Category: Sejenak Merenung

  • Being A Brother in the Difficult Times

    SAHABAT SEJATI. Banyak persepsi tentang sahabat sejati, coba kita simak pernyataan Hellen Keller, seorang penulis yang buta dan tuli asal Amerika: “Berjalan dengan seorang sahabat di kegelapan lebih baik daripada berjalan sendirian dalam terang.”

    Dalam menjalani kehidupan ini, kita akan bertemu banyak orang. Kita akan bertemu teman-teman baru, saling bergaul, kemudian akrab dengan seseorang yang paling cocok dengan kita. Saat kita sudah menemukan teman yang paling sesuai dengan kita, maka kita menyebutnya sebagai sahabat sejati.

    Sahabat sejati adalah orang yang selalu bisa menerima kita apa adanya. Seseorang yang selalu mau menerima keluh kesah ketika kita ada masalah. Seseorang yang tidak pernah menjelekkan atau menceritakan aib sahabatnya kepada oang lain.

    Sahabat sejati adalah seseorang yang selalu memercayai kita, seseorang yang tidak akan pernah berkhianat dengan kita. Sahabat sejati adalah seorang yang selalu menasihati saat kita berbuat salah. Seorang yang selalu memberikan semangat dan dorongan saat kita terpuruk. Seorang yang ikut bahagia saat kita meraih keberhasilan, dan seorang yang  akan menangis saat kita mendapat musibah.

    Mendapatkan sahabat sejati yang selalu mengerti setiap keadaan kita, baik senang maupun susah merupakan anugerah Tuhan yang  indah dalam hidup.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Being A Brother in the Difficult Times (Menjadi Saudara di Masa Sulit)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 20:1-43 dengan penekanan pada ayat 42. Sahabat, salah satu kisah persahabatan yang paling indah dicatat dalam Alkitab adalah persahabatan Yonatan dan Daud.

    Dalam 1 Samuel 18:3 disebutkan Yonatan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri. Yonatan adalah putra mahkota kerajaan Israel, anak tertua raja Saul. Meskipun ada perbedaan status sosial yang sangat mencolok antara dia dan Daud yang hanyalah seorang gembala kambing dan domba. Dalam sebuah peristiwa ketika akan maju berperang Yonatan memberikan jubah yang dipakainya bersama baju perang, pedang, panah, dan ikat pinggang. 

    Padahal jubah dan perlengkapan perang adalah lambang kehormatan dan kedudukan. Yonatan bahkan sampai rela mempertaruhkan nyawanya demi Daud. Bagi Yonatan prinsip hidupnya sederhana,  ia rela berkorban demi sahabatnya.

    Sahabat, ujian terberat dalam persahabatan antara Yontan dan Daud adalah ketika Saul ayah Yonatan menyatakan sikap menjadikan Daud tidak hanya sebagai musuh pribadinya tetapi juga musuh negara. Saul berusaha melenyapkan Daud dari kehidupannya akibat kecemburuannya yang sangat besar terhadap keberhasilan Daud, selain itu juga untuk menjaga status dan kedudukannya dalam kerajaan. Saul melihat Daud sebagai ancaman bagi mahkotanya.

    Yonathan pasti berada di sisi yang sulit. Kalau ia memilih Daud maka ia akan dicap anak  durhaka, jika ia memilih berdiri di sisi ayahnya ia mengkhianati hati nuraninya sebagai seorang sahabat yang telah berjanji menjaga dan mengasihi sahabatnya.

    Sahabat,  Yonatan adalah seorang manusia yang memiliki komitmen tinggi kepada kebenaran. Ia memilih di sisi Daud bukan karena Daud sahabatnya tetapi karena Daud ada di pihak yang benar. Untuk itu tidak ada pilihan lain dia harus melawan, meskipun itu ayah kandungnya.

     Marilah kita belajar menjaga hati dan pikiran kita seperti Daud dan Yonatan. Daud tidak membenci Yonatan karena perbuatan ayahnya yang tidak adil, dan Yonatan tidak memihak Saul meski itu ayah kandungnya. Persahabatan sejati justru teruji melalui peristiwa-peristiwa besar, dan penuh pergumulan.  Benarlah apa yang dinyatakan oleh Pengamsal: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Sahabat Sejati?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sahabat sejati tidak memaksa engkau memercayainya, tetapi ia memastikan engkau memercayai Allah. (pg).

  • The Journey of Life

    TRAGEDI DAN KOMEDI. Sahabat, mana yang membuat kita tertawa, tragedi atau komedi? Semua orang, kecuali mereka para penikmat derita (masokis), hampir pasti akan memilih komedi. Tragedi dan komedi adalah dua tema besar yang dikotomi di atas kanvas kehidupan kita.

    Tragedi dan komedi adalah bentuk sastra yang paling tersebar luas dalam teater Yunani Kuno. Terdapat beberapa karya sastra dalam genre ini bahkan hingga saat ini, namun karya-karya yang ditulis oleh para penulis Yunani Kuno adalah yang paling berharga.

    Dari artikel di Kompasiana  saya mendapat informasi bahwa secara etimologis, tragedi berangkat dari kata Yunani tragoidia, terbagi dari kata tragos, artinya kambing dan aeidein yang berarti nyanyian. Menggambarkan nyanyian yang mengiringi nasib seekor kambing yang dikorbankan pada acara ritual dalam budaya Yunani kuno.

    Sedangkan komedi berasal dari bahasa Yunani komoida berarti suatu karya lucu yang semata bertujuan untuk menghibur dan menimbulkan tawa.

    Sastra Yunani mengenal yang namanya tragedi dan komedi. Tragedi artinya perjalanan hidup seseorang yang sedang merosot sampai ke titik nadir (paling rendah). Sedangkan dari komedi sebaliknya, perjalanan seseorang yang menanjak sampai ke puncak.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “The Journey of Life (Perjalanan Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 19:1-24. Sahabat, berbarengan dengan kisah hidup Saul yang merosot terus dalam berbagai aspek kehidupannya (tragedi), Daud dikisahkan sedang menanjak oleh anugerah Tuhan menuju posisi puncak, yaitu menjadi raja atas Israel (komedi).

    Saul telah terobsesi untuk membunuh Daud. Namun karena teguran Yonatan, putranya, Saul urung membunuh Daud. Bahkan sikapnya itu dikuatkan dengan suatu sumpah yang berat (Ayat 6). Ternyata sumpahnya hanya bertahan di bibir. Saat Daud kembali menang perang, kedengkian Saul terhadap Daud menggelora kembali. Mari kita sejenak kembali mengamati 1 Samuel 18, untuk menyingkirkan Daud, Saul menggunakan berbagai cara. Cara yang satu tidak berhasil (Ayat 9-10), cara lain digunakan (Ayat 11-17; 20-24).

    Sahabat, hidup Saul semakin merosot. Perhatiannya sekarang bukan pada bagaimana memerintah bangsanya, tetapi bagaimana membinasakan Daud. Di satu sisi, jelas kekalapan Saul merupakan akibat dari ketidaktundukannya pada kehendak Tuhan, dan sekaligus penghukuman Tuhan atas kedegilan hatinya. Namun di sisi lain, Saul sendiri menolak bertobat dari dosanya.

    Bagi Daud, perjalanan menuju puncak sepertinya masih harus melewati jalan yang landai. Berulang kali dalam pasal ini, dan masih akan terjadi di pasal-pasal berikut, ia harus melarikan diri dari rencana keji Saul untuk menyingkirkannya. Syukur kepada Tuhan, dalam salah satu pelariannya ia dapat berjumpa dengan Samuel.

    Samuel secara jabatan sebagai nabi sudah emeritus, tetapi hatinya tetap penuh kasih dan peduli. Penyertaan Samuel pada Daud pasti menguatkan Daud yang sedang galau.

    Sahabat, mungkin saat ini, dalam perjalanan hidup kita, ada diantara kita yang merasa galau seperti Daud. Ada sosok “Saul” yang membayangi kita. Ingat, kita tidak sendirian. Tuhan siap menyediakan “Samuel” untuk mendampingi dan menguatkan kita. Percayalah dan tetap bersandar kepada-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Usaha apa saja yang telah dilakukan Saul untuk membunuh Daud?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah menginginkan kita menjauhkan diri dari niat dan perbuatan jahat. (pg).

  • YAIRUS MELAWAN ARUS

    Saudaraku, orang tua yang menghadapi anak sakit parah bukanlah akan menempuh segala cara agar anaknya pulih kembali.  Gelisah, putus asa, merasa bersalah dan takut kehilangan, akan berkecamuk, sehingga bisa membuat mereka menjadi pribadi yang pemberani untuk mencari solusi.  Mari kita merenungkan Markus 5:21-24.

    Profesi Yairus menuntutnya selalu berada di sinagoge (rumah ibadat Yahudi) untuk memastikan semua kegiatan peribadatan berlangsung baik dan teratur.  Karena pekerjaannya, ia memiliki hubungan baik dengan para Imam, kaum Farisi dan bahkan para ahli Taurat. Ia terbiasa dengan suasana rohani dan situasi khusyuk saat berdoa.

    Namun anehnya saat menghadapi anaknya sekarat, Yairus  malah mencari Yesus yang saat itu banyak dibicarakan dengan nada negatif oleh para rohaniawan.  Yairus melihat Yesus sebagai jalan keluarnya, maka  itulah yang menyebabkan ia rela berdesakan dengan banyak orang yang mengerumuni Yesus dan bahkan berlutut di kaki-Nya di hadapan orang banyak itu. 

    Yairus benar-benar merasa putus asa karena tekanan pikiran gara-gara anaknya dan ia tahu bahwa satu-satunya yang bisa menolong adalah Yesus, walaupun  Yairus tahu bagaimana lingkungan sekitarnya bersikap. 

    Yairus melawan arus para rohaniawan yang menjadi rekan dan atasannya,  ia bahkan mempertaruhkan reputasinya dengan tanpa malu berlutut di kaki Yesus sebagai lambang penundukan dan sekaligus ekspresi keputus asaan Yairus sendiri.  Yairus tidak peduli dengan penilaian orang banyak yang pasti mengenali dirinya dan profesinya.  Baginya yang penting anaknya tertolong.  Ia bahkan rela menunduk dan memohon kepada Yesus, guru muda yang masuk dalam pengawasan para rohaniawan.  Ia bertaruh dengan pekerjaan dan masa depan keluarganya.  Yairus tidak peduli.

    Setiap manusia memiliki hal yang berharga dalam hidupnya, yang bila itu akan hilang maka akan diperjuangkan mati-matian bahkan ia rela untuk melawan orang di sekitarnya demi mempertahankan apa yang berharga. 

    Bagi setiap pengikut Kristus, tidak ada yang lebih berharga selain Kristus sendiri.  Alkitab mencatat para pejuang iman yang gigih dan rela untuk memberikan apapun demi tetap memegang Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Salah satunya adalah  Rasul Paulus yang rela melupakan masa lalunya  (Filipi3:13)  dan bahkan rela menanggung segala derita demi Kristus (2 Korintus 4:8-9 ;  11:23-28).

    Kisah pejuang iman akan terus dilanjutkan sampai saat ini.  Mungkin sekarang para pembacalah yang sedang menorehkan nama masing-masing di Buku Kehidupan sebagai pejuang iman.  Selama Kristus masih menjadi yang paling berharga, orang Kristen akan terus memperjuangkan imannya. 

    Di masa sekarang orang Kristen menghadapi tantangan yang berat dan kompleks.  Arus dunia sedang mengarah jauh dari Tuhan dengan kemunculan ajaran-ajaran yang menyimpang, kehidupan yang makin bebas, penyimpangan seksual yang terekspos dengan bebas, kekerasan yang menjadi info sehari-hari ataupun pertengkaran yang memecah belah gereja dan pekerjaan Tuhan. 

    Di zaman ini  orang yang benar-benar memegang Sang Kristus akan terus berjuang walau harus melawan arus.  Inilah zaman seleksi iman yang ketat,  maka jadilah pejuang iman yang bergantung pada Allah.  Jangan takut melawan arus selama engkau disertai Sang Kristus. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag).

  • DO NOT ENVY !!!

    DENGKI. Sahabat ada cukup banyak orang yang berpendapat bahwa dengki itu sama dengan iri atau dengki itu sinonim dari iri. Coba kita simak definisi dari dengki dan iri yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). DENGKI adalah  menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Sedangkan IRI adalah merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain (beruntung dan sebagainya).

    Maka dapat kita simpulkan bahwa iri adalah keinginan untuk menjadi sebaik orang lain, sedangkan  dengki adalah  keinginan untuk merampas apa yang dimiliki orang lain. Orang yang dengki tidak hanya kesal karena apa yang orang lain miliki atau capai tetapi juga ingin mengambilnya.

    Sesungguhnya rasa dengki bisa menjangkiti siapa saja, tidak soal betapa berkuasa dia, betapa kaya dia, betapa pandai dia, betapa sukses dia, dan betapa beken dia. Coba simak apa yang disampaikan oleh Bertrand Russell, seorang filsuf dari Inggris: ”Napoleon dengki terhadap Caesar, Caesar dengki terhadap Aleksander Agung, dan Aleksander, saya berani bilang, dengki terhadap Herkules, yang tidak pernah ada.”

    Sahabat, ternyata Napoleon Bonaparte, Julius Caesar, dan Aleksander Agung menjadi korban dari dengki. Meskipun  sangat berkuasa dan termasyhur, mereka memendam sifat yang dapat meracuni pikiran. Ketiganya menyimpan dengki di dalam hatinya.

    Sahabat, Pengamsal mengingatkan kita bahwa hati merupakan sumber kehidupan, dari dalam hati terpancar kehidupan (Amsal 4:23). Karena itu jangan izinkan dengki bercokol lama-lama di dalam diri kita. Dengki timbul dari hati yang sudah tercemar. Dengki adalah perasaan marah (tersinggung) melihat orang lain lebih hebat dari dirinya dan bila dengki  dibiarkan hidup di dalam hati kita akan beranak pinak tindakan-tindakan yang destruktif..

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Do Not Envy !!! (Jangan Dengki !!!)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 18:1-30 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, awalnya Raja Saul sangat terkesan dengan Daud setelah ia mengalahkan Goliat, pahlawan orang Filistin. Ia pun menunjuk Daud menjadi kepala prajurit dan menugaskannya memerangi musuh-musuh Israel, dan selalu menang. Ketika rakyat mulai menyanjung Daud melebihi Saul, sang raja merasa takhtanya terancam (Ayat  7-8).

    Sejak saat itu, Saul selalu MENDENGKI Daud. Artinya, ia selalu memandang Daud dengan mata yang cemburu dan hati yang iri. Hatinya dirasuki kejahatan, hingga ia berusaha membunuh Daud, berkali-kali. Karena upaya itu gagal, Saul mengangkat Daud menjadi kepala pasukan seribu, agar ia menjadi yang terdepan dalam segala gerakan tentara, agar ia terbunuh di medan perang. Tetapi penyertaan Tuhan membuat Daud selalu berhasil.

    Sahabat, Saul menghidupi dan memelihara sifat dengki  seumur hidupnya (Ayat 29-b). Hal itu merongrong jiwanya. Membuatnya jatuh dalam berbagai dosa hingga ia makin terpuruk. Sekalipun ia tahu bahwa Allah telah mengurapi Daud menggantikannya menjadi raja Israel, ia makin berusaha mempertahankan kekuasaannya. Akibatnya ia makin menderita. Benarlah kata Pengamsal: “… iri hati membusukkan tulang” (Amsal 14:30-b).

    Sesungguhnya sifat DENGKI muncul ketika kita tidak rela menerima kenyataan, serta karena tidak mensyukuri apa yang kita punya. Kita merasa terancam karena keberadaan orang lain, lalu kita merancang berbagai kejahatan. Tanpa sadar, kita sedang menghancurkan diri sendiri. Karena itu jangan menyimpan, apalagi memelihara DENGKI di dalam hati kita.  Jangan dengki !!! Berhentilah mendengki !!! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Menurut Sahabat, hal apa yang menyebabkan Saul menaruh dengki kepada Daud?

    Selamat sejenak merenung.  Simpan dalam-dalam di hati kita: Sifat dengki menyeret kita ke dalam kehancuran, sikap ikhlas menuntun kita memahami kehendak Tuhan. (pg).

  • Deadly Trivial

    PESIMIS. Sahabat, pesimis merupakan suatu sikap ketika seseorang memiliki pandangan negatif terhadap situasi atau peristiwa tertentu. Pesimis diidentikkan dengan sikap seseorang yang mudah menyerah, tidak percaya diri, dan sudah menyerah sebelum mencoba. Perasaan tersebut biasanya akan muncul ketika seseorang menghadapi berbagai tantangan di dalam hidupnya. Mereka terlalu takut sehingga bersikap negatif terhadap sesuatu yang akan terjadi.

    Pesimis adalah sikap yang ditunjukkan saat seseorang berpandangan negatif dan tidak memiliki harapan yang baik. Hal tersebut tidak termasuk ke dalam penyakit mental, tetapi sifat di mana seseorang memiliki pandangan hidup yang lebih negatif.

    Beberapa orang mungkin mengatakan sikap pesimis merupakan sikap yang lebih realistis. Seorang pesimis biasanya akan berpikir bahwa segala sesuatu tidak akan menciptakan hasil yang menyenangkan dan seringkali curiga ketika sesuatu tampak berjalan dengan baik.

    Sikap pesimis adalah kebalikan dari sikap optimis. Ketika seseorang memiliki sikap yang optimis, maka orang tersebut akan berpandangan positif dan mempunyai harapan yang baik di segala hal.

    Sikap optimis maupun pesimis yang kita tunjukkan ternyata akan berpengaruh terhadap kehidupan kita. Sikap diri yang selalu pesimis juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental serta fisik.

    Dilansir dari laman “Very Well Mind”, seseorang yang memiliki sikap pesimistis cenderung memiliki lebih sedikit dukungan sosial. Selain itu, mereka juga akan lebih mudah menyerah ketika menjalankan suatu hal sehingga hal tersebut tidak akan berjalan dengan baik.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Deadly Trivial (Hal Sepele yang Mematikan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 17:40-58. Sahabat, sikap pesimis sering kali terlihat sebagai  hal yang sepele tetapi sesungguhnya mematikan. Mengapa? Karena sikap pesimis itu ibarat orang yang kalah sebelum bertanding. Sikap pesimis lebih melihat dan mengandalkan kemampuan diri sendiri, mereka lupa bahwa ada Allah yang Mahakuasa yang beserta dengan kita. Mereka hidup karena melihat bukan karena percaya.


    Dalam pertarungan Daud dan Goliat, ungkapan spontan “Tidak mungkin …!” Muncul dari setiap mulut para tentara Filistin ketika melihat Daud yang muda. Orang Filistin meyakini kemenangan pasti ada di pihak mereka karena memiliki seorang prajurit tinggi dan besar, membawa lembing dan tombak (Ayat 45), berperisai dan berbaju perang (Ayat 41). Di pihak Israel, mereka hanya diwakili seorang anak muda (Ayat 42), dan belum pengalaman dalam peperangan, hanya bersenjata tongkat dan umban batu (Ayat 43). Karena itulah, Goliat menghina Daud (Ayat 41).

    Di sini kita melihat perbandingan yang tidak seimbang dalam postur tubuh, pengalaman perang, kelengkapan, dan kualitas senjata. Namun, Daud meletakkan kekuatannya bukan pada keahlian mengumban batu dan melumpuhkan binatang buas, tetapi kepada Allah Sang Pencipta dan Pemelihara semesta (Ayat 45-47).

    Umban batu, yang diremehkan dan ditertawakan Goliat dan banyak orang, membawa kemenangan besar bagi Daud dan Israel. Apa yang dihina Goliat menjadi kehinaan bagi dirinya sendiri. Ini menegaskan bahwa Allah, Sang Mahakuasa, telah menyatakan kebesaran-Nya melalui hal-hal kecil yang dianggap sepele oleh banyak orang. Hal yang kecil di tangan Allah telah menjadi perkara yang sangat besar dalam sejarah Israel. Daud dianggap kecil, tetapi mempunyai iman yang sangat besar kepada Allah. Allah dapat memakai yang tampaknya tidak mungkin menjadi mungkin.

    Sahabat, mari belajar dari Daud yang hidup karena PERCAYA bukan karena melihat. Fokus dan pandangan Daud bukan kepada Goliat, Sang Raksasa, tapi kepada Allah yang Mahakuasa yang menyertainya. Daud dengan optimis meju menghadapi  Goliat karena dia berpijak pada pengalamannya bersama Allah ketika dia menjalani hidup sebagai seorang gembala domba.

    Karena penyertaan Allah, kita menjalani hidup dengan optimis. Bersama dengan Allah  kita berani menghadapi masalah apa pun yang ada di depan kita. Inilah yang menjadi moto hidup kita: Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Selanjutnya, izinkan Allah yang mengerjakan perkara besar-Nya bagi kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 45?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kalau dulu Tuhan menolong Daud, sekarang pun kita percaya Tuhan pasti akan menolong kita, karena Dia adalah Tuhan yang tidak berubah! (pg).

  • Learn to See the Heart

    PENAMPILAN LUAR. Sahabat tentu masih ingat dengan satu ungkapan lama dalam bahasa Inggris: “Don’t judge a book by the cover”. Tapi naluri manusiawi kita berkata lain: Memandang seseorang yang berpakaian rapi, wangi, warnanya belum pudar, dan gaya yang tidak norak; tentu menjadi nilai plus tersendiri yang mampu memanjakan mata.

    Walaupun penampilan luar bukan segala-segalanya dan menjadi faktor penentu, bagaimanapun juga penampilan luar adalah hal pertama yang memberi kesan, berujung penilaian sementara terhadap orang lain. Terutama bagi orang yang baru ditemui atau memiliki peran penting.

    Lalu apa arti suatu penampilan luar? Penampilan luar (fisik) manusia adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penampilan luar manusia yang mudah diamati dan dinilai oleh manusia lain. Penampilan luar secara disadari atau tidak, dapat menimbulkan tanggapan tertentu dari orang lain. Sekalipun, dalam kenyataannya ada cukup  banyak ahli yang tidak setuju jika penilaian akan seseorang didasarkan pada penampilan luarnya saja.

    Saat ini, penampilan luar  yang menarik sudah dijadikan sebagai syarat tidak resmi di beberapa lapangan pekerjaan. Beberapa lapangan pekerjaan telah menuntut para pegawainya  untuk berpakaian dan berpenampilan baik dalam menerima konsumen. Peran dari penampilan luar adalah untuk memberikan  gambaran singkat akan diri orang tersebut.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Learn to See the Heart (Belajarlah Melihat Hati)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 16:1-13. Sahabat, kita cenderung menilai seseorang berdasarkan penampilan luar dan lupa melihat ketulusan hati orang tersebut.

    Samuel berduka karena Saul telah ditolak oleh Allah sebagai raja atas Israel (Ayat 1) dan ia pun takut dibunuh oleh Saul ketika Allah memintanya untuk mencari seorang raja baru di antara anak-anak Isai (Ayat 1, 2). Dalam kesedihan Samuel, Allah memberikan petunjuk: Apa yang harus ia lakukan (Ayat 2-3). Samuel dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan Allah.

    Sahabat, ia melakukan persembahan kurban untuk menguduskan serta mengundang Isai dan anak-anaknya datang ke upacara tersebut (Ayat 4-5). Ini merupakan awal proses pemilihan raja Israel yang baru di antara anak-anak Isai. Awalnya, Samuel berpikir Eliab, tetapi ternyata bukan. Kemudian tampil Abinadab, lalu Syama, sampai ketujuh anak Isai telah tampil di depan Samuel, namun semuanya bukan pilihan Allah (Ayat 6, 8, 9-10).

    Allah mengingatkan Samuel bahwa bukan yang dilihat manusia yang dilihat-Nya. ALLAH MELIHAT HATI, BUKAN PENAMPILAN LUAR (Ayat 7). Ternyata masih ada anak bungsu Isai yang belum dilihat Samuel. Si bungsu, Daud, bekerja sebagai gembala, ternyata yang dipilih Allah. Sejak itu, Roh Allah berkuasa di atasnya (Ayat 11-13).

    Samuel terkecoh oleh penampilan luar seseorang. Kita dapat mengelabui orang dengan sandiwara melalui penampilan luar kita,  Namun sesungguhnya, hal tersebut menjadikan kita sebagai orang munafik semata. Kita harus ingat bahwa tidak seorang pun yang dapat mengelabui Allah. Allah melihat sampai ke relung hati kita yang terdalam sehingga tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya.

    Sahabat, mari kita tidak menilai saudara seiman secara kasatmata. Kiranya pada saat kita menilai seseorang, kita perlu mencari tahu isi hati orang tersebut. Mari kita juga memohon hikmat Allah untuk dapat menilai orang lain sesuai dengan apa yang Allah nyatakan kepada kita sehingga tidak terjadi perbedaan dalam menilai. Belajarlah melihat hati. Belajarlah melihat lebih dalam! MELIHAT HATI. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang penampilan luar.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah melihat dan memilih orang yang akan dipakai menjadi alat-Nya bukan dari fisik tetapi dari hatinya. (pg).

  • UJUNG PENA PAULUS

    (Sebuah refleksi untuk senior,  Pdm. Paul Gunawan, yang hari ini, 29 September 2023, berulang tahun)

    Saudaraku, Paulus merupakan penulis yang produktif pada masanya.  Tulisannya berupa surat-surat tersebar untuk meretas jarak.  Dalam suratnyalah Paulus menyampaikan rasa hati, refleksi dan sikapnya terhadap permasalahan dalam jemaat atau orang yang dia kasihi. Mari kita merenungkan salah satu tulisan Paulus yang terakhir, 2 Timotius 4:6-8, sebuah surat yang ditujukan kepada Timotiius, anak rohani yang dikasihinya. 

    Paulus  memang tidak membuahkan karya berupa buku atau jurnal, namun ia menuangkan padangan teologi dan refleksinya lewat SURAT.   Surat-surat itu menjadi pegangan bagi jemaat dan pribadi yang dituju sebagai perwakilan kehadiran Paulus di situ.  Begitu pentingnya tulisan surat Paulus bagi jemaat dan pribadi yang bergumul dan menghadapi masalah. 

    UJUNG PENA Paulus berbicara, menyapa, menegur dan meluruskan jemaat yang sedang menghadapi masalah.  Ujung pena itu juga menyapa dengan mesra pribadi-pribadi yang dikenalnya dengan dekat (Timotius, Filemon)  dan bahkan memberikan nasihat yang dalam.

    Dari sekian banyak surat  Paulus, ada beberapa yang dituliskan saat Paulus dalam penjara yaitu surat Efesus, Kolose, Filipi dan Filemon. 

    Namun Surat 2 Timotius dituliskan justru saat Paulus berusaha mencari keadilan atas kasusnya dan mendapati bahwa perjuangannya akan gagal.  Ujung pena Paulus berbicara dalam berbagai situasi hidupnya: Saat ia sehat dan kuat, saat ia bergumul dengan sakit yang menyiksa dan bahkan saat dalam penjara. 

    Bahkan ketika hidup akan berakhir, ujung pena Paulus tetap berbicara meneguhkan Timotius dan mengingatkannya terhadap panggilan untuk melayani jemaat sampai akhir.  Paulus menyadari bahwa di sisa waktunya, ia harus memanfaatkan waktu dengan baik dengan terus menuliskan surat yaitu untuk menyatakan iman percayanya dan perjuangannya mengikut Kristus.

    Ujung pena Paulus dipakai Tuhan untuk meneguhkan banyak orang.  Melaluinya nama Tuhan dikenal oleh banyak orang dari generasi ke generasi.  Bahkan saat semua tempat tujuan surat itu sudah hancur, tulisan Paulus menjadi referensi untuk orang Kristen masa kini mengenal Kristus dengan lengkap. 

    Teologi Paulus melengkapi orang Kristen untuk merefleksi Kristus.  Ujung pena Paulus mengukir wajah kekristenan seperti yang kita kenal sekarang.

    Menulis bisa menjadi berkat manakala tulisan itu memperkenalkan Sang Kristus dan perbuatan ajaib-Nya bagi sang penulis.  Lewat tulisan, kisah perjuangan untuk tetap beriman kepada Allah menjadi hidup.  Bahkan saat genting kehidupan, seperti yang dituliskan Paulus dalam perenungan kita,  iman dihidupkan dengan tulisan. 

    Menulis bukan tugas sederhana. Menulis adalah penginjilan, penyebaran kabar baik.  Menuliskan tentang Kristus akan menghidupkan Kristus dalam pemikiran para pembacanya. 

    Mari bersyukur untuk tulisan Rasul Paulus dan mari temukan Kristus melalui tulisan anak-anak Tuhan yang diberi karunia untuk melakukannya. Teruslah gigih membaca karena ada Kristus dalam setiap ujung pena orang yang takut akan Allah. Selamat ulang tahun Pak Paul. Teruslah menulis. Tuhan memberkati. (Ag)

  • PERUMPAMAAN: JEMBATAN DAN PEMISAH

    Saudaraku, Yesus merupakan Guru yang populer.  Ia bagaikan magnet bagi pendengarnya karena pengajaran-Nya lebih berkuasa daripada ahli Taurat (Markus 1:22).  Injil Markus mencatat bahwa Yesus mengajar banyak hal dengan perumpamaan kepada masyarakat umum.  Mari kita merenungkan Markus 4:1-2.

    Mengajar dengan perumpamaan merupakan metode yang lazim dilakukan oleh beberapa guru Yahudi untuk mengajarkan hal-hal yang sulit atau abstrak.  Ada beberapa alasan mengapa Yesus menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan tentang Kerajaan Allah :

    1. Yesus ingin menjembatani konsep abstrak dengan realitas.

    Perumpamaan yang diambil Yesus berasal dari realitas keseharian masyarakat saat itu.  Markus 4 bebicara tentang Konsep Kerajaan Allah yang rumit tapi penting akan lebih mudah dipahami dengan menggunakan perumpamaan yang melaluinya segala yang tersembunyi akan dapat dipahami (Matius 13:35).

    • Merangsang kemampuan reflektif para murid seusai mendengarnya.

    Walaupun menjadi jembatan untuk menghubungkan para pendengar  dengan materi pengajaran, tidak semua orang paham dengan apa yang dimaksud.  Itulah sebabnya refleksi perumpamaan juga menjadi pemisah bagi mereka yang ingin memahami atau mereka yang mendengar dengan sambil lalu.  Para murid justru mencari Yesus untuk mendapat pencerahan lebih lanjut (Markus 4:12).

    Perumpamaan memang menjembatani namun juga memisahkan.  Ia menjembatani yang tersembunyi dan yang nyata, namun memisahkan pendengar yang reflektif dan tidak.  Mereka yang reflektif akan diperkaya dan menemukan MUTIARA FIRMAN  yang berharga, mereka yang tidak memikirkan lebih dalam hanya akan terpesona dengan CERITA  namun gagal menemukan MAKNA.   Perumpamaan membantu PENGAJAR  dan PEMBELAJAR  sehingga Kerajaan Allah dapat diperkenalkan, dipahami dan dihadirkan dalam realitas manusia. 

    Ada banyak pengajaran yang berlalu lalang di sekitar kita dan seringkali pengajaran itu terlalu sulit dipahami dan terasa terbang di awang-awang sehingga memisahkan prinsip Firman dengan kehidupan sehari-hari.  Ada juga pengajaran yang kelewat aplikatif sehingga bahkan dasar pijak Firman terlalu rapuh sehingga berpotensi menyimpang.  Penting untuk menjembatani konsep abstrak Firman dengan kehidupan sesehari, juga untuk mengajak jemaat  berpikir reflektif terhadap kebenaran Firman.  Dengan refleksi dan berdialog dengan Firman,  jemaat tidak hanya menikmati cerita perumpamaan itu namun juga memahami dengan sungguh-sungguh makna dan pesan Firman dibalik perumpamaan itu.  Kiranya Tuhan mengaruniakan hikmat kepada para pengajar untuk menemukan jembatan yang mempertemukan Sang Firman dengan para pendengarnya serta membuat pendengar mendapatkan Sang Firman dengan refleksi dan perenungannya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The Foolish Conscience

    HATI NURANI. Sahabat, dari Wikipedia saya mendapat informasi bahwa hati nurani adalah suatu proses kognitif yang menghasilkan perasaan dan pengaitan secara rasional berdasarkan pandangan moral atau sistem nilai seseorang. Hati nurani berbeda dengan emosi atau pikiran yang muncul akibat persepsi indrawi atau refleks secara langsung, seperti misalnya tanggapan sistem saraf simpatis.

    Dalam bahasa awam, hati nurani sering digambarkan sebagai sesuatu yang berujung pada perasaan menyesal ketika seseorang melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai moral mereka.

    Selanjutnya dari beberapa literatur saya mendapat informasi bahwa hati nurani atau suara hati berperan terutama saat kita mau mengambil sebuah keputusan. Ia dapat didefinisikan sebagai suatu kesadaran moral seseorang dalam situasi yang konkret. Artinya, dalam menghadapi berbagai peristiwa dalam hidup, ada semacam suara dalam hati kita untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan dan menuntut kita bagaimana merespons kejadian tersebut.

    Hati nurani yang baik, dapat menjadi kompas moral dan menuntun kita menjadi pribadi yang berperilaku positif. Sebagai umat beragama, hati nurani ini dipercayai menjadi tempat Tuhan mewahyukan diri secara hidup dalam hati kita. Jadi, hati nurani juga dapat dikatakan sebagai sebuah perasaan moral dalam manusia, yang dengannya dia memutuskan mana yang baik dan jahat, dan mana yang menyetujui atau menyalahkan perbuatannya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “The Foolish Conscience (Hati Nurani yang Bebal)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 15:1-35. Sahabat, kendati hati Saul memberontak kepada Tuhan, Tuhan masih berkenan kepada-Nya. Hukuman yang Tuhan jatuhkan adalah dinasti Saul tidak akan bertahan (1Samuel 12:14). Namun sejauh yang dicatat Alkitab, Saul tidak sedikit pun menunjukkan penyesalan. Ia terus mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama.

    Berbeda dengan Samuel yang hingga masa tuanya tetap hidup berintegritas sehingga bisa menjadi teladan bagi umat Israel, Saul tampaknya hanya mengandalkan jabatan dan kekuasaannya. Alih-alih menjadi pemimpin yang tegas bagi umat Israel agar sesuai kehendak Tuhan, Saul malah memilih menjadi pemimpin yang populis dan mengabaikan kehendak Tuhan demi disukai rakyatnya.

    Sahabat, dalam kehidupan sehari-hari kita juga seringkali dihadapkan pada pilihan untuk taat pada pimpinan Tuhan atau memilih keuntungan di depan mata. Jika Tuhan sudah mengubah hati kita, maka mengikuti tuntunan Tuhan akan menjadi sesuatu yang alami, bukan lagi pilihan.

    Bagi rakyat Israel, bacaan kita pada hari ini memaparkan dengan gamblang kondisi kerohanian mereka yang sesungguhnya. Kehidupan mereka telah menjadi hidup yang menomorsatukan keuntungan duniawi, sehingga tanpa berpikir panjang umat beramai-ramai mengabaikan perintah Tuhan dan menyimpan barang jarahan.

    Sahabat, kegagalan Saul menjalankan fungsinya sebagai raja yang seharusnya dengar-dengaran pada pimpinan Tuhan dan memimpin umat Tuhan untuk tetap taat kepada-Nya, telah menjadi sedemikian parah sehingga Tuhan menolaknya. Ketidakpekaan terhadap pimpinan Tuhan yang diteladankan oleh Saul telah merasuki sendi-sendi kehidupan umat Israel sehingga mereka tak lagi bisa mengenal apa yang benar dan apa yang salah.

    Samuel sebagai pemimpin yang hidup dekat Tuhan merasa sakit hati atas apa yang terjadi (Ayat 11). Sementara Saul, bahkan setelah ditolak oleh Tuhan, lebih mementingkan gengsinya di hadapan publik, alih-alih menunjukkan pertobatan yang sungguh (Ayat 30). Jika Tuhan menegur, baiklah kita peka. Jangan biarkan hati kita perlahan-lahan menjadi semakin kebal terhadap suara-Nya. Jangan sampai hati nurani kita menjadi bebal. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 22-24?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hendaknya kita menyadari bahwa kesombongan merupakan  dosa besar yang membuat telinga hati kita menjadi tuli sehingga tidak bisa mendengar suara Allah. (pg).


  • The Impulsive Saul

    IMPULSIF. Pagi itu saya dikejutkan oleh seorang teman dalam grup WA yang saya ikuti. Secara tiba-tiba dia menyatakan keluar dari grup WA tanpa sebuah alasan yang jelas, namun tiba-tiba dia juga ingin kembali bergabung dengan grup WA tersebut. Seorang psikiatri yang juga menjadi anggota grup WA tersebut berkomentar: “Dia mulai terkena sindrom Impulsif”

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti impulsif adalah bersifat cepat  bertindak secara tiba-tiba mengikuti  gerak hati.

    Impulsif adalah sebuah perilaku yang ditandai ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya dan dilakukan secara berulang-ulang. Biasanya seseorang dengan perilaku impulsif merasa perlu untuk melakukannya demi memperbaiki perasaannya meski hanya sementara.

    Perilaku impulsif bisa muncul karena seseorang tersebut memiliki tekanan atau ketegangan yang sudah lama dipendam sehingga ia perlu meluapkan dengan tindakan yang terbesit di dalam pikirannya. Namun, beberapa orang yang memiliki sifat impulsif ini juga merasa perasaan bersalah atau malu setelah melakukan tindakan yang mereka lakukan.

    Sifat impulsif ini juga bisa terjadi saat seseorang menggunakan uang. Beberapa orang menghabiskan uang tanpa berpikir panjang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Bahkan kadang mereka ingin berbelanja hanya karena penat atau stres sehingga mereka hanya ingin berbelanja untuk membuat perasaan mereka lega. Tidak jarang beberapa orang seperti itu kemudian akan berakhir dengan tunggakan hutang dan tagihan karena mereka tidak pernah memikirkan akibatnya  saat melakukan tindakan impulsif.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “The Impulsive Saul (Saul yang impulsif)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 14:24-52. Sahabat, dalam rentang yang singkat, bertubi-tubi kita disodori kisah Saul yang gegabah dan IMPULSIF.  Saul bukan lagi sosok yang ketika muda menjadi pengharapan umat dan yang merasa diri tidak layak di hadapan Tuhan. Kini Saul merasa diri seorang raja yang layak dan Tuhan hanya sebagai pelengkap yang sewaktu-waktu bisa dipakai atau diabaikan tergantung suasana.

    Sikap Saul yang merasa dirinya semakin penting ternyata membuat kelemahannya menjadi terpaparkan kepada publik. Di tengah pertempuran, dengan gegabah ia membuat sumpah konyol: Rakyat disuruh bersumpah untuk berpuasa justru ketika peperangan menuntut stamina dan kesegaran. Motifnya pun sangat pribadi: “… sebelum aku membalas dendam terhadap musuhku” (Ayat 24). Bukan kepentingan Tuhan dan apa yang Tuhan sukai yang menjadi kriteria berpikir Saul, melainkan dirinya sendiri yang menjadi tolok ukur dalam pengambilan keputusan.

    Sahabat, mulai ayat 36, sekali lagi Saul menunjukkan sikap IMPULSIFNYA hingga ia sampai perlu diingatkan untuk memohon perkenan Tuhan atas rencananya (Ayat 36). Ketika Tuhan tidak menjawab, segera pedang menjadi alternatif bagi Saul. Ia tak segan membuat keputusan untuk membunuh Yonatan karena janji yang dibuatnya secara gegabah tersebut (Ayat 44).

    Rakyat kemudian membela Yonatan dengan bersumpah kepada Tuhan untuk menganulir sumpah Saul sebelumnya yang mengawur (Ayat 39). Umat yang mengidam-idamkan seorang raja yang kuat untuk menjadi hakim atas diri mereka kini pada akhirnya harus mengintervensi sang raja dengan akal sehat mereka. Umat yang seharusnya dipimpin malah bisa melihat pimpinan dan kepentingan Tuhan dengan lebih jelas daripada raja yang seharusnya menjadi pemimpin mereka dalam mengenali dan menaati kehendak Tuhan.

    Sahabat, mari kita mendoakan para pemimpin kita, agar mereka menjalankan fungsi mereka dengan takut akan Tuhan, dan bukan dengan motivasi kepentingan diri. Kalau Sahabat saat ini menjadi seorang pemimpin, jadilah pemimpin yang dipandu oleh hikmat Tuhan, bukan mengandalkan impuls kedaginganmu. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan Apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 24?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tidak ada hal baik yang dihasilkan dari perkataan kita yang buruk. Karena itu dalam situasi yang tersulit sekalipun, belajarlah untuk mengendalikan hati dan perkataan kita. (pg).