Category: Sejenak Merenung

  • Obedience and Alignment to His Word

    SELARAS. Sahabat, kita sering mendengar atau membaca ungkapan:  “Anda harus selaras dengan lingkunganmu untuk bisa menikmati  kebahagiaan”. Lalu apa  sebenarnya yang dimaksud dengan selaras?

    Salah satu definisi selaras yang saya temukan adalah “berada dalam garis lurus”. Definisi tersebut bagi saya kurang memiliki kedalaman yang saya tafsirkan. Definisi lain menambahkan lebih banyak substansi pada kata tersebut seperti “memberi dukungan kepada (orang, organisasi, atau tujuan).” 

    Mungkin bagi banyak orang, selaras adalah kata yang sederhana, artinya tidak lebih dari garis lurus. Bagi saya keselarasan adalah tempat dalam hidup saya yang saya cari, itu adalah emosi dan keadaan pikiran.

    Sahabat, ada cukup banyak orang yang menginginkan keselarasan, namun keinginan tinggal keinginan. Mengapa? Karena apa yang ditafsirkan kebanyakan orang sebagai keselarasan adalah momen di mana kita bekerja pada bidang yang kita impikan, memiliki kebebasan finansial, dan melakukan hal-hal yang kita sukai. Kebanyakan dari kita mengasosiasikan kata tersebut dengan keinginan materialistis. Bagi sebagian  orang berusaha menjadi orang yang memiliki segalanya, mobil, tas mewah, dan rumah impian. Bagi banyak orang, hal tersebut sedang diselaraskan! 

    Mari kita saling mengingatkan apa sebenarnya arti selaras. Sebagian dari antara kita diberitahu bahwa hidup adalah garis lurus. Kita diberitahu bahwa kita semua dilahirkan dengan bakat yang sangat jelas, sehingga kita harus berlatih hari demi hari sampai kita menjadi seorang ahli. 

    Kita semua harus memahami bahwa menjadi selaras adalah bagian dari menjadi. Tidak ada yang namanya garis lurus, luangkan waktu untuk memahami masa lalu kita untuk menaklukkan masa kini! 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Obedience and Alignment to His Word (Ketaatan dan Keselarasan Hidup kepada Firman-Nya)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 6:1-38 dengan penekanan pada ayat 12.   Sahabat, bacaan kita pada hari ini menjelaskan dengan begitu terperinci rancang bangun Bait Allah yang harus dibangun oleh Raja Salomo. Setiap ruang dalam bangunan pun dijelaskan dengan begitu rinci ukuran-ukurannya. Bahkan, waktu untuk memulai pembangunan dan kapan berakhirnya pun sudah ditetapkan oleh Tuhan yakni tujuh tahun. 

    Sahabat,  yang sangat menarik adalah pembangunan Bait Allah itu dilakukan tanpa terdengar suara palu atau kapak beradu karena para tukang yang membangunnya tidak menggunakan peralatan dari besi (Ayat 7). Semua harus dikerjakan tepat seperti yang dikehendaki Tuhan. 

    Namun dalam setiap rancangan yang telah ditetapkan Tuhan untuk pembangunan Bait Allah itu, Tuhan memberikan pesan khusus kepada Salomo. “Jika engkau hidup menurut segala ketetapan-Ku dan melakukan segala peraturan- Ku dan tetap mengikuti segala perintah-Ku dan tidak menyimpang dari padanya, maka Aku akan menepati janji-Ku kepadamu yang telah Kufirmankan kepada Daud…” (Ayat 12). Dalam setiap pekerjaan yang Salomo lakukan, Tuhan mengingatkannya untuk hidup selaras dengan firman-Nya. 

    Sahabat, melibatkan Tuhan dalam setiap rancangan kita seyogianya disertai dengan sebuah komitmen untuk hidup menyelaraskan diri dengan firman-Nya. Apakah kita melakukan panggilan hidup kita dalam pekerjaan dan pelayanan didasari hati yang mengasihi Tuhan? Ketaatan dan keselarasan hidup kita kepada firman-Nya kiranya menjadi hal yang utama dalam hidup kita sehingga kasih itulah yang mendorong kita bekerja dengan sukacita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12-13?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa komitmen untuk mengasihi Tuhan, apa pun yang kita lakukan akan menjadi hal yang sia-sia. (pg).

  • Sharing Makes Us More Capable

    HIKMAT ITU PEMBERIAN. Sahabat, apa yang kita minta kepada Tuhan dengan rendah hati dan ketulusan pasti akan kita dapatkan. Ungkapan tersebut menggambarkan apa yang dialami oleh raja Salomo. Dalam upaya memerintah kerajaannya, Salomo memiliki banyak tantangan untuk mempersatukan 10 suku yang ada di Utara dan 2 suku yang ada di Selatan. Bukan hanya itu, Israel juga memiliki ancaman dari kerajaan lain seperti Mesir dan Kerajaan yang ada di Timur. Tantangan dan ancaman tersebut mendorong Salomo sebagai raja untuk mengatasi hal tersebut. Oleh sebab itu ia harus memiliki karakter dan jiwa kepemimpinan yang mumpuni.

    Dalam dunia perjanjian Lama, Salomo dikenal sebagai raja yang bijak dan berhikmat, bahkan tidak ada yang mampu menandingi hikmat yang dimilikinya. Pertanyaan yang paling mendasar adalah dari mana Salomo mendapatkan hikmat tersebut? Kalau kita kembali mencermati 1 Raja-raja 3, di sana kita akan menemukan perjumpaan Salomo dengan Tuhan dalam sebuah mimpi. Pada saat itulah ia minta hikmat. Dengan demikian jelas bahwa hikmat Salomo diperoleh dari Allah melalui doanya.

    Apa yang dialami oleh Salomo bisa juga kta alami yaitu mendapatkan hikmat yang luar biasa. Ketika kita dengan kesungguhan datang kepada Tuhan dan mohon kepada-Nya,  pasti Dia akan memberikannya. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Sharing Makes Us More Capable (Berbagi Membuat Kita Semakin Mumpuni)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 4:1-34. Sahabat, pada masa pemerintahan Raja Salomo, Israel mengalami zaman keemasan. Raja membuat pemerintahan yang lebih efisien. Maka, penulis Kitab 1 Raja-raja mencatat: “Orang Yahudi dan orang Israel jumlahnya seperti pasir di tepi laut. Mereka makan dan minum serta bersukaria” (Ayat 20). Negara dalam keadaan aman dan makmur. Penulis menyatakan untuk persedian makanan di istana, dibutuhkan 5.000 liter tepung halus dan 10.000 liter tepung kasar, belum lagi dengan kebutuhan daging per harinya.

    Tak sekadar makmur. Penulis kitab 1 Raja-raja  menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan di sekitar Israel menyampaikan upeti sebagai tanda ketaklukan kepada Salomo (Ayat 21). Itu berarti Israel pada masa Salomo dihormati, juga ditakuti banyak bangsa. Sungguh masuk akal jika melihat bahwa Salomo memiliki 40.000 kandang kuda untuk kereta-kereta perangnya. Jika satu kereta ditarik empat ekor kuda, maka Israel mempunyai 10.000 kereta kuda. Bandingkanlah itu dengan Indonesia yang saat ini memiliki 314 buah unit tank.

    Sahabat, namun, di atas semuanya itu, penulis kitab 1 Raja-raja mencatat bahwa Allah memberikan hikmat dan pengetahuan yang luar biasa kepada Salomo (Ayat 29). Hikmat itu yang membedakannya dari raja-raja yang ada pada masa itu, sehingga banyak orang datang untuk menimba ilmu darinya.

    Apa yang dapat kita pelajari dari bacaan kita pada hari ini? Pertama, betapa pun tinggi prestasi manusia, semua itu hanyalah anugerah Allah. Persoalannya memang ada yang mengakui, namun ada pula yang tidak. Pengakuan itu menjadi logis karena manusia tidak begitu saja muncul di muka bumi ini. Allah menciptakan dan memperlengkapi manusia dengan akal budi, sehingga kita pun dipanggil untuk memuliakan Allah.

    Kedua, kita dipanggil pula untuk tidak menikmati kepandaian itu seorang diri saja, namun mau membagikannya kepada orang lain. Uniknya, saat berbagi ilmu, kita tidak akan pernah kehabisan ilmu itu sendiri. Berbagi membuat kita makin mumpuni. Oleh karena itu, marilah kita berbagi ilmu agar dunia semakin dipenuhi dengan banyak orang yang berhikmat. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 29-30?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hikmat dari Tuhan akan Dia berikan kepada kita yang meminta dengan kesungguhan hati tanpa terselip keraguan. (pg).

  • The Best and Most Beautiful Works

    BAIT SUCI SALOMO. Sahabat, setelah memasuki Tanah Perjanjian di Kanaan, bangsa Israel tetap memakai Kemah Suci hingga masa pemerintahan Raja Salomo. Sepanjang awal masa pemerintahannya, Salomo menugaskan ribuan orang untuk ikut ambil bagian di dalam pembangunan Bait Suci. Pada tahun keempat pemerintahannya, dasar bangunan Bait Suci sudah diletakkan, lalu tujuh tahun kemudian seluruh bangunan Bait Suci selesai dibangun. 

    Pembangunan Bait Suci Salomo dimulai dari tahun 966 SM dan selesai pada tahun 960 SM, jadi lamanya proses pembangunan kurang lebih tujuh tahun. Bait Suci Salomo merupakan tempat ibadah pertama yang dibangun permanen. Lokasi pembangunan Bait Suci terletak di Gunung Moria, Yerusalem. Yang menjadi arsitek pembangunan Bait Suci ini adalah Huram seorang keturunan Fenesia dan suku Naftali. Adapun ukuran bangunan tersebut adalah panjang 60 hasta, lebar 20 hasta dan tinggi 30 hasta (1 Raja-raja  6:2). 

    Bait Suci memiliki area pelataran, yaitu tempat untuk korban bakaran dan pembasuhan kaki. Lalu terdapat ruang kudus yang di dalamnya terdapat tempat mazbah dupa, meja tempat roti sajian, kandil-kandil dan bermacam perlengkapan ibadah. Selanjutnya ruang mahakudus tempat Tabut Perjanjian diletakkan. Para imam masuk melalui serambi yang luas dan pilar-pilar besar berada di sisi yang menuntun ke ruang kudus. Ruang kudus mendapat pencahayaan dari lilin dan sinar yang berasal dari jendela yang terletak sangat tinggi, sementara ruang mahakudus sangat gelap gulita. 

    Bait Suci ini berdiri sejak tahun 960-586 SM, namun sangat disayangkan karena akhirnya hancur ketika Nebukadnezar (Raja Babilonia) menaklukan Yerusalem.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari 1 Raja-raja dengan topik: “The Best and Most Beatiful Works (Karya Terbaik dan Terindah). Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 5:1-18. Sahabat, persiapan pembangunan Bait Suci menarik disimak. Salomo meminta kepada Hiram, raja Tirus, untuk mengirimkan pohon-pohon aras dari gunung Libanon (Ayat 6). Pada masa itu kayu aras terkenal sangat keras, tidak mudah lapuk, dan tahan rayap. Serat kayunya begitu padat sehingga bagus untuk ukir-ukiran dan baunya sungguh khas.

    Harganya pun tidak main-main. Salomo membayar dengan 322.500 kg gandum dan 4.400 liter minyak zaitun asli per tahunnya (Ayat 11). Jika harga gandum terbaik Rp 45 ribu per kg dan harga minyak zaitun terbaik Rp 300 ribu sekarang ini, maka setiap tahunnya Salomo mesti mengeluarkan sekitar Rp 16 miliar! Jika pembangunan Bait Suci itu memakan waktu 7 tahun, maka harganya menjadi sekitar Rp 112 miliar.

    Sahabat, harga yang lumrah mengingat kayu-kayu itu harus ditebang di pegunungan, dibawa ke Tirus, dan melalui Laut Tengah kayu-kayu itu dialirkan dalam bentuk rakit ke pelabuhan terdekat dengan Yerusalem (kemungkinan besar Yope), lalu dibawa kembali masuk ke pedalaman, dan ke dataran tinggi di Yerusalem (Ayat 9). Kita mungkin bertanya, mengapa Salomo mengimpor dan tidak menggunakan bahan bangunan lokal? Sepertinya Salomo ingin memberi yang terbaik bagi Allah. Untuk fondasinya, Salomo menggunakan batu-batuan pilihan dalam negeri sendiri (Ayat 17). Itu berarti Salomo tak hanya berorientasi impor.

    Karya terbaik dan terindah,  mesti dilakukan dengan cara baik. Itulah yang dilakukan Salomo. Dia tidak meminta kayu dari Tirus, tetapi sungguh-sungguh mau membayarnya dengan harga wajar dan tidak berutang.

    Sahabat, kita dapat belajar dari Raja Salomo. Saat mempunyai hajat membangun gedung gereja atau gedung pelayanan lainnya, adalah baik jika semua itu dibangun dengan semangat memberi yang terbaik. Namun, harus juga dengan cara yang terbaik. Jangan sampai belum apa-apa Panitia sudah minta diskon dari penyuplai dengan alasan untuk pekerjaan rohani. Kita perlu minta harga yang wajar. Tentu kita senang jika mereka turut berdonasi, namun jangan dipaksakan! Sehingga “gedung rohani” itu sungguh rohani dalam pengerjaannya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita memang harus menghormati dan menyenangkan hati orang tua kita. Namun, yang terutama harus kita senangkan dengan bakti dan hormat kita adalah Allah Bapa kita. (pg).

  • SANG PEMULIH SEJATI

    Saudaraku, salah satu penyakit tua yang memiliki dampak yang mampu menghancurkan hidup manusia adalah penyakit kusta.  Penyakit ini merusak fisik dan mental penderitanya.  Bagi si kusta, pulih seperti sediakala adalah anugerah yang luar biasa.   Mari kita  merenungkan Lukas 5:12-14.

    Dunia seakan runtuh saat seseorang didiagnosa menderita kusta, karena ia pasti akan terputus dari lingkungan sosial, kehilangan masa depan dan bahkan hilang kontak dengan Tuhan.  

    Orang-orang Yahudi melihat kusta sebagai hukuman karena hukum Taurat memandang sangat serius penyakit ini (Imamat 13 dan 14) dan juga fakta sejarah menunjukkan bahwa beberapa orang di masa lalu menderita penyakit ini setelah melakukan kesalahan yang fatal, misalnya Miriam (Bilangan 12:9-10), Raja Uzia (2 Tawarikh 26:19) dan bahkan Gehazi (2 Raja 5:26-27), pembantu nabi Elisa.  Tentunya sanksi sosial dan spiritual ini lebih menyakitkan dibandingkan penderitaan secara fisik yang harus mereka terima. 

    Pada umumnya orang-orang pada zaman itu percaya bahwa hanya Tuhan yang dapat menolong para penderita kusta.  Itulah sebabnya saat seorang yang penuh kusta bertemu dengan Yesus, ia memohon dengan sangat karena ia meyakini Yesus adalah utusan dari Allah.  Respon Yesus sungguh positif dan menguatkan, yaitu: 

    1. Menjamah orang kusta itu.  

    Para imam yang telah mengumumkan ke masyarakat tentang penyakit kusta itu, telah membuat semua orang tidak mau mendekat, apalagi menjamahnya (Imamat 13).   Maka tindakan Yesus yang mengulurkan tangan dan menjamah si kusta adalah luar biasa dan tidak lazim dilakukan oleh para guru pada zamannya.  Yesus menunjukkan penerimaan kepada orang itu, bahkan sebelum Ia menyembuhkannya.

    1. Menyembuhkan dan memulihkan kembali

    Kesembuhan bagi orang kusta adalah anugerah yang luar biasa karena ia bukan hanya disembuhkan secara fisik, namun juga akan dipulihkan secara sosial, spiritual dan mentalnya.  Yesus memulihkan seantero hidupnya bagaikan memberi kesempatan kedua.  Ya, kepulihan orang itu berarti terbukanya kembali masa depan bagi orang itu dan keluarganya.  Yesus yang menyembuhkan berarti Ia juga memulihkan orang itu secara keseluruhan: pemulihan sosial, pemulihan spiritual dan bahkan mentalnya.

    Saudaraku, zaman digital yang serba cepat membuat manusia makin lama makin rapuh.  Alih-alih menempa daya juang manusia, teknologi justru membuat mental manusia makin rapuh bagaikan orang berpenyakit kusta.  

    Kabar tentang pemuda pemudi yang putus asa dan melakukan bunuh diri, suami istri yang lekas lelah memperjuangkan pernikahan dan lebih memilih bercerai sebagai jalan keluarnya,  orang tua  ataupun anak yang enggan membicarakan masalah mereka dan memilih untuk saling tuntut atau bahkan saling bunuh untuk menyelesaikan masalah mereka, menunjukkan bahwa manusia masa kini harus waspada dengan kerapuhan mental.  

    Yesus adalah spesialis pemulihan yang sejati. Yesus sanggup memulihkan hati yang rapuh dan mental yang lemah. Mari datang dan meminta pemulihan kepada-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag).  

  • MENGHIDUPKAN AJARAN KRISTUS

    Saudaraku, mari membaca dan merenungkan Lukas 6:46-49.

    Dalam dunia pendidikan,  melakukan atau mempraktikkan sebuah bahan ajar merupakan proses belajar yang menghasilkan tingkat pemahaman tertinggi.  Seorang tokoh pendidikan bernama Edgar Dale, membuat sebuah kerucut pengalaman belajar sebagai hasil dari penelitiannya;   Dale mengatakan hasil belajar seseorang akan jauh lebih banyak diperoleh dengan melalui praktik langsung dibandingkan dengan sekadar membaca, melihat atau mendengar saja.  

    Pengalaman belajar seseorang makin besar dan makin memiliki pengaruh bagi orang saat mereka mempraktikkan materi ajar.  Siswa dapat mengingat bahan ajar sebanyak 10%  dengan membaca,  20%  dengan mendengarkan, 30%  dengan melihat, 50%  dengan melihat dan mendengar, 70%  dengan menceritakan kembali  dan 90%  dengan melakukan. Itulah sebabnya praktik menjadi bagian dari proses belajar untuk para pembelajar memperoleh pengalaman yang aktif dengan harapan penyerapan materi makin maksimal.

    Yesus menutup ceramah etika dengan sindiran tajam: Mengapa kamu memanggil aku Tuhan tapi kamu tidak melakukan apa yang Kukatakan kepadamu? (Lukas 6:46). Hal ini dikarenakan Yesus melihat pentingnya perubahan sikap dan respons dari para pendengarnya setelah Ia menyampaikan materi/bahan ajarnya. Yesus mengharapkan praktik dari para pendengar agar mereka menghidupkan ajaran-Nya.   

    Yesus menggambarkan para pelaku atau orang yang berani mempraktikkan ajaran-Nya bagaikan orang yang membangun di atas batu yang menghasilkan bangunan yang kokoh kuat, tidak gampang terpengaruh dengan dunia.  Memang membangun di atas batu membutuhkan kerja keras, fokus kuat dan daya juang namun hasilnya akan dapat dinikmati dengan maksimal.  

    Melakukan ajaran Kristus juga membutuhkan keteguhan hati, daya juang yang besar dan fokus yang kuat, namun hasilnya akan memuaskan. Yesus hendak mengajak para pendengarnya untuk tidak hanya mengagumi ajaran Kristus yang baik dan indah, namun melakukannya agar keindahan itu sungguh menjadi kenyataan dan mengubah keadaan menjadi lebih baik.

    Mahatma Gandhi pernah ditanya oleh misionaris Stanley Jones tentang alasannya menolak menjadi pengikut Kristus padahal Gandhi sering mengutip kata-kata Yesus.  Gandhi menjawab, ”Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus anda tapi saya tidak suka dengan orang Kristen anda.  Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus seperti yang ditemukan di dalam Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristen hari ini.”   

    Ketika ajaran hanya dikagumi tanpa dilakukan, ajaran itu hanya menjadi kata mutiara semata.  Kisah Gandhi menyatakan pentingnya praktik dalam proses belajar sehingga ajaran itu menjadi hidup dan mempengaruhi diri serta lingkungannya.  Mari belajar menjadi pembelajar yang aktif dengan mempraktikkan ajaran Kristus dan menghidupkannya dalam kehidupan sesehari sehingga terang itu bercahaya dan mereka melihat perbuatan baik itu sehingga memuliakan Bapa di Surga (Matius 5:16).  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Asking God’s Wisdom

    HIKMAT. Sahabat, hikmat adalah suatu kemampuan seseorang dalam menilai sesuatu mengenai orang, barang, kejadian dan situasi. Hikmat dapat dibedakan antara hikmat Allah dan hikmat manusia. Hikmat Allah adalah hikmat yang berasal dari Allah itu sendiri sedangkan hikmat manusia adalah kemampuan seseorang dalam berpikir dan bertindak dalam melakukan sesuatu.

    Sedangkan hikmat dalam 1 Korintus 2:6-16 memiliki pengertian yang berbeda dengan pengertian hikmat seperti yang sering dipikirkan seseorang, karena hikmat yang dimiliki berasal dari Allah itu sendiri dan hikmat itu tersembunyi dan rahasia, oleh karena hikmat Allah itu manusia dibebaskan dari dosa.

    Sahabat, hikmat sangat berhubungan dengan roh kita. Adapun hikmat sedemikian ini bukan dimiliki oleh pikiran alamiah manusia, melainkan diperoleh dari berdoa dan memohon. Arti hikmat menurut Alkitab lebih dalam dan lebih tinggi daripada pikiran yang terkandung dalam pengertian kita. Dengan pikiran dan pengertian kita membaca apa yang tertulis di dalam Alkitab, kita masih perlu menggunakan hikmat yang di dalam roh kita untuk mengetahui kebenarannya.

    Hikmat dalam arti utuh dan mutlak hanyalah milik Allah seorang. Hikmat-Nya mencakup bukan hanya sempurna, lengkapnya pengetahuan-Nya mengenai setiap segi bidang kehidupan, tetapi juga mencakup kedaulatan-Nya menggenapi secara tuntas hal yang ada dalam pikiran-Nya dan yang mustahil dapat digagalkan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Asking God’s Wisdom (Minta Hikmat Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 3:1-28. Sahabat, nama Salomo sudah tidak asing lagi. Dia seorang pemuda dari keturunan kerajaan. Salomo mewarisi kejayaan dan kemasyhuran ayahnya Daud, ketika Ia memerintah Israel sebagai Raja yang menggantikan Daud. Sebagaimana ayahnya, Salomo juga memilki kejayaan besar. Hidup Salomo benar-benar berada dalam kemewahan kerajaan. Namun untuk memerintah Israel yang besar dan rakyatnya yang keras kepala, Salomo mengakui dirinya masih sangat muda dan belum berpengalaman.

    Ditengah-tengah pergumulannya sebagai Raja yang masih sangat muda dan belum berpengalaman, Salomo menunjukkan kasihnya kepada Tuhan dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya (Ayat 3). Tuhan juga memerhatikan Salomo dan ketika menampakkan diri kepada Salomo di Gibeon, Tuhan bertanya apa yang diinginkan Salomo dari Tuhan. Salomo hanya meminta hikmat, yaitu hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat Israel (Ayat 9).

    Sahabat, lihatlah, apa yang diminta Salomo bukan kekayaan atau umur panjang atau apa saja yang sering diminta oleh orang-orang muda pada umumnya, tapi dia meminta sesuatu yang berkaitan dengan tugas yang diembannya.

    Dewasa ini kita sedang menghadapi persaingan hidup yang sangat ketat dan tidak sehat. Karena itu, perlu hikmat dari Tuhan. Hikmat manusia itu memang oke, tapi tanpa hikmat Tuhan, pasti banyak sasaran hidup yang menyimpang dari firman-Nya. Jadi, jangan hanya memilki hikmat manusia, tapi miliki juga hikmat Tuhan. Hikmat Tuhan itu jauh lebih dahsyat daripada hikmat manusia.

    Sahabat, bila kita telah memilki kelebihan, jangan sombong, sebab hikmat yang kita peroleh ini adalah pemberian Allah. Jika kita sombong, sama halnya kita menempatkan diri lebih daripada-Nya. Nah, kalau kita sampai berani menempatkan diri lebih daripada-Nya berarti kita telah menempatkan diri sebagai musuh Allah. Gawatkan? Nah, miliki hikmat-Nya melebihi hikmat manusia agar hidup kita tidak menyimpang dari firman-Nya! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 28?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Segenap umat Israel memercayai bahwa apa yang dilakukan Salomo bukanlah hasil olah pikirnya sendiri. Allah telah memberikan hikmat-Nya dalam hati Salomo. (pg).

  • Let’s Sacrifice

    BERKORBAN. Sahabat, berkorban adalah bukti kasih. Di balik kisah sukses Daud ada banyak campur tangan orang yang dipakai Tuhan guna mendukungnya. Salah seorangnya adalah triwira, pahlawan yang tergolong dalam pasukan elit yang sangat disegani. Meski Alkitab tidak mengupas kehidupan pribadi mereka secara terperinci, bahkan namanya pun tidak disebutkan, namun kisah kepahlawanan mereka begitu hebat dan heroik. Bahkan pengorbanannya membuat Daud sangat terkesan. Hal itu terjadi saat Daud kehausan. Mereka bertiga rela mengorbankan diri bertaruh nyawa menerobos masuk ke kawasan musuh di Betlehem hanya untuk mengambil air yang diinginkan Daud (2 Samuel 23:16).

    Sepintas tindakan triwira ini tampak berlebihan. Mau-maunya mereka berjuang bertaruh nyawa hanya demi mendapatkan air! Tetapi rasa tanggung jawab dan kasih mereka kepada sang pemimpin membuat mereka rela berkorban. Mereka rela melakukannya meskipun tidak ada iming-iming imbalan, baik yang berupa kenaikan jabatan, atau upah yang menggiurkan. Mereka bahkan tidak memikirkan nasibnya sendiri seandainya sesuatu yang buruk terjadi dan mereka mati konyol. 

    Seberapa besar kerelaan hati yang kita miliki dalam berkorban demi menyatakan tanggung jawab dan kasih? Baik terhadap Tuhan, keluarga, gereja, bahkan juga di tempat kerja. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak rela berkorban dalam menyatakan kasih karena Allah sudah lebih dulu berkorban habis-habisan demi menyatakan kasih-Nya bagi kita.

    Syukur hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Let’s Sacrifice (Mari Berkorban)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 24:1-25. Sahabat, biasanya orang yang bersalah mencoba berkelit atau menimpakan kesalahan kepada orang lain. Ada yang lebih jahat lagi, mengorbankan orang lain untuk menanggung kesalahannya! Namun hal tersebut tidak kita dapati pada Daud.

    Sahabat, Daud bersalah karena kesombongannya, ia menghitung pasukannya agar dapat membanggakan kekuatan militernya. Memang dalam kalimat pembuka pasal ini, seolah Tuhan yang menjadi penyebab Daud melakukan sensus itu. Kalimat ini bisa dimengerti seperti Allah dahulu mengeraskan hati Firaun yang telah lebih dahulu mengeraskan hati (Keluaran 7-10). Di hati Daud mungkin sudah ada rasa bangga karena kemenangan gemilang Israel melawan para musuh mereka, terutama Filistin.

    Karena nuraninya sudah terlatih, segera setelah melaksanakan sensus, Daud sadar bahwa ia sudah berdosa (Ayat10). Pengakuannya kepada Tuhan, membuat Tuhan memberikan pilihan jenis hukuman yang harus diterima. Di sini Daud memakai hikmat akal sehat serta pengenalannya akan Tuhan. Jatuh ke tangan Tuhan (Ayat 14) menjadi pilihan Daud. Malapetaka yang menimpa umat sedemikian mengerikan, sehingga mengharukan Tuhan sendiri (Ayat 16). Sementara, tugas Daud ialah mewakili umat untuk memohon belas kasih.

    Sekali lagi kita melihat tanggung jawab Daud dalam kepemimpinannya atas Israel. Sebagai raja ia berhak menuntut Arauna untuk menyerahkan tanahnya guna dipakai sebagai tempat mazbah pendamaian didirikan. Namun, Daud tidak mau mengorbankan seorang pun rakyatnya. Ia membeli tanah itu dari tangan Arauna. Dialah yang berkorban, mewakili umatnya. Korbannya diperkenan Tuhan, tulah pun diangkat.

    Sahabat, kitab 2 Samuel ditutup dengan karakter Daud yang ditempa semakin sesuai dengan jabatan raja-gembala. Raja-gembala yang baik bukan mengorbankan rakyatnya, melainkan berkorban bagi mereka. Dalam hal ini, Daud merupakan lambang bagi Kristus. Dialah Raja-Gembala umat manusia. Dia mengorban hidup-Nya bagi umat manusia, agar manusia beroleh hidup kekal. Mari kita meneladani Kristus melalui meneladani Daud. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang berkorban?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berkorban untuk menyatakan kasih adalah keteladanan dari Tuhan. (pg).

  • Obedience Will Save You!

    KITAB 1 RAJA-RAJA. Sahabat, kitab 1 Raja-raja (disingkat 1 Raja-raja; akronim 1Raj.) merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kitab-kitab sejarah pada Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Kitab 1 Raja-Raja tidak menyebutkan nama penulisnya, sedangkan  tradisi menyatakan bahwa kitab ini ditulis oleh nabi Yeremia. Kitab 1 Raja-Raja kemungkinan besar dituliskan dalam kurun waktu antara tahun 560- 540 SM. Kitab ini merupakan kelanjutan dari kitab 1 dan 2 Samuel. Diawali dengan kisah kenaikan Salomo menjadi raja setelah kematian Daud.

    Kitab 1 Raja-raja merupakan lanjutan dari kitab-kitab Samuel, yang berisi tentang sejarah pemerintahan raja-raja Israel. Sejarah yang dimuat dalam kitab ini dapat dibagi dalam tiga bagian: Pertama,  wafatnya Raja Daud  dan pengangkatan Salomo menjadi raja atas Kerajaan Israel bersatu menggantikan Daud. Kedua, pemerintahan Raja Salomo dan hasil-hasil usahanya, khususnya dalam membangun Bait Allah di Yerusalem.  Ketiga, bangsa Israel terpecah menjadi Kerajaan Israel  (Utara) dan dan Kerajaan Yehuda (Selatan), dan sejarah raja-raja yang memerintah kedua kerajaan tersebut sampai pertengahan abad ke-9 SM.

    Di dalam kedua kitab Raja-raja, setiap raja dinilai berdasarkan kesetiaannya kepada Tuhan, dan kemakmuran adalah akibat dari kesetiaan tersebut. Sebaliknya, penyembahan berhala dan ketidaktaatan mengakibatkan bencana. Berdasarkan penilaian tersebut raja-raja kerajaan utara semuanya gagal, sedangkan raja Yehuda ada yang gagal, ada pula yang tidak.

    Yang terpenting dalam Kitab 1 Raja-raja adalah karya dari nabi-nabi Tuhan. Mereka digambarkan sebagai juru bicara Allah yang berani memperingatkan raja dan bangsa Israel supaya tidak menyembah berhala dan tidak meremehkan perintah-perintah Allah. Nabi yang menonjol ialah Elia, dan kisahnya yang terkenal adalah ketika ia bertarung dengan para imam Baal (1 Raja-raja 18).

    Hari ini, kita akan mulai belajar kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Obedience Will Save You! (Ketaatan Akan Menyelamatkanmu!)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 1:1-53. Sahabat, menjadi tua bisa saja membuat kita kurang bijaksana, tetapi ketaatan kepada Allah menyelamatkan kita. Pada masa tuanya, Daud membuat keputusan penting, yaitu memilih Salomo menggantikan dirinya sebagai raja atas Israel.

    Daud menyampaikan kepada Batsyeba bahwa takhta kerajaan Israel diwariskan kepada Salomo sesuai dengan janjinya di hadapan Tuhan (Ayat 28-31). Daud pun kemudian memberi perintah penting kepada Imam Zadok, Nabi Natan, dan Benaya bin Yoyada untuk melakukan prosesi pengurapan Raja Salomo atas Israel di Gihon (Ayat 32-37).

    Sahabat, lalu Nabi Natan, Imam Zadok, dan Benaya bin Yoyada melakukan perintah Raja Daud dengan diikuti oleh orang Kreti dan orang Pleti, serta seluruh rakyat pun kemudian mengikuti mereka sambil bersukaria dan meniup suling (Ayat 38-40). Setelah Adonia mendengar tentang pengangkatan Salomo, dia menjadi takut kepada Salomo dan ditinggalkan oleh para pengikutnya. Dia mencari perlindungan dengan memegang tanduk-tanduk mazbah, dan dia diizinkan hidup oleh Raja Salomo (Ayat 49-53).

    Dari kisah pengurapan Raja Salomo atas Israel tersebut, kita belajar bagaimana kerap kali kita kurang mampu memberikan perhatian terhadap anak-anak yang kita kasihi. Namun demikian, Tuhan tetap menunjukkan kesetiaan-Nya dengan memberi teguran kepada kita. Tidak ada kata terlambat dalam menaati firman Tuhan. Raja Daud pada masa tuanya ditegur oleh Allah melalui Nabi Natan mengenai perilaku anaknya dan menaati teguran itu. Pada akhirnya, ketaatan Daud membuatnya bisa menyelamatkan kerajaannya. Dia masih bisa melihat pewaris takhtanya sebelum dia meninggal.

    Sahabat, apakah kita sedang merasa terancam atau sedang merasa gagal? Tuhan tidak akan membiarkan kita terlantar. Oleh karena itu, kita harus terus peka terhadap pimpinan-Nya. Jika kita mendengarkan teguran dari-Nya, kita harus segera taat. Tidak ada kata terlambat untuk taat kepada-Nya. Ketaatan kita kepada Tuhan menolong kita memperbaiki kesalahan dan membuka kesempatan bagi kita untuk menjadi lebih baik. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bila kita gagal meraih cita-cita, cobalah selidiki apakah ada kaitannya dengan ambisi yang tidak kudus. Jika ya, bertobatlah, supaya kasih setia-Nya tetap memelihara kita dan kesempatan kedua diberikan pada kita. (pg).

  • Carrying Out Father’s Testament

    WASIAT AYAH. Setelah multimiliuner J.P. Morgan (seorang pendiri General Electric) meninggal dunia, segenap keluarga berkumpul untuk membuka wasiatnya. Orang mengira sebagian besar isinya mengenai pembagian harta. Namun mereka salah. Berikut petikan isi surat wasiatnya: “Saya menyerahkan jiwa saya ke tangan Sang Juru Selamat. Saya telah ditebus dan disucikan oleh darah-Nya, sehingga Dia akan membawa jiwa saya tanpa cacat cela kepada Bapa surgawi. Karena itu saya minta agar anak-anak terus mempertahankan dan menjalankan pengajaran mengenai penebusan sempurna oleh darah Kristus yang tercurah; dengan segala tantangan, risiko, maupun pengorbanan pribadi yang menyertainya.”

    Kebanyakan orangtua berpikir keras hendak mewariskan sebanyak mungkin harta bagi anak-anaknya. Namun, J.P. Morgan memberi kita pandangan yang berbeda. Sebagai warisan terutama dan termahal, Morgan lebih memilih mewariskan iman kepada Kristus bagi anak-anaknya. Segala bentuk harta benda-sebaik apa pun kita menyimpannya, dapat habis dan lenyap. Namun, iman kepada Kristus memberi hidup yang takkan layu.

    Sahabat, mari kita mulai mempersiapkan mewariskan iman semacam itu kepada anak-anak kita, mulai hari ini, yakni melalui pembicaraan yang berulang-ulang tentang firman Tuhan (Ulangan 6:6-9). Tentang Kristus yang menanggung hukuman dosa kita di kayu salib, agar kita memiliki hak untuk hidup kekal bersama-Nya. Tentang bagaimana anak Tuhan belajar menaati dan melakukan kehendak-Nya. Tentang cinta Allah yang nyata dalam kehidupan masing-masing pribadi. Niscaya warisan itu akan menjadi harta paling berharga, kapan pun anak-anak akan membuka surat wasiat kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Carrying Out Father’s Testament (Menjalankan Wasiat Ayah)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 2:13-46. Sahabat, tentulah tak mudah bagi Salomo untuk menjalankan wasiat ayagnya. Meski raja, dia tak begitu saja bisa membunuh Yoab dan Simei atas kesalahan mereka pada masa lalu. Yoab telah membunuh Abner tanpa alasan dan Simei telah mengutuki Daud. Menarik disimak, dalam bacaan kita pada hari ini, Allah sendiri yang membuka jalan untuk semuanya itu.

    Adonia memohon kepada raja melalui Batsyeba untuk menjadikan Abisag, gadis Sunem itu, sebagai istri. Abisag adalah salah seorang istri Raja Daud. Salomo melihat rencana itu sebagai usaha Adonia yang didukung Yoab untuk menjadi raja yang sah. Pada masa itu, siapa pun yang menikahi istri raja dianggap mewarisi takhtanya. Salomo yang peka akan muslihat itu langsung memerintahkan Benaya untuk membunuh Adonia.

    Hukuman raja membuat Yoab kelimpungan. Yoab lari ke Kemah Tuhan dan memegang tanduk-tanduk mazbah. Karena segenap mazbah kudus, maka orang yang memegang sudutnya saja dianggap terlindung dari pembunuhan. Namun demikian, Yoab melakukan kesalahan ketika menolak keluar dari kemah Tuhan sembari berkata, “Tidak, sebab di sinilah aku mau mati” (Ayat 30). Perkataan itu malah menjadi alasan sah bagi Salomo untuk menuntaskan wasiat Daud.

    Berkait wasiat ayahnya tentang Simei, Salomo mendapat kesempatan ketika Simei melanggar janji yang diucapkannya sendiri di hadapan Salomo. Simei yang telah berjanji tidak akan keluar dari Yerusalem, ternyata meninggalkan Yerusalem untuk mengambil kembali dua orang hambanya yang melarikan diri. Bisa jadi Simei lupa akan janjinya atau dia merasa Salomo tak akan mempermasalahkannya.  Melanggar janji kepada raja adalah kesalahan dan hukumannya adalah mati. Dengan terbunuhnya Simei, kutukan Simei terhadap Daud diakhiri.

    Sahabat, apa yang bisa kita pelajari dari bacaan kita pada hari ini? Dalam beberapa kasus, agaknya kita tak perlu berencana macam-macam. Jika memang itu kehendak Allah, Dia akan menyediakan jalan untuk kita lalui. Percayalah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang wasiat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Uang dan harta memang berguna di dunia, namun hanya iman pada Kristus yang berguna di surga. (pg).

  • LANJUTKANLAH !

    Saudaraku, manusia selalu berusaha untuk bisa hidup dalam kenyamanan.  Sebisa mungkin dan sekuat mungkin kenyamanan dipertahankan selama mungkin.  Namun Yesus memiliki prinsip hidup yang berbeda.  Mari kita merenungkan Lukas 4:31-44.

    Yesus ditolak di Nazaret dan bahkan hampir dibunuh (Lukas 4:16-30) sehingga Ia memilih pergi dari sana.  Namun saat Ia pergi ke Kapernaum, Ia mendapat respons sebaliknya.  Orang-orang Kapernaum mempercayai-Nya dan bahkan mengagumi pengajaran-Nya sehingga mereka dapat merasakan mukjizat-Nya.  sehingga mereka menginginkan Yesus tinggal lebih lama di daerah mereka.  Yesus menjadi viral di Kapernaum. Mereka tidak membiarkan Yesus sendirian apalagi pergi meninggalkan mereka.  Jangan sampai Yesus pergi karena Ia bisa mengatasi apa yang mereka inginkan dan butuhkan.  Rasanya lebih aman dan nyaman kalau Yesus Bersama mereka. 

    Bagi Yesus sendiri tanggapan sangat positif ini tentunya sangat menyenangkan.  Sebagai manusia, Yesus pasti menikmati kepopuleran.  Ia dipuja, dirindukan, dicari banyak orang.  Siapa tidak bangga?  Siapa yang menolak?  Manusia selalu rindu pengakuan dan penghargaan seminim apa pun.  Seorang yang Bernama Abraham Maslow menempatkan penghargaan sebagai kebutuhan yang ingin didapat oleh manusia, yang membuat manusia menjadi manusia.  Hal ini membuktikan bahwa sekecil apapun manusia membutuhkan penghargaan untuk dapat mengembangkan dirinya. 

    Sebagai manusia, Yesus pasti merasakan energi positif penduduk Kapernaum.  Namun ternyata apresiasi yang didapat-Nya tidaklah membuat-Nya berpaling dari misi utama kedatanganNya yaitu mengabarkan tentang Kerajaan Allah.  Tujuan hidup membuat Yesus memilih untuk keluar dari Kapernaum dan berjalan mengajar ke kota lain.  Ia meninggalkan kenyamanan dan memilih untuk mencapai tujuan-Nya.  Kegigihan Yesus mengajar membuat banyak orang mengenal Kerajaan Allah dan menjadi kekuatan manusia dari generasi ke generasi hingga saat ini. 

    Zona nyaman bukanlah pemberhentian akhir.  Ketika harapan sudah dicapai, target sudah di tangan seharusnya perjalanan harus tetap dilanjutkan.  Kalau hidup orang percaya diumpamakan dengan Bus Rapid Transit (BRT) maka setiap orang percaya sebenarnya sudah memiliki tujuan akhir  yang ditetapkan oleh Allah yaitu panggilan surgawi dalam Kristus Yesus.  Untuk menuju ke tujuan itu, bus harus menjalankan tugasnya sebagai alat transportasi. 

    Orang percaya juga diberi tugas di sepanjang perjalanan menuju ke tujuan akhir dan Yesus mengatakan tugas orang percaya adalah: Setiap orang percaya seharusnya menjadi terang yang bercahaya di depan orang sehingga mereka melihat perbuatan baiknya dan memuliakan Bapa di Surga (Matius 5:16) dan setia menjalankan Amanat Agung (Matius 28:20). 

    Memang bis akan berhenti sejenak di shelter-shelter yang dilewati, sehingga sopir bisa beristirahat sejenak, namun bus harus tetap berjalan terus melanjutkan tugasnya sampai ke tujuan akhir.  Demikian juga orang percaya perlu berpikir bahwa pencapaian targetnya saat ini hanyalah sebuah shelter permberhentian sementara dan setelah itu mereka harus terus melanjutkan perjalanan kepada tujuan Allah.  Mari terus gigih berjalan menuju tujuan yang Allah sudah tetapkan.  Hanya si pemberani yang mampu melawan ego untuk keluar dari zona nyaman.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)