Category: Sejenak Merenung

  • The Correct Worship

    IBADAH YANG BENAR. Sahabat, apakah arti ibadah yang benar? Tidak semua orang percaya yang biasa rutin beribadah di gerejanya memahami apa yang dimaksud dengan ibadah yang benar. Ada cukup banyak orang percaya yang  menjalankan ibadah hanya sebagai suatu rutinitas dan kewajiban.

    Padahal, sebenarnya makna ibadah  lebih daripada itu. Ibadah yang benar melibatkan ketulusan hati yang lahir dari cinta dan kesetiaan kepada Allah. Termasuk juga keinginan yang tulus untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya.

    Arti ibadah yang benar meliputi pemahaman, sikap, dan tindakan yang mendalam terhadap peribadahan kepada Allah. Ibadah yang sejati bukan hanya tentang rutinitas keagamaan, tapi melibatkan hati, jiwa, dan perilaku sehari-hari.

    Coba kita hayati nasihat rasul Paulus berikut ini: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

    Sahabat, dari kutipan ayat Alkitab tersebut, dijelaskan bahwa orang percaya sebaiknya melaksanakan ibadah yang sejati dalam segenap  aspek kehidupannya. Bapak Pdt. Jusuf Roni dalam bukunya “Menang Atas Penderitaan” (2021) menjelaskan arti ibadah sejati adalah pencarian kudus dan kesejatian. Lebih tepatnya mengupayakan pertumbuhan  dan kesempurnaan dalam kasih kepada Allah dan sesama. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “The Correct Worship (Ibadah yang Benar)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 7:1-14. Sahabat, bagaimanakah caranya kita menyenangkan Tuhan? Jawaban pada umumnya adalah dengan melakukan kebaikan bagi sesama. Apakah itu menyenangkan hati Tuhan, sesama, atau untuk memuliakan diri sendiri? Apakah itu berdasarkan kecintaan kepada Tuhan atau supaya kita tidak ditolak oleh lingkungan kita?

    Sisa orang Yehuda masih mempertahankan kebiasaan berpuasa. Sarezer dan Regem-Melekh diutus penduduk Betel untuk melunakkan hati Tuhan dengan mengajukan sebuah pertanyaan: “Apakah umat Yehuda harus menangis dan berpantang dalam bulan kelima seperti tradisi yang telah diturunkan selama ini?” (Ayat 2-3).

    Sahabat, ternyata, jawaban Tuhan sungguh mengejutkan. Berpuasa, tampaknya, sudah menjadi kebiasaan tanpa makna dalam kehidupan ibadah Israel dan Yehuda. Tuhan tahu bahwa puasa yang mereka lakukan bukan lagi untuk-Nya, tetapi untuk diri sendiri (Ayat 5-6). Hal itu menyakitkan Tuhan, sehingga Tuhan membuang mereka dari hadapan-Nya.

    Sekarang yang Tuhan mau adalah mereka beribadah dengan benar dan menunjukkan kesetiaan serta kasih sayang kepada sesama, memerhatikan janda, anak yatim, orang asing, dan orang miskin, serta melarang mereka merancang kejahatan terhadap sesama (Ayat 9-10). Perintah ini menjadi petunjuk hidup baru setelah puasa mereka tidak lagi diterima.

    Tuhan memperingatkan umat Yehuda agar hidup lebih baik daripada nenek moyangnya yang telah gagal dalam mempraktikkan ajaran ibadah puasa dengan benar. Sekarang mereka memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik setelah pulang dari pembuangan. Mereka harus memperlakukan sesama dengan baik, sama seperti Tuhan sudah memerhatikan mereka. Sudah saatnya mereka beribadah dengan iman. 

    Sahabat, relasi kita dengan sesama akan baik kalau persekutuan dengan Tuhan berjalan akrab. Ini adalah langkah iman yang Tuhan tunggu-tunggu dari gereja-Nya. Mari kita mencermati tindakan dan perbuatan pada sesama. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanggalkan sekat-sekat pembeda yang seringkali merintangi kita untuk mengalirkan kasih Tuhan kepada sesama. (pg).



     

  • The Caring Shepherd and The Foolish One

    GEMBALA YANG PANDIR. Gembala dalam kekristenan adalah orang yang bertugas menuntun dan menjaga domba atau umat Tuhan. Kata menuntun memiliki pengertian bahwa semua yang menjadi kewajiban umat Allah berada dalam pengawasan sang gembala. Sedangkan kata menjaga merupakan kata kerja yang bertujuan agar semua yang menjadi tanggung jawabnya bisa memiliki kelangsungan hidup yang lebih baik.

    Tetapi gembala yang pandir atau tidak berguna meninggalkan domba-dombanya, tidak mencari yang hilang, tidak menyembuhkan yang luka, tidak memelihara yang sehat dan memakan daging yang gemuk.

    Ada waktunya kelak Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kepada para gembala yang dipercayakan menggembalakan domba-domba-Nya. Tuhan sudah menyiapkan suatu hukuman bagi gembala yang pandir karena melalaikan tugasnya.

    Sesungguhnya setiap  orang percaya adalah gembala dan akan selalu ada domba-domba yang Tuhan percayakan, mungkin domba itu berupa keluarga kita, bawahan di kantor atau di pekerjaan, di komunitas dan lain sebagainya. Mereka harus digembalakan dengan baik.

    “Gembalakanlah domba-domba-Ku! kata Tuhan kepada murid-Nya” (Yohanes 21:15-17) dan kalau kita mengasihi Tuhan maka kita akan melakukan perintah-Nya menggembalakan domba-domba yang Tuhan percayakan dengan baik.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “The Caring Shepherd and The Foolish One (Gembala yang Peduli dan Gembala yang Pandir)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 11:4-17. Sahabat,  Zakharia diminta untuk mendemonstrasikan firman Allah dengan tindakannya kepada sekumpulan domba sembelihan. Allah ingin menunjukkan kepedulian-Nya kepada Israel yang baru saja pulang kembali dari tanah pembuangan, melalui Zakharia yang diperintahkan untuk menggembalakan domba-domba sembelihan. 

    Domba sembelihan adalah domba yang sebenarnya tidak dipedulikan, karena nantinya juga akan diperjual-belikan untuk disembelih, sehingga pedagang domba ini mengiyakan saja ketika Zakharia memberi diri menggembalakan domba-dombanya. 

    Zakharia menggembalakan mereka dengan dua sikap yang dilambangkan oleh dua tongkat, yaitu kemurahan dan ikatan. Hanya saja dalam jangka waktu tertentu, Zakharia kemudian tidak tahan lagi untuk menggembalakan domba-domba tersebut, hingga akhirnya domba-domba itu dibiarkan semau-maunya. 

    Sahabat, hal itu melambangkan Allah yang tidak tahan lagi terhadap Israel, mereka sebenarnya seperti domba sembelihan yang tidak dipedulikan siapa-siapa tapi dipedulikan Allah, namun mereka tetap tidak menghargai itu. Pada akhirnya kemurahan dan ikatan Allah diangkat dari mereka, dan mereka akan diserahkan kepada gembala yang pandir, yang hanya mencari kepentingannya sendiri atas domba-dombanya.

    Mengapa Allah mengizinkan Israel ada di bawah “gembala yang pandir”? Supaya mereka dapat membedakan bagaimana hidup dalam penggembalaan Allah yang murah hati dan gembala yang pandir. Gembala yang pandir mungkin akan membiarkan mereka semau-maunya sehingga dirasa enak buat mereka. Tetapi sebenarnya gembala semacam ini tidak akan memedulikan mereka. 

    Sahabat, berbeda sekali dengan Allah yang telah berulang kali menunjukkan kepedulian-Nya, bahkan membawa mereka pulang dari tanah pembuangan. Bagaimana dengan kita, yang sekarang sudah ada dalam penggembalaan Tuhan Yesus, Sang Gembala sejati? Apakah kita mau menundukkan diri dalam penggembalaan-Nya? Ataukah kita seperti Israel, yang terus ingin semaunya dan akhirnya malah kembali celaka dan mempermainkan kemurahan Allah atas kita? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Bagaimana Sahabat menggembalakan domba yang Tuhan percayakan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Setiap  orang percaya adalah gembala dan akan selalu ada domba-domba yang Tuhan percayakan. (pg).

  • FAT CAT

    Saudaraku, nama aslinya adalah Liu Jie, anak petani dari Provinsi Hunan kelahiran 2003. Fat Cat jagoan otodidak main game online Honor of Kings, main hampir 15-18 jam per hari selama 2 tahun. Mengingat rating pointnya tinggi dia menjadi joki atau game boosting, menjalankan game atas nama orang lain, karenanya dia mendapat honor bayaran dari orang yang gamenya dijalankan, dan jumlah uang yang didapatkan ini sangat besar bagi pemuda umur 21 tahun. Nah Fat Cat juga berkenalan dengan seorang follower bernama Tan Zhu, tampilannya cantik menawan dengan polesan make-up, wajah aslinya, maaf, lihatlah sendiri di medsos.

    Fat Cat demikian terpesona dengan Tan Zhu, selama hampir dua tahun baru dua kali ketemuan onsite, namun Tan Zhu benar-benar merebut hatinya. Mula-mula tampilan dan mulut manis Tan Zhu menimbulkan rasa suka, lalu merebut hati dan perasaan, dan akhirnya merenggut isi kantong dan dompet Fat Cat, yakni selalu merengek minta dikirimin uang, dan Fat Cat akhirnya mentransfer nyaris seluruh hartanya sejumlah RMB 510,000 setara lebih dari Rp 1.133.897.164,-(Satu koma satu miliar lebih). Uang hasil game disetorkan ke pujaan hati, sementara itu untuk makan dia hanya membeli berbagai junkfood yang murah meriah, pokoknya asal kenyang, menimbulkan sakit penyakit dan sempat muntah darah.

    Di bulan April 2024 Tan Zhu minta putus hubungan, Fat Cat bagaikan layangan putus benangnya, bingung tidak tahu kemana, tapi malahan mengirimkan isi dompetnya terakhir sebesar RMB 66,000 (Rp 146 juta lebih),  konon untuk membeli bunga sebanyak 720 batang, sebagai kenangan sudah 720 hari berhubungan. Kemudian Fat Cat bunuh diri dengan cara terjun di jembatan Sungai Shihanpo Yangtze di Chongqing yang airnya dingin dan sangat deras, baru 12 hari kemudian mayatnya diketemukan. Tan Zhu setelah kejadian tersebut muncul di medsos minta maaf … 

    Saudaraku, ratusan bahkan ribuan orang di Tiongkok menjadi marah dan muncul rasa simpati yang meluas, bahkan beritanya disebarkan ke seluruh penjuru dunia, diberitakan juga di Amerika, Eropa dan juga di Indonesia. Ratusan penduduk Chongqing membawa rangkaian bunga ke jembatan tempat bunuh dirinya, juga banyak yang membawakan junkfood kesukaan Fat Cat terutama burger.

    Gara-gara publikasi Fat Cat meluas di Indonesia, diberitakan pula oleh koran Kompas, seorang amoy cantik di Kalbar memposting di Tiktok: “Oh seandainya pacarku Fat Cat, aku akan selalu setia.” Cewek lain dari Jatim bilang: “Oh pujaan hatiku, kenapa kamu ndak mau sama aku.”  Tentu masih ada ribuan komentar dan rasa gelo terutama dari cewek-cewek muda. Ya jelas, Fat Cat umur 21 tahun bisa punya uang lebih dari Rp 1,1 miliar, wajahnya ya lumayan mirip beberapa pemain Drakor, bisa setia ke satu perempuan dan selalu mengirimkan uang bagi pujaan hati, tentu ini setidaknya menjadi idaman para gadis-gadis belia.

    Fat Cat menjadi hero bagi ribuan, bahkan puluhan ribu gadis-gadis remaja yang mata batinnya dibutakan kemewahan harta benda. Mungkin nantinya malahan akan memantik ratusan anak muda di Indonesia untuk main MOBA multiplayer online battle arena, yakni game saling membunuh dan menyerang yang anggotanya terdiri dari satu kelompok, umumnya 5 orang, dan harus mengalahkan kelompok lainnya dengan berbagai taktik dan senjata yang disediakan oleh app penyedia game. 

    Di Tiongkok populer Honor of Kings, di sini Mobile Legends,  bahkan dikategorikan sebagai esports (olahraga elektronik),, dianggap sebagai olahraga otak,  tidak jelas kriterianya. Yang pasti ada turnamennya, mulai dari tingkat kecamatan Kelapa Dua Tangerang berlangsung di lapangan Dasana Indah diikuti 50 tim, hingga ada kejuaraan tingkat nasional, yang terutama, para juara akan mendapat hadiah berupa barang dan uang yang jumlahnya mencapai Rp 1,1 miliar! Katanya esports ini bisa untuk membina generasi muda … Benar begitu  Pak Pendeta?

    Saudaraku, mohon perhatikan!!! Anak-anak muda yang kecanduan game online, bisa main berjam-jam, hanya menunduk melihat ke handphone terutama yang layarnya besar, dan yang bergerak-gerak memainkan kursor hanya 1-3 jari tangan kanan kiri, sering kali keluar teriakan dari mulut dan reflek kaki menendang jengkel atau kesenangan. Yang olahraga sehat otaknya? 

    Malahan diajarkan cara-cara bagaimana hanya untuk menang, mengalahkan orang lain, bagaimana menggunakan senjata, bagaimana menembak dan membunuh, hanya itu yang diajarkan!!! Tidak ada orang yang mengajak bicara atau tegur sapa dalam game online, dunia rohani yang sebenarnya sepi, hanya ada dunia musik game yang hingar bingar memacu emosi dan pokoknya ayo jadi satu tim untuk menang perang. 

    Tidaklah heran di Amerika banyak orang yang terobsesi dengan game dan menganggap senjata hanya mainan, bawa senjata ke tempat-tempat umum dan menembaki membunuh orang-orang secara acak.

    Saudaraku, nasihatilah anak cucu kita yang kecanduan game online, bahwa ini hanya tipu muslihat iblis untuk menjerumuskan generasi muda, bukan membina generasi muda. Pengalaman bisa hebat dan banyak di game online, bahkan bisa menjadi joki menerima uang seperti Fat Cat, tapi itu semua di dunia maya. Begitu remaja beranjak menjadi pemuda, masuk di masyarakat, akan selalu ditanya: “Apa pekerjaanmu, apa sekolahmu, apa prestasimu?” Pengalaman dan ketrampilan di game online tidak bisa menjadi referensi, bagaimanakah masa depanmu nanti?

    Mari kita merenungkan dalam-dalam nasihat Rasul Paulus yang terdapat di 1 Korintus 15:33:  “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Apakah kita sudah berteman, bergaul, dan memiliki komunitas yang membangun kehidupan yang berkenan di mata Tuhan? Selanjutnya, sebagai orangtua, apakah kita mengenal dengan baik lingkungan pergaulan anak cucu kita? Terakhir, namun bukannya kurang penting, sebagai teman, apakah kita sudah memberikan dampak yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan? Orang yang memiliki kebiasaan buruk juga memerlukan sentuhan untuk menjadi baik.

    Semoga dalam pergaulan, kiranya kita tidak terhanyut oleh pengaruh negatif, tetapi berpengaruh pada teman-teman secara positif.  (Surhert)

  • POHON KURMA

    Saudaraku, mari kita membaca Mazmur 92:13-16: “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.”

    Membaca di Wikipedia tentang pohon KURMA, dapat diketahui pohon ini dapat berbuah setelah ditanam selama 4-7 tahun dan bisa dipanen ketika telah berusia 7 tahun. Jadi selama 4-7 tahun pertama pohon Kurma mengalami pertumbuhan secara tunggal atau membentuk rumpun pada sejumlah batang, menjadi pohon besar yang berukuran sekitar 15–25 m. Daunnya memiliki panjang 3–5 m, dengan duri pada tangkai daun, menyirip dan mempunyai sekitar 150 pucuk daun muda; daun mudanya berukuran dengan panjang 30 cm dan lebar 2 cm. 

    Pohon Kurma bila ditanam di tanah yang cocok akan tumbuh menjadi besar dan rimbun, bahkan di Mazmur 92 disejajarkan dengan pohon aras di Libanon, yang bisa setinggi 40 meter. Panjang akar pohon Kurma mencapai 25 m dan mampu menembus tanah hingga kedalaman 6 m. Di goggle disebutkan, usia pohon Kurma dapat mencapai 200 tahun, masa produktif berbuahnya mulai 15 tahun sampai 150 tahun, Pohon Kurma yang telah dewasa bisa menghasilkan 80–120 kg buah Kurma pada setiap musim panennya, jadi kalau masa produktif selama 150 tahun, dari 1 pohon Kurma dapat menghasilkan buah minimal 15.000 kg (15 ton) sepanjang umurnya. Luar biasa.

    Daud ketika menulis Mazmur 92:13-15 kira-kira sedang memerhatikan pohon Kurma yang berbuah lebat yang ditanam di sekitar Bait Allah, dan karena orang-orang Lewi yang melayani di situ turun temurun, maka kira-kira dapat ditanyakan kapan kira-kira pohon Kurma ditanam. Mungkin Daud kagum mendengar usia pohon Kurma, yang bisa hampir 200 tahun, lalu mungkin kira-kira membandingkan apakah ada seorang rakyatnya atau seorang anak muda yang sejak muda mengenal Tuhan, berbakti pada Tuhan seumur hidupnya, dan bisa menyaksikan kasih Tuhan melalui kehidupannya, bahkan pada masa tuanya pun masih berbuah atau menjadi saksi Tuhan, menjadi gemuk dan segar, seperti Nabi Samuel yang mengurapi Daud menjadi raja

    Saudara, ada ungkapan yang berbunyi: “Daripada hanya menghitung tahun-tahun Anda, lebih baik membuat tahun-tahun itu berarti”.

    Tampaknya, itulah yang dilakukan oleh seorang nenek bernama Sheilla Thomson dari Inggris, yang di usia 105 tahun masih setir mobil. Ia masih mengendarai mobilnya setiap minggu untuk pergi ke gereja bersama teman-temannya yang semuanya berumur lebih dari 80 tahun. Untuk bisa tetap mengemudi, ia selalu memperbarui SIM-nya secara berkala. Terakhir ia memperbaruinya pada saat usianya 101 tahun. Ia sangat berharap agar pihak yang berwenang tidak mencabut SIM-nya. Ia mengatakan dengan penuh semangat: “Saya berharap pihak berwenang tidak mencabut SIM saya, sebab itu akan sangat buruk. Saya tidak mungkin pergi lagi ke gereja dan melakukan banyak hal”.

    Kisah hidup nenek Sheilla Thomson ini merupakan salah satu bukti bahwa usia tua tidak selalu identik dengan loyo, sakit-sakitan, patah semangat, dan malas. Sebaliknya, di usia tua meski secara fisik melemah tetap dapat memiliki semangat dan tetap produktif. Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa, ketika usia makin bertambah dan kekuatan makin melemah, Allah tetap melimpahkan kekuatan-Nya supaya kita, umat-Nya makin banyak berbuah sebagaimana terdapat dalam bacaan kita pada hari ini. 

    Saudara, dunia mungkin memberi batas untuk kita bisa beraktivitas, melayani dan bersaksi, tetapi tidak demikian bagi Tuhan. Berapa pun umur kita, Tuhan tetap menjanjikan kasih dan kesempatan untuk kita terus bersaksi dan melayani. Ia akan tetap memakai kita secara luar biasa tanpa melihat berapa pun usia kita sehingga masa tua sekalipun akan tetap menjadi masa-masa penuh sukacita bagi kita. Apakah Saudara pernah berpikir bahwa pelayanan Saudara bagi Allah dan sesama akan berakhir tatkala memasuki usia senior? Semoga kita semua memiliki moto hidup:  “Hidup Berbuah Bagi Kristus Sampai Akhir Hidup” (Surhert).

  • PLERED

    Saudaraku, saat jalan Tol Cikampek–Purwakarta–Padalarang (Cipularang) belum dibangun pada tahun 2005, beberapa kali aku mengajak keluarga berlibur dari Jakarta ke Bandung mesti menempuh jalan arteri Cikampek, masuk kota Purwakarta, sering macet di depan pasar, lalu keluar mengikuti jalur jalan yang menanjak dan berliku ke arah Padalarang. 

    Dalam perjalanan yang penuh nuansa hijau di sepanjang jalan ini pasti lewat kota kecil Plered, yang terkenal sejak zaman Kolonial sebagai pusat kerajinan gerabah dari tanah liat, karena memang bahan lempung atau tanah liat warna putih ada di sekitar Plered.

    Bila anak-anak tidak sedang mengantuk di mobil, aku sering berhenti di Plered untuk mengajak anak-anak melihat pembuatan gerabah, sering ke kios Keramik Mulya, karena di bagian belakangnya bisa melihat karyawan mengerjakan gerabah. Anak-anak senang melihatnya, bagaimana lempung diletakkan di meja pemutar, diputar dengan piringan yang digerakkan kaki, dan lempung dibentuk dengan tangan pengrajin, tahu-tahu muncul gerabah, entah itu kuali atau pot. 

    Kalau istri melihat ini, pasti senyum-senyum ingat film Ghost (1990), adegan romantis Patrick Swayze dan Demi Moore membuat pot dengan iringan soundtrack Unchained Melody dari The Righteous Brothers.

    Dari beberapa kali ngomong-ngomong dengan Pak Pengrajin, dia mesti punya rencana mau membuat gerabah dalam bentuk apa, jika ingin membuat pot bunga atau kuali setinggi 50 cm atau 80 cm, mesti ada persiapan lempung yang cukup. Jadi tidak bisa jika sudah ada rencana mau bikin pot 50 cm, mendadak dirubah menjadi 80 cm. Pot setengah jadi tidak bisa dibiarkan setengah kering lalu ditambah lempung baru, karena adonan baru tidak akan bisa menempel di yang lama. Sekali rencana mau membuat apa ya mesti sampai selesai, tidak bisa ditinggal-tinggal karena hasilnya tidak bisa mulus. Kemudian ada proses lanjutan, yakni dijemur supaya kering, dihaluskan, diberi warna-warni dan dibakar, bisa memakan waktu hingga 5-7 hari ke depan. 

    Saudaraku, di Yeremia 18 ada juga kisah tentang tukang periuk, Yeremia datang kesitu dan melihat cara pembuatannya, apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. 

    Sedangkan di surat Roma 9:21 menyebutkan: Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia – yang harganya mahal, dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa – yang harganya umum atau pasaran?

    Saudaraku, jadi pengrajin gerabah mempunyai hak dan rencana dalam membuat sesuatu kerajinan, yang dihasilkan bisa bermacam jenis, mulai dari hiasan rumah tangga, kendi air, pot celengan bentuk ayam, gentong air, kuali atau dandang hingga pot bunga yang tinggi hingga 1 meter, dan tentunya masing-masing barang yang dihasilkan akan memiliki harga jual yang berbeda. 

    Pengrajin bisa membuat apa saja dengan lempungnya, tergantung atas pesanan, atau saat itu sedang laris barang apa, namun yang paling umum dan pasti ada pembelinya ya kendi, celengan, pot bunga dan gentong air. 

    Tuhan Allah Mahapencipta mungkin dapat diibaratkan sebagai tukang periuk atau pengrajin gerabah yang berhak membuat segala sesuatu sesuai keinginan dan kehendak-Nya. Mungkin saat ini Tuhan menempatkan kita sebagai pejabat di pemerintahan, bisa juga sebagai pegawai di kantor kelurahan, atau sebagai orang kantoran, atau  sebagai ibu rumah tangga, atau sebagai yang berdagang di pasar, dan masih banyak lagi. Tapi yang jelas posisi dan kondisi kita saat ini ada bukanlah sebagai suatu kebetulan atau asal-asalan, tapi ada maksudnya dari Tuhan.

    Nah Saudaraku, apakah kita mengetahui maksud Tuhan terhadap diri kita masing-masing saat ini? Kita sedang menjadi dan melakukan apa saat ini, sadarkan kita? Jika kita sadar bahwa Tuhan menghendaki sesuatu dari kita, maka mestinya kita tidak mudah hanyut atau larut terhadap godaan-godaan dari dunia. 

    Misalkan kita bekerja di lingkungan yang selalu menggoda untuk melakukan tindakan korupsi, tapi kalau kita sadar bahwa kita adalah anak Tuhan yang telah ditebus dari dosa melalui pengorbanan Kristus di kayu salib, maka kita akan tetap berdiri tegas menolak godaan untuk ikutan melakukan korupsi. Godaan-godaan dari dunia untuk melakukan dosa semakin banyak dan semakin sering, tapi dapatkah kita selalu BERDIRI TEGUH UNTUK MENOLAKNYA? (Surhert)

  • POHON YANGLIU

    Saudaraku, mari kita membaca kitab Imamat (Leviticus) 23:40 (ESV):  “And you shall take on the first day the fruit of splendid trees, branches of palm trees and boughs of leafy trees and willows of the brook, and you shall rejoice before the LORD your God seven days.” 

    Agak surprise  bagiku, ternyata kitab Imamat 23:40 menyebutkan adanya pohon Willow atau Yangliu di daerah Palestina sana, karena selama ini aku berpikir pohon Yangliu ini merupakan pohon khas tanah Tiongkok, Jepang dan Korea. Di Alkitab TB pohon Yangliu diterjermahkan sebagai pohon Gandarusa, yang di Wikipedia Gandarusa merupakan tumbuhan perdu tropis yang biasa dijumpai di pekarangan rumah, baik sendiri atau sebagai pagar hidup.

    Yángliǔ – ini pinyin-nya atau Willow, dalam puisi-puisi Tiongkok disebut sebagai lambang musim semi, tumbuhan yang bisa berayun-ayun atau bending mengikuti angin, jadi menimbulkan nuasa romantis, namun kadang dikaitkan dengan kesedihan, seperti di dua cuplikan puisi tenar dari zaman Dinasty Tang:

    In her evening song, I heard the willow breaking,

    For those who feel sadness at thought of home.

    (Dalam lagunya di malam hari, aku mendengar  ranting pohon Yangli patah. Bagi mereka yang merasa sedih memikirkan jauh dari rumah)

    Karya pujangga Li Bai李白(701-762 Masehi)

    Autumn came and your expression began to change.

    I couldn’t love the poplar and willow blossoms when

    Spring came and your softness was gone.

    (Musim gugur tiba dan ekspresimu mulai berubah. Saya tidak bisa menyukai lagi bunga Poplar dan Yangliu ketika musim Semi tiba dan kehadiranmu yang lembut telah tiada) 

    Karya pujangga Bai Juyi 白居易  (772–846 Masehi)

    Saudaraku, mari kita renungkan Imamat 23:23-44.  Salah satu hari raya penting untuk diperingati Israel ialah hari raya Pendamaian (Ayat 27-32; lihat Imamat 16), yang diadakan pada hari ke-10 dalam bulan ke-7.Ternyata ada tiga perayaan yang saling terkait pada bulan itu. 

    Hari pertama merupakan hari perhentian penuh (Ayat 24), lalu hari ke-15 sampai ke-21 adalah hari raya Pondok Daun (Ayat 33-44). Jelas sekali bahwa perhentian yang dilakukan umat sehingga tidak boleh bekerja sama sekali (Ayat 24, 32, 39) menunjuk pada relasi manusia dengan sesama, dengan Tuhan, dan dengan alam. 

    Puncaknya ada pada ibadah raya yang sangat akbar. Ibadah raya tersebut dibuat untuk mengingat sebuah pendamaian, yaitu kehidupan yang berdamai antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Dasar perayaan akbar ini ialah Tuhan sendiri yang memperdamaikan manusia kepada diri-Nya.

    Segala unsur perayaan merupakan respons manusia yang sudah diperdamaikan dengan Tuhan. Oleh karena manusia sudah diperdamaikan dengan Tuhan maka manusia bisa berdamai dengan dirinya dan sesamanya, juga dengan alam tempat mereka hidup.

    Maka wujud perayaan akbar yang dimulai dengan segala keseriusan
    membereskan dosa dan kenajisan, diakhiri dengan sukacita tak terhingga karena Tuhan telah memberkati mereka melalui hasil alam yang permai: “… dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya.” (Ayat 40). 

    Liturgi dalam merayakan hari raya-hari raya ini telah ditetapkan, dan di dalam liturgi tersebut tersirat hubungan yang holistis antara Tuhan, manusia dan sesamanya, serta alam. Itulah liturgi yang sangat indah.

    Saudaraku, gereja merupakan agen Allah untuk mewujudkan perdamaian yang umat sudah terima di dalam Kristus, yang mewujud dalam tindakan-tindakan berdamai dengan sesama manusia dan dengan alam. Lalu apa yang harus kita lakukan? Jangan lupa terlibat dalam upaya untuk mendorong perbaikan-perbaikan relasi jemaat dengan sesama manusia. Jangan lupa juga  mengingatkan tanggung jawab untuk memperbaiki alam yang sudah dirusak oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab. (Surhert).

  • KALAU LAIN DITOLONG, SAYA JUGA

    Saudaraku, dalam perjumpaan kali ini, mari kita merenungkan Mazmur 37:40: “TUHAN menolong mereka dan meluputkan mereka, Ia meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik dan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya.” 

    Di era tahun 2003, ada kisah seorang anak yang diculik sepulang dari sekolah. Tidak ada yang menduga jika hari itu akan menjadi hari yang “buruk” bagi keluarganya, karena harus kehilangan putri tunggalnya yang dibawa oleh orang asing entah kemana.

    Ayah, ibu, keluarga besarnya, dan juga dibantu oleh pihak kepolisian berupaya mencari tahu keberadaan anak tersebut. Satu hari berlalu, belum ada tanda-tanda kemana anak ini dibawa pergi oleh penculik. Satu minggu, satu bulan, satu tahun telah dilewati, anak itu tidak kunjung ditemukan.

    Saudaraku, keluarganya hanya bisa berupaya mencari, berdoa, dan percaya jika Tuhan sendiri yang menjaga anaknya yang sampai saat itu belum juga diketahui keberadaannya.

    Tiap malam, Sang Ibu selalu menangisi anak perempuannya yang hilang. Namun ditengah tangisannya, Sang Ibu selalu menyanyikan berulang-ulang pujian “Tak tersembunyi kuasa Allah, kalau lain ditolong saya juga.” Sang Ibu  percaya, jika orang lain Tuhan bisa tolong, maka ia pun pasti akan ditolong Tuhan untuk bisa melewati masa tersulit dalam hidupnya.

    Tiga tahun berlalu, hal yang tak terduga terjadi. Terdengar suara pintu yang diketuk sangat keras, dengan teriakan yang memanggil berulang-ulang:  “Ibu… Ayah … Ibu … Ayah …” Bergegas Sang Ibu  menuju pintu dan segera membuka, tanpa diduga anaknya kembali dengan didampingi oleh beberapa orang polisi. Sang Ibu bergegas menelpon suaminya yang sedang bekerja untuk segera pulang, karena putrinya telah kembali.

    Singkat cerita, Ibunya bertanya mengapa anaknya yang hilang bisa kembali. Sangn Anak bercerita bahwa  sewaktu pulang sekolah, ada orang yang mengaku disuruh ayah untuk menjemputnya. Setelah itu dia ikut, dan tanpa disadarinya dia sudah dibawa jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Dalam keadaan panik, takut, dia terus menangis memanggil ibu dan ayahnya, tapi penculik itu mengancam akan membunuhnya jika terus menerus menangis.

    Sang Anak ternyata diculik dan dibawa ke luar kota, untuk dijadikan alat pencari uang dengan menjadi pengemis di jalan. Berkali-kali dia mencoba kabur, namun selalu tertangkap, karena para penculik selalu mengawasinya. Jika ketahuan kabur, tidak jarang dia mendapatkan kekerasan fisik (dipukul, ditendang, dijambak, diancam untuk dibunuh)

    Sang Anak tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk bisa pulang dan bertemu dengan ayah ibunya. Namun ditengah-tengah kesendirian dan ketakutannya, tiba-tiba dia teringat akan lagu yang setiap hari ibunya nyanyikan “Tak tersembunyi kuasa Allah, kalau lain ditolong saya juga …”

    Seperti ibunya, ternyata Sang Anak juga memiliki iman yang sama. Dia percaya jika Tuhan bisa mendengar dan menolong orang lain, maka Tuhan juga akan menolongnya untuk bisa kembali pulang.

    Sekalipun 3 tahun bukan waktu yang singkat, tetapi Tuhan menjawab di waktu yang tepat. Ada satu kesempatan ketika Sang Anak mengemis, tiba-tiba ada razia satpol PP, dan dia tertangkap. Setelah ditangkap, dia diinterogasi dan diketahui bahwa ternyata dia adalah korban penculikan 3 tahun lalu. Tidak terduga bahwa ini adalah cara Tuhan supaya dia bisa kembali ke rumah orang tuanya.

    Saudaraku, cerita di atas mengingatkan kita akan kasih Tuhan yang tidak berkesudahan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Sekalipun terlihat lambat, tetapi sesungguhnya Tuhan selalu mendengar setiap apa yang kita doakan, dan menjawab sesuai waktu-Nya.

    Mazmur 37:40 ditulis oleh Daud, yang pada saat itu sedang mengalami pergumulan yang berat. Sama seperti cerita di atas, dalam kondisi yang sulit dan terjepit, Daud justru percaya bahwa Allah yang Dia sembah pasti meluputkan dan menyelamatkannya dari tangan orang-orang fasik yang ingin membinasakannya. Iman Daud tidak pernah sia-sia. Allah yang Dia percayai, selalu menolongnya di waktu yang tepat.

    Perenungan :

    Adakah mungkin hari-hari ini hidup kita sedang dipenuhi dengan berbagai pergumulan?  Akankah kita tetap percaya, bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang setia, yang akan selalu mendengar dan menjawab doa-doa kita menurut waktu-Nya?  Tetaplah percaya: Kalau orang lain Tuhan tolong, saya pasti juga ditolong.

    Pesan:

    Apakah Saudara ingin menjadi pemusik atau pemuji di gerejamu? Mari Bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Segera hubungi HP: 081292081227. (Inthan).

  • KESETIAAN YANG BERDAMPAK

    Saudaraku, manusia selalu menolak disebut tua dan menghindar dengan memakai berbagai cara karena kesan tua adalah tak berdaya.  Namun Alkitab mencatat nama Kaleb anak Yefune sebagai seorang senior yang luar biasa.  Mari kita renungkan Yosua 14:13-15.

    Kaleb adalah salah seorang saksi perjalanan orang Israel dari Mesir hingga masuk ke Kanaan. Dari penggalan kisah Kaleb, diketahui bahwa Kaleb adalah :

    1. Seorang yang setia 

    Kaleb setia pada Tuhan, Musa dan Yosua, teman seperjuangannya.  Ia lolos dalam “seleksi” iman sepanjang 40 tahun perjalanan menuju  Tanah Perjanjian. 

    Ia tak terpengaruh untuk memanipulasi laporan dalam pengintaian ke Yerikho.  Kaleb menceritakan pengamatannya sekaligus memberi semangat untuk menaklukkan Yerikho (Bilangan 14:6-10). 

    1. Pejuang tanpa lelah.

    Kaleb mendapat daerah yang tidak mudah karena daerah yang harus ditaklukkannya didiami oleh suku Enak yang dikenal berukuran lebih dari manusia normal dan ditakuti.  Kaleb diberi daerah Kiryat Arba dan ia berhasil “membersihkan” nya dari orang-orang Enak.  

    1.  Memberi kesempatan kepada orang lain untuk menjadi penakluk.

    Alkitab memang tidak menjelaskan alasan Kaleb mengadakan sayembara untuk penaklukan Kiryat Sefer. Namun  setidaknya dari kisah ini diketahui bahwa Kaleb bukan tipe orang yang berjuang sendiri.  Ia memberi kesempatan kepada anak muda pemberani seperti Otniel untuk menyelesaikan penaklukan tanah bagiannya.  Kaleb mendapatkan seorang menantu yang pemberani yang mewarisi keperkasaannya.

    Nama Kaleb punya makna “sepenuh hati” dan nama itu mewujud dalam diri Kaleb anak Yefune.  Walau Kaleb tak muda lagi, hatinya tetap setia dan terus berjuang walau ia juga memberi ruang kepada generasi selanjutnya.  Kaleb berbesar hati menerima seorang pejuang muda yang kelak akan menggantikannya.  Ia menikmati masa seniornya dengan jiwa besar.

    Menjadi senior bukan berarti menjadi non produktif.  Memang kekuatan tak lagi sama dan mungkin banyak terjadi kemunduran namun selalu ada kesempatan untuk seorang senior menjadi produktif dan berdampak.  Medan pertempuran seorang senior pasti berbeda dengan masa mudanya, namun bukan berarti menjadi senior berarti berhenti berjuang.  Seperti Kaleb yang setia, seorang yang senior masih akan terus mampu menorehkan sejarah selama ia setia melaksanakan panggilan Tuhan.  Seperti Kaleb yang punya jiwa besar, seorang senior akan tahu keterbatasan dan merangkul yang muda untuk diajak berjuang bersama.  

    Saudaraku, hari ini, 11 Mei 2024, bapak Ev. Andreas Christanday genap berusia 80 tahun.  Kiranya spirit Kaleb juga terus nampak dan dirasakan dalam kehidupan Ev. Andreas Christanday.  Makin senior, makin setia dan merangkul yang muda.  Jangan takut menjadi tua, melainkan menualah dengan BAHAGIA karena SETIA DALAM PANGGILAN TUHAN (Mazmur 92:13-16). Selamat ulang tahun ke-80 Pak Andreas. Tuhan memberkati Pak Andreas beserta keluarga besar. (Ag). 

  • SEPATU JOHN HARVARD

    Saudaraku, Harvard University di Cambridge Massachusetts USA didirikan pada tahun 1636, salah satu perguruan tinggi tertua di Amerika Serikat. Awalnya bernama New College, dan dinamakan ulang menjadi Harvard College pada tahun 1639 untuk menghormati John Harvard, usianya 31 tahun (1607-1638), yang menjadi donatur terbesar dan menyumbangkan 400 buku literatur miliknya. Untuk menghormatinya di halaman kampus pada tahun 1884 didirikan patung John Harvard dalam posisi duduk setinggi 180 cm dan diletakkan di atas tugu setinggi 155 cm.

    Di Amerika Serikat banyak dibuat patung untuk menghormati para tokoh bangsa, antara lain patung Abraham Lincoln, Franklin Delano Roosevelt, Martin Luther King, Jr. dan masih banyak lagi. Hanya saja memorial John Harvard yang dibuat dari bronze (perunggu),  yang merupakan campuran dari Cu (tembaga) + Zn (seng) dan Sn (timah). Dikunjungi sekitar 20.000 pengunjung per tahun selama lebih dari 100 tahun terakhir. Hampir setiap pengunjung selalu memegang dan menggosok-gosok sepatu John Harvard, sehingga bagian sepatu nampak mengkilap karena perunggunya memudar sehingga nampak lapisan tembaganya yang berwarna merah-coklat. 

    Katanya, orang-orang menggosokkan tangannya ke bagian sepatu sembari mengucapkan suatu permohonan. Konon cukup banyak mahasiswa di Harvard  sebelum masa ujian datang ke patung ini untuk ikutan menggosok sepatu, maksudnya agar dapat lulus.  

    Saudaraku, nampaknya sebagai lucu-lucuan saja kok ada turis dan orang di Amerika yang ngalap berkah atau permohonan terhadap sesuatu benda. Tapi kalau kita perhatikan banyak pedagang di pasar tradisional yang sering mengebut-ngebutkan atau mengibas-ngibaskan uang penjualan yang diterimanya dengan mengatakan, semoga hari ini laris dan dagangan cepat habis, atau bisa pula si pedagang mengucapkan mantra-mantra yang lain agar cuannya (untungnya) banyak. Atau bahkan mungkin diri kita sendiri suka mengucapkan hal-hal yang mirip mantra atau menyombongkan diri ketika mendapatkan sesuatu prestasi, bukan justru mengucap syukur kepada Tuhan.

    Saudaraku, kadang  kita lupa untuk menjaga mulut agar tidak otomatis mengucapkan sesuatu ucapan bila melihat sesuatu, seperti saat melihat orang yang sering nyinyir dan orang itu mendapatkan musibah, kita otomatis mengatakan: “Nah rasa’in luh.” Atau mulut kita dengan mudahnya mengucapkan kutukan bila menemui hal-hal yang menentang kita.

    Untuk itu mari kita merenungkan peringatan dari Yakobus yang terdapat dalam Yakobus 3:1-12 dengan penekanan pada ayat 5. Saudaraku, sebuah berita di surat kabar memaparkan seorang laki-laki yang menabrakkan dirinya pada kereta api yang melintas. Diperkirakan laki-laki tersebut begitu terpuruk dan depresi karena tidak tahan menghadapi caci-maki orang-orang yang berurusan utang-piutang dengannya. Berbagai hujatan dan ancaman ditujukan kepadanya secara terbuka melalui media sosial. Kondisi tersebut akhirnya membuatnya makin putus asa hingga nekat mengakhiri hidupnya.
       
    Demikian dahsyatnya dampak kata-kata yang diucapkan lidah. Yakobus mengingatkan kepada orang Kristen Yahudi saat itu tentang betapa pentingnya memperhatikan perkataan kita. Lidah merupakan anggota kecil dari tubuh, tetapi seperti api yang dapat membakar hutan (Ayat 5). 

    Bahkan, Yakobus menyebutnya dunia kejahatan (Ayat  6). Lidah dapat mengeluarkan kutuk, fitnah, hinaan, dan sebagainya. Karenanya, penting untuk mengekang dan mengendalikan lidah sehingga tidak keluar kata-kata yang menghancurkan perasaan dan kehidupan orang lain.
       
    Mari kita menggunakan lidah untuk kebaikan dan memberkati sesama. Bukan lidah yang menguasai kita, tetapi kita yang menguasai lidah. Kita bisa memulainya dengan melatih diri bergaul dengan firman Tuhan sehingga terhindar dari perbendaharaan kata yang dapat melukai orang lain. 

    Hendaknya lidah kita gunakan untuk bersaksi tentang kasih Kristus pada manusia melalui kalimat-kalimat penghiburan, penguatan, teguran yang lembut dan peneguhan. Biarlah lidah kita bukan merusak sesama, melainkan membangun hidup mereka.

    Saudaraku, memang lidah tak bertulang, tetapi cukup kuat untuk menghancurkan atau memelihara sebuah kehidupan. (Surhert). 

  • TITIK KONSENTRASI

    Saudaraku, aku menjalani latihan fisioterapi untuk memulihkan keseimbangan yang terganggu gara-gara terjadi pengentalan darah di jalur saluran darah ke otak, hingga kehilangan keseimbangan saat berjalan. Dengan pertolongan Tuhan melalui dokter dan obat yang diberikan, kondisi tubuh semakin membaik, mulai dapat tegak berdiri dan menggerakkan kaki secara normal.  Kemudian latihan berjalan, mula-mula menggunakan walker atau tongkat berkaki empat, selanjutnya tongkat kaki satu, dan mulai lepas berjalan tanpa tongkat, makin lama makin cepat dan bisa berjalan lurus.

    Salah satu latihan fisioterapi yakni latihan berjalan maju menuju satu titik obyek, meskipun itu hanya 3 meter di depan, namun harus lurus ke depan mengikuti garis ubin lantai. Kemudian latihan jalan mundur ke belakang, juga 3 meter, dan langkah kaki juga tetap di garis ubin lantai. Mudah ya? Oh… tidak. Bagi penderita gangguan keseimbangan, latihan semacam  itu merupakan suatu latihan yang cukup sukar. 

    Saudaraku, pertama, mata dan kepala mesti lurus ke depan, memandang titik konsentasi di depan, meski hanya 3 meter. Terjadi koordinasi internal antara mata dan otak, kemudian koordinasi untuk kaki dapat melangkah ke depan, pelan-pelan, tidak boleh miring atau keluar dari alur. Jalan 3 meter ke depan mula-mula bisa 10-15 detik. Lalu jalan mundur ke belakang, tidak boleh menoleh, tapi mesti konsentrasi penuh, bagaimana menarik persneling mundur di dalam otak agar bisa menggerakkan kaki melangkah mundur ke belakang. Terapi ini diulangi hingga 10 kali, bisa 10 menit, padahal hanya jarak 3 meter maju mundur.

    Beberapa kali pelatih mengatakan: “Ayo konsentrasi ke depan! Ke titik tujuan.” Dilatih pelan-pelan, tapi mesti dilatih, kalau sudah lancar, jarak menjadi 4-5 meter. Lebih lancar lagi, mulai mencoba jalan ke depan dengan mata ditutup, juga saat mundur dengan mata ditutup, tidak ada kaca spion ya. Lama-lama saat berlatih maju mundur menjadi semakin lancar. 

    Saudaraku, aku jadi ingat ajaran Rasul Paulus di Filipi 3:13-16, terutama ayat 13-14: “… Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” 

    Jadi Rasul Paulus bersikap tegak lurus ke depan mengarahkan tujuan hanya untuk mencapai panggilan surgawi. Jadi titik konsentrasi Paulus bukan jarak 3-5 meter ke depan, tapi panjang sekali dan mungkin hanya bisa dilihat melalui mata iman yang jernih, yakni penggilan surgawi.

    Mengikut nasihat dan jejak Rasul Paulus hanya mudah untuk diucapkan atau dikhotbahkan, tapi dalam kehidupan sehari-hari penuh tantangan dan halangan. Bangun pagi hari  menskipun dimulai dengan saat teduh, berdoa dan membaca Alkitab dalam keheningan dan kesendirian. Tapi ketika memasuki kehidupan yang  kompleks: Ada istri yang menanyakan dan mempersiapkan sesuatu, lalu mungkin ada anak yang mesti diantar ke sekolah dalam perjalanan ke kantor. 

    Akibatnya di pagi itu kita bisa menjadi marah-marah dan  jengkel karena anak terlambat bangun, hujan lebat sepanjang jalan, terlambat tiba di sekolah, jalanan macet-cet, mungkin ada kecelakaan atau banjir di depan, masuk kantor terlambat 1 jam padahal sudah ditunggu tamu atau bos untuk rapat, dan seterusnya masih panjang lagi, hingga pulang ke rumah jam 8-9 malam. 

    Saudaraku, kalau kehidupan sudah sedemikan kompleks di hari itu, besoknya lagi, dan besok lagi … Apakah masih bisa memikirkan panggilan surgawi yang secara sederhana diaplikasikan dalam menjalankan pekerjaan dengan benar, berhubungan dan berkomunikasi dengan istri dan anak dengan sabar, ramah dan penuh kasih. Juga apakah dapat terlibat  pelayanan di gereja meskipun itu hanya sebagai  penyambut tamu? Mungkinkah bisa ikutan latihan paduan suara yang mesti berlatih seminggu sekali?

    Saat kita melanjutkan membaca Filipi 3:15-16, Rasul Paulus mengajak kita, yang sempurna diciptakan Allah sebagai manusia, yakni untuk mohon dengan rendah hati agar Allah memberikan petunjuk atau penyataan kepada kita, tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu. Yakni di tengah kesibukan dan keruwetan dunia, namun kita tidak tergulung atau bergulung-gulung dalam keruwetan hidup, namun tetap mau membuka diri dan minta kepada Tuhan, mohon pertolongan Tuhan. 

    Di dalam kantor atau saat pulang kerja, mata tetap melek melihat situasi sekitar,  tapi hati tidak ikutan marah, namun berdoa bercakap-cakap dengan Tuhan, maka seperti di Filipi 3:16 Tuhan akan memberikan penghiburan dan insight atau pengertian atau hikmat yang baru, yang menjadi petunjuk jalan kehidupan, dan ini akan membimbing kita di jalan yang akan ditempuh.

    Saudaraku, Pemazmur bersaksi: Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. (Mazmur 119:105). Pelita, lampu yang kecil, tapi bisa memberikan terang bagi jalan ke depan, yang mesti ditempuh secara perlahan, hingga bisa tetap maju ke depan. 

    Seperti latihan fisioterapi, walau hanya bergerak maju-mundur 3-5 meter ke depan dan ke belakang, tapi kalau latihan ini benar-benar dilakukan setiap hari, akan memulihkan keseimbangan kaki untuk berjalan. Jalan tidak menjadi oleng ke kanan atau ke kiri, nabrak sesuatu atau bahkan roboh atau terjatuh. Selamat berlatih. Tuhan menolong dan memberkati. (Surhert)