Category: Sejenak Merenung

  • SETIAP LANGKAH ADALAH ANUGERAH

    Saudaraku, mari kita membaca dan merefleksikan Yesaya 41:10: “… janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

    Satu minggu sudah Kensa menggunakan seragam putih abu-abunya. Yang dilengkapi dengan badge warna coklat di saku kemeja sebelah kiri. Yah, sekolah memang sudah dimulai sejak dua minggu lalu, tapi di minggu pertama dia masih memakai seragam SMP nya karena program MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Jadi baru di minggu berikutnya dia bisa memakai seragam SMA nya.

    Kemeja putih Kensa bukan kemeja baru. Kemejanya adalah kemeja SMP yang baru dipakainya setahun lalu saat dia naik kelas IX. Masih putih bersih, jadi tinggal diganti badge dan identitas sekolahnya. 

    Celana abu-abu Kensa juga bukan celana baru. Sebenarnya lebih tepatnya sih celana baru yang lama. Ha… ha… ha…, maaf kalau terasa membingungkan. Jadi dua buah celana abu-abu Kensa itu awalnya adalah celana Damai (kakak Kensa). Pada saat bulan Maret 2020, dengan pertumbuhan fisik yang sangat pesat, dia membutuhkan celana abu-abu yang baru. Kubuatkanlah dua celama supaya bisa dipakai bergantian. Sayang, saat celana baru siap dipakai, tibalah pandemi covid 19 yang menghentikan semua kegiatan sekolah. Sampai lulus SMK, Damai tidak pernah memakai celana itu karena lamanya pandemi. Makanya kusebut “Celana baru yang lama” Tidak butuh waktu, dengan beberapa permak, jadilah celana abu-abu ini menjadi milik Kensa.

    Saudaraku, menyaksikan Kensa berseragam putih abu abu adalah bukti kebaikan Tuhan yang sungguh nyata bagiku. Bukti penyertaan dan kemurahan Tuhan yang mengalir sedemikian dahsyatnya bagiku dan keluargaku. 

    Flash back ke Juni 2018, aku bahkan tidak berani berharap bahwa Kensa akan menyelesaikan sekolah dasarnya. Saat itu adalah awal aku menerima vonis dari dokter bahwa Kensa mengidap kanker getah bening Tapi Tuhan sungguh sumber kekuatan dan pertolongan. Pada tahun 2020, Meski harus berjalan dengan tertatih, meski harus sekolah dengan banyak bolong absensi, meski harus sekolah beriringan dengan pengobatan dan kemoterapi, Kensa tetap bisa menggunakan toga wisuda untuk kelulusan SD nya meski dengan kepala tidak berambut. Kelulusan pertama yang diraihnya setelah kanker menyerang.

    Masa sekolah dasar dilewati. Selangkah demi selangkah masa sekolah menengah pertama dijalani di dalam pandemi. Kensa masih tetap harus berjalan bersama dengan semua pengobatan yang harus dijalani. Bahkan pada Juli 2022, ketika benjolan kembali muncul untuk kali ketiga, ketika biopsi harus kembali dijalankan dan pada akhirnya memberi hasil yang sama; Kensa tetap berusaha untuk terus berjalan menapaki sekolahnya. 

    Aku tidak memberi target apa pun kepadanya. Bisa masuk sekolah selama satu minggu penuh saja, hatiku sudah sangat bersyukur. Yah, fisiknya memang belum bisa kembali sama seperti sebelum sakit. Pengobatan kemoterapi juga harus kembali dijalankan selama dia berada di kelas IX. Hipokalemia juga masih sering menyerang dan memberi rasa sakit di kaki dan badannya.

    Saudaraku, namun sungguh, ini yang seringkali membuatku terkagum, Kensa tidak pernah menyerah. Sepanjang satu tahun ini dia harus menjalani kemoterapi ulangan sebanyak 6 siklus (kemo terpanjang yang pernah dijalaninya). Dia tetap menjalani hari-harinya. Tanpa keluh, meski kadang bosan minum obat dan takut untuk diinfus karena sulitnya mencari vena yang masih bagus.

    Hari demi hari masa-masa di SMP nya dilalui Kensa dengan tidak mudah. Sekolahnya banyak sekali tertinggal karena pengobatan dan kemoterapi yang sangat intens. Sampai akhirnya tiba juga bulan Juni 2023. Kensa dinyatakan lulus SMP dan beranjak ke jenjang berikutnya.

    Perjalanan yang seringkali terasa sangat sunyi dan berat. Tapi selalu tiba pada ujung perjalanan dan mencapai target yang dituju. Terkadang Kensa berjalan sangat pelan, bahkan pernah harus berhenti sejenak. Tapi Tuhan senantiasa memberi kekuatan dan semangat baru. Tepujilah Tuhan untuk semua anugerah-Mu.

    Saudaraku, menyaksikan Kensa saat ini sudah tiba di masa SMA nya, dengan iman  dan dengan pengharapan pastiku kepada Tuhan, aku percaya dia akan terus bisa melangkah sampai ke jenjang – jenjang yang lebih tinggi selanjutnya. Dengan Tuhan sebagai penopang sekaligus sebagai pimpinan. Berjalan selangkah demi selangkah. Di dalam Tuhan dan bersama Tuhan. Sampai Kensa dipakai-Nya untuk menjadi berkat, bagi sesama dan bagi dunia. Fly high Baby Boy! (Novi Reksanto)

  • IT IS WHAT SO-CALLED CARE

    Saudaraku, mari kita membaca dan merefleksikan Mazmur 56:9: “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” Betapa PEDULI Tuhan kepada kita. Tuhan tidak hanya menyimpan air mata kita, tetapi Dia juga mencatat saat-saat kita bersedih! Aku sering suka membayangkan Dia mencatat alasan kesedihanku.  Dia cukup peduli untuk memerhatikan dan dapat membalikkan keadaan demi kebaikan kita.

    Kantor sudah sepi saat aku beranjak keluar dari ruanganku. Akhirnya selesai sudah hari yang sangat sibuk dan berat. Waktu menunjuk angka 20.05. Jam bubaran karyawan yang kerja lembur sudah lewat lima menit. Pantaslah kalau tinggal beberapa orang di luar kantor yang masih menunggu jemputan. 

    Berjalan perlahan mendekati mobil, tiba-tiba berdiri di dekatku satu sosok kurus yang mengagetkanku! Huft… ternyata Mbak Wid, salah seorang karyawan kebersihan di kantorku. “Aduh kaget aku”,  spontan itu yang keluar dari mulutku. Mbak Wid hanya  tersenyum lalu mengulurkan plastik hitam yang tidak kelihatan  isinya. “Apa ini Mbak?”, tanyaku kepadanya  sambil mengintip isi plastik itu. Ya Tuhan, ternyata isinya  empat buah jeruk nipis.  “Jeruk saya berbuah lagi Bu, dan setiap kali berbuah saya selalu ingat Ibu. Maaf ya Bu,  kali ini buahnya kecil-kecil” katanya sambil tersenyum malu. 

    I really don’t know what to say. Kepala dan hatiku yang panas dan lelah sepanjang hari ini tiba-tiba terasa adem dan damai. Empat jeruk nipis ini, yang secara angka hanya bernilai kecil, tapi malam itu aku bisa melihat cinta yang besar di dalamnya. Pemberiannya bernilai sangat mahal. Tak ternilai harganya! 

    Mba Wid, petugas kebersihan yang sejak muda bekerja di kantorku, pertama kali memberiku jeruk nipis dari halaman rumahnya saat melihatku batuk tidak kunjung sembuh. Kejadian tersebut sudah beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu setiap pohon jeruk di rumahnya berbuah, aku terkadang masih dibawakan olehnya, meskipun aku sudah tidak batuk lagi. Mbak Wid mungkin tidak akan bisa memberiku obat-obatan yang mahal tetapi dengan kasih yang diwujudkannya dalam bentuk jeruk nipis itu, bahkan sanggup menyembuhkan jauh lebih banyak “penyakit”. Malam itu , saat hatiku begitu lelah, sekali lagi Tuhan mengingatkanku bahwa masih ada dan SELALU ADA begitu banyak CINTA dan KASIH  di sekelilingku.

    Apa sebenarnya Peduli? Apakah tentang memberi dengan berkelimpahan? Atau perhatian yang berkelebihan? I don’t think so! Peduli itu seputih cinta Mbak Wid kepadaku MALAM itu. Rasa pedulinya tulus dan tidak berpamrih. Pedulinya yang diwujudkan dalam sebuah tindakan yang sepertinya sederhana namun bermakna luar biasa itu mampu menjebol dinding air mataku yang kutahan untuk tidak mengalir.

    Jadi kalau sekarang aku ditanya apa saja yang kupedulikan, jawabanku adalah semua kesayangan Tuhan yang dipercayakan Tuhan kepadaku. Para kekasih Tuhan yang diizinkan Tuhan hadir dalam hidupku. Jeruk nipis bernama cinta yang diberikan Mbak Wid malam itu menyadarkanku betapa dahsyatnya kekuatan CARE (PEDULI) dalam mengarungi perjalanan kehidupan. 

    Sapaan seperti “Selamat pagi Bu”, lalu Greeting such as “How are you today?”, atau Reminder “Jangan lupa makan siang ya” dan “Istirahatlah dulu sebentar”  atau dua kata magic “Take care!” pun sering kali justru merupakan obat yang manjur untuk membangunkan semangat yang sedang padam.

    Mengapa kita harus peduli? Karena tidak ada yang kebetulan dalam hidup kita. Setiap orang, setiap kejadian dalam hidup kita dirangkai-Nya dalam konstelasi untuk SALING PEDULI. Rantai hidup itu mempersatukan. Peduliku yang dipersiapkan dan dibentuk Tuhan dengan modal cinta kasih-Nya, akan kusebarkan bak benih yang subur untuk menumbuhkan cinta, kekuatan dan semangat. Akan kubagikan sepanjang kuat kakiku berjalan dan sepanjang nafasku berhembus.

    Kuminta kepada Tuhan untuk terus mengasah dan menumbuhkan peduliku. Supaya bisa kusampaikan kepada dunia, kepada keluarga, sahabat dan teman-temanku, bahwa saat kita bergandeng tangan, kita akan sanggup melewati setiap badai yang ada di hadapan. 

    Saudarku, sesungguhnya tidak pernah dibiarkan-Nya setiap orang berjalan sendirian. Tangan kita  akan saling menggenggam dengan erat. Sekalipun tidak bisa kulenyapkan masalahmu, aku akan tetap menyediakan telingaku untuk mendengarkan kesah kalian. Supaya hati kalian bisa lebih tenang, dan langkah kalian bisa menjadi lebih ringan. Selamat Peduli! (Novi Reksanto).

  • Do Not Refuse God’s Chosen and Anointed King

    YANG DIURAPI. Sahabat, dalam Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa orang yang akan dipakai Tuhan pada umumnya diurapi dengan minyak. Pengurapan atas para imam, para nabi dan para raja merupakan simbol pemilihan dan pengudusan mereka untuk melayani Allah (bandingkan dengan Imamat 8:10-13; 1 Samuel 9-10; 16:1-13; 1 Raja-raja 19:16; Mazmur 105:15).

    Penting untuk kita  cermati bahwa kata Ibrani untuk istilah “yang diurapi” adalah “Mesias”, sedangkan kata Yunaninya adalah “Kristus.” Tidaklah mengherankan bahwa dalam Perjanjian Baru, para rasul beranggapan bahwa Mazmur 2  membicarakan Yesus Kristus sebagai sosok Raja yang diurapi Tuhan (Kisah Para Rasul 4:25-26; 13:33; Ibrani 1:5). 

    Yesus Kristus adalah Raja yang adil dan benar, yang ditetapkan Allah untuk memerintah dan menghakimi umat-Nya. Kita hanya mempunyai dua pilihan, yaitu menundukkan diri kepada Yesus Kristus atau menolak Dia. Agar kita bisa memiliki kehidupan yang bercirikan damai sejahtera dan sukacita, kita harus menundukkan diri di hadapan Yesus Kristus. 

    Syukur kepada Tuhan hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Do Not Refuse God’s Chosen and Anointed King (Jangan Menolak Raja yang Dipilih dan Diurapi Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 2:1-12. Sahabat, dari permulaan Mazmur ini, kita bisa menemukan adanya penolakan terhadap kepemimpinan dari raja yang diurapi Tuhan (Ayat 1-3). 

    Penolakan ini tidak main-main karena yang menolak pemerintahan sang raja adalah bangsa-bangsa, raja-raja dunia, dan para pembesar. Raja yang diurapi adalah pelayan Allah. Oleh karena itu, perlawanan pada dirinya adalah bentuk perlawanan kepada Tuhan. 

    Namun, Tuhan adalah Allah yang mahakuasa dan berdaulat. Tidak ada yang dapat melawan ketetapan dan kuasa-Nya (Ayat  4-9). Perlawanan kepada Tuhan dan raja yang diurapi-Nya akan berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan (Ayat 9). 

    Oleh karena itu, respons yang tepat semestinya adalah menundukkan diri dan menghormati Allah, yang dalam hal ini diwakili oleh raja yang diurapi-Nya (Ayat 10-12). Jelas bahwa ketundukan pada raja yang diurapi ini memprasyaratkan bahwa sang raja sendiri adalah raja yang adil, benar, dan hidup dalam ketaatan pada hukum Tuhan (bandingkan dengan Ulangan 17:14-20).

    Mazmur 2 memang mazmur mesianik. Raja pilihan dan urapan Tuhan menunjuk kepada Yesus (Ayat 7; Matius 3:17; 17:5). Kedatangan Mesias untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Perlawanan kepada-Nya datang dari para pemuka agama dan politik. Ketika Petrus berkhotbah mengenai Yesus kepada pemuka agama Yahudi, ia mengutip Mazmur 2:1-2 dan mengidentifikasi Herodes dan Pilatus dengan bangsa-bangsa (Kisah Para Rasul 4:25-27). Bahkan Perjanjian Baru mengutip dan mengacu pada mazmur ini paling banyak daripada mazmur-mazmur lainnya.

    Mari kita bersyukur karena Mesias sudah datang, dan sudah tuntas menyatakan keselamatan bagi umat manusia. Mari kita beritakan kabar baik ini, agar bangsa-bangsa datang bukan untuk melawan, melainkan untuk menyembah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?

    Apa yang Sahabat pahami dengn prasa Yang Diurapi?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Melawan Allah sejatinya merupakan kebodohan semata karena Allah sungguh Mahakuasa. Ialah yang menurunkan dan menaikkan para penguasa dunia. (pg).

  • IRONI EFEK LAZARUS

    Saudaraku, produk digital yang menguasai dunia membuat manusia sangat tergantung dengan dimensi visual.  Nyaris tak ada manusia yang mengabaikan sisi visual, mulai dari anak sampai dewasa.  Produk yang dibuat dan dipasarkan juga sangat mengutamakan sisi visual.  Makin menarik visualnya, makin tinggi harganya. Namun ini menjadi ironi manakala sisi visual dibiarkan menguasai dan menentukan sebuah kebenaran, termasuk dalam dunia rohani.    Mari renungkan Yohanes 12:9-11

    Kisah kebangkitan Lazarus dari Betania menimbulkan efek yang sangat luar biasa sehingga mendadak Betania menjadi destinasi kunjungan  orang-orang yang mendengar kisah mukjizat itu.   Mukjizat itu begitu fenomenal sehingga membuat orang penasaran.  Mereka ke Betania tak lagi mencari pengajaran Yesus namun mulai mengarahkan perhatian kepada Lazarus.  Orang-orang ini menjadi percaya karena melihat sosok Lazarus yang bangkit, bukan karena pengajaran Yesus yang mengubah hati.

    Ironi dari kisah singkat ini adalah kemunculan fenomena “Wisatawan Rohani”.

    Wisatawan biasanya akan datang untuk melihat dan mengalami suasana tempat tertentu.  Mereka tidak menetap karena tujuan mereka adalah mengunjungi karena ada yang menarik minat mereka, biasanya adalah pengalaman visual.  Seperti para wisatawan itu, mereka yang datang ke Betania pasca mukjizat Lazarus bukan hanya untuk mendengarkan pengajaran Yesus Sang Pembuat Mukjizat, namun juga untuk melihat Lazarus yang sudah dibangkitkan.  Mereka menjadi percaya karena bertemu dengan sosok yang mengalami mukjizat, bagaikan teori yang telah terbukti.  

    Mereka mengejar kepuasan batin namun tidak mengubah hidup dan prinsip mereka. Mereka tetap tidak berani membela Yesus yang saat itu sedang dicari untuk ditangkap (Yohanes 11:57). Orang-orang itu hanya berkunjung namun tidak  berani menghidupi Yesus Sang Mesias.  Mereka bagaikan wisatawan yang mencari fenomena dan puas dengan visual semata, sementara hidup dan prinsip mereka tetap sama.

    Saudaraku manusia cenderung mencari pengalaman visual untuk menguatkan spiritualnya.  Hal itulah yang mendorong orang berbondong  datang ke Betania.  Namun hanya mengandalkan visual akan memiskinkan pengalaman spiritual dengan Allah.  Itu sebabnya Yesus mengatakan kepada Thomas :  “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yohanes 20:29).  

    Saat ini manusia hidup dalam masa dimana visual menjadi faktor penting sebuah kebenaran. Namun manusia perlu menyadari bahwa Allah mampu bekerja dalam dimensi yang jauh lebih luas, melampaui dimensi visual.  Allah tidak terkurung dengan visual manusia, Allah bekerja dalam kreativitas dan dimensi yang tak terbatas.  

    Saudaraku, mari belajar untuk memercayai pribadi Allah sebagai Maha segalanya walaupun mungkin tak ada mukjizat besar terjadi.  Untuk apa ada mukjizat kalau hati tidak tersentuh dengan pekerjaan-Nya dan mengenal pribadi-Nya?  Sesungguhnya MUKJIZAT TERBESAR adalah saat manusia mengenali Dia sebagai Tuhan dan Juru selamat-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • PELITA ITU BERNAMA NANGKA

    Saudaraku, dalam perjumpaan kita kali ini, mari kita membaca dan merefleksikan: “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” (Amsal 11:25)

    Ada yang berubah dari kebiasaan makan keluargaku sejak pandemi dimulai. Ketika awal pandemi, kami berkomitmen untuk meminimalkan makan di luar. Sebisa mungkin kuusahakan untuk bisa memasak setiap hari. Kadang tetap gagal. Apalagi kalau pekerjaan dan kegiatan sedang banyak-banyaknya. Tapi tetap, kami berupaya untuk membuat jarak dan mengurangi physical contact dengan orang di luar rumah. 

    Pada saat PPKM darurat dicanangkan oleh pemerintah untuk menanggulangi Covid 19 semakin merebak, kembali kami mengubah kebiasaan makan kami. Caranya? Kalau dulu kami membatasi makan di luar, saat PPKM ini aku memasak rata-rata untuk makan pagi dan makan siang saja. Makan malamnya? Aku membeli dari warung-warung makan yang setiap jam 20.00 harus segera menutup warungnya itu. 

    Yah, memang aku tidak bisa membayar lebih untuk makanan yang kubeli. Atau bahkan memborong semua dagangan mereka. Yang kubeli pun maksimal hanya empat porsi karena itulah jumlah anggota keluargaku. Sangat sedikit. Tidak banyak. Tapi tetap kupercaya itu bernilai. Itu berguna. Itu sangat membantu mereka. 

    Caraku belanja makanan juga berpindah-pindah. Hari ini membeli bakmi goreng dan nasi goreng. Besoknya pindah ke warung padang. Kemudian hari ke warung soto, dan seterusnya. Hampir semua makanan kubungkus dan kami makan di rumah. Supaya lebih nyaman dan higienis.

    Masih kuingat beberapa hari yang lalu, saat aku belanja di warung nasi goreng. Saat itu jam 19.45. Artinya 15 menit lagi warung harus tutup. Sebelum sirine polisi dan Satpol PP mulai bergerak dengan water cannon nya membubarkan dan meminta warung untuk segera ditutup. Sambil memasak Bapak penjual bercerita kepadaku: “Sampeyan tamu pertama dan kemungkinan juga tamu terakhir saya hari ini Bu..” Deg … Artinya sejak pukul 17.00 dia buka belum ada pembeli lain selain saya. Setelah itu dia juga harus tutup lapak. Sedih. Pilu rasanya. 

    Jadi, malam ini karena PPKM masih diperpanjang, aku, suami dan anak-anak “berdiskusi” menentukan tempat makan malam kami. Akhirnya pilihan jatuh ke warung asem-asem daging langganan kami. Sudah lama warung itu tutup. Dan kulihat sudah tiga hari ini kembali buka. Selain berbelanja makanan, kami juga ingin menanyakan kabarnya. Apakah dia sakit. Atau apakah dia sedang berkesusahan. 

    Hampir selesai berbelanja, Si Ibu penjual tiba-tiba bertanya kepadaku: “Apakah aku bersedia membeli buah Nangka yang ada di situ?” Kutanya kepadanya: “Itu Nangka siapa? Si Ibu menjelaskan bahwa dia dititipi keponakannya yang sedang membutuhkan uang sehingga meminta bantuannya untuk menjualkan buah Nangka yang sudah matang di pohon. Uang dari penjualan Nangka ini akan dipakai untuk membayar rekening listrik di rumah yang sudah menunggak. Duuh. Sedihnya hatiku. 

    Aku sadar betul betapa tuanya tanggal di kalender saat itu. Tapi aku juga tahu bahwa aku tidak akan menolak untuk membeli buah Nangka itu. Tujuan awalku berbelanja adalah untuk “ngelarisi” warungnya. Ternyata sekarang aku juga harus membeli buah Nangka yang sesungguhnya tidak kuperlukan. Entah kenapa, rasanya Tuhan terus meneguhkanku untuk membeli buah itu. Nangka yang lumayan besar senilai tujuh puluh ribu rupiah. 

    Ternyata benar pilihanku. Sesaat setelah kubayar semua belanjaanku, termasuk buah Nangka itu, Si Ibu penjual warung makan itu berkata kepadaku: “Matur nuwun ya, kamu sudah membuat rumah ponakanku tidak gelap lagi sekarang.”

    Oh Tuhan betapa lega dan bersyukurnya hatiku. Apalah artinya nilai tujuh puluh ribu yang kukeluarkan ketika ternyata itu begitu berarti dan bahkan sangat berguna bagi orang lain.

    Tuhan memang paling tahu bagaimana mengubah segala sesuatu yang begitu sederhana menjadi sebuah maha karya. Bagaimana Dia mengubah buah Nangka menjadi pelita bagi sebuah keluarga. (Novi Reksanto).

  • Life is A Choice

    BANYAK PILIHAN. Sahabat, dalam dunia saat ini, manusia diperhadapkan dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Saya sudah tidak menjumpai lagi pemandangan orang membaca Koran Pagi atau Koran Sore di teras rumah. Orang tidak lagi memburu berita melalui koran, tetapi sudah banyak orang berburu berita melalui internet dan sosial media. Banyak pilihan berita yang kita dapatkan di sana. 

    Hampir semua orang lebih memilih untuk mencari sesuatu dengan cepat tanpa harus melewati proses yang panjang, berbelit, dan sulit. Nah, melalui internet kita akan menemukan banyak pilihan.  Teknologi menjadi pengganti segala sesuatu hal yang bersifat lama dan sulit. Misalnya dalam mencari jawaban sebuah tugas, kita bisa langsung cari di Geogle tanpa harus membaca buku. Apakah itu salah? Hal itu tidak salah jika kita pergunakan secara bijak. Kita perlu untuk melihat kembali apakah hal itu perlu kita lakukan. Sebagai orang percaya, kita perlu untuk melihat segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan tujuannya dan juga bagaimana hal tersebut memberikan pengaruh terhadap hidup kita. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita mulai belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Life is A Choice (Hidup itu Pilihan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 1:1-6. Sahabat, hidup sebagai orang percaya di tengah dunia tidaklah mudah. Setiap hari kita diperhadapkan dengan banyak pilihan. Selain itu kita setiap hari juga dihadapkan dengan banyak hal yang harus kita putuskan, dan  keputusan penting dalam hidup harus diambil segera.

    Pemazmur menggambarkan dua jalan berbeda yang dijalani oleh manusia, yaitu jalan hidup orang benar (Ayat 1-3), dan jalan hidup orang fasik (Ayat 4-5). Mereka yang menjalani hidup yang benar disebut berbahagia.

    Pemazmur hendak menunjukkan bahwa penghakiman Tuhan atas manusia tidak didasarkan pada ras, jenis kelamin, ataupun suku bangsa. Penghakiman Tuhan didasarkan pada respons manusia terhadap apa yang difirmankan-Nya. Dalam hidup orang benar, Taurat Tuhan menjadi kegemarannya, serta direnungkan siang dan malam (Ayat 2). Ketaatan kepada firman Tuhan adalah kunci keberhasilan dalam hidup yang dijalani (Ayat 3), dan Pemazmur menekankan bahwa Tuhan mengenal dan memberkati jalan hidup mereka (Ayat 6a).

    Namun, hal yang kontras dialami oleh orang fasik. Hidup mereka digambarkan seperti sekam yang diterbangkan oleh angin (Ayat 4). Mereka tidak akan pernah betah dalam kumpulan orang benar (Ayat 5). Jalan yang dipilih berujung pada kebinasaan (Ayat 6b).

    Sahabat, dalam hidup ini kita bisa melihat contoh dari orang-orang yang memilih hidup di jalan orang benar dan jalan orang berdosa. Alkitab menegaskan hasil akhir dari dua pilihan yang amat berbeda ini. Allah menghendaki agar umat-Nya tidak memilih jalan orang fasik, melainkan jalan orang benar.

    Kita sebagai orang percaya yang hidup di antara orang tidak percaya harus bijak dalam memilih dan menempuh jalan hidup supaya kita tidak mengikuti pengertian dan kebiasaan orang berdosa. Firman Tuhan harus senantiasa menjadi pegangan kita dalam menjalani kehidupan. Firman itu bukan hanya untuk dibaca, melainkan direnungkan dan dijalankan dalam ketaatan, sehingga dalam segala aspek kehidupan kita senantiasa berkenan di hadapan Tuhan.

    Sahabat, Tuhan mengetahui setiap jalan yang kita ikuti sehingga segala sesuatunya tidak ada yang tersembunyi bagi Dia. Oleh sebab itu, Jalan manakah yang akan kita pilih? Apakah kita sudah hidup benar dan bahagia bersama dengan Tuhan atau masih hidup dalam kehidupan orang fasik yang akan menerima hukuman? 

    Hidup itu pilihan, karena itu pilihlah yang mendatangkan kehidupan dan kebahagiaan. Pilihan ada di tangan masing-masing pribadi. Pilihan kita untuk sesuatu hal adalah tanggung jawab kita sendiri. Pemazmur telah memberikan kepada kita penjelasan yang sangat baik mengenai hal yang Tuhan inginkan, tetapi keputusan kembali kepada pribadi kita. Tuhan tidak memaksakan kita untuk memilih mengikuti-Nya. lengkapilah dirimu dengan Firman untuk menjalani kehidupan yang kudus, dan jadikanlah dirimu sebagai alat Tuhan dalam memberkati orang lain. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat  peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat lakukan ketika diperhadapkan pada dua pilihan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dunia dengan segala daya pikatnya terus mencoba menjerat umat Tuhan, tetapi Tuhan mengenal jalan hidup orang-orang yang bergantung sepenuhnya kepada Dia. (pg).

  • Kejadian Kecil Bernilai Besar

    Saudaraku, dalam perjumpaan kali ini  mari kita membaca dan merefleksikan Amsal 11:3: “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya

    Sore itu, setelah late lunch with family – ini hal yang sering kulakukan bersama keluargaku, karena hari Sabtu aku pulang kerja jam 14.30, biasanya aku melewatkan makan siang di kantor dan memindahkannya sepulang kerja bersama keluarga; kuputuskan mampir supermarket untuk membelikan Kensa, jajanan kesukaannya. Sudah sejak beberapa hari yang lalu dia merengek memintanya. Tapi selalu kutahan karena dia masih batuk. Sore ini batuknya masih ada, tapi melihat nafsu makannya yang berkurang, aku berniat untuk memberinya “hadiah”, yaitu meluluskan keinginan Kensa untuk makan jajanan kesukaannya tersebut.

    Di supermarket ini, seperti biasanya jiwa perempuanku bergejolak. Niat belanja jajanan, ujung-ujungnya jadi penuh juga keranjang belanjaan karena melihat banyak barang promo di akhir bulan., hehe. Lalu segera setelah terambil semua barang yang kami inginkan, aku bergegas ke kasir untuk membayar.

    Karena sudah cukup familiar dengan supermarket ini, sambil menghitung belanjaan, Mbak kasir sesekali menawarkan promo-promo lain yang sedang berlaku di minggu itu. Pada batas pembelian tertentu, aku bisa tebus murah barang-barang yang ditawarkan. Jujur, aku tidak tertarik karena memang tidak ada yang kubutuhkan. Sampai akhirnya dia menawarkan dua bungkus biskuit Oreo seharga Rp 12,500. Saat kutanya anak-anak, mereka tidak menolak. Jadilah kuambil tawaran Mbak kasir tersebut. 

    Setelah semua terbayar, kami segera beranjak keluar dari toko. Karena tidak membawa kantong belanja (dan aku tidak mau pakai kantong plastik), TOKO meminjamkan keranjang belanja supaya kami bisa membawa barang belanjaan kami dan memindahkannya ke mobil. SELESAI. Kami segera berlalu dari toko dan pulang. 

    Dalam perjalanan pulang setelah berbelanja aku punya kebiasaan melihat nota setelah berbelanja. Bukan untuk melihat harga tapi untuk memastikan bahwa semua belanjaan lengkap, tidak ada yang kurang atau pun lebih. Tapi sore ini, karena ngobrol di sepanjang perjalanan, sudah hampir tiba di rumah baru kulihat lagi nota belanja, dan kudapati bahwa item Oreo tidak ada di nota tersebut! 

    Menyadari hal itu, kuminta Kakak Damai untuk meneliti ulang dan memang tidak item Oreo tercantum di nota. Aku cek ulang belanjaan, dua buah Oreo itu sudah ada. Duh! Yang bikin Duh itu sebenarnya adalah karena satu belokan lagi kami akan tiba di rumah. Jarak rumah dengan toko sekitar 3 km. Hmmm. Anak-anak mulai melihatku dan bertanya, “Trus bagaimana?”

    Melihat raut anak-anakku, aku tahu, ini saat yang tepat untuk mengajar mereka sebuah pelajaran baru. Kukatakan kepada mereka: “Kita kembali ke toko sekarang, kita bayar Oreo ini karena memang belum dibayar. Harus kembali sekarang karena jika ditunda-tunda dengan alasan besok juga akan lewat toko itu lagi, karena bisa jadi kita justru akan lupa dan pada akhirnya mbak kasir harus nombok untuk kekurangan pembayaran barang ini”

    Kujelaskan juga kepada mereka, betapa berharganya uang sebesar Rp 12,500 itu. Kujelaskan kepada mereka pelajaran Kejujuran, meskipun bukan kami yang menyebabkan kesalahan itu terjadi. Meski pun kesalahan itu disebabkan oleh keteledoran si mbak kasir di toko. Kuajarkan kepada mereka, bahwa Jujur dan Kejujuran adalah tentang mengerjakan kebenaran meskipun tidak ada seorang pun yang mengetahui atau mempedulikannya. Dan jika kami tidak jujur, akan ada orang lain yang dirugikan dan menderita, contohnya Mbak kasir di toko tadi harus mengganti harga Oreo yang belum terbayar. Aku bersyukur, anak-anakku memahami dan bisa menangkap pelajaran yang kusampaikan ini. Sehingga mereka tidak komplain, bahkan ingin bersegera untuk kembali ke toko. 

    Setiba di toko kebetulan si mbak kasir yang tadi melayani kami sedang berada ruangan lain. Jadi kujelaskan kepada penjaga toko yang ada saat itu. Dia mengecek ulang kepada Mbak kasir yang kemudian mengiyakan karena memang item tersebut belum ter-input di nota pembelian. Dia mencetak nota baru senilai harga dua buah oreo tersebut, sambil memberikan satu bungkus Oreo baru kepadaku sebagai permintaan maaf sekaligus terima kasihnya. Kutolak dengan halus pemberiannya dan memberikan uang yang harus kubayar. Dia mengulurkan uang kembalian kepadaku sambil berkata: “Matur nuwun sanget Bu…” Sambil meletakan tangannya di dada dan menundukkan badannya kepadaku. 

    Tiba- tiba hatiku terasa sangat adem dan penuh sukacita. kejadian kecil yang bernilai besar sore itu menyirami hatiku dengan rasa syukur. Terima kasih Tuhan untuk setiap pelajaran baik yang terus Engkau tambahkan. (Novi Reksanto)

  • RED FLAG

    Saudaraku, ada banyak tanda bahaya di dunia ini yang dipakai untuk memperingatkan seseorang.  Salah satunya adalah RED FLAG.   Secara harafiah red flag berarti bendera merah yang dikibarkan untuk memperingatkan tanda bahaya.  Namun kata red flag banyak dipakai di media sosial untuk menggambarkan karakter seseorang yang membahayakan sebuah relasi, misalnya sikap posesif, gengsi dan ego yang terlalu besar.  

    Pernah hidup seorang crazy rich yang bernama Nabal, dari kota Maon yang punya Perusahaan Pengguntingan Bulu Domba di Karmel. Nabal merupakan keturunan Kaleb, pengintai Yerikho yang hebat itu. Nabal kaya dan punya seorang istri yang cantik jelita bernama Abigail (1 Samuel 25:2-3).  Sebagai seorang pemilik Perusahaan yang tajir melintir alias kaya raya, Nabal dihormati oleh para bawahannya.  

    Sayangnya Nabal adalah seorang pria red flag karena ia seorang yang kasar (liar, keras) dan buruk (jahat).  Sedangkan Abigail digambarkan sebagai seorang perempuan yang bijak (berakal budi/pandai) dan cantik (penampilan visual menarik).  Dalam budaya Yahudi Kuno, seorang perempuan tidak memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidup sendiri walau ia berpasangan dengan seorang lelaki red flag.  

    Abigail melihat permasalahan antara Nabal dan Daud dan memutuskan untuk bertindak sendiri karena ia sadar bahwa suaminya yang bersalah dan Daud sudah dalam kondisi yang siap berperang untuk membunuh semua lelaki di keluarga Nabal.  Ia harus segera turun tangan dan mengambil jalan ‘damai’ dengan meminta maaf secara langsung sekaligus memberikan permintaan Daud (1 Samuel 25:23-31). 

    Abigail mengambil jalan yang lebih bijaksana dengan perhitungan yang matang, bahkan ia merangkai kata-kata yang baik untuk melunakkan kemarahan Daud.  Oleh karena itu benar kata penulis Amsal : Jawaban yang lemah lembut meredakan kemarahan tetapi perkataan yang pedas membangkitkan kemarahan (Amsal 15:1).  

    Saudaraku, ribuan lontaran kalimat pedas diketikkan di media sosial dalam satu hari.  Jutaan kalimat berisi kritik pedas yang menghancurkan hati dan semangat diucapkan oleh manusia bahkan oleh para pemimpin pemerintahan, masyarakat, agama dan kepala keluarga.  Sikap red flag bertebaran di mana-mana dan melukai banyak orang.  

    Alih-alih melawan dengan kekerasan, lakukanlah “perlawanan” dengan cara yang lebih bijak sehingga meminimalisir kekerasan dan tindakan yang membahayakan.  Lebih baik meminta Tuhan memberi hikmat untuk dapat mengambil sikap saat pasangan atau kolega adalah seorang yang red flag karena bagi mereka pun selalu ada kesempatan seorang mengalami perubahan pada saatnya.  Di dalam Tuhan tidak ada yang tak mungkin.

    Saudaraku, Rasul Paulus juga seorang red flag namun Tuhan berhasil mengubah karakternya sehingga ia menjadi seorang yang berhikmat.  Mari lakukan dan terus mendoakan mereka yang membutuhkannya. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • TUHAN MENGATUR SETIAP LANGKAH

    Saudaraku, aku menikmati penggenapan firman Tuhan berikut: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:23-24) melalui rangkaian peristiwa berikut ini:

    Senin sore, 6 Mei 2024, sepulang dari check up Kensa di RSUP Dr. Kariadi, aku bersiap untuk berbelanja. Rencanaku, aku akan memasak bekal yang akan kubawa ke Jakarta keesokan hari. Yah, hari Selasa dan Rabu adalah jadwal Kensa untuk menjalankan program PET CT Scan yang sudah terjadwal dari dua minggu sebelumnya. Ini adalah program evaluasi setelah dia menyelesaikan 3 siklus kemoterapi dengan obat baru. Kami perlu tahu efektivitas obat dan keberhasilan obat ini dalam memerangi sel-sel kanker yang masih bersarang di tubuh Kensa.

    Pada saat menuju swalayan untuk berbelanja, sebuah Whatsapp masuk. Ternyata dari RS Kanker Dharmais. Jadwal Kensa harus di- reschedule karena alat yang akan digunakan untuk pemeriksaan rusak! Hmm.., sejenak aku kaget. Semua yang sudah kurencanakan dan kutata rapi mendadak menjadi berantakan. Aku  sudah memesan 1 kamar hotel di dekat RS untuk check in pada 7 Mei 2024 yang tidak bisa di-refund atau pun di-reschedule karena jadwalnya cuma tinggal keesokan hari. 

    Berdiam sejenak, aku sudah mulai bisa mengucap syukur. Yah, bersyukur informasi ini kuterima sebelum kami memulai perjalanan kami ke Jakarta. Yang pasti, Tuhan tahu kami lelah. Karena sebelum kami ke Semarang di hari Senin itu, pada Sabtu dan Minggu kami berada di Sragen untuk mengadakan ibadah 100 hari Ibu berpulang. Tuhan mau kami beristirahat dulu sebelum kembali berjuang. Puji Nama Tuhan. Tuhan sungguh baik.

    Karena tidak jadi ke Jakarta, kuputuskan untuk menunda belanja dan pulang ke rumah. Terpikir olehku, ikhlas sajalah reservasi hotel hangus karena di aplikasi memang sudah tidak bisa di-refund / reschedule. Tapi, entah kenapa mendadak terpikir olehku, mengapa aku tidak mencoba menghubungi langsung Traveloka melalui CS atau email dan memperjuangkan reservasi ini supaya tidak hangus. Sayang juga menghanguskan berkat Tuhan, pikirku.

    Maka Senin malam itu kutulis sebuah email ke Traveloka. Sebuah email yang sangat jujur. Kuceritakan semua kronologi dan kusertakan Whatsapp dari Rumah Sakit. Aku memohon bisa mendapatkan kebijakan dari Traveloka untuk bisa reschedule ke tanggal baru. Amazingly, ternyata emailku direspons baik. Agen ini meminta aku untuk memberiku tanggal baru, supaya mereka bisa mengurus dan menerbitkan voucher baru untukku.

    Ada masalah berikutnya untukku. Karena RS hanya memberi info bahwa perbaikan alat adalah 1 – 2 minggu. Tidak pasti sekali waktunya. Aku harus bisa memberikan tanggal baru kepada Agen paling lambat pada hari Selasa, 7 Mei maksimal jam 14.00 karena seharusnya aku check in di tanggal dan jam tersebut. Jujur, ini sangat membingungkan. Kutimbang-timbang, kubawa dalam doa dan kupikirkan. Sampai akhirnya dengan semua perhitungan sekaligus keberserahanku kepada Tuhan, aku submitted tanggal baru yaitu check in 21 Mei dan check out 22 Mei 2024. 

    Hari-hari berlalu dengan semua dinamikanya. Urusan keluarga, urusan pekerjaan, mendengar kabar bahwa Aji adikku yang di Sragen sakit karena gula nya yang kambuh, semuanya bercampur jadi satu. Aku belum bisa menengok Aji karena pikirku aku ingin menyelesaikan satu persatu urusanku, terutama urusan program Kensa di Jakarta ini. Tuhan sudah melancarkan jalan-jalanku karena setelah reservasi hotel bisa ku-reschedule, aku juga bisa mendapatkan jadwal PET CT dari RS yang sesuai dengan tanggal reservasi hotelku yang baru. Puji Tuhan!

    Ternyata Tuhan mempercayakan sebuah cerita yang lain dari apa yang kurancangkan. Jalan cerita yang sangat mengejutkanku, tetapi juga sekaligus membuatku sangat amazed dengan cara-Nya mengatur setiap langkahku.

    Senin siang 20 Mei 2024, di saat aku mulai kembali mempersiapkan perjalananku ke Jakarta, ternyata Tuhan memanggil adikku Aji pulang ke rumah-Nya. Kali ini semuanya terasa lebih berantakan lagi. Hatiku hancur berkeping-keping rasanya. 

    Tapi sekali lagi, Tuhan itu sungguh baik. Dikembalikan-Nya akal sehatku dengan segera. Di sela-sela tangis kesedihanku, kusampaikan kepada Mas Sapto, kakakku untuk mengatur pemakaman adikku di hari Selasa pagi. Supaya pada Selasa sorenya aku tetap bisa berangkat ke Jakarta. Supaya aku tetap bisa mengerjakan dua hal besar ini, memakamkan adikku dan mendampingi anakku memperjuangkan kesembuhan sempurnanya. Kalau harus ditunda, semuanya harus diatur kembali dari awal. Itu akan lebih susah lagi.

    Pada saat perjalanan ke Jakarta, air mataku masih terus mengalir. Meratapi kepergian adikku, dan tidak bisa hadir di ibadah penghiburannya. Tapi kutahu, aku harus terus melangkah maju. 

    Satu hal yang terasa menenangkan dan membuatku terkagum dengan rencana Tuhan, ada banyak tanggal dan hari yang bisa kupilih untuk membuat reservasi baru, Tuhan menuntunku untuk memilih hari Selasa, 21 Mei 2024. Secara logika, waktu dua minggu yang dibutuhkan RS untuk perbaikan alat, itu jatuhnya di hari Senin, 20 Mei 2024. Waktu yang terasa jauh lebih tepat dan convenience untuk bepergian karena kami bisa berangkat di hari Minggu. Tapi tidak kupilih tanggal itu. Karena ternyata, di Timeline yang Tuhan sudah rancangkan, di hari dan tanggal itu, aku harus menemani dan merawat adikku sebelum kami berpisah selama-lamanya. 

    Sungguh hari-hari yang tidak mudah dan berat. Tapi aku terus bisa melihat, semuanya baik dan indah di dalam penyertaan dan pertolongan Tuhan. Tuhan mencukupkan kekuatan dan memberikan penghiburan yang kubutuhkan. (Novi Reksanto).

  • Judgement Day

    HARI TUHAN. Sahabat, frasa “hari Tuhan” biasanya merujuk pada peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di akhir sejarah umat manusia (Yesaya 7:18-25), yang juga sering diasosiasikan dengan frasa “hari itu.” Salah satu kunci untuk memahami frasa ini adalah dengan memerhatikan bahwa frasa-frasa ini selalu berbicara mengenai suatu masa di mana Allah secara pribadi ikut campur tangan dalam sejarah, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menggenapi aspek tertentu dari rencana-Nya.

    Kebanyakan orang mengasosiasikan “hari Tuhan” dengan masa tertentu atau hari tertentu yang akan terjadi di akhir zaman, ketika rencana dan maksud Allah bagi dunia dan umat manusia akan digenapi. Beberapa pakar percaya kalau “hari Tuhan” itu merujuk pada satu masa yang lebih panjang, bukannya mengacu pada satu hari tertentu saja. 

    Ini akan menjadi suatu periode di mana Kristus akan memerintah di seluruh dunia, sebelum Dia kelak menciptakan langit dan bumi yang baru untuk kekekalan. Sebaliknya, ada pakar lainnya yang memahami kalau “hari Tuhan” merupakan peristiwa yang akan berlangsung dengan cepat. Kristus akan kembali ke dunia untuk menebus orang-orang percaya yang setia dan menghukum orang-orang yang tidak percaya.

    Sahabat, selain merupakan masa penghakiman, masa itu juga merupakan masa penyelamatan ketika Allah membebaskan sisa-sisa Israel, menggenapi janji-Nya kalau “seluruh Israel akan diselamatkan” (Roma 11:26), mengampuni dosa mereka dan memulihkan orang-orang pilihan-Nya ke tanah yang dijanjikan-Nya kepada Abraham (Yesaya 10:27; Yeremia 30:19-31, 40; Mikha pasal 4; Zakharia pasal 13). 

    Hasil terakhir dari hari Tuhan adalah: “Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan; hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu” (Yesaya 2:17). Penggenapan utama atau yang paling akhir dari nubuat-nubuat mengenai “hari Tuhan” akan terjadi pada akhir dari sejarah ketika dengan kuasa yang ajaib Allah akan menghukum kejahatan dan menggenapi semua janji-Nya.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab Maleakhi dengan topik: “Judgement Day  (Hari Penghakiman)”. Bacaan Sabda diambil dari Maleakhi 4:1-6. Sahabat, Alkitab menegaskan bahwa hari Tuhan itu pasti datang tanpa pembatalan. Hanya saja, tidak seorang pun mengetahui kapan saatnya tiba. Jadi, tidak perlu ada lagi keraguan tentang ini. Bacaan kita pada hari ini mengatakan, kedatangan-Nya akan didahului oleh pengutusan Nabi Elia (Ayat 5). Dari perspektif Israel, itu dipahami sebagai cara Tuhan untuk mempersiapkan umat-Nya. Dia menyediakan waktu agar orang-orang percaya bertobat menjelang hari Tuhan itu (Ayat 6).

    Kedatangan hari Tuhan dilukiskan sebagai malapetaka besar bagi orang-orang gegabah dan fasik. Mereka akan menjadi seperti jerami yang terbakar habis (Ayat 1). Bahkan, akar dan cabang mereka pun akan sirna tak berbekas. Mereka akan menjadi seperti abu yang diinjak-injak. Gambaran itulah yang ditunjukkan oleh bacaan kita untuk melukiskan kesudahan orang-orang jahat.

    Sahabat, namun, selain narasi malapetaka, bacaan kita juga menyodorkan narasi sukacita, yaitu pengharapan. Pada hari kedatangan-Nya, orang-orang yang takut akan Tuhan bersukacita karena semua penderitaan berakhir (Ayat 2). 

    Hari Tuhan itu menjadi momen yang menggembirakan. Itulah saat yang penuh kebahagiaan. Ketidakadilan yang terjadi selama ini akan digantikan dengan terang surya kebenaran. Ketidakberdayaan akan disegarkan dengan kekuatan baru, seperti sayap yang dipulihkan. Pengekangan paksa selama ini digantikan dengan kemerdekaan, laksana anak lembu lepas dari kandang. Ada janji “kebebasan” yang akan dinikmati orang-orang yang takut Tuhan ketika hari itu tiba.

    Sahabat, kita tidak tahu kapan hari kedatangan Tuhan. Yesus sendiri pun menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu waktu kedatangan-Nya. Jadi, kita tidak perlu menghabiskan energi dan waktu untuk menguak “misteri” hari kedatangan Tuhan, sebaiknya kita harus tetap berjaga-jaga, waspada, dan siap sedia. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Hari Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Barang asli dan barang palsu (KW) seringkali susah dibedakan namun tentu ada ciri yang menunjukkan: Mana yang palsu dan mana yang asli. (pg).