Category: Sejenak Merenung

  • Silver Lining the Clouds

    KEKUASAAN. Sahabat, kekuasaan biasanya membuat telinga manusia menjadi tuli dan hati nuraninya tumpul. Menghalalkan segala cara: Otoriter, korupsi, manipulasi, angkuh, tidak peduli dengan orang lain bahkan mengorbankan dan menindas orang lain. Semua telah menjadi nilai-nilai yang lumrah.

    Cukup banyak manusia telah menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir, padahal kekuasaan adalah alat untuk meraih kesejahteraan bersama, bukan kesejahteraan diri sendiri. Ketika Tuhan menganugerahkan suatu kekuasaan atau kewenangan kepada kita maka jadikanlah itu sebagai  sarana untuk melayani dan menolong sesama.

    Sesungguhnya kekuasaan adalah berkat Tuhan yang harus disyukuri, dimanfaatkan dan dikendalikan sebaik-baiknya. Kalau saat ini kita memiliki kekuasaan, baik di dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam usaha maupun dalam pelayanan, semua Tuhan berikan untuk kita melayani dan membuat kesejahteraan masyarakat.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Daniel dengan topik: “Silver Lining the Clouds (Selalu ada Makna dibalik Setiap Peristiwa)”. Bacaan Sabda diambil dari Daniel 8:1-27 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, dalam mimpinya, Daniel mendapatkan penglihatan yang aneh dan membingungkan. Ia melihat domba jantan yang dihancurkan oleh kambing jantan (ayat 1-14). Ia berupaya untuk memahami dengan akal budinya, namun semua itu sia-sia (ayat 15). Ia pun bertanya kepada Allah yang merupakan sumber segala pengetahuan dan hikmat. Harapannya terwujud ketika di hadapannya muncul seorang dengan rupa laki-laki. Ternyata lelaki itu adalah seorang malaikat yang bernama Gabriel (ayat 16). Nama Gabriel berarti Allah itu perkasa.

    Sahabat, penjelasan Gabriel tentang penglihatan itu membuat Daniel sungguh terkejut. Sebab apa yang dilihatnya dalam mimpinya adalah peristiwa akhir zaman (ayat 17). Tanpa disadari, Daniel jatuh pingsan dengan posisi tertelungkup ke tanah. Dengan segera malaikat Allah menyadarkan Daniel dan membantunya untuk berdiri supaya bisa mendengarkan penjelasan hingga tuntas (ayat 18).

    Inti penjelasannya adalah menjelang akhir zaman akan timbul pertikaian antarbangsa. Dalam kondisi yang kacau akan muncul seorang penguasa yang zalim dan licik. Ia memakai akal bulusnya untuk menghasut dan menghancurkan lawan politiknya agar kekuasaannya menjadi semakin besar. Tak segan-segan ia menganiaya dan membinasakan orang-orang kudus Allah (ayat 20-25). Malaikat Gabriel pun menyampaikan pesan kepada Daniel agar menyembunyikan penglihatan tersebut karena hal itu menyangkut rahasia akhir zaman (ayat 26).

    Merahasiakan sebuah penglihatan bukan hal yang mudah. Sebab menyimpan rahasia yang besar seperti itu menjadi beban yang menguras tenaga dan melelahkan hati, pikiran, dan jiwa. Tidak heran kalau kondisi fisik Daniel lemah dan ia jatuh sakit selama beberapa hari lamanya (ayat 27).

    Sahabat, penglihatan Daniel tentang domba jantan dan kambing jantan berbicara tentang kerajaan-kerajaan dunia yang berkuasa dan kekuasan kerajaan ini silih berganti memerintah di dunia ini.

    Hal ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak untuk selama-lamanya, apalagi jika kekuasaan itu diwarnai dengan kesombongan, kebencian, kesewenang-wenangan, keserakahan, kepentingan diri sendiri

    Sahabat, mencari makna atas sebuah peristiwa dalam hidup terkadang sangat melelahkan. Saat mengalami kondisi seperti itu kita membutuhkan dukungan orang lain dan kekuatan dari Allah. Karena itu, carilah Tuhan maka Ia akan menghadirkan utusan yang akan menjadi MALAIKAT PENOLONG  untuk mendampingi, menopang, dan meneguhkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Dari 27 ayat dalam bacaan kita pada hari ini, ayat yang mana yang telah menghibur dan menguatkan iman Sahabat.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Masa depan kita tetap berada di dalam kendali Allah, Sang Penguasa Sejarah. (pg).

  • God is The Assurance of our Future

    LANGKAH IMAN. Ada beberapa pertimbangan ketika kita hendak membeli sebidang tanah. Aspek utama tentu saja tentang lokasi dan lingkungannya, status tanah, dan prospek tanah itu beberapa tahun ke depan. Ketika salah satu pertimbangan itu tidak terpenuhi, biasanya kita urung membelinya, mengingat pertimbangan-pertimbangan tersebut merupakan pedoman dasar ketika kita akan membeli sebidang tanah.

    Perintah Tuhan itu kadang bertolak belakang dengan logika kita, tetapi saat kita menaatinya, kita akan menikmati janji Tuhan karenanya. Yeremia diperintahkan Tuhan untuk menebus ladang dari sepupunya di Anatot. Padahal di masa pemerintahan Zedekia, Babel sedang mengancam Yerusalem agar takluk dan tidak memberontak.

    Yeremia sudah mendapatkan firman Tuhan bahwa Nebukadnezar akan menawan Zedekia dan menaklukkan Yerusalem. Dalam situasi seperti itu sungguh tidak menguntungkan menanam investasi berupa tanah. Siapa berani menjamin bahwa tanah tersebut akan tetap dapat dimiliki? Bagaimana kalau pasukan Babel menjarah tanah tersebut. Namun itulah perintah Tuhan dan Yeremia patuh. Surat-surat kepemilikan tanah itu kemudian disimpan dalam sebuah bejana tanah, supaya terpelihara dan kemudian hari bisa dimanfaatkan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “God is The Assurance of our Future (Tuhan adalah Jaminan Masa Depan Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 32:26-44. Sahabat, rancangan Tuhan ialah rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan, walaupun pengalaman kalah dari musuh bahkan ditawan dan dibuang ke negeri musuh seolah kecelakaan besar. Ternyata di mata Tuhan, itu bukan akhir segalanya, bahkan itu bukan suatu celaka.

    Sahabat, berulang kali Tuhan, melalui Yeremia, telah memberitahu umat Yehuda bahwa pembuangan ke Babel merupakan rancangan Tuhan demi menegakkan keadilan-Nya. Namun, dengan tetap menyatakan kasih-Nya. Umat yang berdosa memang harus dihukum. Sekali lagi, dosa-dosa umat-Nya dipaparkan dengan begitu gamblang (ayat 30-35), sehingga penghukuman berupa pembuangan ke Babel sebenarnya masih ringan. Bukankah seharusnya mereka dimusnahkan?

    Akan tetapi, pembuangan ke Babel juga harus dilihat dari perspektif kasih Allah. Karena Allah mengasihi umat-Nya maka Ia mau memurnikan mereka. Pembuangan ke Babel merupakan sarana pemurnian bagi umat-Nya. Dengan dilucuti dari semua hak dan fasilitasnya, umat Israel jadi hanya bisa bergantung kepada Tuhan. Memang mereka direndahkan dan dihinakan, tetapi tujuannya supaya kelak mereka bisa menerima kemuliaan. Maka selesai penghukuman, Allah bertindak memulihkan (ayat 36-41). Itulah bukti bahwa Allah tidak pernah berhenti mengasihi mereka.

    Maka perintah Tuhan agar Yeremia membeli tanah ladang menjadi masuk akal. Rancangan Allah sudah jelas. Justru pembelian ladang tersebut merupakan tanda kepastian bahwa umat-Nya akan dipulihkan, tanah yang ditinggal tandus selama masa pembuangan akan kembali laku dijual pada hari pembebasan itu (ayat 42-44).

    Sahabat, saat kita tidak memahami maksud Tuhan di dalam perintah-Nya yang harus kita laksanakan, maka laksanakan saja! Ketahuilah bahwa Tuhan memiliki maksud dan rencana yang tidak mungkin salah. Pada waktunya akan terbukti bahwa keputusan-Nya tak pernah keliru, bahkan kita yang percaya dan taat akan diberkati. Suatu bukti lagi bahwa Allah dapat kita ANDALKAN dan menjadi JAMINAN masa depan hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Dari 19 ayat dalam bacaan kita pada hari ini, ayat yang mana yang telah menghibur dan menguatkan iman Sahabat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tetaplah setia dan taat firman, walau kadang kita tidak mengerti bahkan merasa perintah Tuhan tidak cocok dengan situasi dan kondisi kita saat ini. (pg).

  • GOD, The Master of Eternity

    KEABADIAN. Janganlah bersandar pada kekuatan atau kemampuan manusia yang fana, tetapi bersandarlah pada Tuhan yang kekal,  yang kuat dan perkasa.

    Wikipedia bahasa Indonesia memberi informasi bahwa keabadian atau kekekalan secara harfiah ialah sebuah satuan waktu yang tidak ada batasnya, atau waktu yang tidak berhingga, seperti yang diungkapkan dalam ungkapan perdamaian  yang abadi, atau istirahat yang abadi.

    Dalam pengertian falsafi dan agama yang dimaksudkan adalah sebuah realita transendental yang tidak sama dengan realita yang biasa. Bila kata keabadian diterapkan kepada sifat Ilahi, maka tidaklah cukup hanya pengertiannya sebagai perpanjangan waktu sehingga berlangsung tanpa akhir. Keabadian Ilahi adalah suatu keberadaan yang tanpa awal dan tanpa akhir, serta tak mengandung perubahan maupun urutan dalam waktu. Keabadian Ilahi berada di luar dimensi waktu. Pengertian Keabadian Ilahi ini sukar dipahami oleh manusia sepenuhnya, karena manusia sendiri berada dalam dimensi waktu, dan apa yang ditangkap oleh manusia mengenai keabadian hanyalah secara analog.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Daniel dengan topik: “GOD, The Master of Eternity (TUHAN Sang Pemilik Keabadian)”. Bacaan Sabda diambil dari Daniel 7:1-28. Sahabat, meninggalnya Raja Nebukadnezar memiliki arti penting bagi bangsa Israel, sebab nubuat tentang kerajaan abadi yang akan didirikan oleh Allah secara bertahap akan tergenapi (bdk. Daniel 2:44).

    Karena itu, pada paruh kedua Kitab Daniel, tulisannya bersifat apokalips (wahyu). Isinya adalah tentang berbagai penglihatan yang diterima Daniel. Dalam tulisannya, kita menjumpai gambaran tentang keberpihakan Allah terhadap umat-Nya dalam berbagai macam simbol. Pelbagai simbol dalam Kitab Daniel menyamarkan berbagai tokoh dan kejadian sesuai dengan konteks waktu itu.

    Setelah Nebukadnezar wafat, Belsyazar dilantik sebagai raja. Pada tahun pertama pemerintahan Belsyazar, Daniel bermimpi dan mendapat berbagai penglihatan. Ia melihat laut besar yang diguncangkan oleh keempat angin (ayat 2). Gambaran itu memperlihatkan bahwa dunia akan mengalami kekacauan.

    Lalu, tampaklah empat binatang besar yang naik dari dalam laut dalam rupa yang berbeda-beda (ayat 3-7). Bentuk binatang tersebut sangat menyeramkan dan menakutkan. Perilaku mereka ganas dan kejam. Keempat binatang besar itu melambangkan empat kerajaan yang akan muncul silih berganti menguasai dunia. Binatang pertama menggambarkan kerajaan Babel (bdk. Daniel 2:36-38); yang kedua menunjuk kepada kerajaan Media; yang ketiga menerangkan kerajaan Persia; dan yang keempat melukiskan kerajaan Yunani.

    Selanjutnya Daniel juga melihat bahwa takhta tersebut diletakkan dan diduduki oleh Yang Lanjut Usianya dengan pakaiannya putih seperti salju. Semua takhta itu menjadi milik Allah (ayat 9-10). Semua kerajaan yang tadinya berebut dan saling membunuh akan dihukum oleh Allah (ayat 11-12). Dalam penglihatan itu, tampak pula seorang anak manusia datang dengan awan-awan dari langit. Allah menganugerahkan kerajaan dan kekuasaan abadi kepada Anak itu (ayat 13-24).

    Sahabat, dunia selalu mengalami perubahan dan menuju kehancuran. Hanya Allah yang abadi dan tidak berubah. Mereka yang percaya kepada Kristus tidak akan mengalami kebinasaan kekal, melainkan kehidupan abadi.

    Tuhan adalah pemegang sejarah kehidupan. Sehebat apa pun kekuasaan yang dibangun oleh manusia, tidak akan pernah abadi dibanding kekuasaan Tuhan. Orang-orang yang memanfaatkan kekuasaan dengan segala keangkuhan dan kesombongan pun pada akhirnya akan berlalu dan sia-sia. Sungguh, di bawah kolong langit ini tiada yang abadi selain Tuhan dan kasih setia-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Dari 28 ayat dalam bacaan kita pada hari ini, ayat mana yang telah menghibur dan menguatkan iman Sahabat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sejarah akan mencatat bahwa hanya pemerintahan Allah saja yang kekal dan tidak bisa digantikan oleh kuasa dari dunia. (pg).

  • Absolute Assurance

    DIKHIANATI. Sahabat, dikhianati dengan ingkar janji adalah hal yang menyakitkan dan biasanya manusia merasa dendam atau paling tidak sakit hati, dan itu nampak dari sikap enggan untuk menyapa, berbicara atau bertemu dengan orang yang dirasa mengkhianati. Bagaimana dengan Allah? Israel sudah mengingkari perjanjian dengan Allah. Mereka memberontak kepada Allah. Allah memang marah namun Ia tidak meninggalkan sifat kasih-Nya kepada dunia ini, termasuk kepada Israel dan Yehuda, bangsa yang nenek moyangnya mengkhianati Allah.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Absolute Assurance (Jaminan yang Pasti)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 31:1-40. Sahabat, hukuman keras yang Tuhan jatuhkan pada umat-Nya menimbulkan ratap tangis berkepanjangan karena sepertinya sudah tidak ada pengampunan lagi (ayat 15). Ungkapan Rahel menangisi anak-anaknya (Yusuf di Utara dan Benyamin di Selatan/Yehuda), menyatakan kedukaan yang sangat dalam bagi segenap umat Israel. Israel Utara telah lebih dahulu menerima penghukuman Tuhan dengan diserakkan ke penjuru dunia. Sepertinya tidak ada lagi harapan akan dipulihkan. Kini Yehuda pun akan dihancurkan.

    Sesungguhnya di mata Allah yang penuh kasih kekal, setiap pukulan mewakili pedihnya hati Bapa yang terluka oleh dosa anak-anak-Nya yang sebenarnya disayangi-Nya (ayat 20). Tujuan penghukuman Allah tidak dimaksudkan untuk menghancurkan melainkan agar umat menyadari kesalahan, kapok berbuat dosa, dan akhirnya bertobat.

    Oleh karena itu, betapa lega hati Tuhan ketika mendengar pengakuan umat-Nya bahwa mereka memang telah berdosa terhadap-Nya dan sekarang dengan penyesalan mereka berbalik kepada Tuhan untuk memohonkan pengampunan (ayat 18-19). Dengan demikian masih ada harapan untuk mereka karena Allah akan mengampuni dalam memulihkan (ayat 16-17). Rahel tak perlu menangis lagi karena anak-anaknya akan hidup kembali!

    Sahabat, setelah Allah menyatakan janji pemulihan atas bangsa Israel, Allah menyatakan JAMINAN  atas JANJI itu (ayat 37). Seperti pastinya matahari menyinari siang serta bulan dan bintang menerangi malam, demikianlah perkataan Tuhan adalah PASTI. Tuhan akan kembali memulihkan keadaan bangsa Israel (ayat 38-40). Kota itu akan berdiri selamanya dan tidak akan diruntuhkan.

    Pernyataan itu menunjuk kepada pembebasan bangsa Israel dari Babilonia dan pembangunan kembali kota Yerusalem. Setelah genap 70 tahun pembuangan bangsa Israel, mereka akan kembali ke Yerusalem di bawah pimpinan Ezra dan kemudian Nehemia.

    Sahabat, sesungguhnya  pernyataan Tuhan ini tidak hanya merujuk kepada bangsa Israel, tetapi juga Gereja sebagai umat Tuhan yang telah dipulihkan. Yerusalem bukan lagi kota secara fisik di daerah Timur Tengah, melainkan kota Allah di mana umat Allah menyatakan penyembahan kepada-Nya.

    Setiap kali kita melihat matahari saat siang serta bulan dan bintang saat malam, kita akan mengingat bahwa SEGALA KETETAPAN ALLAH akan TERJADI. Allah senantiasa mengingat janji-Nya.

    Jadi, kita tidak hanya diselamatkan dan diikat kembali dalam ikatan perjanjian, tetapi sekaligus dijamin oleh Tuhan sendiri. Hidup dalam jaminan Tuhan yang pasti membuat kita senantiasa hidup tenang dan penuh keyakinan. Janji Tuhan tidak dipengaruhi oleh kondisi kita. Apa pun yang kita alami saat ini, mungkin kita sedang sakit, mengalami kesusahan, atau menghadapi pergumulan berat, ingatlah bahwa JANJI Tuhan adalah PASTI. Inilah pengharapan kita yang kuat sebagai orang percaya, bahwa tidak ada satu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Dari 40 ayat dalam bacaan kita pada hari ini, ayat yang mana yang telah menghibur dan menguatkan iman Sahabat.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup dalam janji Tuhan yang pasti mendorong kita untuk tidak mudah menyerah dan putus asa. Dalam keadaan apa pun kita senantiasa hidup dalam penyerahan diri kepada Tuhan. (pg).

  • There is RESTORATION in GOD

    PEMULIHAN. Kalau kita ada sampai saat ini, itu adalah wujud nyata kasih Allah. Tetapi sering kali kita lupa bahwa Allah juga adil. Dia akan mendisiplinkan anak-anak-Nya yang melakukan kesalahan. Allah mengasihi umat-Nya, tetapi dalam kasih-Nya, Allah juga akan menjatuhkan hukuman kepada mereka yang bersalah.

    Pengalaman bangsa Israel menunjukkan bahwa Allah itu selain kasih juga adil. Bangsa Israel dihukum oleh Allah karena mereka tidak taat akan perintah Allah. Allah mengizinkan mereka masuk dalam pembuangan dengan tujuan mereka sadar dan mau berubah.

    Tidak selamanya mereka dibiarkan oleh Allah dalam kesulitan. Allah berjanji akan memulihkan keadaan mereka. Pemulihan bangsa Israel dikerjakan oleh Allah sendiri. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa tanpa campur tangan Allah. Yang bisa mereka lakukan hanya bersabar dan percaya akan rencana Tuhan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “There is RESTORATION in GOD (Ada PEMULIHAN di dalam TUHAN)”.  Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 30:1-24. Sahabat, di tengah kegalauan iman, bangsa Yehuda mendapati diri mereka dibuang ke Babilonia. Sekali lagi firman Tuhan diberikan kepada Nabi Yeremia untuk mengingatkan mereka akan JANJI PEMULIHAN dari Tuhan.

    Bacaan kita pada hari ini berisi janji pemulihan dari Tuhan bagi bangsa Yehuda, yang diberikan setelah pesan penghakiman yang panjang. Nabi Yeremia diperintahkan oleh Tuhan untuk menuliskan kata-kata penghiburan kepada orang-orang Yehuda. Pemulihan seperti apa yang dimaksud oleh Tuhan?

    Pemulihan berarti bahwa kuk penindasan terhadap umat Tuhan akan dipatahkan. Orang Yehuda tidak akan diperbudak lagi dan si penindas akan dihukum Tuhan. Umat Tuhan akan dikembalikan ke tanah yang sebelumnya telah dijanjikan Allah kepada Abraham.

    Sahabat, dengan kembalinya bangsa Yehuda ke Tanah Perjanjian, Tuhan berjanji untuk mengganti rasa sakit dan ketakutan dengan kedamaian dan keamanan. Umat Yehuda akan membangun kembali tanah mereka dan Tuhan akan memulihkan kota mereka. Apa yang tampak seperti luka yang tidak bisa disembuhkan ternyata bisa disembuhkan oleh Tuhan. Pada gilirannya, akan ada nyanyian syukur dan suara sukaria (ayat 19). Pengalaman tidak enak yang pernah mereka alami akan diganti dengan keadaan baik yang Tuhan sediakan bagi mereka.

    Janji Tuhan dalam bacaan kita pada hari ini membicarakan tentang pembaruan hubungan antara Tuhan dengan umat-Nya. Tuhan akan menyertai dan menyelamatkan umat-Nya (ayat 11). Pesan Nabi Yeremia mengungkapkan bahwa alih-alih melayani penguasa asing, umat Tuhan akan melayani Tuhan (ayat 9). Pemimpin mereka akan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan (ayat 21), sehingga:  “Kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu” (ayat 22). Inti pembaruan yang dilakukan Tuhan adalah bahwa Tuhan akan hadir di tengah-tengah mereka dan bahwa hubungan yang benar antara umat Allah dengan Allah akan dipulihkan kembali.

    Sahabat, iman bersama Tuhan diibaratkan sebagai sebuah perjalanan yang terus bergerak, bukan statis. Iman sejati akan terus berhubungan dan berkaitan dengan Tuhan, melibatkan Tuhan dalam segala keadaan, serta menyerahkan tampuk pimpinan dan kendali masa depan ke dalam tangan Tuhan. Janji yang diikat Tuhan dengan umat-Nya, yang dikenal dengan istilah covenant, adalah sebuah ikrar kehidupan yang akan terus dipelihara dan digenapi oleh Tuhan sendiri dengan kebesaran kuasa-Nya.

    Jalan hidup tidak akan selalu lurus: Kadang berkelok, kadang bergelombang. Panggilan Tuhan kepada umat-Nya adalah untuk tetap setia, dan tidak berputus asa dalam mengandalkan Tuhan pada setiap keadaan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Dari 24 ayat dalam bacaan kita pada hari ini, ayat mana yang telah menghibur dan menguatkan iman Sahabat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah tidak pernah menahan-nahan pengampunan-Nya bagi kita yang sungguh-sungguh mengakui kesalahan kita dan bertobat. (pg)

  • Seeing God’s Goodness in the Worst Situations

    TETAP BERIMAN. Saya mengutip sebagian tulisan Ibu Novi Reksanto dalam buku “Kensa’s Adventure”,  di bagian Prolog: Dalam hidup, kalau boleh ngarani, setiap dari kita selalu mengharapkan semuanya berjalan aman, lancar dan tenang. Setiap dari kita bahkan maunya badan sehat, rezeki melimpah dan selalu penuh kebahagiaan. It’s normal wishes. Sepertinya tidak ada orang yang di dalam doanya meminta: “Tuhan, berikanlah hujan dan badai dalam hidupku”, atau “Tuhan, beri aku penderitaan..” Pasti tidak ada.

    Jadi, pada saat Tuhan mengizinkan dan memercayakan kepada kami, mengirimkan sebuah paket yang berisi hujan petir dan badai topan pada Juni 2018 lalu, itu pun di luar dari semua rencana dan rancangan dalam kehidupan yang kami susun. Paket vonis kanker Hodgkins Lymphoma untuk Kensa. Paket yang membuat kami terdampar di pulau kesedihan dan ketakutan.

    Bohong kalau kami mengatakan, we are OK and everything is fine. NO. Yang kami rasakan justru kebalikan dari itu. Semuanya terasa begitu mencekam. Menakutkan. Membuat pikiran kami khawatir. Membuat hati kami remuk. Dan yang pasti menenggelamkan kami di titik kesedihan terendah dalam hidup. Sampai kami dibawa Tuhan kepada titik keberserahan. Titik percaya dan patuh. Taat dan setia. Bahwa semua yang diizinkan-Nya terjadi dalam hidup kami adalah anugerah. Semua yang dipercayakan-Nya kepada kami adalah mendatangkan kebaikan. Puji nama Tuhan.

    Bagaimana Tuhan mengajar kami untuk selalu dan terus mengucap syukur di dalam segala sesuatu. Semuanya indah. Semuanya baik. Semuanya tidak ada yang kebetulan. Semuanya bukan rancangan yang salah. Semuanya adalah berkat. BERKAT ISTIMEWA. Bagaimana Tuhan meniupkan pengharapan yang terus membuat kami bersemangat dalam melangkah. Bagaimana keberserahan, taat dan setia kepada Tuhan itu bisa menjadi kunci kemenangan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Daniel dengan topik: “Seeing God’s Goodness in the Worst Situations (Melihat Kebaikan Tuhan dalam Situasi Terburuk)”. Bacaan Sabda diambil dari Daniel 6:1-29. Sahabat, mengapa hal-hal buruk terjadi pada orang baik? Mengapa pula orang benar mengalami penderitaan? Pertanyaan yang sering tak terjawab. Terkadang kehidupan ini memang sulit untuk dipahami. Namun ingatlah, Tuhan dapat menggunakan rasa sakit untuk sebuah tujuan yang mulia! Sering kali Dia menggunakan masa-masa sulit untuk memunculkan kebaikan.


    Daniel adalah teladan dari seorang yang hidup takut akan Tuhan. Firman Tuhan mencatat tiga kali sehari Daniel terbiasa berlutut, berdoa serta memuji Allah (ayat 11). Faktanya, kehidupan Daniel tidak mulus tanpa persoalan! Para pejabat tinggi dan para wakil raja berikhtiar menjatuhkan Daniel. Dihasutnya raja untuk mengeluarkan surat perintah yang merugikan Daniel. Sebab mempertahankan iman, Daniel yang tak bersalah harus berhadapan dengan sekumpulan singa. Tuhan melindungi Daniel! Mulut singa-singa terkatup di hadapannya (ayat 23). Kepada Daniel, raja memberikan kedudukan tinggi (ayat 29). Melalui peristiwa tersebut, nama Allah ditinggikan di atas Babel, negeri para penyembah berhala (ayat 27-28).

    Sahabat, dalam kehidupan ini, hal-hal buruk bisa saja terjadi, penderitaan dapat muncul, pula rasa sakit mungkin tidak terelakkan. Namun bersama Tuhan, kita tidak perlu merasa takut ataupun gentar! Seperti Daniel, teruslah kita beriman kepada Tuhan! Kasih Tuhan menaungi diri kita sehingga kuat dan mampu menanggung segala perkara. Kuasa Tuhan menolong mengubahkan rasa sakit serta penderitaan menjadi kebaikan dan keuntungan.Tetap beriman membuat kita dapat senantiasa MELIHAT KEBAIKAN TUHAN  dalam situasi terburuk sekalipun. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11-12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Belajar dari Daniel, ingatlah bahwa ada banyak hal yang tidak mungkin menurut ukuran kita, namun tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. (pg).

  • Learn to Recognize the VOICE of GOD

    SUARA TUHAN. Tatkala kita berada di tengah keramaian, tentu kita sangat sulit berkomunikasi dengan orang lain. Percakapan mesti dilakukan dengan suara keras untuk mengatasi kebisingan,  supaya lawan bicara kita mendengar apa yang kita katakan. 

    Tentu lebih sulit lagi menjadi percaya di tengah segala pergumulan dan kebisingan informasi.   Sesungguhnya komunikasi yang terus menerus dengan Tuhan melalui doa dan firman memang menjadikan kita semakin peka kepada suara Tuhan yang sesungguhnya.  Namun sayangnya, tidak semua orang berkenan mengambil jalan tekun untuk membaca Alkitab dan berdoa,  sehingga orang percaya pun begitu mudah digoyahkan oleh berjibun pengajaran yang berseliweran. 

    Karena itu, melalui “Sejenak Merenung” saya mengajak Sahabat  berkenan untuk membaca dengan teliti ayat Firman Tuhan yang menjadi Bacaan Sabda pada hari itu. Jangan hanya membaca isi renungannya. Dengan demikian kita dapat berharap  akan semakin peka kepada suara Tuhan dan menjadi penurut Tuhan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Learn to Recognize the VOICE of GOD (Belajar Mengenali SUARA TUHAN)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 29:1-32. Sahabat,  dalam bacaan kita pada hari  ini ada perintah (ayat 4-7); ada peringatan (ayat 8-9); ada janji (ayat 10-14), dan juga ada hukuman (ayat 15-32).

    Semua hal tersebut tercantum dalam satu surat yang dikirim oleh Yeremia kepada para tua-tua, imam-imam, nabi-nabi, dan seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan yang pertama (ayat 1).

    Surat tersebut berisikan kepastian dan perintah yang berasal dari Tuhan. Melalui surat tersebut, Tuhan memastikan bahwa umat yang diangkut dalam pembuangan ke Babel, akan tinggal di sana dalam waktu yang cukup lama yaitu tujuh puluh tahun (ayat 10)!

    Sahabat, untuk itulah Tuhan memerintahkan mereka untuk membangun kehidupan di sana (ayat 7). Tuhan mengingatkan umat untuk berhati-hati terhadap nubuat para nabi palsu dan mimpi-mimpi para juru tenung (ayat 8-9). Mereka diminta oleh Tuhan untuk lebih taat pada perintah-Nya. Kepada yang taat, Tuhan menjanjikan damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan. Di atas semua itu, Tuhan berjanji kepada mereka bahwa mereka akan dikumpulkan kembali untuk dikembalikan ke tempat dari mana Tuhan telah membuang mereka (ayat 14).

    Pedang, kelaparan, dan penyakit sampar akan ada di antara mereka yang menolak untuk mengikuti rancangan-Nya. Mereka akan dibuat seperti buah ara yang busuk dan menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi bahkan menjadi kutuk, kedahsyatan, suitan, dan aib di tempat di mana mereka dibuang (ayat 18).

    Bagi mereka yang menyesatkan umat dengan nubuat palsu, ada hukuman yang Tuhan siapkan secara khusus yaitu kematian! Ahab dan Zedekia akan diparang mati oleh raja Nebukadnezar (ayat 21). Sedangkan Semaya orang Nehelam dihukum oleh Tuhan bahwa dia, keturunannya, dan keluarganya tidak akan melihat yang baik, yang akan dilakukan oleh Tuhan kepada umat-Nya (ayat 32).

    Sahabat, hal yang sama akan terjadi pula kepada kita pada saat ini. Ada perintah, ada peringatan, ada janji dan ada pula berkat. Apakah kita mau taat pada perintah-Nya? KETAATAN kepada TUHAN MUTLAK DIPERLUKAN.  Dengan TAAT, kita mendapatkan BERKAT, dan terhindar dari hukuman-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Masa depan yang gemilang adalah kepastian bagi orang percaya!  Apa yang telah Tuhan rancangkan pasti digenapi-Nya! (pg).

  • LEARN from HISTORY

    SEJARAH. Dari Kompas.com saya mendapatkan informasi bahwa sejarah merupakan peristiwa atau kejadian pada masa lalu yang dipelajari dan diselidiki untuk menjadi acuan serta pedoman kehidupan masa mendatang. Menurut etimologi atau asal katanya, sejarah berasal dari bahasa Arab, yakni syajarotun, yang artinya pohon. Dengan demikian, berdasarkan asal katanya, sejarah dapat diartikan sebagai akar, keturunan, asal-usul, riwayat, dan silsilah.

    Sementara itu, dalam bahasa Inggris, sejarah disebut dengan kata history. Adapun kata history berasal dari bahasa Yunani, yakni istoria, yang artinya ilmu. Dengan demikian pengertian sejarah secara umum adalah segala bentuk pengetahuan hasil penyelidikan dari masa lalu yang akan menjadi acuan atau pedoman untuk masa sekarang serta proses untuk kemajuan di masa depan. Sesungguhnya SEJARAH  bukan sekadar berisi CATATAN PERISTIWA, tetapi PENGALAMAN BERHARGA yang dapat kita jadikan sebagai PELAJARAN HIDUP.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Daniel dengan topik; “LEARN from HISTORY (BELAJAR dari SEJARAH)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Daniel 5:1-30 dengan penekanan pada ayat 20. Sahabat, Raja Belsyazar rupanya juga TIDAK BELAJAR  dari SEJARAH. Ia lupa bahwa ayahnya pernah dihukum Tuhan hingga hidup seperti hewan. Sang ayah, Nebukadnezar, berlaku sombong di hadapan Allah yang Mahakuasa. Belsyazar mengulanginya dengan melakukan kesalahan yang sama. Kekuasaan membuatnya tidak takut pada siapa pun, bahkan pada Allah Israel yang ia kenal melalui riwayat hidup ayahnya. Ia berani melecehkan hadirat-Nya. Tuhan menghukumnya, kerajaannya terpecah menjadi dua, dan maut menjemputnya.

    Dalam bacaan kita pada hri ini, sebelum Daniel menjelaskan makna dari penglihatan Belsyazar, ia terlebih dahulu menceritakan kisah kelam Raja Nebukadnezar. Menurut Daniel, Allah yang Mahatinggi telah memberikan kekuasaan kepada Nebukadnezar (ayat 18-19). Namun ia menjadi tinggi hati karena ia merasa kekuasaan mutlak ada di tangannya. Kesombongannya telah membawa Nebukadnezar jatuh ke tempat yang paling rendah dan hina seperti binatang (ayat 20-21).

    Rupanya Belsyazar mengikuti jejak kesombongan ayahnya. Sifat buruknya telah mendorong Belsyazar bertindak kurang ajar terhadap segala perkakas Bait Suci yang dipakai sebagai cawan anggur untuk pesta pora. Tindakannya itu telah menodai kesucian Allah yang Mahatinggi (ayat 23). Setelah itu, Daniel membaca dan mengartikan tulisan tersebut sebagai berikut: Mene, Mene, tekel ufarsin, yang artinya masa pemerintahan Raja Belsyazar dihitung dan diakhiri oleh Allah serta kerajaannya akan dipecah dan diberikan kepada bangsa Media dan Persia (ayat 25-27).

    Sahabat, penghukuman Allah memperlihatkan ketidaklayakan Belsyazar sebagai pemimpin. Lalu raja menganugerahkan hadiah dan mengangkat Daniel sebagai orang ketiga yang memiliki kekuasaan besar di seluruh wilayah Babel (ayat 29). Semua yang dikatakan Daniel menjadi kenyataan (ayat 30).

    Sungguh mengerikan akibat yang harus diderita karena kesombongan. Kita pun perlu belajar dari riwayat hidup tokoh Alkitab, baik KETELADANAN maupun KESALAHAN  yang mereka lakukan. Untuk itu, semestinya kita bukan sekadar membaca Alkitab, tetapi juga menyimak keteladanan apa yang kita petik dari tiap tokoh dan peringatan apa pula yang perlu kita CAMKAN BAIK-BAIK. Kiranya kita tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang sama. Biarlah hidup kita akan terus diasah sehingga semakin sepadan dengan kebenaran Allah. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 22-23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Marilah kita senantiasa mawas diri dan berdoa agar Allah selalu mengingatkan status kita sebagai umat Allah yang harus menjadi terang dan garam Allah bagi dunia yang gelap. (pg)

  • When The FAITH Bear FRUIT

    BUAH IMAN. Buah merupakan hasil sebuah proses panjang dari sebuah benih yang bertunas, menjadi pohon kecil kemudian bertumbuh semakin hari semakin besar, lalu berbunga, dan berbuah. Kualitas buah yang dihasilkan menjadi ukuran keberhasilan bagi pohon tersebut.

    Demikian pula di dalam kehidupan orang percaya. Ukuran orang percaya yang berhasil bukanlah dari berapa lama ia sudah menjadi orang percaya, berapa banyak pelayanan yang ia kerjakan atau berapa besar persembahan yang ia telah berikan kepada gereja. Namun, kedewasaan orang percaya ditunjukkan dengan buah-buah Roh Kudus yang ada di dalam kehidupannya. Buah-buah Roh itu adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23).

    Ketika Paulus mendengar tentang jemaat Roma yang bertumbuh cepat dan memiliki kesaksian iman yang baik, Paulus rindu untuk berjumpa dengan mereka. Mengapa? Karena Paulus ingin melihat sendiri dan menemukan buah iman yang mereka telah hasilkan di dalam kehidupan mereka (Roma 1:13).

    Walaupun Paulus tidak merintis jemaat Roma, tetapi ia sangat bangga akan kesaksian iman jemaat Roma ini. Meskipun Paulus hanya mendengar kabar tentang buah iman mereka, Paulus tetap rindu mendoakan dan merasakan secara langsung kesaksian buah iman yang menguatkan dirinya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “When The FAITH Bear FRUIT (Ketika IMAN itu BERBUAH)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yeremia 24:1-10. Sahabat, Ketika saya berkata es itu dingin, kamu pasti memercayainya. Mengapa? Sebab Sahabat mampu membuktikannya melalui pancaindramu. Itu fakta. Namun bila saya mengatakan Presiden Indonesia periode mendatang adalah Si A; saya kira Sahabat belum tentu sependapat dengan saya. Ya, karena itu hanyalah opini saya saja. Faktanya bisa sangat berbeda.

    Memercayai hal yang jauh di depan terkadang terasa begitu sulit. Fakta dan keadaan yang nampak oleh pancaindra kita, itulah yang biasanya mendominasi keputusan-keputusan yang akhirnya kita ambil. Demikian juga dalam bacaan kita pada hari ini. Secara logika, mana mungkin pembuangan adalah pilihan yang terbaik? Apakah Tuhan benar-benar menubuatkan demikian? Bukankah orang buangan normalnya dianggap warga kelas dua yang tak berharga, layak dijadikan budak, mendapat perlakuan seenaknya, dan sebagainya? Menurut logika, melarikan diri ke Mesir tentu lebih bisa diterima. Bagaimana tidak, menurut catatan sejarah, Mesir juga bangsa yang kuat saat itu.

    Sahabat, memercayai Tuhan terkadang memang terasa sangat sulit. Terlebih bila kita tengah berada di titik nadir. Meski demikian, rancangan Tuhan pastilah yang terbaik. Kita dapat menemukan fakta bahwa meski dalam pembuangan, Tuhan tetap memelihara umat-Nya. Misal dalam kisah Daniel dan Ester. Demikian pula Sahabat dan saya. Apa pun kenyataan di depan kita, percayalah, penyertaan-Nya sempurna! Asal kita tetap percaya sampai akhir, pasti BUAH IMAN dan KESABARAN kita itu akan matang. Saya percaya, Sahabat dan saya akan mengalami kemurahan Tuhan yang luar biasa. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup dalam rencana Allah artinya kita menyerahkan segenap keputusan kita agar sesuai dengan kehendak Allah.

    (pg).

  • Prophet Jeremiah Oppose the Prophet Hananiah

    PALSU. Tak perlu hidup dalam kepalsuan. Kita diundang untuk menghasilkan buah yang selaras dengan identitas kita sebagai Anak Allah. Saat ini, hampir semua barang sudah dipalsukan. Barang bermerek ada KW-nya. Baju, sepatu, tas, aksesoris, smartphone, lagu, film, sampai obat dan makanan, semua telah dipalsukan.

    Untuk menunjukkan eksistensi diri, orang zaman sekarang melakoni gaya hidup hedonis. Budaya hidup kekinian seakan menjadi sesuatu yang wajib dipamerkan.
    Hati-hatilah dengan segala bentuk kepalsuan. Mencari jati diri tidak perlu harus mendapat pengakuan dari pandangan orang lain terhadap kita. Berusaha mendefinisikan citra diri agar diakui orang lain membuat kita menjadi tidak jujur pada diri sendiri. Hiduplah dalam kejujuran, tak perlu menggadaikan kebenaran. Hidup dalam kepalsuan begitu menyiksa. Jadilah diri sendiri, dan biarlah kehidupan kita menghasilkan buah yang selaras dengan identitas kita sebagai anak Allah.


    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Prophet Jeremiah Oppose the Prophet Hananiah (Nabi Yeremia Lawan nabi Hananya)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 28:1-17 dengan penekanan pada ayat 15. Sahabat, hal yang paling menggembirakan bagi seseorang yang sedang menghadapi pergumulan hebat adalah mendengar jaminan akan terjadinya pemulihan.

    Maka tidak heran, nabi palsu silih berganti ada untuk mengganggu kehidupan umat Tuhan dengan cara memalsukan firman Tuhan. Kalau kita tidak sungguh membaca dan merenungkan firman-Nya, dengan mudah nabi palsu memperdaya kita. Apalagi tampilan mereka pun memikat dan nubuatnya begitu meyakinkan. Seperti Hananya, yang bernubuat kepada Yeremia di rumah Tuhan, di depan mata imam-imam dan segenap rakyat. Ia menyatakan bahwa nubuatnya itu berasal dari Tuhan (ayat 2-4 dan 11).

    Hananya menubuatkan berita gembira bagi umat Israel, bahwa dalam dua tahun mendatang perkakas rumah Tuhan yang diangkut ke Babel, juga Yekhonya bin Yoyakim, raja Yehuda,  beserta semua orang buangan akan pulang (ayat 2-3). Hananya memastikan bahwa hal itu akan terjadi dari pihak Tuhan. Ia menegaskan bahwa Tuhan yang akan mematahkan kuk dari raja Babel (ayat 2 dan 4).

    Nubuat Hananya bertujuan membatalkan nubuat Yeremia. Melalui Yeremia, Tuhan menantang para nabi palsu itu untuk bernubuat mengenai kepastian kepulangan perkakas rumah Tuhan yang diangkut ke Babel dan juga kepulangan Yoyakim, raja Yehuda beserta semua orang buangan (Yeremia 27:16-21).

    Tantangan Tuhan dijawab oleh Hananya. Tidak hanya bernubuat, ia malah berani melakukan tindakan untuk menunjukkan kepastian nubuatnya. Gandar yang terpasang di tengkuk Yeremia diambil dan dipatahkannya (ayat 10). Setelah itu, ia bernubuat bahwa dalam dua tahun mendatang akan ada kebebasan dari raja Babel karena Tuhan telah mematahkan kuk Nebukadnezar (ayat 11)! Namun nubuat Hananya hanya sebatas retorika saja. Semuanya itu palsu belaka (ayat 13-17). Nyatanya, Hananya mati pada tahun itu juga dan nubuat palsunya tidak terbukti.

    Sering kali kita menjadi “Hananya-Hananya” dengan menggunakan istilah “Kehendak Allah” atau “Demi Tuhan” bagi ambisi atau keinginan kita. Baiklah mulai sekarang ini kita berhenti melakukan itu. Berhentilah menggunakan nama Tuhan untuk menutupi ambisi kita. Jangan sampai Tuhan menghukum kita seperti Hananya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-4 dan 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan berbicara dengan banyak cara. (pg).