Category: Sejenak Merenung

  • The Ambitions of Two Women

    AMBISI. Sahabat,  definisi ambisi menurut The Webster’s Dictionary adalah keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan.

    Sesungguhnya ambisi dapat memberikan dampak positif terhadap kehidupan seseorang bahkan komunitasnya. Baik kita tertarik untuk memulai bisnis sendiri, menekuni olahraga atau seni, belajar bahasa, meraih kekuasaan, atau memperjuangkan persamaan hak, ambisi yang sehat dapat menjadi titik awal yang baik.

    Sahabat, ketika kita memiliki tujuan yang jelas, kita mungkin akan lebih fokus pada tujuan tersebut dan lebih termotivasi untuk berupaya mencapainya. Ambisi dapat membantu kita memprioritaskan tindakan dan membuat keputusan yang membawa kita lebih dekat ke tujuan.

    Ambisi berpotensi mendorong pertumbuhan pribadi dan penemuan diri. Kita sering kali belajar lebih banyak tentang kemampuan  diri sendiri  ketika kita menantang diri sendiri dan melampaui zona nyaman. Pertumbuhan seperti itu memungkinkan kita mengembangkan keterampilan baru dan menjadi kreatif, mencari cara baru untuk menjadi sukses.

    Lalu apa bedanya ambisi dan obsesi? Obsesi adalah ide, pikiran, bayangan, atau emosi yang tidak terkendali, sering datang tanpa dikehendaki atau mendesak masuk dalam pikiran seseorang yang mengakibatkan rasa tertekan dan cemas. 

    Jika kita punya rencana, lalu memfokuskan energi dan pikiran untuk merealisasikannya, berarti kita memiliki ambisi. Jika keinginan itu sudah mendominasi pikiran tanpa terkendali sampai membuat emosi meluap, bahkan kadang dengan pengejaran membabi buta, berarti kita sudah terobsesi. 

    Untuk meraih ambisi, kita sering memaksakan diri. Alhasil, ketika sukses tidak dicapai, kita sangat kecewa. Punya ambisi sebenarnya boleh-boleh saja (bahkan wajib), tapi tak perlu sampai terobsesi. Pasalnya, obsesi hanya akan membuat kita berbuat atau mengorbankan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “The Ambitions of Two Women (Ambisi Dua Orang Perempuan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-Raja 11:1-21. Sahabat, bacaan Alkitab hari ini berkaitan dengan dua orang putri raja yang memiliki AMBISI yang berbeda, yaitu Atalya yang AMBISInya jahat dan Yoseba yang AMBISInya baik. Atalya, istri Raja Yoram, adalah ibu dari Raja Ahazia. Saat mengetahui bahwa suami dan anaknya sudah mati, ia berniat membunuh semua keturunan raja (Ayat 1). 

    Sahabat, bagaimana mungkin seorang nenek bisa melakukan tindakan yang begitu kejam, yaitu membunuh cucu-cucunya sendiri? Tindakan Atalya yang amat sadis itu bisa dimengerti bila kita mengingat bahwa ia adalah putri raja Ahab dan ratu Izebel yang terkenal jahat (2 Tawarikh 21:6). Ia mempunyai AMBISI jahat, yaitu menjadi orang yang paling berkuasa di Kerajaan Yehuda. 

    AAMBISI Yoseba, putri Raja Yoram, saudara perempuan Raja Ahazia yang menjadi istri imam Yoyada (2 Tawarikh 22:11), amat berbeda. Ia menyembunyikan Yoas, anak Raja Ahazia yang masih berusia setahun, bersama dengan inang penyusunya (Ayat 2). 

    Selama enam tahun, Yoseba dan Yoyada menyembunyikan Yoas (Ayat 3) di rumah Tuhan. Mereka mempersiapkan Yoas untuk naik takhta pada usia tujuh tahun (Ayat 4-12). Walaupun harus berhadapan dengan Atalya yang berhati Iblis, Yoseba dan Yoyada berambisi untuk menobatkan Yoas sebagai raja (Ayat 12). Atalya dengan AMBISI  jahatnya mati dibunuh dengan cara yang tidak hormat (Ayat 15-16). Yoseba dengan AMBISI kudusnya membuat segenap rakyat Yehuda bersukaria (Ayat 20).

    Sahabat, jauhilah AMBISI jahat yang akan menghancurkan reputasi dan masa depan kita sendiri! AMBISI jahat akan membuat orang lain marah dan memusuhi diri kita, sehingga nama Tuhan dipermalukan. Kejarlah AMBISI  kudus dengan motivasi dan tujuan yang benar. AMBISI kudus akan menghasilkan sukacita dan damai sejahtera bagi orang-orang di sekitar kita dan membuat nama Tuhan dipermuliakan. Apakah kita memiliki ambisi yang kudus? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1 dan 2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ambisi bukanlah apa yang kita lakukan  tetapi apa yang akan kita lakukan. (pg). 

  • Live for God with all your Heart

    MUNAFIK. Sahabat, orang munafik adalah orang yang giat melayani Tuhan, tetapi sesungguhnya hati mereka jauh dari Tuhan. Menurut Tuhan Yesus, orang munafik itu seperti firman Allah yang disampaikan oleh nabi Yesaya, “… Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, …” (Yesaya 29:13). Orang munafik bukan orang dengan kepercayaan lain, tetapi orang yang sama-sama percaya kepada Tuhan. Keberadaan orang munafik bukan di luar gereja, tetapi di dalam gereja.

    Pada hakikatnya, kemunafikan berbicara tentang tindakan seseorang mengklaim percaya sesuatu namun bertindak dengan cara yang berseberangan dengan klaim itu. Istilah yang dipakai dalam Alkitab berasal dari istilah Yunani yang berarti aktor,  secara harafiah: Seseorang yang mengenakan topeng. Dalam kata lain, seseorang yang berpura-pura menjadi sesuatu yang berbeda dari kenyataannya.

    Alkitab menyebut kemunafikan sebagai dosa. Ada dua bentuk kemunafikan: Menyatakan percaya sesuatu kemudian bertindak berlawanan dengan kepercayaan itu, dan memandang rendah orang lain walaupun dia sendiri bercela.

    Sahabat, nabi Yesaya mengecam kemunafikan pada zamannya (Yesaya 29:13). Berabad-abad kemudian, Yesus mengutip ayat tersebut ketika menunjuk kepada para pemuka agama di zaman-Nya (Matius 15:8-9). Yohanes Pembaptis menjuluki kerumunan orang yang tidak tulus, yang datang untuk dibaptis, sebagai  “keturunan ular beludak” dan menghimbau orang-orang munafik itu “hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (Lukas 3:7-9). Yesus juga mengecam keras kemunafikan, Ia menjuluki orang munafik “menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Matius 7:15), “seperti kuburan yang dilabur putih” (Matius 23:27), “ular-ular,” dan “keturunan ular beludak” (Matius 23:33).

    Kita tidak bisa mengatakan kita mengasihi Allah jika kita tidak mengasihi sesama kita (1 Yohanes 2:9). Kasih haruslah jangan pura-pura (Roma 12:9). Seorang yang munafik mungkin tampak saleh secara luaran, namun itu hanya topeng saja. Kebenaran sejati dihasilkan oleh perubahan di dalam diri seseorang akibat Roh Kudus, bukan ketaatan secara lahiriah terhadap peraturan (Matius 23:5; 2 Korintus 3:8).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: : Live for God with All Your Heart (Hidup bagi Tuhan dengan Segenap Hati)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 10:18-36 dengan penekanan pada ayat 31. Sahabat,  patut diakui betapa hebat dan giatnya Yehu dalam melaksanakan perintah Tuhan untuk memusnahkan keluarga besar dan para pengikut Ahab. Ia berani, tegas, sangat bersemangat, dan tidak menyia-nyiakan waktu dalam menjalankan perintah Tuhan. Tuhan bahkan memuji Yehu: “Oleh karena engkau telah berbuat baik dengan melakukan apa yang benar di mata-Ku, dan telah berbuat kepada keluarga Ahab tepat seperti yang dikehendaki hati-Ku, maka anak-anakmu akan duduk di atas takhta Israel sampai keturunan yang keempat” (Ayat 30).

    Sahabat, dibalik giatnya Yehu, ada sikap-sikap yang menodai kepatuhannya kepada Tuhan. Pertama, Yehu melakukan kebohongan dan penipuan (Ayat 18-28). Kedua, Yehu tidak menjauhkan dosa-dosa penyembahan anak-anak lembu emas di Betel dan di Dan (Ayat 29 dan 31). Bagaimana mungkin seseorang yang terlihat sangat giat bekerja bagi Tuhan, tetapi melakukan kedua hal itu? Jawabannya ada di ayat 31: “Tetapi Yehu tidak tetap hidup menurut hukum TUHAN, Allah Israel, dengan segenap hatinya; …”

    Pada bagian ini kita mungkin berpikir Tuhan sepertinya tidak melakukan apa-apa terhadap kesalahan Yehu, namun sesungguhnya Tuhan tahu dan Ia bertindak. Hosea 1:4 mencatat: “…  sebab sedikit waktu lagi maka Aku akan menghukum keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel dan Aku akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel.” Tuhan tetap menghukum Yehu, meski ia pernah dipakai sebagai alat-Nya.

    Sahabat, hal tersebut menjadi peringatan keras bagi setiap kita, yang melayani Tuhan. Kesalahan yang Yehu lakukan juga bisa terjadi dalam hidup pelayanan kita. Misalnya: ketika kita sangat rajin melayani tetapi tidak sungguh-sungguh hidup bagi-Nya; ketika kita lebih mencintai pekerjaan-Nya dibanding menaati kehendak-Nya dengan segenap hati; ketika kita terlalu sibuk memberantas dosa orang lain, tetapi lalai untuk peka terhadap dosa kita sendiri. Kuncinya adalah pada kata “TETAP”. Adakah kita TETAP hidup bagi Tuhan dengan segenap hati? Bersandiwara tempatnya di atas panggung, bukan dalam hidup sehari-hari kita. JANGAN MUNAFIK. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Hosea 1:4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Munafik ditandai dengan adanya sebuah perbedaan di antara hati dan perkataan, adanya perbedaan di antara sesuatu yang tersembunyi dengan yang tampak. (pg)

  • The Deceiver’s End of Life

    PENYESAT. Sahabat, jangan mau disesatkan. Hati-hati!!! Penyesat ada di sekitar kita dan mungkin dia adalah orang yang kita kenal atau dekat dengan kita. Ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang sudah cukup kita kenal: “Ojo gumunan” (jangan mudah terpesona). Ungkapan tersebut hendak menasihati agar kita tidak mudah terpesona ketika kita melihat seseorang atau sebuah peristiwa yang menakjubkan,  supaya kita tidak mudah disesatkan.

    Kita perlu berhati-hati ketika bertemu dengan orang yang tebar pesona dan mengajak kita meninggalkan Tuhan, kemudian mengikuti allah lain. Penyesat semacam itu, bisa saja benar-benar membuat kita terpesona karena tanda atau mukjizat yang ia janjikan benar-benar terwujud. Tetapi, Tuhan berpesan agar hanya Dia saja yang kita ikuti; Dia seorang yang harus kita takuti; perintah-perintah-Nya yang kita pegang dengan teguh; dan suara-Nya yang kita dengarkan (Ulangan 13:1-4). 

    Hal tersebut  penting  kita ingat, sebab allah lain belum tentu berbentuk berhala. Bisa jadi, penyesat yang tebar pesona dengan tanda atau mukjizat itu justru memberitakan “Kristus.” Namun sayangnya, bukan Kristus sebagaimana disaksikan dalam Alkitab, melainkan kristus yang lain.

    Berhadapan dengan tipu muslihat semacam itu,  kita harus berhati-hati. Jangan mudah terpesona pada orang yang membawa-bawa nama Kristus, bahkan meskipun ia bisa membuat tanda dan mukjizat! Kristus tidak suka mengobral tanda dan mukjizat. Tidak tiap hari ada roti yang digandakan atau orang sakit disembuhkan. Tetapi, tiap hari, bahkan tiap detik, Ia selalu ada bersama kita karena Ia adalah Immanuel!

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “The Deceiver’s End of Life (Akhir Hidup Sang Penyesat)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 9:30-37. Sahabat, satu-satunya perempuan yang secara khusus dinubuatkan kematiannya dan kematiannya yang mengenaskan diceritakan secara mendetail adalah Izebel.

    Yehu sampai ke Yizreel, tempat Izebel tinggal. Izebel menghias diri serta menjenguk dari jendela dan menyindir Yehu yang ia sebut sebagai Zimri, seorang yang membunuh tuannya (Ayat 30-31; lihat 1Raj. 16:8-13). Yehu berteriak kepada pegawai Izebel, “Siapa yang di pihakku?” Ketika ada dua tiga orang pegawai istana menjenguk kepadanya, Yehu menyuruh mereka menjatuhkan Izebel (Ayat 32-33). 

    Mereka melakukannya,  sehingga darah Izebel memercik ke dinding dan ke kuda, dan mayatnya pun terinjak-injak (Ayat 33). Ketika Yehu meminta orang untuk menguburkan mayat Izebel, ternyata yang tertinggal dari Izebel hanyalah kepala, kedua kakinya, dan kedua telapak tangannya (Ayat 34-35). Ini menggenapi firman Tuhan: “Di kebun di luar Yizreel akan dimakan anjing daging Izebel” (Ayat 36; lihat 1 Raja-raja 21:23)

    Sahabat, mengapa Tuhan sampai secara khusus menubuatkan kematian Izebel dan mengisahkannya dengan begitu mendetail? Itu  karena Izebel adalah orang yang menyesatkan banyak umat Allah. Ia membawa Ahab dan seluruh Israel secara resmi menyembah Baal dan Asyera (1Raja-raja 16:30-33). Nama Izebel kemudian dipakai untuk menunjukkan orang yang membawa umat menyembah berhala (Wahyu 2:20).

    Nubuat kematian dan detail kematian Izebel yang mengenaskan menunjukkan betapa Allah sangat membenci Izebel dan orang seperti dia, yang menyesatkan umat dan membawa umat menyembah allah lain. Karena itu, kita harus sangat hati-hati, jangan sampai dalam kelemahan, kita juga membuat banyak saudara seiman kita ikut berdosa. Paulus juga mengingatkan kita untuk tidak menjadi batu sandungan bagi saudara seiman kita (1Korintus 8:13). Apalagi, jika kita sampai mengambil bagian dalam menyesatkan umat Allah.

    Sahabat, Tuhan kiranya memampukan kita bertindak benar dan mampu mengajarkan kepada orang lain hanya kebenaran-Nya. Tuhan juga kiranya menjauhkan kita dari perilaku atau keinginan menyesatkan umat-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Wahyu 2:20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan buka celah yang dapat melemahkan iman percaya kita dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan. (pg).

  • God is Never Late

    TERLAMBAT. Sahabat, saya sedang membicarakan terlambat dalam arti lewat dari waktu yang ditentukan. Dengan demikian pasti kerabat terdekatnya adalah waktu. Sampai saat ini cukup banyak masyarakat yang sangat suka berperilaku terlambat. Karena minimnya protes, maka terlambat menjadi membudaya.

    Ketika semua orang datang tepat waktu dan satu orang datang terlambat, penting atau tidak posisinya dalam acara, secara tak langsung melahirkan rasa bangga karena semua orang telah menunggunya. Sepenting itukah posisinya sehingga pantas ditunggu? Tidak masuk akal, tapi begitulah manusia. Menelisik prosesi tunggu-menunggu di Indonesia sendiri, bukan hal aneh jika tercetus istilah makin tinggi posisi, makin banyak toleransi.

    Saking membudayanya, pembenaran hal-hal yang umum tak jarang ditemukan. Utamanya perihal keterlambatan. Membenarkan kebiasaan terlambat adalah hal yang wajar. Namun tetap saja, setiap perbuatan buruk akan menemui dampaknya, apalagi jika sudah dalam kategori budaya.

    Sahabat, terlambat bisa disebabkan karena dua hal, peran individu dan sistem. Beberapa individu atau komponen yang terlibat, akan membentuk sistem. Individu akan memilih terlambat karena kurang maksimalnya sistem. Masing-masing individu memang harus sadar, namun apakah sadar saja cukup jika sistem yang dibuat longgar?

    Ada dua cara yang dapat digunakan dalam mengoptimalkan sistem. Yang pertama adalah sistem insentif dan disinsentif. Dalam sistem insentif, orang yang tepat waktu akan diberi penghargaan agar termotivasi untuk selalu tepat waktu. Sedangkan sistem disinsentif akan mengenakan hukuman bagi para oknum yang melakukan kesalahan. Dalam hal ini adalah pelaku terlambat.

    Sudah tahu bagaimana dampaknya, sudah pula cara mengatasinya,  Jadi, maukah kita bersama meluruskan budaya terlambat menjadi Indonesia berbudaya tepat waktu? Atau dengan sikap gotong royong kita lebih memilih terlambat bersama dan tak acuh terhadap disiplin waktu?

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “God is Never Late (Tuhan Tidak Pernah Terlambat)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 8:1-6 dengan penekanan pada ayat 2. Semoga Sahabat  masih ingat kisah perempuan Sunem yang mendapatkan anak setelah Elisa bernubuat. Namun setelah anak itu besar, ia tiba-tiba mati. Perempuan itu menunjukkan imannya yang besar dan Allah kemudian memakai Elisa untuk membangkitkan anak itu (2 Raja-raja 4:16, 18-20, 32-37). Sejak itu, kita tidak mendengar lagi kisah si perempuan Sunem. Barulah dalam bacaan kita pada hari ini, kita mendengar lagi tentang dia.

    Sahabat rupanya, ia mengungsi ke Mesir selama tujuh tahun, sesuai saran Elisa (Ayat1-2). Namun, ia menemukan bahwa tanahnya diambil orang. Tampaknya, kasusnya sama seperti yang dialami Naomi dalam kitab Rut. Maka perempuan Sunem mengadukan perkara itu kepada raja (Ayat 3).

    Pada saat itu, raja sedang bercakap-cakap dengan Gehazi, hamba Elisa, mengenai segala mukjizat yang telah dilakukan oleh Elisa (Ayat 4-5). Maka perempuan itu menjadi bukti dari apa yang telah dibicarakan oleh Gehazi. Raja pun mengajak perempuan itu berbicara dan dengan demikian, ia diyakinkan. 

    Sahabat, tampaknya raja berpendapat bahwa jika Allah saja berkarya secara ajaib bagi perempuan Sunem itu, bagaimana mungkin ia menolak permintaan perempuan itu (Ayat 6). Yoram memang raja yang jahat, tetapi ia dipakai Tuhan untuk memerhatikan apa yang diperlukan perempuan itu, saat Elisa tidak ada di sana (Ayat 6). Sekali lagi, Allah bekerja dengan cara-Nya yang ajaib.

    Jika Allah bekerja di hati seorang raja yang jahat untuk memelihara umat-Nya, tidakkah Ia juga akan memerhatikan dan memelihara kita? Allah dapat memakai berbagai cara dan berbagai jenis orang untuk memelihara orang-orang yang dikasihi-Nya. Selain itu, Allah berkarya juga bukan hanya untuk waktu yang singkat saja. Perhatikanlah bahwa sejak si perempuan Sunem belum memiliki anak sampai masa tujuh tahun setelah itupun, Allah tetap menunjukkan pemeliharaan-Nya. Jadi ingatlah bahwa apa yang Allah telah mulai niscaya akan Ia selesaikan.

    Sahabat,  percayakanlah segala permasalahanmu ke dalam tangan Tuhan yang Mahakuasa. Dalam waktu-Nya yang terbaik, Ia akan menyelesaikan segala sesuatunya. Yakinlah: Tuhan tidak  pernah TERLAMBAT. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Bagaimana pengalaman Sahabat dengan masalah terlambat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Tragedi kehidupan terjadi ketika kita tua lebih awal dan terlambat menjadi orang yang bijaksana.” (Benjamin Franklin). (pg).

  • God is the Best Help Provider

    PERTOLONGAN TUHAN. Sahabat, Pemazmur bersaksi: “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:2).Kita yakin dan percaya bahwa Yesus, Tuhan kita, akan senantiasa dan setiap saat menolong kita. Namun sungguh ironis bahwa ada cukup banyak diantara kita ternyata seringkali tidak menyadari adanya PERTOLONGAN TUHAN terjadi atas diri kita, yang kemudian kita abaikan dan membiarkannya berlalu begitu saja.

    Yesus senantiasa menolong kita melalui orang-orang lain, melalui peristiwa-peristiwa atau peluang-peluang yang terjadi atas diri kita. Bahkan kadang tampak hanya sebagai suatu kebetulan atau terjadi sekilas bagaikan angin lalu belaka. Karena itu cukup banyak diantara kita yang kurang menanggapi atau bahkan cuek terhadap segala peluang atau peristiwa yang muncul di dalam kehidupan kita, dan lebih parah lagi sering tidak menyadari bahwa kejadian itu  sebenarnya merupakan  suatu PERTOLONGAN TUHAN.

    Saya yakin, cukup   banyak diantara kita  yang sudah pernah membaca atau mendengar cerita perumpamaan tentang seseorang yang menolak semua pertolongan yang ditawarkan oleh orang-orang ketika ia sedang berada di rumah yang sedang mengalami kebanjiran karena ia sudah berdoa mohon pertolongan Yesus dan yakin bahwa Yesus sendiri nanti akan datang menolong dia. Pada saat ia akhirnya mati tenggelam dan mengajukan protes kepada Yesus di surga, mengapa ia tidak ditolong ketika mengalami kebanjiran, Yesus berkata: “Bukankah Aku sudah tiga kali mengirim pertolongan kepadamu, namun engkau menolaknya, bukan?”

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “God is the Best Help Provider  (Tuhan adalah Penyedia Pertolongan Terbaik)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 7:1-20 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, kota Samaria telah diasingkan dan dikepung oleh tentara-tentara Aram.  Tentara Aram mengisolasi kota, memutuskan jalur distribusi makanan dan hubungannya dengan dunia luar.  Akibatnya kelaparan terjadi di mana-mana.  Kematian mengancam semua orang, kaya maupun miskin.

    Dalam situasi seperti itu nabi Elisa menubuatkan,  “Besok kira-kira waktu ini sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal di pintu gerbang Samaria.”  (Ayat 1).  Tetapi salah seorang perwira raja mencemooh nubuatannya, namun Elisa pun menimpalinya,  “Sesungguhnya, engkau akan melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi tidak akan makan apa-apa dari padanya.”  (Ayat 2).  

    Sahabat, di situ ada empat orang yang sakit kusta yang tidak mendengar nubuatan Elisa karena mereka tingggal di luar kota (di depan pintu gerbang).  Yang mereka tahu hanyalah bencana kelaparan, maka berkatalah mereka satu sama lain,  “Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati?  Jika kita berkata: Baiklah kita masuk ke kota, padahal dalam kota ada kelaparan, kita akan mati di sana. Dan jika kita tinggal di sini, kita akan mati juga. Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan tentara Aram. Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup, dan jika mereka mematikan kita, kita akan mati.”  (Ayat 3 dan 4).  

    Sahabat, dalam situasi yang tiada pengharapan lagi mereka mengambil tindakan berani: Masuk perkemahan tentara Aram.  Perkara ajaib terjadi:  Oleh karena Tuhan, dibuatnya tentara Aram lari tunggang langgang meninggalkan kemahnya dan segala perbekalannya.  

    Singkat cerita, keempat orang ini melaporkan kejadian ini kepada raja.  Akhirnya orang-orang Samaria pun beroleh jarahan yang banyak di tengah kelaparan.  Sedangkan perwira raja yang meremehkan nubuatan nabi Elisa harus menanggung akibatnya, dia mati terinjak-injak.

    Sahabat, seberat apa pun pergumulan kita, asal kita datang kepada Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya, pertolongan pasti disediakan Tuhan bagi kita. Tuhan adalah penyedia pertolongan terbaik. Dia tidak pernah kekurangan cara untuk menolong kita.  Kuncinya adalah percaya dan bertindak dengan iman.  Yakobus mengingatkan kita:  “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”  (Yakobus 2:17).  Jika keempat orang kusta itu hanya duduk-duduk dan menyerah pada keadaan, mereka pasti akan mati kelaparan! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil renunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari surat Yakobus 2:17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan menyerah kepada keadaan, bangkit dan percayalah kepada Tuhan, karena bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil. (pg).

  • BERTOBAT SETIAP SAAT

    Saudaraku, ada pepatah yang mengatakan: “Kuman di seberang tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.”  Manusia cenderung alpa untuk bercermin dan mengoreksi diri, namun sibuk mengomentari orang lain.  Yesus menginginkan setiap orang percaya untuk belajar makin dewasa dan makin berkenan kepada-Nya.  Mari renungkan Lukas 13:1-9.

    Orang Timur terkenal dengan spiritualis dan selalu memberikan nilai pada setiap kejadian, terutama pada sebuah musibah yang membawa kematian.  Cara hidup selalu berkaitan dengan cara mati seseorang.  Kalau hidupnya benar, maka manusia akan mati dengan penuh damai, dalam usia tua dan bahkan berdampak baik (misalnya kematian Elisa dalam 2 Raja-raja 13:14-21).  

    Beda halnya bila manusia itu lalim, maka ia akan meninggal dengan cara yang tidak baik (misalnya: kematian Ratu Izebel dalam 2 Raja-raja 9:30).  Maka saat banyak orang menyoroti cara kematian orang Galilea yang dibunuh Pilatus saat mereka sedang beribadah (Lukas 13:1-2), Yesus justru memberikan pandangan yang berbeda.  Pandangan Yesus adalah :

    1. Orang yang meninggal dalam musibah belum tentu ia berdosa

    Kematian merupakan hak Tuhan dan bagaimana ia menempuh kematian bukanlah menjadi tolok ukur berat ringannya dosa yang dia lakukan.  Setiap orang bisa meninggal kapan saja dan manusia yang hidup tidak perlu menghakimi mereka yang mengalami musibah.  Semua ada dalam rencana Tuhan.

    1. Orang yang masih hidup harus selalu mawas diri 

    Daripada memberikan penilaian kepada orang yang sudah meninggal, lebih baik manusia yang masih hidup belajar mawas diri.  Yesus dua kali mengingatkan untuk melakukan pertobatan.  Kata bertobat berarti mengalami perubahan sikap dan pemikiran menuju kepada Kristus.  Saat ada musibah maka sebaiknya orang yang masih hidup menyadari kesempatan yang diberikan Tuhan dan hidup sebaik-baiknya dalam iman percayanya.

    Yesus mengajarkan pada pendengarnya untuk menyadari bahwa kehidupan mereka fana dan segala sesuatu mungkin terjadi.  Itulah sebabnya setiap orang harus mawas diri dan memeriksa: Apakah dirinya sudah hidup benar atau belum, daripada membicarakan berat ringannya dosa orang lain.

    Hidup ini adalah anugerah yang diberikan oleh Allah dalam bentuk kesempatan-kesempatan. Sudahkah setiap kesempatan dipakai untuk memeriksa diri dan melakukan pembenahan? Mari menilai setiap kejadian sebagai peringatan untuk terus bertobat.  Mari melihat setiap musibah sebagai sebuah kesempatan untuk terus berbenah.  Mawas diri membuat seseorang semakin bijak menghadapi kehidupan dan semakin siap bila saat akhir kehidupan menjelang.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

    persahabatan biasanya dilakukan oleh dua orang atau lebih yang memiliki kesamaan, baik itu hobi, kebiasaan, tujuan hidup, tempat berkegiatan sehari-hari ataupun kesamaan nasib.  Bersahabat memiliki arti berbagi pengalaman yang serupa.  Lukas 12:4-7 memuat panggilan istimewa Yesus kepada para muridnya, yaitu sahabat.  Mari kita renungkan makna dibalik panggilan itu.

    Injil Lukas mencatat sebutan istimewa Yesus kepada para murid yaitu sahabatKu.  Sapaan Yesus ini menunjukkan kehangatan hubungan sekaligus konsekuensi dari kedekatan hubungan tersebut.  Konsekuensi apa?  Sebelum Yesus menyapa para murid, terjadi konflik yang dituturkan dalam Lukas 11:37-54 antara Yesus dan para Farisi beserta ahli Taurat.  Mereka begitu dendam sehingga mencari cara menjebak Yesus (Lukas 11:53-54).    Kondisi inilah yang membuat Yesus ingin memberitahu para murid bahwa ada banyak hal yang bisa terjadi gegara hubungan antara mereka, terutama yang berkaitan dengan otoritas yang bisa menekan rakyat lemah seperti para murid.  Maka Yesus memberi peringatan sekaligus pemahaman, yaitu:

    1. Takutlah akan Tuhan melebihi manusia.

    Yesus menekankan para murid untuk lebih takut kepada Tuhan karena Tuhan bisa mematikan manusia secara total: tubuh dan jiwanya.  Maknanya, mereka harus berjuang hidup dalam kebenaran Allah apapun konsekuensinya, bahkan bila harus bertaruh nyawa.  Yesus memberi pengertian bahwa manusia hanya mampu membunuh tubuh, namun tidak bisa membatasi pemikiran, meredupkan harapan dan bahkan membinasakan jiwa manusia.  Manusia itu terbatas, jadi para murid diajar untuk takut pada Yang Tak Terbatas.

    1. Tuhan memelihara orang yang mau hidup takut kepadaNya

    Hidup takut akan Tuhan membawa akibat, namun Tuhan berjanji memelihara orang yang berjuang mencari Kerajaan Allah (Matius 6:33).  Menjadi sahabat Yesus berarti berani berjuang sekaligus berani percaya kepada pemeliharaanNya.  

    Jaman yang sudah super modern ini membuat manusia diarahkan kepada materi sebagai satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup di dunia.  Terlalu banyak orang dikungkung dan dikendalikan oleh materi, bahkan rela meninggalkan kebenaran karenanya.  Namun bagi para sahabatNya, Yesus mengatakan dengan jelas: takutlah akan Tuhan lebih dari manusia.  Penguasa kehidupan di dunia ini bukanlah manusia, namun Tuhan Sang Pemilik Semesta. Mari menjadi sahabat Kristus yang memperjuangkan apa yang diperjuangkanNya, menapaki apa yang menjadi jalanNya dan mempercayai Dia sepenuhnya sehingga sebagaimana cita-cita Rasul Paulus yang mengatakan:  yang kukehendaki ialan mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya serta persekutuan dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya supaya aku memperoleh kebangkitan dari antara orang mati  (Filipi 3:10-11)  juga menjadi target dan tujuan sahabat Kristus.  Mari menjadi sahabat Kristus yang sejati.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • SAHABAT KRISTUS

    Saudaraku, persahabatan biasanya dilakukan oleh dua orang atau lebih yang memiliki kesamaan, baik itu hobi, kebiasaan, tujuan hidup, tempat berkegiatan sehari-hari ataupun kesamaan nasib.  Bersahabat memiliki arti berbagi pengalaman yang serupa.  Lukas 12:4-7 memuat panggilan istimewa Yesus kepada para murid-Nya, yaitu sahabat.  Mari kita renungkan makna dibalik panggilan itu.

    Injil Lukas mencatat sebutan istimewa Yesus kepada para murid yaitu sahabat-Ku.  Sapaan Yesus ini menunjukkan kehangatan hubungan sekaligus konsekuensi dari kedekatan hubungan tersebut.  Konsekuensi apa?  Sebelum Yesus menyapa para murid, terjadi konflik yang dituturkan dalam Lukas 11:37-54 antara Yesus dan para Farisi beserta ahli Taurat.  Mereka begitu dendam sehingga mencari cara menjebak Yesus (Lukas 11:53-54).    

    Kondisi itulah yang membuat Yesus ingin memberitahu para murid bahwa ada banyak hal yang bisa terjadi gegara hubungan antara mereka, terutama yang berkaitan dengan otoritas yang bisa menekan rakyat lemah seperti para murid.  Maka Yesus memberi peringatan sekaligus pemahaman, yaitu:

    1. Takutlah akan Tuhan melebihi manusia.

    Yesus menekankan para murid untuk lebih takut kepada Tuhan karena Tuhan bisa mematikan manusia secara total: Tubuh dan jiwanya.  Maknanya, mereka harus berjuang hidup dalam kebenaran Allah apa pun konsekuensinya, bahkan bila harus bertaruh nyawa.  

    Yesus memberi pengertian bahwa manusia hanya mampu membunuh tubuh, namun tidak bisa membatasi pemikiran, meredupkan harapan dan bahkan membinasakan jiwa manusia.  Manusia itu terbatas, jadi para murid diajar untuk takut pada Yang Tak Terbatas.

    1. Tuhan memelihara orang yang mau hidup takut kepada-Nya

    Hidup takut akan Tuhan membawa akibat, namun Tuhan berjanji memelihara orang yang berjuang mencari Kerajaan Allah (Matius 6:33).  Menjadi sahabat Yesus berarti berani berjuang sekaligus berani percaya kepada pemeliharaan-Nya.  

    Zaman yang sudah super modern ini membuat manusia diarahkan kepada materi sebagai satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup di dunia.  Terlalu banyak orang dikungkung dan dikendalikan oleh materi, bahkan rela meninggalkan kebenaran karenanya.  Namun bagi para sahabat-Nya, Yesus mengatakan dengan jelas: Takutlah akan Tuhan lebih dari manusia.  Penguasa kehidupan di dunia ini bukanlah manusia, namun Tuhan Sang Pemilik Semesta. 

    Mari menjadi sahabat Kristus yang memperjuangkan apa yang diperjuangkan-Nya, menapaki apa yang menjadi jalan-Nya dan mempercayai Dia sepenuhnya sehingga sebagaimana cita-cita Rasul Paulus yang mengatakan:  “Yang kukehendaki ialan mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya serta persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya supaya aku memperoleh kebangkitan dari antara orang mati”  (Filipi 3:10-11),  juga menjadi target dan tujuan sahabat Kristus.  Mari menjadi sahabat Kristus yang sejati.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • We See what Others do not See

    VISI. Sahabat, Pengamsal berkata bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat (Amsal 29:18). Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat visi adalah kemampuan untuk melihat pada inti persoalan, pandangan; wawasan. Dalam kehidupan rohani, orang percaya perlu punya visi.  Jika tidak, perjalanan hidup kekristenannya akan tersendat-sendat, sulit mengalami pertumbuhan rohani yang maksimal.

    Dalam komunitas orang percaya,  visi dan keinginan (cita-cita) itu jelas sangat berbeda.  Visi itu berbicara tentang sesuatu yang Tuhan taruh dalam hidup kita, karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hidup kita.  Kalau keinginan dan cita-cita itu datang dan timbul dari diri sendri, sedangkan visi diperoleh dari doa kita kepada Tuhan dan jawaban Tuhan atas ketaatan kita melakukan kehendak-Nya.  

    Maka kita harus lebih bersungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan, melatih kepekaan untuk mendengar suara Tuhan melalui persekutuan yang karib dengan-Nya, sebab  TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.  (Mazmur 25:14).

     Visi mendorong kita untuk memiliki prioritas-prioritas dan membuat pilihan-pilihan hidup yang benar;  visi mendorong kita untuk memiliki semangat dan motivasi yang lebih lagi dalam melakukan segala sesuatu.  Bisa dikatakan bahwa visi sangat menentukan arah hidup seseorang.  Karena mengerti dan memahami visi yang Tuhan taruh dalam hidupnya, rasul Paulus berkomitmen: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus  (Filipi 3:13-14).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “We See what Others do not See (Kita Melihat apa yang Orang Lain tidak Lihat)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 6:8-23 dengan penekanan pada ayat 17. Sahabat,  visi merupakan penglihatan akan apa yang terjadi, baik itu peristiwa, perbuatan atau tindakan, karya, maupun situasi atau keadaan lingkungan.  

    Di dalam Alkitab istilah visi bersifat pewahyuan. Tuhan menyatakan kehendak dan rencana-Nya, baik itu kepada individu atau pun kelompok, khususnya kepada bangsa Israel.   Tuhan menyatakan visi-Nya bisa melalui mimpi, penglihatan atau juga melalui perantaraan nabi-nabi-Nya.  Visi juga bisa diartikan pandangan rohani.  Apa yang tidak dilihat orang lain itulah yang diwahyukan Tuhan kepada kita.  Dengan kata lain kita melihat apa yang orang lain tidak lihat.

    Karena memiliki pandangan rohani, nabi Elisa dapat melihat bala tentara surgawi dengan kuda dan kereta berapi yang jumlahnya lebih banyak daripada tentara raja Aram.  Berbeda dengan pelayan Elisa yang tidak memiliki pandangan rohani  (tidak mempunyai visi yang sama), sehingga ia sangat ketakutan ketika melihat tentara Aram telah mengepung kota Dotan.  Karena itu Elisa berdoa supaya Tuhan membuka mata rohani bujangnya itu dan Tuhan pun mengabulkan doanya.  Akhirnya pelayan Elisa itu pun dapat melihat bahwa gunung itu penuh dengan tentara surga, berkuda dengan kereta berapi mengelilingi Elisa  (Ayat 17).

    Begitu pula Musa, karena memiliki visi dari Tuhan,  Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah  (Ibrani 11:24-26).  Musa mampu melihat apa yang orang lain tidak mampu lihat, ia tahu bahwa  yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal  (2 Korintus 4:18). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ibrani 11:24-26?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Punya visi saja tak cukup, kita harus punya kemauan, keberanian, dan  energi untuk menggapainya. (pg)

  • Obedience is A Struggle

    PERJUANGAN. Sahabat, perjuangan merupakan awal dari sebuah harapan, impian untuk mewujudkan sebuah hasil yang terbaik. Sesungguhnya hidup ini tak lepas dari namanya perjuangan, bahkan sejak kecil kita sudah belajar untuk berjuang dari merangkak, berjalan hingga dapat berlari. Tidak hanya itu, sejak kecil juga kita sebenarnya sudah paham tentang pentingnya keseimbangan agar tak mengalami yang namanya terjatuh dan kita selalu belajar yang namanya jatuh bangun,  baik itu sakit atau pun tidak.

    Kita sering terlena akan keberhasilan seseorang tanpa melihat perihnya perjuangan yang mereka lakukan sebelumnya. Padahal jika kita melihat lebih jauh perjalanan hidup dibalik nikmatnya kesuksesan hidup mereka dalam pandangan kita,  maka akan  ditemukan sebuah perjuangan dan usaha keras dalam mencapai kesuksesan tersebut.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Obedience is A Struggle (Ketaatan adalah Perjuangan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 5:1-27 dengan penekanan pada ayat 3 dan 14. Sahabat, Naaman adalah salah seorang tokoh di dalam Alkitab, namanya tidak asing di telinga orang percaya.  Ia sangat terkenal, berkuasa, berpengaruh dan dihormati oleh banyak orang.  Sebagai panglima raja Aram bisa dikatakan sebagai tangan kanan raja, karena itu ia sangat dikasihi oleh raja.  Naaman bukan hanya seorang jenderal, tapi juga seorang pahlawan perang yang gagah perkasa.  Kontribusinya bagi negara tak diragukan lagi.

    Meski memiliki posisi tinggi dan terpandang ada satu noda dalam hidup Naaman, yaitu penyakit kusta yang dideritanya.  Siapa pun orangnya,  dan setinggi apa pun pangkatnya jika terserang penyakit ini pasti dijauhi banyak orang;  apalagi di kalangan orang Ibrani penyakit kusta dianggap najis dan berbahaya karena dapat menular kepada orang lain.  Maka dari itu orang yang menderita sakit ini harus diasingkan dari masyarakat luas.  Tidak seorang pun yang diperbolehkan bersentuhan dengannya (Imamat 13:46).  

     
    Di rumah Naaman ada anak perempuan kecil dari Israel yang merupakan tawanan yang dibawa oleh gerombolan orang Aram saat terjadi perang, dan ia dijadikan hamba bagi istri Naaman.  Melihat tuannya sakit kusta, hamba kecil ini pun memberanikan diri menyampaikan usulan kepada istri Naaman (Ayat 3).   

    Nabi yang dimaksudkan adalah Elisa.  Sebagai anak Yahudi, ia tahu banyak tentang mukjizat-mukjizat yang dilakukan Elisa.  Ia pun bersaksi kepada majikan perempuannya tentang kedahsyatan kuasa Allah bangsa Israel yang dinyatakan melalui Elisa.  Hamba kecil ini sangat percaya jika tuannya mau datang kepada abdi Allah itu pasti akan sembuh.  

    Naaman pun tergerak hati dan mengikuti anjuran dari hamba kecil itu, lalu meminta izin kepada raja Aram untuk pergi kepada nabi Allah itu.  Ia pun pergi dengan membawa banyak persembahan (Ayat 5-b).

     
    Sahabat, setelah bertemu Elisa, abdi Allah itu, Naaman berharap beroleh kesembuhan dengan cara terhormat, misalkan melalui penumpangan tangan;  atau mungkin dia berharap kesembuhan itu langsung turun dari surga.  Namun Naaman kembali dihadapkan pada ujian kerendahan hati, karena ternyata apa yang disampaikan abdi Allah itu di luar dugaannya:   Naaman diminta mandi di sungai Yordan! (Ayat 10). Hal  itu membuat Namaan tersinggung sehingga ia pun menolak perintah Elisa (Ayat 12).   

    Ada pergumulan hebat dalam diri Naaman, antara ego, keangkuhan dan juga iman.  Namun atas desakan pegawai-pegawainya Naaman pun melakukan apa yang diperintahkan Elisa,  “Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. …” (Ayat 14-a).  Setelah tujuh kali membenamkan diri di sungai itu, mukjizat terjadi:  Naaman sembuh, bahkan pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir (Ayat 14-b).

    Sahabat, ketaatan adalah perjuangan. Berjuang untuk taat adalah bagian dari beriman. Beriman bahwa Tuhan Allah sanggup untuk melakukan lebih dari yang bisa kita pikirkan. Naaman berjuang untuk taat mandi tujuh kali di sungai Yordan. Percaya akan janji Tuhan adalah langkah awal iman, berjuang menaati perintah-Nya adalah wujud nyata iman. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Iman seorang hamba kecil sanggup membawa dampak besar bagi orang lain! (pg).

  • More than Enough

    CUKUP. Sahabat, cukup bukan berbicara soal berapa jumlahnya. Cukup bukan soal kepuasan hati. Cukup juga bukan hanya diucapkan oleh orang yang bisa bersyukur. Lalu apa itu cukup?

    Alkisah terdapat seorang petani di sebuah desa. Dia menemukan sebuah mata air ajaib yang bisa mengeluarkan kepingan uang emas dalam jumlah yang tak terbatas. Tentu saja si petani akan menjadi kaya raya karena mata air uang emas itu hanya akan berhenti apabila dia mengucapkan kata cukup.

    Uang emas pun mulai berjatuhan tepat di hadapannya. Sang petani segera menampung harta karun tersebut dengan beberapa ember. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan di sana. Uang emas masih terus berkucuran deras. Setelah ember-ember penuh, dia lalu menampung dalam karung-karung, tempayan-tempayan dan lain-lain.

    Belum puas dengan uang emas yang sudah memenuhi rumahnya, dia pun mulai menggali lubang besar untuk menimbun emas tersebut. Sementara air uang emas itu terus mengalir. Setelah itu dia menampung kembali uang hingga lubang tersebut penuh. Sayangnya, si petani mati tertimbun uang-uang emasnya karena mata air ajaib itu terus dibiarkan mengalir. Dia mati karena ketamakan dan kerakusannya yang membuatnya lupa mengatakan kata cukup.

    Sahabat, barangkali kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia  adalah kata CUKUP. Lalu kapan kita bisa berkata cukup?  Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. Cukup jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandek dan berpuas diri. Sesungguhnya mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan KERAKUSAN dan KESERAKAHAN  membuat kita sulit bahkan tidak bisa berkata CUKUP. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita sendiri hari ini dan di sini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “More than Enough (Lebih dari Cukup)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 4:42-44 dengan penekanan pada ayat 43. Sahabat, bencana kekeringan melanda seluruh negeri, tak terkecuali Israel. Seseorang dari Baal-Salisa membawa dua puluh roti jelai dan gandum baru kepada Elisa. Tergerak oleh belas kasihan kepada serombongan nabi berjumlah seratus orang yang kelaparan, Nabi Elisa menyuruh pelayannya untuk membagi-bagikannya. Pelayan Elisa ragu dan mempertanyakan hal yang mustahil ini: “Bagaimanakah  aku dapat menghidangkan ini  di depan seratus orang?” (Ayat 43-a). “Tidak mungkin mencukupi!” katanya lebih lanjut.

    Perkataan pelayan itu tidak memengaruhi keputusan Nabi Elisa. Elisa tetap konsisten berkata: “Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan,  sebab beginilah firman Tuhan: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya” (Ayat 43-b). Sungguh, ketika pelayan Elisa menghidangkan roti itu kepada para nabi itu, mereka semua memakannya, dan benar-benar ada sisanya.

    Bukankah dalam kehidupan ini Tuhan pernah membawa diri kita pada situasi yang penuh ketidakmungkinan? Ketika kita melihat diri kita yang demikian kecil, lemah, dan sangat terbatas, acapkali kenyataan itu membuat diri kita hanya melihat ketidakmungkinan saja. Hal itulah yang dipikirkan pelayan Elisa ketika diminta untuk menghidangkan dua puluh roti jelai  kepada seratus nabi yang kelaparan itu. Tidak mungkin cukup! 

    Sahabat, namun ketika ia bersedia berserah dan percaya kepada Tuhan dan firman-Nya, hari itu ia menyaksikan apa yang tidak mungkin itu menjadi mungkin. Apa yang menurutnya tidak cukup, dibuat oleh Tuhan menjadi LEBIH DARI CUKUP. Dalam situasi yang seakan tidak ada lagi jalan, kita hanya perlu keberanian untuk berserah, percaya, dan taat agar kita dapat melihat Tuhan bekerja menyelesaikan semuanya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang cukup?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mau memakai kita yang terbatas untuk menyatakan kuasa-Nya yang tak terbatas. (pg).