Category: Sejenak Merenung

  • God Behind The Story

    KEBETULAN. Kata kebetulan adalah kata yang terkadang kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kata kebetulan sendiri menunjuk pada sesuatu yang tiba-tiba terjadi tanpa ada rencana di dalamnya. Namun, sebenarnya tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Alkitab tidak pernah mencatat peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Bahkan hidup kita sebenarnya sudah ditata oleh Tuhan dan masuk dalam rencana-Nya.

    Tidak ada yang kebetulan di dalam hidup ini, karena Allah berdaulat atas kehidupan manusia. Jika sesuatu terjadi, diluar keputusan dan pilihan kita, hal itu menunjukkan ada rencana dan tangan Tuhan di atasnya (Roma 8 : 28).  

    Kebetulan adalah realitas yang terjadi dan disadari, namun tidak disadari kedatanganya. Kebetulan bisa jadi bermakna dan tidak bermakna tergantung situasi apa yang terjadi pada individu. Kebetulan yang sejalan dengan harapan akan menumbuhkan energi positif bagi individu yang mengalaminya. Namun, apabila kebetulan itu tak sejalan bahkan bertentangan dengan harapan akan menjadi konflik bagi individu yang mengalami bahkan orang lain pun bisa terkena imbas dari energi negatif yang dihasilkan oleh individu tersebut.

    Karena kebetulan sebagai realitas yang tidak direncanakan, maka cukup banyak orang yang meyakini bahwasanya kebetulan merupakan jalan hidup yang telah digariskan oleh Tuhan dan akhirnya menentukan kehidupan selanjutnya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “God Behind the Story (Tuhan Dibalik Kisah)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 9:1-10:16 dengan penekanan pada 1 Samuel 9:15-16. Sahabat,  hidup itu misteri, tidak mudah ditebak. Namun satu hal yang pasti, Allah berkuasa memerintah dan menata segala sesuatu. Sesungguhnya tidak ada kebetulan dalam hidup ini karena Allah bekerja dalam segala sesuatu.

    Kisah Saul yang diurapi oleh Samuel memberitahukan bahwa hidup ini tidak kebetulan. Kisah, ayah Saul, kehilangan keledai-keledai betinanya. Ia kemudian menyuruh Saul mengajak seorang bujangnya untuk mencari keledai-keledai tersebut. Di tengah jalan, Si Bujang mempunyai ide untuk menanyakan kehilangan mereka itu kepada Samuel. Akhirnya, mereka bertemu dengan Samuel, lalu Samuel mengurapi Saul menjadi raja.

    Sahabat, sebelum mengurapi Saul, Samuel menceritakan petunjuk Allah tentang siapa yang harus ia urapi. 1 Samuel 9:15-18 jelas menunjukkan bahwa peristiwa kehilangan keledai dan kisah perintah kepada Saul untuk mencari keledainya bukanlah hal yang kebetulan. Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk menggenapi rencana-Nya, dan rencana Allah pasti mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya.

    Memang, kadang rencana Allah dapat tampak seolah kebetulan. Untuk menyadari dan mengetahui semua itu, dibutuhkan relasi yang dekat dengan-Nya dan kepekaan. Samuel selalu hidup dekat dengan Allah. Ia mempunyai kepekaan dan hikmat dalam mendengarkan suara-Nya. Sedari muda, Samuel sudah melatih telinganya untuk peka terhadap firman Allah. Allah senantiasa memberi petunjuk kepadanya.

    Sahabat, di tengah zaman yang penuh hiruk pikuk dan tantangan ini, kita diajak untuk peka terhadap apa yang terjadi. Allah ingin kita senantiasa berdialog dengan-Nya dan merenungkan: “Apa kehendak Allah atas segala peristiwa yang sedang  kita hadapi.” Satu hal yang pasti, dalam segala keadaan, Allah hendak mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya. Ia ingin menyatakan kasih-Nya bagi kita semua, baik melalui peristiwa yang baik maupun yang tampaknya menyakitkan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 1 Samuel 9:15-16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mengatur jalan hidup kita! Di balik perjumpaan kita dengan sesama, Ia sedang berkarya untuk mengubah hidup kita. (pg).

  • Trust is Like A Piece of Paper

    KEPERCAYAAN. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial. Kita butuh orang lain di dalam hidup kita untuk hidup kita. Di saat kita diberi kepercayaan oleh orang lain, kita pun harus percaya pada mereka. Kepercayaan harus dilandasi kejujuran. Ketika seseorang itu jujur, ia akan bisa dipercaya dan menjaga kepercayaan dari orang lain. Meski begitu, membangun kepercayaan satu sama lain tidaklah semudah yang dibicarakan dengan kata-kata. Itulah mengapa, menjaga kepercayaan bukan sekadar omong belaka, melainkan harus dibuktikan dengan tindakan nyata.

    Kepercayaan merupakan suatu amanat yang telah diberikan kepada kita, oleh karena itu kita harus bisa menjaganya dengan baik. Menjaga kepercayaan itu tidak mudah, karena sekali saja kita mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepada kita, maka selamanya kita tidak akan dipercaya lagi dan itu akan sangat sulit untuk mengembalikannya lagi. Untuk membangun kepercayaan itu lagi membutuhkan waktu yang sangat panjang, sebab suatu kepercayaan itu adalah modal yang paling utama dalam kehidupan kita.

    Jangan pernah memgkhianati kepercayaan yang telah diamanatkan kepada kita, yang terpenting kita harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap tugas yang dipercayakan kepada kita. Dengan kita bisa menjaga kepercayaan, akan membuat seseorang merasa nyaman dan tenang dalam kehidupannya. Menjaga kepercayaan itu sangat mahal dan tidak bisa dinilai harganya. Oleh karena itu supaya kita bisa dipercayai oleh orang lain, jangan sampai kita mengecewakannya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Trust is Like A Piece of Paper (Kepercayaan itu Ibarat Selembar Kertas)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 13:1-14 dengan penekanan pada ayat 13-14. Sahabat, menjaga kepercayaan itu susah. Ketika seseorang tak lagi dipercaya, maka ia bisa kehilangan segalanya. Sebuah hubungan yang baik hancur karena orang tidak lagi dipercaya; karir seseorang hancur karena kepercayaan yang dikhianati; sebuah janji indah pun bisa batal karena si penerima janji tak lagi bisa dipercaya.

    Tadinya Saul sangat dipercaya Tuhan. Tuhan pun berjanji akan mengokohkan kerajaannya jika ia setia. Tetapi sayang, ia berkhianat. Saul tidak sabar untuk menantikan kehadiran Samuel dan ia nekat mengambil alih tugas keimaman yang seharusnya tidak boleh dilakukannya.

    Pelanggaran demi pelanggaran terhadap perintah Tuhan dilakukannya demi ambisi diri. Teguran dari Tuhan pun diabaikannya. Saul sudah tidak lagi dipercaya Tuhan. Janji kokohnya kerajaan pun tidak terjadi karena Tuhan telah memilih orang lain untuk menggantikan posisinya. Kecerobohan tindakan Saul kiranya menjadi pengingat bagi kita.

    Sahabat, menjaga kepercayaan dari Tuhan itu tidaklah mudah. Seorang yang dipercaya Tuhan adalah seorang yang tetap tunduk dan setia melakukan kehendak Tuhan bagaimanapun situasinya. Pada akhirnya, situasilah yang akan menguji apakah kita mampu menjaga kepercayaan dari Tuhan itu.

    Ada saat di mana Tuhan akan membawa kita pada sebuah situasi yang begitu mencekam, mendesak, menakutkan, dan menuntut untuk diselesaikan dengan segera. Saat itulah hati kita diuji! Apakah kita akan tetap konsisten dan setia berjalan dalam kehendak Tuhan? Apakah kita tetap menantikan Tuhan di tengah situasi yang paling sulit? Apakah kita orang yang dapat dipercaya?   

    Kepercayaan itu ibarat selembar kertas. Sekali saja terkoyak dan kusut, ia tidak akan pernah kembali sempurna lagi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11-12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang punya komitmen takkan berubah sikap, bagaimanapun keadaannya! (pg).

  • Samuel is not An Angel

    MALAIKAT. Dari Alkitab Edisi Studi saya mendapat informasi bahwa kata malaikat seakar dengan kata Ibrani yang berarti UTUSAN. Dalam Alkitab, malaikat membawa pesan dari Allah kepada manusia. Malaikat menyampaikan pesan atau memberi perintah secara  langsung (Kejadian  16:7-12; Bilangan 22:22-35; Lukas 1:11-20, 26-38), ataupun lewat mimpi (Kejadian 31:10-13; Matius 1:20-21). Malaikat sering hadir dalam penglihatan. Mereka mengarahkan orang kepada penglihatan dan menafsirkan maknanya (Zakharia 1:7-17, 5:5-11; Kisah Para Rasul 10:3-23; Wahyu 10:1-11).

    Namun, malaikat lebih dari sekadar pembawa pesan. Mereka melaksanakan kehendak Allah dengan bertindak sebagai wakil Allah. Mereka melindungi umat Allah (Keluaran 14:19, 23:23; Mazmur 34:7; Daniel 6:22) atau menghukumnya ketika mereka berdosa kepada Allah (1 Samuel 24:11-17). Malaikat juga menghukum musuh umat Allah atau menghukum kuasa jahat lain (Keluaran 12:23, 29:30; Yesaya 37:36; Matius 13:49-50; Wahyu 14:14-20, 20:1-3). Malaikat datang melayani Yesus sesudah diuji oleh iblis di gurun (Matius 4:11). Sesudah Yesus wafat di salib dan dikuburkan, malaikat melepaskan Yesus dari kubur (Matius 28:2).

    Malaikat sering digambarkan dalam karya seni sebagai makhluk bersayap dan berjubah panjang. Namun, dalam Alkitab mereka menampakkan diri dalam berbagai wujud. Beberapa malaikat dalam Alkitab mempunyai nama. Daniel menyebutkan Gabriel (Daniel 9:21), yang juga menampakkan diri kepada Maria (Lukas 1:26-28), dan Mikhael, salah satu malaikat pelindung yang terkuat (Daniel 10:13). Mungkin Iblis tadinya merupakan bagian dari dewan malaikat (Ayub 1:6; Zakharia 3:1). Dalam masa Perjanjian Baru, malaikat kian dikenal sebagai makhluk rohani yang menolong Allah berperang melawan iblis, roh-roh jahat.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Samuel is not An Angel (Samuel Bukan Malaikat)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 12:1-25. Sahabat, hidup Samuel tidak sempurna. Dia manusia biasa seperti kita. Dia bukan malaikat. Seperti anak-anak Imam Eli yang jahat (1 Samuel 2:12-17, 29), anak-anak Samuel mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan (1 Samuel 8:3).

    Berbeda dengan Eli yang ditolak Tuhan (1 Samuel 2:30-36), Samuel tetap hidup berkenan kepada Tuhan. Ia menjaga hidupnya bersih di hadapan Tuhan dan umat, menjadi teladan (Ayat 4), pendoa syafaat, dan setia mengajar umat (Ayat 23-24).

    Sahabat, bacaan kita pada hari ini diawali dengan kesaksian umat atas kehidupan Samuel menjelang akhir masa pelayanannya, saat ia akan undur diri. Seumur hidupnya hingga saat itu Samuel terus hidup di bawah sorotan publik. Semua orang bisa melihat bagaimana Samuel menjalani hidup yang berintegritas.

    Walaupun Tuhan bisa memakai siapa saja, tetapi kehidupan Samuel yang bersih dan berintegritas memberikan keleluasaan baginya untuk menjadi pemimpin yang efektif bagi Tuhan. Kita menyaksikan bagaimana dengan singkat, gamblang, dan efektif, Samuel dapat menuturkan pengalaman hidup bangsa Israel dan menyodorkan kepada mereka kenyataan bahwa mereka telah berdosa kepada Tuhan. Tuhan pun menunjukkan kepada umat bahwa Ia berkenan kepada Samuel dengan memberikan tanda alam yang anomali (Ayat 18).

    Umat Israel masih memiliki kepekaan terhadap kebenaran firman Tuhan sehingga mereka mudah dinasihati oleh Samuel (Ayat 19). Tuhan juga berbelaskasihan kepada umat-Nya yang penuh kelemahan. Yang penting mereka sadar dosa, bertobat, dan mau menundukkan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Ayat 24). Samuel sendiri, walau secara formal sudah menyelesaikan pelayanannya, tetap peduli dan mendoakan mereka agar hidup sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan (Ayat 23).

    Sahabat, sebagaimana Samuel, diantara kita tidak ada yang sempurna. Kita manusia biasa, bukan malaikat. Banyak kelemahan kita yang bisa menjatuhkan kita atau merusak kesaksian kita akan Tuhan. Akan tetapi, anugerah dan penyertaan-Nya akan memampukan kita menjalani hidup berintegritas, sehingga kita pun dapat mengakhiri pelayanan kita dengan gemilang di hadapan Tuhan dan menjadi teladan bagi sesama. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Manusia tetaplah manusia. Sehebat bagaimanapun dia, ia tetaplah manusia yang punya kekurangan. Hanya Allahlah yang Empunya kesempurnaan. (pg).

  • Evidence of God’s Participation

    PENYERTAAN TUHAN. Selama kita menjalani hidup,   pasti tidak bisa lepas dari yang namanya pergumulan, musibah, kegagalan, kesulitan, dan sebagainya. Ketika hidup kita berjalan baik dan lancar, hampir pasti kita dapat merasakan arti penyertaan Tuhan. Namun, ketika keadaan sebaliknya,  kita mengalami pergumulan yang berat, mungkin dalam hati kita timbul tanda tanya besar:  “Mengapa Tuhan tidak menyertai saya???”

    Lalu apa arti penyertaan Tuhan bagi kita yang percaya kepada Yesus? Penyertaan Tuhan bukan berarti Tuhan menjaga kita sedemikian rupa sampai tidak ada satu pun masalah yang datang menghampiri kita. Ketika kita berjalan bersama dengan Yesus bukan berarti kita tidak akan mengalami kesulitan dan pergumulan hidup.

    Sesungguhnya arti penyertaan Tuhan adalah kita percaya Tuhan selalu ada bersama dengan kita, sekalipun harus melewati padang gurun, lautan, dan badai kehidupan. Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Karena itu, janganlah bersungut-sungut kalau kesulitan dan pergumulan datang dalam hidup. Janganlah menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan Tuhan. Tetaplah teguh dan mantap berjalan bersama Tuhan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel 11:1-15 dengan topik: “The Evident of God’s Participation (Bukti Penyertaan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 11:1-15. Sahabat, menciptakan persatuan dan kesatuan bukanlah hal yang mudah. Ada saja kelompok yang ragu, memusuhi dan secara frontal melawan. Untuk itu, dibutuhkan ketekunan untuk menyatakan kebenaran. Waktulah yang akan membuktikan.

    Sahabat, ketika Saul dinobatkan menjadi raja, ada kelompok yang meragukan bahkan memusuhinya (1 Samuel 10:27). Namun, selalu ada kesempatan yang diberikan Allah untuk menunjukkan bukti bahwa tidak ada yang perlu diragukan. Saat itu, daerah Yabesh-Gilead dikepung oleh orang-orang Amon. Orang Amon mengancam penduduk Yabesh-Gilead: Mata kanan mereka akan dicungkil. Ancaman tersebut mendatangkan rasa malu kepada segenap orang Israel.

    Mendengar hal tersebut, Saul yang dikuasai oleh Roh Allah mengajak segenap orang Israel untuk bersama-sama melawan Nahas dan orang-orang Amon. Ia berhasil menggerakkan orang-orang Israel untuk bersatu mengalahkan musuh.

    Kemenangan Saul tersebut membuat Samuel bermaksud untuk membunuh orang-orang yang tidak suka akan penobatan Saul. Namun, Saul mencegah hal itu. la mengajak semua orang untuk fokus kepada Allah yang telah menyelamatkan mereka. Akhirnya, Samuel bersama segenap umat Israel ke Gilgal untuk meneguhkan jabatan Saul sebagai raja. Mereka bersukaria atas semua hal itu.

    Sahabat, bukti itu perlu untuk mehapus  keraguan. Jika ada kesempatan untuk membuktikan kebenaran, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan tersebut. Seperti yang dialami oleh Saul, kita sadar bahwa hanya karena kuasa dan kekuatan Allah saja kebenaran itu terbukti.

    Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan hati agar dipenuhi oleh Roh Allah. Roh Allah akan menolong kita memanfaatkan kesempatan untuk menyatakan bukti, memampukan kita mengasihi, dan melakukan kebaikan kepada orang yang tidak senang dan melawan kita. Kisah Saul telah menunjukkan hal tersebut (Ayat 13). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang  penyertaan Tuhan selama ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan  selalu menyertai kita, memberikan penghiburan dan kekuatan untuk melewati semua pergumulan hidup. (pg).

  • SABAT YANG BERMANFAAT

    Saudaraku, pernahkah Yesus marah?  Mungkin kita hanya mengingat kemarahan Yesus saat membersihkan Bait Allah dari para penjual dan penukar uang yang menghisap rakyat yang akan menyampaikan korban.  Namun ternyata Injil Markus beberapa kali mencatat kemarahan dan sikap agresif Yesus.  Markus 3 :1-6 menceritakan kemarahan Yesus yang pertama.  Mari kita renungkan bersama.

    Ketentuan Sabat bagi orang Yahudi begitu mengikat dan dipatuhi.  Oleh karena Yesus pernah mengizinkan murid-muridNya memetik gandum pada hari Sabat (Markus 2 : 23-28), maka Yesus berada dalam pantauan khusus orang Farisi. Mereka menunggu sikap Yesus ketika ada seorang sakit yang meminta pertolongan. 

    Menurut Kitab Injil Menurut Orang-orang Ibrani, orang itu adalah seorang tukang batu yang tangan kanannya sakit karena suatu penyakit padahal tangan itu adalah sumber nafkahnya.  Karena Yesus melihat situasi Ini darurat dan berkaitan dengan kehidupan sebuah keluarga, maka Yesus mengambil TINDAKAN MENYEMBUHKAN.

    Itu bukan berarti Yesus sengaja melanggar Hukum Taurat karena ingin melawan para Farisi.  Sebagai seorang guru, Yesus tahu bahwa ada beberapa kondisi dimana Hukum Sabat tidak berlaku.  Misalnya:  menolong seorang perempuan yang melahirkan,  menolong seperlunya kepada orang sakit (yang tindakan pertolongannya tidak bisa ditunda), dan lain-lain. 

    Karena itu  Yesus menanyakan kepada orang Farisi apakah menolong orang yang sakit sebelah tangan itu adalah kasus khusus atau bukan.  Yesus memandang urgensi kasus orang itu untuk segera ditangani dengan mengambil dispensasi Hukum Sabat, namun orang Farisi tidak menangkap maksudnya.  Mereka fokus untuk mencari kesalahan Yesus.

    Sikap marah Yesus tertuju pada kekerasan hati mereka, yang diam-diam sudah menjatuhkan vonis kepada Yesus.  Mereka kaku dan lurus memegang Hukum Sabat sehingga mereka bagaikan juri yang menunggu dan melihat kesalahan Yesus dibandingkan dengan kebutuhan untuk menolong orang yang sangat membutuhkan pertolongan. 

    Mereka memilih diam karena ingin tahu apa yang akan Yesus lakukan untuk menentukan vonis mereka pada Yesus.  Mereka lebih peduli untuk menghakimi Yesus dibandingkan menolong orang yang mendesak butuh pertolongan itu.  Yesus sungguh marah dan geram karena sikap mereka (Markus 2 : 5).

    Ada banyak orang yang taat pada aturan termasuk doktrin namun pada akhirnya malah menjadi hakim bagi sesamanya.  Sebenarnya aturan dalam Firman Tuhan dituliskan agar manusia makin berperikemanusiaan dan doktrin bukan dibuat untuk memecah belah manusia. 

    Ketika seseorang mulai memakai aturan dan doktrin untuk menilai dan menjatuhkan vonis kepada orang lain dan tidak lagi mengedepankan sisi analisis masalah dan prioritas tindakan yang transformatif, maka bisa dikatakan bahwa orang itu mabuk agama.  Sungguh ironi kalau aturan yang seharusnya membuat pelaksananya menjadi penuh kasih seperti Allah, namun malah menjadi makin garang karena memakai aturan menjadi palu penentu vonis bagi sesamanya. 

    Mari belajar berhikmat dan menimba hikmat dari Sang Hikmat  senantiasa agar jebakan untuk meritualkan ajaran bisa diminimalisir.  Mari membuat Sabat menjadi manfaat bukan menjadi mudharat (yang menyakiti) bagi sesama. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • God is Working to Help Us

    EBEN-HAEZAR. Sahabat,  Eben-Haezer berasal dari bahasa Ibrani. Kata Eben artinya batu  dan kata Ezer artinya penolong.  Jadi secara harafiah Eben-Haezer dapat diartikan batu pertolongan.  Batu itu didirikan oleh Samuel bukan untuk mereka sembah, tapi sebagai batu peringatan kemenangan bangsa Israel atas bangsa Filistin dan juga untuk menegaskan bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber pertolongan dan kemenangan bagi mereka, bukan yang lain.  Tanpa Tuhan, bangsa Israel bukanlah siapa-siapa!

    Lalu apa  yang melatarbelakangi didirikannya batu peringatan tersebut?  Bangsa Israel telah  meninggalkan tabut Tuhan di Kiryat-Yearim selama  dua puluh tahun, padahal tabut itu merupakan  lambang penyertaan Tuhan.  Bukan hanya itu, mereka juga hidup menjauh dari Tuhan dan menyembah kepada Baal.  Akibatnya mereka mengalami kekalahan demi kekalahan dan menjadi bulan-bulanan bangsa lain, sungguh telah lenyap kemuliaan dari Israel.  (1 Samuel 4:21).  Bangsa Israel tidak lagi mengalami penyertaan Tuhan!  Melalui Samuel, bangsa Israel ditegur Tuhan dengan keras supaya mereka segera bertobat.  Untunglah mereka segera merespons teguran.  

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “God is  Working to Help Us (Tuhan Terus Bekerja Menolong Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 7:2-17 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, peletakan batu, Eben-Heazer merupakan sebuah momen untuk mengingat pertolongan Allah, dan sebagai ucapan syukur atas pertolongan Allah, juga untuk memuliakan Allah.

    Hal tersebut  sekaligus diharapkan menjadi momentum  bagi bangsa Israel untuk terus mengingat kebaikan Tuhan yang mereka  terima saat itu, sehingga mendorong mereka untuk terus memercayai Allah, yang hidup, yang dapat dipercayai dan diandalkan. Karena itulah merupakan momen yang pertama mereka merasakan kembali pertolongan Allah  setelah mereka bertobat.

    Sahabat, ungkapan: “Sampai di sini Tuhan telah menolong kita”, tidak berbicara tentang pertolongan Tuhan yang telah selesai, namun berbicara tentang:  Inilah pertolongan Tuhan, yang sudah dimulai dan akan berlanjut terus. 

    Apa yang  dilakukan Samuel seharusnya membantu kita untuk dapat memperhatikan “momen-momen” dalam hidup kita, saat-saat yang perlu kita ingat, saat Allah bekerja dengan dahsyat menolong kita.  

    Pengalaman hidup kita bercerita  bahwa  momen terbaik, yang pernah kita alami adalah ketika Tuhan  membuka  dosa kita dan membawa kita kepada pertobatan untuk menerima pengampunan-Nya.  Karena setiap teguran Tuhan, kita pahami sebagai bagian dari pembentukan Tuhan terhadap hidup kita.  Ada kelegaan yang luar biasa, ada rasa syukur yang tidak terhingga dan ada dorongan untuk menjadi orang yang lebih baik. Memercayai Firman-Nya dan ada kemauan yang kuat untuk melakukan Firman-Nya  setelah mengalami momen pemulihan.

    Itulah yang kita bayangkan juga terjadi pada bangsa Israel, ketika mereka mengalami kemenangan atas bangsa Filistin. Bukan sekadar kemenangan secara fisik (menang perang), tapi yang lebih penting mereka menang untuk memercayai Allah, dan untuk bersandar pada Allah, sekalipun ada kekuatan besar yang mengancam. 

    Sahabat, hidup kita sebagai komunitas orang percaya, perlu memiliki kepekaan untuk mengetahui momen-momen yang Tuhan berikan, untuk kita syukuri sebagai bagian dari pertolongan Tuhan dalam membentuk kita. Melihat setiap peristiwa dalam hidup kita, sebagai momen Tuhan membentuk kita, itu akan melahirkan rasa syukur dan perubahan hidup. 

    Karena itu, kita harus punya komitmen bahwa saat kita menikmati keberhasilan dalam pelayanan, dalam keluarga, dalam kesehatan,  dalam studi dan dalam pekerjaan,  maka ingatlah selalu bahwa Tuhan terus bekerja menolong kita. Eben-Haezer!!! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Eben-Haezer?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sebagai orang percaya kita diingatkan untuk tidak melupakan pertolongan Tuhan dalam hidup kita dan senantiasa hidup dalam ketaatan. (pg).

  • See Clearly and Be Wise

    TEOKRASI. Sahabat, Teokrasi berasal dari bahasa Yunani Theo yang berarti Tuhan dan cratein yang berarti pemerintahan. Secara sederhana, Teokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan oleh Tuhan. Secara epistemologi, Teokrasi adalah suatu sistem  pemerintahan yang dijalankan oleh seseorang dengan mengatasnamakan Tuhan.

    Dari beberapa literatur saya mendapat informasi bahwa Teokrasi merupakan sebuah sistem politik yang pada praktik menjalankan pemerintahannya berpegang pada kedaulatan Tuhan. Secara fundamental, Teokrasi memang dititikberatkan pada wakil Tuhan dan pemimpin umat.

    Namun pada zaman sekarang, Teokrasi yang murni sudah sangat jarang, atau bahkan tidak ada negara yang menerapkan sistem politik tersebut. Negara Kota Vatikan dan Republik Islam Iran memiliki sistem Teokrasi dengan jenis Teokrasinya masing-masing.

    Dalam Teokrasi, kedaulatan tertinggi bersifat mutlak dan suci karena kedaulatan tertinggi berada di tangan Tuhan dan pemimpinnya mengklaim dirinya mendapatkan kekuasaan dari Tuhan.

    Teokrasi muncul pertama kali di daratan Eropa pada abad pertengahan yang dipelopori oleh seorang Kaisar Romawi bernama Augustinus. Pada akhir abad keenam, Gereja Romawi mulai mengorganisasikan institusi kepausannya di bawah komando Paus Gregory I yang dikenal sebagai “the Great”. Dialah yang membangun awal  mula birokrasi kepausan (Papacy’s Power).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “See Clearly and Be Wise (Melihat Secara Jernih dan Jadilah Bijak)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 8:1-22 dengan penekanan pada ayat 7.  Sahabat, tetap melihat dengan mata jernih itu gampang-gampang susah. Gampang, ketika kita punya niat dan konsistensi. Susah, ketika niat dan upaya kita untuk konsisten digoyahkan oleh rintangan yang kita hadapi.

    Sahabat, seiring perjalanan waktu, Samuel menjadi tua. Ia digantikan oleh kedua anaknya, yakni Yoel dan Abia. Mereka menjadi hakim di Bersyeba. Namun sayang, keduanya tidak hidup seperti ayah mereka. Keduanya lebih senang mengejar laba, menerima suap, dan memutarbalikkan keadilan. Terhadap hal tersebut, bangsa Israel menjadi sangat kecewa. Oleh sebab itu, berkumpullah tua-tua Israel menghadap Samuel. Mereka meminta Samuel mengangkat raja atas mereka (Ayat 5).

    Permintaan tersebut sangat mengesalkan hati Samuel (Ayat 6). Ia kemudian berdoa kepada Allah untuk meminta petunjuk. Setelah itu, Samuel memberi pertimbangan-pertimbangan kepada bangsa Israel seandainya mereka mempunyai seorang raja (Ayat 10-18). Situasi akan sangat berbeda dibanding jika mereka tetap hanya mempunyai hakim. Namun, mereka tetap mendesak Samuel untuk mengangkat raja atas mereka. Mereka menjadi TIDAK BISA BERPIKIR JERNIH  LAGI hanya karena persoalan kelakukan buruk hakim baru pengganti Samuel.

    Mestinya, mereka berpikir tentang MENGGANTI ORANGNYA,  bukan mengganti STRUKTUR atau SISTEM PEMERINTAHAN yang ada. Sistem yang sebenarnya sudah baik karena dalam sistem tersebut tidak ada orang yang dituankan dan tidak ada orang yang dijadikan hamba. Semua sama di hadapan Allah. Kedudukan hakim hanyalah wakil Allah untuk membimbing umat hidup dalam jalan-Nya.

    Sahabat, belajar dari kisah tersebut, marilah kita berhati-hati terhadap persoalan yang sedang kita hadapi. Kalut dan kusutnya persoalan dapat mengaburkan jernihnya kebenaran. Jangan sampai persoalan tersebut membuat kita gelap mata dan tidak bisa melihat segala sesuatunya secara jernih! Tetaplah tenang, lihatlah segala sesuatu secara jernih dan jadilah bijaksana! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jaminan hidup sejati bukan datang dari manusia, tapi datang dari Tuhan. (pg).

  • Choose Life

    GENGSI. Sahabat, saya sangat setuju dengan ungkapan: “Gengsi itu tidak membuat kita menjadi kaya, tapi akan membuat kita menderita dan merana.

    Kehidupan manusia memang banyak sekali dinamikanya, ada yang butuh pengakuan agar status sosialnya diakui oleh khalayak. Apalagi menyangkut status sosial yang menjadi sebuah tolok ukur kehidupan di masyarakat. Memang tidak dapat dimungkiri dengan semakin merebaknya gaya hidup yang  kekinian,  setiap orang semakin membutuhkan eksistensi dalam hidupnya sehingga banyak orang yang ingin disanjung dan bahkan merasa bahwa saya lebih dari yang lain.

    Gengsi, sebuah kata yang menjadi ciri kesuksesan, keberhasilan, dan bahkan sebuah gaya hidup yang dimiliki sebagian orang untuk eksistensi dirinya. Tak ayal, banyak yang mengedepankan gengsi semata, tetapi ternyata di sisi lain malah hidupnya merana. Hidup bagai cangkang yang ingin terlihat bagus, tetapi isinya malah tidak sebagus cangkangnya.

    Sahabat, pernahkah kita menyadari  bahwa hidup menjaga gengsi akan membuat kita menderita dan merana? Maka hiduplah sesuai dengan kemampuan diri. Jika kita terus  hidup demi gengsi untuk sebuah status sosial, tetapi kita tidak berkemampuan secara finansial, maka percayalah sikap tersebut akan membuat kita semakin tertekan, mempunyai banyak masalah, tidak tenang, dan menderita. Mencapai sesuatu yang tak bisa kita capai karena tidak mampu merupakan hal yang sangat berat. Tidak hanya itu, percayalah menabung kebohongan yang setiap hari kita lakukan akan menjadi beban hidup yang tak akan pernah usai. Jadi, mari kita menikmati hidup dengan cara  hidup sesuai dengan batas kemampuan kita masing-masing.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Choose Life (Pilihlah Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 6:1-7:1. Sahabat, ada peribahasa lama berbunyi: “Besar pasak daripada tiang.” Peribahasa tersebut hendak  menggambarkan orang yang pengeluarannya lebih besar daripada pemasukannya. Bisa saja hal itu terjadi karena pendapatannya tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, sangat mungkin juga hal itu terjadi karena keinginan untuk memuaskan rasa bangga diri (gengsi) yang sangat besar.

    Orang itu merasa gengsi jika rumah, pakaian, kendaraan, atau barang lainnya kurang mewah jika dibandingkan dengan barang tetangga atau temannya. Segala macam cara dilakukannya supaya tidak kalah dibanding orang lain. Menjalani hidup semacam itu sama halnya dengan tidak hidup. Orang itu hanya mengejar gengsi dan tidak menikmati hidupnya.

    Sahabat, Raja-raja orang Filistin boleh berbangga diri karena mengalahkan orang Israel, bahkan berhasil merebut tabut Tuhan. Namun, mereka kemudian ditimpa kemalangan karena tulah dari Tuhan. Akhirnya mereka harus memilih: Kebanggaan atau hidup mereka. Berdasarkan nasihat yang bijaksana, mereka kemudian memilih hidup. Tak masalah kebanggaan mereka berkurang karena harus mengembalikan tabut Tuhan, asalkan hidup mereka kembali bisa dinikmati.

    Dalam hidup pribadi, bergereja, berbangsa, kadang kita juga harus memilih antara hidup dan kebanggaan diri. Pilihlah hidup agar karunia Tuhan ini bisa sungguh-sungguh dinikmati dalam segala kepenuhannya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat yang peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang gengsi?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:  Anugerah dan perjanjian menuntut hidup umat serasi dengan Allah. Baik serasi dalam pengenalan maupun dalam tindakan. (pg).
     

  • BERAWAL DARI AJAKAN

    Saudaraku, tiap orang yang membaca Injil pasti akan mengenal nama Matius, penulis Injil urutan pertama dalam Alkitab.  Tulisan Matius rapi, urut dan enak dibaca karena ia adalah saksi dari pelayanan Yesus.  Siapa Matius? Mari kita merenungkan Markus 2:13-17.

    Lewi alias Matius sedang bekerja ketika Yesus mengajaknya: Ikutlah Aku!  Bagi seorang pemungut cukai sepertinya, ajakan untuk menjadi murid dari seorang yang guru muda seperti Yesus sungguh istimewa.  Profesi dan kebiasaan Lewi membuatnya terasing dari bangsanya sendiri karena :

    1. Pemungut cukai dikenal tega kepada bangsa sendiri.  Mereka suka memungut pajak dengan jumlah lebih banyak daripada yang diharuskan sehingga golongan pemungut cukai dikenal sebagai golongan yang korup dan rakus.  Seorang penulis Yunani mengatakan bahwa pemungut cukai segolongan dengan kaum pezinah, para perayu, para penjilat dan para calo.  Sehina itulah nilai profesi ini.
    • Lewi bekerja pada Raja Herodes Antipas, yang merupakan keturunan orang Edom, musuh bebuyutan orang Israel.  Dengan kondisi ini maka Lewi dianggap antek musuh. Walaupun profesi ini memberikan harta yang melimpah keluarga, namun Lewi menyadari bahwa ia disingkirkan. 

    Oleh karena itu ajakan Yesus kepada orang seperti Lewi, bagaikan air yang menyiram tanah yang kering kerontang.  Lewi merespons cepat ajakan Yesus dan segera meninggalkan dunianya :   Pekerjaan, komunitas, karir dan jaminan hidupnya lalu mengikut Yesus. 

    Respons itu menujukkan penghormatan kepada Yesus sekaligus menunjukkan kegelisahan hati Lewi dengan hidupnya sendiri.  Panggilan Yesus membuat Lewi melihat masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan hidupnya saat itu.  Memang secara finansial jauh berbeda, namun Lewi menemukan jalan hidup yang lebih baik.

    Lewi alias Matius memperkenalkan Kristus lewat tulisannya.  Jutaan orang turun temurun membaca kesaksiannya, menikmati karyanya dan masuk dalam anugerah keselamatan.  Allah memakai Matius untuk mewartakan Injil dengan apa yang dia miliki.  Dialah penulis Injil Matius.

    Panggilan Allah mengubah hidup manusia, dari pecundang menjadi pemenang kehidupan.  Maka mereka yang sudah dimenangkan seharusnya juga merangkul mereka yang masih tersingkir karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang mau menjadi pecundang terus menerus. 

    Mari ikuti semangat transformasi Yesus yang mengatakan Ia datang untuk memanggil orang berdosa supaya bertobat (Markus 2:17).  Bila berharap perubahan dalam lingkungan, mulailah dengan menerima mereka yang dianggap pecundang.  Bukan untuk memaklumi sisi pecundang mereka, namun mengajak mereka datang kepada Kristus.  Percayalah seorang pecundang yang menemukan Kristus dan dimenangkan, ia akan menjadi berkat untuk sesamanya.  Seperti Matius.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag).

  • Let There Be No Amulets Between Us

    JIMAT. Pertama, kata jimat berasal dari bahasa Portugis: Fetitico, dan berasal dari kata latin: Factitius yang berarti sesuatu yang berhubungan dengan magis atau sesuatu yang ada pengaruh dan efeknya. Jimat juga digunakan untuk memberikan kekebalan dan perlindungan, kekuatan dengan tujuan mempertahankan kekuasaan dan hidup agar disegani manusia dan aman dari gangguan iblis. 

    Kedua, kata jimat berasal dari bahasa Arab Adzimat artinya yang dimuliakan. Jimat adalah suatu benda atau sejenisnya yang disakralkan oleh pembuatnya atau pemakainya. Jimat ada yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, batu, air yang mengkristal, hewan, manusia dan bahkan lainnya yang sengaja dibuat oleh manusia atau tercipta oleh proses alam bahkan ada juga dari alam gaib dan perhiasan yang disebut amulet ini biasa dipakai dalam praktik okultisme.   

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Let There Be No Amulets Between Us (Jangan Ada Jimat Diantara Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 4:1-22. Sahabat, kekalahan Israel terjadi karena mereka berdosa terhadap Tuhan. Para pemimpin mereka telah melecehkan Tuhan dengan menajiskan ritual kurban di rumah Tuhan. Mereka memang kemudian menyadari bahwa kekalahan mereka disebabkan Tuhan tidak menyertai mereka (Ayat 2-3).

    Mereka berpikir jika tabut perjanjian Allah dibawa ke medan perang, pasti Allah akan memenangkan mereka (Ayat 3). Sesungguhnya dengan mengusung Tabut Perjanjian ke medan perang, mereka sudah merendahkan lambang kehadiran Allah itu. Mereka menyamakan Tabut Perjanjian dengan berhala bangsa bangsa sekitar mereka yang biasa diusung untuk ikut berperang. Bangsa tadi memang percaya bahwa saat mereka berperang, dewa mereka pun ikut berperang melawan dewa musuh. Kalau dewa mereka menang perang, berarti mereka pun akan menang.

    Sahabat, dari perspektif teologi Perjanjian Lama, hal pemberian kemenangan bagi Israel dalam peperangan bersangkut paut dengan kedaulatan dan kekudusan Allah sendiri, serta ketaatan umat. Kekalahan adalah hukuman Tuhan. Kekalahan Israel yang dahsyat menjadi bukti ketidakberkenanan Allah (Ayat 10-11). Melalui peristiwa itu pula firman Tuhan mengenai penghukuman terhadap Eli dan keluarganya digenapi (ayat 11-22). Istri Pinehas memberikan kesimpulan yang tepat: Dengan berbuat demikian, justru Israel kehilangan kemuliaan (Ayat 21- 22).

    Kita perlu terus mengingat bahwa Allah tidak dapat diatur-atur, apalagi dipermainkan. Menurut laporan yang disampaikan oleh seorang prajurit yang selamat dari pertempuran kepada Imam Eli: “Orang Israel melarikan diri…, kekalahan yang besar telah diderita…, kedua anakmu Hofni dan Pinehas, telah tewas, dan tabut Allah sudah dirampas” (Ayat 17). Tepat sekali  kalau kekalahan Israel terjadi karena Ikabod (Telah lenyap kemuliaan Allah dari Israel)

    Apa yang dilakukan Israel mirip dengan apa yang sering dilakukan orang percaya masa kini. Kadang klaim akan janji Tuhan berubah menjadi pemerasan terhadap Allah: Kita menjebak Allah dengan menaruh janji firman tertentu untuk menghadapi masalah kita. Kita anggap Allah pasti tidak mau dipermalukan karena janji-Nya tidak digenapi. Padahal, upaya jebak-paksa rohani ini sering berakar dari salah pengertian kita tentang janji atau firman tersebut. Seharusnya orang percaya selalu ingat bahwa Allah tidak bisa dipaksa.

    Di lingkungan komunitas orang percaya masa kini masih ada kepercayaan-kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap berkuasa. Masih ada orang percaya yang melakukan penyembahan berhala, masih mempunyai pegangan jimat, dan percaya takhayul. Ada bentuk takhayul yang sepertinya sangat rohani misalnya percaya adanya kuasa di dalam benda yang digunakannya, seperti Alkitab,  hiasan salib, kalung salib, serta roti dan anggur Perjamuan Kudus.

    Sahabat, jangan menjadikan benda-benda tersebut dan “aksesori Kristen” lainnya sebagai jimat. Benda benda tersebut tidak ada apa-apanya, atau bahkan kalau itu diilahikan kita sudah melanggar Hukum Kedua. Jangan ada jimat diantara kita. Wujudkan hidup kudus dimana segenap dosa cepat diselesaikan. Itu merupakan hidup yang berkenan kepada Tuhan sehingga tidak ada halangan Tuhan menyertai perjalanan hidup dan mencurahkan berkat-Nya atas kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang jimat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa kehadiran dan penyertaan Tuhan, hidup kita takkan berarti apa-apa. (pg).