Category: Sejenak Merenung

  • The Ambition Controls

    AMBISI. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan: “Dia, orangnya sangat ambisi.” Apa itu ambisi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambisi merupakan keinginan yang besar untuk mencapai sesuatu dalam hidup. Hal itu melibatkan motivasi yang kuat dan keteguhan dalam menetapkan tujuan yang tinggi dan berusaha keras untuk meraihnya. Ambisi bisa mendorong individu untuk terus berkembang, mencapai kesuksesan, dan memperoleh kepuasan pribadi.

    Penting untuk membedakan antara ambisi yang positif dan negatif. Ambisi yang positif dapat menjadi sumber motivasi yang kuat dalam hidup seseorang. Ketika seseorang memiliki ambisi yang jelas dan positif, mereka cenderung menetapkan tujuan yang terukur dan merencanakan langkah-langkah untuk mencapainya. Ambisi ini membantu seseorang untuk fokus pada diri sendiri, meningkatkan keterampilan, dan mengatasi rintangan yang mungkin muncul dalam perjalanan menuju tujuan tersebut.

    Sebaliknya, jika ambisi tidak diarahkan dengan baik, bisa berakibat negatif. Ambisi yang berlebihan dan tidak seimbang dapat menyebabkan seseorang menjadi rakus dan terobsesi dengan pencapaian diri, tanpa memerhatikan dampaknya pada lingkungan sekitar. Ambisi yang tidak bertanggung jawab dapat menyebabkan seseorang menggunakan cara-cara yang tidak etis atau merugikan orang lain untuk mencapai tujuan mereka.

    Ambisi  yang besar bila tidak dikendalikan dengan baik akan membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya. Tetapi ambisi yang terkendali akan membuat seseorang maju, bila sabar menunggu waktunya Tuhan dan cara yang dipakai pun dengan cara Tuhan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “The Ambition Controls (Mengendalikan Ambisi)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 4:1-12 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Rekhab dan Baana yang bertugas sebagai kepala gerombolan, dengan matinya Abner panglima raja Saul, mereka melihat suatu kesempatan besar untuk mereka mendapat imbalan bahkan kekuasaan bila mereka menyerahkan Isyboset kepada Daud.

    Isyboset adalah anak raja Saul yang menggantikan Saul setelah Saul mati. Dalam benak Rekhab dan Baana, Isyboset merupakan saingan bahkan penghalang bagi Daud untuk menjadi raja Israel. Oleh karena itu ketika terbuka kesempatan, mereka membunuh Isyboset dan kepalanya dibawa ke hadapan Daud.

    Sahabat, namun mereka sama sekali tidak memperhitungkan kesetiaan Daud kepada raja Saul dan keturunannya. Bagi Daud, Saul dan keluarganya bukanlah musuh, meskipun Isyboset bukanlah orang yang diurapi Tuhan untuk menjadi raja. Maka tindakan Rekhab dan Baana tidak dapat diterima Daud.

    Maka bukannya hadiah atau imbalan yang Rekhab dan Baana terima dari Daud, tetapi kematianlah yang mereka terima. Daud marah dengan perbuatan mereka yang telah membunuh Isyboset, anak raja Saul.

    Walau mengetahui ketetapan Allah bagi hidupnya, Daud tidak mau melangkahi Allah untuk mewujudkan ketetapan itu. Daud selalu memberi kesempatan Allah bertindak mewujudkan kehendak-Nya berdasarkan cara dan waktu-Nya sendiri, sehingga tak ada cara-cara kotor yang pernah dia setujui.

    Sahabat, kiranya hal tersebut menjadi teladan bagi kita. Bila Tuhan memang menghendaki kita untuk menjadi sesuatu, niscaya Dia sendiri yang akan membuka jalan itu. Karena itu kendalikan ambisi, jangan sampai ambisi mengendalikan kita. Jangan terlalu berambisi sampai membuat kita menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawblah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ambisi?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Biarlah waktunya Tuhan yang digenapi dan biarlah Tuhan sendiri yang membuka jalan bagi kita.(pg).

  • Unpredictable God’s Working Way

    PERANG. Dari beberapa sumber saya mendapat informasi bahwa pada tanggal 24 Februari 2022, Rusia melancarkan operasi militer ke Ukraina, salah satu negara tetangganya di sebelah barat daya. Operasi tersebut menandai peristiwa penting dalam perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada tahun 2014. Invasi tersebut  juga menyebabkan sepertiga penduduk Ukraina untuk berpindah dan lainnya dari 7 juta orang Ukraina meninggalkan negaranya, yang memicu krisis pengungsi Eropa yang paling cepat sejak Perang Dunia II.

    Ketegangan dan perang Rusia dengan Ukraina belum juga selesai, tiba-tiba muncullah perang Israel dengan Hamas. Sekitar dua minggu berlalu sejak kelompok militan Palestina Hamas melancarkan serangannya terhadap Israel. Perang pecah saat kelompok Hamas yang menguasai Gaza menyerang konser yang diadakan Israel di perbatasan Gaza-Israel pada Sabtu 7 Oktober 2023. Israel pun membalas dengan mendeklarasikan perang. Menurut pihak berwenang Palestina, lebih dari 4.200 orang telah terbunuh di Gaza dan lebih dari 13.000 orang terluka sejak perang Israel-Hamas dimulai.

    Sahabat, sejarah mencatat bahwa perang itu membuat manusia menderita dan sengsara. Perang itu membinasakan ribuan manusia. Perang itu meluluh lantakan apa-apa yang telah dibangun ratusan tahun lamanya.Perang itu menyebabkan jutaan manusia pindah dari tempat tinggalnya.

    Kita sebagai orang percaya meyakini bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, termasuk perang. Maka marilah kita berdoa, minta belas kasihan Allah agar Allah berkenan turun tangan untuk mendamaikan mereka yang sedang berperang dan bertikai. Cara kerja Allah itu luar biasa. Cara kerja Allah itu tak terduga. Dia dapat memakai siapa saja untuk menjadi juru damai-Nya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Unpredictable God’s Working Way  (Cara Kerja Allah Tidak Terduga)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 3:6-21 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, dalam hidup ini, di tempat kita bekerja atau di satu organisasi, kita tentu pernah bertemu orang yang tidak menyukai atau bahkan membenci kita. Ia mungkin  selalu mencari cara untuk menjatuhkan kita. Pada suatu hari karena suatu kejadian atau peristiwa, orang tersebut berbalik menjadi pendukung dan pembela kita. Sesungguhnya peristiwa tersebut benar-benar merupakan campur tangan Allah! 

    Abner adalah panglima tentara Saul. Selain berpengaruh, Abner juga sangat setia. Setelah kematian tuannya, ia tetap berpihak kepada keluarga Saul. Keberadaan Abner secara tidak langsung menjadi ancaman bagi Daud. Mengapa? Karena Abner dapat membantu Isyboset, anak Saul lainnya, untuk berperang melawan Daud. Siapa sangka, hari itu Abner mengirim utusan kepada Daud dengan pesan: “… aku akan membantu engkau untuk membawa seluruh orang Israel memihak kepadamu” (Ayat 12). Peristiwa tersebut tidak lain karena Isyboset, tanpa memeriksa terlebih dahulu kebenaran perkaranya, menuding Abner menghampiri Rizpa, gundik ayahnya (Ayat 7). Bagi Isyboset, peristiwa itu dapat disebut kemalangan karena kehilangan panglima yang setia. Namun, bagi Daud, dukungan Abner jelas merupakan keuntungan yang tidak terduga. 

    Sahabat, satu hal yang tidak terjangkau oleh logika manusia adalah cara kerja Allah. Karena itu, jangan ragu untuk berdoa memohon pertolongan-Nya. Melalui doa, kita dapat menyerahkan segala sesuatu, termasuk hubungan kita dengan sesama. Lihatlah, Allah sanggup bekerja dengan cara yang sungguh tidak terduga! Cara kerja Allah tidak terduga.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pehami tentang perang?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah bekerja untuk mendamaikan dan memulihkan hubungan, bukan memisahkan dan mencerai beraikannya. (pg).

  • True Friend

    PENGANTAR KITAB 2 SAMUEL. Sahabat, dari beberapa literatur saya mendapat informasi bahwa Kitab 2 Samuel merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kitab-kitab sejarah pada Perjanjian Lama di Alkitab Kristen.   Penulisnya tidak kenal. Temanya tentang pemerintahan Daud. Tanggal penulisan pada abad ke-10 SM.

    Jikalau 1 Samuel meliputi sejarah selama hampir satu abad, dari kelahiran Samuel hingga kematian Saul (sekitar tahun 1105-1010 SM), maka 2 Samuel hanya mencatat pemerintahan Daud, suatu masa yang lamanya 40 tahun (sekitar 1010-970 SM).

    Kitab 2 Samuel adalah sambungan dari Kitab 1 Samuel. Kitab ini memuat sejarah pemerintahan Raja Daud, mula-mula atas Yudea (daerah selatan; 2 Samuel 1–4), kemudian atas seluruh negeri termasuk daerah Israel atau utara (2 Samuel 5–24).

    Dalam kitab ini diceritakan dengan jelas dan menarik bagaimana Daud berusaha memperluas dan mengukuhkan kedudukannya. Ia harus berperang melawan musuh-musuhnya, baik di dalam maupun di luar negeri. Daud digambarkan sebagai orang yang sangat beriman, taat dan setia kepada Allah, juga sebagai orang yang mampu memperoleh kesetiaan rakyatnya..

    Tetapi ia digambarkan juga sebagai orang yang dapat bertindak kejam, dan yang tidak segan melakukan dosa-dosa besar semata-mata untuk memenuhi keinginannya dan cita-citanya. Tetapi ketika ia dihadapkan kepada dosa-dosanya oleh Natan, nabi Allah, Daud mengakui dosa-dosanya itu dan dengan rela menerima hukuman dari Allah.

    Kitab ini secara mendalam mengilustrasikan dari kehidupan pribadi dan pemerintahan Daud syarat-syarat perjanjian sebagaimana dikemukakan Musa dalam kitab Ulangan: Ketaatan pada perjanjian menghasilkan berkat-berkat Allah; pengabaian hukum Allah mengakibatkan kutukan dan hukuman (Ulangan  27:1–30:20).

    Mulai hari ini kita akan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “True Friend (Sahabat Sejati)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 1:17-27 dengan penekanan pada ayat 26. Sahabat, bagaimana rasanya jika kita tidak memiliki sahabat selama hidup di dunia ini?  Pasti akan terasa hampa dan kesepian, tidak ada teman yang memerhatikan dan peduli dengan keberadaan kita.  Bahkan ada kata bijak yang mengatakan bahwa orang yang paling malang di dunia adalah orang yang tidak memiliki sahabat.

    Daud sangat berbahagia karena ia memiliki seorang sahabat sejati bernama Yonatan.  Setelah Yonatan gugur dalam pertempuran, Daud benar-benar sangat kehilangan dia.  Inilah ungkapan isi hati Daud terhadap Yonatan,  “Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib daripada cinta perempuan.”  (Ayat 26).

    Alkitab juga mencatat betapa karibnya persahabatan keduanya:  “Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.”  (1 Samuel 18:3).

    Yonatan adalah contoh sahabat sejati.  Darinya kita dapat belajar tentang kualitas seorang sahabat.  Yonatan mengambil langkah yang sangat berani dengan menjadikan Daud sebagai sahabatnya, padahal ayahnya (Saul), sangat membenci Daud. 

    Karena kekaribannya dengan Daud, Yonatan juga harus mengalami perlakuan yang tidak baik dari ayahnya.  Pada suatu hari raja Saul mengungkapkan amarahnya kepada Yonatan,  “Anak sundal yang kurang ajar!  Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu?  Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh.  Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati.”  (1 Samuel 20:30-31). 

    Bahkan Saul juga melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya (1 Samuel 20:33).  Ketika tahu bahwa ayahnya berencana untuk membunuh Daud, Yonatan pun segera pergi ke tempat persembunyian Daud dan memberitahukan rencana jahat ayahnya itu.  Yonatan memang tidak berbuat apa-apa untuk mengurangi kebencian ayahnya terhadap Daud, tetapi ia dapat berbuat sesuatu untuk menyatakan kesetiaannya sebagai seorang sahabat Daud.  Inilah arti sahabat, tetap setia dan mengasihi di segala keadaan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 26?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sahabat yang sejati akan selalu ada dan menolong tepat waktu. (pg).

  • Authority Blinds Many People

    KEKUASAAN. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  disebutkan jika kekuasaan merupakan kemampuan individu atau sekelompok orang untuk menguasai individu atau kelompok lainnya yang didasarkan pada wibawa, wewenang, kharisma atau kekuatan fisik.

    Sedangkan menurut Miriam Budiardjo dalam buku Pengantar Ilmu Politik (2015), kekuasaan merupakan kemampuan individu atau sekelompok orang untuk memengaruhi perilaku individu atau kelompok lainnya sesuai dengan yang diinginkan.

    Dewasa ini, berbicara kekuasaan memang tak hanya terdapat pada satu sektor saja, tetapi terdapat pada banyak sektor, seperti sektor politik, sektor ekonomi, sektor suatu lingkungan, dan lain-lain. Kekuasaan itu secara umum diartikan sebagai sebuah kewenangan yang sudah dimiliki oleh individu atau kelompok untuk menjalankan sesuatu, baik yang bersifat wajib atau hanya hak saja. Oleh sebab itu, kekuasaan hanya sebagai pengertian atau pemahaman saja, jika tidak diterapkan atau dijalankan.

    Kekuasaan yang telah dijalani oleh individu atau kelompok bisa ada yang memiliki dampak baik untuk lingkungan dan orang lain, serta ada juga yang memiliki dampak buruk terhadap lingkungan dan orang lain. Dengan kata lain, kekuasaan yang berada di tangan individu atau kelompok yang baik akan menghasilkan dampak yang baik juga, bahkan bisa memberikan manfaat untuk individu atau kelompok yang tidak memiliki kuasa. Semakin banyak orang yang memiliki kuasa tergerak hatinya untuk membantu orang lain, maka akan memberikan perubahan bagi kehidupannya.

    Sahabaat, kekuasaan itu sendiri bisa berasal dari jabatan pribadi atau dari garis keturunan. Dalam hal ini, jabatan pribadi bisa didapatkan ketika menjabat suatu organisasi atau lembaga yang di mana seseorang itu menjabat sebagai ketua. Ketika menjabat sebagai ketua, sudah seharusnya untuk memikirkan bagaimana caranya untuk memajukan sebuah organisasi atau lembaga tersebut. Maka dari itu, seorang ketua atau pemegang kuasa harus memiliki wawasan yang luas, sehingga bisa menemukan berbagai macam cara agar organisasi atau lembaga yang dipimpinnya dapat berkembang.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Authority Blinds Many People (Kekuasaan Membutakan Banyak Orang)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 31:1-13. Sahabat,  kekuasaan adalah salah satu momok yang membuat seseorang dapat melakukan hal yang tidak diperkenan Allah. Persis, hal itulah yang terjadi pada Saul. Roh Allah sudah undur darinya dan membuatnya menjadi musuh Allah (1Samuel  28:16). Ia bahkan mencoba membunuh Daud, Raja Israel yang diurapi Allah (1Samuel  19:1). Ia masih terus berperang melawan bangsa Filistin sampai akhir hidupnya. Seolah-olah, ia masih merasa sebagai orang nomor satu di Israel.

    Saul telah dibutakan kekuasaan. Ia tidak lagi peduli bahwa Roh Allah sudah pergi darinya. Ia beserta tiga orang anaknya (Yonatan, Abinadab, dan Malkisua) bersikeras untuk tetap maju berperang mengepung orang Filistin (Ayat 2). Saul lupa bahwa kekuasaan di Israel adalah milik Allah. Akibatnya, ia tidak berdaya melawan bangsa Filistin.

    Sahabat, itulah yang terjadi dalam 1 Samuel 31. Pasukan Israel banyak yang akhirnya mati terbunuh (Ayat 1). Saul dan anak-anaknya dikejar (Ayat 2). Pertempuran semakin berat dan Saul pun terluka (Ayat 3). Akhirnya Saul terdesak. Perasaan frustrasi mendorongnya untuk meminta pembawa pedangnya agar menikamkan pedang kepadanya. Namun, si pembawa pedang tidak mau melakukannya. Saul pun memilih mengakhiri hidupnya dengan menjatuhkan diri ke atas pedangnya (Ayat 4). Saul, anak-anaknya, dan seluruh pasukannya mati terbunuh.

    Orang-orang Filistin pun berpesta atas kematian Saul dan memenggal kepalanya. Sebuah akhir yang tragis bagi seorang Raja Israel yang telah dibutakan oleh kekuasaan.

    Kekuasaan adalah salah satu cobaan yang tidak mudah bagi manusia. Sepanjang sejarah umat manusia, kekuasaan membuat banyak orang menjadi buta. Mereka rela membunuh satu dengan yang lainnya demi kekuasaan. Kita sampai lupa bahwa sumber kekuasaan datang dari Allah.

    Sahabat, marilah kita bertekat agar jangan sampai dibutakan oleh kekuasaan. Kekuasaan yang Allah berikan hendaklah menjadi kesempatan bagi kita untuk melayani sesama dengan baik. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang kekuasaan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kekuasaan bukan untuk memuaskan ambisi kita, melainkan untuk mempermuliakan nama Tuhan. (pg).

  • Key of Life Success

    BERTANYA KEPADA TUHAN. Kunci Keberhasilan  Hidup adalah bertanya kepada Tuhan sebelum bertindak. Mengapa bisa begitu? Karena di dalam Tuhan ada hikmat dan kekuatan. Di dalam Tuhan ada pertimbangan dan pengertian (Ayub 12:13)

    Kita ingin pergi ke suatu tempat dan tidak tahu arah dan jalan. Apa yang akan kita lakukan? Berdiam diri tentu tidak akan memberi jalan keluar. Satu-satunya cara adalah kita harus bertanya jika kita tidak ingin tersesat.  Entah bertanya kepada mbah Google atau orang lain. Demikianlah kehidupan. Begitu banyaknya masalah mungkin membuat kita tidak tahu lagi ke mana harus mulai melangkah. Ketika itu terjadi, apakah kita akan bertanya kepada Tuhan untuk mencari tahu jawabannya?

    Masalahnya, dalam kehidupan ini sering kali kita tidak melibatkan Tuhan ketika menghadapi persoalan atau apabila hendak mengambil keputusan. Alih-alih bertanya kepada Tuhan dalam doa, kita lebih suka mengandalkan pemikiran atau pengalaman kita sendiri. Kita lupa kalau ada banyak persoalan tidak dapat diselesaikan oleh logika manusia. Selain itu, pengalaman masa lalu belum tentu menjawab kebutuhan kita saat ini.

    Kalau bukan Tuhan, siapakah pribadi empunya strategi yang dapat menjawab setiap persoalan dan teka-teki kehidupan? Faktanya, Tuhan adalah Sang Penasihat Ajaib! Daripada-Nyalah asal segala hikmat dan kebijaksanaan. Apabila kita tidak ingin menyesal dan merugi karena salah perhitungan atau pertimbangan, jangan lagi menempatkan Tuhan di pojok kehidupan. Sebaliknya, tempatkan Dia sebagai pusat dengan melibatkan-Nya dalam setiap aspek kehidupan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Key of Life Success (Kunci Keberhasilan Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 2:1-32 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, kematian Raja Saul tidak serta-merta memuluskan jalan bagi Daud untuk naik takhta menjadi raja. Daud sendiri pun tidak tahu apa yang harus dilakukan atau ke mana ia akan melanjutkan perjalanannya. Daud pun bertanya kepada Tuhan karena ia tahu persis Tuhan akan memberitahukannya apa yang harus dilakukan.

    Tuhan meminta Daud untuk pergi ke Hebron. Di titik itu pun Daud belum mengerti maksud Tuhan hingga beberapa waktu menetap di kota itu. Sampai akhirnya orang-orang Yehuda mengurapinya dan mengangkatnya menjadi raja Yehuda.

    Sahabat, dalam situasi terjepit dan dituntut untuk segera mengambil keputusan, langkah apa yang akan kita lakukan? Akankah kita bertanya kepada Tuhan? Tentu saja dibutuhkan kerendahan hati untuk bertanya dan menerima jawaban Tuhan. Mengapa? Karena terkadang petunjuk Tuhan itu justru tidak sesuai dengan kehendak kita. Apakah kita mau tetap taat?

    Seringkali dalam perjalanan hidup, kita minta kepada Tuhan untuk memberkati apa pun yang akan kita lakukan. Itu memang baik dan sangat penting. Tapi ada satu hal yang jauh lebih baik dan lebih penting daripada hal tersebut, yaitu kita harus terlebih dahulu mencari Tuhan dalam doa-doa kita. Jauh lebih baik, jika kita bertanya dulu kepada Tuhan untuk segala sesuatu yang akan kita kerjakan, sehingga Dia akan mengarahkan kita untuk melakukan apapun yang Dia kehendaki.

    Sahabat, yakinlah bahwa arahan Tuhan selalu berbuah kebaikan pada akhirnya. Meski kita harus menjalani sebuah perjalanan yang tidak mudah dan beberapa kali bertemu hambatan, namun perjalanan kita akan berakhir dengan indah. Untuk setiap pertimbangan dan keputusan, bertanyalah kepada Tuhan untuk selalu menunjukkan jalan paling tepat. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 12:13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bertanya kepada Tuhan, itulah awal kemenangan kita. (pg).

  • Pengikut Kristus Harus Teraniaya

    PENGANTAR: Dalam Kitab Kisah Para Rasul Bab 8 kita melihat Saulus tampil sebagai pemimpin penganiayaan besar pertama dan sangat hebat terhadap jemaat pengikut Kristus (Gereja). Coba kita bayangkan kehebatan penganiayaan yang terjadi: Laki-laki dan perempuan dimasukkan ke penjara, disesah, dihukum mati. Terpujilah Tuhan, Dia memakai penganiayaan itu untuk memulai pekerjaan pekabaran Injil yang besar dari gereja Tuhan.

    Kisan Para Rasul 8:4:  “Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil”.

    Diawali oleh kisah keberhasilan Filipus yang digerakkan oleh Roh Kudus. Pemberitaan tentang Injil  terus disampaikan dengan terang-terangan. Para pengikut Kristus tidak takut menderita, bahkan mereka bangga menderita demi Kristus, mereka pun berpencar ke mana-mana. Tokoh Filipus adalah salah seorang dari tujuh diaken yang dipilih oleh rasul-rasul. Tempat yang dipilih Filipus adalah kota Samaria. Filipus melayani di kota itu diutus untuk memberikan kesembuhan dan pemulihan. Ajaran Filipus, setelah terbuktikan, diterima di Samaria. Mukjizat yang dilakukan Filipus melalui kuasa dari Tuhan adalah jalan pembuka untuk bisa mengedukasi orang Samaria lebih dalam lagi tentang Injil Yesus Kristus.

    APA MAKNA JEMAAT KRISTUS HARUS TERANIAYA? Penduduk kota Samaria itu dengan bulat hati, bahwa ajaran Injil layak dicermati dan didengarkan tanpa rasa curiga. Orang Samaria itu puas dalam memerhatikan dan mendengarkan khotbah Filipus, dan pekerjaan baik yang dikerjakan oleh Filipus.  Hasil dari pemberitaan, pengajaran dan pelayanan yang dilakukan Filipus hingga tanpa ragu penduduk Samaria bersedia dibaptis. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Filipus itu tersebar ke mana-mana. Injil  tidak membuat orang menjadi murung, tapi malah bersukacita. Walau begitu, mempelajari yang baik itu sulit.

    KESIMPULAN:  Dalam Kisah Para Rasul bab 8 ini, khususnya Kisah 8:4-13, bahwa orang-orang Samaria itu, walau bukan penyembah berhala seperi bangsa non-Yahudi, ternyata tertarik untuk mengikuti Simon, seorang tukang sihir yang membuat kegaduhan di antara mereka. Dari sini bisa kita pelajari betapa kuatnya tipu daya iblis yang menggerakkan mereka untuk melayani kepentingan Simon.

    Simon, menganggap dirinya luar biasa. Simon sebenarnya tidak berniat memperbarui hidup mereka, atau memperbaiki ibadah dan kesalehan mereka. Bagi mereka, Simon menyatakan dirinya sebagai Mesias. Intinya dia ingin dianggap sangat penting. Dan ternyata penduduk kota itu banyak mengakui kehebatan Simon. Meski begitu, Simon si tukang sihir ini punya pengaruh atas mereka, dan penduduk kota ini percaya kepada Simon, tapi ketika mereka melihat perbedaan antara Simon dan Filipus, penduduk kota itu meninggalkan Simon dan beralih mendengarkan Filipus. Lalu Simon pun juga mau mendengarkan Filipus dan akhirnya mau dibaptis.

    Dalam Kisah 8 Yesus adalah orang Yahudi dan agamanya pun agama Yahudi. Ia setia datang ke Bait Suci, begitu juga 12 murid-Nya. Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid tetap melanjutkan kebiasaan ini selama beberapa bulan ataupun beberapa tahun. Dari catatan kitab Kisah Para Rasul dan beberapa surat-surat Paulus terlihat di situ pengikut Kristus tetap beribadah dengan orang Yahudi yang lain di sinagoge. Gereja lahir ke dunia ini sewaktu pengikut Tuhan Yesus perlahan-lahan mulai merasakan bahwa ada satu hal yang secara mendasar membedakan mereka dengan agama Yahudi. Yang membedakannya adalah pengakuan pengikut Kristus bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat. Pengakuan ini jadi pemberitaan yang mendasar. Oleh karena itu pengakuan perlu dijelaskan sampai kepada dampaknya di dalam kehidupan. Pengakuan akhirnya dalam wujud pengajaran baik secara lisan, tertulis, doa, nyanyian, pengakuan iman dan doktrin. Perlahan-lahan pengikut Kristus memisahkan diri dari sinagoge, lalu muncullah gereja.

    Gereja-gereja Kristen pertama bentuknya gereja rumah. Ada dugaan, kegiatan utama gereja rumah ini adalah belajar. Siapa yang mengajar? Para rasul, yang kemudian disebut guru. Gereja bukan hanya gedung, persoalan administrasi atau organisasi, gereja adalah tubuh Kristus. Gereja adalah pilihan Tuhan, hasil penebusan Tuhan. Gereja adalah bangsa yang kudus dan imam-imam raja. Gereja adalah garam dan terang dunia. Gereja adalah saksi Kristus di dunia ditengah-tengah orang berdosa. Gereja harus berani teraniaya seperti Kristus demi pelebaran Kerajaan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita Kisah bab 8, mari kita jawab pertanyaan:

    1. Pesan apa yang kita peroleh pada pemahaman kita hari ini?
    2. Jelaskan apa makna “Jemaat Kristus Harus Teraniaya”?
    3. Jelaskan, bahwa gereja adalah Tubuh Kristus

    Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersukacita, karena Nama Yesus, kita layak menderita. Amin. (sp).

  • MENJAGA IKATAN SUCI

    Saudaraku, perceraian menjadi hal yang sering dan bahkan lazim dilakukan dalam masa digital ini.  Bahkan sekarang perceraian dapat terjadi karena masalah sepele.  Ternyata perceraian sejak masa Yesus sudah menjadi pembicaraan yang hangat.  Mari kita merenungkan  Markus 10:1-12.

    Pembahasan tentang perceraian merupakan topik yang seru untuk dibicarakan pada masa Yesus sekaligus menjadi topik yang sensitif dan memiliki muatan politis.  Maka ketika para Farisi mengangkat topik perceraian, tujuannya memang satu yaitu menguji pemikiran Yesus yang bisa saja jawaban-Nya menjerumuskan diri-Nya sendiri.  Para guru Yahudi sudah membuat aturan berdasar pada Ulangan 24:1 yang mengatakan “Apabila seorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya,”  untuk menghalalkan perceraian.  Namun berdasar ayat tersebut yang Yesus menyatakan pandangan-Nya sendiri, yaitu:

    1.  Pernikahan adalah tanggung jawab bersama

    Aturan pernikahan yang mendasarkan dari Ulangan 24:1 menunjukkan dominasi laki-laki dan menjadikan perempuan sebagai benda yang bisa dikembalikan ke rumah orangtuanya kapan saja. Bagi Yesus laki-laki atau perempuan diciptakan segambar dengan Allah (Kejadian 1:27, Markus 10:6) dan ketika menikah mereka menjadi pasangan yang bertanggung jawab dengan keputusan mereka sendiri (Kejadian 2:24, Markus 10: 7 dan 8).  Yesus menyatakan bahwa aturan yang berlaku saat itu berasal dari hukum Musa yang kondisional (Markus 10:5), sehingga banyak penyimpangan yang terjadi karena dominasi kaum laki-laki makin menjadi.  Yesus membela posisi perempuan dengan menempatkan pernikahan pada tempat yang sebenarnya.

    • Menjaga pernikahan adalah penghormatan kepada Tuhan

    Pernikahan merupakan karya Allah ketika manusia menyatukan diri dalam sebuah komitmen dengan pasangannya (Markus 10 : 9), maka seorang laki-laki yang menceraikan  istrinya adalah orang yang tidak menghargai pekerjaan Tuhan.  Tuhan tidak pernah gagal dalam karya-Nya, termasuk menjodohkan manusia.  Egosentris manusialah yang membuat pekerjaan suci-Nya gagal dan terjadi perceraian.  Oleh karena itu setiap manusia yang menikah harus selalu sadar bahwa ada Tuhan dibalik perjodohan itu dan mempertahankan ikatan suci itu adalah bentuk penghargaan tertinggi kepada apa yang sudah dikerjakan Tuhan dalam hidup mereka.

    Pandangan Yesus tentang perceraian memang berbeda dari pandangan para guru sezamannya dan bahkan hingga saat ini.  Bagi Yesus pernikahan bukan hanya berlangsung untuk kesenangan, transaksi atau berbagai motivasi yang egois.  Pernikahan itu kudus dan harus diperjuangkan bersama karena memiliki muatan yang holistis. Pernikahan bukanlah kehendak satu orang, namun kehendak tiga orang: Laki-laki, perempuan dan Tuhan. 

    Siapa pun yang menikah mereka harus menyadari bahwa sejak pertemuan hingga menikah, semua terjadi karena izin dan pekerjaan Allah saja.  Kehadiran dan campur tangan Allah-lah yang membuat pernikahan memiliki nilai kekudusan. 

    Selain memiliki muatan penghargaan antara laki-laki dan perempuan, pernikahan juga menampilkan wajah Allah di dalamnya.  Maka pernikahan harus diperjuangkan keutuhannya dan tidak gampang diceraikan karena egosentris manusia.  Karena menjaga komitmen pernikahan adalah penghormatan terhadap karya Allah sekaligus penghormatan kepada Pribadi-Nya maka suami istri harus berjuang bersama mempertahankan ikatan itu. Semua hanya untuk Tuhan saja.  Ya, untuk Tuhan.   Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Pengikut Kristus Harus Teraniaya

    PENGANTAR: Dalam Kitab Kisah Para Rasul Bab 8 kita melihat Saulus tampil sebagai pemimpin penganiayaan besar pertama dan sangat hebat terhadap jemaat pengikut Kristus (Gereja). Coba kita bayangkan kehebatan penganiayaan yang terjadi: Laki-laki dan perempuan dimasukkan ke penjara, disesah, dihukum mati. Terpujilah Tuhan, Dia memakai penganiayaan itu untuk memulai pekerjaan pekabaran Injil yang besar dari gereja Tuhan.

    Kisah Para Rasul 8:4:  “Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil”.

    Diawali oleh kisah keberhasilan Filipus yang digerakkan oleh Roh Kudus. Pemberitaan tentang Injil  terus disampaikan dengan terang-terangan. Para pengikut Kristus tidak takut menderita, bahkan mereka bangga menderita demi Kristus, mereka pun berpencar ke mana-mana. Tokoh Filipus adalah salah seorang dari tujuh diaken yang dipilih oleh rasul-rasul. Tempat yang dipilih Filipus adalah kota Samaria. Filipus melayani di kota itu diutus untuk memberikan kesembuhan dan pemulihan. Ajaran Filipus, setelah terbuktikan, diterima di Samaria. Mukjizat yang dilakukan Filipus melalui kuasa dari Tuhan adalah jalan pembuka untuk bisa mengedukasi orang Samaria lebih dalam lagi tentang Injil Yesus Kristus.

    APA MAKNA JEMAAT KRISTUS HARUS TERANIAYA? Penduduk kota Samaria itu dengan bulat hati, bahwa ajaran Injil layak dicermati dan didengarkan tanpa rasa curiga. Orang Samaria itu puas dalam memerhatikan dan mendengarkan khotbah Filipus, dan pekerjaan baik yang dikerjakan oleh Filipus.  Hasil dari pemberitaan, pengajaran dan pelayanan yang dilakukan Filipus hingga tanpa ragu penduduk Samaria bersedia dibaptis. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Filipus itu tersebar ke mana-mana. Injil  tidak membuat orang menjadi murung, tapi malah bersukacita. Walau begitu, mempelajari yang baik itu sulit.

    KESIMPULAN. Dalam Kisah Para Rasul bab 8 ini, khususnya Kisah 8:4-13, bahwa orang-orang Samaria itu, walau bukan penyembah berhala seperi bangsa non-Yahudi, ternyata tertarik untuk mengikuti Simon, seorang tukang sihir yang membuat kegaduhan di antara mereka. Dari sini bisa kita pelajari betapa kuatnya tipu daya iblis yang menggerakkan mereka untuk melayani kepentingan Simon.

     

    Simon, menganggap dirinya luar biasa. Simon sebenarnya tidak berniat memperbarui hidup mereka, atau memperbaiki ibadah dan kesalehan mereka. Bagi mereka, Simon menyatakan dirinya sebagai Mesias. Intinya dia ingin dianggap sangat penting. Dan ternyata penduduk kota itu banyak mengakui kehebatan Simon. Meski begitu, Simon si tukang sihir ini punya pengaruh atas mereka, dan penduduk kota ini percaya kepada Simon, tapi ketika mereka melihat perbedaan antara Simon dan Filipus, penduduk kota itu meninggalkan Simon dan beralih mendengarkan Filipus. Lalu Simon pun juga mau mendengarkan Filipus dan akhirnya mau dibaptis.

    Dalam Kisah 8 Yesus adalah orang Yahudi dan agamanya pun agama Yahudi. Ia setia datang ke Bait Suci, begitu juga 12 murid-Nya. Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid tetap melanjutkan kebiasaan ini selama beberapa bulan ataupun beberapa tahun. Dari catatan kitab Kisah Para Rasul dan beberapa surat-surat Paulus terlihat di situ pengikut Kristus tetap beribadah dengan orang Yahudi yang lain di sinagoge. Gereja lahir ke dunia ini sewaktu pengikut Tuhan Yesus perlahan-lahan mulai merasakan bahwa ada satu hal yang secara mendasar membedakan mereka dengan agama Yahudi. Yang membedakannya adalah pengakuan pengikut Kristus bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat. Pengakuan ini jadi pemberitaan yang mendasar. Oleh karena itu pengakuan perlu dijelaskan sampai kepada dampaknya di dalam kehidupan. Pengakuan akhirnya dalam wujud pengajaran baik secara lisan, tertulis, doa, nyanyian, pengakuan iman dan doktrin. Perlahan-lahan pengikut Kristus memisahkan diri dari sinagoge, lalu muncullah gereja.

    Gereja-gereja Kristen pertama bentuknya gereja rumah. Ada dugaan, kegiatan utama gereja rumah ini adalah belajar. Siapa yang mengajar? Para rasul, yang kemudian disebut guru. Gereja bukan hanya gedung, persoalan administrasi atau organisasi, gereja adalah tubuh Kristus. Gereja adalah pilihan Tuhan, hasil penebusan Tuhan. Gereja adalah bangsa yang kudus dan imam-imam raja. Gereja adalah garam dan terang dunia. Gereja adalah saksi Kristus di dunia ditengah-tengah orang berdosa. Gereja harus berani teraniaya seperti Kristus demi pelebaran Kerajaan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita Kisah bab 8, mari kita jawab pertanyaan:

    1. Pesan apa yang kita peroleh pada pemahaman kita hari ini?
    2. Jelaskan apa makna “Jemaat Kristus Harus Teraniaya”?
    3. Jelaskan, bahwa gereja adalah Tubuh Kristus

    Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersukacita, karena Nama Yesus, kita layak menderita. Amin. (sp).

  • In A Dilemmatic Position

    DILEMA. Sahabat, dari beberapa sumber saya mendapat penjelasan bahwa dilema adalah situasi sulit yang mengharuskan orang menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau tidak menguntungkan, situasi yang benar-benar sulit dan membingungkan.

    Sesungguhnya dilema adalah istilah umum yang merujuk kepada suatu kondisi yang menyulitkan yaitu munculnya sebuah masalah yang menawarkan dua kemungkinan, di mana keduanya sama-sama sulit untuk diterima.

    Dilema dapat terjadi dalam semua aspek kehidupan manusia, misalnya dalam keluarga, dalam hubungan percintaan, dalam hubungan persahabatan, dalam studi, dalam bekerja, dan lain-lainnya;  yang semuanya menyebabkan seseorang sulit mengambil keputusan.

    Sahabat, dalam kehidupan, kita pasti pernah berada dalam suatu dilema. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena semua yang akan kita lakukan dapat berakibat tidak baik, tidak menyenangkan dan tidak menguntungkan.  Hal tersebut bisa terjadi ketika kita salah mengambil keputusan sehingga posisi kita dalam posisi yang sangat sulit.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “In A Dilemmatic Position (Dalam Posisi Dilematik)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 29:1-11 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, apa yang Daud hadapi sebenarnya dilematis. Di satu sisi, ia sudah menunjukkan loyalitasnya kepada Akhis. Raja Akhis sangat percaya pada kesetiaan Daud. Di sisi lain, Saul adalah raja Israel, seorang yang diurapi Allah. Daud tahu, ia tidak berhak menjamah Saul. Namun sekarang ia harus menghadapi Saul sebagai musuh Filistin, negeri yang sedang ia bela. Dilema ini sebenarnya terjadi karena hikmat manusianya yang mengendalikan keputusannya, bukan mengandalkan Tuhan.

    Dalam posisi yang dilematis, tentu sangat sulit untuk memilih tindakan yang harus dilakukan. Daud hanya bisa mengalir mengikuti keadaan. Syukur, Tuhan tidak membiarkan Daud berlama-lama dalam kebingungan dan kecemasan.  Tuhan memberi pertolongan kepada Daud. Dia memberikan jalan keluar kepada Daud. Tuhan membuat para panglima Filistin tidak suka dengan Daud. Mereka minta raja Akhis untuk menyuruh Daud  pulang dan tidak ikut berperang.

    Perintah Akhis untuk menyuruh Daud pulang, merupakan jalan keluar yang Tuhan berikan kepada Daud di saat Daud dalam posisi dilematik dalam memilih dan bertindak. Di saat Daud tidak tahu apa yang harus dilakukan, Tuhan menyatakan jalan-Nya.

    Sahabat, walau kita kadang, bahkan mungkin sering, bikin ulah sendiri dalam hidup kita dan akibat ulah itu kita berada dalam dilema tertentu, Allah tetap mengasihi kita. Dia bisa meluputkan kita dari dilema tersebut karena Dia memiliki rancangan tertentu dalam hidup kita, yang tidak akan Ia biarkan dikacaukan oleh karena kelemahan dan keteledoran kita. Namun ingat, jangan sampai kita berpikir: Kita boleh hidup sembarangan,  nanti Tuhan yang membereskannya!

    Mari kita belajar dari pengalaman Daud,  untuk tidak membiarkan kekhawatiran yang tidak beralasan membelenggu kita, sehingga kita mengambil langkah yang salah dan menyulitkan kita sendiri.  Kita belajar untuk lebih memercayakan diri pada Tuhan dan cara-Nya mengatur hidup kita.

    Sahabat, sesulit bagaimanapun kondisi dan posisi kita, dan kita tidak tahu tindakan yang harus  kita lakukan,  serta dalam posisi dilematik,  semua tindakan yang akan kita lakukan terlihat semuanya serba tidak baik dan serba salah. Tetap percayalah kepada Tuhan, sesungguhnya  Tuhan tidak tinggal diam dan membiarkan kita dalam posisi tersebut. Kalau Tuhan belum menyatakan sesuatu, artinya belum waktunya Tuhan. Tetap berjalan dengan iman sampai waktunya Tuhan dinyatakan; sampai Tuhan membukakan jalan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dengan dilema?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Percayalah kepada Tuhan, sesungguhnya Tuhan tidak tinggal diam dan membiarkan kita dalam posisi dilematik. (pg).

  • MEMILIH KEMBALI BEKERJA

    Saudaraku, siapa pun membutuhkan dan akan menikmati liburan.  Namun orang yang liburan harus sadar bahwa itu hanya sementara dan harus kembali ke rutinitas semula.  Liburan tidak bisa menjadi alasan untuk menghindari tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh orang itu. Mari renungkan ‘liburan rohani’ ala Yesus dan bagaimana Ia akhirnya kembali kepada para murid sebagaimana dituliskan dalam Markus 9:2-13.

    Yesus mengajak tiga orang murid untuk liburan  sejenak ke gunung.  Di situlah terjadi transfigurasi (perubahan bentuk)  Yesus secara fisik dan bahkan mereka bertiga bisa melihat Musa dan Elia hadir di sana.  Tentunya karena zaman Musa dan Elia sudah berlalu, para murid memastikannya dari ciri-ciri fisik seperti yang dikisahkan kepada mereka di sekolah mereka dulu (setiap laki-laki Yahudi bersekolah di sinagoga sejak usia 6 atau 7 tahun hingga 12 tahun). 

    Itulah liburan ala Yesus yang menakjubkan, mempesona sekaligus menakutkan tiga murid Yesus hingga bahkan Petrus ingin membuat kemah untuk menikmati suasana yang ngeri-ngeri sedap bagi mereka (Markus 9:5-6).  Untunglah itu tidak terjadi dan setelah liburan selesai maka Yesus mengajak mereka turun gunung untuk menyambut dunia nyata yang penuh kedengkian dan permasalahan.  Mereka kembali berhadapan dengan para ahli Taurat dan orang-orang yang membutuhkan pemulihan secara utuh.

    Sangat menarik untuk merenungkan mengapa Yesus memilih turun gunung dan tidak mengabulkan ide Petrus yang terasa begitu rohani.  Walau takut, Petrus ingin mengabadikan momen yang super langka itu dan memperpanjang waktu surgawi yang dahsyat itu.  Namun Yesus menyadari benar misi kedatangan-Nya di dunia dan Ia harus menuntaskannya sampai selesai dibandingkan menikmati surga di atas gunung.

    Misi Yesus untuk memperkenalkan dan menyebarkan Kerajaan Allah masih menjadi prioritas dibanding suasana surga yang ada di atas gunung. Kedisiplinan Yesus menjaga misi kedatangan-Nya mendorong Ia kembali ke para murid yang ditinggalkan.  Yesus memberikan contoh tentang pentingnya konsistensi dalam bekerja menuntaskan tugas dibandingkan berlama-lama menikmati suasana surgawi.

    Menikmati hadirat Tuhan memang dirindukan oleh semua orang percaya Kristus, namun umat Allah memiliki tugas yang harus diselesaikan yaitu menjadi garam dan terang dunia (Matius 5 : 13-16) dan menjadikan semua bangsa murid Tuhan (Matius 28:19-20). 

    Itu berarti semua orang percaya tidak boleh memakai keinginan untuk berada dalam hadirat Tuhan sebagai alasan untuk menghindari tugas yang sudah diberikan oleh-Nya.  Ladang pelayanan Yesus sulit dan penuh pertentangan karena baru saja Ia turun gunung, Ia harus berhadapan dengan para ahli Taurat yang saat itu sedang “ribut” dengan murid-murid-Nya.  Namun Yesus menuntaskan pekerjaan-Nya dan tanpa mengeluh Ia menyelesaikannya sampai Ia kehilangan nyawa karenanya. 

    Di zaman ini makin banyak ladang yang harus digarap.  Seperti kata Yesus bahwa tuaian banyak tetapi pekerja sedikit, maka setiap orang percaya harus menyadari panggilannya sebagai pekerja di ladang Tuhan.  Ibadah dan merasakan hadirat Tuhan memang penting dan menjadi bahan bakar untuk mengasihi Dia.  Namun karena Tuhan Yesus menginginkan lebih dari sekadar menikmati kehadiran-Nya melainkan lebih kepada melakukan kehendak Bapa (Matius 7:21) maka umat perlu merespons keinginan Yesus. 

    Mari berjuang terus untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia dan melakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)