Category: Sejenak Merenung

  • Don’t Compare God to Dagon!

    TABUT PERJANJIAN. Sahabat, dari Program Layanan Digital Lembaga Alkitab Indonesia saya mendapat informasi bahwa Tabut Perjanjian merupakan artefak yang berharga bagi bangsa Israel. Berbentuk peti persegi panjang yang terbuat dari kayu penaga dengan ukuran 1,3x1x1m.

    Semua bagian tabut dilapisi dengan emas dan didalamnya tersimpan loh hukum Allah, buli-buli berisi manna, tongkat Harun (Ibrani  9:4). Tabut Perjanjian memiliki penutup yang disebut tutup pendamaian terbuat dari emas (Keluaran 25:17) serta terdapat dua kerub emas yang saling berhadapan dengan sayap terkembang (Keluaran 25:19-20).

    Tabut tersebut memiliki empat gelang pada setiap penjurunya agar kaum Lewi dapat mengangkatnya ketika bangsa Israel berpindah tempat. Untuk mengangkat tabut digunakan tongkat kayu yang dimasukkan ke lubang gelang-gelang pada keempat penjurunya. Tabut dibuat di Sinai oleh Bezaleel menurut pola yang disampaikan kepada Musa (Keluaran 25:10-22).

    Tabut Perjanjian dianggap takhta kehadiran Allah yang tidak tampak di bumi dan siapa yang menajiskannya akan dibinasakan (1 Samuel 6:19). Dari Gilgal tabut dipindahkan ke Betel (Hakim-Hakim 2:1; 20:27), lalu dibawa ke Silo pada zaman hakim-hakim (1 Samuel 1:3; 3:3), dan di sana terus hingga dirampas oleh orang Filistin di medan pertempuran di Eben-Haezer (1 Samuel 4). Kehadiran tabut di kota-kota Filistin menimbulkan wabah di kota-kota itu (1 Samuel 5), karena itu orang Filistin mengembalikan tabut itu ke Kiryat-Yearim (1 Samuel 6).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Don’t Compare God to Dagon! (Jangan Bandingkan Allah dengan Dagon!)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 5:1-12. Sahabat, sesungguhnya, orang Filistin sudah mendengar tentang perbuatan besar Allah terhadap bangsa Mesir dan sempat membuat mereka gentar (1 Samuel 4:8). Kini, melalui tabut perjanjian yang mereka rampas, mereka menyaksikan sendiri kuasa Allah Israel yang dahsyat itu.

    Bangsa Filistin mengira bahwa tabut perjanjian yang mereka rampas dapat disejajarkan dengan berhala biasa yang mereka anggap hebat. Mereka meletakkan tabut Allah itu di dalam kuil Dagon, allah orang Asdod (Ayat 2). Allah tidak tinggal diam. Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan membuat patung Dagon jatuh hancur di hadapan tabut Allah (Ayat 4).

    Sahabat, tidak hanya itu, Allah juga menyatakan kuasa-Nya dengan mengirimkan borok-borok ke Asdod dan sekitarnya (Ayat 6-7). Lalu mereka memindahkan tabut Allah ke Gat karena mengira itu dapat menyelesaikan masalah. Kenyataannya, borok yang sama terjadi di Gat. Lalu tabut Allah dipindahkan lagi dari Gat ke Ekron, tetapi orang-orang Ekron sudah mendengar apa yang telah terjadi dan mereka ketakutan (Ayat 10). Mereka menyadari dan dapat merasakan kemarahan Allah Israel. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk mengembalikan tabut perjanjian ke tempat yang seharusnya, yakni kepada bangsa Israel (Ayat 11).

    Allah tidak bisa disejajarkan dengan berhala apa pun. Allah tidak mau disandingkan dengan Dagon. Allah tidak mau dibandingkan dengan Dagon.  Allah adalah satu-satunya yang berkuasa dan berdaulat atas seluruh semesta. Demikian pula, di dalam kehidupan orang percaya saat ini, Allah adalah satu-satunya yang berkuasa dan berdaulat. Dialah yang tertinggi dari segala yang ada. Tidak ada yang sama seperti Dia.

    Sahabat, kuasa dan kedaulatan Allah terus dinyatakan di dalam dan melalui hidup kita. Melawan kuasa dan kedaulatan Allah hanya akan mendatangkan hukuman bagi kita. Marilah kita belajar tunduk di bawah kuasa dan kedaulatan Allah. Sampai akhirnya, semua suku bangsa dan bahasa tidak hanya mendengar, tetapi juga menyaksikan dan mengalami kuasa Allah yang besar itu. Marilah nyatakan kuasa-Nya! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat  4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa kehadiran dan penyertaan Tuhan,  kita  bukan siapa-siapa dan tidak akan bisa berbuat apa-apa. (pg). 

  • Become More Sensitive to Hearing God’s Voice

    ARTI SEBUAH NAMA.  Sahabat, William Shakespeare, Sastrawan terkenal asal Inggris berkata: “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi,”

     James Gibson “Gip” Hardin, seorang pengkhotbah Gereja Methodis, memberi nama anak laki-lakinya:  John Wesley, mengikuti nama sang pengkhotbah terkenal. Nama itu mencerminkan harapan Gip atas anak laki-lakinya. Namun tragis, John Wesley Hardin kemudian memilih jalan yang menyimpang jauh dari tokoh iman yang agung itu. Hardin mengaku pernah membunuh 42 orang sehingga ia menjadi salah seorang penjahat bersenjata dan buronan paling terkenal di wilayah barat Amerika pada akhir abad ke-19.

    Di Alkitab, sama seperti berbagai budaya di zaman sekarang, nama memiliki makna yang istimewa. Ketika membawa berita kelahiran Anak Allah, seorang malaikat memerintahkan Yusuf untuk memberi nama anak Maria itu:  “Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21). Arti nama Yesus: “Allah yang menyelamatkan”. Itu menegaskan misi-Nya untuk menyelamatkan manusia dari dosa.

    Sahabat, tidak seperti Hardin, Yesus sepenuhnya hidup sesuai dengan arti nama-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia menggenapi misi penyelamatan-Nya. Yohanes menegaskan kuasa nama Yesus yang memberikan hidup: “ … semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:31).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: Become More Sensitive to Hearing God’s Voice (Semakin Peka Mendengar Suara Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 3:1-21. Sahabat, nama Samuel merupakan ekspresi dari bahasa Ibrani yang berarti  TUHAN MENDENGAR.  Itu merupakan ekspresi sukacita Hana karena Tuhan mendengar pergumulan doanya:  “…Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: ‘Aku telah memintanya dari pada TUHAN.’”  (1 Samuel 1:20). 

    Samuel merupakan jawaban doa Hana yang terus-menerus dinaikkan kepada Tuhan di tengah kesusahan hati yang mendalam.  Ia dahulu tertutup kandungannya, mustahil punya keturunan, namun tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan.  

    Samuel mulai pelayanannya sejak masih kecil sesuai janji ibunya untuk menyerahkan anaknya ke dalam pengasuhan imam Eli:  “Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.”  (1 Samuel 1:28).  Sejak itulah Samuel berada di lingkungan pastori dan belajar melayani Tuhan di bawah pengawasan imam Eli.  Setiap hari Samuel muda dibimbing imam Eli untuk tugas sucinya dan dilatih belajar mendengarkan suara Tuhan. 

    Karena keterbatasan pengetahuannya, pada awalnya Samuel tidak mengenal suara yang berbicara kepadanya.  Penulis kitab 1 Samuel mencatat bahwa Tuhan memanggil Samuel sebanyak tiga kali namun ia belum menanggapinya karena belum mengenali suara Tuhan.  Imam Eli terus membimbing dan mengajari Samuel bagaimana memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan,  “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar. …”  (Ayat 9).  Ketika Tuhan memanggil Samuel lagi untuk ketiga kalinya ia pun menjawab,  “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”  (Ayat 10).

    Seiring berjalannya waktu  “…Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.”  (Ayat 19).  Akhirnya Tuhan memercayakan tanggung jawab pelayanan yang lebih besar kepada Samuel karena ia semakin memiliki kepekaan akan suara Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa pesan yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Untuk memiliki kepekaan terhadap suara Tuhan tidak bisa terjadi secara instan, tapi perlu melalui proses bergaul karib dengan Tuhan setiap waktu. (pg).

  • HANYA PERAN PENDUKUNG

    Saudaraku,  masih ingat lagu Sekolah Minggu yang syairnya berbunyi: 

    Dia harus makin bertambah, ku harus makin berkurang, Nama Yesus saja disembah, ku di tempat paling b’lakang, dan seterusnya.

    Lagu tersebut menjadi awal untuk merenungkan Injil Markus 1:1-6.

    Markus membuka kisah Yesus dengan mengutip dua ayat dari Perjanjian Lama (Maleakhi 3:3 dan Yesaya 40:3) sebagai landasannya menceritakan  tokoh pertamanya, si “nabi” populer pada zamannya yaitu Yohanes Pembaptis.  Yohanes saat itu viral dengan pengajarannya dan jumlah pengikutnya pun banyak.  Tetapi mengapa Markus menuliskan tentang Yohanes setelah nubuatan Maleakhi dan Yesaya tentang dirinya padahal tokoh utama yang akan diceritakan adalah Yesus?  Mengapa Markus sengaja menuliskan kebesaran hati Yohanes dengan pengakuannya bahwa ia bukanlah Mesias yang dijanjikan dalam kitab itu (Markus 1:7)? 

    Tidak ada yang menyangkal sisi kenabian Yohanes bin Zakharia di tengah kehausan orang Israel untuk mendengar suara Tuhan setelah sekian lama Ia berdiam diri.  Yohanes pun menyadari kerinduan orang Israel tentang Mesias dan harapan yang besar dari orang Israel kepada-Nya.  Ia bisa saja memanfaatkan situasi itu dengan mengklaim dirinya sebagai sang Mesias namun Markus mencatat sejak awal bahwa Yohanes menyadari posisinya sebagai pemeran pembantu dan bukan tokoh utama dalam sejarah keselamatan.  Ada beberapa hal yang patut direnungkan dalam perikop ini :

    1.  Markus hendak memperkenalkan siapa sejatinya Sang Tokoh Utama.

    Walaupun Yohanes diceritakan sebagai tokoh pertama dalam Injil Markus yang populer dan konsisten dalam pelayanannya, namun Markus menyatakan bahwa Mesias itu bukanlah Yohanes.   Kepopuleran Yohanes tidak membuktikan bahwa ia adalah Mesias yang dijanjikan.  Yohanes bukan tokoh utama, ia hanya pemeran pendukung saja.

    2. Yohanes pembaptis menyadari posisinya.

    Markus menceritakan kerendah hatian Yohanes yang mengatakan bahwa ia hanya membuka jalan bagi Sang Mesias yang sesungguhnya.  Yohanes menyadari posisinya sebagai pembuka jalan sehingga ia terus mengingatkan kepada siapa kemuliaan seharusnya diberikan.

    Saudaraku, sehebat-hebatnya seorang hamba Tuhan ia hanyalah pemeran pendukung saja dalam pekerjaan Tuhan dan Tokoh Utamanya adalah Kristus Yesus.  Oleh karena itu kemuliaan Kristus harus terus dijaga dengan kesadaran para pemeran pendukung yang memperkenalkan dan meninggikan Sang Tokoh Utama dibandingkan dirinya sendiri.  Para pemimpin dan hamba Tuhan perlu menyadari posisinya bahwa ia hanya utusan saja maka mereka perlu waspada untuk tidak menggeser Kristus sebagai fokus dalam pelayanan.  Jemaat awam pun perlu belajar untuk tidak mengidolakan siapa pun kecuali Kristus sebagai Kepala Gereja dan fokus dalam kehidupan.  Tetaplah waspada untuk tidak jatuh dalam peng-idola-an para hamba Tuhan dan para hamba Tuhan tidak merampas kemuliaan Allah.   Selamat bertumbuh dewasa. (Ag).

  • Bring It All to God

    KITAB 1 SAMUEL. Sahabat, kitab 1 Samuel (akronim 1Sam.) merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kitab-kitab sejarah pada Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Penulis tidak diketahui.  Adapun tema : Kerajaan Teokratis. Tanggal penulisan: Akhir abad ke-10 SM.

    Nama Samuel merujuk pada tokoh Samuel bin Elkana, hakim Israel  terakhir dan nabi yang mengurapi Raja Saul dan Raja Daud. KItab Samuel berisi sejarah Israel dalam masa peralihan dari zaman Hakim-Hakim kepada zaman Raja-Raja. Perubahan dalam kehidupan nasional di Israel itu khususnya berkisar pada tiga orang: Nabi Samuel, Raja  Saul, dan Raja Daud.

    Pengalaman-pengalaman Daud pada masa mudanya sebelum ia menjabat raja, terjalin erat dengan kisah Samuel dan Saul. Kitab ini dimulai dengan kelahiran nabi Samuel  dan panggilan Allah kepadanya ketika masih kecil. Kisah Tabut Perjanjian kemudian memuat sejarah penindasan orang Israel oleh orang Filistin, yang menyebabkan Samuel mengurapi Saul sebagai raja pertama Kerajaan Israel. Namun, Saul terbukti tidak layak sebagai raja dan Allah beralih memilih Daud,  yang mengalahkan musuh-musuh Israel, serta akhirnya membawa Tabut Perjanjian ke Yerusalem dalam kItab 2 Samuel. Allah kemudian menjanjikan Daud dan penerusnya suatu dinasti yang tidak berkesudahan.

    Kitab 1 Samuel menguraikan titik peralihan yang kritis dalam sejarah Israel dari kepemimpinan para hakim kepada pemerintahan seorang raja. Kitab ini menyatakan ketegangan di antara pengharapan bangsa itu akan seorang raja (1 Samuel 8:5) dan pola teokratis Allah, dengan Allah sebagai Raja mereka.

    Mulai hari ini kita akan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Bring It All to God! (Bawa Semuanya Kepada Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 1:1-28. Sahabat, poligami merupakan hal yang lazim di kalangan Israel. Biasanya itu terjadi karena istri pertama tidak dapat memberikan keturunan. Sekalipun lazim, poligami membawa masalah: Kekecewaan  yang mendalam bagi istri pertama dan hubungan suami istri menjadi kurang serasi.

    Sahabat, masalah poligami dialami oleh Hana, istri Elkana. Dia menderita penghinaan karena kemandulannya, dari Penina, istri kedua Elkana. Kemandulan memang sering dianggap sebagai aib, bahkan hukuman Tuhan.

    Penderitaan Hana terasa bertambah karena suaminya tidak memahami perasaannya (Ayat 6-8). Maka ketika berada di rumah Tuhan, Hana memohon kepada Allah agar ia dianugerahi seorang putera. Ia bernazar bahwa anak itu akan dipersembahkan kepada Allah, sejak masa kanak-kanaknya (Ayat 9-11).

    Kepedihan hatinya membuat dia begitu lama berdoa tanpa bersuara sehingga Imam Eli menganggapnya sedang mabuk (Ayat 13-14). Lalu ia menjelaskan persoalannya kepada Imam Eli (Ayat 15-16). Eli berkata bahwa doa Hana akan dikabulkan Tuhan (Ayat 17). Benar saja, Tuhan membuat Hana mengandung lalu melahirkan Samuel (Ayat 19-20). Hana memandang putranya sebagai karunia indah dari Allah. Sebab itu ia memenuhi janjinya untuk mempersembahkan Samuel kepada Tuhan (Ayat 21-28).

    Sahabat, melalui kisah Hana, kita dapat melihat bahwa orang beriman tidak luput dari berbagai situasi sulit yang harus dihadapi. Dalam situasi demikian, bisa saja kita merasa sedih atau gusar. Namun janganlah putus asa, apalagi mundur dari Tuhan. Pada saat seperti itu, kita harus datang kepada Allah dengan membawa segenap masalah atau pergumulan kita. Serahkanlah diri kita sepenuhnya kepada Allah, melalui doa-doa kita.

    Namun yang kita cari di dalam doa kita adalah agar kehendak-Nya dinyatakan di dalam diri kita (bdk. Matius 6:9-10). Karena doa dimaksudkan untuk memampukan kita melaksanakan maksud-maksud Allah dan bukan hanya meminta Allah melakukan apa yang kita inginkan saja. Selain itu, kita harus berdoa dengan bersungguh-sungguh. Niscaya Allah akan memampukan kita mengalami damai sejahtera dalam setiap pergumulan kita (Filipi 4:6-7). Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Filipi 4:6-7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Apa pun yang diizinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan kita, hendaklah  kita bawa dalam doa kita kepada-Nya. (pg).

  • Teach your Children

    MENDIDIK ANAK. Sahabat, sesungguhnya mendidik anak menjadi pekerjaan utama setiap orang tua. Pendidikan anak dimulai dari rumah. Mendidik anak yang baik dengan disiplin yang baik, yang penuh kasih sayang, akan membawa dampak dan manfaat bagi keluarga itu sendiri. Didikan yang baik akan menjadi pola hidup anak, baik di keluarga, di tengah-tengah masyarakat, pekerjaan, studi dan juga gereja.

    Anak adalah manusia ciptaan Tuhan yang luar biasa. Anak pertama-tama meniru apa yang dilihatnya di rumah. Jika ayah dan ibunya bertingkah laku baik, maka anak pun akan meniru kebaikan itu dalam dirinya dan melakukannya untuk dirinya dan orang lain. Karena itu kita harus mengajar anak dari apa yang kita lakukan sehari-hari di rumah. Intinya adalah apa yang kita didik di rumah akan ditiru anak di dalam pergaulannya sehari-hari baik di sekolah, kampus, pekerjaan, masyarakat dan gereja.

    Soal mendidik anak, terutama zaman sekarang, bukanlah hal yang mudah. Kemajuan teknologi, pengaruh pergaulan yang semakin besar, belum lagi waktu orang tua yang semakin sedikit untuk anak-anaknya, akibat harus mencari nafkah buat keluarga.

    Pendidikan anak, harus dimulai dari keluarga, orang tua yang tidak menjadi contoh yang baik dan benar, tidak menjadi teladan bagi anak-anaknya, nasihat dan ajarannya tidak akan diikuti oleh anak-anaknya.

    Jika kita mendidik anak dengan baik dan benar, maka pengamsal berkata kita akan menerima faedahnya, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (Amsal 29:17).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Teach your Children (Didiklah Anakmu)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 2:27-36. Sahabat, Charles Williams, seorang pakar di bidang anak, mengatakan: “Anak yang berusia 2 tahun adalah majikan Anda, pada usia 10 tahun adalah budak Anda, pada usia 15 tahun adalah kembaran Anda, dan setelah itu akan menjadi kawan Anda atau musuh Anda, tergantung bagaimana Anda membesarkannya.” Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa bila orang tua salah dalam mendidik anak mendatangkan kesusahan, bahkan malapetaka bagi segenap keluarga.

    Kasus salah didik juga terlihat dalam keluarga Imam Eli, Ketidaktegasannya dalam mendisiplin anak-anaknya berujung pada penghukuman Tuhan bagi segenap keluarga dan keturunannya. Imam Eli sendiri mendapat hukuman berat karena ia tidak mendidik anak-anaknya dengan tegas. Eli membiarkan anak-anaknya memandang rendah korban sembelihan umat kepada Tuhan (Ayat 29). Apalagi, “Eli mengetahui dosa-dosa mereka itu, tetapi mereka tidak dimarahinya” (1Samuel 3:13). Sikap lemah seperti itu membuat Hofni dan Pinehas tidak bisa lagi dikendalikan sehingga mereka menjadi anak-anak yang tidak mengindahkan Tuhan (1Samuel 2:12).

    Sahabat, akibatnya Imam Eli tidak dapat lagi disebut melayani Tuhan. Ia disebut tamak (Ayat 29a). Dalam dosa keserakahan itu, wajarlah jika ia lebih menghormati anak-anaknya dari pada menghormati Tuhan. Dosa itulah yang menyebabkan Tuhan membatalkan janji-Nya sehingga keluarga Eli tidak dapat lagi melayani Tuhan (Ayat 30). Tuhan mengutuk keluarga itu turun-temurun sehingga tidak berumur panjang (Ayat 31). Jika ada yang hidup sekalipun, maka ia akan meminta-minta untuk menjabat sebagai imam, demi perutnya yang lapar (Ayat 36). Sungguh tragis.

    Maka sangat benar  apa yang dinyatakan oleh Pengamsal, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (Amsal 29:17). Ingatlah bahwa Tuhan memberi otoritas kepada orang tua untuk mendidik anak dengan penuh kasih, dan dengan tujuan agar hidupnya memuliakan Tuhan. Maka gagal mendisiplin anak berarti lalai dalam mengasihi mereka. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Amsal 29:17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mengasihi anak sudah selayaknya, tetapi jangan menomorduakan Tuhan. (pg).

  • God Uses our Daily and Simplicity of Lives to Fulfil His Plan

    SEDERHANA. Sahabat, dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya mendapatkan informasi arti kata sederhana adalah bersahaja; tidak berlebih-lebihan; sedang (dalam arti pertengahan, tidak tinggi, tidak rendah, dan sebagainya); tidak banyak seluk-beluknya (kesulitan dan sebagainya); tidak banyak pernik; lugas.

    Sedangkan menurut pendapat beberapa rekan sepelayanan, sederhana itu lugu, apa adanya, tidak macam-macam, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak aksesorisnya, tidak berliku-liku, lugas, menu rumahan, hemat sesuai kebutuhan walau memiliki banyak harta, dan rendah hati.

    Sahabat, kehidupan sederhana ternyata memiliki pola. Pola hidup sederhana adalah cara berpikir atau suatu kebiasaan yang dilakukan sehari-hari secara terus menerus berdasarkan kebutuhan dengan pendapatan yang dihasilkan dapat berjalan dengan seimbang.

    Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa sederhana adalah sikap tidak berlebih-lebihan namun juga tidak terlalu hemat. Sedangkan kesederhanaan adalah sebuah keadaan untuk bersikap seperlunya saja dengan mempertimbangkan apa yang dimiliki.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Rut dengan tema: God Uses our Daily and Simplicity of Lives to Fulfil His Plan (Tuhan Memakai Keseharian dan Kesederhanaan Kita Untuk Menggenapi Rencana-Nya). Bacaan Sabda diambil dari Rut 3:1-18. Sahabat, pada umumnya, kita berpikir bahwa sebuah perkara atau rencana besar akan diwujudkan dengan tindakan yang besar pula. Namun, sering kali kita menemukan fakta yang sebaliknya. Tuhan justru menggunakan peristiwa yang sederhana dalam menggenapi sebuah rencana besar.

    Sahabat, dalam tradisi Israel, kisah Rut dan Boas merupakan peristiwa biasa. Seorang janda, yang ditinggal mati suaminya, wajib ditebus (dinikahi) oleh saudara kandung almarhum suaminya. Jika tidak memiliki saudara kandung, kerabat terdekatlah yang berkewajiban menebus janda tersebut (Ulangan 25:5). Perintah Naomi kepada Rut di tempat pengirikan milik Boas adalah tindakan yang biasa pada zaman itu. Demikian juga dengan tindakan Boas menebus Rut.

    Namun, tindakan biasa dan sederhana itu merupakan bagian dari sebuah rencana yang sangat besar, yaitu penebusan Allah terhadap umat-Nya. Peristiwa Boas menebus Rut, sekalipun merupakan peristiwa sederhana, mengingatkan kita pada janji Allah untuk menebus umat-Nya dari dosa.

    Boas, dengan penuh kerelaan, mau menebus Rut untuk mengangkatnya dari keterpurukan dan kemiskinan. Tindakan ini dapat kita maknai sebagai gambaran simbolis penebusan Yesus Kristus. Ia, dengan kasih-Nya yang besar, mau turun ke dalam dunia, lalu mati dan bangkit untuk menebus dan melepaskan kita dari kuasa maut.

    Sahabat, dalam pengalaman iman sehari-hari, Tuhan kerap memakai hal-hal kecil dan peristiwa biasa untuk mewujudkan rencana besar-Nya. Pada zaman dahulu Allah bisa memakai peristiwa biasa dan orang sederhana seperti Rut dan Boas. Kini, Ia juga bisa memakai keseharian dan kesederhanaan kita untuk menggenapkan rencana-Nya.

    Apakah kita bersedia dipakai oleh Tuhan dan setia dalam perkara-perkara kecil untuk menggenapi rencana-Nya yang besar? Walaupun biasa dan sederhana, mari kita bertekad untuk menjadi alat bagi rencana Tuhan yang mendatangkan berkat dan keselamatan. Sudah selayaknya kita mengupayakan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kalau kita setia dalam perkara-perkara kecil, pada saatnya Tuhan akan mempercayakan kepada kita perkara-perkara yang jauh lebih besar. (pg).

  • Karena Kristus Kita Berani Tampil Berbeda

    PENGANTAR: Dalam Kitab Kisah Para Rasul Bab 7 kita melihat keteladanan keberanian Stefanus. Ia merupakan pelopor bagi semua murid Kristus yang membela iman yang berlandaskan Alkitab terhadap mereka yang menentang atau memutarbalikkan ajaran Kristus. Kita tentu setuju bila Stefanus disebut sebagai martir pertama. Karena Kristus Stefanus berani tampil berbeda, yang karenanya dia mati bagi Kristus. Rasanya dia layak disebut juga syahid pertama. Yesus membenarkan tindakan Stefanus dengan menghormatinya di hadapan Bapa Surgawi.

    Kisah Para Rasul 7:55: “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Bapa dan Yesus berdiri di sebelah kanan Bapa.

    Dari ayat tersebut, kita melihat kesediaan yang tulus Stefanus akan kebenaran ajaran Kristus hingga dia bersedia mengorbankan hidupnya guna mempertahankan kebenaran itu. Dewasa ini, saya memerhatikan banyak kebenaran telah dipalsukan dengan sengaja maupun tidak. Kalau kita tidak memiliki komitmen untuk hidup dan menghidupkan kebenaran Kristus dalam keseharian kita, betapa mudah kita atas nama kasih, hubungan baik, dan toleransi, tidak merasa perlu untuk menentang para guru palsu dan pemutar balik kemurnian Injil hasil karya kematian Kristus.

    APA MAKNA KITA BERANI TAMPIL BERBEDA? Kata-kata Stefanus dalam pembelaannya akan Injil Kristus seharusnya menginspirasi dan memotivasi kita dalam mengemban prinsip yang teguh dalam Alkitab dan sejarah penebusan. Di luar sana, banyak yang bersikeras menyangkal Tuhan kita tentu oleh pengaruh kejahatan dan Iblis. Kita harus hati-hati oleh ajaran populer, bahwa Tuhan tidak terus-menerus mengasihi dan mengampuni tanpa syarat. Ia hanya mengampuni dan menyampaikan kasih-Nya kepada mereka yang hatinya berbalik kepada-Nya dalam pertobatan yang sungguh-sungguh dan ketaatan yang sejati. Saya yakin, bahwa ada waktunya Tuhan murka kepada orang yang mengeraskan hati, menentang Roh Kudus, dan menolak menerima keselamatan Kristus.

    Alkitab pada umumnya menerangkan bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Bapa Surgawi. Namun dalam kisah Stefanus Yesus berdiri untuk menyambut orang martir, syahid-Nya yang pertama. Stefanus telah mengakui Kristus di hadapan sesama umat manusia dalam mempertahankan imannya. Pada gilirannya, Kristus, sebagai penghormatan terhadap hamba-Nya, mengakuinya di hadapan Bapa-Nya. Bagi semua orang percaya yang setia sampai akhir, Tuhan dan Juruselamat kita menerima kita selaku Jurusyafaat dan Pengantara.

    KESIMPULAN: Dalam Kisah Para Rasul bab 7 ini, kita saksikan bahwa Stefanus tidak diadili oleh Mahkamah Agama menurut aturan dan hukum yang berlaku, Stefanus diadili secara liar. Ini barangkali menurut kenyataan historis yang dalam Injil Lukas digambarkan bahwa peristiwa itu sebagai yang serupa dengan kemartiran Yesus.

    Stefanus berani, tidak terpengaruh oleh kemarahan Sanhedrin. Pada saat itu Tuhan memberikan kepadanya penglihatan berupa langit terbuka dengan Anak Manusia berdiri di sebelah Bapa Surgawi. Kata-kata Stefanus sebenarnya merupakan penegasan klaim tentang Yesus yang adalah Anak Manusia Surgawi bukanlah bersifat menghujat, sebagaimana tuduhan Sanhedrin, tetapi menyatakan kebenaran hakiki Tuhan.

    Yesus biasanya dilukiskan sebagai duduk di sebelah kanan Bapa Sorgawi. Maka penggambaran di Kisah Para Rasul 7, mungkin untuk menggambarkan sebagai berdiri di takhta-Nya untuk menerima sang martir. Nama Anak Manusia bukan menunjukkan kemanusiaan Yesus; nama itu merupakan gelar untuk Mesias. Gelar itulah satu-satunya bagi Yesus.

    Tidak dijelaskan apakah kematian Stefanus sebagai martir karena hukuman mati yang resmi atau karena dilempari batu. Suatu pelaksanaan hukuman mati yang sah memerlukan izin dari Gubernur Romawi, dan karena izin ini tidak diperoleh, maka kematian Stefanus rupanya karena pelemparan batu.

    Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita Kisah bab 7, mari kita jawab pertanyaan:
    Pesan apa yang kita peroleh pada pemahaman kita hari ini?
    Jelaskan apa makna “Karena Kristus Kita Berani Tampil Berbeda”?
    Jelaskan, apakah pelaksanaan hukuman mati pelemparan batu terhadap Stefanus itu sah?

    Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersukacita, karena Nama Yesus, kita telah dianggap berani tampil berbeda. Amin (sp).

  • Gods Presence in Our Lives Problem

    MASALAH. Sahabat, masalah selalu hadir dalam kehidupan kita, tetapi jangan lupa pertolongan Tuhan juga selalu hadir dalam kehidupan kita. Lalu apa yang dimaksud dengan masalah. Dari Wikipedia saya mendapat infomasi bahwa masalah didefinisikan sebagai suatu pernyataan tentang keadaan yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Bisa juga diartikan kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.

    Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan.
    Umumnya masalah disadari ada, saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan. Masalah adalah ketika kenyataan yang terjadi atau realita atau fakta tidak sesuai dengan yang diharapkan.

    Selain itu masalah sering kali didefinisikan sebagai sesuatu yang membutuhkan alternatif jawaban, artinya jawaban masalah atau pemecahan masalah bisa lebih dari satu. Selanjutnya dengan kriteria tertentu akan dipilih salah satu jawaban yang dianggap paling tepat dan paling kecil risikonya. Biasanya, alternatif jawaban tersebut bisa diidentifikasi jika seseorang telah memiliki sejumlah data dan informasi yang berkaitan dengan masalah bersangkutan.

    Bersyukur hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab Rut dengan topik: Gods Presence in Our Lives Problem (Kehadiran Tuhan dalam Masalah Hidup Kita). Bacaan Sabda diambil dari kitab Rut 4:1-22. Sahabat, pembacaan kitab Rut membantu kita menghayati Tuhan dalam setiap masalah kehidupan. Maksud utama bacaan kita pada hari ini adalah agar kita tetap bisa mengalami Tuhan dalam menghadapi perkara-perkara yang terjadi. Tuhan selalu hadir dan sanggup menolong dalam mengentaskan tiap permasalahan yang merundung kita.

    Sahabat, pengalaman Rut dan Naomi adalah kisah manusia yang sedang menghadapi permasalahan hidup. Bahkan bisa dikatakan, masalah mereka cukup berat dan kompleks. Mereka kesulitan dalam kehidupan ekonomi dan sosial; lalu ditimpa duka karena ditinggal suami hingga usaha mereka untuk bangkit pun tidak mudah.

    Syukur, Tuhan punya cara dalam menemani setiap manusia yang pasrah dan berserah kepada-Nya. Ia selalu mengulurkan tangan bagi siapa saja yang mau membuka diri dan menyerahkan masalah kepada-Nya. Dalam kisah Rut dan Naomi, Tuhan menggunakan tradisi yang berlaku di masyarakat Israel untuk menolong mereka dari keterpurukan. Secara ekonomi, Boas mampu membeli dan menebus harta milik Naomi, yaitu warisan suaminya. Secara sosial pun, posisi Boas memang memungkinkan hal itu. Di sisi lain, secara adat, Boas juga diperbolehkan untuk menikahi Rut.

    Sahabat, setiap manusia pasti tidak luput dari masalah. Mulai dari yang berat sampai yang ringan, masalah bisa datang bergantian. Namun, dalam iman, kita jangan putus asa ketika menghadapi semua itu. Mari kita membangun harapan dan mengandalkan Tuhan dalam setiap perkara. Apa pun penyebab persoalannya, asal kita berserah, tangan-Nya akan terulur menolong kita. Harus ada keyakinan di dalam diri kita bahwa Tuhan lebih besar daripada permasalahan kita. Tuhan punya 1001 cara untuk melepaskan masalah yang sedang melilit hidup kita.

    Mari kita memohon agar perasaan, nalar, dan kehendak kita dibimbing-Nya saat kita berada dalam badai kehidupan. Hingga pada akhirnya, kita melihat pertolongan-Nya dan memuji nama-Nya dalam sukacita. Juga, kita mesti terus berbenah diri, sebab banyak kekurangan dan dosa dalam hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    Apa yang Sahabat pahami tentang masalah?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan sedang merancang kebaikan dan berkat melalui berbagai peristiwa dan juga masalah dalam hidup kita. (pg).

  • Gods Caring Hand

    TANGAN. Sahabat, masih ingat dengan lagu Bimbo Grup yang berjudul Tangan. Syair lagu tersebut ingin mengingatkan kita betapa sangat banyak kegunaan tangan kita. Coba simak syair bagian refreinnya: Meraba, membelai, menulis, dan memegang. Menggaruk, mencubit, memukul, dan hom pim pah. Pakai tangan.

    Pengalaman hidup kita bercerita bahwa kita menggunakan tangan untuk berbagai hal. Kita menggunakan tangan untuk bersalaman, untuk memegang sesuatu, untuk memeluk, untuk bermain musik, dan lain-lain. Tanpa tangan, kehidupan akan terasa lebih sukar. Tanpa tangan, kita kurang bisa menunjukkan kasih sayang seperti sekarang, tidak bisa bekerja sebaik sekarang atau berkomunikasi seekspresif sekarang. Banyak hal dalam kehidupan direngkuh dengan tangan kita.

    Banyak kali Alkitab mengilustrasikan karya Tuhan melalui tangan-Nya. Dari tangan-Nya, kita mengenal semua pekerjaan-Nya (Mazmur 28:4-5); dengan tangan kebapaan-Nya, hidup kita diangkat-Nya (Mazmur 37:24; Yesaya 59:1-2; Keluaran 13:14). Allah juga menyatakan amarah- Nya dengan tangan-Nya (Mazmur 75:9; ). Ia bahkan membentuk diri kita dengan tangan-Nya (Mazmur 119:73). Allah sangat sibuk dengan tangan-Nya untuk menopang, menuntun, memelihara, mengasihi, dan bahkan mendisiplin kita.

    Mungkin semua yang dilakukan Allah digambarkan seperti itu, karena kita sangat tergantung pada tangan kita. Bukan tanpa alasan mengapa Allah memberikan dua tangan untuk kita. Kedua tangan kita adalah alat yang dirancang-Nya bukan sekadar untuk bekerja, tetapi juga untuk menyampaikan pesan kasih. Dengan tangan kita, Dia ingin kita menggunakannya dengan cara yang lembut untuk membelai, membesarkan hati, membimbing, dan membangkitkan semangat orang lain. Tangan kita mengungkapkan apa yang ada di hati kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari Rut dengan tema: Gods Caring Hand (Tangan Tuhan yang Memelihara). Bacaan Sabda diambil dari Rut 2:1-23. Sahabat, setiap orang pasti pernah mengalami kekhawatiran akan hidup, masa depan, kebutuhan sehari-hari, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Sering kali semua itu menimbulkan ketakutan dalam hidup kita. Namun sebaiknya, kita jangan terlalu cemas karena kita memiliki Allah yang tidak hanya mencipta tetapi juga memelihara kehidupan.

    Setelah tinggal di Betlehem bersama Naomi, Rut pergi memungut bulir-bulir jelai di ladang. Ia bekerja di belakang para pemetik atau penuai hasil panen. Menurut aturan di Israel, janda atau orang miskin hanya boleh memungut sisa-sisa jelai di belakang mereka (bdk. Imamat 19:9; 23:22; Ulangan 24:19).

    Penulis kitab Rut menuliskan bahwa Rut berada di ladang milik Boas. Ternyata Boas merupakan salah seorang anggota keluarga dari kaum Elimelekh. Secara tradisi, Boas memiliki kewajiban untuk menebus Rut. Boas sangat baik kepada Rut karena ia tahu pengorbanannya untuk Naomi. Oleh karena itulah, ia memperlakukan Rut secara istimewa. Hal itu membuat keberlangsungan hidup Rut dan Naomi terpelihara dari hasil memungut jelai di ladang Boas.

    Ketika Rut bekerja di ladang Boas, secara manusiawi, kita mungkin menganggap hal itu sebagai suatu kebetulan. Namun secara rohani, sebenarnya ini merupakan karya pemeliharaan Tuhan kepada Naomi dan Rut. Bagi Tuhan tidak ada yang kebetulan karena semua ada dalam kedaulatan-Nya. Walau tidak menyadarinya, Tuhanlah yang menuntun langkah Rut sehingga ia bekerja di ladang milik Boas. Setidaknya, Naomi meyakini hal itu (Ayat 20).

    Sahabat, apa pun yang kita alami, semua itu bukanlah kebetulan semata. Ada tangan Tuhan yang memelihara dan menuntun. Seharusnya, hal ini memberi pegangan kepada kita agar tidak perlu khawatir terhadap hari depan dengan segala persoalannya.

    Asal kita melakukan bagian kita untuk bekerja, berusaha, serta berserah kepada kedaulatan-Nya, percayalah, Tuhan akan memelihara dengan cara yang ajaib. Mari kita berserah penuh hanya kepada tangan pemeliharaan Tuhan dan tekun mengerjakan bagian kita dengan sungguh-sungguh. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    Apa yang Sahabat pahami dari ayat 14-16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Janganlah berhenti berbuat baik kepada siapa pun, sebab kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita pada saat yang kita butuhkan. (pg),

  • KEBENARAN YANG GAGAL DIBENDUNG

    Saudaraku,  salah satu dari beberapa hal yang tidak bisa lama disembunyikan adalah kebenaran.  Manusia berusaha menutupinya dengan berbagai cara namun kebenaran akan mencari jalannya sendiri. Setelah peristiwa penyaliban, para tua-tua dan penjaga berusaha terus menerus membendung kebenaran tentang Yesus.  Mari kita merenungkan Matius 28:11-15.

    Hoax.  Para tua-tua memakainya untuk membendung kebenaran tentang Yesus.  Mereka menyuap dan menyebarkan hoax agar kebenaran itu tidak didengar.  Para penjaga adalah saksi kebangkitan.  Mereka melihat kebenaran di depan mata namun tidak memberikan respons yang benar. Di sinilah dua kepentingan bertemu dan pada akhirnya membuahkan tindakan yang negatif. Kedua kepentingan itu adalah:

    1. Kepentingan para prajurit saksi kebangkitan.

    Mereka merupakan tentara utusan khusus Pilatus untuk menjaga kubur Yesus (Matius 27:65-66).  Namun hidup para tentara itu diujung tanduk tatkala melihat kebangkitan Yesus: Batu kubur yang digulingkan malaikat dan mendudukinya.  Apalagi dengan jelas mereka mendengar pesan malaikat kepada para perempuan tentang kebangkitan Yesus.  Posisi mereka diujung tanduk karena hal seperti itu tidak akan didengarkan oleh Pilatus.  Mereka bisa dihukum karena dianggap melalaikan tugas.  Para prajurit membutuhkan alibi agar posisi mereka aman di depan Pilatus.  Mereka mengabaikan kebenaran demi mengamankan kedudukan mereka.

    • Kepentingan para tua-tua

    Sebenarnya berita kebangkitan sudah diprediksi oleh para imam dan orang Farisi.  Namun para tua-tua yang bertanggung jawab terhadap keamanan masyarakat menilai berita ini akan menjadi masalah yang besar.  Maka mereka menyuap para saksi itu dan diminta untuk menyebarkan hoax demi keamanan dan situasi masyarakat yang kondusif.  Mereka menjadikan para murid sebagai kambing hitam demi kepentingan orang banyak.

    Kedua kepentingan di atas menjadi alasan mengapa mereka “menembakkan senjata pamungkas”  yang bernama hoax.  Harapan mereka adalah hoax itu akan meredam kebenaran.  Namun kebenaran akan mengejar semua kebohongan dan akan muncul menyatakan dirinya.  Inilah yang terjadi. Walaupun dampak hoax tentang kebangkitan itu masih dirasakan namun Allah memiliki cara untuk membuka kebenaran kebangkitan Sang Kristus.  Alkitab mencatat semua kebenaran itu sehingga semua orang yang membacanya bisa berjumpa dengan Sang Kebenaran Sejati secara pribadi.  Tidak ada yang sanggup membendung pekerjaan Allah.

    Di dunia yang penuh kepentingan, kebenaran rasanya sulit untuk muncul dengan jujur. Umat Allah tidak rentan dengan situasi ini: Diperlakukan tidak adil karena kebenaran yang ditutupi atau mengalami dampak buruk akibat menyatakan kebenaran. Namun Allah Sang Kebenaran tidak akan pernah diam dan berhenti mengungkap kebenaran demi kebenaran. Kiranya umat Allah berani untuk memberikan jalan kepada kebenaran apa pun risikonya, sehingga mereka akan dipuaskan dengan kasih setia Tuhan. Selamat berjuang untuk menyatakan kebenaran dan selamat bertumbuh dewasa. (Ag)