Category: Sejenak Merenung

  • Light Things in God’s Eyes

    KECAPI. Sahabat, dari Lembaga Alkitab Indonesia saya mendapatkan informasi bahwa kecapi (kinnor) merupakan alat musik yang pertama disebut dalam Alkitab dan satu-satunya alat musik bertali yang disebut dalam Pentateukh (Taurat). Disebutkan bahwa Yubal adalah bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling (Kejadian 4:21).

    Kinnor merupakan jenis Lyra (kecapi kecil) yang dimainkan dipangkuan seseorang dengan memetikan senarnya, dan yang menurut bukti sejarah dan arkeologi senarnya terbuat dari usus domba. Itu jugalah salah satu alat musik yang akan dipakai oleh Laban orang Siria itu untuk melepas Yakub seandainya tidak diam-diam pergi (Kejadian 31:27). Ukuran alat musik ini kecil sehingga dapat dibawa-bawa dengan mudah. Alat musik inilah yang dimainkan oleh Daud untuk menenangkan Raja Saul (1 Samuel 16:23).

    Kecapi memiliki bentuk dan jumlah talinya berbeda-beda, tetapi semua jenis kecapi menghasilkan bunyi yang menyenangkan. Selain digunakan untuk kegiatan peribadatan, kecapi juga sering digunakan dalam lingkungan kehidupan sehari-hari (Yesaya 23:16). Pada umumnya kecapi ini dimainkan dengan menggunakan sebuah alat petik (plectrum), seperti memainkan alat musik gitar. Namun, sepertinya Daud lebih suka memainkannya tanpa menggunakan alat petik (1 Samuel 16:16, 23; 18:10; 19:9).

    Kecapi terbuat dari kayu dan tukang-tukang yang terampil dapat membuat kecapi dari perak atau gading serta menghiasinya dengan indah. Alat-alat musik, yang dibuat atas perintah Raja Salomo seperti misalnya kecapi dan gambus untuk Bait Suci bahannya terbuat dari kayu cendana pilihan (1 Raja-raja 10:12).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Light Things in God’s Eyes (Perkara Ringan di Mata Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 3:9-27 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, ketika raja Israel  (Yoram), raja Yehuda  (Yosafat)  dan raja Edom mengadakan perjalanan jauh hendak berperang melawan Moab, di tengah perjalanan mereka kehabisan air sehingga semua orang yang turut bersamanya, termasuk tentara dan hewan yang mengikutinya, kehausan luar biasa. 

    Dalam kesulitan tersebut mereka menemui nabi Elisa atas saran dari pengawai raja Israel, untuk meminta petunjuk Tuhan.  Semula Elisa menolak, tapi karena di situ ada Yosafat, raja Yehuda, akhirnya Elisa mau juga mengabulkan permintaan mereka.  Nabi Elisa memerintahkan memanggil pemetik kecapi.  “Pada waktu pemetik kecapi itu bermain kecapi, maka kekuasaan TUHAN meliputi dia.”  (ayat 15).

    Memainkan alat musik  (kecapi)  bagi Tuhan berbicara tentang pujian dan penyembahan bagi Tuhan.  Ketika puji-pujian berkumandang, hati Tuhan disenangkan dan hadirat-Nya turun melawat umat-Nya, sebab  Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.  (Mazmur 22:4). 

    Ketika hadirat Tuhan meliputi Elisa sementara kecapi dimainkan, Tuhan menyatakan kehendak-Nya,  “Beginilah firman TUHAN: Biarlah di lembah ini dibuat parit-parit,”  (Ayat :16), meski secara kasat mata  “Kamu tidak akan mendapat angin dan hujan, namun lembah ini akan penuh dengan air, sehingga kamu serta ternak sembelihan dan hewan pengangkut dapat minum. Dan itupun adalah perkara ringan di mata TUHAN; …”  (Ayat 17-18-a), bahkan mereka mendapatkan berkat yang lebih dari Tuhan,  “… juga orang Moab akan diserahkan-Nya ke dalam tanganmu.”  (Ayat 18-b).

    Pergumulan berat apa yang sedang Sahabat hadapi?  Ekonomi keluarga kering atau gersang?  Sakit-penyakit kita divonis tidak mungkin sembuh?  Atau masalah-masalah berat lain yang secara manusia tidak ada jalan keluar?  Jangan putus asa!  Angkatlah suara dan pujilah Tuhan!  Undang hadirat-Nya memenuhi hidupmu.  Percayalah, saat Tuhan bertindak tidak ada perkara yang terlalu sukar bagi-Nya, karena Dia Mahasanggup. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mampu menjadikan segala yang tidak mungkin menjadi mungkin, asal itu sesuai dengan kehendak-Nya. (pg).

  • What You Got is What You Paid

    SETIAWAN. Sahabat, ada cukup banyak orang tua di Indonesia yang memberi nama anak laki-lakinya Setiawan, Mengapa? Setiawan berarti sangat setia. Orang disebut sangat setia bila memiliki keteguhan hati dan tidak mudah tergoyahkan. Selain berhati teguh, dia juga kokoh dalam berpendirian dan mantap dalam bersikap..

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “What You Got is What You Paid (Apa yang Kamu Bayar itulah yang Kamu Dapatkan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 2:1-18 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, sepuluh tahun lamanya Elisa mengikuti Elia dalam pelayanannya sebagai nabi. Elisa yang senantiasa setia mengikuti Elia kemana pun pergi, bahkan hingga akhir langkah Elia yang terangkat ke surga dengan kereta kuda berapi.

    Hubungan Elia dan Elisa tidak lagi hanya sebatas guru dengan murid, namun jauh lebih dari itu, Elisa memperlihatkan kesetiaannya sudah seperti hubungan anak dan ayah. Hal itu terlihat dalam bacaan kita pada hari ini, yakni: Pertama, melalui permintaan Elisa yang meminta dua bagian roh Elia (Ayat 9). Sesuai dengan adat Yahudi, anak sulung berhak mendapat dua bagian warisan. Kedua, ketika Elia dibawa oleh kereta kuda berapi, Elisa berteriak, “Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!” (Ayat 12). 

    Namun demikian, Elisa bukan hendak meminta harta, namun roh Elia sebagai seorang nabi dapat diterimanya. Permintaan Elisa untuk menerima dua bagian roh dari Elia tentu bukan hal yang mudah, sebagaimana dikatakan oleh Elia, “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi.” (Ayat 10) Sebab roh untuk bernubuat sebagai nabi bukanlah warisan yang dapat diturunkan, melainkan itu adalah pemberian Allah, dan Allah berhak memberikan karunia itu kepada siapa pun.  

    Dari bacaan kita pada hari ini dapatlah kita melihat, bahwa ternyata permintaan dari Elisa itu dikabulkan oleh Tuhan, dan Elisa menjadi penerus pelayanan Elia sebagai seorang nabi.

    Jika kita melihat bagaimana kesetiaan dan kesungguhan Elisa mengikuti Elia, kita akan teringat akan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus Tentang hamba yang setia “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. …” (Lukas 16:10a). 

    “Apa yang kamu bayar, itulah yang kamu dapatkan”demikianlah ungkapan yang sering kita baca dan dengar. Kesetiaan dan kesungguhan Elisa mengikuti Elia tidaklah sia-sia. Elisa telah memperlihatkan dirinya sebagai murid yang setia dan kesungguhannya untuk mengikuti segala perbuatan Tuhan melalui nabi Elia akhirnya mendapatkan karunia Tuhan untuk pekerjaan yang lebih besar lagi sebagai pengganti Elia.

    Sahabat, melalui bacaan kita pada hari ini, firman Tuhan hendak mengingatkan komitmen dan kesetiaan kita sebagai murid Kristus. Seperti apa kesetiaan dan kesungguhan kita dalam mengikut Yesus. Apakah kita murid Yesus yang setia dalam pengajaran-Nya? 

    Ada orang percaya yang merindukan mukjizat, berkat dan pertolongan Tuhan, namun tidak mau untuk ditempa, dibentuk dan diproses oleh Tuhan. Meminta berkat tidak pernah lupa, namun melakukan firman Tuhan selalu lupa dan mungkin saja melupakannya. 

    Baiklah kita merenungkan kembali apa yang dituliskan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus,  “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15: 58)

    Sahabat, jerih payah dan persekutuan kita dengan Tuhan tidak akan sia-sia. Kesetiaan kita untuk selalu memercayakan diri pada Tuhan saatnya akan menghasilkan buah yang manis. Tuhan  berfirman:  “Hendaklah engkau  setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2: 10). Tuhan menolong kita untuk mampu menjadi murid yang setia sampai pada akhirnya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang setiawan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Begitulah teladan sang setiawan: Teguh hati, bulat dalam tekad, dan kepekaan batin. Semoga teladan Elisa menginspirasi kita sebagai murid Kristus. (pg). 

  • PELAKU YANG BERBAHAGIA

    Saudaraku, salah satu bentuk kebanggaan orang tua kepada anaknya saat melihatnya berprestasi adalah mengucapkan kata, ”Anak siapa dulu …”.  Kata-kata itu adalah bentuk kepemilikan anak yang juga kepemilikan prestasinya.  Orang tua akan bangga kalau anaknya berhasil.  Bagaimana dengan Tuhan?  Mari kita renungkan Lukas 11:27-28.

    Kebiasaan dari orang-orang Timur Tengah saat melihat seorang dikagumi, mereka akan memuji dengan seruan tentang keluarganya. Itu adalah respons syukur atas kelahiran orang itu. Ketika Yesus selesai mengadakan mukjizat eksorsis dan  sedang mengajar, ia mengalami kejadian itu.  Yesus yang memang sangat populer dan dihormati banyak orang, bahkan mampu membuat mukjizat yang tidak bisa dilakukan oleh guru yang lain.  Itulah alasan seorang ibu berteriak memuji ibu Yesus (Lukas 11:27 versi Terjemahan Lama: Rahim yang melahirkan dan buah dada yang menyusui).  Pastilah ibu Yesus itu bangga akan anaknya.  

    Namun respons Yesus menarik sekali, ia mengatakan bahwa yang harusnya bangga adalah orang yang melakukan Firman Tuhan dan memeliharanya.  Apakah ini berarti Yesus tidak bangga menjadi anak Maria atau Maria bangga menjadi ibunya?  Tentunya sebagai anak Yesus bangga menjadi anak Maria dan juga sebaliknya,  ibu mana yang tidak bangga dengan anaknya yang bisa mengajar banyak orang dan melakukan banyak mukjizat?  

    Namun Yesus hendak menyampaikan kepada orang-orang yang mendengar bahwa ada yang lebih membuat seseorang bersukacita, yaitu ketika ia mendengar Firman dan melakukannya.  Sukacita ketika seorang menjadi pelaku Firman akan lebih besar dibandingkan dengan memiliki anak yang populer dan menjadi idola banyak orang.  

    Yesus mengajar orang banyak untuk melihat nilai kekal sebagai sesuatu yang harus dikejar dan menjadi sukacitanya.  Yesus hendak menggeser fokus kebahagiaan dari manusia kepada Allah.  Melaksanakan Firman Allah adalah kebahagiaan sejati dan setiap orang harus berjuang untuk itu.  Mengapa demikian?  Dengan menjadi pelaku Firman, maka hidup mereka akan berdampak bagi banyak orang.  Rasul Yakobus sendiri mengatakan dengan serius:  Hendaklah kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja … (Yakobus 1:22).  

    Berjuang menjadi pelaku Firman berarti berjuang mengalahkan diri sendiri dan pencapaiannya adalah ketika Firman itu memberi pengaruh dalam kehidupannya sehingga orang itu dikendalikan oleh Firman itu sendiri.  Mari berbangga  saat menjadi orang Kristen mulai belajar berfokus pada Allah dan menghargai Firman serta melakukannya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • LEBIH DARI YANG DILIHAT MATA

    Saudaraku, setiap orang punya kebanggaan bila mendapatkan pencapaian setelah bekerja keras.  Ketika melihat pencapaian itu, hati merasa sukacita, semangat menyala dan bekerja dengan lebih giat lagi.  Mari membaca sikap Yesus terhadap mereka yang bangga dengan pencapaian pelayanan dengan merenungkan Lukas 10:17-20.

    Ada tujuh puluh orang yang dikirim Yesus keluar untuk mendahului kedatangan-Nya.  Yesus melengkapi mereka dengan kuasa dan kemampuan yang luar biasa. Tentunya itu sangat membanggakan, bayangkan saja mereka bisa melakukan sesuatu yang dulu hanya dilakukan oleh orang-orang khusus: Mengusir setan.  Wow .. luar biasa.  Tidak heran mereka sangat takjub dan bersukacita dengan pencapaian itu.  

    Yesus juga sangat bersukacita namun Yesus memberikan catatan di akhir respon-Nya:  Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga (Lukas 10:20).  Bersukacita, boleh saja. Namun jangan terlalu euforia.  Harus kembali kepada hal yang lebih penting yaitu nilai kekal dari pelayanan itu.

    Pelayanan akan sangat membanggakan saat ada orang yang tersentuh dan mengalami perubahan setelah pelayanan itu.   Takjub dengan kebesaran akan pekerjaan Tuhan dan melihat bukti janji Tuhan sehingga hidup penuh sukacita.  Namun sebenarnya Tuhan sudah menyediakan hadiah yang lebih indah dari sekadar apa yang dilihat mata manusia, yaitu kekekalan.  

    Andaikan setiap orang menyadari bahwa pelayanan yang dikerjakannya memiliki nilai kekal, mungkin ia akan lebih bersungguh-sungguh melayani.  Allah bersukacita dengan apa yang dilakukan manusia untuk kemuliaan-Nya, namun Allah ingin manusia juga melihat hadiah kekal yang disediakan bagi mereka yang mau sungguh-sungguh melayani-Nya.  

    Sayangnya,  manusia hanya memandang apa yang dilihat oleh mata dan berhenti sampai pada sukacita dari apa yang dicapainya.  Mari belajar untuk melihat lebih dari apa yang bisa dilihat mata manusia agar sukacita pelayanan itu sempurna.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The First Place for God

    KITAB 2 RAJA-RAJA. Sahabat,  Kitab 2 Raja-raja tidak menyebutkan nama penulisnya. Tradisi menyatakan bahwa nabi Yeremia merupakan penulis kitab Raja-raja. Kitab 2 Raja-raja kemungkinan besar ditulis dalam kurun waktu antara tahun 560-540 SM.

    Karena 1 dan 2 Raja-raja merupakan sejarah yang berkesinambungan, maka informasi penting tentang latar belakang 2 Raja-raja terdapat dalam Pendahuluan 1 Raja-raja. Kitab 2 Raja-raja melanjutkan penelusuran kemerosotan Israel dan Yehuda, yang dimulai sekitar tahun 852 SM. 

    Kitab ini mencatat dua musibah nasional besar yang mengakibatkan hancurnya kedua kerajaan: Pertama,  Pembinasaan Samaria, ibu kota Israel, dan pembuangan penduduk negeri itu ke Asyur pada tahun 722 SM. Kedua,   perusakan Yerusalem dan  pembuangan Yehuda ke Babel pada tahun 586 SM.

    Kitab 2 Raja-raja meliputi 130 tahun terakhir dari sejarah Yehuda sepanjang 345 tahun. Ketidakstabilan yang lebih besar dari Israel (yaitu, sepuluh suku utara) terlihat dari seringnya pergantian para raja (19 kali) dan keturunan raja (9 kali) yang terus-menerus terjadi selama 210 tahun, dibandingkan dengan 20 raja Yehuda dan satu keturunan (yang terhenti sebentar) sepanjang 345 tahun.

    Kitab 2 Raja-raja mempunyai maksud yang sama dengan 1 Raja-raja. Secara singkat, maksud asli ialah memberikan orang Ibrani, khususnya orang-orang buangan di Babel, suatu penafsiran dan pemahaman yang bersifat nubuat tentang sejarah mereka sementara masa kerajaan yang pecah supaya mereka tidak akan mengulangi dosa-dosa nenek moyang mereka.

    Syukur, hari ini kita dapat mulai belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “The First Place for God (Tempat Utama Bagi Allah)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 1:1-18. Sahabat, berada di pembaringan karena luka parah akibat terjatuh dari serambi di tingkat atas istananya, Raja Ahazia mengkhawatirkan kondisinya. Oleh sebab itu, ia ingin berkonsultasi dengan Baal-Zebub, dewa orang Filistin (Ayat 2). Mungkin terselip juga harapan agar Baal-Zebub menyembuhkan dia. Sungguh ironis, raja Israel tidak mencari Allah untuk kesembuhannya.

    Melalui utusan yang menyampaikan pesan Elia, Allah menegur Ahazia dan memberitahukan bahwa ia akan mati (Ayat 3-4). Respons pertama Ahazia adalah mempertanyakan identitas orang yang menyatakan hal tersebut. Lalu dengan gambaran yang diberikan oleh utusannya, Ahazia mengenali bahwa orang itu adalah Elia (Ayat 6-8). 

    Namun bukannya bertobat,  Ahazia malah mengeraskan hati. Ia mengutus pasukan dengan seorang perwira dan lima puluh tentara untuk pergi kepada Elia (Ayat 9). Atas nama raja, si perwira menyuruh Elia untuk turun dari puncak bukit. Lalu dengan menggunakan sebutan “abdi Allah” yang dipakai oleh si perwira, dan dengan konotasi adanya otoritas Allah di dalam sebutan itu, Elia memanggil api dari langit untuk menghanguskan si perwira beserta kelima puluh anak buahnya (Ayat 10).

    Sahabat, Ahazia tidak mau berhenti begitu saja. Ia mengutus pasukan kedua, dan cerita pun berulang sama (Ayat 11-12). Pantang menyerah, Ahazia mengirimkan pasukan ketiga. Perwira ketiga ini tampaknya lebih bijaksana. Mungkin ia sudah mendengar kisah tragis kedua pendahulunya, dan ia tidak ingin hidupnya berakhir seperti mereka (Ayat 13-14). 

    Allah pun tampaknya merespons si perwira dengan baik. Malaikat Allah menginstruksikan agar Elia tidak takut dan pergi bersama si perwira menemui Ahazia (Ayat 15). Kemudian Elia menyampaikan teguran Allah atas kesalahan Ahazia, yang telah berpaling dari Allah kepada dewa yang tidak memiliki kuasa apa pun, dan itu mengakibatkan ia harus membayar harga dosa-dosanya, yaitu dengan kematiannya.

    Sungguh mahal harga yang harus dibayar Ahazia. Ini menjadi peringatan bagi kita. Allah tidak ingin diri-Nya digantikan oleh yang lain. Ia selalu menuntut tempat yang utama di dalam hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Utamakan Allah, maka Allah juga akan mengutamakanmu. (pg).

  • Criticism Makes Us Better

    ANTIKRITIK. Sahabat, terimalah kritik sebagai anugerah, dan gunakan ia sebagai konsultan gratis, sebagai sarana untuk melejitkan potensi dan kinerjamu. Sesungguhnya setiap orang pasti pernah menerima kritik dari orang lain, baik dalam lingkup pribadi maupun profesional. Masalahnya tidak semua orang bisa menerima kritik dengan baik, bahkan terkadang kritik bisa membuat orang merasa tersinggung dan tidak mau berkembang lebih lanjut. 

    Kritik sebenarnya adalah hal yang biasa dalam kehidupan kita. Tidak ada yang sempurna dan pasti memiliki kekurangan yang bisa dikritik orang lain. Namun, ada orang yang enggan menerima kritik, bahkan merasa tersinggung ketika dikritik. Hal ini bisa menghambat pertumbuhan pribadi dan hubungan dengan orang lain.

    Sesungguhnya setiap orang memiliki kekurangan dan kesalahan. Namun, ada orang yang sulit menerima kritik dari orang lain, bahkan jika disampaikan dengan cara yang baik, santun, dan lembut sekalipun. Orang-orang ini biasanya disebut sebagai “orang antikritik”. Bisa disimpulkan antikritik adalah sikap yang menolak menerima saran atau kritik dari orang lain. Ini artinya seseorang tidak bisa atau tidak mau menerima kritik dengan baik.

    Sahabat, ada cukup banyak orang yang menunjukkan perilaku antikritik, dimana mereka sulit menerima saran atau masukan dari orang lain. Mereka merasa terancam atau tersinggung, dan kadang-kadang menunjukkan sikap defensif atau menolak saran tersebut.

    Contoh perilaku antikritik adalah mengabaikan kritik yang diberikan, menunjukkan sikap defensif atau menyerang balik, atau bahkan memutuskan hubungan dengan orang yang memberikan kritik. 

    Sikap antikritik ini dapat menghambat kemajuan seseorang karena tidak dapat memperbaiki kelemahan atau kesalahan yang dimiliki. Oleh karena itu, penting untuk belajar menerima kritik dengan baik dan mengambil manfaat dari masukan yang diberikan untuk memperbaiki diri. Menerima kritik dengan baik dapat membantu kita tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik serta memperbaiki kualitas kinerja kita di berbagai bidang.

    Syukur, hari ini kita akan belajar dari pasal terakhir dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Criticism Make Us Better (Kritik Membuat Kita Lebih Baik)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 22:1-40 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Rick Warren, penulis buku terlaris The Purpose Driven Life mengatakan bahwa sikap yang paling menghambat pertumbuhan kerohanian seseorang adalah anti terhadap kritik. Beliau mengatakan bahwa Allah juga turut bekerja melalui kritik-kritik yang diberikan kepada kita. Terlepas apakah kritik itu diberikan oleh orang yang kita sukai atau tidak, kritik akan tetap memiliki nutrisi rohani yang akan kita terima sepanjang hidup kita.

    Raja Ahab juga dikenal antikritik. Pada masa pemerintahannya, nabi-nabi Allah mengkritik gaya pemerintahannya. Raja Ahab mengabaikan kritik dari Allah tersebut. Ketika Yosafat menjabat sebagai raja Yehuda, ia mengajak Raja Ahab untuk menaklukkan wilayah Ramot-Gilead. Namun sebelum menyerang, Yosafat ingin bertanya pada Allah. Yosafat tidak percaya dengan perkataan nabi-nabi Raja Ahab yang menyetujui penyerangan tersebut. Yosafat ingin mendengar langsung dari nabi Allah. Maka dipanggillah Mikha bin Yimla, nabi yang disingkirkan Raja Ahab karena kerap mengkritiknya dan tidak pernah menubuatkan yang baik tentangnya (Ayat 8). Hanya Mikha saja yang melarang penyerbuan tersebut, karena Allah tidak merestuinya.

    Sahabat, perkataan yang baik atau pujian belum tentu membuat kita bertumbuh. Allah juga sering hadir dalam proses pendewasaan kita melalui kritik. Jika ada seseorang yang kerap mengkritik dengan kata-kata yang sering menyakitkan dan terlihat menyebalkan, tapi jauh di dalam hati kita tahu bahwa yang dikatakannya itu benar, hendaknya kita bisa lebih membuka hati. Jika orangnya tidak menyenangkan, setidaknya dia memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita. Pujian membuat kita merasa senang, kritik membuat kita lebih baik. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 28?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita tidak terbuka untuk kritik yang membangun, maka kita tidak terbuka untuk benar-benar bertumbuh sebagai pribadi. (pg).

  • The Mercy of God

    BELAS KASIHAN. Sahabat,  belas kasihan merupakan sebuah sikap dalam hidup. Sikap hidup yang didasarkan pada tiga kata kunci:  Melihat, tergerak dan bertindak. Istilah Ibrani dan Yunani yang diterjemahkan sebagai “belas kasihan” di dalam Alkitab berarti: Menunjukkan belas kasihan, merasa simpati dan mengasihani. Kita tahu bahwa, menurut Alkitab, Allah adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia (Mazmur 86:15). Sama halnya dengan semua sifat Allah, belas kasih-Nya tak terbatas dan ada sepanjang masa. Belas kasih-Nya tak kunjung gagal; mereka selalu diperbarui tiap pagi (Ratapan 3:22-23).

    Yesus Kristus, Sang Anak Allah, meneladani semua sifat Sang Bapa, termasuk belas kasih-Nya. Ketika Yesus melihat sahabat-sahabat-Nya menangis di kuburan Lazarus, Ia tergerak berbelas kasih pada mereka dan ikut menangis (Yohanes 11:33-35). Digerakkan oleh belas kasih terhadap penderitaan mereka, Yesus memulihkan kerumunan orang yang menghampiri-Nya (Matius 14:14), serta individu-individu yang meminta disembuhkan-Nya (Markus 1:40-41). Ketika Ia melihat kerumunan besar bagaikan domba tanpa gembala, belas kasih-Nya mendorong-Nya mengajar mereka hal-hal yang tidak diajarkan oleh gembala palsu Israel. Para imam dan ahli taurat angkuh dan korup; mereka memandang rendah orang awam dan mengabaikan mereka, namun Yesus berbelas kasih pada orang awam, dan Ia mengajar serta mengasihi mereka.

    Ketika ditanya apakah hukum yang paling agung, Yesus menjawab hukumnya adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran, dan kekuatan. Namun Ia menambahkan hukum kedua yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:34-40). Orang Farisi itu menanyakan hukum tunggal yang tertinggi, namun Yesus memberikan dua, dengan menyatakan apa yang perlu kita lakukan, dan bagaimana caranya kita melakukannya. Mengasihi sesama sebagaimana kita mengasihi diri sendiri adalah efek dari pengabdian kita kepada Allah.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “The Mercy of God (Belas Kasihan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 21:1-29. Sahabat, tak ada manusia yang tak pernah berbuat salah di mata Tuhan. Kita lahir dengan membawa dosa yang melekat. Bahkan setelah kita hidup di dalam Kristus, kita masih sering berbuat dosa dan kondisi itu menjauhkan kita dari Allah. Akibatnya, sering kali kita merasa terlalu kotor untuk dapat diterima oleh Allah.

    Dalam sejarah Israel, Ahab merupakan salah seorang raja yang jahat di mata Tuhan. Ia sering mengambil keputusan tidak tepat ketika hatinya berada dalam suasana campur aduk. Salah satunya, ia mengambil kebun anggur Nabot dengan cara yang keji dalam kesepakatannya bersama dengan Izebel istrinya (Ayat 5-10).

    Sahabat, Nabot dibunuh dalam pemufakatan keji dengan fitnah yang dilontarkan kepadanya (Ayat 13). Ahab merespons dengan mendatangi kebun anggur Nabot setelah kabar kematian Nabot disampaikan kepadanya (Ayat 16). Tak ada penyesalan atas dosa yang dilakukannya, sehingga Tuhan menyatakan penghukuman kepadanya melalui Elia (Ayat 20-24).

    Alkitab mencatat bahwa tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak dirinya sedemikian rupa. Ia juga melakukan tindakan keji lainnya di mata Tuhan, yakni menyembah berhala (Ayat 25-26).

    Sahabat, Ahab memberikan respons yang tepat ketika ia mendapat teguran dari Nabi Elia. Ia merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung dan berpuasa (Ayat 27). Tuhan pun menunjukkan belas kasihan-Nya kepada Ahab (Ayat 28-29).

    Dalam hidup yang kita jalani, seberapa burukkah tindakan jahat yang pernah kita lakukan di hadapan Tuhan? Ahab yang begitu jahat tetap memperoleh belas kasihan Tuhan. Melalui nabi-nabi-Nya, Tuhan terus memperlihatkan Diri-Nya kepada Ahab.

    Sahabat, tidak ada kata terlambat bagi kita untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan. Berpalinglah dari dosa-dosa kita dan kembalilah kepada Tuhan. Mintalah pengampunan dari pada-Nya. Dia tak pernah menolak anak-anak-Nya yang berbalik dengan sepenuh hati kepada-Nya. Ingatlah, pada-Nya ada kemurahan dan belas kasihan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 28-29?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”  (Ibrani 4:16). (pg).

  • Opportunity is A Gift from God

    RAJA AHAB. Sahabat, raja Ahab adalah seorang yang tidak bisa menghargai anugerah Allah. Ahab adalah salah seorang raja yang semakin jahat dalam sejarah Israel, dimulai pada masa pemerintahan Yerobeam. Raja Ahab  melakukan lebih banyak kejahatan di mata TUHAN daripada siapa pun sebelum dia (1 Raja-raja 16:30). Di antara peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam kehidupan Ahab yang menyebabkan kejatuhannya adalah pernikahannya dengan seorang perempuan jahat bernama Izebel yang sangat membenci umat Allah (1 Raja-raja 18:4). Karena pernikahannya dengan seorang perempuan kafir, Ahab mengabdikan hidupnya untuk menyembah dewa-dewa palsu, Baal dan Asyera di Israel (1 Raja-raja 16:31–33).

    Kejahatan Raja Ahab dilawan oleh nabi Elia yang memperingatkan Ahab akan datangnya penghakiman jika dia tidak menaati Tuhan. Ahab menyalahkan Elia karena mendatangkan masalah atas Israel (1 Raja-raja 18:17), namun promosi penyembahan berhala yang dilakukan Ahab-lah yang menjadi penyebab sebenarnya dari kelaparan selama tiga setengah tahun (1 Raja-raja 18:18). Dalam konfrontasi dramatis antara nabi-nabi palsu,  Elia dan Ahab, Allah membuktikan kepada Israel bahwa Dia, bukan Baal, adalah Allah yang benar (1 Raja-raja 18:16-39). Semua anak buah Baal pimpinan Ahab dibunuh pada hari itu (1 Raja-raja 18:40).

    Raja Ahab juga tidak menaati perintah langsung Tuhan untuk menghancurkan Ben-Hadad,  raja Aram. Tuhan mengaturnya agar Ahab bisa memimpin Israel menuju kemenangan, namun Ahab membuat perjanjian dengan raja yang seharusnya dia bunuh (1 Raja-raja 20). Oleh karena itu, Tuhan memberi tahu Ahab melalui seorang nabi yang tidak disebutkan namanya, itu adalah nyawamu untuk nyawanya, umatmu untuk umatnya (1Raja-raja 20:42).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Opportunity is A Gift from God (Kesempatan adalah Anugerah Tuhan). Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 20:35-43 dengan penekanan pada ayat 42. Sahabat, kesempatan merupakan salah satu bentuk anugerah yang diberikan Tuhan. Namun, tidak semua orang dapat melihat kesempatan sebagai peluang untuk memuliakan Tuhan. Sering kali kesempatan yang hadir di depan mata terbuang percuma karena kedegilan hati kita.

    Ahab adalah raja yang kisahnya dicatat sampai beberapa pasal di dalam Alkitab. Padahal dia adalah raja yang paling jahat di mata Tuhan jika dibandingkan dengan raja-raja Israel lain yang juga berbuat jahat. Tuhan terus memberikan kebaikan dan kesempatan kepadanya, tetapi ia melakukan kebodohan dengan melepaskan Benhadad, orang yang sudah dikhususkan Tuhan untuk ditumpas. Akibatnya, Tuhan memberi hukuman kepada Ahab (Ayat 42).

    Sang Nabi menyatakan bahwa ia telah gagal dalam bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya untuk menjaga tawanan di medan pertempuran (Ayat 39 dan  40). Ahab memberikan jawaban bahwa sudah seharusnya orang yang lalai dengan tugasnya itu menanggung akibatnya (Ayat 40). Ahab menjadi galau ketika sang nabi menunjukkan siapa dirinya dan maksud dari gambaran yang dikemukakannya (Ayat 43).

    Sahabat, Ahab tidak mempergunakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya dengan baik. Orang yang berniat membinasakan umat Allah dan menjadikan kotanya sebagai puing-puing justru dijadikan sebagai sekutu. Ahab sibuk mengurus kemungkinan-kemungkinan yang saling menguntungkan di antara kedua belah pihak. Ia begitu sembrono dalam mengambil keputusan dan menghilangkan kesempatan yang telah diberikan Tuhan.

    Saat Tuhan menghadirkan kesempatan dalam hidup kita, itu wujud dari kemurahan-Nya. Ketika kesempatan hadir, tanggung jawab kita adalah mengembalikan segala hormat dan kemuliaan hanya bagi nama Tuhan. Sudah semestinya kita berhati-hati dalam menggunakan kesempatan yang diberikan Tuhan.

    Sahabat, dalam hidup yang kita jalani, apakah kita sudah bertanggung jawab dalam menggunakan setiap kesempatan yang hadir? Ataukah, kita begitu sembrono sehingga tidak memanfaatkannya? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenuganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 42?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bila kita sudah bisa mengenali dengan jelas kehendak Allah,  kita harus segera menaati kehendak Allah itu tanpa banyak pertimbangan agar kita tidak kehilangan anugerah-Nya.  (pg).

  • DALAM TOPANGAN TUHAN

    Saudaraku,  surat wasiat yang dituliskan oleh mendiang aktor Korea Selatan yang ditemukan meninggal bunuh diri berbunyi seperti ini,”Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan.  Ini satu-satunya cara.” Sang aktor meninggal tragis karena ia tidak melihat cara untuk memulihkan dirinya dari skandal yang sedang dihadapinya.  Manusia masa sekarang dituntut untuk memiliki daya lenting agar bisa meneruskan hidupnya. Daya lenting adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit.   Mari kita renungkan Yosua 1 : 1-9 sebagai renungan di  awal tahun 2024.

    Perjalanan eksodus sudah belangsung 40 tahun, generasi sudah berganti dan tidak ada kesempatan untuk kembali.  Orang Israel hanya punya satu pilihan: Maju sampai Tanah Perjanjian.  Namun di saat yang paling krusial justru Tuhan mengambil Musa karena kesalahan yang pernah dilakukannya.  

    Dalam kondisi seperti itulah Tuhan memilih Yosua untuk menjadi pemimpin yang baru dan memimpin manusia yang berjumlah begitu banyak, dengan karakter tegar tengkuk dan mencapai target untuk memberikan tempat tinggal bagi dua belas suku. Bukanlah perkara mudah bagi seorang Yosua yang selama ini ada di belakang seorang pemimpin besar bernama Musa.  Yosua perlu punya ketangguhan, fokus yang kuat dan daya lenting yang memadai untuk bisa mengerjakan tugasnya..  

    Ada dua hal yang menjadi syarat penyertaan Tuhan atas Yosua supaya bisa menyelesaikan pekerjaan besar itu, yaitu:

    1.  Menguatkan kepercayaan kepada Tuhan 

    Tantangan pertama yang harus ditaklukkan Yosua adalah dirinya sendiri mengingat Yosua butuh waktu dan nyali untuk menerima tanggung jawab yang begitu besar.  Maka Tuhan menawarkan diri-Nya kepada Yosua dengan menjadi jawaban sekaligus penjamin bagi  Yosua.  

    Dunia digital sudah menjadi dunia sesehari manusia masa kini.  Dengan adanya kecerdasan buatan, kecanggihan gadget dan keinginan manusia untuk terus belajar, menjadikan manusia overconfident, merasa bisa mengatasi semua.  Manusia perlu untuk menyadari keterbatasannya dan belajar mempercayai Tuhan, bahwa Tuhan mampu bekerja dengan cara yang luar biasa untuk MENOPANG  dan memberi kekuatan manusia untuk bangkit dari masa sulitnya.

    1. Mengikuti semua hukum dengan tegak lurus

    Tantangan kedua yang harus dikuasai Yosua adalah menetapkan fokus hidupnya. Fokus kehidupan inilah yang menjadi dasar dan semangat untuk terus berjuang di masa sulit. Yosua nantinya akan berhadapan dengan bangsa-bangsa yang asing sekaligus berjuang bersama orang-orang yang labil dalam iman.  Karena itulah Tuhan menginginkan Yosua memiliki keyakinan Firman yang kuat dengan menjalankan Firman Tuhan dengan tegak lurus dan taat dengan sungguh.  

    Manusia yang percaya Kristus perlu menata fokus hidupnya kepada Tuhan dengan komitmen untuk melakukan Firman-Nya dengan sungguh-sungguh agar mampu memulihkan diri dari segala luka hatinya.  Ketika ia menjadi pelaku Firman, maka hatinya akan dipenuhi damai sejahtera untuk dapat bertahan dalam kebenaran. 

    Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, tahun 2024 bukanlah tahun yang mudah.  Mari menjalani tahun yang baru dengan penuh keyakinan dan kepercayaan, karena Tuhan berfirman, ”janganlah takut sebab Aku menyertai engkau; jangan bimbang sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan bahkan menolong engkau, Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10).  

    Mari tetap percaya dan jangan bimbang. Walaupun nantinya banyak tantangan yang harus dihadapi, mari miliki daya lenting dengan kekuatan Tuhan.  Teruslah maju, jangan menyerah. Selamat bertumbuh dewasa. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2024.  (Ag).  

  • MANUSIA BERENCANA, TUHAN YANG MENENTUKAN

    Tahun 2023 sudah kita tinggalkan, dan kita memasuki tahun 2024. Setiap kita pasti memiliki rencana masing-masing di tahun yang baru. Yang belum punya pasangan mungkin berencana menikah, yang sekolah mungkin merencanakan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, yang lain mencari pekerjaan, membeli rumah, atau rekreasi dengan bepergian ke luar negeri, dan lain sebagainya. 

    Dalam ilmu manajemen, rencana selalu berada di depan, sebelum pelaksanaan dan evaluasi. PDC atau Plan, Do and Check, merupakan kegiatan dalam sebuah aktivitas manajemen yang selalu berurutan. Rencana merupakan fondasi setiap langkah berikutnya. Ibarat rumah tanpa fondasi maka bangunan rumah akan mudah roboh atau hancur berantakan. Seperti seluruh aktivitas kehidupan tanpa berencana dulu, maka langkah selanjutnya akan tidak menentu, dan yang pasti sulit untuk melakukan apa yang harus dikerjakan dan dievaluasi. 

    Semua orang mempunyai rencana, namun seringkali rencana tidak berjalan sesuai harapan. Segala sesuatunya selalu berubah, peluang baru muncul, dan terkadang hambatan menghalangi. Nah, banyak orang bilang “Man Proposes but God Disposes” artinya kita merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan. Dalam Amsal 19:21, dikatakan: “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.” Dengan kata lain manusia boleh saja merencanakan segala macam hal, tetapi kehendak TUHANlah yang akan terjadi.  Ada satu pelajaran penting mengenai perencanaan yang dapat kita petik dari ayat ini bahwa kecuali rencana kita merupakan bagian dari rencana kekal Allah, maka rencana itu tidak akan berhasil.

    Kalau demikian, apakah lebih baik kita tidak berencana saja, toh Tuhan yang akan menentukan, jadi kita serahkan saja hidup kita kepada Tuhan. Mengalir saja, kata banyak orang. Sebanarnya Amsal 19:21 tidak menyurutkan atau melarang kita membuat rencana. Faktanya, di bagian lain dalam Alkitab, Allah meminta kita untuk merencanakan masa depan kita, “Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan” (Amsal 21:5). Versi lain menerjemahkan ayat ini sebagai berikut, “Berencanalah dengan matang maka kamu akan berkelimpahan.” Menurut ayat terebut kita harus membuat rencana dengan hati-hati, namun saat kita membuat rencana, hendaklah kita menyadari bahwa rencana kita tunduk pada kedaulatan dan kehendak Tuhan. Rencana kekal Allah adalah yang tertinggi di atas semua rencana kita. Oleh karena itu, tidak semua yang kita rencanakan akan pasti terwujud.

    Kata rencana dalam Amsal 19:21 berasal dari kata kerja Ibrani khawshab yang berarti memikirkan sesuatu yang ingin dilakukan: “Banyak rencana yang ada di benak manusia.” Rencana adalah pikiran kita, yaitu hal-hal yang ada dalam pikiran kita atau hal-hal yang ingin kita capai atau peroleh. 

    Dalam bahasa aslinya kata pikiran dalam Amsal 19:21 bisa juga diterjemahkan sebagi hati. Itu sebabnya dalam alkitab versi King James kita membaca, “Ada banyak rencana di dalam hati manusia.” Hati dianggap sebagai pusat kehidupan kita. Rencana kita adalah apa yang menjadi pusat kehidupan kita. Ini adalah hal-hal yang kita sangat peduli, atau memotivasi kita untuk hidup. 

    Dalam Perumpamaan Orang Kaya yang Bodoh, sebuah perumpamaan yang menggambarkan dosa ketamakan, kita melihat orang kaya yang bodoh membuat rencana-rencana yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyenangkan dirinya saja (Lukas 12:18-19). Orang kaya yang bodoh membuat rencana yang egois dan serakah. Tetapi Tuhan berkata dalam Amsal 19:21, “Banyak rencana yang ada di benak manusia, tetapi kehendak TUHANlah yang terlaksana.” Oleh karena itu, sekali lagi, kecuali rencana kita merupakan bagian dari rencana kekal Allah, maka rencana itu tidak akan berhasil.

    .Apa pun rencana kita tahun ini, serahkan semua pada Tuhan. Mari kita dengan rendah hati mengakui bahwa Dia mengendalikan segala sesuatu. Seseorang penulis mencatat, “Livingstone berencana pergi ke Tiongkok, namun Tuhan menuntunnya ke Afrika, untuk menjadi misionaris-negarawan, jenderal, dan penjelajah. Alexander Mackay bersiap untuk bekerja di Madagaskar, namun diarahkan ke Uganda, untuk membantu pendirian salah satu misi paling luar biasa di dunia. Carey mengusulkan untuk pergi ke Laut Selatan, namun dibimbing secara illahi ke India, untuk memberikan Alkitab dalam bahasa ibu mereka kepada jutaan orang di India.” Mungkin anda punya rencana yang sangat besar dalam hidup anda, tetapi Tuhan bisa menuntun anda untuk melakukan hal besar lainnya untuk kemuliaan nama-Nya.

    Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk tunduk pada kehendak  dan kedaulatan-Nya yang kekal, bijaksana, dan sempurna. Ingat, tempat terbaik untuk kita berada adalah dalam kehendak Tuhan. Jika kita melakukan kehendak Tuhan, di mana pun kita berada, kita akan berada di tempat yang terbaik. Yang pasti adalah, “kehendak Tuhan tidak akan pernah membawa kita ke tempat di mana kasih karunia Tuhan tidak dapat menjaga kita.” Selamat berencana untuk tahun yang baru. 

    Ingatlah sekali lagi apapun yang kita rencanakan, semua itu bisa terjadi atau tidak pernah sama sekali, semua Tuhan yang menetapkan. Jagadeesh Kumar berkata, “Terkadang hal-hal tidak terjadi dalam hidup kita seperti yang  kita rencanakan tetapi terkadang hal-hal yang terjadi dalam hidup kita bahkan tidak tidak direncanakan, tetapi keduanya terjadi sebagai rencana Tuhan.”  Selamat memasuki tahun baru 2024. Tuhan memberkati! (SHJ).