Category: Sejenak Merenung

  • Itai, The True Friend of King David

    KAWAN SEJATI. Sahabat, dalam perjalanan hidup, akan ada banyak orang yang datang dan pergi silih berganti. Sebagian orang yang kita temui bisa pergi tanpa meninggalkan kesan apa pun, tetapi yang lain mungkin akan menjadi kawan, bahkan kawan sejati.

    Memiliki kawan sejati bukan hanya bisa mengusir kesepian, tetapi juga baik untuk kesehatan mental. Namun perlu diingat, persahabatan yang sehat melibatkan komunikasi dua arah yang terbuka, artinya ketika kamu menganggap seseorang kawan sejatimu, pastikan ia pun menganggapmu sebagai  kawan sejatinya.

    Kawan sejati adalah seorang pendukungmu yang objektif. Dia selalu memberi dukungan, baik saat susah maupun senang. Ia akan dengan senang hati mendengarkan curahan hatimu. Ia menjadi pendengar yang baik dan sabar.

    Ia juga menjadi orang yang membuatmu bangkit saat kamu sedang dihadapkan pada tantangan hidup. Sebuah studi mengungkapkan bahwa dukungan moril yang diberikan oleh kawan sejati dapat membantu seseorang melewati masa-masa yang berat di dalam hidupnya.

    Selain itu, tanda seseorang merupakan kawan  sejatimu adalah jika ia mampu menegur jika kamu melakukan hal-hal yang salah. Ketahuilah saat seorang kawan  sejati menegurmu, semata-mata karena ia menngasihimu.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Itai, The True Firiend of King David (Itai, Kawan Sejati Raja Daud)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 15:13-37 dengan penekanan pada ayat 21. Sahabat, Daud dikhianati anaknya sendiri. Absalom melakukan kudeta. Banyak orang Israel berbalik mendukung Absalom. Bukan hanya kehilangan takhta, nyawa pun terancam. Daud terpaksa meninggalkan istana. Sepanjang perjalanan, muncul tokoh-tokoh yang tetap setia kepadanya. Salah seorang kawan sejati Daud adalah Itai.

    Dikisahkan bahwa pegawai istana, orang Kreti, Pleti, dan Gat (sekitar 600 orang) melarikan diri bersama Daud. Di antaranya adalah pengawal pribadi raja, termasuk Itai (orang Filistin). Ketika Daud melarikan diri dari Raja Saul yang ingin membunuhnya, ia bersembunyi di gua Adulam. Di situ ia bertemu dengan 30 orang pelarian dari berbagai bangsa. Bersama mereka, Daud membentuk kelompok Adulam. Mereka menjadi pasukan yang kuat dan setia kepada Daud.

    Sahabat, setelah Daud menjadi raja, tim elite ini merekrut tentara baginya. Itai orang baru. Ia tidak punya riwayat bersama Daud. Lagi pula, masa depan Daud saat itu tidak jelas. Bisa jadi Absalom menangkap dan membunuh Daud dan semua pengikutnya. Maka, Daud menyuruhnya tinggal, melayani Absalom, yang sebentar lagi akan menguasai istana. Itai bersikukuh: “Demi TUHAN yang hidup, dan demi hidup tuanku raja, di mana tuanku raja ada, baik hidup atau mati, di situ hambamu juga ada” (Ayat 21). Kesetiaannya bukan demi Daud, tetapi juga demi Tuhan.

    Daud tahu kejadian yang menimpanya merupakan penggenapan nubuatan nabi Natan atas perbuatannya terhadap Batsyeba dan Uria (2 Samuel 12:10-11). Itai tetap setia, meski tidak ada alasan baginya untuk bersikap demikian. Itai menjadi kawan sejati bagi Daud.  Sesungguhnya hal tersebut menggambarkan kesetiaan Tuhan. Meskipun Daud manusia berdosa, Ia tidak meninggalkannya.

    Sahabat, daripada mengeluh dan menyalahkan Tuhan pada saat susah, lebih baik memfokuskan diri kepada orang-orang yang tetap ada di sisi kita. Merekalah kawan sejati. Mereka menunjukkan kesetiaan dan pertolongan Tuhan pada saat paling dibutuhkan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pad hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami mengenai kawan sejati?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kawan yang setia di sisi kita pada saat kita mengalami kesusahan adalah kawan sejati. (pg).



  • Never Bite the Hands that Feed You!

    AIR SUSU DIBALAS DENGAN AIR TUBA. Sahabat,  sejak SD saya senang dengan mata pelajaran bahasa Indonesia, apalagi kalau membahas peribahasa. Judul renungan saya hari ini senada dengan arti peribahasa kuno: Air susu dibalas dengan air tuba. Peribahasa tersebut  sudah sangat familier di masyarakat kita. Peribahasa tersebut  sering dipakai dalam percakapan sehari-hari.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu. Peribahasa adalah bagian dari sastra rakyat yang dimiliki setiap daerah. Bentuknya berupa kalimat ringkas berisi nasihat atau sindiran yang diungkapkan menggunakan kiasan.

    Salah satu peribahasa yang sering dipakai dalam obrolan adalah air susu dibalas dengan air tuba. Peribahasa tersebut  biasanya digunakan untuk menyindir seseorang yang tidak tahu diri. Makna air susu dibalas dengan air tuba adalah kebaikan yang dibalas dengan kejahatan.

    Sahabat, Tuba adalah jenis pohon yang akarnya mengeluarkan getah beracun. Getah tersebut kerap dipakai untuk menangkap ikan. Ada pun susu adalah minuman yang menyehatkan dan tinggi nutrisinya. Kata tuba dan susu digunakan sebagai kiasan untuk membandingkan dua hal yang sangat kontras, dalam konteks peribahasa tersebut adalah kejahatan dan kebaikan.

    Makna dari peribahasa tersebut menggambarkan orang yang tidak baik budinya. Orang yang tidak tahu berterima kasih. Biasanya perilaku tersebut  hanya dilakukan oleh orang jahat dan penuh rasa dengki, sebab, membalas kebaikan orang dengan kejahatan adalah tindakan yang tidak baik dalam norma sosial.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Never Bite the Hands that Feed You! (Jangan Pernah Menggigit Tangan yang Memberi Makan Anda!)”.  Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 14:1-33. Sahabat,  perbuatan baik seseorang dibalas dengan perbuatan jahat,  itulah tindakan Absalom yang memerintahkan anak buahnya untuk membakar ladang Yoab (Ayat 30). Kalau Absalom mau melihat segala sesuatu dengan hati yang bening, lebih cermat dan memperhatikan semua yang dilakukan Yoab baginya, bisa jadi dia mengurungkan niatnya.

    Dalam bacaan kita pada hari  ini, kita bisa melihat bagaimana Yoab berupaya memberikan yang terbaik bagi raja. Ia tahu Raja Daud sangat merindukan Absalom (Ayat 1), tetapi dia malu mengakuinya. Ia juga merasa tak enak meminta Yoab untuk memanggil anaknya pulang. Di sinilah kelebihan Yoab. Ia tahu apa yang diinginkan Daud. Kebahagiaan Daud merupakan hal terpenting bagi dia.

    Sahabat, dengan sengaja Yoab mengutus seorang perempuan bijaksana dari Tekoa untuk berpura-pura berkabung di hadapan raja dan mengutarakan persoalannya. Perempuan itu yang mendorong Daud mengambil keputusan untuk memanggil Absalom pulang dari pembuangan. Namun, Daud tidak memperkenankan Absalom menghadap dia (Ayat 21-23). Di sini Yoab adalah perancang kepulangan Absalom dari pembuangan. Memang Yoab sendiri tak berani melanggar perintah Daud, sehingga Yoab menolak permintaan Absalom untuk bertemu dengan ayahnya.

    Sayangnya, Absalom tidak mengingat dan memperhitungkan kebaikan Yoab. Yang dia tahu, keinginannya tidak terpenuhi. Ia juga marah kepada Yoab yang tidak mau bertemu dengannya, meski sudah tiga kali dipanggil. Absalom agaknya lupa bahwa dia memang anak raja. Akan tetapi, anak raja tetaplah anak raja, dan belum menjadi raja. Yoab mestinya memang hanya tunduk kepada raja.

    Sahabat, sayangnya itu tidak dilakukan Absalom. Demi mencapai tujuannya, dia merasa boleh berbuat apa saja. Ia rela menyakiti orang yang telah membantunya pulang ke Israel. Dari kisah relasi Yoab dengan Absalom, kita bisa bejalajar Absalom memang bukan tipe pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik tak pernah dengan sengaja menyakiti orang lain, apalagi menyakiti orang yang telah berbuat baik baginya. Orang yang baik tidak pernah menggigit tangan orang yang memberi makan kepadanya. Semoga kita ingat membalas budi orang yang pernah menolong kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-22?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Memang relasi tidak selalu berjalan mulus, karena itu rekonsiliasi bisa menjadi jalan keluar bagi pemulihan sebuah relasi. (pg).

  • BERITAKAN DAN BAPTISKAN!

    Saudaraku, badai sudah menerpa dengan keras sejak awal Yesus bekerja.  Banyak orang yang diberkati namun sangat banyak yang membenci, hingga akhirnya berusaha membungkam-Nya dengan berbagai cara.  Puncaknya ketika Yesus berhasil ‘dilenyapkan’ dengan cara licik.  Namun ternyata kisah-Nya tidak berhenti dengan tubuh-Nya yang dimasukkan ke liang kubur.  Kisah itu terus berlanjut hingga hari ini. Mari kita merenungkan Markus 16:9-20.

    Penghukuman terhadap Yesus mengakhiri kisah-Nya di dunia.  Selesai mayat-Nya dikuburkan, semua berharap suasana kembali normal.  Pusat pengajaran kembali ke sinagoge, tidak ada lagi kerumunan masyarakat yang menanti untuk disembuhkan, tidak ada lagi perdebatan dengan para pemuka agama atau cerita-cerita mukjizat diantara rakyat. 

    Sejak Yesus dikuburkan maka diharapkan minggu itu menjadi tenang.  Namun ternyata itu salah besar.  Justru setelah ketenangan sehari, pada hari minggu itu menjadi hari yang luar biasa dan menjadi titik awal sebuah gerakan yang hingga sekarang masih dilakukan.  Injil Markus tidak ditutup dengan ketakutan para murid atau bungkamnya mereka karena peristiwa pembunuhan Sang Guru secara sadis namun justru ditambahkan tulisan tentang Amanat Agung Yesus yang mencegah para murid bungkam dan mulai aktif mengabarkan Berita Sukacita.

    Pembungkaman terhadap kemanusiaan Yesus telah berhasil dilakukan, namun Injil tidak akan pernah bisa dibungkam.  Setelah kematian Yesus, kabar tentang kelepasan dalam nama-Nya terus diberitakan dan tidak terbendung hingga saat ini. Injil Markus secara gamblang menuliskan amanah dari Yesus yang akan naik ke surga , yaitu :

    1. Memberitakan Injil

    Para murid diutus untuk bersaksi.  Mereka tidak diizinkan diam untuk menyimpan semua kisah Sang Kristus melainkan memberitakan kepada orang lain tentang Kerajaan Allah.  Mereka harus terus bergerak untuk bersaksi.  Penulis bagian penutup Injil Markus hendak menyampaikan bahwa tugas gereja yang POKOK adalah BERSAKSI.

    • Membaptiskan mereka yang percaya

    BAPTISAN menandakan ikatan dalam komunitas.  Para murid diminta untuk tidak hanya menginjil namun mengumpukan mereka yang percaya untuk terhimpun dalam sebuah komunitas.  Tugas gereja yang lain adalah PERSEKUTUAN.  Setelah dibaptiskan dengan nama Yesus, maka orang percaya berkomitmen untuk mengikuti jejak-Nya bersama komunitas imannya.

    Dengan indahnya Injil Markus menuliskan bahwa TUHAN TIDAK TINGGAL DIAM. Ia menyertai, turut bekerja dan meneguhkan Firman yang diberitakan (Markus 16:20). 

    Tongkat estafet PENGINJILAN  telah beralih kepada orang percaya sejak Dia naik ke surga.  Setiap gereja-Nya  yang harus melakukan tugas tersebut dengan penyertaan dan peneguhan dari Kristus sendiri. Tugas gereja bukanlah hanya membangun gedung megah, memperkaya hidup, membuat acara-acara spektakuler dan megah.  TUGAS UTAMA GEREJA  adalah MEMBERITAKAN INJIL  dan MEMBANGUN KOMUNITAS IMAN dalam Kristus. 

    Memang ada tanda-tanda yang menyertai, namun itu hanya sampingan saja. TUGAS POKOK GEREJA  tetaplah MEMBERITAKAN KABAR BAIK  dan MEMBAPTIS mereka yang mau percaya serta menjadikannya satu dalam sebuah komintas.  Gereja perlu belajar konsisten berjalan dalam tugas yang sudah diberitakan Sang Kristus, apa pun yang terjadi.  Tetaplah setia mengerjakan tugas itu seperti Kristus telah setia melaksanakan tugas hingga akhir.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Tragedy of the King’s Family

    TRAGEDI. Sahabat, dari Wikipedia saya mendapat informasi bahwa tragedi atau dukacarita adalah genre drama  yang menceritakan kisah yang menyedihkan. Dalam tragedi, tokohnya biasanya memiliki kualitas-kualitas yang baik namun mengalami nasib yang buruk dan menyebabkan dirinya, atau kerabat dan sahabatnya, mengalami masalah.

    Drama tragedi berasal dari Yunani kuno dan biasanya dipentaskan dalam festival keagamaan. Penulis tragedi Yunani yang terkenal yaitu Aiskhilos, Sofokles.  dan Euripedes,  sedangkan penulis tragedi masa modern yang terkenal adalah William Shakespeare.

    Sahabat, momen kelam dalam sejarah Indonesia, yang dikenal sebagai “Tragedi ’65,” tetap menjadi kenangan yang menyakitkan dan kontroversial dalam perjalanan negara ini.  Mengingat peristiwa “Tragedi ’65” adalah sebuah pengingat yang menyakitkan tentang perpecahan dan kekerasan yang pernah melanda Indonesia. Meskipun telah berlalu lebih dari setengah abad, peristiwa itu tetap menjadi salah satu momen tersulit dalam sejarah bangsa ini. Sebuah tragedi yang mengerikan bagi bangsa kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Tragedy of the King’s Family (Tragedi Keluarga Raja)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 13:23-39. Sahabat, dosa bisa saja tidak terjadi bila orang-orang di sekitar orang yang akan berbuat dosa mau mengingatkan, melarang atau menegur, bahkan menghalangi perbuatan dosa itu. Namun bila orang diam saja atau malah memberikan dukungan maka dosa akan bagaikan api terguyur bensin.

    Setelah pemerkosaan terhadap adiknya, Absalom menyimpan kepahitan dan sakit hati terhadap Amnon. Mengingat Amnon, bukan saja telah menyakiti Tamar, sang adik kandung, tetapi juga telah mempermalukan keluarganya. Maka sebuah aksi pembalasan dendam pun direncanakan (Ayat 28). Masa pengguntingan bulu domba dipakai sebagai saat yang paling tepat untuk pelaksanaan aksi tersebut.

    Dengan mengundang segenap keluarga raja Daud, Absalom bermaksud melaksanakan niatnya (Ayat 23-24). Niat itu sudah bulat, sehingga ketidakhadiran raja seolah jadi pendukung untuk mewujudkan niat tersebut. Tragedi tragis pun kembali terjadi. Absalom, anak Daud, membunuh Amnon, anak Daud yang lain. Walau ingin menuntaskan dendam, Absalom sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan. Maka Absalom pun melarikan diri (Ayat 34).

    Sahabat, bila kita berada di pihak Absalom, kira-kira bagaimana tindakan kita terhadap Amnon? Bukankah memang pahit apa yang harus dialami Tamar dan betapa memalukan aib yang juga ikut diderita Absalom? Namun kisah ini memperlihatkan pada kita bahwa menyimpan dendam dan kemudian membalaskannya ternyata tidak menghasilkan kepuasan dan kelegaan.

    Kita mungkin puas untuk sementara ketika dendam itu terbalaskan. Mungkin kita akan senang dan bisa mengatakan, “Rasakan apa yang aku alami akibat tindakanmu!” Namun apakah marah itu jadi hilang? Apakah kepahitan itu jadi sirna? Apakah kebencian itu jadi luluh? Ternyata tidak.

    Sahabat, tragedi keluarga Daud ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa tanpa pengampunan tidak akan pernah ada damai sejahtera. Maka bila terasa sulit bagi kita untuk mengampuni orang yang telah menyebabkan kita menderita, ingatlah: “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang tragedi?

    Selamat Sejenak Merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dosa yang dimulai dari Daud kemudian menjangkiti anggota keluarganya sehingga setiap orang bisa terjerat dalam lingkaran dosa itu. (pg).

  • Continuing Life with God

    HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN. Sahabat, hidup adalah sebuah perjalanan. Demikian ungkapan yang sering kita baca dan dengar. Karena hidup adalah sebuah perjalanan, maka tugas kita adalah terus berjalan dan terus berjalan dari waktu ke waktu yang kita miliki.

    Hidup adalah sebuah perjalanan yang harus kita lalui. Walau kadang kita malas untuk mengayunkan langkah,  karena rasa lelah yang mendera. Kadang kita dapat menjadi marah dengan keadaan yang kita alami, karena merasa jengah. Atau tak sadar, kita menjadi lengah, sehingga kehilangan arah dan tak mengerti harus berjalan ke mana.

    Perjalanan hidup ini sangat panjang, berliku dan penuh rintangan. Begitu banyak penghalang menghadang, dan itu terkadang membuat kita ingin berhenti dan berbalik arah. Ya, tembok dan batu masalah yang besar, kerikil persoalan kecil pun bertebaran, berusaha membuat kita terbentur, terpeleset, terantuk, untuk terjatuh dan menghentikan perjalanan kita.

    Belum lagi lubang-lubang yang tak sadar membuat kita terperosok di dalamnya. Mungkin berkali-kali  kita harus  melewati lembah air mata, jurang kehancuran, tebing terjal, hutan belantara dalam malam yang mencekam. Belum lagi kita harus menghadapi badai dan ombak yang menderu, mendera iman kita, meski telah lemah dan tak memiliki daya lagi. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Continuing Life with God (Melanjutkan Hidup bersama Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 12:1-25 dengan penekanan pada ayat 23. Sahabat, setelah Nabi Natan menegurnya atas dosa perzinahannya dengan Batsyeba, Daud mengakui dosanya dan bertobat. Tetapi ia masih harus menanggung akibatnya. Anak yang dilahirkan Batsyeba itu sakit. Lalu Daud berdoa, berpuasa dan semalaman berbaring di tanah memohonkan kesembuhan anaknya (Ayat 16).

    Para penasihatnya berusaha menghibur dan mengajaknya makan, tetapi ia menolaknya. Sepertinya, ia sedang menghukum diri, berkabung, menangis serta memohon ampun dari Tuhan. Hal itu berlangsung selama enam hari (Ayat 17). Lalu pada hari ketujuh, anak itu mati. Para pegawainya takut memberitahu kabar itu kepada sang raja. Pikir mereka, Daud bisa mencelakakan dirinya (Ayat 18).

    Namun ketika Daud mengetahui anaknya telah mati, ia melakukan tindakan yang membuat orang-orang heran. Ia bangun dari lantai, mandi, berurap, berganti pakaian, beribadah ke rumah Tuhan, pulang, dan makan (Ayat  20). Alasannya:  “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? …” (Ayat 22-23).

    Daud telah melakukan berbagai upaya untuk kesembuhan anaknya. Namun ketika kenyataan berbeda dari harapan, ia tidak larut dalam duka. Ia bangkit, menghibur istrinya, dan melanjutkan hidupnya dalam Tuhan. Daud melanjutkan hidupnya bersama Tuhan. 

    Memang, ada hal-hal di luar kendali kita. Jika demikian halnya, berserahlah pada Tuhan dan jalanilah hidup kita. Ini merupakan langkah iman yang dapat kita tempuh. Belajar rela, berserah dan melanjutkan hidup bersama Tuhan, ketika jalan hidup berbeda dengan apa yang kita harapkan.

    Sahabat, bagaimana pun hidup adalah sebuah perjalanan, kisahnya takkan berhenti, segala warna dan rasa akan silih berganti terisi di dalamnya. Namun tetap percaya, dan tetap berjalan dengan seorang Pribadi yang hebat, kuat dan dahsyat, kita akan aman. Sebab Dia, Tuhan, pemilik hidup kita  dan apa yang Ia kerjakan sempurna. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23-24?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan berhenti berkarya karena hanya dengan cara itu kita akan temukan janji Tuhan bagi hidup kita. (pg).

  • DIAM NAMUN TAK TINGGAL DIAM

    Saudaraku, siapapun akan sigap membela diri ketika dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya.  Diam dianggap pasif dan membenarkan tuduhan.  Maka pada masa sekarang banyak orang tertindas berani untuk speak up (angkat suara) dan menyatakan kebenaran dari sudut pandang mereka.   Namun Markus menuliskan KEBISUAN Yesus saat Ia dihakimi dan dituduh dengan kejam.  Mari kita merenungkan Markus 15:1-5.

    Pagi itu kantor Pilatus sangat berisik dan gaduh dengan kedatangan para pemuka agama Yahudi yang menyeret tersangka penistaan agama.  Mereka tak berhenti menuduh-Nya dan memaparkan kesalahan-kesalahan-Nya.  Anehnya Si Pelaku hanya menjawab satu pertanyaan Pilatus dan selebihnya Ia hanya diam. Pilatus sampai mendorong Yesus, Sang Tersangka, untuk membela diri dan menjawab tuduhan mereka.

    KEBISUAN Yesus memang mengherankan.  Sebagai seorang guru yang bisa menjawab pertanyaan para Farisi, Saduki, ahli Taurat, kaum Herodian dan bahkan para tua-tua, Yesus pasti punya banyak amunisi untuk bisa menjawab tuduhan itu dengan mudah.  Sebagai seorang pembuat mukjizat yang bisa membangkitkan orang mati, menyembuhkan yang sakit, mengusir setan dan bahkan bisa melewati orang-orang yang akan menjatuhkan-Nya dari atas tebing (Lukas 4:29-30), Yesus pasti bisa mengatasi kemarahan orang-orang itu dengan sedikit kuasa yang dimiliki-Nya. 

    Namun Yesus memilih DIAM  dan tidak menjawab semua tuduhan mereka.  Mengapa Yesus DIAM?   Nubuatan tentang hal ini sudah disampaikan oleh Yesaya: “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan dirinya disakiti dan tidak membuka mulutnya.  Seperti induk domba yang kelu di depan mereka yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” (Yesaya 53:7). 

    William Barclay menuliskan bahwa DIAMNYA Yesus disebabkan oleh kebencian orang Yahudi yang bagaikan tirai besi yang sulit ditembus oleh pembelaan diri model apa pun  dan sikap hati Pilatus yang enggan dan takut untuk membuka kebenaran maka tidak ada gunanya kata-kata pembelaan di saat seperti itu. Namun sebenarnya Yesus pun tahu bahwa memang jalan penderitaanlah yang harus dilalui-Nya untuk menyelesaikan misi kedatangan-Nya di dunia ini.  Selain karena faktor situasi yang memang tidak memungkinkan untuk membela diri, Yesus DIAM karena Ia harus menuntaskan misi-Nya.  Yesus DIAM tapi tidak tinggal DIAM.

    DIAM memang tidak mudah dipahami.  DIAM memiliki banyak arti.  Ketika Yesus DIAM itu menandakan kekerasan hati manusia yang sudah diliputi kedengkian sehingga tidak lagi mampu mendengar suara kebenaran.  Allah yang DIAM memang menggelisahkan bagi manusia yang mengharapkan pertolongan-Nya. 

    Namun sebenarnya Allah tidak tinggal DIAM karena Ia bekerja untuk menyadarkan manusia akan kehadiran-Nya.  Manusia gelisah karena Allah tidak menjawab seperti yang dikehendakinya, namun Allah menyatakan apa yang diinginkan-Nya. 

    Allah yang DIAM dalam pergumulan iman umat-Nya menjadi pergumulan Shusaku Endo saat menuliskan novelnya yang berjudul Silence. Endo mempertanyakan mengapa Tuhan bungkam dengan semua penderitaan umat-Nya dan membiarkan mereka berjuang menghadapi aniaya. Namun ternyata Tuhan tidak bungkam, Tuhan turut menderita bersama umat-Nya.  Mari TETAP PERCAYA.  Tuhan sepertinya DIAM, tapi Ia tidak pernah tinggal DIAM.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Sin is Like A Snowball

    BOLA SALJU. Sahabat, dari beberapa sumber saya mendapat informasi bahwa
    bola salju adalah benda berbentuk bola yang terbuat dari salju. Bola salju yang
    paling sederhana dibuat dengan menciduk salju menggunakan tangan dan
    memadatkannya menjadi bola berukuran kepalan tangan. Bola salju banyak
    digunakan dalam berbagai permainan seperti pertarungan bola salju, dan
    pembuatan manusia salju.

    Memadatkannya dengan tekanan tinggi akan menjadikan bola salju
    sekeras es sehingga membahayakan jika dilempar. Salju yang terlalu kering atau
    terlalu dingin sulit untuk dibuat menjadi bola salju, karena dibutuhkan sedikit air
    untuk membuat setiap partikel es di salju saling menempel (sifat kohesi).

    Dalam kondisi tertentu, meski jarang, sekumpulan salju dapat menjadi bola salju
    dan menggelinding dengan sendirinya. Kondisi tersebut diantaranya lapisan es di
    antara salju dan tanah sehingga salju tidak menempel. Selain itu, dibutuhkan
    angin dan gravitasi untuk mendorong salju tersebut agar membentuk bola.

    Sahabat, efek bola salju itu juga menjadi istilah yang eksis dalam dunia bisnis.
    Bola salju yang bergerak dan semakin besar menggambarkan pertumbuhan
    besar dalam pemasaran.

    Dalam dunia pemasaran bisnis, istilah efek bola salju adalah ketika situasi bisnis
    yang sedang Sahabat kerjakan terus berkembang dan semakin sukses, maka
    semakin banyak pula publisitas yang kamu dapatkan dan semakin banyak
    promosi yang diterima.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Sin is
    Like A Snowball (Dosa itu Seperti Bola Salju)”. Bacaan Sabda diambil dari 2
    Samuel 11:1-27 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, dosa itu seperti bola
    salju. Dosa yang satu akan melahirkan dosa yang lain untuk menutupi dosa awal.

    Waktu itu Yoab masih berusaha menundukkan bangsa Amon dalam pertempuran
    di Raba. Ke mana Daud? Ia malah tinggal di Yerusalem (Ayat 1). Padahal penulis
    2 Samuel menyebutkan, biasanya raja-raja berperang pada saat pergantian tahun.
    Dengan tinggal saja di Yerusalem berarti Daud tidak kurang memerlihatkan
    tanggung jawabnya sebagai panglima perang kerajaan dan ikut berbagi beban
    dengan para prajuritnya dalam membela kerajaan.

    Pada saat ia bersantai-santai itulah pencobaan datang. Ia melihat seorang
    perempuan sedang mandi (Ayat 2). Orang mungkin saja melihat tanpa disengaja.
    Masalahnya, Daud tidak berhenti melihat dan setelah melihat ia menginginkan
    perempuan itu, yang ternyata bernama Batsyeba, istri Uria (Ayat 3). Lalu tahap
    menginginkan itu dilanjutkan dengan tahap mengambil Batsyeba dan tidur
    dengan perempuan itu (Ayat 4).

    Kesadaran akan bahaya baru muncul setelah Batsyeba memberitahu Daud bahwa
    ia mengandung (Ayat 5). Maka yang muncul kemudian adalah muslihat untuk
    menutupi dosa, mulai dari cara yang halus (Ayat 6-11), yang kotor (Ayat 12-13),
    sampai yang bersifat kriminal (Ayat 14-21), yang ditujukan kepada Uria, suami
    Batsyeba.

    Melihat, menginginkan, dan mengambil merupakan suatu proses yang tidak
    berdiri sendiri, melainkan berkaitan dan berkembang. Jadi dosa tidak bersifat
    statis. Sesungguhnya dosa seperti bola salju, semakin digelindingkan akan
    semakin besar!

    Dimulai dari berzinah dengan istri orang hingga “membunuh” suami perempuan
    itu. Meski dilakukan sembunyi-sembunyi dan hanya diketahui sedikit orang,
    tetapi penulis 2 Samuel menyatakan bahwa dosa yang dilakukan Daud adalah
    jahat di mata Tuhan (Ayat 27). Hal tersebut menjadi suatu peringatan keras bagi
    kita. Jangan pernah bermain-main dengan dosa. Bila suatu waktu kita jatuh ke
    dalam dosa, jangan berkubang di dalamnya. Segera mintalah pengampunan Sang
    Penebus. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perennganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Bola Salju?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kenalilah kesalahan-
    kesalahanmu dan belajarlah dari kesalahan itu, namun jangan berkubang di
    dalamnya (Zig Ziglar). (pg).

  • Don’t Make Outrageous Accusations!

    MENUDUH. Tuduhan yang sembarangan, tuduhan yang keterlaluan, tuduhan
    yang asal tuduh, dapat menghancurkan reputasi dan hidup seseorang. Kalau
    tidak percaya, tanyalah pada Sautuola.

    Nama lengkapnya Don Marcelino Sanz de Sautuola. Dari beberapa sumber saya
    mendapat informasi bahwa Sautuola, seorang ahli hukum Spanyol dan arkeolog
    amatir. Lahir pada 2 Juni 1832 dan meninggal pada 30 Maret 1888.

    Pada tahun 1879, ketika Sautuola sedang memeriksa sebuah gua di propertinya
    di Altamira, Cantabria, di Spanyol Utara. Saat itu Maria, putrinya, merangkak ke
    dalam gua samping, dan secara tidak sengaja ia melihat ke atas, kemudian
    dengan cepat kembali keluar sambil berseru: “Lihat Ayah! Di atas gua ada
    gambar Banteng!”

    Memang ada lukisan Banteng di langit-langit gua Altamira. Sautuola kemudian
    memanggil seorang profesional arkeologi, yang setuju bahwa lukisan-lukisan itu
    adalah lukisan prasejarah. Pada tahun 1880, Sautuola mempresentasikan
    makalahnya kepada Kongres Prasejarah di Lisbon, menggambarkan lukisan-
    lukisan gua dan menyatakan bahwa lukisan-lukisan itu adalah karya manusia
    primitif.

    Ketika ia mempublikasikan temuannya, banyak arkeolog yang cemburu. Mereka
    terang-terangan menuduh Sautuola sengaja menciptakan kebohongan untuk
    memperoleh popularitas. Dia tidak pernah bisa meyakinkan arkeolog lain untuk
    datang mengunjungi guanya, dan dia meninggal sebagai orang yang depresi,
    integritasnya dipertanyakan, dan penemuan besarnya tidak diakui. Puluhan tahun
    kemudian, baru para ahli mengakui keaslian temuan Sautuola.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel 10 dengan topik: “Don’t
    Make Outrageous Accustions! (Jangan Asal Menuduh)”. Bacaan Sabda diambil
    dari 2 Samuel 10:1-19 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, tuduhan yang
    keterlaluan, bukan hanya membuat hati kita tidak tenang, tetapi dapat juga
    menghancurkan relasi dengan sesama. Setidaknya hal itu tampak dari
    pengalaman Hanun, raja orang Amon.

    Hanun mencurigai niat baik Daud yang hendak menyampaikan rasa simpati atas
    kematian ayahnya. Saking curiganya, Hanun memperlakukan para utusan Daud
    dengan sangat tidak tidak hormat. Mereka bukan hanya ditangkap, janggut
    mereka juga dicukur sampai setengahnya, dan pakaian mereka pun dipotong

    hingga menyingkap bagian tubuh yang tak pantas terlihat.

    Tindakan itu bukan hanya menghina dan mempermalukan para utusan Daud,
    tetapi secara tidak langsung berarti menghina Daud juga. Sebab dalam budaya
    zaman itu, janggut menandakan kearifan dan derajat seseorang. Kaum laki-laki
    Israel membiarkan janggut memenuhi dagu dan rahang mereka untuk
    membedakan statusnya dengan para budak. Yang berdagu licin (tidak
    berjanggut) adalah kaum budak. Dengan demikian Hanun bukan hanya menolak
    tawaran persahabatan Daud, tetapi juga merendahkan derajat umat Israel setara
    budak.

    Tindakan ini muncul karena buruknya diplomasi, serta pikiran negatif yang
    menguasai mereka. Juga karena mereka tidak belajar dari fakta masa lalu,
    tentang bagaimana raja mereka bersahabat baik dengan Daud.

    Para pemuka negeri Amon lupa bahwa Daud adalah seorang yang setia, teguh
    memegang perjanjian dan dapat dipercaya. Penghinaan yang mereka lakukan
    harus dibayar dengan kehancuran satu negeri.

    Terkadang kita salah memahami itikad baik seseorang. Kita terlalu berprasangka,
    berpikiran buruk, dan mengambil tindakan tanpa didasari bukti dan pertimbangan
    yang matang. Kita cepat menuduh. Kita asal menuduh. Memang sewajarnyalah
    kita waspada, hati-hati dan tidak percaya begitu saja. Namun kita juga perlu
    mengumpulkan informasi yang akurat, agar tidak salah langkah, serta terhindar
    dari kerugian dan kehancuran. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hubungan yang baik
    dapat hancur dalam sekejap, ketika prasangka dan pikirian negatif menyergap.
    (pg).

  • SALAH PERHITUNGAN

    Saudaraku, manusia bisa salah perhitungan.  Ketika ia melihat sebuah masalah, sebuah benda atau pekerjaan, manusia bisa mengukur kekuatannya untuk menghadapi hal itu.  Namun sikap takabur membuat manusia meleset dalam perhitungannya sehingga ia mengalami kegagalan menyelesaikan masalah  atau memperoleh apa yang diinginkannya.  Mari kita merenungkan Markus 14: 27-31.

    Malam itu menjadi malam yang sentimental ketika Yesus berpamitan dengan para murid-Nya.  Petrus merasakan ketegangan itu sehingga ketika Yesus mengatakan bahwa akan ada peristiwa yang mengguncangkan iman mereka, Petrus langsung mengatakan bahwa ia akan tetap kuat, bahkan lebih kuat dari teman-temannya.  Keberanian Petrus ini sebenarnya tidak mengherankan karena Yesus pernah memarahinya karena keyakinan diri yang kebablasan itu (Markus 8:33). 

    Petrus memperkirakan bahwa ia akan kuat menghadapi peristiwa besar yang akan mengguncangkan semua murid Yesus.  Tentunya perhitungan Petrus masuk akal karena:

    1. Petrus selalu masuk dalam daftar murid terdekat Yesus bersama Yohanes dan Yakobus (Markus 9:2-13)
    2. Petrus bisa menjawab pertanyaan Yesus dengan tepat tentang kemesiasan-Nya (Markus 8:29)
    3. Seperti murid yang lain, Petrus selalu berada di sekeliling guru-Nya dan tidak menganggap serius apa yang dipercakapkan Sang Guru tentang penderitaan yang akan dijalaniNya untuk mengakhiri misi kedatangan-Nya.

    Sebagai seorang nelayan yang berpengalaman dan pengikut Yesus yang setia selama 3 tahun, wajar bila Petrus merasa bahwa ia akan kukuh dan kuat dalam imannya.  Bahkan ketika Yesus menegur keyakinan dirinya yang berlebihan, Petrus makin berani menetapkan target yang tertinggi:  Mati pun dijalani asal bersama Yesus (Markus 14:31).  Wow.  Yesus mungkin tertawa dalam hati sekaligus prihatin dengan sikap Petrus saat mengucapkan sumpah setia yang dalam beberapa jam akan dilanggarnya habis-habisan.

    Takabur.  Petrus merasa kuat, namun sebenarnya ia tidaklah sekuat itu.  Manusia memang rentan untuk terinfeksi dengan sikap takabur, salah perhitungan, menganggap remeh.  Itulah sebabnya alangkah baiknya manusia harus selalu penuh dengan kerendahan hati.  Ia menghitung kekuatan dan jujur dengan diri sendiri ketika berhadapan dengan masalah atau mengambil keputusan seperti seorang yang berhitung dulu sebelum membangun menara (Lukas 14:28-30). 

    Beriman bukan berarti nekat dan mengabaikan perhitungan.  Namun sebaliknya, beriman bukan berarti ragu dan takut mengambil keputusan. Beriman berarti menaruh semua langkah yang akan diambil di kaki Tuhan dan meraih tangan-Nya serta meminta-Nya menyertai jalan yang akan dilalui. 

    Kalau memang lemah, akuilah dan minta Tuhan menyertai.  Kalau memang mampu, tetaplah rendah hati dan minta Tuhan merestui.  Manusia diberi karunia untuk tidak mengetahui masa depan, agar manusia bergantung penuh pada kasih setia-Nya.  Mari jalani kehidupan dengan penyertaan Tuhan agar perhitungan iman tidak meleset dan menimbulkan penyesalan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Restored Mephibosheth

    DIPULIHKAN. Sahabat, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pulih berarti kembali menjadi semula, sembuh, dan menjadi baik lagi. Pulih menunjuk pada sebuah proses dari keadaaan tidak baik menjadi baik kembali.

    Simon Petrus yang pernah menyangkal Tuhan Yesus dipulihkan dengan ditanyai kembali komitmennya untuk mengasihi Yesus lebih daripada yang lain. Menyangkal tiga kali, ditanyai tiga kali dan Simon menjawab hanya Tuhan yang tahu bagaimana hatinya setelah dijumpai Yesus.

    Saulus, yang semula merupakan pembenci dan pembunuh pengikut Kristus, dipulihkan setelah dicegat Tuhan Yesus di tengah jalan ke Damsyik. Saulus sempat jatuh dari kudanya dan menjadi buta selama tiga hari. Saulus yang kemudian berganti nama menjadi  Paulus, dia dipakai Tuhan menjadi Pemberita Injil yang menjangkau diluar orang-orang Yahudi.

    Sahabat, Ketika kita mengalami kesusahan, merasa remuk, dan tidak berdaya, Tuhan Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, dekat dan bersama-sama kita. Ia akan menyembuhkan dan memulihkan keadaaan kita. Karena itu, kita seharusnya tidak terus-menerus merasa terpuruk dan mengalami hidup yang buruk. Kita bangkit dan berdaya karena kasih dan damai sejahtera Tuhan melingkupi kita. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Restored Mephibosheth (Mefiboset yang Dipulihkan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 9:1-13 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, seorang yang bermusuhan biasanya menyimpan dendam turun-temurun, dendam yang sulit dilupakan, dendam yang diusahakan untuk dibalas. 

    Raja Daud dimusuhi Saul, raja pendahulunya. Daud tidak mendendam, malah mengasihi Yonatan, putra Saul. Ia juga ingin menunjukkan kasih Allah kepada keturunan Saul, dan ia menemukan Mefiboset, cucu Saul (Ayat  2 dan 3).

    Ketika Daud menjadi raja Israel menggantikan Saul, ia teringat keluarga Yonatan, sahabatnya, dan juga perjanjian dengannya semasa ia masih hidup seperti dikatakan Yonatan kala itu, “Jika aku masih hidup, bukankah engkau akan menunjukkan kepadaku kasih setia TUHAN? Tetapi jika aku sudah mati, janganlah engkau memutuskan kasih setiamu terhadap keturunanku sampai selamanya. …” (1 Samuel 20:14-15a). Itulah sebabnya ketika orang mengabarkan bahwa Mefiboset, salah seorang keluarga Saul, masih hidup segera Daud mengundangnya ke istana. 

    Setelah bertemu Daud,  sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?” (Ayat 8). Mefiboset merasa tidak layak datang kepada Daud, bahkan ia manyamakan dirinya seperti anjing mati yang tidak berguna; ia sudah kehilangan jati dirinya karena sekian lama telah terbuang.

    Sahabat, apa yang dilakukan Daud terhadapnya seperti mimpi yang menjadi kenyataan, laksana hujan yang menghapus kegersangan hati. Citra diri Mefiboset yang negatif berubah karena uluran tangan kasih Daud. Mefiboset telah dipulihkan. 

    Perhatian Daud memberikan pengharapan baru, semangat hidupnya kembali timbul karena merasa dihargai; Daud telah membuatnya merasa diterima dan memberinya rasa aman yang lama ia rindukan. Daud berkata, “… Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah. …” (Ayat 3). Namun Daud menegaskan semuanya itu bukan karena kehebatan dan kebaikannya sendiri, melainkan karena tuntunan Tuhan semata. Ia telah terlebih dahulu mengalami pertolongan dan kebaikan Tuhan yang begitu melimpah supaya ia pun dapat menyalurkan kasih itu kepada Mefiboset.

    Sahabat, bila saat ini situasi kita sulit seperti Mefiboset, jangan pernah merasa hidup kita tidak berharga. Ingat, ada satu Pribadi yang sangat memerhatikan dan mengasihi kita. Di tangan-Nya ada pemulihan, masa depan, pengharapan pasti: Ia adalah Yesus! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pengorbanan Yesus di kayu salib menjadi bukti Ia sangat mengasihi kita; Ialah yang sanggup memulihkan hubungan kita dengan Allah Bapa dan sesama, serta  menyembuhkan luka-luka batin kita. (pg).