Category: Sejenak Merenung

  • CLOSER to GOD

    KECEWA.  Ayub dikecewakan oleh sahabat-sahabatnya. Ayub mengharapkan sahabat-sahabatnya datang untuk menguatkannya. Alih-alih menguatkan, Ayub justru mengalami luka yang semakin menganga melalui anggapan mereka bahwa Ayub telah mendapat karma atas perbuatannya

    Sahabat, maka tak heran LAI memberi judul Ayub 6:1 – 7:21: “Ayub kecewa terhadap sahabat-sahabatnya.” Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “CLOSER to GOD (MENDEKATKAN Diri Kepada TUHAN)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 6:1 – 7:21. Sahabat, dewasa ini ada sebagian orang percaya yang berpandangan bahwa Tuhan akan menganugerahkan kemakmuran dan kesehatan kepada setiap anak-Nya. Mereka beranggapan, orang percaya tidak seharusnya mengalami kesusahan, apalagi kemiskinan.

    Kitab Ayub membantah keyakinan tersebut. Ayub bukan saja kehilangan hartanya dan menjadi miskin, ia pun menderita sakit yang membuat kulitnya dipenuhi oleh ulat (7:5). Sungguh suatu penderitaan yang teramat sangat berat!

    Memang, Kitab Ayub penuh dengan kepedihan dan barang siapa membacanya dengan saksama, akan merasakan kepedihan yang dalam. Pasal 6 dan 7 merupakan salah satu bagian yang paling menyedihkan dari Kitab Ayub dan bahkan dari segenap kitab di Alkitab.

    Sahabat, menerima tuduhan semena-mena atau penilaian keliru tentu menimbulkan beban penderitaan Ayub semakin berat. Kini Ayub menuduh balik para sahabatnya sebagai tidak sungguh menyadari kedalaman derita Ayub (6:2). Juga, sikap dan komentar mereka memperlihatkan bahwa merekalah yang sebenarnya gentar menghadapi penderitaan (6:21).

    Ayub menggambarkan derita tersebut sebagai kesakitan ganda. Bukan saja karena ia harus menanggung kemalangan bertubi-tubi, tetapi juga karena kemalangan itu dalam tafsiran para sahabatnya sebagai tindakan Allah langsung melawan Ayub. Bila itu benar, Ayub melihatnya sebagai anak panah dan racun dari Allah menciptakan kedahsyatan dalam hidupnya (6:4).

    Sahabat, ucapan Ayub memohon kematian memang terasa biasa kita dengar dari orang-orang yang sedang menderita hebat. Namun, ada perbedaan antara permintaan untuk mati kebanyakan orang dengan  yang diucapkan Ayub. Bagi Ayub kematian bukanlah ungkapan keputusasaan tetapi ungkapan iman tentang kebahagiaan yang akan dimasukinya di balik kematian bersama Tuhan. Memang hal tersebut belum diungkapkan sampai pasal 19. Kematian adalah fakta kefanaan manusia (6:11-12). Tetapi lebih daripada itu, kematian merupakan kegirangan sebab ia tahu bahwa dirinya benar (6:10).

    Coba kita simak ungkapan Ayub: “Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!” (ayat 6:9,10; 7:16,20). Dalam menghadapi penderitaan, kita bisa memilih untuk melakukan kedua hal berikut: Pertama: Mendekatkan diri kepada Tuhan. Kedua: Menjauhkan diri dari Tuhan.

    Mendekatkan diri kepada-Nya tidaklah berarti bahwa kita sudah dapat menerima semua penderitaan tersebut. Mendekatkan diri kepada Tuhan berarti kita membawa semua kepedihan, kebingungan, dan kekecewaan ini kepada-Nya. Dalam ketidakmengertian tentang penderitaan yang dialaminya, Ayub tidak lari dari Tuhan, justru sebaliknya, ia MENDEKATKAN DIRINYA  kepada TUHAN. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawabalah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 6:15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Belajarlah dari Ayub untuk tetap yakin pada kasih Allah yang akan menolong umat-Nya yang hidup dalam kebenaran. (pg).

  • A Pleasing Worship to God

    MAKNA IBADAH. Ritual keagamaan tanpa kesejatian makna sesungguhnya memuakkan hati Tuhan. Sebab bila demikian, kesalehan seseorang hanya bersifat lahiriah semata. Ibadah kepada TUHAN menjadi tidak berkenan kepada-Nya, ketika ibadah bukanlah ekspresi dari penghormatan, kasih dan ketundukan kita kepada TUHAN.

    Sahabat, ibadah kepada TUHAN mengungkapkan penghormatan, kasih, dan ketundukan kepada TUHAN karena ibadah yang sejati timbul dari hati dan dinyatakan dalam perbuatan. Hal-hal lahiriah dari ibadah tidak berarti jika bukan merupakan ekspresi batiniah. Bila ibadah adalah ekspresi batiniah, tak akan timbul pertentangan antara ibadah dan perbuatan sehari-hari. Yang terpenting dalam ibadah bukan korban, melainkan orang. Orang yang beribadah menentukan korban yang dipersembahkan, namun korban tidak menggambarkan orang yang beribadah.

    Mari kita menjalankan ibadah yang berkenan kepada Tuhan.  A pleasing worship to God.  

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “A Pleasing Worship to God”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 58:1-14. Sahabat, orang Israel yang mengaku diri sebagai umat Tuhan berlaku begitu religius. Setiap hari mereka beribadah kepada Tuhan dan mencari kehendak-Nya. Mereka juga setia melakukan perintah Tuhan (ayat 2). Dengan melakukan semua itu, umat merasa telah menyukakan hati Tuhan. Oleh karena itu alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari bahwa ibadah mereka tidak membuat berkat Tuhan turun atas mereka (ayat 3).

    Sahabat, mengapa Allah tidak menghiraukan ibadah umat? Karena tindakan religius umat ternyata penuh kemunafikan. Mereka berpuasa, tetapi tidak menunjukkan sikap ketundukan dengan mengorbankan segala hasrat mereka. Mereka tetap mengejar kepentingan pribadi dan memperlakukan orang lain dengan tidak layak (ayat 3-4). Puasa mereka tidak bertujuan meratapi keberdosaan mereka, melainkan memanipulasi agar Tuhan memberkati mereka.

    Jelas itu bukanlah jenis puasa yang diterima Allah. Puasa semacam itu hanya membuat orang menundukkan kepala dan bukan menundukkan hati di hadapan Allah. Mereka berpuasa dengan menggunakan pakaian berkabung, tetapi bukan karena meratapi ketidaktaatan mereka kepada Tuhan. Mereka mengira bahwa ibadah yang ditunjukkan dengan puasa dan pakaian kabung, lebih penting daripada sikap dan tingkah laku mereka. Pemahaman mereka ternyata berbanding terbalik dengan KONSEP TUHAN TENTANG IBADAH.

    Sahabat, Tuhan berjanji menyertai, bahkan memuaskan kebutuhan kita, ketika dalam puasa kita MERELAKAN BAGIAN KITA  untuk memenuhi kebutuhan orang lain (ayat 11). Sikap itu dikatakan akan membangun reruntuhan yang sudah lama tak bisa dihuni (ayat 12).

    Perlu kita garis bawahi  bahwa ibadah yang dikehendaki Tuhan harus mewujud pada tindakan, misalnya melepaskan orang dari penindasan dan ketidakadilan (ayat  6) atau menolong orang yang berkekurangan (ayat 7). Sabat pun harus dilakukan sepenuhnya untuk Tuhan dan bukan cari-cari alasan untuk tidak memenuhinya (ayat 13). Bila mereka beribadah sesuai yang diinginkan Tuhan, barulah Dia memberkati mereka (ayat 8-12, 14).

    Mari kita  MAWAS apakah kita beribadah hanya untuk kepentingan dan kepuasan diri semata, ataukah kita sungguh ingin menyenangkan Tuhan? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ibadah yang Allah kehendaki adalah ibadah yang berorientasi kepada kepentingan Allah dan pengenalan yang benar akan kehendak-Nya, bukan kepada kepentingan diri sendiri. (pg).

  • REPENTANCE OPPORTUNITY

    TUHAN MEMBERI KESEMPATAN. Ada ungkapan yang sering kita dengar: “Kesempatan yang sama tidak akan pernah datang dua kali.” Ungkapan tersebut hendak mengingatkan: Kita sering melewatkan atau bahkan membuang kesempatan yang datang, hingga akhirnya kesempatan yang sama tidak kunjung datang lagi. Lalu bagaimana dengan kesempatan untuk bertobat? Apakah itu juga hanya datang satu kali seumur hidup kita? Tuhan senantiasa membuka peluang pertobatan. Repentance opportunity.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “REPENTANCE OPPORTUNITY”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 57:14-21. Sahabat, di pasal 56, Yesaya menjelaskan bahwa Allah berkenan terhadap orang-orang yang melakukan kebenaran, walaupun orang itu semula tidak termasuk dalam bilangan umat-Nya (Yesaya 56:1-8). Namun ternyata umat sendiri telah berlaku jahat (Yesaya  56:9-57:13). Bahkan para pemimpin juga berbuat jahat.

    Orang-orang Yehuda hidup jauh dari perkenanan Allah, tidak sesuai dengan identitas sebagai umat Allah. Mereka menggantikan penyembahan kepada Allah dengan berhala-berhala. Kemudian muncul kesadaran bahwa mereka membutuhkan penghiburan.

    Nabi Yesaya memberitakan, hanya Allah yang dapat memberikan penghiburan. Namun, ada syaratnya: Mereka harus mengadakan pertobatan dan membuang segala bentuk batu sandungan yang menghalangi berkat Allah (ayat 14). Allah hanya akan menghibur dan menghidupkan orang-orang yang remuk dan rendah hati (ayat 15).

    Sahabat, namun ada kontras antara orang yang rendah hati dan orang yang tetap jahat (fasik). Orang yang jahat tidak memiliki ketenangan dalam hidup karena tidak memiliki damai sejahtera (ayat 20-21). Bagaimana mungkin mereka memiliki damai sejahtera jika hidup dikuasai ketamakan dan pemenuhan keinginan diri?

    Dari kedua jenis orang tersebut di atas, jelas Tuhan lebih menyukai orang yang menyadari dosanya dan kemudian merendahkan dirinya di hadapan Allah. Maka jangan pernah mengeraskan hati karena itu adalah tanda keangkuhan diri dan jelas Tuhan tidak menyukainya. Ingatlah bahwa Tuhan selalu membuka jalan bagi setiap orang yang mau datang kepada-Nya untuk memohon pengampunan-Nya. Tuhan selalu membuka PELUANG PERTOBATAN.

    Sahabat, setelah kembali dari pembuangan di Babel, bangsa Yehuda bergumul dengan keinginan mendapat pengampunan dari Allah. Nabi Yesaya menyerukan bahwa Allah tidak akan terus berbantahan. Untuk mendapat pengampunan Allah, mereka harus sejalan dengan pilihan Allah, bukan dengan pilihan hati mereka sendiri! Mereka harus sungguh-sungguh menyadari dosa yang mereka perbuat dan menyesalinya.

    Allah itu penuh kasih dan kemurahan. Dia mengampuni mereka yang menyesal dan mengakui dosanya. Bahkan Allah akan menganugerahkan semangat dan kehidupan yang baru.

    Kesempatan untuk bertobat selalu Allah berikan kepada manusia selama Ia masih memberikan kehidupan. Barulah setelah kematian, tidak akan ada lagi kesempatan itu. Allah memberi kesempatan kepada setiap orang yang menyadari dan menyesali segala kesalahannya untuk memperoleh kasih, kemurahan, dan pengampunan-Nya. Karena itu, dengan penuh kasih, Allah terus memanggil kita untuk datang kepada-Nya dalam pertobatan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”  (Mazmur 51:19). (pg),

  • CONQUERING FEARS with JESUS

    MENENANGKAN DIRI.  Dalam situasi tertentu, kita kadang mengalami kepanikan dan sulit untuk menjadi tenang. Padahal, ketenangan dibutuhkan supaya kita dapat melihat dengan jelas, berpikir lebih jernih, dan mengambil keputusan dengan tepat.

    Sahabat, dalam ketenangan diri, kita dapat menyadari keberadaan dan kuasa Tuhan. Dalam ketenangan kita dapat memusatkan perhatian dan mendaraskan doa dengan penuh keyakinan. Mari taklukan segala ketakutan bersama Yesus. Conquering fears with Jesus.

    Hari ini saya dipercaya oleh Persekutuan Karangroto GKMI Progo untuk menyampaikan firman Tuhan dalam kebaktian syukur HUT mereka yang ke-20 dengan mengangkat tema: “Menaklukkan Segala Ketakutan Bersama Yesus”. Maka saya mengajak Sahabat untuk belajar dari Injil Matius dengan topik: “CONQUERING FEARS with JESUS”. Bacaan Sabda saya ambil dari Matius 14:22-33 dengan penekanan pada ayat 27.

    Sahabat, dalam Injil Matius tercatat dua kali para murid mengalami ketakutan yang luar biasa diterpa angin dan ombak pada perahu mereka. Pertama, dalam Matius 8:23 – 27.   Waktu itu Yesus ada bersama-sama dengan mereka namun sedang tidur.  Maka segeralah mereka membangunkan Yesus untuk minta pertolongan, lalu  Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali  (ayat 26-b).

    Kedua, dalam Matius 14:22-33. Waktu itu  para murid tertimpa masalah yang sama.  Bedanya, Yesus sedang tidak bersama dengan mereka karena Ia  naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri  (ayat 23).  Jadi dalam pergumulan yang berat ini mereka sepertinya harus berjuang sendirian melawan badai dan ombak tanpa penyertaan Tuhan, karena  perahu para murid sudah beberapa mil jauhnya dari pantai  (ayat 24). 

    Tidaklah mengherankan mereka menjadi sangat ketakutan yang kian menjadi-jadi ketika tiba-tiba mereka melihat sesosok manusia mendekati mereka dengan berjalan di atas air.  Spontan mereka pun berteriak,  “Itu hantu!”  (ayat 26).  Mereka tidak menyadari bahwa yang berjalan di atas air dan mendekat kepada mereka adalah Yesus dan bukan hantu. 

    Kemudian Tuhan Yesus menenangkan mereka dengan berkata,  “Aku ini, jangan takut!”  (ayat 27).  Kata Aku ini menunjuk tentang keberadaan Yesus yang adalah manifestasi diri dari Allah sendiri, sebagaimana Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Musa dengan berkata,  “AKU ADALAH AKU.”  (Keluaran 3:14).  Ini adalah penegasan bahwa Dia adalah Tuhan yang sangat peduli;  Tuhan yang senantiasa hadir di tengah-tengah umat-Nya untuk memberi pertolongan;  Dia adalah Imanuel, Tuhan yang selalu beserta kita, bahkan penyertaan-Nya atas kita   sampai kepada akhir zaman.”  (Matius 28:20-b).

    Sahabat, kita juga diundang untuk mengalami pengalaman bersama dengan Tuhan. Sekalipun sungguh tidak kita harapkan, tetapi kadang kehidupan kita bisa tiba-tiba berubah dari tenang menjadi seperti diombang-ambingkan oleh angin sakal. Kepanikan dan ketakutan justru akan memperburuk situasi.

    Untuk mengatasinya, kita membutuhkan ketenangan. Ketenangan adalah berkat Tuhan. Kehadiran Tuhan di dalam doa kita akan mendatangkan ketenangan. Berhubung kehadiran Tuhan memberi ketenangan dan perubahan, demikian pula kehadiran kita juga diharapkan memberi ketenangan dan perubahan dalam kehidupan keluarga dan sesama kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat, selalu tepat pada waktunya. (pg).

  • The LIGHT of SALVATION Has Come

    TERANG KESELAMATAN. Syukur kepada Tuhan, pada tahun 2022 Yayasan Christopherus kembali dapat mengadakan perayaan Natal secara onsite. Perayaan Natal Yayasan Christopherus akan diselenggarakan pada hari ini 6 Desember 2022 mulai pukul 18.00, bertempat di GIA Pringgading Semarang  dengan tema: “Terang Keselamatan Telah Datang”. The light of salvation has come.

    Bagi Sahabat yang tinggal di Semarang dan sekitarnya, kiranya berkenan menghadirinya.

    Dalam rangka menyambut perayaan natal tersebut, pada hari ini kita akan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “The LIGTHT of SALVATION Has Come”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 9:1-6 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, sekitar 2000 tahun yang lalu, nabi Yesaya menyampaikan nubuatnya tentang kelahiran Raja Damai. Nabi Yesaya, salah seorang dari sepuluh nabi besar, memberi kita didikan, ajaran dan nasihat yang sungguh dahsyat bagi kita.

    Bacaan kita pada hari ini menuturkan beberapa hal yang berkaitan dengan nubuat lahirnya Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat semua manusia berdosa yang percaya kepada-Nya.

    Beberapa hal tersebut diantaranya:  Tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit; terang telah bersinar; banyak sorak-sorak; dan sukacita yang besar. Selain itu, ia juga menyatakan kepada kita bahwa: Kuk dan gandar sudah dipatahkan-Nya; seorang Anak telah lahir bagi kita, seorang Putera telah diberikan untuk kita; dan kuasa-Nya yang besar dan damai sejahtera-Nya tidak akan berkesudahan.

     Sahabat, lalu apa makna kelahiran Yesus bagi dunia?  Bagi nabi Yesaya, kelahiran Yesus berarti datangnya TERANG KESELAMATAN  bagi bangsa yang berjalan dalam kegelapan.  Pada waktu itu bangsa Israel sedang berada di ambang kehancuran karena mereka di bawah penaklukan Asyur sebagai akibat dari dosa mereka sendiri. 

    Alkitab sering memakai kata KEGELAPAN untuk menyimbolkan: Kejahatan, dosa, hukuman, kesukaran, ketidakpastian dan kematian.  Sebaliknya, Akitab memakai kata TERANG sebagai simbol: Kehidupan kekal, keselamatan, pengampunan, sukacita, kebenaran dan segala sesuatu yang baik.  Itulah yang dianugerahkan Tuhan,  “… atasnya terang telah bersinar.”  Terang adalah keselamatan sempurna dari Allah melalui Pribadi Yesus Kristus. 

    Sahabat, segenap umat manusia telah berdosa dan berada di bawah kuasa dosa, dan itu hanya akan membawa kita kepada kematian dan penghukuman kekal.  Kini keselamatan sejati telah diberikan kepada kita.  Di dalam diri Yesus, Allah telah melakukan tindakan penyelamatan yang nyata.  Dalam diri Yesus, Allah telah melenyapkan kegelapan dan menggantikannya dengan TERANG YANG AJAIB. 

    Siapa terang yang ajaib itu?  Tuhan Yesus berkata,  “Akulah terang dunia;  barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”  (Yohanes 8:12).  Dalam hal ini Yesus sedang menegaskan otoritas keilahian-Nya sekaligus tindakan penyelamatan-Nya bagi umat manusia. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari bacaan kita pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: YESUS merupakan hadiah terindah dari surga bagi kita, karena di dalam Dia tidak ada lagi kegelapan, melainkan ada terang, pengharapan dan kehidupan kekal! (pg).

  • Consolation in Silence

    SAHABAT SEJATI. Walter Winchell berkata: “Sahabat sejati adalah ia yang menemanimu saat semua orang pergi menjauhimu.”

    Sahabat adalah bagian dari hidup yang tak kalah pentingnya daripada keluarga atau pasangan. Sahabat adalah sosok yang selalu dapat diandalkan serta dipercaya dalam hal apa saja. Mereka juga yang berjasa membantu saat masa-masa sulit karena bersedia menawarkan pertolongan dan sandaran pada kita. Kehadirannya sudah sangat akrab layaknya saudara sendiri, sahabat juga senantiasa mendukung dan menemani kita tanpa terkecuali.

    Saat menghadapi masa-masa tidak mengenakan yang tak ayal membuat semangat patah dan sampai menimbulkan keinginan untuk menyerah. Sahabat hadir untuk membantumu bangkit dan bersama-sama hadapi kesulitan.

    Itulah pengalaman Ayub, ketika dia sedang diterjang badai hidup, ada 3 orang sahabat yang memberikan penghiburan dalam hening. Consolation in silence.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Consolation in Silence”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 2:1-13 dengan penekanan pada ayat 13. Sahabat, Ayub adalah salah seorang tokoh Alkitab yang identik dengan penderitaan. Ia seorang yang takut akan Allah dan menjalani hidup saleh (Ayub 1:1), namun justru itu menjadi alasan si iblis mencobainya. Ia kehilangan seluruh harta kekayaannya beserta kesepuluh anaknya, melalui serangan musuh dan bencana alam yang datang tiba-tiba (Ayub 1:13-19). Ia juga menderita penyakit kulit yang mengerikan di sekujur tubuhnya (ayat 7).

    Dalam kondisi terpuruk, Ayub tetap setia kepada Tuhan (Ayub 1:21). Komitmennya untuk tetap bertekun hidup saleh justru mendapat  penentangan dari istrinya (ayat 9). Namun Ayub beruntung karena ia memiliki tiga orang  sahabat sejati:  Elifas, Bildad dan Zofar. Ketiganya datang dari jauh untuk menunjukkan dukungan kepada Ayub.

    Sahabat, mereka menangis bersama, dan berkabung bersama. Mereka duduk di tanah bersama-sama dengan Ayub, selama tujuh hari tujuh malam, tanpa berkata sepatah kata pun, karena mereka menyadari betapa berat penderitaannya. Mereka sungguh mengerti, bahwa yang Ayub butuhkan saat itu bukanlah kata-kata nasihat, petuah yang manis, seruan pertobatan, atau tuduhan bersalah. Ia lebih membutuhkan ungkapan rasa empati, melalui kehadiran mereka di sisinya, DALAM HENING.

    Mereka tidak memosisikan diri sebagai konselor yang menangani masalah, sedangkan Ayub adalah klien yang bermasalah. Mereka datang untuk menemani, memosisikan diri serendah jurang penderitaan yang dialami Ayub.

    Sahabat, menunjukkan penghiburan kepada orang yang berduka tidak selalu harus kita ungkapkan dengan kata-kata. Sebuah pelukan, tepukan di bahu, genggaman tangan yang erat, duduk diam di dekatnya untuk beberapa waktu, kadang jauh lebih berarti. Berempati dalam hening. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang tengah mengalami penderitaan tidak membutuhkan banyak nasihat dan kata-kata penguatan. Dia lebih merasa tertolong ketika memiliki sahabat yang merasa sepenanggungan. (pg).

  • Becoming A House of Prayer

    RUMAH DOA. Orang percaya seharusnya menjadikan doa sebagai gaya hidup, karena doa itu ibarat nafas hidup orang percaya.  Apa yang terjadi bila kita tak lagi bernafas?  Tak bernafas berarti mati.  Orang yang tidak lagi berdoa berarti mengalami kematian rohani. 

    Sahabat, luar biasa, Kristus bertindak tegas menguduskan Bait Suci karena Ia melihat Bait Suci telah disalahgunakan.  Bait Suci yang seharusnya menjadi tempat untuk beribadah dan berdoa malah dijadikan tempat untuk berjual beli.  Karena itu Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Suci, membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati  (Markus 11:15).  Kristus menegaskan,  “… Rumah-Ku akan disebut rumah doa …”  (Markus 11:17), tempat Roh Kudus hadir, tempat umat mempersembahkan segenap keberadaan hidupnya sebagai persembahan kepada Tuhan  (Roma 12:1). 

     
    Sesungguhnya setiap orang percaya adalah bait Tuhan dan bait Roh Kudus  (1 Korintus 3:16).  Ketika orang percaya mendisiplinkan diri dalam hal berdoa ia akan semakin dibersihkan dan dikuduskan oleh Tuhan, dan semakin dipakai Tuhan untuk menjadi rumah doa. Becoming a house of prayer.

    Hari kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Becoming A House of Prayer”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 56:1-8 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, dalam Markus 11:15-19,  Tuhan Yesus mengangkat nubuat nabi Yesaya untuk menekankan dan mengingatkan orang-orang yang ada di Bait Allah pada waktu itu: “… mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.” (ayat 7)

    Dalam nubuatan tersebut, nabi Yesaya menyatakan bahwa Allah akan membawa mereka ke gunung Tuhan yang suci. Mereka akan dibawa ke gunung Allah yang kudus. Di rumah-Nya, di rumah doa-Nya, Tuhan akan memberi mereka kesukaan yang ceria. Di rumah-Nya, Allah akan memberi mereka kegembiraan dan sukacita.

    Di sana, menurut nubuat nabi Yesaya, Tuhan Allah kita akan berkenan kepada korban-korban bakaran mereka yang dipersembahkan kepada-Nya. Di sana, Allah Bapa berkenan menerima persembahan korban-korban sembelihan yang mereka tujukan kepada Allah. Allah Bapa berkenan pada persembahan korban yang mereka persembahkan di atas mezbah-Nya. Pada waktu itu, Dia, Tuhan kita Yesus Kristus, menyatakan: “rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”

    Sejatinya, melalui Firman Tuhan Yesus ini tersirat maksud untuk memberi kita sebuah contoh bahwa rumah kita adalah rumah doa. Rumah tempat tinggal kita adalah tempat bagi kita untuk mengucapkan syukur, menyembah, memuji, memuliakan, memohon dan mengharapkan segala sesuatu kepada Allah.

    Sahabat, kata rumah  tidak hanya berbicara tentang gedung atau bangunan secara fisik, tapi gambaran dari umat Tuhan itu sendiri atau keberadaan orang percaya. Tuhan menghendaki agar kita menjadi rumah doa.   Orang percaya  yang disebut sebagai rumah doa adalah orang oercaya yang kesukaannya berdoa, memuji dan menyembah Tuhan;  seorang yang memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan setiap waktu. Orang percaya yang kesukaannya bersyafaat bagi keluarga, gereja, tetangga, teman-teman, serta bangsa dan negaranya, bahkan dunia. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Markus 11:15-17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Punya hubungan yang karib dengan Tuhan berarti bukan hanya berbicara kepada Tuhan, tetapi kita juga harus bisa mendengar suara Tuhan. (pg)

  • SEEK the LORD while HE may Found

    MENCARI TUHAN. Mengapa kita mencari TUHAN? Sebab kita sangat membutuhkan kehadiran TUHAN dalam hidup kita. Manusia sejatinya harus mencari TUHAN. Jangan menghabiskan waktu kita hanya untuk mencari uang, karier, kedudukan, dan ketenaran. Tetapi kita harus berjuang mencari TUHAN dan kebenaran-Nya agar kita beroleh kehidupan yang kekal.

    Bila Firman Tuhan katakan carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, itu berarti ada waktu dimana Tuhan berkenan ditemui dan ada waktu dimana Tuhan tidak berkenan untuk ditemui. Waktu dimana Tuhan berkenan ditemui inilah merupakan KASIH KARUNIA yang harus kita RESPONS dengan sungguh-sungguh. 

    Yang menjadi persoalannya adalah apakah kita telah BENAR-BENAR MELIHAT  waktu yang Tuhan berikan sebagai sebuah kasih karunia yang tidak boleh sia-siakan? Kalau selama ini kita belum pernah berpikir bahwa waktu yang Tuhan berikan kepada kita adalah merupakan kasih karunia, maka kita sebenarnya telah melakukan begitu banyak kesia-siaan dalam hidup kita selama ini. Maka carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui. Seek the Lord while He may found.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “SEEK the LORD while HE may Found”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 55:1-13 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, bacaan kita pada hari ini menegur dan mengingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan waktu.  Kesempatan yang ada mari kita gunakan untuk terus menerus MENCARI TUHAN. 

    Mencari Tuhan merupakan sebuah keputusan penting bagi orang percaya, terlebih saat kita berada dalam situasi-situasi yang sulit.  Ketika jalan yang kita tempuh terbentur pada jalan buntu, sedangkan berbagai upaya telah kita lakukan dan kesemuanya berujung kepada kegagalan, tiada jalan lain selain kita harus datang kepada Tuhan dan mencari wajah-Nya.  Mencari Tuhan berarti menyadari akan keterbatasan dan ketidakberdayaan kita, lalu dengan penuh kerendahan hati mencari-Nya.  Mencari Tuhan juga berarti berharap dan mengandalkan Dia saja.

    Sahabat, mengapa kita harus mencari Tuhan?  Karena Dia adalah SUMBER PERTOLONGAN SEJATI.   Sementara segala hal yang ada di dunia ini tak bisa memberikan jawaban dan jaminan yang pasti bagi kita.  Karena itu jangan sekali-kali kita menggantungkan harapan  pada uang, kekayaan, jabatan, pengalaman, kepandaian, jaringan dan relasi. 

    Gantungkan harapan sepenuhnya kepada Tuhan sebab Dia selalu PUNYA CARA  untuk menolong kita.  Dia tidak pernah kehabisan cara melepaskan kita dari berbagai masalah,  “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  (ayat 9). 

    Sahabat, apa yang akan kita dapatkan bila  bersungguh hati mencari Tuhan?  Kita yang mencari Allah dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan bahwa HATI KITA HIDUP KEMBALI  (Mazmur 69:33, dan Amos 5:4 dan 6a). 

    Orang-orang yang saat ini mengarahkan fokus hidupnya  untuk perkara-perkara surgawi, akan menuai manisnya sebuah KEHIDUPAN KEKAL.  Tetapi apabila kita tidak mulai saat ini  mengarahkan fokus hidup kita kepada kehidupan kekal yang akan kita hadapi nanti, maka bila waktu itu tiba, kita akan menghadapi sebuah kengerian hidup yang benar-benar sangat menakutkan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa  pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya Tuhan.” (Mazmur 9:11). (pg).

  • Faithful Love and Peace Will Never Go Away

    DAMAI SEJAHTERA. Dalam situasi terjepit dan diterpa berbagai permasalahan hidup, ada cukup banyak orang menjalani hari-harinya tanpa semangat, penuh kemurungan, takut, cemas dan khawatir.  Damai sejahtera di hati pun terbang melayang entah ke mana! 

    Sahabat, sebagai orang percaya tak seharusnya kita kehilangan damai sejahtera sekalipun harus mengalami pergumulan hidup yang berat, sebab kita punya Tuhan, Sang Raja damai  (Yesaya 9:5), Dialah sumber damai sejahtera kita. 

    Jangan pernah ragu, kasih setia dan damai sejahtera tidak akan beranjak dari kehidupan orang percaya. Faithful love and peace will never go away.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Faithful Love and Peace Will Never Go Away”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 54:1-17 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, kesetiaan manusia bisa saja pudar dan hilang, tetapi kasih setia TUHAN tidak akan beranjak dari kehidupan kita, sekalipun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang.

    Sahabat, betapa besar janji setia Tuhan kepada kita. Keadaan dunia digambarkan dengan situasi dan keadaan yang penuh dengan berbagai bencana besar, tetapi Tuhan Allah selalu setia dengan janji-Nya untuk selalu mengiringi dan menyertai umat-Nya dengan KASIH SETIA dan DAMAI SEJAHTERA. 

    Ungkapan:  Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi Kasih Setia Tuhan tidak akan pernah beranjak daripadamu (ayat 10), sesungguhnya mau memberi kekuatan dan pengharapan serta penghiburan kepada kita bahwa Tuhan itu Allah yang Setia dengan janji-janji-Nya. Karena itu, dalam situasi dan kondisi  bagaimanapun  hidup kita sebagai orang-orang percaya, peganglah teguh janji-janji Tuhan, itulah yang menguatkan kita menghadapi kenyataan hidup.

    Sahabat, sedangkan damai sejahtera merupakan salah satu berkat rohani dari surga yang Tuhan sediakan bagi orang percaya, sebagaimana yang Tuhan janjikan,  “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”  (Yohanes 14:27). 

    Maka dari itu bila seseorang ingin memiliki damai sejahtera ia tak perlu mencarinya dengan berkelana sampai ke ujung dunia, cukup datang kepada Kristus dan menerima Dia di dalam hatinya, maka damai sejahtera itu akan Tuhan berikan. 

    Damai sejahtera yang sejati itu pemberian dari Tuhan. Jadi, bukanlah hal yang mustahil orang percaya mengalami damai sejahtera, sekalipun berada di tengah dunia yang bergelora! Mari bersama dengan raja Daud kita berdoa: “TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!”  (Mazmur 29:11). Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu  dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Janji pemulihan Tuhan  bukan hanya berlaku bagi bangsa Israel yang hidup pada masa lalu, tapi juga berlaku bagi semua orang percaya yang merupakan  “Israel-Israel  rohani” pada masa kini. (pg).

  • Accepting with the Open Arms

    BERKAT PEMBERIAN TUHAN. Berikut saya kutip 2 bait dari puisi WS Rendra yang terakhir:

    Ketika Orang memuji MILIKKU,
    aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.

    Bahwa mobilku adalah titipan- NYA,
    Bahwa rumahku adalah titipan- NYA,
    Bahwa hartaku adalah titipan- NYA,
    Bahwa putra-putriku hanyalah titipan- NYA …

    Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh- NYA ?

    Malahan ketika diminta kembali,
    kusebut itu MUSIBAH,
    kusebut itu UJIAN,
    kusebut itu PETAKA,
    kusebut itu apa saja …
    Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA …

    Sahabat, jauh sebelum puisi Rendra di atas lahir, Marthin Luther memberi nasihat kepada kita: “Apabila kita menerima berkat Tuhan, terimalah dengan tangan terbuka dan tetaplah terbuka, supaya apabila Tuhan mengambil kembali berkat-Nya itu, tangan kita tidak terluka.”

    Sebagai orang percaya, kita perlu mempraktikkan nasihat dari Marthin Luther tersebut: Menerima berkat Tuhan dengan tangan terbuka. Accepting with the open arms.

    Hari ini kita akan belajar dari salah satu Kitab Syair dalam PL, kitab Ayub dengan topik: “Accepting with the Open Arms”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 1:1-22 dengan penekanan pada ayat 21-b. Sahabat, Ayub beroleh pujian dari Tuhan karena hidupnya berkenan di hati Tuhan.  Jika Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa Ayub adalah orang yang saleh, jujur dan menjauhi kejahatan, berarti ia benar-benar tidak tercela, baik dalam perkataan dan perbuatan.  Ayub memiliki kehidupan yang benar luar-dalam, tidak ada kepura-puraan atau kemunafikan.  Tuhan sendirilah yang menilainya.  Luar biasa!

    Melalui kisah Ayub kita belajar bagaimana MEMANDANG BERKAT PEMBERIAN TUHAN. Ayub sadar bahwa segala miliknya berasal dari Tuhan, bukan miliknya sendiri. Ketika berkat pemberian Tuhan diambil kembali, ia tidak mengeluh atau protes keras kepada Tuhan karena ia percaya bahwa Tuhan memiliki maksud tersembunyi dalam kehidupannya. Meskipun ia belum mengerti sepenuhnya, ia belajar tetap bersandar kepada Tuhan.

    Sahabat, kita juga dapat belajar bagaimana cara menjalani kehidupan iman. Ayub orang yang takut akan Tuhan. Namun, kehidupannya justru dilanda berbagai kesusahan dan dukacita.

    Selama kita mengembara di dunia, kita pasti mengalami pasang surut kehidupan. Kadang-kadang disinari oleh mentari yang cerah, namun kadang-kadang juga dinaungi awan hitam. Kadang-kadang kita mungkin merasakan bahwa Tuhan mengambil berkat yang sudah diberikan-Nya kepada kita. Namun percayalah, berkat yang  lebih indah justru telah disediakan bagi kita yang senantiasa menantikan waktu-Nya. Apa pun yang terjadi dalam hidup, kasih-Nya tidak pernah meninggalkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-22?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita memang tidak selalu dapat memahami rencana dan rancangan Tuhan, tetapi yakinlah Dia senantiasa menyediakan keindahan bagi orang yang takut akan Dia. (pg).