Category: Sejenak Merenung

  • Dare to Face the CHALLENGES of LIFE

    TANTANGAN HIDUP. Setiap orang pasti merindukan hari esok yang lebih cerah, suatu keadaan yang semakin hari semakin bertambah baik, bukan sebaliknya:  Mengalami kemerosotan atau kemunduran.  Namun seiring berjalannya waktu, semakin kaki melangkah SEMAKIN BERAT TANTANGAN  yang mesti dihadapi.  Bagi mereka yang tak mempunyai iman yang kuat, keadaan atau situasi berat yang ada semakin mempengaruhi hati dan pikiran mereka, sehingga tidak sedikit dari mereka yang tergoncang dan menjadi tawar hati. 

    Dalam situasi yang demikian perlu sekali kita semakin mengaktifkan iman dan hidup di dalam iman kepada Tuhan Yesus.  Itulah kunci untuk dapat bertahan di tengah tantangan yaitu datang kepada Bapa dalam nama Tuhan Yesus untuk berdoa dan memohon segala janji yang telah diberikan-Nya bagi kita (Ibrani 10:22).  

    Tanpa iman tak seorang pun dapat bertahan hidup dengan benar, sebab selama di dunia ini kita takkan bisa menghindarkan diri dari berbagai tantangan,  pencobaan, tekanan, himpitan, masalah, sakit-penyakit dan sebagainya. Hanya menjalani hidup dengan iman kita akan dimampukan berani menghadapi tantangan hidup.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Dare to Face the CHALLENGES of LIFE (Berani Menghadapi TANTANGAN HIDUP)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 9:1-11 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, sebagai orang-orang yang telah diselamatkan karena pengorbanan Kristus di kayu salib, tidak berarti perjalanan hidup kita akan bebas dari masalah, luput dari ujian dan tantangan, atau jalan hidup kita akan semulus jalan tol yang bebas hambatan. 

    Justru kita akan semakin dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih besar, sebab Iblis takkan pernah rela kita ini menjadi milik Kristus seutuhnya.  Jika menyadari akan hal tersebut,  tak perlu kita menghindar atau lari dari tantangan, melainkan bersiaplah  menghadapinya.


    Sahabat, sesungguhnya tak seorang pun yang mau dihadapkan pada tantangan dan ujian … seandainya mungkin, tanpa ujian kita boleh lulus … Karena itu milikilah respons hati yang benar dalam menghadapi setiap tantangan yang ada.  Andai saja Daud lari dari hadangan Goliat, raksasa dari Gat itu, ia takkan pernah menjadi salah seorang tokoh besar yang tercatat di dalam Alkitab. 

    Dalam kasus berbeda, Yeremia, orang yang diutus Tuhan untuk menyatakan kebenaran kepada umat Israel, hampir-hampir tidak tahan menghadapi tantangan yang ada, karena ia harus tinggal di antara orang-orang yang hidup dalam pemberontakan.  Ia ingin sekali pergi menjauh dari mereka, alias berhenti mengerjakan panggilan Tuhan.  Karena tidak tahan dengan beratnya tantangan, tidak sedikit orang percaya yang kehilangan semangat dalam melayani Tuhan, dan bahkan mereka berniat untuk mundur.

    Sahabat, dalam hidup mengikut Yesus, adakalanya kita berada dalam situasi yang serba tidak pasti. Mungkin kita harus mempertaruhkan reputasi, bahkan mungkin juga rasa aman, karena kita bertekad melakukan hal yang benar. Mungkin kita juga kurang tidur karena gelisah memikirkan hasil akhirnya. Ingatlah, kita  tidak sendirian. Kita  tidak perlu menjadi lebih kuat atau lebih pintar daripada tantangan yang sedang kita hadapi. Tuhan Yesus menyertai kita, dan kuasa-Nya lebih besar daripada musuh apa pun. Tanyakanlah pertanyaan Paulus ini kepada diri kita sendiri: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Roma 8:31). Ya, siapa? Tidak ada. Karena itu, bersama Allah, beranilah menghadapi tantangan hidup. Beranilah menghadapi tantangan yang Tuhan izinkan ada di depan kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Meski berada di tengah tantangan yang berat sekali pun, orang yang memiliki iman takkan pernah menyerah kepada tantangan atau keadaan yang ada, apalagi sampai putus pengharapan. (pg).

  • A Package of Blessings and Temptations

    PERGUMULAN MENDATANGKAN KEDEWASAAN. Mengikuti ucapan-ucapan Ayub sejak awal kitab Ayub hingga akhirnya, kita mendapati ada dinamika dan pergeseran pendapat maupun emosi, seperti: Kemarahan, ratapan, keteguhan hati, komitmen, hingga pengabdian iman. Ini kontras dengan sahabat-sahabatnya yang memiliki pendapat yang kokoh sejak awal hingga akhir.

    Dalam keadaan penuh masalah dan penderitaan, Ayub jujur bergumul di hadapan Tuhan. Sebagai manusia beriman, ia bergulat dengan serangkaian emosi yang wajar, sementara juga berupaya merekonsiliasikan pemahamannya tentang Tuhan dengan pengalaman hidupnya. Melalui segenap pengalaman tersebut, imannya bertumbuh menjadi dewasa. Saat yang sama, Ayub tetap orang beriman, tetapi ia bukan lagi Ayub yang kita jumpai pada awal kitab Ayub, sebab ia sudah diperbarui oleh Tuhan.

    Sementara itu, teman-teman Ayub hanya memiliki keyakinan kepada Tuhan yang konseptual. Artinya, Tuhan yang mereka pahami adalah Tuhan yang berupa konsep, ajaran-ajaran yang baku, sebuah kumpulan ide-ide yang diajarkan turun-temurun namun tidak pernah mereka alami secara pribadi. Tidak heran apabila kepercayaan iman mereka cenderung datar, karena mereka tidak diubahkan oleh penderitaan dan pergumulan Ayub.

    Ayub hingga akhirnya tetap mempertahankan ketidakbersalahannya. Saat bersamaan, ia tetap beriman bahwa Tuhan akan bertindak menempatkan semuanya pada tempatnya. Ayub meyakini, bahwa pada akhirnya semua itu hanya bersifat sementara dan akan berlalu. Perhatikanlah bahwa Ayub sudah tidak memiliki kriteria-kriteria yang kaku. Ia membuka ruang yang luas bagi keterbatasan pengetahuannya dan kemahakuasaan Tuhan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “A Package of Blessings and Temptations (Satu Paket Berkat dan Ujian)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 26:1 – 27:23. Sahabat, lanjutan ucapan Ayub dimulai dengan sindiran terhadap ucapan Bildad yang dianggapnya tidak bermutu (26:1-4) karena Ayub mengenal Allah, diri sendiri, dan memahami akhir orang fasik jauh lebih baik daripada Bildad dan teman-temannya. Melalui ucapannya, Ayub memperkenalkan Allah sebagai Penguasa dan Pengendali segala sesuatu, mulai dari dunia orang mati (26:5-6), angkasa luar (26:7), cuaca (26:8-9), hingga kepada langit dan laut (26:10-13).

    Selanjutnya Ayub menyatakan imannya kepada Allah meskipun ia tidak memahami mengapa Allah mengizinkannya mengalami semua penderitaan itu. Perkataan “Allah . . . tidak memberi keadilan kepadaku” serta “Yang Mahakuasa . . . memedihkan hatiku” (27:2) harus dipahami sebagai bahasa puisi, sehingga tidak boleh diartikan secara literal bahwa Ayub menuduh Allah berlaku tidak adil. Sebaliknya, perkataan itu adalah ungkapan ketidakpahaman kepada kehendak Allah atas dirinya.

    Sahabat, meskipun demikian, Ayub sama sekali tidak meragukan kebaikan Allah dan mengkompromikan kebenaran (27:4-6). Ayub menutup ucapannya di pasal ini dengan kecaman kepada orang fasik (27:7-23) untuk membuktikan bahwa ia sadar bahwa dirinya tidak termasuk orang fasik, karena ia tak mungkin mengecam dirinya sendiri.

    Ada cukup banyak orang percaya   menerima berkat Allah dengan ucapan syukur tanpa mempertanyakan alasan Allah memberkatinya; sebaliknya ketika menghadapi kesulitan, masalah, dan penderitaan,  mereka begitu gampang mempertanyakan alasan mengapa Allah mengizinkan ujian terjadi dalam hidupnya. Sebagai orang percaya seharusnya kita  memiliki kesiapan yang sama untuk menerima BERKAT dan UJIAN dari Allah, yang sama-sama sulit dipahami. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 26:2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan sampai kita hanya berpangku tangan pada saat melihat kesesakan orang lain. (pg).

  • The Faithful Love of God

    KETERBATASAN MANUSIA. Dapatkah manusia yang terbatas memahami realitas hidup dengan benar? Mampukah manusia yang terbatas memahami realitas kebesaran Tuhan? Apa yang menjadi panduan hidup kita tatkala sedang menghadapi pergumulan? Apa arti kasih setia Tuhan bagi manusia yang hina dan berdosa ini?

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “The Faithful Love of God (Kasih Setia Allah)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 25:1-6. Sahabat, LAI memberi judul Ayub 25: Pendapat Bildad, bahwa tidak seorang pun benar di hadapan Allah.

    Bacaan kita pada hari ini berisi interupsi Bildad di tengah ucapan Ayub mengenai penderitaannya dan imannya kepada Allah. Interupsi itu dimulai dengan pengagungan kebesaran Allah. Perhatikan bahwa penjelasan Bildad tentang Allah adalah benar. Allah digambarkan sebagai sumber kekuasaan dan kedahsyatan yang tak tertandingi. Ia adalah Raja yang menciptakan kedamaian di surga. Pasukan-Nya tidak terhitung dan merupakan sumber terang abadi, sehingga bulan dan bintang kehilangan sinarnya di hadapan Allah (ayat 1-3 dan 5).

    Sahabat, ucapan Bildad tentang kebesaran Allah lahir dari kesalahpahaman atas ucapan Ayub di pasal sebelumnya. Ia menafsirkan pernyataan ketidakpahaman Ayub atas tindakan Allah sebagai tuduhan bahwa Allah telah berbuat kesalahan. Oleh sebab itu, Bildad menginterupsi ucapan Ayub untuk membela tindakan Allah, sekaligus menekankan betapa hina dan lemahnya manusia di hadapan Allah, yakni seperti berenga (belatung) dan ulat (ayat 6), sehingga tidak mungkin ada manusia yang benar di hadapan-Nya (ayat 4).

    Sebenarnya Ayub tidak pernah mengatakan bahwa ia tidak pernah berbuat dosa. Yang ia katakan ialah penderitaan-penderitaan yang ia alami dalam hidup, bukanlah disebabkan oleh dosa. Sahabat Ayub, Bildad, merespons pandangan Ayub tersebut dengan mengatakan bahwa di hadapan Allah, manusia yang tidak berarti ini tidak dapat membenarkan dirinya.

    Memang benar, manusia berdosa dan hina di hadapan Allah. Ayub mengetahui hal tersebut. Tetapi, bagi Ayub, apa yang dikatakan Bildad tidak menjawab persoalannya, sebab Ayub merasa tidak melakukan sesuatu yang salah di hadapan Allah. Firman Allah mengajarkan bahwa Allah adalah Mahakuasa dan Mahakudus, sedangkan manusia adalah hina. Namun, melalui pengampunan-Nya, manusia diberi kesempatan untuk mendekat kepada-Nya.

    Sahabat, Allah yang Mahakuasa selalu membuka pintu pengampunan bagi setiap orang yang bertobat dan memohon pengampunan-Nya. Marilah kita belajar hidup benar di hadapan Allah. Apabila pergumulan atau peristiwa buruk menimpa hidup kita, janganlah kita mempersalahkan Tuhan, tetapi setialah seperti Ayub. Ingatlah selalu akan KASIH SETIA ALLAH.

    Selain itu, mengingat keterbatasan manusia, kita tidak mungkin dapat memahami Tuhan secara sempurna. Terkadang KEHIDUPAN pun TERLALU RUMIT  untuk DIPAHAMI.  Tetapi yang penting bagi kita adalah membiarkan Tuhan bekerja dan menuntun kita melalui kerumitan tersebut. Bagian kita adalah MENGALAMI ANUGERAH TUHAN  dan MENJADI SALURAN  anugerah itu bagi orang-orang di sekitar kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan jauh lebih besar daripada yang kita dapat bayangkan dan tidak ada suatu apa pun yang dapat dibandingkan dengan-Nya. (pg).


  • The Christian Faith and Chinese New Year

    TAHUN BARU IMLEK. Setiap tahun di negara kita dirayakan Tahun Baru Imlek. Perayaan ini masuk ke Indonesia berbarengan dengan datangnya pendatang-pendatang dari Tiongkok pada zaman nenek kakek kita ketika mereka datang ke Indonesia sebagai pedagang atau pengungsi. Sejak saat itu, perayaan Tahun Baru Imlek terus dirayakan oleh orang-orang Indonesia keturunan Tiongkok.

    Pada masa pemerintahan Presiden Suharto, dikeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14/1967 yang melarang segala hal berbau budaya Tiongkok. Pada tahun 2000, saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Inpres Nomor 14/1967 dicabut dan ia menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001, yang meresmikan Tahun Baru Tiongkok (Imlek) sebagai hari LIBUR FAKULTATIF,  yaitu libur yang hanya berlaku bagi yang merayakannya.

    Kemudian pada tahun 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan Imlek sebagai salah satu hari libur nasional dan mulai dilaksanakan pada tahun 2003. Sejak saat itu hingga sekarang, Tahun Baru Imlek menjadi hari libur nasional yang dapat dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia.

    Hari ini, Minggu 22 Januari 2022 bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2574, saya mengajak Sahabat untuk merenungkan firman Tuhan dengan topik: “The Christian Faith and Chinese New Year (Iman Kristen dan Tahun Baru Imlek)”. Bacaan Sabda saya ambil dari 1 Korintus 9:19-23. Sahabat, dari bacaan kita pada hari ini dapat ditemukan  3 prinsip yang diperlukan untuk membangun relasi dengan dunia.  

    Prinsip yang pertama: Tujuan Allah menjadi fokus utama.  Paulus menyampaikan dengan sangat jelas bahwa semua yang dia lakukan berkaitan dengan sikapnya menyesuaikan dirinya dengan berbagai golongan orang-orang di Korintus adalah untuk memenangkan mereka bagi Injil.  Paulus bisa saja memanfaatkan pergaulan yang dia bangun untuk mendapatkan ketenaran atau dukungan di dalam pelayanan, tetapi hal tersebut tidak dia lakukan.  Pergaulan yang dibangun oleh Paulus bukan untuk alasan pragmatis yang berorientasi pada keuntungan diri sendiri tetapi kepada kemurnian dan tujuan Allah yang bernilai kekal.

    Prinsip yang kedua: Batasan di dalam pergaulan.  Tujuan yang mulia akan menjadi tercemar bila tujuan tersebut dicapai dengan cara yang merusak atau amoral. Penyesuaian yang dilakukan oleh Paulus ini bukanlah penyesuaian yang asal-asalan atas segala hal.  Paulus dibatasi oleh hukum Kristus.  Dengan kata lain, sejauh penyesuaian ini tidak melanggar firman Tuhan maka Paulus akan melakukannya.

    Prinsip yang ketiga: Cara di dalam pergaulan.  Dengan “menjadi seperti” Paulus telah memberikan teladan untuk menjalin relasi dengan dunia.  Keberadaannya yang telah menjadi manusia yang baru di dalam Kristus tidak menjadikan dia eksklusif dan menutup diri tetapi sebaliknya Paulus membuka dirinya dan memberikan kesempatan untuk terjadi proses pengenalan satu dengan yang lain. “Menjadi seperti” juga menunjukkan bahwa Paulus bukanlah orang yang egois tetapi dia bersedia untuk mengerti orang lain dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan latar belakang kepercayaan maupun status sosial.

    Dari ketiga prinsip tersebut kita dapat melihat bahwa pergaulan dapat dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kabar baik.  Untuk itu pemakaian prinsip-prinsip etika pergaulan Kristen ini akan menolong orang-orang percaya tidak terjatuh di dalam salah satu ekstrem pergaulan, baik yang mengisolasi diri atau yang membuka diri dan mulai “menjual” kebenaran sebagai bentuk penyesuaian di dalam pergaulan.  Tetapi mereka dapat menempatkan diri secara tepat sebagai seorang teman tetapi juga sebagai hamba yang bersaksi bagi Tuhan.

    Sahabat, marilah  kita mengikuti pesan rasul Paulus pada hari ini, kita menghargai budaya dan kepercayaan orang supaya kita bisa bergaul dengan mereka untuk memenangkan mereka kepada Injil. Janganlah kita dengan cepat menilai perayaan Tahun Baru Imlek dari sisi mistisnya saja karena hal tersebut dapat membuat pintu hati saudara-saudara kita dan orang-orang Tionghoa lainnya tertutup bagi Injil.

    Biarlah perayaan Tahun Baru Imlek kita maknai sebagai sebuah peninggalan budaya Tiongkok yang kaya akan unsur SEMANGAT KEKELUARGAAN , karena pada saat Tahun Baru Imlek inilah segenap keluarga besar biasanya saling berkunjung dan berkumpul bersama. Di sinilah seharusnya orang-orang percaya berada untuk menjadi garam dan terang bagi keluarga.

    Bagi semua Sahabat yang merayakan: Selamat Tahun Baru Imlek 2574 dan selamat menikmati waktu berkumpul bersama dengan keluarga! Kiranya kita semua bisa membagikan Kabar Baik yang membawa keselamatan kekal. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Xin Nian Kuai Le. Shen Ti Jian Kang. Xin Nian Jin Pu. (pg).

  • Back to God

    TEGAR TENGKUK. Dalam Alkitab, Tuhan beberapa kali menyatakan bahwa bangsa Israel merupakan bangsa yang tegar tengkuk. Bangsa yang keras kepala. Bangsa yang keras hati. Susah untuk dibentuk dan susah untuk bertobat.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Back to God (Kembalilah kepada Tuhan)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 8:4-17. Sahabat, orang yang jatuh pasti memiliki keinginan untuk bangun kembali. Inilah sebuah harapan akan terjadinya sebuah pertobatan bagi diri seseorang. Apa yang kita pikirkan jika ditanya tentang pertobatan? Mungkin kita bisa sepakat bahwa pertobatan berarti kembali ke jalan Tuhan yang benar dan tidak mengulang berbuat dosa.

    Sindiran pertobatan, Allah sampaikan kepada bangsa Israel melalui nabi Yeremia. Apabila orang jatuh, masakan ia tidak bangun kembali? Apabila orang berpaling, masakan ia tidak kembali?  (ayat 4). Pertanyaan tersebut  bermaksud menyampaikan, bahwa ketika sudah diperingatkan masakan tidak ada pertobatan dari umat Israel ketika mereka telah berbuat dosa dan menyimpang dari jalan Allah?

    Namun umat Tuhan ternyata benar-benar tegar tengkuk.  Mereka berdosa, tetapi tidak mau mengakui kesalahan mereka dan bertobat (ayat 5-6). Lebih lanjut Tuhan membandingkan mereka dengan burung ranggung, burung tekukur, burung layang-layang, dan burung bangau  yang bermigrasi pada musim-musim tertentu. Secara instingtif tahu kapan mereka harus berbalik arah dan terbang ke tempat tertentu (ayat 7). Namun umat Tuhan yang mengaku memiliki Taurat tidak tahu kapan harus mengubah hidup, kembali kepada Tuhan (ayat 8-9).

    Sahabat, lebih memalukan ternyata para pemimpin agama pun tidak jauh berbeda. Mereka melakukan tipu daya terhadap umat dan sedikit pun tidak merasa malu (ayat 11-12).

    Ketika umat diibaratkan seperti pohon, ternyata pohon itu tidak menghasilkan buah, seperti yang diharapkan oleh si pemilik pohon (ayat 13).Tak heran bila Allah murka atas umat sehingga akan menghukum mereka. Harta milik mereka, bahkan istri-istri mereka pun akan dirampas oleh musuh (ayat 10).

    Musuh bagaikan ular beludak yang memagut dengan bisanya yang mematikan (ayat 17). Dalam situasi seperti itu, nyata bahwa damai sejahtera yang dikumandangkan oleh para pemimpin agama (ayat 11 dan 15) hanyalah janji kosong yang tak pernah terwujud. Karena yang datang kemudian adalah musuh yang menyerbu dari Utara, dengan jumlah tentara yang sangat besar (ayat 16).

    Sahabat, hukuman yang berat itu harus dialami oleh umat Tuhan karena mereka terus menerus melakukan dosa, tanpa pernah memilki kesadaran untuk bertobat dari dosa-dosanya dan kemudian berbalik kembali kepada Tuhan.

    Sesungguhnya hal tersebut menjadi peringatan keras bagi kita untuk tidak hidup di dalam dosa. Karena itu marilah kita introspeksi diri: Adakah dosa yang masih terus menerus bercokol dalam hidup kita? Adakah dosa yang mengganggu hubungan kita dengan Tuhan? Apakah dosa itu menghalangi pertumbuhan kerohanian kita?

    Ingatlah bahwa setiap pelanggaran terhadap firman Tuhan hendaknya kita bereskan dengan segera. Maka mintalah pengampunan dari Allah dan tinggalkanlah jalan dosa itu. Jangan sampai Tuhan menganggap kita lebih bodoh daripada burung-burung! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Buktikanlah kasih kita kepada Tuhan dengan selalu melakukan perintah-Nya seumur hidup kita. (pg).

  • Growing in Knowledge of God

    BERTUMBUH. Hampir semua orang pasti rindu bertumbuh. Ada banyak orang yang ingin sekali bisa bertumbuh tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya sehingga mereka sendiri tidak bisa bertumbuh. Supaya dapat bertumbuh, kita perlu mengikuti tiga langkah dengan urutan sebagai berikut:

    Untuk bisa bertumbuh, kita perlu mengenal Allah. Karena kalau kita tidak mengenal Dia, kita tidak bisa dekat dengan Tuhan. Kita tidak bisa tahu siapa Allah kita sebelum kita mengenal Dia. Karena itu, langkah pertama: MENGENAL ALLAH.

    Setelah mengenal, baru kita bisa mengasihi Allah. Ada  pepatah mengatakan: “Tak kenal maka tak sayang.”. Jadi kalau kita tidak mengenal Allah, kita tidak bisa mengasihi Allah. Makin kita mengenal Allah, makin kita mengasihi Allah. Jadi langkah kedua: MENGASIHI ALLAH.

    Nah, setelah mengasihi Allah, baru kita mengikuti   langkah yang ketiga: MELAYANI ALLAH. Kalau pelayanan itu merupakan hasil dari kasih kita kepada Allah,  pelayanan kita pasti DASYAT. Pelayanan kita akan BERBUAH lebat. Pelayanan kita pasti BERDAMPAK.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Growing in Knowlegde of God (BERTUMBUH dalam PENGENALAN akan ALLAH)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 23:1 – 24:25. Sahabat, LAI memberi judul Ayub 23: “Ayub ingin membela diri di hadapan Allah” dan Ayub 24: “Allah seakan-akan acuh tak acuh terhadap kejahatan.”

    Ayub pasal 23 dan 24 menggambarkan iman, kejujuran, integritas, dan kegamangan Ayub. Dalam pasal 23 kita menjumpai bahwa Ayub percaya Tuhan berdaulat, bahkan atas kondisinya yang tak menyenangkan; Tuhan adil dan tidak berubah dan Ia akan mendengar perkaranya. Melalui berbagai pencobaan berat, Ayub tetap memiliki IMAN yang KOKOH  kepada Tuhan yang disembahnya.

    Dalam Ayub 23:6-12 kita dapati bahwa iman Ayub ternyata bukan iman gampangan yang keluar dari buku teks. Kita jumpai juga bahwa Ayub bergumul dengan MISTERI Tuhan, sementara ia berpegang pada Firman Tuhan. Di tengah kesulitan yang tak bisa ia pahami, Ayub tetap berintegritas di hadapan Tuhan. Ketika Tuhan yang dia kira dikenalnya mengizinkan kejutan-kejutan besar dan kepahitan hidup, dia tetap percaya pada karakter Tuhan. Namun di sisi lain, penderitaannya membawa kegamangan hatinya kepada Tuhan (ayat 16-17).

    Sahabat, sikap Ayub berbeda sekali dengan ketiga sahabatnya yang secara membabi buta berpegang pada iman mereka yang mungkin hebat tetapi lugu. Mereka tak kuasa berhadapan dengan kenyataan hidup, sehingga penilaian dan sikap hidup mereka menjadi tidak sinkron dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beda dengan Ayub yang sadar bahwa iman, pengetahuan, pengalaman hidupnya, TIDAKLAH SEBERAPA.  Karena itu, ia izinkan Tuhan membentuknya, walaupun ia sendiri tidak mengerti APA dan DIMANA  letak KESALAHANNYA.

    Selanjutnya dalam pasal 24, Ayub memaparkan serangkaian peristiwa yang tak ia pahami. Entah kenapa, Tuhan membiarkan kejahatan terjadi atas hidupnya. Kendati pun ia tetap beriman, dalam kematangan perjalanan imannya ia menemukan semakin lama SEMAKIN BANYAK PERTANYAAN  yang MUNCUL dan SEMAKIN SEDIKIR JAWABAN  yang ia DAPATI.

    Sahabat, terkadang Tuhan membawa kita melalui puncak, lembah, dan kelokan yang tak terduga dan sama sekali asing. Itulah saatnya IMAN BERTUMBUH akan PENGENALAN  terhadap TUHAN. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 23:11-12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hiduplah dalam kesabaran Tuhan, dan tidak buru-buru menghakimi, baik orang lain, juga Tuhan. (pg).

  • Improve your Behavior and Deeds

    PERTEMUAN-PERTEMUAN IBADAH. Sesungguhnya IBADAH  merupakan  salah satu hal penting dalam kehidupan orang percaya yang tak boleh disepekan.  Sering terjadi, cukup banyak orang percaya justru menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah karena mereka menganggap bahwa berdoa dan membaca Alkitab di rumah, serta berperilaku benar di mata masyarakat sudah cukup, dan tak perlu capai-capai pergi ke gereja untuk beribadah. 

    Bila orang mau bersungguh-sungguh dalam beribadah niscaya hidupnya pasti akan berubah, sebab firman Tuhan yang didengar berkuasa untuk menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran  (2 Timotius 3:16).  Saat beribadah kita berkesempatan untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman:  Saling menasihati, menguatkan, dan memerhatikan.  Kita mengalami proses penajaman karakter.  

    Selain itu dalam ibadah kita memuji dan menyembah Tuhan!  Saat itulah Tuhan hadir dengan segala manifestasinya. Di mana Tuhan hadir, di situ kuasa-Nya bekerja untuk melepaskan kita dari segala belenggu dosa, sehingga kita mengalami hidup yang berkemenangan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Improve your Behavior and Deeds (Perbaikilah Tingkah Laku dan Perbuatanmu)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 7:1-15 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, tingkah laku dan perbuatan lahir dari pikiran. Apa yang selalu kita pikirkan biasanya akan keluar menjadi sebuah laku dan tindakan. Jika kita berpikir baik maka akan keluar tindakan kebaikan, sebaliknya jika kita selalu berpikir yang jahat maka tindakan kita pun akan jahat. Merubah tingkah laku dan perbuatan berarti kita harus merubah cara berpikir kita. Itulah yang kita temukan dalam pergumulan Yeremia.

    Umat hendaknya tidak berasumsi bahwa keberadaan bait Allah menjamin keselamatan mereka meski mereka berbuat dosa (ayat 4, 8, 10). Dosa apa sajakah yang mereka lakukan? Dosa berkaitan relasi dengan sesama dan Tuhan. Dalam relasi dengan sesama, umat telah berlaku tidak adil: Menindas orang asing, yatim, dan janda. Mereka juga menghukum orang yang tidak bersalah (ayat 6). Selain itu mereka mencuri, membunuh, berzina, dan memberi kesaksian dusta (ayat 9).

    Dalam relasi dengan Tuhan, mereka telah menyimpang dengan menyembah allah-allah lain, mempersembahkan kurban kepada Baal, dan menyembah dewa-dewa asing (ayat 9).

    Sahabat, parahnya, meski melakukan dosa-dosa tersebut,  umat merasa aman-aman saja bila telah masuk ke bait Allah dan melakukan ritual ibadah. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan semua itu, Allah akan mengampuni mereka. Setelah itu, mereka bisa melakukan dosa lagi.  Datang ke bait Allah menjadi tindakan yang seolah dapat memutihkan dosa dengan begitu saja. Siapapun yang mengajarkan, ini benar-benar dusta (ayat 4, 8)! Dusta ini mendapat ancaman hukuman sangat berat dari Tuhan.

    Namun sang nabi juga menyuarakan janji Tuhan: Jika umat bertobat, Ia akan membiarkan mereka tinggal di tanah itu (ayat 3, 7). Bertobat artinya merubah cara hidup dan perbuatan mereka, yang berkaitan dengan relasi mereka terhadap Tuhan dan sesama.

    Sesungguhnya Tuhan itu Mahabaik. Ia tidak menjatuhkan hukuman dengan begitu saja. Ada peringatan dahulu dan janji pemulihan bila umat mau bertobat. Maka setiap kali mendengar peringatan Tuhan, jangan abaikan. Bertobatlah! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “… ibadah itu berguna dalam segala hal dan mengandung janji, baik untuk hidup saat ini maupun untuk hidup yang akan datang.”  (1 Timotius 4:8). (pg)

  • UNCIRCUMCISED EARS

    MANUSIA TELAH MEMILIH JALAN PERMUSUHAN DENGAN TUHAN. Sejak dahulu, jalan dan kehendak manusia sering berlawanan dengan jalan dan kehendak Tuhan.  Manusia lebih memilih untuk mengikuti jalan dan kehendaknya sendiri daripada harus tunduk kepada kehendak Tuhan dan mengikuti jalan-Nya.

    Manusia menolak perdamaian yang diberikan Tuhan dan dengan CONGKAKNYA mereka mau berjalan menurut kehendaknya sendiri.  Rasul Paulus memaparkan dengan jelas kekerasan hati manusia terhadap Penciptanya,  “… jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu.”  (Roma 3:17-18). 

     
    Manusia telah memilih JALAN PERMUSUHAN  dengan Tuhan, dan bahkan mereka MEMBENCI  Tuhan,  “Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,…”  (Roma 1:30). 

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “UNCIRCUMCISED EARS (TELINGA TAK BERSUNAT)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 6:1-21 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, di pasal 4, Yeremia menyebut bangsa Yehuda sebagai tidak bersunat  HATINYA. Di pasal 6, Sang Nabi memakai istilah “telinga yang tidak disunat” (ayat 10). Keduanya menyingkapkan DOSA KEBEBALAN  segenap bangsa Yehuda. Bangsa ini mengimani bahwa Allah Pencipta dan Pembebas itu layak disembah dan ditaati. Akan tetapi, perilaku dan praktik-praktik agamawi mereka bertentangan dengan apa yang mereka IMANI (ayat 1-9).

    Dengan susah payah Nabi Yeremia menyuarakan firman Tuhan akan penghakiman yang ada di depan mereka, yakni sebuah hajaran dari Allah untuk mendidik mereka (ayat 1, 7, 8, 10, dan 11). Berita PENGHIBURAN  dan PENGUATAN sudah diberikan beberapa kali, tetapi ditanggapi dengan sinis, bahkan serta-merta DITOLAK (ayat 12-17).

    Maka dari itu, Allah memandang perlu untuk menjatuhkan hukuman atas umat-Nya. Hukuman dijatuhkan sebagai satu pelajaran untuk mengingatkan mereka akan Allah (ayat 18, 19). Hal itu dilakukan supaya mereka memandang serius ibadah yang bermakna di hadapan Allah (ayat 20). Selain itu, hukuman merupakan cara untuk menyaring mereka yang taat kepada Allah (ayat 21). Dengan demikian, penderitaan dan malapetaka bisa MENJADI PELANTANG SUARA  untuk memanggil umat milik-Nya kembali kepada-Nya.

    Sahabat, nubuatan Nabi Yeremia mengajak umat untuk menghargai dan menerima DIDIKAN  dari Tuhan. Didikan yang diberikan Allah bertujuan untuk menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih melaluinya. Ada kasih dalam setiap pendisiplinan dari Allah. Ada anugerah yang senantiasa disiapkan dalam setiap perjalanan kehidupan. Semua itu dapat kita yakini karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang kekal, yang hadir dalam setiap detik kehidupan umat-Nya.

    Waspadalah terhadap TELINGA  yang TIDAK BERSUNAT.  Sahabat, banyak mengetahui firman Tuhan saja belum cukup. Yang lebih penting adalah seberapa banyak kita hidup sesuai dengan pengetahuan tersebut. Setiap kali membaca dan mendengar firman Tuhan, berdoalah agar kita memiliki tekad dan dimampukan untuk menjadi PELAKU FIRMAN. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Seharusnya manusia membuka hatinya untuk setiap peringatan dan teguran Tuhan, sebab peringatan dan teguran Tuhan menuntun manusia kepada JALAN KEHIDUPAN. (pg).

  • EMERGING like GOLD

    EMAS TERMASUK LOGAM MULIA. Logam mulia rupakan salah satu istilah yang sudah akrab di telinga kita. Biasanya, istilah logam mulia digunakan untuk jenis logam yang dianggap langka dan bernilai jual. Lalu apa itu logam mulia?

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah lain dari logam mulia adalah logam adi. Sedangkan arti logam mulia adalah logam yang tidak dapat bersenyawa dengan zat asam. Logam mulia  adalah logam yang tahan terhadap korosi maupun oksidasi. Dengan kata lain, logam mulia  adalah jenis logam tahan banting, tidak berkarat, langka, tidak mudah lapuk, apalagi robek. Berbeda dengan kayu yang menjadi abu bila dibakar, emas tetap bertahan dalam kobaran api. Hanya wujudnya yang mencair pada suhu sekitar 1000°C.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “EMERGING like GOLD (TIMBUL seperti EMAS)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 23:1-17 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, pengakuan Ayub ini muncul tatkala ia mengalami pergumulan yang berat dan mendalam.

    Ayub dipisahkan oleh jarak fisik, tidak bisa bicara, dan tidak akan merasakan kehadiran Tuhan. Saat-saat perasaan terasa jauh dari Tuhan, itu membuat kesulitan untuk memercayai Tuhan. Namun Ayub tetap belajar percaya dan ia mempunyai keyakinan, “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (ayat 10).

    Ayub menggambarkan pengalaman dan ujian hidupnya sebagai proses pemurnian emas (ayat 10). Ia juga menyadari hidup ini penuh misteri, termasuk fakta bahwa Allah seolah diam saja. Di situ Ayub belajar beriman bahwa ALLAH ITU HIDUP dan sedang menguji dirinya.

    Sahabat, seolah-olah, Ayub berkata kepada sahabatnya, “Hai Elifas, Bildad, dan Zofar, sekalipun aku tak mampu menemukan hadirat Allah, aku yakin DIA HIDUP  dan MENGETAHUI JALAN HIDUPKU. Dia tahu jalan yang kutempuh. Aku percaya kepada-Nya. Setelah ujian ini berlalu, Dia akan membenarkan aku, sebab Dia tahu bagaimana aku hidup di hadapan-Nya. Aku akan timbul seperti emas yang sudah teruji oleh api pencobaan. Aku bersaksi bahwa aku menuruti jalan-Nya, dan firman-Nya aku simpan dalam hatiku” (ayat 8-12).

    Kisah penderitaan Ayub ini dimaksudkan untuk mengajarkan kepada kita bahwa selalu ada rencana terbaik di balik setiap ujian hidup yang Tuhan izinkan menimpa kita. Cara Ayub memandang persoalan mengajar kita bahwa Tuhan MEMEGANG KENDALI  kehidupan kita. Hidup kita ibarat emas dan begitu berharga di mata Tuhan. Jika Tuhan “membakar” hidup kita, Dia tidak bermaksud menghancurkannya. Sebaliknya, Dia ingin mendapati kualitas iman yang teruji, yang murni, sebuah kehidupan yang tanpa cela di hadapan-Nya.

    Sahabat, Ayub menyadari bahwa harus ada sebuah proses pemurnian emas yang dilakukan lewat proses pembakaran. Metodenya adalah dengan memberi panas pada emas hingga mencair. Di saat emas sudah cair, berbagai kotoran yang melekat padanya seperti debu,  dan unsur-unsur logam lain akan naik ke permukaan, sehingga semua kotoran ini bisa dipilah dan dibuang.

    Demikianlah proses ini dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya diperoleh emas yang benar-benar murni, bebas dari segala kotoran dan campuran logam lainnya. Dari proses pembakaran itu akan jelas terlihat mana emas yang murni, mana yang masih dipenuhi oleh kotoran-kotoran yang mengurangi kadar kemurnian emas itu. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16-17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”  (Mazmur 73:26)

  • IMMODEST ADVICE of A Friend

    VULGAR. Apa itu? Vulgar itu suatu tutur kata, perilaku atau perbuatan yang kasar, tidak sopan, barbar atau brutal.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “IMMODEST ADVICE of A Friend (NASIHAT VULGAR Seorang Sahabat)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 22:1-30. Sahabat, LAI memberi judul Ayub 22: Elifas menganjurkan, supaya Ayub bertobat dari dosanya yang besar.

    Mencengangkan NASIHAT (ANJURAN) Elifas yang terakhir ini sungguh VULGAR. Ia bagaikan seorang polisi yang memaksa dan menganiaya satu-satunya tersangka yang ada di tangannya. Sekonyong-konyong Elifas menghujani Ayub dengan pelbagai tuduhan, yang entah muncul dari mana. Kita tahu jelas tuduhan itu bertolak belakang dengan karakter Ayub (Ayub 1). Elifas diperkenalkan sebagai seorang  Ayub, dengan demikian seharusnya dia mengenal pribadi  Ayub dengan baik.

    Sahabat, serangan kepada Ayub makin brutal! Kali ini, Elifas menyerang langsung kepribadian Ayub. Bagi Elifas, Ayub sama sekali tak bermanfaat, baik bagi Allah maupun bagi sesama (ayat 1-10). Menurut Elifas, pengakuan Ayub akan hikmat dan kesalehan pribadinya adalah bohong, karena kenyataan bahwa ia sudah diadili dan dihukum Allah membuktikan bahwa Allah sama sekali tak memandang Ayub sebagai seorang yang benar di hadapan- Nya (Ayub 21:1-4). 

    Selain itu, Ayub dituduh secara keji sebagai berlaku lalim kepada sesama, mulai dari pemerasan orang yang tak berdaya, keengganan menolong orang melarat, dan tindakan semena-mena sebagai tuan tanah. Jadi, wajar bila hidupnya dilanda bencana dahsyat (ayat 5-10).

    Elifas menuduh Ayub melakukan tindakan lalim yang bersumber dari sikap tidak menghormati Allah, yang digambarkan dengan beberapa kalimat berikut: “Tahu apa Allah? Dapatkah Ia mengadili dari balik awan-awan yang gelap?” (ayat 13), “Pergilah dari kami! Yang Mahakuasa dapat berbuat apa terhadap kami?” (ayat 17). Oleh sebab itu, satu-satunya harapan Ayub adalah pertobatan, yakni berdamai dengan Allah melalui menaati firman- Nya, berdoa dan merendahkan diri di hadapan-Nya, serta mengutamakan Allah seperti menghargai emas (ayat 21-27).

    Sahabat, niat dan usaha Elifas membantu Ayub perlu dihargai dan ditiru. Kesungguhannya berharap agar Ayub segera terlepas dari segala penderitaannya patut diteladani. Namun, kesungguhan itu harus disertai kepekaan atas penderitaan orang-orang di sekitar kita. Tindakan Elifas yang harus dihindari adalah sikap menganggap diri paling benar dan keberanian memakai nama Allah untuk memaksakan kehendak. Saat menolong sesama, pelajarilah kondisinya secara teliti, supaya kita dapat bertindak dengan bijak, elegan,  dan sopan.

    Tuhan menciptakan manusia dengan akal budi sesuai citra-Nya. Untuk berfungsi sesuai citra Tuhan itu, kita perlu menggunakan akal budi. Apa yang terjadi dengan Elifas, Bildad, dan Zofar adalah contoh ketidakmampuan orang menggunakan akal budinya, sehingga mereka tidak bisa menjadi citra Tuhan yang baik dalam hidup mereka. Dalam beberapa dialog yang sudah kita pelajari, kita melihat sebuah konsekuensi fatal gaya hidup orang-orang yang mengklaim mencintai Tuhan, ternyata kurang  bijak dalam  menggunakan segenap akal budinya. Haleluya. Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketika ada masalah jangan hanya minta jawaban, kesembuhan atau pemulihan saja, tetapi mintalah supaya Tuhan menyatakan maksud dan rencana-Nya atas kita melalui masalah atau penderitaan yang sedang diizinkan untuk kita alami. (pg).