. Mereka merasa telah mempunyai “allah-allah” yang dapat melindungi dan menyelematkannya.  Mereka merasa menjadi orang yang kebal hukum.

    Selain itu ada orang-orang kaya yang membuat bungker yang begitu kuat dan mempunyai banyak pengawal yang profesional. Mereka merasa mempunyai tempat perlindungan yang aman yang benar-benar dapat diandalkan.

    Akibatnya mereka merasa aman dan terbiasa melakukan pelanggaran bahkan kejahatan. Jangankan merasa bersalah, mereka malah merasa bahwa tidak ada orang lain yang tahu perbuatannya dan seolah-olah kebal terhadap hukum di negaranya dan penghakiman Allah. Kejahatannya pun terus dilakukan dengan bangga.

    Mereka lupa bahwa ada Allah yang mengatur segalanya lebih daripada yang manusia mampu pikirkan. Segala sesuatu di dunia ini adalah milik Allah, diatur menurut kehendak-Nya, dan dipakai untuk keadilan-Nya. Saatnya telah tiba, penghakiman Allah datang atas mereka. The time has come.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan tema: “The Time has Come”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 47:1-15. Sahabat, di Yesaya pasal 46, dewa-dewa Babel dipermalukan sebagai allah yang mati, tidak berdaya, bahkan perlu diselamatkan. Dalam bacaan kita pada hari ini yang dipermalukan ialah bangsa Babel sendiri.

    Nabi Yesaya mengingatkan kepada orang Babel bahwa semua rasa aman itu hanyalah rasa aman yang semu dan palsu  (ayat 10). Apa yang mereka dan manusia percaya mampu memberi rasa aman, semuanya akan berakhir. Semua yang dirasa memberi rasa aman pasti habis dan berakhir. 

    Saatnya telah tiba. The time has come. Allah menurunkan kemuliaan Babel hingga ke posisi yang terendah (ayat 1-3). Ia bahkan mengantikan kemuliaan mereka dengan nista dan aib. Allah sendiri yang melakukan pembalasan itu (ayat 3-4). Ayat 8-15 memaparkan kedahsyatan malapetaka yang ditimpakan-Nya kepada Babel.

    Saatnya telah tiba. The time has come. Orang yang merasa diri luar biasa dan tahu segalanya, tidak akan berkenan di hadapan Tuhan. Kesombongan diruntuhkan dan semuanya dikembalikan untuk kemuliaan Allah. Tiada gunanya memakai ilmu dan kecerdasan hanya untuk kesombongan diri. Allah telah memperingatkan bahwa orang yang demikian hanya akan berakhir dalam kehancuran.

    Sahabat, kita bersyukur karena firman Tuhan selalu mengingatkan kita agar tetap rendah hati. Saatnya telah tiba untuk mengakui bahwa Allah kita sebagai Allah Yang Mahatinggi. Melalui pengakuan ini, kita akan terhindar dari kesiaan-siaan dan malapetaka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhanlah satu-satunya tempat berharap dan bersandar bagi setiap orang percaya. Dialah tempat bersandar yang  aman dan kekal. (pg)

  • TRUE LOVE

    CINTA. Sahabat, cinta bukanlah nafsu, meski terkadang kita sulit untuk membedakannya. Cinta, secara sederhana dapat diartikan sebagai rasa suka, tertarik atau perasaan sangat sayang. Sedangkan nafsu berarti dorongan yang kuat dari dalam diri untuk melakukan sesuatu, kecenderungan, keinginan, atau gairah yang tidak baik. Sungguh tidak mudah membedakan cinta dan nafsu, tetapi seiring berjalannya waktu, cinta dan nafsu akan teruji.

    Lalu adakah CINTA SEJATI? TRUE LOVE? Cinta sejati bukanlah semata-mata proses dari mata langsung turun ke hati, bukan juga terjadi pada pandangan pertama. Cinta sejati butuh proses, perlu diuji, sebab itu butuh kesabaran untuk membuktikannya. Cinta sejati itu memberi, bukan mengambil, apalagi merampas. Cinta sejati adalah mengasihi, menghormati dan memberi yang terbaik bagi orang yang kita kasihi. Bukan cinta sejati namanya jika kita mencintai seseorang hanya karena nafsu atau mencari keuntungan apa yang bisa diperoleh dari orang yang kita cintai.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita mulai belajar dari kitab Kidung Agung dengan tema: “TRUE LOVE”. Bacaan Sabda saya ambil dari Kidung Agung 1:1-17. Sahabat, Kidung Agung adalah kitab yang paling gamblang mengekspresikan cinta, karena memang ditulis sebagai syair-syair cinta Raja Salomo. Kitab ini adalah salah satu tulisan suci yang dibacakan pada hari raya Paskah umat Yahudi.

    Para penafsir sepakat bahwa kitab ini memberikan model seksualitas yang sehat sebagaimana rancangan Tuhan, yaitu hubungan antara laki-laki dan perempuan dan dinikmati dalam ikatan pernikahan yang suci.

    Sahabat, cinta sejati tidak memandang PERBEDAAN sebagai PENGHALANG, apalagi kalau perbedaan itu dipakai untuk membeda-bedakan sesama berdasarkan SARA. Hal itu sedikit tergambarkan dalam puisi pertama dari Kidung Agung. Bagian ini terbagi menjadi:  Ayat 2-4a: Suara sang  perempuan. Ayat 4b: Suara para sahabat. Ayat 5-7: Kembali suara sang perempuan, dan ayat 8: Kembali suara para sahabat. Fungsi suara para sahabat ini menjadi pemberi semangat untuk pasangan tersebut supaya tetap setia satu sama lain, walaupun dihadang tantangan.

    Meskipun status sosial berbeda, sang  perempuan mungkin seorang dari kelas rakyat pekerja (ayat 6), sebaliknya sang kekasih adalah raja (ayat 4). Hal tersebut tidak menghalangi hasrat cinta yang tulus bahkan bisa dikatakan sedikit pencemburu (ayat 3b), yaitu keinginan mencium serta menikmati keharuman badan sang kekasih, bahkan ingin segera memuncak pada paduan kasih di mahligai pernikahan.

    Sahabat, namun hasrat yang begitu besar ini BELUM TERCAPAI. ADA PENGHALANG yang harus diterobos. Bayangkan gunjingan dari kalangan istana mengenai sang  perempuan karena KERENDAHAN STATUS SOSIALNYA (ayat 6). Dengan percaya diri, sang perempuan mengatakan DIRINYA CANTIK (ayat 5). HITAM KULITNYA disebabkan oleh sinar matahari yang membakarnya JUSTRU MENARIK SANG RAJA. Entah karena sang perempuan itu hitam manis, atau karena karakter pekerja kerasnya.

    Kerinduan sang perempuan diungkapkan lewat keinginannya mengenal lebih baik lagi sang kekasih, bukan dari luar saja, seperti pengembara di antara teman-teman sang kekasih. Keberanian untuk menyatakan kerinduan ini akan dibalas oleh sang kekasih pada pasal 2. Di ayat 8 sang perempuan seolah mendapatkan penguatan untuk tetap mencari. Haleluya. Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Cinta sejati tidak surut oleh tantangan, melainkan setia dan fokus pada panggilan mulia Allah pada pasangan yang diberkati-Nya. (pg)

  • MORE than EVERYTHING

    MURID KRISTUS. Untuk menjadi murid Kristus kita harus lebih MENGUTAMAKAN TUHAN  dan mengasihi-Nya lebih daripada segala yang kita kasihi di dunia ini! Tuhan lebih dari segalanya. More than everything.

    Sahabat, adakah yang melebihi Tuhan?  TENTU TIDAK ADA. Maka atas dasar itulah kita harus menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dan mengasihi Dia lebih dari apa pun dan siapa pun.  Dalam kehidupan sehari-hari ada cukup banyak orang percaya yang menempatkan Tuhan sebagai nomor sekian dalam hidupnya, karena mereka lebih mengutamakan harta, bisnis, hobi, pencapaian-pencapaian dan lain sebagainya.

    Syukur kepada Tuhan. Luar biasa. Berkat anugerah Tuhan, hari ini kita dapat sampai pada bagian terakhir dari kitab Pengkhotbah. Sekarang kita semakin mengetahui bahwa kitab Pengkhotbah sarat dengan perenungan dari seorang yang sudah menjalani kehidupan dalam segala kelimpahan harta benda, pengetahuan, dan pengalaman hidup. Kehidupan yang penuh pasang surut dan berakhir pada kesimpulan bahwa kehidupan yang dijalani tanpa disertai rasa takut akan Tuhan, semuanya adalah kesia-siaan belaka (kata “sia-sia” tercatat 37 kali dalam kitab pengkhotbah).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “MORE than EVERYTHING”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 12:9-14. Sahabat, kata kunci dari kitab Pengkhotbah yang diulang-ulang sepanjang kitabnya adalah “sia-sia”. Umumnya, kesan yang muncul ketika membaca kitab Pengkhotbah adalah sikap pesimis terhadap kehidupan. Namun sesungguhnya tidak demikian,  Pengkhotbah sedang mempresentasikan sebuah fakta: Kehidupan manusia, di bawah matahari, tanpa Tuhan adalah sebuah kesia-siaan.

    Sangat menarik, di akhir kitabnya, Pengkhotbah memberikan sebuah kesimpulan klimaks, sekaligus jawaban atas kesia-siaan hidup manusia, yaitu kita harus hidup takut akan Tuhan dan berpegang pada perintah-Nya. Di luar Tuhan, kehidupan manusia akan berakhir dengan kesia-siaan, baik di dunia maupun dalam kekekalan (ayat 13-14).

    Sahabat, Takut akan Tuhan dan melakukan perintah-Nya merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Takut akan Tuhan membawa kita mendekat kepada-Nya, menyembah-Nya, dan menghormati-Nya. Namun, itu semua harus diwujudkan dengan tindakan nyata, yaitu dengan melakukan perintah dan firman-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

    Oleh karena itu, Pengkhotbah mengungkapkan bahwa seluruh tindak-tanduk manusia (baik atau jahat) akan dipertanggungjawabkan di hadapan takhta pengadilan Allah. Semua akan dinilai berdasarkan cara hidup dan segenap  tindakan kita: Apakah sesuai dengan perintah-Nya atau tidak? Hal tersebut sebagai penentu apakah hidup kita akan berakhir sia-sia atau masuk ke dalam kekekalan yang penuh kebahagiaan dan kedamaian (ayat 14).

    Hari ini kita diberi dua pilihan, yaitu hidup dalam kesia-siaan atau hidup bermakna. Jika ingin hidup bermakna, jadikanlah TUHAN yang TERUTAMA dalam hidup kita. Tidak peduli apakah kita kaya atau miskin, sehat atau  sakit, berpendidikan tinggi atau rendah, JIKA HIDUP TANPA TUHAN SEMUA AKAN BERAKHIR SIA-SIA.  

    Oleh karena itu, marilah kita takut akan Tuhan dan menempatkan-Nya DI ATAS SEGALANYA. More than everything. Dengan begitu, hidup kita akan berakhir dengan sukacita kekal. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kesukaan kita terhadap perintah Allah mencerminkan kasih sekaligus ukuran penghormatan kepada-Nya. (pg).

  • GOD’S SOVEREIGNTY in our life

    KEDAULATAN TUHAN. Sahabat, apa itu KEDAULATAN TUHAN? Dalam hidup ini tanpa kita sadari, kadang kita melupakan adanya kedaulatan Tuhan. Kedaulatan Tuhan artinya kekuasaan Tuhan secara penuh atas hidup kita. Secara sederhana bisa diartikan: Kedaulatan Tuhan merupakan hak Tuhan untuk melakukan apa pun yang Tuhan kehendaki atas hidup kita.

    Oh ya, sebagai Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dalam kehidupan manusia tentu tidak ada yang salah jika Tuhan memiliki kedaulatan atas semua ciptaan-Nya termasuk manusia. Namun terkadang manusia melupakan hal tersebut bahkan seolah Tuhanlah yang harus memenuhi kehendak kita sebagai manusia. Karena itu mari  sejenak kita merenung tentang: Kedaulatan Allah dalam hidup kita. God’s sovereignty in our life.

    Hari ini kita akan melanjutkan  belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “GOD’S SOVEREIGNTY in our life”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 45:1-8. Sahabat, sangat mengejutkan! Tak masuk di logika. Koresh, raja dari bangsa penyembah berhala, yang tidak mengenal Allah Israel, dipakai Tuhan untuk menyelamatkan umat-Nya (ayat 4).

    Tuhan sendiri yang memanggil, mengurapi, dan memimpin Koresh untuk menaklukkan raja-raja dunia (ayat 1). Tuhan sendiri yang memastikan keberhasilan Koresh (ayat 2-3,  dan 5). Padahal pengurapan dalam Perjanjian Lama ialah penugasan Tuhan kepada orang pilihan-Nya dari umat-Nya untuk jabatan tertentu!

    Sesungguhnya hal tersebut menunjukkan bahwa Tuhan BERDAULAT dan BERKUASA untuk MEMAKAI SIAPA SAJA. Sepasti kekuasaan-Nya atas terang dan gelap, atas kemujuran dan malapetaka dan atas seluruh alam semesta ini (ayat 7-8) sedemikian pula kekuasaan-Nya atas Koresh. Allah melalui Yesaya memberitahu umat Israel, dan bangsa-bangsa bahwa KORESH adalah ALAT di  tangan-Nya, yang dipakai untuk kebesaran dan kemuliaan-Nya (ayat 6).

    Untuk apa Koresh dipanggil dan diurapi? Allah membangkitkan Koresh dengan suatu tujuan, yaitu untuk membebaskan bangsa Israel (ayat 4). Allah memakai raja bangsa Persia ini untuk menggantikan raja-raja adikuasa Babel.

    Koreshlah yang nantinya menjadi penyelamat bagi bangsa Yahudi. Hal tersebut terlihat dari tindakan Koresh di kemudian hari. Ia memberikan kebebasan bagi bangsa Israel untuk pulang ke negerinya serta mengizinkan pembangunan kembali tembok Yerusalem dan Bait Suci (Yesaya 44:28; 2 Tawarikh 36:22-23; Ezra 1:1-4). Yeremia telah menubuatkan pemulihan umat Israel ini (Yeremia 29:10-14) dan Daniel telah mendoakannya sebagai antisipasi ketika saat pembebasan yang dijanjikan itu telah tiba (Daniel 9:1-19).

    Sahabat, seringkali kita tanpa sadar membatasi kehendak Tuhan sebatas logika kita. Apa yang bagi kita tidak masuk akal, Allah sanggup melakukannya. Jika kita baca apa yang Tuhan nyatakan dalam bacaan kita pada hari ini, maka kita akan belajar bahwa Tuhan dapat menggunakan siapa saja walaupun itu orang yang tidak seiman, bahkan mungkin musuh kita untuk menjadi alat di tangan-Nya. Percayalah Allah berdaulat dan berkuasa atas hidup kita.

    Apapun yang terjadi percayalah bahwa Dia Tuhan yang berdaulat dan memegang kendali atas hidup kita. Dalam segala hal dan segala situasi Tuhan selalu menyertai.  Dia adalah Allah yang berdaulat atas hidup kita, sekaligus  Allah yang penuh kasih setia. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mengenal jati diri menjauhkan kita dari kesombongan. Mengenal Allah menjadikan kita rendah hati. (pg).

  • Even to your OLD AGE and GREY HAIRS

    ORANG YANG SETIA. Sahabat, di zaman serba digital saat ini,  bukan perkara sulit untuk mencari orang yang pintar, hebat, baik, bertalenta, kaya, gagah, ganteng, cantik, berpengalaman, dan berpendidikan tinggi.  Tetapi untuk MENCARI ORANG-ORANG YANG SETIA tak semudah membalikkan telapak tangan  (Amsal 20:6), sebab saat ini manusia cenderung bersikap egoistis dan materialistis, segala sesuatunya diukur berdasarkan materi dan kepentingan. 


    Bagaimana dengan Tuhan? Tuhan menegaskan di hadapan umat Israel bahwa Dia adalah Tuhan yang tidak bisa dibandingkan dan disamakan dengan siapa pun.  Sungguh, Tuhan itu tak tertandingi!  (Yesaya 46:5).  Kesetiaan Tuhan tak pernah berubah dan tak lekang oleh waktu!:  “… TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.”  (Mazmur 145:13b).  Sekalipun kita sering menyakiti hati-Nya dan mengecewakan-Nya, Tuhan tetap bertanggung jawab atas hidup kita dan tidak pernah mengecewakan.  Sampai masa putih rambutmu, Tuhan tetap selalu setia bersamamu. Even to your old age and grey hairs.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Even to your OLD AGE and GREY HAIRS”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 46:1-13 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, seberapa setiakah Allah Israel menyertai umat-Nya?, maka jawabannya: SENANTIASA SETIA. Walaupun ada kalanya bangsa itu tidak setia, Allah selalu memberikan peringatan dan hukuman kepada mereka sehingga bangsa itu berbalik kembali kepada jalan Allah.

    Dahsyat, luar biasa! Di masa lalu Allah tetaplah Allah umat-Nya dan senantiasa mau menanggung mereka (ayat 4). Allah mau memikul dan menyelamatkan mereka sampai kapan pun.

    Sangat berbeda dari Allah Israel, allah-allah buatan manusia tidak mampu melakukan apa-apa. Itu adalah allah yang tidak bisa bergerak dari tempatnya dan tidak bisa menjawab seruan orang yang berdoa kepadanya (ayat 7). Bukankah sia-sia jika kita menyembah allah seperti itu?

    Sahabat, Allah ingin manusia segera sadar, malu akan pekerjaan dan waktu yang mereka korbankan secara sia-sia. Allah menghendaki umat-Nya berbalik kepada-Nya.

    Di sinilah firman Allah diperdengarkan-Nya; keselamatan dari-Nya sudah dekat, Ia akan membebaskan Sion dan memberikan keagungan-Nya kepada Israel (ayat 13). Rencana Allah adalah rencana keselamatan yang baik untuk bangsa-Nya. Tidak lama ia marah dan tidak selamanya ia menghukum. Pada akhirnya, Ia kembali menyatakan bagaimana bangsa-Nya dapat diselamatkan.

    Sahabat, kita patut mengucap syukur bahwa Allah kita adalah Allah yang menaklukkan allah-allah lain di dunia ini. Ia juga Allah yang penuh kasih. Ia senantiasa memerhatikan kehidupan kita. Kadang kita tidak ubahnya seperti bangsa Israel yang kerap kali mengeraskan hati dan bertindak sesuka hati. Ada kalanya Allah memberikan hukuman, tetapi jangan berkecil hati, sebab Ia tetap merancangkan keselamatan bagi kita.

    Oleh sebab itu, seberat apapun keadaan kita bahkan di masa tua sekalipun, jangan pernah berubah tidak setia kepada Tuhan. Percayalah, kita tidak akan menghadapi semua itu sendirian sebab Tuhan selalu ada untuk kita (ayat 4). Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan takut, Allah memelihara kita sepanjang hidup kita! (pg).

  • The MAGIC of GIVING

    Sahabat, sesungguhnya salah satu karakter yang harus dimiliki setiap orang percaya adalah murah hati (Lukas 6:36).  Murah hati berarti memerhatikan orang lain yang sedang dalam kekurangan, menawarkan bantuan kepada mereka yang terluka dan menderita.  Murah hati bukan hanya perasaan kasihan terhadap orang yang dalam kesulitan, bukan perasaan simpati yang diberikan dari luar saja, tetapi berusaha mengerti lebih dalam, sehingga dapat melihat dan merasakan apa yang orang lain rasakan. 

    Mempunyai kemurahan hati berarti punya kepedulian tinggi terhadap orang lain dan mau terlibat.  Ia tidak hanya menawarkan kata-kata nasihat atau mengupas panjang lebar ayat-ayat Alkitab di hadapan orang yang sedang dalam kesulitan tanpa berbuat apa-apa, melainkan ada sebuah tindakan. Ada tindakan memberi. Ketika berani memberi maka KITA AKAN MENIKMATI KEAJAIBAN MEMBERI. The MAGIC of GIVING.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “The MAGIC of GIVING”. Bacaan Sabda saya ambil dari Penghkhotbah 11:1-8 dengan penekanan pada ayat 1 dan 2. Sahabat, salah satu hal yang sering kali kita lalai melakukan sebagai orang percaya adalah MEMBERI. Pengkhotbah mengajak kita BERANI MEMBERI supaya kita akan dapat menikmati KEAJAIBAN MEMBERI.

    Kita perlu belajar memberikan “roti” yang merupakan kebutuhan pokok dalam kehidupan. Pengkhotbah mengajak kita bukan hanya memberikan uang receh kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga memberi dengan cara berkorban. Mengapa? Pertama, coba kita simak apa yang dinyatakan Pengkhotbah di ayat 1: ” … engkau akan mendapatkannya kembali lama setelah itu”.  Jangan takut memberi karenaTuhan akan memelihara hidup kita. Kita tidak akan jatuh miskin dengan memberi. Tuhan akan membalas apa yang kita tabur, walau mungkin kita tidak secara langsung melihat tuaian dari perbuatan baik kita (bdk. Amsal 28:27).

    Kedua, lanjut, sekarang kita simak apa yang dinyatakan Pengkhotbah di ayat 2: ” … karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi”. Pada dasarnya, kita tidak tahu apa yang bakal terjadi. Karena itu, kita wajib menyediakan payung sebelum hujan dan banyak menabung.

    Sahabat masih ingat dengan Ayub? Siapakah yang akan menolong Ayub dari kemalangan besar yang melenyapkan segenap hartanya? Jika Ayub tidak pernah menolong sesamanya, mustahil para saudara dan sahabatnya dengan sukarela membawa uang dan emas untuk menolong Ayub sehingga ia dapat bangkit kembali (Ayub 42:11-12). Karena tidak ada yang seorang pun yang tahu kapan malapeteka menimpa dirinya, Pengkhotbah menganjurkan banyaklah berbuat kebaikan terhadap sesama. Siapa tahu kelak kita membutuhkan uluran tangan orang lain.

    Sesungguhnya tujuan Tuhan memberikan kelimpahan materi dalam hidup kita tidak pernah dimaksudkan hanya dipakai untuk kesenangan diri sendiri saja, tetapi untuk menolong orang lain yang membutuhkan. Kita diingatkan bahwa apa pun yang diberikan Tuhan kepada kita, sesungguhnya ada bagian yang MERUPAKAN MILIK ORANG LAIN.

    Sahabat, apa upah bagi orang yang murah hati?  Tuhan berjanji bahwa mereka yang memerhatikan orang lain dan menunjukkan kemurahan hati akan beroleh kemurahan juga sebagai balasannya, baik dari sesama maupun dari Tuhan sendiri. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Percayalah dengan iman bahwa Tuhan akan memelihara kita dan beranilah memberi. (pg).

  • BELONG to GOD

    Sahabat, ada ungkapan pendek yang sudah akrab dalam kehidupan kita: “Hidup hanya sekali”. Ungkapan pendek tersebut menarik  cukup banyak orang untuk mengartikannya sesuai dengan keinginannya masing-masing.

    Ada yang mengatakan karena hidup hanya sekali maka nikmatilah  hidupmu sepuas-puasnya tanpa menghiraukan apapun, masalah itu belakangan. Bahkan karena hidup itu hanya sekali, ada cukup banyak orang yang takut untuk mati. Ada yang mengatakan karena hidup hanya sekali maka gunakan hidupmu untuk hal-hal yang sangat berguna. Lalu, jika demikian beragamnya pemahaman soal tersebut, pertanyaannya adalah untuk siapakah kita saat hidup dan mati?

    Rasul Paulus dalam Roma 14:8 memberikan jawab atas pertanyaan tersebut. Ia paparkan bagaimana seharusnya manusia hidup dan bagaimana menghadapi kematian. Untuk memberikan penjelasan “hidup hanya sekali” Paulus mendasarkan penjelasannya pada “pemilik hidup itu sendiri”. Kita diingatkan bahwa sesungguhnya hidup kita ini bukanlah milik kita pribadi tetapi milik Tuhan saja. Sesungguhnya kita kepunyaan Tuhan. Aku kepunyaan Tuhan. Belong to God.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “BELONG to GOD”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 44:1-8. Sahabat, menjadi kepunyaan Tuhan berarti kita selalu berada di sisi-Nya. Jika dalam kondisi tidak aman, kita tidak perlu takut, karena Tuhan selalu sigap untuk meraih dan menggenggam kita di dalam tangan-Nya. Kita dijaga dan dipelihara-Nya karena kita adalah kepunyaan-Nya yang berharga.

    Israel, yang disebut sebagai keturunan Yakub, adalah umat yang telah dipilih oleh Tuhan. Dia membentuk mereka sejak dalam kandungan (ayat 1-2). Dia sanggup mengadakan keajaiban dalam karya-Nya, juga memberkati mereka dengan Roh-Nya dan masa depan yang baik (ayat 3-4).

    Umat Israel juga  merasakan pemeliharaan Allah sudah terbukti sejak leluhur mereka, hingga dapat berkata: “… Aku kepunyaan Tuhan, …” (ayat 5). Menyandang nama Israel berarti menjadi umat kepunyaan Tuhan, Allah semesta alam, yang menjadi Raja dan Penebus bagi mereka (ayat 6).

    Jika umat Israel sudah membuktikannya di antara bangsa-bangsa, siapakah yang kuasanya seperti Allah Israel? Tidak ada! Dialah satu-satunya Allah Yang Mahakuasa, tidak ada allah lain yang mampu menyamai kuasa-Nya (ayat 7). Karena itu, meski musuh dan bahaya mengancam, Tuhan berfirman: “Janganlah gentar dan janganlah takut, …” (ayat 8). Dialah Gunung Batu yang menyertai dan melindungi mereka selamanya.

    Sahabat, Tuhan yang sama juga menjadikan kita umat-Nya. Dalam gelombang dan badai kehidupan, Dialah Allah yang berkuasa menaklukkan dahsyatnya ancaman. Dialah Allah yang merengkuh umat kepunyaan-Nya, memberikan penghiburan dan pertolongan agar kita dapat melewati serta menghadapi tantangan hidup. Kita sungguh aman sebagai milik kepunyaan-Nya. Kita dipegang oleh tangan-Nya hingga kita mampu melewati segala sesuatu; berjalan dengan kuat dan tangguh, tanpa menjadi gentar dan takut. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7 dan 8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Habiskan hidupmu di dunia untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan agar kematianmu membawamu pada kemuliaan bersama Tuhan. (pg).