Category: Sejenak Merenung

  • DIGENAPI DENGAN KONSPIRASI

    Saudaraku, manusia memiliki berbagai cara untuk menyelesaikan ancaman, salah satunya dengan konspirasi.  Konspirasi adalah persekongkolan.  Sedangkan persekongkolan adalah perjanjian yang dibuat oleh dua pihak atau lebih untuk melakukan sesuatu.  Persekongkolan selalu berkonotasi negatif. Alkitab juga mencatat banyak persekongkolan yang dilakukan manusia untuk menyelesaikan masalah mereka dengan seseorang yang dianggap mengancam mereka.  Mari membaca salah satunya yaitu dalam Yohanes 11: 45-53.

    Heboh kejadian kebangkitan Lazarus di Betania membuat beberapa orang menceritakannya kepada para elit agama dan politik do Yerusalem.  Para elit itu merasa bahwa Yesus sudah menjadi ancaman untuk mereka karena begitu banyak orang yang mulai memercayai kemesiasan-Nya saat melihat mukjizat itu.  Mereka khawatir rakyat yang memercayai Yesus akan menarik pemerintah Romawi dan mengirim pasukan untuk menertibkan mereka.  

    Bagaimanapun  orang Israel waktu itu dalam penjajahan Roma dan setiap gerakan massa akan diwaspadai.  Para elit itu ternyata menjaga ketenangan dan stabilitas wilayahnya supaya kesucian Yerusalem tidak terjamah oleh orang Romawi yang dianggap kafir.  Maka mereka khawatir ketenangan ini akan terusik dengan banyaknya orang yang mulai percaya Yesus. Alarm bahaya mulai menyala dan mulai terjadilah konspirasi saat Imam Besar Kayafas menyatakan legalitas untuk melenyapkan satu orang demi keselamatan seluruh bangsa.  Penulis Yohanes menuliskan bahwa sejak saat itulah konspirasi melenyapkan Yesus dimulai.  Yesus dianggap menggoyang sendi sosial agama saat itu dan dikhawatirkan akan menimbulkan ketidak stabilan politis.

    Ada hal yang menarik dituliskan oleh penulis Yohanes bahwa ucapan Kayafas menjadi seperti nubuat untuk kematian Yesus, yang memiliki dampak yang universal.  Karena kematian-Nya akan mempersatukan kembali anak-anak0Nya yang tercerai berai (Yohanes 11: 52).  Memang Yesus datang untuk menderita dan mati untuk keselamatan orang yang mempercayainya, maka konspirasi yang nampak jahat itu ternyata menjadi alat untuk menggenapi rencana penyelamatan Allah.  

    Betapa agung dan besarnya Tuhan dalam rencana-Nya yang Ajaib, sehingga bahkan sesuatu yang keji seperti konspirasi ini dapat dipakai untuk menggenapi rencana-Nya.  Melalui hal yang negatif, Dia mengungkapkan segala kelemahan sekaligus memakainya untuk membuat perkara yang besar.

    Umat Allah juga tak lepas dari konspirasi-konspirasi yang bisa dihadapi kapan saja dan dalam kondisi apapun.  Yohanes 15:19 mengatakan bahwa para pengikut Kristus bukan lagi milik dunia, maka dunia membenci mereka.  Yesus sudah mengingatkan hal ini dua abad lalu, maka setiap umat perlu belajar bersandar kepada Dia yang membuat rencana kehidupan.  Hal yang buruk dapat dirangkai-Nya menjadi perkara yang memuliakan nama-Nya.  Mari hadapi semua dengan rasa percaya dan penuh penyerahan kepada Tuhan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • TANPA PEDANG

    Saudaraku, Injil Yohanes selalu menceritakan kisah yang berbeda dengan Injil yang lain.  ini adalah salah satu penggalan peristiwa yang dituliskan secara istimewa oleh Yohanes, sebuah penggalan kisah yang membuka fakta menarik tentang gaya pelayanan Yesus.  Mari renungkan Yohanes 10:40-42

    Yesus selalu enggan secara langsung berkonfrontasi dengan orang-orang yang tidak setuju dengannya. Alkitab beberapa kali mencatat Dia menghindar kala orang mulai emosi saat mendengar penjelasan-Nya.  

    Ia tidak butuh pengakuan massa untuk kebenaran yang dikatakan-Nya apalagi sampai ia terlibat dalam pertikaian fisik.  Selebar-lebarnya perbedaan pendapat, Yesus menghindari kekerasan untuk membuktikan kebenaran perkataan-Nya.  Ia konsisten memegang prinsip: Orang yang menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang (Matius 26:52). 

     Itulah sebabnya saat terjadi keributan di serambi Salomo sebagaimana dikisahkan dalam Yohanes 10, Yesus pergi meninggalkan Bait Suci.  Ia menepi ke Yordan, tempat dimana ia dibaptiskan oleh Yohanes dan tinggal di sana beberapa hari.  Ia tak bersembunyi karena identitasnya diketahui oleh orang-orang di seberang Yordan.  Ia menepi dari keramaian, menjauh dari kemarahan massa yang menuduhnya sebagai penista agama.   Perjuangan Yesus BUKAN DENGAN JALAN PEDANG  dan ia tidak memperlengkapi pengikutnya dengan PEDANG.  

    Pada zaman ini ‘pedang’ terlalu banyak dipakai untuk memperjuangkan apa yang disebut dengan kebenaran sehingga melukai banyak orang dan meninggalkan bekas yang sulit disembuhkan.  Orang yang merasa dirinya benar berkonfrontasi dengan terbuka, mengunggah di media sosial, melabrak orang yang dianggapnya bersalah di depan banyak orang.  Tujuannya hanya satu yaitu pengakuan dari orang lain atau pembelaan netizen (bila ia mengunggahnya di media sosial).  Orang itu tak menyadari bahwa perbuatannya membawa dampak sosial yang luar biasa karena jejak digital tak akan pernah hilang.

    Saat Yesus menepi di Yordan, Yesus tidak istirahat karena justru banyak orang dari seberang yang percaya kepada-Nya.  Mereka melihat fakta bahwa Yesus sesuai dengan apa yang dinubuatkan oleh Yohanes.  Mungkin mereka mendengar sepak terjang Yesus dan mengikuti jejak pelayanan-Nya dan membuktikan kebenaran sehingga mereka percaya kepada Yesus.  

    Ironi bukan? Di pusat kesucian seperti Bait Allah, Yesus ditolak namun Dia diterima oleh orang yang berada jauh dari pusat kesucian.  Yohanes menuliskan fakta ironi bahwa Allah menyatakan kebenaran kepada orang-orang yang tidak diprioritaskan sebagaimana perkataan Yesus: Yang terdahulu akan menjadi terkemudian (Matius 19:30).

    Kebenaran seringkali memilih JALAN SENYAP  untuk memunculkan diri.  Perjuangan kebenaran itu perlu namun jalan kekerasan tak pernah ditorehkan oleh Yesus dalam menyampaikan Kabar Baik.  Selalu ada orang yang akan menerima kebenaran walau mereka bukan yang diharapkan untuk menerimanya.  Siapa pun mereka yang MENERIMA KEBENARAN,  akan menemukan SANG KEBENARAN.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Respect GOD

    MENGHORMATI ALLAH. Sahabat, Wahyu 4:10–11 menggambarkan sebuah adegan di surga: “Maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: ‘Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.’” 

    Kata yang diterjemahkan sebagai “puji-pujian” dan “hormat” kerapkali sering berhubungan dan digunakan secara bergantian di dalam Alkitab. Akan tetapi ada perbedaan tipis di antara keduanya. Kata yang seringkali diterjemahkan sebagai “terpuji” berarti “sesuatu yang memiliki nilai yang melekat dan pada hakikatnya”, sedangkan “hormat” berarti “nilai yang dipersepsikan; membuat atau menilainya sebagai mulia.”

    Terpuji adalah kualitas yang melekat kepada sosok yang dipermuliakan. Terpuji dapat diartikan sebagai cermin yang memantulkan sesuatu secara benar. Ketika kita dengan akurat mencerminkan karakter Allah, kita memuliakan atau memuji Dia. Memuji Allah adalah menghormati Dia sebagaimana ada-Nya.

    Alkitab menunjukkan berbagai cara menghormati dan memuliakan Allah. Kita mengindahkan-Nya dan mencerminkan karakter-Nya dengan bersuci diri secara seksual (1 Korintus 6:18-20), dengan berbagi dari pendapatan kita (Amsal 3:9), dan dengan cara hidup yang berabdi kepada-Nya (Roma 14:8). 

    Tidaklah cukup hanya menghormati Dia dengan cara yang terlihat. Allah menghendaki hormat yang berasal dari hati (Yesaya 29:13). Ketika kita bersuka cita kepada Tuhan (Mazmur 37:4), mencari-Nya di dalam segala yang kita lakukan (1 Tawarikh 16:11; Yesaya 55:6), dan membuat pilihan yang mencerminkan posisi-Nya di dalam hati kita, kita sedang menghormati-Nya.

    Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Maleakhi dengan topik: “Respect God (Menghormati Allah)”. Bacaan Sabda diambil dari Maleakhi 3:13-18. Sahabat, pada masa Maleakhi, bangsa Israel mengalami kebingungan. Sepertinya, mereka menilai tidak ada perbedaan antara orang benar dan fasik. Antara orang beribadah dan yang tidak beribadah kepada Tuhan, nyaris sama saja. Apa respons Allah mendengar ucapan mereka? “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah… Bicaramu kurang ajar tentang Aku, …” (Ayat 13).

    Kenyataannya, kita memang menjumpai banyak orang fasik hidup berlimpah dan mujur ketimbang anak-anak Tuhan. Kita melihat koruptor maju terus, sementara orang yang melaporkan korupsi malah dipenjarakan. Banyak yang mulai merasa tidak ada gunanya hidup menjadi orang jujur di hadapan sesama. Akibatnya, cukup banyak orang percaya berpikiran sama seperti bangsa Israel. Tuhan merespons keras perkataan mereka yang kurang ajar. Alasannya, perbedaan yang diinginkan oleh bangsa Israel dengan bangsa-bangsa lain yang tidak beribadah kepada-Nya semata-mata pada persoalan jasmaniah.

    Tanggapan Maleakhi mulai dengan melaporkan perkataan orang-orang yang takut akan Allah (Ayat 16-18). Mereka saling menguatkan. Mereka mengingatkan bahwa Tuhan pasti mengingat dan memerhatikan bangsa (manusia) yang takut dan menghormati-Nya. Perkataan itu diteguhkan dengan firman dari Allah sendiri. Mereka yang menghormati Allah merupakan pewaris sejati identitas Israel sebagai milik kesayangan-Nya (bdk. Keluaran 19:5).

    Jadi, yang membedakan orang benar dan orang fasik ialah soal menjadi milik Allah. Itulah keuntungan menaati Allah. Jika di luar itu, kita pasti akan kecewa, seperti Israel pada masa itu. Akan tetapi, jika Allah yang dicari, perhatian dan kasih yang dicurahkan-Nya sudah cukup bagi kita.

    Sahabat, mari kita berdoa:  Ya Tuhan, berikanlah kami kebesaran hati untuk menerima kenyataan bahwa di sekeliling kami ada manusia yang hidup dengan tidak jujur. Bahkan, mereka tidak menghormati Tuhan sebagai pemilik kehidupan. Teguhkanlah hati kami untuk selalu setia dan menghormati-Mu sampai kami dapat berbuah seperti yang Tuhan kehendaki. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17 dan 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Marilah kita terus berjuang dan berusaha untuk melakukan ibadah yang benar di hadapan TUHAN agar kita memperoleh berkat-Nya yang berkelimpahan. (pg).

  • The Ability to be Responsible of Our Life

    MENYALAHKAN TUHAN. Sahabat, menyalahkan Tuhan merupakan respons umum ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan kita. Pikir mereka Tuhan mampu mengendalikan segalanya, maka menurut pemikiran tersebut, Dia bisa saja menghentikan apa yang terjadi. Dia bisa saja mengubah situasi demi keuntungan kita; Dia bisa menghindarkan bencana itu. Karena Dia tidak melakukannya, Dialah yang harus disalahkan.

    Kata menyalahkan berarti “mencari-cari kesalahan.” Menyalahkan lebih dari sekadar mengakui kedaulatan Tuhan. Menyalahkan Tuhan menyiratkan bahwa Dia telah melakukan kesalahan, bahwa ada kesalahan yang ditemukan pada diri-Nya. Ketika kita menyalahkan Tuhan, kita menjadikan diri kita sendiri sebagai hakim dan juri-Nya. 

    Sesungguhnya kita sebagai manusia biasa tidak mempunyai hak untuk menghakimi Yang Mahakuasa. Kita adalah ciptaan-Nya; Dia bukan milik kita. Mari kita simak Yesaya 45:9-10: “Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: ‘Apakah yang kaubuat?’ atau yang telah dibuatnya: ‘Engkau tidak punya tangan!’ Celakalah orang yang berkata kepada ayahnya: ‘Apakah yang kauperanakkan?’ dan kepada ibunya: ‘Apakah yang kaulahirkan?’”

    Sahabat, daripada menyalahkan Tuhan, orang percaya bisa berlari kepada-Nya untuk mencari penghiburan (Amsal 18:10; Mazmur 34:18). Orang percaya mempunyai janji yang tidak dapat diterima oleh dunia yang tidak percaya. Rasul Paulus dalam Roma 8:28 menyatakan:  “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” 


    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Maleakhi dengan topik: “The Ability to be Responsible  of our Life (Kemampuan untuk Bertanggung Jawab atas Hidup Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari Maleakhi 2:17-3:5. Sahabat, sifat manusia pada umumnya  memang mudah untuk menyalahkan orang lain. Kita tentu ingat saat Adam jatuh ke dalam dosa. Ketika dihakimi Allah; Adam malah menyalahkan Hawa. Waktu Allah bertanya, Hawa menyalahkan iblis. Manusia senang menganggap diri benar sembari menyalahkan orang lain. Bahkan, saat menghadapi masalah besar, kita mungkin dengan lancang menyalahkan Allah. Kita berani menuding-Nya tidak mengasihi, tidak adil, tidak menepati janji, dan sebagainya.

    Tampaknya, ada anggapan yang keliru dalam benak orang Israel tentang Allah. Mereka berpikir: Ia berkenan kepada orang jahat (Ayat 17). Akibatnya, mereka cemburu melihat orang yang hidupnya jahat, tetapi hidup dengan nyaman. Sedangkan  mereka sendiri, sekalipun sudah merasa hidup baik, tetap menderita. Oleh karena itu, mereka mempertanyakan keadilan Allah itu. Mereka bertanya sinis: “Di manakah Allah yang dianggap adil itu?” (Ayat 17).

    Menanggapi itu, Maleakhi tidak menghibur mereka. Sebaliknya, ia malah menegur dengan kecaman keras. Hidup kerohanian bangsa Israel sedang merosot. Itu disebabkan ulah para pemimpin yang tidak bertanggung jawab.

    Namun, inilah kondisi manusia yang berdosa. Sebenarnya, mereka sadar telah melakukan kesalahan dan melanggar hukum. Namun, mereka tetap berkelit dan tidak mau dipersalahkan. Mereka merasa perbuatan mereka benar, sedangkan tindakan Allah salah.

    Sahabat, ketika mendung merundung hidup, kita mungkin masih sering mengeluh kepada Allah. Sebenarnya, mengeluh itu seperti seorang anak yang mengadu kepada ayahnya, asalkan tidak dilakukan dengan berlebihan, boleh-boleh saja. 

    Sesungguhnya penderitaan itu diperlukan untuk menempa iman. Kita perlu menyadari hal itu, sehingga hidup kita tidak lagi hanya untuk menyalahkan keadaan dan mencari pembenaran. Apalagi, jika kita lancang menyalahkan Tuhan. Semoga kita dimampukan oleh Tuhan untuk mempertanggungjawabkan hidup kita, tanpa mempersalahkan keadaan, orang lain, apalagi Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang menyalahkan Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang rendah hati tidak mudah menghakimi, tetapi mudah mengakui kesalahan diri.

  • KENANGAN INDAH

    Saudaraku, saat ini umurku  65 tahun.  Ketika aku  membaca Mazmur 37:25-26: “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; … dan anak cucunya menjadi berkat”, tiba-tiba aku sadar bahwa dahulu aku pernah menjadi orang muda, dan kini memang menjadi orang tua. Syukur banyak kenangan indah di masa lalu yang tidak hilang, akibat pikun ataupun kena alzheimer, jadi bisa aku ceriterakan kenangan-kenangan indah kepada anak dan keluarga lain, serta pembaca “Sejenak Merenung”.

    Salah satu yang aku ingat saat lewat jalan Pandanaran (Jendral A, Yani),  di seberang Timlo Solo, ada rumah warna hijau cokelat dan aku saat SD-SMP sering diajak Mama ke situ. Itulah rumah Tante Non (Djwa Non Nio atau Ruth Irawati), yang ahli menjahit. Sering Mama membuat baju di situ karena Tante Non bisa menjahit baju dengan pas untuk Mama yang ada sedikit kelainan di bagian punggung, jadi baju bagian belakangnya bisa rata.

    Mama memang ada kena gejala sakit jantung, susah tidur, banyak makan obat, dan terutama sejak adiknya yang di Kudus meninggal dunia karena kecelakaan, sering waktu malam seakan-akan ada penampakan yang datang, menakutkan, hingga jarang bisa tidur lagi. 

    Sekitar tahun 1974, Mama mengajak aku ke rumah Tante Non. Kebetulan Kong Gombak sedang menginap di rumah Tante Non. Aku ingat Kong Gombak pakai baju putih, berjalan dengan tongkat, memakai cincin coklat di jarinya. Ternyata Kong Gombak adalah perintis dan Gembala Jemaat GKMI Jepara.

    Mama diminta duduk di kursi. Kong Gombak membacakan ayat Alkitab dan  menyampaikan renungan singkat, lalu berdoa.  Ada beberapa orang saudara  yang ikut mendukung doa. Doanya cukup panjang, aku buka mata dikit-dikit untuk ngintip: Kepala Mama dipegang Kong Gombak, saat menyebut “Dalam Nama Yesus!” aku lihat kepala dan tubuh Mama bergetar hebat. Entah berapa menit doanya, ketika “Amin” Mama menangis lalu dipeluk Tante Non. Berkat Tuhan turun, setelahnya Mama bisa tidur tenang, penampakan-penampakan hilang, dan jantung Mama semakin membaik.

    Di rumah Tante Non, aku mengenal keponakan-keponakannya yang  tinggal di situ, yakni Om Yesaya Abdi Djajadihardja (Djwa Tiong Hauw) yang menjadi Pendeta di GKMI. Adiknya, yakni Ev. Esther K. Djajadihardja, menjadi hamba Tuhan. Kemudian ada adiknya lagi Dr Lydia Djajadihardja SpOG (Obgyn). Terakhir menjadi dokter di RS Mitra Keluarga Bekasi. Ketika dikabarkan sakit. Mama dan aku sempat menengok ke rumahnya di Kemang Pratama, masih nampak sehat saja. Juga adiknya lagi Ev. Hanna P. Djajadihardja, alumni SAAT Malang, skripsinya pada tahun 1982 berjudul “Hidup Membujang”. Adik yang paling kecil yakni M. Ratna Djajadihardja, kuliah di FE Satya Wacana Salatiga. 

    Saudaraku, aku ingat benar,  23 Maret 1982 aku bertemu Ci Ratna di toko buku di jalan Gajah Mada Semarang, dia sedang mencari beberapa buku ekonomi dan manajemen untuk bahan skripsi, tidak ada di toko buku itu, namun aku memilikinya. Lalu aku tawarkan beberapa buku untuk dipinjamnya, dan dua hari kemudian aku ke rumah Tante Non di Pandanaran. Ci Ratna melihat-lihat beberapa buku yang aku bawa, bertanya isinya apa saja, dan aku bisa menjawabnya dengan lancar. Dia mencatat beberapa bagian dari buku.

    Lalu dia menatapku tajam, dia bertanya: “Sur, kamu hafal dan tahu semua buku manajemen ini, bagus itu. Tapi apakah buku-buku ini sudah kamu terapkan di gereja, digunakan untuk pelayanan gereja?” Aku kaget, lho apa hubungan buku ekonomi dan manajemen dengan pelayanan di gereja, karena aku menjadi guru Sekolah Minggu beberapa tahun dan tidak pernah cerita tentang manajemen kepada murid-murid SM. “Gini lho, gereja banyak tidak tahu tentang bagaimana manajemen yang benar, banyak yang hanya ditentukan perorangan atau pendetanya. Kadang cocok dengan majelis, kalau tidak cocok dan masing-masing pegang cara-cara sendiri-sendiri, ya gereja gampang ribut.”

    Mungkin saat itu aku hanya melongo, tapi dalam perjalanan pulang ada suara yang mengingatkan betapa bodohnya aku, hanya tahu teori buku, tapi tidak tahu penerapannya, apalagi digunakan gereja. Malamnya aku merenung dan berdoa panjang, sempat menangis, minta Tuhan menolong. 

    Saudaraku, Tuhan memberikan gambaran kira-kira bagaimana, aku ambil pensil dan coret-coret di kertas bikin draf. Sekitar tiga hari kemudian aku ke pastori Pdt Andreas Hadi Simeon, Gembala Sidang GKI Stadion. Aku ceritakan pengalamanku bertemu Ci Ratna dan kira-kira apa yang bisa diterapkan di gereja. Pdt Simeon tersenyum: “Ini yang saya tunggu-tunggu.” Singkat cerita, setelah itu Pdt Simeon mengoreksi beberapa kali draf manajemen yang aku sampaikan. Bertepatan dengan  hari Kenaikan Tuhan Yesus 20 Mei 1982 aku diminta Pdt Simeon memberikan ceramah tentang manajemen bagi gereja di acara pembinaan pengurus di Bandungan. 

    Pengalaman itu membekas sekali bagiku, dan ketika pindah ke Jakarta tahun 1983 aku menyampaikan hal-hal manajemen ke Gembala dan Ketua Majelis GKJMB (Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar), berganti menjadi Sinode Gereja Kristus Yesus (GKY) di tahun 2002. Sejak tahun 1985 hingga hari ini para Penatua GKY memasukkan aku sebagai anggota Tim Tata Gereja, sudah hampir 40 tahun silam.

    Saudaraku, Itulah KENANGAN INDAH  masa mudaku tentang keluarga Djajadihardja. Aku berharap Tuhan menggenapkan ayat-ayat di Mazmur 37:25-26 kepada keluarga ini, dan kesaksian hidup mereka boleh menjadi teladan dan berkat bagi gereja-gereja Tuhan. (Surhert).

  • MUSIK DALAM KITAB KEJADIAN

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan ayat berikut: “Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling.” (Kejadian 4:21)

    Joshua adalah seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah desa kecil. Sejak kecil, ia selalu merasa tertarik pada suara-suara di sekitarnya: Kicauan burung, aliran sungai, dan bunyi angin yang meniup dedaunan. Suatu hari saat bermain di hutan, Joshua menemukan sebatang kayu yang berlubang. 

    Dengan penasaran, ia meniup lubang itu dan terkejut mendengar suara yang dihasilkannya. Suara itu sederhana, namun begitu menyentuh hatinya. Joshua pun mulai bermain dengan kayu itu setiap hari, mencoba menciptakan berbagai nada. 

    Seiring waktu, ia belajar membuat alat musik sederhana dari bahan-bahan alami yang ia temukan di sekitarnya. Tanpa disadari, Joshua telah menemukan karunia musik yang Tuhan berikan kepadanya. Ketika ia memainkan musik di desanya, banyak orang merasakan sukacita dan damai yang disebarkan melalui nada-nada indah itu. 

    Cerita Joshua mencerminkan apa yang dilakukan Yubal dalam Kitab Kejadian. Yubal adalah pelopor, seorang inovator yang menemukan dan mengembangkan alat musik pertama. Dari sini, kita belajar bahwa Tuhan memberikan kepada manusia karunia untuk menciptakan dan mengekspresikan diri melalui musik. 

    Yubal menunjukkan bahwa musik adalah bagian integral dari kehidupan manusia sejak awal penciptaan. Musik tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga alat komunikasi dan ekspresi yang kuat. Melalui musik, kita dapat menyampaikan perasaan terdalam kita, memuji Tuhan, dan menjalin hubungan yang lebih dalam dengan sesama.

    Refleksi :

    Saudaraku, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menggali dan menggunakan karunia-karunia yang Tuhan berikan kepada kita, termasuk karunia musik. Seperti Joshua yang menemukan kebahagiaan dalam menciptakan musik dari kayu sederhana, kita juga dapat menemukan dan mengembangkan karunia kita dengan cara-cara yang mungkin tidak terduga. Musik bisa menjadi sarana untuk menyembuhkan, mempersatukan, dan memuliakan Tuhan.

    Marilah kita menggunakan karunia musik untuk membawa damai, sukacita, dan harapan dalam kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita. Mari kita mengingat bahwa setiap nada yang kita mainkan atau nyanyikan bisa menjadi persembahan yang harum di hadapan Tuhan, seperti yang ditunjukkan oleh Yubal, bapak semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Amin, Tuhan Yesus memberkati. (Inthan)

    Pesan:

    Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  

  • SEANDAINYA MENJADI ORANG YAHUDI

    Membaca Injil Yohanes pasal 1 hingga pasal 12, tiba-tiba aku disadarkan adanya banyak penolakan kehadiran Yesus di tengah orang-orang Yahudi.

    Sejak pemulangan gelombang pertama orang Yahudi dari pembuangan di Babel pada zaman Raja Koresh tahun 537 SM, dan hingga hampir 400 tahun sesudahnya, tanah Israel dikuasai oleh Kerajaan Babel, Persia, dan Yunani. Penguasaan atau penjajahan ini bukan hanya dalam bentuk fisik, tapi juga menyebabkan pengaruh kebudayaan penjajah berkembang terutama karena adanya perkawinan campuran. Masa-masa ini sering disebut sebagai Zaman Gelap bagi orang Yahudi karena tidak ada nabi-nabi yang menyuarakan Firman Tuhan.

    Bayangkan orang Yahudi yang dulu-dulunya punya raja-raja legendaris seperti Daud dan Salomo, kemudian Kerajaan Israel pecah menjadi dua, akhirnya hancur dan orang Yahudi diangkut ke Babel sebagai tawanan perang, pasti tidak ada harapan bagi orang Yahudi untuk mendirikan Kerajaan lagi.

    Sangat menakjubkan, tiba-tiba ada Yohanes yang menyerukan Firman Tuhan dan membaptis di Sungai Yordan, dan Yohanes sendiri tidak mau menyebut dirinya sebagai nabi atau bahkan sebagai Mesias, tetapi dia menyerukan “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Markus 1:4). Siapakah Yohanes ini, kok tiba-tiba muncul setelah lebih dari 400 tahun tidak ada Firman Tuhan di Israel? Saat Yohanes membaptis Yesus dan melihat adanya Roh Kudus turun, Yohanes menyuruh seorang muridnya yang bernama Andreas, yang kemudian mengajak Simon saudaranya, untuk mengikut Yesus.

    Saudaraku, Yesus dengan dengan dua murid pertama bertemu dengan Filipus, dan Yesus berkata kepada Filipus: “Ikutlah Aku!”  (Yohanes 1:43). Nah ini kok tiba-tiba Filipus mau mengikut Yesus, menjadi murid yang ketiga, bahkan Filipus kemudian mengajak Natanael untuk datang ke Yesus. Menariknya Natanael saat menjumpai Yesus berkata: “Mungkinkah ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1:46) dan Yesus segera menjawabnya:  “Lihat, inilah seorang seorang Israel yang sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (Yohanes 1:47). Memang Natanael sebagai orang Yahudi mengharapkan adanya Mesias yang akan datang membebaskan Israel, dan berasal dari Bethlehem, kota kelahiran Raja Daud.

    Kata Natanael kepada Yesus:  “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”  (Yohanes 1:47-48). Mendengar jawab Yesus, percayalah Natanael kepada Yesus yang dianggapnya sebagai nabi karena bisa menerawang jauh melihat dirinya yang sedang duduk di bawah pohon merenungi nasib orang Israel.

    Kita membaca ayat-ayat selanjutnya di kitab Yohanes, sering mendapatkan ketidakpercayaan orang-orang Yahudi kepada Yesus. Setelah mukjizat air menjadi anggur di Kana, ternyata tidak dicatat adanya orang-orang Yahudi yang merubung atau mengerumuni Yesus menanyakan bagaimana cara mengubah air jadi anggur. Ketika Yesus pertama kali ke Bait Allah di Yerusalem dan mengobrak-abrik mengusir pedagang-pedagang yang membuat gaduh Bait Suci, mulailah orang Yahudi mempertanyakan Yesus kok berani-beraninya melakukan tindakan seperti tersebut.

    Memang kemudian ada seorang Farisi bernama Nikodemus yang datang di malam hari menemui Yesus. Dia mendapatkan pencerahan langsung dari Yesus, dan pernah mencoba membela Yesus (Yohanes 7:50), namun kemudian tidak kedengaran lagi eksistensinya, hingga dicatat Nikodemus turut menguburkan Yesus (Yohanes 19:39).

    Namun hampir sehari-harinya kehadiran Yesus sering dipertanyakan oleh orang-orang Yahudi. Bahkan di Yohanes  10: 1-21 Yesus dengan baik-baik menyebut diri-Nya sebagai gembala yang baik, tapi di ayat  22-42 kita membaca orang-orang Yahudi mempertanyakan siapa Yesus sebenarnya, dan bahkan di ayat 31 orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Lho kok begitu? Sebelumnya mengajarkan yang baik-baik, dan selanjutnya malahan dilempari batu. 

    Saudaraku, semakin kita membaca Yohanes pasal 1-12 semakin mengetahui bahwa orang Yahudi berulangkali mempertentangkan kehadiran Yesus, itu sebagai nabi atau rabi (guru) atau orang yang sering membuat mukjizat atau Mesias yang akan membebaskan dari penjajahan Romawi, atau sebagai siapa yang mengaku-ngaku mengenal Abraham:  “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” (Yohanes 8:57).

    Hingga hari ini ternyata masih banyak juga orang yang tidak mengerti arti kehadiran Yesus. Kita sering bertemu dengan orang-orang yang menganggap semua agama itu baik, semua agama itu sama saja, yang penting mesti hidup baik agar mendapatkan karma yang lebih baik. 

    Bahkan aku pernah bertemu seorang sepuh yang menegurku: “Mengapa justru percaya kepada Yesus yang orang Yahudi, bukan percaya kepada ajaran leluhur yang sama-sama mengajarkan kebaikan?

    Balajar dari kitab Yohanes jelaslah bahwa manusia sebenarnya tidak dapat mengenal siapa Yesus, karena mata kita semua tertuju pada hal-hal duniawi. Tapi kita membaca di Yohanes 1, ada Yohanes yang melihat Roh Kudus turun ke atas Yesus saat dibaptis, mata hatinya dicerahkan, dan kemudian dia menyuruh seorang muridnya, Andreas, untuk meninggalkannya dan mengikut Yesus, Andreas ini kemudian mengajak Petrus, Filipus dan Natanael mengikut Yesus.

    Saudaraku, apakah mata hati kita benar-benar sudah mendapatkan pencerahan dari Roh Kudus sehingga kita dapat mengetahui SIAPAKAH YESUS ITU?, dan akhirnya kita mengerti penebusan Yesus bagi dosa-dosa kita? (Surhert).

  • Self and Worship Introspection

    PENGANTAR KITAB MALEAKHI. Sahabat, dari Maleakhit 1:1 kita mendapat  info bahwa Maleakhi sebagai penulis kitab ini. Kitab Maleakhi dituliskan dalam kurun waktu antara tahun 440- 400 SM. Allah melalui Maleakhi menyerukan bangsa Israel untuk berpaling kembali kepada-Nya.

    Di saat kitab terakhir masa Perjanjian Lama ditutup, pernyataan mengenai keadilan Allah dan janji pemulihan-Nya melalui kedatangan Mesias menggema di hati bangsa Israel. Ada jeda empat ratus tahun di mana Allah tidak bersuara lagi, sampai nabi Allah yang berikutnya, yakni Yohanes Pembaptis, yang berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 3:2).

    Sahabat, Maleakhi menuliskan firman Tuhan kepada umat pilihan Allah yang sudah menyimpang, terutama kepada para imam yang menyimpang dari jalan Tuhan. Para imam tidak memperlakukan dengan benar kurban yang mereka persembahkan kepada Allah. Hewan kurban yang cacat pun ikut disembelih, walaupun hukum telah menyatakan hewan kurban tidak boleh bercacat (Ulangan 15:21).

    Kaum laki-laki Yudea tidak memperlakukan istri mereka dengan baik. Tapi, mereka masih tidak mengerti mengapa Allah tidak berkenan atas kurban yang mereka persembahkan. Bangsa Israel juga tidak memberikan persepuluhan sebagaimana seharusnya (Imamat 27:30, 32).

    Terlepas dari segala dosa dan pembangkangan yang terjadi, Maleakhi mengulangi pesan mengenai kasih Allah kepada umat-Nya (Maleakhi 1:1-5) dan janji-Nya akan kedatangan utusan-Nya kelak (Maleakhi 2:17-3:5). Ia akan kembali dan menjadi hakim. Jika kita kembali kepada-Nya, maka Dia akan kembali pada kita (Maleakhi 3:6).

    Hari ini kita mulai belajar dari kitab Maleakhi dengan topik: “Self and Worship Introspection (Memeriksa Diri dan Ibadah Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari Maleakhi 1:6-14. Sahabat, pernahkah kamu menerima keluhan dari seseorang? Apa yang kamu lakukan saat itu? Biasanya kita akan meminta maaf terlebih dahulu. Kemudian, kita akan menganalisis mengapa terjadi ketidakpuasan tersebut. Selanjutnya, tentu saja kita akan memperbaikinya agar tidak terulang di kemudian hari.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, kita melihat bahwa Allah mengajukan beberapa pertanyaan yang mengandung keluhan terhadap para imam. Mereka yang seharusnya menghormati kekudusan Allah, malah berlaku sebaliknya dan tidak takut kepada-Nya. Padahal, semestinya mereka menghormati Allah selayaknya seorang anak kepada bapaknya atau hamba kepada tuannya (Ayat 6). 

    Sahabat, para imam telah menghina nama Allah. Penghinaan itu dilakukan dengan membawa persembahan yang tidak layak, seperti roti yang cemar (Ayat 7) dan hewan kurban yang cacat (Ayat 8). Bahkan, seorang bupati pun tidak mau menerima persembahan tersebut.

    Oleh karena itu, Allah berkata lebih baik rumah Tuhan ditutup saja. Alasannya, sekalipun mereka datang beribadah dan mempersembahkan kurban, Allah tidak menyukainya (Ayat 10). Bangsa-bangsa lain begitu menghormati Tuhan, tetapi Israel, umat pilihan Allah, justru meremehkan-Nya (Ayat 11-13).

    Jika begini, mungkin saja Allah pun sedang mengeluhkan ritual ibadah kita. Sudahkah kita memeriksa diri dengan baik? Apakah kita sudah mengerjakan tugas  pelayanan dengan sepenuh hati sebaik-baiknya? Sebagai seorang pelayan Tuhan, sudahkah kita mempersiapkan khotbah dengan baik? Sudahkah permainan musik kita baik? Apakah kita sudah menata ruang ibadah dan segala perlengkapannya dengan rapi? Ketika datang beribadah, sudahkah hati, pikiran, dan sikap tubuh kita sungguh terarah hanya kepada-Nya?

    Sahabat, mari kita MEMERIKSA DIRI  dan IBADAH kita. Apakah pelayanan yang kita berikan sungguh berkenan di hadapan Tuhan? Sudahkah  semua itu kita persiapkan dengan baik? Sudahkah kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawabalah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dari terbit matahari sampai pada masuknya, biarlah nama Tuhan dipuji! (pg)

  • HARAPAN DALAM KEMALANGAN

    Saudaraku, manusia cenderung menolak hal-hal yang buruk dan menganggapnya sebagai hukuman bila ia mengalaminya.  Rasa trauma ini membuat manusia juga menilai kondisi sesamanya saat mereka dalam masa sulit dan bahkan tak jarang memberikan vonis kepada yang mengalami kemalangan.  Mari merenungkan Yohanes 9:1-3 untuk melihat sikap unik Yesus kepada mereka yang tertimpa kemalangan.

    Menyandang disabilitas dianggap sebuah kemalangan.  Pada zaman Yesus menjadi seorang difabel memiliki beban yang bertumpuk.  Ia dianggap sebagai seorang yang tidak diberkati karena ia tidak bisa beribadah di Bait Suci dan dianggap menanggung akibat dosa yang dilakukannya atau dilakukan orangtuanya.  Penyandang disabilitas akan dilarang untuk dapat mengunjungi Bait Suci sehingga mereka terdiskriminasi.  

    Mereka menderita lahir dan batin.  Sang difabel yang dituliskan dalam Yohanes 9:1-7 agaknya berada dalam lingkungan Bait Allah dan meminta-minta di sana.  Ia berada begitu dekat dengan rumah Allah namun seakan ia tidak layak menerima berkat karena disabilitas yang disandangnya.  Ia tunanetra sehingga bahkan ia tak bisa melihat Bait Suci sejak lahirnya.  

    Padahal bagi orang Israel, melihat Bait Suci adalah berkat yang luar biasa.  Maka para murid menanyakan hal yang sangat krusial kepada Yesus: Siapa yang melakukan dosa sehingga orang ini mengalami kemalangan seumur hidupnya?   Jawaban Yesus memberikan pembelajaran kepada para murid bahwa :

    1. Kemalangan bukan vonis akhir manusia.

    Penderitaan adalah realitas manusia dan setiap manusia tidak menginginkan untuk berada di dalamnya namun manusia harus siap menghadapi kemalangan saat ia tiba.  Pertanyaan para murid tentang siapa yang bertanggung jawab dengan kondisi si difabel, menunjukkan pandangan umum masyarakat Yahudi yang menganggap penderitaan selalu diakibatkan dosa baik keluarganya atau pun yang bersangkutan sendiri.  

    Maka Yesus membuka opsi ketiga dari pertanyaan para murid dengan mengatakan  bahwa ada Allah dibalik penderitaan itu untuk menyatakan diri-Nya.  Maka sebaiknya para murid tidak menyalahkan siapa pun atas kemalangan orang lain dan menjatuhkan vonis atas mereka. 

    1. Allah bekerja dalam kemalangan.

    Dalam opsi ketiga yang diucapkan Yesus, Ia hendak menyatakan bahwa pekerjaan Allah tidaklah bergantung pada kondisi manusia.  Siapa yang bisa menyembuhkan orang buta sejak lahirnya?  Namun Yesus mengatakan bahwa Allah bisa bekerja untuk menyatakan kemuliaan kepada apa yang dianggap mustahil oleh manusia.  Dalam penderitaan yang terberat seumur hidup seperti yang dialami difabel pengemis itu, masih ada Allah yang bekerja baginya dan semuanya bertujuan supaya Allah dimuliakan.

    Sebagai guru, Yesus mengajar para murid sebuah hal baru bahwa ada harapan dalam kemustahilan dan bahwa pekerjaan Allah tidak dapat dihalangi oleh apa pun termasuk kemalangan.  Maka manusia yang memercayai pekerjaan Tuhan yang tak terbatas akan memiliki optimisme dalam setiap masa sulitnya karena Allah saja.  

    Para murid diajar untuk tidak saling menghakimi dan bahkan memberikan vonis akhir pada kemalangan sesamanya karena Allah bisa mengubah kemalangan menjadi sukacita pada waktu yang tepat dan dengan berbagai cara.  

    Saudara, mari BELAJAR MENAHAN DIRI  dari memberikan nilai buruk yang permanen kepada sesama karena Allah sanggup mengubah KEMALANGAN  menjadi HARAPAN.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • KASIH BUKAN PERMISIF

    Saudaraku, manusia memandang Yesus sebagai pribadi yang Maha Kasih sehingga Yesus dianggap sebagai pribadi yang permisif dan lunak terhadap dosa.  Kisah dalam Yohanes 8 sering diambil sebagai contoh sikap permisif Yesus.  Benarkah demikian?  Mari membaca dan merenungkan kembali Yohanes 8: 1-11.

    Saat Yesus diminta mengadili perempuan yang tertangkap basah sedang berzinah, Yesus hanya diam dan bahkan tidak memberikan hukuman kepada tersangka.  Benarkah Yesus selunak itu terhadap dosa serius seperti perzinahan ini ?  Beberapa hal yang perlu dipikirkan ulang dalam kasus ini yaitu:

    1. Posisi Yesus sebagai seorang guru.

    Hukum tentang perzinahan sangat jelas dan tegas.  Di dekalog, larangan perzinahan masuk dalam hukum yang ketujuh (Keluaran 20:14) dan selanjutnya dalam Imamat 20:10 dijelaskan: “Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri  orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati,   baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.” Maka mustahil bila Yesus lunak terhadap dosa perzinahan yang dilakukan perempuan itu karena sebagai seorang guru, Yesus tetap memijakkan ajaran-Nya di atas Taurat.

    1. Alasan penolakan Yesus untuk menghukum perempuan itu.

    Perzinahan adalah dosa serius namun Yesus tidak menghukum perempuan itu karena beberapa hal alasan dibalik diseretnya perempuan itu di depan-Nya.  

    a. Ada sisi tidak adil yang terjadi karena dalam kasus ini terjadi peradilan yang berat sebelah karena semua beban dosa itu dilimpahkan ke pundak pelaku perempuan saja, tidak ke pelaku laki-laki yang tak diketahui rimbanya.

    b. Motivasi dengki para ahli Taurat dan Farisi membawa kasus itu kepada Yesus.  Penulis Yohanes menyebutkan bahwa alasan ahli Taurat dan Farisi menghadapkan kasus itu adalah untuk mencari kesalahan Yesus.  Jelas kondisi ini sangat subyektif dan  rawan diarahkan ke pengadilan massa.  Itulah sebabnya Yesus tak memberikan respons kepada desakan para elit rohani itu.

    1. Yesus tetap bersikap tegas Yesus terhadap dosa perempuan itu.

    Dialog Yesus di akhir perikop ini menjelaskan sikap Yesus kepada sang perempuan:  “Aku juga tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi.” (Yohanes 8:11 versi Terjemahan Sederhana Indonesia).  

    Yesus tahu perempuan itu bersalah maka Yesus mengingatkan dengan tegas untuk ia tidak mengulang lagi dosa yang dilakukannya sejak saat itu.  Penulis Yohanes menunjukkan bagaimana Yesus memandang hukum bukan untuk menghancurkan namun untuk memulihkan perempuan itu secara utuh.  Ini menunjukkan Yesus tidak permisif terhadap dosa sang perempuan.

    Tuhan adalah Allah yang penuh kasih namun juga Hakim yang adil. Maka manusia harus menyadari betapa besar anugerah pengampunan dan penyelamatan dalam Kristus Yesus sehingga berjuang untuk hidup dalam kebenaran sesuai Firman Tuhan dalam kasih.  

    Rasul Paulus yang mengatakan: “Hidup ini yang saya hayati sekarang adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan yang telah mengurbankan diri-Nya untuk saya.” (Galatia 2:20 versi BIS).  

    Saudara, Allah Maha Kasih namun TAK PERMISIF DENGAN DOSA. Mari belajar untuk menghargai kasih-Nya yang besar dengan hidup dalam kekudusan. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)