Category: Sejenak Merenung

  • A Unique and Different Call

    PANGGILAN YANG UNIK. Sahabat, pada Selasa, 28 November 2023, saya diajak oleh bapak Ev. Andreas Christanday untuk menghadiri acara Ibadah Penahbisan Stephanus Damaris Hall di Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu (STAKT) “Pesat” Salatiga. Mengapa gedung pertemuan tersebut diberi nama Stephanus Damaris? Karena bapak Damaris merupakan “PAHLAWAN DESA” dan Yayasan Pesat sesuai dengan namanya Pelayanan Desa Terpadu, fokus pelayanan mereka di PEDESAAN.

    Pada tahun 1967 Stephanus Damaris memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai asisten menteri dan memfokuskan hidupnya untuk memberitakan injil. Dia menerima panggilan yang unik. Walau  saat itu ia berada dalam kondisi yang cukup mapan, namun dengan kesadaran penuh ia berkomitmen menjadi penginjil dengan menjual segenap hartanya. Hati Ev. Damaris sangat mencintai Indonesia, utamanya yang ada di pedesaan atau daerah-daerah pelosok di Indonesia.

    Ketika Damaris semakin terkenal sebagai penginjil yang bisa berkotbah dan memiliki karunia nubuatan, hatinya tidak berubah terhadap kecintaannya dengan orang-orang yang ada di pelosok-pelosok daerah.

    Ia begitu peduli dan memerhatikan hamba-hamba Tuhan yang tinggal dan melayani di sana. Kerap kali ia membawa pakaian, memberikan motor, perahu, sejumlah uang atau apa pun yang diperlukan  hamba-hamba Tuhan yang kurang mampu guna kebutuhan hidup atau kebutuhan pelayanan mereka..

    Setiap ia berkunjung dan memberitakan firman Tuhan di suatu gereja yang ada di desa, ia hanya membawa sehelai atau dua helai pakaian saja, karena isi tasnya diutamakan untuk membawa pakaian atau barang-barang yang dibutuhkan jemaat dan hamba-hamba Tuhan di desa tersebut.

    Uang persembahan yang ia terima setelah selesai berkotbah pun ia berikan kembali kepada istri hamba Tuhan yang ada di desa itu.Semua tindakan dan ajaran Evangelis Damaris banyak menginspirasi dan memberi dampak positif bagi dunia pelayanan gereja, kususnya untuk menyadarkan gereja-gereja di kota untuk peduli pada gereja-gereja di desa. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “A Unique and Different Call (Panggilan yang Unik dan Berbeda)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 19:19-21 dan Lukas 5:1-11. Sahabat,  ada berbagai macam cara Tuhan memanggil kita, baik untuk percaya atau untuk melayani-Nya (pelayanan apapun; tentu tidak harus menjadi pendeta). Dalam bacaan kita pada hari ini, Elia melemparkan jubahnya kepada Elisa supaya Elisa mengikut Dia. Elisa izin ke orang tuanya, dan mengikuti Elia (1 Raja-raja 19:21).

    Panggilan berbeda diterima oleh Yohanes, Yakobus dan Petrus. Melihat kejadian yang ajaib, Petrus merasa tidak layak hidup dekat dengan rabi (guru) Yesus yang mengadakan mukjizat. Namun justru ia dipanggil untuk mengiring perjalanan Yesus (Lukas 5:10-11). Sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

    Sahabat, bagaimana Tuhan memanggilmu untuk percaya? Bagaimana Sahabat menerima panggilan untuk melayani? Setiap kita mempunyai panggilan yang unik dan berbeda satu dengan yang lain. Namun ada hal yang perlu kita miliki: Menanggapi panggilan itu dengan segenap hati, dan menjalani panggilan itu dengan penuh ketaatan. 

    Taatkah kita menjalaninya? Taatkah kita mengikuti-Nya? Mari, hari ini Tuhan mengingatkan panggilan-Nya kepada kita, karena itu mari kita menjalaninya dengan penuh ketaatan dan ketekunan. 

    Sahabat, perjalanan yang tidak mudah mungkin kita alami. Jalan berliku harus kita jalani. Namun ingatlah: Yesus sudah menjadi yang sulung dari apa yang kita alami dan kita hadapi sebagai orang yang mengikut Dia. Mari kita berjalan dengan langkah tegap. Dia yang kita percayai selalu di depan kita dan menyertai kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarakan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Ceritakan secara singkat bagaimana Sahabat dapat mengenal Yesus dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Panggilan Tuhan untuk melayani adalah kasih karunia yang harus disambut dengan spontan, penuh sukacita dan rasa syukur. (pg).

  • MEREFLEKSI MASA LALU

    Saudaraku,  Alkitab mencatat siapa Saulus orang Tarsus (Kisah Para Rasul 8 dan 9).  Surat Filipi menuliskan refleksi Rasul Paulus tentang fokus dan tujuan hidupnya setelah ia mengenal Sang Kristus.  Benarkah ia sengaja membuang masa lalunya demi Kristus? Mari membaca Filipi 3:1-16

    Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari bacaan ini, yaitu:

    1. Perubahan fokus kehidupan

    Ayat 7 menjelaskan fokus hidup Paulus bukanlah Taurat lagi namun Kristus.  Perubahan ini tentunya berasal dari krisis kehidupan yang dialami Paulus dalam perjumpaan pertamanya dengan Kristus (Kisah Para Rasul 8: 3-6).  Dari masa krisis itulah Paulus menemukan bahwa Kristus lebih berharga dari apa yang dimilikinya saat itu.  Saking berharganya Kristus, ia menganggap masa lalunya bagaikan sampah (ayat 8) yang harus dibuang demi memperoleh Kristus.  Paulus sengaja mencatat pencapaiannya di masa lalu yang dulu menjadi kebanggaannya (Filipi 3:5-6).  Namun saat fokus hidup berubah, maka Paulus berani melepaskan segala pencapaian itu untuk mengejar Kristus, sekuat keinginannya mengejar Taurat di masa lalu.  

    1. Perubahan tujuan kehidupan

    Karena fokus berubah, maka tujuan hidup Paulus juga mengalami pergeseran.  Ia mengatakan bahwa tujuan hidupnya adalah mengenal Kristus agar ia menjadi serupa dengan-Nya sehingga pada akhirnya ia mengalami kebangkitan dari orang mati (ayat 10-11).  Bahkan dengan jelas Paulus mengatakan bahwa ia berlari (berusaha keras) untuk menuju panggilan surgawi dalam Kristus.  Paulus tidak santai untuk meraih panggilan surgawi, ia gigih untuk meraihnya,

    Keseriusan Paulus terhadap iman percayanya dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya.  Sebuah pepatah mengatakan: “Pengalaman adalah guru yang terbaik.”  Karena pengalaman didapat dari masa lalu, maka tidak salah kalau dikatakan bahwa masa lalu adalah guru yang terbaik. Pribadi Paulus dibentuk oleh masa lalunya, yang tidak lain adalah seorang Farisi yang oleh karenanya Paulus punya keseriusan dan kegigihan dalam mengejar dan membangun kepada Kristus.  

    Apa yang dikatakan masa lalu adalah sampah bukan berarti Paulus ingin sama sekali menghilangkan masa lalunya.  Paulus justru memakai energi masa lalunya untuk mengejar Kristus yang menjadi fokus dan tujuan hidupnya yang baru.  Ia melihat Kristus jauh lebih berharga dari apa yang dikejarnya dulu, maka ia mengarahkan mata rohaninya kepada Kristus secara penuh untuk mengejar-Nya dengan gigih dan semangat.

    Masa lalu bisa jadi pahit dan menyedihkan, namun pada realitasnya masa lalu tetaplah sejarah yang tidak mungkin bisa terhapus dari hidup seorang manusia.  Selalu masih ada sisa guratannya, masih ada samar jejaknya.  Daripada berusaha membuang, mari belajar untuk merefleksi, seperti Paulus.  Manusia ada sekarang karena masa lalu.    Daripada meratapi atau berusaha menutupi masa lalu, mari pakai pembelajaran masa lalu untuk menuju kepada fokus dan tujuan hidup yang lebih baik, makin serius dan dewasa dalam iman kepada Kristus.  

    Mari syukuri masa lalu karena jika Tuhan tidak bekerja dalam masa lalu, maka orang tidak akan menemukan-Nya di masa kini dan masa depan.  Tuhan masih dan akan terus bekerja menuliskan sejarah manusia.  Mari berjalan bersama-Nya dengan kepala yang tegak karena Dia. Selamat memasuki tahun 2024 dan selamat bertumbuh lebih dewasa. (Ag)

  • Keep Believe and Hope

    HARAPAN. Sahabat, pada Minggu 24 Desember 2023 setelah saya dan istri mengikuti kebaktian pagi, saya menyempatkan berbincang-bincang dengan beberapa teman. Saya ingin tahu apa yang menjadi harapan mereka di tahun baru 2024. Sebagian besar dari mereka menjawab agar di tahun baru 2024 Pandemi Covid-19 tidak lagi melanda dunia, terutama Indonesia. Kedua terbanyak yaitu agar Pemilu di Indonesia pada 14 Februari 2024 berjalan lancar, aman, dan jujur, serta menghasilkan pemimpin yang mengedepankan NKRI dan kesejahteraan masyarakatnya.

    Ada cukup banyak orang memahami harapan sebagai impian belaka, sama seperti ucapan “Saya berharap sesuatu terjadi.” Akan tetapi itu bukan yang dimaksud Alkitab mengenai harapan. Definisi harapan yang Alkitabiah adalah “pengharapan yang pasti.” Harapan adalah sebuah bagian dari kehidupan orang benar yang teramat penting (Amsal 23:18). Tanpa harapan, kehidupan kehilangan maknanya (Ratapan 3:18; Ayub 7:6) dan di dalam kematian pun tidak ada harapan (Yesaya 38:18; Ayub 17:15). Orang benar menaruh kepercayaan dan harapannya pada Allah sehingga ia akan dibantu (Mazmur 28:7), dan mereka tidak akan bingung, malu, atau kecewa (Yesaya 49:23). Orang benar, yang mempunyai harapan yang memercayai Allah, mempunyai keyakinan bahwa Allah melindungi dan membantu (Yeremia 29:11) dan mereka bebas dari ketakutan dan kecemasan (Mazmur 46:2-3).

    Sahabat, ide harapan dalam Perjanjian Baru adalah kesadaran bahwa Kristus telah menggenapi janji Perjanjian Lama (Matius 12:21; 1 Petrus 1:3). Harapan kristiani berakar dalam iman dalam keselamatan illahi pada Kristus (Galatia 5:5). Harapan orang percaya diadakan oleh keberadaan Roh Kudus yang dijanjikan (Roma 8:24-25). Ialah harapan masa depan dimana orang mati dibangkitkan (Kisah Para Rasul 23:6), janji yang diberikan kepada Israel (Kisah Para Rasul 26:6-7), penebusan tubuh jasmani dan semua ciptaan (Roma 8:23-25), kemuliaan yang kekal (Kolose 1:27), kehidupan kekal dan warisan para orang saleh (Titus 3:5-7), kedatangan kembali Kristus (Titus 2:11-14), perubahan/transformasi menyerupai Kristus (1 Yohanes 3:2-3), keselamatan dari Allah (1 Timotius 4:10) atau sederhana saja, Kristus Sendiri (1 Timotius 1:1).

    Dalam rangka menyambut  tahun baru 2024, saya mengajak Sahabat untuk merenung surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma dengan topik: “Keep Believe and Hope (Tatap Percaya dan Berharap)”. Bacaan Sabda diambil dari Roma 4:18-22 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat,  ketika menjalani hidup ini  terkadang tidak berjalan dengan baik ataupun tidak sesuai dengan yang kita harapkan, ada kalanya mengalami masalah, ataupun tantangan.  Namun tidak perlu takut karena kita memiliki Yesus sebagai sumber pertolongan dan pengharapan. kita perlu percaya serta tetap berharap pada Tuhan saja karena kepercayaan di dalam Dia bukanlah sesuatu hal yang sia-sia, Tuhan akan memperhitungkan semua kepercayaan kita kepada-Nya. 

    Firman Tuhan mengisahkan tentang Abraham yang memiliki kepercayaan serta pengharapan penuh kepada Tuhan, dan menantikan janji Tuhan, sekalipun sudah tidak ada dasar lagi untuk berharap,  namun Abraham terus percaya Tuhan pasti menepati janji-Nya dan memang pada akhirnya menggenapi perjanjian-Nya.

    Begitu juga saat ini,   walaupun sepertinya sudah tidak ada dasar lagi untuk berharap namun kita harus percaya bahwa Tuhan sanggup untuk melakukan perkara yang ajaib. Jangan pernah melepaskan iman percaya kita, sebab Tuhan bukanlah manusia yang seringkali mengingkari janji. Jangan pernah bimbang, Firman Tuhan  mengatakan mereka yang bimbang tidak akan memperoleh apa pun. Juga dikatakan berbahagialah kita yang tidak melihat namun percaya. sekalipun saat ini kita belum melihat pertolongan Tuhan, tidak perlu khawatir, tetaplah percaya pada waktunya Tuhan pasti akan menolong kita. Di saat kita terus percaya pada Tuhan, maka kita akan melihat kuasa-Nya yang dinyatakan, sebab percaya adalah salah satu kunci untuk melihat dan menikmati mukjizat Tuhan,

    Sahabat, selain itu, kita juga harus tetap  kuat di dalam pengharapan, sebab hal itu akan  menjadikan kita kuat dalam menjalani hari-hari ke depan di tahun 2024. Jangan pernah hilang pengharapan, tidak peduli seberapa lamanya kita berharap pada Tuhan, tetaplah bertekun pada-Nya sampai pengharapan kita mewujud. 

    Jadikanlah pengharapan itu untuk kita meraih janji-janji-Nya. Untuk itu yang dibutuhkan: Tetap percaya kepada Tuhan Yesus saja. Mari mulai 1 Januari 2024 kita senantiasa tetap percaya dan berharap pada Tuhan selama-lamanya. Nantikanlah Dia berkarya dalam hidup kita. Selamat memasuki tahun baru 2024. Tetaplah percaya dan berharap. (pg).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang menjadi harapan Sababat di tahun 2024 bagi dirimu, keluargamu, dan gerejamu?

    Terima kasih Sahabat telah bersedia menjadi pembaca setia “Sejenak Merenung”. Bagikanlah setiap hari “Sejenak Merenung” kepada handai tolan dan sanak saudara. Pesan di awal tahun 2024: Tetaplah percaya, pada waktunya Tuhan pasti akan menolong kita. (pg).

  • HADIAH BAGI PASANGAN HIDUP

    Natal memang peristiwa tentang kelahiran Tuhan Yesus, tetapi tidak bisa dipungkiri, bahwa natal juga sering dilihat sebagai peristiwa yang digunakan pasangan suami istri untuk saling memberikan hadiah. Tentu saja hadiah tersebut umumnya diberikan sang suami kepada sang istri. Meskipun sebaliknya, ada juga seorang istri yang memberikan hadiah kepada sang suami. 

    Hadiah pada saat natal ternyata juga bisa diberikan dengan nilai yang spektakuler. Tengok saja bagaimana suami aktris Elizabeth Taylor, Richard Burton pernah memberikan kado natal berupa cincin berlian serta Ruby 8,24 Van Cleef & Arpels dengan total US$ 4,2 juta atau Rp. 59 miliar kepada sang istri. 

    Ada juga artis Beyonce memanjakan pasangannya, Jay-Z dengan arloji super mahal pada Desember 2012, berupa arloji Hublot “Bing Bang” yang saat itu dibanderol seharga US$ 5 juta atau Rp 70,2 miliar. Masih banyak lagi bagaimana para pasangan memberikan hadiah natal dengan nilai yang fantastis.

    Bagaimana dengan kita semua? Apakah Natal harus ditandai dengan pemberian materi yang menakjubkan kepada pasangan kita? Pengamsal mengingatkan:Sekalipun ada emas dan permata banyak, tetapi yang paling berharga ialah bibir yang berpengetahuan.” (Amsal 20:15). 

    Tuhan dengan lembut mengingatkan kita bahwa batu Ruby dan berlian hanyalah batu, namun pengetahuan akan Tuhan adalah hal yang paling berharga di dalam hidup kita. Kita harus belajar bagaimana memahami  Natal dengan lebih fokus pada Firman Tuhan dan hubungan baik dengan pasangan dengan mengurangi dan memikirkan hal-hal yang sifatnya duniawi. Memang tidak selalu mudah untuk menghindari konsumerisme yang mendorong kita untuk menginginkan lebih banyak hal, padahal keinginan tersebut dapat menimbulkan konflik dalam sebuah pernikahan. Maka inilah yang harus kita lakukan, dan yang bisa membantu kita mengurangi gangguan terhadap dunia material.

    Tuhan memperingatkan kita supaya kita menjauhi materialisme. Melalui ayat ayat alkitab berikut, peringatan itu sangatlah jelas:

    • 1 Yohanes 2:16 mengatakan: Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia”.  
    • Matius 6:33 berbunyi: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. 
    • Galatia 5:16-17 berbunyi:  Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” 
    • Ibrani 13:5  juga mengingatkan:  Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu …” 

    Jelas sekali ayat-ayat di atas mengingatkan kita untuk tidak memikirkan dan memusatkan hidup kita kepada materialisme, tetapi harus berpusat kepada Tuhan. Dalam rangka merayakan Natal, agar kita terhindar dari hal-hal yang sifatnya duniawi dan terus berpusat pada firman Tuhan, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri.

    1. Hindari Berbelanja Terus Menerus

    Kita harus mengurangi belanja dan membaca dengan teliti semua yang akan kita beli. Setelah menetapkan anggaran Natal bersama pasangan, kita harus membuat daftar belanja dan patuhi itu. Selanjutnya kita harus berhenti mempelajari setiap tawaran yang muncul di ponsel kita atau di mana pun. Kita cenderung ingin membeli lebih banyak daripada yang ada di daftar kita karena kita merasa bisa menemukan sesuatu yang lebih baik. Namun menemukan hadiah yang “sempurna” tidak sepenting hubungan kita dengan pasangan atau kesehatan rohani kita.

    1. Prioritaskan Pengalaman, Bukan Materi

    Merencanakan kegiatan yang murah dapat membuat kita tetap dalam semangat Natal dan jauh dari keinginan daging dan mata. Kita bisa mengajak pasangan kita makan bersama di warung sambil berdiskusi tentang Natal, kita bisa menghabiskan waktu untuk nonton bersama pasangan film-film keluarga yang menyegarkan, atau berkunjung ke panti asuhan, melayani orang-orang yang membutuhkan.

    1. Ciptakan Tradisi Sederhana

    Ada banyak hadiah yang diberikan kepada para pasangan, yang diberikan selama bertahun-tahun dan hadiah itu kemudian sering dilupakan. Namun ada hadiah tertentu yang memiliki makna mendalam yang bertahan lama, meskipun tidak mahal atau tidak dipungut biaya, dan itulah yang harus kita usahakan. Misalnya, setiap tahun pasangan bisa memberi hiasan pohon Natal sebagai lambang cintanya. Memberikan buku tentang bagaimana membangun hubungan suami istri, atau tentang mengurus anak-anak, dan lain sebagainya.  Semua tradisi sederhana itu harus kita ciptakan agar dapat membantu kita fokus pada permata hubungan kita dengan pasangan dan Tuhan, bukan pada permata dunia.

    Mungkin pasangan kita belum memiliki batu Ruby, atau pakaian yang gemerlap, tetapi itu bukan kebutuhan mendasar. Maka  kita perlu dengan lembut memberitahu pasangan kita bahwa ada yang lebih penting dan lebih berharga daripada batu permata dan pakaian atau tas yang mahal. Anugerah firman Tuhan melalui Amsal 20:15 memberi kita konsep merayakan Natal yang luar biasa. Bukan berfokus pada materi tetapi fokus pada pengetahuan akan firman Tuhan,  yang merupakan anugerah yang jauh lebih berharga daripada batu permata dan barang berharga apa pun. Selamat Natal, Saudaraku. Bersukacitalah. (SHJ).

  • Knowing God and Serving the True God

    PENYEMBAHAN. Sahabat, kata Yunani di Perjanjian Baru yang sering diterjemahkan sebagai “penyembahan” (proskuneo) memiliki makna “tersungkur di hadapan” atau “bersujud di hadapan.” Penyembahan merupakan sebuah sikap roh. Karena penyembahan merupakan kegiatan pribadi yang terjadi dalam diri seseorang, maka orang percaya menyembah Allah setiap saat, tujuh hari dalam seminggu.

    Ketika orang-orang percaya secara resmi berkumpul bersama-sama dalam penyembahan, titik fokusnya harus tetap pada penyembahan pribadi kepada Allah. Bahkan sebagai bagian dari jemaat, setiap orang yang mengambil bagian harus menyadari bahwa ia sedang menyembah Allah secara pribadi.

    Supaya bisa benar-benar menyembah Allah, kita harus memahami siapa Dia dan apa yang telah Dia lakukan. Satu-satunya tempat di mana Dia mengungkapkan diri-Nya sepenuhnya hanyalah di Alkitab. Penyembahan adalah ekspresi pujian dari hati yang terdalam kepada Allah, yang kita pahami melalui Firman-Nya. Jika kita tidak memiliki kebenaran yang dinyatakan di Alkitab, kita tidak mungkin mengenal Allah. Kita tidak mungkin bisa benar-benar menyembah-Nya.

    Karena perbuatan yang tampak (lahiriah) bukanlah hal utama dalam penyembahan di kekristenan, tidak ada aturan mengenai apakah kita harus melakukannya dengan duduk, berdiri, tersungkur, diam, atau menyanyikan pujian dengan keras dalam penyembahan bersama. Hal-hal ini harus diputuskan bedasarkan kesepakatan jemaat. Yang paling penting justru apakah kita sudah menyembah Allah dalam roh (di dalam hati kita) dan kebenaran (di dalam pikiran kita) atau belum.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Knowing and Serving the True God (Mengenal dan Melayani Allah yang Sejati)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 18:20-46 dengan penekanan pada ayat  26. Sahabat, ratusan nabi Baal dan Asyera berdoa dengan sepenuh hati di gunung Karmel. Mereka menyembelih lembu dan mengadakan berbagai ritual dengan harapan sang Baal dan Asyera, dewa dan dewi kesuburan Kanaan, akan menjawab mereka dengan mengirimkan api dari langit. 

    Mereka bahkan menoreh-noreh badan hingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Begitulah ritual peribadatan mereka. Namun, segala upaya penyembahan mereka sia-sia belaka. Baal bukanlah Allah yang sejati. Ia tidak dapat berbuat apa-apa, sekalipun para pemujanya mengabdi kepadanya dengan sungguh-sungguh. 

    Nabi Elia lalu menunjukkan kepada mereka, serta kepada seluruh Israel, bahwa hanya ADA SATU ALLAH  yang benar. KENALILAH DIA. Dialah yang pantas DISEMBAH  dan DIPUJA.

    Sahabat, hingga saat ini, ada cukup banyak orang melakukan berbagai ritual peribadatan kepada sesuatu yang bukan Allah, dengan bersungguh-sungguh. Mungkin mereka melakukannya karena mengikuti warisan kepercayaan nenek moyang. Sebagian lain melakukannya karena ketidaktahuan, atau karena menjadi korban penyesatan. 

    Yang jelas, itulah yang mereka ketahui dan yakini sebagai kebenaran. Ketika tidak ada PENGENALAN terhadap ALLAH yang SEJATI,  maka akan ada pemujaan terhadap berbagai objek lain sebagai pengganti-Nya. Kita tahu, semua itu sia-sia belaka.

    Sahabat, sebagai orang-orang yang telah mengenal Allah, kita dipanggil untuk MEMBERITAKAN  nama-Nya. MEWARTAKAN  kasih-Nya melalui KATA  dan TINDAKAN, agar mereka juga dapat MENGENAL ALLAH yang SEJATI, dan beribadah kepada-Nya setulus hati. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18?

    Mari sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mengenal dan melayani Allah yang sejati, itulah yang menjadikan hidup dan pelayanan kita berarti. (pg).

    .

  • Sowing within Limitation

    KEMISKINAN. Sahabat, mengutip dari Kemdikbud, kemiskinan juga merupakan masalah global. Kemiskinan adalah hambatan sosial yang lebih luas. Ketika kemiskinan mulai meningkat, kemiskinan menjadi masalah sosial karena kemiskinan akan mendorong individu atau kelompok untuk melakukan kejahatan. Kemiskinan juga menjadi masalah sosial ketika stratifikasi (= penjenjangan)  sosial menciptakan tingkatan dan batasan dalam masyarakat. Akibatnya, terjadi penyimpangan dan batasan dalam interaksi dan komunikasi antara orang-orang di tingkat atas dan bawah.

    Sesungguhnya, kemiskinan merupakan situasi di mana individu atau suatu rumah tangga mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini tidak serta merta akibat dari malas bekerja, terdapat faktor sosial ekonomi yang melatarbelakangi situasi ini.

    Menurut Soerjono Soekanto, ahli sosiologi hukum, kemiskinan adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental, maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.

    Sementara Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), mengartikan kemiskinan sebagai situasi serba kekurangan karena keadaan yang tidak dapat dihindari oleh seseorang dengan kekuatan yang dimilikinya.

    Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kemiskinan adalah kondisi di mana seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya akibat kemampuan yang dimiliki ataupun terdesak keadaan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Sowing within Limitation (Menabur dalam Keterbatasan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 17:1-24 dengan penekanan pada ayat 24. Sahabat, sebagai  janda, perempuan itu harus menjalani kehidupan yang berat menjadi tulang punggung keluarga, apalagi negerinya saat itu ditimpa kemarau/kekeringan panjang, suatu keadaan yang secara manusia tidak ada harapan. 

    Di tengah keputusasaan, datanglah orang asing (Elia) yang justru meminta pertolongan kepadanya. Dalam keterbatasan perempuan itu masih memberi respons positif. Inilah percakapan mereka, ”Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.”  Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.” Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.’ ” (Ayat 10-12). Jadi perempuan itu keadaannya sangat miskin, kalau menurut istilah zaman now, MISKIN EKSTREM.

    Sahabat, selain meminta minum, Elia juga meminta sepotong roti yang merupakan persediaan terakhir perempuan itu. Perempuan itu pun mulai bimbang, terlihat dari jawaban yang ia berikan. Maksud hati ingin menolong, tetapi ita tidak tahu harus berbuat apa karena dalam kondisi yang kritis.Sudah tidak punya apa-apa lagi. 

    Namun janda Sarfat menunjukkan kualitas pribadi sebagai orang yang murah hati walau dalam keterbatasan. Setelah mendengar perkataan firman yang disampaikan Elia, tumbuh benih iman dalam diri janda tersebut, akhirnya ia melakukan apa yang diperintahkan yaitu memberikan roti kepada abdi Allah itu, sebagai pilihan berisiko namun mengandung harapan. Itulah kunci untuk mengalami mukjizat Tuhan. 

    Puji syukur, akhirnya, perempuan itu dan Elia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia. (Ayat 15-16).

    Janda Sarfat berani menabur dalam keterbatasan. Menabur kasih dalam keadaan kekurangan ternyata tidak sia-sia. Perempuan tersebut akhirnya percaya dan beriman kepada Allah bangsa Israel, bukan lagi kepada Baal. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 24?

    Simpan sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketaatan dan ketidakkhawatiran adalah kunci mengubah situasi yang buruk menjadi penuh berkat! (pg)

  • God is First, I am Second

    SAKIT HATI.  Kata penyanyi ndangdut Meggy Z: “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”. Sahabat, manusia memiliki emosi yang dinamis, tergantung suasana dan kondisi hatinya. Seseorang bisa terlihat memiliki sifat dan sikap berkebalikan jika berada pada dua keadaan emosi yang berbeda. Saat emosi stabil, seseorang bisa tenang dan mudah tersenyum. Demikian pula sebaliknya. Ketika emosi memuncak, seseorang bisa lepas kendali dan melakukan hal-hal di luar kesadarannya. 

    Hal ini pula yang terjadi pada mereka yang mengalami sakit hati. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sakit hati dapat dipahami sebagai sebuah keadaan di mana seseorang merasa tidak senang karena dilukai hatinya (dihina, dikhianati, ditipu, dan sebagainya). Secara psikologis, sakit hati merupakan tumpukan emosi yang terakumulasi dan melibatkan perubahan perilaku dan keadaan fisiologis. Orang yang tengah dikuasai oleh emosi negatif akan terpengaruh secara fisiologis dan tindakan.

    Secara fisiologis, tubuh akan merespons dengan meningkatnya tekanan darah, keluarnya air mata, dan degup jantung berdetak dengan kencang. Sementara, secara perilaku, emosi negatif dapat mewujud menjadi tindakan-tindakan seperti berteriak, mengumpat, dan membanting. Efek lain yang dapat timbul adalah dalam bentuk pikiran (kognitif) buruk yang mengarah baik ke dalam, maupun ke luar diri. Misalnya, berpikiran buruk tentang orang lain dan diri sendiri, merasa tidak berharga, stress, bahkan depresi.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “God is First, I am Second (Tuhan yang Pertama, Saya yang Kedua)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 16:1-34 dengan penekanan pada ayat 33. Sahabat dalam bacaan kita pada hari ini, kalimat  MENIMBULKAN SAKIT HATI TUHAN  beberapa kali ditulis (Ayat 2, 7, 13, 26, 33). Sakit hati yang disebabkan karena raja dan bangsa Israel berpaling dari Allah kepada Baal dan dewa-dewa. Mereka tidak hanya mendirikan Baal tetapi juga menyembah kepadanya.

    Sakit hati suatu sikap Allah yang menunjukkan bahwa Allah adalah pribadi yang hidup. Pribadi yang cemburu bila ada allah lain dalam kehidupan umat-Nya. Sakit hati Tuhan selalu membawa penghukuman kepada mereka. Tetapi mereka tetap melakukan hal yang sama berulang-ulang. Suatu sikap bebal yang dimiliki oleh bangsa Israel yang mendatangkan petaka yang mengerikan.

    Coba kita amati, kematian tragis Ela dan Zimri bukan hanya karena spiral kekerasan, tetapi semasa hidup kedua orang ini tidak melakukan yang benar di mata Tuhan. Kelakuan Ela dan Zimri itu menimbulkan sakit hati Tuhan (Ayat 7 dan 19). Yang juga menarik untuk disimak adalah pengganti Zimri pun tidak lebih baik. Omri  melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan ia melakukan kejahatan lebih dari pada segala orang yang  mendahuluinya ( Ayat 25). Ahab, anak Omri, bahkan melakukan tindakan yang membangun mazbah untuk Baal dan membuat patung Asyera, menimbulkan sakit hati Tuhan.

    Tuhan tidak ingin diduakan, Tuhan ingin menjadi no. 1 di dalam kehidupan kita sebagai umat-Nya. Tuhan yang pertama, saya yang kedua. Pada saat kita menyukai sesuatu lebih daripada Tuhan, artinya kita sudah menomorduakan Tuhan. Hal tersebut bisa saja pekerjaan, hobi, keluarga, pelayanan dan lain sebagainya.

    Kita hidup dalam zaman kasih karunia. Zaman di mana Tuhan tidak langsung menghukum pada saat kita bersalah. Selalu ada pengampunan bila kita mengakui dosa dan minta ampun pada-Nya. Tetapi jangan jadi orang bebal dan mempermainkan kebaikan dan kesabaran Tuhan.

    Tuhan ingin menjadi segalanya. Bahkan menjadi pusat dalam kehidupan kita. Kita harus koreksi dan introspeksi kehidupan kita. Jangan ada allah lain selain Tuhan Yesus dalam kehidupan kita. Kita harus peluk erat-erat dan jadikan moto hidup kita: “Tuhan yang pertama, saya yang kedua”.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Sahabat, siapa yang menjadi nomor satu dalam kehidupanmu?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jadikanlah Tuhan NOMOR SATU dalam hidup kita, semua yang kita lakukan hendaklah berpusat kepada Tuhan. (pg).

  • JANGAN TAKUT!

    Saudaraku, ketakutan merupakan respons yang wajar dari seorang saat  ia kehilangan kenyamanan.  Dalam rangkaian Natal, malaikat berkali-kali mengucapkan kata jangan takut.  Mari merenungkan salah satu pesan jangan takut dalam Lukas 2:8-20.

    Pesan jangan takut menjadi pesan awal sebelum malaikat menyampaikan berita kelahiran Yesus.  Apa yang terjadi ?  Gembala sudah banyak mendengar kisah tentang malaikat dari orangtua dan guru mereka di sekolah karena mereka adalah lelaki Yahudi yang memiliki bekal pendidikan agama yang mantap.  Tetapi malam itu mereka kaget sekali melihat langit malam bercahaya dengan kedatangan sesosok malaikat, makhluk spiritual yang pertama kali mereka lihat.  Wajarlah kalau rasa takut menguasai mereka.  Rasa takut itu bisa saja membuat mereka impulsif dan tidak mampu mencerna pesan dengan baik.  Itulah sebabnya sapaan malaikat yang pertama kepada para gembala adalah jangan takut!  

    Kalimat pendek : Jangan takut!  memiliki makna yang dalam, yaitu:

    1. Himbauan untuk tenang

    Ketenangan ini dibutuhkan untuk bisa mencerna setiap masalah yang dihadapi sehingga bisa mencari penyelesaian dengan pikiran yang jernih.  Rasul Petrus mengatakan dalam 1 Petrus 4:7, ”Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa.”  Jiwa yang tenang akan membuat manusia dapat menikmati anugerah dan pertolongan Tuhan..

    1. Jaminan kebaikan dibalik pesan kejutan.

    Ketika manusia memercayai hal yang baik dibalik segala pesan yang akan diterima, maka ia akan merasakan ketenangan.  Oleh karena itu malaikat Tuhan meminta para gembala untuk memercayai mereka bahwa pesan yang akan didengar adalah pesan yang baik.

    Jangan takut merupakan pesan untuk percaya dan tinggal tenang, dua hal yang harus dimiliki gembala untuk mendapatkan sukacita dari pesan yang akan diterimanya.  Karena para gembala itu mematuhinya, mereka menerima pesan itu dengan baik, mendapatkan pesannya dengan akurat dan bahkan membuktikan pesan itu benar-benar terwujud.  Para gembala itu MENDAPATKAN SUKACITA BESAR karena mendapatkan ketenangan itu.

    Anugerah Allah akan dapat diterima bila ada ketenangan dalam hati, bebas dari cengkeraman ketakutan.  Marilah belajar memercayai pekerjaan Tuhan sehingga pesan anugerah dapat dinikmati dan mendatangkan sukacita di hati.  Selamat bertumbuh dewasa. Selamat natal. Bersukacitlah! (Ag) 

  • HERODES YANG PENASARAN

    Saudaraku, ada dua orang yang penasaran dengan kehadiran Yesus namun mereka tidak memiliki keinginan untuk mengikut-Nya.  Kedua orang itu bernama Herodes.  Mari membaca dan merenungkan Lukas 9:7-9.

    Herodes adalah nama keluarga yang berkuasa di daerah Yudea.  Ada dua Herodes yang menaruh rasa penasaran kepada Yesus, yaitu:

    1. Herodes Agung

    Dialah yang memerintahkan pembunuhan anak-anak di Betlehem (Matius 1 : 16-17) .  Ia penasaran dengan raja yang baru lahir untuk membunuhnya.

    1. Herodes Antipas

    Herodes Antipas inilah yang dikisahkan dalam Lukas 9.  Ia adalah penguasa yang sudah membunuh Yohanes Pembaptis.  

    Ada rekam jejak yang mirip antara ayah anak itu yaitu ingin melihat Yesus.  Herodes Antipas penasaran dengan Yesus karena mendengar isu-isu tentang diri Yesus yang saat itu sudah melakukan banyak mukjizat dan menarik perhatian banyak orang.  Herodes ingin bertemu dengan Yesus.

    Penguasa Yehuda yang tertarik dengan Yesus adalah Herodes Antipas.  Apa yang menarik Herodes untuk mencari Yesus?  Herodes ingin membuktikan berbagai isu tentang Yesus:  Isu bahwa Yesus adalah Elia, Yesus adalah nabi dan Yesus adalah Yohanes Pembaptis.  Bukti.  Ya, Herodes mencari bukti dari setiap fenomena yang terjadi. Ia ingin Yesus melakukan mukjizat di depannya (Lukas 23:8).   

    Herodes bukan orang bodoh yang gampang termakan isu.  Namun menariknya saat ia bertemu Yesus di pengadilan, Herodes harus kecewa karena Yesus tidak seperti yang ia bayangkan.  Yesus hanya diam tanpa menjawab semua pertanyaan Herodes.  Herodes yang kecewa pada akhirnya mengejek dan mengolok Yesus (Lukas 23:11).  Yesus ternyata tidak sehebat isu yang dia dengar, Yesus bukan siapa-siapa.  Herodes kecewa berat.

    Salah satu alasan orang tertarik dan mengikut Yesus adalah keinginan untuk mendapatkan jawaban dari masalah yang ia hadapi.  Ia sangat menginginkan Yesus menjawab seperti yang dia inginkan, apalagi ia mendengar bahwa Yesus dapat menjawab setiap permasalahan.  Namun dia akan sungguh kecewa karena ternyata seringkali Yesus bahkan tidak menjawab setiap masalah dengan cara yang diinginkannya dan ini bisa menjadi titik kritis imannya.  

    Bila ia mampu untuk memperbaiki kembali fokus imannya, maka ia akan belajar bahwa yang terpenting adalah mengikuti kemauan Kristus dan bukan keinginannya sendiri.  Namun bila ia gagal fokus, ia akan menjadi seperti Herodes yang mengolok-olok Yesus gegara tidak mendapatkan jawaban dari apa yang dia inginkan.  Oleh karena itu perlulah setiap pengikut Kristus mengevaluasi diri setiap saat dan selalu bertanya: Masihkah Yesus yang menjadi fokus hidup saya? 

    Apakah Yesus adalah jawaban dalam kehidupan?  Ya, itu pasti.  Namun setiap manusia diminta untuk tunduk pada kehendak-Nya dan tidak memaksa-Nya melakukan yg diinginkan manusia.   Mari selalu waspada dengan target kita sendiri, bahkan saat semua seakan dibungkus dengan perkara rohani.  

    Sebuah quote dari CH Spurgeon mengatakan:  Jika anda lebih berbahagia dengan pemberian Tuhan dibandingkan dengan Tuhan sendiri, sebenarnya anda sedang menciptakan tuhan selain Dia.  Mari kenali Yesus sebagaimana yang Yesus inginkan dan bukan seperti yang kita inginkan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag) 

  • Mestinya di Penginapan?

    Kimham, adalah anak dari Barzilai, yang melayani Daud saat mengungsi terhadap Absalom.  Daud ingin membalas budi ke Barzilai

    2 Samuel 19:37 (TB)  Biarkanlah hambamu ini pulang, sehingga aku dapat mati di kotaku sendiri, dekat kubur ayahku dan ibuku. Tetapi inilah hambamu Kimham, ia boleh ikut dengan tuanku raja; perbuatlah kepadanya apa yang tuanku pandang baik.” 

    2 Samuel 19:38 (TB)  Lalu berbicaralah raja: “Baiklah Kimham ikut dengan aku; aku akan berbuat kepadanya apa yang kaupandang baik, dan segala yang kaukehendaki dari padaku akan kulakukan untukmu.”

    2 Samuel 19:40 (TB)  Sesudah itu berjalanlah raja terus ke Gilgal, dan Kimham ikut dengan dia. Seluruh rakyat Yehuda bersama-sama setengah dari rakyat Israel telah mengantarkan raja.

    Kimham akhirnya ikut Raja Daud.

    Ini kira-kira tahun 1000 SM

    Mungkin,  Kimham minta fasilitas membuka hotel di Bethlehem.

    Yeremia 41:17 (TB)  kemudian mereka berjalan terus dan berhenti di tempat penginapan milik Kimham dekat Betlehem, dengan maksud berjalan terus menuju Mesir,

    Ini kira-kira  tahun 586 SM, sewaktu Yerusalem jatuh dan warga – termasuk Yeremia hendak bermaksud ke Mesir. Ada penginapan milik Kimham.

    Jadi usia penginapan Kimhan dari sekitar 1000 SM ke 586 SM ada sekitar 400 tahun.

    Lukas 2:7 (TB)  dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

    Rupanya penginapan di sekitar Bethlehem penuh, tidak ada tempat bagi Yusuf-Maria.

    Zaman itu, pasti penginapan tidak sebanyak jumlahnya seperti di sekitar Simpang Lima Semarang atau jalan Sabang Jakarta, karena turis jarang dan kondisi di jalan rawan penyamun.

    Jadi, asumsinya penginapan Kimham di Bethlehem masih ada saat itu, kira-kira tahun 4 SM. Kalau ada, nah usia penginapan Kimham dari 1000 SM ke 4 SM hampir 1000 tahun, usia terlama untuk umur suatu perusahaan. Namun sayangnya, saat diperlukan Yusuf dan Maria untuk bermalam dan bersalin, malahan sudah penuh.

    Sudah menunggu 1000 tahun untuk suatu momen Natal, kelahiran Juru Selamat, ternyata lolos. Nama penginapan Kimham tidak dicatat lagi, malahan Maria melahirkan di palungan.

    Sahabat, lamanya seseorang menjadi Kristen tidak menjamin ia menjadi seorang pengikut yang siap dengan kehadiran Kristus sendiri.  Kesibukan pelayanan, minimnya kualitas relasi dengan Allah atau persoalan kehidupan bisa membuat hati terlalu penuh untuk Kristus sehingga menyingkirkan-Nya dari tempat dimana Ia seharusnya bertakhta.  Semoga momen natal tahun ini membawa setiap pengikut Kristus benar-benar siap untuk menyambut kehadiran-Nya. Selamat natal. Bersukacitalah. (Suryadi Hertanto)