Category: Sejenak Merenung

  • The Hurt The Healer

    TERLUKA. Hampir setiap orang pernah terluka baik tubuhnya maupun hatinya. Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “The Hurt The Healer (Yang Terluka Yang Menyembuhkan)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 53:1-12.

    Sahabat, bacaan kita pada hari ini menyatakan berbagai perkara tentang YESUS yang tumbuh sebagai taruk dari keturunan Daud yang dihina, diejek dan dicela. Lalu dianiaya, disalib, mati, dikuburkan dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.

    Secara eksplisit dan implisit, bacaan kita pada hari ini mengungkapkan 6 hal sebagai berikut: Pertama, siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? (ayat 1). Kedua, Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina (ayat 2-3).

    Ketiga, dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena

    kejahatan kita (ayat 4-5). Keempat, Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian (6-7).

    Kelima, dalam mati-Nya, Ia ada di antara para penjahat, sekalipun Ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya (ayat 9). Keenam, Ia terhitung di antara para pemberontak, sekalipun Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk para pemberontak (ayat 12).

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa ada ENAM JENIS LUKA  yang bisa dialami manusia. Pertama, LUKA TERGESEK,  yakni luka sampai kulit terkelupas. Bisa disebabkan karena jatuh terjerembab, atau tergesek oleh permukaan kasar. Kedua, LUKA LEBAM,  yakni luka yang terjadi karena pukulan keras. Ketiga, LUKA TERSAYAT, yakni luka yang disebabkan oleh pisau atau benda tajam lain.

    Keempat, LUKA SOBEK, yakni luka yang membuat bagian daging terkoyak. Kelima, LUKA TERTEMBUS, yakni luka karena daging tertembus suatu benda. Keenam, LUKA TERTUSUK,  yakni luka akibat ditusuk oleh benda runcing atau berduri.

    Mungkin sebagian dari kita pernah mengalami beberapa luka di antaranya. Namun  YESUS telah mengalami semua jenis luka tersebut di tubuh-Nya? Bukan hanya luka fisik yang harus Yesus tanggung, tetapi juga luka-luka secara rohani karena dosa segenap umat manusia ditimpakan kepada-Nya (ayat 4 dan 5). Dengan rela, Tuhan menggantikan posisi kita sebagai terhukum yang pantas diperlakukan tanpa kenal ampun-seperti domba yang dibawa ke pembantaian (ayat 7).

    Sahabat, PENDERITAAN tak tertahankan yang telah dinubuatkan oleh Yesaya ini, tergenapi saat Yesus menjalani sengsara hebat-Nya. Sejak penangkapan hingga wafat-Nya di kayu salib, segala hukuman maut itu ditanggung-Nya bagi segenap umat yang Dia cintai.

    Sungguh, SETIAP JENIS LUKA yang Dia tanggung, mendatangkan KEBAIKAN bagi semua yang menyambut-Nya. Oleh setiap SAYATAN  dan KOYAKAN  tubuh Yesus, PENGAMPUNAN dianugerahkan. Oleh setiap TUSUKAN dan LUKA TERTEMBUS di  tubuh Yesus, PENEBUSAN dilaksanakan! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Karena dosa manusia, Kristus harus menanggung penderitaan di kayu salib! (pg).

  • Eternal True Love

    CINTA ABADI. Jembatan Pont des Arts terkenal karena tradisi janji cinta bagi pasangan yang sedang dimabuk asmara. Pasangan yang mengunjungi jembatan tersebut percaya bahwa menggembok nama mereka di dinding jembatan lalu membuang kuncinya ke Sungai Seine akan membuat CINTA MEREKA ABADI.

    Namun mulai 1 Juni 2015 tradisi romantis tersebut  segera berakhir seiring kebijakan baru yang diterbitkan Wali Kota Paris. Pernyataan yang disampaikan oleh Dewan Kota melalui Wakil Wali Kota tersebut menyatakan, “Tradisi tersebut telah menyebabkan dua masalah besar: Kerusakan yang signifikan pada warisan kita dan risiko keamanan pengunjung.”

    Banyaknya gembok cinta tersebut menunjukkan kerinduan banyak orang untuk memiliki cinta sejati yang abadi. Eternal true love.

    Hari ini kita akan belajar dari bagian akhir dari kitab Kidung Agung dengan topik: “CINTA SEJATI yang ABADI”. Bacaan Sabda saya ambil dari Kidung Agung 8:5-14. Sahabat, Cinta sejati yang mewujud pada pernikahan hanya boleh terjadi pada laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa untuk mengambil keputusan sekali seumur hidup. Sekali mengambil keputusan, kekuatan cinta yang sudah dipersatukan dan diberkati Allah, tidak boleh diceraikan siapapun. Hanya kematian yang bisa memisahkan pasutri secara fisik, namun tidak secara batin!

    Bagian pertama dari perikop penutup ini (ayat 5-7) menyatakan dengan jelas kekuatan cinta sejati bagaikan meterai yang mengklaim kepemilikan seumur hidup. Seperti kematian pasti menjemput seseorang, cepat atau lambat, demikian cinta sejati pasti mempersatukan pasutri, apa pun penghalangnya. Orang yang mencoba membeli cinta dan membelokkan kesetiaan akan gigit jari (ayat 7b)!

    Kedewasaan merupakan kata kunci dalam pernikahan. Maka, gadis yang belum akil balik harus dijaga dan dijauhkan dari predator seks yang hanya ingin memuaskan nafsu, bukan mencintai dengan tulus (ayat 8-9)! Hanya perempuan dewasa fisik dan rohani yang berani mengambil keputusan untuk menikah dan tidak kecewa olehnya (ayat 10).

    Nama Salomo kembali dikumandangkan pada bagian menjelang terakhir (ayat 11-12). Seolah-olah menjadi ingatan bahwa kekayaan sebesar yang dimiliki Salomo tidaklah berarti segala-galanya. Karena justru pasutri yang saling memiliki dengan cinta yang tulus, itu melebihi kekayaan sang raja. Kebahagiaannya abadi melampaui harta yang bisa hilang dalam sekejap!

    Sahabat, kerinduan memperoleh cinta romantis yang abadi dalam kitab Kidung Agung membawa kita kepada kebenaran dalam surat Efesus di Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa kita telah dimeteraikan dengan Roh Kudus (Efesus 1:13). Bila cinta manusia dapat berubah-ubah, dan gembok cinta bisa disingkirkan dari jembatan, Roh Kristus yang hidup di dalam kita adalah meterai abadi yang membuktikan keteguhan kasih Allah yang tidak berkesudahan bagi anak-anak-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11-12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Gambaran cinta yang total, mengikat, dan tak ternilai harganya menjadi refleksi nyata akan kasih Allah bagi manusia. (pg).

  • PROCESS to GROW

    BERTUMBUH. Salah satu tanda adanya kehidupan adalah pertumbuhan. Untuk dapat bertumbuh dibutuhkan proses dan waktu. Tidak mungkin bertumbuh dapat terjadi hanya dalam semalam dan dalam satu tindakan saja. Maka “Sejenak Merenung” bertekad menjadi sahabat berproses untuk bertumbuh bagi para pembacanya.

    Sahabat, Pemazmur  menggambarkan bahwa tanaman yang ditanam di tepi aliran air pasti akan tumbuh dengan baik dan  menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.  (Mazmur 1:3).  Itu merupakan gambaran dari hidup orang yang senantiasa melekat kepada Tuhan dan berakar kuat di dalam Dia. 

    Kerohanian kita pun akan bertumbuh jika tinggal dekat dengan Sumber Air Hidup, Tuhan Yesus.  Artinya seberapa besar kehausan kita akan Air Hidup akan menentukan sejauh mana pertumbuhan rohani kita  (Mazmur 63:2). Untuk itu mari kita terus berproses untuk bertumbuh. Process to grow.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Kidung Agung dengan topik: “PROCESS to GROW”. Bacaan Sabda saya ambil dari Kidung Agung 7:6-13 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, Kitab Kidung Agung berisi tentang  kidung yang diberikan kepada Israel, dan raja Salomo adalah penulisnya.  Kitab ini menggambarkan kisah kasih antara Salomo dan Sulamit  (gadis Sulam).  Sulamit digambarkan sebagai seorang gadis yang cantik parasnya, tapi berkulit hitam karena ia bekerja di kebun anggur.

    Dalam bacaan kita pada hari ini.  Salomo mengajak Sulamit berjalan-jalan ke kebun anggur di waktu pagi untuk memeriksa apakah pohon anggurnya bertumbuh dengan baik,
    “Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga! Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu!” (ayat 12)

    Sahabat, sebagaimana tanaman harus mengalami pertumbuhan supaya dapat berbuah, begitu pula kerohanian kita harus terus mengalami pertumbuhan.  Proses pertumbuhan itu tidak terjadi sekejap, tapi dari hari ke hari melalui proses yang terencana dan terarah. 

    Salah satu faktor penting yang menunjang pertumbuhan pohon adalah tanah yang baik.  Sebelum ditanami tanah harus terlebih dahulu diolah.  Pengolahan tanah adalah proses di mana tanah digemburkan dan dilembekkan dengan menggunakan bajak atau garu yang ditarik dengan berbagai sumber tenaga, seperti tenaga manusia, hewan atau traktor.  Melalui proses ini kerak tanah teraduk, akibatnya udara dan cahaya matahari menyentuh tanah lebih dalam sehingga meningkatkan kesuburannya.

    Selagi lagi ada waktu dan kesempatan yang baik marilah kita mempersiapkan tanah hati kita dengan baik, sebab pertumbuhan iman sangat ditentukan oleh keadaan hati kita saat menerima firman Tuhan,  “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.”  (Markus 4:8). 

    Sahabat, tanpa menyediakan cukup waktu untuk membaca, mendengar dan merenungkan firman Tuhan secara teratur dan berkesinambungan, kerohanian kita tidak akan pernah bertumbuh dengan baik.Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Injil Markus 4:8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah menghendaki hidup kita sempurna, serupa dengan Kristus. (pg).

  • GOD is the SOURCE of SALVATION

    KESELAMATAN BAGI UMAT TUHAN. Nama Yesaya memiliki arti: Tuhan adalah penyelamat. Yesaya merupakan nabi Israel yang terkemuka dengan berbagai nubuat yang dibuat selama pemerintahan raja: Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia. Kesetiaan dan ketaatan Yesaya menjadi salah satu alasan Yesaya menjadi nabi yang terkenal di Israel.

    Sahabat, melalui hamba-Nya ini Tuhan hendak menegaskan kepada umat-Nya bahwa keselamatan itu hanya datang dari Tuhan, bukan dari yang lain.  Di tengah keadaan yang sepertinya tiada harapan.  Yesaya membawa kabar sukacita dan penuh pengharapan dari Tuhan yaitu pembebasan dari pembuangan di Babel dan membawa mereka kembali ke Yerusalem untuk memulai suatu hidup baru. Yesaya menyampaikan kepada umat Tuhan bahwa Tuhan sumber keselamatan. God is the source of salvation.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “GOD is the SOURCE of SALVATION”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 52:1-12. Sahabat, keselamatan dalam kekristenan adalah penyelamatan jiwa dari dosa dan kematian kekal. Tuhan menghendaki umat yang berdosa diselamatkan sebab keselamatan bersumber dari Tuhan.

    Nabi Yesaya diperintahkan untuk bernubuat tentang keselamatan bagi umat Tuhan yang berada dalam hukuman, bahwa sudah waktunya bagi mereka menerima keselamatan itu yang bersumber dari Tuhan Allah sebagai bukti kuasa-Nya (ayat 3-4). Dengan pemberian keselamatan, umat Tuhan dibebaskan dari kekuasaan yang kejam dan penuh hujatan terhadap Tuhan agar mereka mengenal Tuhan (ayat 5-6).

    Datangnya keselamatan bagi umat Tuhan ditandai dengan kabar damai sejahtera bahwa “Allahmu itu Raja” (ayat 7) atau Allah telah datang untuk memerintah sebagai raja. Tuhan memberikan jaminan bahwa keselamatan adalah anugerah bagi milik-Nya yang telah ditebus dan harus disambut dengan baik. Tuhan menyelamatkan umat-Nya. Dia memimpin, menyertai, menjaga, dan membebaskan umat-Nya.

    Sahabat, lalu bagaimana sikap penerima keselamatan? Tuhan memerintahkan umat-Nya bersikap aktif merespons anugerah keselamatan yang telah diterima. Sikap aktif orang yang telah menerima keselamatan diwujudkan melalui tindakan konkret: Hidup benar;  tidak memberi kesempatan lagi terhadap dosa; dan menjaga hidup yang sudah diselamatkan dari hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Sang Pemberi Keselamatan.

    Sebagai orang percaya, seharusnya kita menghargai karya keselamatan Tuhan bagi kita dengan bertekad untuk hidup benar dan melakukan segala kehendak-Nya. Apakah sebagai umat Tuhan, kita bersedia bertobat dari segala perbuatan dosa? Bersediakah kita mengakui kesalahan terhadap diri sendiri, sesama manusia, terutama pada Tuhan sebagai sumber keselamatan?

    Sahabat, kita perlu memohon agar Allah senantiasa memimpin kita menjalani hidup dan melakukan semua kehendak-Nya di dalam keluarga, gereja, masyarakat, dan lingkungan. Haleluya! Tuhan itu baik. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Meninggalkan dunia dengan segala kenikmatannya adalah kehendak Tuhan bagi kita umat tebusan-Nya! (pg).

  • The Everlasting LOVE

    TAK LEKANG OLEH WAKTU. Sampai kapan pun kita takkan menemukan kasih sejati di dunia.  Kasih manusia itu sangat terbatas dan seringkali disertai dengan tendensi, lebih-lebih di masa sekarang ini, jelas terlihat bahwa kasih kebanyakan orang sudah menjadi dingin.  Tak terelakkan jika saat ini banyak orang yang mengalami luka batin karena mengalami krisis kasih:  Ditolak, disakiti, ditelantarkan, dikhianati dan dibuang.


    Sahabat, sekalipun manusia dan orang-orang yang kita kasihi meninggalkan kita dan tidak lagi mengasihi kita namun ada satu pribadi yang mengasihi kita begitu rupa, yang kasihnya tak pernah berubah, tak lekang oleh waktu, yaitu Tuhan Yesus (Yesaya 49:15 dan Ibrani 13:5-b).  Bahkan, karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita, dilukiskannya kita di telapak tangan-Nya, sehingga Dia selalu ingat kepada kita (Yesaya 49:16).  Kita perlu semakin menyadari bahwa kasih Tuhan tidak pernah  lengkang oleh waktu. The everlasting love.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Kidung Agung dengan topik: “The Everlasting LOVE”. Bacaan Sabda saya ambil dari Kidung Agung 6:4-13 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, “Cantik engkau, manisku”. Sungguh, sebuah pujian yang sangat indah terdengar di telinga seorang perempuan.

    Salomo memuji istrinya, “Cantik engkau, manisku, seperti kota Tirza, …” (ayat 4). Kota Tirza (yang dipakai Salomo untuk melukiskan kecantikan istrinya) merupakan sebuah kota kuno Kanaan yang terkenal dengan keindahannya. Salomo tidak hanya memuji kekasihnya. Ia juga menyatakan betapa ia sangat sayang kepada istrinya yang satu ini, lebih daripada para istri lainnya dengan berkata, “Tapi dialah satu-satunya merpatiku, idam-idamanku, …” (ayat 9).

    Sahabat, kalau kita cermati,  pujian Salomo tersebut berisi 3 hal: Pujian, kasih sayang dan komitmen. Sesungguhnya ungkapan pujian Salomo kepada istrinya adalah sebuah gambaran bagaimana Tuhan mengasihi umat-Nya. Tuhan memuji umat-Nya untuk mengungkapkan betapa berharga-Nya mereka di hati-Nya. Tuhan mengasihi umat-Nya bagai biji mata-Nya (Ulangan 32:10 dan Zakharia 2:8)

    Sungguh luar biasa, komitmen Tuhan untuk mengasihi kita tidak pernah lekang oleh waktu. Kasih seorang manusia bisa lekang oleh waktu, tapi kasih Tuhan tidak pernah berubah. Bahkan Ia membuktikan komitmen cinta-Nya dengan tidak menyayangkan Anak-Nya yang tunggal dan dikorbankan demi menyelamatkan kita, kekasih hati-Nya.

    Apa pun pergumulan yang kita hadapi, Tuhan yang telah membentuk kita akan tetap menyertai dan menguatkan kita. Tuhan menegaskan bahwa Dia mengasihi kita tanpa syarat dan sepenuhnya.  KASIH TUHAN itu ABADI.

    Sahabat, hidup kita terlalu berharga di mata-Nya! Dia melukis wajah kita di telapak tangan-Nya karena Ia rindu setiap waktu memandang dan menyatakan kasih-Nya. Akankah kita menanggapi kasih-Nya yang begitu besar dengan komitmen yang sama untuk hidup mengasihi-Nya? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Begitu besar kasih Allah kepada kita.  Kasih-Nya tak  lekang oleh waktu. Kasih-Nya abadi. (pg).

  • Sincere Compliment to Husband

    MEMUJI SUAMI.  Saya cukup kaget, ketika dalam suatu pertemuan, ada seorang ibu yang berkata: “Tak perlu kata-kata, yang penting tindakan”. Ibu tersebut menjelaskan bahwa suaminya tidak perlu kalimat pujian karena sudah merasa dicintai oleh istrinya.

    Sesungguhnya,  pujian yang tulus dari istri  dapat membuat suami merasa lebih  berharga dari sebelumnya dan semakin mencintai istrinya. Karena itu bagi para istri, jangan ragu untuk memberikan pujian yang tulus kepada suaminya. Sincere compliment to husband.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari Kitab Kidung Agung dengan topik: “Sincere Compliment to Husband”. Bacaan Sabda saya ambil dari Kidung Agung 5:9 – 6:3. Sahabat, dalam Kidung Agung 4 kita sudah belajar topik tentang memberikan pujian yang tulus kepada istri;  supaya ada keseimbangan, dalam Kidung Agung 5 kita akan belajar topik tentang memberikan pujian yang tulus kepada suami.

    Sangat menarik, kalau kita hubungkan bacaan kita pada hari ini dengan ayat sebelumnya yang menyatakan sang istri sakit asmara (ayat 8), maka sakit asmara tersebut justru berfungsi untuk mendorong perhatian istri kepada pasangannya. Dengan sengaja, sang istri mengungkapkan pujiannya yang tulus akan kegagahan suaminya. Dengan harapan sang suami tersanjung dan tergoda untuk kembali pada keintiman semula.


    Sahabat, keintiman itu bukan sesuatu yang sudah ada dan kita tinggal menikmatinya. Keintiman itu sesuatu yang harus diperjuangkan, dihidupkan, bahkan kalau perlu dengan mengorbankan atau mengesampingkan hal lain, yang mungkin penting, tetapi bukan hal yang mendasar atau utama.

    Keintiman yang diperbarui menjadikan suami dan istri lebih lekat satu sama lain, lebih berani berkomitmen:  “Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku, …” (Kidung Agung 6:3).

    Bagi para istri, mulailah memuji suamimu dengan hal-hal yang sederhana. Ucapkan terima kasih dan berikan penghargaan untuk hal-hal yang telah dilakukannya:

    • “Terima kasih Pap, sudah membantu merapikan tempat tidur kita pagi ini.”
    • “Terima kasih Mas sudah rela lembur hingga larut malam begini. Nikmati teh hangatnya”

    Biasanya perempuan senang dipuji hingga ia kadang lupa bahwa suaminya juga senang dipuji. Sesungguhnya laki-laki juga memiliki rasa senang yang terpendam saat dipuji oleh orang yang ia cintai. Coba berikan perhatian pada penampilannya:

    • “Penampilanmu hari ini oke banget lho. Warna bajumu serasi  dengan warna kulitmu. Papi jadi semakin ganteng”
    • “Mas, aku tidak salah pilih suami,  udah ganteng, baik hati pula”

     Sahabat, sudahkah kita  memuji pasangan kita masing-masing hari ini? Fokuslah pada hal-hal yang baik  yang dapat kita lihat pada pasangan kita. Jangan hanya mencari-cari hal-hal jelek untuk dikritik. Mulailah dengan tulus katakan betapa kamu  mencintainya dan ingin membahagiakannya. Lalu, lakukan sesuatu untuk mewujudkannya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, kerjakanlah tugas berikut ini:

    1. Bagi para suami: Tulislah 5 kelebihan dan kebaikan istrimu.
    2. Bagi para istri: Tulislah 5 kelebihan dan kebaikan suamimu.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:  Hidupku ajaib, indah,  dan bermakna karena kau ada di dalamnya. Mari kita bersama membuat keajaiban dan keindahan selamanya. (pg).

  • GOD’S CONSOLATION for His people

    PENGHIBURAN TUHAN. Ketika mengikuti jalan-jalan Tuhan dan taat melakukan kehendak-Nya bukan berarti perjalanan hidup kita terus mulus dan lancar.  Terkadang kita harus menghadapi lorong-lorong gelap, bahkan lembah kekelaman.  Doa-doa kita serasa tak mampu menembus langit-langit kamar.  Sepertinya semakin kita setia kepada Tuhan semakin kita dihadapkan pada masalah demi masalah yang tidak ada jalan keluarnya.  Dalam kondisi seperti ini mari kuatkan iman kepada Tuhan, jangan marah, kecewa dan menyalahkan Tuhan.

    Salah satu sifat TUHAN adalah PENGHIBUR. Tuhan memberikan penghiburan bagi setiap orang yang mengalami kedukaan dan kesedihan. Tuhan memberikan penghiburan-Nya melalui janji akan adanya jaminan keselamatan. Ada penghiburan Tuhan bagi umat-Nya.  God’s consolation for His people.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “GOD’S CONSOLATION for His people”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 51:1 – 23 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, penderitaan bangsa Yehuda di pembuangan amatlah berat.

    Terdorong agar keluar dari penderitaan, kaum buangan ingin agar Tuhan segera bertindak memberikan pertolongan. Agar sejarah pertolongan Tuhan terulang kembali, seperti pada zaman purbakala ketika Tuhan meremukkan Rahab, menikam naga sampai mati (ayat 9), mengeringkan laut, membuat laut menjadi jalan supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang (ayat 10), maka Tuhan harus bertindak. Tuhan diyakini dapat membebaskan orang-orang tawanan untuk pulang ke Sion dengan sorak-sorai (ayat 11).

    Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, Yesaya hendak menyatakan bahwa TUHAN-lah satu-satunya yang dapat diandalkan dan yang dapat dipercaya untuk mengubah keadaan dari yang tidak baik menjadi baik. Ketika Sion berduka  dengan segala reruntuhannya, TUHAN datang dengan PENGHIBURAN-NYA yang memberikan kelegaan.

    Kata MENGHIBUR memakai kata dalam bahasa Ibrani: nakham yang berarti: Penghiburan, kesenangan atau kenyamanan yang berlandaskan belas kasihan. TUHAN  sanggup mengubah padang gurun dan padang belantara menjadi seperti taman Eden dan seperti taman TUHAN. Bahkan dikatakan bahwa didalamnya ada kegirangan dan sukacita serta nyanyian syukur serta mazmur pujian (ayat 3).

    Mungkin saat ini kita masih menghadapi banyak masalah. Mungkin sekarang kita masih sendiri. Mungkin tidak ada orang yang menemani dan mendukung kita. Tapi, bersama Tuhan, semua itu akan dipenuhi rasa sukacita dan kebahagiaan. Lalu kebahagiaan seperti apa yang akan kita rasakan ketika kita menghadapi masalah bersama Tuhan? Kita akan merasakan bahwa ternyata, Tuhan sangat MENGASIHI kita.

    Ketika kita sedang menghadapi masalah, kita akan melihat sosok Tuhan yang mungkin belum pernah kita dengar dari orang lain, tetapi yang akan kita alami sendiri. Di saat kita sedih, disanalah sosok kebapaan Tuhan akan terlihat sangat nyata. Dia ayah yang mengerti dan memerhatikan kita. Dia ayah yang selalu percaya kepada kita.

    Sahabat,  ketika masalah datang, lepaskanlah semuanya pada Tuhan, dan Tuhan yang akan MENGHIBUR  kita. Mungkin masalah kita tidak secara tiba-tiba selesai. Tapi bersama Tuhan, kita akan merasa seakan-akan kita berada di taman bunga, dimana terdapat sukacita yang begitu melimpah. Haleluya! Tuhan itu baik.


    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di dalam TUHAN selalu ada jalan keluar, dan jalan-Nya selalu penuh keajaiban. (pg).

  • Tongue of A Disciple

    PERKATAAN YANG BERKUALITAS. Ada ungkapan yang sudah akrab di telinga kita: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul, disitulah gosip berada.”  Sesungguhnya ungkapan tersebut menggambarkan betapa dekatnya kehidupan kita dengan perbincangan yang sia-sia bahkan berpotensi dosa. Tidak hanya kaum perempuan, laki-laki  pun cukup banyak yang melakukannya. Apalagi saat ini memberi komentar akan suatu hal yang tengah menjadi trending bukan perkara yang sulit. Dengan gawai dan internet di mana pun orang dapat terhubung satu dengan yang lain.

    Sahabat, akibatnya  tak hanya lupa waktu, kita juga kehilangan kepedulian pada orang di sekitar atau menjadi malas bergerak. Media sosial juga menjadikan orang cepat berkomentar namun lambat dalam berpikir. Akibatnya,  tulisan yang dihasilkan pun cenderung bersifat negatif provokatif.  Lambat laun tulisan yang kurang berkualitas tersebut menjadi semacam candu yang memberi kepuasan tersendiri bagi penulisnya.

    Orang percaya bukan tidak boleh mengikuti perkembangan zaman, sesuatu yang sedang menjadi tren,  hanya kita jangan sampai lupa hakikat diri sebagai murid Tuhan yang taat! Perkataan dan tingkah laku murid Tuhan merupakan kesaksian yang hidup. Yesus memberi teladan dengan mendengar pengajaran Allah Bapa laksana seorang murid. Kita sebagai komunitas orang percaya perlu memiliki lidah seorang murid. Tongue of a disciple.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Tongue of A Disciple”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 50:4-11 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, perikop yang menjadi bacaan kita pada hari ini oleh LAI diberi judul: “Ketaatan hamba TUHAN”. Dalam memanggil seseorang menjadi hamba-Nya, Tuhan tidak membiarkannya berjuang sendiri.

    Sahabat, l
    idah merupakan bagian kecil dari anggota tubuh manusia yang memiliki peranan sangat besar dalam perjalanan kehidupan. Lidah dapat digunakan untuk tujuan yang baik atau merusak, tergantung dari manusia yang menggunakannya. Sebagai MURID YESUS kita harus menggunakan  lidah kita sebagai alat untuk menyatakan kasih, sehingga dengan demikian nama TUHAN dipermuliakan.


    Tuhan memberikan lidah seorang murid untuk mendorong semangat mereka yang letih lesu dan telinga seorang murid agar peka mendengarkan firman Tuhan (ayat 4-5). Dengan demikian  pengajaran Allah harus menjadi dasar bagi kita dalam berkata-kata, sehingga setiap kata yang keluar dari mulut kita adalah kebenaran, yang menghibur dan membangun semangat bagi yang letih lesu. Karena itu sebelum berkata-kata mari kita biasakan untuk mengawali hari dengan mendengarkan pengajaran Sang Guru!

    Sahabat, memang jabatan nabi saat ini sudah tidak ada, tetapi fungsi kenabian masih melekat dalam diri setiap hamba-Nya. Saat ini kita tidak lagi mendengarkan suara Tuhan secara langsung, tetapi kita mempunyai suara Tuhan yang lengkap di dalam Alkitab.

    Oleh karena itu, supaya kita mampu memahami kehendak Tuhan atas kehidupan kita masing-masing, kita harus membangun relasi yang intim dengan Tuhan melalui doa dan pembacaan firman yang disiplin dan konsisten. Dengan begitu, kita mempunyai telinga seorang murid yang peka akan kehendak Tuhan, dan juga lidah seorang murid yang mengucapkan kebenaran secara tepat. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Lidah seorang murid memperkatakan perkataan yang sesuai dengan ajaran Sang Guru. (pg).

  • Sincere Compliment to Wife

    MEMUJI ISTRI. Sore itu mantan mahasiswi istri saya datang ke rumah. Dia memang dekat dengan istri sejak masih menjadi mahasiswa.  Dia berbagi kepada istri: “Suamiku dulu waktu pacaran suka memuji, tapi sekarang sudah hampir tidak pernah memuji lagi.”

    Sahabat, kapan terakhir kali kita, sebagai seorang suami, memuji istri? Bagi kita yang sudah menikah belasan bahkan puluhan tahun, tanpa kita sadari, kadang-kadang merasa tidak perlu lagi memuji istri karena  sudah saling mengenal dengan baik. Padahal,  sesungguhnya semakin dekat dan semakin erat hubungan kita dengan seseorang, semakin mudahlah kita menemukan alasan untuk memujinya. 

    Kalau pernikahan kita bertahan belasan bahkan sampai puluhan tahun, kita patut bersyukur karena Tuhan mengaruniakan kepada kita pasangan yang cakap. Karena itu kita sebagai seorang  suami, sudah pada tempatnya sering menyampaikan pujian yang tulus untuk istri. Sincere compliment to wife.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Kidung Agung dengan topik: “Sincere Compliment to Wife”. Bacaan Sabda saya ambil dari Kidung Agung 4:1 – 5:1. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, pujian tulus sang pria kepada istrinya  memang bukan untuk konsumen publik, juga bukan untuk anggota keluarga yang lain. Inilah pujian sang suami yang eksklusif hanya untuk sang istri, satu-satunya dan tidak boleh ada yang lain.

    Oleh karena itu, ungkapan yang jujur, blak-blakan, yang buat orang luar mungkin terkesan  vulgar dan “saru”, tidaklah demikian bagi pasutri. Karena istri mana yang tidak suka dipuji dan dikatakan cantik, bahwa tubuhnya terawat baik, selalu siap menggairahkan sang suami? Suami mana yang tidak menjadi senang melihat istri selalu siap tampil cantik, indah menawan, harum yang membangkitkan hasrat, sehingga siap untuk mencapai keintiman yang terdalam?

    Sahabat, semoga apa yang menjadi pujian tulus dalam bacaan kita pada hari ini, khususnya bagi pasutri, bukan hanya pada malam pengantin, atau masa bulan madu. Melainkan terus diulang pada momen-momen keintiman pasutri. Momen itu memang harus diadakan, direncanakan, dan dilaksanakan di tengah kesibukan kerja, mengurus anak, dan lain sebagainya. Justru momen-momen tersebut akan menjaga keutuhan dan kesatuan rumah tangga.

    Jika semasa pacaran kita bisa begitu kreatif memuji, mengapa setelah menikah jadi terlalu berhemat memuji? Berfokuslah pada kelebihannya, maka akan selalu ada hal yang bisa kita puji dari seseorang. Jika kita bisa memuji orang yang baru kita kenal, seharusnya kita bisa memuji istri yang telah lama kita kenal. Pujian tulus yang kita berikan sangat berarti dan akan memberinya semangat dan kekuatan yang baru.

    Bagi Sahabat yang saat ini  belum menikah, biarlah bacaan kita pada hari ini menjadi suatu persiapan kelak bila Tuhan sudah memberikan kepada kita pasangan masing-masing untuk mengasihinya dengan tulus, menjaganya dalam kehormatan dan kesucian, serta menjadi partner yang setia, satu kali untuk selama-lamanya, sampai maut memisahkan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika banyak orang memujimu atas segala pencapaian, ingatlah istrimu dan pujilah dia! (pg). 

  • PAINTING in the PALM of GOD

    LUKISAN DI TELAPAK TANGAN. Seorang seniman asal Spanyol, bernama David Cata, menggunakan telapak tangannya sendiri untuk melukis potret wajah seseorang yang dianggapnya penting dan berpengaruh di hidupnya, seperti wajah keluarga, sahabat, guru atau pacarnya.

    Sahabat, menurut David, seni melukis menggunakan telapak tangan ini merupakan bagian dari proyek seninya bernama Overexposed Emotion. Melalui karya seni lukis berbentuk seperti bordir ini mengilustrasikan orang-orang yang dianggap penting dan ia cintai dalam hidupnya. Desain wajah yang digunakan harus menunjukkan setiap orang yang pernah ditemuinya dan sempat menjalin hubungan dalam kehidupannya seperti wajah sang kakek.

    Jauh sebelum David Cata melukis potret wajah di telapak tangannya, Tuhan sudah melukis potret wajah  orang-orang yang dikasihi-Nya di telapak tangan-Nya. Lukisan di telapak tangan Tuhan.  Painting in the palm of God.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “PAINTING in the PALM of GOD”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 49:8-21 dengan penekanan pada ayat 16. Sahabat, pada masa-masa pembuangan, bangsa Israel mengalami masa-masa yang memilukan. Mereka merasa bahwa Tuhan telah melupakan dan meninggalkan mereka (ayat 14). Akibat pemberontakan mereka, Tuhan memang telah membawa mereka ke pembuangan, tujuh puluh tahun lamanya. Tetapi benarkah Tuhan melupakan dan meninggalkan mereka? Apakah Tuhan tidak trenyuh mendengar rintihan kesakitan mereka?  

    Inilah jawab Tuhan: “Lihat, Aku telah melukis engkau di telapak tangan-Ku; tembok tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (ayat 16). Itu berarti setiap kali Tuhan melihat telapak tangan-Nya Dia juga melihat tiap kehidupan dan pergumulan umat-Nya.  Sebagaimana melalui tangan-Nya yang sejak semula mencipta dan membentuk manusia dari debu tanah, Ia pun bersedia mengulurkan tangan-Nya untuk menolong dan memulihkan keadaan kita.  Tuhan berkata,  “Aku akan membuat segala gunung-Ku menjadi jalan dan segala jalan raya-Ku akan Kuratakan.”  (ayat 11).

    Sahabat, jangan sekali-kali beranggapan Tuhan tidak peduli dengan keadaan kita dan melupakan kita.  Seberat apa pun perjalanan hidup yang kita tempuh, Pemazmur menyatakan,  “Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.”  (Mazmur 121:3-5).  Tuhan juga menegaskan,  “… sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya.”  (Yesaya 65:24).

    Saat menghadapi situasi sulit dan ketika doa-doa kita sepertinya tidak menghasilkan jawaban, kita kerap kali merasa bahwa Tuhan telah melupakan dan meninggalkan kita. Namun lihatlah bagaimana Tuhan memandang hidup kita. Kita BERHARGA di mata-Nya! Dia tidak akan menegakan kita bergelut dengan penderitaan, asalkan sikap hati kita berbalik kembali kepada-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati Tak perlu takut dan khawatir akan hidup ini, karena Tuhan selalu ada untuk kita! (pg).