Category: Sejenak Merenung

  • Silent Obedience

    DIAM. Sahabat, kata orang bijak, diam selalu mengandung berjuta makna. Bisa positif, tapi lebih sering negatif, entah marah, kecewa, atau putus asa. Diam biasanya merupakan jalan terakhir untuk bersuara, ketika berkata tidak lagi bermakna. 

    Ada ungkapan yang sangat beken di masyarakat, “Diam adalah Emas” yang berarti seseorang memilih diam dan tenang karena percaya akan lebih mendatangkan manfaat baik daripada melakukan respons tertentu.

    Sesungguhnya, terkadang yang  susah  bukan harus diam atau berbicara, melainkan dapat mengetahui kapan harus diam dan kapan perlu berbicara. Terlalu banyak bicara (asal berbicara, tanpa dasar yang benar) sama negatifnya dengan selalu menutup mulut (padahal perlu untuk menyuarakan sesuatu yang benar). Memilih diam mungkin pada kasus tertentu perlu dilakukan agar suasana tidak semakin runyam. Namun ada kalanya dalam beberapa kondisi mengharuskan kita berbicara, khususnya untuk menjelaskan fakta yang sebenarnya.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diam memiliki tiga arti: Tidak bersuara (tidak berbicara); tidak berbuat (tidak berusaha apa-apa); dan tidak bergerak (tetap di tempat). Dalam diam, seseorang mungkin juga  memiliki tiga maksud: Setuju, tidak setuju ataupun tidak peduli. Apa pun sikap kita,  pasti mengandung konsekuensi.  

    Sahabat, hanya dalam diam, Tuhan sebagai bahasa kebenaran punya ruang untuk hadir di relung hati, menemani kita dalam sunyi. Seperti kata Bunda Theresa, “Tuhan adalah karib kesunyian. Pepohonan, bunga, dan rerumputan tumbuh dalam kesunyian. Tengok juga bintang, bulan, dan matahari, semua bergerak dalam sunyi.”

    Dalam menyambut natal, hari ini kita akan merenungkan tentang Yusuf dengan topik: “Silent Obedience (Ketaatan dalam Diam)”. Yusuf  seorang pribadi yang punya peran yang  sentral dalam peristiwa natal. Seorang pribadi yang unik. Dia sangat irit berbicara. Kita tidak menjumpai percakapan dia dengan malaikat yang menjumpainya dalam mimpi. Kita juga tidak menjumpai pernyataan-pernyataannya. Kita justru menjumpai ketaatannya dalam diam.

    Sahabat, pertama,  saya ajak untuk menyimak Injil Matius 1:18-25. Pada awalnya, dalam diri Yusuf timbul rasa ragu dan konflik batin, saat ia mengetahui tunangannya hamil. Ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam (Ayat 19). Menariknya, Yusuf secara spontan membatalkan niatnya untuk menceraikan Maria setelah malaikat yang menjumpainya dalam mimpi menjelaskan  duduk perkara yang sebenarnya (Ayat 20-24). 

    Di sini terlihat respons iman Yusuf memiliki kemiripan dengan iman Abraham (Kejadian 12:4). Tanpa negosiasi dan secara spontan, ia  berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya. Ia menerima Maria sebagai istrinya dengan hati yang teguh (Ayat 24). Yusuf menerima penugasan Tuhan sebagai sebuah kehormatan yang mesti dijalaninya dengan bertanggung jawab.  

    Kedua, saya ajak Sahabat untuk menyimak Injil Matius 2:13-15. Yusuf pasti baru saja merasakan sukacita karena kelahiran Yesus dan karena kedatangan orang majus yang disertai bawaan berbagai persembahan yang bernilai tinggi. Namun, sukacitanya itu harus berganti dengan perasaan was-was karena malaikat menjumpainya dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” (Ayat 13).

    Tanpa negosiasi dan dengan segera Yusuf merespons:  “Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,” (Ayat 14). Peristiwa menyingkir ke Mesir pada malam hari itu menjadi satu peristiwa yang mengkhawatirkan, meresahkan, bahkan menakutkan bagi Yusuf dan Maria. Betapa kalutnya mereka saat harus menempuh perjalanan dari Betlehem ke wilayah Mesir. Perjalanan jauh yang melelahkan dan bisa jadi berbahaya.

    Ketiga dan keempat, saya ajak Sahabat untuk menyimak Injil Matius 2:19-23. Sebagai seorang ayah, Yusuf tahu apa yang paling dibutuhkan oleh Yesus saat itu, yaitu perlindungan dan rasa aman dari rencana jahat dan ancaman Herodes. Kabar tentang kematian Herodes Agung yang diberitahukan oleh malaikat Tuhan dan seruan untuk meninggalkan Mesir, tanpa basa basi dan negosiasi segera ditanggapi oleh Yusuf (Ayat 20-21). 

    Yusuf berjalan menuju ke Yudea, mungkin akan ke Betlehem tempat Yesus dilahirkan (Ayat 21). Dalam perjalanan tersebut Yusuf kembali mendapat pemberitahuan bahwa raja pengganti Herodes adalah raja yang lalim juga (Ayat 22). Karena itu, Yusuf mengubah tujuan perjalanannya dari semula ke Yudea menjadi ke wilayah Galilea yang lebih aman bagi Yesus karena tidak terjangkau oleh Arkhelaus yang wilayah kekuasaannya hanya Yudea.

    Sahabat, saat persoalan yang kita hadapi seakan tidak ada jalan keluar, pilihlah untuk TETAP TAAT  pada kehendak Tuhan. Untuk dapat mengetahui kehendak Tuhan, kita perlu tekun membaca firman Tuhan dan berdoa. 

    Dalam suasana Natal saat ini, apakah Sahabat  tengah menghadapi pergumulan berat? Jika ya, teladanilah apa yang dilakukan oleh Yusuf. Yakinlah, KETAATAN akan membuka PINTU KETERLIBATAN TUHAN dalam HIDUP KITA. Selamat Natal Sahabatku. Bersukacitalah! (pg).

  • MEMBANGUN DIRI DARI BERSAKSI

    Saudaraku, ada sebuah metode belajar yang dinamakan belajar berbasis pengalaman (experiential learning). Dengan mengalami sendiri sebuah proses belajar maka seorang pembelajar akan dapat mengembangkan dirinya secara holistis (pengetahuan, sikap, perilaku dan bahkan spiritualnya). Pengalaman benar-benar menjadi guru yang terbaik. Lukas 8 : 26-39 mengisahkan tentang kuatnya pengalaman untuk menjadikan seseorang makin semangat bersaksi. Mari renungkan.

    Yesus menolak mantan orang yang kerasukan Iblis di daerah Gerasa untuk mengikuti diri-Nya dan malah menyuruhnya pergi. Sikap Yesus tersebut menarik untuk direnungkan.

    Padahal andai saja Yesus membiarkan orang itu mengikuti-Nya, maka bisa dipastikan “pasukan- Nya akan lebih punya greget dengan kesaksian mukjizat sang mantan. Mungkin pekerjaan Yesus untuk memperkenalkan Kerajaan Allah akan lebih mudah selesai dengan bergabungnya orang itu, setidaknya kesaksiannya akan menarik banyak orang dan menyentuh hati mereka yang kontra dengan Yesus. Namun Yesus tidak mengambil langkah praktis itu. Yesus justru memberikan perintah yang sangat jelas yaitu :
    Pulang
    Orang itu sudah lama tidak pulang dan hidup dengan normal. Menyuruhnya kembali ke rumah menunjukkan kepedulian Yesus kepada orang itu. Yesus tahu bahwa orang itu punya keluarga yang lama ditinggalkan dan Yesus menginginkannya kembali kepada keluarganya, kepada orang terdekatnya dan memulihkan hubungan dengan mereka.
    Ceritakan
    Bila ada orang yang kembali ke rumah setelah pergi bertahun-tahun, maka cerita dan pengalaman dari orang itu selalu dinantikan. Yesus tidak meminta orang itu menceritakan tentang pengalamannya, namun pengalaman tentang pekerjaan Allah atas dirinya. Tujuannya hanya satu yaitu memuliakan Tuhan yang mampu membebaskan dari ikatan Legiun yang sudah menguasainya bertahun-tahun.

    Sang mantan orang yang kerasukan itu telah mengalami dan menyaksikan mukjizat luar biasa, maka saat ia bersaksi sesungguhnya ia membangun dirinya sendiri juga secara menyeluruh. Kesaksiannya meneguhkan iman percayanya sendiri kepada Allah dan bahkan membentuk spiritualnya untuk makin melekat pada Allah. Yesus memang hebat. Ia tahu benar bahwa dengan mengutus orang itu kembali ke rumah dan bersaksi, orang itu makin kuat dan makin teguh dalam iman percayanya.

    Di zaman yang serba sibuk dan individualis, perintah Allah tidak berubah yaitu melaksanakan Amanat Agung (Matius 28:19-20): alami dan ceritakan kesaksian tentang Allah. Mari terus melaksanakannya sehingga iman orang percaya itu sendiri makin teguh dan berakar. Bersaksi bukan hanya berdampak pada orang lain, namun juga berdampak pada diri sendiri. Teruslah bercerita tentang Allah yang hidup dan bekerja tak kenal lelah, semakin banyak menyampaikan maka iman akan makin kuat berakar. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • A Brave and Commendable Act

    KONTRAS. Sahabat, apakah kalau sang ayah itu baik, anaknya pasti baik? Kalau sang ayah itu jahat, anaknya pasti jahat? Kalau sang ayah itu taat kepada Tuhan, anaknya juga pasti taat kepada Tuhan? Belum tentu, kadang ya, kadang tidak. Kadang bahkan bisa jadi sangat KONTRAS antara ayah dan anaknya.

    Kontras adalah istilah yang kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahkan kata itu sudah akrab bagi sebagian besar masyarakat kita. Apalagi bagi kita yang berkecimpung di dunia seni, pasti sudah tak asing lagi dengan istilah kontras.

    Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian kontras adalah memperlihatkan perbedaan yang nyata apabila diperbandingkan. Kontras juga dapat diartikan sebagai memperlihatkan perbedaan nyata (dalam hal warna, rupa, ukuran, dan sebagainya).

    Sedangkan dalam dunia seni, pengertian kontras adalah perbedaan antara elemen visual, seperti warna, kecerahan, atau tekstur, yang membuat suatu objek atau gambar lebih menonjol atau terlihat lebih tajam.

    Pada seni lukis, kekontrasan sangat diperlukan untuk memberikan penekanan pada obyek tertentu. Pada seni fotografi, kontras menjadi bagian penting dalam apresiasi keindahan karya foto. Pada seni musik, tone suara atau warna suara dapat diberi efek-efek kontras pada bagian-bagian lagu.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: A Brave and Commendable Act (Tindakan yang Berani dan Terpuji). Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 15:1-32 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, meski hubungan Abiam dan Asa adalah ayah dan anak, kehidupan keduanya bertolak belakang. Sangat KONTRAS. Dalam bacaan kita pada hari ini dicatat: “Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya, seperti Daud, moyangnya (Ayat 3). Sebaliknya: “Asa melakukan apa yang benar di mata Tuhan seperti Daud, bapak leluhurnya. Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya” (Ayat 11-12).

    Menarik untuk disimak, kedua orang tersebut dibandingkan dengan Daud, bapak leluhurnya, dan hasilnya bagai langit dan bumi. Sangat KONTRAS. Yang satu hidup dalam dosa sebagaimana ayahnya, Rehabeam; sedangkan yang lain sungguh berbeda. Penulis kitab 1 Raja-raja merasa perlu memperlihatkan peranan Maakha, anak Abisalom. Maakha merupakan ibu dari Abiam dan nenek dari Asa.

    Maakha membuat patung Asyera dan menyembahnya. Nah, jika Abiam sangat dekat dan menghormati ibunya, Asa bahkan berani memecat Maakha dari jabatan ibu suri (Ayat 13). Tindakan yang berani dan terpuji.

    Sahabat, bisa disimpulkan, dalam keadaan yang buruk pun bisa muncul sesuatu yang baik. Meski pengaruh Maakha sangat kuat dalam diri Abiam, anaknya, namun pengaruh itu memudar dalam diri Asa. Dia tidak tenggelam dalam kekelaman penyembahan allah-allah lain sebagaimana ayah dan neneknya. Dia berpaut kepada Allah sebagaimana Daud moyangnya.

    Abiam menjadi raja tiga tahun lamanya, sedangkan Asa empat puluh satu tahun lamanya. Sangat KONTRAS bukan? Asa membangun sebuah kehidupan yang berpaut kepada Tuhan. Ia berani mendobrak segala hal yang merupakan kekejian di mata Tuhan, dengan menyingkirkan pelacuran bakti dari negerinya dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya (Ayat 12). Bagian ini menegaskan bagaimana Asa memakai hidupnya dan kekuasaannya bukan untuk melakukan apa yang benar di matanya atau di mata dunia, melainkan untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Tindakan yang berani dan terpuji.

    Sahabat, bagaimana dengan kehidupan iman percaya kita? Apakah kita pakai hidup kita ini untuk melakukan apa yang benar di mata keluarga kita, di mata sahabat dan relasi kita? Di mata dunia? Atau sebagaimana  teladan Asa, yaitu melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Itu sebuah tindakan yang berani dan terpuji. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    Sahabat, coba bandingkan dirimu dengan ayahmu, apa yang engkau peroleh?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan pernah lelah menautkan hati sepenuhnya kepada Tuhan, sekalipun kita pernah gagal dalam hidup. (pg).   

  • NATAL ADALAH TENTANG KELUARGA

    Saudara, sebenarnya natal selain berbicara tentang Tuhan Yesus, juga berbicara tentang Keluarga. Coba kita simak Yohanes 3: 16, Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

    Kata Anak-Nya dalam ayat tersebut, menunjukkan sebuah hubungan dalam keluarga. Kalau kita bicara anak berarti kita juga bicara orang tua, kita bicara saudara baik laki-laki maupun perempuan. Tuhan Yesus adalah Anak Bapa, tetapi secara bilogis yang melahirkan Tuhan Yesus adalah ibu Maria yang mempunyai suami Yusuf. Dengan demikian secara biologis orang tua Tuhan Yesus adalah Yusuf dan Maria. Itulah keluarga Tuhan Yesus.

    Mungkin kita perlu bertanya dengan pertanyaan yang sangat sederhana, mengapa Allah Bapa tidak mengutus Yesus dalam wujud orang dewasa saja? Mengapa harus seorang bayi? Mengapa harus ada ayah dan ibunya? Itu semua menunjukkan pentingnya keberadaan sebuah keluarga. Tuhan tahu bahwa Keluarga itu penting, Dia ingin menunjukkan hal tersebut kepada kita melalui Putra-Nya, Yesus. Ketika kita melihat kisah kelahiran Yesus, kita menemukan bagian penting dari kisah Yesus yang terdapat pada sepasang suami istri dalam sebuah keluarga, yaitu Maria dan Yusuf.

    Natal adalah tentang keluarga! Itu adalah fakta, bahkan misalnya pun kita tidak menyukai keluarga kita, tetapi natal adalah tentang keluarga, ada kakek-nenek, ibu dan ayah, saudara laki-laki dan Perempuan. Yesus memiliki ayah ibu, saudara perempuan, kakek nenek, dan saudara yang lain. Dari kisah natal, kita bisa melihat aspek keluarga dari tiga hal, yaitu dari genealogi Tuhan Yesus, peran Yusuf sebagai seorang ayah dan kita semua sebagai keluarga setelah diselamatkan.

    Genealogi keluarga Tuhan Yesus.
    Genealogi adalah silsilah. Kelahiran sesorang pasti diakibatkan oleh orang tuanya, orang tuanya dilahirkan dari neneknya, dan seterusnya itulah genealogi, atau silsilah keturunan. Tuhan Yesus memiliki silsilah yang begitu Panjang baik dari sisi Yusuf sebagai ayahnya maupun dari sisi Maria sebagai Ibunya. Tercatat terdapat 14 generasi dari Daud sampai Yesus. Dari silsilah Tuhan Yesus tidak semua nenek moyangnya adalah orang baik. Bahkan ada nama-nama yang terkenal tidak baik, seperti Tamar dan Rahab, yang merupakan perempuan-perempauan tercela, namun dipakai Tuhan untuk menyatakan rencana-Nya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan bisa memakai semua orang untuk menyatakan rencana-Nya. Kita mungkin bukan keturunan orang baik, kita sendiri mungkin dulu bukan orang baik, tetapi Tuhan bisa memakai kita semua, untuk menggenapi rencana-Nya.

    Yusuf sebagai seorang Ayah dalam Keluarga
    Selain berbicara tentang silsilah, natal juga berbicara tentang peran seorang ayah dalam keluarga. Memang Maria melakukan banyak hal penting sehubungan dengan kelahiran Yesus tetapi kita juga bisa melihat bagaimana Tuhan memakai Yusuf dalam keluarganya. Yusuf dipakai Tuhan untuk melindungi keluarganya. Matius mencatat: Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi  dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir   dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia. ” (Matius 2:13). Selanjutnya Matius mencatat respons Yusuf: “Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, (Matius 2:14).
    Bayi Tuhan Yesus akan dibunuh oleh Herodes, maka Yusuf sebagai ayah-Nya membawa pergi sesuai dengan firman Tuhan agar terhindar dari bahaya. Yusuf menyingkir ke Mesir. Itulah peran Yusuf dalam keluarga sebagai seorang ayah.

    Kita semua adalah keluarga Tuhan, dan Yesus sebagai anggota keluarga yang sempurna.
    Konsep keluarga kita tidak hanya berhenti pada saat natal. Faktanya, Alkitab berkali-kali menyebut kita juga adalah saudara, yang berarti keluarga. Meskipun hal itu bukan berarti bahwa kita mempunyai hubungan darah, tetapi kita adalah bagian dari keluarga Tuhan!

    Jadi bisa diartikan bahwa persaudaraan di gereja itu penting bagi kita! Penting bagi kita untuk selalu dikelilingi oleh saudara-saudara dan keluarga dalam gereja. Efesus 2:19, mengatakan Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah”. Ketika kita dikelilingi oleh keluarga dan saudara-saudara, kita menjadi lebih kuat.

    Yesus adalah anggota keluarga yang sempurna. Sebelum kita mengenal-Nya, dia telah mati untuk kita dan memungkinkan kita menjadi bagian dari keluarga Allah.

    Natal memang berbicara tentang Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan Yesus lahir dari seorang Ibu dan mempunyai ayah secara biologis. Hal itu menujukkan bahwa Natal sejatinya juga berbicara tentang keluarga. Bukan berhenti di sini saja, bahkan karena kelahiran kristus kita juga dianggap sebagi keluarga Allah. Kita semua adalah saudara, mari kita saling mangasihi dan membantu satu sama lain. Selamat merayakan natal, untuk kita sebagai anggota keluarga Allah. Bersukacitalah! (SHJ).

  • MEMBANGUN DIRI DARI BERSAKSI

    Saudaraku, ada sebuah metode belajar yang dinamakan belajar berbasis pengalaman (experiential learning).  Dengan mengalami sendiri sebuah proses belajar maka seorang pembelajar akan dapat mengembangkan dirinya secara holistis (pengetahuan, sikap, perilaku dan bahkan spiritualnya). Pengalaman benar-benar menjadi guru yang terbaik.  Lukas 8 : 26-39 mengisahkan tentang kuatnya pengalaman untuk menjadikan seseorang makin semangat bersaksi. Mari renungkan.

    Yesus menolak mantan orang yang kerasukan Iblis di daerah Gerasa untuk mengikuti diri-Nya dan malah menyuruhnya pergi.  Sikap Yesus tersebut menarik untuk direnungkan.  

    Padahal andai saja Yesus membiarkan orang itu mengikuti-Nya, maka bisa dipastikan “pasukan”- Nya akan lebih punya greget dengan kesaksian mukjizat sang mantan.  Mungkin pekerjaan Yesus untuk memperkenalkan Kerajaan Allah akan lebih mudah selesai dengan bergabungnya orang itu, setidaknya kesaksiannya akan menarik banyak orang dan menyentuh hati mereka yang kontra dengan Yesus.  Namun Yesus tidak mengambil langkah praktis itu.  Yesus justru memberikan perintah yang sangat jelas yaitu :

    1. Pulang

    Orang itu sudah lama tidak pulang dan hidup dengan normal.  Menyuruhnya kembali ke rumah menunjukkan kepedulian Yesus kepada orang itu.  Yesus tahu bahwa orang itu punya keluarga yang lama ditinggalkan dan Yesus menginginkannya kembali kepada keluarganya, kepada orang terdekatnya dan memulihkan hubungan dengan mereka.

    1. Ceritakan

    Bila ada orang yang kembali ke rumah setelah pergi bertahun-tahun, maka cerita dan pengalaman dari orang itu selalu dinantikan.  Yesus tidak meminta orang itu menceritakan tentang pengalamannya, namun pengalaman tentang pekerjaan Allah atas dirinya.  Tujuannya hanya satu yaitu memuliakan Tuhan yang mampu membebaskan dari ikatan Legiun yang sudah menguasainya bertahun-tahun.

    Sang mantan orang yang kerasukan itu telah mengalami dan menyaksikan mukjizat luar biasa, maka saat ia bersaksi sesungguhnya ia membangun dirinya sendiri juga secara menyeluruh.  Kesaksiannya meneguhkan iman percayanya sendiri kepada Allah dan bahkan membentuk spiritualnya untuk makin melekat pada Allah.  Yesus memang hebat.  Ia tahu benar bahwa dengan mengutus orang itu kembali ke rumah dan bersaksi, orang itu makin kuat dan makin teguh dalam iman percayanya.

    Di zaman yang serba sibuk dan individualis, perintah Allah tidak berubah yaitu melaksanakan Amanat Agung (Matius 28:19-20):  alami dan ceritakan kesaksian tentang Allah.  Mari terus melaksanakannya sehingga iman orang percaya itu sendiri makin teguh dan berakar.  Bersaksi bukan hanya berdampak pada orang lain, namun juga berdampak pada diri sendiri.  Teruslah bercerita tentang Allah yang hidup dan bekerja tak kenal lelah, semakin banyak menyampaikan maka iman akan makin kuat berakar. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • A Brave and Commendable Act

    KONTRAS. Sahabat, apakah kalau sang ayah itu baik, anaknya pasti baik? Kalau sang ayah itu jahat, anaknya pasti jahat? Kalau sang ayah itu taat kepada Tuhan, anaknya juga pasti taat kepada Tuhan? Belum tentu, kadang ya, kadang tidak. Kadang bahkan bisa jadi sangat KONTRAS antara ayah dan anaknya. 

    Kontras adalah istilah yang kerap digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahkan kata itu sudah akrab bagi sebagian besar masyarakat kita. Apalagi bagi kita yang berkecimpung di dunia seni, pasti sudah tak asing lagi dengan istilah kontras.

    Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian kontras adalah memperlihatkan perbedaan yang nyata apabila diperbandingkan. Kontras juga dapat diartikan sebagai memperlihatkan perbedaan nyata (dalam hal warna, rupa, ukuran, dan sebagainya).

    Sedangkan dalam dunia seni, pengertian kontras adalah perbedaan antara elemen visual, seperti warna, kecerahan, atau tekstur, yang membuat suatu objek atau gambar lebih menonjol atau terlihat lebih tajam.

    Pada seni lukis, kekontrasan sangat diperlukan untuk memberikan penekanan pada obyek tertentu. Pada seni fotografi, kontras menjadi bagian penting dalam apresiasi keindahan karya foto. Pada seni musik, tone suara atau warna suara dapat diberi efek-efek kontras pada bagian-bagian lagu.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “A Brave and Commendable Act (Tindakan yang Berani dan Terpuji)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 15:1-32 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, meski hubungan Abiam dan Asa adalah ayah dan anak, kehidupan keduanya bertolak belakang. Sangat KONTRAS.  Dalam bacaan kita pada hari ini dicatat: “Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, Allahnya, seperti Daud, moyangnya (Ayat 3). Sebaliknya: “Asa melakukan apa yang benar di mata Tuhan seperti Daud, bapak leluhurnya. Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya” (Ayat 11-12).

    Menarik untuk  disimak, kedua orang tersebut dibandingkan dengan Daud, bapak leluhurnya, dan hasilnya bagai langit dan bumi. Sangat KONTRAS. Yang satu hidup dalam dosa sebagaimana ayahnya, Rehabeam; sedangkan yang lain sungguh berbeda. Penulis kitab 1 Raja-raja merasa perlu memperlihatkan peranan Maakha, anak Abisalom. Maakha merupakan ibu dari Abiam dan nenek dari Asa.

    Maakha membuat patung Asyera dan menyembahnya. Nah, jika Abiam sangat dekat dan menghormati ibunya, Asa bahkan berani memecat Maakha dari jabatan ibu suri (Ayat 13). Tindakan yang berani dan terpuji. 

    Sahabat, bisa disimpulkan, dalam keadaan yang buruk pun bisa muncul sesuatu yang baik. Meski pengaruh Maakha sangat kuat dalam diri Abiam, anaknya, namun pengaruh itu memudar dalam diri Asa. Dia tidak tenggelam dalam kekelaman penyembahan allah-allah lain sebagaimana ayah dan neneknya. Dia berpaut kepada Allah sebagaimana Daud moyangnya.

    Abiam menjadi raja tiga tahun lamanya, sedangkan Asa empat puluh satu tahun lamanya. Sangat KONTRAS bukan? Asa membangun sebuah kehidupan yang berpaut kepada Tuhan. Ia berani mendobrak segala hal yang merupakan kekejian di mata Tuhan, dengan menyingkirkan pelacuran bakti dari negerinya dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya (Ayat 12). Bagian ini menegaskan bagaimana Asa memakai hidupnya dan kekuasaannya bukan untuk melakukan apa yang benar di matanya atau di mata dunia, melainkan untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Tindakan yang berani dan terpuji.

    Sahabat, bagaimana dengan kehidupan iman percaya kita? Apakah kita pakai hidup kita ini untuk melakukan apa yang benar di mata keluarga kita, di mata sahabat dan relasi kita? Di mata dunia? Atau sebagaimana  teladan Asa, yaitu melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Itu sebuah tindakan yang berani dan terpuji. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Sahabat, coba bandingkan dirimu dengan ayahmu, apa yang engkau peroleh?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan pernah lelah menautkan hati sepenuhnya kepada Tuhan, sekalipun kita pernah gagal dalam hidup. (pg).   

  • NATAL ADALAH TENTANG KELUARGA

    Saudara, sebenarnya natal selain berbicara tentang Tuhan Yesus,  juga berbicara tentang Keluarga. Coba kita simak  Yohanes 3: 16,  “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. 

    Kata Anak-Nya dalam ayat tersebut, menunjukkan sebuah hubungan dalam keluarga. Kalau kita bicara anak berarti kita juga bicara orang tua, kita bicara saudara baik laki-laki maupun perempuan. Tuhan Yesus adalah Anak Bapa, tetapi secara bilogis yang melahirkan Tuhan Yesus adalah ibu Maria yang mempunyai suami Yusuf. Dengan demikian secara biologis orang tua Tuhan Yesus adalah Yusuf dan Maria. Itulah keluarga Tuhan Yesus. 

    Mungkin kita perlu bertanya dengan pertanyaan yang sangat sederhana, mengapa Allah Bapa tidak mengutus Yesus dalam wujud orang dewasa saja? Mengapa harus seorang bayi? Mengapa harus ada ayah dan ibunya? Itu semua menunjukkan pentingnya keberadaan sebuah keluarga.  Tuhan tahu bahwa Keluarga itu penting,  Dia ingin menunjukkan hal tersebut kepada kita melalui Putra-Nya, Yesus. Ketika kita melihat kisah kelahiran Yesus, kita menemukan bagian penting dari kisah Yesus yang terdapat pada sepasang suami istri dalam sebuah keluarga, yaitu Maria dan Yusuf. 

    Natal adalah tentang keluarga! Itu adalah fakta, bahkan misalnya pun kita tidak menyukai keluarga kita, tetapi natal adalah tentang keluarga, ada kakek-nenek, ibu dan ayah, saudara laki-laki dan Perempuan. Yesus memiliki ayah ibu, saudara perempuan, kakek nenek, dan saudara yang lain. Dari kisah natal, kita bisa melihat aspek keluarga dari tiga hal, yaitu dari genealogi Tuhan Yesus, peran Yusuf sebagai seorang ayah dan kita semua sebagai keluarga setelah diselamatkan.

    1. Genealogi keluarga Tuhan Yesus. 

    Genealogi adalah silsilah. Kelahiran sesorang pasti diakibatkan oleh orang tuanya, orang tuanya dilahirkan dari neneknya, dan seterusnya itulah genealogi, atau silsilah keturunan. Tuhan Yesus memiliki silsilah yang begitu Panjang baik dari sisi Yusuf sebagai ayahnya maupun dari sisi Maria sebagai Ibunya. Tercatat terdapat 14 generasi dari Daud sampai Yesus. Dari silsilah Tuhan Yesus tidak semua nenek moyangnya adalah orang baik. Bahkan ada nama-nama yang terkenal tidak baik, seperti Tamar dan Rahab, yang merupakan perempuan-perempauan tercela, namun dipakai Tuhan untuk menyatakan rencana-Nya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan bisa memakai semua orang untuk menyatakan rencana-Nya. Kita mungkin bukan keturunan orang baik, kita sendiri mungkin dulu bukan orang baik, tetapi Tuhan bisa memakai kita semua, untuk menggenapi rencana-Nya.

    1. Yusuf sebagai seorang Ayah dalam Keluarga

    Selain berbicara tentang silsilah, natal juga berbicara tentang peran seorang ayah dalam keluarga. Memang Maria melakukan banyak hal penting sehubungan dengan kelahiran Yesus tetapi  kita juga bisa melihat bagaimana Tuhan memakai Yusuf dalam keluarganya. Yusuf dipakai Tuhan untuk melindungi keluarganya. Matius mencatat: Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi  dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir   dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia. (Matius 2:13)Selanjutnya Matius mencatat respons Yusuf: “Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,” (Matius 2:14).

    Bayi Tuhan Yesus akan dibunuh oleh Herodes, maka Yusuf sebagai ayah-Nya membawa pergi sesuai dengan firman Tuhan agar  terhindar dari bahaya.  Yusuf menyingkir ke Mesir. Itulah peran Yusuf dalam keluarga sebagai seorang ayah. 

    1. Kita semua adalah keluarga Tuhan, dan Yesus sebagai anggota keluarga yang sempurna.

    Konsep keluarga kita tidak hanya berhenti pada saat natal. Faktanya, Alkitab berkali-kali menyebut kita juga adalah saudara, yang berarti keluarga. Meskipun hal itu bukan berarti bahwa kita mempunyai hubungan darah, tetapi kita adalah bagian dari keluarga Tuhan!  

    Jadi bisa diartikan bahwa persaudaraan di gereja itu penting bagi kita! Penting bagi kita untuk selalu dikelilingi oleh saudara-saudara dan  keluarga dalam gereja. Efesus 2:19, mengatakan “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah”. Ketika kita dikelilingi oleh keluarga dan saudara-saudara, kita menjadi lebih kuat. 

    Yesus adalah anggota keluarga yang sempurna. Sebelum kita mengenal-Nya, dia telah mati untuk kita dan memungkinkan kita menjadi bagian dari keluarga Allah. 

    Natal memang berbicara tentang Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan Yesus lahir dari seorang Ibu dan mempunyai ayah secara biologis. Hal itu menujukkan bahwa Natal sejatinya juga berbicara tentang keluarga. Bukan berhenti di sini saja, bahkan karena kelahiran kristus kita juga dianggap sebagi keluarga Allah. Kita semua adalah saudara, mari kita saling mangasihi dan membantu satu sama lain. Selamat merayakan natal, untuk kita  sebagai anggota keluarga Allah. Bersukacitalah! (SHJ).

  • Sorting and Selecting Advice

    NASIHAT.  Sahabat, dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya mendapat informasi bahwa nasihat adalah ajaran atau pelajaran baik; anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik. Selain itu nasihat adalah ibarat yang terkandung dl suatu cerita, dan sebagainya. 

    Dari sumber yang lain saya mendapatkan bahwa nasihat  sebagai segala kata-kata bijak yang diucapkan atau ditulis dengan tujuan untuk membangun dan menunjukkan suatu kebenaran yang akan dapat mendatangkan kebaikan bagi siapa saja yang menerimanya.

    Keterbatasan manusia baik dalam hal pengetahuan, pengalaman hidup, dan hikmat. Setiap manusia pasti memiliki pengalaman hidup dan kapasitas pengetahuan serta karunia yang berbeda satu dengan yang lainnya. Tuhan menghendaki agar kita bisa saling menolong, saling membantu, dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya. “Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.” (1Korintus 12:8)

    Nasihat adalah bukti kepedulian kita terhadap sesama berdasarkan kasih. Ketika kecil, tentu kita banyak mendapatkan nasihat dari orangtua kita. Terkadang kita jengkel, marah, dan merasa tertekan. Tidak boleh melakukan ini dan itu. Namun, setelah kita semakin dewasa dan bahkan setelah kita sendiri menjadi orangtua, kita mulai menyadari bahwa itu semua dilakukan bukan untuk membuat kita tertekan, tapi karena mereka sangat mengasihi kita dan tidak ingin kita celaka.

    Orangtua yang baik, sahabat yang baik, dan teman yang benar akan selalu memberikan kita nasihat dan memberi teguran, baik diminta maupun tidak. Itu semua mereka lakukan karena mereka peduli. Hal yang sama pasti juga akan kita lakukan terhadap mereka yang kita kasihi, “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” (Amsal 27:6)

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Sorting and Selecting Advice (Memilah dan Memilih Nasihat)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 14:21-31. Sahabat, Rehabeam adalah raja terakhir kerajaan Israel yang menyatu dan raja pertama kerajaan Yehuda. Ada tiga situasi yang terjadi pada Israel di bawah kepemimpinan Rehabeam. Pertama, di bawah kepemimpinannya, kerajaan Israel terpecah menjadi dua, yaitu kerajaan Israel dan Yehuda. Kedua, rakyat Yehuda jatuh ke dalam penyembahan berhala dan perbuatan tak bermoral. Ketiga, peperangan terus berkobar.

    Setelah terpecah, kerajaan Israel dan Yehuda menjadi tidak kokoh. Mesir menyerang Yehuda (Ayat 25) dan berhasil merampas barang-barang berharga dari Bait Suci dan istana raja (Ayat 26). Rehabeam mengganti perisai emas Salomo dengan membuat perisai baru dari tembaga (Ayat 27). Hal itu menunjukkan betapa kerajaan Israel dan Yehuda telah merosot. Selain itu, Yehuda terlibat perang saudara tanpa akhir dengan Israel.

    Sahabat, nama Rehabeam mengandung makna doa, yaitu kiranya umat berkembang. Namun, selama ia memerintah, hal sebaliknyalah yang terjadi. Kemerosotan terjadi karena Rehabeam mengabaikan nasihat tua-tua dan lebih memilih nasihat kawan-kawan sebayanya sehingga timbul pemberontakan dari suku-suku di utara (1 Raja-raja 12:8-19).

    Rehabeam mendapat pengaruh buruk dari ibu suri Naama dan permaisuri Maakha, sehingga membiarkan rakyatnya jatuh ke dalam penyembahan berhala dan upacara tak bermoral. Kerajaan berhasil diselamatkan ketika ia mendengarkan nasihat Nabi Semaya. Nabi menyebut serangan Mesir sebagai hukuman Tuhan karena Yehuda berbalik dari perjanjian-Nya (2 Tawarikh 12:1-16). Rehabeam bertobat. Ia mendengarkan nasihat nabi dan kembali beribadah di Bait Suci.

    Sahabat, perbuatan kita sering dipengaruhi oleh pasangan hidup, orang tua, atau kawan. Sering kali kita tidak menyaring nasihat dari orang-orang terdekat. Kita tidak mengkritisi nasihat mereka karena kedekatan kita dengan mereka. Padahal nasihat atau pengaruh dari mereka bisa baik, bisa juga buruk. Kita pun merasakan perlunya tuntunan Tuhan untuk menyadari, memilah, dan memilih semua nasihat yang masuk. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 27?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita perlu selalu percaya kepada kebaikan Allah yang hadir dalam kebaikan sesama dan kemampuan diri. (pg).

  • Being Careless

    LENGAH. Sahabat, Bruce Lee, aktor laga terkenal dari Hong Kong era 1960-1970-an, pernah berkata demikian, ”Jangan pernah memalingkan matamu dari lawan, bahkan pada saat kamu dalam posisi menunduk!” Saat bertarung, lawan adalah fokus sasaran kita. Sekali saja kita lengah, ia akan dapat menjatuhkan kita dengan kekuatan yang mungkin tak pernah kita perkirakan. Sekalipun kita terpaksa harus menundukkan  kepala, seperti kata Lee, pandangan kita harus tetap terarah pada lawan..

    Pernahkah Sahabat menyesal karena menjadi lengah? Misalnya saja, ketika sedang berjalan, kamu tidak memerhatikan jalan yang kamu lalui karena asyik melihat dan bermain dengan HP, maka kamu sangat terkejut ketika kamu tiba-tiba terperosok masuk ke lubang selokan yang ada di jalan tersebut. 

    Dalam kehidupan sehari-hari, kadangkala kita juga lengah dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Misalnya saja, dalam bulan Desember biasanya kegiatan gereja dan jadwal pelayanan kita naik drastis, kemudian kita menjadi kelelahan, akibatnya kita sering tidak melakukan saat teduh pribadi. Jadwal saat teduh kita sering terlewatkan begitu saja.  kita lupa bersaat teduh ketika sedang sibuk atau kelelahan. Kita lupa untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan merenungkan Firman-Nya. Kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah lengah dalam menjaga dan menyertai kita, namun sebaliknya kita kadangkala lengah karena kesibukan dan kelelahan kita.

    Lengah juga dapat muncul dalam bentuk kesombongan rohani. Kadangkala kita juga lupa berdoa sebelum melakukan suatu kegiatan atau suatu perjalanan. Kita merasa mampu mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Akibatnya, kita lupa menyerahkan persoalan yang akan kita hadapi kepada Tuhan.

    Sahabat, kita dapat menjadi lengah setiap saat, oleh karena itu kita harus selalu  berhati-hati dan waspada, jangan lengah. Rasul Paulus mengingatkan:  “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Korintus 10:12). Seringkali, kita merasa bahwa kita cukup aman sehingga kita lengah untuk terus intim dengan Tuhan. Kita perlu terus terjaga, karena di dunia ini penuh dengan tipu muslihat dan aneka jebakan.

    Hari ini kits akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Being Careless (Menjadi Lengah)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 13:1-34 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat, ketaatan kepada Allah adalah suatu keputusan yang harus terus dilakukan selama orang percaya menjalani kehidupan di dunia. Selama manusia hidup khususnya bagi orang percaya, iblis akan terus mencobai supaya orang percaya tidak taat kepada Allah.

    Kita tidak tahu pasti, mengapa abdi Allah dari Yehuda yang bersikukuh tidak mau dijamu Yerobeam, ternyata hatinya luluh dan menerima tawaran makan dan minum dari nabi tua yang tinggal di Betel.

    Seorang nabi Yehuda yang Allah utus untuk menyampaikan pesan kepada Yerobeam jatuh dalam ketidaktaatan. Setelah beberapa kali dicobai, akhirnya karena kelengahannya, ia jatuh juga dalam ketidaktaatan yaitu melanggar perintah Allah.

    Iblis memakai teman sejawatnya, seorang nabi juga untuk menyampaikan pesan Tuhan kepadanya. Suatu pesan bohong atau tidak benar. Karena kelengahannya yaitu percaya kepada teman sejawatnya, tanpa mengecek kebenaran pesan tersebut, nabi Yehuda mati diterkam singa (Ayat 24).

    Jangan lengah dan ujilah setiap pesan yang disampaikan. Tidak semua pesan yang disampaikan berasal dari Tuhan. Sekalipun yang menyampaikan seorang yang kita kenal dan mengatasnamakan Tuhan. Iblis tidak pernah berhenti mencobai kita. Keintiman dan kedekatan dengan Tuhan akan membuat kita tahu dan peka dengan suara dan pesan Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mukjizat terbesar Allah bagi kita ialah dengan mengubah para pendosa yang pantas dibinasakan menjadi anak-anak-Nya yang terkasih. (pg).

  • Manipulation of Religion for Power

    MANIPULASI. Sahabat, dalam masa kampanye seperti saat ini ada kelompok tertentu yang melakukan manipulasi agama untuk meraih pendukung sebanyak-banyaknya. Apa itu Manipulasi? Manipulasi adalah sebuah proses rekayasa yang secara disengaja dengan melakukan penambahan, penyembunyian, penghilangan atau pengkaburan terhadap bagian atau keseluruhan sebuah sumber informasi, subtansi, realitas, kenyataan, fakta-fakta, data ataupun sejarah yang dibuat berdasarkan sistem perancangan yang bisa dilakukan secara individu, kelompok atau sebuah tata sistem nilai. Manipulasi adalah bagian penting dari suatu tujuan tertentu dalam hal tindakan penanaman gagasan, dogma, doktrinisme, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu.

    Secara garis besar, Manipulasi adalah suatu sikap atau kemampuan seseorang dalam memengaruhi, mengeksploitasi, hingga mengontrol orang lain. Perilaku ini semata-mata dilakukan demi memperoleh keuntungan pribadi belaka. Seseorang yang pandai melakukan manipulasi akan bisa memengaruhi kondisi psikologis orang lain dengan mudah. Akibatnya, korban bisa mendapatkan dampak negatif, khususnya dari segi mental dan emosi. Biasanya, tindakan ini dilakukan dengan menyusun berbagai kebohongan.

    Manipulasi dapat terjadi pada siapa saja dalam segala jenis hubungan. Baik hubungan pertemanan, hubungan percintaan, hingga hubungan orang tua dan anak, hingga keluarga. Bahkan, hubungan rekan kerja dan atasan dalam dunia kerja juga mungkin menimbulkan perlakuan yang manipulatif.  Padahal, perilaku manipulatif dapat berdampak secara negatif pada kesehatan mental   korbannya. Baik secara lambat maupun cepat. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Manipulation of Religion for Power (Manipulasi Agama Demi Kekekuasaan), Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 12:25-33. Sahabat, sudah duduk lupa berdiri. Itulah mentalitas yang dimiliki sebagian besar orang. Setelah mengecap kenikmatan, ia enggan melepaskannya. Mengapa? Sebab hidup yang ditopang dengan segala fasilitas istimewa terasa nikmat dan sayang untuk ditinggalkan.

    Sebenarnya, Yerobeam tidak akan turun takhta. Tuhan sendiri memberi kepastian dan janji bahwa kepemimpinannya akan berlanjut, asalkan ia taat dan setia kepada Allah dengan sepenuh hati. Tak tanggung-tanggung, kerajaannya akan dibuat seperti Daud. Semua itu terbukti saat dirinya diangkat menjadi raja (1 Raja-raja 11:31).

    Sahabat, lalu, mengapa Yerobeam mengabaikan janji Allah? Rasa khawatir dan takut akan kehilangan kerajaan dan kekuasaan menghantuinya. Dalam benaknya, jika umat pergi ke Yerusalem mempersembahkan korban, jangan-jangan mereka berbalik tidak lagi setia. Umat akan mendukung Rehabeam dan balik menyerangnya (Ayat 27). Kekhawatiran itu melahirkan tindakan manipulasi agama. Ia membangun mazbah penyembahan berhala di dua tempat agar umat Israel tidak lagi pergi ke Yerusalem. (Ayat 28-29). Ia juga mengangkat sendiri imam-imam yang akan bertugas di sana. Yerobeam membawa umat Israel makin berdosa di hadapan Tuhan.

    Kejahatan dilakukannya dengan cara membelokkan kebenaran. Dengan terang-terangan umat diajak memulai ibadah dan penyembahan baru kepada buatan tangannya sendiri, bukan kepada Allah.

    Sahabat, di zaman yang mengedapankan teknologi, informasi, dan kecepatan, kita masih sering menjumpai pemimpin menyalahgunakan kekuasaannya dengan memanipulasi agama. Tujuan utamanya hanyalah kekuasaan yang dibungkus dengan hal-hal yang bersifat keagamaan. Mereka tidak pernah memikirkan kebaikan atau kesejahteraan rakyat, selain dirinya sendiri, keluarganya, dan orang-orang yang mendukungnya. Pemimpin yang berani memanipulasi agama akan sangat mungkin melakukan hal jahat lainnya. Karena itu, berhati-hatilah dalam memilih pemimpin, dan juga berhati-hatilah jika kita dipercaya menjadi seorang pemimpin. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang manipulasi?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang-orang tua dapat memberi pertimbangan berdasarkan pengalaman dan hikmat yang teruji. Orang-orang muda memberi harapan dan semangat mencapai impian. (pg).