Category: Sejenak Merenung

  • God’s Ways are Unfathomable

    JALAN TUHAN. Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa Tuhan selalu rindu untuk memberkati dan menolong anak-anak-Nya, namun kita harus tahu pula bahwa Tuhan punya seribu satu jalan untuk menggenapinya. Acap kali jalan yang dipakai Tuhan itu ajaib, tidak pernah terpikirkan oleh kita, tidak terselami, bahkan tidak mampu dipecahkan dengan akal logika kita.

    Coba kita simak beberapa contoh yang terdapat di dalam Alkitab. Lihat bagaimana Tuhan menolong Elia lewat burung-burung gagak yang membawa roti dan daging setiap pagi dan petang ketika ia berada di sungai Kerit (1 Raja Raja 17:1-6). Lalu lihatlah bagaimana Tuhan menolong seorang janda yang terjerat hutang lewat sedikit sisa minyak yang ia miliki. Tuhan sanggup mengisi bejana-bejana hingga melimpah, lalu menyuruh perempuan itu  pergi menjual minyak untuk menutupi hutangnya. Bahkan begitu melimpah sehingga si janda masih memiliki sisa uang yang bisa ia pakai untuk menghidupi dirinya dan anak-anaknya (2 Raja Raja 4:1-7).

    Sahabat, masih ingatkah  dengan kisah Perkawinan di Kana?  Yesus mengatasi masalah kehabisan anggur hingga berlimpah-limpah? (Yohanes 2:1-11), atau mengenai penggandaan lima roti dan dua ikan yang dimiliki seorang anak kecil untuk memberi makan lebih dari 5000 orang? (Matius 14:13-21). Itu baru beberapa contoh saja, karena ada ratusan contoh di dalam Alkitab yang mencatat bagaimana bervariasinya perbuatan ajaib yang dilakukan Tuhan untuk menolong dan memberkati anak-anak-Nya.

    Maka tak heran kalau rasul Paulus menulis kepada jemaat Roma sebagai berikut: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Roma 11:33).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “God’s Ways are Unfathomable (Jalan Allah Tak Terselami)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 14:1-20 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, Simson telah ditetapkan TUHAN untuk menjadi seorang nazir Allah sejak masih dalam kandungan ibunya. Akan tetapi, ternyata bahwa cara hidup Simson amat kacau sejak masa mudanya. Orang tuanya sangat kecewa saat mengetahui bahwa Simson telah jatuh cinta kepada seorang perempuan Filistin yang tinggal di Timna dan memaksa untuk menikahi perempuan itu, padahal orang Israel sudah diperintahkan agar jangan mengambil istri dari bangsa lain (Ulangan 7:3-4).

    Dari sisi manusiawi, kita menyesalkan keinginan Simson itu. Akan tetapi, penulis kitab Hakim-hakim menjelaskan bahwa peristiwa itu sengaja diizinkan terjadi oleh Allah dengan maksud supaya Simson mencari gara-gara terhadap orang Filistin (Ayat 4). Saat pesta pernikahan berlangsung, Simson bertaruh dengan tiga puluh pemuda Filistin dengan cara mengajukan sebuah teka-teki. Ternyata bahwa istrinya berkhianat, sehingga Simson kalah bertaruh dan harus membayar kekalahannya dengan memberikan tiga puluh pakaian dalam dan tiga puluh pakaian kebesaran.

    Kemarahan Simson dilampiaskan dengan membunuh tiga puluh orang Filistin di Askelon dan merampas pakaian mereka sebagai pembayar kekalahan dalam bertaruh. Dengan demikian, mulailah bibit permusuhan di antara Simson dengan orang Filistin. Bibit permusuhan ini masih ditambah dengan keputusan keliru yang dilakukan ayah ibu mertua Simson yang memberikan istri Simson kepada kawannya sendiri.

    Sahabat, cara Allah bekerja tidak selalu mudah diduga. Dari sisi manusiawi, kita akan cenderung beranggapan bahwa Simson telah mencari masalah sendiri dengan menikahi seorang perempuan Filistin yang tidak setia serta bertaruh dengan para pemuda Filistin yang licik. Bagi orang tuanya pun, permintaan Simson untuk menikahi seorang perempuan Filistin merupakan permintaan yang menyakitkan hati.

    Kita tak akan menduga bahwa hal-hal buruk semacam itu bisa dipakai Allah untuk mencapai maksud yang baik bagi umat-Nya. Dalam hidup kita, kita tidak selalu bisa menyelami mengapa Allah kadang-kadang mengizinkan terjadinya kegagalan, kecelakaan, penyakit berat, wabah, bencana alam, dan hal-hal buruk lainnya menimpa umat-Nya.

    Apakah kita menyadari bahwa cara kerja Allah tidak  selalu bisa kita duga dan selami,  bahwa apa yang nampak buruk dalam pemahaman kita bisa saja dipakai Allah untuk kebaikan kita? (Yesaya 55:8-9; Yeremia 29:11). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mau kita senantiasa sadar: Kekuatan diberikan untuk memuliakan Dia dan memberkati sesama. (pg)

  • Becoming A Nazarite of God in the Digital Age

    NAZIR ALLAH. Sahabat, nazir berasal dari kata Ibrani nazir yang berarti ditahbiskan, yaitu orang yang dikhususkan untuk membaktikan diri bagi pelayanan Allah. Oleh sebab itu, seorang nazir diasuh dengan latihan rohani khusus. Sejak di dalam kandungan, baik ibu maupun si anak berpantang minum anggur atau minuman yang memabukkan, berpantang memakan makanan yang diharamkan, dan harus melakukan semua perintah Allah. Semua instruksi ini harus dilakukan demi menjaga integritas dan kekudusannya di hadapan Allah.

    Pernyataan Yesus Kristus untuk berpantang minuman dari anggur (Matius 26:29, Markus 14:25, Lukas 22:18), menyebabkan adanya pandangan bahwa Yesus Kristus merupakan seorang Nazir.

    Jadi, nazir adalah sebutan untuk orang-orang yang bersumpah hidup kudus untuk Tuhan, Allahnya. Hidup berpantang pada minuman berefek memabukkan, hidup berpantang pada makanan yang diharamkan, dan taat beribadat kepada Tuhan, Allahnya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: Becoming A Nazarite of God in the Digital Age (Menjadi Nazir Allah di Era Digital). Bacaan Sabda diambil dari Hakim-hakim 13:1-25. Sahabat, bangsa Israel telah memasuki Kanaan. Namun, masuklah juga pendatang lain ke situ, yaitu orang-orang Filistin atau “orang-orang laut”. Dalam waktu singkat mereka menjadi ancaman bagi suku-suku Israel. Akhirnya, mereka pun menyerbu Israel dan memaksa agar Israel menyerahkan tanah mereka.

    Masa sengsara itu dipandang sebagai teguran Allah atas kejahatan Israel. Meski begitu, Allah tetap peduli kepada umat-Nya. Ia membangkitkan seorang hakim yang akan membebaskan mereka, yaitu Simson. Malaikat Allah datang kepada seorang perempuan mandul dari suku Dan. Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi nazir Allah (Ayat 2-5)

    Seorang Nazir pada masa itu terikat kepada sumpah untuk tidak meminum anggur. Sahabat, anggur berbicara tentang sesuatu yang nikmat. Seorang nazir, ia dengan sukarela menyangkali dirinya dari kenikmatan-kenikmatan hidup ini demi mengalami secara penuh kenikmatan sesungguhnya dari pengenalan akan Tuhan. Hal yang sama di dalam Perjanjian Baru ditemukan di dalam Efesus 5:18: “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.”

    Yohanes Pembaptis merupakan seorang nazir di dalam Perjanjian Baru. Ia penuh Roh Kudus sejak dari kandungan ibunya. Ia tidak menjamah apa yang najis. Makanannya ialah belalang dan madu. Ia berjalan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang benar dan dengan demikian menyiapkan jalan bagi Tuhan (Lukas 1:17).

    Sahabat, kisah kelahiran Simson membangkitkan harapan bahwa Allah akan membebaskan umat-Nya dari penindasan. Sejak dalam kandungan, banyak pengorbanan yang dilakukan olehnya dan keluarganya dalam menolak kenikmatan dan menjaga laku hidup.

    Seperti halnya Simson pada zaman itu, saya percaya hari-hari ini pun Tuhan sedang membangkitkan suatu “generasi nazir” untuk maksud penyelamatan; suatu generasi yang akan menyelamatkan jutaan jiwa dari kalangan milenial di era digital.

    Sahabat, mari kita bersyukur saat banyak orang hidup hanya untuk mengejar kesuksesan pribadi, masih ada orang-orang yang mempersembahkan hidup mereka bagi Allah, demi kepentingan umat-Nya dan dunia.

    Mari kita bersyukur untuk orang tua yang mempersembahkan anaknya bagi gereja dan bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya bagi kepentingan banyak orang.

    Sahabat, menepati janji kita kepada Allah adalah kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan tersebut hanya bisa didapat karena relasi yang begitu dekat dengan Allah. Kita semakin mengasihi Allah, demikian pula sebaliknya. Kita mesti mengupayakan yang terbaik ketika menjalin relasi dengan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    Apa yang Sahabat pahami tentang nazir Allah?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dari awal Tuhan sudah mempersiapkan kita untuk dipakai menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Tuhan mau kita menjadi terang dan garam bagi jiwa-jiwa. Kehidupan kita membawa dampak sehingga banyak jiwa dimenangkan. (pg)

  • Throw Away the Envious and Malicious

    IRI DAN DENGKI. Sahabat, pengalaman saya bercerita bahwa kata iri dan dengki hampir selalu dimunculkan atau digunakan bersama. Jika ada kata “iri”, hampir pasti juga ada kata “dengki”. Ada cukup banyak orang yang berpendapat iri itu padanan kata dari dengki. Selama ini iri dan dengki selalu berkaitan.

    Sesungguhnya, iri dan dengki memang memiliki arti yang sama. Namun juga memiliki makna yang berbeda. Coba kita simak definisi kata iri dan dengki di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): Iri: Merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dan sebagainya). Sedangkan dengki: Menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain.

    Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa iri adalah penyakit merasa senang melihat orang lain susah, dan merasa susah melihat orang lain senang. Sedangkan dengki adalah senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang, dan ingin melenyapkan nikmat atau kebahagiaan orang lain.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: Throw Away the Envious and Malicious (Buanglah Jauh-jauh Iri dan Dengki). Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 12:1-7. Sahabat, pernahkah kamu melihat seseorang bertikai dengan saudara kandung sendiri? Atau, jangan-jangan kita sendiri pernah mengalaminya? Bisa jadi, iri dan dengki yang memicu pertengkaran tersebut. Iri dan dengki tidak memandang status dan relasi. Tidak hanya kepada orang yang tidak dikenal, iri dan dengki juga bisa melanda dalam keluarga sendiri.

    Itulah yang sedang dialami Yefta. Ia diserang oleh saudara sebangsanya sendiri, bani Efraim, karena iri hati kepadanya. Setelah pulang dengan kemenangan melawan bani Amon, saudara sebangsanya tidak menyambutnya dengan pesta. Serangan suku Efraimlah yang menyambutnya. Mereka merasa iri karena tidak diajak berperang melawan bani Amon (Ayat 1) sehingga tidak bisa ikut mendapatkan keuntungan berupa uang dan jarahan dari hasil pertempuran.

    Kemudian bersama dengan orang-orang dari tanah asalnya, Gilead, Yefta melawan suku Efraim. Orang Gilead pun diremehkan oleh Efraim. Mereka dikatakan sebagai orang-orang yang telah lari dari Efraim (Ayat 4). Pasalnya, mereka masih tinggal di tanah Efraim, namun bukan bagian dari Efraim. Dengan jumlah yang tidak seberapa, orang Gilead berhasil mengalahkan suku Efraim. Dengan taktik yang memanfaatkan perbedaan aksen, orang Gilead menghabisi suku Efraim hingga 42.000 orang jumlahnya (Ayat 6).

    Sahabat, pada dasarnya, iri dan dengki tidak akan pernah membawa kita pada akhir yang baik. Rasa iri dan dengki hanya akan menimbulkan kerugian, seperti waktu, tenaga, perasaan, dan lain sebagainya. Allah menghendaki kita sebagai saudara, baik kandung maupun bukan, untuk hidup dalam damai dan saling mengasihi. Itulah inti kehidupan kita sebagai orang beriman. Jauhilah iri dan dengki apabila kita ingin terhindar dari kehancuran dan menikmati penyertaan Tuhan.

    Ingatlah akan Tuhan agar hati kita menjauhi rasa iri dan dengki terhadap sesama. Sebisa mungkin kita jauhi permusuhan dengan sesama. Kita lebih baik memberikan pujian ketimbang menyimpan iri hati dan dengki. Kita mesti tulus dalam menjalin relasi dengan sesama. Itulah panggilan kita sebagai orang percaya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    Apa yang Sahabat pahami tentang iri dan dengki?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mempunyai seorang musuh sudah cukup, tapi mempunyai seribu sahabat masih kurang. (pg)

  • FLEKSING KESALEHAN

    Saudaraku, mendengar kata fleksing (memamerkan) pada masa sekarang seakan menjadi sesuatu yang biasa didengar dan dilakukan oleh para pengguna gawai. Pada prinsipnya fleksing bertujuan mendapatkan pengakuan dari orang lain. Banyak kebiasaan di kalangan elit rohani masyarakat Yahudi yang dikecam oleh Yesus, salah satunya adalah kebiasaan fleksing. Mari kita merenungkan Matius 23 : 5-12.

    Setiap orang Yahudi tahu betapa radikal kerohanian golongan Farisi. Namun sayangnya mereka cenderung lebay (berlebihan) sehingga memuakkan orang lain. Mereka memakai tali sembahyang yang lebih lebar dari yang dipakai masyarakat, lebih suka duduk di depan dalam pertemuan dan bangga dengan sebutan; Rabi, pemimpin dan sebutan lain yang sejenis dengan itu. Mereka melakukan fleksing kesalehan dengan tujuan mendapatkan penghormatan, penghargaan dan keistimewaan dari orang sekitarnya. Yesus muak dengan perilaku ini dan mengecamnya habis-habisan.

    Mari belajar apa yang Yesus inginkan dari mereka yaitu :
    Kerendahan hati
    Yesus menekankan bahwa orang yang mau menjadi pemimpin maka ia harus melayani orang lain (Matius 23:11), bukan pamer kesalehan di depan orang banyak. Memperlihatkan kesalehan berarti sombong rohani.
    Terus berjuang meraih penghargaan tertinggi dari Allah.
    Kebanggaan sejati bukanlah pengakuan dari manusia, melainkan dari Allah sendiri. Percuma mencari pengakuan dari manusia karena apa yang terbaik dan tertinggi adalah Allah.

    Saudaraku, sejatinya manusia memang cenderung mencari pengakuan dari orang lain untuk menyatakan keberadaaan dirinya. Manusia jenis ini selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian untuk kepuasan ego. Ketika seorang sudah bertemu dengan Kristus, sesungguhnya manusia itu harus memandang kepada Kristus sebagai model yang utama dan terutama dalam kehidupan. Kerendahan hati Yesus yang sudah meninggalkan tahta-Nya dan menjalani kehidupan yang fana hingga mati di kayu salib (Filipi 2:5-7) menunjukkan kualitas yang berbeda dengan para Farisi. Maka boleh dikatakan makin mengenal Kristus, seseorang seharusnya makin rendah hati dan makin tersembunyi di belakang Kristus sebagaimana Yohanes Pembaptis mengatakan, Ia (Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yohanes 3:30).

    Masih perlukah fleksing kesalehan di depan orang, di status media sosial atau terus menceritakannya di depan banyak orang? Masih perlukah mengejar pengakuan orang lain untuk diri sendiri? Bukankah Yesus selalu mengingatkan agar umat-Nya selalu memusatkan kemuliaan kepada Allah saja? Biarlah Roh Kudus mengingatkan agar umat selalu menjaga diri dari kesombongan dan tetap rendah hati. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • MEMBANGGAKAN KEFANAAN

    Saudaraku, apa yang menjadi kebanggaan manusia? Rumah? Tempat usaha? Uang? Semua yang disebutkan di depan dan yang ada dalam pikiran manusia tentang kesuksesan adalah fana semata. Fana berarti sementara, rentan rusak dan lenyap dalam sekejap. Yesus mengingatkan kefanaan sebuah mahakarya dalam Matius 24:1-2. Mari kita renungkan bersama.

    Tidak ada yang menyangkal keindahan Bait Allah buatan Herodes Agung saat itu. Puncak Bukit Sion digali dan diratakan untuk menyambung bangunan asli Bait Allah. Dindingnya dilapisi emas yang berkilauan ditimpa sinar matahari. Tiangnya besar-besar dan pembangunan memakan waktu yang lama, bahkan pada zaman Yesus semua masih berlangsung. Sebuah proyek spektakuler. Pembangunan Bait Allah saat itu bukan sekadar pembangunan rumah ibadah biasa namun juga sebuah fleksing (pameran) dominasi politik Herodes dan Kerajaan Romawi atas Yehuda.

    Indahnya bangunan, megahnya ornamen dan besarnya material yang akan dipakai, membuat siapa pun pengunjung Bait Allah takjub. Namun bagi Yesus itu tidak berpengaruh sama sekali. Yesus dengan terus terang mengatakan bahwa semua akan hancur dan tidak tersisa. Nubuatan ter terjadi empat dekade selanjutnya karena Jenderal Titus menghancurkan Bait Allah megah itu hingga tak bersisa.

    Manusia seringkali takjub dengan apa yang nampaknya spektakuler dan hebat, baik berupa bangunan, pencapaian, finansial bahkan manusia. Ketakjuban itu menggiring manusia mendewakan apa yang dianggapnya hebat. Namun bagi Allah semua itu tidak berarti karena di dunia ini tidak ada yang kekal. Pengkhotbah mengatakan apa yang ada di bawah matahari adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin semata (Pengkhotbah 1:14). Andai manusia selalu mengingat hal itu, manusia tidak akan mudah untuk terpana dan mengagumi segala sesuatu yang spektakuler. Ucapan Yesus mengomentari para murid-Nya menunjukkan bahwa semegah bagaimanapun sebuah bangunan bisa hancur suatu saat nanti, maka lebih baik mempersiapkan diri untuk hal yang kekal, yaitu iman yang teguh.

    Saudaraku, berjalan sesuai dengan kehendak Allah akan membawa kepada kekekalan. Apa pun yang membanggakan manusia, semua akan berakhir. Waktu akan mengakhiri kebanggan itu. Oleh sebab itu mari belajar untuk mengarahkan diri kepada apa yang kekal dan menghargainya lebih dari apa yang fana, sebagaimana Nabi Yeremia mengatakan, Siapa mau berbangga tentang sesuatu, haruslah ia berbangga bahwa ia mengenal dan mengerti Aku, bahwa ia tahu bahwa Aku mengasihi untuk selama-lamanya dan Aku menegakkan hukum dan keadilan di dunia. Semuanya itu menyenangkan hati-Ku. ” (Yeremia 9:24, BIS). Berbanggalah karena mengenal Sang Penguasa Semesta dan menikmati kasih karunia-Nya. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The Difference between Jepthah and Abimelech

    PERBEDAAN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perbedaan itu berarti selisih, juga   perihal yang berbeda atau  perihal yang membuat berbeda. 

    Sedangkan perbedaan yang akan kita bicarakan dalam renungan kita pada hari ini  adalah hal yang menunjukkan bahwa orang yang satu memiliki sifat yang tidak sama dengan orang yang lainnya. Perbedaan merupakan ketidak samaan sifat, bentuk atau karakter yang dimiliki oleh beberapa orang.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “The Difference between Jepthah and Abimelech (Perbedaan antara Yefta dengan Abimelekh). Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 11:1-11. Sahabat, ketika membaca kisah tentang Abimelekh, kita akan melihat kisah seorang anak dari Gideon yang lahir dari seorang gundik yang berasal dari Sikhem. Perilakunya sangat jahat sehingga ia tega membunuh saudara-saudara tirinya demi menggapai kekuasaan.

    Sedangkan bacaan kita pada hari ini bercerita  tentang Yefta. Ia seorang anak dari perempuan sundal. Ia mengalami penolakan dua lapis. yaitu dari saudara-saudara yang tidak seibu dan lingkungan tempat kelahirannya. Ia dikenal sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa. Sekalipun sudah diusir, di kemudian hari ia diminta menjadi panglima perang bagi penduduk Gilead untuk melawan bani Amon.

    Apa perbedaan antara Yefta dengan Abimelekh? Yefta diberi kekuasaan tanpa harus merebutnya dari orang-orang yang sudah menolak dan mengusirnya. Yefta tidak perlu membunuh saudara-saudaranya agar mendapatkan kekuasaan atas Gilead. Cara Yefta menghadapi konflik sangat bijak. Penulis kitab Hakim-Hakim mencatat: “… Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa” (Ayat 11).

    Penulis surat Ibrani mencatat bahwa Yefta merupakan  salah seorang saksi iman seperti tertulis:  “Dan apakah lagi yang harus aku sebut?  Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat.”  (Ibrani 11:32-34a).

    Sedangkan penulis kitab Hakim-Hakim menulis tentang kematian Abimelekh seperti berikut: “ … seorang perempuan menimpakan sebuah batu kilangan kepada kepala Abimelekh dan memecahkan batu kepalanya. Dengan segera dipanggilnya bujang pembawa senjatanya dan berkata kepadanya: ‘Hunuslah pedangmu dan bunuhlah aku, supaya jangan orang berkata tentang aku: Seorang perempuan membunuh dia.’ Lalu bujangnya itu menikam dia, sehingga mati.”

    Sahabat, Yefta bukanlah seorang yang mengandalkan kekuatannya. Ia juga tidak membutuhkan pengakuan atas kemampuannya. Ia tidak menjadi pemimpin karena keluarga, suku, atau kelompoknya sendiri. Ia hanya perlu Tuhan untuk mengukuhkan identitas diri dan segala tindakannya.

    Sesungguhnya kisah Yefta mengajarkan sebuah pokok penting tentang panggilan Tuhan dan cara manusia merespons. Seandainya Tuhan memilih kita untuk melaksanakan tugas mulia, sebaiknya bersikaplah dengan cara yang sama seperti Yefta. Jangan sampai kita mengandalkan kekuatan sendiri dan kekerasan seperti Abimelekh. Kita tetap harus rendah hati dengan mengingat bahwa status kita hanyalah alat bagi tujuan dan kemuliaan-Nya.

    Sahabat, walaupun ada penolakan dan permusuhan dari dunia, mari kita merespons panggilan Tuhan dengan segala kerendahan hati dan ketaatan. Kita mesti tidak egois, bisa memilah hal terpenting bagi Tuhan dan sesama dalam hidup ini. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan sanggup mengubahkan hidup kita dari yang hina menjadi mulia, yang tidak berarti menjadi berarti dan dijadikannya kita berharga di mata-Nya. (pg).

  • Do not be Hasty in Choosing Leaders

    MEMILIH PEMIMPIN. Sahabat, pada tahun 2024 di Indonesia akan ada “Pesta Demokrasi”. DPR telah  mensahkan, Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) pada 14 Februari 2024. Kesepakatan yang diambil bersama antara pemerintah dan penyelenggara pemilu tersebut, diambil pada Rapat Dengar Pendapat di Gedung Komisi II DPR, Senin, 24 Januari 2022.

    Saat ini sudah ada 3 kandidat calon Presiden: Ganjar Pranowo; Prabowo Subianto; dan Anies Rasyid Baswedan.

    Menjelang Pemilu, kita diterpa beragam kampanye dari para calon pemimpin negeri. Demi mendongkrak popularitas, mereka menggunakan banyak cara untuk mempromosikan diri. Tidak jarang hal itu membuat kita bingung dalam memilih. Alhasil, kita sebagai orang percaya  bisa jadi keliru memilih karena termakan kampanye atau karena ajakan untuk memilih berdasarkan kesamaan suku atau agama.

    Sahabat, pemimpin adalah wakil Tuhan yang diberikan kepada umat-Nya di dunia ini. Pemimpin berasal dari Tuhan, kita harus minta tuntunan Tuhan dalam memilih seorang pemimpin sehingga tidak salah dalam memilih.

    Memilih pemimpin adalah keputusan yang harus dipertimbangkan masak-masak karena membawa dampak bagi yang dipimpinnya. Karena itu jangan sembarangan memilih pemimpin. Dalam memilih pemimpin, kita memang perlu meneliti rekam jejak kehidupan sang calon. Bagaimana kebijakan yang pernah ia buat? Apakah ia dikenal sebagai pribadi yang memiliki integritas? Hal itu perlu diperhatikan karena dapat dijadikan petunjuk apakah ia layak kita pilih jadi pemimpin atau tidak.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “Do not Be Hasty in Choosing Leaders (Jangan Gegabah dalam Memilih Pemimpin)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 9:1-6. Sahabat, Gideon, sang pahlawan Israel, seolah bersikap rendah hati tatkala secara resmi menolak permintaan rakyat agar ia menjadi raja Israel. Bahkan ia menegaskan bahwa anaknya pun tidak akan duduk menjadi raja atas mereka (Hakim-Hakim 8:22-31). Meski demikian, secara praktis Gideon bertingkah seperti raja. Namun tidak demikian
    dengan Abimelekh, anak Gideon.

    Sahabat, Abimelekh sangat berambisi menjadi raja. Untuk itu ia tidak segan berlaku licik dan kejam (Ayat 1). Padahal penulis kitab Hakim-hakim sedang menegaskan bahwa raja sejati adalah Tuhan. Abimelekh memberi pilihan kepada rakyat: ia atau ketujuh puluh saudaranya yang lain (Ayat 2). Saudara-saudara ibunya ternyata bersikap suportif. Mereka menggalang dukungan, termasuk dukungan dana, bagi Abimelekh. Maka didapatlah dukungan dari warga kota Sikhem dan dari orang-orang bayaran (Ayat 3-4). Selanjutnya, menghabisi ketujuh puluh saudaranya adalah langkah berikut untuk mewujudkan ambisinya (Ayat 5).

    Orang Sikhem tentu mendengar kisah Abimelekh yang membunuh ketujuh puluh saudaranya, sebelum mereka menobatkan dia menjadi raja (Ayat 6). Namun tampaknya mereka tidak memusingkan hal itu karena bagi mereka, Abimelekh adalah saudara mereka (Ayat 3). Memang ibu Abimelekh, yang merupakan gundik Gideon, berasal dari Sikhem (Hakim-Hakim 8:31). Mungkin saja Abimelekh dibesarkan di Sikhem juga.

    Fanatisme kedaerahan tampaknya bersuara kuat dalam hal ini. Bisa jadi, orang Sikhem berharap bahwa pelantikan Abimelekh menjadi raja akan membawa keuntungan atau manfaat tersendiri bagi mereka. Meski demikian, seharusnya mereka tidak membutakan hati terhadap kebrutalan Abimelekh.

    Sahabat, memilih pemimpin adalah keputusan yang harus dipertimbangkan masak-masak karena dampak yang begitu besar bagi rakyat. Apakah orang yang tega membunuh ketujuh puluh saudaranya layak menjadi raja? Keputusan orang Sikhem yang gegabah akan dibayar mahal kemudian. Ini menjadi peringatan bagi kita untuk tidak sembarangan memilih pemimpin. Harus dilihat apakah ia berdiri di atas kebenaran.

    Dalam menghadapi Pemilu pada tahun 2024, kita sebagai orang percaya tak boleh acuh tak acuh, namun harus bersikap arif. Jangan lagi terjebak pada daya pikat kampanya atau mengikuti ajakan untuk memilih pemimpin berdasarkan kepentingan partai, golongan, kesamaan agama, kesamaan suku, dan kesamaan asal daerahnya. Mari kita minta hikmah Tuhan dalam memilih pemimpin untuk negeri ini. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang perlu kita perhatikan dalam memilih seorang pemimpin?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita dapat mendeteksi kualitas kepemimpinan seseorang dari sikap, kebijakan, dan tindakannya. (pg).

  • Sin Confession and God’s Grace

    MENGAKU DOSA. Dalam buku “How to Live 365 Days a Year”, John Schindler menulis, “Tiga dari empat ranjang rumah sakit ditempati oleh orang yang menderita gangguan emosional.” Ia menyimpulkan, “Stres emosional saat ini merupakan penyebab nomor satu sakit-penyakit.” Lalu, apa penyebab stres itu sendiri? Salah satu yang menonjol adalah rasa bersalah dan perasaan tidak diampuni.

    Firman Allah menjanjikan kemerdekaan besar dari kedua pemicu stres itu. Betapa tidak! Coba kita simak pernyataan Yohanes berikut ini: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1: 9).

    Lalu apakah yang dimaksudkan dengan “mengaku dosa”? Dulu saya mengartikannya sebagai berdoa menyebutkan daftar dosa saya, menyesalinya, bertobat, meminta ampun, dan berjanji tidak mengulanginya lagi.

    Ternyata kata “Mengaku” dalam bahasa Yunani menggunakan kata homologeo. Kata ini berasal dari dua kata yaitu homou yang berarti “sama”; ”bersama-sama”; dan kata  logos yang berarti perkataan atau firman.

    Dengan demikian mengaku dosa berarti menyepakati pernyataan Allah tentang dosa kita. Kita menyepakati bahwa kita berdosa. Kemudian, kita menyepakati cara Allah mengatasi dosa. Di dalam Kristus, Allah menebus dosa kita satu kali untuk selama-lamanya (Ibrani 7:24-27). Dia memutuskan untuk tidak lagi mengingat-ingat dosa dan pelanggaran kita (Ibrani 8:12, 10:17). Sebaliknya, anugerah-Nya mendidik kita untuk hidup dalam kesalehan (Titus 2:11-13).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “Sin Confession and God’s Grace (Pengakuan Dosa dan Anugerah Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 10:6-18. Sahabat, sampai pasal Hakim-Hakim pasal 10 sudah tujuh kali disebutkan: “Orang Israel itu melakukan pula apa yang jahat di mata Tuhan …” (Ayat 6). Tampaknya mereka masih belum jera juga melakukan dosa itu, yaitu dosa menyembah allah lain. Bayangkan saja, sampai tujuh allah asing yang mereka sembah dan karena itu mereka meninggalkan Tuhan!

    Sahabat, tentu saja Tuhan tidak tinggal diam melihat semua itu. Jika Israel ingin beribadah kepada allahnya orang Filistin dan bani Amon maka Tuhan membiarkan mereka dengan sekaligus menyerahkan mereka ke tangan bangsa-bangsa itu (Ayat 7). Sampai delapan belas tahun lamanya orang Israel ditindas dan diinjak oleh Filistin dan Amon (Ayat 8). Suatu jangka waktu yang begitu lama untuk merasakan dampak mengkhianati Tuhan. Tuhan memang membiarkan hal itu terjadi begitu lama agar mereka merasakan benar sakitnya penderitaan sebagai akibat meninggalkan Tuhan.

    Israel memang tidak akan pernah diberkati Tuhan jika mereka menyembah allah-allah lain. Sebaliknya, kesusahan besarlah yang akan datang menimpa mereka. Padahal tujuan Tuhan membawa mereka ke tanah Kanaan adalah untuk memberikan kehidupan yang penuh damai dan sejahtera. Namun ketidaksetiaan mereka membuat Tuhan berbalik melawan mereka. Bahkan ketika mereka menyadari rasa sakit dari penderitaan itu, Tuhan tidak segera memberikan pertolongan meski mereka berseru kepada Dia untuk mengakui kesalahan mereka dan memohon pertolongan-Nya (Ayat 10-14). Barulah ketika mereka menyatakan penyerahan diri secara penuh dan menyatakan tindakan pertobatan yang sungguh-sungguh, Tuhan berkenan menolong mereka (ayat 15-16).

    Sahabat, ibadah yang dilakukan Israel terhadap allah-allah tetangga mereka memperingatkan kita bahwa umat Allah di mana pun dan kapan pun selalu berada dalam bahaya yang sama, menyembah apa yang disembah oleh dunia ini. Sebab itu Tuhan menginginkan kita untuk memahami bahwa tidak ada hal yang lebih berharga selain percaya dan mengikut Yesus Kristus, Tuhan kita yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yohanes 14:6). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 1 Yohanes 1:9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sebesar apa pun kesalahan kita, Allah memberi kesempatan agar kita kembali pada jalan-jalan-Nya. (pg).

  • Terms and Conditions

    SYARAT DAN KETENTUAN. Sahabat, sesungguhnya syarat, ketentuan dan kondisi itu sama, semuanya merupakan sinonim hanya saja penggunaannya berbeda konteks dan wacananya.

    Syarat itu adalah hal-hal dasar, baik berurutan atau lepasan, yang harus dipenuhi oleh seseorang atau suatu lembaga. Tujuannya untuk mendapatkan data-data umum seperti nama, alamat, nomor telepon, dan seterusnya.

    Sedangkan ketentuan itu adalah hal-hal utama atau penting, baik berurutan maupun lepasan, yang sudah dibuat oleh seseorang atau suatu lembaga yang harus dipenuhi atau dipahami oleh orang atau lembaga yang ingin ikut serta, misalnya hadiah tidak bisa ditukar dengan hadiah lain atau diuangkan, yang belum berusia 18 tahun tidak bisa ikutan, dilarang melemparkan pertanyaan dengan bahasa yang tidak sopan, dan lain-lain.

    Sahabat, tidak sedikit pembeli batal mendapatkan barang yang tengah dipromosikan lantaran tak memenuhi persyaratan yang ada. Biasanya, pihak penjual akan menunjukkan tulisan syarat dan ketentuan berlaku sebagai alasan dibalik pembatalan produk yang hendak dibeli oleh konsumen. Tulisan tersebut kerap kali dicetak dalam ukuran kecil, sehingga membuat kecele konsumen yang kurang cermat saat berbelanja.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: Terms and Conditions (Syarat dan Ketentuan). Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 8:4-21 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, seorang teman ketika saya ajak untuk membesuk seorang rekan yang sedang diopname di rumah sakit, menolak dan berkata, “Tidak, bulan lalu ketika aku sakit, ia tidak datang menjengukku!”

    Pengalaman kita bermasyarakan bercerita bahwa ada cukup banyak orang suka timbang-menimbang sebelum melakukan kebaikan. Saat ini ketulusan sepertinya dapat dikelompokkan sebagai barang langka di dunia ini.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, orang Sukot dan orang Pnuel juga merupakan contoh tipe manusia yang suka timbang-menimbang sebelum melakukan kebaikan. Ketika Gideon meminta beberapa roti untuk rakyat yang mengikutinya dalam pengejaran terhadap Zebah dan Salmuna, raja-raja Midian, kedua penduduk tersebut menanggapi dengan sinis, “Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada tentaramu?” (Ayat 6 dan 8).

    Rupanya, mereka mau memberi roti hanya jika syarat dan ketentuan dipenuhi. Tindakan mereka sungguh kontras dengan kebenaran firman Tuhan yang mengatakan, “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya” (Amsal 3:27). Perhatikan bahwa tidak ada syarat dan ketentuan ditetapkan bagi pihak penerima pertolongan! Syarat dan ketentuan tersebut justru ada pada pihak pemberi pertolongan yaitu: Engkau mampu menolongnya.

    Bukannya memberi keuntungan, roti disertai syarat dan ketentuan justru mendatangkan kemalangan. Pada akhirnya, Gideon menghajar orang-orang Sukot, merobohkan menara Pnuel, dan membunuh orang-orang kota itu (Ayat 16-17).

    Sahabat, pegang erat-erat, Tuhan tidak berkenan apabila kebaikan kita dibumbui syarat dan ketentuan apa pun. Mulai sekarang, mari melakukan kebaikan dengan penuh ketulusan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    Apa yang Sahabat pahami dari Amsal 3:27?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika syarat dan ketentuan ditetapkan dalam setiap kebaikan, kita tidak akan pernah layak menerima kebaikan TUHAN. (pg).

  • The False Confidence

    PERCAYA DIRI. Sahabat, sesungguhnya  setiap orang memiliki kemampuan atau kompetensi di dalam dirinya. Namun tidak semua bisa menggunakan kemampuan yang dimiliki bahkan ada beberapa orang yang merasa tidak percaya dengan kemampuannya.

    Saya mempunyai  seorang rekan sepelayanan yang memiliki kemampuan untuk memimpin sebuah tim, dan suatu ketika ia ditunjuk menjadi seorang pemimpin, tetapi merasa dirinya belum mampu sehingga muncul rasa kurang percaya diri atau minder.

    Sahabat, ingatlah jika dalam hidup terjadi penurunan dalam rasa percaya diri dan terjadi secara terus menerus, maka bisa membuat kehidupan seseorang berjalan di tempat atau stagnan atau burnout, tidak ada pergerakan yang mengarah pada kemajuan dalam kehidupannya.

    Kepercayaan diri merupakan sifat yang dimiliki oleh seseorang dengan rasa percaya dan yakin terhadap kemampuan yang di dalam dirinya. sehingga semua rencana dalam hidup bisa direncanakan dengan baik.

    Orang memiliki rasa percaya diri juga bisa dikatakan sebagai seseorang yang tahu tentang kemampuan dirinya dan bisa menggunakan kemampuannya untuk melakukan suatu hal. Orang yang percaya diri hanya mau mendengar perkataan orang lain yang berupa masukan yang bisa membuat dirinya menjadi lebih baik lagi.

    Dengan demikian, rasa percaya diri yang dimiliki oleh setiap orang mempunyai manfaat: Supaya bisa menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan. Kehidupan yang penuh dengan keyakinan akan dipenuhi juga dengan hal-hal yang positif dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

    Lalu apa yang dimaksud dengan percaya diri yang keliru?


    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hakim-Hakim dengan topik: “The False Confidence (Percaya Diri yang Keliru)”. Bacaan Sabda diambil dari Hakim-Hakim 7:1 – 8:3. Sahabat, percaya diri itu baik dan dibutuhkan. Namun, ketika itu didasari oleh kemampuan diri dan bukan oleh anugerah Tuhan, kita dapat jatuh pada kesombongan serta mengandalkan diri sendiri.

    Tuhan tidak ingin hal itu terjadi kepada Gideon dan pasukannya ketika berperang melawan Midian. Itulah sebabnya, Tuhan meminta Gideon agar mengurangi jumlah pasukannya. Pasukan yang semula berjumlah 32.000 orang,  lalu yang terakhir hanya tinggal 300 orang.

    Dengan jumlah pasukan sejumlah itu, orang Israel akan menyadari bahwa kemenangan mereka bukan karena kekuatan sendiri, tetapi karena kuasa Tuhan. Selain itu kemenangan mereka atas Midian membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Akhirnya, Israel kembali percaya dan berserah kepada-Nya.

    Sahabat, rasa percaya diri yang didasarkan pada kemampuan diri sangat berbahaya.  Sikap tersebut bisa membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan pertolongan Tuhan. Akibatnya, kita bisa jatuh ke dalam dosa kesombongan.

    Kita harus sadar dan mawas diri terhadap bahaya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Dalam hal apa kita merasa kuat? Apakah ada persoalan yang mampu kita atasi seorang diri tanpa membutuhkan pertolongan Tuhan? Jika ada, mari kita memohon agar Tuhan menolong dan menjauhkan kita dari dosa kesombongan. Mari kita senantiasa melibatkan serta mengandalkan Tuhan dalam setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil.

    Sahabat, ucapan syukur dan terima kasih atas setiap hikmat, keberanian, dan kemampuan yang Tuhan berikan harus kita naikkan. Mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah adalah penting. Biarlah pertolongan Tuhan tetap nyata dalam hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dengan percaya dan berserah penuh kepada Allah, kita dapat menghadapi berbagai tantangan dalam mengerjakan kehendak-Nya. (pg).