Category: Sejenak Merenung

  • It’s not Easy Carrying the Cross

    MEMIKUL SALIB. Dalam satu acara Pendalaman Alkitab, saya bertanya: Apa itu Memikul Salib?. Seorang peserta dengan lugas menjawab: Orang yang membawa berita yang tidak menyenangkan hati orang yang menerima beritanya.

    Sesungguhnya memikul salib merupakan syarat yang diwajibkan Tuhan Yesus bagi setiap orang yang mau mengikut-Nya. Salib adalah penderitaan yang Yesus tanggung demi menyelamatkan manusia berdosa. Itu adalah tanda ketaatan kepada Bapa-Nya. Jadi ketika Dia mengatakan bahwa kita harus memikul salib, artinya kita harus rela mengalami kesusahan, penderitaan atau kematian sekalipun, sebagai akibat ketaatan kita kepada-Nya.

    Memang salib kita bentuknya beragam. Dimusuhi karena kita tidak mau ikut dalam permufakatan jahat. Karir dihambat karena mayoritas pengambil keputusan bukanlah orang percaya. Kehilangan kenyamanan dan hak-hak tertentu karena kita percaya kepada Tuhan Yesus. Diejek karena kita berpegang pada nilai-nilai pengajaran Kristus, dan lain-lain. Memang menjadi pengikut Kristus itu tidak gampang. Penuh tantangan dan halangan. Namun semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan hidup kekal dan segala kebaikan yang disediakan-Nya bagi kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: It’s not Easy Carrying the Cross (Memang Tidak Mudah Memikul Salib). Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 37:1-21. Sahabat, catatan sejarah berlanjut dari zaman Yoyakim hingga raja terakhir Zedekia. Ternyata keduanya setali tiga uang. Sama-sama menolak percaya pada pemberitaan firman. Zedekia lebih keterlaluan. Dia sendiri yang memanggil Yeremia karena minta didoakan, tetapi ia tidak mau mendengar dan mematuhi firman Tuhan sebagai syarat doa yang didengar.

    Ketika tentara Firaun berangkat dari Mesir, tentara Babel pergi dari Yerusalem (ayat 5). Kemudian, Yeremia menyampaikan firman kepada Raja Zedekia yang meminta petunjuk Tuhan, bahwa tentara Firaun yang telah berangkat untuk membantu Yehuda dalam menghadapi Babel akan kembali ke Mesir, dan kemudian tentara Babel akan datang lagi mengepung, bahkan menghanguskan Yerusalem dengan api (ayat 6-10).

    Sahabat, pada saat tentara Babel meninggalkan Yerusalem karena takut kepada tentara Mesir, Yeremia, yang waktu itu keluar ke Benyamin untuk urusan keluarganya, ditangkap (ayat 11-13). Yeremia dituduh mau menyeberang ke Babel sehingga ia dipukul dan dimasukkan ke dalam penjara. Yeremia tinggal lama di ruangan cadangan air di bawah tanah (ayat 14-16).

    Sungguh memprihatinkan, manusia sering hanya mau mendengarkan apa yang mau mereka dengar. Para pemuka Yehuda senang bahwa tentara Babel telah pergi karena takut kepada Mesir, dan tidak mau mendengarkan firman yang menyatakan bahwa Babel akan datang lagi, bahkan menghancurkan Yerusalem. Maka, Yeremia yang membawa berita negatif itu difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara.

    Sahabat, memang tidak semua dari antara kita diberi karunia untuk menderita memiikul salib seperti Yeremia. Namun setiap kita memang harus siap untuk itu. Jadilah pemberita kabar baik yang berani menghadapi risiko penolakan bahkan penganiayaan. Tuhan akan memberi kekuatan yang kita perlukan. Penyertaan-Nya akan memampukan kita bertahan sehingga konsisten dalam pelayanan, dan dalam anugerah-Nya, kita boleh melihat petobat-petobat baru yang dimenangkan kepada Kristus. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    1.Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini?
    2.Apa yang Sahabat pahami mengenai memikul salib?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mengalami kesusahan atau menderita karena menaati Kristus bukanlah sebuah aib, tetapi karunia Allah yang berharga dan mulia. (pg).

  • The Burning of Jeremiah Prophecy Book

    MENOLAK FIRMAN PENGHAKIMAN. Tuhan selalu ingin mempunyai umat yang mengikuti jalan-Nya, dan karena itu Dia selalu berfirman kepada umat milik kepunyaan-Nya.  Memang firman Tuhan tidak selalu menyenangkan hati manusia, yaitu ketika manusia berlaku tidak benar kepada-Nya, bahkan melawan-Nya.

    Sayangnya karakter manusia berdosa justru hanya senang mendengar kata-kata manis, tetapi tidak suka mendengar kata-kata penghakiman, meskipun Tuhan yang menyatakannya. 

    Bahkan orang percaya juga sering kali hanya mau mendengarkan firman yang menyenangkan hati mereka, lalu menolak mendengar firman yang menegur dan mengadili mereka.

    Kita harus sadar bahwa menolak untuk mendengar bukan berarti penghakiman tidak akan datang. Bahkan, yang mungkin terjadi adalah penghakiman akan diberikan dengan lebih berat jika kita masih terus menolak kesempatan untuk bertobat yang Tuhan bukakan. Kita harus sadar: jika Tuhan masih mau menegur, itu tandanya Tuhan masih bersabar dan membuka kesempatan bagi kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: The Burning of Jeremiah Prophecy Book (Pembakaran Kitab Nubuatan Yeremia). Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 32:1-32. Sahabat, mulai pasal 36 sampai 45, catatan kitab Yeremia ini berbentuk sepenuhnya narasi sejarah yang memuncak pada kehancuran Yerusalem dan bait Allahnya (pasal 39). Lalu dilanjutkan kemudian dengan peristiwa-peristiwa sesudahnya. Yang unik dari kumpulan ini yaitu Barukh sebagai sekretaris Yeremia muncul di pasal 36 dan muncul kembali di pasal 45.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, kita bertemu dengan kondisi keagamaan Yerusalem dan penduduknya, serta para pemimpinnya. Bisa dikatakan mereka religius karena melaksanakan puasa bersama (ayat 9). Namun kerohanian mereka sebenarnya kosong, sekadar ritual belaka. Ini terbukti dari sikap raja terhadap firman yang disampaikan oleh Yeremia, yang ditulis dan dibacakan oleh Barukh di bait Allah.

    Padahal berita firman membuka kesempatan untuk bertobat sebelum murka Allah dinyatakan kepada mereka (ayat 3 dan 7). Baik raja maupun para pegawainya bukan hanya mengabaikan kebenaran firman Tuhan itu. Malahan raja Yoyakim dengan berani MEROBEK dan MEMBAKAR gulungan firman itu TANPA RASA BERSALAH sedikit pun (ayat 23-24).

    Sahabat, sikap terang-terangan Yoyakim mewakili sikap penduduk Yerusalem yang bebal terhadap nubuat Yeremia yang terus dikumandangkan dan dibacakan kepada mereka. Mereka telah memutuskan untuk menolak ancaman Tuhan mengenai penghukuman, apalagi untuk bertobat. Maka di dalam catatan penutup pasal 36 ini, Yeremia kembali diperintahkan membacakan firman Tuhan (ayat 28) dan Barukh menuliskannya lagi (ayat 32). Ini menjadi sebuah kepastian bahwa penghukuman tidak akan dibatalkan. Yoyakim dan pengikut-pengikutnya akan menerima hukumannya (ayat 30-31).

    Bagaimanakah respons kita terhadap firman Tuhan? Apakah kita menyambut firman itu dan memberi diri kita untuk dididik dalam kebenaran? Ataukah kita mengabaikannya? RESPONS kita menentukan PERTUMBUHAN IMAN kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    1.Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2.Apa yang Sahabat pahami tentang firman Penghakiman?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menanggapi firman Tuhan dengan benar adalah dasar dari pertumbuhan iman. (pg).

  • WISE and SHINE

    BERCAHAYA SEPERTI CAHAYA CAKRAWALA. Orang yang bijaksana adalah orang yang takut akan Tuhan, tidak hanya dalam pikiran tetapi di dalam hati dan perbuatannya. Orang-orang inilah yang akan menjadi saksi dan menuntun orang lain kepada Tuhan.

    Di akhir zaman, Tuhan sedang mencari orang-orang yang seperti Daniel yang mau menjadi terang dan bercahaya di tengah kegelapan dan membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan. Untuk menjadi seperti Daniel tidak mudah dan berani membayar harga yang harus dibayar yaitu bertahan dalam masa kesesakan. Ketika kita mampu melewati masa kesesakan maka kita akan menjadi orang BIJAKSANA dan BERCAHAYA.

    Sahabat, Daniel telah melewati ujian demi ujian sehingga pada akhirnya Daniel dapat berkata bahwa orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala. Daniel muncul sebagai orang muda yang bercahaya di tengah kegelapan malam seperti bintang yang memancarkan sinarnya.

    Syukur kepada Tuhan hari ini kita dapat belajar dari bagian akhir dari kitab Daniel dengan topik: WISE and SHINE (BIJAKSANA dan BERCAHAYA). Bacaan Sabda diambil dari Daniel 12:1-13. Sahabat, Dalam alam pikir orang Israel, mereka memiliki penghayatan bahwa Mikhael adalah pemimpin dan pelindung surgawi. Pada masa Daniel, Mikhael muncul mendampingi umat Allah untuk menghadapi penderitaan yang tak terperikan (ayat 1). Bagi mereka yang berada dalam penderitaan, masih ada pengharapan dari Allah. Ia berjanji bahwa umat-Nya akan diluputkan dari kesesakan besar pada akhir zaman.

    Semua janji Allah telah dilihat oleh Daniel. Ia melihat bagaimana orang banyak yang tidur dalam debu tanah akan bangun mendapatkan hidup kekal. Namun, mereka yang sombong terhadap Allah akan mengalami kehinaan dan kengerian kekal (ayat 2). Sedangkan para orang bijaksana akan bercahaya seperti cakrawala. Mereka yang menuntun orang pada kebenaran akan bersinar seperti bintang-bintang sampai selamanya (ayat 3).

    Allah meminta Daniel menyembunyikan segala rahasia Firman yang telah didengar olehnya. Hal ini terkesan aneh karena biasanya sebuah penglihatan atau sesuatu yang membuat orang takjub akan mempersaksikan apa yang dialaminya ke mana-mana. Tetapi Allah meminta Daniel berdiam diri. Mungkin dengan diam, ia belajar rendah hati dengan pengalaman imannya. Dengan diam, orang lain akan menyelidiki firman Allah agar mereka juga mengalami perjumpaan dengan Allah yang hidup (ayat 4). Dengan terus-menerus menyelidiki firman Allah, banyak orang akan mengikut Allah hidup dalam kesucian, kemurnian, dan tahan uji (ayat 10). Pada akhir zaman, mereka yang setia akan beristirahat dan akan bangkit untuk mendapatkan kehidupan kekal (ayat 13).

    Daniel mengajarkan bahwa penderitaan ada dalam hidup manusia. Kesengsaraan itu dapat memurnikan umat Allah, menguatkan iman mereka, dan memisahkan orang-orang kudus dari orang-orang fasik. Kitab Daniel juga memberikan pengajaran bahwa tidak seorang pun yang telah dipilih Allah akan terhilang dalam kekekalan. Karena itu, marilah kita belajar setia kepada Allah dalam segala sesuatu dan belajar mengimani semua janji penyertaan-Nya.

    Tuhan rindu setiap kita, orang-orang yang sudah diselamatkan menjadi Daniel-Deniel di akhir zaman yang bercahaya dan membawa jiwa-jiwa kepada kebenaran. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    1.Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2.Apa yang Sahabat pahami tentang bercahaya?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berbahagialah jika kita takut akan Tuhan, sebab kita disebut orang bijaksana. (pg).

  • Life in Faithfulness

    SETIA. Di Zaman Now, salah satu karakter yang tidak mudah ditemukan dalam diri seseorang adalah setia. Karakter setia ini sangat penting di dalam hidup kita, khususnya dalam membangun relasi dengan sesama dan Tuhan.

    Di zaman yang sangat mengedepankan hedonism, jarang sekali orang mau setia ketika apa yang diharapkan tidak menjadi kenyataan.  Orang mau setia apabila ada upah!  Inilah kenyataan yang mesti kita hadapi saat ini. 

    Sesungguhnya kesetiaan merupakan salah satu karakter penting yang harus dimiliki semua orang, sebab dalam hubungan dengan sesama, rumah tangga, bisnis, pekerjaan, terlebih-lebih dalam hubungan dengan Tuhan dan pelayanan, kesetiaan sangatlah diperlukan.  Semua orang percaya tahu bahwa kesetiaan merupakan bagian dari buah Roh  (Galatia 5:22-23).

    Sahabat, memang tak mudah menjadi orang yang setia!  Ketika berada dalam situasi baik, enak dan nyaman, merupakan hal yang gampang.  Namun bagaimana ketika  perahu  kehidupan kita sedang dihantam oleh ombak, gelombang dan badai dahsyat?  Masihkah kita berlaku setia di hadapan Tuhan?  Terkadang orang menyatakan komitmen untuk setia mengiring Kristus dan melayani Dia dengan sungguh-sungguh, namun dalam praktiknya kadang kita diperhadapkan dengan gunung permasalahan yang menghadang laju kita untuk tetap setia dengan komitmen yang telah kita ikrarkan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: Life in Faithfulness (Hidup dalam Kesetiaan). Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 35:1-19. Sahabat, kisah kaum Rekhab ini secara kronologis sesungguhnya tidak menyambung dengan kisah ketidaksetiaan Zedekia di perikop sebelumnya. Kisah Rekhab terjadi sebelum masa pemerintahan Zedekia, yaitu pada masa Yoyakim (ayat 1). Akan tetapi, oleh Yeremia sengaja ditaruh berdampingan sebagai alat pembanding, sekaligus pembuktian betapa raja ZEDEKIA adalah seorang yang TIDAK SETIA.

    Kaum Rekhab tidak termasuk suku-suku Israel. 1 Tawarikh 2:55 menjelaskan bahwa kaum Rekhab itu keturunan dari suku Keni, yaitu suku dari mertua Musa. Yonadab bin Rekhab rupanya pernah menjadi penyokong raja Yehu yang dipakai Tuhan untuk menghukum Ahab dan keturunannya dari dinasti kerajaan Israel Utara (2 Raja-Raja 10:15-31).

    Kaum ini bukan bangsawan dan tidak berstatus sosial tinggi. Mereka rupanya suku yang semi nomaden, berpindah-pindah tempat sesuai kebutuhan hidup mereka dalam beternak. Di bawah kepemimpinan Yonadab, kaum Rekhab pernah berkomitmen untuk tidak minum anggur. Komitmen ini kemudian DIJALANKAN DENGAN SETIA oleh mereka, TURUN TEMURUN.

    Betapa kontras kaum Rekhab dalam kesetiaan mereka memegang teguh komitmen mereka kepada nenek moyang mereka, dibandingkan dengan kesetiaan tipis Zedekia, dan juga pemimpin-pemimpin umat dalam menaati Taurat Tuhan. Itulah sebabnya, setelah vonis dijatuhkan kepada Zedekia, para pemimpin, maupun penduduk Yerusalem, berkat justru dicurahkan kepada kaum Rekhab. Tuhan memberi kepercayaan kepada mereka untuk TERUS MENERUS dan TURUN TEMURUN MELAYANI TUHAN.

    Sahabat, apakah kita termasuk umat Tuhan yang setia kepada firman-Nya, setia hanya mengikut dan menyembah Tuhan? Bisakah kita dibandingkan dengan kaum Rekhab atau justru kelakuan kita lebih mirip dengan Zedekia? Kiranya Tuhan menolong kita semua menjadi umat yang setia walaupun tantangan untuk itu besar, berat dan dasyat. Tuhan akan menyertai kita, dan Dia pasti memberkati kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    1.Pesan apa yang Sahabat peroleh dari bacaan kita pada hari ini?
    2.Apa yang Sahabat pahami tentang setia?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketika kita memilih untuk tetap setia kepada Tuhan, ada faedah yang kita terima, yaitu penyertaan Tuhan sepanjang masa sampai kepada keturunan kita. (pg).
     

  • The Unwavering and Challenging Sight

    KITAB YEHEZKIEL. Sahabat, kitab Yehezkiel ditullis oleh Yehezkiel, dengan mengangkat tema: Hukuman dan kemuliaan Allah. Ditulis pada tahun 590 – 570 SM.

    Latar belakang sejarah kitab Yehezkiel yaitu Babel pada tahun-tahun awal pembuangan (593-571 SM). Nebukadnezar telah membawa tawanan orang Yahudi dari Yerusalem ke Babel dalam tiga tahap: Pertama,  pada tahun 605 SM, pemuda-pemuda Yahudi pilihan dibawa ke Babel, antara lain Daniel dan ketiga orang sahabatnya; Kedua,  pada tahun 597 SM, 10.000 tawanan dibawa ke Babel, di antaranya Yehezkiel; dan ketiga,  pada tahun 586 SM, pasukan Nebukadnezar telah membinasakan kota dan Bait Sucinya, lalu membawa sebagian besar orang yang tidak terbunuh ke Babel.

    Sahabat, pelayanan Yehezkiel sebagai nabi terjadi pada masa sejarah Perjanjian Lama yang paling gelap: Tujuh tahun sebelum kebinasaan itu pada tahun 586 SM (593-586 SM) dan 15 tahun setelah kebinasaan itu (586-571 SM). Kitab ini mungkin selesai sekitat tahun 570 SM.  Nama Yehezkiel berarti Allah menguatkan, berasal dari keluarga imam (Yehezkiel 1:3) dan tinggal di Yerusalem sepanjang 25 tahun pertama hidupnya. Dia sedang dalam pendidikan untuk menjadi imam di Bait Suci ketika dibawa ke Babel pada tahun 597 SM.

    Hari ini kita akan mulai belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The Unwavering and Challenging Sight (Penglihatan yang Meneguhkan dan Menantang)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 1:1-28. Sahabat, Kitab Yehezkiel dimulai dengan catatan waktu dan tempat terjadinya penglihatan tentang Allah, dan bahwa Yehezkiel adalah saksi mata (ayat 1-3). Catatan tersebut menunjukkan bahwa penglihatan itu bukan FIKSI, melainkan PERISTIWA SEJARAH.  

    Dalam peristiwa tersebut, Yehezkiel mendapat penglihatan tentang: Gambar kemuliaan TUHAN” (ayat 28) melalui penampakan empat makhluk surgawi yang dipercaya sebagai Kerubim (tentara surga) dalam bentuk, suara, dan gerakan yang menimbulkan rasa segan atau hormat (ayat 14-27). Penglihatan itu meneguhkan iman Yehezkiel dalam dua cara:

    Pertama, menegaskan kesetiaan dan kasih Allah. Saat itu, Yehezkiel sedang berada di negeri pembuangan bersama bangsa Israel (ayat 1). Di tengah penderitaan di negeri asing, sapaan Allah melalui penglihatan itu meneguhkan ulang iman Yehezkiel yang mungkin mulai pudar karena himpitan beban kehidupan. Yehezkiel kembali diyakinkan bahwa Allah tidak pernah melupakan umat pilihan-Nya.

    Kedua, mengisyaratkan pentingnya misi dan pelayanan yang akan diberikan kepada Yehezkiel. Penampakan empat Kerubim dalam penampilan yang menggetarkan hati itu selain menandai betapa hebat dan dahsyatnya kuasa Allah, juga menunjukkan betapa pentingnya berita yang harus disampaikan oleh Yehezkiel, yakni penghakiman atas bangsa Israel yang tidak setia.

    Sahabat, pengalaman Yehezkiel mengingatkan kita agar tidak MEMBANGUN IMAN  berdasarkan SITUASI KONDISI  sekitar, melainkan berdasarkan KESETIAAN ALLAH yang tak pernah PUDAR.

    Selain itu, kita perlu memiliki kepekaan tinggi untuk menjalankan MISI ALLAH,  yakni mewartakan kasih-Nya kepada dunia yang sedang menuju kebinasaan. Apakah imanmu sering goyah karena kondisi kehidupan? Apakah Sahabat dan saya antusias untuk mewartakan kasih Allah? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang membangun iman berdasarkan kesetiaan Allah yang tak pernah pudar?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Meski tidak mengalami penglihatan yang spektakuler, kasih Allah tetap atas umat-Nya. Kuasa dan kemuliaan-Nya tetap sama, bahkan dalam masa kesesakan dan kesakitan. (pg).

  • The Samples of Unfaithfulness

    JANGAN INGKAR JANJI. Jangan main-main dengan janji. Janji harus ditepati, bila tidak maka orang yang bersangkutan akan dicap sebagai pembohong. Orang yang mengingkari janjinya, tidak akan dipercaya lagi dan citra terhadap orang tersebut menjadi buruk, tidak hanya di hadapan manusia tetapi terlebih lagi di hadapan Allah. Pengalaman kita bercerita bahwa pengingkaran terhadap janji justru sering terjadi pada mereka yang memiliki kekuasaan.

    Mereka sering menganggap remeh suatu janji, apalagi janji dengan orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan. Hal ini terjadi pada raja Zedekia, pemuka dan bangsa Israel. Mereka telah berjanji untuk melepaskan semua budak-budak yang mereka miliki seperti pesan yang Tuhan sampaikan kepada Yeremia. Tetapi kemudian mereka membatalkan janji yang telah mereka ikrarkan, mereka tidak mau melepaskan semua budak yang mereka miliki.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “The Samples of Unfaithfulness (Contoh Ketidaksetiaan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 34:1-22 dengan penekanan pada ayat 10-11. Sahabat, Tuhan berfirman kepada orang Israel melalui nabi Yeremia, untuk mengikat janji kepada segenap rakyat yang ada di Yerusalem untuk memaklumkan pembebasan, supaya setiap orang mau melepaskan budaknya bangsa Ibrani, baik laki-laki maupun perempuan sebagai orang merdeka, sehingga tidak ada seorangpun lagi yang memperbudak seorang Yehuda, saudaranya.

    Semula respons mereka luar biasa! Orang Israel, pemuka, ikut menyetujui akan janji itu di hadapan Tuhan (ayat 10). Sayangnya, mereka tidak setia pada janjinya (ayat 11). Itu contoh ketidaksetiaan. Hal itu menunjukkan bahwa pembebasan yang mereka lakukan semata-mata karena mereka panik akan hukuman Tuhan yang sedang menimpa mereka, bukan karena mereka menyadari dan menyesali kesalahan mereka. Tuhan tidak tinggal diam, Ia memberikan pelajaran bagi mereka yang tidak setia pada janjinya, “Dan Aku akan menyerahkan orang-orang, yang melanggar perjanjian-Ku dan yang tidak menepati isi perjanjian yang mereka ikat di hadapan-Ku, … pemuka-pemuka Yerusalem, pegawai istana, imam-imam dan segenap rakyat negeri …  akan Kuserahkan ke dalam tangan musuh dan ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawa mereka, … mereka menjadi makanan burung-burung di udara dan binatang-binatang di bumi.” (ayat 18-20)

    Sahabat, keputusan itulah yang membuat firman Tuhan datang kepada Zedekia dengan tuduhan tentang ketidaksetiaannya kepada Tuhan. Pertama, ia menolak melaksanakan hukum Taurat yang merupakan undang-undang dari Tuhan untuk mengatur kehidupan bangsa Israel. Zedekia hanya mementingkan diri sendiri dan kelompok bangsawannya. Jelas sikap ini bukan sikap seorang raja-gembala bagi umat Tuhan. Kedua, ketidaksetiaan Zedekia merupakan pengkhianatan pada perjanjian Sinai, yang telah diikat Tuhan dengan umat-Nya. Perjanjian yang diteguhkan dengan suatu sumpah yang berat, seperti yang dijelaskan pada ayat 18-19 (bdk. Kejadian 15:9-11, 17-21). Ketika pihak-pihak yang berjanji, berjalan melewati potongan-potongan kurban yang dibakar oleh api, mereka sedang bersumpah bahwa yang berani melanggar janji tersebut, akan terbakar hangus seperti kurban yang dibakar tersebut.

    Setiap kita tentunya pernah mengambil sebuah komitmen di hadapan Tuhan, mungkin itu komitmen untuk hidup setia, komitmen untuk melayani, komitmen untuk mendukung pekerjaan Tuhan melalui apa yang kita miliki yang sering kita sebut janji iman. Ingat Sahabat , bahwa Tuhan tidak bisa dipermainkan. Mari kita ingat-ingat semua janji yang pernah kita katakan di hadapan Tuhan, mungkin ketika kita dibaptis, peneguhan sidi, pernikahan, peneguhan jabatan pelayanan dalam gereja atau yang lainnya, apakah kita masih setia kepada janji kita itu atau barangkali kita telah lupa. Ingat, Tuhan telah mendengar janji kita dan jangan sampai Dia menagihnya dengan sedikit “sentilan” atau cambuk atas diri kita. Demikian juga dengan janji kita kepada sesama, mungkin kepada orang tua kita, anak kita atau siapapun, kita harus setia pada janji itu. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang janji?
    2. Apa akibatnya dengan ketidaksetiaan pada janji kita?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan permainkan Tuhan!  Cepat atau lambat ada akibat yang harus  kita tanggung! (pg).

  • God Arranges the Steps of our Lives

    CATATAN SEJARAH. Sebuah catatan merupakan tulisan yang berisi rekaman suatu peristiwa dan berfungsi sebagai pengingat. Dalam catatan tersebut, semua bukti percakapan atau peristiwa tertentu didokumentasikan agar berguna bagi generasi selanjutnya. Dokumen itu menjadi catatan sejarah yang bisa direfleksikan pada kehidupan masa kini dan mendatang.

    Karena itu janganlah kita sekali-kali melupakan sejarah. Banyak hikmat dan kebenaran yang dapat kita pelajari melalui sejarah manusia. Banyak pemimpin bangsa yang pada akhirnya jatuh hanya disebabkan oleh kesombongan diri. Marilah kita belajar rendah hati, sebab segala prestasi dan keberhasilan sesungguhnya merupakan karya Tuhan dan akan dipakai untuk menjadi berkat bagi sesama. 

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Daniel dengan topik: “God Arranges the Steps of our Lives (Tuhan Mengatur Langkah Hidup kita)”. Bacaan Sabda diambil dari Daniel 11:2-45. Sahabat, jalannya sejarah ada dalam kendali Allah. Di satu pihak, Allah berdaulat menjalankan kehendak-Nya. Di pihak lain, Ia memberi kebebasan kepada manusia untuk membuat keputusan. Oleh sebab itu, Dia hampir tidak pernah  mengintervensi secara langsung dan dramatis untuk membelokkan jalan sejarah secara ajaib. Setiap orang yang dipercaya menentukan jalan sejarah, berada di tangan-Nya dan boleh membuat keputusan secara bebas, namun juga secara bertanggung jawab kepada-Nya.

    Sahabat, Daniel  11:2-19 merupakan catatan sejarah yang penting bagi kita. Pasal ini menceritakan sejarah satu periode yang memiliki kaitan dengan penglihatan yang terdapat dalam pasal 8. Pada bacaan kita pada hari ini, selubung yang menutupi penglihatan Daniel sedikit demi sedikit mulai terkuak. Dengan gamblang dijelaskan bahwa ada empat raja yang akan bangkit dari kerajaan Persia. Raja yang keempat akan memiliki kekuasaan besar untuk menggempur kerajaan Yunani (2).

    Coba lihat,  bagaimana Allah begitu berkuasa mengatur peristiwa yang terjadi. Ada seorang raja yang gagah perkasa, yang akan memerintah dengan kekuasaan yang besar dan akan berbuat sekehendaknya (ayat 3). Ayat tersebut merupakan nubuat tentang raja Aleksander Agung yang tak terkalahkan.

    Sahabat, sejarah mencatat keunggulannya dalam peperangan dan wilayah kekuasaannya yang luas. Tetapi, apa yang terjadi setelah kematiannya? Ayat 4 menjelaskan: “Tetapi baru saja ia muncul, maka kerajaannya akan pecah dan terbagi-bagi menurut keempat mata angin dari langit, …”

    Sejarah mencatat bahwa sesudah kematiannya, empat kerajaan timbul sebagai gantinya (Daniel 8:8). Cassander memperoleh Makedonia dan Yunani. Lysimachus memperoleh Trakea dan Bitinia. Seleukus memperoleh Siria, Babel dan negara-negara lain di bagian Timur, sedangkan Ptolemeus tetap memiliki Mesir. Apa yang dijelaskan Daniel dalam mimpi Nebukadnezar (pasal 2) dan melalui penglihatannya tentang domba jantan dan kambing jantan, keempat tanduk dan tanduk kecil (Daniel 8), semuanya digenapi dalam sejarah manusia.

    Sahabat, jangan takut menjalani hidup sebab TUHAN MENGATUR  LANGKAH HIDUP KITA. Kejahatan apa pun yang dirancang orang dalam hidup kita tidak akan terwujud bila Tuhan tidak mengizinkannya. Jalannya sejarah ada di tangan Tuhan. Berserah dan berharaplah hanya kepada Dia saja. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Sejarah?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepda-Nya.” (Mazmur 37:23). (pg).

  • Believe Without Proof

    JANJI ADALAH HUTANG. Mungkin ada diantara yang  sering mendengar ungkapan tersebut. Ungkapan tersebut ingin mengingatkan, kalau kita sudah berjanji, itu berarti bak  orang yang punya hutang, punya kewajiban membayarnya atau melunasinya; diminta atau tidak, dipaksa atau tidak. Dengan demikian kita perlu mempunyai kesadaran diri untuk melakukan apa yang kita janjikan. Janji itu perlu diwujudkan pada saatnya.

    Tuhan telah membuat perjanjian dengan bangsa Israel bahwa Tuhan akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Tuhan tetap setia menepati janji-Nya kepada Israel sekalipun Israel sudah memberontak bahkan berkhianat. Dia adalah Allah yang setia kepada perjanjian-Nya. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Believe Without Proof (Percaya Walau Tanpa Bukti)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 33:1-13. Sahabat, ketika seseorang berjanji, kita membutuhkan bukti bahwa janji itu akan ditepati. Tanpa bukti, kita akan menyerah dan tidak percaya lagi terhadap janji tersebut. Tetapi, tidak demikian dengan Yeremia. Nabi Yeremia masih ada dalam kurungan ketika Tuhan kembali berfirman kepadanya.

    Bacaan kita pada hari ini menegaskan sekali lagi akan janji pemulihan bangsa Israel. Allah akan kembali memulihkan kota-kota Israel. Allah akan memulihkan kesehatan dan keamanan bangsa itu. Bahkan, Allah akan menahirkan bangsa itu dari dosa mereka. Bangsa itu akan kembali memuji Tuhan karena perbuatan Tuhan yang menyelamatkan dan memulihkan mereka (ayat 5-11).

    Sahabat, bangsa Israel masih dalam keadaan aman ketika nubuat ini disampaikan oleh Yeremia. Mereka belum merasakan pembuangan ke Babel. Tetapi, Tuhan telah menyatakan janji-Nya dua kali untuk menunjukkan betapa Allah mengasihi umat-Nya (ayat 1). Dalam penghukuman Allah, terlihat akan kasih dan anugerah-Nya. Allah menginginkan kehidupan yang penuh berkat bagi umat-Nya. Allah tidak akan membiarkan umat-Nya dipermalukan. Semua ini demi nama Tuhan sendiri. Umat-Nya akan hidup dalam kelimpahan berkat (ayat 12-13).

    Apakah kita pernah meragukan janji penyertaan Tuhan? Mari kita belajar dari Yeremia tentang bagaimana Tuhan sendirilah yang menyatakan janji-Nya. Yeremia masih dalam keadaan terkurung dan belum ada tanda-tanda dari nubuat kejatuhan bangsa Israel. Tetapi, Tuhan menyatakan janji pemulihan-Nya hingga dua kali. Yeremia tetap percaya akan janji Tuhan.

    Sahabat, dalam hal apa kita membutuhkan janji penyertaan Tuhan saat ini? Apa yang akan membuat kita yakin? Firman Tuhan bagi kita hari ini mengingatkan bahwa keyakinan kita pada janji penyertaan Tuhan bukan didasarkan pada bukti-bukti yang terlihat, tetapi pada Tuhan sendiri yang menyatakan janji-Nya. Mungkin kita belum melihat tanda-tanda apa pun, bahkan kita masih berada dalam keadaan yang tidak pasti, tetapi kita percaya setiap janji Tuhan akan digenapi. Sebab, Tuhan sendirilah yang menyatakannya bagi kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Dari 13 ayat dalam bacaan kita pada hari ini, ayat yang mana yang telah menghibur dan menguatkan iman Sahabat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dengan keyakinan yang kokoh kita tahu bahwa Allah telah menyediakan jalan keluar atas setiap persoalan yang kita hadapi, tidak peduli sebesar apapun persoalan itu. (pg).

  • STRENGTHEN by LOVE

    DIKASIHI TUHAN. Di dunia yang semakin egois, tantangan hidup semakin berat, orang semakin sulit beradaptasi dengan sekitarnya. Seringkali sulit bagi kita untuk dapat menyesuaikan diri dengan satu lingkungan yang baru. Apakah itu di dunia pelayanan, pekerjaan atau tempat tinggal.

    Yesus memberikan sebuah keteladanan ketika Dia tumbuh dewasa. Menjadi seorang yang dikasihi Allah bukanlah berarti kita harus melupakan bagaimana kita harus bersikap terhadap sesama. Dua hukum yang paling mendasar jelas mengatakan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan kekuatan, dan mengasihi sesama manusia seperti bagaimana kita mengasihi diri sendiri.

    Sangat penting bagi kita sebagai komunitas orang-orang percaya untuk dikasihi Tuhan dan disenangi manusia pada saat bersamaan. Sebagian orang berkata bahwa hal tersebut sulit, tapi sebenarnya tidaklah demikian. Dengan bercermin pada pribadi Yesus dan beberapa tokoh-tokoh lain yang ada di dalam alkitab, kita tahu bahwa hal tersebut tidaklah sulit. Jika kita mengizinkan Roh Kudus bekerja dalam diri kita, dan kita mau membuka hati terhadap suara Tuhan, kita bisa menjadi sosok yang dikasihi Tuhan sekaligus disenangi sesama. Kita dapat dikuatkan oleh perhatian dan kasih Tuhan yang disalurkan melalui sesama.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Daniel dengan topik: “STRENGTHEN by LOVE (DIKUATKAN oleh KASIH)”. Bacaan Sabda diambil dari Daniel 10:15 – 11:1. Sahabat, pengalaman dikasihi merupakan pengalaman yang berharga dan indah. Saat seseorang merasa dirinya dikasihi, dalam dirinya akan timbul kegembiraan, keberhargaan, kekuatan, dan sebagainya. Ia merasa hidupnya menjadi bermakna, baik bagi dirinya maupun orang lain.

    Daniel berbahagia saat ia mendengar dirinya dikasihi oleh Allah. Ucapan tersebut  memberinya kekuatan karena hidupnya berharga di mata Allah (ayat 19). Beda halnya ketika ia mengetahui bagaimana nasib akhir dari bangsanya pada akhir zaman. Daniel hanya bisa tertunduk mukanya ke tanah dan lidahnya menjadi kelu terkejut atau ketakutan (ayat 15). Lalu sosok yang menyerupai manusia datang kepada Daniel dan menyentuh bibirnya agar ia dapat berbicara (ayat 16).

    Setelah bisa berbicara, Daniel mengungkapkan alasan mengapa ia menjadi kelu. Secara mental ia merasa terpukul saat mengetahui makna dari penglihatan itu yang akan terjadi pada masa depan (ayat 16). Selain itu, penglihatan tersebut banyak menguras tenaga Daniel sampai ia sulit bernafas (ayat 17).

    Sosok yang menyerupai manusia itulah yang memulihkan Daniel. Ia juga menyemangati Daniel untuk tidak cepat putus harapan (ayat 19). Kata-kata bahwa dirinya dikasihi Allah merupakan obat mujarab yang mampu menguatkan hati dan menyegarkan pikirannya. Sebab, Allah yang mengasihinya adalah Pribadi yang ikut serta dalam pergumulannya. Buktinya sosok yang menyerupai manusia itu mau berperang dengan bangsa Persia (ayat 20). Keberpihakan Allah kepada Daniel dan umat-Nya pasti terjadi karena Ia selalu menepati janji-Nya yang tertulis dalam Kitab Kebenaran (ayat 21).

    Sahabat, sesungguhnya Allah tidak hanya mengasihi Daniel, tetapi juga kita yang mau hidup benar di hadapan-Nya. Kasih Allah yang dinyatakan kepada kita bukanlah sekadar janji kosong, melainkan tindakan nyata. Ia membela, meneguhkan, dan menguatkan yang lemah dan tertindas. Karena itu, sudah sepatutnya kita mengejar hidup takut akan Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Dengan cara itu, kita menjadi tangan Allah untuk menghadirkan kepedulian dan kasih Tuhan bagi semua orang. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Dari 8 ayat dalam bacaan kita pada hari ini, ayat yang mana yang telah menghibur dan menguatkan iman Sahabat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sebagai orang yang dikasihi Tuhan, kita harus mencamkan firman-Nya supaya mendapat kekuatan, tidak takut menghadapi kesulitan hidup, dan mengerti rahasia yang akan terjadi pada masa mendatang. (pg)

  • Daniel’s Prayer Answer

    TETAPLAH BERDOA. Doa bukan jalan terakhir. Doa harus menjadi yang pertama dan utama. Jadi keliru jika kita baru ingat berdoa hanya ketika butuh atau kepepet. Juga keliru, kalau kita baru berdoa setelah usaha yang  lain-lain tidak membawa hasil. Itu sama saja dengan memperlakukan Tuhan sebagai penjaga gudang. Tempatnya di pojok, dipanggil sesekali kalau sedang dibutuhkan.

    Doa kadang memang tidak melepaskan kita dari masalah, tetapi doa dapat memberi kita kekuatan untuk menghadapi masalah. Tuhan Yesus tetap harus melewati jalan perderitaan, via dolorosa.  Tetapi berkat doa, Dia dapat melaluinya dengan hati teguh dan dalam penyerahan diri kepada Allah Bapa-Nya di Surga.

    Doa bukan sekadar soal kata-kata, tetapi juga soal tindakan. Terwujudnya sebuah doa seringkari merupakan kerja sama antara anugerah Tuhan dan usaha manusia. Percuma, misalnya, kita berdoa supaya terhindar dari pencobaan, tetapi kita terus nyerempet-nyerempet bahaya. Percuma kita berdoa supaya mendapat pekerjaan, tetapi kita tidak mau mencarinya. Percuma kita berdoa supaya orang-orang miskin ditolong, tetapi kita sendiri tidak mau menolong orang yang di depan kita yang  jelas-jelas membutuhkan bantuan. Karena itu tetaplah berdoa.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Daniel dengan topik: “Daniel’s Prayer Answer (Jawaban Doa Daniel)”. Bacaan Sabda diambil dari Daniel 9:20-27. Sahabat, ketika kita sedang   di perantauan, terkadang muncul gejala yang disebut homesick (rasa rindu pada kampung halaman). Apalagi ketika situasi di perantauan sedang tidak menyenangkan, maka kerinduan pada kampung halaman terasa menyesakkan dada.

    Gejala semacam itu muncul pada diri Daniel yang rindu akan negerinya (Kerajaan Yehuda). Perasaan kangennya bercampur haru dalam doanya. Tidak lama kemudian malaikat Gabriel kembali menemui Daniel (ayat 21).

    Sebagai utusan Allah, Gabriel datang untuk menyampaikan berita bahwa doa Daniel dikabulkan Allah. Ia akan menganugerahkan akal budi untuk mengerti kebijaksaan kepada Daniel (ayat 23). Sebagai orang yang dikasihi Allah, Daniel diminta untuk fokus pada firman dan penglihatan itu dengan saksama.

    Sahabat, dalam penglihatan tersebut,  Daniel melihat deretan angka, yaitu: Tujuh puluh kali tujuh masa (ayat 24), enam puluh dua kali tujuh masa (ayat 26), dan satu kali tujuh masa (ayat 27). Deretan angka tersebut menandakan peristiwa yang bakal terjadi pada Bait Allah. Ketiga peristiwa itu memperlihatkan kehancuran dan pemulihan Bait Allah di Yerusalem.

    Karena itu, Daniel merasa perlu untuk TETAP BERDOA  kepada Allah. Doa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh memampukannya menghadapi berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya di negeri Babel. Melalui doanya, Daniel belajar MEMPERTAHANKAN IMAN  karena ia yakin bahwa Tuhan senantiasa menjawab doanya.

    Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini,  kita diajak untuk MENGHAYATI KEHIDUPAN DOA  bersama Allah. Dalam doa, umat menyatakan pengakuan dosanya. Pengakuan itu mendatangkan pemulihan Allah dan pembaruan hidup.

    Melalui doa, umat juga mendapat peneguhan Allah yang dinyatakan melalui kebenaran-Nya yang ada dalam Alkitab. Sebab itu, BERDOA  dan MEMBACA ALKITAB merupakan  TINDAKAN KONKRET  yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang percaya. Melalui doa dan membaca Alkitab, umat ditegur dan diingatkan untuk tidak hidup dalam dosa. Umat juga dikuatkan bahwa Allah yang penuh kasih dapat dijadikan BATU SANDARAN  yang TEGUH. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawabalah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang dapat Sahabat peroleh dari bacaan kita pada hari ini?
    2. Dari 8 ayat dalam bacaan kita pada hari ini, ayat yang mana yang telah menghibur dan menguatkan iman Sahabat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan pernah menyerah pada keadaan, justru dalam kondisi sulit kita harus terus mencari Dia, seperti yang dilakukan Daniel. (pg).