Category: Sejenak Merenung

  • G A R A M

    Saudaraku, khotbah yang menyinggung garam dunia biasanya dipasangkan dengan terang dunia, karena ayat-ayat tentang dua hal tersebut berurutan. Di Matius 5:13 Tuhan Yesus menyebut garam dan di ayat 14 menyebut tentang terang. Intinya sama, supaya kita bisa memberikan makna dan pengaruh ke sekitar kita.

    Kota Sodom, Gomora, Adma dan Zeboim ditunggangbalikkan TUHAN dalam murka amarah-Nya, seluruh tanahnya hangus oleh belerang dan garam, tidak bisa menumbuhkan apa-apa dan tidak ada tumbuh-tumbuhan apa pun (Ulangan 29:23). Tetap demikian kondisinya, dikenal sebagai Laut Mati (Dead Sea), hingga hari ini lebih dari 3.000 tahun setelah kejadian. Karena tingginya kadar garam maka tidak ada kehidupan, tetapi justru Tuhan Yesus menghendaki kita menjadi garam dunia, yang bisa larut dan memberikan pengaruh. 

    Saudaraku, tanggal 27 Oktober 2022 Presiden Jokowi menandatangani Perpres RI No. 126 tentang pergaraman nasional. Definisi garam ternyata cukup panjang, bukan sekadar bubuk putih yang kita lihat dan pakai sehari-hari di dapur. Garam adalah senyawa kimia yang komponen utamanya berupa Natrium Klorida dan dapat mengandung unsur lain, seperti Magnesium, Kalsium, Besi, dan Kalium dengan bahan tambahan atau tanpa bahan tambahan Iodium. Perpres tersebut menyebutkan ada 13 (tiga belas) macam garam yang dibutuhkan secara nasional, yakni:

    1. Garam konsumsi; 2. Garam untuk industri aneka pangan; 3. Garam untuk industri penyamakan kulit; 4. Garam untuk water treatment; 5. Garam untuk industri pakan ternak; 6. Garam untuk industri pengasinan ikan; 7. Garam untuk peternakan dan perkebunan; 8. Garam untuk industri sabun dan deterjen; 9. Garam untuk industri tekstil; 10. Garam untuk pengeboran minyak; 11. Garam untuk industri farmasi; 12. Garam untuk kosmetik; dan 13.Garam untuk industri kimia atau Chlor Alkali.

    Ternyata ada berbagai jenis garam, dan masing-masing garam ada maksud dan penggunaannya. Implementasinya dalam renungan kita pada hari ini, garam dunia yang Tuhan Yesus maksudkan bukan dalam artian umum atau asalan saja, tapi dapat menjadi garam pada setiap aspek kehidupan. Garam akan larut namun tidak kelihatan, tapi bisa memberikan rasa asin yang menyedapkan, bisa memberikan kesaksian tentang kasih setia Tuhan yang tidak berkesudahan. Sering diungkapkan dengan: Larut Tapi Tidak Hanyut.

    Kita bekerja dari rumah, atau bekerja di industri pakan ternak, peternakan dan perkebunan, juga sebagai nelayan yang mengasinkan ikan, kerja di industri-industri tekstil, sabun, farmasi, kosmetik, industri kimia, water treatment, atau bahkan di offshore (laut dalam) mengebor minyak, semuanya,  di mana kita telah ditempatkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, Tuhan Yesus meminta kita untuk menjadi garam di sekitar kita. 

    Saudaraku, sesungguhnya setiap orang percaya yang menjadi warga Kerajaan Allah memiliki identitas yang disimbolkan seperti garam. Garam berfungsi untuk memberi rasa kepada makanan dan atau dipakai untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat rusak atau membusuk. Ketika garam tidak berasa asin dan tidak murni, maka selain tidak berguna, garam itu akan dibuang.

    Kita diingatkan agar jangan hanya berkeluh terhadap berbagai kerusakan dan penyimpangan moral dalam masyarakat. Kita juga harus menjalankan fungsi kita sebagai garam agar dunia tidak semakin rusak dan menyimpang.

    Saudaraku, kita harus sadar, jika cara hidup kita sama persis dengan dunia berdosa, maka kehadiran kita tidak terasa alias tawar. Karena itu, mari kita mewujudkan identitas kita melalui menjalankan fungsi garam. 

    Untuk itu mari kita memberikan keteladanan hidup yang baik sebagaimana Yesus telah contohkan melalui sikap, karakter, pelayanan, atau nilai-nilai hidup-Nya. Kita juga bisa menjalankan dan memperjuangkan kebenaran, keadilan, kejujuran, dan kekudusan hidup kepada dunia. Entah melalui dunia pendidikan, politik, usaha, atau keluarga. Tujuan kita melakukan semua itu hanya satu, agar nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup dan kehidupan kita. (Surhert).

  • LEMBU BETINA MERAH

    Saudaraku, Detik.com dan media online lainnya mengupload berita “Ritual Sapi Merah Israel yang Meresahkan Dunia”. Beritanya orang Yahudi sudah mendapatkan sapi merah yang mulus yang siap akan dikorbankan, setelah itu orang Yahudi akan membangun kembali Bait Suci yang sudah dihancurkan pasukan Jenderal Titus di tahun 70 M. 

    Hal yang meresahkan, lokasi pembangunan Bait Suci itu ada di Dome of Rock Yerusalem, yang juga menjadi tempat sakral bagi warga Muslim. Dengan kata lain akan terjadi perang dahsyat di Israel, bahkan disebut hari kiamat akan tiba.

    Saudara,  bacaan tentang lembu betina merah hanya aku temukan  satu-satunya di kitab Bilangan 19:2-3:  “Inilah ketetapan hukum yang diperintahkan TUHAN dengan berfirman: Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu seekor lembu betina merah yang tidak bercela, yang tidak ada cacatnya dan yang belum pernah kena kuk. Dan haruslah kamu memberikannya kepada imam Eleazar, maka lembu itu harus dibawa ke luar tempat perkemahan, lalu disembelih di depan imam.” 

    Raja Salomo saat meresmikan Bait Suci pertama di Yerusalem tahun 966 SM tidak mempersembahkan lembu betina  merah dalam pengorbanan, melainkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya. (2 Tawarikh 5:6). Bait Suci Salomo dihancurkan oleh pasukan Nebukadnezar pada tahun 586 SM dan seluruh perkakas dari emas dan perak Bait Suci dibawa ke Babilonia.

    Sedangkan Bait Suci kedua dibangun setelah orang-orang Yehuda yang ditawan Babilonia dan Persia boleh pulang ke Israel lagi, pembangunan mulai tahun 535 SM dan selesai pada 12 Maret 515 SM,  seperti disebutkan di kitab Ezra 6:15-17.  Saat penahbisan orang Yehuda mempersembahkan ratusan lembu jantan, domba jantan, anak domba, kambing jantan sebagai korban penghapus dosa bagi seluruh orang Israel, tapi tidak mempersembahkan lembu betina merah.

    Penguasa tanah Israel saling berganti, ketika Herodes Agung merebut kota Yerusalem pada tahun 37 SM, sebagian bangunan Bait Suci kedua terbakar, dan pada tahun ke-18 pemerintahannya (20-19 SM), Herodes Agung melakukan pembangunan kembali Bait Suci. Pekerjaan itu dilakukan oleh para imam, dan tidak ada catatan tentang saat penahbisannya. Beberapa puluh tahun kemudian Tuhan Yesus mengendarai keledai diarak penduduk masuk kota Yerusalem dan masuk Bait Suci kedua ini, dan kelak Bait Suci kedua akan dihancurkan pasukan Jenderal Titus di tahun 70M.

    Nah, Bait Suci ketiga belum pernah dibangun, namun merupakan penglihatan Nabi Yehezkiel antara tahun 593-571 SM, dicatat di Kitab Yehezkiel pasal 40-47, khususnya di pasal 47. 

    Untuk itu aku ajak Saudara untuk merenungkan kitab Bilangan 19:1-22 secara utuh. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul Bilangan 19: Air pentahiran. Saudaraku, mengapa hukum penahiran dipaparkan untuk umat Israel yang sedang dalam perjalanan di padang gurun dan akan kelak berperang masuk ke tanah perjanjian? Dalam suasana berperang, tidak terhindari bersentuhan dengan mayat orang yang terbunuh. 

    Aturan Taurat jelas dan ketat, orang yang tersentuh dengan mayat akan menjadi najis tujuh hari lamanya (Ayat 11), dan harus tinggal di luar perkemahan. Bahkan kenajisan itu menulari benda dan orang di sekitarnya (Ayat 14-15). Tanpa penahiran, orang yang najis harus mengalami ekskomunikasi (pengucilan)  seterusnya (Ayat 13 dan 20).

    Dalam kasus-kasus kenajisan yang dicatat di kitab Imamat, salah satu cara penahirannya ialah dengan memberikan persembahan kurban (Imamat 14:10 dst.; 15:13 dst, 28 dst). Tentu biayanya mahal dan merepotkan. Namun dengan cara yang diaturkan sekarang kerepotan dan biayanya bisa ditekan. Seekor lembu yang khusus dibakar sampai habis, abunya dipakai untuk membuat air penahiran (Ayat  2-10). Air penahiran itu bisa dibuat kapanpun sesuai dengan kebutuhan.

    Peraturan yang Tuhan buat dan berlakukan untuk umat Tuhan bukan untuk mempersulit mereka, melainkan untuk memastikan bahwa mereka selalu dalam keadaan siap sebagai umat, bahkan pasukan Tuhan. Ingat konteksnya ialah perjalanan padang gurun dan peperangan. Oleh karena itu dibuat prosedur yang lebih mudah dengan tetap mempertahankan kesakralan umat Tuhan.

    Saudaraku, Ibrani 9:13-14 membandingkan darah kurban domba jantan atau lembu jantan dan abu lembu muda yang berfungsi menahirkan orang yang najis secara lahiriah dengan darah Kristus yang menyucikan secara rohaniah. 

    Sesungguhnya apa saja yang menajiskan secara rohani kehidupan kita masa kini? Bukan mayat manusia secara harfiah, melainkan kehidupan yang bagaikan mayat seperti yang dicatat dalam Efesus 2:1-3. Adakah hidup kita dikendalikan oleh hawa nafsu, oleh bujukan dunia ini, dan oleh tipu daya Iblis? Itulah yang menajiskan kita. Untuk itu diperlukan darah Kristus untuk menguduskan kita. (Surhert).

  • SEPIRING SAYUR

    Saudaraku, dalam buku My Country My People (吾國與吾民) yang ditulis oleh Lin Yutang pada tahun 1935, salah satunya mengetengahkan cara duduk saat ada perjamuan makan. Meja makan bentuk bundar, tuan rumah atau bos duduk menghadap pintu masuk. Tamu kehormatan pertama duduk di sebelah kanan bos, tamu kedua duduk di sebelah kiri, persis di depannya harus duduk manajer tertinggi dan wakilnya duduk di sebelah kanannya.

    Saat membaca buku tersebut aku berpikir apakah benar ada. Eh ternyata saat menghadiri jamuan makan di Qingdao sekitar 15 tahun lalu Pimpinan suatu pabrik besar mengatur kami berdua dari Indonesia sesuai aturan di atas. Aku sampaikan pengalaman tersebut ke Pimpinan: “Wah kami duduknya seperti di zaman Shu Han (221 M), duduk di Tengah adalah Kaisar Liu Bei, di kanannya Guan Yu dan di kirinya Zhang Fei.” Pimpinan tertawa, kemudian berkata: “Ya betul, rupanya tamunya juga memahami aturan duduk dalam jamuan sejak Samkok dulu.”

    Dua hari kemudian Pemimpin mengundang segenap agennya untuk dinner party, satu meja bisa 16 orang. Ada 6 meja, posisi duduk segenap tamu juga diatur sesuai tata krama. Di meja kami 16 orang ternyata bisa minum bir hingga 32 botol dan red wine 8 botol. Tidak ada yang mabuk, tiap gelas kosong pasti dituang oleh pelayan. Jika tidak mau minum bir atau wine lagi, maka kita menuangkan kuah sup ke dalam gelas, dan pelayan tahu bahwa tamu tidak ingin minum wine lagi. Di sepanjang jamuan dengan masakan lebih dari 12 macam per meja segenap tamu bersukaria, semua merasa dekat, satu semangat untuk menjadi dealer yang baik, tidak ada rasa persaingan meskipun lokasi usahanya mungkin berdekatan di satu kota.

    Jadi saat aku membaca Amsal 15:17: “Lebih baik SEPIRING SAYUR dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian”. Aku merasa sepertinya kok aneh karena saat ada jamuan makan mestinya ada suasana kasih dan bukan kebencian. Tapi setelah membaca kisah di 1 Samuel 20: 24-34 barulah aku  paham. 

    Raja Saul yang sudah dengki kepada Daud mengundang segenap panglimanya untuk jamuan makan pada saat tanggal 1 bulan baru, tapi tempat duduk Daud kosong, Saul berpikir mungkin Daud sedang tidak tahir atau sakit. 

    Jamuan kedua esok harinya ternyata Daud tidak hadir juga, dan Saul bertanya kepada anaknya, Yonatan: “Kemana perginya Daud?”. Yonatan menjawab bahwa Daud minta izin untuk pulang ke Bethlehem. Lalu Saul pun marah besar. “Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu?” 

    Yonatan menjawab lagi, tapi Saul bahkan melemparkan tombaknya ke Yonatan, tidak kena, dan Yonatan pergi dari acara dinner dengan marah. Alkitab tidak mencatat suasana dinner selanjutnya, apakah Saul membanting piring dan panglima-panglima lainnya langsung bubaran. Jadi Saul meskipun mengadakan dinner dengan menu mewah sebenarnya ingin membunuh Daud. Hatinya dipenuhi dengan kebencian.

    Kisah lain di Alkitab (2 Samuel 17) saat Daud mengungsi ke Mahanaim menghindari Absalom yang memberontak, ada seorang sepuh yang kaya bernama Barzilai segera melayani rombongan Daud dan rakyatnya, meskipun ini mendadak, Barzilai dan rekan-rekannya sekuat tenaga menyiapkan tempat tidur, berbagai bahan makanan lengkap dengan alat-alat dapur untuk melayani rombongan yang lelah, haus dan kelaparan karena melintasi padang gurun. Dalam rombongan pengungsian Daud nampaknya istrinya Batsyeba dan Salomo anaknya ikut serta dan menikmati layanan yang tulus dari Barzilai. 

    Saudaraku, saat Daud hendak meninggal, juga mengingatkan Salomo untuk tetap berbuat baik kepada keluarga Barzilai, dan mungkin Daud juga bercerita bagaimana dia dulu pernah diperlakukan oleh Saul yang tidak tulus dalam mengadakan jamuan makan.

    Itulah mengapa kemudian Salomo menuliskan  Amsal 16:15-33, khususnya ayat 17.  Salomo mengajarkan kepada kita untuk memiliki hikmat dalam hal kelimpahan materi atau harta kekayaan yang kita punyai, bukan berfokus pada jumlah materi, melainkan pada sikap hati kita. Meskipun sederhana, memiliki sikap hati yang takut akan Tuhan jauh lebih baik dibandingkan memiliki banyak harta tetapi disertai kecemasan dan kebencian (Ayat 16-17). Orang yang bijak di dalam Tuhan dipenuhi kesabaran, kejujuran, ketekunan, dan senantiasa menggunakan akal budinya untuk melakukan kehendak Allah (Ayat 18-24). Hatinya mengarah kepada Allah dan kebenaran-Nya (Ayat 25-33).

    Pengejaran akan materi dan kesuksesan hidup tanpa disadari dapat mengikis kedamaian dalam hidup kita. Tidak heran, kita SELALU MERASA KURANG  dalam MERAIH PENCAPAIAN HIDUP  di dunia ini. Rasa cemas, takut, dan khawatir perlahan-lahan mengalahkan kedamaian di dalam hati dan hidup kita. Kita mulai khawatir saat hasil pekerjaan kita tidak memenuhi standar kesuksesan hidup di dunia ini. Kita takut direndahkan, kita takut menjadi miskin, dan kita takut ditolak oleh dunia ini. Semua itu tanpa sadar membuat kita kehilangan kedamaian, bahkan tak menutup kemungkinan kita kehilangan kemuliaan Allah.

    Saudaraku, kedamaian hidup tidak dapat dibeli dengan harta kekayaan, berapa pun jumlahnya! Kedamaian sejati hanya terletak pada hati yang takut akan Tuhan. Percayalah dan takutlah akan Allah, Dia akan memenuhi hatimu dan hidupmu! (Surhert).

  • Favored by God

    LAYAK DAN TIDAK LAYAK. Sahabat, hal kelayakan adalah satu aspek yang sangat penting dari ajaran Perjanjian Baru. Kata yang diterjemahkan dengan kata “layak” ini muncul sebanyak 41 kali di dalam Perjanjian Baru. Ini menunjukkan betapa pentingnya kata tersebut.

    Mari kita simak Sabda Yesus berikut: Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu (Matius 10:12-13)

    Yesus berkata, “Jika mereka layak menerimanya.” Apa sebenarnya makna kata layak itu? Kata itu pada dasarnya berarti menimbang sesuatu. Lalu dari makna dasar tersebut, berkembanglah arti membandingkan nilai dari dua hal. Jika nilainya dipandang sebanding, maka kita menyatakan bahwa sesuatu itu layak. Ini berarti nilai dari sesuatu yang sedang kita amati itu setara dengan patokan yang ada. 

    Sebagai contoh, di Yohanes 1:27,  Yohanes Pembaptis berkata, “Membuka tali kasut-Nya (Yesus) pun aku tidak layak.” Artinya, Yesus sungguh agung dan aku sedemikian kecilnya sehingga aku ini tidak layak baginya. Di sini terdapat suatu perbedaan nilai. 

    Dengan cara yang sama, di Matius 8:8, sang perwira berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku.” Di sini, kita dapat melihat hubungan antara kata berharga (worth) dan layak (worthy). Jadi arti dari kalimat itu: Jika kita  tidak menyadari betapa berharganya Yesus, maka kita tidak layak bagi-Nya.


    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “Favored by God (Dilayakkan oleh Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 3:1-10. Sahabat, seseorang bisa saja merasa dirinya lebih baik daripada orang lain dalam melayani Tuhan. Orang demikian, sebaiknya, harus merenungkan kembali pandangannya itu. Tuhan, yang kudus, tidak akan bisa dilayani oleh manusia pendosa. Itulah makna penglihatan keempat yang didapatkan Zakharia.

    Yosua, imam besar bait Allah, tampak berdiri di hadapan Malaikat Tuhan (Ayat 1). Sementara itu, Iblis di sampingnya sudah siap untuk mendakwa karena dianggap tidak layak dalam melayani. Akan tetapi, Malaikat Tuhan menghardik Iblis agar tidak mengganggu Yosua (Ayat 2).

    Sahabat, Yosua terlihat mengenakan pakaian yang kotor saat berdiri di hadapan Malaikat (Ayat 3). Karena itu, Malaikat Tuhan menyuruh orang-orang yang melayaninya untuk menanggalkan baju kotor yang dipakainya (Ayat 4). Artinya, Allah telah menyucikan Yosua dari segala kesalahannya. Sekarang, Yosua sudah berpakaian pesta dengan serban tahir di kepalanya (Ayat 5).

    Allah memberi jaminan kepada Yosua (Ayat 6). Apabila ia hidup seturut petunjuk Allah dan melakukan tugas yang diberikan, Yosua akan masuk ke dalam deretan orang yang melayani Allah di bait-Nya (Ayat 7). Tidak sampai di situ, Allah memberikan janji akan mendatangkan Sang Tunas (Ayat 8). Dialah Yesus Kristus yang disimbolkan sebagai permata bermata tujuh (ayat 9). Tuhan akan menghapuskan kesalahan negeri itu dalam sehari. Itu tidak berlaku hanya bagi orang-orang Yehuda, tetapi juga kepada segenap manusia.

    Sahabat, keselamatan dari Yesus mengubah segenap upacara ibadah mereka menjadi sukacita (Ayat 10). Suasana itu dilukiskan seperti sedang duduk-duduk di bawah pohon anggur dan ara.

    Sekarang, orang bebas datang kepada Allah tanpa perlu meragukan statusnya. Asal percaya kepada Yesus, kita adalah anak-Nya. Kita sudah selamat dari tuntutan hukuman dosa. Darah Yesus MELAYAKKAN  kita datang kepada Allah.

    Sahabat, selanjutnya, kita dipanggil untuk melayani Dia. Itu bukan karena kita mampu, tetapi karena DILAYAKKAN OLEH TUHAN. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hanya karena anugerah Tuhan, kita layak melayani-Nya. (pg).

  • Be Silent Before God

    BERDIAM DIRI DI HADAPAN TUHAN. Sahabat, berdiam diri di hadapan Tuhan akan membuat kita lebih mampu mendengarkan suara Allah. Pendengaran yang baik itu akan membuat kita sungguh mampu mengetahui kehendak-Nya. Persoalan manusia adalah begitu disibukkan dengan banyak suara sehingga tidak mampu lagi mendengarkan suara Allah. dan akhirnya terus bertanya-tanya dalam hatinya: ”Apa yang menjadi panggilan hidup saya?” 

    Dengan berdiam diri di hadapan Tuhan, kita bisa memercayai-Nya dengan segenap hati. Dia tak perlu teriakan kita  supaya Dia bertindak membereskan kekacauan di bumi. Dia hanya butuh hati kita dan iman kita untuk menggerakkan surga terbuka. 

    Saat kita datang dengan segenap hati kepada Tuhan, Dia akan menyatakan diri-Nya dan hadirat-Nya akan kita rasakan. Meskipun kondisi dunia saat ini seperti api yang menghaguskan dan menghancurkan, tapi mereka yang hidup di dalam-Nya  tidak akan terbakar. Tuhan itu ibarat aliran air hidup yang menyegarkan. Kita akan mengalami kelegaan di dalam Dia kalau kita datang, berseru dan fokus kepada hadirat-Nya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “Be Silent Before God (Berdiam Diri di Hadapan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 2:6-13 dengan penekanan pada ayat 13. Sahabat, ayat ke-13 dari bacaan kita pada hari ini mengajak kita untuk berdiam diri di hadapan TUHAN.  Pertanyaan kita sekarang adalah mengapa Zakharia mengajarkan kita untuk berdiam diri di hadapan Tuhan? Ada beberapa alasan mengapa kita harus berdiam diri di hadapan TUHAN, yakni: 

    Pertama, untuk mengikuti teladan Kristus. Misalnya seperti dalam Matius 14:23, “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ”. Markus pun mencatat hal senada, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35)

    Kedua, untuk mendengarkan suara Tuhan seperti yang dilakukan oleh Nabi Elia kala bertemu dengan Tuhan.Dalam kitab Habakuk 2:1 dituliskan juga hal serupa, “… aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.” 

    Ketiga, sebagai ekspresi penyembahan kita kepada Tuhan. Seperti yang tertulis: “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat….” (Zefanya 1:7). 

    Keempat, sebagai ekspresi iman kepada Tuhan. Pemazmur menyatakannya sebagai berikut: “Hanya dekat Allah saja aku tenang dari pada-Nyalah keselamatanku” (Mazmur 62:2). 

    Kelima, untuk mencari keselamatan dan pertolongan dari Tuhan. Seperti yang tertulis: “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN” (Ratapan 3:25-26). 

    Keenam, untuk memulihkan kekuatan jasmani dan rohani. Seperti yang tertulis: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian dan beristirahatlah seketika!” (Markus 6:31). 

    Ketujuh, untuk belajar mengontrol diri. Seperti yang tertulis: “Jikalau ada seorang menanggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya” (Yakobus 1:26). 

    Sahabat, karena itu, marilah kita berdiam diri di hadapan TUHAN sehingga kita dengar-dengaran panggilan suara-Nya sehingga kita dapat semakin hidup sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita menjadi orang percaya hanya karena Tuhan telah memanggil. (pg).

  • OJO KESUSU

    Saudaraku, rasul Paulus menulis surat kepada Timotius  pada musim gugur, September-Desember tahun 58 M: “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang …. tidak mempedulikan agama … tidak dapat mengekang diri, garang … suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu….” (2 Timotius 3:1-4)

    Di tahun-tahun belakangan ini ternyata ada cukup  banyak manusia yang tabiatnya sudah disebutkan Paulus hampir 2000 tahun lalu, khususnya mengenai TIDAK BERPIKIR PANJANG dan BERLAGAK TAHU.  Dalam percakapan sehari-hari sering dikatakan: Orang-orang yang otaknya sumbu  pendek, seperti mercon, saat dinyalakan atau disumet dengan api dengan saat bunyi dor ternyata sangat singkat.

    Pada zaman Raja Daud ada seorang anak Imam Zadok yang bernama Ahimaas, terkenal jago lari, tapi sayang otaknya bersumbu pendek. Suatu ketika terjadi pemberontakan Absalom dan kepala Absalom yang berambut panjang kecantol di jalinan dahan-dahan pohon Tarbantin yang besar. Segera tentara Yehuda mengepungnya dan panglima Yoab membunuhnya (2 Samuel 18:19-33). 

    Ahimaas ada di situ dan melihat peristiwa ini, lalu dia segera minta izin ke Yoab untuk berlari ke Raja Daud yang ada di garis belakang untuk mengabarkan breaking news. Yoab melarang Ahimaas menyampaikan kabar terbunuhnya Absalom anak Daud dan menyuruh seorang Etiopia menyampaikan kabar ini. Tapi Ahimaas tetap meminta agar dia yang menyampaikan kabar, tetap dilarang, tapi nekat berlari melintasi jalan lain hingga bisa lebih cepat tiba di tempat Daud daripada si orang Etiopia.

    Benarlah, Ahimaas tiba di hadapan Daud dan ketika ditanya apa yang terjadi terhadap Absalom, Ahimaas tidak punya jawaban yang tepat di otaknya, dan menjawab: “Aku melihat keributan yang besar, ketika Yoab menyuruh pergi hamba raja, hambamu ini, tetapi aku tidak tahu apa itu.” Daud tentu jengkel dengan jawaban yang tidak memberikan informasi ini, kemudian berkata: “Pergilah ke samping, berdirilah di sini.” Ahimaas pergi ke samping dan tinggal berdiri, bengong, hingga si orang Etiopia datang dan menyampaikan kabar secara lengkap.

    Itulah Ahimaas, tidak memiliki data dan tidak memahami apa yang dilihatnya, sudah cepat-cepat berlari menyampaikan kabar berita yang ternyata dianggap tidak berharga, seperti kita melihat siaran di Tiktok bilang breaking news ada gempa tapi tidak menunjukkan lokasi tempatnya, bahkan gambar-gambar gempa di Palu pada September 1918 dimunculkan, sehingga gempa yang disebut breaking news ini akan diikuti dengan tsunami. Tujuannya ya hanya memantik kepanikan bagi orang yang sumbunya pendek dan klik follow akunnya.

    Saudaraku, berpikir lebih jauh dan bisa mengambil kesimpulan secara cepat memang boleh, bahkan diajarkan oleh Edward Charles Francis Publius de Bono atau Edward de Bono, seorang dokter dari Malta yang mencetuskan istilah BERPIKIR LATERAL,  dan menulis banyak buku tentang berpikir. Dia terutama mengajarkan sebelum kita mengambil suatu keputusan hendaknya dipikirkan dahulu mengapa suatu kejadian timbul, dan ini apakah mempengaruhi atau dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti ekonomi, sosial, politik, hingga aspek budaya. 

    Gampangnya, kalau kita melihat orang ikutan demo di depan gedung balaikota, mesti bisa mengenali siapa yang demo, berapa orang yang sebenarnya menjadi inti pendemo, kenapa demo dan maunya apa, berapa orang yang hanya ikutan dan hanya menerima nasi bungkus di belakang, dan sebagainya. Dengan mengenali situasi ini maka dapat mengambil keputusan yang benar.

    Bagi kalangan Pengurus Gereja juga sekiranya dapat berpikir lebih jauh bila hendak membuat suatu program, bahkan mesti banyak menggumulkannya dalam doa apakah  sesuai dengan kehendak Tuhan. Misalnya di sekitar gereja banyak anak-anak kecil yang nampak kurang gizi, lalu kita cepat-cepat menggalang dana untuk bantuan susu dan kedelai sebulan sekali. Yang menerima nampak bahagia, juga bagian diakonia seakan-akan menjalankan misi Tuhan, terlebih lagi bila yang antri susu mencapai lebih 100 orang. Kalau ini dilakukan sepanjang tahun, ya habislah uang gereja, sementara yang butuh susu semakin hari semakin banyak karena datang dari kecamatan lain. 

    Jadi ojo kesusu (jangan terburu-buru).  Berpikirlah lebih panjang lagi bila hendak melakukan sesuatu, karena Tuhan sebenarnya sudah memberikan kita kemampuan untuk itu. Jadi jangan menyia-nyiakan berkat anugerah Tuhan yang ada di dalam otak kita, yakni CARA BERPIKIR. (Surhert).

  • PERANG DI LAUT MERAH

    Saudaraku, setiap hari kita membaca berita perang di Gaza, bahkan kini merambat di sepanjang Terusan Suez, Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Kalau kurang paham lokasinya silakan lihat di Google Maps. Perangnya jauh ada di sana, setidaknya 7-8 jam penerbangan dari Jakarta, tapi dampaknya berakibat buruk ke perekonomian Indonesia.

    Indonesia ternyata mengimpor banyak komoditas dan barang dari Eropa dan kapal-kapal kargonya melewati Terusan Suez. Beberapa komoditas impor utama Indonesia sesuai yang ada di website Kemenperin, antara lain: Tepung terigu, kedelai, BBM, garam, jagung, amonia bahan baku pembuatan pupuk, besi dan baja, alumina yakni bahan pembuatan aluminium, tembakau, kendaraan bermotor, juga barang-barang mewah yang kuantitasnya kecil tapi nilainya sangat besar. 

    Jadi mari sadarlah, jika kita makan roti yang dijual di toko roti sebenarnya gandumnya diimpor dari Ukraina, panci dan wajan penggorengan pakai alumina dari Rusia atau India, juga BBM mobil merupakan barang impor. 

    Nah, kapal-kapal kargo dari kawasan Eropa Barat ke Asia:  Tiongkok, Jepang, Singapura,  sebelum perang Gaza bulan Oktober 2023 semuanya lewat Terusan Suez, Laut Merah, Selat Bab al-Mandab lalu ke Indian Ocean, dan tiba di Singapura sekitar 30-35 hari dari pelabuhan Rotterdam. 

    Masalahnya sekarang ada ancaman dari kelompok di Yaman yang menembakkan torpedo ke kapal-kapal yang lewat di Laut Merah, dan benar-benar ada beberapa kapal kargo yang kena, meski ada patroli dari kapal AL Amerika dan Inggris yang mencoba mengamankan lokasi.

    Akibatnya pengiriman kargo utama dunia tidak berani ambil risiko lewat Terusan Suez, namun memilih lewat Tanjung Harapan Afrika Selatan, sesuai rute yang dilewati Marcopolo ke Asia tahun 1295, 730 tahun silam. 

    Nah jarak navigasi kapal bertambah, dari Shanghai ke Rotterdam nomalnya 33 hari / ±12.500nm (nautical mile) menjadi sedikitnya 45 hari / ±18.500nm karena lewat Afrika Selatan. 1nm = 1,852 km, jadi ada tambahan jarak ±6.000nm atau 11.110 km lebih. Jika kapal kargo besar berlayar dengan kecepatan 24 knot/jam membutuhkan 225 ton bahan bakar per hari. Jadi jika ada tambahan 12-15 hari pelayaran karena lewat Afrika Selatan, pasti BBM-nya akan perlu tambahan ± 3.300 ton, biaya kapal naik.

    Dampak ke ekonomi Indonesia akibat impor yang ongkos kapalnya naik, ya kenaikan ini akan dibebankan ke harga jual. Jadi kalau sebelumnya Rp 14.000 bisa beli 2 roti Gambang, maka dengan Rp 14.000 hari ini hanya dapat 1,5 roti, atau tetap 2 roti tapi panjangnya lebih pendek 3 cm. Sementara pendapatan kita tetap bahkan berkurang, tapi harga barang-barang dan makanan naik, jadi konsumsi akan turun.  Entah kalau dapat bagian duit korupsi Rp 271 T, ya harga mau naik berapa pun tetap bisa membeli barang-barang mewah.

    Saudaraku, pelan-pelan uang kita berkurang terutama sejak makin gencarnya perang di Gaza. Ada cukup banyak hamba Tuhan kalau doa syafaat hanya menyebutkan kiranya Tuhan menolong jemaat yang mengalami pergumulan dampak ekonomi, tapi pergumulan karena apa belum pernah dijelaskan. Mungkin belum pernah kita berdoa supaya perang di Gaza dan Ukraina segera berhenti, ada gencatan senjata, situasi keamanan pulih kembali, rakyat di sana bisa membangun kembali, dan jalur pelayaran perdagangan bisa normal kembali. 

    Dalam kondisi perang yang paling diuntungkan yakni hanya beberapa perusahaan penghasil senjata yang memasok senjata ke Gaza dan Ukraina, sementara ada ratusan ribu rakyat di lokasi perang sangat menderita, dan lebih jauh lagi jutaan rakyat di dunia, termasuk di Indonesia yang 270 juta jiwa juga kena dampak kenaikan harga.

    Saudaraku, coba kita simak kitab Yeremia 29:7: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” 

    Bacaan kita di atas mengajak kita melakukan  dua hal. Pertama: Usahakanlah kesejahteraan kota.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  mengusahakan mengandung arti: Mengerjakan sesuatu; mengikhtiarkan (berpikir dalam-dalam untuk mencari solusi); berusaha sekeras-kerasnya dalam melakukan sesuatu dan membuat dan menciptakan sesuatu. Keempat elemen yang tercakup di dalam kata “mengusahakan” menunjukkan bahwa itu bukanlah sebuah hal yang sepele dan ringan. Melainkan penuh tantangan dan perjuangan. 

    Jika Tuhan meminta kita untuk mengusahakan kesejahteraan kota di mana kita ditempatkan, itu artinya keempat hal  di atas haruslah menjadi bagian dari fokus kita dalam bekerja dan berkarya. Bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga, tetapi berbuat sesuatu sebagai bagian dari kontribusi dan peran serta kita secara aktif untuk pembangunan kesejahteraan kota di mana kita tinggal. 

    Kedua: Berdoalah untuk kota itu. Saat ini Tuhan sudah menempatkan kita di negara Indonesia, karena itu kita wajib berdoa untuk kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia, dan lebih jauh lagi, kita perlu berdoa untuk perang di Gaza dan Ukraina agar secepatnya berhenti, karena perang berkelanjutan ini menimbulkan dampak ekonomi buruk bagi Indonesia. (Surhert)

  • KORUPSI LAGI

    Saudaraku, duuuh … Hari-hari ini koran dan medsos mendulang berita kasus korupsi yang melibatkan petinggi BUMN, selebriti dan crazy rich. Angka kerugian negara sesuai pernyataan Kejaksaan Agung sangat fantastis, kalau ditulis Rp 271.000.000.000.000. Kita sendiri pasti bingung membacanya. Oknum-oknum yang terlibat sebagian punya titel sarjana, ada yang lulusan luar negeri, dan kemewahan yang ditampilkan dari hasil korupsi sangat menawan seperti mobil-mobil crazy rich, perhiasan, tumpukan uang asing, bahkan saat ditahan juga menggunakan busana buatan luar negeri.

    Aku jadi ingat beberapa tahun lalu saat diajak Komisaris untuk silaturahmi dengan Duta Besar Swiss  di Rasuna Said Jakarta. Bertepatan pada waktu  itu juga ada ekspos kasus korupsi yang wah. Pak Dubes cerita bahwa minggu lalu ada pembukaan sebuah showroom jam tangan dari Swiss. Nah saat lucky draw di akhir acara Pak Dubes mendapatkan hadiah utama yakni jam tangan, ditunjukkan kepada kami, warnanya gold. 

    Pak Dubes bilang: “Saya malu memakai ini, saya datang sebagai tamu undangan menang lucky draw. Entah itu saya benar-benar beruntung  atau diatur oleh Panitia, sehingga saya mendapatkan jam tangan. Saya merasa tidak layak dan tidak berhak, karena saya datang ke acara tersebut mewakili negara Swiss. Nanti bulan depan ada acara Christmas Party di kedutaan, jam tangan ini akan diundi, siapa tahu yang mendapatkan justru Pak Satpam.” 

    Pak Dubes menunjukkan jam tangan yang dia pakai, sambil berkata: “Saya bangga memakai jam tangan ini, asli buatan Swiss, dan saya beli dari hasil kerja saya yang pertama setelah lulus university. Ada kebanggaan bisa beli dari hasil kerja, meski harga kurang dari Chf 1.000. Saya selalu ingat cara saya mendapatkannya. Ada berkat Tuhan di situ.”

    Nah itu dia, kalau koruptor di sini mungkin berpikir lain ya, kalau bisa mendapatkan hasil-hasil lebih dan luar biasa di luar tugas dan jabatannya mungkin semakin sukses, apalagi dari kekayaannya dia juga punya beberapa istri lagi. Pengusaha mendapatkan proyek yang dibumbui KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) juga bangga, pokoknya dapat order besar, meskipun akhirnya mesti mengurangi kualitas dan kuantitas material proyek karena perhitungan biaya juga ada batasnya, pokoknya asal 1-6 bulan setelah BAP (Berita Acara Pekerjaan) barang atau proyek yang diserahkan tidak rusak, ya aman.

    Di beberapa negara kita melihat adanya infrastruktur dan lingkungan yang tertata indah, rakyatnya puas karena melihat pajak yang disetorkan digunakan untuk pembangunan. Bahkan jika ingin bertemu dengan wakil rakyat bisa bertemu di warung bakmi atau kopi karena ada jadwal tetap bagi wakil rakyat mendengarkan masukan dari warga yang memilihnya.

    Sebagai renungan kita bersama, kalau kita ingin hal-hal yang baik bagi negara, mulainya dari mana? Ya dari diri kita dahulu, tidak melakukan upaya-upaya KKN membujuk pejabat negara, meskipun nantinya akan kalah tender. Ini menjadi dilema yang tiada akhir, bagaikan hendak menangkap ular kobra yang marah, mana yang harus ditangkap terlebih dahulu di bagian kepala atau ekornya, semua ada risikonya.

    Agar kita tidak melakukan upaya-upaya KKN, Tuhan telah memberikan rambu-rambu yang benar dalam menjalankan usaha dan bekerja sebagai berikut:

    Efesus 2:10: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.

    Efesus 4:28: “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri.”

    Kolose 3:17: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”

    1 Tesalonika 4:7: “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” 

    Nah, rambu-rambu dari Tuhan itu kekal adanya, karena tidak ada satu iota atau titik yang hilang dari Firman Tuhan. Semuanya tergantung hati dan niatan  kita, mau mengikut jalan Tuhan meskipun berat, atau menerabas aturan asal mendapatkan kekayaan.  Ingatlah: Tuhan akan memperhitungkan tingkah lakumu  suatu hari saat keluargamu memasang iklan khusus untukmu: “Telah Pulang Ke Rumah Bapa”

    Akhirnya Saudaraku, mari bersama Pengamsal, setiap pagi sebelum kita melakukan segala aktivitas kita pada hari itu, kita berdoa: “Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (Amsal 30:8-9). (Surhert).

    .

  • Nothing Lasts Forever

    PENGANTAR KITAB ZAKHARIA. Sahabat dari beberapa sumber saya mendapat informasi bahwa kitab Zakharia merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kelompok kitab-kitab kenabian dan khususnya dalam kelompok nabi-nabi kecil pada Perjanjian Lama di dalam Alkitab Kristen. 

    Kitab Zakharia 1:1 menyatakan nabi Zakharia sebagai penulis kitab ini. Nabi Zakharia adalah seorang nabi Yahudi pada masa sesaat setelah kembali dari pembuangan ke Babel,  tepatnya pada akhir abad ke-6 SM saat Yudea baru saja menjadi provinsi di bawah Kekaisaran Persia. 

    Nama “Zakharia” sendiri merupakan serapan dari Ibrani: זְכַרְיָה (Zekharyah), yang diperkirakan merupakan gabungan dari kata זָכַר (zakhar, har. “mengingat”) dan nama יה (Yah). Oleh karena itu, nama tersebut kemungkinan berarti “Allah mengingat”.

    Tujuan penulisan yaitu Zakharia menyatakan bahwa Allah menggunakan nabi-Nya untuk mengajar, menghimbau, dan mengoreksi umat-Nya. Sayangnya, mereka menolak. Dosa mengakibatkan hukuman dari Allah. Kitab ini juga menunjukkan bahwa nubuat sekalipun dapat disimpangkan.

    Dalam periode ini, nubuat tidak disukai lagi oleh orang Yahudi. Mereka seperti hidup di antara jeda periode Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,  tak ada nubuat yang signifikan yang berbicara kepada umat Allah.

    Berdasarkan waktu atau penanggalan maka garis besar dari kitab Zakharia terbagi dua. Nubuat pertama mengenai penglihatan-penglihatan yang muncul antara tahun 520 sampai 518 Sebelum Masehi, yaitu selama masa pembangunan Bait Allah. Sedangkan nubuat yang kedua mengenai kedatangan Mesias, yang munculnya tidak diketahui pasti tetapi mungkin ada sebelum periode pelayanan Zakharia.  

    Syukur, hari ini kita mulai belajar dari kitab Zakharia dengan tema: “Nothing Lasts Forever (Tidak ada yang Abadi)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 1:18-21. Sahabat, penglihatan ketiga Nabi Zakharia adalah empat tanduk (Ayat 18). Malaikat menjelaskan bahwa empat tanduk itulah yang menyerakkan Yehuda, Israel, dan Yerusalem (Ayat 19). Artinya, empat tanduk itu menggambarkan kerajaan-kerajaan yang menjadi musuh Yehuda dan Israel.

    Namun, bersama dengan keempat tanduk itu, Tuhan juga memperlihatkan empat orang tukang besi (Ayat 20). Malaikat mengatakan bahwa merekalah yang akan mengalahkan empat tanduk tadi (Ayat 21). Dengan demikian, empat kerajaan yang akan mengalahkan umat Tuhan tidak lagi memiliki kekuasaan, apalagi kekuatan yang kekal.

    Sahabat, penglihatan ini menjadi dasar pengharapan bagi umat Tuhan. Mereka memang telah dikalahkan oleh kerajaan lain. Namun, bukan berarti kerajaan itu sudah mengalahkan kekuatan Tuhan atau memiliki kekuasaan melebihi Tuhan. Justru, penglihatan ini menunjukkan kekuasaan Tuhan mengatasi segala kuasa yang ada di bumi.

    Terkadang, Tuhan memang mengizinkan umat-Nya kalah dan diserakkan ke berbagai tempat. Namun, kekuatan Tuhan tetap lebih unggul daripada kuasa kerajaan-kerajaan itu. Orang Yehuda, yang kembali ke Yerusalem, adalah bukti kehebatan Tuhan menunjukkan kuasa-Nya pada umat-Nya.

    Orang bisa merasa aman dengan kekuasaannya. Mereka bisa juga menyalahgunakannya. Namun, setiap orang harus sadar bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Kekuasaan itu juga sementara. Satu waktu akan tiba saatnya semua itu harus berakhir. Oleh karena itu, kita tidak boleh takabur karena kekuasaan yang kita miliki saat ini. Kekuasaan manusia di dunia tidak ada yang kekal, tetapi kekuasaan Tuhanlah yang abadi di atas segalanya.

    Sahabat, sebaliknya, ketika sedang berada di bawah kekuasaan orang lain dan merasakan ketidakadilan, kita bisa meyakini akan tiba waktunya kelaliman itu akan dihancurkan. Kita perlu berdoa dan berjuang sekuat tenaga melawan kezaliman itu. Nanti, Tuhan akan menunjukkan kekuasaan-Nya yang mengatasi segala kekuasaan manusia.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 20-21?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesungguhnya Tuhanlah yang berkuasa atas dunia.  karena itu kita  tidak boleh sombong dengan kekuasaan yang saat ini sedang kita emban dan terima. (pg). 

  • SAKIT BERKEPANJANGAN

    Saudara, Ibuku kena stroke pada tahun 2000, dan meninggal pada tahun 2022, jadi menderita kelemahan tubuh selama 22 tahun. Di tahun-tahun awal karena dapat diobati dengan cepat, Ibu tetap bisa berjalan namun tertatih dan mesti digandeng supaya tidak ambruk. Bahkan Ibu sempat tinggal di rumah adiknya hampir 5 tahun di Banyumanik yang lahannya hampir 3.000 meter dan udaranya sangat segar. Kami setiap liburan datang ke Semarang menengok Ibu dan dia senang sekali melihat anak, menantu dan cucu-cucunya datang, namun Ibu akhirnya balik ke Jakarta di tahun 2018 dan tinggal di rumah adik di Serpong.

    Di sini adik mengajak ke gereja ikut kebaktian Minggu dan di hari Kamis ikut Komisi Usia Indah, dengan duduk di kursi roda, dan rekan-rekan di gereja senang sekali menyambutnya, ini meningkatkan optimisme harapan pemulihan yang besar dan badannya tidak semakin lemas. 

    Hingga memasuki masa covid di bulan Maret 2020. Semua tempat ibadah mesti tutup dan digantikan secara online. Ibu tidak bisa lagi ke gereja bertemu teman-teman seusianya yang mungkin datang memakai kursi roda, dan tidak ada ibadah secara langsung berkepanjangan. Bagi orang tua tidaklah nyaman ikut kebaktian secara online karena suasana gereja tidak bisa dinikmati lagi, belum lagi sering gangguan sinyal dan online terhenti. Mulailah kondisi Ibu drop, badan mulai semakin lemas, dan akhirnya hanya berbaring di ranjang ditemani suster.

    Memang kami yang tinggal di Jakarta setiap akhir pekan dan liburan datang menengok Ibu, membawakan makanan kesukaannya, terutama Bacang dan Getuk Lindri, juga pampers untuk dewasa yang mesti dipakai sepanjang hari. Semakin lama seleranya makin menurun dan lebih banyak tidurnya. Bertepatan dengan Natal, Imlek dan hari ulang tahun Ibu, kami semua, anak, menantu dan cucu selalu datang merayakannya dan foto bersama. Tetapi saat-saat yang membuatnya bahagia ini semakin tidak bisa dinikmatinya. Malahan akhirnya sering mengigau ke suster agar ingin cepat-cepat bertemu almarhum suaminya.

    Memang menyedihkan kehidupan akhir seorang tua yang kena penyakit berkepanjangan. Obat-obat dokter sudah tidak bisa lagi diberikan, karena akan menimbulkan akibat sampingan  ke organ-organ tubuh lainnya yang makin uzur. Kunjungan atau besuk dari Pak Pendeta juga tidaklah mungkin setiap bulan, teman-temannya di Komisi Usia Lanjut juga ada kendala untuk datang karena dilarang oleh keluarganya karena covid.

    Akhirnya saat kesadaran Ibu sering hilang, kami datang dan membacakan Mazmur 23 yang diulang-ulang, terutama ayat 4:  “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” 

    Saudara, kalau Pak Pendeta  datang untuk melayani Perjamuan Kudus juga membacakan Mazmur 23. Sesungguhnya Mazmur tersebut mengingatkan kita bahwa Sang Gembala Agung, Tuhan Yesus Kristus adalah Allah Gunung dan Allah Lembah. Dia beserta dengan kita di sepanjang perjalanan hidup, baik ketika berjalan melewati gunung atau ketika berjalan melewati lembah.

    Hingga suatu ketika kondisi Ibu demikian drop, nyaris hilang kesadaran, kami berkumpul semua, dan kami membisikkan selamat jalan bagi Ibu. Di ruang ICU salah satu RS aku pernah membaca SOP RS tentang pasien dalam kondisi terminal akhir, yakni terjadi penurunan fungsi berbagai sistem dalam tubuh manusia, dari saraf, jantung dan pembuluh darah, pernapasan, hingga otot. Ini dimulai dari ujung jari kaki, naik ke kaki, dengkul, paha, tubuh sebelah bawah dan pelan-pelan ke tubuh bagian atas. Masih bisa bernafas, tapi kesadaran hilang. Nah hebatnya manusia ciptaan Tuhan, meski semua fungsi tubuh melemah, tapi fungsi pendengaran masih berfungsi. 

    Saat kami membisikkan kata-kata akhir ke telinga Ibu, matanya yang tertutup masih ada reaksi mengeluarkan air mata.Hingga akhirnya kami disadarkan Tuhan bahwa Ibu tidak bisa melewati hari Jumat minggu ini. Suster dan istri adik berjaga semalaman di hari Kamis, Jumat pagi Ibu masih bernafas sangat pelan, namun Jumat siang nafasnya selesai dan rohnya boleh kembali ke Rumah Tuhan Yesus dengan kondisi pulih sehat.

    Kami mendampingi Ibu selama 22 tahun sejak stroke pertama. Kondisi tubuh semakin menurun, tapi dia merasa bahagia bila tetap diingat dan dikasihi oleh menantu dan anak-anaknya, apalagi cucunya bisa datang menyapanya.  Jadi orang sakit berkepanjangan hanya butuh perhatian dan kehadiran dari orang-orang yang dikasihinya. 

    Dalam kondisi kritis, memang pasien sepertinya sudah tidak berdaya, mata tertutup terus, tapi jangan lupa, indera pendengaran masih bisa mengirimkan sinyal  pesan ke otak, dan dia tahu peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. 

    Saudaraku, karena itu janganlah pasien dalam kondisi terminal akhir malahan menjadi gundah karena  mendengar anak-anaknya yang tidak akur tentang warisan atau siapa yang akan menanggung biaya perawatannya. (Surhert).