Category: Sejenak Merenung

  • PLERED

    Saudaraku, saat jalan Tol Cikampek–Purwakarta–Padalarang (Cipularang) belum dibangun pada tahun 2005, beberapa kali aku mengajak keluarga berlibur dari Jakarta ke Bandung mesti menempuh jalan arteri Cikampek, masuk kota Purwakarta, sering macet di depan pasar, lalu keluar mengikuti jalur jalan yang menanjak dan berliku ke arah Padalarang. 

    Dalam perjalanan yang penuh nuansa hijau di sepanjang jalan ini pasti lewat kota kecil Plered, yang terkenal sejak zaman Kolonial sebagai pusat kerajinan gerabah dari tanah liat, karena memang bahan lempung atau tanah liat warna putih ada di sekitar Plered.

    Bila anak-anak tidak sedang mengantuk di mobil, aku sering berhenti di Plered untuk mengajak anak-anak melihat pembuatan gerabah, sering ke kios Keramik Mulya, karena di bagian belakangnya bisa melihat karyawan mengerjakan gerabah. Anak-anak senang melihatnya, bagaimana lempung diletakkan di meja pemutar, diputar dengan piringan yang digerakkan kaki, dan lempung dibentuk dengan tangan pengrajin, tahu-tahu muncul gerabah, entah itu kuali atau pot. 

    Kalau istri melihat ini, pasti senyum-senyum ingat film Ghost (1990), adegan romantis Patrick Swayze dan Demi Moore membuat pot dengan iringan soundtrack Unchained Melody dari The Righteous Brothers.

    Dari beberapa kali ngomong-ngomong dengan Pak Pengrajin, dia mesti punya rencana mau membuat gerabah dalam bentuk apa, jika ingin membuat pot bunga atau kuali setinggi 50 cm atau 80 cm, mesti ada persiapan lempung yang cukup. Jadi tidak bisa jika sudah ada rencana mau bikin pot 50 cm, mendadak dirubah menjadi 80 cm. Pot setengah jadi tidak bisa dibiarkan setengah kering lalu ditambah lempung baru, karena adonan baru tidak akan bisa menempel di yang lama. Sekali rencana mau membuat apa ya mesti sampai selesai, tidak bisa ditinggal-tinggal karena hasilnya tidak bisa mulus. Kemudian ada proses lanjutan, yakni dijemur supaya kering, dihaluskan, diberi warna-warni dan dibakar, bisa memakan waktu hingga 5-7 hari ke depan. 

    Saudaraku, di Yeremia 18 ada juga kisah tentang tukang periuk, Yeremia datang kesitu dan melihat cara pembuatannya, apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. 

    Sedangkan di surat Roma 9:21 menyebutkan: Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia – yang harganya mahal, dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa – yang harganya umum atau pasaran?

    Saudaraku, jadi pengrajin gerabah mempunyai hak dan rencana dalam membuat sesuatu kerajinan, yang dihasilkan bisa bermacam jenis, mulai dari hiasan rumah tangga, kendi air, pot celengan bentuk ayam, gentong air, kuali atau dandang hingga pot bunga yang tinggi hingga 1 meter, dan tentunya masing-masing barang yang dihasilkan akan memiliki harga jual yang berbeda. 

    Pengrajin bisa membuat apa saja dengan lempungnya, tergantung atas pesanan, atau saat itu sedang laris barang apa, namun yang paling umum dan pasti ada pembelinya ya kendi, celengan, pot bunga dan gentong air. 

    Tuhan Allah Mahapencipta mungkin dapat diibaratkan sebagai tukang periuk atau pengrajin gerabah yang berhak membuat segala sesuatu sesuai keinginan dan kehendak-Nya. Mungkin saat ini Tuhan menempatkan kita sebagai pejabat di pemerintahan, bisa juga sebagai pegawai di kantor kelurahan, atau sebagai orang kantoran, atau  sebagai ibu rumah tangga, atau sebagai yang berdagang di pasar, dan masih banyak lagi. Tapi yang jelas posisi dan kondisi kita saat ini ada bukanlah sebagai suatu kebetulan atau asal-asalan, tapi ada maksudnya dari Tuhan.

    Nah Saudaraku, apakah kita mengetahui maksud Tuhan terhadap diri kita masing-masing saat ini? Kita sedang menjadi dan melakukan apa saat ini, sadarkan kita? Jika kita sadar bahwa Tuhan menghendaki sesuatu dari kita, maka mestinya kita tidak mudah hanyut atau larut terhadap godaan-godaan dari dunia. 

    Misalkan kita bekerja di lingkungan yang selalu menggoda untuk melakukan tindakan korupsi, tapi kalau kita sadar bahwa kita adalah anak Tuhan yang telah ditebus dari dosa melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, maka kita akan tetap berdiri tegas menolak godaan untuk ikutan melakukan korupsi. Godaan-godaan dari dunia untuk melakukan dosa semakin banyak dan semakin sering, tapi dapatkah kita selalu untuk menolaknya? (Surhert)

  • NIKODEMUS SANG PEMBELAJAR

    Saudaraku, seorang pembelajar dikenal gigih untuk terus menambah kualifikasinya: Dari tidak tahu menjadi tahu yang pada akhirnya mengubah cara dan wwasan hidupnya.  Ia rela menempuh berbagai cara dan menantang dirinya sendiri untuk terus belajar.  Injil Yohanes mencatat seorang PEMBELAJAR GIGIH  bernama NIKODEMUS.   Mari membaca dan merenungkan Yohanes 3:1-5.

    Nikodemus punya tiga hal yang menunjukkan keunggulan dirinya, yaitu:

    1. Ia seorang Farisi, satu lapisan masyarakat Yahudi yang menjadi pengamat, penegak dan pembela Taurat.  Dengan menjadi Farisi, Nikodemus adalah seorang yang religius dan saleh.  Ia juga diakui Yesus sebagai guru (Ayat 10).
    2. Ia adalah salah satu pemimpin Yahudi (Ayat 1).   Nikodemus masuk dalam anggota Sanhedrin dan menjadi orang yang pendapatnya dipandang serius oleh masyarakat Yahudi. 
    3. ia adalah seorang pembelajar.  Tidak seperti Farisi lain yang kontra dengan Yesus dan memilih untuk menjauh, Nikodemus justru menemui Yesus dan berdiskusi denganNya walau Nikodemus memilih waktu malam hari dengan sembunyi-sembunyi.  Nikodemus memandang Yesus memiliki status yang berbeda dari guru yang lain dan mengatakan Yesus adalah Utusan Allah karena tanda-tanda yang sudah dibuat Yesus (Ayat 2).

    Dengan melihat tiga hal ini maka kedatangan Nikodemus pada Yesus menjadi begitu istimewa dan percakapannya dengan Yesus menunjukkan kehausannya untuk belajar.  Yesus sendiri tidak menghindari Nikodemus dan menanggapi semua pertanyaan dengan baik walau kadang kala Yesus sedikit mencela kekurangtahuan  Nikodemus. 

    Percakapan malam itu memengaruhi cara hidup Nikodemus hingga ia mampu bersuara ketika kawan-kawannya berusaha menangkap Yesus (Yohanes 7:50) dan bahkan Nkodemus secara terbuka hadir di Bukit Kalvari untuk memberikan penghormatan kepada mayat Yesus dengan memberi 30 kilo minyak gaharu (Yohanes 19:19, TB2). Nikodemus berani menyatakan rasa hormatnya secara terbuka setelah sekian lama ia diam-diam menjadi pengikut Yesus dan bahkan Bersama Yusuf Arimatea, ia  mengurus mayat Yesus dan menguburkan mayat itu dengan layak.  Pertemuan dan diskusi dengan Yesus malam itu telah mengubah karakter Nikodemus.

    Saudaraku, PEMBELAJAR adalah pribadi yang rendah hati karena ia selalu ingin terus mengejar pengetahuan dan siap berubah karenanya.  Kerendahan hati dan kegigihan Nikodemus mencari kebenaran dalam diri Yesus,  mengubah  hidup orang Farisi itu.  Belajar harus dimulai dengan kebutuhan, kegigihan mencari dan dengan rendah hati menerima ajaran.  Kedahsyatan efek belajar dapat dirasakan bila hati telah siap untuk mendengarkan dan membangun ulang pemikiran.  

    Mendengarkan Firman Tuhan dalam ibadah adalah saat belajar bagi jemaat dan membutuhkan kesiapan hati, rasa butuh, kegigihan dan kerendahan hati.  Kalau seorang datang beribadah dengan perspektif kaku, prasangka, penolakan terhadap Firman, maka ibadah itu tidak akan mampu mengubah karakter sang pendengar.  Saudaraku, mari BELAJAR untuk menjadi PEMBELAJAR  dalam ibadah yang kita ikuti dan rasakan manfaat Firman yang dapat MENGUBAHKAN.   Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • PRASASTI HAGAI

    Saudaraku, di salah satu gereja di Semarang saat dedikasi gedung gereja di tahun 1960 dibuatlah prasasti dari marmer dan ditempelkan di tembok. Teks prasasti diambil dari Hagai 1:8:  “Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN.” Pemilihan ayat Alkitab di prasasti itu tentu sudah menjadi pergumulan Gembala Sidang, Ketua Majelis dan Panitia Pembangunan pada saat itu. 

    Nah, yang agak aneh, karena umumnya gereja kalau membuat prasasti biasanya mengutip dari Yesaya 56:7: “… rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa”, atau ayat-ayat lain yang mirip, sedangkan prasasti dengan ayat Hagai 1:8 jelas mengingatkan warga jemaat di situ agar tetap membangun Rumah Tuhan, dan Tuhan akan berkenan.

    Aku coba bertanya-tanya mengapa ayat itu dipilih, tidak ada yang bisa memberikan latar belakangnya, bahkan di sejarah pendirian gereja juga tidak disebutkan kapan gereja didirikan, karena gereja ini rupanya tidak memerhatikan bidang pencatatan sejarah gereja, bahkan di websitenya pendirian gereja dituliskan berdasarkan visi penglihatan. Jadi asal mula pendirian gereja tidak diketahui jelas, meskipun di surat baptisan anak pertama di tahun 1960 gereja memakai nama Hwa Kiauw Kie Tok Kauw Hwee.

    Saudaraku, rupanya visi agar jemaat di situ tetap membangun Rumah Tuhan menjadi gema sepanjang masa bagi jemaat. Jumlah anggota jemaat yang sekitar 300-400 orang, bukan semuanya dari warga kelas atas, sering dalam perjalanannya kekurangan dana, dan gereja dibiarkan jemaat sedemikian saja. Seperti hingga tahun 1970 gereja tidak memiliki pompa air Sanyo, tapi tetap memakai pompa air engkol Dragon yang dipompa setelah memasukkan air pancingan, dan air dialirkan ke tangki atas. Sering kekurangan air kalau pas hari Minggu, dan toiletnya, maaf, mirip toilet di tempat-tempat umum pada umumnya.

    Suatu ketika seorang rohaniwan memasukkan persembahan dan menulis di amplop sebagai perpuluhan, nilainya Rp 12.500. Itu berarti honor rohaniwan sebesar Rp 125.000. Kontrakannya di gang sempit dan kendaraan dinasnya sepeda merk Butterfly. Aku lihat saat itu beberapa orang anggota jemaat agak marah mengapa kondisi SDM gereja kok begitu. Gaji terlalu mepet, tentu tidak bisa membeli buku-buku referensi untuk bahan khotbah. Namun Tuhan rupanya juga menjaga gedung gereja-Nya, hingga jarang terjadi adanya bocor atap ataupun cat tembok yang terkelupas, tapi pencuri masuk pernah ada dan speaker gereja lenyap.

    Aku perhatikan lagi, jika ada anggota jemaat yang berkecukupan dan dia memberikan persembahan bagi gereja untuk renovasi atau pembangunan, eh ternyata gerakan dari perseorangan ini segera didukung anggota-anggota lainnya, jadi potensi dana sebenarnya ada. Aku perhatikan lagi, ternyata anggota-anggota jemaat yang mau mempersembahkan uangnya untuk gereja malahan nampak usaha bisnisnya semakin maju, jadi benarlah visi di prasasti bahwa siapa  yang membawa kayu dan membangun Rumah Tuhan, maka Tuhan akan berkenan kepadanya dan berkat dicurahkan.

    Dahulu aku masih muda, duduk di kelas Sekolah Minggu, Remaja dan kemudian Pemuda, namun aku bisa melihat upaya-upaya anggota jemaat dalam menjaga kelangsungan gereja di situ. Namun setelah puluhan tahun kemudian aku bisa melihat bagaimana janji Firman Tuhan digenapkan khusus bagi orang-orang anggota jemaat di situ yang percaya dan mau melaksanakan mandat Firman Tuhan yang ditulis di Kitab Hagai 1:8, hingga hari ini.

    Saudaraku, Firman Tuhan adalah kekal. Kitab Hagai ditulis sekitar tahun 520 SM sesaat setelah orang-orang Israel kembali dari pembuangan di Babel. Saat itu Tuhan menghendaki adanya Pembangunan Bait Allah, dan Firman ini disampaikan kepada Zerubabel dan Iman Besar Yosua yang menjadi pemimpin orang Israel. Mereka taat untuk membangun kembali Bait Allah. Ribuan tahun kemudian, hingga tahun 1960 amanat pembangunan itu dipilih dan ditulis dalam prasasti pembangunan gereja, dan JANJI TUHAN TETAP BERLAKU  bagi jemaat-Nya hingga kini. (Surhert).

  • Fruitful Life

    BERBUAH. Sahabat, secara alami, buah adalah hasil tanaman sehat yang menghasilkan apa yang seharusnya dihasilkannya (Kejadian 1:11-12). Dalam Alkitab, kata buah sering digunakan untuk menggambarkan tindakan lahiriah seseorang yang diakibatkan dari kondisi hatinya.

    Buah yang baik adalah buah yang dihasilkan oleh Roh Kudus. Galatia 5:22–23 memberi kita titik awal. Buah dari Roh-Nya ialah: “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri…” Semakin kita mengizinkan Roh Kudus bebas mengendalikan hidup kita, semakin nyata buahnya (Galatia 5:16, 25). Yesus mengatakan kepada para pengikut-Nya: “Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, …” (Yohanes 15:16). BUAH yang BENAR mempunyai MANFAAT yang KEKAL.

    Yesus memberitahu kita dengan jelas apa yang harus kita lakukan untuk menghasilkan buah yang baik. Dia berkata: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:4–5). 

    Sahabat, cabang harus tetap melekat erat pada batangnya agar tetap hidup. Sebagai murid Kristus, kita harus tetap terhubung erat dengan-Nya agar tetap produktif secara rohani. Ranting memperoleh kekuatan, makanan, perlindungan, dan energi dari pokok anggur. Jika dipatahkan, ia cepat mati dan tidak berbuah. Ketika kita mengabaikan kehidupan rohani kita, mengabaikan Firman Tuhan, jarang berdoa, dan menutup bagian-bagian kehidupan kita dari pimpinan Roh Kudus, kita seperti ranting yang patah dari pokok anggur. Hidup kita menjadi tidak membuahkan hasil. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia  dengan topik: “Fruitful Life (Hidup yang Berbuah)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 8:20-23. Sahabat, Allah memulihkan Yehuda dan Israel. Hal itu berdampak tidak hanya secara internal, tetapi juga eksternal. Tuhan mempersiapkan mereka untuk menjadi panutan bagi bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, mereka harus memancarkan kasih Allah kepada bangsa-bangsa lain. Intinya adalah Yehuda dan Israel harus setia menjadi pelaku firman Allah.

    Banyak bangsa telah mendengar Yehuda menjadi berkat, sehingga banyak bangsa-bangsa dan penduduk kota akan mendatangi mereka (Ayat 20). Selanjutnya mereka akan menyampaikan berita tersebut ke kota-kota yang lain. Mereka ingin mengenal Allah Yehuda dengan tujuan ingin melunakkan hati Tuhan dengan mencari-Nya (Ayat 21). Akhirnya, mereka akan datang ke Yerusalem untuk beribadah.

    Sahabat, kejadiannya sangat menakjubkan. Sepuluh orang dari berbagai bangsa akan memegang erat ujung jubah seorang Yahudi. Mereka berkata akan mengikuti Allah Yehuda (Ayat 23). Mereka seperti haus dan ingin menikmati ranumnya berkat yang dinikmati oleh bangsa Yehuda.

    Yehuda akan menjadi berkat jika hidup seturut perintah Allah. Mereka akan BERBUAH BANYAK  dan harum namanya di antara bangsa lain. Kehebatan dan kemahakuasaan Allah Yehuda akan terus diperbincangkan. Allah Yehuda akan menjadi buah bibir dan dicari bangsa lain. Inilah yang disebut BERBUAH RANUM BERLIPAT GANDA, sehingga, bangsa lain pun ingin ikut serta menikmatinya.

    Yesus memerintahkan para murid untuk hidup berbuah. Jika kita hidup tinggal di dalam- Yesus, maka kita akan berbuah. Buahnya bisa beratus kali lipat ganda, sehingga orang lain akan memuliakan nama Yesus.

    Sahabat, bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebagai murid Kristus, hati kita wajib menjadi tanah yang subur agar firman Allah bertunas dan bertumbuh, sehingga, pohonnya akan menghasilkan buah ranum yang bisa dinikmati oleh semua orang dari berbagai kalangan. Dengan demikian, hal yang perlu kita renungkan: “Buah hidup apakah yang sedang kita hasilkan?” Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Sahabat, apa yang kamu kerjakan agar hidupmu dapat terus berbuah?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tetap terhubung erat dengan Pokok Anggur yang sejati merupakan satu-satunya cara agar sampai masa tua pun kita masih dapat berbuah. (pg).


  • BUKAN LAGI DIA

    Saudaraku, hatiku terusik ketika aku membaca Amsal 30:8-9: “… Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku; Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa Tuhan itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” 

    Bayangkan… Ada puluhan juta rakyat yang mesti bangun pagi-pagi dan berangkat kerja mulai jam 06.00 pagi dan pulang larut malam hingga jam 21.00, namun hanya mendapatkan penghasilan yang pas-pasan, atau senilai UMR. Tapi di lain pihak ada Si Untouchcable (Tak Tersentuh) dan banyak rekannya yang dengan mudah meraup uang puluhan juta bahkan miliar untuk dinikmati dirinya sendiri, dan dana ini dibelikan barang-barang mewah, seperti tas, baju, bahkan mobil, kapal dan pesawat pribadi yang membuat rakyat hanya mengiler. 

    Lama kelamaan generasi muda yang melihat contoh-contoh itu saat mendapat kesempatan menjadi pejabat atau ada saudaranya yang menjadi pejabat, akan digoda untuk mendapatkan proyek baik halal maupun non-halal, dan buntut-buntutnya uang yang didapatkan juga akan dibelikan barang-barang mewah.

    Seakan-akan hal tersebut menjadi lingkaran setan yang tiada akhir, kapan mesti dihentikan dan dapat diberantas, dan mulai pemberantasannya dari mana juga tidak jelas.Makin dipikir, makin frustrasi, sehingga aku sulit  tidur, hingga semalam Tuhan mengingatkan aku melalui ayat berikut:   “… itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” (Yohanes 21:22)

    Saat bangun pagi mendapatkan link Youtube:  Dari Gelap Terbit Terang #1306 – Satu Menit Bersama Andreas Christanday yang membahas 2 Korintus 4:6: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

    Jadi bila kita serius mengikuti jalan Kristus, meski itu sunyi dan penuh cobaan untuk balik badan, bahkan mungkin juga dalam kesendirian dan gelap yang berkepanjangan, Tuhan berjanji akan memberikan pencerahan, dari gelap akan terbit terang, dan akan mendapatkan pengetahuan tentang jalan yang benar yang menuju kepada kemuliaan Allah.

    Saudaraku,  jika kita nekat mengikuti cara-cara Si Untouchcable, mungkin akan pulang kantor hingga lewat tengah malam, jam 2 pagi karena mesti menemui pejabat A atau B yang memberikan proyek. Besoknya pun harus menemui C dan D atau lainnya yang mengatur skenario proyek, dan masih banyak kelanjutannya. 

    Selain itu dalam setiap rapat pasti bukan sekadar rapat polosan, tapi bisa di tempat panti, restoran mewah, klub atau lapangan golf. Hidangan-hidangannya bukan sekadar makanan mahal, tapi juga pasti dihidangkan wine dan vodka. Aku lihat vodka favourit 750 ml dengan botol putih doff dan merk berwarna biru gambar sebuah bangunan seharga Rp 3,6 juta langsung dibagi dalam 7 gelas, untuk 7 orang diteguk bersama-sama. Semuanya tertawa terbahak-bahak keras bahagia, ditimpa suara musik hingar bingar dan bahkan apa yang ditertawakan tidak bisa lagi didengar dari meja sebelah.

    Mengikut Tuhan, menempuh jalan yang sunyi, seperti Filipus yang berjalan sendiri di jalan yang sunyi, dan mendapatkan seorang pejabat dari Etiopia yang di keretanya sedang membaca gulungan kitab Nabi Yesaya (Kisah Para Rasul 8). FIlipus kemudian menjelaskan apa yang dibaca pejabat tersebut, dan akhirnya Filipus membaptis pejabat tersebut.

    Saudaraku, mengikut Tuhan, menempuh jalan yang sunyi, di kesendirian di kantor, mesti dapat menjual barang yang bagus, timbangannya pas, tidak nyolong, menawarkan dengan harga yang bersaing, dan profit yang didapat juga mesti dibagi ke karyawan sebagai gaji dan bonusnya, juga nettonya dapat diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan agar dapat lebih maju dan berkembang.

    Jalan yang sunyi, karena tidak ikutan dalam kumpulan-kumpulan orang-orang yang merencanakan strategi KKN yang pasti mendapatkan profit non-halal yang lebih besar, namun diiringi rasa was-was hingga puluhan tahun kemudian supaya tidak terendus aparat penegak hukum, minimal 10 tahun hingga kasusnya dapat dikatakan kadaluwarsa dan pembukuan dapat ditutup dengan aman.

    Saudaraku, jadi semakin kita memerhatikan Si Untouchcable, akhirnya hanya jengkel berkepanjangan, dia lagi, dia lagi. Biarkan itu, karena Tuhan Yesus mengatakan, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku. BUKAN LAGI DIA, Si Untouchcable, yang menjadi panutan hidup, tapi HANYA KRISTUS  saja yang menjadi pemimpin dan panutan hidup. (Surhert).

  • Lembah Kekelaman

    Saudaraku, dalam Mazmur 23, Daud menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang baik. Dalam ayat 4 Daud menyatakan keyakinannya: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; ,,,” Mungkin ada diantara kita yang berpikir: “Jika Tuhan itu Gembala yang baik, mengapa ada lembah kekelaman?”

    Saya ingat benar, saat itu tahun 2023 hampir berlalu. Simon dan saya mulai merencanakan  tur berdua , menikmati usia senja, tengok anak, menantu  dan cucu di Amerika, refreshing bersama mereka. Kami berharap tur tersebut bisa kami lakukan pada tahun 2024.

    Tapi manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan. Ternyata pada  5 November 2023, Tuhan  menentukan kami untuk mulai berjalan dalam lembah kekelaman. Pagi itu, Simon mengalami kemunduran kognitif, hari demi hari makin mundur diikuti dengan kemunduran motorik juga.

    Dokter yang merawatnya mendiagnosis Simon mengidap Glioblastomo, istilah sederhananya Kanker Otak stadium 4. Baru ketahuan, tapi sudah stadium 4. Perjalanan dalam lembah kekelaman harus kami jalani.

    Saudaraku, maka hampir tiap hari saya nyanyikan Mazmur 23 berulangkali untuk Simon dan diriku sendiri. Siapakah yang dapat berjalan dalam lembah kekelaman tanpa penyertaan Sang Gembala? Penyertaan Tuhan itulah yang menjadi kekuatan kami, gada dan tongkat Tuhan itulah penghiburan kami.

    Kesulitan dan masalah seolah antri untuk menambah beban kami, tetapi kebaikan Tuhan selalu nyata pada waktu yang tepat. Janji Tuhan dalam 1 Korintus 10:13 nyata kami alami. Allah setia! Allah tidak membiarkan kami dicobai melampaui kekuatan kami.  Allah selalu memberi jalan keluar. Sungguh luar biasa Allah kita!

    Tuhan mengizinkan kami ada dalam lembah kekelaman, tetapi bukan tinggal di dalamnya. Disertai-Nya kami untuk melewatinya. Sabtu 2 Maret 2024, Simon dengan tenang dan berkemenangan pulang ke rumah Bapa. Selama 4 bulan Simon sakit, belum pernah ia mengeluh atau mengaduh. Ia melewati lembah kekelaman dengan tabah dan sabar. Pada awal ia tahu perihal sakitnya, ia berdoa: “Tuhan, aku bersyukur untuk apa yang terjadi hari ini.” Nyata penyerahan dan ketaatannya pada rencana Tuhan atas dirinya.

    Sekalipun sekarang saya sendirian dan sering merasa kehilangan dan dirundung rasa sepi, tapi saya bersyukur: Tuhan tetap besertaku! Saya ikhlas. Tuhan merencanakan Simon lebih dulu menikmati kedamaian di rumah Bapa. 

    Saudaraku, lembah kekelaman seperti apakah yang kita hadapi saat ini? Tidak perlu khawatir ataupun cemas! Yakinlah kita tidak akan selamanya ada di sana! Kita hanya berjalan melewatinya beserta Sang Gembala. Tidak ada bahaya dapat mengancam kehidupan kita selama kita berjalan bersama Tuhan. Saat persoalan datang menerpa, katakan kepada diri sendiri: “Masalahku akan berlalu. Tangan Gembalaku akan menuntunku berjalan melewati lembah kekelaman sampai akhirnya mataku melihat sinar terang.”  (Hanna).

  • DIA LAGI, DIA LAGI

    Saudaraku, membaca koran hari ini, ada berita seorang petinggi yang dipanggil KPK karena diduga terlibat dugaan kasus korupsi di salah satu Kementerian. Ada fotonya, jelas. Eh ternyata dia lagi, dia lagi. 

    Beberapa tahun lalu, pas zaman covid, foto wajahnya juga muncul di koran-koran nasional, juga sedang dibidik KPK untuk kasus di Kementerian yang lain. Kemungkinan di tahun-tahun sebelumnya, zaman koran online dan medsos belum seramai saat ini, mungkin orang ini pernah disidik aparat, entahlah. Tapi jelas di tahun 2005, saat dia masih usia 30-an, zaman medsos belum ada, aku tahu persis bahwa dia juga disidik oleh KPK angkatan pertama. 

    Herannya kesemuanya, tidak ada berita-berita selanjutnya, hanya ramai saat dipanggil aparat sebagai saksi, kemudian beritanya menguap bagaikan air panas di cerek air yang mendidih dan dibiarkan selama 2 jam berikutnya dengan tutup cerek terbuka . Sakti orangnya ya? Jelas, papanya petinggi, mamanya memegang jabatan ring-1 suatu organisasi massa. Kakeknya, dari berita di medsos juga petinggi. 

    Jadilah dia sebagai figur yang untouchcable (tidak dapat disentuh). Lalu kenapa bisa selalu lepas? Juga tidak ada penjelasan yang dapat dibaca di medsos, koran online maupun dari aparat penyidik sendiri, pokoknya beritanya hilang, dan selalu diganti berita-berita dari kasus-kasus baru yang lebih heboh.

    Saat aku membaca Mazmur 37:1-2 yang ditulis oleh Raja Daud, mengatakan: “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.” Tapi Pak Daud, maaf ya, sejak aku mengenal dia di tahun 2005 hingga hari ini, sudah hampir 20 tahun, kok Si Untouchcable ini tidak lisut atau kisut seperti rumput, atau berkerut-kerut seperti kulit orang tua sepuh. Bahkan di fotonya yang muncul hari ini, wajahnya nampak tenang, yakin dan ada senyum dikit. 

    Aku bertanya lagi kepada Pak Daud: “Gimana nih ayat yang Kau tulis, kok ndak cocok?”  Eh,… Aku disuruh membaca di ayat-ayat selanjutnya, Mazmur 37:8-10: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.  Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri. Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.” 

    “Pak Daud, maaf lagi ya, mungkin di zaman-Mu belum ada kasus korupsi, yang Bapak maksudkan sebagai orang-orang jahat mungkin para penyembah berhala, raja-raja orang kafir, atau orang Amalek yang pernah Bapak hukum mati, jadi belum ada koruptor. Kalau kasus korupsi pertama di Alkitab mungkin justru dilakukan oleh si Kain di Kejadian 4, yang mengurang-ngurangi kuantitas dan kualitas persembahan dari hasil panen tanahnya, dan Tuhan lebih memperhatikan persembahan si Habil yang mempersembahkan anak sulung kambing dombanya.” 

    Kalau Pembaca pernah menonton film The Bible: In the Beginning (1966) dari perusahaan Dino De Laurentiis dan diedarkan oleh Twentieth Century-Fox Film Corporation,  jelas sekali visualisasi Kain dalam mengurang-ngurangi jumlah dan macam persembahannya, bahkan di film nampak asap korban bakarannya kempos, tidak naik ke langit melainkan balik ke bumi, beda dengan korban bakaran Habil yang membumbung tinggi ke langit. Kain menjadi jengkel dan marah melihat hal ini, lalu membunuh Habil, adiknya.

    Aku bertanya lagi: “Kok balasan atau hukuman terhadap orang-orang jahat tidak segera dilakukan oleh Tuhan? Mengapa, dan mengapa?” Jawaban aku temukan di   Pengkhotbah 8:11-13: ”Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat. Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya.  Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.” 

    Saudaraku, jadi karena hukuman Tuhan atas perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati orang penuh niat untuk berbuat jahat, dan itu pasti dilakukankan apalagi bisa lepas dari jeratan hukum. Namun bagi orang yang mau hidup benar di hadapan Tuhan, pasti akan memperoleh kebahagiaan, sedangkan orang-orang fasik tidak akan menikmati kebahagiaan dari Tuhan, bahkan dia akan mendapatkan kutuk dari Tuhan karena tidak takut terhadap hadirat Tuhan.  (Surhert).

  • The Correct Worship

    IBADAH YANG BENAR. Sahabat, apakah arti ibadah yang benar? Tidak semua orang percaya yang biasa rutin beribadah di gerejanya memahami apa yang dimaksud dengan ibadah yang benar. Ada cukup banyak orang percaya yang  menjalankan ibadah hanya sebagai suatu rutinitas dan kewajiban.

    Padahal, sebenarnya makna ibadah  lebih daripada itu. Ibadah yang benar melibatkan ketulusan hati yang lahir dari cinta dan kesetiaan kepada Allah. Termasuk juga keinginan yang tulus untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.

    Arti ibadah yang benar meliputi pemahaman, sikap, dan tindakan yang mendalam terhadap peribadahan kepada Allah. Ibadah yang sejati bukan hanya tentang rutinitas keagamaan, tapi melibatkan hati, jiwa, dan perilaku sehari-hari.

    Coba kita hayati nasihat rasul Paulus berikut ini: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

    Sahabat, dari kutipan ayat Alkitab tersebut, dijelaskan bahwa orang percaya sebaiknya melaksanakan ibadah yang sejati dalam segenap  aspek kehidupannya. Bapak Pdt. Jusuf Roni dalam bukunya “Menang Atas Penderitaan” (2021) menjelaskan arti ibadah sejati adalah pencarian kudus dan kesejatian. Lebih tepatnya mengupayakan pertumbuhan  dan kesempurnaan dalam kasih kepada Allah dan sesama. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “The Correct Worship (Ibadah yang Benar)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 7:1-14. Sahabat, bagaimanakah caranya kita menyenangkan Tuhan? Jawaban pada umumnya adalah dengan melakukan kebaikan bagi sesama. Apakah itu menyenangkan hati Tuhan, sesama, atau untuk memuliakan diri sendiri? Apakah itu berdasarkan kecintaan kepada Tuhan atau supaya kita tidak ditolak oleh lingkungan kita?

    Sisa orang Yehuda masih mempertahankan kebiasaan berpuasa. Sarezer dan Regem-Melekh diutus penduduk Betel untuk melunakkan hati Tuhan dengan mengajukan sebuah pertanyaan: “Apakah umat Yehuda harus menangis dan berpantang dalam bulan kelima seperti tradisi yang telah diturunkan selama ini?” (Ayat 2-3).

    Sahabat, ternyata, jawaban Tuhan sungguh mengejutkan. Berpuasa, tampaknya, sudah menjadi kebiasaan tanpa makna dalam kehidupan ibadah Israel dan Yehuda. Tuhan tahu bahwa puasa yang mereka lakukan bukan lagi untuk-Nya, tetapi untuk diri sendiri (Ayat 5-6). Hal itu menyakitkan Tuhan, sehingga Tuhan membuang mereka dari hadapan-Nya.

    Sekarang yang Tuhan mau adalah mereka beribadah dengan benar dan menunjukkan kesetiaan serta kasih sayang kepada sesama, memerhatikan janda, anak yatim, orang asing, dan orang miskin, serta melarang mereka merancang kejahatan terhadap sesama (Ayat 9-10). Perintah ini menjadi petunjuk hidup baru setelah puasa mereka tidak lagi diterima.

    Tuhan memperingatkan umat Yehuda agar hidup lebih baik daripada nenek moyangnya yang telah gagal dalam mempraktikkan ajaran ibadah puasa dengan benar. Sekarang mereka memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik setelah pulang dari pembuangan. Mereka harus memperlakukan sesama dengan baik, sama seperti Tuhan sudah memerhatikan mereka. Sudah saatnya mereka beribadah dengan iman. 

    Sahabat, relasi kita dengan sesama akan baik kalau persekutuan dengan Tuhan berjalan akrab. Ini adalah langkah iman yang Tuhan tunggu-tunggu dari gereja-Nya. Mari kita mencermati tindakan dan perbuatan pada sesama. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanggalkan sekat-sekat pembeda yang seringkali merintangi kita untuk mengalirkan kasih Tuhan kepada sesama. (pg).



     

  • HOME SWEET HOME

    Saudara, aku ingin menyaksikan pekerjaan Tuhan bagi kelompok yang terpinggirkan di sekitar gereja kami. Sekitar awal 1986 gereja kami mulai merintis pelayanan cell group, khususnya untuk menjangkau keluarga-keluarga yang tinggal di gang-gang sempit di kawasan jalan Labu yang padat di belakang gereja. Mereka umumnya tinggal di rumah yang sederhana. Jalanan di depan rumah hanya cukup untuk berpapasan becak dan gerobak tukang sayur. Got yang sering mampat dan bau, juga beberapa kali saat hujan deras pasti banjir menggenang.

    Pernah ada beberapa anggota jemaat yang mencoba pelayanan ke mereka, membagikan sembako dan mengajak ke gereja, namun nyaris nihil. Mereka minder bila mesti datang ke gereja di hari Minggu, karena mungkin tidak memiliki pakaian yang warnanya cerah tidak pudar, juga mungkin lebih banyak yang pakai sandal jepit atau sandal Asahi, sandal dari plastik yang dipakai asal kaki diselobokkan saja. 

    Sementara angota gereja banyak yang datang memakai mobil maupun motor, dan yang kaum perempuan mungkin memakai parfum yang baunya dapat dibaui dalam jarak 2 meter. Tentu ada perbedaan strata sosial dan ukuran kantong …

    Namun bagaimanapun setiap jiwa dipandang sangat berharga oleh Tuhan, tapi bagaimana menjangkau mereka? Ini yang perlu dipikirkan dan direnungkan.

    Suatu hari ada seorang encik usia 50 tahun lebih, ibu Chai Mei, seorang janda yang baru ditinggal mati oleh suaminya. Saat dia mengalami kesusahan, ada beberapa anggota gereja yang mengenalnya melayat, dan ibu Chai Mei terkesan sekali dengan perhatian yang diberikan. 

    Kemudian dia percaya pada Tuhan dan mengatakan kepada bapak Gembala Sidang bahwa dia ingin mempersembahkan rumah sederhana yang disewanya agar dapat dijadikan tempat pelayanan bagi tetangga sekitarnya. Ada sebuah peluang yang baik, namun bagaimana strategi yang mesti dipilih, karena tingkatan sosial dan budaya lingkungan yang akan dilayani berbeda dengan kondisi jemaat.

    Beberapa orang guru Sekolah Minggu (SM) yang aktif di Komisi Pemuda mengambil kesempatan ini, mereka dari kalangan menengah saja, menjadi guru SM biasa blusukan ke rumah murid-murid membawa gitar mengajak memuji Tuhan, juga kalau ngomong ya pakai bahasa yang mudah dimengerti. Ternyata kehadiran anak-anak muda ini mudah diterima oleh ibu Chai Mei dan tetangganya, ngobrol dengan bahasa sehari-hari, mengajak menyanyi gembira memuji Tuhan dengan bertepuk tangan, dan Firman Tuhan juga disampaikan oleh para guru SM ini, bukan oleh rohaniwan yang mungkin memakai istilah-istilah teologi yang rumit.

    Hadirin yang datang mencapai 25 orang kadang lebih, dari kalangan tua maupun anak muda, sedangkan tim yang berkunjung 3-5 orang, ruangan yang sempit, tidak cukup meskipun duduk di tikar hampir jongkok. Jadilah seminggu dua kali diadakan persekutuan, jadi semua dapat hadir. Dari rumah kontrakan sederhana dan sempit akhirnya menjadi “home sweet home” bagi warga, karena dari tempat ini dapat mendengarkan berita tentang keselamatan dan penebusan Tuhan Yesus untuk umat yang berdosa. Dan dari rumah ini pula timbul kerinduan dan keberanian dari warga untuk datang beribadah di gereja pada hari Minggu, khususnya di kebaktian pagi jam 6.30 dan jam 18.00 petang.

    Berjalan beberapa bulan, beberapa warga yang hadir tergerak ikut kelas katekisasi. Gembala Sidang dengan senang segera mengadakan kelas khusus katekisasi, tidak menunggu berlama-lama sesuai jadwal regular katekisasi yang rutin diadakan setahun 2 kali. Akhirnya pada tanggal 7 Desember 1986 Gembala Sidang dapat membaptis  22 orang anggota persekutuan jalan Labu dalam Kebaktian Minggu di gereja jam 6.30 dan 18.00. Inilah awal cell grup yang ada di gereja kami.

    Saat acara baptisan jam 18.00 aku berkesempatan menjadi juru foto baptisan. Foto anggota baptisan dengan Gembala Sidang dan Ibu ternyata menjadi salah satu foto paling bersejarah di gereja kami, karena menunjukkan bagaimana Tuhan juga mengasihi warga dari kalangan sosial yang berbeda dan kemudian para warga ini ternyata dapat bergaul dengan anggota jemaat yang ada. 

    Saudaraku, jadi foto sejarah gereja bukan tentang gedung gereja yang dibangun atau peresmian, atau pas ada retret atau KKR, tapi foto baptisan. Beberapa puluh tahun kemudian aku juga melihat foto ini disimpan oleh Pak Gembala Sidang di salah satu albumnya, sebagai kenangan yang manis dalam perjalanannya sebagai Hamba Tuhan.

    Oh ya, mari kita hayati dengan mendalam penggalan perumpamaan yang dituturkan oleh Tuhan Yesus: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Lukas 15:4). (Surhert)

  • SEPATU JOHN HARVARD

    Saudaraku, Harvard University di Cambridge Massachusetts USA didirikan pada tahun 1636, salah satu perguruan tinggi tertua di Amerika Serikat. Awalnya bernama New College, dan dinamakan ulang menjadi Harvard College pada tahun 1639 untuk menghormati John Harvard, usianya 31 tahun (1607-1638), yang menjadi donatur terbesar dan menyumbangkan 400 buku literatur miliknya. Untuk menghormatinya di halaman kampus pada tahun 1884 didirikan patung John Harvard dalam posisi duduk setinggi 180 cm dan diletakkan di atas tugu setinggi 155 cm.

    Di Amerika Serikat banyak dibuat patung untuk menghormati para tokoh bangsa, antara lain patung Abraham Lincoln, Franklin Delano Roosevelt, Martin Luther King, Jr. dan masih banyak lagi. Hanya saja memorial John Harvard yang dibuat dari bronze (perunggu),  yang merupakan campuran dari Cu (tembaga) + Zn (seng) dan Sn (timah). Dikunjungi sekitar 20.000 pengunjung per tahun selama lebih dari 100 tahun terakhir. Hampir setiap pengunjung selalu memegang dan menggosok-gosok sepatu John Harvard, sehingga bagian sepatu nampak mengkilap karena perunggunya memudar sehingga nampak lapisan tembaganya yang berwarna merah-coklat. 

    Katanya, orang-orang menggosokkan tangannya ke bagian sepatu sembari mengucapkan suatu permohonan. Konon cukup banyak mahasiswa di Harvard  sebelum masa ujian datang ke patung ini untuk ikutan menggosok sepatu, maksudnya agar dapat lulus.  

    Saudaraku, nampaknya sebagai lucu-lucuan saja kok ada turis dan orang di Amerika yang ngalap berkah atau permohonan terhadap sesuatu benda. Tapi kalau kita perhatikan banyak pedagang di pasar tradisional yang sering mengebut-ngebutkan atau mengibas-ngibaskan uang penjualan yang diterimanya dengan mengatakan, semoga hari ini laris dan dagangan cepat habis, atau bisa pula si pedagang mengucapkan mantra-mantra yang lain agar cuannya (untungnya) banyak. Atau bahkan mungkin diri kita sendiri suka mengucapkan hal-hal yang mirip mantra atau menyombongkan diri ketika mendapatkan sesuatu prestasi, bukan justru mengucap syukur kepada Tuhan.

    Saudaraku, kadang  kita lupa untuk menjaga mulut agar tidak otomatis mengucapkan sesuatu ucapan bila melihat sesuatu, seperti saat melihat orang yang sering nyinyir dan orang itu mendapatkan musibah, kita otomatis mengatakan: “Nah rasa’in luh.” Atau mulut kita dengan mudahnya mengucapkan kutukan bila menemui hal-hal yang menentang kita.

    Untuk itu mari kita merenungkan peringatan dari Yakobus yang terdapat dalam Yakobus 3:1-12 dengan penekanan pada ayat 5. Saudaraku, sebuah berita di surat kabar memaparkan seorang laki-laki yang menabrakkan dirinya pada kereta api yang melintas. Diperkirakan laki-laki tersebut begitu terpuruk dan depresi karena tidak tahan menghadapi caci-maki orang-orang yang berurusan utang-piutang dengannya. Berbagai hujatan dan ancaman ditujukan kepadanya secara terbuka melalui media sosial. Kondisi tersebut akhirnya membuatnya makin putus asa hingga nekat mengakhiri hidupnya.
       
    Demikian dahsyatnya dampak kata-kata yang diucapkan lidah. Yakobus mengingatkan kepada orang Kristen Yahudi saat itu tentang betapa pentingnya memperhatikan perkataan kita. Lidah merupakan anggota kecil dari tubuh, tetapi seperti api yang dapat membakar hutan (Ayat 5). 

    Bahkan, Yakobus menyebutnya dunia kejahatan (Ayat  6). Lidah dapat mengeluarkan kutuk, fitnah, hinaan, dan sebagainya. Karenanya, penting untuk mengekang dan mengendalikan lidah sehingga tidak keluar kata-kata yang menghancurkan perasaan dan kehidupan orang lain.
       
    Mari kita menggunakan lidah untuk kebaikan dan memberkati sesama. Bukan lidah yang menguasai kita, tetapi kita yang menguasai lidah. Kita bisa memulainya dengan melatih diri bergaul dengan firman Tuhan sehingga terhindar dari perbendaharaan kata yang dapat melukai orang lain. 

    Hendaknya lidah kita gunakan untuk bersaksi tentang kasih Kristus pada manusia melalui kalimat-kalimat penghiburan, penguatan, teguran yang lembut dan peneguhan. Biarlah lidah kita bukan merusak sesama, melainkan membangun hidup mereka.

    Saudaraku, memang lidah tak bertulang, tetapi cukup kuat untuk menghancurkan atau memelihara sebuah kehidupan. (Surhert).