Category: Sejenak Merenung

  • LELAKI ITU BERNAMA YUSUF

    Saudaraku, hanya sedikit laki-laki di dunia ini yang mau memegang ketulusan seumur hidupnya.  Ia menghadapi rintangan untuk hidup dalam ketulusan dan dia meninggal dengan membuktikan bahwa ketulusan tidak dilepaskannya. Dari sedikit orang yang bisa melakukan hal-hal hebat itu, Alkitab mencatat nama Yusuf, suami Maria.  Mari renungkan Matius 1:18-25.

    Semua perbuatan Yusuf yang tercatat dalam bacaan kita  terasa heroik, namun sebenarnya itu semua tidak akan terjadi bila tidak memiliki pengalaman spiritual dengan Allah.  Saat mengetahui Maria hamil sebelum mereka menikah, Yusuf sungguh murka.  Yusuf bukan manusia super, maka respons marah sungguh wajar karena  Yusuf tahu kalau  ia bukan ayah dari anak itu. 

    Kemarahannya ditunjukkan dengan sikap tegas Yusuf untuk menceraikan Maria.  Yusuf memilih untuk diam-diam melakukannya untuk menjaga nama baik Maria. Namun di saat yang genting itu, Yusuf mengalami titik balik saat ia mendapatkan informasi dari malaikat dalam mimpinya.  Yusuf memilih untuk memercayai perkataan malaikat itu dan mengambil tindakan yang tidak lazim diambil oleh laki-laki sezamannya.

    Saat menghadapi kemelut itu, ketulusan Yusuf teruji.  Namun ketulusannya kali ini bukan berdasarkan apa kata Taurat, namun berdasarkan apa kata Tuhan.  Hal itu ditunjukkan dengan :

    Pertama: Menerima Maria dan anaknya.

    Sesuai perkataan Tuhan, Yusuf menerima Maria dengan baik, menjaga dan memberikan perlindungan sepanjang kehamilannya dan bahkan mengusahakan tempat yang layak untuk Maria melahirkan bayinya.  Keputusan Yusuf untuk tetap menikahi Maria dalam kondisi seperti itu pastilah bukan hal yang lazim, namun  Yusuf memilih menikah dengan Maria karena Tuhan.  Yusuf membuktikan ketaatannya dengan menjaga dan mendampingi Maria dengan penuh tanggung jawab

    Kedua: Menjaga dan mendampingi tumbuh kembang Yesus.

    Perjuangan Yusuf untuk mengikuti perkataan Tuhan tidak berhenti setelah Maria melahirkan.  Yusuf saat ia terpaksa membawa Maria dan Yesus mengungsi ke Mesir lalu kembali lagi ke Nazaret untuk membangun kehidupan baru.  Yusuf  bahkan rela kehilangan tiga hari perjalanan untuk mencari Yesus remaja yang hilang di Bait Allah.    Puluhan tahun dilalui Yusuf dengan setia untuk mendampingi Yesus bertumbuh dewasa.  Ketaatan memang harus diperjuangkan dan Yusuf berhasil membuktikannya. 

    Ketaatan Yusuf  kepada perintah Tuhan  bukan dating secara otomatis.  Yusuf telah melampaui proses pahit dengan rasa marahnya dan pada akhirnya menerima kenyataan yang tidak menyenangkan itu setelah pengalaman rohaninya dengan Tuhan.  Kepercayaan dan ketaatan  itulah yang membuatnya bisa menikmati tugasnya sebagai suami dan ayah bagi Maria dan Yesus.  

    Yusuf menyaksikan bagaimana Tuhan menggenapi firman-Nya selama masa ia bersama Yesus.  Sungguh indah.  Mari belajar untuk memercayai Allah dan hidup dalam janji-Nya.  Allah akan memakai ketaatan orang yang memercayai-Nya untuk ikut serta dalam Rencana Agung-Nya.  Berpalinglah kepada Tuhan dan berjuanglah untuk hidup dalam ketaatan. Selamat bertumbuh dewasa. Selamat merayakan Natal. Bersukacitalah! (Ag).  

  • BUKAN LELAKI BIASA

    Saudaraku, tidak ada yang lebih menakjubkan selain belas kasihan Allah kepada mereka yang dalam kesukaran.  Mata Allah yang tajam mampu menembus yang mungkin tak sempat dilihat oleh mata manusia dan menolong mereka dengan sempurna.  Mari renungkan Lukas 7:11-16.

    Seorang ibu sedang dalam kedukaan yang mendalam.  Ibu itu seorang janda dan anak satu-satunya meninggal.  Anak itu laki-laki, satu-satunya, tumpuan harapannya.  Di masyarakat yang menghargai garis keturunan lelaki dan menjadikan lelaki menjadi superior, maka kesedihan ibu ini beralasan.  Lelaki telah menjadi pusat kehidupan dalam keluarga maka kehilangan lelaki membuat seorang perempuan seperti kehilangan perlindungan.  Masa depan ibu janda itu terasa suram karena tak ada lagi lelaki yang diandalkannya.  

    Ada banyak lelaki ikut bersedih dengan kondisinya.  Mereka mengantar si janda dan mengusung mayat anaknya menuju ke gerbang kota untuk dikuburkan di luar temboknya.  Lelaki-lelaki lain itu tidak bisa diandalkannya karena mereka punya keluarganya sendiri-sendiri.  Namun janda itu tidak menyangka kalau ia bertemu dengan sosok Lelaki yang akan bisa menolongnya.   

    Lelaki itu tidak dikenalnya namun Ia memandang langsung kepadanya dan tiba-tiba menghampirinya lalu menghiburnya dengan kata-kata yang menguatkan.  Kata-kata Sang Lelaki bagaikan ucapan suami dan anaknya kala mereka masih ada dan melihatnya bersedih.  Suami dan anaknya tidak hanya menghibur dengan kata-kata namun memberikan solusi yang dibutuhkannya. Lelaki itu benar-benar memberi solusi yang luar biasa yaitu kehidupan untuk anaknya yang sudah meninggal.  

    Ibu itu memang tidak sempat mengenal-Nya dan tidak tahu mengapa Dia datang ke kotanya dengan membawa rombongan.  Namun Lelaki itu menjawab masalahnya dengan tuntas.  Ia bukan lelaki biasa.  Ibu yang sudah janda itu mengalami pemulihan yang holistis: Ia mendapatkan anaknya kembali dan ia mendapatkan hidupnya kembali.

    Tuhan memang luar biasa karena dalam kesibukan-Nya mengurus seluruh isi semesta, Ia tetap tajam merasakan kesedihan mereka yang susah.  Bukan saja merasakan namun memberikan penguatan dan penghiburan serta bergerak menolong.  Mungkin tidak sempat manusia itu berteriak minta tolong karena tertekan dengan situasi, namun Tuhan mampu memberi solusi yang tepat.  Mereka yang hancur selalu menjadi prioritas-Nya dan ada di hati-Nya, seperti kata Mazmur 34:18, “TUHAN itu dekat kepada orang yang patah hati dan menyelamatkan mereka yang remuk jiwanya.”  

    Oleh karena itu bersyukurlah karena saat tidak ada  seorang pun yang bisa diandalkan, Allah hadir untuk menjadi andalan sejati dan ketika Ia bergerak maka solusi yang Dia lakukan adalah yang terbaik karena hati yang patah dan remuk, tidak akan dipandang hina oleh-Nya (Mazmur 51:17).  Mari datang pada Allah saja dan terimalah pertolongan-Nya yang sempurna.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The End of Solomon’s Life Journey

    FATAMORGANA. Sahabat, sesungguhnya tawaran dunia yang biasanya sangat menggiurkan itu  seperti fatamorgana,  sekilas kelihatan menarik, menolong, dan menjanjikan,  tetapi sesungguhnya menyesatkan, menghancurkan dan membawa manusia kepada kebinasaan. 

    Dari beberapa sumber,  saya mendapat informasi bahwa fatamorgana adalah sebuah  fenomena bayangan udara di mana ilusi optik   yang biasanya terjadi di tanah lapang yang luas seperti padang pasir atau padang es. Peristiwa fatamorgana terjadi akibat oleh pembiasan cahaya melalui kepadatan yang berbeda, sehingga bisa membuat sesuatu yang tidak ada menjadi seolah ada. Fenomena ini biasa dijumpai di tempat panas dan Gunung Brocken di Jerman.

    Dilansir dari situs Skybrary.Aero, kata fatamorgana berawal dari legenda Italia. Di mana terdapat penyihir Arthurian bernama Morgan le Fay (Morgan si peri). Di Italia tersebar keyakinan bahwa fatamorgana sering telihat di Selat Messina, di mana Morgan le Fay menciptakan istana peri di udara atau pulau palsu dengan sihirnya untuk memikat pelaut menuju kematian mereka. 

    Sahabat, fatamorgana mendistorsi atau mengacak bentuk obyek-obyek asalnya seperti kapal, pulau dan garis pantai. Wujud fatamorgana dapat persis seperti si obyek atau benar-benar tidak dapat dikenali. Obyek-obyek ini biasanya terletak jauh dari posisi kita. Fatamorgana dapat membuat sebuah kapal terlihat seperti melayang di atas permukaan laut, atau membuat kapal terlihat terbalik diatas obyek kapal aslinya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “The End of Solomon’s Life Journey (Akhir Perjalanan Hidup Salomo)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 11:14-43. Sahabat, siapa yang tak tahu Salomo? Raja Israel yang penuh hikmat, kekayaan, dan karisma. Namun, siapa sangka, Allah menghukumnya dengan cara yang sulit diterima nalar pikiran kita. Allah yang memberkati, Allah juga yang menghukumnya. Sungguh tragis.

    Mengapa Salomo dihukum Allah? Karena ia meninggalkan hikmat dari Tuhan. Ia teperdaya oleh godaan penyembahan berhala yang datang dari istri-istri dan gundik-gundiknya. Salomo terjerat kenikmatan dunia.  Tak tanggung-tanggung, Salomo menikah dengan tujuh ratus istri dari kaum bangsawan ditambah dengan tiga ratus gundik. Tentu saja Allah tersingkir dengan kehadiran mereka.

    Sahabat, Allah menghukum dengan cara memecah kerajaan yang dahulu dipersatukan oleh Daud, ayahnya. Hanya sebagian kecil saja yang masih dikuasai oleh dinasti Daud.  Itu pun karena Allah masih mengingat janji-Nya kepada Daud.

    Allah telah membangkitkan lawan-lawan bagi Salomo, baik dari luar maupun dari dalam kerajaannya sendiri. Ada tiga musuh utama yang melawan Salomo. Pertama, Hadad yang lolos dari pembantaian Yoab. Ia lari mengungsi ke Mesir. Keberadaan Hadad menjadi petaka bagi Salomo (Ayat 14-22). Kedua, putra Elyada. Damsyik dikuasainya. Ia menjadi ancaman karena jalur perdagangan di Timur dapat direbutnya (Ayat 23-25). Ketiga, Yerobeam. Kepandaian dan bakat yang luar biasa menjadi daya tarik bagi banyak orang (Ayat 28). 

    Letak kesalahan Salomo adalah ia meninggalkan Allah dan menyembah ilah istri-istri dan gundik-gundiknya. Salomo memeluk erat-erat kenikmatan dunia. Padahal kenikmatan dunia itu seperti fatamorgana.

    Sahabat, tiidak sedikit orang percaya saat ini yang tergoda mengorbankan iman karena kedudukan, kekayaan, dan kenikmatan duniawi. Tak jauh-jauh, berkisar masalah pasangan hidup, kekayaan, dan jabatan. Kenikmatan dunia yang kadang menyilaukan bisa membuat orang percaya tergelincir. Dunia memang memberi tawaran yang menggiurkan. Tapi kita perlu ingat tawaran dunia itu seperti fatamorgana. Sepintas sangat menarik dan menjanjikan, tapi sesungguhnya menyesatkan dan membawa kehancuran. 

    Kesetiaan menjadi penting sebab merupakan bentuk ketaatan. Tuhan menuntut kesetiaan, sebab Ia juga setia. Menjaga kesetiaan dilakukan dengan tetap intim dengan Tuhan. Karena itu, setialah dan berjaga-jagalah agar tidak menjadi lemah dan mengalami kehancuran dan kekalahan tragis. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Tawaran Dunia?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kehidupan yang melimpah dengan kekayaan dan ketenaran  tidak menjamin seseorang akan semakin mengasihi Tuhan dan hidup dalam ketaatan. (pg). 

  • A Charismatic Person

    KARISMA. Sahabat, orang berkarisma  biasanya memiliki prinsip bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ia tak akan merendahkan kekurangan orang dalam aspek tertentu dan memuji kelebihan di luar batas wajar.

    Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karisma berarti keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya. Selain itu karisma juga berarti  atribut kepemimpinan yang didasarkan atas kualitas kepribadian individu.

    Karisma adalah sifat seseorang yang seakan mempunyai kemampuan dan kukuasaan yang luar biasa. Istilah karisma pertama kali diperkenalkan oleh Ernst Troeltsch. Max Weber sering memakai istilah karisma dalam menjelaskan tentang kepemimpinan. Karisma dijadikan sebagai penyebab adanya pemimpin yang mampu memimpin tanpa adanya dukungan kekayaan maupun pemaksaan. Karisma terbentuk dan dimiliki oleh pribadi-pribadi tertentu secara alami. Secara umum, karisma dimiliki oleh tokoh agama dan tokoh politik. 

    Sahabat, karisma adalah kemampuan atau kehebatan yang dimiliki seseorang yang tidak diperoleh melalui pendidikan formal, melainkan pembawaan lahir.  Secara rohani karisma bisa diartikan kemampuan yang diberikan Roh Kudus secara khusus kepada orang percaya untuk dipergunakan melayani pekerjaan Tuhan, membangun jemaat dan semata-mata untuk kemuliaan nama Tuhan

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “A Charismatic Person (Seorang yang Berkarisma)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 10:1-29 dengan penekanan pada ayat 7.  Sahabat, keberhasilan dan sanjungan adalah dua hal yang dicari oleh kebanyakan orang. Bahkan banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya.

    Namun Salomo tidak perlu bersusah-susah untuk meraih keberhasilan karena Tuhan menganugerahinya. Maka sanjungan atas keberhasilan Salomo pun terdengar hingga ke negeri Syeba. Ratu negeri Syeba sudah mendengar segala kelebihan Salomo, yang kesemuanya berkaitan dengan Tuhan (Ayat 1). Namun, ia tidak mau percaya begitu saja (Ayat 7).

    Sahabat, oleh sebab itu, ia ingin menemui Salomo untuk membuktikan segala sesuatu yang dia telah dengar (Ayat 2). Ia mendengar tentang hikmat yang dimiliki Salomo, maka ia datang hendak mengujinya. Lalu ketika ia tiba di hadapan Salomo, ia pun membuktikan kebenaran berita itu. Segala pertanyaan yang ia ajukan, dijawab tuntas oleh Salomo (Ayat 3).

    Ratu negeri Syeba mendengar juga tentang kekayaan Salomo. Namun apa yang ia lihat justru melebihi apa yang ia dengar (Ayat 7). Rumah yang telah Salomo dirikan, makanan di mejanya, tata cara para pegawai dan para pelayan Salomo, bahkan korban bakaran bagi Tuhan pun membuat sang ratu tercengang (Ayat 5). Rasa takjub membuat sang ratu memuji Tuhan, yang telah mengangkat Salomo menjadi raja (Ayat 9). Ratu juga menyebut keluarga Salomo dan para pegawainya sebagai orang yang berbahagia karena dapat melihat segala hikmat Salomo (Ayat 8).

    Semua yang dilihat ratu Syeba melebihi dari kabar yang didengarnya. Ratu Syeba tidak hanya memuji Salomo tetapi juga memuji Allah yang disembah Salomo (Ayat 9). Semua yang Salomo lakukan dan perbuat memuliakan Tuhan.

    Sahabat, Salomo adalah salah seorang  tokoh besar di Alkitab yang terkenal karena hikmat dan kekayaannya.  Nama  Salomo  berarti damai sentosa. Salomo memiliki karisma sangat luar biasa! Karena karismanya Salomo menjadi sangat terkenal dan dikagumi banyak orang! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Keberadaan kita maupun segala yang kita miliki, semuanya berasal dari Tuhan dan milik Tuhan. Oleh karena itu pergunakanlah untuk memuliakan Tuhan sehingga Tuhan dipermuliakan dan banyak jiwa yang dibawa kepada Tuhan. (pg).

  • Working is A Life Calling

    BEKERJA. Sahabat, Bob Black dalam tulisannya yang berjudul: “The Abolitition of Work” berkata: “Tidak seorangpun yang harus bekerja. Bekerja adalah sumber dari hampir semua kesengsaraan di dunia ini. Hampir semua kejahatan yang bisa Saudara sebutkan berasal dari bekerja atau dunia yang dirancang untuk bekerja. Untuk menghentikan kesengsaraan ini, kita harus berhenti bekerja.” 


    Dalam  kebudayaan yang suka bersantai, ada cukup banyak orang yang sepenuh hati menerima pemikiran Black. Di Amerika, orang menghabiskan sekitar 50 persen dari waktu aktif mereka untuk bekerja. Apakah bekerja itu merupakan kutukan, atau memang sesuatu yang dirancang secara unik untuk dilakukan oleh manusia? Berlawanan dengan pernyataan dari Bob Black, makna dan natur manfaat dari pekerjaan justru merupakan tema besar di Alkitab.

    Perihal bekerja dijelaskan di kitab Kejadian. Di pasal awal, Allah digambarkan sebagai pekerja utama; sibuk dengan penciptaan dunia (Kejadian 1:1-15). Alkitab menyatakan bahwa Allah bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh. Allah adalah yang pertama kali yang melakukan pekerjaan di bumi; oleh karena itu, pekerjaan yang benar mencerminkan aktivitas Allah.

    Sahabat, karena Allah itu baik, bekerja juga baik (Mazmur 25:8; Efesus 4:28). Selanjutnya, kitab Kejadian 1:31 menyatakan bahwa ketika Allah melihat hasil dari pekerjaan-Nya, Dia menyebutnya:  “Sangat baik.” Allah kemudian memeriksa dan menilai kualitas pekerjaan-Nya. Ketika Ia memutuskan bahwa Dia telah melakukan pekerjaan yang baik, Dia menikmati hasilnya. 

    Hasil kajian Alkitab menunjukkan bahwa bekerja adalah aktivitas yang melekat kepada manusia secara hakiki sebagai suatu ciptaan. Allah, sang pencipta juga digambarkan sebagai sosok yang bekerja. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Working is A Life Calling (Bekerja adalah Panggilan Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 9:10-28. Sahabat, sejak semula, panggilan hidup manusia adalah untuk bekerja. Itu sebabnya, manusia pertama ditempatkan di dalam Taman Eden dengan perintah untuk memelihara dan mengusahakannya. Dengan kata lain, boleh disebut manusia adalah pengusaha.

    Menjadi pengusaha berarti bekerja, niscaya mengusahakan sesuatu agar berdaya guna dan berhasil guna. Tak ada suatu apa pun di bawah langit ini yang dapat memastikan keberlangsungan hidup manusia. Hanya karena seseorang sudah berada dalam kecukupan, misalnya, tak berarti ia dapat bersantai-santai dan berandai-andai segala miliknya tak akan habis. Sesuatu yang orang dapatkan hari ini adalah hasil usahanya selama bertahun-tahun. Ia harus terus berusaha untuk kehidupannya pada masa depan.

    Sahabat, dalam konteks berusaha, Salomo dikisahkan masih terus berusaha untuk menyenangkan hati Hiram, meskipun belum sepenuhnya berhasil (ayat 12). Salomo merasa bahwa dengan memberikan 20 kota di Galilea akan menyenangkan hati Hiram. Ternyata Hiram tak senang dengan pemberian itu. Salomo sudah kaya raya, tetapi ia tidak tinggal diam. Ia masih terus bekerja keras mengusahakan banyak hal. Bukan untuk menambah kekayaan yang ia miliki, namun menjaganya agar tetap terawat baik (Ayat 15-28).

    Kita perlu belajar dari Salomo dengan menghayati bahwa bekerja  adalah panggilan hidup. Dengan demikian, kita dapat memiliki penghayatan yang lebih baik dan positif terhadap pekerjaan. Bekerja  perlu dilihat sebagai bagian hidup yang mesti dijalani dengan gembira. Benar bahwa ketika melakukan berbagai usaha, kita menghadapi banyak kendala. Oleh karenanya, jadikanlah semua itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih baik dan bahkan lebih menantang.

    Sahabat, kendala adalah peluang, bukan ancaman. Artinya, kita dipacu untuk melakukan berbagai terobosan yang pada akhirnya mendatangkan kebaikan bersama. Selama masih ada kesempatan untuk mengerjakan banyak hal, kerjakanlah dengan sekuat tenaga. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdsarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang bekerja?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketika seseorang bekerja dengan sungguh-sungguh, maka tidak saja ia akan menerima upahnya di dunia ini, tetapi juga dari Tuhan. (pg).

  • Our Life Guarantee

    KEPASTIAN. Sahabat, satu hal yang paling tidak kita sukai dalam hidup ini adalah menunggu. Terlebih lagi kalau harus menunggu dalam ketidakpastian. Ibarat berjalan dengan mata tertutup, situasi yang tak pasti membuat kita tidak bisa mengontrol apa yang bakal terjadi. Entahkah sesuai harapan atau tidak, kita tidak bisa tahu tanpa melewati masa-masa penantian mendebarkan terlebih dahulu.

    Dunia menawarkan berbagai bentuk kepastian, tetapi nyatanya semua itu tidak benar-benar menjadi jaminan. Berbeda dengan tawaran sok meyakinkan dari dunia, mengikut Tuhan seolah justru merupakan tantangan. Terkadang, kita ditempatkan pada beragam situasi ketidakpastian yang menegangkan. Satu hal dapat selalu kita pegang, sekalipun di tengah ketidakpastian yang mencekam, dengan bersandar pada Tuhan, kita pasti akan kuat menghadapi setiap tantangan yang menghadang.

    Oswald Chanbers berkata, “Iman banyak orang mulai bimbang bila kekhawatiran memasuki pikiran mereka. Cara untuk menyingkirkan ketakutan dari hidup kita adalah mendengar kepastian Allah, kata-kata sapaan Allah untuk kita.” 

    Sahabat, kepastian saya dibangun atas kepastian Allah kepada saya. Allah berfirman,   ”Aku sekali-kali tidak akan meninggalkankan engkau” supaya kemudian saya dengan pasti dapat berkata, “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut” (Ibrani 13:5-6).

    Hal itu bukan berarti bahwa saya takkan tergoda untuk merasa takut, tetapi saya akan mengingat kata-kata kepastian dari Allah. Saya akan merasa penuh keberanian hati, seperti seorang anak yang berusaha untuk mencapai tolok ukur yang ditetapkan ayahnya bagi dia.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Our Life Guarantee (Jaminan Hidup Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 8:54-66. Sahabat, di dalam ketidakpastian, hal yang paling penting adalah KEPASTIAN. Dengan kepastian, orang akan merasa aman dan nyaman. KEPASTIAN menjadi jaminan yang membuat setiap orang dapat menjalani hidupnya dengan tenang. Persoalannya adalah betapa sulitnya menemukan dan mendapatkan kepastian yang kokoh, tak berubah, dan tepercaya.

    Pada masanya, Salomo adalah raja yang amat kaya raya dan berkuasa penuh. Ia termasyhur sampai ke seluruh dunia. Namun demikian, dalam semua kejayaannya, Salomo tak meletakkan jaminan pada semua yang ia miliki. Alih-alih pada harta dan kuasanya, Salomo justru meletakkan segenap jaminannya ke dalam tangan Tuhan. Ia menegaskan dengan suara nyaring bahwa Tuhanlah yang telah memberikan tempat perhentian bagi umat (Ayat 56).

    Sahabat, ketika Tuhan memberikan tempat perhentian bagi umat, itu semua adalah tanda yang sangat jelas mengenai pemeliharaan Tuhan terhadap umat-Nya. Tuhan yang memberi perhentian adalah Tuhan yang sama, yang berjanji kepada umat ketika menuntun mereka keluar dari Mesir menuju ke Tanah Perjanjian. Semua yang dijanjikan Tuhan kepada Musa diwujudkan-Nya. Untuk itulah Salomo mengingatkan dan meminta umat agar tak melupakan apa yang sudah Tuhan kerjakan (Ayat 58).

    Secara sederhana, orang-orang pada masa kini sering meletakkan jaminan pada asuransi, materi, kekuatan, atau hal-hal lain yang dipandang dapat dijadikan sebagai pegangan. Padahal, itu semua semu. Tampaknya saja baik, tetapi sesungguhnya tak satu pun pernah bisa selalu diandalkan.Tahun kehidupan yang akan kita jalani masih panjang dan terbuka dengan berbagai kemungkinan di depan sana. Dalam menjalani semua itu, sudah pasti kita butuh jaminan agar kita mau dan mampu melanjutkan perjalanan hidup ini, apa pun tantangannya.

    Sahabat, berangkat dari bacaan kita hari ini, pilihan terbaik adalah memercayakan segenap jaminan hidup kita dalam pemeliharaan Tuhan. Tak ada jaminan lain yang lebih pasti selain dari Tuhan. Dialah yang memelihara hidup kita dengan penuh cinta kasih. Pemeliharaan Tuhan-lah yang menjadi jaminan hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 57?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hanya berjalan bersama Tuhan kita dapat menemukan kepastian di tengah dunia yang penuh keridakpastian. (pg).

  • NATAL DAN PEMBERIAN

    Saudara, dalam rangka menyambut natal pada tahun 2023, saya mengajak pembaca untuk merenungkan Matius 2:11 dengan judul: “Natal dan Pemberian.

    Tiga bulan menjelang bulan Desember 2023, Panitia Natal sebuah gereja dipusingkan tentang bagaimana gereja mereka akan merayakan Natal. Sebagian jemaat ingin perayaan Natal yang megah, syahdu dan penuh kemeriahan di sebuah grand ballroom hotel. Sebagian lagi beranggapan dirayakan di gereja dengan drama kelahiran Yesus, mendengarkan firman Tuhan lalu ditutup dengan perjamuan kasih.  Tetapi ada pula yang usul untuk merayakan Natal di panti asuhan sambil berbagi kasih kepada mereka yang kurang beruntung. Atau mengadakan perayaan natal dengan kaum marginal di lapangan terbuka.  Apa pun pilihan yang kemudian diputuskan oleh panitia Natal gereja tersebut tidaklah salah. 

    Saudara, salah satu makna Natal yang kadang terabaikan adalah PEMBERIAN. Keselamatan adalah makna utama Natal, tetapi selain itu ada pula PEMBERIAN.

    Saudara, bagi saya sesungguhnya natal dan setiap masa raya natal adalah WAKTU UNTUK MEMBERI: Orang-orang Majus memberi persembahan berupa emas, mur dan kemenyan bagi Yesus, tentu perlu banyak uang untuk membelinya. Gembala-gembala tidak membawa pemberian berwujud materi, tetapi mereka memberi iman mereka menanggapi berita dari malaikat. Sedangkan Yusuf dan Maria memberi hidup mereka. Menyerahkan diri mereka untuk rencana Tuhan, walaupun mereka tidak mengerti sepenuhnya hal tersebut.  Selanjutnya Allah Bapa memberikan PEMBERIAN  yang  TERBESAR dari segenap PEMBERIAN  yaitu  Anak-Nya yang Tunggal.

    Lalu apa yang akan kita berikan dalam Natal tahun  2023? Pertama, mari kita memberikan PENGAMPUNAN  dan KASIH (Yohanes 3:16;  Yohanes 6:12, 14-15 dan Matius 22:36-40).

    Kedua, mari kita  memberikan  TELADAN (1 Petrus  2:21 dan 1 Timotius 4:12). Teladan itu lebih nyaring bunyinya daripada nasihat. Kata “teladan” berarti “sedang menulis di bawah.” Anak-anak mengikuti jejeak orang tuanya. Kalau kita ingin anak-anak setia, maka jadilah orang yang setia. Kalau kita ingin anak melayani,   jadilah pelayan yang setia. Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat, meletakkan teladan-Nya dalam langkah-langkah yang Ia letakkan di seluruh dunia. Kita harus berjalan dalam langkah-Nya. Kita harus MENJADI TELADAN  seperti Kristus.

    Ketiga, marilah kita memberikan Injil kepada jiwa yang lapar (Amos 8:11-12; Lukas 2:10-12; dan Matius 28:19-20). Apakah Injil itu? Injil adalah kabar baik tentang Yesus Kristus. Itu termasuk kedatangan-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Kita harus membagikan injil kepada orang lain. Marilah kita memberi injil kepada orang yang tersesat pada zaman kita. Marilah kita memproklamasikan Kristus kepada semua orang.

    Keempat, marilah kita memberi KEMULIAAN kepada Tuhan (Lukas 2:14; Yohanes 3:30; dan Mazmur 103:1-3). Sejak semula  ALLAH adalah PEMBERI, dan setiap pemberian-Nya adalah baik dan sempurna, marilah kita memberi  kemuliaan bagi Dia. Itu menunjukkan ucapan syukur kita dan kerendahan hati kita, kesombongan tidak memberi kemuliaan untuk Tuhan. Adapun yang ada pada diri kita: Hidup, bakat, talenta, harta,  dan waktu kita Harus kita abdikan untuk KEMULIAAN TUHAN.

    Apa pilihan gereja Saudara dalam merayakan Natal tahun ini? Bila belum pernah, cobalah merayakannya bersama mereka yang kurang beruntung. Bisa di panti asuhan, di penjara, di komunitas anak-anak jalanan atau di panti wreda bersama mereka yang mungkin terabaikan oleh keluarga mereka sendiri. Yakinlah sukacita dan tangis haru mereka akan sangat bermakna,  kita telah melakukan sesuatu yang bermakna bagi sesama.

    Saudara, apa pun pilihan kita dalam merayakan tahun ini, setiap masa raya Natal kita diingatkan : Harus memberi pengampunan dan kasih; memberi  teladan; memberi Injil kepada jiwa yang lapar;  dan memberi kemuliaan kepada Tuhan. Selamat Natal. BERSUKACITALAH! (Pdt. Em. Gideon Suprapto).

  • DIA YANG TERLUPAKAN

    Saudaraku, kisah natal yang tiap tahun digaungkan selalu menyebut tokoh-tokoh natal seperti Maria, Yusuf, Zakharia, Elisabeth, gembala, malaikat, Herodes dan orang majus.  Namun ada seorang tokoh yang sebenarnya menjadi pelopor dari kedatangan Kristus, yaitu Yohanes bin Zakharia yang dikenal dengan nama Yohanes Pembaptis.  Mari merenungkan Lukas 1 : 76-80.

    Zakharia begitu bersukacita karena kelahiran anak lelaki semata wayangnya.  Ia sudah menjalani masa sulit karena bisu selama beberapa waktu dan ia mengucap syukur atas mukjizat yang diterimanya: Kesembuhannya dan kelahiran anaknya.  

    Sebagai seorang imam, Zakharia tahu bahwa anaknya memiliki misi kehidupan ilahi.  Hal  itu terungkap dalam nyanyian syukur untuk anaknya.  Awal kehidupan Yohanes memang penuh dengan mukjizat tetapi Zakharia mengerti Yohanes adalah pembuka jalan bagi Sang Mesias (Lukas 1:76).  Yohanes memang mengemban tugas yang berat yaitu untuk menyiapkan hati umat menyambut Mesias.  Dialah yang meluruskan hati umat yang bengkok agar siap dilewati oleh Mesias yang akan datang kembali memulihkan umat-Nya (Yesaya 40:3).  

    Yohanes memang menyerukan pertobatan : Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis supaa Allah mengampuni dosamu’ (Markus 1 :4; Lukas 3:3). Walau demikian Zakharia tahu Mesias itu bukanlah anaknya.  Yohanes sendiri menyadari hal itu dan berkata dengan lantang bahwa ia bukan Mesias (Yohanes 3:28). Nama Yohanes tidak disebutkan dalam kisah natal, namun kelahirannya menjadi pembuka kisah natal itu sendiri.  

    Tidak banyak orang yang mau hidup seperti Yohanes: Lahir dengan segala peristiwa illahi dan sepanjang hidupnya bekerja keras untuk meluruskan hati umat kepada Tuhan, namun pada akhirnya ia bahkan mempersilakan orang lain untuk dipermuliakan.  Manusia sangat menginginkan pengakuan dan sangat ingin memiliki monumen untuk dirinya sendiri.  Psikolog bernama Abraham Maslow menyebutkan bahwa penghargaan diri merupakan kebutuhan dasar manusia diusahakan untuk dapat terpenuhi setelah ia mendapatkan kebutuhan dasar yang lain: Kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan kebutuhan sosial (kebutuhan untuk dicintai).  

    Manusia secara kodrati ingin diakui eksistensinya dan diwongke  (dimanusiakan).  Penghargaan dikejar manusia dengan ambisinya, namun tidak  bagi Yohanes.  Semua itu tidaklah berarti karena ia menyadari tugas dan tujuan hidupnya: menyiapkan jalan untuk Kristus Sang Mesias. 

    Kisah Natal menjadi indah karena di dalam kisah ini semua orang berperan dalam tempatnya masing-masing sesuai dengan rencana Allah, termasuk Yohanes.  Walaupun Yohanes sering luput dari pembicaraan dalam momen natal namun karena kebesaran hatinyalah maka Yesus secara maksimal dapat bekerja untuk menghadirkan Kerajaan Allah.  

    Orang yang bekerja maksimal pada zamannya dan siap untuk dilupakan dengan jiwa besar demi kelanjutan pekerjaan Allah, itulah Yohanes Pembaptis.  Semua demi Rencana Keselamatan dalam diri Yesus.  Mari belajar dari Yohanes : Ia (Mesias) harus makin besar tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30). BERSUKACITALAH! Selamat bertumbuh dewasa. BERSUKACITALAH! (Ag)

  • INTEGRITAS DALAM NATAL

    Saudaraku, kedatangan Yesus sebagai Mesias telah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya dan Allah menepati janji itu dengan begitu detail.  Mari membaca dan merenungkan Lukas 2: 8-20.

    Gembala yang sedang menjaga kawanan domba tidak menyangka kalau malam itu mereka mendengar berita yang selama ini diimpikan oleh setiap orang Yahudi, yaitu kedatangan Mesias.  Dalam situasi terjajah oleh orang yang tidak mengenal Allah, tentunya berita ini sungguh mengejutkan sekaligus menggembirakan.  

    Sudah lama orang Israel menantikan kedatangan Mesias dan keyakinan kedatangan-Nya sudah diajarkan ratusan tahun, dari generasi ke generasi.  Para gembala itu pun pasti juga sudah mendengar ajaran tentang Mesias.  Walaupun tingkat pendidikan mereka minimal, namun pengharapan mesianis mereka sama dengan para ahli Taurat.  

    Mungkin saja mereka sudah tidak lagi banyak berharap karena terlalu lama menanti, namun malam itu mereka menerima kabar yang menggembirakan, yang bahkan tidak diterima oleh para imam dan ahli Taurat yaitu kabar kelahiran Mesias.  Mereka meyakini kabar itu sebagai sebuah kebenaran.  Bukan hanya karena pembawa berita itu adalah para malaikat namun juga karena  keyakinan mereka bahwa Sang Mesias akan lahir di Betlehem (Mikha 5:1).  

    Para gembala merespons berita itu dengan penuh sukacita apalagi ketika mereka menyadari bahwa berita yang mereka terima itu benar-benar sesuai dengan kenyataan yang mereka lihat (Lukas 2:20).  Para gembala itu bersukacita karena Allah menepati janji-Nya, integritas-Nya teruji.  JANJI SUDAH DIGENAPI. 

    Sebuah janji dari para pemegang otoritas menjadi sandaran pengharapan bagi orang-orang yang tertindas dan terhisap.  Ketika janji ditepati maka itu menjadi keyakinan bahwa mereka dapat dipercaya, sebaliknya saat janji tidak ditepati maka orang yang menerima janji itu bisa menjadi orang yang apatis dan kehilangan kepercayaan.  

    Kehidupan dunia yang penuh dengan dusta telah membuat manusia harus terus belajar untuk memercayai janji Allah. Selain karena pengalaman pahit, perhitungan waktu manusia dan Allah juga menjadi kesenjangan kepercayaan manusia terhadap janji Allah.   Kadang Tuhan terasa sangat lambat, kadang Tuhan terasa selalu diam dan tidak melakukan respons apa pun.  

    Namun Tuhan selalu mengingat janji-Nya sebagaimana 2 Petrus 3:9 mengatakan, ”Tuhan tidak lambat memberikan apa yang telah dijanjikan-Nya walaupun ada yang menyangka demikian …” (terjemahan versi Bahasa Indonesia Sehari-hari).  Kehadiran Sang Mesias adalah penggenapan janji agung Tuhan.  Bila Ia menggenapi janji yang sulit itu dengan begitu tepat dan detail, maka Ia pasti juga teruji untuk menepati janji yang lain kepada manusia. 

    Natal adalah bukti integritas Allah terhadap diri-Nya sendiri, yang mendatangkan berkat untuk manusia. Apa yang dijanjikan, telah digenapi.  Segala yang dikatakan, telah dilakukan.  Itulah integritas.  Integritas Allah mendatangkan sukacita bagi manusia yang lemah.  Bersyukurlah karena manusia dapat mengenal Allah yang memiliki integritas yang tinggi dan mari belajar untuk mengikuti integritas-Nya.  Percayalah kepada janji-Nya dan teruslah belajarlah untuk menjadi orang yang dapat dipercaya.  Selamat bertumbuh dewasa.  BERSUKACITALAH! (Ag)

  • Dedicated to the Glory of God

    DEDIKASI. Sahabat, dedikasi adalah suatu tindakan pengorbanan dalam bentuk tenaga, pikiran, serta waktu, demi mewujudkan keberhasilan menuju suatu tujuan positif. Selain itu, dedikasi bisa dikatakan sebagai komitmen seseorang dalam menjalankan suatu tugas tertentu yang ingin dicapai. Perilaku dedikasi ini sendiri ditunjukkan sebagai bentuk pengabdian untuk melaksanakan cita-cita serta diperlukan adanya keyakinan teguh bagi setiap individu yang bersangkutan.

    Sumber lain  menjelaskan bahwa pengertian dedikasi adalah saat seseorang melakukan sesuatu dengan penuh pengabdian dan totalitas, maka hal itu tidak akan sia-sia, walau harus dipaksa serta dengan kelelahan yang mendera, hal itu juga menjadi bahan bakar semangat untuk dapat terus memberikan yang terbaik sekalipun menghadapi berbagai kesulitan.

    Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memberi pengertian bahwa dedikasi adalah pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia atau pengabdian.

    Mengacu kepada arti dedikasi di atas, dedikasi kemudian dapat digunakan untuk  menggambarkan kualitas sikap serta kinerja seseorang. Seseorang dapat dikatakan memiliki dedikasi yang tinggi pada pekerjaannya apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Memiliki semangat yang tinggi; memiliki hati dan sikap melayani; memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi; dan memiliki komitmen yang tinggi.    

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja  dengan topik: “Dedicated to the Glory of God (Didedikasikan Bagi Kemuliaan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari: 1 Raja-raja 7:1-51. Sahabat, jika sebagai orang percaya kita diperhadapkan pada pilihan: Lebih mementingkan karya yang mengagungkan Tuhan ataukah mementingkan monumen yang mengagungkan diri kita sendiri? 

    Bisa jadi secara spontan kita memilih yang pertama, atau secara jujur memilih yang kedua. Pernyataan tersebut mungkin juga terlintas di kepala kita ketika mengetahui fakta: Pertama, Salomo membangun Bait Suci selama tujuh tahun (1Raja-raja 6:38), sedangkan membangun istana Salomo selama tiga belas tahun (Ayat 1). 

    Kedua, secara ukuran, gedung “Hutan Libanon” saja (Ayat 2) jauh lebih luas dari Bait Suci (1Raja-raja 6:2). Ketiga, pembangunan istana Salomo (Ayat 1-12) menginterupsi pembangunan Bait Suci yang belum selesai (Ayat 6 dan 13-51). 

    Bukankah Salomo seolah-olah lebih mementingkan monumen yang membanggakan dirinya sebagai seorang raja besar pada zaman keemasan dia memerintah? Mungkinkah fokus Salomo kepada Tuhan mulai goyah dan teralihkan karena pembangunan istananya?

    Sahabat, jika kita memahami bahwa pemerintahan Daud mewakili pemerintahan Tuhan atas umat-Nya, maka hal itu berlaku juga ketika Salomo memerintah sebagai raja. Dengan demikian, mungkinkah kita menilai pembangunan istana Salomo itu sebagai sebuah bentuk pengagungan kepada Tuhan juga? Bukankah Tuhan memerintah atas Israel? Oleh karena itu, bukankah kemegahan istana Salomo juga menunjukkan betapa perkasa dan agungnya Tuhan yang memberkati Salomo melalui istananya yang luas dan megah?

    Alkitab memang tidak menilai pembangunan istana Salomo itu sebagai sesuatu yang negatif atau positif. Namun kita bisa belajar sesuatu yang melampaui kisah pembangunan istana Salomo itu sendiri, yakni masalah motivasi. Apakah motivasi yang mendorong kita untuk berkarya?

    Sahabat, bila kita mempunyai suatu karya yang sangat membanggakan, lalu kita menerima pujian, bagaimana perasaan kita saat itu? Kita membanggakan diri sendiri atau mengarahkan orang itu untuk memuji Tuhan yang telah memberkati kita? Mari kita belajar menjaga motivasi hati kita untuk berfokus hanya memuliakan Allah saja. Mari kita mendedikasikan segala karya kita untuk memuliakan Allah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13-14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:  Marilah kita memaknai karya-karya kita dengan sesuatu yang berarti dan mendedikasikan hasilnya agar melaluinya nama Tuhan saja yang dimuliakan. (pg).