Category: Sejenak Merenung

  • Regrets Come Too Late

    PENYESALAN. Sahabat, dalam teologi Kristen, penyesalan atau sesal adalah perasaan sedih atau kesusahan dalam hati seseorang karena dosa-dosa yang dilakukannya, dengan disertai keinginan untuk tidak melakukannya lagi.

    Sedang dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya mendapatkan informasi bahwa penyesalan  berarti: 1. Perasaan menyesal (menyesali); 2. Proses, cara, perbuatan menyesali (menyesalkan); 3. Penyanggahan; sanggahan.

    Sahabat, menurut beberapa ahli psikologi, penyesalan adalah keadaan kognitif dan emosional yang menyakitkan karena menyesalkan sesuatu atas kelemahan, kehilangan, atau kesalahan. Penyesalan merupakan emosi yang memberi arah pada suatu perilaku, di mana dapat digambarkan ketika sebuah ekspektasi yang kita miliki tidak sesuai pada kenyataan yang terjadi.

    Syukur Hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab Hakim-Hakim dengan tema: “Regrets Come Too Late (Penyesalan Datang Terlambat)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 21:1-25. Sahabat,  tidak adanya pemimpin nasional yang berkualitas merupakan salah satu penyebab terjadinya tragedi yang diuraikan dalam Hakim-Hakim pasal 20. Bila ada pemimpin yang berwibawa, seharusnya bisa dilakukan perundingan antara suku Benyamin dengan suku-suku Israel yang lain untuk mencegah terjadinya perang saudara. 

    Sesudah perang saudara berakhir, barulah bangsa Israel menyadari bahwa mereka telah salah dalam mengambil keputusan. Mereka menangis dengan suara keras di hadapan Allah, tetapi penyesalan tersebut telah terlambat. Hubungan antara suku Benyamin dengan suku-suku Israel yang lain bisa dikatakan telah retak.

    Suku-suku Israel menyesali keputusan mereka yang telah bersumpah untuk tidak menikahkan anak perempuannya kepada orang suku Benyamin. Sumpah yang diambil secara gegabah ini bukan hanya disesali, tetapi juga ditangisi (Ayat 1-2). Akibat dari keputusan ini, orang Israel melahirkan kejahatan-kejahatan yang susul menyusul. Suku-suku Israel menyarankan suku Benyamin untuk mengambil paksa perempuan dari Yabesh-Gilead untuk dijadikan istri.

    Bahkan, mereka mengusulkan untuk membunuh orang-orang Yabesh-Gilead, yakni para laki-laki dan perempuan yang sudah pernah tidur dengan laki-laki. Sementara, perempuan yang belum pernah tidur dengan laki-laki bisa dibawa untuk dijadikan istri dari orang-orang suku Benyamin (Ayat 10-12).

    Tidak cukup sampai di situ, ketika perempuan-perempuan dari Yabesh-Gilead tidak mencukupi, mereka mengusulkan sebuah ide jahat, yakni melarikan anak-anak perempuan Silo dan membawanya pergi ke tanah Benyamin (Ayat 21).

    Bacaan kita pada  hari ini mengingatkan kita bahwa adanya pemimpin yang bisa menyatukan dan adanya aturan (hukum) sangat penting bagi kehidupan bersama.

    Selain itu keputusan yang gegabah mungkin saja akan membuat kita menyesalinya seumur hidup. Oleh karena itu, sebelum memutuskan sesuatu, kita harus menenangkan hati dan bertanya dahulu kepada Allah. Hanya dengan mencari kehendak Allah, kita dapat mengetahui apa yang benar dan yang mendatangkan kebaikan. Mari kita memohon ampun kepada Tuhan jika sering bertindak gegabah dalam mengambil keputusan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang penyesalan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Syukurilah kehadiran dan tuntunan Allah dalam hidup kita; berdoalah agar kita diberikan kepekaan mendengar suara-Nya. (pg).

  • Looking at God’s Good Plan

    KITAB RUT. Sahabat, kitab Rut (disingkat dan akronim Rut) merupakan kitab kedelapan dan bagian dari kelompok kitab-kitab sejarah pada Perjanjian Lama Alkitab Kristen.  Penulis kitab ini tidak diketahui. Adapun temanya: Kasih yang Menebus.

    Secara historis, kitab ini menguraikan berbagai peristiwa dalam kehidupan suatu keluarga Israel pada zaman para hakim (Rut 1:1; sekitar 1375-1050 SM). Secara geografis, latar belakang 18 ayat pertama kitab ini adalah di tanah Moab (di sebelah timur Laut Mati). Sisa kitab ini terjadi dekat atau di Betlehem di Yehuda. Secara liturgis, kitab ini menjadi salah satu dari lima gulungan dari bagian ketiga Alkitab Ibrani, yaitu “Hagiographa” (“Tulisan-Tulisan Kudus”). Tiap-tiap tulisan ini dibacakan di depan umum pada salah satu hari raya Yahudi tahunan. Karena drama inti dalam kitab ini terjadi pada waktu panen, kitab ini biasanya dibaca pada Hari Raya Panen (Pentakosta).

    Nama kitab ini merujuk pada tokoh inti dari cerita ini, yaitu Rut yang merupakan seorang perempuan Moab yang menjadi seorang Yahudi karena pilihannya sendiri, serta merupakan nenek buyut dari Raja Daud dari Kerajaan Israel,  dan leluhur dari Yesus merurut Perjanjian Baru.

    Kitab Rut ditulis untuk menguraikan bagaimana melalui kasih yang berkorban dan pelaksanaan hukum Allah yang benar, seorang wanita muda Moab yang saleh menjadi nenek moyang raja Israel, Daud. Kitab ini juga ditulis untuk melestarikan sebuah kisah indah dari zaman hakim-hakim mengenai sebuah keluarga saleh yang kesetiaannya dalam penderitaan sangat kontras dengan kemerosotan rohani dan moral yang umum di Israel pada masa itu.

    Kisah-kisah dalam kitab Hakim-hakim menunjukkan kesukaran-kesukaran yang terjadi karena umat Tuhan meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, kisah Rut menunjukkan berkat-berkat yang diberikan Tuhan kepada seorang asing yang meninggalkan agamanya untuk percaya kepada Tuhan Israel. Oleh sikapnya itu ia menjadi anggota umat Tuhan.

    Hari ini kita mulai belajar dari kitab Rut dengan topik: “Looking at God’s Good Plan (Melihat Rencana Baik Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari kitab Rut 1:1-22. Sahabat, kepahitan hidup merupakan salah satu masalah yang sangat berbahaya dalam kehidupan manusia. Tidak jarang orang menjadi putus asa karenanya. Bahkan, ada saja orang yang akhirnya menyalahkan dan meninggalkan Tuhan. Ketika sedang mengalami kepahitan, kita sering bertanya, “Apa rencana Tuhan atas semua ini? Mengapa Tuhan membiarkan kita mengalaminya?”

    Sahabat, Naomi merupakan salah seorang yang mengalami kepahitan besar dalam hidup. Kelaparan membuat dia, suaminya (Elimelekh), dan kedua anaknya pergi dari Betlehem-Yehuda ke Moab. Mereka pindah ke sana untuk menghindari wabah kelaparan tersebut. Di sana ia justru mengalami masalah bertubi-tubi. Elimelekh dan kedua anaknya, yang sudah menikah dengan perempuan Moab (Orpa dan Rut), meninggal. Ia bersama kedua menantunya menjadi janda. Akibatnya, tidak ada yang dapat menjamin keberlangsungan hidup mereka. Hal itu membuat Naomi mengalami penderitaan dan kepahitan. Oleh karena itulah, ketika pulang ke kampung halamannya, ia tidak mau dipanggil Naomi melainkan Mara (pahit) karena kondisinya yang sudah habis-habisan (Ayat 20-21).

    Masalah demi masalah telah menghalangi mata iman Naomi untuk melihat rencana Tuhan yang baik. Rencana tersebut adalah Rut yang setia mengikuti Naomi dan telah berkomitmen menyembah Yahweh, Allahnya Naomi. Lebih jauh lagi, kita dapat melihat rencana Allah yang lebih besar kepada umat-Nya. Melalui Rut, garis keturunan Sang Mesias yang dijanjikan untuk menyelamatkan umat-Nya terbentuk.

    Sahabat, kisah hidup Naomi ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah merancang hal yang buruk. Pergumulan dan permasalahan apa pun, jangan sampai membutakan mata rohani kita untuk melihat rencana baik Tuhan. Percayalah, Tuhan bisa bekerja dan menggenapi rencana-Nya di dalam hidup kita dengan cara yang ajaib, termasuk melalui kepahitan hidup. Tiap kali pergumulan datang, ingatlah akan Tuhan dan segala kebaikan-Nya. Kita perlu senantiasa bersyukur atas penyertaan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16-17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup Rut diberkati dan beroleh peninggian dari Tuhan karena ia seorang yang setia, taat dan punya kerendahan hati! (pg)

  • Admitting Mistake is a Great Courage

    MENGAKUI KESALAHAN. Sahabat, ada cukup banyak orang berani melakukan kesalahan, namun hanya sedikit yang berani mengakui kesalahan. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia lebih cenderung tidak mau mengakui kesalahannya, malah cenderung menyalahkan orang dan pihak lain. Ketika Adam melakukan Kesalahan, justru ia menyalahkan Tuhan dan Hawa. Ketika Kain membunuh Habel adiknya, Firman Tuhan kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kejadian 4:9)

    Rasul Paulus kepada jemaat di Roma mengatakan, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak”  (Roma 3:10).  Nobody’s perfect!  Tidak  ada gading yang tak retak.  Tak seorang pun luput atau kebal terhadap kesalahan.  Sehebat bagaimanapun seseorang, pastilah pernah melakukan kesalahan.  Yang membedakan adalah:  Tidak semua orang mau mengakui kesalahan. 

    Kalau kita mau jujur,  mengakui kesalahan bukanlah hal yang mudah dilakukan dan memerlukan keterbukaan serta kerendahan hati.  Karena gengsi, takut ditolak atau dianggap rendah, seringkali orang tidak berani mengakui kesalahannya, malah berusaha menutupinya.  Yang berjiwa besar pasti mau mengakui kesalahannya walaupun dibutuhkan suatu keberanian! Keberanian untuk bersikap kesatria.

    Sikap kesatria mengakui kesalahan adalah pangkal proses penyelesaian masalah serta perbaikan diri sehingga di masa yang akan datang seseorang yang pernah berani mengakui kesalahan dan menerima  konsekuensi akan takut melakukan kesalahan yang sama dan lainnya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “Admitting Mistake is A Great Courage (Mengakui Kesalahan adalah Sebuah Keberanian Besar)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 20:1-48. Sahabat, bacaan kita pada hari ini menunjukkan perang saudara antara orang Israel dengan orang Benyamin. Bisa dikatakan penyebabnya adalah adanya dua pihak yang telah melakukan kesalahan, namun mereka tidak menyadarinya.

    Kesalahan pertama adalah orang Lewi yang memotong jenazah gundiknya menjadi 12 bagian dan mengirimkannya kepada tiap suku Israel (Hakim-Hakim 19:29). Orang Lewi ini tidak melaporkan kejadian yang sesungguhnya. Pasalnya, ia sendiri yang menyerahkannya untuk dipakai banyak orang. Kesalahan kedua datang dari orang Benyamin. Mereka tidak mau mengakui bahwa ada orang-orang dursila dari sukunya yang telah berbuat kejahatan (ayat 13).

    Sahabat, mengakui kesalahan adalah sebuah keberanian besar. Andaikan orang Lewi itu berani mengatakan kebenaran dan orang Benyamin juga mau mengakui kesalahan, perang saudara ini tidak akan terjadi. Akibat dari kesalahan itu, banyak sekali orang yang terbunuh dari kedua belah pihak. Cara hidup orang-orang pada masa itu sudah begitu bobrok dan tidak lagi melibatkan Tuhan. Dampaknya, semua orang merasa diri sebagai orang yang benar.

    Bagaimana dengan kita pada saat ini? Bagaimana reaksi kita saat melakukan kesalahan? Apakah kita mau mengakuinya? Pengakuan itu adalah bentuk penerimaan bahwa kita adalah manusia lemah dan sering melakukan kesalahan. Selain itu, kita juga harus terus bersandar dan bertanya kepada Allah mengenai kehidupan kita. Sebab, Allah adalah sumber dan standar kebenaran. Jadi, untuk mengetahui salah atau benarnya suatu tindakan, kita harus berkaca pada Sang Sumber Kebenaran melalui firman-Nya.

    Sahabat, dengan sujud menyembah kepada-Nya, mari kita memohon bimbingan Tuhan agar terus mengarahkan hidup kepada firman-Nya sebagai sumber kebenaran. Cara hidup yang bobrok tidak perlu ditiru. Kita mesti punya filter. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Roma 3:10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bila kita tidak segera menyadari kesalahan dan bangkit, pemulihan takkan pernah terjadi dalam hidup kita. (pg).
     

  • Without God, Man Perishes

    BINASA. Sahabat, ada cukup banyak orang  memahami kata binasa dalam arti  lenyap, hilang, musnah, atau meninggal dunia. Itu pengertian yang sangat terbatas. Pengertian itu sangat sempit dan dangkal sehingga belum mewakili keadaan yang sebenarnya dari kebinasaan itu sendiri. Sesungguhnya kata binasa menunjukkan keadaan yang sangat mengerikan atau keadaan paling mengerikan yang dapat dialami oleh manusia. Keadaan itu sebenarnya tidak bisa digambarkan dengan cara apa pun atau dengan kalimat bagaimanapun

    Kata binasa sebenarnya berarti tidak memiliki nilai sama sekali. Itu adalah keadaan seseorang yang tidak berarti atau tidak memiliki nilai sama sekali. Bagaimana seorang manusia dapat dikatakan tidak bernilai? Yaitu kalau seseorang terpisah dari Allah dan tidak mendapat kesempatan lagi untuk diperdamaikan dengan Allah. Kebinasaan atau binasa adalah keadaan  seseorang tidak mendapat kesempatan lagi untuk diperdamaikan dengan Allah, ini berarti terpisah dari hadirat Allah, atau terhilang dari hadirat Allah selamanya. Itu adalah kedahsyatan yang luar biasa, keadaan yang tidak terbayangkan, kedahsyatan yang tidak bisa dikira-kira dengan pikiran manusia hari ini. Betapa dahsyat dan mengerikan keadaan itu. Tetapi fakta ironis yang kita lihat dan kita temukan hari ini, ada cukup banyak orang tidak takut terhadap realitas tersebut.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan tema: “Without God, Man Perishes (Tanpa Tuhan, Manusia Binasa)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 19:1-30. Sahabat, bacaan kita pada hari ini memperlihatkan kemerosotan moral yang luar biasa yang terjadi karena bangsa Israel telah meninggalkan Tuhan. Kemerosotan moral tersebut memiliki kemiripan dengan kemerosotan moral di kota Sodom pada zaman Lot.

    Perhatikan bahwa perkataan “kami pakai” di kedua bagian Alkitab berikut menunjuk kepada hubungan homoseksual (Hakim-hakim 19:22, Kejadian 19:5). Dalam kedua teks Alkitab tersebut, tuan rumah menawarkan anak perempuan mereka untuk diperkosa sebagai pengganti tamu laki-laki (Hakim-hakim 19:24, Kejadian 19:8). Hal itu menunjukkan penghargaan yang sangat rendah terhadap kaum perempuan. Sungguh keterlaluan bahwa tamu laki-laki dianggap lebih berharga daripada anak perempuan!

    Dalam bacaan kita pada hari ini, Si Orang Lewi  mencoba menghindari Yebus karena ia berpikir orang-orang Yebus tidak mengenal Tuhan. Maka, walaupun hari sudah malam, ia tetap meneruskan perjalanan dan akhirnya tiba di Gibea Benyamin. Ia mengira lebih aman menginap di antara sesama orang yang beribadah kepada Tuhan. Namun ia salah duga. Tidak ada orang Benyamin yang menawarinya tempat bermalam. Mereka malah berlaku seperti orang Sodom yang hendak memperkosa laki-laki malang itu. Rupanya sebagian orang Israel mengadopsi gaya hidup bangsa-bangsa yang tidak kenal Allah.

    Sikap Si Orang Lewi terhadap gundiknya juga amat keterlaluan. Gundiknya itu dia ambil dari rumah orang tuanya. Akan tetapi, saat menghadapi bahaya, ia menangkap gundiknya, lalu menyerahkan gundiknya pada orang-orang dursila untuk diperkosa, sedangkan dia sendiri bisa tidur nyenyak sehingga tidak sadar saat gundiknya kembali dan kemudian tergeletak dalam keadaan tewas di depan pintu rumah (Ayat 26-27).


    Sahabat, kita lihat bahwa tanpa kehadiran Tuhan, manusia benar-benar tak punya harapan. Setelah puluhan tahun mengalami periode gemilang di bawah pimpinan Musa dan Yosua, sekejap ditinggalkan pemimpinnya bangsa Israel langsung jatuh ke dalam keterpurukan sehingga tak ada bedanya dari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.

    Kita perlu menyadari bahwa bila manusia, dibiarkan sendirian, tidak akan tiba kepada Allah. Tanpa Tuhan, manusia binasa. Karena itulah Kristus harus datang dan menebus kita supaya akhirnya kita memiliki jalan agar tiba pada keselamatan yang dari Allah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari kata binasa?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketaatan kepada Tuhan menuntut kita menyangkali diri setiap hari, menyalibkan hawa nafsu kedagingan dan memiliki penyerahan diri total kepada Tuhan. (pg).

  • PILIHAN PILATUS

    Saudaraku, saat paskah tiba maka nama Pilatus menempati urutan tokoh antagonis kisah Paskah.  Banyak pihak menyayangkan kepengecutan Pilatus. Namun mari berpikir lagi:  Mengapa Pilatus mencuci tangan terhadap kasus Yesus?  Mari kita merenungkan Matius 27:1,2,11-26.

    Pilatus merupakan politisi yang berpengalaman. Ia tahu bahwa Yesus adalah korban kebencian para rohaniwan Yahudi (Matius 27:18).  Pilatus juga tahu bahwa orang Yahudi sangat sensitif dengan agamanya dan bersikap agresif terhadap tindakan yang digolongkan penistaan agama.  Pilatus memang bukan politisi bersih dan ia sebenarnya enggan terlibat dengan kasus-kasus orang Yahudi.  Pendekatan kekerasan sering dipakainya untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pemerintahan Romawi di  Yudea. 

    Namun Pilatus melihat bahwa Yesus adalah korban kebencian orang Yahudi dan ia ingin membebaskannya.  Inilah yang mengherankan.  Pilatus menerima pesan dari istrinya tentang Yesus dan ini menunjukkan bahwa bagi Pilatus yang korup dan kotor dalam politik pun, sebenarnya Allah membuka kebenaran di depan matanya.  Posisinya menjadi kunci pengungkapan kebenaran dan pembebasan korban konspirasi pemimpin Yahudi.  Namun sayang Pilatus memilih tidak ikut campur dengan situasi kritis itu dengan pertimbangan:

    1. Keamanan posisi di hadapan Kaisar.

    Situasi saat itu sudah kacau dan mulai mengarah pada kerusuhan.  Walaupun Pilatus sudah memberikan pilihan yang sangat kontras antara Yesus dan Barabas, massa lebih memilih Barabas dibanding Yesus.  Laporan kinerja Pilatus sudah merah di hadapan Kaisar, maka ia tidak ingin kasus ini menggeser posisinya sebagai pejabat di Yudea.  Istrinya sendiri juga menyuruhnya lepas tangan untuk mengamankan posisinya. Untuk menjaga situasi kondusif, ia melepaskan Yesus kepada massa.

    • Merasa sudah memperingatkan orang Yahudi

    Pilihan untuk membebaskan Barabas atau Yesus adalah upayanya untuk menyatakan sikap.  Ia merasa hanya mampu berjuang sampai di titik itu.  Ia enggan memperjuangkan Yesus lebih serius karena kondisi yang genting, walau ia tahu kebenaran kasus ini.  

    Saudaraku, Pilatus bukan pengecut.  Ia hanya seorang yang lebih mementingkan kepentingan dirinya sehingga kurang gigih berusaha memperjuangkan kebenaran.  Peristiwa pencucian tangan tidak hanya menunjukkan rasa putus asa, namun juga rasa tidak berdaya menghadapi kekuatan massa.  Pilatus masih bisa menyelamatkan Yesus seandainya ia merespons kebenaran, namun ia memilih menyelamatkan posisinya.  Itulah pilihannya.

    Kadangkala orang Kristen dihadapkan pada pilihan yang sulit yang menyangkut orang lain.  Rasul Paulus mengatakan: “Sedapat-dapatnya kalau hal itu tergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” (Roma 12:18).  Perdamaian perlu diusahakan bukan hanya ditunggu. 

    Ketika menjadi posisi kunci, orang Kristen perlu berjuang untuk menjadi pembawa damai.  Berjuang dengan gigih, walau harus menanggung perih.  Diletakkan dalam posisi kunci memang berat tak terkira, namun keberanian untuk mengambil keputusan sesuai Firman Tuhan dengan segala konsekuensinya, akan menjadi jawaban doa bagi seseorang.  Mari berjuang dengan gigih dan belajar memberanikan diri menanggung konsekuensi menjadi pelaku Firman Tuhan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The Danger of the Pragmatism Idols

    PRAGMATISME. Sahabat, istilah pragmatisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata pragma. Kata ini memiliki banyak arti antara lain: Fakta, benda, materi, sesuatu yang dibuat, kegiatan, tindakan, akibat atau pekerjaan. Dari kumpulan arti tersebut, pragmatisme diberi pengertian sebagai pemikiran yang mengutamakan fungsi gagasan di dalam tindakan.

    Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pragmatisme berarti:  1. kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham, doktrin, gagasan, pernyataan, ucapan, dan sebagainya), bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia;  2. Paham yang menyatakan bahwa segala sesuatu tidak tetap, melainkan tumbuh dan berubah terus;  3. Pandangan yang memberi penjelasan yang berguna tentang suatu permasalahan dengan melihat sebab akibat berdasarkan kenyataan untuk tujuan praktis.

    Pragmatisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa pemikiran itu mengikuti sebuah tindakan seseorang. Secara istilah, pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah sesuatu itu mempunyai kegunaan bagi kehidupan nyata, dan patokannya prgamatise ialah manfaat bagi kehidupan praktis.

    Sahabat, pragmatisme merupakan sifat atau ciri seseorang yang cenderung berfikir praktis, sempit dan instan. Orang yang mempunyai sifat pragmatis  menginginkan segala sesuatu yang dikerjakan atau yang diharapkan  segera tercapai tanpa mau berpikir panjang dan tanpa melalui proses yang lama, sehingga kadang hasilnya itu meleset dari tujuan semula.

    Biasanya sifat itu identik dengan orang yang kurang penyabar dan ambisius. Biasanya orang yang ambisius  selalu melakukan sesuatu atau melakukan perubahan secara cepat, maka tidak heran kalau orang seperti itu mempunyai keinginan yang kuat dan tidak mau dikalahkan oleh orang lain. Sayangnya,  sifat ambisius itu cenderung bersifat ke hal yang negatif, mereka melakukan segala macam cara untuk mencapai keinginannya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “The Dangers of Pragmatism Idols (Bahaya Berhala Pragmatisme)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 18:1-31. Sahabat, saat ini dunia menuntut kita untuk melihat segala sesuatu dari perspektif untung  atau rugi. Bahkan tidak jarang dalam mengikut Tuhan pun, kita menghitung-hitung kembali,  apa keuntungan dan kerugiannya.

    Hal ini jugalah yang terjadi pada orang Lewi dalam bacaan kita pada hari ini. Orang Lewi ini adalah imam bagi Mikha, seorang penyembah berhala (Hakim-Hakim 17:12). Dengan berani ia mengatasnamakan Allah dalam menyampaikan nubuat kepada bani Dan. Padahal, Allah tidak menyatakan apa pun kepadanya.

    Kemudian dalam perjalanan keimamannya, orang suku Dan menawarkan kepadanya untuk menjadi imam bagi mereka serta menjadi kaum di antara orang Israel. Orang Lewi ini menyetujuinya karena tawarannya sangat menguntungkan (Ayat 19-20). Ia pun meninggalkan Mikha dan membawa jarahan efod, terarium, dan patung pahatan milik Mikha serta mengikut suku Dan.

    Sahabat, orang Lewi, yang seharusnya menjadi imam bagi umat Tuhan dan melayani Allah, terjebak dalam mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Akhirnya, segala pekerjaannya menjadi sia-sia karena orang Lewi tersebut tidak menjadi imam yang sah bagi suku Dan. Karena itu, Yonatan bin Gersom bin Musa ditunjuk untuk mengisi jabatan tersebut.

    Orang percaya pada masa kini juga tak jarang bertindak seperti orang Lewi dalam bacaan kita pada hari ini. Ada cukup banyak orang percaya datang ke gereja hanya karena menginginkan berkat Tuhan. Selama menguntungkan, mereka mau pergi ke gereja. Namun, begitu risiko kerugian muncul, mereka menghilang dari gereja. Tidak jarang pula orang percaya melayani hanya untuk aktualisasi diri dan popularitas.

    Sahabat, mengikut Tuhan membuat kita harus menyangkal diri dan tidak melihat kepercayaan kepada Tuhan dalam kacamata untung  atau rugi. Kita harus menjadi orang percaya yang percaya kepada-Nya secara tulus. Bagi kita, Ia adalah satu-satunya Allah serta pusat pelayanan kita. Mari kita jauhkan motivasi untung atau rugi dari hati kita, sehingga ibadah dan pelayanan kita murni di hadapan-Nya. Kita mesti bersabar pada saat menapaki jalan mulia dan kudus. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang pragmatisme?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita harus mewaspadai diri kita sendiri. Janganlah kita melayani hanya untuk keuntungan diri, melainkan agar pekerjaan dan kuasa Tuhan dinyatakan di dalam kita. (pg).

  • A Leader’s Presence is Needed!

    PEMIMPIN. Seorang pendeta, pembicara, penulis dan pakar kepemimpinan dari Amerika, John C. Maxwell berkata bahwa segala sesuatu, naik dan turun berdasarkan kepemimpinan. Kehadiran seorang pemimpin mutlak diperlukan dalam segala aspek kehidupan. Firman Tuhan berkata bahwa tanpa pimpinan, sebuah bangsa akan jatuh. Tanpa pemimpin, kita bisa berjalan tanpa arah, bisa bebas berbuat sesuai kehendak masing-masing, dan besar kemungkinan perpecahan terjadi. Apabila perpecahan terjadi, tidak ada kemajuan yang bisa dicapai (Amsal 11:14).

    Karena itu, kita patut bersyukur bila Tuhan menghadirkan seorang pemimpin baik dalam konteks negara, gereja, usaha, atau keluarga kita. Namun ingatlah, pasti tidak ada pemimpin yang sempurna. Bukankah kita gampang menemukan celah kekurangan seseorang ketimbang kelebihannya? Karena itu, sebaiknya  kita jangan banyak memberikan kritik kepada pemimpin, bila tidak memberikan dukungan yang cukup diperlukannya. Jangan pula karena didorong rasa tidak puas, kita cepat-cepat mengganti dengan pemimpin yang baru.

    Kita perlu menyadari bahwa pemimpin yang baru pun belum tentu lebih baik daripada yang ada sekarang. Kalimat bijak berkata: Rumput bisa hijau, karena disirami. Pemimpin yang Tuhan berikan kepada kita akan berhasil bila kita secara aktif memberikan dukungan positif.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “A Leader’s Presence is Needed! (Kehadiran Seorang Pemimpin itu Dibutuhkan!)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 17:1-13 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Hakim-Hakim pasal 17 sd. Pasal 21  tidak lagi berbicara tentang para hakim-hakim melainkan tentang kemurtadan rohani yang terjadi pada masa itu dan efeknya pada bangsa Israel. Maksud kisah ini dituliskan adalah agar orang beroleh gambaran tentang betapa rendah standar moral waktu itu.

    Dikisahkan, Mikha mencuri uang ibunya sejumlah seribu seratus uang perak. Uang sebesar itu dapat menghidupi orang seumur hidup di Israel (bdk.ayat 10). Dikemudian hari, Mikha mengakui perbuatannya dan mengembalikan uang itu kepada ibunya. Mungkin karena ia takut kutukan ibunya (Ayat 2). Bagaimana reaksi ibunya? Ibunya justru memberkati dia. Suatu reaksi yang tidak biasa mengingat jumlah uang yang dicuri. Mungkin Si Ibu berpikir bahwa berkat itu dapat membatalkan kutuk yang telah dia ucapkan.

    Lalu Si Ibu bermaksud mempersembahkan uang itu kepada Tuhan. Namun yang jadi diberikan berjumlah dua ratus uang perak. Itu pun digunakan untuk membuat patung. Padahal sebelumnya ia berjanji memberikan semuanya. Perhatikanlah, Si Ibu mencuri uang dari Tuhan dan anaknya mencuri uang dari ibunya. Mungkin Mikha mempelajari dosa itu dari orang tuanya.

    Dosa berikutnya, mereka mengabaikan hukum Allah berkaitan dengan pembuatan patung pahatan (Keluaran  20:4, 23). Mereka melupakan pengalaman Israel yang tragis berkaitan dengan patung lembu emas di gunung Sinai (Keluaran  32:19-35). Lalu Mikha meminta seorang Lewi untuk menjadi imam di kuil yang dia buat (Ayat 5). Tampaknya ia ingin melegitimasi perbuatannya (Ayat 13). Padahal orang Lewi seharusnya tinggal di tempat yang Allah sudah tetapkan dan mendapat penghasilan sesuai dengan pengaturan Allah, bukan dari bayaran orang.

    Sahabat, benarlah apa yang dikatakan di ayat 6 bahwa pada masa itu “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” Hal tersebut terjadi karena ketidak hadiran seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang dapat memberi tuntunan berdasarkan firman Tuhan. Memang, bila tidak ada seorang pemimpin dan firman Tuhan tidak menjadi pedoman maka hidup dan tatanannya dapat menjadi kacau. Maka kehadiran seorang pemimpin yang berpegang pada firman adalah keharusan bila kita ingin hidup kita beres menurut Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Keluaran 20:4 dan 23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Seorang pemimpin akan berhasil bila mau berubah semakin baik dan mendapat dukungan positif. (pg).

  • Rise Up from The Breakdown of Life

    KETERPURUKAN HIDUP. Sahabat, keterpurukan merupakan kondisi ketika kita berada di posisi pada titik nadir terendah dari kekecewaan serta kegalauan. Di kala kita  terpuruk bermacam perasaan pilu dan risau kita rasakan. Tidak ada hal lain yang dapat dicoba selain bersabar dan ikhlas dalam menghadapi keterpurukan hidup.

    Sesudah kita dapat menerima keterpurukan tersebut,  langkah berikutnya ialah bangkit dari keterpurukan hidup. Kita tidak boleh tenggelam dalam kesedihan, kita mesti melakukan  sesuatu untuk dapat bangkit dari keterpurukan. Keterpurukan bukan untuk direnungkan tetapi dicarikan pemecahan terbaik supaya dapat bangkit kembali.

    Meski penyebabnya bukan salah kita, racunnya senantiasa didalam diri kita. Bisa saja orang lain yang  membuat kita sakit hati, suasana bisa jadi mengakibatkan kita gagal. Keadaan bisa jadi belum berpihak kepada kita, tetapi bila yang dilakukan hanyalah menyalahkan orang lain tanpa menyadari kalau racun yang sebetulnya terdapat didalam diri kita, hampir pasti kondisi tidak akan berganti jadi lebih baik.

    Sahabat, apapun yang terjadi pada diri kita, baik itu salah diri sendiri, atau salah orang lain, akan sangat salah bila kita dendam dan menyalahkan orang lain. Obatilah luka hati dan membetulkan diri hingga kita akan memperoleh yang lebih baik lagi.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “Rise Up from The Breakdown of Life (Bangkit dari Keterpurukan Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 16:23-31 dengan penekanan pada ayat 28. Sahabat, pernahkah kita mengambil keputusan yang gegabah? Saya rasa hampir setiap orang pernah melakukannya, termasuk saya tentunya. Keputusan yang gegabah bisa berakibat fatal: Kebangkrutan, keterpurukan, kejatuhan, kegagalan, kerugian.  dan hal-hal menyedihkan lainnya. Itulah yang dialami Simson, orang terkuat di sepanjang sejarah. Dengan kekuatan yang dimilikinya, harusnya ia melakukan perkara-perkara hebat bagi bangsa Israel.

    Nyatanya, Simson tidak melakukan hal tersebut. Ia malah asyik memuaskan hawa nafsunya, sikap egoisnya, dan kesombongannya. Begitu sombongnya Simson, seolah-olah ia merupakan orang yang tak terkalahkan. Simson lupa bahwa musuh sedang mengincar titik lemahnya. Dengan cara licik, melalui bujuk rayu Delila, akhirnya kelemahan Simson terbongkar. Rambutnya dipotong, kekuatannya dilucuti, dan ia pun ditawan musuh!

    Sahabat, tidak hanya menjadi tawanan biasa, Simson diperlakukan lebih buruk dari itu. Matanya dicungkil dan ia disuruh melawak di hadapan pembesar-pembesar Filistin. Bisakah Sahabat membayangkan,  seorang hakim, seorang nazir Allah, seorang pahlawan tiba-tiba menjadi “pelawak” karena kebodohan yang telah dilakukannya? Kita bisa membayangkan betapa menyesalnya Simson atas keteledoran dan kebodohan yang telah dilakukannya. Kita dengan mudah akan menghakimi Simson yang sedemikian bodoh sehingga gampang dipecundangi oleh Delila.

    Syukur, cerita tidak berhenti sampai di situ. Simson menyesal, tapi ia tidak larut dalam penyesalan secara terus menerus. la berani bangkit. Simson minta kepada Tuhan agar diberikan kesempatan sekali lagi agar ia bisa menggunakan sisa hidupnya untuk membela umat Israel. Tuhan memberi kekuatan sekali lagi kepadanya dan Simson tidak menyia-nyiakan kesempatan itu! (Ayat 28).

    Sahabat, jika kita telah membuat keputusan yang gegabah pada masa lalu, bukan berarti kita harus larut dengan penyesalan secara terus menerus. Beranilah untuk bangkit. Berdoalah agar Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada kita. Ketika kesempatan itu datang, jangan pernah menyia-nyiakannya. Siapa pun yang gagal, biarlah hari ini ia bangkit kembali! Kita boleh gagal, yang tidak boleh adalah menyerah kalah dalam kegagalan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang keterpurukan hidup?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita mesti selalu waspada dan mengasah kepekaan batin agar  lebih fokus kepada Tuhan. (pg).

  • GUNAKANLAH KESEMPATAN

    Saudaraku,  kata “waktu” sering dipakai sebagai terjemahan terminologi Yunani: Kairos dan kronos.  Kronos menunjukkan waktu yang linier dan berurutan, Kairos lebih memiliki makna sebagai peristiwa yang muncul sesekali dan tidak terulang. 

    Maka Kairos sering dipahami sebagai kesempatan yang memang tidak selalu datang dan seringkali tidak berulang dua kali, maka ia harus dimanfaatkan dengan baik agar hidup menjadi bernilai.  Matius 26:6-13 mengisahkan tentang kesempatan yang dimanfaatkan maksimal oleh seseorang, maka mari kita renungkan bersama.

    Seorang perempuan menyelinap masuk dalam rumah Simon di Betania. Ia sengaja membawa miliknya yang berharga untuk diberikan pada Yesus, yaitu sebotol parfum yang mahal harganya.  Sebotol parfum yang mahal itu memiliki makna khusus bagi seorang perempuan Yahudi seperti dirinya karena rata-rata perempuan Yahudi akan mengumpulkan uang untuk membeli sebotol parfum mahal sebagai lambang cinta dan penghargaan yang tinggi kepada lelaki impiannya, yaitu suaminya.  

    Parfum itu bukan barang sembarangan dan jelas memiliki nilai bagi hidupnya.  Perempuan itu mendekati Yesus dan menuangkan parfum itu sebotol penuh ke atas kepala Yesus, sebagai lambang penghormatan.  Itulah kesempatannya dan perempuan itu menggunakannya dengan baik. 

    Ia tahu kesempatan untuk mengurapi Yesus tidak akan berulang. Ia seorang perempuan yang secara aturan tidak mudah untuk mendekati Yesus, seorang Guru yang populer saat itu.  Ia tahu belum tentu ia akan bertemu Yesus lagi karena Yesus selalu berpindah tempat saat mengajar murid-murid-Nya.  Ia tidak peduli dengan respons negatif para lelaki di sekitar Yesus karena memang harga minyak itu sangat mahal.  Markus 14:5 dan Yohanes 12:5 mencatat harga minyak itu adalah 300 dinar yang setara dengan upah pekerja hampir setahun. 

    Perempuan itu bahagia karena sudah bisa menggunakan kesempatannya dengan baik dan Yesus sendiri menerima penghargaan perempuan itu.

    Saudaraku, kadang manusia diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melakukan sesuatu.  Ya, kesempatan yang hanya datang satu kali.  Mungkin dorongan untuk menjenguk teman yang sedang sakit parah dan mendoakan atau menolong orang yang dalam kesulitan.  Hal yang bisa menjadi sesuatu yang sangat disesali adalah saat orang menyiakan kesempatan yang hanya sekali itu, karena setelah itu mungkin teman yang sakit itu meninggal sehingga penyesalan karena mengabaikan kesempatan itu menjadi percuma.  

    William Barclay mengatakan: Yang menjadi tragedi adalah bahwa hidup manusia adalah sejarah dari kesempatan-kesempatan yang hilang untuk melakukan hal-hal yang indah.  Mari belajar menggunakan kesempatan dengan baik karena siapa tahu kesempatan itu hanya datang satu kali saja.  Mari hindari tragedi karena mengabaikan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The Heroic Story of Samson

    PAHLAWAN. Sahabat, pahlawan merupakan sebutan bagi mereka yang sangat berjasa bagi bangsa dan negara. Pahlawan tidak hanya mengorbankan waktu dan tenaga, namun juga rela mengorbankan nyawanya demi kepentingan bangsa serta negara.

    Dari  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya mendapat informasi bahwa pahlawan dimaknai sebagai orang yang menonjol karena keberanian serta pengorbanannya dalam membela kebenaran. Pahlawan adalah pejuang yang gagah berani.

    Dalam membela kebenaran, pahlawan harus mengorbankan tenaga, pemikiran, waktu, bahkan nyawa. Pahlawan tidak berjuang untuk kepentingannya sendiri, melainkan untuk kepentingan masyarakat, bangsa, serta negara.

    Nilai-nilai yang dimiliki seorang pahlawan: 1. Rela berkorban; 2. Mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi; 3. Pantang mundur; 4. Cinta tanah air; 5. Ikhlas dan tanpa pamrih.

    Nilai-nilai tersebut harus kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan komunitas kita. Contohnya dengan mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri, serta menanamkan cinta tanah air.

    Dengan menerapkan nilai-nilai yang dimiliki pahlawan, kita bisa menjadi manusia yang tangguh. Selain itu, kehidupan masyarakat akan menjadi lebih tentram, damai, aman, serta terhindar dari konflik yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan Indonesia.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “The Heroic Story of Samson (Kisah Kepahlawanan Simson)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 15:1-20. Sahabat, Simson ingin rujuk dengan istrinya. Ia datang sambil membawa buah tangan. Namun, ia ditolak mertuanya karena istrinya telah diberikan kepada orang lain. Lalu mertuanya menawarkan si adik sebagai pengganti. Hal itu merupakan penghinaan terhadap Simson. Sebab pernikahan semacam itu dilarang dalam Hukum Taurat (Imamat 18:18).

    Simson tidak membalas penghinaan itu dengan melukai istri atau mertuanya. Ia membakar hasil panen kepunyaan orang-orang Filistin. Hal tersebut tentu menimbulkan kerugian yang amat besar. Akibatnya, mereka marah dan membakar mertua dan istri Simson. Dendam tersebut dianggap sebagai persoalan keluarga bagi orang-orang Filistin. Sementara bagi Simson, perbuatannya itu bertujuan untuk menjatuhkan bangsa Filistin.

    Simson membalas perbuatan tersebut dengan membantai mereka. Kemudian, ia menyerahkan diri kepada orang-orang Yehuda untuk melindungi mereka dari amarah orang-orang Filistin. Orang Filistin menyangka telah berhasil menundukkan Simson. Pada saat itu ia memutuskan tali pengikatnya dan membunuh 1.000 orang Filistin dengan tulang rahang keledai. Hal itu menunjukkan adanya kekuatan Allah yang membuatnya mampu melakukan tindakan itu.

    Sahabat, cerita Simson merupakan kisah kepahlawanan yang menginspirasi umat agar berani menghadapi masa sulit serta tetap memiliki pengharapan. Saat ini tidak ada musuh (fisik) yang harus kita lawan seperti orang Filistin. Namun, tetap dibutuhkan orang berjiwa pahlawan yang berani menghadapi masalah, rela berkorban, dan tidak mementingkan diri sendiri. Sebab, masalah ada bukan untuk melemahkan, tetapi untuk mengasah jiwa kepahlawanan di dalam diri kita.

    Dengan berdoa kita tidak hanya menunggu bantuan saat menghadapi kesulitan. Mintalah penyertaan Roh Tuhan agar kita menjadi kuat dalam menanggulangi masalah. Pada zaman ini yang harus dikalahkan adalah sikap semena-mena yang bisa muncul pada diri siapa saja. Kita mesti rela berkorban demi keadilan dan kedamaian. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?

    Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11-13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari datang  kepada Yesus, Juru Selamat yang sanggup memberikan pembebasan sempurna. (pg).