Category: Sejenak Merenung

  • DEWA UANG

    Hari Minggu kemarin saya dan istri makan siang di sebuah restoran di bilangan PIK, ruang resto tidak begitu besar, jadi meja makan antar pengunjung relatif dekat hanya muat untuk satu orang jalan. Di sebelah saya duduk satu keluarga, suami istri dan dua anaknya yang nampak remaja, sepanjang makan sepertinya makan namun tidak menikmati atau gimana, pokoknya sambil main handphone. Yang dua anak pakai Iphone, papanya pakai S dan mamahnya pakai Flip. Begitulah, satu keluarga santap bersama, tidak saling menegur, matanya hanya ke handphone.

    Pada waktu aku ke kasir untuk membayar, ternyata Si Ibu di meja sebelah menanya ke istriku dalam bahasa Mandarin, “Asalmu dari mana?” Mungkin melihat tampilan istriku yang biasa-biasa dan kami saat santap sama sekali tidak menatap handphone, mungkin dianggap tidak punya handphone atau gaptek atau aneh. Istriku menjawab, dari Jawa Tengah, juga dalam bahasa Mandarin. Eh Si Ibu yang bertanya malahan nyeletuk, juga pakai bahasanya: “Eh kamu datang jauh-jauh ke Jakarta bawa uang banyak ndak?” 

    Istriku hanya tersenyum lalu berdiri keluar resto, kebetulan chef resto ada di pintu keluar, asli dari daratan, aku dan istri ajak ngomong sebentar kalau masakannya enak, pakai Mandarin. Keluarga yang nanya-nanya tadi melihat saja, mungkin mikir ini dua orang yang tidak bawa duit banyak ke Jakarta ternyata bisa juga bahasa Mandarin ya. 

    Yah itulah secuplik kehidupan di sebuah penggalan kota Jakarta yang keras, yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Ada kelompok orang yang memandang kita dari tampilan, dari handphone yang dibawa, dari baju yang dipakai, dari mobil yang dikendarai, dan apakah mampu berbahasa seperti bahasa asal kampungnya, yang terutama, jauh-jauh datang ke Jakarta bawa uang banyak ndak?

    Semoga gaya hidup semacam ini tidak menular ke gereja kita, maunya melihat siapa yang datang, tampilannya gimana, dan kalau duitnya banyak dan sering menyumbang, pasti didekati banyak pengurus dan rohaniwan, ditarik-tarik menjadi aktivis dan panitia. Latar utamanya, ya banyak duit.

    Minggu pagi kemarin di gereja pak Pendeta dari gereja lain yang khotbah bilang ada kesaksian satu orang jemaatnya yang dulu-dulunya hampir 20 tahun kerja di nightclub, keuangannya melimpah, hingga suatu hari di KKR di gereja mendapat teguran Roh Kudus atas pekerjaannya. 

    Dia mundur dari nightclub, lalu coba melamar ke berbagai kantor dan instansi, tidak ada yang mau menerima, keuangannya menipis, hingga akhirnya jualan roti-roti dan krupuk di foodcourt. Hingga suatu hari ketemu dengan mantan pelanggannya di nightclub, yang menawarkan adanya pekerjaan di nightclub yang baru dibukanya, gajinya lebih tinggi. 

    Tapi orang ini menolak, dan berani menyaksikan bagaimana kasih Tuhan meskipun kekurangan uang, tapi dia bisa lebih akrab dengan anak istri, tidak seperti dulunya setiap sore hingga pagi malahan berangkat kerja di nightclub dan tidak pernah ketemu keluarga.

    Memang di kehidupan sehari lebih banyak orang yang memandang kita dari seberapa banyak uang yang kita miliki, seberapa sukses posisi kita di masyarakat, bukan seberapa dekatnya iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Nampaknya kepemilikan tentang uang menjadi tolok ukur dalam kehidupan, jadi uang menjadi dewa atau raja kehidupan.

    Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan, “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13)

    Saudaraku, Tuhan Yesus tidak mengatakan: kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Iblis – atau menjadi pengadi setan, seperti di film tempo hari.

    Jadi yang menjadi persaingan sebagai penguasa agung yang mesti disembah saat ini yakni antara Tuhan melawan Mamon sebagai pesaingnya. Mamon ini dewa baru, tidak ada di zaman Perjanjian Lama, juga di kitab Wahyu tidak disebut lagi Si Mamon ini. Namun di Perjanjian Baru, Mamon atau μαμμωνᾷ (bahasa Yunani) dibaca mammoná artinya kekayaan, umumnya dianggap berarti uang, kekayaan materi, atau entitas apa pun yang menjanjikan kekayaan, dan dikaitkan dengan keserakahan dalam mengejar keuntungan.

    Karena banyak ajaran Kristen yang mengajarkan bahwa Tuhan itu sumber berkat, sumber kekayaan, persembahanmu itu bagaikan kamu  menabur di padang dan kelak akan menuai 30 kali lipat, bahkan bisa 100 kali lipat, maka dekat dengan Tuhan berarti dekat dengan sumber dan janji kekayaan. Inilah, Tuhan bukan lagi sebagai sumber keselamatan tapi sudah menjadi sumber berkat, terutama uang, bahkan menjadi dewa uang.

    Jadi saingan Tuhan hari ini bukanlah Si Iblis, tidak ada orang yang mau mengejar dan mengikut Iblis, kecuali di film-film horor, tapi semakin banyak orang yang dengan sukarela mau menjadi pengikut Mamon yang menjanjikan kekayaan materi, mau mengorbankan waktu, keluarga, bahkan kesehatannya dan dirinya, demi mendapatkan Mamon yang lebih banyak.

    Saudaraku, coba jawab dengan jujur: “Kita masing-masing ada di pihak yang mana? Tuhan atau Mamon?” (Surhert)

  • KEMURAHAN HATI

    Saudaraku, mari kita membaca dan merefleksikan Mazmur 41:2-4: “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.”

    Sebuah percakapan singkat siang kemarin saat kami menunggu obat di rumah sakit:

    Kensa (K) : Ma, buku Kensa’s Adventure masih ada 4 pax ya stok nya..

    Saya (S) : Iya Dik, tinggal sedikit. Sebentar lagi semua buku mungkin akan habis

    K : Ok, aku mau beli juga ya.

    S : Oh ya? Kenapa?

    K : Ya supaya stoknya berkurang lagi. Aku mau ikut menyumbang. Nanti aku bayar dua ratus ribu.

    S : Kamu punya uangnya?

    K : Iya, nanti aku pakai uang yang ada di celenganku. 

    Lalu mendadak lidahku terasa kelu. Aku tidak tahu harus berkata atau memberi komentar apa pun. Buku Kensa’s Adventure itu kutulis dan kuterbitkan karena dia. Buku yang berisi tentang perjalanan imanku sepanjang mendampingi Kensa melawan kanker Limfoma Hodgkin. Jadi tanpa membeli pun, sesungguhnya secara otomatis dia berhak untuk memiliki buku itu.

    Tapi siang itu dia memilih untuk ingin membelinya. Karena dia ingin ikut berpartisipasi di program persembahan kasih bagi penderita kanker dan penyakit kritis lainnya. Ya, ketika cita – cita untuk menerbitkan buku ini terwujud, aku memang merancangkan bahwa hasil donasi yang kuterima dari teman-teman yang ingin memiliki buku Kensa’s Adventure adalah untuk program persembahan kasih. Mungkin yang kubantu bukan nominal angka yang besar. Tapi aku percaya itu akan sedikit meringankan dan berguna.  

    Siang itu tanpa prolog apa pun Kensa menyatakan ingin memiliki buku itu dengan memberikan uang celengannya. Uang celengan Kensa adalah uang yang dikumpulkannya dari sisa uang saku sekolah, atau pemberian dari nenek atau kerabat. Uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Ternyata dia dengan sangat tulus akan menyerahkannya kepadaku.

    Melihat matanya yang tulus dan terlihat sangat bening siang itu, tanpa sadar mataku mulai berkaca-kaca, hatiku seperti disiram air sejuk yang mengademkan siang yang terik hari itu. 

    Inilah kasih yang besar. Yang ditunjukkan dan diajarkan anakku melalui pemikirannya yang sangat sederhana untuk menolong sesama. Seringkali, kita yang lebih dewasa, membuat terlalu banyak pertimbangan sebelum menolong orang lain. Menunda-nudanya sampai pada akhirnya menjadi terlambat dan urung menolong Bahkan tidak jarang, kita sangat egois, enggan menolong karena takut bahwa nanti kita akan berkekurangan. 

    Padahal, seperti yang Tuhan selalu ajarkan, tidak akan pernah berkekurangan orang yang bersedia berbagi dan menolong sesamanya. Ilmu matematika tidak berlaku di dalam Seni Berbagi. Jika menunggu kaya terlebih dahulu baru mau menolong dan berbagi, mungkin selamanya kita tidak akan pernah menolong dan berbagi.

    Inilah kasih yang besar. Yang tidak menghitung-hitung berapa uang yang dimiliki dan berapa lama dia harus mengumpulkan uang itu. Kensa hanya ingin, salah seorang teman sesama pasien kanker, bisa membeli tiket bus atau kereta untuk menuju ke rumah sakit Kariadi dengan uang persembahan yang diberikannya. Atau supaya teman sesama pasien kanker, bisa membeli susu dan dan kue-kue karakter yang dijual di sebuah toko roti di depan rumah sakit sehingga hati mereka bisa tertawa dan berbahagia. Sesederhana itu.Selamat Bermurah Hati!

    (Novi Reksanto)

  • MEMBANGUN KELUARGA KOKOH,DI TENGAH ARUS SEKULARISME

    Saudaraku, di tengah derasnya arus sekularisme yang melanda dunia saat ini, membangun keluarga Kristen yang kokoh menjadi tugas yang semakin menantang bagi orang Kristen. Sekularisme, dengan segala kemajuan dan kemudahannya, seringkali membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan iman Kristen atau ajaran Alkitab.

    Kita perlu memahami pola pikir sekularisme. Sekularisme adalah sebuah paham atau aliran filsafat (ideologi) yang mengarahkan manusia pada pemisahan antara unsur- unsur agama dan hal-hal dunia, seperti pemerintahan, urusan kepentingan umum. Paham atau aliran ini benar-benar sudah menjadi fenomena yang bersifat universal (umum) dan menyeluruh dan mengakibatkan pengaruh besar dalam perjalanan proses kehidupan manusia modern.

    Dampaknya banyak orang Kristen hidup dalam dua “dunia”. Hari minggu penuh suasana surgawi dan di hari-hari lain hidup dalam dorongan duniawi. Di gereja orang Kristen hidup rohani namun berbeda saat di luar gereja. Kita terkadang berjumpa dengan orang Kristen yang berkata: “Ah …, itu kan kalau di gereja, udah jangan terlalu rohani lah.” Atau “Ini dunia kerja, tidak bisa dengan cara seperti itu (ajaran Alkitab), terlalu naiflah kamu, jangan sok suci.” 

    Bahkan, kemajuan teknologi memberi kontribusi besar dalam pola pikir sekularisme kepada kaum muda. Pada kalangan kaum muda terjadi penurunan pada hal atau nilai-nilai rohani. Hal-hal rohani menjadi dunia yang sangat jauh di hati mereka dibanding pada teknologi. Ada kesulitan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai Alkitab pada pikiran dan hati mereka.

    Juga dampak sekularisme saat ini, orang Kristen hidup di tengah gempuran pola pikir materialisme, relativisme moral, dan individualisme yang berlebihan, kita dihadapkan pada pilihan penting setiap hari: Mengikuti arus sekularisme atau mengikuti nilai-nilai dalam kehidupan sebagai orang Kristen. 

    Materialisme menjebak pada keinginan memiliki lebih banyak barang dan kekayaan. Relativisme moral mengaburkan Batasan antara benar dan salah. Individualisme mendorong kita mengejar kepentingan diri sendiri di atas kepentingan bersama, mengikis nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas dalam keluarga. Disinilah kita sadar bahwa menghadapi sekularisme bukanlah tugas yang mudah. Dunia modern menawarkan banyak godaan supaya dapat mengalihkan perhatian orang-orang Kristen dari Tuhan.

    Namun, dalam menghadapi tantangan ini, kita dapat menemukan inspirasi dari Yosua 24:15 yang berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Kata-kata Yosua ini bukan sekadar pernyatan biasa, melainkan sebuah komitmen yang kuat. Yosua menantang kita untuk membuat pilihan yang tegas, memilih untuk beribadah kepada Tuhan di atas segalanya.

    Ketika kita merenungkan bagaimana membangun keluarga yang kokoh, fondasi utamanya adalah iman kepada Tuhan. Seperti yang dinyatakan dalam Yosua 24:15, komitmen untuk melayani Tuhan harus menjadi pusat kehidupan keluarga kita. Ini berarti menanamkan nilai-nilai Kristen sejak dini kepada anak-anak kita, memastikan bahwa mereka memahami dan menghargai pentingnya iman dalam kehidupan sehari- hari. Ketika keluarga berdoa bersama, membaca Alkitab bersama, dan berdiskusi

    tentang iman bersama, mereka membangun ikatan yang kuat dan pemahaman yang mendalam tentang tujuan hidup mereka.

    Orangtua tidak perlu ragu untuk membangun pendidikan Kristen di tengah keluarga. Orangtua menjadi pendidik Kristen mula-mula kepada anak-anak sejak dini dan membantu mereka untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai iman. Hal ini wajib menjadi pola hidup dalam keluarga Kristen. Karena itu orangtua pun perlu sadar pentingnya keberanian mereka untuk membangun akan pola hidup ini. Kesadaran sebagai orangtua tidak sempurna justru mendorong orangtua menjadi pembelajar bersama dengan anak-anak sejak dini.

    Saudaraku, keterlibatan dalam komunitas gereja juga sangat penting. Bergabung dengan komunitas gereja yang aktif membantu keluarga untuk mendapatkan dukungan dan dorongan dari sesama orang percaya. Melalui persekutuan dan pelayanan bersama, keluarga dapat terus bertumbuh dalam iman dan saling menguatkan dalam menghadapi tantangan sekularisme. Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga TEMPAT untuk BERBAGI, BELAJAR, dan BERTUMBUH bersama dalam IMAN.

    Dalam menghadapi arus sekularisme, kita perlu selalu ingat bahwa pilihan untuk melayani Tuhan haruslah menjadi keputusan yang bulat dan disertai dengan tindakan nyata. Sekularisme mungkin menawarkan jalan yang lebih mudah dan nyaman, tetapi sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk berjalan di jalan yang benar meskipun itu sulit. Seperti yang diingatkan dalam Yosua 24:15, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” 

    Saudaraku, dengan komitmen ini, kita bisa membangun keluarga yang kokoh, siap menghadapi setiap tantangan yang datang, dan menjadi saksi yang hidup bagi dunia tentang kasih dan kebenaran Tuhan.

    Akhirnya, mari kita merenungkan pesan ini dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap keputusan dan tindakan, mari kita selalu memilih untuk beribadah kepada Tuhan, membangun keluarga yang kuat di atas dasar iman yang kokoh, dan menghadapi arus sekularisme dengan penuh keyakinan dan keteguhan hati. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup yang tidak hanya berakar dalam iman, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain, menunjukkan kepada dunia bahwa DALAM TUHAN, KITA MENEMUKAN KEKUATAN DAN HARAPAN YANG SEJATI. (EBWR).

  • SEPULUH EKOR UNTA

    Saudaraku, Kejadian 24:10:  “Kemudian hamba itu mengambil sepuluh ekor dari unta tuannya …”. Ini merupakan sebuah ayat yang biasa-biasa saja di kitab Kejadian, ketika hamba Abraham disuruh oleh Abraham pergi ke negeri Aram-Mesopotamia, asal Abraham, mencarikan calon istri bagi Ishak. 

    Akhirnya hamba ini tiba di pinggiran kota di Aram, di dekat sebuah sumur. Lalu dia berdoa: “Kiranya ada seorang anak gadis yang mau memberikan air minum dari buyungnya, dan anak gadis itulah yang akan menjadi calon istri bagi Ishak, anak Abraham.”

    Benarlah …  Datang seorang anak gadis yang sangat cantik parasnya, mengambil air dari sumur dari buyungnya. Hamba itu minta minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, anak gadis itu berkata: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.”  Kemudian segeralah anak gadis ini menuangkan air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur atau mata air untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu (Kejadian  24:20). Ya cerita yang nampak biasa-biasa saja.

    Nah, ada sepuluh ekor unta, berapa banyak air yang dapat diminum oleh seekor unta? Ini di Wikipedia, unta memiliki penyimpanan air yang berada di punuknya. Punuk tersebut mengandung sekitar 40 kg lemak yang menjadikan unta mampu berjalan lama tanpa makan dan minum. Dalam sepuluh menit, unta mampu meminum air sebanyak ⅓ berat badannya. Artinya, seekor unta mampu meminum 130 liter air dalam sekali minum.

    Ada 10 ekor unta, berarti semuanya akan minum 1.300 liter air. Nah anak gadis yang sangat cantik parasnya ini, kita tahu selanjutnya bahwa ia bernama Ribka, menimba air memakai buyung. Berapakah besar buyung yang dibawa Ribka, apalagi Ribka menurut website di JWA.org (Jewish Women’s Archive, Amerika) berusia sekitar 14 tahun. 

    Jelas kalau 1 buyung air itu seperti galon Aqua yang isi 19 liter, tentu Ribka sudah kepayahan memikulnya setiap hari dari sumur ke rumahnya, jadi yang dibawa Ribka boleh jadi kendi yang cukup besar, yang menampung sekitar 4 liter air, beratnya sekitar 5 kg termasuk kendi. Jika Ribka memakai kendi untuk mengambil air minum bagi 10 ekor unta yang minum 1.300 liter air, berarti dia mesti bolak-balik mengambil air dari sumur lalu menuangkan ke palungan unta sebanyak 300 kali! 

    Zaman itu belum ada pompa listrik Sanyo atau pompa air Dragon yang mudah menyalurkan air, jadi menimba air 300 kali pasti perlu waktu 2-3 jam lebih.  

    Melihat pelayanan Ribka, hamba Abraham memberikan anting-anting dan gelang emas yang dibawanya kepada Ribka dan dia menemui orangtua Ribka untuk melamarnya, kemudian Ribka dibawa pulang menemui Abraham untuk dijodohkan dengan Ishak.

    Ribka yang memberi minum 10 ekor unta dan akhirnya dijodohkan dengan Ishak menjadi sangat penting, karena hari ini kita mudah menemukan di google ada banyak website dan tafrsir sesat yang mengolok-olok usia Ribka saat dijodohkan dengan Ishak, yang mengatakan saat itu Ribka usianya 3 tahun, karena katanya di usia 3 tahun pada zaman itu sudah umum seorang anak gadis dikawinkan. Jelaslah Ribka yang mampu memberi minum untuk 10 ekor unta tidaklah dapat dilakukan oleh seorang anak usia 3 tahun.

    Bila kita baca di Kejadian 27:46, kita akan membaca curahan hati Ribka kepada Ishak  mengenai Esau yang telah mengambil beberapa orang istri dari kaum Het, yang dikenal kafir: “Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang isteri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?”  

    Syukur kepada Tuhan, dengan sigap Ishak segera merespons curahan hati Ribka: Kemudian Ishak memanggil Yakub, lalu memberkati dia serta memesankan kepadanya, katanya: “Janganlah mengambil isteri dari perempuan Kanaan. Bersiaplah, pergilah ke Padan-Aram, ke rumah Betuel, ayah ibumu, dan ambillah dari situ seorang isteri dari anak-anak Laban, saudara ibumu. …”  (Kejadian 28:1-2).

    Saudaraku, renungan bagi kita, sebagai orangtua, apakah kita memerhatikan kehidupan anak-anak kita dalam mencari pasangan hidup? Apakah kita biarkan anak-anak kita mencari calon pasangan hidup dari kalangan  orang yang di luar keselamatan Kristus? Bersediakah kita menjadi pendoa dan pemdamping bagi anak-anak kita dalam pergumulan mereka untuk mendapatkan pasangan hidup?

    Mari kita renungkan dengan hati dan pikiran yang bening nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus ini: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” (2 Korintus 6:14-15). (Surhert). 

  • Humans are Precious

    MEMULIAKAN TUHAN.  Sahabat,Tuhan mau kita hidup dalam arah yang benar, salah satunya kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu yang kita terima dan punyai saat ini. Oleh sebab itu, sebagai anak-anak Tuhan kita harus mengakui bahwa bakatku berasal dari-Nya, uangku berasal dari-Nya, kesehatanku berasal dari-Nya, dan seterusnya. Maka dari itu semuanya mesti dipakai untuk kemuliaan nama Tuhan. 

    Memuliakan Tuhan berarti mengakui dan menghargai kemuliaan Tuhan di atas segalanya dan membuat kemuliaan-Nya dikenal melalui hidup kita. Memuliakan Tuhan memang bukan berarti membuat Tuhan lebih mulia, karena Dia sudah mulia dan tidak kekurangan kemuliaan; kemuliaan Tuhan sudah sempurna dan tidak perlu ditambahkan oleh manusia.

    Paulus berkata bahwa kita dapat memuliakan nama-Nya melalui bagaimana kita menjalani hidup dan beraktivitas. Paulus menegaskan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi harus bertujuan untuk memuliakan Tuhan dan menyenangkan dan menghormati Dia. Bahkan hal paling sederhana sekalipun, seperti makan dan minum, juga dapat memuliakan nama Tuhan. Hal itu dilakukan agar orang yang berada di sekitarnya beroleh selamat (1 Korintus 10:31-33). 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Humans are  Precious (Manusia Sungguh Berhaga)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 8:1-10 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, ada orang-orang tertentu menganggap bahwa harga diri mereka ditentukan oleh apa yang mereka miliki, sehingga mereka memakai barang yang  branded (bermerek), makan makanan yang mahal, naik kendaraan keluaran tahun terbaru, dan tinggal di rumah yang mewah bak istana. Ketika mereka tidak sanggup menggapainya, mereka merasa menjadi orang-orang yang tidak berharga.

    Daud memuji Tuhan pencipta yang mulia dan agung ketika ia melihat hasil karya Tuhan yang luar biasa yaitu langit, bulan dan bintang-bintang. Daud menjadi merasa begitu kecil dan hina sehingga menyebut dirinya, manusia, dengan “apa” dan bukan “siapa”, seperti sebutan sebuah benda. Daud bahkan dalam keberadaannya merasa tidak layak untuk diingat dan diindahkan oleh Tuhan (Ayat 4-5). 

    Tetapi Daud tidak berhenti pada perasaan yang kecil dan hina karena ia menemukan bahwa Tuhan membuat manusia hampir sama seperti Allah. Dia memahkotai manusia dengan kemuliaan dan hormat, bahkan membuat manusia berkuasa atas segala buatan tangan-Nya. Manusia begitu berharga di hadapan Tuhan karena telah diciptakan dengan baik, diberi karunia-karunia dan kepercayaan (Ayat 6-9).

    Sahabat, tugas kita adalah mengelola alam ini supaya menjadi wadah yang asri dan harmonis. Ingatlah bahwa kita diciptakan sebagai makhluk mulia supaya hidup kita penuh dengan kehormatan dan kemuliaan. 

    Mari tunjukan kepada dunia bahwa kita benar adalah makhluk mulia yang diciptakan Allah serupa dan segambar dengan Dia. Tunjukan itu dalam lingkungan kerja, lingkungan belajar kita, dan di mana pun kita berada. Mari isi hidup kita dengan perilaku hidup yang mulia dan memuliakan Tuhan. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang hidup yang mulia?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:Marilah kita menyampaikan pemahaman yang benar bahwa Tuhan, Sang Pencipta, sungguh mengasihi dan menghargai mereka apa adanya karena mereka sungguh berharga di mata-Nya. (pg) 

  • God, the Fairest Judge

    HAKIM. Sahabat, dari Wikipedia saya mendapat informasi bahwa Hakim  pada zaman Israel kuno adalah istilah untuk pemimpin bangsa Israel pada periode setelah memasuki tanah Kanaan di bawah pimpinan Yosua dan sebelum zaman kerajaan Israel (kira-kira 1405-1025 SM). Sejarah periode ini dicatat dalam Kitab Hakim-hakim. 

    Seorang hakim adalah “penguasa atau pemimpin militer, sekaligus orang yang memimpin pengadilan hukum”. Pada waktu itu, 12 suku Israel menempati tanah yang menjadi bagian mereka dari pembagian oleh Musa di Kitab Ulangan dan tidak ada pemerintahan pusat, maupun tata hukum masyarakat, selain hukum Taurat. 

    Ayat terakhir Kitab Hakim-hakim menyimpulkan: “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hakim-hakim 21:25). Di waktu-waktu kesusahan, maka muncullah pemimpin-pemimpin yang disebut “hakim”.

    Dalam Kitab Hakim-hakim tampak satu pola berputar yang menunjukkan perlunya seorang “hakim”: Bangsa Israel meninggalkan ibadah pada TUHAN, kesusahan menimpa sebagai hukuman TUHAN, bangsa Israel menjerit kepada TUHAN, TUHAN menolong dengan membangkitkan seorang “hakim” untuk suatu periode tertentu (Hakim-hakim 2:10-23). 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “God, the Fairest Judge (Allah, Hakim yang Paling Adil)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 7:1-18. Sahabat, kita mungkin pernah diperlakukan secara tidak adil, dan itu menyakitkan. Besar hasrat hati untuk membalas, tetapi dalam hasrat yang menggebu itu ada bisik hati yang mengingatkan bahwa ditegakkannya keadilan adalah bagian dari kedaulatan Tuhan.

    Pemazmur pun mengalami ketidakadilan. Ia menyadari bahwa dalam ketidakberdayaan yang dirasakannya, hanya Tuhan yang menjadi sumber perlindungan (Ayat 2-3). Di dalam Tuhan ada keselamatan sejati.

    Menariknya, Pemazmur juga melakukan introspeksi diri (Ayat 4-6). Apabila ia juga melakukan kelaliman dan ketidakadilan, Tuhan juga akan menimpakan hukuman kepadanya. Sering kali kita menganggap bahwa pihak lain berbuat tidak adil, tetapi pada saat yang sama pernahkah kita bertanya apakah kita telah berlaku adil dan penuh kasih kepada sesama? Jangan-jangan kita melakukan hal yang sama.

    Sahabat, Tuhan memang penuh kasih, tetapi Ia juga mahaadil. Mazmur 7 menggambarkan Allah sebagai Hakim yang adil. Orang benar akan dibela-Nya, sementara orang lalim akan mendapat ganjarannya (Ayat 10). Gambaran keadilan Allah diungkapkan Pemazmur melalui gambaran tentang Allah yang mengasah pedang dan melenturkan busurnya seperti pejuang yang akan maju ke medan perang (Ayat 13-15). Dunia mungkin diam di hadapan mereka yang lalim, tetapi Allah pasti akan bertindak. Demikianlah keyakinan yang diserukan Pemazmur.

    Pada akhir pasal ini, diungkapkan bahwa Tuhan bertakhta dalam keadilan dan keagungan (Ayat 18). Tidak ada yang luput dari pengadilan-Nya, maka sudah menjadi tugas setiap umat untuk berlaku adil terhadap sesama.

    Sahabat, ketidakadilan memang akan terus terjadi, tetapi yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah tinggal diam atas mereka yang melakukannya. Maka dari itu, penting bagi orang percaya untuk tidak ikut dalam arus dan godaan dunia yang membenarkan, apalagi melazimkan, perilaku tidak adil dan manipulatif terhadap sesama. Jika kita tahu rasanya diperlakukan secara tidak adil, sudah seharusnya kita senantiasa berlaku adil kepada sesama dan memperjuangkan keadilan itu! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan  hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Percayakan diri kita kepada Tuhan karena Dia selalu bertindak adil. (pg).

  • HIDUP itu PERJUANGAN

    Saudaraku, mari kita membaca dan merefleksikan Filipi 4:12-13: “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

    Orang-orang yang melihat fotoku di atas saat berada di bandara Cochin di India ini mungkin ada yang berpikir seperti: “Wah asyik ya jalan – jalan terus”, atau “Wah kapan ya aku juga bisa sampai ke sana”, atau “Nikmatnya kerja sambil jalan – jalan”, bahkan “Wah gilaa.. kemarin baru tempat A, sekarang sudah menclok ke tempat B”.  Atau malah mungkin ada yang sebaliknya, “Baru bisa ke India saja sudah bangga”, atau “Hmm gitu aja sudah dipamerin” dan kalimat-kalimat nyinyir lainnya. Yah, seperti itulah hidup. Kita menilai dan diberi penilaian. Kita membuat interpretasi dan diberi interpretasi. Kita melihat dan dilihat. Vice Versa.

    Saudaraku, untuk bisa berpose manis dengan latar belakang tulisan Kerala itu, berapa besar usaha yang harus kulakukankan?

    Dimulai dari jam 3.45 pagi bangun dan bersiap untuk berangkat pada  jam 4.30. Perjalanan dua setengah jam untuk sampai di airport Semarang untuk mengejar pesawat 7.45 ke Jakarta.  Di Jakarta, dari Terminal 3 aku dan temanku harus pindah ke Terminal 2 untuk menyambung pesawat ke Kuala Lumpur jam 12.30. Tiba di Kuala Lumpur jam 17.00, kami harus nongkrong di Kuala Lumpur International Airport selama kurang lebih 5 jam untuk melanjutkan pesawat ke Cochin.

    KUL – COC yang berdurasi sekitar 4.5 jam itu menerbangkan kami sampai di sana pukul 1.00 dini hari (kalau di Indonesia berarti sudah pukul 2.30 pagi). Bisa dihitung, mulai dari bangun jam 3.45 WIB, sampai di bandara Cochin jam 2.30 pagi (atau jam 4.00 pagi WIB) hari berikutnya. 

    Lalu, apakah sudah selesai perjuangan? NO. Kita masih harus menempuh jarak 150 km dengan mobil yang membutuhkan waktu 3.5 jam!!! Jadi akhirnya kami tiba di hotel pukul 6.00 pagi WIB. Butuh sekitar 26 jam total waktu yang kubutuhkan di jalanan hari itu. Pada saat aku baru akan mulai membaringkan badan di tempat tidur, anak-anakku di Indonesia sudah mulai sibuk bersiap ke sekolah!

    Jadi seperti itulah hidup. HIDUP  itu PENUH dengan PERJUANGAN. Hidup itu tidak mudah. Tetapi Hidup itu juga adalah anugerah yang besar dari Tuhan, yang harus dikelola dengan bijaksana dan benar. Hidup adalah tentang bagaimana kita membawa dan memberi diri untuk menjadi berkat dan berdampak. Berdampak baik bagi Tuhan dan bagi sesama.

    Di dalam Hidup,  untuk segala sesuatu ada harga yang harus dibayar. Semakin besar penghargaan atau kepercayaan yang diterima, akan semakin besar dan mahal juga harga yang harus dibayar. Ketika sedang dipercaya untuk mengelola proyek yang besar, pasti akan ada fasilitas dan kesejahteraan yang mengikuti. Akan ada otoritas dan kekuatan yang membuat kita bisa memberi instruksi kepada orang-orang yang menjadi anak buah kita. Tapi di sisi lain, pastilah banyak waktu, tenaga dan pikiran yang harus diberikan untuk bisa mengerjakan kepercayaan besar ini. Ada stres dan tekanan yang jauh lebih besar. Ada tanggungjawab yang berat yang harus dipikul di pundak. 

    Demkian juga sebaliknya. Kalau maunya hanya ingin mengerjakan hal-hal yang remeh, atau bahkan maunya bermalas-malasan, pasti hasilnya pun tidak akan maksimal. Kalau sedikit-sedikit cengeng dan menyerah, ya hasilnya akan begitu-begitu saja. Biasa. Standar. Mainstream.

    Seperti yang kutulis di paragraf pertama di atas, orang seringkali menilai apa pun yang mereka lihat. Itu tidak salah. Itu hak mereka. Namun, aku ingin mengingatkan kita untuk memastikan bahwa penilaian itu bukan hanya sebuah asumsi pribadi. Belajarlah terlebih dahulu untuk melihat lebih dekat dan mendengar lebih banyak sebelum memberi penilaian. Supaya penilaianmu bukanlah penilaian yang salah. Karena kalau salah, itu bisa menjadi fitnah. Kita tahu sekali, di zaman sekarang ini seringkali kebenaran justru tertimbun oleh banyaknya berita-berita viral yang belum tentu benar.

    Lalu dari sisi kita sendiri, pada saat kita dinilai atau dikomentari, berbesar hatilah ketika penilaian itu mungkin sesuatu hal yang tidak benar, tidak sesuai dengan kenyataan yang kita alami atau bahkan cenderung mengarah kepada fitnah. Tetap rendah hatilah ketika penilaian itu bersifat meninggikan dan memuji kita. Jangan menjadi sombong. Kita tidak bisa mengontrol orang lain akan berkata seperti apa tentang kita. Tapi kita bisa mengendalikan hati dan sikap kita menghadapi penilaian itu. Tetaplah bersikap positif dan bijaksana.

    Akhirnya, teruslah berjuang untuk hidup kita. Apakah Saudara mau dan ingin  dipercaya untuk melakukan dan menerima hal – hal yang besar? Lakukan segala sesuatu dengan taat, setia dan benar. Jangan gampang menyerah, apalagi mengeluh. God will bless your ways and choices.  Selamat Mengisi Hidup! Selamat BERDOA dan BERJUANG! (Novi Reksanto)

  • Strong with God in Facing Problems

    MAZMUR 6. Sahabat Mazmur 6 mempunyai pesan teologis yang sangat dalam. Iman Pemazmur ini patut mendapat pujian. Kasih setia Allah pasti menang atas kuasa maut. Pemazmur benar-benar percaya pada Tuhan dan berbalik kepada-Nya. Ada 3 poin penting yang dapat dipelajari dari Daud, yakni: 

    Pertama, berseru dan datang kepada Tuhan. Seberat apa pun pergumulan kita, hanya dalam Tuhanlah kita mendapatkan kelegaan (bdk. 1 Korintus 10:13). Itu artinya, Tuhan tidak menjanjikan bahwa hidup selalu mulus, aman, tanpa masalah dan pergumulan.  Namun, Dia berjanji tidak akan membiarkan umat-Nya dicobai melebihi kekuatannya. Dia akan memberikan jalan keluar. 

    Kedua, merendahkan diri, meminta belas kasihan, dan pengampunan Tuhan. 

    Pergumulan dan pencobaan dapat mengarahkan kita untuk mengevaluasi diri, membentuk diri menjadi lebih baik, dan menuntun kita lebih bergantung kepada-Nya. Walaupun kita manusia adalah makhluk yang berdosa dan bersalah namun kita percaya semuanya itu akan diubah menjadi baik oleh Tuhan. 

    Kita merasa diri kita amat bersalah bila kita sendiri mempersalahkan diri, tetapi kita yakin ketika Tuhan bersabda baik, semuanya akan menjadi baik meskipun pada kenyataannya diri kita penuh dengan kesalahan. 

    Ketiga, percaya penuh kepada pertolongan Tuhan. Pada akhir doanya, Daud mendapat kelegaan dan keyakinan akan pertolongan Tuhan dan ini memberinya kekuatan. Masalah pasti akan terus ada selama kita masih hidup di dunia. Hadapilah masalah dan pergumulan bersama dengan Tuhan. Andalkan Dia, maka kita akan kuat, optimis, dan semangat. Kita akan dimampukan menang atas setiap pergumulan. Hal ini merupakan peryataan iman yang paling tinggi. 

    Syukur kepada Tuhan hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Strong with God  in Facing Problems (Kuat Bersama Allah dalam Menghadapi Masalah)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 6:1-11. Sahabat, pergumulan sering kali membuat kita merana, lemah, takut, dan tak berdaya. Bahkan terkadang kita mempertanyakan mengapa Tuhan diam saja. Ketika pergumulan itu semakin berat, tidak sedikit juga orang percaya yang “lari” dan mencari jawaban di luar Tuhan. Bacaan kita pada hari ini mengajar kita bagaimana Daud menghadapi pergumulannya dengan DOA.

    Dalam Mazmur 6, Daud mengungkapkan isi hatinya kepada Tuhan, meminta belas kasihan-Nya, dan bertanya kepada Tuhan berapa lama lagi dia harus merana dan menderita (Ayat 3-4). Sepanjang hidupnya Daud berkali-kali menghadapi bahaya, ancaman, dan pergumulan. 

    Ketika dia menggembalakan ternak pun, ancaman binatang buas selalu mengintai, belum lagi pergumulannya dikejar-kejar oleh Raja Saul yang ingin membunuhnya, dan pergumulan lainnya. Setiap malam dia meratap dan menggenangi tempat tidurnya dengan air mata, agar Tuhan meluputkan dan menyelamatkannya dari bahaya maut yang mengancamnya (Ayat 5-8).

    Ada 3 poin penting yang dapat dipelajari dari Daud, yakni: Pertama, berseru dan datang kepada Tuhan. Seberat apa pun pergumulan kita, hanya dalam Tuhanlah kita mendapatkan kelegaan (bdk. 1 Korintus 10:13). Artinya, Tuhan tidak menjanjikan bahwa hidup selalu mulus, aman, tanpa masalah dan pergumulan. Namun, Dia berjanji tidak akan membiarkan umat-Nya dicobai melebihi kekuatannya. Dia akan memberi jalan keluar.

    Kedua, merendahkan diri, meminta belas kasihan, dan pengampunan Tuhan (Ayat 2, 3, dan 5). Pergumulan dan pencobaan dapat mengarahkan kita untuk mengevaluasi diri, membentuk diri menjadi lebih baik, dan menuntun kita lebih bergantung kepada-Nya. Ketiga, percaya penuh kepada pertolongan Tuhan. Pada akhir doanya, Daud mendapat kelegaan dan keyakinan akan pertolongan Tuhan dan ini memberinya kekuatan (Ayat 8-11).

    Sahabat, masalah pasti akan terus ada selama kita masih hidup di dunia. Hadapilah masalah dan pergumulan bersama dengan Tuhan. ANDALKAN DIA,  maka kita akan kuat, optimis, dan semangat. Kita akan dimampukan menang atas setiap pergumulan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Sahabat, ceritakanlah secara singkat bagaimana Sahabat bisa menjadi pemenang dalam menghadapi pergumulan hidup?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita dipanggil untuk sanggup dan berani mempertahankan iman kita secara pribadi meskipun harus menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. (pg)

  • An Intimate Relationship with God

    RELASI DENGAN TUHAN. Sahabat, membangun relasi dengan cara berkomunikasi dengan orang lain sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Kita dapat menyampaikan apa yang kita ingin sampaikan kepada orang lain demikian juga orang lain kepada kita. 

    Sesungguhnya hal itu juga berlaku bagi kita, orang percaya, ingin membangun relasi dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta. Pertanyaannya:  Apakah kita perlu membangun relasi dengan Tuhan? Apakah kita sudah membangun relasi itu? Apakah kita sudah berusaha menjaga relasi kita dengan Tuhan?

    Sangat perlu kita membangun relasi yang akrab dengan Tuhan sehinga kita dapat mengetahui isi hati-Nya. Kita dapat membangun relasi yang akrab dengan Tuhan dengan cara punya saat teduh yang teratur dan terencana. Ada tiga hal yang perlu kita lakukan dalam saat teduh: BERDOA,  MEMBACA ALKITAB dan BERDIAM DIRI DIHADAPAN TUHAN.

    Dengan berdoa dan membaca Alkitab, kita akan semakin mengenal, semakin dekat, dan semakin akrab dengan Pribadi yang telah menebus dan menyelamatkan kita. Dengan berdiam diri dihadapan Tuhan,  kita semakin peka dengar-dengaran suara Tuhan. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “An Intimate Relationship with God (Relasi yang Akrab dengan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 5:1-13. Sahabat, relasi yang personal dengan Tuhan berpengaruh besar dalam sikap kita terhadap dosa. Makin dekat relasi kita dengan Tuhan, makin besar kebencian kita terhadap dosa.

    Sesungguhnya DOA akan mempererat hubungan kita dengan Tuhan. Itulah yang dilakukan Daud (Ayat 2-4). Daud menyadari bahwa Allah yang dia kenal tidak bungkam terhadap kejahatan, tetapi Ia akan menunjukkan penghakiman-Nya kepada yang fasik (Ayat 5-7). Allah yang dia kenal penuh dengan kasih setia dan menyertainya (Ayat 8-9).

    Orang-orang fasik tidak akan tahan berdiri di hadapan Allah. Keinginan mereka hanya memberontak terhadap Allah (Ayat 10-11). Sebaliknya, orang-orang benar akan bersukacita. Allah memberkati dan melindungi mereka dengan anugerah, seperti perisai yang melindungi umat-Nya (Ayat 12-13).

    Sesungguhnya DOA merupakan KUNCI RELASI  yang akrab dengan Allah karena di dalam doa kita makin menyadari kerinduan Allah dan apa yang tidak disukai-Nya. Waktu pagi merupakan waktu terbaik bagi sebagian besar orang untuk datang menghadap kepada Tuhan dalam doa. Pada pagi hari pikiran kita lebih segar dan lebih jernih karena belum dipenuhi oleh persoalan dan beban yang akan datang, dan kita dapat datang dengan komitmen untuk mempersembahkan seluruh hari itu kepada Tuhan.

    Sahabat, sebagaimana komunikasi yang dibangun secara teratur dalam pertemanan akan menolong kita untuk saling mengenal secara lebih mendalam, demikian juga doa yang kita bangun dalam relasi kita dengan Tuhan. Melalui doa kita akan makin menyadari bahwa Pribadi yang kita kenal tidak berkompromi sedikit pun dengan dosa. Secara spiritual kita akan makin peka bahwa dosa adalah hal yang tidak berkenan di hati Tuhan, sekecil apa pun itu.

    Orang-orang fasik adalah sasaran murka Allah. Sebagai umat-Nya, janganlah kita iri hati karena kemujuran hidup dan kecurangan yang dirancangkan oleh mereka terhadap orang-orang benar. Allah selalu siap memagari kita yang dekat dengan-Nya dalam anugerah-Nya. Bangunlah relasi yang akrab dengan Dia, niscaya kita akan makin mengenal isi hati-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mulailah hari kita dengan bersyukur atas berkat-Nya. (pg).

  • KASIR BARU

    Saudaralu, mari kita membaca dan merefleksikan surat Roma 12:15: “Bergembiralah dengan orang yang bergembira, dan berdukalah dengan orang yang berduka.”

    Nasihat Rasul Paulus tersebut  merangkum hakikat empati dengan mendorong kita untuk turut merasakan emosi orang lain, entah suka maupun duka, sehingga terjalin rasa kebersamaan dan keterhubungan yang mendalam.

    Aku dan keluargaku baru saja menyelesaikan makan malam di sebuah rumah makan. Setelah membayar kami pun segera beranjak keluar. Kukatakan kepada suamiku untuk mampir di sebuah supermarket ada beberapa barang yang kuperlukan. Aku cukup sering berbelanja di toko ini, karena selain tidak jauh dari rumah, toko ini juga cukup lengkap. Karena itu, aku jadi sudah cukup hafal dan kenal dengan beberapa orang pramuniaga di toko ini. 

    Malam itu setelah mendapatkan semua barang yang kuperlukan, aku segera berjalan menuju kasir. Sampai di depan kasir aku baru sadar bahwa aku belum pernah melihat kasir ini sebelumnya. Dia begitu hati – hati dalam mengerjakan pekerjaannya. Hmm …,  aku sudah bisa menebak ini pasti anak baru. Beberapa kali kesalahan saat memindai barcode tidak lepas dari pengamatanku. Beberapa barang belanjaanku seperti sabun dan shampo dimasukkan ke dalam plastik yang sama dengan makanan dan snack. 

    Kuingatkan dia sambil mulai membantu menata barang-barang itu serta memisahkan belanjaan yang memang tidak boleh dicampur dalam plastik yang sama. Aku bisa melihat sekali kegugupannya yang memang tidak akan bisa tersembunyikan. Sangat kentara. Sangat jelas. 

    Entah kenapa aku bisa membayangkan dan merasakan seandainya aku di posisi yang sama dengan gadis muda ini. Sambil menata, kutanya dia: “Baru ya?”.  Sambil tersenyum dan masih gugup dia mengiyakan. Ini hari pertamanya bekerja sebagai kasir. Lalu setelah semua selesai dihitung, tanpa memerhatikan tas-tas belanjaan aku mengambil uang di dompet dan membayar. Biasanya tas-tas itu sudah dibawa oleh suami dan anak-anak ke mobil. 

    Pada saat inilah satu hal yang lucu terjadi! Setelah membayar aku langsung mengajak suamiku pergi meninggalkan toko. Aku pikir dia sudah memasukkan belanjaan ke mobil dan menyusul aku ke toko lagi. Lah kok ternyata  malah dia bertanya “Belanjaannya mana?” “Loh … ???” Spontan aku melihat kasir baru tadi. Mendadak wajah polosnya panik dan dan mulutnya berteriak “Aduh, maaf sekali Bu, kok belanjaannya malah saya letakkan di bawah sini… *di bawah meja kasir*, Aduuh bagaimana sih saya ini…” 

    Melihat dia gugup dan sekarang terlihat takut-takut, sambil tersenyum kukatakan kepadanya: “Hei, tidak apa-apa ini hari pertama ya, tetap semangat, dan terus belajar, nanti pasti bisa dan tidak akan salah-salah lagi”. Kutepuk-tepuk tangannya untuk menenangkan. Bisa kulihat wajahnya yang panik dan takut mulai berangsur tersenyum: “Terima kasih Bu, iya saya akan belajar terus. Sekali lagi maaf untuk kesalahan ini”

    Ada rasa haru menyelimuti hatiku, melihat gadis yang masih sangat muda itu. Dalam hati aku berdoa untuknya, supaya dia bisa belajar dengan baik dan mendapatkan tempat yang baik bagi masa depannya. Aku sebagai seorang Ibu, juga merasa diingatkan bahwa di masa depan anak-anakku juga akan melewati fase ini. Fase di mana mereka akan masuk ke dunia kerja dan tiba pada hal-hal baru yang belum pernah mereka injak sebelumnya. 

    Di dalam perjalanan kehidupan kekristenan yang sesungguhnya, pelajaran berempati seperti inilah yang seharusnya terus menerus dipraktikkan. Karena kita semua pasti pernah merasakan apa yang disebut dengan Pengalaman Pertama. 

    Pengalaman pertama, adalah fase di mana kita belum memahami hal yang harus kita kerjakan. Di mana kita akan mengalami dan melakukan banyak kesalahan. Di mana akan banyak tatapan sebelah mata, sindiran, bahkan juga kemarahan yang akan kita terima dari kesalahan-kesalahan tersebut. 

    Kita sungguh bersyukur, karena Kasih Kristus mengajar kita untuk berempati, belajar menempatkan diri di posisi mereka yang sedang berada di fase menjalani Pengalaman Pertama seperti gadis muda yang kutemui di toko malam ini.

    Saudaraku, terkadang, tanpa sadar kita memandang sesuatu hanya melalui sudut pandang kita sendiri. Melihat gadis muda yang sedang belajar bekerja itu, bisa saja pikiran kita langsung menghakimi bahwa gadis itu tidak kompeten. Bahkan bisa terpikir, kok bisa-bisanya toko ini memilih pekerja yang kurang pintar. Kita lupa, bahwa dulu kita juga pernah berada di fase di mana kita juga tidak paham apa-apa. Perjalanan hiduplah yang memampukan kita melewati fase demi fase kehidupan.

    Ekstra sekian menit yang kuhabiskan untuk mengajari dan menunggu gadis kasir baru itu menghitung belanjaanku, sangatlah kecil nilainya dibandingkan dengan senyum semangat yang terbangkitkan di wajah gadis muda berjilbab ini. Masih termemori dengan jelas, sesaat ketika aku meninggalkan meja kasir, sekali lagi kulihat dia. Dia sedang menghela nafas lega dan mengguman “Alhamdulilah” dengan senyum di bibirnya. “God bless her” batinku.  

    Selamat Berempati! Selamat membuat lebih banyak senyum di wajah-wajah anak muda yang sedang berjuang merenda masa depan mereka! (Novi Reksanto).