Category: Sejenak Merenung

  • Being an OPEN SERVANT, Just the Way He is

    MENJADI DIRI SENDIRI. Tuhan tidak menciptakan Sahabat dan saya untuk menjadi orang lain. Ketika kelak kita tiba di surga, Tuhan tidak akan bertanya mengapa kita tidak menjadi seperti saudaramu, atau tetanggamu atau teman sepelayananmu.  Tuhan menciptakan kita sangat spesial, sangat unik, dan Dia tidak ingin kita berpura-pura menjadi seperti orang lain.

    Tuhan ingin kita  menjadi dan tampil sebagaimana adanya. Berani menjadi diri sendiri. Berani terbuka apa adanya. Rasul Paulus berkata, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

    Masalahnya, masih ada cukup banyak orang yang mencoba menjadi orang lain. Mereka menjalani hidup untuk mendapat persetujuan dari orang lain. Ada juga yang berpikir bahwa Tuhan akan lebih mengasihi mereka apabila mereka bertingkah laku seperti Si A, Si B atau Si C. Sesungguhnya, kasih dan penerimaan Tuhan tidak didasarkan pada hal tersebut. Tuhan justru tetap menerima dan mengasihi kita sebagaimana adanya kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Being an OPEN SERVANT, Just the Way He is (Menjadi HAMBA yang TERBUKA, Apa Adanya)”.  Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 18:1-23 dengan penekanan pada ayat 18-23. Sahabat, masih ada orang percaya yang berpendapat kalau yang namanya pelayanan dan melayani Tuhan serta sesama, maka pasti akan selalu berjalan lancar, tidak ada permasalahan, pergumulan dan tantangan. Sementara, realitas berbicara lain. Keletihan dan masalah acap mendera pelayanan dan orang-orang yang melayani. Bagaimana menyikapi hal tersebut?

    Dalam bacaan kita pada hari ini, khusus ayat 18-23 merupakan DOA YEREMIA yang   menyodorkan PERSPEKTIF BERBEDA kepada kita. Jelas dipaparkan bahwa Yeremia berbicara dan melakukan pelayanannya atas dasar panggilan Tuhan. Pelayanan yang dilakukan atas nama Tuhan justru membuatnya menjadi musuh nasional. Tugas yang diemban dari Tuhan memang SANGAT SULIT dan BERAT.

    Ia harus memperingatkan orang-orang sebangsanya tentang malapetaka yang akan menimpa mereka. Sementara orang banyak itu lebih suka dibiarkan larut dalam kenyamanan hidup, tanpa mau memusingkan masa depan yang buruk, yang menanti mereka. Bagaimana menyikapi kondisi dilematis seperti itu?

    Sesungguhnya Yeremia bisa memilih untuk menjadi populer dan menyuarakan apa yang ingin didengar oleh  orang banyak, atau ia bahkan bisa tak peduli dan melanjutkan hidup dengan urusan pribadinya, membangun bisnis dan keluarganya. Namun, ia tidak melakukan keduanya. Ia TETAP SETIA  memenuhi PANGGILAN TUHAN dan memikirkan kebaikan orang banyak. Masalahnya, orang banyak ini tak sependapat dengan Yeremia tentang apa yang baik bagi mereka. Ini membuat Yeremia terjepit dan serba sulit.

    Sahabat, doa Yeremia menyuarakan FRUSTASINYA.Apa yang bisa kita pelajari? Setelah terlibat lama dalam pelayanan, seringkali tanpa kita sadari,  kita menjadi ahli dalam memakai topeng. Kita bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Kita menyembunyikan pergumulan kita.

    Kita tidak lagi autentik di depan orang banyak, bahkan di hadapan Tuhan! Kita telah  kehilangan identitas dan menjadi bunglon-bunglon rohani yang tak lagi terhubung dengan jati diri kita. Bahwa doa Yeremia dimuat dalam Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan menghargai kita yang autentik; Tuhan ingin berjumpa kita apa adanya. Tuhan rindu kita berani terbuka, apa adanya. Tuhan rindu kita berani menjadi diri sendiri. Maka lepaskan topeng kita, tanggalkan kepura-puraan kita dan temuilah Dia. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Milikilah penyerahan diri penuh kepada pembentukan Tuhan, sebab Dia tahu yang terbaik buat kita! (pg).

  • Live as CHILDREN of LIGHT

    CAP GO MEH. Perayaan Tahun Baru Imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa, dan berakhir pada tanggal ke-15 di bulan yang sama. Perayaan yang dilakukan pada tanggal ke-15 setelah Tahun Baru Imlek itu dikenal dengan nama: Perayaan Cap Go Meh.

    Tahun ini, perayaan Cap Go Meh jatuh pada hari Minggu, 5 Februari 2023, atau lima belas hari setelah perayaan Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada hari Minggu, 22 Januari 2023.

    Cap Go Meh berasal dari bahasa Hokkien. Cap go artinya 15, sedangkan meh artinya malam. Jadi Cap Go Meh artinya  malam kelima belas. Sebutan Cap Go Meh hanya dikenal di Indonesia saja. Hal tersebut dikarenakan pengaruh dari bahasa Hokkien.  Beberapa sumber ada yang menyatakan  bahwa perayaan Cap Go Meh bertujuan untuk menghormati dewa tertinggi di Dinasti Han.

    Cap Go Meh dalam konteks internasional disebut juga dengan Lantern Festival atau Festival Lentera (Lampion). Sedangkan di wilayah Tiongkok, perayaan tersebut dikenal sebagai Yuánxiojié atau Shàngyuánjié.

    Sejarah Cap Go Meh dapat ditelusuri hingga era Dinasti Han, sekitar tahun 206 SM hingga 220 M. Saat itu, para biksu Buddha menyalakan lentera pada hari ke-15 Tahun Baru Imlek untuk menghormati Sang Buddha. Ritual tersebut kemudian diadopsi oleh masyarakat umum dan menyebar hingga ke seluruh China serta beberapa wilayah Asia.

    Dalam rangka memperingati Perayaan Cap Go Meh pada hari ini, saya mengajak Sahabat untuk merenungkan firman Tuhan dari Surat Efesus dengan topik: “Live as CHILDREN of LIGHT (Hidup sebagai ANAK-ANAK TERANG)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Efesus 5:1-14 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, salah satu penyebab kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi adalah tidak berfungsinya lampu penerang pada jalan dan pada kendaraan. Dalam kondisi yang gelap, pengendara mesti ekstra hati-hati. Kondisi gelap dalam perjalanan sungguh membahayakan keselamatan.


    Dalam perjalanan hidup di dunia, manusia juga membutuhkan penerang yang menjamin keselamatan. Tanpa penerang hidup, manusia akan menjalani hidup asal hidup, tak punya tujuan yang jelas, serba salah, sehingga bukan keselamatan yang diperoleh, tetapi kecelakaan dan kematian.

    Namun, syukur kepada Allah, Yesus Kristus hadir dan berkarya di dunia, menyatakan JALAN TERANG, kebenaran dan hidup yang sejati. YESUS adalah TERANG DUNIA  yang memanggil manusia keluar dari jalan kegelapan. Oleh karena Dia, kita yang percaya kepada-Nya menjadi ANAK-ANAK TERANG (ayat 8). Artinya, kita adalah penerang hidup dalam perjalanan manusia di dunia. Melalui pikiran, perkataan dan perbuatan kita, kita seharusnya hidup dalam iman, pengharapan dan cinta kasih. Kita berbuah kebaikan, kebenaran, dan keadilan bagi dunia ini (ayat 9).

    Kalau mau jujur, kita mungkin belum sungguh menjadi penerang hidup. Keserakahan, kekerasan dalam rumah tangga atau keluarga (termasuk kepada anak-anak), dan ketidakadilan masih terjadi dalam hidup kita. Dunia semakin hari semakin diliputi oleh kegelapan yang pekat karena kejahatan manusia yang semakin memuncak!  Kegelapan hanya dapat dikalahkan oleh terang. 

    Sahabat, sepekat apa pun kegelapan itu, terang tetap mampu menembusnya.  Sebagai anak-anak terang kita harus mampu MENEMBUS  dan MENGALAHKAN KEGELAPAN DUNIA  melalui KETELADANAN hidup kita. Keteladanan itu jauh lebih dahsyat kekuatannya daripada perkataan semata.  Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita gagal menjadi terang bagi dunia selama hidup kita tidak bisa menjadi teladan! (pg).

  • The MYSTERY of GOD, The CREATOR

    MISTERI ALLAH. Sampai saat ini, lukisan Monalisa dianggap sebagai lukisan paling terkenal di dunia. Mahakarya dari Leonardo da Vinci itu paling sering menjadi subjek tulisan, nyanyian, dan parodi di seluruh dunia. Salah satu hal yang membuat lukisan potret abad ke-16 itu menjadi begitu terkenal adalah kemisteriusan senyum dari subjek lukisan tersebut. Banyak peneliti mencoba untuk menafsirkannya. Senyum itu seakan berubah bila mata kita bergerak sedikit, dan saat kita berpaling, senyum itu seolah tetap ada di benak kita.

    Sahabat, sesungguhnya dunia ini memang penuh misteri, apalagi Tuhan. Rasul Paulus pun bergumul dengan hal tersebut. Dalam pengalaman hidupnya, ia adalah orang yang tidak pernah lelah untuk mencoba memahami tentang Tuhan, tentang segala hikmat dan keputusan-Nya. Namun, tetap saja ada banyak hal yang melampaui akal pikirannya. Ada batas yang tidak bisa dilampaui untuk ia bisa memahami segala sesuatunya. Sampai di titik itu, ia belajar untuk menerimanya. Di titik itulah, ia paham betul bahwa Tuhan itu sungguh jauh lebih besar dan melampaui apa yang bisa ia pikirkan tentang-Nya. Di titik itulah, yang tetap tinggal adalah iman dan percaya (Roma 11:33-34).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “The MYSTERY of GOD, The Creator (MISTERI ALLAH, Sang Pencipta)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 40:1 – 41:25. Sahabat, sesudah Tuhan menembak Ayub lewat pelbagai pertanyaan gugatan tentang posisi dan peran Ayub dalam kehidupan alam semesta dan pernyataan tersirat tentang siapa yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini (Ayub 38:1-39:33), maka pada pasal 40-41 dengan gamblang dan tegas Tuhan menyatakan serta memperkenalkan diri-Nya.

    Dimulai dengan semacam pernyataan yang membuat Tuhan tersinggung terhadap pembelaan Ayub: “Apakah engkau hendak meniadakan pengadilan-Ku, mempersalahkan Aku, supaya engkau dapat membenarkan dirimu?” (40:3). Kali ini, Tuhan lebih tegas dan keras bersikap terhadap Ayub dan sahabat-sahabatnya. Tuhan merasa tersinggung menyaksikan Ayub dan keempat sahabatnya beradu argumentasi dengan motif yang sangat egois. Masing-masing pihak mau bertahan dan membenarkan diri sendiri. Perdebatan tersebut memberi kesan bahwa Tuhan bukan Subjek, melainkan sebagai objek akal budi manusia untuk pembenaran sikap pribadi.

    Coba perhatikan apa yang disampaikan oleh Allah kepada Ayub: “Apakah lenganmu seperti lengan Allah, dan dapatkan engkau mengguntur seperti Dia?  Hiasilah dirimu dengan kemegahan dan keluhuran, kenakanlah keagungan dan semarak!” (Ayb. 40:4-5).

    Ayub dipersilakan membandingkan dirinya (yang sedang tidak berdaya karena barah dan malapetaka) dengan Tuhan. Kalau hasilnya Ayub lebih kuat daripada Tuhan, maka Tuhan pun akan memuji Ayub (40:9).

    Lebih lanjut, Tuhan mengibaratkan keperkasaan dan kekuatan-Nya dengan gambaran kuda nil dan buaya (40:10-41:1a). Kedua hewan tersebut kuat dan tiada seorang pun yang dapat menaklukkannya, melainkan hanya Tuhan. Kalau begitu, apakah Ayub bisa dibandingkan dengan Tuhan? Tuhan mengumpamakan diri-Nya sebagai pahlawan perang dengan pakaian lengkap (41:1b-25). Tuhan tidak sedang menakut-nakuti Ayub, sebaliknya Ia menghibur dan menguatkan Ayub.

    Sahabat, apa yang harus dilakukan menghadapi misteri Allah dalam hidup ini? Tetap bertekun dalam iman. Allah yang memberi kehidupan, Ia juga yang akan memelihara dan menolong kita untuk terus bertumbuh di dalam-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari prenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 40:10-19?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketika lemah dan tidak berdaya, kita bisa melihat Tuhan yang Mahakuasa dan Mahaperkasa mengatasi kelemahan kita. (pg).

  • Trusting and Depending fully to God

    MENGANDALKAN  MANUSIA. Rasul Paulus menasihati  agar kita saling bertolong-tolongan dalam menanggung beban hidup. Itu berarti dalam hidup ini kita harus saling membantu dan saling menolong. Itu berarti kita boleh minta bantuan dan pertolongan.

    Namun itu bukan berarti kita boleh mengandalkan manusia atau bergantung  penuh kepadanya, sebab bagaimanapun manusia sangat terbatas, mereka  tak lebih dari alat yang dipakai oleh Tuhan. 

    Sahabat, sering Tuhan  menolong kita memakai seseorang atau sekelompok orang, karena itu kita juga harus belajar menghormati, menghargai dan tidak lupa berterima kasih kepada orang yang telah menolong kita.  Tetapi kita harus memahami benar bahwa sesungguhnya pertolongan dan mukjizat yang kita alami, bukan datang dari manusia, tapi Tuhan yang bekerja di dalamnya. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Trusting and Depending fully to God (Percaya dan Bergantung sepenuhnya kepada Tuhan)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 17:1-18. Sahabat, mengandalkan Tuhan itu sama dengan percaya dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

    Tuhan memberi vonis berat kepada bangsa Yehuda karena bukan apa yang di depan mata dan bukan kenyamanan yang seharusnya mereka cari; melainkan hidup bagi Tuhan dan membuat pilihan-pilihan dengan mengandalkan Tuhan. Itulah yang Tuhan inginkan. Karena bangsa Yehuda mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan kekayaan dan kenikmatan hidup, maka semua itu justru dirampas orang lain, bahkan mereka akan mengalami kejatuhan besar, jauh dari kehidupan makmur,  bahkan menjadi budak di tanah asing.

    Yeremia mengontraskan kehidupan bangsa Yehuda yang mengandalkan diri sendiri dan kenikmatan sesaat dengan kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan. Bangsa Yehuda itu bagaikan padang gurun dan semak bulus yang senantiasa dalam kekeringan (ayat 5-6), sedangkan mereka yang mengandalkan Tuhan itu bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran air (ayat 7-8).

    Pohon yang ditanam di tepi aliran air juga bisa jadi akan mengalami masa-masa berat dalam kehidupannya, tetapi ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan yang selalu memasok akarnya dengan air kehidupan. Keadaan hidup boleh penuh masalah, tetapi daunnya tetap hijau dan ia tidak berhenti menghasilkan buah.

    Sahabat, Yeremia mengakui bahwa kehidupannya sebagai orang beriman tidak mudah (ayat 14-15). Cemooh dan pencobaan datang silih berganti, tetapi orang beriman harus menggunakan kacamata yang berbeda dalam memandang hidup. Prioritas hidup kita berbeda. Kita percaya pada Tuhan yang menyelidiki hati, menguji batin, dan menilik setiap detail kehidupan kita (ayat 10); Ia akan melindungi kita pada hari malapetaka (ayat 17) dan menjaga kita hingga akhir (ayat 18).

    Kita sebagai orang percaya harus mengandalkan TUHAN dalam meniti perjalanan hidup. Jika kita mengandalkan TUHAN, maka Dia selalu menepati janji-Nya. Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya. TUHAN adalah Pribadi yang Mahakuasa. Tidak ada yang dapat membatasi kuasa-Nya untuk menolong kita. TUHAN dapat memberikan pertolongan meski seberat apa pun masalah kita, kapan pun dan dimana pun. TUHAN adalah Pribadi yang dapat diandalkan. Karena itu marilah kita menjadi pribadi yang mengandalkan Tuhan di segala aspek kehidupan kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Iman adalah percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan, dan mengandalkan Tuhan berarti komitmen untuk melakukan apa yang dipercayai. (pg).

  • God’s Misterious Answers

    JAWABAN TUHAN. Beberapa ucapan Ayub secara langsung memang ditujukan kepada Allah, baik dalam bentuk permohonan agar Allah turun tangan menolongnya (Ayub 13:17-28); permohonan ampun jika ia memang bersalah di hadapan-Nya (Ayub 7:20-21); permohonan agar Allah menjelaskan mengapa ia diizinkan menerima semua penderitaan yang ada (Ayub 2:23-26; 23:2-12; 27:2; 30:20-23); serta keinginan untuk bertemu langsung dengan Allah (Ayub 31:37). 

    Sahabat, akhirnya TUHAN memang menjawab keluhan Ayub, akan tetapi, mungkin kita merasa bingung terhadap jawaban TUHAN karena TUHAN sama sekali tidak menjelaskan penyebab penderitaan yang dialami Ayub. Sebaliknya, TUHAN memaparkan keterbatasan pengetahuan Ayub. TUHAN banyak mengajukan berbagai pertanyaan dan pertanyaan yang diajukan TUHAN itu merupakan kalimat tanya retorik (Kalimat tanya yang sebenarnya mengandung sebuah makna pernyataan dan tidak memerlukan jawaban).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “God’s Misterious Answers (Jawaban Tuhan yang Misterius)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 38:1 – 39:38. Sahabat, Ayub 38-42 merupakan jawab Tuhan kepada Ayub. LAI memberi judul Ayub 38: Kekuasaan TUHAN di alam semesta dan Ayub 39: Ayub merendahkan diri di hadapan Allah.

    Sahabat, Tuhan berbicara di dalam badai dan hanya berbicara kepada Ayub (38:1), namun Tuhan tidak menjawab pertanyaan atau menjelaskan ketidakpahaman Ayub. Sebaliknya, Tuhan membungkam Ayub yang sepanjang pembicaraan terkesan membenarkan dirinya. Melalui serangkaian pertanyaan retorik, Tuhan menunjukkan keperkasaan-Nya sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta, atas laut, fajar, cuaca, langit, dan bintang-bintang (38:4-38). Dengan cara yang sama, Tuhan juga menyatakan diri-Nya sebagai Penguasa segala binatang yang ada, khususnya binatang liar dan binatang udara (39:1-33).

    Ucapan Tuhan berhasil menyadarkan Ayub, sehingga di dalam penyesalannya ia memohon ampun kepada Tuhan dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya dalam berbantah dengan Allah (39:34-38). Dari pengalaman Ayub, kita tidak hanya belajar akan kebaikan Tuhan yang memberi kesempatan kepada Ayub untuk menyadari kesalahannya dan bertobat, tetapi kita juga belajar untuk memiliki hati yang peka kepada teguran Tuhan seperti yang dimiliki Ayub, sehingga kita segera bertobat setelah ditegur Tuhan.

    Sahabat, selain itu jawaban TUHAN menunjukkan bahwa Ia menginginkan agar Ayub menerima keadaan yang dialaminya tanpa mempersoalkan mengapa dia mengalami keadaan itu!

    Jawaban TUHAN yang tidak memberi penjelasan merupakan petunjuk bagi mereka yang dilahirkan dalam keadaan kurang beruntung dan berkebutuhan khusus, untuk menerima keadaan tanpa mengajukan protes kepada TUHAN. Penyebab penderitaan tidak selalu kita mengerti, tetapi kita tidak boleh protes kepada TUHAN karena TUHAN bukanlah penyebab dari penderitaan. Kebijakan TUHAN di dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta di luar kemampuan akal kita, sehingga mempertanyakan kebijakan TUHAN merupakan usaha yang sia-sia.

    Memang sesungguhnya misteri kehidupan jauh lebih besar dan luas daripada jangkauan akal budi manusia untuk memahami serta merumuskannya. Semestinya, orang percaya menyadari bahwa dalam banyak hal manusia memiliki keterbatasan. Sebaliknya, di sisi lain ada pribadi yang tidak terbatas dan sempurna, yaitu Allah. Tuhan menginginkan manusia membiarkan misteri tersebut sebagai rahasia dan hak Tuhan. Dengan membiarkan sisi Allah yang tak terpahami, kita bukan hanya melihat kemahakuasaan dan kebijaksanaan-Nya yang melampaui akal budi manusia, tetapi juga menerima keterbatasan kita sebagai manusia fana. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 39:37-38?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Melalui alam semesta dan segala isinya, kita melihat pribadi Allah yang Mahakuasa dan Mahabijak dengan segala misteri-Nya. (pg).

  • Be Quiet and See the Miracles of God

    BERDIAM DIRI DI HADAPAN ALLAH. Mengenai hal tersebut saya banyak belajar dari rekan sepelayanan, bapak Pdt. Stefanus Christian Haryono. Berdiam diri di hadapan Allah akan membuat kita lebih mampu mendengarkan suara Allah. Akibatnya kita akan lebih peka mengetahui kehendak-Nya. Persoalan manusia adalah begitu disibukkan dengan banyak suara sehingga tidak mampu lagi mendengarkan suara Allah. dan akhirnya terus bertanya-tanya dalam hatinya: ”Apakah kehendak Allah dalam hidup saya?” 

    Dengan berdiam diri di hadapan Allah, kita bisa memercayai-Nya dengan segenap hati. Allah itu ibarat aliran air hidup yang menyegarkan. Kita akan mengalami kelegaan di dalam Dia kalau kita datang, berseru dan fokus kepada hadirat-Nya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Be Quiet and See the Miracles of God (Diamlah dan Lihatlah Keajaiban-Keajaiban Allah)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 37:1-24 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, LAI memberi judul Ayub 37: Kemuliaan Allah di alam semensta. Sedangkan judul renungan hari ini saya ambil dari nasihat Elihu kepada Ayub setelah dia memperlihatkan segala keperkasaan Allah dalam ciptaan-Nya (ayat 14).

    Sahabat, perkataan Elihu mungkin terlalu keras bagi orang sekelas Ayub, yang dinyatakan Allah sendiri sebagai pribadi yang saleh dan takut akan Allah. Namun demikian, dibalik kata-kata kerasnya, agaknya dia berupaya mengingatkan Ayub akan keterbatasan manusia dan mengajaknya untuk berdiam diri dan memerhatikan keajaiban-keajaiban yang diperlihatkan Allah.

    Berdiam diri memang bukan perkara mudah. Karena berdiam diri sering tampak statis dan terlihat tidak berbuat apa-apa. Berkata-kata setidaknya membuat orang merasakan diri sebagai pengendali. Jika berdiam diri terasa dikendalikan, maka berkata-kata membuat orang merasa mengendalikan keadaan.

    Namun bagi Elihu, berdiam diri akan memampukan manusia lebih cermat memahami alam, juga memahami Allah yang menciptakan semuanya itu. Berdiam diri akan membuat manusia lebih mampu mengenal Allah. Berdiam diri akan membuat dia tidak sibuk lagi dengan kata-katanya sendiri, dan akhirnya dapat mendengar suara Allah.

    Semasa hidup, Bunda Teresa pernah membagikan kisah perjumpaannya dengan seorang imam dan seorang teolog India. Peraih hadiah Nobel perdamaian itu berkisah: Saya mengenal beliau sangat baik, dan saya berkata kepadanya, “Romo, Anda berbicara tentang Allah sepanjang hari. Alangkah dekatnya Anda dengan Allah!”

    Sang Romo menjawab, “Saya mungkin berbicara terlalu banyak tentang Allah, tetapi saya mungkin berbicara terlalu sedikit kepada Allah.” Lebih lanjut Sang Romo  menjelaskan, “Saya mungkin mengutamakan begitu banyak kata dan mungkin mengutarakan begitu banyak kata, tetapi jauh di lubuk hati saya tidak punya waktu untuk mendengarkan. Padahal dalam keheningan hatilah, Allah berbicara kepada kita.”

    Sahabat, mari kita perhatikan pernyataan Sang Romo: “Dalam keheningan hatilah, Allah berbicara kepada kita.” Ya, DIAMLAH  dan DENGARKANLAH ALLAH! Dari situ kita bisa lebih mengenal Allah dan memuliakan-Nya! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bergantung kepada Allah dengan senantiasa memohon hikmat-Nya, sehingga kita mampu menjalani kehidupan ini dengan misterinya. (pg).

  • God’s Punishment for the Nation of Judah

    NGERINYA MURKA ALLAH. Mungkin hampir semua dari kita punya pengalaman pernah dimarahi orang lain, paling tidak oleh orang tua kita sendiri.  Bagaimana perasaan Sahabat ketika orang tersebut marah? Apa yang Sahabat rasakan atau alami? Apakah kemarahan itu membuat Sahabat takut atau bahkan sampai menimbulkan trauma? Nah, orang Israel beberapa kali menerima murka Allah. Murka-Nya tersulut karena umat mengabaikan peringatan-peringatan yang disampaikan melalui  para nabi-Nya.

    Pelajaran bagi umat Tuhan sepanjang abad adalah ketika umat mengabaikan peringatan dan dengan sengaja melanggar kehendak Allah, Ia tidak akan segan-segan menghukum. Karena itu mari kita berbalik kepada Tuhan dan senantiasa hidup seturut kehendak-Nya supaya kita tidak harus menerima murka-Nya yang sungguh-sungguh mengerikan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “God’s Punishment for the Nation of Judah (Hukuman Allah atas Bangsa Yehuda)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 16:1-21. Sahabat, jika seandainya saat itu saya berdiri sebagai nabi Yeremia, tentu hati dan pikiran saya dipenuhi dengan TANDA TANYA BESAR. Mengapa? Karena perintah-perintah Tuhan yang saya terima itu sangat sulit untuk diterima oleh akal sehat, sangat aneh-aneh, tidak lazim, dan sangat sulit  diterima karena kita itu makhluk sosial. Tentu saya akan menghadapi pergumulan yang amat sangat berat untuk melaksanakan perintah-perintah tersebut.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, kita akan menemui banyak hal yang  sungguh terbalik dari kebiasaan pada umumnya. Sesuatu yang aneh bagi manusia, namun tidak untuk Tuhan. Kehidupan Yeremia dipakai untuk menggambarkan hukuman Tuhan.

    Sahabat, ada sejumlah LARANGAN yang harus Yeremia lakukan. Pertama, jangan mengambil istri dan mempunyai anak-anak lelaki dan perempuan (ayat 1dan 2). Kedua, jangan pergi ke rumah duka, meratap dan turut berdukacita (ayat 5). Ketiga, jangan duduk, makan, minum, dan masuk ke rumah orang yang mengadakan perjamuan (ayat 7 dan 8).

    Selanjutnya dapat kita temukan bahwa di Yehuda akan ada malapetaka besar: Kematian karena penyakit, peperangan, dan kelaparan (ayat 4). Tuhan telah menarik damai sejahtera, kasih karunia, dan belas kasihan-Nya (ayat 5). Tuhan juga menghentikan suara kegirangan dan sukacita dari tengah-tengah mereka (ayat 9). Hal tersebut mengingatkan kita  bahwa sesungguhnya segala yang kita miliki adalah pemberian Tuhan, Dia sanggup dan punya hak untuk mengambil kembali.

    Luar biasa mengerikan, Tuhan tidak main-main dengan hukuman yang diberikan kepada umat-Nya. Yeremia diperintahkan untuk mengingatkan bahwa meninggalkan Tuhan, tidak berpegang pada taurat-Nya, dan mengikuti kedegilan hati yang jahat merupakan KESALAHAN dan DOSA. Allah sanggup memakai siapa saja untuk menghukum umat-Nya dengan hukuman yang melebihi perbudakan di Mesir.

    Kabar baiknya, Tuhan  juga sanggup melepaskan dan menyelamatkan umat-Nya dari penderitaan dan hukuman. Hal itu menjadi peringatan bagi kita bahwa dosa yang tidak dibereskan akan berbuah menjadi hukuman.

    Sahabat, HUKUMAN TUHAN  dapat berlaku bagi SIAPA SAJA. Jangan kita terus-menerus melakukan kesalahan dan dosa. Sejarah bangsa Yehuda mengingatkan kita agar tidak bermain-main dengan KESABARAN TUHAN. Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita harus dengar-dengaran dan melaksanakan firman-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19-21.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kitalah umat yang dituntun-Nya keluar dari kegelapan menuju kehidupan kekal! Maka marilah bersaksi bagi-Nya. (pg).

  • The Price of A Life Call Commitment

    PERGUMULAN HIDUP. Hampir semua orang pernah mengalami pergumulan hidup. Bagaimana sikap Sahabat saat menghadapi pergumulan hidup yang berat? Apakah  diam, marah, kecewa, takut, atau tetap tenang dan mengandalkan Tuhan? Bagaimana bila ada seorang yang setia selama hidupnya membela bangsanya mengalami pergumulan? Bagaimana pula, jika dalam pergumulannya tekanan justru datang dari orang yang dibela? Terlebih lagi, jawaban Tuhan berbeda dari harapan si penggumul.

    Sahabat, jangan lupakan Tuhan dalam pergumulan! Sebab, Dia sanggup melepaskan dan membebaskan kita dari pergumulan yang berat. Ingatlah jangan sekali-kali menyelesaikan pergumulan seorang diri! Sangatlah tepat perkataan orang bijak: “Mereka yang selalu berlutut menghadap Tuhan, akan selalu berdiri menghadapi siapa pun”.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “The Price of A Life Call Coommitment (Harga Sebuah Komitmen Panggilan Hidup)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia15:10-21. Sahabat, sesungguhnya semua murid Kristus dipanggil untuk melayani. Paulus dipanggil melayani. Epafras dipanggil melayani. Demikian juga Sahabat dan saya dipanggil untuk melayani.

    John Piper mengatakan “To receive Christ, cost nothing. To follow Christ, cost something. To serve Christ, cost everything.” Mengorbankan segala-galanya adalah harga sebuah panggilan dalam melayani Tuhan. Oleh sebab itu, banyak orang yang lebih suka dilayani daripada melayani.

    Sahabat, mengikut Tuhan bukan perkara mudah. Itulah fakta yang disodorkan melalui kehidupan tokoh-tokoh Alkitab, dari Abraham hingga Rasul Yohanes. Hari ini kita menyaksikan kenyataan yang sama dalam satu adegan kehidupan Yeremia. Ia meratap, mempertanyakan jalan hidupnya, seraya menggugat Tuhan.

    Yeremia merasa telah memberi yang terbaik dalam mengikut Tuhan, tetapi kini ia berada di tepi jurang. Memang ketika Tuhan memanggil, Tuhan memberi jaminan kokoh bahwa ia akan menjadi tiang besi dan  tembok tembaga (Yeremia 1:18), yang akan berdiri tegak melawan seluruh bangsanya dan para pemimpinnya. Namun di tengah kehidupannya mengikut Tuhan, ia merasakan hantaman yang begitu hebat sehingga ia bertanya-tanya, jangan-jangan besi dan tembaga pun sebenarnya tak sekuat yang semula ia kira (ayat 12).

    Yeremia sudah memberikan yang terbaik, yang bisa ia persembahkan kepada Tuhan. Ia memelihara hidup yang kudus, baik dalam ranah pribadi (ayat 16) maupun publik (ayat 17), tetapi mengapa hidupnya sengsara dan penuh keluh-kesah? Yeremia merasa bahwa Tuhan berlaku tak adil (ayat 18). Namun Tuhan tidak menjawab Yeremia menurut syarat dan ketentuan yang Yeremia sodorkan; sebaliknya Ia menawarkan perspektif yang baru: Kehidupan orang-orang di sekitar memang seringkali menggiurkan, tetapi panggilan yang unik menuntut komitmen yang tak kalah unik. Tuhan pun menegaskan bahwa sebaik-baiknya pelayanan, bukan berarti manusia memiutangi Tuhan.

    Sahabat, MENGIAKAN panggilan Tuhan menuntut KOMITMEN TUNGGAL: Dalam kehidupan pribadi maupun publik, dalam perkataan juga segenap aspek hidup. Tuhan kembali menegaskan janji-Nya kepada Yeremia bahwa Ia akan menjadi “tembok berkubu dari tembaga” (ayat 20), kali ini dengan klarifikasi bahwa kekuatan Tuhan di balik tembok tembaga ini akan terbukti bukan karena diabaikan orang, tetapi justru karena kuat berdiri tegak di tengah peperangan terhebat sekalipun (ayat 20-21).

    Tuhan tidak menjanjikan panggilan-Nya akan nyaman dan aman, tetapi Ia berjanji BERSAMA KITA  melalui pergumulan seberat bagaimanapun. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19-21?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bersyukur sampai hari ini kita masih kuat menjalani hidup, itu semua karena Tuhan. (pg).

  • Be Patient a Bit More

    SABAR. Menanti sesuatu yang kita harapkan terkadang sangat menjenuhkan dan membutuhkan kesabaran tingkat tinggi, oleh sebab itu kita perlu melatih diri bagaimana menjadi orang yang sabar di segala situasi. Di Zaman Now hampir semua orang menyukai segala sesuatu yang serba instan, serba super kilat.  Dalam hal makanan saja orang lebih memilih makanan yang cepat saji,  dibanding harus repot-repot memasak. 

    Dalam hal bekerja inginnya cepat dapat pekerjaan yang hebat, ingin cepat dapat gaji besar, ingin cepat naik jabatan, dan sebagainya.  Apa-apa maunya serba cepat, kalau bisa tidak perlu kerja keras, tidak perlu usaha mati-matian, tidak perlu merasakan beratnya menjalani suatu proses.  Sungguh, sangat sulit menemukan orang-orang yang punya kesabaran untuk menunggu, kesabaran untuk menjalani proses.

    Punya kesabaran adalah sebuah ujian iman!  Saat dihadapkan pada situasi atau keadaan yang sulit, adakah kita punya kesabaran untuk menantikan pertolongan dari Tuhan?  Adakah kita bersabar dalam menantikan jawaban doa dari Tuhan? Adakah kita bersabar menantikan janji Tuhan digenapi dalam hidup kita?  Ataukah kita kehilangan kesabaran, lalu berpaling dari Tuhan untuk mencari pertolongan dari pihak lain?  Kesabaran adalah salah satu buah Roh yang harus dimiliki orang percaya  (Galatia 5:22).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Be Patient A Bit More (Bersabarlah Sebentar)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 36:1-33. Sahabat, judul renungan pada hari ini saya ambil dari pernyataan awal  nasihat  Elihu. Ketika Ayub mengalami penderitaan yang sangat berat banyak sahabatnya yang empati dan mengunjunginya, tetapi mereka tidak membawa damai sejahtera bagi Ayub. Mereka menasihati Ayub seolah-olah mereka menjadi juru bicaranya Tuhan.

    Sahabat, Elihu masih meneruskan serangannya secara halus kepada Ayub. Meskipun pernyataan yang diberikan Elihu kepada Ayub terkesan positif, namun jika dibaca secara saksama, pernyataan Elihu memiliki motif negatif yang bertujuan menjatuhkan mental Ayub.

    Kali ini Elihu memanipulasi sikap Tuhan yang prihatin terhadap kesejahteraan orang yang berbuat dosa dan memberinya kesempatan untuk bertobat. Ia mengatakan bahwa Allah tidak ingin seorang pun menderita, melainkan ingin menempatkan mereka untuk selama-lamanya di samping raja-raja di atas tahta, sehingga mereka tinggi martabatnya (ayat 7). Bukan hanya terbebas dari penderitaan, tetapi juga kembali menjadi manusia yang bermartabat.

    Seandainya ada teguran, itu dimaksudkan untuk memuliakan pribadi yang ditegur, “Jikalau mereka mendengar dan takluk, maka mereka hidup mujur sampai akhir hari-hari mereka dan senang sampai akhir tahun-tahun mereka” (ayat 11). Sayang sekali, sikap positif dari Tuhan ini tertutup dengan rentetan panjang kalimat-kalimat sindiran yang menusuk secara tidak langsung kepada sang sahabat yang sedang menderita.

    Hati yang menyimpan kemarahan membuat orang mati dalam kebebalannya, bahkan pada usia yang masih muda (ayat 12-14). Teriakan kesakitan tidak dapat melepaskan orang dari penderitaan berat sebagai akibat dari dosanya. Karena itu, satu-satunya jalan adalah kembali ke jalan Tuhan. Ia mengembalikan lagi kesegaran seperti tanah tandus yang disiram oleh air hujan yang segar; atau terang pada kegelapan (ayat 27-30). Jadi, jika Elihu memiliki iktikad baik, seharusnya bacaan berakhir pada 36:31. Karena motifnya kurang baik, muncullah murka Tuhan di akhir perikop ini.

    Sahabat, sesungguhnya menyadari kesalahan, mengakuinya dengan jujur kepada Tuhan, lalu BERBALIK ke jalan yang benar akan MELEGAKAN  dan MENYEMBUHKAN JIWA.
    Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pad hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Saudara peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Waktu Tuhan adalah yang terbaik, karena itu BERSABARLAH  dalam menantikan penggenapan janji-Nya. (pg).

  • Don’t Raise the Wrath of God

    MURKA ALLAH. Selain berlimpah kasih setia, Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang adil.  Itulah sisi lain yang kadang  diabaikan dan disepelekan oleh kebanyakan orang percaya.  Dalam kasih setia-Nya Tuhan menganugerahkan keselamatan dan pengampunan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.  Tetapi dalam keadilan-Nya Tuhan perlu sekali mendidik umat-Nya, dan salah satu bentuk didikan Tuhan adalah hajaran (Ibrani 12:10).  Sesungguhnya Tuhan menghajar kita bukan untuk membinasakan, tetapi bertujuan untuk mengembalikan kita pada rancangan-Nya yang semula.

    Sahabat, kata MURKA berarti marah besar, kemarahan yang meluap-luap. 
    Berulang kali murka Allah dikisahkan di dalam Alkitab: Sodom dan Gomora yang dilumat oleh api belerang dari langit; air bah yang menenggelamkan daratan pada masa Nabi Nuh; dibuangnya bangsa Israel ke Babel, merupakan kisah-kisah yang menunjukkan murka Allah. Kisah yang bukan isapan jempol tapi sungguh nyata. Karena itu jangan sekali-kali kita membangkitkan murka Allah!

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Don’t  Raise the Wrath of God” (Jangan Menimbulkan Murka Allah)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 14:1-22. Sahabat, saya yakin kita semua pernah MARAH, namun kemarahan manusia tidak bisa dibandingkan dengan kemarahan Allah. KEMARAHAN ALLAH ITU MENGERIKAN.. Ketika Allah marah, bukan hanya manusia yang ketakutan, bahkan alam semesta pun takut. Kemarahan Allah bisa berdampak pada seluruh alam semesta dan segala isinya.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, kita melihat penderitaan yang sedang menanti bangsa Israel. Allah, melalui Yeremia, menyingkapkan secara terperinci adanya masa kekeringan yang panjang, yang akan melanda seluruh Israel. Tidak ada hujan, sumur kering, tanah menjadi retak dan tandus, binatang sekarat dan mati, serta petani gagal panen (ayat 3-6). Yang terdengar hanyalah tangisan perkabungan dan teriakan minta tolong (ayat 2). Meski demikian Allah diam. Allah menulikan telinga-Nya (ayat 12). Namun bukan hanya kekeringan saja, Allah mendatangkan juga perang, kelaparan, dan penyakit sampar (ayat 12).

    Selain itu, Allah menyingkapkan kepada Yeremia nasib naas yang akan dialami nabi-nabi palsu dan segenap keluarganya. Nabi-nabi palsu, istri, dan anak-anaknya akan mati karena perang dan kelaparan. Mayat mereka tercampak di sepanjang jalan Yerusalem (ayat 15-16). Semuanya ini disebabkan oleh kekerasan hati bangsa Israel. Ini membuktikan Allah tidak kompromi terhadap dosa.

    Walaupun  Yeremia membenci perbuatan bangsa Israel, tetapi ia memiliki hati yang lembut. Ia datang di hadapan Allah meminta pengampunan atas dosa bangsanya (ayat 17-18). Ia memohon kepada Allah agar tidak memalingkan wajah-Nya dari Israel. Ia memohon kepada Allah agar membatalkan niat-Nya menghancurkan Israel. Ia berusaha mengingatkan Allah akan perjanjian-Nya dengan nenek moyang Israel (ayat 19-21). Namun Allah menolak. Allah menyuruh Yeremia berhenti berdoa buat bangsa Israel (ayat 11).

    Sahabat, pengalaman bangsa Israel tidak jauh berbeda dari kita sekarang. Berbagai peristiwa alam dan penyakit yang melanda seharusnya membuat kita berubah dan hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kita tidak tahu, apa yang Allah akan lakukan atas dunia dan manusia akibat dosa. Mari kita hidup dengan melakukan kehendak-Nya dan berdoa agar semua orang bertobat dan kembali kepada-Nya, dan berbakti hanya kepada-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sekali kita membuat komitmen untuk mengikut Kristus, maka kita harus memegang komitmen tersebut sampai akhir hidup kita! (pg).