Category: Sejenak Merenung

  • SHARPER and FEELINGLESS

    KEKERASAN VERBAL. Apa itu? Kekerasan verbal adalah penggunaan kata-kata yang tajam dan menyakitkan untuk menyerang seseorang. Kekerasan verbal dapat terjadi dimana saja, baik di lingkungan kerja, lingkungan rumah, tempat ibadah, sesama rekan sejawat, pemimpin dengan staff-staffnya, maupun kedua orangtua terhadap anaknya. Kekerasan verbal tentu bukanlah hal yang dapat dimaklumi dan dinormalisasi dalam kehidupan, sekalipun hal itu bertujuan untuk mengingatkan atau menasihati di mata sebagian orang.

    Kekerasan verbal (Verbal Abuse) adalah setiap ucapan yang ditujukan kepada seseorang yang mungkin dianggap merendahkan, tidak sopan, menghina, mengintimidasi, rasis, seksis, homofobik, diskriminasi, atau menghujat. Termasuk membuat pernyataan sarkastis, menggunakan nada suara yang merendahkan atau menggunakan keakraban yang berlebihan dan tidak diinginkan. Kekerasan verbal dapat dilakukan dalam bentuk memarahi, memaki, mengomel, dan membentak secara berlebihan, termasuk mengeluarkan kata-kata yang tidak patut diucapkan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “SHARPER and FEELINGLESS  (SEMAKIN TAJAM dan TANPA PERASAAN)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 15:1-35. Sahabat, Ayub 15 mengawali ronde kedua dialog Ayub dan ketiga sahabatnya. Sementara Ayub bersikukuh bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan yang membuatnya pantas mengalami penderitaan yang tengah ia alami. Namun ketiga sahabatnya tak kalah gigih berpendapat bahwa ia pasti bersalah sehingga pantas menerima penderitaan.

    Pandangan Elifas dalam bacaan kita pada hari ini secara gamblang menggambarkan ide tentang KARMA yang dipercayai banyak orang: Orang baik hidup senang, sedangkan orang jahat menderita. Di sini kita melihat bahwa kepercayaan pada karma mempunyai dua wajah. Pertama, di hadapan karma mustahil ada anugerah. Kedua, karma membuat orang menjatuhkan vonis kepada mereka yang sesungguhnya tengah membutuhkan uluran tangan tanpa kemungkinan naik banding.

    Sahabat, perhatikan perkataan Elifas kepada Ayub yang dimulai dengan KESOMBONGAN dan EJEKAN, lalu menyalahkan dan menganggap Ayub sebagai pembual (ayat 2-6). Perhatikan pertanyaan-pertanyaan SINDIRAN Elifas yang sangat TENDENSIUS (ayat 7-9). Secara kasar dan tanpa perasaan, Elifas menginterogasi seorang yang sedang terguncang dan hancur akibat penderitaan (ayat 11-16).

    Ia mengingatkan nasib orang-orang jahat. Ia dan sahabat-sahabatnya tidak terkejut menyaksikan apa yang menimpa Ayub karena mereka beranggapan bahwa penyebab malapetaka adalah karena Ayub melawan Allah. Kesimpulan Elifas adalah bahwa Ayub mengalami apa yang pantas dia alami (ayat :21-35). Mungkin tanpa dia sadari bahwa Elifas telah melakukan KEKERASAN VERBAL.

    Gaya komunikasi Elifas biasa dilakukan oleh mereka yang CENDERUNG KASAR  dan KURANG BERPERASAAN. Walaupun mungkin tidak selalu sebrutal Elifas, setidaknya gaya berkomunikasi seperti Elifas ini sangat menyudutkan.  Charles Swindoll menyebut orang-orang yang melontarkan kata-kata yang tak berbelaskasihan itu sebagai orang–orang yang TIDAK MEMILIKI KASIH KARUNIA.

    Sahabat, hindari dan buang jauh-jauh kekerasan verbal karena selain menyakiti perasaan orang lain, perkataan seperti itu tidak sesuai dengan gaya hidup orang percaya  yang penuh kasih karunia Allah.  KEMBANGKANLAH KASIH KARUNIA SECARA VERBAL,  yaitu menggunakan kata-kata berempati dan turut merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang kurang beruntung. Jadilah sahabat doa bagi mereka. Jadilah pendamping bagi mereka. Berikanlah bahumu untuk menjadi sandaran mereka. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaam kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 27-35?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah menggunakan kisah Ayub untuk menunjukkan bahwa kesuksesan hidup bukan indikator kebaikan atau kejahatannya. Waspadalah, jangan sampai Sahabat  mengabaikan anugerah Tuhan. (pg)

  • Don’t be AFRAID! JESUS was Born

    KETAKUTAN. Dunia yang gelap dan penuh penderitaan ini selalu menawarkan ketakutan. Ia membius kita dengan rasa takut, khawatir dan cemas..Setiap orang dapat mengalami takut, khawatir,  dan cemas; tiga kata negatif yang terkait erat dan saling digunakan sebagai sinonim.  Untuk lebih memahami ketiga kata tersebut, kita dapat membedakan ketiga kata bereratan tersebut sebagai berikut:

    TAKUT merupakan respon emosi terhadap suatu ancaman yang benar-benar ada, misalnya penyakit berat yang sedang diderita. Dengan berpikir ancaman tersebut menimbulkan perasaan negatif takut.  Sesungguhnya takut akan mencuri waktu kita sekarang karena ketika kita merasa takut bisa menyebabkan kita kehilangan kekuatan untuk menikmati dan melakukan hal-hal yang perlu kita lakukan sekarang.

    KHAWATIR berbicara tentang segi kognitif atau berpikir tentang masalah atau ketakutan yang menyebabkan rasa takut tersebut. Khawatir adalah berpikir tentang hal-hal di depan yang menciptakan perasaan cemas. Khawatir merupakan proses berpikir. Berpikir hal-hal yang membangunkan ketakutan dan  akan mencuri sukacita kita.

    CEMAS merupakan antisipasi terhadap ancaman-ancaman ke depan ditandai dengan kegelisahan mendalam. Misalnya cemas kapan Covid-19 akan selesai, akan kehilangan pekerjaan, akan mengalami gangguan kesehatan, dan sebagainya. Ketika kita cemas, dia akan mencuri damai kita.

    Selamat natal Sahabat, pada hari ini kita akan belajar dari Injil Lukas dengan topik: “Don’t be AFRAID! JESUS was Born (Jangan TAKUT! YESUS telah Lahir)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Lukas 2:8-20 dengan penekanan pada ayat 10-11. Sahabat, Dalam catatan Lukas tentang kisah Natal, seorang malaikat memberitakan kelahiran Yesus Kristus kepada sekelompok gembala dengan berkata, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (ayat 10-11).

    Kesukaan itu bukan hanya untuk segelintir orang, melainkan untuk segenap umat

    manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yohanes  3:16).

    Tuhan telah mendamaikan diri-Nya sendiri dengan tanpa memperhitungkan kesalahan manusia lagi (2 Korintus 5:19). Caranya melalui kelahiran Kristus ke dunia. Lewat kedatangan-Nya, manusia kembali terhubung dengan Sang Sumber Hidup. Dengan begitu, manusia bisa menemukan kembali kebahagiaannya. Kini keberanian telah mengganti segala ketakutan dan kekhawatiran. Kita menjadi bisa menghampiri takhta kemurahan Allah melalui Yesus Kristus. Itulah sebabnya seruan malaikat menjadi berita Natal untuk kita. “Jangan takut, karena hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat yaitu Kristus Tuhan di kota Daud” (ayat 10-11).

    Kini dalam Kristus hanya ada cinta kasih. Alkitab mencatat: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut ia tidak sempurna di dalam kasih” (1 Yohanes. 4:18). Jadi, sesungguhnya kita jangan takut dan khawatir lagi tentang apa pun di dunia ini. Tuhan pasti selalu akan mencukupi kebutuhan kita (Matius 6:33); Kita juga tak perlu takut lagi akan kegagalan karena kita lebih daripada orang-orang yang menang (Roma. 8:37). Bahkan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Felipi 4:13). “Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes. 3:16). Haleluya!  Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat mengerti dari Injil Yohanes 3:16.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kelahiran Yesus Kristus membawa sukacita sejati bagi setiap orang yang  percaya kepada-Nya, karena di dalam Dia ada keselamatan! (pg).

  • ASSIGNMENT from GOD is An HONOR

    PANGGILAN TUHAN. Apa itu panggilan Tuhan? Ada cukup banyak orang yang mempersempit makna  panggilan Tuhan menjadi panggilan khusus seseorang yang menyerahkan hidup sepenuh waktu untuk melayani Tuhan seperti: Romo, Suster, Pendeta, Penginjil, dan lain sebagainya. Padahal sesungguhnya  setiap kita dipanggil oleh Tuhan untuk melakukan kehendak Tuhan dalam hidup ini.

    Panggilan Tuhan merupakan penugasan Tuhan kepada seseorang. Semua profesi, pekerjaan atau tanggung jawab adalah panggilan Tuhan kepada setiap kita, dan Tuhan mau supaya kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.  Kita semua diajak menyadari: Apapun yang kita kerjakan merupakan panggilan Tuhan kepada kita, termasuk apa yang kita kerjakan saat ini. 

    Sahabat, Tuhan tidak pernah memanggil dan mengutus orang dengan tangan kosong. Pasti Tuhan memperlengkapi setiap kita jika Dia memanggil kita untuk melakukan panggilan-Nya. Mari kita terima penugasan Tuhan sebagai sebuah kehormatan.  Assignment from God is an honor.

    Dalam rangka menyambut Natal 2022 hari ini kita akan belajar dari Injil Matius dengan topik: “ASSIGNMENT from GOD is An HONOR”. Bacaan Sabda saya ambil dari Matius 1:18-25 dengan penekanan pada ayat 24. Sahabat, Natal telah tiba. Selamat Natal. Terima kasih sudah berkenan menjadi Sahabat berproses untuk bertumbuh melalui “Sejenak Merenung”.

    Pada mulanya Natal merupakan peristiwa penting bagi satu  pasangan muda: Yusuf dan Maria. Yang paling menonjol dalam kisah kelahiran Yesus versi Injil Matius adalah tokoh Yusuf memercayakan dirinya kepada Tuhan. Saat malaikat Tuhan memberitakan alasan kehamilan Maria. Yusuf yang disebut seorang yang saleh, sederhana, dan tulus, belajar percaya dan taat pada sabda Allah. Melalui Roh Kudus, Tuhan berkarya secara istimewa dalam diri Maria.

    Sangat manusiawi, pada awalnya, dalam pikiran dan hati Yusuf dipernuhi dengan keraguan dan tanda tanya besar. Ada konflik batin yang luar biasa saat ia mengetahui tunangannya hamil.

    Injil Matius mencatat bahwa “ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (ayat 19). Di satu sisi, Yusuf  tidak menginginkan Maria bernasib malang karena ia pasti dirajam batu oleh masyarakat Yahudi. Di sisi lain, ia tidak dapat menerima kenyataan itu dan berupaya meninggalkan Maria dengan cara menceraikannya. Ia tidak ingin mempermalukan martabat tunangannya di depan publik. Mungkin Yusuf berpikir bahwa dengan cara seperti itu barangkali Maria dapat menikah dengan lelaki yang telah membuatnya hamil.


    Menariknya, Yusuf secara spontan membatalkan niatnya menceraikan Maria setelah mengetahui duduk perkaranya. Di sini terlihat respons iman Yusuf memiliki kemiripan dengan iman Abraham (Kejadian 12:4). Tanpa negosiasi dan secara spontan, ia menerima Maria dengan hati yang teguh (Matius 1:24). Yusuf menerima PENUGASAN TUHAN  sebagai SEBUAH KEHORMATAN  yang mesti dijalaninya dengan penuh tanggung jawab.

    Sahabat, panggilan dan keikutsertaan dalam pekerjaan Tuhan tidak boleh diterima sebagai beban, melainkan harus menjadi sebuah kehormatan yang DILAKSANAKAN  dengan KERELAAN HATI  dan BERTANGGUNG JAWAB. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dipanggil untuk melayani Tuhan merupakan kasih karunia yang luar biasa! (pg).   

  • Remembering all the GOODNESS of GOD

    KEBAIKAN DAN KEDAULATAN TUHAN. Akhir tahun merupakan saat yang baik untuk melakukan refleksi atas hidup kita sepanjang tahun: Apa yang telah atau belum berhasil serta apa yang perlu ditingkatkan. Apa pun hasil refleksi kita, tutuplah tahun 2022 dengan bersyukur kepada Tuhan sebagai bukti dari dua butir pengakuan iman kita di hadapan Tuhan:

    Pertama, bersyukur berarti mengakui kebaikan Tuhan. Sama seperti ucapan terima kasih merupakan pengakuan atas kebaikan seseorang, demikian pula ucapan syukur merupakan pengakuan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan terjadi karena kebaikan Tuhan.

    Kedua, bersyukur berarti mengakui kedaulatan Tuhan dalam hidup kita. Bersyukurlah baik saat keadaan lancar dan aman maupun saat muncul banyak masalah karena kita yakin bahwa segala sesuatu terjadi di bawah kedaulatan Tuhan atau atas seizin-Nya. Percayalah bahwa segala sesuatu akhirnya akan mendatangkan kebaikan dan keindahan bagi orang yang dikasihi-Nya (Roma 8:28).

    Sahabat, karena itu di hari terakhir dalam tahun 2022 merupakan saat yang baik bagi kita untuk merefleksikan  segala kebaikan Tuhan.  Remembering all the goodness of GOD.

    Bersyukurlah Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati hidup sampai hari terakhir di tahun 2022. Untuk itu mari kita belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Remembering all the GOODNESS of GOD”. Bacaan Sabda saya ambil dari Mazmur 77:1-21 dengan penekanan pada ayat 12-13. Sahabat, mengingat perbuatan TUHAN merupakan sebuah tindakan yang mulia. Naluri manusia hampir selalu mengingat kejelekan, kesalahan, dan dosa sesama. Manusia sulit meningat kebaikan orang kepadanya. Itulah sebabnya Pemazmur   pada hari ini mengingatkan kita agar berusaha mengingat segala kebaikan TUHAN yang telah kita terima.

    Pemazmur memberikan sebuah tips yang sangat baik untuk kita yang sedang dilanda ketakutan memasuki tahun baru 2023 yang diprediksi dipenuhi dengan kegelapan: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.” (Mazmur 77:12-13).

    Saat harus bertemu situasi yang serba gelap, Pemazmur mengambil waktu untuk mengenang kembali bagaimana keajaiban-keajaiban yang pernah dilakukan Tuhan sebelumnya, bagaimana Tuhan menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya turun atas manusia. Setelah merenungkan segala kebaikan Tuhan, Pemazmur pun sampai pada kesimpulan: “Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?” (ayat 14).

    Jika kita fokus hanya kepada masa depan yang diprediksi akan mengalami krisis multidimensi maka kita akan segera kehilangan sukacita, bahkan iman kita pun akan merosot drastis. Pada saat seperti itulah sebaiknya kita kembali mengingat-ingat segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan kepada begitu banyak orang di masa lalu. Jika dulu Tuhan bisa melakukannya, mengapa tidak pada hari ini? Kalau Tuhan sanggup melakukan perbuatan-perbuatan ajaib-Nya di masa lalu, baik kepada begitu banyak tokoh dalam Alkitab maupun diri kita sendiri, mengapa kita harus ragu dan bimbang memamasuki tahun baru 2023? Tuhan tidak pernah berubah, baik dahulu, sekarang dan sampai selamanya. (Ibrani 13:8)

    Sahabat, tidak akan pernah sia-sia untuk mengandalkan Tuhan. Ketika kita sedang mengalami pergumulan, mari kita ingat kembali bagaimana Tuhan melakukan mukjizat-mukjizat-Nya di waktu lampau, dan marilah bersyukur sebab Tuhan yang kita sembah saat ini adalah Tuhan yang sama, baik kuasa-Nya maupun kasih-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari, jawablah beberapa pertanyaan berrikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-10?

    Selamat memasuki tahun baru 2023. Terima kasih untuk kebersamaannya selama tahun 2022. Mohon maaf jika dalam tulisan-tulisan saya ada ungkapan dan pernyataan yang kurang berkenan di hati Sahabat. Tuhan memberkati pelayanan kita ke depan. (pg).

  • There is always HOPE

    HIDUP ITU SINGKAT. Hidup kita di dunia ini singkat dan hanya sekali. Jika hidup yang hanya sekali ini salah kita jalani, kita akan menderita untuk selama-lamanya.  Jika kesempatan hidup yang singkat ini tidak kita gunakan untuk mengejar perkara-perkara yang di atas, maka sesudah mati kita tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaikinya. Maka sekarang  waktu yang terbaik! Selagi masih hidup selalu ada harapan. There is always hope.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “There is always HOPE”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 14:1-22 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, LAI memberi judul Ayub 14: Setelah mati tidak ada harapan lagi. Ayub membuka perikop ini dengan satu pernyataan yang menggetarkan: “Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan.” (ayat 1).

    Frasa “penuh kegelisahan”  dalam King James Version diterjemahkan  “full of trouble”  (penuh kesulitan) dan dalam versi BIS diterjemahkan “penuh derita”. Ayub memulainya dengan memberi sebuah PERINGATAN PENTING  betapa umur manusia ini singkat adanya dan penuh pergumulan. Tidak ada manusia yang bisa sepenuhnya lepas dari pergumulan dan tidak ada manusia yang bisa hidup di dunia ini selamanya.

    Lebih lanjut dalam ayat 14-15, Ayub mengingatkan:  “Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, sampai tiba giliranku; maka Engkau akan memanggil, dan akupun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu.” 

    Ayub menekankan bahwa siapapun kita manusia, saat untuk mati pasti tiba. Pada satu saat nanti ketika waktunya tiba, tidak ada kesempatan bagi kita untuk mengulang hidup  lagi. Tidak ada orang yang bisa membeli waktu. Tidak ada waktu yang dapat diperpanjang. Waktu, hanyalah bisa dipergunakan dan diisi. Diisi dengan baik atau buruk, waktu akan terus berjalan dan tidak akan pernah menunggu sampai kita mau menggunakannya dengan baik.

    Sahabat, Ayub bukannya orang yang selalu hidup tanpa masalah. Kita tahu apa yang dialami Ayub begitu tragis. Tapi adalah penting bagi kita, seperti halnya bagi Ayub, untuk terus menaruh harap selama hari-hari pergumulan kita. Adalah penting untuk menjaga setiap langkah, dalam menghadapi masalah dan sebagainya, agar kita tidak salah melangkah dan jatuh pada kesalahan yang fatal, yang bisa mengarahkan kita pada ujung yang salah. Ayub mengingatkan akan pentingnya untuk terus menaruh harap dengan sabar, terus percaya dan patuh pada Tuhan, hingga giliran kita tiba. Selagi masih hidup selalu ada harapan.

    Berapa panjangpun umur kita di dunia ini, semua itu singkat adanya dibanding KEKEKALAN  yang menunggu kita di depan. Ketika waktunya tiba, kita akan sampai pada titik dimana kesempatan untuk bertobat pun berakhir, dan kita tinggal diminta untuk mempertanggungjawabkan segalanya. 

    Karena itu hendaklah kita bijaksana dan tidak menyia-nyiakan waktu selama kesempatan masih ada. Selagi masih hidup selalu ada harapan. Tuhan siap menghapus segala dosa kita, menutup pelanggaran kita ketika kita kembali secara total lewat sebuah pertobatan yang sungguh-sungguh. Pergunakanlah waktu-waktu yang tersisa ini untuk memperbaiki cara hidup kita sebelum semuanya terlambat. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10). (pg).

  • Why do you IGNORE ME?

    DIABAIKAN DAN DILUKAI ORANG TERDEKAT. Ada ungkapan yang berbunyi: “Orang yang kita cintai memiliki potensi terbesar untuk menyakiti hati kita”. Nah … ini dia, bagaimana perasaan Sahabat  jika diabaikan oleh orang-orang terdekat?  Diabaikan oleh suami/istri, diabaikan oleh orangtua, diabaikan oleh anak-anak, diabaikan oleh pimpinan di kantor, atau diabaikan oleh rekan sepelayanan?  Mungkin kita akan berkata,  “Sakitnya itu di sini!”  (sambil menunjuk ke dada).  Diabaikan adalah satu kata yang sangat tidak diharapkan oleh siapa pun, karena diabaikan itu sama artinya keberadaan seseorang tidak dipedulikan dan tidak diharapkan lagi. Dianggap tidak ada, walaupun kenyataannya masih ada. Oh … Betapa sakitnya.

    Sahabat, mungkin tanpa sadar dan bahkan mungkin dengan sengaja kadang kita pun bersikap demikian terhadap Tuhan.  Kita mengabaikan dan bersikap masa bodoh terhadap perkara-perkara rohani, firman-Nya hanya kita dengar sambil lalu, masuk telinga kanan ke luar dari telinga kiri, teguran-Nya tidak kita pedulikan, kehadiran-Nya sama sekali tidak kita anggap.  Maka Tuhan kadang berbisik: “Mengapa engkau mengabaikan Aku?”  Why do you ignore Me?

    Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Why do you IGNORE ME?” Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 65:1- 25 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, tidak diindahkan oleh orang yang dikasihi dan dipilih-Nya. Demikianlah curahan isi hati Tuhan tentang bangsa Israel kepada nabi Yesaya.

    Tuhan laksana kekasih yang terluka; cintanya tidak disambut bangsa Israel. Saat Dia memanggil, Israel tidak menjawab; ketika Dia berbicara, Israel tidak mendengar (ayat 12-b). Tuhan begitu mengasihi bangsa Israel, tetapi mereka mengabaikan Tuhan dan mengkhianati-Nya dengan melakukan apa yang jahat dan menyakiti hati-Nya (ayat 1-5).

    Itu sebabnya Tuhan akan menghukum mereka. Namun demikian, kasih Tuhan membuat-Nya tidak memusnahkan mereka seluruhnya (ayat 8-9). Tuhan bahkan menjanjikan pemulihan total; tidak akan ada lagi yang berbuat jahat dan berlaku busuk (ayat 17-25). Betapa besar cinta Tuhan!

    Sesungguhnya bangsa Israel adalah umat yang sangat dikasihi Tuhan, umat perjanjian-Nya yang telah dituntun keluar dari Mesir, dipelihara begitu rupa selama 40 tahun di padang gurun (Mazmur 77:21 dan Ulangan 32:10b). 

    Alkitab menggambarkan kedekatan hubungan antara Tuhan dan umat Israel seperti suami dan istri.  Namun seiring berjalannya waktu bangsa Israel digambarkan seperti seorang istri yang tidak lagi setia kepada pasangannya,  “… Engkau telah berzinah dengan banyak kekasih…,”  (Yeremia 3:1);  Bangsa Israel  “… seperti seorang isteri tidak setia terhadap temannya, demikianlah kamu tidak setia terhadap Aku, hai kaum Israel, demikianlah firman TUHAN.”  (Yeremia 3:20).  Tak bisa dibayangkan betapa sakitnya hati Tuhan! Maka Dia kembali bertanya, “Mengapa engkau mengabaikan Aku?”

    Sahabat, sebagai umat Tuhan hari ini, bagaimana sikap kita dalam menanggapi Tuhan? Seberapa besar kita mengasihi Pribadi yang demikian mengasihi kita? Adakah kita menanggapi pada saat Dia memanggil dan berbicara kepada kita? Ataukah kita lebih sering seperti bangsa Israel yang memilih untuk bertindak sesuka hati ketimbang menyenangkan Tuhan? Setiap dosa yang kita lakukan adalah wujud pemberontakan kita kepada Tuhan dan itu membuat hati-Nya terluka. Ambillah pilihan terbaik: Memuliakan  dan menyenangkan hati-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesungguhnya kita tak layak, namun begitu dikasihi Tuhan. Mari tinggalkan dosa dan hidup menyambut kasih-Nya. (pg).

  • The Forming Process

    SANG PANJUNAN DAN TANAH LIAT. Keramik adalah salah satu kerajinan tangan yang menggunakan tanah liat sebagai bahan dasarnya. Prosesnya melalui pembakaran dengan suhu minimal 700 derajat celsius. Hasil kerajinan keramik biasa dijadikan sebagai hiasan seperti vas bunga, hiasan lampu, guci, pot bunga, piring hias, dan cangkir.

    Cara pembuatan keramik membutuhkan waktu yang cukup lama. Dibutuhkan kesabaran agar keramik yang dihasilkan memuaskan dan sesuai dengan yang diharapkan. Kurangnya rasa sabar justru akan membuat hasil kerajinan keramik tidak sesuai harapan.

    Sahabat, ada 6 tahapan pembuatan keramik yang harus dilewati, yaitu: Pengolahan Bahan, Pembentukan Keramik, Pembakaran Tahap Pertama, Tahap Finishing, dan Pembakaran Kedua.  Setelah pembakaran kedua, keramik sudah siap untuk dijual, dijadikan hiasan, atau digunakan untuk kegiatan sehari-hari.

    Itulah gambaran ketika Tuhan membentuk kita menjadi murid-murid-Nya. Butuh proses, butuh waktu, butuh kerelaan kita untuk dibentuk. The forming process.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “The Forming Process”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 64:1-12 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, hidup orang percaya digambarkan seperti tanah liat di tangan sang panjunan.  Tuhan adalah Sang Panjunan.  Untuk menjadi bejana yang berdaya guna dan bernilai jual, tanah liat harus mengalami proses pembentukan sedemikian rupa sampai menjadi lumat, lentur dan lunak. 

    Lalu mulailah tangan Tuhan bekerja, mengambil gumpalan tanah liat itu dan membentuknya sesuai kehendak-Nya.  Kita takkan bisa lari dari yang namanya  proses  pembentukan, sebab tidak ada istilah instan di dalam Tuhan (Yesaya 44:24).  

    Pembentukan Tuhan memang sakit dan tak menyenangkan, seperti berada di padang gurun, karena itulah banyak orang mengeluh, mengomel dan memberontak.  Sahabat, Tuhan belum selesai berurusan dengan kita selama kita masih saja memberontak dan hidup menyimpang dari jalan kebenaran-Nya (Yesaya 45:9).  

    Milikilah penyerahan diri kepada Tuhan saat diproses, sebab Tuhan tahu yang terbaik untuk kita (Yeremia 18:4).   Karena kasih-Nya yang luar biasa pada kita, karena kepedulian-Nya terhadap keselamatan kita, maka Tuhan seringkali mengambil posisi sebagai Panjunan. Apabila bejananya rusak, maka Tuhan akan membentuk ulang bejana tersebut sehingga menjadi baik dan sempurna. Tuhan tidak akan membiarkan anak-anak-Nya dalam keadaan rusak menuju kebinasaan.

    Maka proses pembuatan ulang bejana adalah pilihan terbaik, demi kebaikan kita, semata-mata karena Allah mengasihi kita. Bagai bejana, kita pun harus melalui proses pembentukan ulang yang seringkali menyakitkan. Namun lihatlah hasil akhirnya, bahwa dengan melewati proses itulah kita akan menjadi anak-anak Tuhan yang bisa Dia banggakan. Kita kemudian bisa dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya di dunia.

    Jika saat ini ada diantara Sahabat yang sedang mengalami proses pembentukan ulang, bersabar dan bersyukurlah, karena itu artinya Tuhan begitu mengasihimu dan tidak ingin seorang pun dari kita binasa. Jangan keraskan hati, agar Tuhan mudah membentuk kita seturut kehendak-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Proses pembentukan bejana menyakitkan tapi menghasilkan bentuk indah yang berguna bagi banyak orang. (pg).

  • Stay STRONG Within SUFFER

    PENDERITAAN. Dalam ibadah raya pada hari Minggu hampir selalu diakhiri dengan doa berkat. Salah satu ayat yang sering dipakai untuk Doa Berkat diambil dari 1 Petrus 5:10: “Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” 

    Sahabat, terkadang frasa “sesudah kamu menderita seketika lamanya” dihilangkan dari doa berkat tersebut. Mengapa? Mungkin ada sebagian hamba Tuhan dan jemaat yang “alergi” terhadap yang namanya PENDERITAAN. Sedapat mungkin tidak berbicara mengenai penderitaan, karena akan menimbulkan kesedihan dan ketakutan.karena berbicara mengenai penderitaan hampir pasti tidak menyenangkan.

    Namun seharusnya tidak demikian. Jemaat perlu disadarkan bahwa yang namanya penderitaan itu datangnya tidak dapat diduga dan dapat menimpa siapa saja, termansuk orang-orang percaya. Justru jemaaat perlu dipersiapkan agar tidak terkejut dan syok  ketika penderitaan datang menerpa. Jemaat supaya tetap kuat dalam  penderitaan. Stay strong within suffer.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Stay STRONG Within SUFFER”. Bacaan Sabda diambil dari Ayub 13:1-28 dengan penekanan pada ayat 23-24. Sahabat, Alkitab dengan jelas mencatat bahwa Ayub saleh dan jujur;  ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.  (Ayub 1:1).  Itu menunjukkan bahwa Ayub adalah orang yang hidupnya benar dan tidak bercela di hadapan Tuhan. 

    Itulah sebabnya ketika kesengsaraan dan penderitaan menimpa hidupnya, maka  Ayub merasa tertekan. Rasa tertekan seringkali menjadikan kita tak mampu mengendalikan diri. Itulah yang dialami oleh Ayub. Ditengah derita dan rasa sedih atas bencana yang ia alami, sahabat-sahabatnya menyampaikan pemahaman-pemahaman mereka tentang derita yang dialami oleh Ayub.

    Semua itu sangat menekan Ayub. Oleh karena itu ia marah kepada sahabat-sahabatnya, sampai ia berkata: “Tetapi aku, aku hendak berbicara dengan Yang Mahakuasa, aku ingin membela perkaraku di hadapan Allah.” (ayat 3).

    Sebagai orang percaya kita harus belajar memahami kehendak Tuhan karena Dia memiliki sudut pandang yang berbeda.  Tuhan tidak pernah salah dalam setiap tindakan-Nya.  Segala penderitaan yang menimpa Ayub adalah ulah dari si Iblis yang hendak menjatuhkan iman Ayub.  Namun meski mengalami penderitaan yang luar biasa Ayub tetap mampu bertahan (Ayub 2:10b). 

    Luar biasa, Ayub kehilangan segala-galanya, namun  tidak membuat Ayub menjadi lemah dan putus asa.  Teman-teman dekatnya kelihatannya menasihati dia, padahal dalam nasihatnya itu terkandung tuduhan dan kecaman kepada Ayub.  Mereka menganggap bahwa Ayub telah melakukan suatu pelanggaran yang berakibat pada penderitaan yang harus ditanggungnya. Tuduhan tersebut tetap tidak menggoyahkan Ayub.

    Sahabat, sesungguhnya selama hidup di dunia ini kita tak luput dari masalah atau penderitaan.  Namun Tuhan berjanji untuk memberi kekuatan dan penghiburan kepada kita.  Tuhan memberikan Roh Kudus, Penolong dan Penghibur.   Karena itu dalam keadaan yang berat, biarlah kita tetap kuat dan bertahan karena selalu ada maksud dan rencana Tuhan di balik penderitaan yang kita alami. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Karena Ia tahu jalan hidupku;  seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  (Ayub 23:10). (pg).

  • My God, My Defender

    MENGIDENTIFIKASIKAN DIRI. Kata mengindentisikasikan berasal dari kata dasar indentifikasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI): Kata indentifikasi berarti: 1. Tanda kenal diri; bukti diri; 2. Penentu atau penetapan identitas seseorang, benda, dsb; 3. Proses psikologi yang terjadi pada diri seseorang karena secara tidak sadar dia membayangkan dirinya seperti orang lain yang dikaguminya, lalu dia meniru tingkah laku orang yang dikaguminya itu.

    Sahabat, dalam Perjanjian Lama, Tuhan kita adalah Tuhan yang mengidentifikasikan dirinya dengan umat-Nya.  Bila ada satu bangsa yang menganiaya umat-Nya itu berarti menganiaya Tuhan sendiri. Kalau ada satu bangsa yang merendahkan umat-Nya itu berarti  merendahkan Tuhan sendiri. Maka kalau ada satu bangsa menyerang umat-Nya, itu berarti  menyerang Tuhan sendiri. Tentu Tuhan   tidak akan tinggal diam. Tuhanku, pembelaku. My God, my defender.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “My God, My Defender”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 63:1-19. Sahabat, murka Tuhan atas Edom merupakan kabar sukacita bagi umat yang tertinggal di Kerajaan Yehuda. Edom adalah kekuatan besar yang tak mungkin dikalahkan oleh Kerajaan Yehuda dengan kekuatan militer mereka yang tersisa pada saat itu. Namun Tuhan akan datang dengan keadilan-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya.

    Yesaya menggambarkan Tuhan bertindak sendiri tanpa bantuan seorang manusia pun, tetapi pembalasan-Nya tuntas dan keselamatan yang diberikan-Nya menyeluruh. Siapa yang melawan Dia akan menerima ganjaran, tetapi umat-Nya akan Dia bela (ayat 4).

    Ia tidak berdiam diri melihat umat-Nya dianiaya dan mengalami kesusahan. Ia telah menetapkan suatu waktu ketika Ia menuntut balik keadilan dari orang-orang yang telah membuat umat-Nya menderita. Kita tidak tahu kapan waktu itu akan datang, tetapi Tuhan telah menetapkan satu masa dan Ia tidak akan lalai memberi kelegaan bagi umat.

    Sahabat, cukup banyak umat Tuhan yang hidup dalam penderitaan dan penganiayaan karena iman mereka. Lalu mengapa Tuhan tidak segera melakukan pembalasan dan melepaskan umat dari kesesakan tersebut? Ingatlah bahwa Tuhan merencanakan segala sesuatu pada waktu yang tepat sesuai kemahatahuan dan kemahakuasaan-Nya. Pada akhirnya, Ia sendiri yang akan bertindak tanpa memerlukan bantuan manusia.

    Yesaya 63 merupakan puisi  singkat yang  menyodorkan sebuah metafora dengan penggambaran yang kuat bagi kehidupan kita sebagai orang beriman bahwa dalam segala tekanan hidup yang kita hadapi, yakinlah bahwa selama kita berada di pihak Tuhan, maka Ia akan hadir dengan keadilan dan kuasa-Nya untuk menyelamatkan.

    Sahabat, Tuhan yang kudus dan adil tidak membiarkan manusia berdosa lolos dari hukuman, termasuk ketika umat-Nya berdosa. Tuhan dapat memakai orang fasik menjadi alat penghakiman-Nya terhadap umat-Nya. Namun tatkala murka-Nya terhadap umat-Nya telah mereda, Tuhan kembali membela dan memulihkan umat-Nya. Berbahagialah kita yang memiliki Tuhan yang murka-Nya terhadap umat-Nya hanya sesaat, tetapi kasih setia-Nya  untuk selama-lamanya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil pernunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Teguhlah beriman dan peliharalah hidup kita dalam persekutuan. (pg).

  • Admonition and Suggestion from Friends

    PENDERITAAN MERUPAKAN HUKUMAN ALLAH? Ayub pasal 4 – 31 merupakan percakapan Ayub dengan sahabat-sahabatnya.  Sedangkan Ayub 4:1-5:27 merupakan teguran dan anjuran dari Elifas untuk Ayub. Teguran dan anjuran dari sahabat. Admonition and suggestion from friends.

    Maka hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Admonition and Suggestion from Friends”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 4:1-5:27.  Sahabat, mulai pasal 4 sampai menjelang akhir kitab Ayub, yang akan kita baca dan renungkan bukan lagi kisah hidup dan penderitaan Ayub tetapi percakapan antara sahabat-sahabat Ayub dengan Ayub.

    Percakapan itu bersifat teguran, anjuran, bantahan, dan berbagai perenungan teologis tentang penderitaan dan realitas hidup. Umumnya, sahabat-sahabat Ayub menegaskan bahwa penderitaan adalah hukuman Allah atas dosa, karena itu Ayub harus bertobat. Ayub membantah hal itu sambil menunjuk kepada fakta kesalehannya.

    Dari semua teguran para sahabat Ayub, teguran dari Elifas cenderung paling lembut. Elifas mengakui fakta dampak positif hidup Ayub pada banyak orang. Nasihat dan teladan hidup Ayub telah membangun kehidupan banyak orang, bahkan mereka yang sedang terpuruk sekali pun (Ayub 4: 3-4).

    Elifas juga mengakui fakta bahwa sebelum ini, kesalehan Ayub dan takutnya akan Allah adalah dasar Ayub memiliki kehidupan yang penuh pengharapan (Ayub 4:6). Secara lembut Elifas menjadikan fakta-fakta tersebut teguran agar Ayub berpegang teguh pada prinsip-prinsip hidup yang sudah menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang itu dan bersabar dalam penderitaan yang sedang dialaminya.

    Sahabat, Elifas beranggapan bahwa musibah yang menimpa Ayub memang merupakan rancangan Tuhan dan bukan sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya. Namun, kali ini rancangan Tuhan untuk Ayub ialah menghukumnya dan penyebabnya jelas: Ayub telah berdosa (Ayub 4:17).

    Elifas terus berusaha menasihati Ayub untuk tetap bersabar (Ayub 5:2-6), memasrahkan diri ke dalam tangan Allah, sebab Dia berkuasa mengubah segala sesuatu (Ayub 5:8-13). Asal saja Ayub sabar, penderitaan ini dapat juga merupakan disiplin (Ayub 5:17). Bahkan Elifas mengatakan, “Dialah yang melukai, tetapi juga yang membebat” (Ayub 5:18).

    Semua nasihat Elifas ini benar. Tetapi, hal itu tidak menjawab pergumulan Ayub. Pada akhir kitab ini, kita dapat membaca bahwa kesimpulan Elifas keliru. Menurut Elifas penderitaan Ayub merupakan ganjaran Allah atas kejahatan yang Ayub lakukan. Elifas memutlakkan hukum sebab-akibat. Akibatnya, ia tidak berhasil meringankan derita Ayub, tetapi justru tambah membebaninya.

    Dari bacaan kita pada hari ini kita bisa belajar beberapa hal penting: Pertama, kita harus belajar untuk tidak melihat penderitaan dari satu sudut pandang saja. Kedua, selama kita hidup  di dunia, ada kemungkinan kita akan mengalami penderitaan. Hal tersebut belum tentu karena dosa atau kesalahan kita. Misalnya, bencana alam, musibah dan sakit. Ketiga, kita harus menentukan sikap yang tepat ketika mengalami penderitaan, yaitu menyerahkan diri kepada Tuhan, mohon kekuatan untuk mengerti makna yang terkandung di dalamnya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 5:17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menghakimi sesama yang tengah menderita, bak mengucurkan cuka pada luka. (pg)