Category: Sejenak Merenung

  • MERESPONS FIRMAN

    Saudaraku, tidak banyak orang suka mendengarkan nasihat apalagi kalau nasihat itu pedas menyengat.  Namun ternyata orang-orang Yahudi saat itu merindukan dan kehadiran si pengkritik yang bernama Yohanes, putra Imam Zakharia.  Mari kita merenungkan Lukas 3:1-19.

    Lukas memberikan gambaran detail tentang figur Yohanes yang saat itu sempat membuat heboh wilayah Yudea (Lukas 3:1-2).  Yohanes sempat dianggap sebagai Mesias karena ajaran yang dibawanya. Mereka menyambut positif dan banyak diantara mereka yang dibaptis untuk menjadi pengikut Yohanes dan Raja Herodes mengakui keberadaannya. Lukas menuliskan  dua tanggapan terhadap teguran Yohanes :

    1. Keterbukaan dan dialog

    Mengejutkan karena ternyata para pemungut cukai  ada diantara mereka yang tertarik dengan ajaran Yohanes. Pemungut cukai merupakan lapisan masyarakat yang mengalami diskriminasi karena pekerjaan mereka. Namun mereka membuka diri untuk menerima kebenaran yang diajarkan oleh Yohanes.  Namun mereka memiliki kerendahan hati untuk membuka diri dan haus menemukan kebenaran melalui nasihat Yohanes.  Mereka merindukan kebenaran dan ingin melakukannya dalam tugas mereka sehari-hari.

    • Menolak  dan bertindak defensif

    Teguran Yohanes tidak mengenal kasta dan Raja Herodes kena tegur juga ketika ia melakukan kesalahan (Lukas 3:19).   Herodes menjebloskan Yohanes dalam penjara karena teguran tersebut.  Kesombongan Herodes dengan menolak nasihat dan teguran Yohanes membuatnya bertindak membungkam kebenaran, walau sebenarnya Herodes menghormati Yohanes (Markus 6:20).

    Sama-sama menjadi pendosa, respons para pemungut cukai dan Herodes jauh berbeda dengan teguran Yohanes.  Sikap rendah hati membuka pemikiran pemungut cukai untuk hidup lebih baik walau pekerjaan mereka dipandang remeh oleh masyarakat.  Mereka berupaya untuk berubah dengan meminimalisir egosentris mereka dengan menagih sesuai yang ditentukan (Matius 3:12).  Sikap berbeda ditunjukkan Herodes dengan menunjukkan egonya melalui kekuasaan yang dimilikinya untuk membungkam Yohanes. 

    Firman Tuhan akan memberikan pengaruh kalau siapa pun yang mendengarnya memiliki kerendahan hati untuk mau berpikir terbuka dan belajar untuk melakukannya dalam kehidupannya.  Selama ego masih menjadi raja dalam diri manusia, ia akan sulit untuk menjadi pelaku bahkan ia akan menolak Firman. 

    Menjadi Kristen bukan hanya menerima Kristus dalam hati namun juga kemauan untuk menyingkiran ego dan menjadikan Dia sebagai Raja yang memerintah dan mempengaruhi hidupnya sehingga ia hidup sesuai dengan Firman sebagaimana pemazmur mengatakan,   “Fiman-Mu yang tersingkap memberi terang, memberi pengertian kepada mereka yang tidak berpengalaman” (Mazmur 119:130). 

    Mari belajar menanggapi Firman Tuhan dengan hati terbuka dan memprosesnya sehingga kekuatan Firman sanggup mengubah kehidupan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The Hero’s Helper

    PAHLAWAN TAK DIKENAL. Sahabat, pemerintah telah menetapkan sederetan nama sebagai pahlwan “formal”. Nama mereka menjadi nama jalan atau nama bandar udara atau nama tempat yang penting lainnya. Sebenarnya kita harus menyadari bahwa disamping mereka,    masih ada lebih banyak lagi pahlawan-pahlawan lain yang tidak dikenal.

    Sayang, nama-nama pahlawan itu tidak diketahui sehingga  mereka disebut sebagai para pahlawan yang tidak dikenal. Disamping para pemimpin atau orang-orang yang jasanya dikenal, sesungguhnya lebih banyak lagi massa rakyat yang berkat dukungan mereka para pemimpin atau tokoh itu dapat berperan.

    Pahlawan tak dikenal adalah rakyat atau masyarakat biasa yang dengan diam-diam turut mendukung para pahlawan. Mereka juga banyak berkorban ketika musuh menggeledah desa atau membumi hanguskan sebuah kota atau kawasan serta membinasakan para penghuninya.

    Nama-nama mereka tidak sempat diabadikan, tetapi jerih payah dan pengorbanan mereka tidak dapat dilupakan begitu saja. Menyadari pengorbanan rakyat kecil dalam proses perjuangan atau proses pembangunan, dialam kemerdekaan ini sudah sepatutnya kita mengingat jerih juang dan pengorbanan mereka.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “The Hero’s Helper (Penolong Sang Pahlawan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 23:8-39 dengan penekanan pada ayat 16. Sahabat, kenalkah  dengan Benaya bin Yoyada? Elhanan bin Dodo? Elifelet anak Ahasbai orang Maakha? Eliam anak Ahitofel orang Gilo? Siapakah mereka?

    Pernahkah Sahabat membaca nama mereka di dalam Alkitab? Sebaliknya, Sahabat pasti segera mengenal nama Daud, Sang Raja Israel, yang gagah perkasa dengan segudang prestasinya.

    Sahabat, dalam bacaan  kita pada hari ini, kita berjumpa dengan nama-nama yang terdengar asing. Mereka adalah para pemimpin pasukan Daud, para pahlawan yang turut berperang berdampingan bersama dengan Daud. Mereka dengan gagah berani bertempur mempertaruhkan nyawa mereka demi Daud.

    Alkitab mencatat nama-nama mereka untuk mengingatkan kepada kita semua bahwa tidak ada seorang pun, bisa meraih kesuksesan dengan mengandalkan diri sendiri saja. Sedikit atau banyak; disadari atau tidak, orang-orang di sekitar kita punya peran penting dalam keberhasilan kita. Masing-masing mempunyai fungsi dan sumbangsih yang unik dalam kesuksesan Daud. Sebaliknya, Daud juga menjadi instrumen di tangan Allah dalam memimpin dan menginspirasi mereka untuk berjuang bersama.

    Daud melihat campur tangan Tuhan di dalam perjuangan rekan- rekannya, sehingga dalam kemenangannya Daud mengembalikan semua rasa syukur dan kemuliaan kepada TUHAN Allah (Ayat 16). Dialah yang menentukan fungsi dan perannya masing-masing. Semuanya berkelindan (erat menjadi satu) indah di dalam tenunan alur kehidupan, sesuai yang direncanakan oleh TUHAN Allah Sang Pencipta.

    Sahabat, ketika kita dapat melihat hal yang sama pada orang-orang di sekitar kita, tentu hati kita akan dipenuhi oleh rasa syukur kepada Tuhan. Namun, apakah orang-orang di sekitar juga bersyukur pada Tuhan atas kehadiran kita dalam kehidupan mereka? Sesungguhnya kehadiran mereka adalah perwujudan dari penyertaan Tuhan dalam hidup kita, demikian juga sebaliknya, kehadiran kita haruslah menjadi wujud penyertaan dan pertolongan Tuhan dalam hidup mereka. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apakah kehadiran kita sudah menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semoga kita dimampukan oleh Tuhan  untuk dapat melihat  kehadiran dan pertolongan Tuhan melalui teman-teman seperjuangan yang hadir dalam hidup kita. (pg). 

  • Counting God’s Blessing

    MENGHITUNG BERKAT TUHAN. Apakah Sahabat pernah mendaftar berkat Tuhan yang pernah kamu terima? Bila belum pernah, kehidupanmu  mungkin akan penuh dengan keluhan. Bila Sahabat merasa bahwa hidupmu penuh kesusahan, akhir tahun (sekitar sebulan lagi) merupakan kesempatan yang amat baik untuk menghitung berkat Tuhan di tahun 2023.

    Bila  menghitung berkat Tuhan, kita pasti akan takjub melihat apa yang telah Tuhan berikan kepada kita sepanjang tahun 2023. Dalam Mazmur 116:1-12, Pemazmur mengenang kembali bagaimana Tuhan menolong dia saat ia menghadapi bahaya yang bisa mengakibatkan kematian (Ayat 3 dan 8). Mengenang pertolongan Tuhan ini membangkitkan rasa syukur yang amat mendalam di hati Pemazmur (Ayat 12 dan 17).

    Ada berbagai hal yang bisa membuat kita sulit untuk bersyukur. Pertama, kita akan sulit bersyukur bila kita hanya memerhatikan penderitaan atau kesulitan yang kita hadapi dan tidak mampu melihat kebaikan Tuhan di balik semua peristiwa yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita.

    Kedua, kita akan sulit untuk bersyukur bila kita beranggapan bahwa semua yang terjadi di bumi ini semata-mata merupakan proses alamiah yang terjadi tanpa campur tangan Tuhan, dan apa yang telah kita terima atau yang kita miliki semata-mata merupakan hasil kerja keras kita sendiri.

    Ketiga, kita akan sulit untuk bersyukur bila kita tidak bisa melihat apa yang tidak kelihatan dengan kacamata iman. Bila kita yakin bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28), tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Counting God’s Blessing (Menghitung Berkat Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 22:1-51dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, Daud adalah seorang Pemazmur yang ulung. Banyak penafsir mengidentikkan kitab Mazmur sebagai Mazmur Daud. Mazmur Daud lahir dari pengenalannya akan Allah yang diteguhkan oleh pengalamannya berjalan bersama Allah.

    Nyanyian Daud pada bacaan kita pada hari ini  mirip sekali dengan Mazmur 18, yang diberi judul sebagai nyanyian Daud kepada Tuhan saat dilepaskan dari para musuhnya, termasuk Saul. Mazmur Syukur ini ditulis pada masa tua Daud, yang mencoba menghitung berkat-berkat perlindungan yang diberikan Tuhan kepadanya, satu per satu.

    Pengalaman Daud ditolong oleh Tuhan diungkapkan secara inti pada ayat 7:  “… dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, … Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, …” Paparan yang luar biasa, dimulai dari gambaran Allah sebagai Gunung Batu yang tak goyah, tempat perlindungan dari bahaya, termasuk alam maut (Ayat 2-6). Pertolongan Allah kemudian dipaparkan sebagai tindakan aktif secara kosmis menyelamatkan hamba-Nya (Ayat 8-20). Allah mengendalikan alam ini untuk melindungi hamba-Nya dari para musuh.

    Dari dasar karakter Allah ini, Daud kemudian berpaling melihat diri sendiri. Ia sadar perkenan Allah kepada dirinya, semata anugerah. Maka, ia pun merespons anugerah itu dengan menjaga hidup berkenan kepada-Nya (Ayat 21-30), sehingga ia berani berharap dan bersandar kepada-Nya. Mazmur ini mengungkapkan bagaimana Allah sendiri yang menuntun, memperlengkapi, dan mengajar Daud berperang mengalahkan musuh-musuhnya, yang adalah musuh-musuh Tuhan (Ayat 31-49), sehingga Daud bisa menutup mazmurnya dengan ungkapan syukur yang keluar dari hati yang terdalam (Ayat 50-51).

    Sahabat, fungsi mazmur ini bagi Daud ialah berterima kasih kepada Tuhan sehingga beroleh hati bijaksana. Juga agar beroleh kekuatan dalam menapaki kehidupan. Selain itu, bersaksi supaya orang yang mendengarkan atau melantunkan mazmur ini dapat memperoleh kekuatan hidup. Hitung berkat Tuhan satu persatu, maka kita akan memperoleh kekuatan hidup bagi diri sendiri dan memberikan kekuatan hidup bagi yang lain! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil renunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 50-51?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan pernah berhenti bersyukur karena Tuhan juga tidak pernah berhenti memberkati kita. (pg).

  • Don’t Delay!

    MENUNDA, Sahabat,  menunda-nunda merupakan bentuk sabotase terhadap diri sendiri. Saat menunda-nunda melaksanakan tugas atau tanggung jawab yang lebih prioritas, kita memang mendapatkan kelegaan sesaat, tetapi telah menghilangkan keuntungan yang lebih besar di masa depan.

    Sebagai manusia biasa, kita  pasti pernah malas dan menunda-nunda pekerjaan sampai mendekati batas waktu atau bahkan melewatinya. Meskipun pada awalnya kebiasan tersebut terlihat tidak berbahaya, namun mengulangi kebiasaan tersebut dapat menjadi batu sandungan bagi siapa pun dalam mewujudkan ambisi dan cita-citanya di masa depan. 

    Ia tidak hanya merugikan secara psikologis, tetapi juga dapat berdampak pada kehidupan sosial dan finansial. Oleh karena itu, kebiasaan menunda-nunda tersebut seharusnya kita tinggalkan demi meningkatkan produktivitas dan kualitas pribadi sehingga dapat membawa dampak positif yang berkelanjutan. 

    Selain itu menunda-nunda pekerjaan dapat merusak rencanamu kedepannya.  Banyak penyebab orang menunda-nunda dalam mengerjakan sesuatu, salah satunya karena merasa malas atau tidak memiliki motivasi. Selain itu, seseorang yang tidak memiliki tujuan yang jelas juga dapat lebih mudah menunda  karena tidak memiliki tolok ukur dan capaian yang pasti. Di satu sisi, menghilangkan kebiasaan tersebut memang bukan merupakan sesuatu yang mudah. Namun, tentu saja mengatasi kebiasan tersebut harus dilakukan agar dapat membawa kita pada kesuksesan dan kepuasan yang lebih besar dalam hidup.

    Namun, dengan kesadaran dan usaha, kita dapat mengatasi penundaan dan mengembangkan kebiasaan untuk mengambil tindakan menuju tujuan kita. Dengan menetapkan tujuan yang spesifik, membuat jadwal, menghilangkan gangguan, mendapatkan dukungan, dan mengambil tindakan yang konsisten, kita dapat memutus siklus penundaan dan mencapai kesuksesan dan kepuasan yang lebih besar dalam hidup kita. Ingat, tidak ada kata terlambat untuk mulai mengambil tindakan untuk mencapai tujuan kita, dan setiap langkah kecil sangat berarti untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi diri kita sendiri.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Don’t Delay! (Jangan Menunda!). Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 20:1-26 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat, Amasa mendapat tugas dari Daud untuk mengejar dan membunuh Seba bin Bikri yang telah menghasut orang-orang Israel untuk tidak menjadi pengikut Daud. Akibat hasutan Seba, hanya orang Yehuda yang tetap setia dan mengikuti Daud. Apa yang dilakukan sangat berbahaya bagi Daud. Oleh karenanya, Amasa diberi waktu tiga hari lamanya untuk membunuh Seba. Tetapi Amasa menunda-nunda tugas yang diberikan Daud.

    Mengetahui hal tersebut, Daud kemudian memerintahkan Yoab dan yang lainnya untuk melakukan tugas tersebut. Yoab tanpa menunda-nunda lagi bergerak melakukan perintah Daud dan Yoab tidak ragu-ragu juga untuk membunuh Amasa yang dinilainya gagal melakukan tugas yang diberikan.

    Sahabat, kunci kesuksesan seseorang adalah karena bisa mengatur waktu dengan baik dan tepat waktu. Kita harus bisa mengatur  waktu dengan baik. Setiap pekerjaan yang tertunda akan membawa dampak kepada yang lainnya menjadi tertunda dan batas waktu  menjadi mundur. Haleluya! Tunda itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan menunda sampai hari esok, apa yang dapat kamu kerjakan pada hari ini. (pg).

  • Sowing Kindness

    MENABUR KEBAIKAN. Sahabat, ada cukup banyak orang percaya yang terperangkap dalam pemikiran MEMBERI dan MENERIMA. Orang tergoda untuk memikirkan apa yang akan ia peroleh jika melakukan suatu kebaikan kepada orang lain. Akibatnya, jika ia tidak melihat adanya keuntungan yang akan ia dapatkan, ia urung bertindak. Ia menahan kebaikan dari orang yang memerlukan. Padahal Pengamsal jelas-jelas mengingatkan kita agar jangan menahan kebaikan bagi orang-orang yang berhak menerimanya  (Amsal 3:27)

    Menabur kebaikan tidak sama dengan berinvestasi dalam dunia bisnis. Kita tidak selalu menerima balasan dari orang yang kita bantu, namun tidak jarang kita MENUAI kebaikan dari pihak lain. Tidak dapat diprediksi, dan karena itu malah berpotensi mendatangkan kejutan yang menyenangkan.

    Sahabat, rasul Paulus mendorong jemaat di Galatia untuk saling menolong dan saling menanggung beban. Itu suatu cara praktis bagi orang percaya untuk menggenapi hukum Kristus, yaitu hukum kasih. Kasih seharusnya memancar kepada semua orang. Apakah kita tergoda menahan kasih dari orang yang memerlukannya, hanya karena mereka berbeda dengan kita? Atau, karena kita merasa tak akan mendapatkan keuntungan dari perbuatan baik itu? Penuhilah hukum Kristus dengan menabur kebaikan kepada semua orang.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Sowing Kindness (Menabur Kebaikan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 21:1-14. Sahabat, bangsa Israel pernah berjanji, bahwa mereka tidak akan membunuh dan mengusir orang Gibeon (Yosua  9:3-15). Sejak saat Yosua ini, penduduk Gibeon, yang sebenarnya adalah orang asing, diperbolehkan hidup bersama bangsa Israel. Bahkan di dalam kitab Tawarikh penduduk Gibeon didaftarkan sebagai penduduk tetap Israel. Oleh karena itu keberadaan penduduk Gibeon sudah dianggap sebagai bagian dari bangsa Israel.

    Dalam kerangka kepentingan politisnya, Saul menghalalkan segala cara dengan mencoba menghabisi etnis Gibeon dari bumi Israel. Banyak orang Gibeon yang mati terbunuh oleh Saul dan keluarganya.

    Penduduk Gibeon, yang sebenarnya sudah menjadi bagian keluarga Israel, tidak dapat melawan perbuatan Saul yang tidak adil terhadap mereka, karena mereka lemah dan minoritas. Mereka hanya dapat menunggu keadilan. Saul tidak menaburkan benih kebaikan kepada sesamanya, malah. menaburkan benih kebencian. Meski hanya dapat berdiam diri memohon keadilan dari Tuhan, tentu secara manusiawi di dalam hati mereka terdapat rasa benci dan prasangka buruk terhadap bangsa Israel.

    Sahabat, Tuhan melihat ketidakadilan itu sehingga Dia mengizinkan terjadinya kelaparan melanda bumi Israel selama tiga tahun. Setelah Daud meneliti dengan saksama, dia tahu bahwa hal tersebut disebabkan oleh kesalahan besar yang telah diperbuat Saul, raja pendahulunya. Untuk itulah Daud memberi perintah agar perkara ini diselesaikan.

    Di dalam hidup bermasyarakat dan bergereja, kita hendaknya MENABUR KEBAIKAN. Biarlah kita dikenang oleh karena kebaikan-kebaikan yang kita taburkan kepada orang lain. Tuhan Yesus sudah memberikan perintah kepada kita untuk dapat menjadi terang dengan menaburkan kebaikan bagi sesama. Janganlah kita menaburkan benih kebencian seperti yang telah diperbuat Saul.

    Sahabat, teruslah menabur  kebaikan  tanpa pilih kasih. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Amsal 3:27?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Teruslah menabur benih kebaikan, karena itulah investasi terbaik selagi kita masih punya waktu dan kesempatan. (pg).

  • KEAJAIBAN MENDENGARKAN

    Saudaraku, seumur hidup manusia perlu untuk terus belajar mendengarkan.  Mendengar dan mendengarkan memiliki makna yang sedikit berbeda walau melibatkan indera fisik yang sama, yaitu telinga.  Mendengar merupakan proses pasif yang tidak membutuhkan perhatian, sedangkan mendengarkan merupakan proses aktif yang disengaja yang melibatkan emosi.  Yesus adalah pribadi yang mendengarkan.  Mari kita merenungkan Lukas 2 : 41-51.

    Saat Yesus ditemukan kembali oleh orangtuanya, Ia sedang duduk bersama para orang dewasa di halaman Bait Allah tempat para lelaki biasa berdiskusi tentang hal agama bersama para imam.   Minat-Nya kepada hal rohani cukup besar. 

    Kalau kebanyakan anak lelaki remaja yang pertama kali ke Yerusalem cukup puas untuk mengikuti ritual dan ibadah bersama para lelaki dewasa lainnya, Yesus tidak.  Yesus  bahkan sengaja berkumpul untuk mendengarkan dan bertanya.  Yesus adalah pembelajar yang aktif dan cerdas (Lukas 2 : 47).  Ada dua hal yang menarik dari Yesus saat ia ‘hilang’ di Bait Allah, yaitu :

    1. Yesus ditemukan sedang MENDENGARKAN para ulama

    Karena Yesus juga pribadi yang Ilahi, Yesus yang masih remaja bisa saja menyerang pendapat para ulama itu.  Namun Yesus mendengarkan dan memberi sikap positif kepada mereka.  Walau Yesus cerdas, ia tidak merendahkan para ulama dan bahkan belajar dari mereka.  Tidak banyak orang cerdas yang mau mendengarkan pendapat orang lain apalagi dari mereka yang memiliki tingkat intelektual yang lebih rendah.  Yesus mendengarkan dengan baik.

    • Yesus MENDENGARKAN teguran orangtuanya

    Saat Yesus ditemukan kembali, Bu Maria menegur Anaknya dan menyatakan kekhawatirannya.  Yesus remaja mendengarkan orangtuanya dan meninggalkan kesukaan-Nya untuk berdiskusi lalu kembali ke Nazaret (Lukas 2 :51).  Walau Yesus sempat menyatakan komentar namun Yesus mengikuti orangtua-Nya dengan taat.  Yesus memilih untuk mendengarkan dan tunduk kepada mereka.

    MENDENGARKAN  memang membutuhkan kerendah hatian dan Yesus adalah figur sempurna dalam hal ini. Mendengarkan menunjukkan kualitas sebuah hubungan dari dua pihak yang berbeda karena tindakan ini muncul dari sikap respek.  Mereka yang tidak pernah mau mendengarkan, sebenarnya ia sedang dalam krisis respek kepada orang lain.  Keengganan seseorang untuk mendengarkan membuat hubungan dengan pribadi yang lain menjadi buruk dan berimbas kepada kesehatan mental.

    Demikian juga hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Ketika umat krisis respek, mereka mulai tidak mendengarkan.  Tuhan menegur mereka yang tidak mau mendengarkan sebagaimana Kitab Maleakhi 2:2 berkata “Jika kamu tidak mendengarkan dan jika  kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati namaKu, maka aku akan mengirimkan kutuk diantaramu … “

    Betapa penting seseorang untuk mendengarkan Allah dan sesamanya.  Mendengarkan berguna untuk orang lain dan terlebih untuk diri sendiri.  Mari terus belajar untuk melakukannya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Don’t Let the Grief Spoil You!

    SANGAT SULIT MENENTUKAN PILIHAN. Sahabat, sebagian besar dari kita mungkin sudah sering mendengar atau membaca peribahasa lama yang sudah sangat memasyarakat: “Bagai makan buah simalakama, dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati”.  Peribahasa tersebut   menggambarkan situasi yang sangat sulit yang sedang dihadapi seseorang. Tidak ada pilihan yang mendatangkan bahagia, yang menggembirakan atau yang menguntungkan.  Situasi sangat sulit yang dihadapi seseorang untuk menentukan pilihan, karena semua pilihan yang ada mendatangkan duka dan lara, “dimakan ibu mati” dan sebaliknya “tidak dimakan ayah mati”.

    Peribahasa tersebut menggambarkan seseorang yang dihadapkan pada pilihan berat karena semua membawa celaka. Contoh dalam kehidupan sehari-hari yaitu hubungan seorang perempuan dengan ibu mertuanya yang tidak akur dalam satu rumah. Apabila hal tersebut terjadi yang dibuat repot adalah suami perempuan tersebut karena istri dan ibu sama-sama memiliki posisi penting dalam hidupnya. Membela ibunya akan membuat istrinya marah, begitu pula sebaliknya.

    Sahabat, raja Daud menghadapi situasi seperti tersebut di atas dalam renungan kita pada hari ini.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Don’t Let the Grief Spoil You! (Jangan Biarkan Kedukaan Memanjakanmu!)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 18:1 – 19:8. Sahabat, bagai makan buah simalakama. Serba salah. Baik kalah atau menang, TETAP KALAH. Itulah pertempuran yang harus dilakukan Daud melawan anak kandungnya sendiri, Absalom.

    Perang saudara di antara orang Israel. Yoab melarang Daud memimpin langsung pertempuran itu karena kematiannya dapat menyebabkan kekacauan negara. Daud memerintahkan untuk mempertahankan nyawa Absalom, demi dirinya. Perintah ini menjadi permohonannya. Permohonan seorang ayah supaya anaknya jangan dibunuh. Daud sadar, perang saudara ini terjadi karena kesalahannya sebagai ayah dan raja. Anak dan sebagian rakyatnya memberontak terhadap pemerintahannya. Peristiwa tersebut  merupakan penggenapan nubuatan Natan (2 Samuel 12:10-12).

    Sahabat, raja Daud tengah dirundung duka sangat menyayat. Kabar kematian Absalom menjadi penyebabnya. Raja menangis dan berkabung: “Anakku Absalom!… Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, … anakku!” (2 Samuel 18:33).

    Cinta kasih Daud pada Absalom begitu besar. Cinta kasih yang berubah menjadi duka. Mula-mula Absalom memberontak dan menghendaki takhta. Situasi yang tak mudah bagi Daud. Orang yang begitu dikasihi, orang yang menjadi tumpuan harapan, justru bangkit melawannya. Situasi ini membuat Daud merasa putus asa. Perasaan ini makin menjadi ketika Daud mendapat kabar tentang kematian Absalom. Segera terlihat betapa kedukaan memanjakannya. Daud tenggelam dalam lautan kesedihan hati dan ratapan perkabungan. Praktis, para pengikut setianya kehilangan pegangan. Untung Yoab segera mengingatkan Raja Daud (2 Samuel 19:5-8).

    Kedukaan harus dihadapi, jangan biarkan kedukaan memanjakanmu. Kedukaan membutuhkan penghiburan dan bukan pembiaran, bahkan pengaburan fakta. Daud tidak boleh mengaburkan fakta akan adanya orang-orang yang setia kepadanya. Walaupun Absalom telah memberontak kepada raja Daud, ada orang-orang yang siap berjuang hingga mati demi menjaga martabat raja yang diurapi Tuhan.

    Daud tidak boleh terus-menerus dibelenggu oleh kedukaan. Untunglah, Daud bergegas duduk di pintu gerbang. Sadar bahwa dia adalah raja yang menjadi tumpuan banyak orang. Ada tanggung jawab yang mesti diemban dengan sikap terhormat.

    Sahabat, inilah intinya, jangan biarkan kedukaan menghancurkan hidup kita. Hadirnya sanak keluarga, gembala jemaat, teman-teman dari komunitas orang percaya, para tetangga, dan lain-lain  di tengah peristiwa kedukaan tentu sangat penting, demi menolong kita yang sedang berduka  bangkit lagi untuk melanjutkan tanggung jawab yang masih dipercayakan Tuhan kepada kita.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 2 Samuel 19:5-8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: MIntalah pertolongan kepada Tuhan agar duka tidak tinggal terlalu lama di hati. (pg).

  • God’s Help in Difficult Times

    PERTOLONGAN TUHAN. Sahabat, mungkin ada diantara kita yang  berpikir bahwa pertolongan Tuhan paling nyata kita rasakan ketika hidup kita berjalan dengan lancar, mulus, tanpa rintangan. Namun, pengalaman hidup kita justru bercerita bahwa kita biasanya lebih merasakan pertolongan Tuhan  ketika kita sedang mengalami kesulitan. Pada saat yang demikian kita begitu bergantung penuh kepada pertolongan Tuhan dan karenanya lebih dapat melihat dan menghargai ketika pertolongan Tuhan itu datang.

    Saya yakin setiap  orang pasti pernah mengalami masalah atau kesulitan dalam hidup dan berharap mendapatkan pertolongan atau jalan keluar. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah terlambat memberikan pertolongan. Hanya saja kita yang terkadang mengharapkan segala sesuatu terjadi harus seperti yang kita harapkan dan terjadi di waktu yang kita inginkan. Saat memerlukan sesuatu kita berharap bisa langsung terwujud sesuai dengan waktu kita. Begitu juga saat ada masalah atau kesulitan, sakit penyakit, dan lain-lain, kita berharap segera ada jalan keluarnya.

    Tuhan menolong kita berdasarkan kuasa, kekayaan dan kemuliaan-Nya.  Karena itu jangan pernah mereka-reka jalan Tuhan.   Pertolongan dan janji pemulihan Tuhan pasti akan terjadi sesuai waktu-Nya.  Karena itu dalam menantikan pertolongan Tuhan kita diminta untuk bersabar dan berserah penuh kepada-Nya;  dan yang pasti, pertolongan Tuhan itu selalu mendidik dan mendewasakan kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “God’s Help in Difficult Times (Pertolongan Tuhan dalam Kesulitan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 17:1-29. Sahabat, seperti yang direncanakan Daud, Husai berpura-pura berpihak kepada Absalom dan dalam kedaulatan Tuhan, nasihat Ahitofel yang baik tidak diterima (Ayat 14). Sesuai rencana, Husai harus mengirimkan kabar kepada Daud lewat kedua anak imam Zadok dan Abyatar, yaitu Ahimaas dan Yonatan (2 Samuel 15:27-29).

    Sahabat, rencana tersebut hampir saja gagal karena keduanya ketahuan. Hanya karena kedaulatan Tuhan, mereka selamat dari orang-orangnya Absalom. Mereka pun dapat menyampaikan berita kepada Daud (Ayat 21), sehingga Daud dan pasukannya dapat mengambil tindakan dengan cepat dan tepat (Ayat 22). Daud luput dari upaya Absalom membinasakannya (Ayat 23).

    Di pihak Absalom, kecerobohan dan kesalahan yang dilakukannya dengan menolak nasihat Ahitofel, membuat posisi Absalom melemah. Ditinggal oleh Ahitofel yang bunuh diri karena merasa gagal, Absalom tidak lagi mendapatkan nasihat yang kualitasnya seolah dari Tuhan sendiri (2 Samuel 16:23). Dengan demikian kekalahan Absalom hanya tinggal menunggu waktu.

    Pertolongan Tuhan ternyata tidak hanya sampai disini. Ketika Daud tiba di Mahanaim, ternyata sudah ada sahabat-sahabat lama yang mendukung Daud dan pasukannya dengan berbagai kebutuhan praktis sehari-hari (Ayat 27-28). Pertolongan Tuhan dalam berbagai aspek dalam masa kesulitan Daud ini merupakan pertolongan yang pasti sangat mengharukan Daud.

    Sahabat, yakinlah  bahwa Tuhan akan memberikan pertolongan dan jalan keluar   kepada kita jika kita mau  bergantung hanya kepada-Nya. Marilah kita membuka mata kita sehingga dapat melihat pertolongan Tuhan yang begitu berlimpah dalam hidup kita, terutama ketika kita dalam kesulitan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk menolong dan memulihkan kita, karena itu tetaplah berharap dan percaya kepada-Nya! (pg).

  • UTUH UNTUK TEOFILUS

    Saudaraku, sebuah produk jarang sekali dipromosikan secara jujur.  Sisi positif dari produk selalu ditonjolkan secara maksimal dan kekurangan produk diberitakan dengan seminimal mungkin.  Injil adalah sebuah produk yang memperkenalkan Kristus.  Injil mempromosikan Kristus dengan jujur dan tanpa ditutupi sehingga manusia mengenal Allah dengan utuh dan benar.  Mari kita merenungkan Lukas 1:1-4.

    Injil Lukas didedikasikan untuk seorang yang bernama Teofilus yang nampaknya ingin mengetahui tentang Yesus Kristus.  Sang penulis buku adalah Lukas, seorang dokter yang menjadi pengikut Kristus dan bergabung dengan pelayanan Paulus (Kolose 4:14).  Kemungkinan Teofilus adalah salah seorang rekan Lukas yang menjadi pejabat dan tertarik untuk mengenal figur Yesus Kristus karena gerak penginjilan yang luar biasa dari pengikut Jalan Tuhan. 

    Sebagai seorang rekan, Lukas dengan bersemangat mencari data tentang Yesus, mengumpulkan informasi dari para saksi mata, mengurutkan dan membukukan  dengan baik.  Ia hanya menginginkan Teofilus dapat mengenal sosok Yesus yang disembah dan disebar luaskan  oleh para pengikut Jalan Tuhan dengan penuh perjuangan. 

    Lukas menyadari bahwa Teofilus bukan orang Yahudi dan sebagai seorang pejabat yang terpelajar maka Teofilus membutuhkan informasi yang cukup dan masuk akal tentang figur Yesus.  Butuh waktu yang cukup panjang untuk Lukas memproses sehingga kisah Yesus dan pengajaran-Nya dapat  didokumentasikan tapi semua proses ini dijalani oleh Lukas demi memperkenalkan Kristus pada rekannya.  Hasilnya adalah Injil Lukas yang menceritakan Kristus sejak sebelum kelahiran hingga ketelah kebangkitan. 

    Sebuah perjalanan panjang untuk  karya yang hebat.  Lukas menyatakan kasih kepada Tuhan dan kepada Teofilus dengan total.  Setiap kisah yang terangkai dalam Injil Lukas memiliki makna perjuangan seorang yang rindu memperkenalkan Sang Kristus dengan UTUH  dan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.  Semua demi Teofilus.

    Cara Tuhan memperkenalkan diri kepada tiap orang sungguh kreatif.  Tuhan memakai umat-Nya untuk memperkenalkan diri kepada  semua orang, semua kalangan.  Oleh karena itu umat Allah perlu untuk :

    1. Memahami dan memperkenalkan Allah dengan utuh

    Pemahaman yang utuh tentang Allah membuat seseorang mampu untuk memperkenalkan Allah dengan benar.  Allah yang mengasihi, namun juga Allah yang tegas dan mendidik.  Allah yang membuat mukjizat namun juga Allah yang menjalani penderitaan hingga akhir. Oleh karena itu setiap umat perlu terus belajar dan makin mengenal Allah sehingga dapat memperkenalkan Kristus dengan pemahaman yang lurus, sesuai Firman Tuhan.

    • Berani membayar harga untuk menginjil

    Butuh pengobanan untuk memperkenalkan Kristus dengan cara yang utuh.  Lukas membayar harga penginjilan dengan menyusun buku sejarah dan ajaran Yesus, Injil Lukas.  Setiap orang percaya yang menginjil perlu keberanian untuk mengorbankan apa yang dimiliki untuk melaksanakan amanat Kristus, baik itu waktu, pemikiran dan bahkan kehidupan masa depannya.

    Tidak diceritakan bagaimana sikap Teofilus setelah menerima dua buku Lukas, Injil Lukas dan Kisah Para Rasul.  Tidak diceritakan apakah Teofilus bertobat dan masuk menjadi pengikut Jalan Tuhan.  Namun melalui Injil Lukas Teofilus mendengar kebenaran dengan utuh dan mengenal figur Yesus Juru Selamat. 

    Lukas menyadari bahwa Teofilus adalah orang yang dikasihi Allah sebagaimana arti Namanya (Theo= Allah, Philos= kasih), maka Lukas menyatakan Injil Kristus kepadanya.  Mari tetap mengabarkan Injil karena SETIAP MANUSIA adalah TEOFILUS, orang yang dikasihi Allah.  Namun kabarkan Injil dengan utuh sehingga nama Tuhan dikenal sesuai dengan Firman-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Patience Brings Goodness

    KESABARAN. Sahabat, ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana, kesabaran adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Ujian sejati dari kesabaran terjadi ketika hak-hak kita dilanggar;  ketika mobil lain memotong jalur kita di jalanan; ketika kita diperlakukan tidak adil; ketika rekan kerja kita mengejek iman kita, dan sebagainya.

    Ketidaksabaran tampak seperti kemarahan yang kudus. Alkitab menyatakan kesabaran sebagai salah satu dari buah Roh (Galatia  5:22) yang harus dihasilkan oleh semua orang percaya  (1 Tesalonika 5:14). Kesabaran merupakan bentuk perwujudan iman kita terhadap waktu, kemahakuasaan, dan kasih Allah.

    Kesabaran itu tidak bisa dibangun dalam semalam. Kuasa dan kebaikan Allah sangat penting dalam membangun kesabaran. Surat Kolose 1:11 menyatakan bahwa kita dikuatkan oleh-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar. Sedangkan surat Yakobus 1:3-4 menguatkan kita untuk tahu bahwa pencobaan adalah cara yang Dia gunakan untuk menyempurnakan kesabaran kita.

    Sahabat, di dalam Alkitab, kita melihat banyak contoh dari perjalanan hidup tokoh-tokoh Alkitab dengan Allah ditandai dengan kesabaran. Yakobus mengingatkan kita akan nabi-nabi yang merupakan teladan penderitaan dan kesabaran (Yakobus 5:10). Dia juga mengingatkan kita mengenai Ayub, yang ketekunannya dihargai dengan apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya (Yakobus 5:11).

    Abraham juga, menunggu dengan sabar dan memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya (Ibrani  6:15). Yesus adalah teladan kita dalam segala hal. Dia menunjukkan kesabaran  dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah (Ibrani 12:2).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Patience Brings Goodness (Kesabaran Mendatangkan Kebaikan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 16:5-16 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, seorang polisi mengalami peristiwa tidak menyenangkan ketika ia menghentikan seorang perempuan bermobil yang melakukan pelanggaran. Ia memberikan surat tilang, tetapi perempuan itu mengamuk, mulai mencakar dan memukul sambil melontarkan perkataan kasar. Hebatnya, polisi itu bergeming. Ia hanya berupaya menghindari pukulan itu tanpa membela diri. Kesabarannya itu mengundang banyak simpati. Akhirnya ia diberi penghargaan oleh Kapolda Metro Jaya.

    Daud pun pernah mendapatkan perlakuan serupa ketika ia dan para pengikutnya melarikan diri dari usaha kudeta Absalom. Di tengah jalan, Simei, yang termasuk salah seorang keluarga Saul, datang dan melempari rombongan Daud dengan batu serta mengucapkan kata-kata kutuk. Abisai, salah seorang pengikut Daud, bereaksi dan meminta izin untuk memenggal kepala Simei. Daud bereaksi sebaliknya. Alih-alih memberi izin, ia justru menegur Abisai dan membiarkan Simei terus mengutuk. Dan Daud menunjukkan kesabarannya dengan perkataan: “Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.” (Ayat 12). Daud yakin kesabaran mendatangkan kebaikan.

    Sahabat, memang tindak kebenaran yang kita lakukan tidak selalu membuahkan hal yang baik untuk kita. Kadang-kadang kita justru menerima perlakuan yang buruk. Namun, Tuhan bisa memakai situasi itu untuk menguji hati kita. Setiap perlakuan buruk sesungguhnya menguji kualitas hati kita dan menjadikan kita semakin dewasa secara rohani.  Menjadikan kita semakin sabar. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sabar adalah kesadaran bahwa kita percaya kepada Tuhan yang Mahakuasa dan yang Mahatahu akan segala sesuatu. (pg).