Category: Sejenak Merenung

  • When God Has Chosen Someone

    PILIHAN ALLAH. Sahabat, pemilihan Tuhan bagi manusia merupakan suatu tugas panggilan.  Pemilihan Tuhan itu merupakan pemberian tugas untuk melakukan kehendak-Nya. Tata cara pemilihan Tuhan itu berbeda-beda kepada setiap orang. Ada yang dipilih sejak dalam kandungan ibu. Ada juga yang dipilih sejak sebelum dunia ini ada, dan lain sebagainya.

    Namun pemilihan Tuhan ini harus jelas dalam pemikiran kita bahwa kita dipilih untuk menghasilkan buah yang tetap bagi-Nya. Ada cukup banyak orang percaya berpikir, Tuhan memilih dirinya supaya masuk ke surga. Maaf, itu pemikiran sempit dan berkonotasi egois. 

    Sahabat, Tuhan mempunyai  tujuan dengan pilihan-Nya, yakni: Supaya kita pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap (Yohanes 15:16). Tuhan tak pernah memberi janji tanpa tuntutan tugas. Yesus menyampaikan amanat sebelum Dia naik ke surga, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu (Janji-Nya). Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Pemeliharaan Allah).” (Matius 28:19-20), Tuhan memberikan hak tersebut hanya pada orang percaya yang dipanggil untuk melayani-Nya dan memberitakan Injil.

    Sesungguhnya kita dipilih untuk dua hal, yaitu, pergi dan untuk menghasilkan buah dan buahnya itu tetap. Buah yang dimaksud bisa berbicara mengenai buah pertobatan baik dalam hidup kita pribadi maupun hidup orang lain.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab Hagai dengan tema: “When God has Chosen Someone (Ketika Tuhan sudah Memilih Seseorang)”.  Bacaan Sabda diambil dari Hagai 2:21-24. Sahabat, mungkin kita terus bertanya tentang seperti apa kriteria orang yang dipilih Tuhan. Bisa jadi kita terkejut hingga takjub karena akal budi tak mampu menyelami pilihan-Nya. Kita ambil contoh terpilihnya Saulus menjadi rasul dan pemberita Injil, atau Daud menjadi raja. Tuhan semesta alam tentu selalu memiliki alasan mengapa Ia memilih seseorang dalam rangka karya penyelamatan.

    Siapa sangka pada zaman Nabi Hagai, Zerubabel bupati Yehuda dipilih Tuhan untuk memimpin pembangunan Bait Suci. Saat bangsa Yahudi berada di bawah kekuasaan Persia dengan rajanya Darius, firman Tuhan datang kepada Zerubabel (Ayat 22).

    Salah satu alasan terpilihnya Zerubabel adalah karena dia termasuk keturunan Daud. Kepada Daud, Tuhan semesta alam telah berjanji bahwa keluarganya akan memerintah Israel (2 Samuel 7:10-16). Keterpilihan ini selaras dengan  pemberitaan para nabi bahwa seorang pemimpin yang istimewa berasal dari garis keturunan Daud (bdk. Mikha 5:1-4a).

    Kepada Zerubabel, Tuhan menjanjikan kekuasaan (cincin meterai) (Ayat 24). Kekuasaan bangsa-bangsa lain akan dijungkirbalikkan demi eksistensi Bait Suci di tengah bangsa Yahudi.

    Sahabat, begitulah ketika Tuhan semesta alam sudah memilih. Tidak ada hal apa pun yang dapat merintangi-Nya. Satu-satunya aral hanyalah sikap tidak percaya yang meragukan penyelenggaraan-Nya. 

    Syukurlah lewat pemberitaan Nabi Hagai, gubernur Yehuda itu mau mendengarkan dan menaati firman Tuhan. Ia bersedia memimpin pembangunan Bait Suci bersama Imam Besar Yosua dan Nabi Hagai sepulang dari pembuangan di Babel. Rintangan yang sempat menggoyahkan tekad diatasi lewat penyerahan diri kepada pimpinan Tuhan semesta alam. 

    Sahabat, kita adalah orang-orang yang dipilih Tuhan melalui iman kepada Yesus Kristus. Kita dipilih menjadi pewaris Kerajaan Surga. Mungkin dahulu kita terhitung sebagai pendosa, orang yang dikucilkan, atau orang yang tidak dianggap penting oleh orang lain. Namun, begitulah kalau Tuhan semesta alam sudah memilih. Siapa pun diri kita, sekarang kita mendapat janji dan hak waris yang sama dari Tuhan, dan tidak ada kuasa lain yang dapat merebutnya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang menjadi tujuan Tuhan memilih seseorang?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menghasilkan buah merupakan kewajiban bagi setiap orang percaya, agar hidup kita dapat berguna bagi orang lain sesuai dengan kehendak Bapa di surga. (pg). 

  • KALAU SUDAH BERCERAI, SIAPA YANG SALAH?

    Saudara, terus terang, aku lupa kalau ditanya darimana aku mendapatkan “Approach Theory” yang ternyata manjur diterapkan bagi pasangan muda yang ingin membina keluarga hingga di hari tua, bukan manjur-jur 100% tapi minimal bisa dijadikan guidance di masa pacaran.

    Approach Theory tentang hubungan pemuda Aliong dan pemudi Aling agar bisa beranak cucu “sampai maut memisahkan mereka” disarankan sebagai berikut:

    Approach atau pendekatan pertama, yakni tingkatan basa basi, good manners, courtesy, politeness. Awal hubungan Aliong dan Aling dimulai dari omong-omong ringan ngalor ngidul saat ketemu beli pizza di mall. Bisa saling melihat orang yang diajak ngomong ini apakah punya tata krama yang baik, apakah perilakunya sopan atau kasar atau ramah.

    Approach atau pendekatan kedua yakni personal data, mulai menukar data tentang keluarga, saudara, asal-usul orangtuanya, dari etnik atau suku apa, rumahnya dimana, dan seterusnya. Pendekatan kedua bisa berjalan kalau kedua belah pihak ada nice feeling di tingkatan pertama.

    Approach atau pendekatan ketiga yakni mulai ngomong soal hobby, personal interest, dan apakah bisa playing together. Aliong jadi sales rokok dan usai kerja suka me-time di coffee shop, dan Aling di pagi hari membantu orangtuanya jualan di Gang Baru dan punya hobby beli baju-baju baru untuk tampil di medsos. Nah mesti dipikir lebih jauh, apakah Aliong dan Aling bisa mengikuti atau mengendalikan hobby calon pasangannya?

    Approach atau pendekatan keempat yakni mulai memikirkan view, thinking, opinion, judgment. Aliong tahu bahwa Aling penganut kepercayaan di rumah ibadah di perempatan Gang Gambiran dan Sebandaran, apakah mau diajak ke gereja yang di jalan Pemuda? Apakah Aliong kalau diajak ngomong Aling bisa mengimbangi, karena Aling alumni akunting dan Aliong lulusan teknik kimia? Juga mesti mengenal opini masing-masing pihak gimana, apalagi jika mengomentari suatu peristiwa, seperti adanya banjir berkepanjangan di daerah Demak dan Kudus,  siapa yang salah, dan seterusnya.

    Approach atau pendekatan kelima, yang paling puncak, yakni affect, sense, sensation, sentiment atau disebut tingkat perasaan. Aling menangis semalaman saat menunggu papanya di rumah sakit yang mendadak stroke, nah adakah simpati dari Aliong? Atau pas adiknya Aliong mendapatkan beasiswa masuk NUS Singapore bayar hanya 30%, nah bagaimana reaksi Aling, suka atau nyinyir?

    Di tingkatan kelima ini seharusnya belum ada hubungan seksual antara Aliong dan Aling, masing-masing tetap bertekad menjaga kesucian hingga lewat hari pernikahan. Ini sangat bagus, karena kalau sudah hubungan seksual lebih dulu, ya akan muncul perasaan yang lain lagi karena sudah menyangkut kepercayaan dan harga diri, apalagi kalau sampai hamil duluan ….

    Nyatanya hubungan Aliong dan Aling tetap mulus hingga tingkatan kelima, meskipun bukan perfect dan bahkan sering diwarnai pertengkaran hebat saat kedua belah pihak menguji approachnya. Tapi akhirnya Aling mau dibaptis di gereja, dan keduanya sepakat ikut bimbingan pernikahan di gereja, lalu lanjut diberkati pernikahannya di gereja dan ada perjamuan sederhana mengundang sanak keluarga dan handai taulan. Aliong dan Aling dapat menikmati menimang cucu, hingga Aliong suatu ketika dipanggil pulang ke Rumah Bapa.

    Beda dengan Anik yang tergila-gila pada Anyong – mamanya asal Seoul pinggiran, dan Anyong juara vokal kontes ndangdut di stasiun TV. Anik follow IG dan tiktok Anyong, komunikasi sebentar via medsos dan mudah jatuh cinta, apalagi Anik wajahnya photogenic dan tampilan modern. Nikah besar-besaran diliput media, eh enam bulan kemudian pisah ranjang, lalu benar-benar pisah surat kawin. 

    Yah, Anik kenal Anyong masih di tingkatan basa-basi dan sedikit mengenal data pribadi, lalu mengobral cinta menyerahkan tubuhnya ke Anyong yang jadi pujaan hati, sementara buat Anyong ada puluhan perempuan yang antre mau bersamanya. Bahkan kalau Anda ingat beberapa tahun lalu ada artis yang mendendangkan lagu “Alamat Palsu” sepertinya hanya candaan, namun ternyata kejadian beneran dan alamat rumah si calon suami ternyata palsu.

    Approach Theory yang aku dapatkan mungkin sudah 40 tahun yang lalu, tapi kalau menganalisa mengapa banyak pernikahan yang jarang hingga kaken-ninen, setidaknya ada tahap pendekatan yang masih belum matang namun dilangkahi atau diterabas dengan alasan nanti lihat perkembangannya atau opo jarene.

    Jika Saudara bisa melewati lima tahapan, jangan yakin jika Saudara punya jargon kemampuan bisa melakukannya sendiri. Bagaimanapun Saudara dalam setiap langkah dan tahapan harus minta petunjuk Tuhan agar mata hati tidak dibutakan dan bisa melihat jalan yang benar. 

    Raja Daud bersaksi: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105). Daud mengibaratkan firman Tuhan sebagai penuntun hidupnya. Ia menggunakan firman Tuhan sebagai pelita tidak untuk menyoroti hidup orang lain, tapi dirinya sendiri. 

    Daud tidak melupakan firman Tuhan dalam kegelapan hidupnya, tetapi justru menggunakannya sebagai terang agar dia bisa dipulihkan kembali. Dia juga sadar bahwa Tuhan adalah penolongnya, yang tidak akan membiarkannya sendiri.

    Mari belajar dari Daud yang menggunakan firman Tuhan sebagai terang untuk melihat kedalaman hatinya dan terus berpengharapan kepada  Tuhan. Saudaraku, terang sangat diperlukan dalam keadaan gelap, sehingga tidak tersesat ke jalan yang salah. Terang sangat dibutuhkan untuk menerangi hati dan pikiran kita sehingga menolong kita tidak gegabah dalam mengambil keputusan, terutama yang berkaitan dengan keutuhan keluarga kita. (Surhert).

  • SANDAL JEPIT

    Saudaraku, dari penggunaannya sandal jepit dikategorikan sebagai alas kaki, tetapi kalau kita pergi ke toko sepatu dan mau beli sandal jepit acapkali dibilang tidak jual, tapi bila ke household convenience store atau toko serba ada yang menjual alat-alat kebutuhan rumah tangga,  malahan bisa membeli sandal jepit yang rak tempatnya disandingkan dengan sikat dan sapu, jadi dikategorikan sebagai kebutuhan rumah tangga.

    Kemasan sandal jepit dari pabrik tidak dibungkus dalam plastik atau box khusus, tapi diikat sepasang-sepasang dan langsung masuk karung, warna campur, per karung sekitar 50-100 pasang dan dihitung sebagai kodi, 1 kodi = 20 pasang, bukan lusinan. Jika di toko ada sandal jepit dibungkus kantong plastik, itu upaya penjual sendiri supaya tidak dicuri orang dan langsung dipakai. 

    Pernah bertemu dengan seorang pemilik pabrik sandal jepit terbesar di Jatim, karyawannya 10.000 orang lebih. Dia bilang harga sandal jepit sangat murah, bila dipakai tiap hari untuk jalan di aspal panas, jalan berbatu dan jalan berlumpur akan cepat jebat, atau tali sandalnya putus, tidak ada penggantinya, ya langsung beli sandal jepit baru.

    Kelihatannya penggunaan sandal jepit sangat mudah. Oh, bukan begitu ya. Untuk menggerakkan ujung jari kakimu masuk ke bawah tali sandal jepit ternyata melewati proses syaraf di otak yang rumit. Kita sering melihat orang yang tiba-tiba stroke, yakni kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak mengalami gangguan atau berkurang akibat penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik), akibatnya penderita mengalami kelumpuhan atau bahkan langsung meninggal karena pecahnya pembuluh darah. 

    Stroke iskemik atau non-hemoragik tidak mengakibatkan kematian langsung, disebabkan karena ada gumpalan darah yang terbentuk di pembuluh darah otak, atau gumpalan darah yang terbentuk di bagian tubuh lain, namun terbawa hingga menuju ke otak, hingga mengganggu aliran darah ke bagian otak. Secara umum, stroke non-hemoragik dapat menimbulkan beberapa gejala seperti mati rasa atau kebas, sulit menggerakkan otot wajah/lengan/kaki. Ada wajah yang menjadi merot, mendadak sulit berbicara hingga cadel, kehilangan keseimbangan dan sulit berjalan.

    Nah pada orang yang mengalami gejala stroke iskemik umumnya jari-jari kaki akan  kebas, hingga sulit memakai sandal jepit sekalipun. Orang sehat di tempat gelap dapat meletakkan jari kakinya di bawah tali sandal jepit, dengan gerakan jari kaki sedikit maka tali sandal jepit akan masuk dijepit oleh jempol dan jari telunjuk kaki. 

    Orang yang kebas sering mengalami kendala memasukkan jari kakinya di bawah tali sandal jepit, dan kalau masuk sandal sering dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah kaki. Orang yang kena stroke lumpuh, memasukkan sandal jepit ke kaki malahan harus dibantu orang lain karena seluruh jari kakinya tidak bisa digerakkan. Ironisnya, kalau si pasien meninggal dunia, akan dipakaikan sepatu yang tertutup, bukan pakai sandal jepit karena akan susah sekali menjepitkan sandal jepit ke almarhum. 

    Saat kita melihat ke kaki kita yang sedang memakai sandal jepit, ingatlah ini merupakan anugerah yang Tuhan sudah diberikan kepada hidup kita. Sebagai anugerah umum Tuhan,  yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45); atau sebagai anugerah khusus, karena ada syaraf-syaraf otak yang sehat, yang memerintahkan ujung jari kaki bisa mudah masuk ke bawah tali sandal jepit dan memakainya dengan benar.

    Saudaraku, seringkali kita melupakan bahwa segenap tubuh kita ini milik Tuhan. Untuk itu mari kita renungkan Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang terdapat di 1 Korintus 6:12-20 dengan penekanan pada ayat 20. 

    Siapakah pemilik bumi serta segala isinya, dan dunia serta segala yang ada di dalamnya? Tuhan (Mazmur 24:1). Kita memang memiliki harta, tetapi sebetulnya harta itu milik Tuhan. Kita dipercaya untuk memakai dan mengelolanya. Siapakah pemilik tubuh kita? Saat kita percaya pada Kristus dan mengikuti Dia, kita adalah milik Tuhan. Kita menjadi satu roh dengan Kristus (Ayat 17). 

    Saudaraku, tubuh kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar oleh darah Kristus sehingga tubuh kita adalah milik Kristus. Apakah kehendak Kristus bagi tubuh kita? MEMULIAKAN ALLAH.  Hidup kudus dengan menjauhi percabulan yang mencemarkan tubuh (Ayat 18). Menjaga pikiran, tindakan, dan perasaan agar selaras dengan firman-Nya. Jangan mendukakan Roh Kudus yang diam dalam diri kita.

    Tubuh kita milik Tuhan, muliakanlah Tuhan dengan tubuh kita. Segala sesuatu yang kita miliki dan kita pakai saat ini berasal dari Tuhan. Jadilah pengelola yang benar. Dengan demikian, segala sesuatu yang kita gunakan saat ini, termasuk tubuh kita, memuliakan Tuhan dan mendatangkan sukacita bagi orang-orang yang merasakan dampak pikiran, perbuatan, dan ucapan kita.
       
    Saudaraku, ingatlah: Pengelola yang benar MENGELOLA  dengan BIJAK segala sesuatu MILIK TUANNYA.  (Surhert).

  • GHOST ARMY

    Saudaraku, Ghost Army adalah unit taktis Angkatan Darat AS selama Perang Dunia II, resmi dikenal sebagai Pasukan Khusus Markas Besar ke-23. Bertugas menciptakan penipuan-penipuan yang menyesatkan terhadap pasukan Hitler. Jumlah angota Ghost Army 1.100 orang, banyak yang direkrut dari sekolah seni, biro iklan, dan pekerjaan lain yang mendorong pemikiran kreatif, termasuk ada seniman, arsitek, aktor, perancang latar, insinyur, dan pengacara. Aktivitasnya tidak dipublikasikan namun didukung secara rahasia oleh beberapa Senator AS.

    Unit ini menciptakan ratusan tank, mobil perang, sepeda motor, senjata dan perkemahan tentara lengkap dengan tali jemurannya, juga orang-orangan tentara, semuanya dibuat dari karet. Bisa diatur di posisi medan dalam waktu singkat dan digelembungkan dengan angin kompresor. 

    Ghost Army didukung Sinyal Service yang menciptakan gelombang radio palsu dan sinyal telepon palsu seakan-akan ada komunikasi antara tentara di medan dan markas besar. Bahkan ada penciptaan suara-suara berisik, teriakan, instruksi perang dan lain-lain yang dipancarkan dengan amplifier dan pengeras suara khusus hingga suaranya sayup-sayup terdengar hingga 15 km.

    Zaman itu belum ada pengintaian melalui satelit atau pesawat pengintai, hanya pesawat biasa yang mesti terbang rendah yang akan ditembaki dari darat oleh pasukan tempur yang mengawal kamuflase Ghost Army. Teropong hanya bisa melihat 2-3 km, demikian juga penyadap suara ada keterbatasan. Melakukan operasi di daratan Eropa hampir 20 kali, semuanya berhasil mengecoh tentara Hitler yang mengira ada 30.000 bala bantuan tentara dan perangkat perang yang baru datang, akhirnya komandan-komandan pasukan Hitler memindahkan pasukan untuk menyerang ke tempat itu, sebaliknya pihak pasukan asli Sekutu menyerang posisi-posisi tentara Hitler yang kosong ditinggalkan. Kondisi ini akhirnya membuat tentara Hitler mundur kembali ke seberang Sungai Rhein.

    Unit Ghost Army diaktifkan pada 20 Januari 1944, tiba di Eropa pada bulan Mei tak lama sebelum D-Day 6 Juni 1944 dan kembali ke AS pada bulan Juli 1945. Namun arsip Ghost Army baru dibuka lebih 50 tahun kemudian yakni pada tahun 1996, dan pada Februari 2022, anggota Ghost Army dianugerahi Congressional Gold Medal oleh Presiden Joe Biden atas pengabdian mereka yang unik dan sangat terhormat.

    Saudaraku, Kitab Hakim-hakim 7 mencatat tanah Israel diserang oleh orang Midian, Amalek dan semua orang dari sebelah timur seperti belalang banyaknya, dan unta mereka tidak terhitung seperti pasir di tepi laut banyaknya. Namun Gideon dengan 300 orang pasukan mengepung musuh dari atas bukit, berbekal sangkakala dan buyung kosong dengan obor di dalam buyung itu. 

    Di malam gelap 300 pasukan Gideon hanya berdiri di sekeliling perkemahan musuh, melemparkan buyung dengan obor di dalamnya, meniupkan sangkalala hingar bingar dan meneriakkan komando perang. Seluruh tentara musuh menjadi kacau balau, berteriak-teriak dan melarikan diri, panik, dan TUHAN membuat pedang yang seorang diarahkan kepada yang lain. 

    Saudaraku, pada zaman sekarang Ghost Army dalam artian Laskar Iblis yang sesungguhnya tetap ada membujuk anak-anak Tuhan. Maka rasul Petrus mengingatkan kita semua: ; “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama” (1 Petrus 5:8-9)

    Tantangan iman terbesar masa kini bukan berupa aniaya fisik, tetapi yang perlu kita waspadai adalah tawaran hidup yang nyaman dan mudah dengan menghalalkan segala cara. Marilah kita sadar dan berjaga-jaga, karena lawan kita adalah Iblis. Lawanlah dia dengan iman yang teguh di dalam Kristus! Dengan berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran Firman-Nya. Marilah kita meneguhkan iman agar kita bisa melawan tipu muslihat Iblis.
       

    Saudaraku, yakinlah Iman yang teguh mampu menghancurkan tembok kelaliman. (Surhert).

  • God as Life Priority

    PENGANTAR KITAB HAGAI. Sahabat, kitab Hagai merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kelompok kitab-kitab kenabian dan khususnya dalam kelompok nabi-nabi kecil pada Perjanjian Lama di dalam Alkitab Kristen. 

    Kitab Hagai 1:1 menyatakan nabi Hagai sebagai penulis kitab ini. Hagai seorang nabi Yahudi pada masa sesaat setelah kembali dari pembuangan ke Babel, tepatnya pada akhir abad ke-6 SM saat Yudea baru saja menjadi provinsi di   bawah Kekaisaran Persia. Nama Hagai sendiri merupakan serapan dari Ibrani: חַגַּי (Khaggai), yang merupakan bentuk jamak dari kata חַג (khag) yang berarti perayaan, festival, atau hari pesta.

    Kitab Hagai diperkirakan dituliskan sekitar tahun 520 SM. Kitab ini berlatar ketika orang Israel telah kembali dari pembuangan di Babel. Akan tetapi, meskipun mereka telah tinggal beberapa tahun di Yerusalem, Rumah Tuhan (Bait Allah) masih saja merupakan puing-puing. Dalam pesan-pesan itu, Allah mendesak para pemimpin bangsa Israel untuk membangun kembali Rumah Tuhan. Tuhan juga berjanji akan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kepada umat Israel yang telah diperbaharui dan disucikan. 

    Hagai mencoba menegur umat Allah mengenai prioritas hidup mereka. Ia mengajak mereka untuk menghormati dan memuliakan Allah dengan membangun Bait di tengah-tengah kesulitan yang ada.

    Hagai mengingatkan mereka supaya tidak berkecil hati meskipun Bait ini tidak seindah waktu zaman Salomo dulu. Ia mendesak mereka untuk meninggalkan kenajisan dan percaya pada kuasa Allah yang berdaulat. Kitab Hagai menyatakan berbagai masalah yang dihadapi umat Allah, dan meminta mereka tetap percaya kepada Allah. Bagaimana pun, Allah akan memenuhi kebutuhan mereka.

    Ayat Kunci: Hagai 1:4, “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?”

    Hari ini kita akan mulai belajar dari kitab Hagai dengan topik: “God as Life Priority (Allah sebagai Prioritas Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari Hagai 1:1-14. Sahabat, mengapa sebagian orang lebih memilih bekerja daripada bersekutu di gereja? Mengapa pula sebagian orang selalu hadir dalam ibadah dan meninggalkan pekerjaannya? Mengapa orangtua yang tidak memiliki banyak uang dapat membelikan laptop untuk anaknya ketika hal itu menjadi kebutuhan mendesak bagi sang anak? Jawabnya:PRIORITAS!

    Sahabat, tahun 538 SM, sekitar 50.000 orang Yahudi kembali ke negeri asal mereka dari pembuangan ke Babel. Mereka hendak membangun kembali Bait Suci dan memulihkan bangsanya. Mereka mulai meletakkan dasar pembangunan Bait Suci pada tahun 536 SM. Namun kesulitan yang mereka hadapi tak kunjung habis. Karena itu mereka menganggap saatnya tidak tepat untuk membangun rumah Allah.

    Orang Yahudi lebih sibuk dengan kepentingan sendiri. Rumah mereka dipapani dengan kayu aras sementara Bait Suci dibiarkan menjadi reruntuhan. Beruntung karena firman yang disampaikan Allah melalui nabi Hagai menyadarkan pemimpin bangsa dan umat. Mereka pun membangun kembali Bait Suci.

    Sahabat, banyak orang tidak pernah mau mengorbankan waktu bagi pekerjaan Tuhan, tetapi selalu ada waktu untuk melakukan banyak hal bagi diri sendiri. Semua ini terjadi karena PRIORITAS HIDUP  mereka mengarah pada keegoisan diri. Faktanya, segala sesuatu yang sulit dapat diusahakan ketika hal itu memang diprioritaskan. Jika kita senantiasa mendengar kebenaran Firman Tuhan dan menanggapinya dalam tuntunan Roh, semestinya kita memiliki ketetapan hati: Mengutamakan ALLAH, Sang Sumber Berkat, SEBAGAI PRIORITAS HIDUP.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Prioritas kita menunjukkan kecenderungan arah hati kita. (pg).

  • DIPERLIHATKAN SATELIT

    Saudaraku, aku pernah duduk di pesawat dari Dubai ke London bersebelahan dengan seorang tentara US, pakai seragam militer tanpa pangkat dan tetap pakai sepatu boot. Orangnya ganteng tapi pendiam tidak mau menyebutkan nama. Aku coba tanya kepadanya: “Dari mana dan mau kemana?”  Singkat saja jawabnya: “Dalam perjalanan pulang dari Afganistan, lewat Irak, ke Dubai, terus ke London, menuju Houston dan masih naik bus lagi ke rumahnya.”

    “Mengapa tidak membawa tas atau apa pun?”  Dia menunjukkan bandul kalungnya warna gelap. “Tidak membawa uang?” Dia menjawab: “No, cukup tunjukkan kalung itu ke setiap bandara dan imigrasi, sudah cukup. Juga kalau mau makan tinggal tunjukkan kalung dan diproses oleh restoran”.

    Saudaraku, kalau baca di Google kalung tersebut disebut “Dog Tags” berisi data: Nama, tanggal lahir, golongan darah, agama, kesatuan dan mungkin ada sesuatu RFID (Radio Frequency Identification)  yang hanya bisa dibaca di seluruh airport dan imigrasi, jadi bisa menggantikan paspor, atau mungkin juga di dalamnya ada e-money, entahlah.

    Nah, karena sering meihat film James Bond, aku tanya lagi: “Katanya kalau bertepatan sedang maju perang ada alat pelacak atau perangkat kira-kira sebesar kaleng Coca-cola kecil yang dimasukkan ke belakang kerah baju.” Lalu dia tunjukkan bajunya, benar di bawah kerah ada satu kantong sekitar 20 cm tempat memasukkan alat pelacak pribadi. 

    Tanyaku lebih lanjut: “Mengapa ditaruh di belakang kerah baju?” Dia menjawab: “Ya saat bertempur, tiarap, perangkat ini tetap memancarkan sinyal dan dideteksi oleh (beberapa) satelit yang terbang di langit kelam sekitar 25-30 km di atas bumi. Posisi tentara bisa diikuti, masuk ke gua atau bangunan atau   perlindungan mana pun, bahkan kalau terjun ke air tetap bisa dideteksi.”

    Saudaraku, perangkat tersebut dikhususkan untuk militer. Dalam kehidupan sehari-hari banyak dijual perangkat pelacak pengawasan  untuk mengawasi rumah, truk atau mobil, taksi, pengiriman barang,  dan lain-lain yang bisa dilihat atau diikuti dari handphone. Bahkan handphonemu   selalu berkomunikasi melalui sinyal provider dan sebenarnya posisimu  juga dilaporkan dan dicatat oleh provider. 

    Saudara pasti ngomel kalau sinyal lemah atau tidak ada sinyal, padahal saat sinyal ada maka posisi pelacak otomatis dikirimkan oleh handphone, apalagi kalau pakai handphone yang kelas menengah ke atas dan mendaftar di salah satu apps medsos datamu juga ikut direkam.

    Saudara menolak diawasi, ya tidak mungkin lagi. Nah, kalau orang di pedalaman yang tidak punya handphone apakah bisa dilacak? Bisa, bahkan dilacak langsung dari surga oleh Tuhan Allah. Coba perhatikan peringatan dari Pengamsal: ”Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.” (Amsal 15:3).

    Seringkali banyak orang berkamuflase menghiasi hidupnya dengan berbagai bentuk kemunafikan.  Mereka sedemikian rupa menutup rapat-rapat  kebusukan  hidupnya dengan penampilan luarnya:  Tutur kata halus, sikap ramah dan tindak tanduk yang tampak rohani, padahal kehidupan yang dijalani sesungguhnya adalah suatu kehidupan gelap yang penuh liku-liku.  

    Mereka menyembunyikan  belangnya di hadapan manusia dengan berbagai trik, namun mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang tak berkedip mengawasi setiap gerak-gerik hidupnya tanpa ada yang terlewatkan.

    Saudaraku, walaupun tidak ada Bapak Gembala Jemaat, Pastur, Pemimpin Rohani atau orang lain yang tahu, kita harus menjaga hidup agar tetap berkenan kepada Tuhan.  Jangan sampai kita memakai  kedok  apa pun!  

    Sadarlah dan ingatlah bahwa  tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab  (Ibrani 4:13). (Surhert). 

  • TABIR TERBELAH

    Tuhan Allah menetapkan Harun dan suku Lewi dikhususkan untuk mengurus Kemah Suci (Bilangan 17-18), dan setelah orang Israel masuk ke Tanah Kanaan, orang Lewi tidak mendapatkan jatah tanah, melainkan tempat tinggalnya disebarkan ke seluruh 12 suku, dengan maksud orang Lewi dapat memimpin ibadah orang-orang Israel secara turun temurun. Jadi jabatan orang Lewi khususnya sebagai Imam Besar merupakan jabatan eksklusif tidak bisa digantikan oleh suku lain.

    Sejak pembentukan Kerajaan Israel dengan raja pertama Saul, ada tiga pucuk pimpinan, yakni Raja, Imam dan Nabi. Raja Kerajaan Yehuda setelah Saul kemudian dialihkan Tuhan ke Daud dari suku Yehuda turun temurun, sedangkan Kerajaan Israel yang memisahkan diri dari Yehuda rajanya bisa berganti suku. Demikian juga para nabi, bisa dari segala kalangan dan suku, namun jabatan sebagai Imam Besar tetap dipegang oleh suku Lewi.

    Pernah Raja Saul lancang terhadap Samuel dan membuat mezbah korban bakaran sendiri, Samuel memandang hal ini sebagai pendurhakaan, dan Tuhan mengangkat Daud dari suku Yehuda menjadi raja. Demikian juga ketika Yerobeam menjadi raja Kerajaan Israel Utara, dia dengan ceroboh mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat (1 Raja-raja 13), tujuannya agar kedudukan raja lebih tinggi dari imam yang memimpin ibadah.

    Orang Lewi menjabat sebagai imam turun temurun dari zaman Harun, hingga Kerajaan Yehuda ditaklukkan Nebukadnezar dan rakyatnya diangkut ke Babilonia, namun di tempat pembuangan 70 tahun ternyata tetap ada imam yang dijabat orang Lewi. Bahkan dari zaman kembalinya orang Yahudi ke Israel, lalu zaman gelap tidak ada Firman Tuhan selama 400 tahun, pergantian Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, hingga zaman Yesus disalib ternyata tetap ada jabatan Imam Besar, orang Farisi dan Saduki yang semuanya dari suku Lewi. Akhir orang Lewi menggenggam jabatan sebagai imam yakni saat Yerusalem dan Bait Allah dihancurkan total oleh pasukan Romawi di bawah Jenderal Titus pada tahun 70 Masehi.

    Sejarah jabatan Imam Besar dimulai ketika Harun menjabat (1446 SM) hingga kehancuran Yerusalam (70M) – 1500 tahun lebih, total ada 77 generasi. Generasi Imam Harun hingga Imam Yadua 29 generasi, generasi Imam Onias I hingga Imam Antigonus ada 19 generasi, generasi Imam Ananelus hingga Imam Pinehas 29 generasi. Jadi jabatan sebagai Imam Besar turun termurun hingga 1.500 tahun, semua dicatat di Alkitab PL dan PB, juga dicatat oleh ahli Sejarah Yahudi Flavius Yosefus (tahun 37-100 Masehi). Saudara bisa membaca informasi di atas di buku seri Sejarah Penebusan yang ditulis oleh Pdt. Abraham Park D.Min. D.D.

    Di dalam Bait Suci ada ruangan khusus yang hanya boleh dimasuki oleh Imam Besar disebut Ruang Maha Suci, orang lain tidak boleh masuk, dan ada batas tirai tebal atau tabir yang digantung dari plafon hingga ke tanah. Karena hanya Imam Besar yang boleh masuk, di jubahnya ada bel kecil yang berbunyi kalau dia bergerak di dalam Ruang Maha Suci dan ada tali keluar dari bajunya. Kalau tidak ada suara, pembantunya di luar akan menarik-narik tali. Jika masih tidak ada suara, misalkan si Imam Besar kena serangan jantung dan meninggal, maka jenazah akan ditarik keluar dengan tali yang disambungkan ke bajunya. Jadi ruang Maha Suci sangat sakral dan orang pun takut masuk.

    Ketika Yesus disalib dan saat menyerahkan nyawa, tabir Bait Suci yang di Yerusalem terbelah menjadi dua dari atas ke bawah (Matius 27:51), sekat pemisah ruang Maha Suci tidak ada lagi, karena Kristus sudah menggantikan posisi Imam Besar dalam memimpin ibadah kepada Tuhan. Imam Besar yang menyampaikan segala permohonan rakyat ke Tuhan digantikan oleh Kristus, dan darah-Nya yang dicurahkan di kayu salib menggantikan darah korban bakaran.

    Saudara, dalam rangka menghayati peristiwa Jumat Agung, mari kita merenungkan  Surat Ibrani 9:11-28. Bacaan kita pada hari ini mengajarkan bahwa ibadah yang sempurna adalah ibadah di mana Tuhan Yesus Kristus melayani sebagai Imam Besar Agung di Kemah Suci yang ada di surga (Ayat 11). Ia mengurbankan diri-Nya untuk memberi pendamaian kekal bagi semua umat-Nya dan melayakkan kita untuk masuk ke Rumah Allah yang abadi, yaitu surga (Ayat 12-14).

    Penulis Surat Ibrani mengajak kita untuk mengenali karya Kristus sebagai Pengantara, yaitu membawakan perjanjian yang baru. Dari perjanjian inilah, tersedia penebusan dan keselamatan bagi kita (Ayat 15). Hukum Taurat mengajarkan bahwa pengampunan dosa diberikan melalui pengurbanan, yakni penumpahan darah; dan karya salib Kristus menuntaskan tuntutan tersebut (Ayat 18-23).

    Saudara, sesungguhnya ibadah merupakan sebuah persekutuan,   setiap umat Allah diundang untuk memasuki hadirat Allah dan menyatakan bakti (pelayanan) mereka kepada Allah. Kristus adalah Pemimpin Ibadah kita yang tertinggi dan kita diundang untuk mengikut-Nya.  Ibadah merupakan tempat untuk menikmati anugerah-Nya dengan penuh pujian dan syukur, bukan pamer diri atau hiburan saja. (Surhert).

  • KEBANGKITAN YANG MEMBEBASKAN ALLAH

    Saudaraku, kedahsyatan berita kebangkitan Kristus  terlambat direspons oleh para murid, orang-orang terdekat Yesus.  Mereka butuh waktu agak lama untuk menyadari MUKJIZAT TERBESAR  itu sehingga rasanya mereka lambat untuk percaya. Mari renungkan Lukas 24:13-35.

    Persepsi para murid tentang Yesus terwakili dari argumen Kleopas saat ia dengan kesal menjelaskan kepada Rekan seperjalanannya ke Emaus  tentang Sang Guru (Lukas 24:18-24).  Harapan yang begitu besar, pemujaan figur yang luar biasa terhadap sosok Yesus itu membuat para murid secara tidak langsung mengurung Yesus dalam persepsi mereka.  

    Persepsi itu tertanam kuat sehingga saat mereka melihat Kristus tersalib dan dikuburkan, mereka hilang harapan dan Saat mereka mendengar berita kebangkitan, mereka bingung luar biasa.  Semua pesan Yesus tentang penderitaan dan kebangkitan telah tertutup dengan euphoria kedahsyatan mukjizat-mukjizat Yesus.  

    Mereka percaya Yesus adalah Sang Pembebas yang akan membuat mimpi besar tentang Kerajaan Daud terwujud.  Mereka belum “membebaskan” Allah yang terkurung dalam persepsi mereka.  Keterbatasan manusia memahami pekerjaan Allah membuat manusia pada akhirnya memahami Dia dengan sangat sempit.  

    Oleh karena itu betapa sulit untuk mencerna kemenangan dalam jalan penderitaan yang Kristus tempuh. Yesus sudah meninggal, maka semua selesai, itulah yang ada di benak mereka. Semua karena harapan yang mengurung pemikiran dan membuat mereka murung saat kenyataan tak sesuai harapan. Padahal Allah sangat bisa bekerja dalam cara yang tidak lazim dan tidak dipahami manusia.  

    Pada akhirnya saat para murid membebaskan Allah dari persepsi mereka (saat mereka menyadari bahwa Teman Seperjalanan mereka adalah Yesus),  justru mereka menemukan sukacita sejati yang mengubah arah hidup mereka menjadi pejuang iman yang setia sampai mati.  Semua itu terjadi dengan pertolongan Allah yang membuka kurungan persepsi itu (Lukas 24:31)  sehingga KEMURAMAN  itu berubah menjadi SUKACITA.  

    Mari minta Tuhan untuk memberi kita kekuatan untuk membebaskan-Nya dari kurungan persepsi kita yang sempit sehingga sukacita sejati dapat ditemukan dan mengubah hidup kita.  Jangan kurung Tuhan dalam pikiran kita, misalnya: Jadi Kristen pasti kaya karena Allah adalah sumber berkat, atau pasti selalu sehat karena Allah sanggup membuat mukjizat.  

    Dalam SUKA atau DUKA, Allah tetap yang TERBAIK.  Bila harus melewati lembah air mata, percayalah Allah akan melindungi dan menguatkan sehingga KITA BISA MELEWATINYA.  Allah bekerja melebihi persepsi manusia, maka manusia perlu untuk tunduk dan taat pada Allah sepenuhnya.  Terimalah Allah sebagaimana adanya Dia walau Ia tidak seperti yang dipersepsikan manusia agar manusia mampu untuk menjalani  doa: Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.  SELAMAT PASKAH! Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • ALTERNATIF SELAIN BUNUH DIRI

    Saudara, puluhan tahun yang lalu aku pernah mencoba menolong serorang teman yang ingin bunuh diri. Dia nekat melakukan itu karena merasa dikhianati oleh suami yang dicintainya. 

    Percobaan bunuh diri pertamanya dengan memotong urat nadi saat kondisi rumahnya sepi, gagal, mendadak pembantunya batal ke pasar dan menemukan majikannya bersimbah darah. Dia bisa dilarikan ke rumah sakit. Namun kemudian ada seorang temannya tempat curhat, malahan mengirimkan segenggam obat dimasukkan ke vas bunga ke rumah sakit, obat ditelan semuanya, namun ketahuan suster jaga, jadi perutnya bisa dikuras dan selamat.

    Pulang ke rumah, wajahnya sayu dan pucat, mata tidak fokus, bicaranya ngacau, beberapa kali bilang: “Aku kok ndak mati ya, ingin mencoba mati lagi.” Ketika aku  ketemu dia jadi  bingung mau ngomong apa.  Dibacakan ayat-ayat Alkitab juga tidak mempan, tidak akan didengar. Tuhan memberikan hikmat, dan setiap kali dia bilang:  “Aku mau mati”, aku langsung bilang: “Aku sayang kamu, hanya aku yang peduli sama kamu.” Itu aku ucapkan entah berapa kali. 

    Syukur, lama-lama pandangan matanya mulai fokus dan bibirnya bisa tersenyum: “Kamu pulang saja, kamu adikku yang paling baik, aku akan jaga diri …” Setelah itu beberapa kali aku besuk  dia dan aku selalu bilang: “Hanya aku yang peduli sama kamu.” Saat aku menulis renungan ini, dia masih hidup dan aktif di suatu pelayanan gereja.

    Saudaraku, mengapa orang begitu gampang ingin bunuh diri? Dalam psikologi stres adalah perasaan ketegangan dan tekanan emosional, termasuk salah  satu jenis penderitaan psikologis.. Sedikit stres mungkin diinginkan, bermanfaat, dan bahkan menyehatkan. Stres positif membantu meningkatkan kinerja atletik. Ini juga berperan dalam motivasi, adaptasi, dan reaksi terhadap lingkungan. 

    Tapi kalau tidak mampu mengendalikan stres, akan banyak hal yang dirasa sensitif akan menjadi stressor. Stressor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri untuk menanggulanginya. Namun tidak semua orang mampu melakukan adaptasi dan mengatasi stressor tersebut, sehingga timbullah keluhan-keluhan antara lain stres, cemas dan depresi.

    Stressor yang paling berat salah satunya disebabkan oleh bencana alam gempa dan tsunami karena dalam sekejap seluruh rumah, harta dan keluarga lenyap ditelan bumi. 

    Mari kita perhatikan  kisah Ayub, orang terkaya dari semua orang di sebelah Timur. Dalam beberapa saat seluruh hartanya dirampok habis, ternak-ternak dan penjaganya di padang musnah disambar api dari langit, terjadi bencana alam puting beliung, rumahnya roboh dan 10 anaknya mati. Ayub kemudian kena penyakit kulit, bernanah yang busuk dari telapak kaki sampai ke batu kepalanya. Kemudian istrinya menyuruh Ayub untuk mengutuki Tuhan. Ayub menjadi contoh orang yang kena stressor nilai maksimal, tapi tetap dapat mengatakan: “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10)

    Saudaraku, sesungguhnya setiap orang pasti pernah mengalami stres dan ada stressor yang menekannya, Anak-anak TK di hari pertama sekolah banyak yang menangis karena pertama kali di luar rumah ditinggal sendiri di ruang kelas tanpa kehadiran mamanya. Bu Guru membiarkan demikian saja koor tangisan itu. Bisa berlangsung selama 2 jam penuh, bahkan bisa berlanjut di hari kedua sekolah ada tangisan bersama di kelas. Baru setelahnya Bu Guru mengajak anak-anak berkenalan dan tertawa, lewatlah stres ringan anak-anak TK itu.

    Maka jika saat ini Saudara menghadapi stres, kenalilah apa yang menjadi stressor penyebabnya. Hadapi saja, jangan menyerah. Berdoalah pada Tuhan, dan bagikan beban berat hidupmu kepada orang-orang yang tepat. . Sejalan berlangsungnya waktu, tekanan stressor bisa menjadi lemah. Atau kalau dirasa malahan makin menguat, bacalah berulang kali dengan bersuara undangan Tuhan Yesus berikut ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28).

    Semoga Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya (Mazmur 67:2). Semoga Tuhan memampukan setiap kita untuk berharap dalam janji: “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (Roma 10:13). (Surhert).

  • IRONI SANG RAJA

    Saudaraku, Herodes Antipas adalah seorang yang mendambakan bertemu Yesus. Namun justru dalam pertemuan pertama dan terakhirnya, sang penguasa kecewa berat.  Mari renungkan Lukas 23:8-12. 

    Herodes Antipas bukan orang Yahudi, ia orang Idumea yang mewarisi dan diberi kekuasaan oleh Kaisar untuk memerintah di wilayah Galilea dan Perea.  Herodes Antipas dikenal lebih sensitif kepada orang Yahudi dan agama Yudaisme.  Buktinya,  ia rela mengeluarkan banyak biaya untuk membangun Bait Suci yang megah dan bahkan membuat koin mata uang yang tidak bergambar wajah manusia sesuai dengan kepercayaan Yahudi.  

    Tentunya dengan perhatian yang cukup besar terhadap orang Yahudi, Herodes banyak mendengar tentang sepak terjang Yesus dari orang-orang di sekitarnya.   Itulah sebabnya mengapa Herodes antusias untuk bertemu Yesus.  Siapa sih yang tidak penasaran dengan Sang Guru dari Nazaret yang sedang viral dan dikisahkan begitu sakti mandraguna?  

    Maka saat Pilatus mengirimkan Yesus kepadanya saat ia sedang berkunjung ke Yerusalem, Herodes girang bukan kepalang.  Ia ingin melihat figur Sang Pembuat Mukjizat itu dan juga ingin merasakan mukjizat-Nya.  Mungkin kalau Yesus melakukan mukjizat itu, Herodes bisa menjadi pengikut-Nya.  Namun Herodes harus gigit jari karena ia tidak dihiraukan oleh Yesus.  

    Semua pertanyaannya tak terjawab dan keinginannya untuk melihat mukjizat hanyalah harapan kosong.  Kecewa, lalu ia dan semua pasukannya malah menghina dan mempermainkan Yesus.  Ia bahkan tidak sudi mengadili Yesus yang adalah penduduk Galilea dan mengirim kembali pada Pilatus.

    Kecewa artinya adalah tidak puas karena keinginannya tidak terpenuhi.  Ketika seorang kecewa maka ia bisa melakukan hal yang berlawanan dari apa yang diyakininya.  Banyak didengar dan diceritakan bagaimana orang yang kecewa pada Yesus pada akhirnya memilih menjadi lawan dan mengejek Dia dan gereja.  

    Semua diawali dengan keinginan yang tak terpenuhi, Allah yang berbeda dari persepsi yang dibentuknya.  Maka berhati-hatilah dengan keinginan yang membentuk persepsi karena saat realitas tak seindah harapan maka kemungkinan untuk menjadi kecewa makin besar.  Padahal sebenarnya manusia tidak akan pernah bisa menyelami pekerjaan Tuhan yang hebat (Pengkhotbah 4:13).  Nabi Yesaya pernah menuliskan perkataan Allah, “Pikiran-Ku bukan pikiranmu, dan jalan-Ku bukan jalanmu. Setinggi langit di atas bumi, setinggi itulah pikiran-Ku di atas pikiranmu, dan jalan-Ku di atas jalanmu.” (Yesaya 55:8-9, BIS). 

    Mari belajar untuk menikmati perjalanan hidup bersama Tuhan dan terus belajar untuk MEMILIKI HATI YANG TAAT  sehingga saat Tuhan tidak seperti yang kita bayangkan atau ternyata keinginan tidak sesuai dengan kenyataan, tidak ada rasa kecewa dan bahkan olokan terhadap Dia.  Mari nikmati Allah sebagaimana yang Allah inginkan, bukan yang seperti kita inginkan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)