Category: Sejenak Merenung

  • DIMASUKKAN KOPER

    Saudaraku,  beberapa hari belakangan ini ramai diberitakan pembunuhan dan mayat korbannya dimasukkan dalam koper besar yang memakai roda, agar dapat digelandang dengan mudah ke kendaraan dan dibuang entah kemana. Korbannya sering wanita,  karena postur tubuhnya lebih kecil daripada pria yang membunuhnya. Mengapa dibuang?  Ya jelas maksudnya  tentu untuk menghilangkan jejak pembunuhannya. Ini modus pembunuhan dan penghilangan jejak barang bukti yang sering terjadi.

    Nah kok polisi dengan mudah menemukan tersangka pembunuhan dalam waktu yang singkat. Ini sedikit bocorannya. Setelah mayat tidak dikenal diketemukan oleh entah siapa, sesuai prosedur mayat harus dikirim ke rumah sakit polisi dan polisi akan menyidik lokasi pembuangan dan saksi-saksi sekitar tempat itu sekiranya mereka melihat siapa yang membuang koper atau pembungkus mayat, juga mungkin ditemukan barang bukti yang lain seperti dompet, KTP, handphone, dan lain-lain. 

    Bila mayat dibuang dalam koper akan dapat direka kira-kira koper besar dibeli dimana, karena tidak setiap toko menjual koper ukuran besar yang muat mayat orang dewasa. Ada sedikit kesamaan dalam modus pembuangan barang bukti, korban dewasa sering dibunuh di tempat lain dan jasadnya dibuang di tempat yang jauh, sedangkan mayat balita, terutama bayi, biasanya dibuang tidak jauh-jauh di sekitar lokasi pembunuhan.

    Dokter forensik di rumah sakit polisi sudah berpengalaman melakukan otopsi jenazah, dapat dibuat perkiraan kira-kira mengapa meninggal. Saat otopsi dilakukan tim polisi bidang forensik juga akan datang mengambil sidik jari, foto wajah mayat, foto mata dan memeriksa kondisi gigi. 

    Data yang didapat akan dicocokkan dengan data di e-KTP, SIM atau paspor, karena saat pembuatan e-KTP/SIM/paspor ada sidik jari dan foto wajah sekaligus mendeteksi mata, dan data-data ini diolah dalam algoritma yang sangat kompleks dan disimpan oleh pihak yang berwajib. 

    Bahkan korban pesawat yang meledak dan jatuh di laut bila diketemukan potongan tangan atau wajah, maka dapat dianalisa dengan data di kepolisian, dan dapat diketahui nama dan alamat korban. Juga polisi menunggu sekiranya ada laporan tentang orang hilang, dan data yang dilaporkan dicocokan dengan data mayat. Ini zaman teknologi canggih ya, dalam beberapa waktu dapat dikenali identitas mayat.

    Saudaraku, kemudian polisi akan mendatangi alamat korban, memeriksa orang-orang di sekitar alamat, juga minta nomor handphone korban. Dari sini dapat dilacak pergerakan korban di saat-saat terakhir, menelepon/WA siapa, karena data ini tersimpan baik oleh provider kartu selular. 

    Penyidikan selanjutnya dapat diketahui tujuan akhir korban sebelum dibunuh, seperti ke hotel, nah pihak hotel harus memberikan seluruh data CCTV yang ada, juga resepsionis hotel akan dimintai keterangan yang cukup rumit, membuat orang kelelahan saat penyidikan. Data CCTV dapat diketahui pergerakan korban terakhir dan kira-kira dia datang dengan tamu siapa, dan dengan teknologi face recognition dapat dikenali wajah-wajah orang yang bersama korban, dan data ini dicocokkan dengan database di e-KTP/SIM/paspor. Tidak berapa lama kemudian pastilah si pembunuh dapat dikenali dan dikejar kemana dia pergi melarikan diri. Ini tugas standar operasional kepolisian untuk kasus-kasus pembunuhan.

    Saudaraku, Musa pernah membunuh orang Mesir dan menyembunyikan mayatnya dalam pasir (Keluaran 2:11-12), namun tindakannya dilihat oleh orang Ibrani yang lain, dan peristiwanya didengar oleh Firaun, akibatnya Musa kabur ke tanah Midian. Dalam Kejadian 4, Kain membunuh adiknya dan mungkin membuang jasad adiknya ke suatu tempat, tapi Tuhan tahu dan berfirman kepada Kain: Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.” (Kejadian 4:10), Jadi darah Habil, si korban berteriak ke Tuhan, kok bisa? 

    Kitab Imamat 17:14 menyebutkan, karena darah itulah nyawa segala makhluk, dan ciptaan Tuhan baik umat manusia dan binatang ada darahnya, ada nyawanya – yang merupakan anugerah Tuhan terbesar, sehingga seluruh mahluk hidup dapat bertumbuh, dapat bergerak dan memiliki indera. 

    Dalam Sepuluh Hukum Perintah Allah ke-6 Tuhan tegas berfirman: “Jangan membunuh” (Keluaran 20:13). Jadi manusia tidak boleh merusakkan atau membinasakan ciptaan Allah yang paling utama, yakni manusia. Perintah Allah itu ditegaskan lagi dalam 1 Samuel 2:6, hanya TUHAN yang berkuasa mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. 

    Perintah Allah ini tegas dimaksudkan agar kita dilarang membunuh orang lain, tapi juga dimaksudkan untuk diri kita sendiri, jangan membunuh, yakni melakukan tindak bunuh diri, dan tindakan-tindakan yang merusak diri sendiri secara pelan-pelan merusak kesehatan seperti kecanduan narkoba, miras, dan lain-lain.

    Saudaraku, hargailah kehidupan, baik bagi orang lain maupun bagi dirimu sendiri, karena tubuh hidup ini adalah milik Tuhan: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). (Surhert).

  • Idols in People’s Lives

    HUJAN. Sahabat, hujan sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Jika bumi tidak disirami hujan maka bumi akan mengalami kekeringan. Tumbuhan dan ternak akan mengalami kematian, sehingga banyak petani mengalami gagal panen. Masalahnya siapakah pemberi hujan itu? 

    Kita di Indonesia memang hanya mengenal dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Akan tetapi di Israel dan di kebanyakan negara beriklim sub tropis, terdapat empat musim yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Pada musim semi, tentunya tanaman mulai bersemi dan biasanya banyak hujan di musim semi, sedangkan memasuki musim panas, hujan biasanya akan mulai berkurang, serta suhu pun menjadi lebih panas daripada musim semi. Logikanya, banyak orang akan mengharapkan hujan di akhir musim semi sebagai persiapan untuk memasuki musim panas.

    Masalahnya kepada siapa kita meminta hujan tersebut? Firman Tuhan jelas berkata bahwa kita seharusnya meminta hujan kepada Tuhan, dan memang seharusnya hanya kepada Tuhan. Mengapa demikian? Tentunya karena Tuhan sendirilah yang menciptakan alam semesta beserta isinya (Kejadian 1:1-31). Jika Tuhan adalah pencipta alam semesta, maka Ia juga berkuasa penuh atas alam semesta, termasuk dengan iklim dan musim. 

    Tuhan bisa menurunkan kemarau berkepanjangan hingga tiga tahun tidak turun hujan (Yakobus 5:17, 1Raja-raja 18:1), tetapi Tuhan juga bisa menurunkan hujan deras untuk mengakhiri kemarau tersebut (1Raja-raja 18:45). Terlebih lagi, Tuhan juga sanggup menurunkan hujan selama 40 hari dan 40 malam sehingga air memenuhi bumi dan membinasakan segenap makhluk hidup kecuali yang ada di bahtera Nuh (Kejadian 7:12). Tuhan menjanjikan hujan lebat kepada setiap orang yang meminta kepadanya.  Tuhan melarang kita untuk meminta hujan selain kepada-Nya. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “Idols in People’s Lives (Berhala dalam Kehidupan Umat)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 10:1-2. Sahabat, Tuhan kita adalah Allah yang kudus, sehingga ketika umat terus tidak taat, maka Tuhan pasti akan menjatuhkan hukuman (Keluaran 34:7). Apalagi jika dosa menyembah berhala, maka hukumannya bertambah berat.

    Ayat pertama dimulai dengan seruan kepada umat untuk meminta hujan kepada Tuhan. Pasalnya, Tuhanlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras (Ayat 1). Tuhan juga yang memberikan kekeringan sebagai hukuman bagi umat yang melanggar perjanjian-Nya. Musa sudah memperingatkan hal itu seperti tertulis dalam Imamat 26:19 dan Ulangan 28:23. Secara tersirat, Tuhan meminta umat-Nya untuk bertobat serta meminta pengampunan-Nya. Jika mereka berbalik kepada Tuhan, Ia akan menurunkan hujan lebat dan tumbuh-tumbuhan pun akan tumbuh kembali di padang (Ayat 1b).

    Sahabat, penyebab murka dan hukuman Tuhan terlihat pada ayat kedua. Di situ ditunjukkan bahwa umat sudah menyembah terafim, yaitu patung berhala rumah (Kejadian 31:19). Mereka juga datang kepada juru-juru tenung untuk mendapatkan penglihatan dan mimpi. Padahal, itu merupakan kekejian bagi Tuhan (Ulangan 18:10-12). Oleh sebab itulah, Dia menghukum umat-Nya dengan memberikan kekeringan sehingga mereka tercerai-berai seperti domba yang tidak bergembala.

    Salah satu dosa yang sangat dibenci Tuhan adalah penyembahan berhala. Alasannya, TUHAN Allah kita adalah Allah yang cemburu (Keluaran 20:5). Oleh sebab itu, Tuhan akan menghukum dengan berat umat yang menyembah berhala. Dia bahkan akan membalaskan sampai kepada keturunan yang ketiga dan keempat (Keluaran  20:5). Namun, Tuhan Allah kita juga penyayang dan pengasih. Dia akan mengampuni pelanggaran, kesalahan, dan dosa (Keluaran 34:6) ketika umat bertobat.

    Sahabat, mari kita meneduhkan diri: “Apakah masih ada berhala dalam kehidupan kita?” Berhala itu bisa saja berwujud kekuasaan, karier, harta, hobi dan lain-lain.  Jika masih ada, mari segera bertobat. Penyembahan berhala adalah suatu kekejian di hadapan Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenungan kita dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang berhala pada zaman ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan ada berhala dalam bentuk apa pun diantara kita. (pg)

  • PENYERTAAN TUHAN TAK BERUBAH

    Saudaraku, dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) kita melihat banyak sekali Tuhan menolong bani Israel dan membangkitkan puluhan pahlawan bangsa yang heroik dan legendaris. Misalnya: 

    1. Musa yang membelah Laut Teberau sehingga bani Israel bisa menyeberangi laut menghindari kejaran Firaun.
    2. Yosua memimpin orang Israel menyeberang Sungai Yordan dan air sungai berhenti hingga 25 km ke hulu.  Yosua juga pernah memerintahkan agar matahari tidak bergerak ke arah terbenam hingga perang dimenangkan. 
    3. Daud dengan umban atau katapel mengalahkan raksasa Goliat. 
    4. Ester si anak yatim orang Yahudi bisa menjadi ratu dari Raja Persia dan membalikkan rencana genosida terhadap bangsa Israel yang diskenariokan oleh Haman bin Hamedata, dan menjadi kemenangan bagi orang Israel sehingga sampai hari ini peristiwa itu diperingati sebagai hari raya Purim.

    Namun di zaman Perjanjian Baru (PB) kita seperti melihat Tuhan mengizinkan bani Israel dikalahkan, tidak ada lagi kisah heroik para pahlawan karena terjadi penyaliban Yesus.  Saat itu para pemuka bangsa Israel bersumpah di depan Pilatus dan segenap  rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” (Matius 27:25). Selanjutnya sejarah mencatat kisah kelam Israel pasca PB:

    1. Jenderal Titus menyerbu Yerusalem pada tahun 70 Masehi dan menghancurkan Bait Allah Yerusalem yang dibanggakan orang Israel hingga saat ini. 
    2. Orang Yahudi terserak ke seluruh dunia setelah 3 tahun memberontak terhadap kekaisaran Romari.  Berawal dari seorang ahli kitab Yahudi yang berhasil meyakinkan Dewan Sanhedrin Yahudi untuk mendukung pemberontakan yang dipimpin oleh Simon Bar Kokhba, yang diyakini sebagai Mesias Yahudi, sesuai nubuatan Kitab Bilangan 24:17.  Akibat peristiwa ini, 580.000 orang Yahudi terbunuh, 50 kota benteng dan 985 desa diratakan dengan tanah, ribuan orang Yahudi dijual dijadikan budak belian. 
    3. Saat Perang Dunia II, Adolf Hitler menangkap jutaan orang Yahudi dan membinasakannya dalam kamp-kamp konsentrasi, ini jumlah korbannya jauh lebih besar daripada seluruh orang Yahudi yang mati dalam perang yang diceritakan dalam Alkitab (PL dan PB).

    Saudaraku, kalau kita merenungkan penyertaan Tuhan, sepertinya kita melihat “perbedaan” sikap Tuhan pada orang Israel.  Jika dahulunya Tuhan nampak begitu perkasa membela orang Israel, mengapa Tuhan seakan makin menjadi acuh dan tak peduli dengan perjuangan orang Yahudi?  Sudah berubahkah Tuhan?

    Saudaraku, saat memperingati HUT ke-52 Yayasan Christopherus kita perlu mengingat perjuangan para pendiri pada masa lalu dengan segala kelemahan dan kekurangannya dapat bersatu mendirikan Yayasan Christopherus.   Setelah 52 tahun  berlalu, Yayasan Christopherus tetap teguh berdiri meskipun Presiden Indonesia sudah 7 kali berganti.  Jasa dan pengorbanan para pendiri memang perlu dikenang, namun itu jangan sampai hanya menjadi kisah heroik dan legendaris seperti kisah heroik penyertaan Tuhan dalam PL yang pada  akhirnya di zaman PB “seakan-akan” melemah. Bukankah kita meyakini bahwa penyertaan Tuhan berlaku selamanya?

    Tantangan memang sedang dihadapi dimana :

    1. Dana operasional Yayasan Christopherus semakin terbatas.
    2. Makin sulit mendapatkan SDM baru dan segar karena anak-anak muda saat ini tidak mudah diraih untuk menjadi mitra pelayanan

    Sadar akan tantangan yang akan dihadapi pada tahun mendatang, mari kita semua berdoa agar Yayasan Christopherus tetap teguh melayani dan terus menjadi berkat walau  perjuangan semakin  tidak mudah. Justru dalam segala kelemahan ini, Yayasan Christopherus perlu untuk terus makin sadar dan bersandar pada pertolongan Tuhan. Mungkin kisah heroik di masa awal Yayasan Christopherus berdiri tak lagi dialami setiap saat, namun pertolongan Tuhan dalam “hal kecil”  tak akan pernah berhenti.  Tuhan masih menyertai sampai saat ini.

    Saudaraku, siapa pun yang terlibat dalam Yayasan Christopherus perlu untuk merenungkan ayat ini: “Jadi kami ini  (seluruh rekan dalam Yayasan Christopherus.red) adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu (para pembaca sekalian dan jemaat gereja yang dilayani.red)   dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” (2 Korintus 5:20).  

    Yayasan Christopherus datang untuk membawakan kabar perdamaian bagi kita semua dari belenggu dosa, dan dapat berubah menjadi Saksi Kristus. Tetaplah berjuang membawa kabar baik dan Tuhan akan menyatakan penyertaan-Nya sesuai dengan cara-Nya yang Ajaib.  Kisah heroik perjuangan pembawa kabar baik akan terus dituliskan oleh Yayasan Christopherus dari zaman ke zaman sesuai dengan pergumulannya. Percayalah bahwa pernyertaan Tuhan tak akan berubah. (Surhert).

  • TAK ADA LAGI RAHASIA

    Saudaraku, tidak banyak manusia yang mau mengakui cerita hidupnya dengan terus terang apalagi kalau rahasia itu berkaitan dengan citranya dalam masyarakat.  Setiap manusia memiliki rahasia hidup namun tak ada satupun yang tersembunyi di hadapan Tuhan.  Mari merenungkan Yohanes 4:1-42.

    Perempuan Samaria yang tak disebut namanya itu mempunyai “rahasia” yang membuatnya memisahkan diri dari komunitasnya selama ini.  Ia sengaja selalu mengambil air di sumur pada jam dua belas siang agar tak bertemu manusia di sana karena ia menyimpan ”rahasia” yang membuat citranya hancur berantakan di hadapan masyarakat yang kuat memegang tradisi. Mungkin saja apa yang dilakukannya sudah diketahui masyarakat sehingga menjadi rahasia umum, namun jelas perempuan itu menjaga ruang privatnya agar citra dirinya tidak makin rusak.  

    Siang itu ada seorang Lelaki Yahudi yang kehausan duduk di sumur itu sendirian dan memintanya mengambilkan air lalu mengajaknya bercakap. Perempuan itu terhenyak saat “rahasia” yang disimpan begitu rapat pada akhirnya dibongkar oleh Orang Asing itu.  Lelaki itu mengetahui bahwa ia bukan perempuan yang baik karena ia sudah lima kali “bersuami” tanpa pernikahan.  

    Perempuan itu langsung menyadari bahwa Lelaki Yahudi itu adalah Mesias karena berhasil membongkar apa yang selama ini ditutupinya dan bahkan membebani hidupnya.  Ia merasakan pengertian dan penerimaan Yesus walau Yesus sendiri tidak menyetujui perbuatan rahasianya itu.  Perempuan Tanpa Nama pulih dan berani bertemu orang banyak tanpa terbebani dengan “rahasia”-nya,  menerima dirinya sendiri dan meyakinkan banyak orang untuk bertemu Yesus, Mesias itu.  Ia pulih saat ia membuka ruang bagi Yesus untuk menguraikan semua yang ditutupinya selama ini.

    Saudaraku, manusia selalu memiliki ruang privat yang menyimpan rahasia hidupnya, hal yang tidak ingin dibagikannya kepada orang lain termasuk orang terdekatnya.  Seringkali rahasia itu membuat manusia memiliki beban,  merasa terkungkung dan tidak nyaman karena ia berusaha keras menjaga citra baik di depan orang banyak. Namun serapat apa pun seorang menyimpan rahasia, Tuhan tidak pernah melihatnya sebagai rahasia karena semua peristiwa kehidupan itu terbuka di hadapan-Nya.  Di hadapan Tuhan semua terbuka dan terlihat, maka percuma kalau manusia menyimpan rahasia di hadapan Tuhan.  

    Maka manusia harus mulai berani membuka beban, kisah kelam, perbuatan dosa kepada Tuhan, ia akan menerima kelegaan  seperti Perempuan Tanpa Nama itu.  Saat kelegaan dirasakan, manusia akan mampu menjadi manusia yang menerima dirinya dan bahkan memengaruhi sekitarnya dengan sikap positif. 

    Sekelam apa pun rahasia yang dimiliki, berilah ruang Tuhan untuk bekerja dalam kehidupan agar hati lega dan mengalami pemulihan sebagaimana Yesus sendiri berkata: ”Datanglah kepada-Ku kamu semua yang lelah, dan merasakan beratnya beban; Aku akan menyegarkan kamu.” (Matius 11:28, versi BIS).  Selamat bertumbuh dewasa. Oh ya, selamat HUT ke-52 Yayasan Christopherus. (Ag)

  • The Cleansing Flow

    Saudaraku, dalam perjumpaan kita yang pertama, mari ini kita merenungkan Mazmur 1:1-6 dengan penekanan pada ayat 3: “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. 

    Seorang nenek yang berumur 90 tahun, baru  saja mendapatkan hadiah kesetiaan dari Gereja, karena satu kali pun tidak pernah izin dari ibadah hari Minggu.

    Ketika pulang, Sang Cucu yang  beberapa kali mengantar neneknya bertanya kepada neneknya : “Mengapa Nenek sangat suka datang ke gereja? Apa nenek bisa mengikuti puji-pujian yang dinaikkan (karena banyak lagu-lagu baru) dan mengerti tentang Firman Tuhan yang disampaikan?” 

    Sang Cucu bertanya, karena dia tahu betul neneknya sudah sulit untuk mendengar dan melihat dengan baik.

    Dengan tersenyum, Sang Nenek hanya menyuruh Sang Cucu mengambilkan sebuah tas belanja yang terbuat dari anyaman, lalu meminta cucunya untuk mengambilkan air menggunakan tas anyaman tersebut, dan menuangkannya dalam sebuah ember.

    Beberapa kali Sang Cucu mengambil air tersebut, tetapi airnya selalu tidak terisi dengan penuh (airnya selalu tercecer karena banyak lubang dari tas anyaman tersebut).

    Tiga puluh menit berlalu, Sang Cucu mulai kelelahan, hingga berkata kepada neneknya: “Mengapa Nenek menyuruh saya melakukan hal yang tidak berguna ini?  Saya bahkan tidak tahu sampai kapan air dalam ember ini akan penuh karena air yang saya bawa dalam tas anyaman ini banyak yang tercecer, habis dalam perjalanan.”

    Dengan lembut Sang Nenek itu berkata, “Mengapa kamu berkata apa yang kamu lakukan itu tidak berguna? Coba sekarang  kamu lihat apa yang terjadi di dalam tas anyaman tersebut?”

    Dengan kaget, cucunya berkata:  “Nek, tasnya jadi bersih, tadinya kotor karena selalu dipakai untuk belanja di pasar.”

    Nenek tersebut lalu menjelaskan kepada cucunya: “Demikian juga dengan hidup rohani kita. Mungkin benar apa yang  kamu katakan, kalau nenek tidak bisa mengikuti nyanyian dengan baik. Banyak lagu-lagu yang nenek tidak tahu. Sama halnya dengan Firman yang disampaikan Bapak Pendeta, nenek memang tidak paham, karena nenek tidak bisa mendengar dengan baik. Tapi tahukah Cu, seperti tas yang kamu pakai untuk mengambil air terus menerus, demikian juga dengan hati nenek yang selalu disirami dengan pujian dan kebenaran Firman Tuhan, akan dibersihkan  hingga bersih.”

    Dari cerita tersebut kita bisa belajar bahwa pujian dan kebenaran Firman Tuhan adalah alat yang bisa kita gunakan untuk membersihkan hati dan pikiran kita dari hal-hal yang jahat.

    Seperti janji-Nya di dalam Mazmur pasal 1, akan ada perbedaan dari orang-orang yang mau menyediakan waktu untuk Tuhan (orang benar), dengan orang yang selalu sibuk dengan dirinya sendiri (orang fasik).

    Orang benar hidupnya akan selalu berbuah dan menjadi kesukaan (berkat) bagi banyak orang, sebaliknya orang fasik hanya akan menjadi batu sandungan bagi banyak orang.

    Kiranya pujian yang kita naikkan kepada Tuhan dan Firman Tuhan yang kita baca serta merenungkan setiap hari akan seperti aliran yang terus menerus membersihkan hati dan pikiran kita.

    Perenungan :

    Apakah kita mau senantiasa menyediakan waktu untuk memuji dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari?

    Pesan:

    Bagi kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  

    (Inthan)

  • HOME SWEET HOME

    Saudara, aku ingin menyaksikan pekerjaan Tuhan bagi kelompok yang terpinggirkan di sekitar gereja kami. Sekitar awal 1986 gereja kami mulai merintis pelayanan cell group, khususnya untuk menjangkau keluarga-keluarga yang tinggal di gang-gang sempit di kawasan jalan Labu yang padat di belakang gereja. Mereka umumnya tinggal di rumah yang sederhana. Jalanan di depan rumah hanya cukup untuk berpapasan becak dan gerobak tukang sayur. Got yang sering mampat dan bau, juga beberapa kali saat hujan deras pasti banjir menggenang.

    Pernah ada beberapa anggota jemaat yang mencoba pelayanan ke mereka, membagikan sembako dan mengajak ke gereja, namun nyaris nihil. Mereka minder bila mesti datang ke gereja di hari Minggu, karena mungkin tidak memiliki pakaian yang warnanya cerah tidak pudar, juga mungkin lebih banyak yang pakai sandal jepit atau sandal Asahi, sandal dari plastik yang dipakai asal kaki diselobokkan saja. 

    Sementara angota gereja banyak yang datang memakai mobil maupun motor, dan yang kaum perempuan mungkin memakai parfum yang baunya dapat dibaui dalam jarak 2 meter. Tentu ada perbedaan strata sosial dan ukuran kantong …

    Namun bagaimanapun setiap jiwa dipandang sangat berharga oleh Tuhan, tapi bagaimana menjangkau mereka? Ini yang perlu dipikirkan dan direnungkan.

    Suatu hari ada seorang encik usia 50 tahun lebih, ibu Chai Mei, seorang janda yang baru ditinggal mati oleh suaminya. Saat dia mengalami kesusahan, ada beberapa anggota gereja yang mengenalnya melayat, dan ibu Chai Mei terkesan sekali dengan perhatian yang diberikan. 

    Kemudian dia percaya pada Tuhan dan mengatakan kepada bapak Gembala Sidang bahwa dia ingin mempersembahkan rumah sederhana yang disewanya agar dapat dijadikan tempat pelayanan bagi tetangga sekitarnya. Ada sebuah peluang yang baik, namun bagaimana strategi yang mesti dipilih, karena tingkatan sosial dan budaya lingkungan yang akan dilayani berbeda dengan kondisi jemaat.

    Beberapa orang guru Sekolah Minggu (SM) yang aktif di Komisi Pemuda mengambil kesempatan ini, mereka dari kalangan menengah saja, menjadi guru SM biasa blusukan ke rumah murid-murid membawa gitar mengajak memuji Tuhan, juga kalau ngomong ya pakai bahasa yang mudah dimengerti. Ternyata kehadiran anak-anak muda ini mudah diterima oleh ibu Chai Mei dan tetangganya, ngobrol dengan bahasa sehari-hari, mengajak menyanyi gembira memuji Tuhan dengan bertepuk tangan, dan Firman Tuhan juga disampaikan oleh para guru SM ini, bukan oleh rohaniwan yang mungkin memakai istilah-istilah teologi yang rumit.

    Hadirin yang datang mencapai 25 orang kadang lebih, dari kalangan tua maupun anak muda, sedangkan tim yang berkunjung 3-5 orang, ruangan yang sempit, tidak cukup meskipun duduk di tikar hampir jongkok. Jadilah seminggu dua kali diadakan persekutuan, jadi semua dapat hadir. Dari rumah kontrakan sederhana dan sempit akhirnya menjadi “home sweet home” bagi warga, karena dari tempat ini dapat mendengarkan berita tentang keselamatan dan penebusan Tuhan Yesus untuk umat yang berdosa. Dan dari rumah ini pula timbul kerinduan dan keberanian dari warga untuk datang beribadah di gereja pada hari Minggu, khususnya di kebaktian pagi jam 6.30 dan jam 18.00 petang.

    Berjalan beberapa bulan, beberapa warga yang hadir tergerak ikut kelas katekisasi. Gembala Sidang dengan senang segera mengadakan kelas khusus katekisasi, tidak menunggu berlama-lama sesuai jadwal regular katekisasi yang rutin diadakan setahun 2 kali. Akhirnya pada tanggal 7 Desember 1986 Gembala Sidang dapat membaptis  22 orang anggota persekutuan jalan Labu dalam Kebaktian Minggu di gereja jam 6.30 dan 18.00. Inilah awal cell grup yang ada di gereja kami.

    Saat acara baptisan jam 18.00 aku berkesempatan menjadi juru foto baptisan. Foto anggota baptisan dengan Gembala Sidang dan Ibu ternyata menjadi salah satu foto paling bersejarah di gereja kami, karena menunjukkan bagaimana Tuhan juga mengasihi warga dari kalangan sosial yang berbeda dan kemudian para warga ini ternyata dapat bergaul dengan anggota jemaat yang ada. 

    Saudaraku, jadi foto sejarah gereja bukan tentang gedung gereja yang dibangun atau peresmian, atau pas ada retret atau KKR, tapi foto baptisan. Beberapa puluh tahun kemudian aku juga melihat foto ini disimpan oleh Pak Gembala Sidang di salah satu albumnya, sebagai kenangan yang manis dalam perjalanannya sebagai Hamba Tuhan.

    Oh ya, mari kita hayati dengan mendalam penggalan perumpamaan yang dituturkan oleh Tuhan Yesus: “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” (Lukas 15:4). 

    Selamat HUT Ke-52 Yayasan Christopherus. Pf.: 3 Mei 2024.  Dukunglah pelayanan Yayasan Christopherus dengan DOA, DANA, dan KARYA. (Surhert).

  • PRASASTI HAGAI

    Saudaraku, di salah satu gereja di Semarang saat dedikasi gedung gereja di tahun 1960 dibuatlah prasasti dari marmer dan ditempelkan di tembok. Teks prasasti diambil dari Hagai 1:8:  “Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN.” Pemilihan ayat Alkitab di prasasti itu tentu sudah menjadi pergumulan Gembala Sidang, Ketua Majelis dan Panitia Pembangunan pada saat itu. 

    Nah, yang agak aneh, karena umumnya gereja kalau membuat prasasti biasanya mengutip dari Yesaya 56:7: “… rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa”, atau ayat-ayat lain yang mirip, sedangkan prasasti dengan ayat Hagai 1:8 jelas mengingatkan warga jemaat di situ agar tetap membangun Rumah Tuhan, dan Tuhan akan berkenan.

    Aku coba bertanya-tanya mengapa ayat itu dipilih, tidak ada yang bisa memberikan latar belakangnya, bahkan di sejarah pendirian gereja juga tidak disebutkan kapan gereja didirikan, karena gereja ini rupanya tidak memerhatikan bidang pencatatan sejarah gereja, bahkan di websitenya pendirian gereja dituliskan berdasarkan visi penglihatan. Jadi asal mula pendirian gereja tidak diketahui dengan jelas. 

    Saudaraku, rupanya visi agar jemaat di situ tetap membangun Rumah Tuhan menjadi gema sepanjang masa bagi jemaat. Jumlah anggota jemaat yang sekitar 300-400 orang, bukan semuanya dari warga kelas atas, sering dalam perjalanannya kekurangan dana, dan gereja dibiarkan jemaat sedemikian saja. Seperti hingga tahun 1970 gereja tidak memiliki pompa air Sanyo, tapi tetap memakai pompa air engkol Dragon yang dipompa setelah memasukkan air pancingan, dan air dialirkan ke tangki atas. Sering kekurangan air kalau pas hari Minggu, dan toiletnya, maaf, mirip toilet di tempat-tempat umum pada umumnya.

    Suatu ketika seorang rohaniwan memasukkan persembahan dan menulis di amplop sebagai perpuluhan, nilainya Rp 12.500. Itu berarti honor rohaniwan sebesar Rp 125.000. Kontrakannya di gang sempit dan kendaraan dinasnya sepeda merk Butterfly. Aku lihat saat itu beberapa orang anggota jemaat agak marah mengapa kondisi SDM gereja kok begitu. Gaji terlalu mepet, tentu tidak bisa membeli buku-buku referensi untuk bahan khotbah. Namun Tuhan rupanya juga menjaga gedung gereja-Nya, hingga jarang terjadi adanya bocor atap ataupun cat tembok yang terkelupas, tapi pencuri masuk pernah ada dan speaker gereja lenyap.

    Aku perhatikan lagi, jika ada anggota jemaat yang berkecukupan dan dia memberikan persembahan bagi gereja untuk renovasi atau pembangunan, eh ternyata gerakan dari perseorangan ini segera didukung anggota-anggota lainnya, jadi potensi dana sebenarnya ada. Aku perhatikan lagi, ternyata anggota-anggota jemaat yang mau mempersembahkan uangnya untuk gereja malahan nampak usaha bisnisnya semakin maju, jadi benarlah visi di prasasti bahwa siapa  yang membawa kayu dan membangun Rumah Tuhan, maka Tuhan akan berkenan kepadanya dan berkat dicurahkan.

    Dahulu aku masih muda, duduk di kelas Sekolah Minggu, Remaja dan kemudian Pemuda, namun aku bisa melihat upaya-upaya anggota jemaat dalam menjaga kelangsungan gereja di situ. Namun setelah puluhan tahun kemudian aku bisa melihat bagaimana janji Firman Tuhan digenapkan khusus bagi orang-orang anggota jemaat di situ yang percaya dan mau melaksanakan mandat Firman Tuhan yang ditulis di Kitab Hagai 1:8, hingga hari ini.

    Saudaraku, Firman Tuhan adalah kekal. Kitab Hagai ditulis sekitar tahun 520 SM sesaat setelah orang-orang Israel kembali dari pembuangan di Babel. Saat itu Tuhan menghendaki adanya Pembangunan Bait Allah, dan Firman ini disampaikan kepada Zerubabel dan Iman Besar Yosua yang menjadi pemimpin orang Israel. Mereka taat untuk membangun kembali Bait Allah. Ribuan tahun kemudian, hingga tahun 1960 amanat pembangunan itu dipilih dan ditulis dalam prasasti pembangunan gereja, dan JANJI TUHAN TETAP BERLAKU  bagi jemaat-Nya hingga kini. 

    Selamat HUT Ke-52 Yayasan Christopherus. Pf.: 3 Mei 2024.  Dukunglah pelayanan Yayasan Christopherus dengan DOA, DANA, dan KARYA. (Surhert).

  • Conquer Problems with God’s Power

    TANTANGAN. Di dalam perjalanan pelayanan murid-murid Kristus yang ditulis dalam Alkitab, tidak ada seorang pun yang berjalan dengan mulus, tanpa tantangan. Penderitaan selalu menghadang dan harus dilewati demi tercapainya misi Allah melalui diri mereka. Rasul Paulus banyak menuliskan berbagai penderitaan yang dialaminya. Mungkin tidak ada manusia yang menginginkan penderitaan, termasuk Paulus sebagaimana yang ditulisnya dalam 2 Korintus 12:8.

    Dalam mengerjakan tugas pelayanan kita sering menimbang-nimbang berat tidaknya bagian-bagian tugas yang harus kita kerjakan. Mungkin tidak ada yang dengan sengaja memilih untuk mengerjakan yang sukar. Seorang siswa yang akan masuk ke Perguruan Tinggi, cenderung memilih jurusan yang sesuai dengan bidang minat dan kemampuan. Di satu sisi hal itu ada benarnya. Namun di sisi lain, sesungguhnya itu merupakan potret manusia yang tidak mau mengalami kesusahan. Manusia pada umumnya tidak mau meninggalkan zona nyaman dengan memilih hal-hal yang diperkirakannya tidak akan kesulitan mengerjakannya. Kalau pun ada, ia tergolong manusia luar biasa. MANUSIA LANGKA. Rasul Paulus  termasuk salah seorang sosok manusia langka tersebut.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “Conquer Problems with God’s Power (Taklukan Masalah dengan Kekuatan Allah)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 4:1-14. Sahabat, kita tahu merintis pelayanan bukan tugas yang mudah. Ada banyak kendala yang bisa melunturkan semangat. Halangan, mulai dari kerikil sampai batu besar, bisa datang bergantian menghadang. Namun, di tengah situasi itu, kita harus tetap yakin bahwa Allah akan selalu memimpin.

    Zerubabel mendapat tugas untuk membangun Bait Allah dan umat-Nya (Ayat 9). Mereka, yang kembali ke tanah perjanjian, bersusah payah untuk membangun kembali tanah leluhurnya dari reruntuhan.

    Namun, setelah sekian lama, mereka lupa tugas  utamanya sebagai umat, yaitu beribadah. Akan tetapi, permasalahannya adalah Bait Allah telah lama runtuh. Lalu, di mana mereka harus beribadah?

    Tuhan hendak memakai Zerubabel untuk menyadarkan umat Yehuda agar mulai membangun Bait Allah. Namun, orang-orang yang dihadapi Zerubabel bagaikan gunung batu besar. Oleh karena itu, tugas Zakharia adalah menyampaikan janji Allah kepada Zerubabel bahwa ia akan menyelesaikan tugas tersebut bukan karena kuat dan perkasanya, melainkan karena Allah (Ayat 6). 

    Dalam hal ini, Roh Allah akan meneguhkan setiap perkataan Zakharia kepada Zerubabel. Zerubabel dan Yosua adalah dua dahan pohon zaitun itu (Ayat 11). Merekalah perintis pekerjaan Allah untuk membangun kembali Bait Allah di Yerusalem.

    Allah memilih orang untuk membangun umat-Nya. Akan tetapi, bukan berarti rintangan segera sirna begitu saja. Gesekan, salah paham, dan berbagai masalah datang bak batu besar yang menghalangi pekerjaan Allah. Namun, kita tidak boleh mundur karena Allah, melalui Roh-Nya, akan selalu menguatkan. Inilah yang menjadi pegangan kita saat bekerja melayani Dia.

    Sahabat, zaman sekarang, teknologi sudah semakin maju. Kita patut bersyukur karena semua kemajuan itu bisa digunakan untuk mengatasi rintangan dalam pelayanan. Namun, kita harus tetap mawas diri. Semua kemudahan itu tidak boleh mengganti peran Roh Allah. Kita tetap harus mengandalkan Tuhan di atas segalanya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2 dan 6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Karya Allah tidak dikerjakan dengan keperkasaan atau kekuatan kita, melainkan dengan Roh Kudus. Selamat HUT Ke-52 Yayasan Christopherus. Pf.: 3 Mei 2024.  Dukunglah pelayanan Yayasan Christopherus dengan DOA, DANA, dan KARYA. (pg).

  • MAU DENGAR SIAPA?

    Saudaraku, mari kita telaah kisah Kain dan Habil, anak Pak Adam dan Bu Hawa atau Bu Eva (Kejadian 4). Setelah Kain dan Habel akil balig zaman itu sekitar usia 16 tahun, Kain menjadi petani dan Habel menjadi gembala kambing domba. Jelas Adam dan Eva mengajarkan kedua anaknya ini menyembah Tuhan dan membuat korban bakaran sesuai aturan Tuhan, khususnya korban bakaran dari hasil usaha.

    Dikisahkan Kain menjadi petani mempersembahkan hasil tanah kepada TUHAN sebagai korban persembahan, dan Habel sebagai peternak mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya. Ini tidak ada yang salah. 

    Ternyata Tuhan mengindahkan Habel dan menerima korban persembahannya, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Alkitab mencatat korban persembahan Habel yakni anak sulung kambing domba, termasuk lemak-lemaknya, jelas saja kalau daging dan lemak yang dibakar ya baunya harum semerbak seperti bau bakaran sate kambing. Karena Kain sebagai petani maka hasil bumi untuk persembahan tentulah gandum, juwawut (barley) dan sayur mayur termasuk buah-buahan, tentu saja saat dibakar tidak ada bau harum.

    Saudaraku, Tuhanpun bertanya ke Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”  Kain tidak bisa meredam amarahnya, dia mengajak Habel ke padang, dan Kain membunuh Habel. Bahkan ketika Tuhan bertanya: “Di mana Habel, adikmu itu?” Dijawab Kain: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”

    Mari kita analisa tindakan Kain sesuai psychoanalytic theory id, ego, superego Sigmund Freud. Id adalah kumpulan hasrat naluri yang tidak terkoordinasi, yakni apa saja kejengkelan Kain terhadap Habel, mungkin bukan saja karena korban bakaran, tapi ada beberapa lainnya yang bertumpuk di dalam hati, tidak jelas, pokoknya jengkel dan marah, ini yang menyebabkan kurang bisa tidur nyenyak di malam hari karena selalu kepikiran.

    Ego (Kain) adalah perasaan dan sifat-sifat yang terbentuk di dalam dirinya, sudah jadi kebiasaannya, terorganisir dan benar-benar realistis, dan bisa menjadi stimulus atau rangsangan yang menimbulkan hasrat naluriah. Freud menyebutkan sebagai mempunyai kebiasaan untuk mengubah keinginan id menjadi tindakan, seolah-olah tindakan itu adalah keinginannya sendiri. 

    Saudaraku, karena ada rangsangan-rangsangan dari ego, maka id yang tidak jelas itu muncul sebagai tindakan, yakni super ego. Kalau id berbentuk kejengkelan dan iri hati, sedangkan perasaan ego mendukung, apalagi merasa bisa dan merasa tidak ada apa-apa bila dilaksanakan, maka muncullah tindakan super ego yang ditujukan untuk mengalahkan atau memusnahkan pihak lawan.

    Jadi mulainya dari id yang tidak jelas maunya, tapi sebenarnya bisa dikontrol atau dibiarkan liar. Tuhan bisa membaca wajah Kain yang sedang suram tidak berseri, dan memperingatkan Kain untuk mengendalikan perasaan dan insting id yang membujuk untuk tidak berbuat baik, dan Tuhan meperingatkan, hati-hati kalau kamu tidak menjaga id di hatimu, karena dosa sudah mengintip di depan pintu dan sangat menggoda, tetapi engkau harus berkuasa atasnya. Kain gagal menjaga hatinya, cerita selanjutnya kita sudah tahu, pembunuhan berencana.

    Saudaraku, Pengamsal mengingatkan kita: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Dengan kata lain, jagalah id yang tidak jelas maunya apa, jagalah dengan segala kewaspadaan, jangan sampai mempengaruhi ego dirimu yang sudah terbentuk. Kalau kamu bisa mengontrol, ya dari dirimu akan timbul super ego yang mendatangkan kebaikan, memancarkan kehidupan. Kalau gagal kontrol, ya timbul tindak kejahatan.

    Kalau bisa mengontrol id dan ego, mungkin kita akan mengalami hal-hal yang penuh tantangan, tidak cepat-cepat menjadi kaya atau segera meraih sukses, ini menyakitkan, apalagi ada orang lain yang mengolok-ngolok bikin hati semakin panas. Tapi jangan lupa Firman Tuhan dalam Yesaya 30:20-21: “Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: ‘Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,’ entah kamu menganan atau mengiri.”

    Selamat berjalan bersama Tuhan. Selamat menghadapi dan mengalahkan tantangan. (Surhert).

  • Become God’s People

    GEREJA SEBAGAI UMAT ALLAH. Sahabatku,  dalam ajaran Kristen, terdapat konsep gereja sebagai umat Allah. Ini merupakan konsep yang berkaitan dengan cara hidup jemaat yang mula-mula yang tercatat dalam Alkitab.

    Mengenai gereja, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya sebagai rumah tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen. Namun dalam bahasa Yunani, gereja juga diartikan sebagai ekklesia dan kuriake. 

    Ekklesia adalah orang-orang yang Tuhan panggil keluar dari dunia untuk menjadi saksi-Nya. Sedangkan kuriake merupakan orang-orang yang dipanggil untuk menjadi milik Kristus dan memuliakan nama-Nya. Hal ini seperti dijelaskan dalam buku “Gereja yang Bertumbuh dan Berkembang” tulisan Timotius Sukarman (2021)

    Gereja dapat dikenali dengan dua ciri: Pertama, kumpulan orang percaya sebagai hamba yang melayani untuk memuliakan Allah. Kedua, kumpulan orang percaya yang selalu dipelihara Tuhan melalui pelayanan firman, sakramen, dan kuasa Roh Kudus yang sudah dijanjikan-Nya.

    Konsep gereja sebagai umat Allah menekankan bahwa gereja bukan organisasi manusiawi, namun merupakan perwujudan karya Allah yang konkret. Dengan kata lain, arti gereja sebagai umat Allah, yaitu gereja bukan merupakan organisasi, namun keluarga dari orang-orang yang dipanggil oleh Sabda Allah.  Anggota gereja dikumpulkan bersama-sama menjadi umat Allah dan kemudian menjadi Tubuh Kristus dan hidup dari Tubuh Kristus. Gereja sebagai umat Allah juga mengacu pada persamaan setiap anggota gereja, di mana semua anggota gereja memiliki kesejajaran dan persamaan status yang fundamental. 

    Tidak ada kelas atau golongan tertentu dalam lingkup persekutuan anggota jemaat karena semuanya adalah orang terpilih, orang kudus, murid, dan saudara seiman.

    Keberadaan gereja sebagai umat Allah bukan tanpa alasan, persaudaraan tersebut bertujuan untuk menjadi saksi sebagai persekutuan religius melalui kegiatan keagamaan. Misalnya, peribadatan, pewartaan, hingga menjadi garam dan terang bagi kehidupan sekitar (Kisah Para Rasul 2:41-47).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “Become God’s People (Menjadi Umat Milik Allah). Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 9:1-8. Sahabat, dalam nubuatnya Zakharia menegaskan bahwa semua bangsa adalah milik Allah (Ayat 1). Allah berkuasa dan berdaulat terhadap semua bangsa di dunia. Sekali lagi karena mereka semua adalah kepunyaan-Nya. Pada masa itu bangsa-bangsa mempunyai dan menyembah dewanya sendiri, namun sesungguhnya semua bangsa itu adalah milik Allah. Karena itu, Allah memiliki wewenang mutlak untuk melakukan apa yang Dia anggap baik.

    Allah akan memiskinkan Tirus dan menghabiskannya dengan api (Ayat 4). Kota-kota Filistin seperti Askelon, Ekron, Gaza, dan Asdod juga akan merasakan hukuman Allah. Allah juga akan melenyapkan persembahan korban orang Filistin (Ayat 7). Meskipun mereka tidak mengakui Allah, namun pada akhirnya mereka akan menjadi milik Allah sendiri. Mereka akan dianggap kaum Yehuda dan orang Ekron digambarkan seperti orang Yebus (Ayat 7).

    Sahabat, inilah kabar baik nubuat ini mereka semua menjadi milik Allah. Ungkapan “seperti suatu kaum di Yehuda” dan “orang Ekron seperti orang Yebus” memperlihatkan betapa Allah juga mengasihi bangsa lain. 

    Di dalam penghukuman karena telah bertindak melawan Allah, menyembah allah lain dan menindas umat pilihan Allah, ada anugerah yang disediakan Allah. Orang Yebus pada masa Yosua diperbolehkan tinggal di tengah kaum Yehuda di Yerusalem, bukan sebagai orang yang ditaklukkan, melainkan sebagai orang yang sederajat (Yosua 15:63). 

    Dalam nubuat ini jelaslah, Allah tidak bersikap sewenang-wenang. Dia murah hati. Di balik hukuman yang disiapkan-Nya, Allah memberikan anugerah-Nya. Allah memberi kesempatan bagi bangsa lain menjadi umat milik-Nya.

    Sahabat, jika Allah ingin setiap orang menjadi milik-Nya, maka orang percaya pun harus bertindak demikian. Pekabaran Injil harus dilakukan dengan penuh ketulusan. Jangan sampai cara Pekabaran Injil malah membuat orang tidak merasakan kasih Kristus. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang gereja?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Marilah kita taat kepada Tuhan bukan karena takut hukuman melainkan karena kita mengasihi-Nya. (pg).