Category: Sejenak Merenung

  • A Few LOYAL People

    PEYOT. Gaya potongan rambut dapat menjadi salah satu penunjang kepercayaan diri. Pasalnya gaya rambut dapat memengaruhi penampilan bagi sebagian orang. Gaya potong rambut biasanya disesuaikan dengan bentuk muka dan kondisi rambut itu sendiri. Namun ada juga orang yang merubah gaya potongan rambut sesuai tren, agar terlihat fashionable dan kekinian.

    Saya kutip dari Intisari-Online.com, salah satu ciri khas yang mudah dijumpai dari orang-orang Yahudi adalah gaya rambutnya. Hal tersebut dapat Sahabat lihat pada penampilan para pria Yahudi. Selain wajahnya yang dihiasi janggut dan kebiasaan memakai topi lebar, mereka juga menumbuhkan dan memanjangkan rambut di kedua sisi kanan-kiri kepalanya. Gaya rambut itu disebut  “Peyot” yang sebagian besar dianut oleh para Haredi Ashkenazi (Yahudi Ortodoks) dan Yahudi di Yaman.

    Bagi orang Yahudi Yaman, Peyot itu disebut simanim yang berarti “tanda”. Sebagai tanda, kebiasaan kuno ini berarti untuk membedakan antara orang Yahudi dengan masyarakat Yaman yang Muslim.

    Anjuran gaya ini juga berasal dari larangan yang tertulis di Taurat. Kemudian oleh para Rabi seperti dirangkum dalam Talmud menafsirkan larangan itu untuk tidak merusak tepi janggut mereka. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi tidak mau memotong dan membiarkannya tumbuh panjang.

    Sahabat, pencukuran tepi rambut dan janggut di Israel dihubungkan dengan kekudusan dan dapat dimaknai sebagai PERKABUNGAN atau KEHINAAN (Imamat 19:27; 21:5).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “A Few Loyal People (Sedikir Orang yang SETIA)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 5:1-17.  Sahabat, pengepungan Yerusalem merupakan kabar buruk bagi bangsa Israel. Namun, nubuat dari Tuhan belum berakhir.

    Dalam bacaan kita pada  hari ini, Yehezkiel disuruh mencukur rambut dan janggutnya (ayat 1). Ini menandakan penghinaan terhadap Yerusalem dan hilangnya jati diri mereka. Kemudian, sepertiga dari rambut tersebut harus dibakar, sepertiga dipotong dengan pedang, dan sepertiga dihamburkan ke dalam angin (ayat  2). Itu artinya sepertiga umat akan mati kena sampar dan kelaparan, sepertiga akan mati oleh serangan musuh, dan sepertiga akan disebarkan ke pembuangan (ayat 12). Dengan demikian, Yerusalem yang dibanggakan oleh bangsa Israel sebagai pusat bangsa-bangsa akan dibuat menjadi reruntuhan dan celaan (ayat 14-15).

    Apakah artinya tidak ada umat yang akan diselamatkan? Ternyata masih ada sedikit umat yang diambil. Dalam ayat 3, Tuhan berkata kepada Yehezkiel: “Engkau harus mengambil sedikit dari rambut itu dan bungkus di dalam punca kainmu.” Itu menandakan sedikit umat yang akan hidup di pembuangan di Babel. Meski mereka juga hidup dalam penderitaan, mereka diluputkan dari kematian. Itulah umat yang setia, yang biasanya disebut “yang sisa” yang akan Tuhan pelihara. Mereka tetap menyembah Tuhan di tengah mayoritas umat yang menolak hukum Tuhan dan menyembah berhala. Dari sekian banyak bangsa Israel yang binasa, ada sedikit yang setia.

    Dengan demikian, Alkitab jelas mengajarkan bahwa tidak semua umat Tuhan adalah umat yang sungguh-sungguh setia. Bahkan, mayoritas umat dalam masa hidup Yehezkiel adalah umat yang hidup dalam kejahatan dan kekejian. Bagaimana dengan orang percaya pada masa sekarang? Apakah masih ada orang percaya yang tidak sungguh-sungguh setia? Tentu saja ada. Ada cukup banyak orang percaya yang mengaku sebagai pengikut Kristus, tetapi sedikit yang tetap menaati Tuhan dan mempertahankan jati diri sebagai umat Tuhan.

    Sahabat, pada akhirnya, Tuhan akan memisahkan umat yang setia  dari umat yang tidak setia. Masing-masing kita perlu merefleksikan diri: Umat seperti apakah kita? Perbuatan dan perilaku dalam hidup kita akan membuktikan kesetiaan seperti apa yang kita miliki. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7 dan 11?

    Selamat sejenak merenung. Renungkan dalam-dalam di hati: Kesetiaan itu datangnya dari hati dan niat, bukan dari sebuah kata-kata. (pg).

  • Humble and Serve

    KAMIS PUTIH. Kamis Putih (Maundy Thursday) merupakan  bagian dari perayaan dalam masa Raya Paskah, yang diadakan satu hari sebelum Jumat Agung. Untuk tahun 2023 jatuh pada tanggal 6 April 2023. Perayaan Kamis Putih dikenal dalam peristiwa perjamuan malam Yesus bersama murid-murid-Nya dan pembasuhan kaki sebelum Dia menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan. 

    Sahabat, ada dua unsur utama yang diperingati dalam liturgi Kamis Putih yaitu perjamuan malam terakhir (dan perintah untuk mengadakan perjamuan kudus) dan membasuh kaki sebagai simbol hamba yang melayani. Perjamuan malam tersebut memiliki makna pengucapan syukur dan peringatan akan Yesus dalam keselamatan oleh kematian-Nya. 

    Dalam rangka memperingati Kamis Putih, hari ini saya mengajak Sahabat untuk merenungkan Injil Yohanes dengan topik: “Humble and Serve (Rendah Hati dan Melayani)”. Bacaan Sabda diambil dari Yohanes 13: 1-17. Sahabat,  ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang sangat menarik:  Rumangsa Sarwa Duwe dan Sarwa Duwe Rumangsa.  Dua kalimat ini dibolak-balik saja penulisannya, akan tetapi memiliki makna sangat jauh berbeda. 

    Pertama, kalimat Rumangsa Sarwa Duwe atau “Merasa Serba Punya” menunjukkan watak suka pamer, merasa sudah memiliki segala-galanya, dan dapat mengatur segalanya sesukanya. Kedua,  Sarwa Duwe Rumangsa atau “Serba Punya Rasa” menunjukkan perilaku yang penuh dengan belas kasih, bijaksana dalam semua hal, dan merasa bersalah atau berdosa, jika membuat susah orang lain.

    Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini,  tindakan  penuh  belas kasih  ditunjukkan oleh Tuhan Yesus kepada para murid. Saat itu, Tuhan Yesus sudah mengetahui bahwa  sudah waktunya  Dia meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa. Sungguh kasih Tuhan Yesus sangat besar kepada umat kepunyaan-Nya. Meskipun Dia mengetahui salah seorang dari antara para murid yaitu Yudas Iskariot akan mengkhianati-Nya,  namun,  Dia yang adalah Guru dan Tuhan  mau untuk merendahkan hati membasuh kaki para murid-Nya. Dengan membasuh kaki para murid, Tuhan Yesus ingin memberikan pengajaran tentang:

    Pertama, tindakan membasuh kaki adalah simbol untuk kematian Tuhan Yesus yang akan membersihkan dosa manusia. Tuhan Yesus sebagai Guru dan Tuhan yang akan memberikan keselamatan. 

    Ketika Tuhan Yesus bersama para murid di dalam perjamuan memperingati hari raya Paskah Yahudi, dalam tradisinya akan selalu ada hidangan atau olahan daging anak domba jantan. Hal tersebut sebagai pengingat ketika Allah akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:14). Selain itu Allah memberikan perintah, supaya bangsa Israel menyembelih anak domba jantan dan darahnya harus dibubuhkan pada ke dua tiang pintu dan ambang atas rumah-rumah orang Israel (Keluaran 12:7). Dengan begitu umat Israel terhindar dari hukuman Allah dan mendapatkan keselamatan serta bisa keluar dari tanah Mesir.  Tuhan Yesus sendiri yang akan menjadi domba Paskah, yang mengeluarkan manusia dari hukuman dosa dan memberikan keselamatan untuk umat kepunyaan-Nya.

    Kedua, tindakan membasuh kaki mengingatkan dan memberikan teladan kepada para murid. Bahwa setelah menerima Tuhan Yesus sebagai Guru dan Tuhan, para murid harus masuk di dalam sikap hidup yang baru yaitu meneladani Tuhan Yesus yang mau merendahkan hati dan melayani. 

    Sahabat, memiliki sikap Sarwa Duwe Rasa atau “Serba Punya Rasa” sungguh diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi bagi orang percaya, karena kita merupakan manusia yang penuh dengan dosa, yang sudah menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Dia sudah mau menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Maka mari kita selalu menunjukkan sikap rendah hati dan mau melayani dengan rasa hormat dan penuh kasih kepada sesama. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami pahami tentang Kamis Putih?

    Humble and Serve

    KAMIS PUTIH. Kamis Putih (Maundy Thursday) merupakan  bagian dari perayaan dalam masa Raya Paskah, yang diadakan satu hari sebelum Jumat Agung. Untuk tahun 2023 jatuh pada tanggal 6 April 2023. Perayaan Kamis Putih dikenal dalam peristiwa perjamuan malam Yesus bersama murid-murid-Nya dan pembasuhan kaki sebelum Dia menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan. 

    Sahabat, ada dua unsur utama yang diperingati dalam liturgi Kamis Putih yaitu perjamuan malam terakhir (dan perintah untuk mengadakan perjamuan kudus) dan membasuh kaki sebagai simbol hamba yang melayani. Perjamuan malam tersebut memiliki makna pengucapan syukur dan peringatan akan Yesus dalam keselamatan oleh kematian-Nya. 

    Dalam rangka memperingati Kamis Putih, hari ini saya mengajak Sahabat untuk merenungkan Injil Yohanes dengan topik: “Humble and Serve (Rendah Hati dan Melayani)”. Bacaan Sabda diambil dari Yohanes 13: 1-17. Sahabat,  ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang sangat menarik:  Rumangsa Sarwa Duwe dan Sarwa Duwe Rumangsa.  Dua kalimat ini dibolak-balik saja penulisannya, akan tetapi memiliki makna sangat jauh berbeda. 

    Pertama, kalimat Rumangsa Sarwa Duwe atau “Merasa Serba Punya” menunjukkan watak suka pamer, merasa sudah memiliki segala-galanya, dan dapat mengatur segalanya sesukanya. Kedua,  Sarwa Duwe Rumangsa atau “Serba Punya Rasa” menunjukkan perilaku yang penuh dengan belas kasih, bijaksana dalam semua hal, dan merasa bersalah atau berdosa, jika membuat susah orang lain.

    Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini,  tindakan  penuh  belas kasih  ditunjukkan oleh Tuhan Yesus kepada para murid. Saat itu, Tuhan Yesus sudah mengetahui bahwa  sudah waktunya  Dia meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa. Sungguh kasih Tuhan Yesus sangat besar kepada umat kepunyaan-Nya. Meskipun Dia mengetahui salah seorang dari antara para murid yaitu Yudas Iskariot akan mengkhianati-Nya,  namun,  Dia yang adalah Guru dan Tuhan  mau untuk merendahkan hati membasuh kaki para murid-Nya. Dengan membasuh kaki para murid, Tuhan Yesus ingin memberikan pengajaran tentang:

    Pertama, tindakan membasuh kaki adalah simbol untuk kematian Tuhan Yesus yang akan membersihkan dosa manusia. Tuhan Yesus sebagai Guru dan Tuhan yang akan memberikan keselamatan. 

    Ketika Tuhan Yesus bersama para murid di dalam perjamuan memperingati hari raya Paskah Yahudi, dalam tradisinya akan selalu ada hidangan atau olahan daging anak domba jantan. Hal tersebut sebagai pengingat ketika Allah akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:14). Selain itu Allah memberikan perintah, supaya bangsa Israel menyembelih anak domba jantan dan darahnya harus dibubuhkan pada ke dua tiang pintu dan ambang atas rumah-rumah orang Israel (Keluaran 12:7). Dengan begitu umat Israel terhindar dari hukuman Allah dan mendapatkan keselamatan serta bisa keluar dari tanah Mesir.  Tuhan Yesus sendiri yang akan menjadi domba Paskah, yang mengeluarkan manusia dari hukuman dosa dan memberikan keselamatan untuk umat kepunyaan-Nya.

    Kedua, tindakan membasuh kaki mengingatkan dan memberikan teladan kepada para murid. Bahwa setelah menerima Tuhan Yesus sebagai Guru dan Tuhan, para murid harus masuk di dalam sikap hidup yang baru yaitu meneladani Tuhan Yesus yang mau merendahkan hati dan melayani. 

    Sahabat, memiliki sikap Sarwa Duwe Rasa atau “Serba Punya Rasa” sungguh diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi bagi orang percaya, karena kita merupakan manusia yang penuh dengan dosa, yang sudah menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Dia sudah mau menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Maka mari kita selalu menunjukkan sikap rendah hati dan mau melayani dengan rasa hormat dan penuh kasih kepada sesama. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami pahami tentang Kamis Putih?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesungguhnya kita adalah orang yang berbahagia dan diberkati ketika kita menjadi orang yang rendah hati dan melayani sesama. (pg).

  • Giving Positive Solutions and Contributions

    AMBISI. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ambisi diartikan sebagai
    keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu.  Ambisi sebenarnya bukan hal yang negatif. Tetapi ambisi bisa menjadi tidak sehat kalau sifatnya berpusat pada diri sendiri semata-mata, dan menghalalkan segala macam cara untuk mencapainya.

    Sahabat, kita sebagai orang percaya, maka sudah sepatutnya hidup yang sudah menjadi milik Tuhan harus diabdikan sepenuhnya kepada-Nya. Ambisi pribadi kita pun harus ditundukkan pada Tuhan dan dikuduskan agar berpusat hanya pada kehendak-Nya dan bukan pada pemuasan hawa nafsu kita yang berdosa.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Giving Positive Solutions and Contributions (Memberi Solusi dan Kontribusi Positif)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 41:1-18. Sahabat, bacaan kita pada hari ini memperlihatkan situasi kacau setelah kerajaan Yehuda secara praktis musnah karena telah dijadikan salah satu provinsi dari kerajaan Babel. Nubuat Yeremia telah menjadi kenyataan. Mereka tidak dapat lari dari penjajahan dan pembuangan ke Babel.

    Sebenarnya dengan sikap Yeremia memilih tinggal bersama umat yang tersisa di Yerusalem, itu menunjukkan bahwa umat yang tersisa di Yerusalem pun ada dalam belas kasih Allah. Gedalya yang ditunjuk oleh Babel untuk memimpin Yerusalem juga seorang pemimpin yang baik, yang peduli akan kesejahteraan rakyatnya.Sayang sekali, tetap ada orang-orang yang tidak mau tunduk pada kehendak Tuhan.

    Mereka ialah Ismael bin Netanya dan kelompoknya. Apa sebabnya Ismael mengkudeta Gedalya (ayat 2), bahkan membantai delapan puluh orang yang datang untuk beribadah di rumah Tuhan (ayat 7)? Catatan Yeremia tidak memberikan alasannya. Namun kemungkinan besar Ismael, yang adalah keturunan raja (ayat 1), tidak bisa menerima kepemimpinan Gedalya, yang menurutnya bukan siapa-siapa. Ismael merasa dirinyalah yang paling layak memimpin Israel. Di balik itu, sangat mungkin ada agenda politik, yakni ingin mengembalikan kejayaan dinasti Daud. AMBISI Ismael yang ingin cepat berkuasa
    membuat ia mengambil JALAN PINTAS dan DENGAN KEJAM menghancurkan setiap rintangan yang menghadang.

    Kisah tragis ini tidak berhenti di situ. Buah pemberontakan Ismael berefek ganda. Pertama, ia gagal menanamkan pengaruh yang kuat karena rakyat mengikut dia dengan terpaksa (ayat 10, 13-14). Pemberontakannya gagal total. Namun yang kedua, dampak pemberontakan Ismael adalah pembalasan Babel yang tidak
    hanya tertuju kepada kelompoknya, melainkan kepada segenap umat Yehuda yang masih tertinggal di Yudea. Itulah sebabnya, dengan terpaksa Yohanan harus mengungsikan sisa-sisa rakyat itu ke Mesir, menghindarkan diri dari amukan pasukan Babel (ayat 16-18).

    Sahabat, kasih setia Tuhan sebenarnya tidak pernah ditarik-Nya dari umat-Nya. Namun, sayangnya ada saja dari umat Tuhan yang tetap bebal, tidak mau belajar dari kesalahan. Bahkan tetap tidak mau tunduk dan taat pada kehendak-Nya. Mengumbar ambisinya sendiri. Ketidaktaatan apalagi disertai pemberontakan tidak pernah menghasilkan apa-apa selain penderitaan dan bahkan hukuman
    lebih keras. Kiranya kita belajar dari kisah yang kita renungkan pada hari ini, untuk tidak mengeraskan hati kita untuk tetap memberontak dari pimpinan Tuhan.

    Hal lain yang dapat kita petik, sungguh berbahaya melayani dengan motivasi yang berpusat pada diri sendiri. Bukan hanya kita terjebak pada hal yang sia-sia,

    Tuhan pun tidak dipermuliakan, dan pelayanan dirugikan! Lebih bijak kalau kita dapat memberi solusi dan kontribusi positif dalam pelayanan di mana kita ditempatkan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ambisi?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jadilah seperti Yeremia yang menjadi bagian dari solusi dan kontribusi dengan nasihat dan teladan hidupnya yang positif, sambil memegang teguh janji Allah dan memercayakan masa depan bangsanya kepada Allah. (pg)

  • Don’t Waste God’s Grace

    ANUGERAH TUHAN. Pada waktu itu di desa di pedalaman Kalimantan Tengah ada beberapa anak yang menerima anugerah Tuhan berupa beasiswa untuk melanjutkan ke SMP dan SMA di Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah. Selama bersekolah mereka tinggal di asrama di bawah bimbingan Bapak dan Ibu Asrama.

    Sebagian besar dari mereka mempergunakan anugerah tersebut dengan penuh tanggung jawab. Mereka berjuang sungguh-sungguh dan fokus, akibatnya mereka dapat menyelesaikan studi dengan baik. Tapi ada diantara mereka yang menyia-nyiakan anugerah yang mereka terima, akibatnya mereka tidak dapat menyelesaikan studinya. Mereka mengalami putus sekolah.

    Cerita di atas menjadi gambaran sikap kita dalam menerima anugerah dari Tuhan. Sesungguhnya kita pun menerima hadiah istimewa dari Tuhan berupa keselamatan. Keselamatan itu kita terima bukan karena kebaikan atau kehebatan kita, namun semata-mata hanya anugerah Tuhan, melalui pengorbanan Yesus Kristus. Maka jangan menyia-nyiakan anugerah Tuhan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Don’t Waste God’s Grace (Jangan Menyia-nyiakan Anugerah Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 4:1-17, Sahabat, Yehezkiel telah melihat kemuliaan Tuhan, dan akhirnya tiba saatnya untuk menyampaikan peringatan Tuhan atas bangsa Israel. Tuhan berfirman kepada Yehezkiel tentang penghakiman Yerusalem
    dengan memberikan sejumlah tindakan simbolis.

    Beberapa penekanan yang Tuhan nyatakan menggambarkan kondisi yang akan menimpa kota Yerusalem.

    Pertama, Yehezkiel diminta untuk memperagakan Yerusalem yang terkepung oleh pasukan musuh dengan ia berbaring ke kiri
    selama 390 hari dan ke kanan selama 40 hari. Pengepungan akan menimpa Kerajaan Israel di utara selama 390 tahun dan Kerajaan Yehuda di selatan selama 40 tahun (ayat 1-8).

    Kedua, Yehezkiel juga diminta untuk makan dan minum seperti saat kota dikepung, yaitu roti dari campuran biji-bijian seberat 20 syikal (280 gram) dan air seperenam hin (1 liter) sehari. Umat yang dikepung akan mengalami kekurangan makanan dan penderitaan yang besar (ayat 9-11).

    Ketiga, Yehezkiel disuruh membakar roti itu di atas kotoran manusia, suatu kenajisan besar bagi orang Israel, apalagi bagi Yehezkiel. Karena itu, ia memohon supaya ia tidak hidup dalam kenajisan dan Tuhan memperbolehkan dia membakar rotinya di atas kotoran lembu (ayat 12-15).

    Sahabat, semua itu memperlihatkan dahsyatnya penghakiman Tuhan. Ketika yerusalem diserang dan penduduknya menderita, itulah saat Tuhan sendiri menghukum umat-Nya. Hal itu sangat penting karena sesungguhnya umat hidup dalam pemberontakan, sehingga mereka mengalami kejatuhan dan kesombongan mereka hancur di bawah penghukuman Tuhan.

    Mungkin kita berpikir bahwa Tuhan lebih beranugerah dalam masa Perjanjian Baru karena Ia tidak lagi menghukum umat-Nya seperti masa Perjanjian Lama. Seharusnya hal tersebut menyadarkan kita bahwa semakin besar anugerah, semakin tinggi standar yang dituntut. Jika umat Israel yang menerima hukum Taurat saja dihukum dengan begitu berat, apalagi kita yang telah menerima Injil Yesus Kristus (Ibrani 10:26-29).

    Sahabat, penghakiman yang sama seharusnya menimpa kita juga, tetapi Tuhan telah menebus dan menguduskan kita.

    Karena itu, jangan sampai kita menyia-
    nyiakan anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita. Heleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ibrani 10:26-29?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita tidak ingin hidup kita sia-sia, maka jangan pernah menyia-nyiakan anugerah keselamatan dari Tuhan. (pg).

  • Be The Guardian of Israel

    MAKAN FIRMAN. Kisah berikut saya kutip dari batamnews: Kesha, seorang wanita berusia 34 tahun dari Chicago, Amerika Serikat telah mengalami kebiasaan yang sangat aneh selama 23 tahun terakhir. Ia kecanduan makan tisu toilet setiap hari. Gangguan makan ini dikenal sebagai xylophagia, yaitu kondisi dimana seseorang mengonsumsi jaringan. Dalam acara televisi “My Strange Addiction” di TLC, Kesha berbicara tentang kebiasaannya yang tidak biasa ini, dengan harapan dapat menyebarluaskan kesadaran tentang gangguan makan ini. Kesha mengaku mengunyah sekitar 75 lembar tisu setiap hari selama 23 tahun terakhir.

    Kesha makan tisu toilet sedangkan nabi Yehezkiel makan gulungan kitab (Yehezkiel 3:1-3). Kalau nabi Yehezkiel makan gulungan kitab untuk menggambarkan sebuah latihan rohani yang harus dilakukannya sebagai Penjaga Israel dan bukan makan kertas gulungannya seperti Kesha yang makan tisu toilet tersebut. Jika kita ingin menyatakan kebenaran Allah dengan penuh makna dan
    kuasa, maka kita perlu menyediakan waktu agar firman itu memenuhi hati kita. Kita perlu merasakan dampak firman Allah. Kita harus mengizinkan firman-Nya menjadi bagian terpenting dari hidup kita. Jadikan firman Tuhan seperti makanan yang diserap sari-sari makanannya sehingga berguna untuk memberi tenaga dan
    kekuatan tubuh dalam memberitakan kebenaran-Nya dan menjaga sesama.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Be The Guardian of Israel (Menjadi Penjaga Israel)”, Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 3:16-27. Sahabat, sesudah menenangkan diri dan memerhatikan situasi pelayanannya, Yehezkiel memperoleh penjelasan akan tugasnya. Dia bukan
    hanya diminta untuk berbicara menyampaikan Firman Allah, tetapi bertanggung jawab terhadap nyawa setiap umat yang belum mendapatkan peringatan darinya.

    Yehezkiel harus menyampaikan peringatan Allah kepada umat akan hukuman atas dosa atau perbuatan curang. Ia harus menyampaikan meskipun itu tidak ada seorang pun yang mau mendengarkannya. Seseorang yang telah diperingatkan
    itu dapat saja tetap dihukum atau kemudian dilepaskan. Yang terutama adalah Yehezkiel telah melakukan tugasnya sebagai PENJAGA ISRAEL (ayat 16-21).

    Setelah memperoleh penjelasan penugasannya, ia pun pergi ke lembah melihat kemuliaan TUHAN. Kesadaran akan kebesaran TUHAN yang telah memanggilnya membuatnya bersujud (ayat 22-23).

    Sahabat, TUHAN menetapkan bahwa Yehezkiel hanya boleh berbicara dan menempelak bangsa Israel pada waktu yang TUHAN tetapkan. Ia hanya menyampaikan Firman TUHAN. TUHAN tidak memaksakan kehendak-Nya kepada umat pilihan-Nya. Ia membiarkan setiap orang memilih mau atau tidak mau mendengarkan firman-Nya (ayat 24-27).

    TUHAN memerintah hamba-Nya untuk berbicara dan memberitakan firman-Nya apa adanya pada waktu yang Ia kehendaki. Apabila itu berupa teguran, maka harus disampaikan dan tidak perlu diperhalus apalagi dikurangi atau diganti. Hamba TUHAN tidak perlu ragu melihat situasi yang dihadapinya. Allah kita mulia dan besar serta sanggup menguatkan setiap hamba-Nya.

    Kerinduan Tuhan agar Yehezkiel menjadi penjaga bagi sesamanya ini juga kerinduan Tuhan bagi kita.  Inilah yang disebut Amanat Agung Tuhan!  Jika kita melihat orang lain jatuh dan hidup dalam kejahatan, sementara kita dengan sengaja membiarkannya, hal itu akan menjadi tanggung jawab kita di hadapan
    Tuhan. Sudahkah kita mengerjakan tugas dari Tuhan tersebut? Haleluya! Tuhan
    itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang Menjadi Penjaga Sesama?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Makan Firman?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan memerintahkan
    kita untuk memiliki kepedulian terhadap keselamatan orang lain. (pg).

  • Called to Build and Plant

    KENYAMANAN HIDUP. Ada cukup banyak orang yang menjadikan rasa nyaman menjadi tujuan hidupnya. Mereka berusaha sangat keras untuk mendapatkannya Mereka rela mengorbankan apapun untuk meraih tujuan hidupnya tersebut. Fokus pikiran dan langkah hidupnya diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut. Sesungguhnya kita perlu berhati-hati karena rasa nyaman justru bisa menjerumuskan kita bila kita tidak menyikapi rasa nyaman dengan bijak, waspada dan tegas.

    Kenyamanan, hidup tanpa masalah, sering kali menjadi musuh yang sangat berbahaya bagi orang percaya. Ada cukup banyak orang percaya jatuh dalam dosa bukan ketika dalam masalah atau tekanan, tetapi ketika dalam hidup nyaman.

    Ketika hidup nyaman, seringkali orang percaya hidupnya jauh dari Tuhan. Bahkan ketika hidupnya diberkati, fokus hidupnya justru lebih kepada kesenangan atau hal-hal duniawi. Berbeda ketika hidupnya dalam masalah dan tekanan, rajin berdoa, berseru-seru kepada Tuhan meminta pertolongan Tuhan.

    Sahabat, jika kita diperhadapkan pada pilihan, mau tinggal di tempat yang membuat kita dapat menikmati kenyamanan hidup, atau mau tinggal di tempat yang membuat kita terus menghadapi pergumulan dan tantangan, mana yang kita pilih? Tentu kita memilih tinggal di tempat yang membuat kita dapat menikmati kenyamanan hidup. Namun hal tersebut tidak dilakukan oleh nabi Yeremia.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: Called to Build and Plant (Dipanggil untuk MEMBANGUN dan MENANAM). Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 40:1-6. Sahabat, Yeremia yang sengsara sebagai tawanan tak bersalah akhirnya dibebaskan, bahkan diberi tawaran untuk bisa ikut ke Babel. Dengan pergi ke Babel, pastinya Yeremia akan mendapatkan kehidupan yang nyaman (ayat 4). Tetapi, dia juga boleh memilih untuk tetap tinggal di Yerusalem bersama orang-orang miskin yang tersisa di bawah kepemimpinan Gedalya (ayat 5). Ternyata Yeremia memilih untuk tinggal bersama rakyat yang menderita (ayat 6).

    Sahabat, mungkin kita berpendapat bahwa Yeremia bodoh. Dia bisa mendapatkan kenikmatan, perhatian, bahkan kekayaan. Selama ini nubuat yang dia sampaikan mendukung kekuasaan Babel, itu pasti menyukakan raja. Tak ada gunanya memilih hidup tidak nyaman bersama penguasa baru di tengah puing-puing kota dan orang-orang miskin lemah yang tersisa. Apakah salah jika dia memilih untuk pergi ke Babel? Bukankah kehancuran Yehuda adalah kehendak Allah dan telah tergenapi (ayat 2-3)?

    Inilah ketaatan luar biasa terhadap panggilan Tuhan. Yeremia dipanggil bukan hanya untuk mencabut dan merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan, tetapi juga untuk MEMBANGUN dan MENANAM (Yeremia 1:10).

    Sahabat, bisakah kita bayangkan beratnya kehidupan Yeremia? Dia disalahpahami dan bisa dianggap tidak cinta negeri. Malahan dia menubuatkan kehancuran bangsanya dan kemenangan bangsa lain. Bisakah dibayangkan kesedihannya dalam menyampaikan nubuat yang membuatnya kehilangan orang-orang sebangsanya? Tetapi, dia tetap menaati panggilannya. Memang tidak semua orang dipanggil sama seperti Yeremia, tetapi setiap orang percaya pastilah Tuhan panggil untuk membangun dan menanam di tempat pelayanan kita masing-masing.

    Tidaklah mudah setia mengikuti panggilan Tuhan. Ada harga yang harus dibayar dan biasanya itu adalah kenyamanan hidup. Kenyamanan tidaklah negatif karena Tuhan juga menjanjikannya. Kenyamanan itu berkat Tuhan yang baik, tetapi pengalaman hidup saya bercerita bahwa kadang berkat yang baik itu harus kita relakan demi supaya kita dapat lebih lagi dipakai Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini,, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    Apa yang Sahabat pahami dari kenyaman hidup?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan terlena dengan kenyamanan dan berkat yang berlimpah. Kita harus senantiasa berjaga-jaga. Tetap intim dengan Tuhan. (pg).

  • PUASA Sebagai Sebuah Upaya Komunikasi antara Allah dan Manusia

    Mengingat saat ini kita masih berada dalam masa Pra Paskah, dan  ada cukup banyak gereja yang dalam masa Pra Paskah menyelenggarakan kegiatan “Doa dan Puasa”.  Selain itu kita hidup di Indonesia, berdampingan dengan banyak saudara yang beragama Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Maka pada hari ini kami menyajikan satu tulisan Anggraeni Yuliastuti  (AG) dari GKII jalan Pekunden Timur 16, Semarang yang berjudul: “PUASA Sebagai Sebuah Upaya Komunikasi antara Allah dan Manusia.” 

    Kalau ditanya jenis kegiatan yang sengaja dilakukan oleh manusia sebagai simbol keprihatinan sekaligus punya nilai spiritual, medis, kepuasan agamawi dan kadang juga keterpaksaan secara ekonomi, maka kegiatan itu adalah PUASA.  

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI):  Puasa adalah menghindari makan, minum dan sebagainya  (terutama bertalian dengan keagamaan). Puasa berkaitan dengan pengendalian kehendak dasar manusia yaitu makan dan minum. Dengan puasa, manusia terutama berusaha untuk mendapatkan ketajaman spiritual yang berguna untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan yang tidak kelihatan.  Maka puasa macam ini harus disertai dengan satu kegiatan yang lain yaitu doa.  

    Dalam kekristenan, Alkitab mencatat banyak ayat mengenai puasa, baik yang diperintahkan oleh Tuhan sendiri maupun dengan inisiatif para tokoh Alkitab untuk tujuan tertentu.  Namun secara umum puasa dilakukan sebagai upaya untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan.  melalui puasa maka manusia diharapkan mampu menyamakan frekuensi dengan Allah sehingga dapat menangkap isi hati-Nya dan dilaksanakan dalam kehidupan sesehari.  

    Ada beberapa tujuan puasa sebagaimana dituliskan dalam Alkitab, yaitu :

    1. Mampu berhadapan dengan kekudusan Allah

    Saat Musa berada di Gunung Sinai dan mendapatkan mandate untuk menuliskan 10 hukum Allah di loh batu yang baru, ia berpuasa (Keluaran 34:28).  Dalam situasi Musa, ia berpuasa untuk dapat melaksanakan tugasnya yang berada dalam wilayah kekudusan Allah.  

    2. Bentuk pernyataan keprihatinan

    Saat Nehemia mendengar keruntuhan Yerusalem, ia sangat berduka dan berpuasa untuk menyatakan keprihatinan mendalam tentang kondisi memprihatinkan itu (Nehemia 1:4).  Juga ketika Daniel, Misael, Hananya dan Azarya berada dalam karantina pendidikan pegawai negeri Babel, ia menyatakan identitas imannya dengan menolak hidangan raja (Daniel 1:8).  

    3. Meminta belas kasihan Tuhan di masa sulitnya

    Saat Daud menghadapi kenyataan bahwa anaknya sakit, ia melakukan puasa memohon belas kasihan Tuhan agar anaknya sembuh (2 Samuel 12 :16).  Puasa menjadi cara Daud melunakkan hati Allah yang menyatakan kemarahan kepadanya.

    Saat orang Israel dalam perjalanan kembali ke Yerusalem, Ezra juga meminta mereka berpuasa agar Tuhan menuntun perjalanan mereka dan menghindarkan dari musuh (Ezra 8:21).  Ezra menyadari bahwa perjalanan itu tidak mudah dan mereka mutlak membutuhkan Tuhan untuk menyertai.

    Ester yang dilematis dengan posisinya, berpuasa untuk dapat memperjuangkan bangsanya dari ancaman genosida Haman (Ester 4:16).  

    4. Mempertajam manusia untuk mengenal petunjuk Tuhan

    Ketika Hana menunggu Mesias di Bait Allah, ia berpuasa (Lukas 2:37).  Hingga suatu saat ia mnengenali Yesus yang dibawa orangtuanya ke bait Allah sebagai Mesias yang ditunggunya selama ini.

    5. Mempersiapkan hati untuk sebuah tugas

    Matius 4:2, Markus 1:12-13, Lukas 4:1-14 mencatat mengenai Yesus yang berpuasa sebelum Ia melaksanakan tugas pelayanan-Nya.  Tantangan dalam menjalankan misi pedamaian Allah tidaklah mudah, maka Yesus melaksanakan puasa dengan serius agar ia mampu fokus dalam menjalankan misi Allah.

    6. Mentransfomasi sebuah bangsa

    Puasa seharusnya memiliki kekuatan transformatif, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.  Kegiatan puasa tidak melulu berpusat pada kebutuhan diri sendiri, namun juga seharusnya memiliki dampak sosial yang positif bagi lingkungan orang yang menjalankannya.  Orang Israel pernah dikritik habis oleh Tuhan gegara mereka lebih mementingkan manfaat pribadi dibandingkan transformasi sosial saat mereka melaksanakan puasa (Yesaya 58 :3-5). 

    Mereka getol berpuasa namun tumpul penerapan sosial.  Puasa mereka minim manfaat untuk orang lain. Sejatinya puasa membuat seseorang makin tajam mengenal dan melaksanakan kehendak Tuhan yang membawa kesejahteraan bagi orang yang tertindas:  Melepaskan belenggu penindasan dan beban ketidak adilan, menerima orang yang miskin, mau berbagi dengan yang membutuhkan dan siap membantu mereka yang ingin ditolong (Yesaya 58.6-7).  

    Maka masa puasa adalah masa manusia mendapatkan pembaharuan holistik karena selain makin tajam menangkap pesan Tuhan dalam kehidupan mereka, pelaku puasa harus menjalankan pesan sejatera itu dalam kehidupan mereka.  Makin sering mereka puasa, makin sejahtera dan setara kondisi orang-orang tertindas di sekitar mereka.

    Dari sekian banyak tujuan puasa di atas maka dipahami bahwa puasa menjadi kegiatan penting yang membantu manusia melakukan tindakan yang efektif untuk melaksanakan tanggung jawabnya di dunia.  Puasa membantu manusia untuk dapat berdialog dengan Tuhan sehingga ia mampu untuk menyampaikan isi hatinya, menangkap apa yang diinginkan Tuhan dan sekaligus menerima tanggung jawabnya menjadi pelaksana pesan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.  Puasa menjadi titik berangkat manusia membawa damai Allah bagi dirinya dan terutama bagi orang lain, sekaligus menerima realitas bahwa manusia tidak mampu melaksanakan hidup tanpa penyertaan dan kehadiran Allah. (AG).

  • GOD COUNTS

    BERDAMPAK KE DEPAN DAN MENULARKAN. Kebaikan yang kita lakukan pada hari ini dapat mengubah hidup seseorang kedepannya dan menularkan kepada orang lain. Kisah berikut saya kutip dari Merdeka.com. Dalam unggahannya, kisah inspiratif Melanie Subono dimulai dari seorang pengemudi ojol. Setelah selesai mengantarkan Melanie ke tempat tujuan, pengemudi ojol tersebut
    bertanya apakah Melanie masih mengenal dirinya.

    “Pas jemput guwa, Mas pengemudi emosional. Dengan sederhananya dia cerita: Kak, kakak lupa? 23 tahun lalu saya anak panti yatim piatu yang pernah kakak ajak ke DUFAN. Sampai sana SENDAL SAYA putus dan saya NANGIS. Trus Kakak datengin saya dan beliin SENDAL BARU… Saya GAK AKAN lupa kak, sejak itu saya berusaha baik dengan SEMUA ORANG,” tulis Melanie.

    Tak menyangka akan berimbas besar dalam kehidupan seseorang, Melanie merasa tersentuh lantaran pengemudi ojol tersebut mengingat kebaikan kecilnya. Ia kemudian mengajak pengikut media sosialnyauntuk saling berbuat baik kepada
    sesama.

    “Hari ini dia kerja halal, nikah, punya anak dua, dan sibuk nerusin kebaikannya yang GUE AJA LUPA tapi ternyata merubah hidup dia … sekecil DUFAN, PERHATIAN dan SENDAL JEPIT. Berbuat baiklah sahabat … karena itu baik … Kecil untuk kita, bisa berarti segalanya untuk orang,” imbuhnya.

    Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “God Counts (Diperhitungkan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 38:1 – 39:18 dengan penekanan pada Yeremia 39:15-18.. Sahabat, Zedekia sudah beberapa kali meminta petunjuk Yeremia. Setiap kali ia mendengar berita yang konsisten

    dari Yeremia, yaitu penghukuman akan menimpa Yehuda dan dirinya kalau tidak mau bertobat. Namun Zedekia mengeraskan hatinya untuk menolak berita tersebut. Zedekia tidak mau turun tangan sendiri menghukum Yeremia, tapi ia memakai tangan para pejabatnya (Yeremia 38:4-6).

    Sahabat, lain halnya dengan Ebed-Melekh. Ia juga seorang pejabat istana. Ia menentang pejabat-pejabat jahat tersebut, dan berupaya menyelamatkan Yeremia. Pada masa pemerintahan Raja Zedekia, Yeremia dipenjarakan karena perkataannya yang dianggap sesat oleh para pemuka agama yang menentang ajarannya. Saat mendengar kabar tersebut, Ebed-Melekh, seorang pembantu raja menghadap raja untuk kemudian membebaskan Yeremia. Ia, dengan kebaikan
    hatinya, menolong dan mengeluarkan Yeremia dari dalam sumur (Yeremia 38: 7- 13). Semoga kita memiliki sikap seperti Ebed-Melekh, yang tidak membiarkan pelayan Tuhan diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi.

    Kebaikan hati Ebed-Melekh memang tak langsung mendapatkan balasannya. Pada awalnya cerita seolah berhenti sampai di situ. Namun, saat kota itu akan dihancurkan, Tuhan berfirman bahwa Ebed-Melekh pasti akan luput dan diselamatkan. Ia diselamatkan bukan hanya karena perbuatan baiknya, melainkan karena apa yang mendorongnya untuk berbuat baik, yaitu iman dan kepercayaannya kepada Tuhan semesta alam. Perbuatan baiknya DIPERHITUNGKAN TUHAN. Buktinya, kelak Tuhan sendiri yang meluputkannya
    dari kemalangan kota Yerusalem (Yer 39:15-18).

    Sahabat, setiap kebaikan yang kita lakukan dengan penuh ketulusan tak hanya membekas di hati si penerima, tetapi juga akan menarik perhatian Tuhan. Setialah dalam melakukan kebaikan kecil; Dia yang memperhitungkannya akan melimpahkan berkat yang lebih besar. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang berbuat baik?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Penting untuk membantu orang lain, tidak hanya dalam doa kita, tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika kita menemukan bahwa kita tidak dapat membantu orang lain, paling tidak yang dapat kita lakukan adalah berhenti menyakiti mereka.” (Dalai Lama). (pg)

  • Heavy and Noble Duty of God’s Words Proclamer

    PENYAMBUNG LIDAH TUHAN. Dipanggil dan dipercaya Tuhan untuk
    melaksanakan tugas sebagai penyambung lidah Tuhan adalah pekerjaan yang
    berat namun t sangat mulia.  Itu merupakan suatu anugerah, sebab tidak semua
    orang dipercaya untuk melaksanakan tugas tersebut. 

    Tentu merupakan hal yang mudah menyampaikan firman Tuhan kepada orang-
    orang yang memiliki respons hati yang benar, yang hatinya mau dibentuk, mau
    menerima teguran dan didikan, ibarat seorang menabur benih di tanah yang
    subur atau gembur. 

    Tapi bagaimana jika kita harus menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa
    Israel, bangsa pemberontak dan durhaka terhadap Tuhan. Mereka disebut juga
    bangsa yang keras kepala dan tegar hati. Tuhan bahkan mendeskripsikan bangsa
    Israel seperti lingkungan yang penuh onak dan duri, penuh dengan kalajengking.
    Artinya sebuah komunitas yang sangat tidak mudah untuk dihadapi. Tentu hal
    tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan!  Itulah tugas yang
    harus diemban oleh Yehezkiel, yaitu menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa
    Israel.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Heavy
    and Noble Duty of God’s Words Proclamer (Tugas Pemberita Firman Tuhan yang
    Berat dan Mulia)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 2:1-10. Sahabat,
    mendapat penglihatan akan kemuliaan Allah memang hal yang luar biasa. Tetapi,
    peristiwa tersebut diikuti dengan perintah yang tidak mudah.

    Setelah melihat kemuliaan Allah, Yehezkiel diperintahkan untuk pergi kepada
    bangsa Israel. Tentu bukan hal yang mudah karena mereka adalah bangsa

    pemberontak yang melawan Allah, yang keras kepala dan tegar hati (ayat 3-4).
    Namun, Allah tetap mengutus Yehezkiel sebagai nabi agar berada di tengah
    bangsa itu. Bagaimana mungkin bangsa pemberontak itu mau mendengarkan
    dirinya? Bisa jadi, bangsa itu berbalik melawan atau bahkan melukainya.

    Allah tahu kegelisahan hati Yehezkiel. Karena itu, Allah berfirman: “janganlah
    takut” dan “janganlah gentar” (ayat 6). Allah meneguhkan hati nabi yang diutus-
    Nya agar tetap percaya kepada-Nya. Untuk itu, Allah menegaskan agar ia tetap
    menyampaikan perkataan-Nya terlepas dari mereka mau mendengarkan atau
    tidak (ayat 7).

    Sahabat, secara sekilas hal ini terkesan seperti pekerjaan yang sia-sia, tetapi
    sebenarnya tidak. Karena apa yang akan ia sampaikan adalah firman Allah yang
    diberikan dalam wujud gulungan kitab (ayat 9-10).

    Tuhan memanggil, menetapkan dan mengutus Yehezkiel menjadi pelayan-Nya,
    demikian juga dengan setiap orang percaya dipanggil, ditetapkan dan diutus
    untuk memberitakan firman-Nya. Tugas kita adalah memberitakan firman-Nya,
    entah orang itu menolak atau menerimanya.

    Sahabat, kerinduan Tuhan setiap orang hidup menurut kehendak-Nya. Marilah
    kita merespons panggilan Tuhan. Ada kuasa yang Tuhan berikan yaitu Roh
    Kudus yang akan memampukan kita untuk menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan.
    Tuhan menyertai dalam menyampaikan firman-Nya, dulu sekarang dan sampai
    selama-lamanya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh melalui perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang: “Penyambung Lidah Tuhan”?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Beritakanlah firman,
    siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah
    dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”  (2 Timotius 4:2)

  • Fasting Brings Recovery

    BERPUASA. Masa Pra Paskah dimulai dengan Rabu Abu (22 Februari 2023)
    sampai dengan Minggu Paskah (tidak termasuk hari minggu). Bila dihitung, maka
    terdapat 40 hari masa Pra Paskah. Angka 40 sendiri diambil dari berbagai kisah
    Alkitab, yang bermakna  masa persiapan dan pengujian. Empat puluh tahun
    bangsa Israel menempuh perjalanan setelah keluar dari tanah Mesir; 40 hari Musa
    di gunung Sinai; 40 hari bangsa Niniwe bertobat dengan berpuasa; 40 hari Yesus
    berpuasa di padang gurun; 40 hari Yesus terangkat ke surga sejak peristiwa
    Paskah. Pada masa Pra Paskah, kita semua diundang untuk merefleksikan
    peristiwa pengorbanan Kristus, yang oleh sebagian gereja dibarengi dengan
    ajakan berdoa dan berpuasa.

    Sejak awal Maret 2023 di layar kaca banyak ditayangkan iklan produk-produk
    yang mengekspose anak-anak dan kaum muda yang mulai ikut berpuasa di Bulan
    Ramadhan tahun ini. Maka saya bertanya kepada beberapa orang pemuda yang
    di gerejanya setiap tahun selalu mengadakan program “Doa dan Puasa” selama
    40 hari, “Apa yang kamu rasakan dan godaan yang apa yang kamu alami ketika
    pertama kali mengikuti program Doa dan Puasa?”. Mereka dengan antusias dan
    spontan menjawab: “Om, pada awalnya kami merasa pusing, lapar, susah
    berpikir, susah konsentrasi dan perut keroncongan.” Sedangkan godaan yang
    mereka alami yaitu kalau ada sohib yang mengajak mereka ngopi bareng.

    Hari ini ketika kita sebagai komunitas orang percaya berada dalam masa Pra
    Paskah dan sebagian besar umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa, saya
    mengajak Sahabat untuk belajar dari kitab Yoel dengan topik: “Fasting Brings
    Recovery (Puasa Membawa Pemulihan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yoel 2:12-27
    dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, puasa yang benar sangat besar
    kuasanya. Puasa yang benar menggerakkan tangan Tuhan untuk bertindak

    sehingga segala perkara dapat terjadi, dari yang tidak mungkin menjadi sangat
    mungkin; dan dari hal yang mustahil menjadi ya dan amin.

    Dari Yoel 1:1-20 kita mendapatkan informasi tentang kondisi umat Israel pada
    waktu itu yang sangat memprihatinkan. Secara manusia tidak ada lagi alasan
    untuk berharap, sampai-sampai para petani menjadi malu, tukang-tukang kebun
    anggur meratap karena gandum dan karena jelai, sebab sudah musnah panen
    ladang. Pohon anggur sudah kering dan pohon ara sudah merana; pohon delima,
    juga pohon korma dan pohon apel, segala pohon di padang sudah mengering.
    Sungguh, kegirangan melayu dari antara anak-anak manusia (Yoel 1:11-12).

    Sungguh mengerikan keadaan umat Israel pada waktu itu, bisa kita bayangkan
    betapa hebat penderitaan yang mereka alami. Hasil ladang mereka musnah. Tiada
    jalan lain selain datang dan berseru-seru kepada Tuhan memohon belas kasihan-
    Nya, dan inilah jalan untuk dapat dipulihkan, yaitu berpuasa dengan sungguh,
    “Adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah
    para tua-tua dan seluruh penduduk negeri ke rumah Tuhan, Allahmu, dan
    berteriaklah kepada Tuhan.” (Yoel 1:14).

    Bila saat ini ada diantara Sahabat yang sedang mengalami sakit-penyakit yang
    begitu berat, ada konflik yang cukup rumit dalam keluarga, mengalami kegagalan
    dalam bisnis atau studi, yang secara manusia sudah tidak ada jalan atau
    menemui jalan buntu; jangan sekali-kali menyerah pada keadaan dan tawar hati!
    Ingatlah Tuhan selalu mempunyai cara untuk menolong umat-Nya. Selalu ada
    jalan dalam Tuhan.

    Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengoreksi diri, adakah hal-hal yang
    tidak berkenan dalam kehidupan kita. Tuhan menghendaki kita merendahkan diri
    dan berpuasa kudus agar kita berbalik pada-Nya, “… berbaliklah kepada-Ku
    dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan
    mengaduh.” (ayat 12). Menangis dan mengaduh mempunyai arti bertobat dengan

    penuh penyesalan atas segala dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat.
    Puasa yang disertai dengan pertobatan yang sungguh, benar-benar membawa
    pemulihan bagi umat Israel dan umat Tuhan saat ini (ayat 23-27). Haleluya! Tuhan
    itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini.
    2. Bagikan secara singkat pengalamanmu ketika melaksanakan program “Doa
      dan Puasa” di gerejamu.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Melalui doa dan puasa,
    kita melatih diri untuk bisa menahan diri, berkomitmen, mendisiplin diri, melatih
    kesabaran, dan juga sebagai sarana untuk pertobatan. (pg).