Category: Sejenak Merenung

  • FEAR of GOD is the KEY of BLESSINGS

    TAKUT AKAN TUHAN. Takut yang bagaimana?  Takut akan Tuhan merupakan unsur penting dalam kehidupan orang percaya.  Ada banyak di antara kita yang takut akan banyak hal, seperti takut akan Kecoak, takut akan ketinggian, takut akan keramaian dan sebagainya.  Takut akan Tuhan bukanlah seperti itu.  Pengertian takut akan Tuhan menjadi jelas jika kita mengerti siapa dan seperti apa Tuhan itu.

    Takut akan Tuhan berbicara tentang kekuatan, kebesaran, otoritas dan kekudusan Tuhan.  Takut akan Tuhan di sini merupakan wujud rasa takut dalam arti positif.  Artinya kita menghormati Dia karena kebesaran-Nya, kekudusan-Nya, keadilan-Nya dan juga kebenaran-Nya. 


    Takut akan Tuhan merupakan ketetapan hati dan pikiran orang percaya yang tidak mau mengecewakan Tuhan melalui pikiran, ucapan dan tindakannya sebagai ekspresi kasih kepada-Nya.  Jadi orang yang takut akan Tuhan akan berusaha untuk hidup seturut firman-Nya, menjauhkan diri dari segala bentuk dosa dengan kerelaan hatinya sendiri, bukan karena terpaksa atau karena dorongan dari orang lain. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “FEAR of GOD is the KEY of BLESSINGS (TAKUT AKAN TUHAN KUNCI MENUAI BERKAT)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 5:20-31 dengan penekanan pada ayat 24. Sahabat, ungkapan “takut akan Tuhan” menjadi salah satu ungkapan yang paling banyak disebut, diajarkan, ditulis, dan dikhotbahkan di kalangan orang percaya. Topik yang sama juga banyak disebut dalam Alkitab sejak Perjanjian Lama karena Allah menginginkan setiap manusia, tidak hanya umat-Nya, menjalani kehidupan ini dengan takut akan Dia.

    Wujud sikap takut akan Tuhan adalah taat melakukan kehendak-Nya, sebagaimana Kristus telah memberikan teladan bagaimana Ia taat melakukan kehendak Bapa, bahkan taat sampai mati di kayu salib.  Karena itu kita wajib mengikuti jejak-Nya yaitu hidup dalam KETAATAN.  Kekristenan tanpa memiliki rasa takut akan Tuhan adalah sia-sia! 

    Hidup takut akan Tuhan adalah hidup yang penuh hormat kepada Tuhan, yang ditandai dengan rasa takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan, sehingga dengan penuh komitmen kita mengasihi Tuhan dan menempatkan Dia sebagai yang terutama dan utama dalam hidup ini.

    Sahabat, secara sepihak kita seringkali menuntut Tuhan untuk memberkati atau menggenapi janji-janji-Nya, tetapi kita sendiri tidak mau membayar harganya.  Adakalanya Tuhan mengizinkan masalah terjadi dalam hidup kita sebagai bagian dari proses pendewasaan iman, namun tidak sedikit masalah harus kita alami sebagai akibat dari ketidaksungguhan kita dalam mengikut Tuhan atau kita tidak takut akan Tuhan. 

    Padahal takut akan Tuhan adalah kunci utama untuk kita mengalami BERKAT-BERKAT  Tuhan.  Tuhan pasti akan mengerjakan bagian-Nya yaitu memberkati kita, asalkan kita juga mengerjakan bagian kita yaitu takut akan Dia (Mazmur 112:1-3). 

    Sahabat, kesadaran  akan hal tersebut membuat seseorang berhati-hati menjalani hidupnya, karena suatu saat nanti, ia juga akan berdiri di hadapan Sang Hakim yang menilai segenap hidupnya. Penghakiman ilahi yang menakutkan bagi orang berdosa, tetapi menentramkan hati bagi mereka yang telah dibenarkan melalui karya salib Kristus. Kiranya kita dimampukan untuk menjalani hidup ini dengan kadar takut akan Allah yang semakin tinggi. Haleluya. Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sudahkah kita menjadikan takut akan Tuhan sebagai bagian dari kehidupan kita sehari- hari yang kita hidupi? (pg).

  • COMFORTING not INSULTING

    PENGHIBUR. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan, karena kami mempunyai tetangga yang lebih senior daripada kami, seorang Ibu janda, umurnya sekitar 84 tahun. Dia mempunyai kepekaan yang luar biasa terhadap kebutuhan sesamanya. Dalam hidupnya dia berprinsip: “Kalau bisa menjadi PENOLONG bagi mereka  yang sedang membutuhkan, minimal dia tidak mendatangkan kesusahan bagi sesama.”

    Dia mengajak kami untuk menjadi PENGHIBUR dengan cara menjadi pendamping dan pendoa bagi tetangga dan teman-teman yang sedang sakit, sedang berduka,  dan atau sedang menghadapi masalah yang cukup pelik.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “COMFORTING not INSULTING (MENGHIBUR bukan MENGHINA)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 21:1-34. Sahabat, bacaan kita pada hari ini oleh LAI diberi judul: Pendapat Ayub, bahwa kemujuran orang fasik kelihatannya tahan lama. Ayub 21 merupakan tanggapan Ayub terhadap pendapat Zofar dalam Ayub 20.

    Kekesalan Ayub terhadap pendapat Zofar dalam pasal 20 terlihat dari jawaban Ayub: “Dengarkan apa yang akan kukatakan; hanya itu yang kuminta sebagai penghiburan. Izinkanlah aku ganti bicara, setelah itu boleh lagi kamu menghina!” (ayat 1-3 – BIS). Jelas bahwa Ayub memandang nasihat Zofar dan kawan-kawannya, yang menganggap Ayub sebagai orang fasik, sebagai penghinaan.

    Dalam jawabannya, Ayub juga menguraikan tentang orang fasik, tetapi dari sisi lain, yaitu bahwa ada orang fasik yang sukses dan bahagia (ayat 7-13). Itu merupakan bukti  bahwa seseorang tergolong sebagai orang fasik atau bukan tidak terletak pada kesuksesan atau kegagalannya, melainkan pada sikapnya terhadap Allah. Orang fasik adalah orang yang mengabaikan Allah karena mereka tidak merasa memerlukan Allah, dan Ayub dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak demikian! (ayat 14-16).

    Sahabat, bila perkataan Ayub tentang orang fasik dibandingkan dengan pendapat teman-temannya, jelas bahwa Ayub lebih faktual. Ayub tidak sekadar menentang pendapat teman-temannya karena Ayub juga mengakui kemungkinan bahwa orang  orang fasik bisa langsung mendapat hukuman Tuhan (ayat 17-21).

    Ayub mengemukakan bahwa ada orang fasik yang mati dalam keadaan bahagia, tetapi ada pula orang fasik yang mati dalam keadaan menderita (ayat 23-24). Karena pendapat teman-teman Ayub tidak sesuai dengan kenyataan dan menimbulkan kesan dipaksakan agar bisa dipakai untuk menyerang, maka nasihat teman-teman Ayub itu tidak menghasilkan penghiburan (ayat 34).

    Sahabat, jika ingin menjadi berkat, sebaiknya jangan memaksakan pendapat kita tanpa mempertimbangkan fakta. Jangan menempatkan diri kita dalam posisi lebih tinggi daripada orang yang hendak kita hibur. Kita harus memberi nasihat dalam posisi sebagai seorang pendamping dan sahabat.

    Kita perlu berupaya maksimal  memberikan telinga kita untuk mendengar keluhan
    mereka. Kita perlu dengan rela menyediakan bahu tempat menangis dan tangan untuk memeluk mereka. Di tengah kompleksitas hidup, Tuhan memanggil kita untuk MENGHIBUR bukan MENGHINA. Biarlah kehadiran kita menjadi saluran anugerah dan penghiburan Tuhan bagi orang-orang di sekitar kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sebagai orang yang dibenarkan oleh karya Kristus, mari kita tetap dan terus menjaga iman percaya kita kepada Tuhan. (pg).

  • REPENTANCE INVITATION

    MURTAD. Pendapat sebagian besar orang, murtad berarti: Berganti kepercayaan; berpindah dari satu agama ke agama yang lain. Dalam pandangan teologi umum, murtad juga diartikan sebagai melepas iman Kristen demi suatu nafsu, hasrat, kepuasan, ambisi, dan kekuasaan duniawi yang diasumsikan tidak setia mengikut Yesus Kristus.

    Ada beberapa latar belakang yang membuat orang menjadi murtad:  Pertama:  Pacar atau pasangan hidup atau jodoh.  Ada orang memilih menyangkal iman dan meninggalkan Kristus demi pacar yang dicintainya.  Demi mendapatkan jodoh atau pasangan hidup mereka rela mengorbankan keselamatan.  Mereka menempatkan cinta melebihi kasihnya kepada Tuhan. 

    Kedua: Karir.  Tidak sedikit orang di Indonesia berpikir bahwa iman kepada Kristus menjadi faktor penghambat untuk meningkatkan karirnya atau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan promosi di perusahaannya.  Itulah sebabnya mereka lebih memilih untuk meninggalkan Kristus supaya karirnya makin menanjak.  Karena takut tak laku lagi, takut ditinggalkan penggemar, dan takut tak memperoleh job, ada artis-artis yang dengan sengaja meninggalkan Kristus  agar tetap dapat berkarya di jagat hiburan.

    Biasanya mereka kurang nyaman bahkan marah kalau dikatakan murtad. Mereka lebih senang kalau dikatakan menjadi mualaf. Selama kita masih hidup, kesempatan untuk bertobat selalu terbuka. Sesungguhnya ada undangan dari Tuhan agar mereka bertobat. Undangan pertobatan. Repentance invitation.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “REPENTANCE  INVITATION”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 3:6 – 4:4 dengan penekanan pada Yeremia 3:12-13. Sahabat, dapat kita bayangkan sebuah relasi yang intim antara Allah sebagai Bapa dan kita sebagai anak-anak-Nya. Sayang, manusia seringkali memosisikan dirinya sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih, bahkan berpaling dari Sang Bapa. Lantas, bagaimana sikap Sang Bapa menanggapi pemberontakan anak-anak-Nya?

    Melalui nubuatan Nabi Yeremia kita melihat kegeraman Allah atas ketidaksetiaan manusia. Ketidaksetiaan itu digambarkan layaknya istri yang tidak setia atau anak yang memberontak. Konsekuensi atas perbuatan tersebut adalah penghukuman Allah. Namun, di balik itu semua ada kemurahan hati Allah yang membangkitkan kehidupan.

    Sahabat, Allah menampilkan kemurahan hati-Nya. Dia menyampaikan kerinduan-Nya agar anak-anak-Nya kembali setia. Allah memanggil umat Israel dengan panggilan anak-anak murtad, istilah murtad merujuk kepada seseorang yang berbelok arah dari jalan yang seharusnya (ayat 14). Mereka akan dikembalikan ke Sion untuk membangun kembali kehidupan di tanah yang telah dijanjikan Allah. Artinya, Allah menjanjikan pemulihan asalkan mereka bersedia bertobat dan kembali kepada-Nya.

    Proses pertobatan membutuhkan kerja keras dan komitmen. Allah menginginkan umat Israel sungguh-sungguh serius meninggalkan cara hidup mereka yang lama. Bukit-bukit pengurbanan tempat mereka menyembah Baal adalah kesia-siaan. Hanya Allah sumber keselamatan, bukan yang lain. Dalam Tuhan ada pembaruan kehidupan. Hidup baru mendatangkan berkat bagi orang di sekitar kita.

    Sahabat, undangan pembaruan kehidupan dari Allah juga menyapa kita semua. Dia senantiasa mengetuk hati kita masing-masing, bahkan dengan kesabaran yang luar biasa, agar kita kembali kepada-Nya. Bertobatlah dan perbaruilah hidup kita di dalam-Nya! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Yeremia 3:12-13?

    Mari sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan selalu memberikan undangan pertobatan kepada manusia. Namun, apakah manusia bersedia untuk kembali kepada Tuhan dalam pertobatan? (pg).

  • Don’t Judge!

    MENGHAKIMI. Orang yang suka menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain atau menghakimi orang lain, tak menyadari bahwa sesungguhnya ketika ia sedang menunjuk dengan jari telunjuknya, hanya satu jari saja yang tertuju kepada orang lain, sedang empat jari lainnya menunjuk kepada dirinya sendiri. 

    Siapakah kita ini sehingga kita berlaku seperti seorang hakim yang menjatuhkan vonis kepada orang lain?  Sebelum kita menghakimi orang lain, sebaiknya kita memeriksa diri sendiri terlebih dahulu:  Apakah kita ini sudah bersih dari kesalahan?  Apakah kita ini sudah sempurna, tanpa cacat cela?  Tidakkah kita malu pada diri sendiri, bila kesalahan yang kita perbuat ternyata jauh lebih besar daripada orang yang sedang kita hakimi? 

    Sahabat, saat ini orang mudah sekali terprovokasi, mudah menuduh atau menyalahkan orang lain;  terbiasa mencari-cari kelemahan dan kekurangan orang lain;  mudah sekali berkomentar, menghujat, menghina, memojokkan, merendahkan, membuka aib, mengorek-orek masa lalu orang lain dengan komentar atau cuitan-cuitan di media sosial.  Kita seringkali berlaku seolah-olah menjadi orang yang paling benar, paling suci, tiada tandingannya.  Kita bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Don’t Judge! (Jangan Menghakimi!)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 20:1-29. Sahabat, ringkasan ceramah Zofar dalam Ayub 20 dapat kita jumpai pada ayat 5. Pernyataan tersebut ada benarnya dan memang patut diperhatikan oleh setiap orang, agar kita insaf dari dosa-dosa kita.

    Sesungguhnya pernyataannya tersebut mengandung dua masalah serius. Pertama, klaim yang menyederhanakan permasalahan (simplistis). Anggapan umum bahwa kesuksesan orang jahat pasti hanya berlangsung singkat, padahal kenyataannya problema kehidupan tidak sesederhana itu. Kedua, Zofar membalik alur penalarannya: Orang jahat akan jatuh dari kesuksesan dan hidupnya menjadi tidak bahagia, maka orang yang tidak sukses dan tidak bahagia pastilah orang jahat. Ini merupakan kesesatan dalam berpikir.

    Sahabat, dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan akan menghakimi segenap umat manusia, termasuk orang-orang jahat, sebagaimana yang diutarakan oleh Zofar. Tuhan tidak memanggil kita untuk menggantikan Dia menjadi Sang Hakim bagi orang-orang di sekitar kita, siapa yang baik dan siapa yang jahat. Lagipula dengan DASAR APA  kita bisa membuat keputusan tersebut? Ini merupakan penyalahgunaan doktrin yang membuat orang-orang percaya berambisi BERPERAN SEBAGAI ALLAH  untuk MENGHAKIMI orang lain.

    Orang-orang yang berpandangan SIMPLISTIS  tentang konsep SEBAB-AKIBAT, antara DOSA  dan PENDERITAAN, memiliki risiko  menjadi penghalang bagi orang lain untuk mengenal Kristus, yang sudah datang ke dunia dan mati disalib untuk menebus dosa manusia. Saat kehidupan finansial mereka tidak baik, saat dirinya sakit-sakitan serta mengalami kegagalan bisnis dan seterusnya, maka ajaran simplistis tersebut akan menjerumuskan seseorang mempertanyakan jaminan keselamatan Tuhan dalam hidupnya.

    Tatanan dunia, alam semesta maupun masyarakat, sudah ternoda oleh dosa. MASALAH  dan KEGAGALAN adalah KENYATAAN HIDUP. Meski demikian kondisinya, tetap ada penghiburan Allah bagi kita. Lewat kehidupan Ayub, kita melihat bagaimana TUHAN SELALU MENYERTAI  Ayub sampai akhir hidupnya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12-14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita tak luput dari kesalahan dan dosa, karena itu berhentilah menghakimi orang lain. (pg).

  • Digging A Leaking Pond

    BERHALA. Entah kita sadar atau tidak, dunia kini dipenuhi berbagai BERHALA MODERN. Keberadaannya bukan lagi berupa patung berbentuk manusia maupun hewan tetapi lebih kepada hal yang memikat hati kita lebih daripada Tuhan, misalnya: Pekerjaan atau  hobi.

    Sahabat, memang berhala umumnya berbentuk patung-patung yang menyerupai manusia, hewan, atau  bentuk apa pun (benda mati). Dalam Zaman Now,  berhala itu berarti lebih mementingkan sesuatu  daripada mengutamakan Tuhan. Bukan sekadar patung, tetapi sesuatu yang merintangi kita untuk datang pada Tuhan, sesuatu yang menjadi penghalang bagi kita untuk bersekutu dengan Tuhan secara pribadi.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yeremia dengan topik; “Digging A Leaking Pond (Menggali Kolam yang Bocor)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 2:1-19 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, “Air susu dibalas air tuba!” Mungkin peribahasa itulah yang tepat untuk menggambarkan ulah Israel terhadap TUHAN pada zaman Yeremia. Setidaknya, itulah yang tersurat,  “Aku telah membawamu ke tanah yang subur, untuk menikmati buahnya dan segala yang baik dari padanya. Tetapi segera setelah kamu masuk, kamu menajiskan tanah-Ku; tanah milik-Ku telah kamu buat menjadi kekejian.” (Ayat 7).

    Manusia tidak selalu puas dengan apa yang dimilikinya. Begitu pula dengan Israel, mereka melihat berbagai kultus penyembahan terhadap para dewa tampak menarik, lalu mencampuradukkannya dengan peribadahan mereka dan akhirnya menukar kesetiaan terhadap Allah.

    Sahabat, bacaan kita pada hari ini menyoroti hubungan yang tidak lagi mesra antara Tuhan dan umat-Nya. Tuhan mengungkapkan kekecewaan hati-Nya. Betapa mudah umat yang telah dipilih-Nya mendua-hati. Mereka diingatkan akan hubungan kasih yang terjalin dalam peristiwa pembebasan dari Mesir dan pemeliharaan-Nya atas mereka dalam pengembaraan melalui padang gurun yang kering dan tandus (ayat 6). Namun, bagaimana sikap umat-Nya? Bak pepatah yang berbunyi: “Bagai kacang lupa akan kulitnya”, umat bukan berterima kasih atas kemerdekaan dan berkat-berkat-Nya, mereka malah mengkhianati Dia dengan mengikuti para ilah bangsa-bangsa sekitarnya (Ayat 5 dan 7).

    Parahnya, para imam dan nabi sebagai pemimpin umat juga melakukan pengkhianatan sama. Mereka yang mestinya jadi teladan integritas iman kepada Tuhan justru berpaling mengikuti ilah-ilah lain (ayat 8).Kegetiran yang dirasakan oleh Tuhan diungkapkan dengan membandingkan kelakuan umat-Nya dan kelakuan bangsa-bangsa lain: Pernahkah ada bangsa yang mengganti ilah sesembahannya, “… Tetapi umat-Ku menukarkan kemuliaannya dengan apa yang tak berguna” (ayat 11). Tindakan bodoh tersebut diibaratkan dengan MENGGALI KOLAM YANG BOCOR  dan tak dapat menampung air! (ayat 13).

    Sahabat, pada masa kini, boleh saja umat Tuhan mengklaim tidak lagi memuja berhala. Namun, benarkah kita tidak menduakan Dia? Bukankah popularitas, harta, dan kuasa, serta berbagai bentuk “berhala” baru acap kali menggeser kedudukan Tuhan dari hidup banyak manusia sekarang?

    Tanpa kecuali, umat yang sudah ditebus Kristus dan para pemimpinnya pun tidak kebal terhadap godaan tersebut. Betapa menyedihkan bila kita berkompromi dalam iman dan integritas demi tawaran yang kerap menjerumuskan kita pada kekacauan dan   kegalauan. Mari bertobat! Kembalilah bersandar hanya pada Dia! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jauh dari Sumber Air Hidup akan berakibat:   Hiidup kering, gersang, tak mungkin berbuah! (pg).

  • I Know My REDEEMER Alive

    KONSEP SEBAB AKIBAT. LAI memberi judul Ayub 18: Pendapat Bildad, bahwa orang fasik pasti akan binasa. Dalam pasal ini Bildad menyodorkan sebuah gambaran tegas tentang neraka. Bagi Bildad, Ayub hanyalah seorang manusia yang tidak tahu diri, tidak bisa mengendalikan dirinya, dan mengharapkan sebuah dispensasi ilahi untuk tidak tunduk kepada hukum-hukum alam (ayat 4).

    Pada bagian pertama (ayat 1-4), Bildad hendak mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini ada tempatnya. Tempat yang cocok bagi Ayub adalah neraka karena penderitaan yang tengah ia alami. Pada bagian kedua (ayat 5-21) ditemukan satu ide yang diulang berkali-kali, yaitu tempat tinggal (kemah, tempat kediaman). Dengan ide ini, Bildad mengatakan neraka adalah sebuah tempat tinggal yang menjadi tujuan akhir bagi orang-orang fasik. Bildad menggambarkan neraka sebagai sebuah tempat yang gelap (ayat 5-6), penuh masalah dan kesusahan (ayat 7-10), di mana orang tak hentinya mengalami teror dan kesusahan (ayat 11-16), dan hidup akan berujung pada kesia-siaan dan kesepian yang mutlak (17-19).

    Sahabat, di tengah-tengah penderitaannya, Ayub terus mempertahankan posisinya bahwa dia tidak bersalah. Sahabat-sahabatnya berpikir bahwa Ayub tentu telah berdosa sehingga mengalami penderitaan hebat seperti itu, namun Ayub merasakan bahwa dia secara tidak adil ditinggalkan oleh Allah, dan sekarang dia berseru mohon keadilan. Hasrat hatinya adalah agar seseorang mengakui kebenaran dirinya, meski setelah kematiannya sekalipun.

    Dengan suatu seruan iman di tengah-tengah suatu situasi yang kelihatannya absurd, Ayub berkata: “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, …” (Ayub 19:25).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “I Know My REDEEMER Alive (Aku Tahu PENEBUSKU Hidup)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 18:1 – 19:29 dengan penekanan pada ayub 19:25. Sahabat, Balasan Ayub di pasal 19 dimulai dengan permohonan kepada para sahabatnya untuk berhenti menghakimi dan memaksanya bertobat (19:1-4). Ia menjelaskan bahwa penderitaannya bukan karena kesalahannya, namun karena Allah telah berlaku tidak adil terhadapnya (19:6), Istilah “berlaku tidak adil” diartikan sebagai memperlakukan secara tidak sepatutnya. Saat itu, Ayub mengira bahwa semua penderitaannya berasal dari Allah, padahal sebenarnya semuanya merupakan serangan yang dilancarkan Iblis.

    Sekalipun demikian, Ayub kembali menunjukkan imannya kepada Allah yang tidak tergoyahkan oleh apa pun juga. Setelah mungungkapkan bagaimana ia menerima perlakuan yang tidak sepatutnya dari Allah (19:7-12), bagaimana ia dijauhi dan ditakuti semua orang: Para sahabat, budak, kanak-kanak, dan orang-orang yang ia kasihi (19:13-20).

    Ayub mendeklarasikan keyakinannya bahwa Allah adalah Penebusnya yang hidup dan akan memulihkannya (19:23- 27). Pengalaman Ayub mengantarkan kita kepada sebuah refleksi: Ketika kehidupan kita dilanda kesulitan dan penderitaan, apakah kita tetap yakin kepada pertolongan dan pembelaan Allah?

    Mengapa Ayub bisa kuat menghadapi penderitaan yang ada?  Karena Ayub tahu bahwa Tuhan yang dia sembah adalah SANG PENEBUS HIDUPNYA. Semua yang terjadi dalam hidupnya, seburuk apa pun jika itu seizin Tuhan, Dia pasti sanggup memulihkan… Karena itu Ayub masih bisa berkata,  “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”  Dalam kesemuanya itu Ayub harus mengalami proses, ia yakin  “…akan timbul seperti emas.”  (Ayub 23:10).  Itulah sebabnya Ayub tetap mampu bertahan di tengah penderitaan yang dialaminya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabatkan peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 18:5-7?

    Selamat sejenak merenung. Walaupun kita tidak senantiasa memahami rencana Allah, kita selalu dapat hidup dalam pengharapan bahwa kita akan berdiri di hadapan Allah dan melihat Dia dalam kemuliaan dan keagungan-Nya. (pg).

  • A CALLING as A PROPHET

    GAMANG. Menjadi pembawa berita yang menyenangkan orang lain,  tentu itu merupakan  hal yang mudah dan menyenangkan karena tidak mengandung risiko. Sebaliknya jika berita yang disampaikan merupakan teguran atau murka Allah, tentu sangat berbeda karena  mengandung risiko dan bahaya yang besar. Itulah yang membuat Yeremia GAMANG.

    Menjadi nabi dalam usia belia bukanlah impian banyak orang, sebab nabi bukanlah figur populer. Tugas seorang nabi tidak jarang mengharuskan penyambung lidah Tuhan itu berhadapan dengan para pemangku kepentingan yang merasa tidak nyaman dengan pesan yang disampaikan. Pergumulan itulah yang harus dihadapi Yeremia di sepanjang hidupnya.

    Pergumulan tersebut di atas yang menyebabkan Yeremia GAMANG menjawab panggilan Tuhan.

    Syukur kepada Tuhan, kita telah berhasil menyelesaikan belajar dari kitab Yesaya. Mulai hari ini kita akan belajar dari kitab Yeremia. Hari ini kita akan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “A CALLING as A PROPHET (PANGGILAN sebagai  NABI)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 1:1-19. Sahabat, Yeremia adalah anak imam Hilkia dari Anatot, desa kecil yang berjarak sekitar lima kilometer dari Yerusalem.

    Sahabat, ketika Yeremia dipanggil Tuhan pada tahun ketiga belas pemerintahan Yosia, usianya baru sekitar dua puluhan tahun (sekitar tahun 627 SM). Wajar saja, ia mencoba mengelak dengan alasan tidak pandai bicara karena masih belia (ayat 6). Namun, Tuhan yang mengerti ketakutannya memberi jaminan: “… Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, …” (ayat 8).

    Pada saat Nabi Yeremia berkarya, kerajaan Yehuda yang kecil terjebak di tengah-tengah persaingan kerajaan-kerajaan besar yang berusaha menancapkan kekuasaan di kawasan itu. Dalam gejolak tersebut, Yeremia menjalankan perannya. Ia berkarya selama pemerintahan lima raja terakhir kerajaan Yehuda (ayat 2-3).

    Sahabat, Tuhan mempunyai rencana atas hidup Yeremia jauh sebelum ia lahir (ayat 5). Tuhan mempersiapkan, mengutus, dan memperlengkapi Yeremia untuk mencabut dan merobohkan serta menanam dan membangun (ayat 10). Bobot dan cakupan tugas yang diemban Yeremia tidak tanggung-tanggung. Ia harus meneruskan firman Tuhan yang menentukan jatuh bangunnya bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan!

    Sejak awal Tuhan memang mengingatkan bahwa semua kekuatan dunia ini akan memeranginya. Namun, Tuhan menjanjikan penyertaan-Nya: “Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, …” (ayat 19). Dua penglihatan yang dilihatnya berfungsi untuk menguatkan hatinya (ayat 11-12, 13-14). Ia harus membawa teguran Tuhan dan hukuman Tuhan kepada Yehuda atas segala pemberontakan mereka. Dia mesti menjadi pembawa berita penghukuman Tuhan (ayat 17-19).  

    Tuhan hendak mengutus Yeremia kepada umat-Nya. Dia menghendaki umat-Nya taat dan berserah penuh atas tugas serta panggilan yang telah ditetapkan-Nya. Yeremia yang pada mulanya mengelak panggilan tersebut justru diperlengkapi oleh Allah. Tuhan sendiri langsung menjamah Yeremia (ayat 9).

    Sahabat, kisah pemanggilan Yeremia mengajarkan kepada kita bahwa Allah memiliki rancangan serta panggilan yang unik bagi setiap manusia. Kita diciptakan Tuhan untuk memenuhi tugas tersebut. Mari kita memproses diri agar kita layak untuk dipakai-Nya. Di balik kekurangan-kekurangan yang ada pada kita, Allah memperlengkapi kita agar dapat melaksanakan tugas dan perutusan-Nya di dunia ini. Jadi, jangan khawatir! Laksanakan dengan sukacita panggilan kita masing-masing.  Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17-19?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Rencana Allah jauh melampaui rencana paling sempurna yang dapat dirancangkan oleh manusia. (pg).

  • Good People’s Snub

    PENGHIBUR SIALAN. Kehilangan keluarga, harta benda dan penderitaan fisik, membuat Ayub sangat terpukul dan menderita. Tentu Ayub berharap kehadiran sahabat-sahabatnya dapat memberi penghiburan dan kekuatan kepadanya. Tapi apa yang terjadi, perkataan para sahabatnya justru membuat luka di hatinya semakin menganga sehingga menambah penderitaannya.

    Saking kesalnya dengan perkataan mereka, membuat Ayub sangat mangkel dan tidak dapat mengontrol emosinya. Ayub yang saleh, saat itu  melontarkan umpatan kepada para sahabatnya: “PENGHIBUR SIALAN kamu semua! Belum habiskah OMONG KOSONG itu?

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Good People’s Snub (Umpatan Orang Saleh)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub16:1-17:16 dengan penekanan pada Ayub 16:2. Sahabat, penderitaan fisik, kehilangan keluarga, dan penghiburan para sahabat Ayub yang tidak tepat sasaran membuat Ayub semakin lama semakin kesal terhadap mereka. Kekesalan tersebut akhirnya meledak dan Ayub mengumpat para sahabatnya sebagai PENGHIBUR SIALAN (16:2).

    Ayub menganggap perkataan mereka yang berniat menghibur itu hanyalah omong kosong (16:3) yang menambah beban penderitaan Ayub (16:7). Yang diperlukan Ayub bukanlah omong kosong, melainkan perkataan yang bernada menghibur dan mendorong dengan dilandasi oleh rasa empati (16:4-5).

    Keteladanan Ayub yang amat mengesankan, di tengah penderitaannya, Ayub tetap setia kepada Allah. Di satu sisi, Ayub merasa putus asa karena menganggap penderitaan yang dialaminya berasal dari Allah (17:11). Di sisi lain, dia tetap berharap kepada Allah (16:20-21; 17:3).

    Membaca kitab Ayub menjadikan kita tidak hanya sekadar tahu Ayub sebagai orang kaya yang suatu kali karena ketidaksukaan Iblis maka ia mengalami derita dan kehilangan banyak hal, lalu melompat cerita bahwa Ayub dipulihkan. Menyelami kitab Ayub menjadikan kita tahu : Ayub bergumul, bahkan dalam pergumulannya, Ayub marah kepada Tuhan (Ayub 16: 7-17).

    Lalu Ayub sadar bahwa hidupnya hanyalah bisa ditujukan kepada Tuhan (16:20-22).  Kesadaran bahwa ia tak bisa lain hanya bergantung kepada Tuhan, dan bertekun di dalam Dia itulah yang menjadikan Ayub bertobat dan kembali kepada Tuhan. Sama dengan Ayub, hidup orang beriman tidaklah selalu mulus. Ada waktunya hidup penuh dengan pergumulan. Mungkin ada diantara kita, ada kalanya tak ada sesuatu di tangan, atau tak ada sesuatu untuk dimakan.

    Sahabat, bacaan kita pada hari ini mengingatkan  bahwa bila kita ingin menolong orang lain, niat baik saja tidak cukup. Kesombongan membuat kita sulit mendengar dan memahami orang lain, sehingga kemudian kita akan sulit menolong orang lain. Ingatlah bahwa perkataan yang sembrono, emosional, dan salah sasaran bukan hanya tidak bermanfaat, melainkan juga menambah beban penderitaan orang yang hendak kita tolong.

    Bila kita belum yakin bahwa nasihat yang akan kita sampaikan sudah tepat, lebih baik kita menahan diri dan hanya mendampingi orang yang sedang menderita tanpa mengatakan apa-apa. Sebaliknya, bila kita sedang mengalami penderitaan, kita harus tetap berharap kepada Allah. Kita harus selalu tetap yakin bahwa Allah itu adil dan berniat baik walaupun apa yang kita alami belum bisa kita pahami secara jelas. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 16:19-21 dan 17:3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Betapa pun berat masalah yang kita hadapi, di dalam Kristus kita akan selalu menemukan harapan yang
    baru. (pg).

  • It’s Not Easy to Understand God’s Ways

    JALAN TUHAN. Sesungguhnya tidak mudah memahami dan mengerti jalan-jalan Tuhan itu  (Yesaya 55:8-9).  Karena tak mampu memahami jalan Tuhan, kita seringkali memaksa Tuhan untuk mengikuti kemauan, kehendak dan rencana kita, tapi kita sendiri tidak mau mengikuti jalan-jalan Tuhan.  Jalan Tuhan itu memang sulit untuk dimengerti dan serasa tidak masuk akal.

    Sahabat, bangsa Israel tak bisa memahami jalan Tuhan ketika harus melewati padang gurun, padahal di balik itu ada rencana-Nya yang indah.  Orang yang hanya terfokus pada hal-hal yang lahiriah akan mudah kecewa dan bersungut-sungut kepada Tuhan, seperti bangsa Israel (Mazmur 106:7-9).  Sekalipun mereka telah mengecap perbuatan Tuhan yang ajaib, mereka belum juga mengerti jalan-jalan Tuhan.  Tuhan berkata,  “Empat puluh tahun Aku jemu kepada angkatan itu, maka kata-Ku: ‘Mereka suatu bangsa yang sesat hati, dan mereka itu tidak mengenal jalan-Ku.’ Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku: ‘Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.’”  (Mazmur 95:10-11).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “It’s Not Easy to Understand God’s Ways” (Tidak Mudah Memahami JALAN TUHAN). Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 66:5-24 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan bagian terakhir dari kitab Yesaya. Dengan demikian  hari ini kita sudah berhasil  menyelesaikan belajar dari kitab Yesaya secara utuh. Syukur kepada Tuhan.

    Sahabat, kalau kita tidak mengenali jalan-jalan Tuhan, kita tidak akan memiliki pengalaman berjalan bersama Tuhan;  kita tidak akan tahu bagaimana hidup berjalan dengan Tuhan.  Dengan memahami jalan Tuhan kita juga akan semakin mengenal pribadi-Nya, dan dengan mengenal pribadi-Nya kita akan mengetahui kehendak dan rencana-Nya, apa yang Tuhan inginkan untuk kita kerjakan di dalam hidup kita (Yesaya 43:19). Terkadang jalan Tuhan itu terasa berat untuk kita jalani, tetapi selalu ada rencana-Nya yang indah dan semua itu mendatangkan kebaikan bagi kita.


    Pengakuan Yesaya dalam ayat 18 menunjukkan bahwa TUHAN mengenal segala perbuatan dan rancangan kita. Artinya di hadapan ALLAH tidak ada yang tersembunyi. Daud sendiri mengakui hal itu. Bagi Daud, TUHAN mengetahui kalau kita duduk atau berdiri, TUHAN mengerti pikirankita dari jauh (Mazmur 139:2). Jika Allah mengetahui semua tentang perbuatan dan rancangan kita, lalu timbul pertanyaan.  bagaimana seharusnya kita merespons? Ada beberapa respons kita, yakni:

    Pertama. sudah seharusnya kita merubah pola pikir kita terhadap Allah. Hiduplah takut dan hormat kepada-Nya di dalam kebenaran dan kekudusan. Selalu berorientasi pada kehendak Allah. Allah bekerja sampai hari ini dan Dia mengatur setiap hal yang terjadi. Saat membuat rencana, tunduk dan berpeganglah teguh pada kehendak-Nya, bukannya memaksa Allah agar segera mengabulkan kehendak kita.

    Kedua, memercayai Allah sebagai pembuat rencana yang ulung. Kita bergantung sepenuhya kepada Allah, hanya Dia yang mampu memberikan yang terbaik bagi kita. Berserah penuh kepada Allah dan menjadi rekan kerja-Nya.

    Ketiga, bersyukur atas pemeliharaan Allah. Selalu rendah hati dan berterima kasih atas perlindungan, penjagaan, dan berkat-berkat yang telah diberikan-Nya. Karena itu, serahkan  hidup kita sepenuhnya kepada TUHAN sebab Ia tahu segala perbuatan dan rancangan kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Walau terkadang jalan-jalan Tuhan terasa berat untuk diikuti, tapi yakinlah, selalu ada rencana-Nya yang indah dan semua itu mendatangkan kebaikan bagi kita. (pg).

  • A Lot of NEW STUFF

    MENYUKAI HAL-HAL BARU.  Masyarakat kita menyukai hal-hal baru. Kita menanti film baru, lagu baru, tempat-tempat rekreasi baru, kesuksesan, peningkatan dan pencapaian baru, bahkan hubungan kita pun akan terasa membosankan kalau hanya begitu-begitu saja tanpa adanya kejutan dan hal-hal baru yang dilakukan bersama. Tantangan-tantangan baru mampu membuat banyak orang bersemangat, karena disana mereka akan belajar hal baru dan menggapai keberhasilan yang baru pula.

    Sahabat, menariknya, Tuhan pun suka dengan hal-hal baru. Coba perhatikan  apa yang disampaikan oleh Pemazmur berikut ini: “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi!” (Mazmur 96:1). Tuhan menyukai puji-pujian yang baru dari kita, bukan hanya yang itu-itu saja dari tahun ke tahun. Tuhan merindukan hubungan yang terus diperbaharui menjadi lebih dalam lagi, Tuhan menantikan perubahan sikap kita ke arah yang lebih baik dan semakin seperti Yesus.

    Karena itu mari kita memasuki tahun baru 2023 dengan penuh antusias karena kita yakin Tuhan telah menyediakan hal-hal yang baru bagi kita di tahun baru 2023. A lot of new stuff.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat mulai memasuki tahun baru 2023. Di hari pertama pada tahun baru 2023 saya ajak untuk belajar dari kitab Ratapan dengan topik: “A Lot of NEW STUFF”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ratapan 3:21-25 dengan penekanan pada ayat 22-23. Sahabat, bacaan kita pada hari ini  menyatakan bahwa Tuhan memberi kita rahmat-Nya yang baru. Bukan sekali-kali, bukan hanya setahun sekali, sebulan sekali atau seminggu sekali, tetapi setiap pagi (ayat 22-23). 

    Sahabat, begitulah cara Tuhan menyapa kita setiap kali kita bangun di pagi hari. Kalau kita merenungkan hal tersebut, bukankah itu luar biasa? Tuhan menganggap penting rahmat-rahmat, berkat-berkat baru untuk dicurahkan kepada kita. Tuhan besar kesetiaan-Nya untuk selalu melimpahi kita dengan sesuatu yang segar dan baru, bukan sisa-sisa, bukan sesuatu yang sudah kadaluarsa. Dia selalu memberkati kita dengan segala yang terbaik.

    Masalahnya, sejauh mana kita sadar akan hal tersebut? Kadang kita malah suka menganggap Tuhan tidak tanggap terhadap diri kita, seolah Tuhan senang melihat kita susah berlama-lama. Kita bahkan sering lupa untuk mengucap syukur dan berterimakasih setiap kita bangun pagi dan lebih memilih untuk langsung bersibuk ria, bersiap menghadapi aktivitas yang menanti tanpa peduli untuk menyapa-Nya. Padahal Tuhan siap memberkati kita dengan penuh sukacita untuk memulai hari dan melakukan yang terbaik hari ini.

    Sahabat, di mata Tuhan kita sangatlah berharga. Kasih-Nya kepada kita tidak terukur besarnya. “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32).

    Ayat tersebut dengan sangat jelas menggambarkan betapa besar kerinduan Allah untuk selalu memberikan yang terbaik pada kita. Bahkan dengan kedatangan Kristus, kita dimungkinkan untuk mengalami pemulihan hubungan dengan Tuhan, mengalami penebusan dan dilayakkan untuk menerima berkat keselamatan.

    Memasuki Tahun yang baru,  mari kenali Tuhan lebih lagi. Semakin kita mengenal-Nya, semakin kita mengetahui kasih dan rancangan-Nya buat kita, semakin kita terkagum-kagum dibuat-Nya. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2023. Selamat menikmati hal-hal baru yang Tuhan telah sediakan bagi kita. Haleluya. Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Roma 8:32?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Awali setiap hari dengan sukacita, sebab ada rahmat dan berkat baru yang Tuhan sediakan di setiap harinya. (pg).