Category: Sejenak Merenung

  • BUNUH DIRI

    Saudaraku, berita-berita melalui medsos mudah menyebar, kita jadi sering membaca berita tentang bunuh diri. Zaman media koran dulu, biasanya bunuh diri yang diangkat sebagai berita,   jika ada bunuh diri massal seperti kasus di Guyana atau bunuh diri sekeluarga, bukan bunuh diri perorangan. 

    Mengapa sekarang ini semakin banyak kasus bunuh diri? Orang semakin acuh terhadap lingkungan, apalagi menjadi pendengar yang baik, mendengarkan keluh kesah orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Yang menghadapi problem,  merasa malu berkonsultasi dengan rohaniwan atau temannya, karena mungkin kasusnya “hanya” putus cinta; atau ada larangan tertentu dari orangtua dan pikiran cupet; atau bingung tidak tahu harus berbuat apa. Ketika cari-cari solusi lewat Google malahan banyak artikel tentang bunuh diri, bahkan komplit dengan cara-caranya.  

    Saudaraku, Akitab mencatat enam orang yang bunuh diri: Abimelekh (Hakim-hakim 9:54), Saul (1 Samuel 31:4), Pembawa Senjata Saul (1 Samuel 31:4-6), Ahitofel (2 Samuel 17:23), Zimri (1 Raja-Raja 16:18), dan Yudas (Matius 27:5).

    Lima dari keenam orang tersebut terdeskripsi jelas mengenai kejahatannya, kecuali pembawa senjata Saul, yang tidak diulas secara mendetail. Beberapa ahli menganggap kematian Samson sebagai tindakan bunuh diri, karena ia sudah mengetahui bahwa tindakannya akan mematikan dirinya (Hakim-Hakim 16:26-31). Berhubung tujuan Samson saat itu ingin membunuh banyak orang Filistin, bukan hanya dirinya saja, maka pendapat ini masih diperdebatkan.

    Alkitab memandang kasus bunuh diri sama bobotnya dengan pembunuhan, karena itulah kenyataannya, pembunuhan diri. Sesungguhnya Allah hanyalah satu-satunya yang boleh memutuskan waktu dan dengan cara apa seseorang akan meninggal dunia. Seperti diungkapkan oleh Pemazmur:  “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, …” (Mazmur 31:15)

    Saudaraku, Allah adalah pemberi kehidupan. Ia memberi, dan Ia mengambilnya kembali (Ayub 1:21). Bunuh diri, bentuk pembunuhan kepada diri sendiri, menjadi tindakan durhaka, karena hal itu menjadi bentuk penolakan manusia atas karunia kehidupan dari Allah.Tidak seorang pun, laki-laki ataupun perempuan, diperbolehkan mengambil alih otoritas Allah dan mengakhiri kehidupan pribadi mereka.

    Memang ada beberapa tokoh di dalam Alkitab yang mengalami keputusasaan: Salomo, sambil mengejar segala kenikmatan hidup, sampai mencapai di satu titik dimana ia “membenci hidup” (Pengkhotbah 2:17). Elia sangat takut hingga mengalami depresi dan merindukan kematian (1 Raja-Raja 19:4). Yunus juga begitu marah dengan Allah sampai ia berharap mati (Yunus 4:8). Rasul Paulus dan para rekan misionarisnya sampai pernah berkata: “Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami” (2 Korintus 1:8).

    Syukur, dari semua tokoh di atas, tidak ada seorang pun yang bunuh diri. Salomo membuat kesimpulan:  “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pengkhotbah 12:13). Elia dihibur oleh malaikat, diperbolehkan beristirahat, dan diberi sebuah amanat baru. Yunus dikoreksi dan diberi pelajaran dari Allah. Paulus belajar bahwa, walaupun beban yang ia hadapi melampaui kemampuan dirinya menanggungnya, Allah dapat membantu menanggung segala hal: “Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati” (2 Korintus 1:9).

    Ingatlah, bunuh diri tentunya berdampak buruk bagi mereka yang ditinggalkan. Bekas luka batin yang disebabkan seseorang yang bunuh diri biasa lama sekali pulihnya.

    Jika Saudara saat ini sedang menghadapi persoalan hidup yang berat menekan dan Saudara sudah berkali-kali berpikir untuk bunuh diri. Ingatlah satu hal bahwa tindakan bunuh diri adalah DOSA BESAR  di hadapan Tuhan; sebuah dosa yang tak terampuni. Karena itu mari sambutlah undangan Tuhan Yesus: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). (Surhert).

  • A Humble and Weak People

    KERENDAHAN HATI. Sahabat, Alkitab menggambarkan kerendahan hati sebagai kelemah-lembutan dan tidak menghiraukan diri. Istilah Yunani yang diterjemahkan sebagai “kerendahan hati” di dalam Kolose 3:12 dan di bagian lainnya bermakna “pikiran yang rendah diri,” sehingga kita menyimpulkan bahwa kerendahan hati itu merupakan sikap hati, bukan saja perilaku lahiriah. 

    Seseorang dapat memeragakan kerendahan hati tetapi hatinya masih penuh kesombongan dan kecongkakan. Yesus berkata bahwa mereka yang “miskin di hadapan Allah” akan beroleh Kerajaan Sorga (Matius 5:3). Miskin di hadapan Allah atau dalam kata lain miskin secara rohani berarti hanya mereka yang mengakui keterpurukan rohani mereka dapat memperoleh kehidupan kekal. Oleh karena itu, kerendahan hati adalah salah satu syarat pokok menjadi orang percaya.

    Ketika kita mendatangi Kristus sebagai orang berdosa, kita harus datang dengan sikap rendah hati. Kita mengakui bahwa kita adalah  orang miskin yang tak dapat menawarkan Dia apa pun juga selain dosa kita dan kebutuhan kita akan keselamatan. Kita menyadari ketidakpantasan dan ketidakmampuan kita menyelamatkan diri. 

    Ketika Ia menawarkan belas kasih dan kasih karunia Allah, kita menerimanya dengan sikap bersyukur dalam kerendahan hati dan hidup berkomitmen kepada-Nya dan kepada sesama kita. Kita mati kepada diri sendiri supaya kita dapat hidup sebagai ciptaan baru dalam Kristus (2 Korintus 5:17). Kita tidak lupa bahwa Ia telah menukarkan keadaan tak berharga kita dengan keadaan sempurna-Nya, dosa kita dengan kebenaran-Nya, dan hidup yang kita jalani sekarang, kita hidup dalam iman pada Sang Anak Allah yang telah mengasihi kita dan menyerahkan Diri-Nya bagi kita (Galatia 2:20). Itulah kerendahan hati yang sejati.

    Hari ini kita akan belajar dari pasal terakhir dari kitab Zefanya dengan topik: “A Humble dan Weak People (Umat yang Rendah Hati dan Lemah)”. Bacaan Sabda diambil dari Zefanya 3:9-20 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, kita kerap mendengar nasihat untuk selalu berpikir positif, percaya pada kemampuan diri sendiri, dan dilarang menyerah agar kita mampu bangkit dari keterpurukan. Kemudian kita diminta untuk terus giat dan melakukan segala upaya agar hidup kita mengalami perubahan. Kita terus didorong untuk tidak menjadi pribadi yang lemah dan selalu optimis. Dunia mengajarkan bahwa orang-orang yang kuatlah yang akan menang.

    Sahabat, Nabi Zefanya menyampaikan apa yang seharusnya dilakukan umat Tuhan agar mereka terbebas dari keterpurukan yang terjadi. Sungguh menarik ketika memahami bahwa Tuhan justru tidak memulihkan kehidupan umat yang merasa dirinya kuat, berhikmat, atau mampu membangun kejayaannya sendiri. Tuhan justru memulihkan umat yang rendah hati dan lemah. 

    Zefanya berkata bahwa mereka adalah “sisa” artinya bagian kecil dari Israel (Ayat 13), tidak banyak dari umat Tuhan yang rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya lemah. Mereka benar-benar mengandalkan Tuhan sehingga mereka pun dipulihkan. Tuhan bergirang melihat kerendahan hati mereka dan Tuhan membuat mereka umat yang ternama dan terpuji di antara segala bangsa (Ayat 20).

    Sahabat, seorang yang rendah hati dan merasa diri lemah bukanlah orang yang mengasihani diri sendiri. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang mengakui bahwa tanpa Tuhan mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa. Karena merasa lemah, mereka selalu mencari pertolongan Tuhan. Tuhan berkenan dengan kerendahan hati dan membangkitkan mereka dari keterpurukannya. Tetapi orang-orang yang angkuh, direndahkan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!   

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat  pahami dari ayat 14-15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat kita berada dalam keterpurukan, kita dapat memilih: Tetap merasa diri kuat atau merasa diri lemah dan mencari pertolongan Tuhan. (pg)

  • B A N J I R

    Saudaraku, kejadian banjir di beberapa wilayah di Pulau Jawa mestinya bisa dipetakan karena rutin. Seperti banjir di kawasan Bukit Duri Jatinegara Jakarta, jalur Semarang – Sayung, sekitar Semarang Stasiun Tawang, daerah aliran Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, dan beberapa daerah lainnya.

    Yang menjadi pertanyaan, mengapa kejadian-kejadian rutin ini berulang sehingga dapat disebut force majeur? Adakah upaya Pemerintah dan warga untuk mengatasi atau mengurangi banjir rutin ini? Atau hanya pasrah dan setiap tahun mesti menganggarkan bansos untuk tempat-tempat yang rutin banjir itu?

    Di zaman Pak Harto ada upaya membuat waduk Gajah Mungkur untuk mengendalikan luapan Bengawan Solo sejak hulu. Gubernur Sutijoso membuat Banjir Kanal Timur untuk mengurangi air sungai yang melimpah ke Jakarta, dilanjutkan Ahok yang menata Sungai Ciliwung hingga menggusur puluhan rumah di Jatinegara untuk membuat akses sungai ke Banjir Kanal Timur. Ini dia yang mungkin kurang diingat, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1879 membangun Banjir Kanal Barat Semarang dan pada tahun 1889 membangun Banjir Kanal Timur Semarang. Apakah di zaman itu sudah ada excavator, traktor dan dump truck?

    Memang banyak usaha yang dilakukan pemerintah bagi warga untuk mengatasi banjir, dan mestinya warga dapat menjaga kelangsungan proyek yang sudah ada. Namun berjalannya waktu dan pergantian kepemimpinan sering warga lupa dan melakukan tindakan-tindakan yang merusak lingkungan, seperti pembuangan sampah ke sungai, pembangunan perumahan di sekitar aliran sungai yang menyedot banyak air tanah sehingga permukaan tanah turun. Mungkin orang berpikir banjir hanya terjadi sesekali, bukan rutin bulanan, saat banjir tidak lama, dan banjir pasti diakibatkan oleh perubahan cuaca, apalagi saat banjir pasti ada bansos.

    Saudaraku, saat aku menulis renungan ini, banjir di beberapa daerah di Jawa Tengah belum surut juga. Hujan masih sering turun, bahkan disertai dengan angin yang cukup deras. Tuhan berbisik lembut agar aku merenungkan Mazmur 46:1-4. 

    Sesungguhnya setiap orang memiliki pergumulannya masing-masing. Tidak seorang  pun dari kita manusia yang bisa melepaskan diri dari pergumulan dan kesesakan hidup. Kehidupan yang tanpa masalah adalah sebuah kemustahilan. Sebagai orang percaya, kita pun tak luput dari problematika kehidupan. Pergumulan bisa saja datang silih berganti. Namun, hanya satu yang tetap, yakni Tuhan sumber pertolongan kita.

    Bangsa Israel selalu berpegang teguh pada satu keyakinan. Mereka percaya bahwa Allah adalah sumber pertolongan serta perlindungan. Keyakinan ini, oleh Pemazmur, digambarkan dengan Allah sebagai “Kota Benteng”. Artinya, Allah, selayaknya benteng, akan selalu berdiri teguh melindungi manusia dari mara bahaya. Ia adalah penolong dalam kesesakan.

    Bahkan, Pemazmur melukiskan Allah dengan cara yang dahsyat. Ia mengatakan sekalipun bumi berubah dan gunung-gunung berguncang manusia akan tetap merasa aman (Ayat 3-4). Biarpun perang berkecamuk dan bangsa-bangsa saling menghancurkan, Allah akan menjadi Kota Benteng yang teguh. Ia akan tetap menjaga orang-orang yang berdiam di dalamnya. Bahkan pada akhirnya, Ia akan mendatangkan kedamaian pada dunia.

    Dalam hidup ini, pergumulan hebat pasti pernah menimpa kita. Dalam kondisi itu, mungkin reaksi kita adalah pergi menjauhi Allah. Kita bahkan mungkin melancarkan protes kepada-Nya atas keadaan yang terjadi. Alih-alih masuk dalam dekapan Allah, Sang Kota Benteng yang teguh, kita malah dengan sengaja pergi menjauhi-Nya.

    Saudaraku, pada hari ini, kita diingatkan oleh Pemazmur. Ia menasihati agar kita yakin dengan iman yang teguh kepada Allah pada saat kita mengalami pergumulan hidup, himpitan hidup, dan kesesakan hidup. Ia adalah Kota Benteng yang teguh sehingga di dalam Allah saja kita berdiam, merasa aman, tenteram, dan damai. (Surhert)

  • FORCE MAJEUR

    Saudaraku, Force Majeur adalah kondisi mendesak yang menyebabkan seseorang tidak bisa memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan pada kontrak. Jika kondisi mendesak tersebut bisa dibuktikan dan tidak direkayasa, maka pihak yang dirugikan tidak bisa meminta ganti rugi karena hal tersebut terjadi di luar kendali.

    Memang ada cukup banyak orang yang berhutang,  dan berniat buruk ingin menghindar dari keharusan membayar hutang, lalu menciptakan atau merekayasa berbagai “kondisi mendesak” atau force majeur agar bisa terbebas dari hutang. Namun ada kondisi natural force majeur yang tidak terbantahkan yakni Act of God, adanya tindakan Tuhan mengacu pada peristiwa alami yang parah dan tidak terduga di luar kemampuan dan tanggung jawab manusia. 

    Agar apa yang disebut  Act of God  ini tidak mudah dikondisikan untuk diterapkan ke semua hal, maka pihak bank atau asuransi  supaya tidak menderita kerugian, sering memberikan batasan force majeur hanya pada kondisi tertentu, seperti bencana alam, perang, pemogokan, dan lain-lain dan kondisi-kondisi bencana ini telah ditetapkan pemerintah karena lingkup bencana yang luas. 

    Untuk itu dalam polis asuransi ada klausul lingkup tambahan,  ada penambahan biaya premi atas risiko yang diasuransikan. Perhatikan saja polis asuransi allrisk kendaraan Saudara, meskipun mencakup pertanggungan allrisk, ternyata untuk kejadian bencana hanya menanggung risiko gempa dan kejatuhan pesawat, untuk banjir dan kerusuhan atau huru-hara mesti menambah biaya lagi.

    Saudaraku, membaca Alkitab ternyata yang dimaksudkan sebagai Act of God adalah hukuman Tuhan yang berat-berat, sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab Yehezkiel 14:12-23 dengan penekanan pada ayat 21: “Ya, beginilah firman Tuhan ALLAH: Jauh lebih dari itu, kalau Aku mendatangkan keempat hukuman-Ku yang berat-berat, yaitu pedang, kelaparan, binatang buas dan sampar, atas Yerusalem untuk melenyapkan dari padanya manusia dan binatang!”

    Abraham pernah tawar-menawar dengan TUHAN agar tempat di mana Lot tinggal tidak dihukum atau diselamatkan karena hitungan orang benar yang ada di dalamnya (Kejadian18:22-33). Akhirnya hanya Lot dan keluarganya yang diselamatkan, tetapi tempat itu dimusnahkan.

    Yehezkiel belum mengajukan tawar-menawar dengan TUHAN tentang Israel. Tetapi, TUHAN memberitahukan bahwa Ia akan menjatuhkan hukuman karena negeri itu telah tidak setia lagi kepada-Nya. Ia akan memusnahkan persediaan makanan dan mendatangkan kelaparan atas mereka, binatang buas atau pedang, atau sampar. Penghukuman ini tidak akan berubah meskipun ada Nuh, Daniel, dan Ayub di antara mereka. Hanya ketiga orang ini yang akan selamat, sedangkan seisi negeri itu akan binasa. Ketiga orang ini bahkan tidak dapat menyelamatkan orang-orang terdekat atau siapa pun juga. (Ayat 12-20). 

    Penghukuman yang berat dari TUHAN akan tetap dijatuhkan atas seluruh Yerusalem, atas manusia dan binatang. Keempat hukuman itu, yaitu pedang, kelaparan, binatang buas dan sampar akan dijatuhkan atas mereka yang hidup dalam kejahatan (Ayat 21). 

    Saudara,  kasih TUHAN tidak berkesudahan. Ia tetap meninggalkan sisa orang yang terluput bersama anak-anak lelaki dan perempuannya. Mereka ini akan menjadi penghiburan bagi Yehezkiel dan orang-orang di dalam pembuangan sehingga dapat menerima malapetaka yang telah TUHAN jatuhkan atas Yerusalem. Tingkah laku mereka yang berbeda akan menunjukkan alasan TUHAN menghukum Yerusalem (Ayat 22-23).

    TUHAN tidak main-main dalam penghukuman-Nya. Setiap orang yang bersalah akan menerima penghukuman yang berat. Orang benar tidak dapat melepaskan orang-orang jahat dari penghukuman, hanya orang-orang benar itulah yang akan diselamatkan. TUHAN yang adil tetap menunjukkan kasih-Nya. Tidak semua orang dihukum. Masih ada sisa umat yang mendapatkan kelepasan.

    Saudaraku, bimbinglah orang lain untuk menerima kebenaran-Nya! Dengan demikian, kita dapat memperoleh keselamatan bersama-sama. (Surhert). 

  • SEPASANG TAPI TIDAK SEIMBANG

    Saudaraku, diantara sekian banyak ajaran dan perintah Musa untuk kekudusan hidup orang Israel setelah keluar dari penjajahan Firaun, menurutku ada satu perintah yang kurang lazim : “Janganlah engkau membajak dengan lembu dan keledai bersama-sama.” (Ulangan 22:10)

    Mungkin saat itu orang Israel lebih paham beternak karena tinggal di tanah Gosyen yang cocok untuk peternakan. Bisa juga mereka sebagai budak kerja rodi untuk pembangunan di Mesir malahan sudah mendapatkan ransom harian. Jadi orang Israel kurang paham dalam membajak sawah atau ladang.

    Mengapa lembu atau sapi dan keledai tidak boleh dipasangkan kuk (luku) atau kayu pasangan yang ditaruh di pundak untuk membajak? Jelas, sapi berjalan dengan kecepatan rata-rata 3,2 km perjam, hewan memamah biak,  maka sepanjang jalan mulutnya akan komat-kamit mengolah kembali rumput yang sudah masuk ke perutnya. Sedangkan keledai rata-rata berjalan 5,6 km perjam dan keledai akan berjalan dengan menoleh kanan-kiri untuk melihat rumput yang langsung dimakan. Jadi keledai maunya jalan cepat maju ke depan mencari makanan, sedangkan sapi jalannya lambat sambil mengunyah, jadinya keledai akan marah-marah kepada sapi dan menyeret-nyeret agar berjalan maju lebih cepat.

    Selain itu dua kecepatan jalan sapi dan keledai yang digabungkan bukan menjadi (3,2+5,6)/ 2 = 4,4 km perjam, tapi malahan mungkin menjadi 50% nya atau sekitar 2,2 km perjam, akan sangat lambat, apalagi kalau ladangnya terendam air.

    Perhatikan pula, dalam satu rangkaian rantai besi yang bagus, jika di dalam rangkaiannya ternyata ada logam lain seperti kawat,  maka titik yang beda ini menjadi titik terlemah dan mudah putus.

    Ini memberikan pelajaran bahwa penggunaan binatang, mesin atau karyawan yang tidak seimbang keahlian dan kemampuannya malahan akan membuat proses produksi menjadi lambat.

    Saudaraku, ketika aku sedang merenungkan ayat di atas, aku diingatkan kepada pesan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus: ““Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” (2 Korintus 6:14-15)

    Paulus memberikan nasihat kepada orang percaya agar berhati-hati dalam memilih pasangan hidup atau mitra dalam berbagai konteks kehidupan, termasuk pernikahan. Ayat tersebut menekankan prinsip penting dalam menjalin hubungan, yaitu prinsip ketidakseimbangan antara kebenaran dan kedurhakaan. 

    Paulus menulis ini untuk mengingatkan jemaat tentang pentingnya memilih mitra atau pasangan yang memiliki nilai-nilai dan keyakinan yang sejalan dengan ajaran Kristen. Prinsipnya adalah bahwa orang percaya seharusnya tidak membentuk keterikatan yang erat dengan mereka yang tidak percaya atau hidup dalam kegelapan moral dan rohaniah. Kehidupan yang tidak seimbang dengan prinsip-prinsip kebenaran Kristen dapat memengaruhi iman dan kesetiaan orang percaya.

    Dalam konteks budaya dan keadaan masyarakat pada waktu itu, ada banyak godaan dan pengaruh dari lingkungan sekitar yang dapat membawa orang percaya ke jalan yang salah atau menggoyahkan iman mereka. Oleh karena itu, Paulus menekankan perlunya menjaga integritas spiritual dan moral dengan memilih pasangan atau mitra yang sejalan dengan nilai-nilai Kristiani. Prinsip yang terkandung dalam ayat tersebut relevan dalam konteks spiritual dan moral, dan bisa diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan personal dan profesional. Ide utamanya adalah agar orang percaya memilih mitra atau pasangan yang memperkuat dan mendukung iman dan kebenaran, bukan sebaliknya. (Surhert). 

  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana

    Saudaraku, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), nama yang selalu disebut bila terjadi bencana, dibentuk sesuai UU No 24 Tahun 2007 Penanggulangan Bencana. Melihat adanya potensi bencana-bencana yang dapat menimpa negara, sejak 20 Agustus 1945, 3 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, para pendiri Negara Indonesia membentuk Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP), dan di tahun-tahun berikutnya badan ini lingkup tugasnya diperluas hingga adanya BNPB.

    Potensi penyebab bencana dapat dikelompokkan dalam tiga jenis bencana, yaitu: Satu, Bencana alam, termasuk wabah dan kejadian antariksa/benda-benda angkasa yang menabrak bumi. Dua, Bencana Non Alam  yang disebabkan manusia, termasuk ledakan nuklir dan pencemaran lingkungan. Tiga, Bencana Sosial,  antara lain kerusuhan dan konflik sosial dalam masyarakat.

    Banyak bencana yang kejadiannya sering berulang dan lokasi kejadiannya di wilayah tertentu, seperti bencana Tsunami di pantai-pantai Jepang bagian timur, Tornado di wilayah Amerika Tengah, banjir di wilayah aliran sungai tertentu, dan lain-lain. 

    Banyak pemerintah di dunia yang dapat memperkirakan potensi bencana ini dan membuat aturan dan tindakan yang bisa meminimalisir kerugian, antara lain aturan tentang konstruksi bangunan tahan gempa, membuat waduk, tanggul dan mengatur aliran sungai, dan lain-lain, bahkan baru-baru ini pemerintah Turki mengadili para kontraktor yang gedung-gedung dibangunnya roboh karena salah konstruksi.

    Akhir-akhir ini terjadi berbagai bencana di beberapa wilayah di negara kita, oleh karena itu aku mengajak Saudara untuk merenungkan pesan rasul Paulus kepada jemaat di Galatia: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2).

    Jika terjadi bencana di suatu wilayah, otomatis gereja-gereja yang ada di wilayah itu juga terdampak, entah itu rusak kena gempa atau kebanjiran, warga jemaat juga ikut menderita akibat bencana.  Perlu kita lakukan berbagai persiapan menghadapi bencana yang kemungkinan ada, atau tidak pernah ada, jadi kita juga dapat berpikir luas untuk membantu warga di tempat lain yang terdampak bencana sebagai kepanjangan tangan kasih Tuhan. 

    Sering kita tidak mempersiapkan sebelumnya, baru setelah ada bencana dibentuklah panitia untuk membantu, jadi tindakan pertolongan pertama baru dapat dilakukan beberapa hari,  bahkan beberapa minggu kemudian. Apakah karena tidak ada anggaran yang tersedia maka tidak dapat bergerak cepat?

    Saudaraku, mari dengan rendah hati dan kesadaran diri, kita meninjau bersama: Dalam satu tahun, Gereja mendapatkan kolekte dari jemaat dalam 52 kali Kebaktian Umum (KU) Minggu, ditambah 3 kali Kebaktian Hari Raya Gerejawi: Natal, Jumat Agung, Kenaikan Yesus dan 1 kali Kebaktian Tutup Tahun dan 1 kali Kebaktian Tahun Baru, total ada 57 Kebaktian Umum yang merupakan potensi penerimaan kolekte. Bahkan kalau dalam 1 hari Minggu ada beberapa KU ya penerimaan kolekte lebih banyak lagi. 

    Nah, dalam 1 tahun ada 4 kali hari Minggu kelima, aku usulkan bagaimana kalau dalam KU Minggu V  semua kolekte dialokasikan untuk “Kas Tanggul Bencana”.  Coba kita berhitung: 4KU/57KU, hanya 7%-10% dari penerimaan per tahun. Dana ini sebaiknya dimasukkan dalam rekening terpisah dari rekening operasional gereja lainnya. Juga sumbangan-sumbangan yang ditujukan untuk membantu aksi Tanggul Bencana dimasukan dalam kas khusus ini. Dengan demikian gereja dapat bergerak cepat untuk memberi pertolongan kepada para korban bencana,  khususnya yang berada di radius dekat dengan gereja kita.

    Selain itu tentunya Gereja perlu melatih para pemuda untuk menjadi kader Taruna Siaga Bencana (Tagana), Dengan demikian para pemuda gereja dapat turut aktif dalam penanggulangan bencana.

    Saat terjadi bencana Tuhan juga menolong anak-anak-Nya, pertolongan bukan datang dari langit, tapi melalui diri kita yang membuka diri dipakai oleh Tuhan.

    Saudaraku, dengan bertolong-tolongan dalam melewati berbagai tantangan hidup, kita dapat menolong untuk saling menguatkan dan mendukung satu sama lain di tengah masa-masa yang sulit. Melalui kepedulian dan kasih Kristus yang ditunjukkan kepada sesama, kesulitan, kesesakan, dan himpitan  hidup yang dialami sepatutnya mendekatkan kita kepada Kristus dan kepada satu sama lain, dan bukannya membuat kita terkucil sendirian di tengah penderitaan. (Surhert)

  • The Way To Life

    RENDAH HATI. Sahabat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rendah hati adalah kata sifat yang berarti tidak sombong atau tidak angkuh. Secara umum arti rendah hati adalah orang yang memiliki sifat baik hati, suka menolong dan juga peduli terhadap sesama.

    Dikutip dari buku “Pengembangan Karakter untuk Anak” oleh John Garmo, kerendahan hati adalah kualitas karakter yang sengaja menempatkan diri pada kondisi yang lebih rendah. Dengan demikian, kita bisa memberikan penghargaan kualitas yang lebih kepada orang lain.

    Kata kerendahan hati (humility) berasal dari bahasa latin humalitas yang berarti garis terendah atau sikap tunduk. Sikap ini bisa kita dapatkan dengan cara berlatih dan terus belajar.

    Sahabat, menjadi rendah hati adalah mengenali dengan penuh syukur kebergantungan kita kepada Tuhan. Menyadari bahwa kita memiliki kebutuhan tetap akan dukungan Tuhan. Kerendahan hati adalah suatu pengakuan bahwa bakat-bakat dan kemampuan kita adalah karunia dari Tuhan.  Hal itu bukan tanda kelemahan, rasa malu, atau minder; itu merupakan pertanda bahwa kita mengetahui di mana letak kekuatan sejati. Kita dapat menjadi rendah hati dan tidak takut. Kita dapat menjadi rendah hati serta berani.

    Yesus Kristus adalah teladan kerendahan hati terbesar. Selama pelayanan-Nya di dunia,  Dia senantiasa mengenali bahwa kekuatan-Nya datang karena kebergantungan-Nya kepada Bapa-Nya. Dia berfirman: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; …  Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 5:30).

    Tuhan akan menguatkan kita sewaktu kita merendahkan diri di hadapan-Nya. Yakobus mengingatkan:  “Allah menentang orang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4:6, 10).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zefanya dengan topik: The Way to Life (Jalan Menuju Kehidupan)”. Bacaan Sabda diambil dari Zefanya 2:1-3. Sahabat, saat ini, sikap individualistis terasa sangat kuat, banyak orang cenderung mengutamakan kepentingan pribadinya daripada kepentingan bersama. Keinginan untuk diakui, lebih kuat daripada keinginan untuk hidup bersama sebagai manusia yang setara. 

    Untuk mencapai hal tersebut, orang lain tidak lagi dipandang sebagai subyek yang juga patut untuk dihargai. Hidup yang demikian tentu tidak akan membawa ketenangan, tetapi justru kerisauan yang tidak berkesudahan. 

    Kepada umat-Nya, nabi Zefanya menyerukan ajakan untuk bertobat. Uniknya, ajakannya ini diserukan kepada orang-orang yang rendah hati. Hal ini tentu bukan tanpa maksud, tetapi karena hanya orang-orang yang rendah hati sajalah yang dapat melihat kesalahan dan kekurangannya, sehingga mereka akan selalu mencari Tuhan dan mengarahkan hidupnya hanya kepada Tuhan. 

    Di sisi yang lain, nabi Zefanya juga menunjukkan, bahwa hanya orang-orang yang rendah hatilah yang dapat menemukan jalan menuju kehidupan yang sejati, yakni dengan senantiasa mengupayakan keadilan bagi sesama. Dengan demikian, maka Allah akan melindungi mereka, serta membebaskan mereka dari hukuman-Nya. 

    Sahabat, nabi Zefanya mengajarkan bahwa dengan bersikap rendah hati, maka kita akan menjadi pribadi yang bijaksana. Artinya, kita dapat melihat dengan mata terbuka bahwa kita hanyalah manusia yang kecil, sehingga kita dapat menjalani kehidupan yang sejati dengan senantiasa berserah kepada Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang rendah hati?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hanya orang yang rendah hati yang dapat menemukan hidup yang sejati. (pg).

  • UP AND DOWN 300 TAHUN

    Membaca kitab Hakim-hakim ada perjalanan sejarah bangsa Israel, keluar dari penjajahan Firaun 430 tahun, berkelana 40 tahun menanggung hukuman ketidakpercayaan terhadap janji Tuhan, akhirnya masuk tanah Kanaan dan di bawah Yosua berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menguasai Kanaan selama 30 tahun. 

    Sebelum Yosua dan angkatannya meninggal dunia, mereka memperingatkan orang Israel agar tetap menjaga Firman Tuhan dan menaatinya agar kehidupannya tetap baik sesuai berkat Tuhan yang telah dijanjikan. Kenyataannya lain, ada penampakan Malaikat Tuhan: “ … janganlah kamu mengikat perjanjian dengan penduduk negeri ini; mezbah mereka haruslah kamu robohkan. Tetapi kamu tidak mendengarkan firman-Ku. Mengapa kamu perbuat demikian? (Hakim-hakim 2:2)

    Akibatnya orang Israel di tanah Perjanjian dijajah silih berganti oleh berbagai bangsa. Terjadi penindasan yang sangat berat, ingat Tuhan kembali, bertobat kepada Tuhan, Tuhan mendengarkan permohonan, lalu Tuhan memilih beberapa tokoh menjadi hakim berperang melawan bangsa-bangsa penindas. Menang, para hakim memerintah orang Israel, kondisi menjadi tenteram dan aman, si hakim meninggal dunia, dan mulailah orang Israel lupa untuk tetap taat kepada Tuhan. Lalu ditindas musuh lagi. Up and down kehidupan rohani dan jasmani orang Israel, siklusnya selalu berulang, terjadi selama 300 tahun lebih.

    Zaman Yosua aman 30 tahun, Otniel menjadi hakim 40 tahun, Ehud menjadi hakim 80 tahun, Samgar – tidak dicatat berapa tahun, Debora dan Barak 40 tahun, Gideon 40 tahun, Abimelekh anak Gideon mengangkat diri menjadi raja 3 tahun, Tola 23 tahun, Yair 22 tahun, Yefta menjadi hakim selama 6 tahun, Ebzan 7 tahun, Elon 10 tahun, Abdon 8 tahun, Simson 20 tahun. Total ada 12-13 periode hakim-hakim sejak Yosua, jumlah tahunnya selama 329 tahun sejak masuk tanah Kanaan. Sangat lama up and down kehidupan rohani dan jasmani, saat kerohanian baik Tuhan memberkati, saat meninggalkan Tuhan hukuman dan penindasan datang.

    Saudaraku, terjadi up and down selama 300 tahun lebih, jelas, karena tidak mendengarkan, apalagi menaati firman Tuhan. Gereja-gereja yang megah di ratusan kota di luar negeri mulai ditinggalkan jemaatnya. Sepi, bahkan anggota jemaat yang tersisa tidak mampu membiayai perawatan gedung gereja. Pemerintah memandang bangunan gereja sebagai cagar budaya, akhirnya menetapkan pajak gereja (Kirchensteuer). 

    Di Google dapat kita temukan besaran panjaknya: Sebesar 9% dari PPh, atau 8% di Bavaria dan Baden-Württemberg Jerman, jika berpenghasilan 50.000€ per tahun, pajak gereja sekitar 800€ per tahun. Di Swiss besaran pajak gereja ditentukan oleh Kanton atau negara bagian setempat, berlaku terhadap perorangan maupun badan hukum. 

    Saudaraku, mari kita sadar, bahwa gereja-gereja di Jerman dan Swiss didirikan dan dibangun oleh para pengikut Martin Luther, William Tyndale, Ulrich Zwingli, Yohanes Calvin, dan Menno Simons,  yang ajaran-ajarannya hingga hari ini menjadi pengajaran cukup banyak gereja-gereja di Indonesia.

    Menghadapi tantangan tersebut, aku mengajak Saudara untuk merenungkan kitab Ulangan 6:1-9. Umat Tuhan diselamatkan dari perbudakan Mesir untuk suatu kehidupan yang baru, yaitu hidup dalam iman. Hidup dalam iman berarti terhubung dengan dengan Allah dalam sebuah relasi yang dilandasi oleh kasih. Umat Tuhan bukan hanya mengakui Tuhan, tetapi mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan.

    Sebelum umat Tuhan sampai ke tanah perjanjian, Tuhan mengingatkan umat-Nya melalui Musa bahwa hal yang terutama dalam hidup mereka adalah memiliki kehidupan yang beriman. Iman kepada Allah yang menyelamatkan mereka menjadi bagian hidup yang terpenting dan paling berharga turun-temurun. Itulah WARISAN TERBESAR  umat Tuhan kepada ANAK-ANAKNYA : IMAN YANG HIDUP.

    Hal yang terutama, terpenting, dan paling berharga bagi umat Tuhan di sepanjang masa adalah iman yang hidup kepada Allah di dalam Yesus yang menyelamatkan manusia dari dosa. Karena itu, seharusnya setiap orangtua Kristen mewariskan iman yang hidup itu kepada anak-anaknya.

    Saudaraku, mewariskan iman memang harus dilakukan dengan cara mengajarkan dan menunjukkan sikap hidup sehari-hari di dalam mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Mari kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan dalam setiap aktivitas hidup kita sehari-hari. (Surhert).

  • DARAH YESUS

    Saudaraku, karena sesuatu hal, aku mesti dirawat di rumah sakit 3 hari. Kamar RS semuanya penuh dan aku mendapat bed kosong di ruang yang pasiennya 6 orang. Ya gimana lagi, ya masuk aja karena memang perlu infus. Ternyata di ruang ini aku melihat banyak kehidupan di ambang kritis. Di sebelahku umur 50 tahun sudah ngorok koma, keluarganya nangis-nangis, baru 30 menit lalu mesti dibawa ke ICU. Lalu ada pasien baru yang datang dalam keadaan tidak sadar, infus dan oksigen, karena semalam dia ada di dalam mobil ber-AC terlalu lama dan tiba-tiba pingsan.

    Kemarin ada seorang Pendoa yang besuk ke setiap pasien dan mengajak doa. Suaranya keras, dan ayat-ayat berikut ini yang selalu dibacakan ke setiap pasien dan penunggunya.

    “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:4-5) 

    Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Matius 8:17)

    Lalu Si Pendoa mengajak pasien dan penunggu untuk doa bersama dan minta ampun kepada Tuhan agar bisa mendapatkan kesembuhan, sebab darah Yesus akan menyembuhkan.

    Nah ini, melihat adegan yang diulang, mungkin dari kamar ke kamar, tiba-tiba timbul pertanyaan di benakku: Apakah penebusan Tuhan Yesus di salib, bilur-bilur akibat penyiksaan yang kejam, apakah darah penebusan Yesus hanya dikhususkan untuk kesembuhan penyakit? 

    Dalam posisi masih berbaring, aku mendengar bisikan lembut: “Sur, coba renungkan dalam-dalam 1 Petrus 2:24-25”. Segera aku membacanya: “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu. 

    Saudaraku, sejatinya manusialah yang memikul dosa-dosanya. Manusia harus membersihkan dirinya dari segala dosanya agar bisa memperoleh kehidupan yang kekal, sebab  upah dosa adalah maut atau kematian kekal. 

    Usaha manusia untuk menjadi sempurna dengan menanggalkan segala dosa tidak mungkin terjadi. Satu-satunya cara membersihkan manusia dari keberdosaannya adalah menjadikan Yesus memikul dosa itu di kayu salib. Hal pertama yang dirampungkan Kristus di kayu salib ialah menanggung segala kelakuan dosa kita, yakni dosa-dosa yang kita lakukan agar kita diselamatkan, berpindah dari dalam maut ke dalam hidup.

    Pada saat yang sama, Kristus di kayu salib menyingkirkan sifat dosa di dalam kita (dosa yang diwariskan sejak lahir) agar kita diselamatkan dari sifat dosa yang ada di dalam kita. Kristus menanggung dosa-dosa lahiriah kita juga menyingkirkan sifat dosa di dalam kita di atas salib: Ia menerima kutuk yang harus dipikul berdasarkan hukum Taurat Allah atas kejatuhan dan dosa kita.

    Kematian Kristus di kayu salib bukan hanya membereskan dua aspek dosa tersebut namun juga menyalibkan manusia lama kita agar tubuh dosa kita kehilangan fungsinya sehingga kita tidak perlu lagi diperbudak dosa. Kristus mengambil dosa-dosa kita ke dalam tubuh-Nya sendiri dan membawanya pergi, naik ke bukit Kalvari, ke kayu salib, dan di sana Ia telah membayar lunas harga dari dosa-dosa kita. 

    Saudaraku, inilah yang disebut dengan substitusi atau penggantian penebusan. Dia yang tak bernoda, rela menebus kita. Karena itu, berilah syukur dan terimakasih bagi Yesus yang telah rela memikul dosa-dosa kita agar kita beroleh kehidupan yang kekal. Dia yang sudah menanggung segala kelemahan kita agar kita menikmati pembebasan dari efek dosa (overguilty, kepahitan hati) yang bisa menimbulkan kelemahan fisik. Mari nikmati kuasa darah Yesus yang membebaskan kita secara holistis.   (Surhert)

  • MOBILITAS

    Saudaraku, sementara menunggu antrian dokter di rumah sakit, aku perhatikan pergerakan pasien. Yang dari Unit Gawat Darurat (UGD) ke bangsal lain diangkut menggunakan ranjang beroda. Lalu yang paling banyak pergerakan pasien dan orang sakit memakai kursi roda, jarang melihat yang memakai kruk atau tongkat. 

    Di Alkitab aku tidak menemukan adanya kursi roda, entah mengapa, padahal saat itu kereta beroda merupakan salah satu moda  transportasi. Justru gambar orang dengan kursi roda dari China zaman Samkok pada tahun 220–280, yakni ahli strategi militer Zhuge Liang yang pergi kemana pun duduk di kursi roda yang didorong.

    Aku menemukan cukup banyak cerita tentang orang lumpuh di Alkitab. Ternyata lumpuh termasuk salah satu penyakit dan kelemahan yang cukup banyak  diderita manusia sejak dulu. Mengapa lumpuh? Jelas karena tidak bisa berdiri, entah itu karena usia lanjut ataupun penyakit. Sering kita mengabaikan kekuatan kaki dalam menopang tubuh. Misalkan berat badan 60 kg, maka satu kaki menopang tubuh 30 kg selama 24 jam sepanjang hari, sepanjang tahun, padahal air dalam kemasan galon beratnya hanya 20 kg tapi kalau kita mesti menggotong 1 galon saja selama 15 menit akan sangat lelah.

    Saudaraku, Tuhan menciptakan struktur tubuh kita sangat unik dan hingga hari ini dunia kedokteran masih menemukan hal-hal baru tentang tubuh manusia.  Pemazmur mengingatkan kita: ”…  Engkaulah, Tuhan, yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku” (Mazmur 139:13). Penulis kitab Ayub juga mengingatkan kita: “Engkau mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang dan urat” (Ayub 10:11). 

    Terjadinya seluruh tubuh dan diri kita sebenarnya ada kuasa dan tangan Tuhan yang mengerjakannya. Sayangnya, tidak semua kita menyadarinya. Akhirnya melakukan perbuatan yang tidak senonoh, bersikap sembrono tidak memedulikan kesehatan akibatnya tidak mampu bergerak akibat suatu penyakit dan bahkan terjadi kelumpuhan.

    Saudaraku, raja Daud dalam Mazmur 94:18 menulis: Ketika aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku. Kaki adalah bagian tubuh yang sangat penting sebab kaki akan membawa kita kemana saja yang kita sukai. 

    Jika kaki kita mengalami gangguan maka kita tidak bisa berjalan kemana-mana lagi. Terkadang kaki kita bisa mengalami gangguan, misalnya kaki kita tidak kuat menahan beratnya tubuh kita, atau kaki kita tidak bisa berjalan jauh, akhirnya kaki kita goyang dan tidak bisa lagi berdiri kokoh.

    Sesungguhnya yang sering membuat kaki kita goyang adalah masalah yang sedang kita hadapi. Kita tidak bisa melangkah karena banyaknya pergumulan hidup yang kita hadapi. Kita enggan melangkahkan kaki kita karena beban yang sedang kita pikul saat ini. Kita merasa malu berjalan karena tubuh kita dipenuhi masalah. 

    Penyakit yang mengganggu tubuh kita membuat langkah kita terhenti dan sulit melangkah. Ekonomi yang tidak memadai membuat langkah kita terseret-seret jalannya. Masalah anak, suami dan istri bahkan keluarga membuat kaki kita sulit melangkah keluar rumah. Kadang masalah di kantor dan pekerjaan membuat langkah kita tidak percaya diri lagi dan depresi.

    Ada cukup banyak hal yang membuat kaki kita goyang dan tidak tahan lagi berjalan. Pada situasi itu kita butuh kekuatan yang bisa membuat kaki kita kokoh dan kuat kembali. Hanya TUHAN-lah yang bisa dan mampu memberikan kekuatan baru bagi kaki kita agar kuat dan kokoh kembali melangkahkan kaki untuk berjalan menapaki kehidupan ini walau ada banyak pergumulan yang menghimpit kita. 

    Saudaraku, kita berjalan bersama TUHAN maka kaki kita kuat menahan derita dalam perjalanan hidup di dunia ini. Karena itu, teruslah mengandalkan TUHAN agar kaki kita tidak goyang namun kokoh dan kuat menjalani perjalanan hidup kita di dunia ini. (Surhert).