Category: Sejenak Merenung

  • Nebuchadnezzar raised himself then humiliated

    MENJADI SOMBONG. Sebuah BERKAT akan menjadi JERAT  ketika kita melupakan Tuhan dan membanggakan diri sendiri.   Orang yang mendapat kekuasaan atau kedudukan tinggi mudah sekali menjadi sombong. Hal ini disebabkan karena sifat dasar manusia berdosa yang dari awal ingin menyamai Allah Sang Pencipta. Selain itu, orang yang mendapat kekuasaan atau kedudukan tinggi dengan susah payah sering kali merasa bahwa kekuasaan dan kedudukan tinggi yang ia peroleh adalah hasil kerja keras dan kemampuannya.

    Tuhan tahu bahwa manusia mudah menjadi sombong ketika kehidupannya dikelilingi berkat dan keberhasilan. Itulah sebabnya waktu bangsa Israel akan masuk ke Tanah Perjanjian, Tuhan mengingatkan agar mereka tidak menyombongkan diri dan melupakan pemeliharaan Tuhan (Ulangan 9:1-6). Ketika kita mengesampingkan Tuhan dalam keberhasilan kita, DOSA KESOMBONGAN  akan MERUNTUHKAN KEBERHASILAN  kita. Keberhasilan semestinya menjadikan kita semakin rendah hati di hadapan Tuhan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Daniel dengan topik: “Nebuchadnezzar Raised himself then humiliated (Nebukadnezar Meninggikan  Diri Sendiri  dan Dipermalukan)”. Bacaan Sabda diambil dari Daniel 4:1-37 dengan penekanan pada ayat 30. Sahabat,  Pengamsal mengingatkan kita: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.”  (Amsal 16:18).  Yes. Amin. Raja Nebukadnezar memiliki kekuasaan, keagungan dan kebesaran, tetapi dia lupa darimana semuanya itu berasal.

    Dikisahkan, suatu ketika raja sedang berjalan-jalan di atap istana raja Babel dan ia berkata,  “Bukankah ini Babel yang besar?  Saya telah membangunnya sebagai kediaman kerajaan dengan kekuatan kuasa saya dan untuk kemuliaan keagungan saya.”  (ayat 30).  Kata-kata itu masih dibibirnya ketika terdengar suara dari surga,  “Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu;  engkau akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalmu akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepadamu akan diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan demikianlah akan berlaku atasmu sampai tujuh masa berlalu, hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!”  (ayat 31-32). 

    Apa yang telah difirmankan kepada Nebukadnezar itu pun terjadi, dia diusir oleh orang-orang dan makan rumput seperti sapi.  Tubuhnya basah dengan embun dan langit, sampai rambutnya tumbuh seperti bulu elang dan kukunya seperti cakar burung (ayat 33)

    Sahabat, pada akhirnya Nebukadnezar menyadari kesalahannya;  selama ini ia begitu sombong dan mengandalkan apa yang dimilikinya:  kekayaan, kekuasaan, kebesaran, dan takhta.  Lalu ia pun menengadah ke langit dan mengakui kebesaran Tuhan:  Hanya Tuhanlah yang mahatinggi, layak dipuji, dihormati dan dimuliakan.  Sungguh, di hadapan Tuhan ia tidak berarti apa-apa.  Tuhan pun berkata,  “…di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”  (Yohanes 15:5b). 

    Padahal selama ini Nebukadnezar telah diingatkan dan ditegur Tuhan melalui mimpi, tapi dia bergeming dan tetap saja meninggikan dirinya hingga Tuhan bertindak dan merendahkannya.  Kemudian dia pun berkata,  “Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.”  (ayat 37). Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 27?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Segala yang kita miliki (harta kekayaan, jabatan, dan kekuasaan) datangnya dari Tuhan;  Dia adalah Pribadi tunggal yang mengontrol segala keadaan kita. (pg).

  • FALSE HOPE

    PEMBERI HARAPAN PALSU (PHP). Menurut Wikipedia, harapan merupakan kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan berbuah kebaikan di waktu yang akan datang. Harapan ini berbentuk abstrak namun diyakini.

    Kalau kita bergaul dengan komunitas milenial, kita akan sering mendengar jargon Pemberi Harapan Palsu yang disingkat PHP. PHP  atau dalam bahasa Inggris dikenal juga sebagai false hope merupakan harapan yang dibuat seseorang yang dianggap akan menjadi kenyataan tapi ternyata si pemberi sebetulnya berbohong atau berpura-pura alias nggak menjadi kenyataan seperti yang kita inginkan.

    Bagaimana tanda-tanda kalau SI DIA adalah Si Pemberi Harapan Palsu? Banyak tanda yang dimilik para pemberi harapan palsu. Salah satu yang paling mencolok,  Si Pemberi Harapan Palsu tidak  suka berkomitmen. Ia ingin dekat denganmu tapi tidak  mau memiliki hubungan yang jelas. Kurang lebih hubungan kalian akan terus berada dalam friendzone (Zona teman).  Ada batas seharusnya antara teman dan orang spesial. Hati-hati biasanya si pemberi harapan palsu ini senang bersembunyi di balik arti kata teman dekat.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “FALSE HOPE (HARAPAN PALSU)” Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 27:1-22. Sahabat, apa dasar dari harapan yang dimiliki seseorang? Pengharapan membutuhkan kepastian sebagai landasannya sehingga itu tidak menjadi harapan semu dan palsu.

    Nabi Yeremia dipanggil oleh Tuhan untuk mewartakan betapa semunya pengharapan Yehuda dan bangsa-bangsa sekitarnya pada masa itu. Mereka bersatu untuk melawan penindas mereka (ayat 3), tetapi akankah mereka memerhatikan seruan nabi Allah?

    Sahabat, sesungguhnya Tuhan memerintahkan Yeremia untuk mewartakan peringatan kepada raja-raja dari beberapa kerajaan yang datang menemui raja Yehuda, yaitu Zedekia, yang hendak bersekongkol demi melawan Kerajaan Babilonia (ayat 4-7). Namun, para raja itu dan raja Yehuda memilih mengabaikan nubuat Yeremia (ayat 8-22).

    Dengan jelas Nabi Yeremia menunjukkan betapa BERBAHAYANYA  tindakan meletakkan PENGHARAPAN BUKAN PADA ALLAH. Ketika pengharapan diletakkan pada sesuatu atau seseorang selain Allah, maka PENGHARAPAN  itu tidak akan memiliki LANDASAN KUAT.  Hanya Tuhan yang layak menjadi landasan pengharapan karena Ia mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kemahatahuan Tuhan membuat Dia MENGENALI JALAN SEJARAH HIDUP MANUSIA.

    Sahabat, Tuhan memperingatkan orang percaya untuk tidak mendengar nubuat nabi palsu (ayat 16-18). Ketika umat memilih untuk mendengarkan para nabi palsu, mereka akan mengalami akibat dari pengharapan palsu yang mereka yakini, yaitu kegetiran dan kepahitan hidup. Ketika kesulitan itu menimpa, mereka tidak akan dapat melarikan diri dari realitas yang mencekam mereka. Pada saat itulah mereka akan berpikir: “Seandainya saja kami mau memerhatikan seruan nabi Allah!”

    Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Tuhan dan DIPANGGIL  untuk MELAYANI TUHAN  dengan cara mengenali kebenaran dari-Nya. Di sini kita perlu waspada, dan jeli dalam memilah jalan hidup yang hendak kita pilih. Sungguh lebih baik untuk hidup dalam pengenalan akan Allah yang sejati, serta memerhatikan panggilan dan peringatan-peringatan-Nya! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18-20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan tidak pernah membiarkan kita bergumul seorang diri, Dia sangat peduli dan sanggup memberikan pengharapan yang pasti dan tidak pernah mengecewakan! (pg).

  • STRONG FAITH

    KUKUH KUAT. Pada tahun 1837,  tiga orang pemuda Methodis dari Inggris (James Calvert, John Hunt, dan Thomas Jaggar) memutuskan pergi ke Pulau Fiji sebagai misionaris bersama dengan ketiga istri mereka. Masyarakat Pulau Fiji pada masa itu masih kanibal. Dalam perjalanan, kapten kapal yang membawa mereka ke pulau tersebut mencoba membujuk mereka dan berkata kepada salah seorang dari mereka, “Calvert, kamu akan kehilangan nyawamu dan orang-orang yang bersamamu jika pergi ke tengah-tengah orang-orang yang ganas itu.” Tetapi Calvert menjawab, ”Kami telah mati sebelum kami datang ke sana.”

    Apa yang dilakukan oleh anak-anak muda tersebut merupakan salah satu jawaban doa John Wesley, pendiri dari gerakan misi yang menaungi mereka, yang pernah berkata, ”Give me a hundred men who love God with all their hearts and fear nothing but sin, and I will move the world.” Ketiga pasang pemuda Inggris ini merupakan contoh orang yang mencintai Tuhan dengan sepenuh hati dan tidak takut apa pun, berani membayar harganya untuk taat kepada Allah, sekalipun risikonya adalah kehilangan nyawa. Itulah gambaran mereka yang memiliki iman yang kukuh kuat.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Daniel dengan topik: “STRONG FAITH (IMAN yang KUKUH KUAT)”. Bacaan Sabda diambil dari Daniel 3:1`-30 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat, Apa reaksi seseorang ketika hidup dalam tekanan dan ancaman, apalagi ini berhubungan dengan nyawa?  Pasti akan mengalami ketakutan yang luar biasa, pasrah dan mungkin akan memilih untuk berkompromi daripada harus menanggung risiko. 

    Tapi hal tersebut tidak dilakukan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego, rekan-rekan Daniel.  Meski hidup dalam tekanan dan ancaman di Babel ketiga pemuda ini tidak melepaskan kepercayaannya dan kemudian menyangkal Tuhan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang di zaman sekarang ini.  Iman mereka tetap kuat kuat. Mereka tetap teguh pendirian dan tidak terbawa arus! Dengan penuh keberanian ketiga pemuda itu memberikan kesaksian tentang kesetiaan mereka kepada satu-satunya Allah yang benar.

    Suatu ketika  Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel  (ayat1), dan memberi titah bahwa siapa pun yang tidak mau menyembah kepada patung, mereka akan dilemparkan ke dapur perapian yang menyala-nyala (ayat 5-6). 

    Karena ketiga pemuda itu tidak turut serta menyembah patung buatan raja, orang-orang Kasdim pun melaporkannya kepada raja sehingga raja memerintahkan supaya tiga pemuda itu dilemparkan ke dapur perapian.  Jawab ketiga pemuda itu,  “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”  (ayat 17-18).  Jawaban tersebut menimbulkan kegeraman yang luar biasa dalam diri raja sehingga tungku perapian pun dibuat 7 kali lebih panas dari yang biasanya (ayat 19).

    Sahabat, apa yang terjadi?  Ketiga pemuda itu sama sekali tidak hangus terbakar oleh api yang menyala-nyala, padahal orang-orang yang mengangkat mereka hangus terbakar (ayat 22).  Melalui peristiwa itu nama Tuhan ditinggikan dan dipermuliakan;  dan sejak saat itu raja Nebukadnezar mengeluarkan titah baru yaitu rakyat Babel tidak boleh melakukan penghinaan terhadap Tuhan-nya Sadrakh, Mesakh dan Abenego!  Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh melalui perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16-18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tantangan yang sukar merupakan kesempatan untuk memberikan kesaksian kesetiaan dan keteguhan iman. (pg).

  • Don’t be like SILO CITY

    KOTA SILO. Silo disebutkan pertama kali dalam Alkitab di  kitab Yosua dan kitab Hakim-hakim. Kota itu terletak di sebelah utara Betel, sebelah timur jalan raya Betel ke Sikhem, dan di sebelah selatan Lebona, di pegunungan Efrain.

    Pada masa awal, Silo merupakan ibukota keagamaan Israel selama 300 tahun, sebelum akhirnya pindah ke Yerusalem. Silo disebutkan sebagai tempat berkumpulnya orang Israel setelah mereka menaklukkan tanah Kanaan dan berpindah dari Gilgal.

    Di Silo terdapat Kemah Pertemuan atau Tabernakel pada awal penaklukan tanah Kanaan, dan itulah tempat Kudus utama bagi orang Israel selama zaman hakim-hakim. Silo menjadi tempat perkemahan seluruh bangsa Israel untuk terakhir kalinya selama perjalanan di padang gurun. Silo menjadi suatu pusat keagamaan suku-suku pada abad ke-12 SM. Di dalam naskah-naskah tertua, disebutkan bahwa Silo menjadi tempat tinggal Tabut Allah, di dalam penjagaan keluarga Imam Eli. Silo adalah tempat suci dan mempunyai imam-imam.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Don’t be like SILO CITY (Jangan Sampai Seperti KOTA SILO)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 26:1-24. Sahabat, mungkin ada diantara Sahabat yang  bertanya-tanya, “Ada apa dengan Silo?” Mengapa Silo menjadi contoh ketidaktaatan Yerusalem kepada Tuhan? Padahal Silo menjadi tempat berdiamnya Kemah Pertemuan (Yosua 18:1) dan menjadi pusat peribadatan umat Israel pada masa hakim-hakim (1Samuel 1:3).

    Namun pada masa imam Eli, yang merupakan salah satu hakim terakhir Israel, Silo mendapat nama buruk. Di sanalah rumah Tuhan dinodai oleh kedua putra imam Eli yang jahat. Juga, penyalahgunaan tabut Tuhan yang diperlakukan sebagai berhala untuk berperang melawan Filistin. Tuhan murka dan membiarkan tabut itu dirampas musuh, pasukan Israel dikalahkan, dan kedua putra Eli mati (1Samuel 4:1-11). Silo melambangkan kegagalan Israel untuk setia kepada Tuhan, dan tempat ibadah yang dinajiskan (Mazmur 78:60).

    Sahabat, Tuhan melalui Yeremia mengingatkan bangsa Israel agar tidak mengalami hal buruk seperti Kota Silo (ayat 2-6). Mereka yang mendengar, baik para imam, para nabi, dan seluruh rakyat rupanya mengetahui apa yang telah terjadi dengan Kota  Silo. Sayangnya, alih-alih bertobat, mereka malah berencana untuk menangkap dan membunuh Yeremia (ayat 8 dan 11). Bahkan nabi Uria bin Semaya, walau sempat melarikan diri, dihukum mati oleh sang raja yang jahat karena nubuatnya serupa dengan pemberitaan Yeremia (ayat 20-23).

    Syukur kepada Tuhan, tidak semua orang menolak pemberitaan Yeremia. Para pemuka dan seluruh rakyat dapat diinsyafkan Yeremia sebab pemberitaannya berasal dari Tuhan sendiri. Mereka diingatkan bahwa nabi Mikha pun pernah bernubuat yang serupa, dan raja Hizkia justru bertobat mewakili seluruh rakyat Yehuda (ayat 18-19), sehingga Tuhan pun urung menghukum umat-Nya saat itu, dan Yerusalem diluputkan dari Sanherib (2 Raja-Raja 19).

    Sahabat, bagi mereka yang TIDAK BERTOBAT  seperti Yerusalem atau Silo, tangan Tuhan TERACUNG! Bagi mereka yang bertobat, Tuhan akan mengampuni dan memulihkan. Pilihan memang ada di tangan Sahabat dan saya, tetapi hukuman dan penghargaan ada di tangan Tuhan. Manakah yang kita pilih? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika Tuhan memberi yang pahit kepada kita, Dia justru sedang mengasihi kita. (pg).

  • Be a HUMBLE Person

    RENDAH HATI. Rendah hati merupakan sebuah  SIFAT (karakter)  sekaligus sebuah SIKAP (perilaku). Rendah hati disebut sifat karena rendah hati berada di wilayah pikiran dan hati yang berperan besar dalam menghasilkan perilaku manusia. Rendah hati disebut perilaku karena rendah hati harus terwujud dalam perilaku-perilaku tertentu yang oleh masyarakat umum dikenal sebagai tanda-tanda orang yang rendah hati. 

    Dengan demikian rendah hati  muncul apabila keduanya menyatu dan saling melengkapi seperti 2 sisi pada satu koin. Kita tidak dapat mengatakan seseorang itu rendah hati apabila kita tidak melihat perilaku-perilaku rendah hati dalam hidupnya. Sebaliknya, kita juga tidak serta merta dapat menyimpulkan bahwa seseorang itu rendah hati melalui perilaku-perilakunya karena ada kemungkinan sikap atau perilakunya itu merupakan suatu rekayasa dan bukan merupakan dorongan alamiah dari hatinya.

    Di tengah zaman yang penuh kompetisi seperti saat ini, sangatlah sulit untuk menemukan orang yang rendah hati. Bahkan, ada sebagaian orang berpendapat bahwa rendah hati sudah tidak relevan lagi dengan situasi dan kondisi saat ini karena dianggap sebagai salah satu penghalang keberhasilan, sehingga rendah hati mulai ditinggalkan oleh sebagian orang. Keinginan sebagian besar orang untuk “menjadi seseorang” dan menolak untuk menjadi “bukan siapa-siapa” diduga menjadi pemicunya. Ada dorongan yang sangat kuat dalam diri setiap orang untuk menjadi penting, menjadi berarti dan mendapat pengakuan dari lingkungan sekitarnya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Daniel dengan topik: “Be a HUMBLE Person (Menjadi Orang yang RENDAH HATI)”. Bacaan Sabda diambil dari Daniel 2:1-49 dengan penekanan pada ayat 46-49. Sahabat, sebuah keberhasilan selalu disambut dengan sukacita. Setelah Daniel berhasil menafsirkan mimpi Nebukadnezar, semua orang bergembira. Di sini kita dapat membayangkan ekspresi sukacita kaum bijak yang luput dari kematian dan kelegaan yang didapatkan oleh raja atas terjawabnya mimpi tersebut. Demikian pula dengan Daniel yang ikut serta merasakan sukacita semua orang.

    Sukacita dan kelegaan mendorong Raja Nebukadnezar sujud dan menyembah Daniel (ayat 46). Tindakan raja sangat mengherankan. Mengapa Daniel yang manusia biasa disembah dan disediakan kurban serta bau-bauan. Apakah dia sudah diperlakukan sebagai Allah? Sebagai orang Yahudi, semestinya Daniel menolak hal itu. Sebab di mata orang Yahudi penyembahan itu hanya diperuntukkan kepada Allah. Di sini kita perlu melihat dengan jeli dan menafsirkan tindakan Nebukadnezar sebagai pengakuan pribadi bahwa Allah Daniel adalah Allah yang hidup. Di mata Nebukadnezar, Allah Israel mengatasi segala allah yang ada di dunia. Ia adalah Allah yang berkuasa atas segala raja dan berkuasa memberi dan menyingkapkan segala rahasia (ayat 47).

    Sahabat, sebagai imbalan atas jasa Daniel, raja menganugerahkan banyak hadiah dan memberikan kewenangan kepada Daniel untuk menjadi penguasa di seluruh wilayah Babel (ayat 48). Siapakah yang tidak gembira mendapatkan anugerah yang berkelimpahan? Yang terjadi adalah Daniel menyerahkan dan memercayakan kekuasaan dari raja kepada para sahabatnya (ayat 49). Mungkin kita bertanya, mengapa Daniel menolak kekuasaan itu? Karena semua kerajaan di dunia tidak abadi dan akan hancur seperti makna mimpi Nebukadnezar. Hanya kerajaan Allah saja yang akan berdiri tegak dan abadi. Alasan inilah yang menjadi dasar pertimbangan Daniel.

    Keputusan Daniel merupakan cermin kerendahan hati. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa semua kekayaan dan kekuasaan dunia bersifat fana. Sebab yang kekal hanyalah Allah dan kerajaan-Nya. Sikap ini mengantar kita untuk memuliakan-Nya. Maukah Sahabat dan saya  menjadi orang yang rendah hati. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup makin bijaksana dalam segala keadaan dan situasi sehingga kita mampu hidup benar sekalipun dunia sekitar kita cemar. (pg).

  • STAY FAITHFUL

    MENGIKUT TUHAN. Mengikut Tuhan itu perintahnya mudah tapi tantangannya sangat tidak mudah; SULIT. Sayangnya banyak orang menyerah kalah. Namun yang sukar itu bukan berarti Tuhan membiarkan kita hidup dalam  perjuangan yang sulit.  Dia memberikan iman dan penyertaan bagi kita. 

    Paulus mengingatkan kepada Timotius; seorang yang masih muda, pemimpin jemaat di Efesus namun yang mengalami tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Rasul Paulus memberi nasihat kepada Timotius, “Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.” (2 Timotius 1:13-14)

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “STAY FAITHFUL (TETAPLAH SETIA)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 25:1-14 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, melayani pekerjaan Tuhan bukanlah suatu pekerjaan yang ringan, karena itu kita tak bisa hanya mengandalkan kekuatan sendiri. 

    Ada banyak pekerja di ladang Tuhan yang semangatnya dalam melayani mulai kendor karena tidak tahan dengan tekanan, ujian, dan berbagai rintangan yang ada.  Seorang rekan sepelayanan yang menggembalakan satu jemaat di satu kota yang kecil memilih untuk mundur dari pelayanan karena merasa gagal:  Sudah melayani Tuhan  puluhan tahun tapi respons dari jemaat yang dilayani sangatlah kurang, sehingga tak banyak jiwa yang dimenangkan.

    Sahabat, jangan pernah mundur dari pelayanan!  Nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”  (2 Timotius 4:2). 

    Dalam bacaan kita pada hari ini kita menemukan bahwa Yeremia menghadapi tantangan yang tak mudah dalam pelayanannya.  Dua puluh tiga tahun lamanya melayani jiwa-jiwa dan menjadi penyambung lidah Tuhan:  Memberitakan kebenaran dan menyerukan pertobatan, namun respons orang-orang yang dilayani sungguh sangat mengecewakan,   “…TUHAN terus-menerus mengutus kepadamu semua hamba-Nya, yakni nabi-nabi, tetapi kamu tidak mau mendengarkan dan memperhatikannya.”  (ayat 4).  Karena terus mengeraskan hati dan mengabaikan teguran, bangsa Israel harus menuai akibatnya:  Tuhan bertindak atas mereka  (ayat 8-11).

    Nasihat dan teguran Yeremia dianggap sebagai angin lalu.  Meski demikian Yeremia tak kecewa apalagi menyerah pada keadaan, ia tetap TEKUN dan SETIA  pada panggilan-Nya.

    Sahabat, kuantitas orang yang dilayani atau kemegahan gedung gereja bukanlah ukuran keberhasilan seorang pelayan Tuhan.  Sesungguhnya yang Tuhan perhatikan ketekunan, kesetiaan, kesungguhan dan motivasi dalam mengerjakan panggilan-Nya.  Menurut pandangan manusia Yeremia mungkin dianggap gagal.  Apa pun keadaannya, seorang hamba Tuhan haruslah tetap setia menyampaikan kebenaran firman Tuhan, sebab cepat atau lambat, firman-Nya pasti akan digenapi. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”  (Roma 12:11). (pg).

  • PERSONAL IDENTITY

    KITAB DANIEL.  Kitab Daniel ditulis sekitar tahun 536 – 530 SM. Ada pun tema yang diangkat: Kedaulatan Allah dalam sejarah.

    Daniel merupakan seorang tawanan perang yang ditangkap oleh Nebukadnezar, raja Babel, pada waktu Yerusalem jatuh. Bersama-sama dengan orang Yahudi dari golongan atas lainnya, Daniel diangkut ke Babel, dididik, dan dipekerjakan pada pemerintah. Dia bekerja di bawah Nebukadnezar, Belsyazar dan Darius dari tahun 605 SM sampai 536.

    Namanya berarti “Allah adalah hakimku,” tetapi di Babel ia diberi nama baru. Seperti nama aslinya yang mengandung nama Allah Israel, yaitu El, maka nama barunya pun mengandung nama dewa Babel, Bel. Beltsazar mungkin berarti “Semoga dewa Bel melindungi raja”.

    Perhatikan tiga hal mengenai Daniel, yaitu dia adalah seorang yang sangat bijaksana, sangat mudah bergaul dan rajin berdoa. Daniel, merupakan tokoh utama dan penulis kitab dengan namanya. Kepenulisan oleh Daniel bukan hanya dinyatakan secara tegas dalam Daniel 12:4, tetapi juga tersirat dengan banyak petunjuk riwayat hidupnya sendiri dalam Daniel 7:1-12:13.

    Kitab ini mencatat berbagai peristiwa dari penyerbuan pertama Nebukadnezar ke Yerusalem (tahun 605 SM) hingga tahun ketiga pemerintahan Koresy (tahun 536 SM); jadi latar belakang sejarah kitab ini ialah Babel selama 70 tahun pembuangan yang dinubuatkan oleh Yeremia (bdk. Yeremia 25:11). Daniel adalah seorang remaja ketika peristiwa dalam pasal 1 (Daniel 1:1-21) terjadi dan sudah mencapai akhir usia 80-an ketika menerima berbagai penglihatan dalam Daniel 9:1-12:13. Ia mungkin hidup sampai sekitar tahun 530 SM, menyelesaikan kitab ini dalam usia lanjutnya.

    Mulai hari ini kita akan belajar dari kitab Daniel dengan topik: “PERSONAL IDENTITY (IDENTITAS DIRI)”. Bacaan Sabda diambil dari Daniel 1:1-21. Sahabat, masa muda sering disebut masa mencari jati diri, biasanya mereka dianggap belum dewasa dan mudah terpengaruh. Namun hal berbeda ditunjukkan oleh Daniel muda dan ketiga temannya: Hananya, Misael, dan Azarya. Mereka merupakan orang Yehuda yang turut diangkut menjadi tawanan ke Babel. Karena memiliki banyak kelebihan (ayat 3-4), mereka dipersiapkan untuk melayani raja Babel, dengan syarat dan seleksi yang ketat. Selain belajar bahasa dan budaya baru, nama mereka pun diganti.

    Nama merupakan salah satu identitas penting. Itu mengingatkan mereka akan siapa mereka, dan apa yang mereka percayai. Daniel berarti “Allah adalah hakimku”. Hananya berarti “pemberian Allah”. Misael berarti “yang seperti Allah”. Azarya berarti “ditolong Allah”. Identitas mereka itu diganti menjadi Beltsazar (disukai dewa Bel), Sadrakh (perintah dewa Akhu), Mesakh (tamu raja) dan Abednego (hamba dewa Nego). Setiap nama baru ini berkaitan dengan dewa-dewa Babel. Menariknya, sekalipun identitas luar mereka diganti oleh penguasa, kemudian mereka diperkenalkan dengan pola hidup baru, namun iman mereka kepada Allah Israel tidak pernah berubah, tidak pernah luntur. Karena sejak awal, mereka telah memantapkan hati untuk TAAT SEPENUH HATI HANYA KEPADA TUHAN (ayat 8 dan 12).

    Sahabat, nama kita mungkin dapat mengingatkan kita akan Allah, atau hal baik lainnya. Namun IDENTITAS DIRI kita yang SEJATI tidak terletak pada nama tersebut, melainkan pada ISI HATI  dan IMAN kita. Beriman terhadap Allah, itulah yang menjadikan kita anak-anak-Nya. Itulah identitas diri kita yang sejati. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pribadi yang berkualitas akan selalu dibutuhkan, di mana pun ia berada. (pg).

  • Thank God There are some FAITHFUL PEOPLE Still

    MELAKUKANNYA  DENGAN SETIA. Di Zaman Now, salah satu karakter yang tidak mudah ditemukan dalam diri manusia adalah kesetiaannya.  Jarang sekali orang mau setia ketika apa yang diharapkan tidak seperti kenyataan.  Orang mau setia apabila ada upah!  Inilah kenyataan hidup saat ini. 

    Begitu juga dalam mengikut Tuhan, seringkali kita tidak setia.  Hati kita mudah berubah.  Tidak sedikit yang awal mulanya begitu setia melayani Tuhan, namun seiring berjalannya waktu, kesetiaan itu mulai luntur.  Terbentur masalah, kita tidak lagi setia melayani Tuhan. 

    Sepertinya kesetiaan kita kepada Tuhan tergantung CUACA.  Ketika hati lagi mendung kita tidak lagi bersemangat;  di kala hati lagi cerah kita menggebu-gebu untuk Tuhan.  Namun haruslah kita ingat bahwa untuk meraih segala sesuatu (mimpi, cita-cita, harapan, target, dan sejenisnya) dibutuhkan KESETIAAN.  Segala sesuatu yang kita kerjakan pasti akan membuahkan HASIL  secara MAKSIMAL apabila kita MELAKUKANNYA dengan SETIA.

    Syukur kepada Tuhan kalau hari ini kita dapat belajar dari bagian terakhir dari kitab Ratapan dengan topik: “Thank God There are some FAITHFUL PEOPLE (Syukur Masih Ada ORANG yang SETIA)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ratapan 5:1-22 dengan penekanan pada ayat 19-22. Sahabat,  pasal terakhir dari Kitab Ratapan ini berisi sebuah doa syafaat. Dalam syafaatnya, Yeremia mengakui bahwa Allah yang memberikan hukuman kepada Yerusalem masih mau mendengar seruan umat-Nya. Ia akan merespons kesungguhan hati mereka dengan AMPUNAN.

    Pada ayat 2-18 Yeremia melukiskan keadaan orang-orang Yehuda yang dibuang di negeri Babel. Kemudian Kitab Ratapan ini diakhiri dengan doa harapan akan KEMURAHAN ALLAH (ayat 19-22).

    Sahabat, dalam doanya, Yeremia memohon agar Tuhan mengingat kondisi umat-Nya dalam masa pembuangan. Mereka sangat lelah karena segala derita dan aniaya yang dilakukan bangsa Babel. Di sini Yeremia mewakili generasi kedua dari bangsa Yehuda untuk mengungkapkan isi hati mereka (ayat 7). Mereka mau agar hukuman atas perbuatan dosa yang dilakukan orangtua mereka jangan lagi ditanggungkan kepada diri mereka.

    Di sini kita melihat bagaimana Yeremia mewakili umat berdialog dengan Tuhan. Ia bertanya mengapa Tuhan melupakan mereka dan mengapa mereka harus mengalami penderitaan yang sangat lama (ayat 20)? Yeremia juga menyadari bahwa dosa mereka yang menyebabkan semuanya itu terjadi. Sebab itu, ia berdoa agar Tuhan berkenan membawa umat kembali kepada-Nya dan membarui kehidupan mereka.

    Sahabat, hal tersebut di atas menunjukkan bahwa selalu ada orang-orang yang masih takut akan Tuhan di tengah kemerosotan moral dan penderitaan yang dialami. Mereka masih MEMELIHARA KESETIAAN IMAN kepada Tuhan. Mereka selalu mendidik anak-anaknya dalam iman. Karena itu, generasi kedua ini tahu apa yang dialami oleh bangsanya dan apa penyebabnya. Mereka pun berefleksi dan berdialog dengan Tuhan.

    Sejarah bangsa Yehuda mengingatkan kita bahwa selalu ada ORANG-ORANG  yang MASIH SEETIA  kepada Tuhan di tengah angkatan yang bobrok. Merekalah yang akan menarik bangsanya dekat dengan Tuhan sehingga PEMULIHAN  itu TERJADI. Kita harus yakin dan bersyukur bahwa pada masa kini juga ada orang-orang seperti itu. Berdoalah agar Tuhan menjadikan kita ORANG YANG SETIA  di mana pun kita berada. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarakan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tidak ada orang yang dapat kembali ke masa lalu, tetapi setiap orang dapat memulai dan membuat suatu akhir yang baru. (pg).

  • The Word of God is Like FIRE

    KEGUNAAN API. Pada waktu saya masih duduk di bangku SD, ada tebakan yang berbunyi: Kalau kecil menjadi kawan, kalau besar menjadi lawan. Apa itu? Jawabnya: Api.

    Sesungguhnya api berguna untuk menghangatkan, memberi cahaya, juga memasak. Api menolong manusia dari serangan binatang buas. Api membentuk besi menjadi pisau. Api mengeraskan tanah liat dan memurnikan emas. Api juga melelehkan lilin, membakar habis ranting kering. Api menjadi sahabat  yang berguna bagi hidup manusia, namun dapat pula menjadi musuh yang merupakan sumber bahaya.

    Tuhan mengibaratkan Firman-Nya laksana api. Dalam Perjanjian Lama, Hukum Taurat ibarat api yang menyala. Dalam Perjanjian Baru, Yesus mengatakan bahwa Ia datang untuk melemparkan api ke bumi (Lukas 12:49). Api Tuhan ini akan menimbulkan dampak yang berbeda bagi masing-masing pribadi, sebagaimana api memberi dampak yang berbeda terhadap benda yang dibakarnya. Firman Tuhan dapat memurnikan kehidupan, namun dapat pula menghanguskan dosa. Semua tergantung diri kita sendiri.

    Hari ini kita kembali belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “The Word of God is Like FIRE (Firman Tuhan laksana API)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 23:25-32 dengan penekanan pada ayat 29. Sahabat, Kepada Yeremia, Tuhan menegaskan bahwa firman Tuhan itu seperti api, “Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN …” (ayat 29)

    Api merupakan suatu reaksi kimia yang berlangsung cepat terhadap suatu material yang terjadi selama proses pembakaran kimiawi dan mampu menghasilkan panas dan cahaya.  Api memiliki sifat yang sangat dinamis, penuh dengan gerakan percepatan dan membawa terang, tetapi sekaligus juga bisa menghanguskan dan menghancurkan. 

    Api dapat terbentuk apabila terdapat 3 unsur penting yaitu panas, oksigen, dan bahan yang mudah terbakar.  Kita mengakui bahwa api adalah salah satu faktor yang dapat mendukung kelangsungan hidup manusia sehari-hari:  Sumber energi dan penerangan.

    Lalu apa yang dimaksudkan firman Tuhan laksana api?  Salah satu fungsi api adalah memberi terang.  Pada zaman dahulu, ketika belum ada penerangan listrik seperti sekarang ini, orang menggunakan api  (obor, pelita, lentera)  sebagai alat penerangan. 

    Sahabat, dunia saat ini diliputi oleh kegelapan pekat, karena itu kita sangat membutuhkan terang untuk dapat melihat.  Daud berkata,  “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”  (Mazmur 119:105), dan  “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.”  (Mazmur 119:30). 

    Adakalanya kita dihadapkan pada pergumulan hidup yang teramat berat, kita serasa tak berdaya menghadapinya , tak tahu harus berbuat apa, dan mau menyerah saja, namun ketika kita  TINGGAL  di dalam firman Tuhan, firman-Nya akan menerangi hati dan pikiran kita, sebab firman Tuhan adalah terang manusia,   “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”  (Yohanes 1:5).

    Sahabat, fungsi lain api adalah memberi kehangatan.  Ketika udara dingin mulai menyerang, biasanya orang akan menyalakan api membuat api unggun atau perapian dengan maksud untuk menghangatkan badan.  Di negara-negara yang memiliki 4 musim, umumnya tiap-tiap rumah memiliki tempat pembakaran api  (fireplace), supaya ketika musim dingin tiba mereka bisa menghangatkan tubuhnya di situ.  Masalah, kesulitan, kesesakan, dan penderitaan seringkali membuat kita kehilangan semangat hidup, segala sesuatu menjadi  dingin.  Saat itulah kita butuh firman Tuhan!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 25-29?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Nabi palsu berkata-kata dari dirinya sendiri, bukan dari Tuhan. Namun mengatasnamakan Tuhan untuk menyenangkan pendengarnya. (pg).

  • Great Suffer Brings to Repentance

    KEPUTUSASAAN ALLAH. Yesaya pernah mengungkapkan keputusasaan Allah dalam mendisiplin umat-Nya, “Di mana kamu mau dipukul lagi, kamu yang bertambah murtad?… Dari telapak kaki sampai kepala tidak ada yang sehat: bengkak dan bilur dan luka baru, …” (Yesaya 1:5-6). Umat sudah dipukul sampai tidak ada bagian yang belum kena pukul, namun tetap tidak bertobat sampai Tuhan bertanya, “Di mana kamu mau dipukul lagi?” Itulah gambaran umat Tuhan yang berdosa, walau telah dihukum keras, babak belur, tetap tinggal dalam dosa-dosanya.

    Keterlaluan, Yesaya menggambarkan pengenalan umat terhadap Tuhan lebih parah daripada binatang. Lembu mengenal pemiliknya, keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi Israel tidak mengenal Tuannya. Tidak mengenal Tuhan berarti tidak taat. Umat yang berdosa sarat dengan kesalahan. Mereka itu keturunan yang jahat, menista Tuhan, dan membelakangi-Nya (Yesaya 1:3-4).

    Lebih jauh Yesaya menggambarkan kondisi umat akibat kedegilan hati mereka: Negeri mereka menjadi sunyi, putri Sion menjadi seperti pondok di kebun anggur, seperti gubuk di kebun mentimun dan kota yang terkepung. Jika bukan karena belas kasihan Tuhan, mereka sudah menjadi seperti Sodom dan Gomora (Yesaya 1:7-9).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ratapan dengan topik: “Great Suffer Brings to Repentance (Penderitaan Besar Membawa Pertobatan)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ratapan 4:1-22. Sahabat, hukuman Tuhan yang dijatuhkan paling keras, membuat gambaran megah Yerusalem berubah total. Dulu bagaikan emas, sekarang sekadar tanah (ayat 1-2).

    Keadaan sengsara mereka digambarkan dengan kelaparan yang melanda penduduk Yerusalem. Bahkan orang tua berlaku kejam dan sadis terhadap anak-anaknya (ayat 3-4, dan 10), mereka yang biasa makan makanan mewah, kini mengais sampah untuk memuaskan lapar (ayat 5). Para pemimpin yang biasa hidup enak, menjadi kurus kering menanggung derita (ayat 7-8).

    Sahabat, hukuman Tuhan itu begitu dahsyat mengerikan (ayat 11-12).Para nabi dan imamlah yang paling bersalah akan keadaan runyam umat-Nya (ayat 13)! Mereka mengumbar darah umat, kini mereka menjadi terbuang, tercemar seperti orang kusta, ditolak di mana pun, termasuk oleh bangsa-bangsa sekeliling (ayat 14-16). Umat mencari pertolongan dari bangsa-bangsa lain, namun sia-sia (ayat 17), sebaliknya para musuh mengejar dan mengepung mereka (ayat 18-19). Berharap kepada pemimpin pun ternyata sia-sia (ayat 20).

    Syukur, Ratapan 4  ditutup dengan pengharapan, bahwa walau saat itu musuh berjaya atas mereka, ­ misalnya Edom, itu ­ sifatnya sementara. Para musuh akan dihukum Tuhan!  (ayat 21 dab 22). Itu berarti umat Tuhan ada pengharapan diampuni dan dipulihkan.

    Kita memang belum sempurna dan masih jatuh bangun dalam dosa. Namun, janganlah melakukannya secara sengaja dan terus-menerus. Janganlah memakai ketidaksempurnaan kita menjadi alasan untuk melakukan dosa. Jika kita terus berjuang namun tetap jatuh dalam dosa, itu satu hal. Tetapi, hal yang berbeda adalah jika kita tidak mengindahkan perintah Tuhan dan terus-menerus berbuat dosa tanpa peduli betapa kebebalan kita telah mendukakan Tuhan. Hendaklah kita tidak menjadi bebal dan keras kepala  di hadapan Tuhan. 

    Sahabat, kalau saat ini mungkin ada diantara kita yang mengalami sengsara karena murka Allah atas dosa-dosa kita. Bersyukurlah! Hal itu menunjukkan Allah masih bermurah hati, memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat! Semoga kesengsaraan yang kita derita membawa kepada pertobatan.  Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-22?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sungguh, merupakan kenyataan yang memilukan bila umat Allah sudah tidak lagi bergantung dan berharap hanya kepada Tuhan-nya. (pg).