Category: Sejenak Merenung

  • Far Away from God’s Grace

    TITIK NADIR. Sahabat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nadir adalah  titik yang paling rendah dari bulatan cakrawala (bola langit) yang terletak tepat di bawah kaki pengamat.

    Sedangkan titik nadir kehidupan  ialah  kondisi terendah dalam kehidupan seseorang. Kondisi yang banyak orang tak menginginkannya. Titik nadir dalam kehidupan adalah saat-saat yang paling sulit atau terendah dalam kehidupan seseorang. Hal itu bisa terjadi karena berbagai alasan seperti kehilangan orang yang dicintai, kegagalan dalam karir, masalah keuangan, masalah kesehatan, depresi, dan lain-lain.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Far Away from God’s Grace (Jauh dari Kasih Karunia Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 28:1-25 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Tuhan menyediakan berkat dan pemulihan bagi anak-anak-Nya, dan secara terperinci berkat-berkat itu bisa kita baca dalam Ulangan 28:1-14, dan yang paling banyak diingat dan dipegang oleh orang percaya yaitu:  “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, …”  (Ulangan 28:13). 

    Cukup banyak orang percaya yang mengklaim janji Tuhan ini tanpa memperhatikan lebih dahulu kelanjutan dari ayat tersebut:  “… apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (Ulangan 28:13-14). 

    Saul merupakan salah satu contoh orang yang justru menglami kemunduran atau kemerosotan atau penurunan dalam hidupnya sampai titik nadir.  Kisah Saul dalam bacaan kita pada hari ini  sungguh-sungguh menyedihkan. Ia sungguh-sungguh menyangkali imannya. Kepercayaannya yang paling mendasar kepada Tuhan telah ditinggalkan.

    Apa yang menjadi salah satu larangan penting dari Taurat (Ulangan 18:9-14), yang Saul sendiri pada masa permulaan pemerintahannya menaatinya (Ayat 3), telah dilanggarnya sendiri. Percaya pada peramal berarti percaya kepada roh-roh lain di luar Tuhan. Hal itu sama saja dengan menduakan Tuhan, alias menyembah berhala. Ketaatan Saul benar-benar telah memudar.

    Sahabat, itulah yang terjadi pada Saul. Dalam keadaan kepepet oleh pasukan Filistin, Saul berusaha mencari petunjuk dari Tuhan. Ketika Tuhan tak kunjung menjawab, ia pun nekat mencari pemanggil arwah agar dapat memberi jawaban atas pergumulannya (Ayat 7). Ternyata di Israel masih ada orang dengan profesi semacam itu, yang jelas-jelas bertentangan dengan Taurat Tuhan. Tidak heran, rajanya sendiri pun kemudian terjebak pada dosa tersebut.

    Apakah yang muncul benar-benar roh Samuel atau roh “Samuel”, itu merupakan isu kontroversial dalam dunia penafsiran Alkitab. Kalau benar itu roh Samuel, maka itu merupakan kasus khusus yang Tuhan izinkan untuk meneguhkan penghukuman-Nya atas Saul karena jawaban roh Samuel jelas sekali (Ayat 16-19). Kalau itu bukan roh Samuel, maka jelas roh jahat berperan dibalik sang pemanggil arwah untuk menipu Saul. Isi jawaban yang senada dengan berita penghukuman Allah melalui Samuel pada masa lalu tidak perlu diartikan bahwa roh jahat memiliki pengetahuan Ilahi, tetapi bahwa roh jahat akan memakai apa saja untuk menjerat orang semakin jauh dari Tuhan dan terpuruk sampai titik nadir.

    Sahabat, kita sudah mengikuti perjalanan iman Saul dari permulaan, dan mendapatkan bahwa saat Saul tidak bersedia dikoreksi oleh Tuhan. Ia semakin jauh dari kasih karunia Tuhan. Puncaknya, ia menyangkali Tuhan dengan mencari pertolongan dari yang bukan Tuhan. Sayang sekali teguran Tuhan sama sekali tidak direspons dengan bertobat dan mau belajar menaati kehendak-Nya. Semoga kita belajar dari kisah Saul ini untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang titik nadir kehidupan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita sabar menantikan jawaban dari Tuhan dan jangan mengambil jalan pintas dengan mencari pertolongan kepada allah-allah yang lain. (pg).

  • Break the Worry Shackles

    KEKHAWATIRAN DAN KECEMASAN. Sahabat, ada cukup banyak orang sering menggunakan istilah kekhawatiran untuk menunjuk kondisi kecemasan dan begitu juga sebaliknya. Kekhawatiran sering dianggap sinonim dari  kecemasan. Namun, dari beberapa literatur yang saya baca, sesungguhnya kekhawatiran  dan kecemasan itu tidak sama, selain itu kekahwatiran dan kecemasan   memberikan dampak yang berbeda terhadap emosi dan kesehatan psikologis kita.

    Kekhawatiran  berbicara tentang segi kognitif atau berpikir tentang masalah atau ketakutan yang menyebabkan rasa takut itu. Khawatir adalah berpikir tentang hal-hal di depan yang menciptakan perasaan cemas. Khawatir merupakan proses berpikir. Berpikir hal-hal yang membangunkan ketakutan dan akan mencuri sukacita kita.

    Sedangkan kecemasan merupakan antisipasi terhadap ancaman-ancaman ke depan ditandai dengan kegelisahan mendalam. Misalnya, apakah kemarau kering di Indonesia benar-benar akan berakhir pada awal November 2023? Ketika kecemasan membelenggu kita,  dia akan mencuri damai kita.

    Kekhawatiran memicu pengidapnya untuk menyelesaikan masalah, sedangkan kecemasan tidak. Kekhawatiran dapat membuat kita berpikir untuk mencari solusi dan strategi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan kecemasan, ibarat roda hamster yang hanya membuat kita berputar-putar tanpa membawa ke solusi yang produktif. Hal ini karena sifat kecemasan yang meluas membuat seseorang yang mengalaminya menjadi lemah dan tidak bisa mencari penyelesaian masalah.

    Rasa khawatir menyebabkan tekanan emosional ringan, sedangkan kecemasan memberi tekanan emosional yang parah. Kecemasan merupakan kondisi psikologis yang jauh lebih kuat daripada kekhawatiran. Itulah sebabnya kecemasan dapat lebih mengganggu dan menimbulkan masalah pada pengidapnya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Break the Worry Shackles (Patahkan Belenggu Kekhawatiran)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 27:1-12 dengan penekanan pada ayat 1-2. Sahabat, Alkitab mencatat bahwa sejak Daud mampu mengalahkan Goliat timbullah kebencian dan iri hati dalam diri Saul terhadapnya.  Berbagai upaya dilakukan Saul untuk dapat menghabisi nyawa Daud, tapi selalu berujung pada kegagalan. 

    Sebaliknya Daud punya kesempatan sebanyak 2 kali untuk membunuh Saul, tapi tak dilakukannya,  sehingga  berkatalah Saul kepada Daud,  “Diberkatilah kiranya engkau, anakku Daud. Apa jua pun yang kauperbuat, pastilah engkau sanggup melakukannya.” Lalu pergilah Daud meneruskan perjalanannya dan pulanglah Saul ke tempatnya.  (1 Samuel 26:25).

    Daud sangat percaya bahwa Tuhan tak pernah melepaskan tangan-Nya untuk selalu menopang hidupnya, dan Ia berkuasa untuk melepaskannya dari tangan Saul.  Namun ayat 1  mengindikasikan bahwa Daud sedang mengalami keruntuhan iman sehingga kekhawatiran membayangi langkahnya.  Ia pun memutuskan untuk lari ke negeri orang Filistin. 

    Sahabat, Daud terus membayangkan hal-hal yang buruk itu akan terjadi.  Akibatnya Daud lupa akan kedahsyatan kuasa Tuhan yang berulangkali sanggup melepaskannya dari rancangan-rancangan jahat manusia dan juga melepaskannya dari binatang buas, saat ia masih menggembalakan kambing domba. 

    Demikian pula dalam hidup ini, seringkali kita mengkhawatirkan sesuatu yang buruk terjadi.  Kita membiarkan hati dan pikiran kita dibelenggu oleh kekhawatiran yang sedemikian menyiksa.

    Ahli kejiwaan meneliti dan mendeskripsikan tetang kekhawatiran:  40% kekhawatiran manusia adalah mengenai hal-hal yang tidak terjadi, 30% mengenai hal yang sudah terjadi, 12% mengenai kesehatan, dan 10% mengenai keresahan sehari-hari.  Jadi 92% kekhawatiran kita sesungguhnya tidak berdasar pada alasan yang kuat. 

    Sahabat, kekhawatiran itu ibarat kursi goyang yang tidak akan membawa kita ke mana-mana dan tidak akan mengubah keadaan kita.  Belenggu kekhawatiran itulah yang membawa Daud kehilangan akal sehatnya dengan mencari pertolongan ke negeri orang Filistin. Karena itu kita perlu mematahkan belenggu kekhawatiran yang melilit kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan Apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang sahabat pahami tentang kekhawatiran?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari belajar untuk tidak mengulang kesalahan Daud. Kita belajar memercayakan diri sepenuhnya  kepada
    pemeliharaan Tuhan. (pg).

  • Vengeance is God’s Right

    BALAS DENDAM. Sahabat, dendam yang membara sulit dipadamkan. Dendam itu akan terus-menerus menuntut korban. Pada sekitar tahun 1970-an gedung-gedung bioskop di Indonesia didominasi oleh film-film Kung Fu (Silat) yang diproduksi oleh perusahan perfilman dari Hongkong. Pada umumnya film-film pada waktu itu banyak bertemakan balas dendam. Bahkan dikisahkan, acapkali pembalasan yang dilakukan melebihi hal yang telah dialami sebelumnya.

    Balas dendam terjadi sejak awal kehidupan manusia, dan terus berlanjut sampai saat ini dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Ada kecenderungan orang tidak akan merasa puas kalau belum melakukan pembalasan. Bahkan, orang seakan mendapat kepuasan ketika pihak lawan lebih menderita. Mungkin itulah juga penyebab terjadinya main hakim sendiri.

    Sesungguhnya pembalasan bukanlah hak kita, melainkan haknya Tuhan. Bagi orang yang menaruh dendam atau niat pembalasan terhadap orang lain, di dalam hatinya tidak ada hal-hal yang positif, melainkan hanya rancangan-rancangan jahat. 

    Sahabat, persoalan balas dendam, tidak  diajarkan dalam Alkitab. Pengalaman hidup saya bercerita bahwa sejak saya masih mengikuti Sekolah Minggu, kemudian di Komisi Pemuda, dan kini sudah termasuk kelompok senior, gereja tempat saya berjemaat, justru mengajarkan supaya kita mengasihi musuh, mendoakan musuh, membalas kejahatan dengan kebaikan, dan sangat menekankan cinta damai dan pantang kekerasan.  

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Vengeance is God’s Right (Pembalasan itu Hak Tuhan). Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 24:2-23 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, berbagai upaya dilakukan Saul untuk menghancurkan, dan bahkan membunuh Daud, karena itu ia terus mengejar Daud ke mana pun ia pergi.  Hidup Daud menjadi tidak tenang karena Saul.  Ketika mendengar kabar bahwa Daud berada di padang gurun En-Gedi, segeralah Saul mengajak tiga ribu orang pilihannya untuk mencari keberadaan Daud.

    Setelah sampai di tujuan, Saul masuk ke gua hendak membuang hajat, sedangkan Daud dan anak buahnya duduk tepat di belakang gua itu.  Berkatalah orang-orang itu kepada Daud:  “Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.”  (Ayat 5).  Itu adalah kesempatan emas bagi Daud untuk melampiaskan dendamnya atas kejahatan yang Saul perbuat.  Tapi apa yang diperbuat Daud? Daud bangun, lalu memotong punca (ujung) jubah Saul dengan diam-diam Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul  (Ayat 5b-6).

    Sahabat, sekalipun beroleh kesempatan membalaskan dendamnya, Daud tidak melakukannya.  Sebaliknya ia mengizinkan hatinya dikuasai oleh kasih Tuhan.  Daud melarang anak buahnya untuk menyerang Saul, malah kemudian melepaskan dia pergi:  “TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau; seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau.”  (Ayat 13-14). 

    Ribuan tahun kemudian,  “Anak Daud”, yaitu Kristus, juga mengambil keputusan yang sama.  Sekalipun memiliki kuasa, Kristus tidak menggunakan kuasa itu sehingga membiarkan dirinya ditangkap, disalib, dan dipermalukan di atas kayu salib itu demi menggenapi rencana Bapa untuk keselamatan manusia.  Anak Daud berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”  (Lukas 23:34).Kristus justru memohonkan pengampunan atas perbuatan jahat mereka.

    Sahabat, sebagai orang percayakita  dituntut untuk meneladani Kristus:  Kita tidak boleh melakukan pembalasan terhadap orang yang berbuat jahat, melainkan mengasihi dan mengampuni! Pembalasan itu hak Tuhan.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19-20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hatimu: Dalam relasi dengan sesama, terutama mereka yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi kita, jangan biarkan diri kita dikendalikan oleh sikap mereka, sehingga kita tak dapat menyatakan kasih. (pg).

  • Respect the Anointed Ones

    DIURAPI. Sahabat, dari “Got Question” saya mendapat informasi bahwa pengurapan berasal dari kebiasaan para gembala. Kutu dan serangga lainnya sering masuk ke dalam bulu domba. Ketika sampai ke dekat kepala domba, kutu dan serangga ini bisa masuk ke dalam liang telinga sehingga membunuh domba tersebut. Jadi, gembala-gembala di zaman dulu menuangkan minyak di atas kepala domba. Hal tersebut membuat bulu domba menjadi licin, sehingga mustahil bagi serangga untuk mendekati telinga domba. Dari kebiasaan inilah, urapan menjadi simbol dari berkat, perlindungan, dan pengesahan.

    Kata Yunani yang dipakai di Perjanjian Baru untuk “mengurapi” adalah chrio, yang berarti untuk mengolesi memakai minyak dengan maksud untuk menahbiskan ke dalam satu jabatan pelayanan.Selain itu juga dipakai kata aleipho, yang berarti untuk mengurapi. Pada zaman itu, orang diurapi dengan minyak untuk menyatakan berkat Allah atau mengesahkan panggilan hidup orang tersebut (Keluaran 29:7; Keluaran 40:9; 2 Raja-Raja 9:6; Pengkhotbah 9:8; dan Yakobus 5:14).

    Sahabat, seseorang diurapi untuk tujuan tertentu: Untuk menjadi raja, untuk menjadi seorang nabi, untuk membangun sesuatu, dan lain-lain. Tidak ada yang salah dengan praktik mengurapi seseorang dengan minyak pada hari ini. Kita hanya perlu memastikan bahwa tujuan pengurapannya itu alkitabiah. Minyak urapan jangan dilihat sebagai  ramuan ajaib. Minyak itu sendiri tidak memiliki kekuatan apa pun. Hanya Tuhan yang bisa mengurapi seseorang untuk tujuan tertentu. Jika kita menggunakan minyak, itu seharusnya hanya menjadi simbol dari apa yang Tuhan lakukan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel  dengan topik: “Respect the Anointed Ones (Menghormati Orang yang Diurapi)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 26:1-25 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, menghormati pemimpin merupakan sikap terpuji. Tentu tidak semua pemimpin melakukan kebaikan. Tindakan penghormatan dilakukan karena kita percaya bahwa Tuhanlah yang menghadirkan pemimpin. Menghormati pemimpin adalah tanda menghormati Tuhan.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, Daud kembali menunjukkan penghormatan kepada Saul,  sekalipun Saul memperlakukannya sebagai buronan. Daud memiliki kesempatan untuk membalas tindakan jahat Saul. Saat itu, Saul bersama dengan pasukannya tengah beristirahat. Agaknya kelelahan hebat membuat mereka terlelap (Ayat 7). Sebuah kesempatan tepat untuk bertindak menghentikan langkah Saul yang selalu hendak membunuh Daud. Abisai berinisiatif untuk menghabisi Saul (Ayat 8). Daud menolak dengan alasan karena Saul adalah orang yang diurapi Tuhan (Ayat 9).

    Sababat, bagi Daud, Tuhan sendiri yang akan bertindak menghentikan Saul. Daud menyuruh Abisai mengambil tombak dan kendi minuman Saul. Dengan tombak dan kendi di tangan, Daud mempertanyakan alasan Saul memburunya. Jika memang Tuhan yang memerintahkan hal itu, Daud akan datang dan bertobat. Jika manusia yang menyuruhnya, Daud mendoakan agar orang itu dikutuk Tuhan (Ayat 19). Pernyataan Daud membuat Saul menyesal. Saul berjanji akan menghentikan tindakannya (Ayat 21). Daud pun mengembalikan tongkat dan kendi Saul.

    Daud memercayai bahwa pemimpin datang dari Tuhan. Jika pemimpin melakukan hal yang buruk, Tuhan yang akan bertindak. Keyakinan Daud ini membuatnya menghargai Saul sekalipun sikap Saul terhadapnya buruk dan menyakitkan.

    Sahabat, di tengah kehidupan yang cenderung tidak menghargai pemimpin, kita diingatkan untuk menaruh hormat kepada pemimpin. Sikap hormat bukan berarti asal bapak senang. Kritik tetap boleh dilakukan asal semuanya disampaikan dengan sikap hormat. Tuhan telah mengizinkan keberadaan sosok tertentu sebagai pemimpin dalam hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mempunyai cara dan waktu sendri untuk menolong kita. Bersabarlah! (pg).

  • DEKAT TAPI GAGAL PAHAM

    Saudaraku, kedekatan hubungan dengan seseorang tidak menjamin mereka saling memahami.  Seringkali kesalah pahaman terjadi karena gagal fokus dan gagal paham terhadap apa yang diinginkan satu sama lain.  Murid Yesus yang 24 jam bersama-Nya pun pernah mengalami gagal paham itu.  Mari kita merenungkan Markus 8:14-21.

    Para murid merasa tersindir ketika Yesus menyebut kata ragi.  Mereka pikir Yesus menegur mereka karena persediaan logistik yang kurang, padahal Yesus sedang membicarakan tentang “ragi” atau pengaruh jelek.  Istilah ragi memang seringkali menjadi kiasan oleh para guru Yahudi untuk mengatakan tentang pengaruh buruk seseorang pada orang lain.  Namun anehnya saat Yesus memakai istilah itu untuk menjadi pengajaran dan menunjukkan sikap-Nya pada kejadian yang baru saja terjadi (Markus  8:11-13), para murid malah menanggapinya dengan cara yang berbeda.  Mereka malah merasa tersindir karena berpikir bahwa Yesus memakai istilah ragi untuk menyinggung soal kurangnya logistik akibat kealpaan mereka.  sama sekali tidak nyambung.  Namun dari hal itu dapat direnungkan beberapa hal menarik yaitu :

    1. Perbedaan fokus pemikiran

    Para murid gagal melihat apa yang menjadi fokus pengajaran Yesus.  Mereka lebih memikirkan tentang fisik dan tidak siap ketika Yesus membicarakan hal yang lebih berat dan lebih serius yaitu pengaruh ajaran Farisi dan sikap Herodes terhadap pemikiran mereka, yaitu minta tanda dengan penuh prasangka.   

    • Kegagalan memercayai Yesus

    Para murid menjadi saksi dan bahkan membantu Yesus ketika Ia membuat mukjizat memberi makan ribuan orang, namun kejadian itu tidak membuat mereka memercayai Yesus sepenuhnya sehingga masih merasa tersindir ketika Yesus bicara tentang ragi.  Mereka masih berpikir Yesus menegur mereka karena lalai membawa roti dan takut kelaparan.  Mereka lupa bahwa Sang Guru bisa membuat mukjizat penggandaan roti sehingga Ia tidak perlu khawatir soal itu.  Murid Yesus memiliki kadar iman yang mirip dengan Farisi: Masih belum memercayai Yesus.

    Dekat dengan seseorang bukan berarti memahami apa yang ada dalam pemikiran orang itu.  Menjalani sebuah peristiwa bersama dengan seseorang bukan berarti  memiliki sudut pandang yang sama tentang peristiwa itu.  Inilah yang terjadi dalam hubungan Yesus dan murid-murid-Nya.  Entah seperti apa raut wajah Yesus ketika melihat kegagalpahaman para murid-Nya saat itu, maka tidak heran kalau Ia mengatakan mereka degil (gagal paham).  

    Beberapa orang dengan yakin mengatakan mereka dekat dengan Tuhan karena Tuhan selalu menjawab semua doanya dan ia sudah melakukan semua kewajiban agama, pelayanan aktif di gereja, membawa banyak jiwa untuk Tuhan namun ternyata gagal paham dengan keinginan-Nya.  Dekat dengan Allah seharusnya diiringi dengan pemahaman terhadap apa yang Allah inginkan, yaitu melakukan apa yang dikehendaki-Nya. 

    Sungguh ironi bila apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 7:21-22 benar-benar terjadi, orang yang merasa sudah melakukan banyak hal justru ditolak oleh-Nya.  Hal itu dikarenakan ukuran kedekatan menurut Yesus adalah memahami dan melakukan kehendak-Nya.  Yesus sendiri mengatakan bahwa tujuan hidup-Nya di dunia adalah melakukan kehendak Bapa-Nya (Yohanes 4:34). 

    Oleh karena itu sangat penting bagi setiap orang percaya untuk memeriksa diri tiap saat dan bertanya: Sudahkah saya memahami dan melakukan kehendak-Nya?  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

    manusia yang serius menjalani kehidupan agama maka ia disebut orang saleh karena melaksanakan semua aturan dalam agama itu.  Tentunya ini baik  namun bila mereka gagal menyeimbangkan diri maka yang terjadi adalah keterasingan dengan lingkungan sosialnya dan bahkan penghakiman kepada sesama.  Seumur hidupNya, Yesus benar-benar mengecam sikap seperti ini.   Mari renungkan Markus 7:1-13.

    Protes keras para Farisi dan ahli Taurat terhadap beberapa murid Yesus yang dianggap melanggar adat istiadat membuatNya tergerak untuk menyatakan pendapat.  Bukan karena Ia mau membela ‘kesalahan’ muridNya sendiri namun Yesus lebih ingin membuka mata para orang saleh itu tentang diri mereka sendiri.   Yesus mengecam :

    1. Kemunafikan dan egosentris bermodus agama.

    Yesus mengerti motivasi para Farisi dan ahli Taurat dalam melaksanakan Hukum.  Mereka ingin penghargaan dan merasa layak untuk ‘menghakimi’  orang lain.    Mereka juga memakai aturan adat istiadat yang berlandaskan Taurat  untuk menghindari kewajiban yang harus dilakukan sehingga terjadi pengabaian terhadap apa yang penting dan malah menekankan apa yang hanya ‘produk sampingan’ Taurat.  Fokus mereka bukan lagi Tuhan namun nama baik mereka.

    • Pengkultusan aturan dan individu

    Yesus menyayangkan sudut pandang Ahli Taurat dan orang Farisi yang  cenderung untuk lebih menghargai aturan hasil pengembangan manusia (walaupun mereka adalah para rabi yang dihormati) yang Yesus sebut dengan adat istiadat dibandingkan dengan Hukum Taurat yang diberikan Allah.  Adat istiadat lebih diperjuangkan dan bahkan dikultuskan daripada Hukum itu sendiri.

    Yesus sama sekali tidak menentang pelaksanaan adat istiadat karena Yesus juga melaksanakannya dalam keseharianNya.  Namun semikian Yesus  menginginkan semua itu dilaksanakan dengan wajar dan tidak menggantikan posisi Allah.  Yesus menginginkan adat istiadat dilaksanakan  sesuai dosisnya dan tidak membuat adat menjadi tuhan bagi mereka dan menjadi alat untuk menghakimi sesamanya. Yesus mengingatkan bahwa mengikuti aturan harus sampai ke hati, bukan hanya dilaksanakan secara lahiriah saja.  Saleh di luar namun  salah di hati.

    Saudaraku, jebakan kemunafikan dan pengkultusan aturan / dogma masih berlaku hingga sekarang.  Merasa bahwa sudah melaksanakan aturan dengan baik dan akhirnya mulai layak menilai sesama, namun ternyata Allah tidak mudah dibujuk dengan sikap  lahiriah karena Allah melihat hati manusia (1 Samuel 16:7).  Oleh karena itu kecaman Yesus menjadi peringatan untuk setiap orang percaya belajar mewaspadai pengkultusan aturan dan pengkultusan diri sendiri karena Yesus menginginkan integritas (keutuhan/ kelengkapan) dalam melaksanakan aturan yang tidak hanya dilakukan secara lahiriah namun dilaksanakan sampai ke dalam hati dan membuat manusia memanusiakan sesamanya.  Mari belajar untuk tulus sehingga aturan / dogma menjadi jembatan manusia mengenal Sang Kristus dan mengangkat sesamanya, bukan memisahkan atau menghancurkan hubungan antar manusia.  Aturan yang dibuat berdasarkan Firman Allah seharusnya membawa kebaikan bagi manusia.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Abigail Heroism

    MENJADI BIJAKSANA. Sahabat, orang yang bijaksana adalah mereka yang selalu berpikir dengan tenang dalam menghadapi segala permasalahan dan memiliki pandangan yang luas dalam menjalani hidup. Sikap bijaksana adalah sikap yang tepat dalam menyikapi setiap keadaan dan peristiwa sehingga memancarlah keadilan, serta kerendahan   dan kebeningan hati.

    Sering kita berpikir bahwa kebijaksanaan hanya bisa diperoleh orang yang sudah dewasa dan memiliki pengalaman hidup yang banyak, yang sudah banyak makan asam garam.  Namun, banyak fakta menunjukkan bahwa tidak semua orang dewasa merupakan orang yang bijaksana. Hal tersebut membuktikan bahwa pengalaman dan usia bukan jaminan seseorang menjadi bijaksana.

    Lalu, bagaimana untuk menumbuhkan kebijaksanaan? Pengamsal  memberi tiga langkah. Pertama, bersahabatlah dengan orang-orang yang bijaksana (Amsal 3:1). Kita bisa menimba pengetahuan dan pengalaman mereka. Kedua, jangan menganggap diri lebih pandai dan hebat daripada orang lain (Amsal 3:7). Prinsip ini terkait erat dengan prinsip pertama. Orang yang sombong pasti tidak mau mendengar dan menerima nasihat orang lain. Ketiga, milikilah keyakinan yang kuat pada kasih setia Tuhan atas kita (Amsal 3:3). Hal tersebut penting karena sering kali kita harus mengambil keputusan penting dalam situasi yang genting. Bila kita tidak percaya pada pemeliharaan Tuhan yang sempurna maka kita mudah dilanda kepanikan. Kita akan sulit mengambil keputusan yang bijaksana bila kita sedang panik.

    Sekali lagi, kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang sekejap ada dalam diri kita saat kita dilahirkan baru. Kita harus terus melatih dan mengembangkan kebijaksanaan. Mari kita mulai dengan mengambil keputusan yang bijaksana dalam perkara-perkara yang kecil sehingga kita lebih siap mengambil keputusan yang bijaksana dalam perkara-perkara yang lebih besar (Lukas 16:10).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar kitab 1 Samuel dengan topik: “Abigail Heroism (Kepahlawanan Abigail)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 25:2-44. Sahabat, secara sederhana, terdapat dua sikap manusia: Sikap bodoh dan sikap bijaksana. Sikap bodoh itu hanya berpikir pendek. Sikap bijak dapat melihat jauh ke depan, memperhitungkan segala sesuatu dan memilih yang terbaik. Orang bijaksana akan mampu meraih masa depan yang lebih baik.

    Nabal dan Abigail adalah sepasang suami istri yang kaya. Keduanya memiliki sikap hidup yang berbeda. Nabal disebutkan kasar dan jahat, sedangkan, Abigail bijaksana dan cantik (Ayat 3). Daud yang hidup dalam pelarian, membutuhkan dukungan bahan pangan. Ia meminta Nabal untuk memberikan dukungan (ayat 8). Salah satu alasan Daud bertindak demikian adalah selama ini domba milik Nabal dilindungi oleh para prajuritnya. Nabal menolak. Malahan, ia merendahkan Daud dengan mempertanyakan siapakah Daud (Ayat 10). Tindakan Nabal dimaknai oleh Daud  sebagai penghinaan (Ayat 14).

    Hal itu mengesalkan hati Daud. Daud memutuskan untuk membalas (Ayat 13). Tindakan Daud didengar oleh Abigail. Segera Abigail menyiapkan berbagai bahan makanan untuk diberikan kepada Daud (Ayat 18). Setelah berjumpa, ia bersujud di hadapan Daud dan meminta pengampunan (Ayat 24). Tindakan Abigail mengundang pujian dari Daud. Daud bahkan menyebut Abigail telah menolongnya untuk tidak menumpahkan darah orang tidak berdosa (Ayat 34).

    Sementara itu, Nabal hidup bersenang-senang dalam kemabukan. Ia seolah tidak peduli pada apa pun, termasuk masa depan (Ayat36). Nabal tewas terkena serangan jantung (Ayat 37). Setelah kematian Nabal, Daud mengingat kebijakan Abigail. Lalu, ia mempersunting Abigail menjadi istriya (Ayat 39).

    Sikap bijaksana Abigail membuahkan berkat. Ia tidak hanya selamat dari rencana serangan Daud, ia dipersunting Daud menjadi istrinya. Cara bijaksana membawa Abigail pada kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya itu, kepahlawanan Abigail menyelamat banyak nyawa. Kepahlawanan Abigail telah menolong Daud untuk tidak bertindak membabi buta yang mengakibatkan pertumpahan darah.

    Sahabat, kita dituntut untuk bijaksana dalam merespons ragam peristiwa kehidupan. Menjadi bijaksana  membuat kita mampu menyongsong masa depan gemilang yang Allah telah sediakan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 32-33?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kebijaksanaan adalah ketrampilan yang harus selalu diasah. (pg).

  • KECAMAN YESUS

    Saudaraku, manusia yang serius menjalani kehidupan beragama maka ia disebut orang saleh karena melaksanakan semua aturan dalam agama itu.  Tentunya hal itu baik,  namun bila mereka gagal menyeimbangkan diri maka yang terjadi adalah keterasingan dengan lingkungan sosialnya dan bahkan penghakiman kepada sesama.  Seumur hidup-Nya, Yesus benar-benar mengecam sikap seperti ini.   Mari kita merenungkan Markus 7:1-13.

    Protes keras para Farisi dan ahli Taurat terhadap beberapa murid Yesus yang dianggap melanggar adat istiadat membuat-Nya tergerak untuk menyatakan pendapat.  Bukan karena Ia mau membela “kesalahan” murid-Nya sendiri namun Yesus lebih ingin membuka mata para orang saleh itu tentang diri mereka sendiri.   Yesus mengecam :

    1. Kemunafikan dan egosentris bermodus agama.

    Yesus mengerti motivasi para Farisi dan ahli Taurat dalam melaksanakan Hukum.  Mereka ingin penghargaan dan merasa layak untuk menghakimi  orang lain.    Mereka juga memakai aturan adat istiadat yang berlandaskan Taurat  untuk menghindari kewajiban yang harus dilakukan sehingga terjadi pengabaian terhadap apa yang penting dan malah menekankan apa yang hanya “produk sampingan” Taurat.  Fokus mereka bukan lagi Tuhan namun nama baik mereka.

    • Pengkultusan aturan dan individu

    Yesus menyayangkan sudut pandang Ahli Taurat dan orang Farisi yang  cenderung untuk lebih menghargai aturan hasil pengembangan manusia (walaupun mereka adalah para rabi yang dihormati) yang Yesus sebut dengan adat istiadat dibandingkan dengan Hukum Taurat yang diberikan Allah.  Adat istiadat lebih diperjuangkan dan bahkan dikultuskan daripada Hukum itu sendiri.

    Yesus sama sekali tidak menentang pelaksanaan adat istiadat karena Yesus juga melaksanakannya dalam keseharian-Nya.  Namun demikian Yesus  menginginkan semua itu dilaksanakan dengan wajar dan tidak menggantikan posisi Allah. 

    Yesus menginginkan adat istiadat dilaksanakan  sesuai dosisnya dan tidak membuat adat menjadi tuhan bagi mereka dan menjadi alat untuk menghakimi sesamanya. Yesus mengingatkan bahwa mengikuti aturan harus sampai ke hati, bukan hanya dilaksanakan secara lahiriah saja.  Saleh di luar namun juga  salah di hati.

    Saudaraku, jebakan kemunafikan dan pengkultusan aturan/dogma masih berlaku hingga sekarang.  Merasa bahwa sudah melaksanakan aturan dengan baik dan akhirnya mulai layak menilai sesama, namun ternyata Allah tidak mudah dibujuk dengan sikap  lahiriah karena Allah melihat hati manusia (1 Samuel 16:7). 

    Oleh karena itu kecaman Yesus menjadi peringatan untuk setiap orang percaya belajar mewaspadai pengkultusan aturan dan pengkultusan diri sendiri karena Yesus menginginkan integritas (keutuhan/kelengkapan) dalam melaksanakan aturan yang tidak hanya dilakukan secara lahiriah namun dilaksanakan sampai ke dalam hati dan membuat manusia memanusiakan sesamanya. 

    Mari belajar untuk tulus sehingga aturan/dogma menjadi jembatan manusia mengenal Sang Kristus dan mengangkat sesamanya, bukan memisahkan atau menghancurkan hubungan antar manusia.  Aturan yang dibuat berdasarkan Firman Allah seharusnya membawa kebaikan bagi manusia.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Eternal Life Support

    SANDARAN HIDUP. Sahabat, sandaran hidup manusia beragam. Harta, takhta, kolega adalah sandaran hidup yang paling populer. Kemudian ada pula yang menjadikan “ilmu”, benda-benda “pusaka/keramat”, kesaktian, ajian atau mantra sebagai sandaran hidup. Bahkan tidak sedikit pula yang menjadikan sesama manusia sebagai sandaran hidup. Ada yang menamakannya pemimpin, selebritis, ilmuwan, orangtua, orang-orang dekat (suami/istri, anak, menantu, besan, dan lain sebagainya). Ada juga yang mengandalkan “diri sendiri” sebagai sandaran hidup.

    Secara sederhana, sandaran hidup diartikan sebagai tempat tumpuhan untuk mengalihkan kekuatan yang menyangga beban. Sebatang pohon yang miring karena diterpa tiupan angin topan, masih bisa bertahan hidupnya karena memiliki sandaran pohon yang ada di sebelahnya. Sama halnya seorang anak yatim, sepeninggal ayahnya menyandarkan hidupnya kepada paman yang mengasuh dan memeliharanya. Begitulah kata sandaran hidup ditempatkan penggunaannya didalam hidup keseharian.  Peran sandaran hidup akan selalu dibutuhkan guna menjamin keberlangsungan suatu kehidupan.

    Sahabat, soal apa atau siapakah sandaran hidup yang paling tepat tergantung pada masing-masing individu. Pengalaman hidup kita  mengajarkan bahwa sandaran hidup yang terbaik,  paling komplit, dan abadi hanyalah Tuhan Yesus.

    Tuhan Yesus tetap sama dari dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya. Dia sangat mengasihi kita sehingga Dia rela mengosongkan diri menjadi manusia, tinggal bersama dengan kita, dan menyertai kita. Tuhan Yesus menciptakan bumi beserta isinya. Dia Mahakuasa. Tiada yang mustahil bagi-Nya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Eternal Life Support (Sandaran Hidup yang Abadi)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 23:1-28. Sahabat, kehidupan kerap dipenuhi ketidakpastian. Manusia membutuhkan sandaran. Tuhan itu sandaran yang abadi.  Bersandar pada Tuhan bukan berarti semua urusan menjadi beres. Bersandar pada Tuhan berarti melibatkan-Nya dalam pergumulan kita sehingga kita dapat mengalami hidup tenang dan berkemenangan.

    Daud belajar bersandar pada Tuhan. Ketika mendengar kabar Kehila diserang oleh tentara Filistin, Daud bergumul. Kehila terletak di selatan Adulam. Dalam pergumulannya, ia bertanya kepada Tuhan apakah ia diutus untuk membela Kehila (Ayat 2). Atas izin-Nya, Daud berangkat untuk berperang, dan berhasil menyelamatkan penduduk Kehila (Ayat 5).

    Sementara itu, keberadaan Daud di Kehila dilihat Saul sebagai peluang. Saul ingin menjebak Daud di sana. Mendengar kabar itu, Daud kembali bertanya kepada Tuhsn (Ayat 10). Atas petunjuk-Nya, Daud tidak melawan Saul. Daud dan tentara harus berpencar, keluar dari kota dan tinggal seperti penduduk biasa (Ayat 13). Akhirnya, Daud terluput dari serangan Saul.

    Sahabat, Tuhan, tempat Daud bersandar, juga menolong Daud dengan memberikannya sahabat. Dalam pelariannya, Daud merasa takut (Ayat 15). Kehadiran Yonatan, anak Saul, menguatkan Daud (Ayat 16-18).

    Bersandar kepada Tuhan bukan berarti menyerahkan persoalan kepada Dia, lalu kita diam dan pasif saja menantikan pertolongan. Bersandar pada Tuhan adalah upaya meminta pertolongan-Nya dalam setiap persoalan kita. Daud tetap saja menjalani kehidupan yang menegangkan, penuh kesukaran dan tantangan,  sekalipun sudah bersandar pada pertolongan Tuhan. Namun, ia percaya jika berjalan bersama dengan Tuhan selalu ada pertolongan yang datang tepat pada waktunya.

    Sahabat, kadang kala masalah hidup membuat kita putus asa. Jalan hidup yang naik turun membuat kita seperti kehilangan sandaran hidup. Berbaliklah kepada Tuhan! Hiduplah dekat dengan Tuhan. Dengar-dengaranlah suara Tuhan.  Jadikan Tuhan sebagai sandaran hidup. Ia akan memberikan kemampuan dan hikmat bagi kita untuk dapat keluar dari masalah yang kita hadapi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Sandaran Hidup?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bersandarlah kepada Tuhan agar kita tidak salah langkah. (pg).


  • AMARAH SEORANG PEREMPUAN

    Saudaraku, perempuan sering digambarkan sebagai makhluk lemah yang harus dilindungi laki-laki.  Karena hal ini maka seorang perempuan seringkali dianggap tidak berdaya dan tanpa kekuatan, padahal anggapan ini sangat jauh dari kenyataan. Kemarahan seorang perempuan yang terluka akan menimbulkan akibat yang fatal. Mari kita merenungkan Markus 6:14-28.

    Semua orang Israel sangat menghormati Yohanes Pembaptis, bahkan penguasa Yehuda saat itu (Herodes Antipas) pun sadar bahwa Yohanes orang yang benar dan suci (Markus 6: 20).  Walaupun Yohanes dipenjarakan,  Herodes segan mengambil tindakan yang lebih tegas karena ia pun suka mendengarkan Yohanes.  Benci tapi rindu. 

    Perasaan yang berbeda dirasakan oleh Herodias, istri Herodes Antipas. Ada peristiwa yang sangat melukai hati Herodias saat Yohanes berulang kali menegur Herodes karena sudah menikahinya (Markus 6:18).  Pernikahan itu melanggar Taurat.  Karena Herodias memang pernah menjadi istri orang dan Herodes sendiri juga sudah beristri. 

    Teguran Yohanes melukai hati Herodias karena menganggap Yohanes menghalangi keinginan dan tujuan hidupnya.  Luka hati ini mendorong Herodias bergerak untuk melenyapkan Yohanes dengan cara :

    1.  Membujuk suaminya memenjarakan Yohanes

    Dengan memasukkan Yohanes dalam penjara, Herodias hendak melokalisir berita kebenaran.  Ia tahu Yohanes memiliki massa yang loyal di luar sana yang bisa menggoyang kedudukannya dan bahkan menghancurkan harapan masa depannya sebagai istri penguasa.

    • Memanfaatkan anaknya untuk menghancurkan Yohanes

    Herodes tidak bisa membunuh Yohanes karena rasa hormatnya.  Hal ini membuat Herodias terus mencari cara untuk menuntaskan dendamnya.  Herodias sabar menunggu waktu.  Markus menuliskan: “ … tibalah kesempatan yang baik bagi Herodias, …” (Markus 6:21) yang menandakan bahwa Herodias benar-benar menunggu setiap saat untuk membunuh Yohanes dengan cara yang “bersih”.  Anak perempuannya yang menjadi alat untuk mengeksekusi Yohanes, orang yang dibencinya. 

    Perempuan ternyata tidak lemah, apalagi saat ia tersakiti.  Kekuatan dan kesabaran untuk membalas dendam seorang perempuan yang tersakiti sungguh di luar dugaan bahkan seorang yang dihormati dan disegani seperti Yohanes pun mati karena dendam seorang perempuan.

    Melihat kekuatan ini maka seorang perempuan harus belajar selalu hidup dalam takut akan Allah (Amsal 31:30) agar kekuatan itu digunakan untuk perkara yang positif dan membangun sesamanya.  Dalam keluarga pun seorang perempuan harus belajar tunduk kepada suaminya seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22, Kolose 3:18, 1 Petrus 3:2). 

    Ketika kemarahan menguasainya, seorang perempuan perlu untuk meletakkan Allah sebagai Pribadi yang harus dihargai lebih dari segalanya sehingga tidak membalas demi memuaskan egonya sendiri. 

    Mari kaum laki-laki belajar memandang dan memperlakukan para perempuan dengan lebih baik sesuai Firman Tuhan.  Mari kaum perempuan makin belajar hidup takut akan Tuhan karena kemarahan akibat luka hati bisa menghancurkan orang lain dan juga diri sendiri.  Belajarlah menundukkan ego di hadapan Tuhan dan membuat hidup ini menjadi berkat dan bukan menjadi laknat untuk orang lain.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Living As A Refugee

    PENGUNGSI. Sahabat, pengungsi (pelarian)  adalah seseorang atau sekelompok orang yang terpaksa meninggalkan negaranya atau wilayahnya  karena ancaman, penganiayaan, perang atau kekerasan. Seorang pengungsi mempunyai ketakutan yang beralasan akan ancaman dari penguasa di negaranya atau kelompok mayoritas. Kemungkinan besar, mereka tidak dapat kembali ke rumah atau takut untuk melakukannya. 

    Lazimnya setiap pengungsi biasanya ditempatkan di sebuah tempat penampungan untuk memudahkan para relawan mengurusi dan menolong mereka. Lama pengungsi berada di sebuah tempat penampungan tidak dapat diprediksi. Tergantung dari kondisi atau situasi itu sendiri. Biasanya pengungsi diurus oleh pemerintah setempat, tetapi itu tidak menutup kemungkinan para relawan datang untuk membantu.

    Dari UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) saya mendapat informasi bahwa  Konvensi 1951 tentang Status Pengungsi, mendefinisikan pengungsi sebagai:  “Orang yang dikarenakan oleh ketakutan yang beralasan akan penganiayaan, yang disebabkan oleh alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial dan partai politik tertentu, berada diluar negara kebangsaannya dan tidak menginginkan perlindungan dari negara tersebut.” Ketika pengungsi meninggalkan negara asal atau tempat tinggalnya, mereka meninggalkan hidup, rumah, kepemilikan dan keluarganya.

    Pengungsi tersebut tidak dapat dilindungi oleh negara asalnya karena mereka terpaksa meninggalkan negaranya. Karena itu, perlindungan dan bantuan kepada mereka menjadi tanggung jawab komunitas internasional. UNHCR bersama dengan para mitranya mempromosikan aktivitas perlindungan dan program bantuan untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi dan pencari suaka terpenuhi selama mereka menantikan solusi jangka panjang yang paling tepat.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Living As A Refugee (Hidup Sebagai Pengungsi)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 21:1-22:5. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, perjalanan hidup Daud  sepertinya menjauh dari prospek yang mungkin pernah terbayang olehnya, saat ia diurapi Samuel. Hidupnya bukan semakin menanjak menuju puncak karier, malah terus turun ke lembah.  Saat itu  Daud menjadi pelarian.  Ia menjadi seorang pengungsi.

    Ada tiga peristiwa yang dicatat dalam bacaan kita pada hari ini menunjukkan betapa tidak nyamannya Daud dalam pengungsian. Pada peristiwa pertama, Daud terpaksa berbohong kepada imam Ahimelekh agar kedatangannya tidak dicurigai. Pelajaran pahit akan diterima Daud kemudian karena kebohongannya itu menjadi malapetaka buat keluarga Ahimelekh (1 Samuel  22:16-17). Daud belajar agar dalam situasi apa pun, dia tidak boleh berbohong, melainkan bersandar kepada Tuhan.

    Peristiwa kedua sesungguhnya sangat memalukan. Hal yang ironis terjadi. Pahlawan Israel yang telah mengalahkan pendekar Filistin dan banyak pasukannya, harus lari ke wilayah Filistin demi keselamatannya. Lebih menghancurkan harga diri lagi, Daud harus berpura-pura gila demi menutupi identitasnya sebagai musuh Filistin.

    Peristiwa ketiga, dalam pelarian ternyata Daud tidak sendirian. Banyak orang yang mengalami hal serupa dengan yang dialami Daud, bergabung dengannya. Mereka harus lari dari kenyataan hidup yang keras, walau tidak berarti mereka bisa menghindar dari kesulitan. Hal yang sedikit menghibur hati ialah mereka menjadi satu gerombolan yang termobilisasi dengan baik.

    Kita percaya pada pemeliharaan Allah atas orang urapan-Nya. Pemeliharaan Allah tidak berarti pemanjaan, melainkan pendisiplinan. Apa yang Daud alami, merupakan latihan mental untuk siap kelak menjadi pemimpin yang tidak mengulangi kesalahan pemimpin lama, Saul.

    Sahabat, mari belajar dari kisah pelarian Daud ini, untuk menjadi lebih bersandar kepada Tuhan daripada mengandalkan hikmat dan kekuatan sendiri. Ada waktunya, dunia berupaya menghancurkan orang percaya dari iman mereka kepada-Nya. Saat-saat seperti itu, kita boleh tetap percaya dan mengandalkan Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 1 Samuel 21:13-15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam situasi apa pun, marilah kita belajar bersandar kepada-Nya. Dalam Tuhan, selalu ada jalan keluar atas segala permasalahan hidup kita. (pg).