Category: Sejenak Merenung

  • Glorify God in Your Life

    MEMULIAKAN TUHAN. Salah satu tujuan hidup orang percaya adalah memuliakan Tuhan dalam  segala aspek kehidupan.  Hidup yang memuliakan Tuhan adalah hidup yang menjadi berkat, kesaksian, dan teladan.  Itulah suatu kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang di atas rata-rata, bukan hidup yang biasa-biasa saja, bukan hidup yang terbawa oleh arus dunia.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Glorify God in Your Life (Mempermuliakan Tuhan dalam Hidupmu)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 13:1-27 dengan penekanan pada ayat 16-a. Sahabat, salah salah tugas manusia sebagai ciptaan TUHAN adalah memuliakan TUHAN. Hal itu ditegaskan Yeremia dalam ayat 16-a. Jika kita tidak mempermuliakan-Nya, maka TUHAN akan membuat hari menjadi gelap. Artinya, jalan hidup kita akan mengalami kekacauan, tidak terarah bahkan tidak bisa melangkah. Karenanya, mempermuliakan TUHAN merupakan tugas dan kewajiban kita agar perjalanan kita diterangi-Nya.

    Sahabat, Allah menegaskan bahwa salah satu dosa utama umat-Nya adalah kecongkakan dan kesombongan (ayat 9, 15, 17). Kecenderungan mencari kehormatan dan kemuliaan diri sendiri membuat mereka meninggalkan Allah, enggan mendengar dan menaati Allah, serta merasa mampu mengatur diri sendiri. Mereka tidak sadar bahwa mereka diciptakan dan dibentuk sebagai umat Allah untuk memuliakan Allah (ayat 16).

    Yeremia menjelaskan bahwa kehendak TUHAN yang harus kita lakukan adalah agar kita mempermuliakan TUHAN selama masih ada kesempatan atau waktu. Kapankah waktu yang kita miliki? Kita hidup di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Masa lalu sudah lewat atau lepas dari tangan kita, kita tidak bisa kembali ke masa lalu meski pun keadaan kita sekarang adalah akibat masa lalu kita. Masa yang akan datang belum menjadi milik kita dan belum tentu bisa kita miliki. Yang kita miliki hanya “sekarang”. Jadi, yang pasti adalah “sekarang” kita bisa mempermuliakan TUHAN atau tidak mempermuliakan TUHAN.  

    Sahabat, selanjutnya melalui drama yang dilakonkan oleh Yeremia, Allah memperlihatkan bahwa umat-Nya hanya dapat memiliki kehormatan dan kemuliaan selama mereka melekat pada Allah, seperti ikat pinggang imam melekat pada pinggang sang imam.

    Akan tetapi, akibat kecongkakan mereka, ikat pinggang itu menjadi lapuk, rusak, dan tak berguna lagi (ayat 1-11). Parahnya, mereka tidak menyadari hal tersebut. Mereka seperti orang mabuk yang saling berbenturan kepala (ayat 12-14). Para pemimpin masih membanggakan kedudukan dan mahkota duniawi mereka (ayat 18), sehingga kehancuran yang sudah mengintip di depan mata pun tidak mereka gubris.

    Sahabat, tempat terindah bagi kita adalah melekat pada pinggang Allah, tempat memperoleh kemuliaan dari Allah. Sayang, masih ada cukup banyak orang percaya yang  beranggapan bahwa kemuliaan dan kehormatan hanya terdapat dalam kekuasaan, ketenaran, dan kekayaan duniawi. Mereka mabuk oleh gemerlap dunia dan enggan untuk sungguh-sungguh mendengar dan menaati Allah. Drama ikat pinggang tersebut mengingatkan kita bahwa terlepas dari pinggang Tuhan, kita menjadi ikat pinggang yang lapuk dan tak berguna di hadapan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bac aan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:  “… TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.” (Masmur 3:4). (pg).

  • Unwhole Comprehension

    PEMAHAMAN. Pemahaman berasal dari kata paham yang mempunyai arti mengerti benar, sedangkan pemahaman merupakan proses pembuatan cara memahami.  Menurut Anas Sudijono (2011): Pemahaman (comprehension) adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai sudut.

    Sahabat, apakah Allah pernah berlaku curang? Tentu tidak pernah. Sebagai Allah, pastilah Dia tidak pernah berbuat curang dan bertindak tidak adil. Akan tetapi tetap saja ada orang yang berpikir bahwa Allah berbuat curang dan tidak adil terhadap dirinya.

    Pikiran atau anggapan seperti itu sering muncul pada saat seseorang mengalami penderitaan yang amat panjang. Akibatnya ia frustrasi dan menuding Allah sebagai bertindak tidak adil terhadap dirinya. Hal tersebut terjadi salah satunya karena pemahaman mereka tentang Allah tidak utuh.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Unwhole Comprehension (Pemahaman yang Tidak Utuh)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 34:1 – 35:16. Sahabat, bila ketiga sahabat Ayub yang lain (Elifas, Bildad, dan Zofar) menuduh Ayub secara membabi buta (tidak berdasarkan fakta), Elihu menyerang Ayub berdasarkan perkataan Ayub sebelumnya.

    Elihu  mengkritik Ayub yang beranggapan bahwa Allah salah karena telah berlaku tidak semestinya terhadap dirinya dan bahwa tidak ada gunanya hidup berkenan kepada Allah (34:5-9). Elihu membela keadilan Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak bisa disebut curang karena Dialah yang menopang kehidupan di bumi ini (34:10-15). Allah adalah Pemegang kekuasaan yang tidak memihak siapa pun (34:16-20). Allah itu Mahatahu, sedangkan pengetahuan Ayub amat terbatas (34:21-37).

    Sahabat, sayangnya, Elihu juga membuat tuduhan yang berlebihan, yaitu dia mengatakan bahwa Ayub mencari persekutuan dengan orang-orang yang melakukan kejahatan dan bergaul dengan orang-orang fasik (34:8).

    Sesungguhnya bila Ayub mengeluh karena penderitaan hebat yang dialaminya, tidak perlu Elihu menuduh bahwa keluhan itu merupakan pengaruh pergaulan dengan orang jahat dan orang fasik. Walaupun benar bahwa Ayub berbicara tanpa pengetahuan, dan perkataannya tidak mengandung pengertian (34:35), tidak tepat bila Elihu mengatakan bahwa Ayub menjawab seperti orang-orang jahat (34:36). Perkataan Ayub disebabkan karena PENDERITAAN  yang dialaminya, bukan karena PENGARUH PERGAULAN.  

    Lebih lanjut dalam pasal 35, Elihu mencela Ayub yang membenarkan diri di hadapan Allah. karena sesungguhnya kebaikan atau kejahatan manusia tidak memengaruhi Allah, melainkan justru memengaruhi manusia.

    Dalam Ayub 35:16, Elihu mengatakan bahwa Ayub berbicara tanpa pengertian. Akan tetapi, sebenarnya, memang seluruh diskusi yang terjadi di antara Ayub dengan semua sahabatnya  dilakukan tanpa pemahaman yang utuh! Elihu pun belum memiliki pemahaman yang utuh!

    Sahabat, saat berusaha memahami tentang penderitaan yang dialami manusia, kita harus menyadari bahwa pemahaman kita terbatas. Tidak mungkin kita memahami hikmat Allah secara utuh. Yang harus kita lakukan adalah memercayai bahwa Allah itu baik dan adil walaupun kebaikan dan keadilan Allah itu tidak kita pahami seutuhnya. Saat Sahabat mengalami keadaan yang buruk, apakah masih bisa tetap memercayai Allah? Sesungguhnya saat kita bertemu dengan Tuhan Yesus, barulah semua hal menjadi sangat JELAS, sangat GAMBLANG. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 34:10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan memiliki kedaulatan penuh, ketegasan, dan keadilan. Tetapi, Ia juga mempunyai kebijaksanaan yang tidak terjangkau oleh akal budi manusia. (pg).

  • DESTROYED to be BUILD

    DISIPLIN GEREJA. Disiplin dapat diartikan taat kepada tata tertib atau peraturan. Dengan kata lain disiplin merupakan latihan batin atau otak untuk menaati tata tertib.  Disiplin pada diri sendiri sangat diperlukan untuk membentuk seseorang dalam pertumbuhannya secara emosi, fisik, mental, dan rohani.

    Kata disiplin dalam bahasa Ibrani berasal dari kata “musar” yang dapat diartikan hukuman, koreksi, disiplin dan pengajaran.  Sedangkan kata disiplin dalam bahasa Yunani berasal dari kata “paideia” yang berarti latihan, pengajaran dan disiplin. Kata ini menunjuk kepada pengajaran kepada anak-anak seperti dalam Efesus 6:4. Ini juga dapat membawa implikasi kepada hukuman atau disiplin. 

    Jadi, disiplin gereja dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan untuk memanggil atau membawa kembali mereka yang telah berdosa atau jauh dari Allah untuk kembali kepada-Nya dan menaati Firman-Nya. 

    Sahabat, dalam Perjanjan Lama, banyak kali  kita menjumpai Allah mendisiplin umat pilihannya. Disiplin yang Allah jatuhkan kepada umat pilihan-Nya bukan bermaksud  untuk menghancurkan dan  membinasakan mereka; tapi tujuannya untuk menghancurkan dan membinasakan dosa-dosa mereka, supaya Allah dapat membentuk dan membangun kembali umat yang dikasihi-Nya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “DESTROYED to be BUILT (DIHANCURKAN untuk DIBANGUN)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 12:1-17. Sahabat,  perselingkuhan rohani bangsa Israel dengan Baal membuat Yeremia geram dan muak. Dalam ayat 1-4, kita membaca bagaimana dia mengadu kepada Allah. Yeremia protes, mengapa kehidupan orang-orang fasik bukan bertambah suram, malah bertambah mujur. Semakin jahat perbuatan mereka, semakin berlimpah kekayaan mereka. Karena itu, Yeremia meminta Allah memberikan keadilan kepada bangsa Israel. Dalam ayat 7-13, Allah menjawab Yeremia dengan janji bahwa Allah akan membinasakan bangsa Israel dengan cara membiarkan Israel dijajah oleh bangsa lain.

    Kejahatan Israel sudah tidak dapat ditolerir lagi oleh Allah. Bangsa Israel menyembah Baal, dan itu berarti pemberontakan terhadap Allah. Hati mereka telah menyimpang dari Allah. Penyembahan mereka kepada berhala membuat tanah yang ditempati mereka menjadi ternoda (ayat 8-11).

    Allah menyatakan tidak akan ada damai bagi Israel (ayat 12). Mereka akan mengalami kesusahan hidup. Segala usaha yang dilakukan oleh mereka akan sia-sia. Apa yang mereka tanam hanya menghasilkan penderitaan (ayat 13). Namun di balik DISIPLIN yang dijatuhkan-Nya, Allah menjanjikan pemulihan terhadap bangsa Israel. Dalam ayat 14-17, jelas terlihat bahwa Allah bukan hanya akan memulihkan status Israel sebagai bangsa, tetapi juga memberkati mereka dengan berlimpah secara jasmani. Seperti tukang menghancurkan  bangunan yang  lama  sebelum  mendirikan bangunan yang baru, demikian Allah menghancurkan dosa untuk membangun umat-Nya.

    Jelas disini bahwa Disiplin Ilahi bukan berarti Allah tidak memberkati. Disiplin yang sering kita sebut sebagai penghukuman bukan karena Dia ingin membinasakan kita. Ketika Dia menerapkan disiplin,  ingatlah bahwa  Allah tidak sedang menghancurkan kita, melainkan dosa-dosa kita. Allah adalah Sang Panjunan, Dia ingin membentuk dan membangun  kita kembali menjadi bejana anugerah-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat ini, bagian terbaik yang dapat kita lakukan adalah percaya penuh kepada Tuhan yang sanggup menyelamatkan kita sesuai dengan janji-Nya.  (pg).

  • The Young and Wise Ones

    ORANG BERUSIA LANJUT. Pengalaman hidup kami bercerita bahwa menjadi orang yang berusia lanjut kerap dirujuk sebagai teladan dan panutan oleh generasi muda. Anak-anak muda sebagai generasi penerus memerlukan sosok orang tua yang mengerti, menyelami dunia dan pergulatan mereka pada Zaman Now. Dengan demikian, para orang tua perlu membangun keterbukaan wawasan dan pemikiran bahwa dari anak-anak muda pun Tuhan bisa mengajarkan banyak hal kepada para orang tua. Sebab, hikmat Tuhanlah yang menentukan kematangan kita. Sesungguhnya Tuhanlah yang menjadi sumber hikmat kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “The Young and Wise Ones (Yang Muda dan Bijaksana)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 32:1 – 33:33. Sahabat, di Ayub 32 – Ayub 37 kita akan bertemu dengan KATA-KATA ELIHU. LAI memberi judul Ayub 32: Elihu merasa juga berhak untuk mengemukakan pendapat. Sedangkan untuk Ayub 33, LAI memberi judul: Allah berfirman kepada manusia dengan berbagai-bagai cara.

    Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabatnya, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan (32:2-3).

    Sahabat, Elihu berpegang pada pendapat umum yang menganggap bahwa seseorang yang berumur lanjut pasti berhikmat dan tidak demikian halnya dengan orang muda (32:6). Pandangan ini lazim karena orang yang lanjut umur diyakini memiliki banyak pengalaman karena dianggap sudah makan asam garam kehidupan.

    Sahabat, sebagai pembicara terakhir, Elihu tampil berbeda dengan ketiga sahabat lainnya (32:6). Setelah menyimak semua ucapan yang telah disampaikan, ia menilai ucapan ketiga sahabatnya sia-sia karena hikmat mereka sama sekali tak menjawab atau meringankan penderitaan Ayub (32:10-13). 

    Meskipun geram karena ucapan-ucapan yang tidak bijak itu, ia menahan diri sampai tiba gilirannya untuk berbicara (32:16-20). Ia mengakui bahwa tak ada manusia yang dapat mengalahkan hikmat Allah (32:8-9, 13). Elihu bersikap netral, tidak memihak siapa pun (32:21-22).

    Ketika berbicara kepada Ayub, Elihu bersikap bersahabat karena ia siap mendengarkan pembelaan Ayub jika memang perkataannya tidak benar (33:1-7). Hal pertama yang Elihu katakan adalah bahwa ia sudah melihat penderitaan Ayub dan mendengar pembelaannya sebagai orang yang suci dan bersih.

    Namun, ia menegur sikap Ayub yang secara lancang berbantah dengan Allah dan menuduh Allah tidak menjawab ketidakpahaman atas penderitaannya (33:8-13). Menurut Elihu, Allah mungkin sudah menjawab melalui mimpi dan penglihatan saat Ayub tertidur (33:12-18) atau Allah berbicara melalui penderitaan yang sedang dialami Ayub dengan tujuan menyelamatkan kehidupannya (33:19-30). Oleh sebab itu, Elihu meminta Ayub sungguh-sungguh mendengarkannya (33:31-33).

    Sahabat, Elihu dikatakan bijak karena ia menjaga ucapannya agar tidak melanggar kebenaran Allah dan melukai perasaan sesama. Dari teladan Elihu, kita dapat memperbaiki diri melalui dua pertanyaan refleksi berikut: Apakah ucapan saya sesuai dengan kebenaran Allah? Apakah yang saya ucapkan membawa manfaat bagi sesama atau justru melukai perasaan mereka? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut  ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 32:21-22?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Makin bertambah usia, makin berhikmat dalam memberi nasihat dan juga menerima nasihat. (pg).

  • Listen to My Word and Do It!

    PERJANJIAN. Dua pihak yang bersepakat dalam suatu perjanjian tentu sama-sama beranggapan bahwa keduanya akan punya tekad memegang teguh perjanjian tersebut. Biasanya, bila salah satu pihak melanggar perjanjian, maka akan ada sanksi yang dikenakan bagi pihak yang melanggar.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Listen to My Word and Do It! (Dengarkanlah Suara-Ku dan Lakukanlah!)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 11:1-17 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, Tuhan telah menjalin perjanjian dengan bangsa Israel ketika Ia akan membebaskan mereka dari Mesir, negeri yang membelenggu mereka dengan perbudakan bertahun-tahun lamanya (ayat 4-5).

    Perkataan perjanjian yang tertulis di sini (ayat 6) berkaitan dengan kitab perjanjian yang ditemukan di rumah Tuhan dalam masa pemerintahan Yosia (2 Raja-Raja 23:2). Di sini Yeremia disuruh Allah untuk menyerukan perintah-perintah dari kitab itu berulang-ulang. Nasib bangsa itu bergantung pada ketaatan mereka kepada perjanjian Allah. Berulang kali Nabi Yeremia menyerukan “Dengarlah perkataan-perkataan perjanjian ini!” dan “Dengarlah suara-Ku!” Sesuai titah Raja Yosia, segenap rakyat harus mendengarkan perkataan perjanjian itu. Namun, sesungguhnya hati mereka jauh dari Allah. Mereka mendengar, tetapi tidak taat, tidak melakukan.

    Sahabat, ternyata bangsa Israel justru diam-diam beribadah kepada allah-allah lain, seperti yang dilakukan nenek moyang mereka dahulu. Itu berarti, pelanggaran terhadap Hukum Taurat yang pertama, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” (Keluaran 20:3). Berulang kali, dari generasi ke generasi, umat Allah melakukan hal itu meski sudah berulang kali pula diperingatkan. Faktanya, allah-allah yang disembah oleh umat pada waktu itu sama banyak dengan jumlah kota-kota di Yehuda (ayat 13).

    Sangat memprihatinkan, mereka menyembunyikan dosa tersebut dari raja dan nabi. Namun, Allah mengetahui perbuatan mereka (ayat 9-10). Allah memperingatkan tentang malapetaka hebat yang akan Dia datangkan bagi bangsa itu. Begitu hebat malapetaka itu sehingga diibaratkan pohon zaitun yang terbakar dalam badai (ayat 16).

    Ada ironi penghukuman Allah. Oleh karena mereka tidak mendengarkan suara-Nya, maka nanti ketika hukuman dijatuhkan, Dia tidak akan mendengarkan doa mereka. Bahkan, Yeremia pun dilarang mendoakan bangsa itu (ayat 14). Berdoa agar orang lain diampuni Allah hanya efektif bila orang itu sendiri berdoa.

    Sahabat, Tuhan memang panjang sabar, tetapi bukan berarti bahwa Dia tidak bisa marah bila umat terus menerus berdosa. Bila kita melanggar ketetapan-Nya, maka Tuhan akan menerapkan keadilan-Nya, yang bersalah harus dihukum. Sebelum Tuhan murka dan menjatuhkan hukuman, kita harus berbalik dari segala sesuatu yang jahat, yang terus menerus kita lakukan. Jangan sampai, doa-doa orang agar kita bertobat, tidak lagi didengarkan Tuhan karena kedegilan kita.

    Tuntutan Allah kepada umat-Nya: “Dengarkanlah suara-Ku!” Mendengar berarti taat. Kita belajar taat dengan melakukan perintah-perintah Allah yang tertulis dalam Alkitab. Dalam momen-momen khusus, kita juga belajar taat kepada Roh Kudus yang berbicara dalam hati kita, yang berbisik lembut di hati kita.

    Anugerah Allah adalah bila kita dapat mengetahui apa yang dikehendaki-Nya. Mari kita tanggapi dengan menaati perintah-Nya! Anugerah Allah memampukan kita untuk MENDENGAR  dan MELAKUKAN  segala kehendak-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Selama masih ada kesempatan kita pergunakan untuk menunjukkan buah-buah pertobatan kita dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan dalam hidup kita. (pg).

  • FEAR to GOD and Stay Away from Evil

    HIKMAT DAN AKAL BUDI. Percakapan  Ayub dengan Elifas, Bildad, dan Zofar telah berakhir di Ayub 27. Di Ayub 28, Ayub membicarakan tentang  bagaimana kita bisa memperoleh hikmat dan akal budi atau pengertian (ayat 12, 20). Hikmat dan akal budi merupakan kunci untuk menghadapi masalah penderitaan.

    Hikmat dan akal budi berbeda dengan barang. Kita bisa mencari tempat yang tepat untuk bisa memperoleh emas, perak, atau batu permata, tetapi kita tidak bisa menemukan tempat tertentu yang menjual hikmat dan akal budi. Hikmat dan akal budi hanya dimiliki oleh orang yang hidup dalam takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

    Ayub merupakan seorang yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayub 1:1). Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang selalu berusaha melakukan kehendak Tuhan karena dia tidak mau menyakiti hati Tuhan. Karena kehendak Tuhan selalu baik, maka orang yang memiliki hikmat pastilah menjauhi kejahatan. Penerapan hikmat dan akal budi ini nampak jelas dalam pengalaman hidup Ayub yang diuraikan dalam Ayub 29. Oleh karena itu, wajar bila Ayub merasa kesal saat ketiga orang sahabatnya menuduh Ayub sebagai seorang fasik yang dihukum Allah karena melakukan kejahatan.

    Maka hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “FEAR to GOD and Stay Away from Evil (TAKUT akan TUHAN dan Menjauhi Kejahatan)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 28:1 – 29:25. Sahabat, pasal 28 berbicara tentang kemustahilan hikmat ditemukan (ayat 12-14, 20-27) dan betapa berharganya hikmat (ayat 15-19). Dengan kata lain, walaupun hikmat nampaknya sulit ditemukan, sudah selayaknya segala daya upaya dikerahkan untuk menemukan hikmat tersebut.

    Apakah hikmat? Segenap pemahaman kita terhadap pergumulan Ayub nampaknya ditumpukan pada ayat 28. Pada akhirnya, apa yang kita cari dalam kehidupan kita? Apa yang menjadi kompas dalam hidup kita? Ada orang yang mencari kesuksesan, kekayaan, dan ketenaran. Sepanjang pergumulannya, Ayub berdebat dengan sahabat-sahabatnya tentang hal tersebut. Kini kita menjumpai bahwa yang terpenting adalah TAKUT AKAN TUHAN  dan MENJAUHI KEJAHATAN. Itulah pangkal segala kekayaan yang tak ternilai dalam hidup.

    Sahabat, orang fasik bisa sukses, kaya, dan tenar. Orang benar pun bisa sukses, kaya, dan tenar. Tetapi orang benar juga bisa mengalami kegagalan dalam hidup, tetap miskin dan tidak pernah menjadi siapa-siapa. Artinya, itu semua bukanlah UKURAN  yang bisa dijadikan PEGANGAN. Kita dipanggil untuk tetap menjadi orang benar karena UKURAN KEHIDUPAN  adalah takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.

    Dalam pasal 29, Ayub sendiri mengenang masa lalunya yang penuh kesuksesan, kekayaan, ketenaran, dan kehormatan. Tak ada satu pun yang perlu diimpikannya sebab ia tidak berkekurangan dalam segala sesuatu yang pernah diimpikan orang. Namun, semua itu bisa lenyap dalam  sekejap, dan bagi Ayub hal itu sudah berlalu.

    Apa yang Sahabat  CARI DALAM HIDUP INI? Keberhasilan pada masa muda bisa berlalu dan pencarian seumur hidup pada akhirnya bisa tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi pencarian HIKMAT  yang SEJATI tidak akan sia-sia. Karena dalam mencari hikmat kita BERTEMU dengan TUHAN. Dialah yang menuntun hidup kita, dan menjadi petunjuk dan teman bagi kita dalam menghadapi segala KETIDAKPASTIAN HIDUP. Kita tidak pernah tahu apa yang ada di hadapan kita, tetapi bersama Tuhan semuanya akan baik-baik saja. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari bacaan kita pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 28:18-19?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Merenungkan firman Tuhan setiap hari adalah kunci memperoleh hikmat! (pg).

  • A Wide-Open Life Before God

    TERHEMPAS DARI PUNCAK KEJAYAAN. Itulah gambaran orang-orang yang tiba-tiba mengalami perubahan drastis. Sahabat,  keadaan Ayub yang terpuruk dalam Ayub 30 amat kontras dengan keadaan masa jaya yang diuraikan dalam Ayub 29. Sebelumnya, Ayub adalah seorang yang memiliki keluarga harmonis, kaya, dan amat terhormat (pasal 29). Akan tetapi, malapetaka membuat dia kehilangan segala-galanya. Dari keadaan amat terhormat, dia menjadi orang yang hina: Miskin, diremehkan, dan ditertawakan.

    Ayub merasa ditinggalkan, bukan hanya oleh orang-orang yang sebelumnya mengelu-elukan dia, tetapi juga oleh Allah. Bisa dikatakan bahwa malapetaka yang menimpa Ayub membuat dia terhempas dari puncak kejayaan ke keadaan yang paling rendah.

    Hari kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik:  “A Wide-Open Life Before God (Hidup Terbuka di Hadapan Tuhan)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 30:1 – 31:40. Sahabat, Ayub memaparkan ulang pelbagai kesusahan yang dialaminya. Ia tak ragu menyebut Tuhan berperan di dalamnya (30:20-23). Mungkin tuduhan yang begitu gamblang terasa mencengangkan, tetapi ini menggambarkan besarnya iman Ayub.

    Ada orang yang memakai topeng di hadapan Tuhan. Walau hidupnya tidak baik, tetapi dalam doanya selalu merayu dan bermanis-manis seolah-olah Tuhan bisa ditipu dengan topeng dan kata-kata manisnya. Tuhan seperti apa yang bisa ditipu demikian rupa? Gamblangnya doa Ayub menggambarkan kematangan imannya. Ayub berani hidup terbuka di hadapan Tuhan.

    Sedangkan dalam pasal 31 Ayub dengan jelas membela dirinya terhadap berbagai macam kejahatan, yang mungkin dituduhkan orang kepadanya. Itu merupakan satu hal yang sangat mungkin terjadi, mengingat pesan dan nasihat terakhir Elifas dalam pasal 22 yang secara mengejutkan berisi berbagai macam perbuatan jahat Ayub.

    Satu demi satu, Ayub menguraikan segala tudingan negatif yang ditujukan kepadanya untuk membersihkan nama baiknya. Itu menunjukkan bahwa Ayub bukan saja bertindak baik, tetapi ia bertindak melebihi standar kebaikan yang dituntut oleh masyarakat, yaitu: Menjaga hatinya tetap bersih, mempedulikan anak yatim dan janda, beriman hanya kepada Tuhan walau dia memiliki kekayaan yang bisa jadi andalannya, dan lain sebagainya.

    Sahabat, pengalaman Ayub mengajarkan bahwa BANYAK HAL  dalam hidup ini yang DAPAT BERUBAH  dengan CEPAT: Kesehatan, kekayaan, teman-teman, orang-orang di sekitar. Hanya Allah yang tidak berubah. Ia setia dan dapat menjadi sandaran dalam segala keadaan, baik saat bahagia maupun saat menderita. Oleh sebab itu, sandarkanlah kehidupanmu kepada Allah, bukan kepada hal-hal yang mudah berubah. 

    Selain itu, orang baik pun ternyata bisa menderita. Yang paling  ekstrem kita bisa menjumpai di dalam kehidupan Tuhan Yesus yang disiksa dan mati disalib untuk menebus dosa kita. Sesungguhnya apa yang tampak di  mata  TIDAK BISA MENJADI UKURAN MUTLAK  atas iman dan kualitas hidup seseorang. Yang terpenting kita BERANI HIDUP TERBUKA di hadapan Tuhan. Kita  MENJAGA HATI TETAP MURNI  di hadapan Tuhan, walaupun kehidupan tidak sebaik yang kita harapkan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 31:26-27?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). (pg).

  • To Who do you TRUST?

    UMAT PILIHAN. Umat Allah dipanggil secara khusus untuk menjadi umat pilihan. Umat dipanggil untuk berbeda dari bangsa-bangsa lain. Menyembah Allah yang berbeda dari sesembahan bangsa-bangsa lain. Memiliki cara hidup yang berbeda dari cara hidup bangsa-bangsa lain.

    Namun apa yang terjadi? Justru teguran keras disampaikan oleh nabi Yeremia kepada bangsa Yehuda , karena mereka telah menyimpang dari jalan-jalan Tuhan, bahkan melakukan kekejian di mata Tuhan. Mereka tidak lagi berbakti kepada Allah yang hidup tetapi justru menyembah berhala. Bangsa Yehuda lebih memilih berhala daripada Allah; ini merupakan pelecehan terhadap kekudusan bait-Nya dan penolakan terhadap kuasa Allah.

    Bangsa Yehuda tidak menyadari bahwa pilihan hidup yang salah tersebut berakibat sangat fatal; bukan saja mereka menjadi bangsa yang ditolak dan dibuang oleh Allah, mereka juga mengalami bencana yang mengerikan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “To Who do you TRUST? (Kepada Siapa Kamu PERCAYA?)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 10:1-16 dengan penekanan pada ayat 12-13. Sahabat, dalam hidup ini, siapakah yang kita andalkan? Sebagian besar manusia  lebih suka mengandalkan yang kelihatan dan yang seakan memberi bukti-bukti. Oleh karena itu begitu mudahnya orang tertipu dengan iklan, perkataan yang menggiurkan, promo yang wouw,  dan banyak lagi yang lain. Manusia demikian mudah tertipu dengan anggapannya sendiri.

    Maka Allah memperingatkan umat agar tidak mengikuti kebiasaan bangsa lain dalam mencari fenomena benda-benda angkasa untuk mengetahui kehendak dewa-dewa mengenai masa depan mereka (ayat 1-2). Lalu abnormalitas di langit dipandang sebagai tanda dari surga. Jika itu menandakan bahwa masa depan mereka akan buruk, maka suatu ritual tertentu harus dilakukan untuk menangkal yang buruk itu.

    Allah menyatakan bahwa penyembahan kepada patung berhala merupakan suatu pikiran yang tidak rasional, karena patung berhala tidak memiliki sifat Ilahi. Patung berhala hanyalah kayu belaka (ayat 3) yang kemudian diperindah oleh tangan manusia (ayat 4). Lalu kuasa apa yang terdapat pada patung seperti itu? Patung seperti itu tidak lebih dari orang-orangan sawah yang hanya bisa menakut-nakuti burung. Maka sungguh menggelikan bila orang menyembah sesuatu yang tidak bisa memberikan perintah, nasihat, penghiburan, atau pertolongan kepada orang-orang yang menyembah dia. Seharusnya orang-orang yang menyembah patung menjadi malu.

    Jadi, tidak mungkin membandingkan patung-patung berhala itu dengan Allah. Patung berhala hanya buatan manusia, yang suatu saat akan hancur. Namun Allah adalah Pencipta. Segala sesuatu di kolong langit ini ada karena kuasa-Nya. Hujan, angin badai, dan kilat merupakan kesaksian akan kuasa Allah (ayat 12-13).

    Sahabat, dengan perbandingan yang tak sebanding itu, masihkah kita merasa tidak aman bila menyerahkan masa depan kita ke tangan Allah yang Mahakuasa itu? M
    asihkah terbesit di hati dan pikiran kita: Sebaiknya siapa yang kita percaya dalam hidup kita? Kepada siapa kamu percaya? Yang sudah memberi bukti kasih, penyertaan dan keselamatan? Ataukah kita mau berserah setia kepada illah-illah zaman yang penampilannya menggoda kita untuk kita percaya sekalipun kenyataannya apa yang ditawarkan adalah semu dan kosong? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita: Percayalah kepada Tuhan saja, karena Dia Allah yang hidup dan berkuasa! (pg).

  • RESPECT your PARENTS

    U-HAO. Dalam komunitas orang Tionghoa kita sering mendengar ucapan: U-Hao. U-Hao berasal dari bahasa Hokkian; sedangkan dalam bahasa Mandarin: You Xiao. U-Hao merupakan sebuah konsep yang telah diwariskan dari generasi ke generasi di Tiongkok selama ribuan tahun. Sebagian besar orang Tionghoa setuju bahwa anak-anak harus menunjukkan bakti kepada orang tuanya dan sesepuh (anggota keluarga yang lain), seperti kakek dan nenek.

    Pada zaman dahoeloe, sebagaimana dikutip dari Chinadaily, orang-orang yang tidak memperlakukan orang tuanya dengan baik dipandang rendah oleh masyarakat. Jika seorang pejabat tidak menunjukkan bakti, ia tidak dipromosikan. Jika seorang ilmuwan tidak menunjukkan bakti, ide-idenya tidak disetujui oleh orang lain. Jika pemilik toko tidak menunjukkan bakti, tidak ada yang akan membeli sesuatu dari tokonya. Selain itu  jika seorang perempuan tidak menunjukkan bakti, tidak ada laki-laki yang akan menikahinya. Dalam beberapa dinasti, kurang berbakti terhadap orang tuanya dianggap kejahatan.

    Filsuf Cina Mencius memberi  tiga contoh arti kurang berbakti. Pertama, jika seorang anak tidak memberitahu atau membujuk orang tuanya untuk mengubah hal-hal yang mereka lakukan jika mereka salah. Kedua, jika seorang anak dewasa tidak pergi bekerja untuk membantu orang tuanya yang sudah lanjut usia dan miskin. Ketiga, jika seorang anak yang sudah dewasa tak berminat menikah dan punya keturunan, maka mereka gagal menghormati orang tuanya.Di  Zaman Now, kebanyakan orang Tionghoa masih setuju dengan contoh pertama dan kedua dari Mencius, tetapi tidak setuju dengan contoh yang ketiga.

    Masih dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2574, hari ini saya mengajak Sahabat untuk merenungkan kitab Keluaran dengan topik: “RESPECT  your PARENTS (HORMATILAH ORANG TUAMU)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Keluaran 20:1-17 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, demikian pentingnya menaruh rasa hormat kepada orang tuanya sampai-sampai Tuhan pun menuliskannya dalam Sepuluh Hukum Allah (ayat 12). Tidak hanya itu, juga ada berkat yang Dia sediakan!

    Kalau seorang anak hormat kepada orangtuanya bukan hanya orang tuanya sendiri yang ingin membalas dan memberkati si anak, tetapi Tuhan pun menjadikan diri-Nya jaminan untuk membalas dan memberkati si anak yang tahu menghormati orang tuanya.  Mungkin orang tuanya tidak mampu membalas sendiri perbuatan anak-anaknya, karena keterbatasannya, tetapi Tuhan selalu mampu dan pasti sanggup memberkati, dan berkat itu akan sampai pada anak-anak yang berkenan ini.

    Sahabat, meskipun saat ini kita mungkin tidak lagi secara langsung berada di bawah otoritas mereka, kita tidak bisa lepas dari perintah Allah untuk menghormati orang tua kita. Bahkan Yesus, Anak Allah, tetap menundukkan diri-Nya kepada kedua orang tua-Nya di bumi (Lukas 2:51) dan kepada Bapa Surgawi-Nya (Matius  26:39). Dengan meneladani Kristus, kita harus memperlakukan orang tua kita sama seperti kita menghampiri Bapa Surgawi kita dengan hormat (Maleakhi 1:6 dan Ibrani 12:9)  

    Sangat menarik, perintah menghormati ayah dan ibu ini berbeda dengan perintah lainnya. Dalam 9 perintah yang lain tidak ada janji yang khusus dilekatkan langsung dengan perintah-perintah tersebut. Allah dalam memberikan perintah yang satu ini, menambahkannya dengan sebuah janji yang khusus dan istimewa. Allah berfirman, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu.”

    Allah tidak berhenti saja sampai di situ. Dalam Ulangan 5:16 menyebutkan perintah yang sama, tetapi dengan sebuah tambahan janji yang dilekatkan kepadanya: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu (janji ke-1), dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu (janji ke-2).” 

    Jadi secara istimewa ada 2 hal yang Allah sediakan bagi anak-anak-Nya yang hormat kepada ayah dan ibunya yaitu berumur panjang dan hidup dalam keadaan baik di tempat tinggalnya. Dengan kata lain ada kebahagiaan yang disediakan Allah bagi siapa saja yang menghormati ayah dan ibunya. Haleluya! Tuhan itu baik.Buat Sahabat yang merayakan, Selamat Tahun Baru Imlek 2574. Simpan dalam-dalam di hati: “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.” (Efesus 6:1-3). (pg).

  • This is the DAY the LORD has MADE

    ANGPAO. Mengutip dari Wikipedia, dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa dan Asia  Angpau  (Hanzi atau Pinyin atau Hóngbāo) adalah bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek atau perayaan lainnya. 

    Angpau umumnya muncul pada saat ada pertemuan masyarakat atau keluarga seperti pernikahan, ulang tahun, menempati rumah baru. Selain itu pada hari raya seperti tahun baru Imlek: Memberi bonus kepada pemain barongsai, beramal kepada guru agama (spiritual) atau tempat ibadah, dan sebagainya. Pada pesta pernikahan, pasangan yang menikah biasanya diberi angpau oleh anggota keluarga yang lebih tua dan para undangan. Masyarakat yang masih teguh memegang budaya tradisional juga menggunakan angpau untuk membayar guru dan dokter.

    Angpau melambangkan kegembiraan, semangat, dan sukacita, yang akan membawa keberuntungan.  Warna merah angpau melambangkan ungkapan semoga beruntung dan mengusir energi negatif.

    Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2574, saya mengajak Sahabat untuk belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “This is the DAY the LORD has MADE (Inilah HARI yang DIJADIKAN TUHAN)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Mazmur 118:18-29 dengan penekanan pada ayat 24. Sahabat, Mazmur 118 melukiskan ekspresi sukacita dan ungkapan syukur Pemazmur karena kemenangan dan kelepasan yang Allah berikan kepadanya. Selanjutnya, mazmur ini berubah dari nyanyian pribadi menjadi nyanyian umat dalam arak-arakan menuju ke kota Yerusalem, tempat Bait Allah berada, sebuah tempat dengan pintu gerbang kebenaran. Masuk ke sana hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang benar, yang hidup menurut Taurat Tuhan (ayat 19-20).

    Sesungguhnya setiap hari adalah hari yang dijadikan TUHAN. Karenanya kita patut bersorak-sorak dan bersukacita karenanya. Tidak ada alasan untuk tidak bersorak-sorak setiap hari untuk TUHAN. Bagaimanapun keadaan kita,  baik suka maupun duka, kita harus bersorak-sorak dan bersukacita karena perbuatan TUHAN. 

    Sahabat, pastilah pengalaman kita berbeda-beda dari hari ke hari. Bagi sebagian orang meyakini bahwa ada hari yang baik dan ada pula hari yang tidak baik;  ada hari yang membawa keberuntungan dan ada hari yang membawa sial;  ada bulan baik dan juga bulan yang kurang baik, karenanya banyak orang merasa perlu berhati-hati dalam memilih hari, tidak sembarangan. 

    Pemaham itu kurang tepat. Mengapa? Karena setiap hari TUHAN ciptakan baik adanya. Tidak ada hari yang baik dan jahat. Kita harus memahami bahwa setiap kesempatan atau hari baru adalah anugerah dari Tuhan untuk kita pergunakan, jalani dan nikmati sebaik mungkin. 

    Semua HARI  adalah SAMA, yang membedakan adalah SIKAP HATI  dan PIKIRAN kita.  Apa yang sedang berkecamuk di dalam hati dan pikiran kita akan mewarnai  hari-hari yang akan kita lalui.  Bila kita memulai hari dengan perasaan senang dan bersyukur, hari yang kita jalani pun akan cerah, ceria, penuh dengan warna dan cerita.  Sebaliknya jika kita mengawali hari dengan kemarahan, persungutan, putus asa dan kekecewaan, maka sepanjang hari  akan berubah menjadi hari yang KELABU bahkan bisa menjadi gelap gulita.

    Sahabat, KUNCI untuk menikmati HARI BAIK  adalah MENGANDALKAN TUHAN setiap hari.  Bergaul karib dengan Tuhan setiap hari akan menjaga hati dan pikiran kita sehingga kita mampu melihat dan menyikapi segala sesuatu secara positif.  Sikap inilah yang membuat hari-hari kita menjadi baik sehingga hati kita pun akan melimpah dengan ucapan syukur. 

    Karena itu marilah kita semakin  meyakini bahwa SETIAP HARI  adalah HARI YANG DIJADIKAN TUHAN,  jam demi jam adalah milik-Nya; surga bersukacita, bumi pun bersukacita; Sahabat dan saya juga BERSUKACITA. Terpujilah Tuhan! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Bagi semua Sahabat yang merayakan, saya dan istri menyampaikan: Selamat Tahun Baru Imlek 2574. Semoga Tuhan menganugerahkan kesehatan bagi kita, sehingga kita dapat lebih menikmati “MUSIM SEMI” yang disediakan Tuhan bagi kita. (pg),