Category: Sejenak Merenung

  • Disobedience of the Kings

    MENJADI TELADAN. Usia tidak selalu menjadi faktor penentu seseorang dapat menjadi teladan. Orang yang sudah senior belum tentu dapat menjadi teladan, sebaliknya orang yang masih belia bisa saja menjadi teladan. Untuk dapat menjadi teladan  juga tidak ditentukan oleh tingkat pendidikan seseorang, kekakayaan, dan posisi atau jabatannya.

    Sesungguhnya keteladanan tidak hanya sebatas pengertian, pembelajaran, atau pemahaman belaka. Keteladanan harus dinyatakan dan diperlihatkan sebagai sebuah gaya hidup, bukan hanya sebatas sebuah tindakan saja.

    Ada cukup banyak orang ingin memberi teladan dengan cara memerhatikan orang yang membutuhkan, namun sayangnya hanya sebatas retorika yang diperlihatkan dalam sebuah tayangan di televisi atau di radio, sebagai suatu acara atau program atau kampanye,  dan bukan sebuah gaya hidup. Kita sebagai orang percaya harus dapat menjadi teladan, sehingga  kita dapat benar-benar menjadi panutan.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Disobedience of the Kings (Ketidaktaatan Raja-Raja)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 22:13-30. Sahabat, bacaan kita pada hari  ini berisi nubuat kepada dua raja Yehuda, yaitu Yoyakim dan Konya. Kepada Yoyakim disampaikan teguran Tuhan karena ia memerintah secara lalim, hanya mencari untung sendiri, bahkan tega memeras dan menumpahkan darah orang lain. Karena itu, tidak akan ada orang yang meratapi kematiannya (ayat 18 dan 19).

    Kepada Konya juga disampaikan mengenai kesusahan yang akan ia alami, yaitu ia akan dibuang ke Babel dan tidak akan ada lagi keturunannya yang menjadi raja Yehuda (ayat 24-30).

    Yoyakim dan Konya adalah anak dan cucu dari Raja Yosia. Yoyakim menjadi raja menggantikan saudaranya, Yoahas, yang ditawan Firaun Nekho ke Mesir. Raja Yosia merupakan raja yang melakukan keadilan dan kebenaran (ayat 15 dan 16). Yosia juga melakukan pembaruan iman dan hidup keagamaan di Yehuda dan berbalik untuk beribadah hanya kepada Tuhan. Tidak pernah ada, baik sebelum dan sesudahnya, seorang raja Yehuda yang sepenuhnya mengasihi Tuhan seperti Yosia (2 Raja-Raja 23:25).

    Sayangnya, segala kebaikan dan kebenaran yang dilakukan Yosia TIDAK   DITELADANI dan DIIKUTI oleh anak cucunya. Yoyakim dan Konya seharusnya memilih untuk menjadi raja yang baik seperti Yosia, tapi  mereka justru memilih untuk mengabaikan keteladanan Yosia. Mereka memerintah menurut pandangan dan kehendak mereka sendiri. Itu semua membuat mereka jatuh ke dalam kejahatan dan penderitaan.

    Kata pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, tetapi dalam hidup beriman sering kita jumpai hal yang tidak demikian. Memiliki orang tua yang baik dan berhasil, tidak menjamin anak-anaknya akan demikian. Begitu pula sebaliknya, memiliki orang tua yang lalim dan gagal, tidak berarti anak-anaknya akan demikian juga. Kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri (bdk. Yeremia 31:29-30; Yehezkiel 18:1-32).

    Sahabat, dalam kehidupan ini ada banyak sekali teladan baik yang bisa kita lihat, pelajari, dan ikuti demi menjadi orang baik dan dikenan Tuhan. Entah dari orang lain, orang tua, sahabat, pimpinan, bahkan anak-anak. Karena itu pilihlah teladan yang baik, yang dapat memberi kehidupan dan keselamatan, serta sesuai dengan kehendak Tuhan! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jadilah teladan yang baik di mana pun kita berada: Di dalam keluarga, di lingkungan tempat tinggal, di sekolah, di kantor, dan di mana saja. (pg).

  • God Protects the Wailer

    PEMELIHARAAN TUHAN. Tuhan menciptakan manusia pada hari terakhir, setelah segala sesuatu yang diperlukan manusia tersedia.  Kemudian Ia menempatkan manusia di taman Eden dan berfirman:  “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”  (Kejadian 1:28), dan  “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.”  (Kejadian 1:29).

    Sahabat, bukan tanpa alasan jika Tuhan menciptakan manusia pada hari ke-6 setelah tumbuhan, hewan, dan musim diciptakan-Nya.  Ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia.  Tuhan menciptakan tumbuh-tumbuhan dan sumber daya alam untuk menunjang kelangsungan hidup manusia.  Tuhan juga menyediakan udara segar untuk kita hirup setiap harinya.  

    Tuhan memberikan gambaran tentang burung di udara dan bunga bakung di padang yang dipelihara-Nya (Matius 6:25-29), terlebih-lebih manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Dia  (Kejadian 1:26).  Tak perlu kita khawatir akan hidup ini, sebab Tuhan bertanggung jawab penuh atas kehidupan kita.  Tuhan yang akan memelihara hidup kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ratapan dengan topik: “God Protects the Wailer (Tuhan Melindungi  Sang  Peratap)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ratapan 3:49-66. Sahabat, Nabi Habakuk pernah bergumul seperti ini: “Tuhan, mengapa Engkau memakai bangsa Kasdim yang jauh lebih jahat untuk menghukum umat-Mu sendiri yang berdosa?” (Habakuk 1:12-17). Kadang apa yang Tuhan lakukan sulit diterima oleh akal sehat. Akan tetapi, Tuhan memang berdaulat. Dia bisa memakai siapa saja. Yang tidak boleh kita lupakan ialah, yang dipakai Tuhan pun kalau bertindak melampaui batasan yang ditetapkan oleh Tuhan,  akan dihukum pula!

    Sang Peratap (Nabi Yeremia) mewakili umat sudah terbuka menerima hukuman Allah atas dosa-dosa mereka. Keterbukaan itu membawa pengharapan, bahwa setelah dihukum pasti ada pengampunan dan pemulihan. Akan tetapi, yang sulit justru masih harus dialami. Tuhan menghukum mereka memakai bangsa lain. Ternyata bangsa musuh tersebut bertindak melampaui batas. Bukan hanya bangsa tersebut, banyak bangsa lain yang mengambil kesempatan dalam kesempitan Yehuda. Mereka berdiri di atas penderitaan umat Tuhan!

    Sahabat, Sang Peratap memohon agar Tuhan sendiri bertindak menyelamatkan mereka dari perlakuan yang kejam para musuh terhadap umat. Tuhan sendiri pasti bertindak adil, tetapi para musuh yang Tuhan pakailah yang bertindak melampaui batas, mereka bertindak sewenang-weang  (ayat 52-54; 59-63).

    Sang Peratap meyakini bahwa Tuhan pasti mendengarkan seruannya karena Dia dahulu sudah pernah menolongnya (ayat 57-59). Dengan keyakinan itulah Sang Peratap berani memastikan para musuh pun tidak akan luput dari penghukuman Tuhan (ayat 64-66).

    Sahabat, hampir selalu akan ada orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan orang lain. Anak Tuhan pun tidak luput dari dimanfaatkan seperti itu. Akan tetapi, tidak usah khawatir.Tuhan tahu menjaga milik-Nya. Mereka yang berniat jahat tidak akan mampu melawan Tuhan! Yang penting kita senantiasa terbuka di hadapan Tuhan, dan menjaga diri tidak ikut-ikutan mengail di air keruh. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 57-58?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mungkin saat ini Sahabat sedang berada di  perigi  permasalahan hidup yang teramat berat, berseru-serulah kepada Tuhan, Ia pasti mau mendengar dan menolong. (pg).

  • Esther was CHOSEN by GOD to Save her Nation

    KEBAKTIAN RABU ABU. Saat ini ada cukup banyak Gereja-gereja Tuhan di Indonesia  dari berbagai denominasi  melaksanakan Kebaktian Rabu Abu, sebab selain Rabu Abu sebagai pembuka masa Pra-Paskah, juga karena makna teologisnya. Makna teologis yang terdalam dari Rabu Abu yaitu  orang percaya mengungkapkan sikap PENYESALAN dan PERTOBATANNYA  (2 Samuel 13:19, Yunus 3:5-6, Ratapan 2:10, Daniel 9:3-6).

    Sikap penyesalan dan pertobatan orang percaya didasarkan kepada kesadaran akan KEFANAANNYA  sebagai makhluk. Itu sebabnya pada hari Rabu Abu, gereja menggunakan abu untuk menyatakan hakikat manusia yang fana dan lemah (Mazmur 103:14, bdk. Kejadian 2:7). Jadi jelaslah bahwa Rabu Abu dan Pra-Paskah merupakan masa di mana gereja menyadari keberdosaan dan kefanaan diri serta KEBERGANTUNGANNYA  pada RAHMAT  Tuhan.

    Hari Rabu Abu tahun 2023 jatuh pada tanggal 22 Februari 2023. Dalam Kebaktian Rabu Abu biasanya dilaksanakan upacara khusus pembubuhan abu di dahi dengan bentuk salib. Dari hari Rabu Abu, Minggu-minggu Pra-Paskah sampai hari raya Paskah ada waktu 40 hari.  Ada  sebagian orang percaya yang memakai waktu tersebut  untuk berpuasa secara khusus.

    Dalam rangka mengingat Rabu Abu pada hari ini, saya mengajak Sahabat untuk merenungkan kitab Ester dengan topik: “Esther was CHOSEN by GOD to Save her Nation (Ester DIPILIH TUHAN  untuk Menyelamatkan Bangsanya)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ester 4:1-17 dengan penekanan pada ayat 16. Sahabat, Ada banyak orang ketika sudah menjadi orang yang berhasil dan “orang besar”  berubah menjadi orang yang sombong dan lupa dengan asal-usulnya, seperti pepatah Jawa yang mengatakan  ‘kacang ninggal lanjarane’.  Syukur hal tersebut tidak terjadi pada Ester!

    Meski sudah menjadi permaisuri raja dan tinggal di istana dengan fasilitas serba wah bukan berarti berubah pula sifat dan karakternya, ia tetaplah orang yang rendah hati dan memiliki kepedulian terhadap orang lain.  Terbukti ketika Mordekhai menghadapi masalah berat yang disebabkan ketidaksenangan Haman  (karena Mordekhai adalah orang Yahudi), tidak mau memberi hormat kepada dirinya, bahkan Haman berusaha menghabisi segenap orang Yahudi, Ester tidak tinggal diam. 

    Ia mengajak orang-orang Yahudi BERPUASA dan MERENDAHKAN DIRI  di hadapan Tuhan selama TIGA HARI TIGA MALAM, TIDAK MAKAN dan TIDAK MINUM.  Apa yang diperbuat Ester merupakan WUJUD KEPEDULIAN  terhadap nasib bangsanya.  Tindakan Ester memohon belas kasihan Tuhan dengan mengajak orang-orang sebangsanya itu  merupakan SEBUAH TINDAKAN IMAN. 

    Pada hari ke-3 Ester memberanikan diri menghadap sang raja, padahal tidak sembarang orang diperbolehkan menghadap, kecuali raja berkenan memanggilnya.  Ester rela mempertaruhkan nyawanya untuk menghadap raja Ahasyweros, dan upaya ini akhirnya membuahkan hasil! Ester dipakai oleh Tuhan untuk menyelamatkan bangsanya. 

    Sahabat, melalui kehidupan Ester ini Tuhan hendak mendemonstrasikan kedaulatan dan kasih-Nya yang besar kepada umat-Nya.  Untuk menggenapi rencana-Nya,  Tuhan dapat bekerja dengan berbagai cara, bahkan ia sanggup memakai siapa pun;  dalam hal ini Tuhan memilih Ester yang dipandang sebelah mata oleh sesamanya dan dianggap tidak punya masa depan karena ia adalah yatim piatu, tetapi beroleh peninggian dari Tuhan dan justru dipakai-Nya untuk menjadi penyelamat bagi bangsanya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13-14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bisa belajar satu prinsip dari sikap Ester: Senantiasa melibatkan Tuhan dan mengandalkan-Nya dalam  melakukan segala sesuatu! (pg).

  • SEEK GOD at all the TIMES

    MENCARI TUHAN. Mengapa kita harus mencari Tuhan?  Karena Dia adalah sumber pertolongan sejati.  Sementara segala hal yang ada di dunia ini tak bisa memberikan jawaban dan jaminan yang pasti bagi kita.  Karena itu jangan sekali-kali kita menggantungkan harapan pada kekayaan, jaringan, ketenaran,  jabatan, pengalaman, kepandaian atau ketrampilan, semuanya adalah sia-sia.  Gantungkan harapan sepenuhnya kepada Tuhan sebab Dia selalu punya jalan ajaib untuk menolong kita.  Dia tidak pernah kehabisan cara melepaskan kita dari berbagai masalah.

    Sahabat, setiap kesempatan yang ada mari kita gunakan untuk terus menerus mencari Tuhan.  Mencari Tuhan adalah sebuah keputusan penting bagi orang percaya, terlebih saat kita berada dalam situasi-situasi yang sulit.  Ketika jalan yang kita tempuh terbentur  jalan buntu, sedangkan berbagai upaya telah kita lakukan dan kesemuanya berujung kepada kegagalan, tiada jalan lain selain kita harus datang kepada Tuhan dan mencari wajah-Nya.  Mencari Tuhan berarti menyadari akan keterbatasan dan ketidakberdayaan kita, lalu dengan penuh kerendahan hati mencari-Nya.  Mencari Tuhan juga berarti berharap dan mengandalkan Dia saja.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “SEEK GOD at all the TIMES (CARILAH TUHAN Setiap Waktu)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 21:1-10. Sahabat, tak perlu terkejut lagi bila manusia sering lupa diri saat terberkati atau dalam keadaan baik, tetapi begitu sedang dalam masalah, kesulitan, kesesakan atau mengalami jalan buntu, barulah ia ingat kepada Sang Pencipta dan berseru-seru memanggil nama-Nya.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, Raja Zedekia mengutus Pasyhur dan Imam Zefanya kepada Nabi Yeremia (ayat 1). Raja Zedekia mencoba mencari petunjuk Tuhan atas situasi krisis yang ia alami, yaitu dikepung Nebukadnezar, raja Babel (ayat 2). Kekalahan sudah di depan mata, dan ia mencari Tuhan untuk mengharapkan mukjizat. Namun, jawaban Tuhan melalui Nabi Yeremia justru sebaliknya. Bukan pertolongan yang akan ia terima, melainkan justru kehancuran (ayat 3-7). Tidak ada pilihan lain. Sudah terlalu terlambat untuk bertobat; bangsa Yehuda hanya perlu menyerah jika ingin bertahan hidup (ayat 8-9).

    Dalam tradisi Perjanjian Lama, seorang nabi memiliki peran sebagai perantara dan penyambung lidah Allah kepada umat. Nabi Yeremia telah berulang kali menyampaikan pesan pertobatan, tetapi ia lebih sering diabaikan, baik oleh raja maupun umat. Bahkan tak jarang raja-raja zaman dahulu lebih memilih mengangkat dan mendengar nabi-nabi yang sesuai selera mereka (2 Raja-Raja  2:1-8).

    Zedekia bahkan akhirnya memilih jalan kematian, yaitu dengan memberontak kepada Nebukadnezar (2 Raja-Raja  24:20-25:21). Dengan demikian, berakhirlah sejarah kerajaan Yehuda.

    Sahabat, Allah tidak menghendaki kita berbuat seperti Raja Zedekia yang baru mencari Tuhan ketika sudah terdesak. Sering kali, tindakan tersebut sudah terlambat dan tidak memberikan jawaban seperti yang kita harapkan. Coba bayangkan saja, jika kita punya kerabat yang selama ini mengabaikan kita, lalu tiba-tiba dia datang dan meminta pertolongan kepada kita, apakah kita akan merasa nyaman? Relasi seperti itu, baik kepada sesama terlebih kepada Tuhan, bukanlah relasi yang sehat.

    Lalu bagaimana caranya agar kita dapat menjalin relasi yang sehat dengan Tuhan dan sesama? Caranya dengan doa, saat teduh, perenungan firman Tuhan, perjumpaan dengan orang lain, atau menjalin relasi dalam keseharian. Temui dan cari Dia bukan hanya pada saat krisis demi mengharapkan mukjizat! CARILAH TUHAN  SETIAP WAKTU. Turuti firman-Nya, dan janganlah kita mengandalkan pengertian diri sendiri! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat pedih begitu terasa di dalam hati, Tuhan adalah pribadi yang tepat untuk segera kita cari. (pg).

  • Open Oneself to be Corrected

    KITAB RATAPAN. Secara keseluruhan, kitab Ratapan terdiri dari lima syair. Isinya berupa ratapan atas jatuhnya Yerusalem ke tangan tentara Babel, kehancurannya serta kisah Masa Pembuangan. Hal ini terjadi pada 586 sM.

    Meski kitab ini pada umumnya bernuansa sedih, namun di dalamnya ditemukan pelbagai ungkapan kepercayaan kepada Allah. Bahwa ada harapan akan masa depan yang cerah. Syair-syair dalam kitab ini digunakan orang Yahudi dalam ibadah pada hari-hari khusus untuk berpuasa dan berkabung.

    Kitab Ratapan merupakan  salah satu tulisan paling tragis atau paling menyedihkan dalam Alkitab. Kalau kitab Ayub menggambarkan penderitaan individu yang amat mengerikan, sedangkan kitab Ratapan mengisahkan betapa menyedihkannya umat yang membelakangi TUHAN, Allahnya. Nabi Yeremia yang menurut tradisi gereja adalah penulis kitab Ratapan melihat penderitaan umat Allah sebagai disiplin atau hukuman Allah. Penulis sangat berduka melihat betapa besar dosa Yerusalem dan betapa mengerikannya hukuman Allah itu.

    Setelah kita berhasil menyelesaikan belajar dari kitab Ayub, mulai hari ini kita akan belajar dari kitab Ratapan. Hari ini kita akan belajar dari kitab Ratapan dengan topik: “Open Oneself to be Corrected (Membuka Diri untuk Dikoreksi)” Bacaan Sabda saya ambil dari Ratapan 1:1-22. Sahabat, Yeremia melukiskan adanya kesunyian yang mencekam karena suasana duka. Kejayaan negeri yang dahulunya dikenal dan dihormati bangsa-bangsa hanya tinggal puing-puing penderitaan. Kelaparan dan kematian, Kota Yerusalem dan Bait Allah hancur, raja-raja dan para pangeran dibunuh dan ditawan, serta umat mengalami penghinaan dari para musuhnya.

    Bangsa-bangsa yang tadinya berteman dengan mereka sekarang acuh tak acuh, bahkan mencibir nasib mereka. Semuanya ini terjadi karena dosa yang telah dilakukan oleh bangsa Yehuda (ayat 8). Mereka memberontak terhadap Tuhan dan kebenaran-Nya (ayat 18 dan 20). Para pemimpin mereka menjalankan pemerintahan secara tidak bertanggung jawab.

    Sahabat, dalam ratapannya, Yeremia sadar atas segala keluhannya. Ia berpaling kepada Tuhan dan menyatakan pengakuan dosanya di hadapan Tuhan (ayat 18). Yeremia mengakui kebesaran dan kuasa Tuhan (ayat 19). Ia memohon agar Tuhan membawa umat kembali kepada-Nya untuk diperbarui. Ia juga memohon agar hukuman yang Tuhan telah lakukan kepada mereka juga menimpa bangsa Babel.

    Sahabat, kepada siapa lagi kita harus berpaling kala deraan murka Allah melanda hidup kita saat kita bermain-main dengan dosa? Dia murka dan menghukum bukan untuk membinasakan melainkan untuk mendisiplin, memurnikan, supaya akhirnya bisa memulihkan umat-Nya dalam kekudusan dan kemuliaan. Kristus menjadi alasan keberanian kita untuk meminta pengampunan Allah bila kita jatuh, supaya kita bisa bangkit kembali.

    Dalam ratapan Yeremia, kita belajar bahwa TIDAK ADA yang KEKAL di dunia, termasuk KEJAYAAN. Ada saatnya semuanya hancur dan yang tersisa hanyalah kepedihan yang mendalam. HANYA TUHAN yang KEKAL. Karena itu, marilah kita letakkan hidup kita dalam tangan Tuhan dan bertekad TIDAK mengandalkan manusia, jaringan, kekayaan, ketenaran,  kehormatan, dan kekuasaan yang kita miliki. Hiduplah senantiasa dalam persekutuan yang intim dengan-Nya dan  MEMBUKA DIRI untuk DIKOREKSI   oleh TUHAN. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari bacaan kita pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan selalu bersama orang terluka. Kristus yang bangkit adalah juga Allah yang terluka. (pg).

  • Keep Hoping on God’s Grace

    BELAS KASIH ALLAH. Belas kasih mengandung arti bahwa kita peduli akan orang lain, menanggapi keadaan orang lain dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka. Belas kasih yang benar merupakan perasaan empati yang bekerja. Berbeda dengan perasan simpati yang hanya merasa kasihan karena melihat orang lain menderita tetapi tidak bisa  ikut merasakan apa yang diderita mereka.

    Dalam pelayanan-Nya, Yesus selalu melandasinya dengan rasa belas kasih. Ia memandang bahwa manusia membutuhkan kasih yang besar. Hati Yesus hancur tatkala melihat orang yang sakit dan tak berdaya. Ia memperhatikan mereka dan berinisiatif untuk mengulurkan tangan.

    Yesus menyatakan dirinya sebagai gembala yang baik kepada orang-orang  telantar (Matius 9:36). Di Zaman Now, telantar  juga tertuju pada orang yang punya status sosial baik, orang terpandang, kaya, berpendidikan tinggi tapi hidupnya kosong, terjerat pada kepalsuan dunia yang hampa. Gaya hidupnya hedonis tapi sebenarnya jiwanya kering dan telantar.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ratapan dengan topik: “Keep Hoping on God’s Grace (Tetap Berharap pada Belas Kasih  Allah)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ratapan 2:1-22. Sahabat, murka Allah atas pengkhianatan umat-Nya memang mengerikan. Allah menghancurkan Yerusalem habis-habisan.

    Allah menghempaskan kemuliaan (ayat 1-2) dan melemahkan kekuatan (ayat 3) Yerusalem. Ia menjadikan umat-Nya musuh yang harus dibasmi, yaitu sebagai sasaran bidik panah-Nya (ayat 4-5). Semua simbol relasi mereka dengan Diri-Nya seperti bait Allah dan mezbah, para pemimpinnya, serta tembok kotanya dimusnahkan (ayat 6-9).

    Apa yang terjadi pada Yerusalem begitu mengenaskan sehingga respons yang tersisa dari penduduknya hanyalah berkabung tanpa dapat berkata-kata (ayat 10), termasuk untuk menjawab rengekan anak-anak mereka meminta makanan (ayat 12). Tidak seorang pun dapat menghibur Yerusalem. Para nabi palsu yang dahulu menyesatkan mereka dengan nubuat palsu, sekarang bungkam (ayat 14), bahkan bangsa sekeliling justru menyoraki mereka (ayat 15-16).

    Sahabat, syukur Ratapan 2  tidak ditutup dengan perasaan putus asa yang berujung pada  perbuatan nekad yang membawa kepada kehancuran dan kematian. Yeremia mengajak pembaca untuk membuka diri kepada Allah dengan tangis penyesalan yang mendalam sambil BERHARAP PADA BELAS KASIH ALLAH  (ayat 18-22). Itulah seruan iman bahwa Allah tetap mengasihi mereka. Allah memang telah bertindak keras, tetapi Ia tidak pernah menyangkal kasih setia-Nya.

    Pengharapan yang diungkap Yeremia terjawab tuntas dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Murka Allah yang dicurahkan, telah ditanggung Kristus di salib. Kita yang percaya beroleh pengampunan dan pemulihan!

    Tuhan membutuhkan orang-orang yang siap melayani dengan hati yang penuh belas kasih saat melihat orang lain yang membutuhkan pertolongan. Sesungguhnya tidak ada orang yang tidak membutuhkan Kristus. Apakah hari ini Sahabat dan saya mau dipakai Tuhan menyalurkan kasih-Nya kepada orang lain yang membutuhkan? Tuhan menunggu jawaban kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18-22?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.”  (Roma 9:15). (pg).

  • TESTIMONY under PRESSURE

    NABI YEREMIA. Yeremia adalah seorang NABI PERATAP, kemungkinan ia bertemperamen melankolis karena hatinya peka sekali untuk mengecap rasa pahit yang masuk dalam hidupnya. Yeremia sangat sedih melihat Allah begitu kejam terhadap ketidaktaatan Israel. Bayangkan, Allah hendak menghukum bangsa pilihan-Nya! Kondisi Yeremia begitu sukar saat itu, apalagi ia diperhadapkan dengan bangsa yang bebal.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Testimony  under PRESSURE (KESAKSIAN di bawah TEKANAN)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 20:1-18 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, tekanan hidup dapat membuat orang tiba pada LEMBAH KEPUTUSASAAN:  Untuk apa aku hidup? Mengapa aku dilahirkan? Bukankah lebih baik aku mati saja selagi dalam kandungan? Begitulah gugat tanya dalam batin Yeremia kepada Sang Pencipta. Ia merasa telah gagal dalam mewartakan sabda Tuhan.  Alih-alih mendengar dan bertobat, umat itu justru memusuhinya. Ia dicemooh, diancam, bahkan dianiaya. Semua sahabat karibnya dan Imam Pasyhur memusuhinya.

    Yeremia banyak mengeluh karena mengalami depresi dan tekanan secara mental. Dia sedih, kecewa dan marah. Kata-katanya kepada Allah setelah ia dipasung oleh imam Pasyhur menunjukkan sungut-sungutnya. Dia mengharapkan ibunya melakukan aborsi saat ia masih ada dalam kandungan, bahkan mengutuki hari kelahirannya sendiri. Tetapi di sisi lain ia tetap setia kepada Allah. Ia tetap memberitakan firman-Nya sekalipun mereka yang diajarnya tidak mau mendengarkannya.

    Luar biasa, di tengah TEKANAN dan PENOLAKAN, Yeremia tak kuasa MENOLAK PANGGILAN TUHAN.  Setiap kali ia berniat menolaknya, firman Allah seakan mau meledak dalam dirinya (ayat 9). Ada keinginan untuk meninggalkan pelayanan namun hati nuraninya menderita. Akhirnya ia memilih untuk setia melayani sekalipun TEKANAN dan ANCAMAN terus membuntutinya. Biarpun menderita, Yeremia memiliki iman yang gigih kepada Allah. Ia terus memperjuangkannya.

    Sahabat, meski mengalami pergumulan berat, kecewa, dan putus asa, tampaknya Yeremia tidak bisa MEMUNGKIRI  PANGGILANNYA.  Suara Tuhan itu begitu kuat mendesak dalam dirinya,seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulangku (ayat 9). Itulah pertanda bagi Yeremia bahwa di tengah pergumulan hidup yang teramat berat, ia meihat bahwa sebenarnya Tuhan tetap menyertainya sehingga akhirnya ia boleh mengatakan: Tetapi Tuhan MENYERTAI  AKU  seperti PAHLAWAN yang GAGAH (ayat 11).

    Bisa jadi Sahabat saat ini sedang berada dalam kondisi kecewa bahkan putus asa ketika mencoba berjuang menjadi anak Allah yang baik. Banyak TEKANAN, cibiran, fitnah, dan aniaya yang Sahabat alami. Namun, cobalah HENING SEJENAK.  Dengarkanlah suara-Nya dalam hatimu dan yakinlah seperti Yeremia bahwa Tuhan selalu menyertai.

    Sahabat, mengikut Kristus dan dikaruniai Roh Kudus tak menjadikan kita berkekuatan supranatural. Tidak pula membuat kita berkuasa atas dunia, ataupun memberikan jaminan kelimpahan dan kemapanan dalam segala hal. Sebaliknya, menjadi pengikut Kristus membuat hidup kita penuh tantangan dan risiko. Untuk memperjuangkan iman kita sering diperhadapkan dengan tekanan, penderitaan, kepedihan, dan kelemahan.  Namun ada kekuatan, keberanian dan penghiburan dari Tuhan. Dapatkah kita menjadi saksi dalam tekanan? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di saat kita merasa tidak sanggup lagi, berdoalah kepada Tuhan dan bersabarlah. (pg).

  • Love One Another as the NEW COMMANDMENT

    HARI VALENTINE. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Hari Valentine adalah  hari penyampaian atau pernyataan pesan kasih sayang yang diperingati pada tanggal 14 Februari.

    Sejarah munculnya Hari Valentine datang dari seorang pendeta di Roma bernama Valentine. Diceritakan bawah Valentine dipukuli dan berakhir dipancung pada tanggal 14 Februari 278 Masehi. Bentuk eksekusi ini merupakan sebuah hukuman karena pendeta Valentine dianggap menentang kebijakan seorang Kaisar bernama Claudius II.

    Berdasarkan sejarah, Claudius II  dikenal sebagai seorang kaisar yang kejam setelah membuat Roma terlibat dalam berbagai pertempuran berdarah. Supaya Roma selalu menang dalam peperangan, Sang Kaisar harus  memiliki tentara yang kuat. Namun hal tersebut ternyata sulit untuk diwujudkan, karena menurut Sang Kaisar bala tentaranya enggan pergi ke medan perang karena terikat pada istri atau kekasih. Untuk mengatasi hal tersebut Claudius II melarang semua bentuk pernikahan serta pertunangan di Roma.

    Sahabat, pendeta Valentine  menentang kebijakan tersebut, ia berusaha secara diam-diam menikahkan pasangan muda. Tindakan tersebut diketahui Sang Kaisar dan pada akhirnya pendeta Valentine ditahan serta dihukum, kemudian tubuhnya dipukul hingga dipancung pada tanggal 14 Februari.

    Pada Hari Valentine,  hari ini, saya mengajak Sahabat untuk merenungkan  Injil Yohanes dengan topik: “Love One Another as the NEW COMMANDMENT (SALING MENGASIHI sebagai PERINTAH BARU)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yohanes 13:31-35 dengan penekanan pada ayat 34-35. Sahabat, dapatkah kita mengasihi sesama jika kita tidak pernah merasakan dan menerima kasih Allah? Untuk berbuat baik mungkin kita bisa melakukannya, orang lain pun juga bisa, tetapi kebaikan yang tidak didasarkan pada kasih Allah sesungguhnya hanyalah kebaikan semu.

    Sahabat, setelah Yesus berbicara tentang pengkhianatan, dan setelah Yudas dikuasai sepenuhnya oleh Iblis, Yudas segera melangkahkan kakinya untuk melakukan rencana jahat yang sudah disepakatinya dengan Iblis. Ia lebih memilih untuk mengikuti yang jahat daripada mengikuti nasihat Yesus dan panggilan kasih karunia-Nya. Karena itu, ia kehilangan bagian penting dari pembicaraan Yesus selanjutnya, yaitu tentang SALING MENGASIHI sebagai SESAMA MURID KRISTUS.

    Yesus memandang rencana jahat Yudas untuk menyerahkan-Nya kepada para pemimpin agama Yahudi dan penyaliban yang akan dihadapi-Nya sebagai cara Allah Bapa untuk memuliakan-Nya serta jalan bagi-Nya untuk memuliakan Allah Bapa (ayat 31-32).

    Coba kita cermati, sesungguhnya selain mengindikasikan keilahian-Nya, panggilan Yesus kepada para murid dengan sebutan “anak-anak-Ku” menunjukkan relasi yang erat dan dekat yang dibangun dan diprakarsai oleh Yesus. Karena Yesus yang memprakarsainya, relasi itu bersifat kekal. Yesus telah, sedang, dan akan terus mengasihi mereka. Karena itu, Dia MEMBERIKAN PERINTAH  supaya MEREKA SALING MENGASIHI  dengan standar yang Yesus berikan. SALING MENGASIHI  itulah yang akan menjadi IDENTITAS  mereka di tengah-tengah dunia, yaitu cara dunia mengenali mereka sebagai MURID-MURID YESUS (ayat 34-35).

    Sahabat, perintah ini BERLAKU  untuk SEMUA ORANG PERCAYA di SEPANJANG MASA, dalam kata lain kita, Sahabat dan saya serta semua orang yang berstatus sebagai anak-anak Allah. Kita yang telah ditebus dengan pengorbanan-Nya dan secara pribadi mengalami kasih Tuhan Yesus diberi kemampuan untuk mengasihi sesama dengan kasih dari surga. Kasih itu tidak hanya kita alami, namun kasih itu akan MENJADI BUKTI bahwa kita adalah MURID TUHAN YESUS.  Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 31-32?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa kasih kehidupan kita tidak akan memuliakan nama Tuhan! (pg).

  • The Crushed Jar

    YERUSALEM. Mengutip dari Wikipedia: Yerusalem  juga dikenal dengan nama Al-Quds (bahasa Arab) merupakan salah satu kota tertua di dunia, terletak di sebuah dataran tinggi di Pegunungan Yudea antara Laut Tengah dan Laut Mati. Kota ini dianggap suci dalam tiga agama Abrahamik (kelompok agama yang mengikuti ajaran dan menyembah Tuhan Abraham/Ibrahim): Yahudi, Kristen, dan Islam.

    Sepanjang perjalanan sejarahnya yang panjang, Yerusalem pernah dihancurkan setidaknya dua kali, dikepung 23 kali, diserang 52 kali, dan direbut serta direbut-kembali 44 kali. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “The Crushed Jar (Buli-Buli yang Diremukkan)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 19:1-15. Sahabat, Yerusalem adalah kota yang terhormat. Kota yang merupakan pusat peribadahan Israel. Namun dalam bacaan kita pada hari ini, Yerusalem yang dihormati, dinubuatkan akan seperti buli-buli yang hancur berkeping-keping, seperti periuk yang dipecahkan oleh sang panjunan. Itu semua karena mereka, orang Israel,  tak lagi percaya kepada Tuhan,  bahkan mereka membawa illah lain ke dalam kota mereka, bahkan mereka menyembah illah itu, menduakan Tuhan.

    Allah bukan hanya seperti tukang periuk yang membentuk ulang bejana yang rusak (pasal 18), tetapi Dia juga siap meremukkan bejana yang melambangkan bangsa Israel itu (pasal 19). Lagi-lagi, Yeremia diutus untuk menyampaikan dan memperagakan pesan Allah. Ia membeli sebuah buli-buli, lalu mengajak beberapa pemimpin senior Yehuda ke Lembah Hinom, ke altar Tofet, tempat ritual kafir pengorbanan anak dilakukan. Di situ, Yeremia membanting buli-buli sampai hancur (ayat 1-2, 10-14).

    Sahabat, seperti itulah yang akan dialami bangsa Yehuda karena telah meninggalkan Tuhan demi berhala serta membiarkan ketidakadilan merajalela (ayat 4-6). Ritual mempersembahkan anak sebagai korban bakaran merupakan kekejian luar biasa di mata Tuhan. Waktunya akan datang bagi bangsa Yehuda untuk mengalami kehancuran dan kematian yang mengerikan (ayat 7-9).

    Allah sendiri yang akan meremukkan bejana itu dengan mendatangkan malapetaka yang mengerikan (ayat 10-15). Teguran keras Allah di bacaan kita pada hari ini seharusnya dipandang oleh bangsa Yehuda sebagai peringatan, bukan ancaman. Ancaman keluar dari hati yang membenci, dan mengharapkan hal buruk terjadi, tetapi peringatan muncul karena kasih, agar malapetaka terburuk akibat kebebalan dosa Yehuda tidak dialami. Sayangnya, bangsa Yehuda justru menunjukkan reaksi negatif.

    Sahabat, terkadang kita menganggap bahwa Allah tidak mungkin menghukum kita karena Dia mengasihi kita. Jika kita pernah berpikir demikian, maka sesungguhnya kita tidak mengenal Allah. Allah tidak pernah main-main dengan perkataan-Nya. Jangan menunggu murka-Nya turun atas hidup kita. Cukuplah teguran dari Allah melalui firman-Nya, karena firman-Nya adalah YA dan AMIN!

    Marilah kita terus belajar mengenali suara Allah melalui firman yang kita baca setiap hari.  Segeralah bertobat dan kembali kepada Allah saat Allah mengajar kita melalui firman-Nya! Kesombongan dan kekerasan hati hanya akan mendatangkan hukuman dan murka dari Allah. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Belajarlah untuk selalu memiliki hati yang siap belajar dan terbuka untuk dibentuk Tuhan. (pg).

  • Allowing GOD to SOVEREIGN our Lives

    KEDAULATAN ALLAH. Entah sadar atau tidak terkadang kita melupakan adanya kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah artinya  kekuasaan Allah secara penuh atas hidup kita. Secara sederhana  bisa diartikan bahwa kedaulatan Allah merupakan hak Allah untuk melakukan apapun yang Allah kehendaki atas hidup kita.

    Sebagai Allah yang menciptakan segala sesuatu dalam kehidupan manusia tentu tidak ada yang salah jika Allah memiliki kedaulatan atas semua ciptaan-Nya termasuk manusia. Maaf, kadang logika kita terbalik,  manusia melupakan hal tersebut bahkan seolah Allah-lah yang harus memenuhi kehendak kita sebagai manusia.

    Sahabat, ketika harapan dan keinginan kita tidak atau belum tercapai seringkali kita mengeluh dan tak jarang pula menyalahkan Tuhan. Contoh sederhana adalah pola pikir yang berharap bahwa ketika kita mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka kita berharap suatu kehidupan yang bebas dari masalah dan pencobaan.

    Tentu saja pola pikir seperti itu kurang tepat. Selama kita ada di dunia ini, maka yang namanya persoalan, masalah, tantangan, halangan, dan pencobaan akan silih berganti menghampiri hidup kita. Tuhan Yesus sendiri ketika hidup di dunia dan  menjadi manusia mengalami berbagai cobaan dan pergumulan hidup.

    Terkadang ketika kita semakin sungguh-sungguh dengan Tuhan, kita belajar hidup benar dan kita belajar melayani Tuhan, justru persoalan datang silih berganti, cobaan menghampiri dan berbagai pergumulan mendera hidup kita. Pada saat seperti itu tidak jarang kita menyalahkan Tuhan atau setidaknya bertanya kepada Tuhan, “Mengapa semua ini terjadi?” “Apa salah dan dosaku?”

    Syukur kepada Tuhan kalau hari ini kita dapat belajar  bagian akhir dari kitab Ayub dengan topik: “Allowing GOD to SOVEREIGN our Lives (Mengizinkan Allah BERDAULAT atas HIDUP KITA)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 42:1-6. Sahabat, Ayub adalah seorang yang saleh dan jujur. Takut akan Allah adalah landasan kesalehannya. Ia memiliki integritas moral dan komitmen sepenuh hati kepada Allah. Ia benar dalam pikiran, perkataan dan tindakannya. Allah sendiri mengakui kesalehan Ayub. Namun kesalehan itu tidak meluputkannya dari pencobaan. Bahkan Allah sendiri yang mengizinkan Iblis datang untuk mencobai Ayub. Allah juga tidak serta-merta membebaskan Ayub dari penderitaan. Ayub diizinkan-Nya jatuh sampai ke titik nadir kehidupannya.

    Dalam penderitaannya, Ayub masih saja setia kepada Allah. Ia tetap teguh dalam iman sekalipun harta miliknya habis ludes, semua anak-anaknya mati, tubuhnya ditimpa barah busuk. Bahkan saat istrinya menyuruhnya mengutuki Allah, Ayub masih bisa mengatakan: “… Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? …” (Ayub 2:10). Namun demikian Allah seperti mengabaikan kesalehan itu. Penderitaan Ayub tak segera diambil dari padanya.

    Sahabat, Ayub beroleh pemulihan setelah ia mau merendahkan diri dalam penyesalan di hadapan Allah. Setelah ia mencabut perkataannya yang merupakan pembelaan diri atas ketidakberdosaannya selama ini. Ya, sesaleh bagaimanapunpun hidup manusia, di hadapan Allah ia tetap harus MENGAKUI KEDAULATAN ALLAH,  sebab hanya oleh karena anugerah Allah saja manusia dimungkinkan menjadi pribadi yang saleh dan benar. Pengakuan ini jugalah yang menjadi TANDA KEBERHASILAN AYUB  dalam mengalahkan Iblis. Sudahkah kita mengaku dan sungguh-sungguh MENGIZINKAN ALLAH BERDAULAT  atas hidup kita? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kadang kita diizinkan gagal supaya kita tidak sombong dan mengajar kita untuk berharap dan bergantung penuh kepada Tuhan dalam segala hal. (pg).