Category: Sejenak Merenung

  • GEREJA DOMINE QUO VADIS

    Saudaraku, Gereja Domine Quo Vadis terletak di Via Appia Antica Italy, sekitar 800 meter di luar Porta San Sebastiano, dari kota Roma sekitar 15 km ke arah selatan-tengara. Kalau ikut tour ke Itali pasti tidak mengunjungi lokasi ini, padahal ada sejarahnya yang menarik. 

    Nah ini, dari ceritera-ceritera tentang Kaisar Nero dan juga dari Wikipedia.

    Kaisar Nero Claudius Caesar Germanicus, kaisar Romawi ke-5 dari dinasti Julio-Claudian, naik takhta dari tahun 54-68 Masehi. Kaisar Nero berniat mendirikan sebuah kota Roma yang baru, maka Nero dengan sengaja membakar kota Roma, dan Nero menyaksikan kebakaran kota dengan memainkan kecapinya, saat api berhasil dipadamkan enam hari kemudian, lebih dari 70 persen kota Roma hangus terbakar. 

    Penduduk Roma umumnya percaya bahwa dalang kebakaran adalah Nero, namun Nero menyalahkan umat Kristen yang ada di Roma sebagai penyebab kebakaran, yang saat itu umat digembalakan oleh Rasul Paulus dan Rasul Petrus.

    Nero memerintahkan untuk menangkap setiap orang Kristen di Roma, dijadikan tawanan, dan menghukum dengan cara yang sangat kejam. Dalam stadion perlombaan, sebagian tawanan ditutupi dengan kulit hewan lalu dilepaskan anjing-anjing pemburu, untuk menggigit dan mencabik-cabik mereka hingga mati. 

    Siksaan lainnya  akan diadu dengan para gladiator di arena, atau akan diadu dengan singa, sementara rakyat Roma bisa bersorak-sorai menyaksikan tontonan gladiator hidup mati ini. Yang tidak bisa diadu, para tawanan ini diikat bersama jerami kering untuk dijadikan obor, dan disusun di dalam sebuah taman, dan dibakar pada tengah malam, menjadi hiburan tersendiri bagi Nero.

    Ceritanya, Rasul Paulus telah ditangkap dan dipenggal kepalanya oleh pasukan Roma. Rasul Petrus sangat ketakutan dan melarikan diri dari kota Roma. Dalam pelariannya hingga di daerah Via Appia Antica, Petrus bertemu dengan Tuhan Yesus, dan Petrus menyapa “Domine quo vadis?” (Tuhan, kemana kamu pergi)? 

    Tuhan Yesus menjawab “Venio Romam iterum crucifigi” (Aku datang ke Roma untuk disalib kembali).  Petrus, yang sadar akan teguran itu, menangis, dan memutuskan untuk balik kembali ke Roma meskipun itu untuk mati. Tuhan Yesus pun menghilang, namun saat menghilang, Ia meninggalkan bekas jejak kakinya di jalan. 

    Menurut tradisi yang dicatat oleh sejarawan Hieronimus, Petrus meninggal dengan cara disalibkan terbalik (kepala di bawah, kaki di atas) di Roma setelah menolak disalibkan dengan kepala di atas karena ia merasa tidak layak untuk mati dalam posisi yang sama seperti Yesus disalib.

    Kemudian hari di tempat Petrus bersua kembali dengan Tuhan Yesus dibangun gereja Domine Quo Vadis, dan di dalam gereja ada replika batu bekas jejak kaki Yesus. Batu aslinya disimpan di Basilika San Sebastiano.

    Saudaraku, saat kota Roma dilanda prahara haru biru atau kerusuhan, keributan, kekacauan, huru-hara, justru di saat-saat paling susah itulah Rasul Petrus yang sudah balik lagi ke Roma menuliskan 1 dan 2 Kitab Petrus. Kondisi kesusahan ini tidak dituliskan langsung oleh Petrus, tapi disebarkan dalam beberapa ayat. 1 Petrus 1:5-7: “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”

    Diuji kemurniannya dengan api, bukan kiasan lagi, tapi diuji dalam kebakaran besar kota Roma, dan orang Kristen dianggap sebagai biang keladi pembakaran. Lalu Petrus menghibur jemaatnya dengan pernyataan di 1 Petrus 1:9: “ ,,, kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu”. Kenyataannya tubuh atau fisik orang-orang Kristen yang ditangkap pasukan Roma tidak ada yang selamat atau utuh lagi. 

    Petrus, salah seorang rasul yang dipilih Tuhan Yesus, dalam perjalanan hidupnya mengikut Kristus, ternyata di saat-saat terakhir di kota Roma, ingin lari dari pelayanan, meninggalkan domba-domba jemaatnya, agar tidak mati di tangan Kaisar Nero. Di situlah Tuhan Yesus datang kembali menemui Petrus, “Aku datang ke Roma untuk disalib kembali.”

    Saudaraku, iman kepercayaan kita semua tidaklah sekuat iman Rasul Petrus kepada Tuhan Yesus. Apalagi dalam kehidupan sehari-hari kita dihadapkan pada berbagai percobaan dan kenyataan hidup yang sangat susah, kondisi ekonomi yang tidak menentu. Mungkin, … mungkin saja kita sudah penat dan putus asa, ingin melarikan diri, terutama kepada berhala-berhala di luar Kristus yang menjanjikan kekayaan dan kejayaan. 

    Saudaraku, ingatlah kisah Rasul Petrus ini. Domine quo vadis? (Surhert).

  • AMAN DALAM PERLINDUNGANMU

    Saudaraku, mari kita membaca dan merefleksikan Filipi 4:13: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

    Memori di Facebook mengingatkanku pada sebuah peristiwa luar biasa yang mengajarku tentang perjalanan iman bersama Tuhan. Hari ini dua belas tahun yang lalu, Damai, kenang mbarepku,  berjuang di meja operasi karena pendarahan di otak yang harus ditaklukkannya. Kondisinya yang kritis dan koma saat itu sungguh menghancurkan hatiku.

    Hari yang sangat istimewa untukku. Hari yang menjadi tonggak perjalanan iman dan keberserahanku kepada Tuhan. Masih kuingat sekali betapa kencangnya detak jantungku saat menunggu operasi berjalan. Masih bisa kurasakan gemetar dan gentarku melewati menit demi menit yang menegangkan itu. Dokter hanya berpesan kepadaku untuk terus berdoa selagi mereka mengerjakan bagian mereka, membuka kepala Damai dan mengambil darah yang masuk di otaknya. Masih begitu jelas teringat bagaimana airmataku berjatuhan sendiri tanpa bisa kutahan. 

    Rasa takut dan khawatir itu menyerang dari segala penjuru mata angin. Rasa hancur dan gelisah itu mendera tanpa memberi sedikit pun ampunan. Dalam pikiranku, apa pun akan kulakukan untuk menolong dan membantunya melewati fase-fase yang kritis itu. Padahal, tepat setahun sebelum hari itu, di tanggal yang sama di tahun 2011, aku sendiri juga berjuang di meja operasi saat lutut kananku patah sehingga tidak bisa berjalan. Tapi saat itu tidak ada rasa takut, gentar atau gelisah yang sebesar saat menunggui Damai berjuang.

    Hari ini, setelah dua belas tahun berlalu, Damai tumbuh dengan begitu sehat dan sempurnanya. Tidak ada satu hal pun yang kurang. Bahkan kekhawatiran dokter bahwa putusnya jaringan sel pada saat otak dibuka akan menyebabkan dia cacat pun tidak terjadi.

    Damai adalah anakku. Di dalam tubuhnya mengalir darahku. Aku yang menggendongnya selama hampir 10 bulan di rahimku sebelum dia lahir ke dunia ini. Aku yang menyuapinya bahkan sebelum dia hadir di bumi. Jadi sedemikian kuat dan eratnya ikatan kami. Di dalam setiap doaku selama dia sakit dan kritis di rumah sakit, namanya kusebut dan kuserukan kepada Tuhan. Memohon belas kasihan Tuhan untuk dia bisa disembuhkan dan dipulihkan. Memohon kesempatan kedua untuk aku dan suamiku bisa merawat dan menjaga dia dengan lebih baik dan hati-hati.

    Ketika Damai di ICU, kesempatan kami untuk bertemu sangatlah terbatas. Kami hanya bisa bertemu pada saat jam bezuk di pukul 10.30 – 12.00 dan pukul 17.00 – 19.00. Meski dia dalam keadaan koma dan tidak sadar, kami selalu mengakhiri pertemuan kami dengan doa bersama. Aku percaya dia mendengar meski tidak bisa merespons. Di malam hari, setiap pukul 00.00 aku dan suamiku berlutut dan berdoa, memohon kemurahan dan pertolongan Tuhan. Berseru kepada Tuhan, membawa hati kami yang dihancurkan Tuhan, yang kemudian dibentuk-Nya kembali dan diajari untuk benar-benar berserah penuh. 

    Akhirnya hal menakjubkan terjadi. Tuhan membuat keajaiban itu di hadapan kami. Damai selamat dan memenangkan pertempuran besar dalam hidupnya. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun menaklukkan momen kritis yang berat dan mengalahkan bayangan kematian. Dia turun dari tempat tidur dan mulai berjalan, lalu tertawa. Suatu KEAJAIBAN.

    Sekarang, setelah Damai bisa melewati tahun demi tahun yang ajaib dalam pemeliharaan Tuhan yang dahsyat, pada hari-hari ini kami diberikan kepercayaan untuk terus berjuang bersama. Bukan lagi berjuang untuk mengalahkan meja operasi, tapi berjuang untuk menyusun masa depan melalui pendidikan tinggi selepas sekolah menengah bahkan memasuki masa-masa kuliah. Sungguh, ini menjadi satu hal yang luar biasa untukku. Melihatnya tumbuh sehat, pandai menggambar, bisa bermain gitar dengan baik, rasanya itu sebuah keajaiban. Tuhan menjaga Damai dengan sedemikian unik dan indah. Puji Tuhan.

    Kami menerima kepercayaan ini dengan hati yang penuh sukacita. Kami terus mengingat perjuangan dua belas tahun yang lalu itu sebagai pelajaran sekaligus pengingat yang benar-benar membangun hidup kami. 

    Pengingat betapa Tuhan berkuasa dan menyertai perjalanan kami untuk memenangkan pertarungan hidup yang berat. Pengingat betapa segala perkara dapat kami tanggung ketika kami berserah dan mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati. Pengingat betapa Tuhan benar-benar bisa mendengar dan menjawab doa-doa bahkan lebih dari yang kami minta. Pengingat betapa kami harus senantiasa mengucap syukur di dalam segala peristiwa. Pengingat betapa kami harus semakin taat dan setia mengerjakan setiap rancangan yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kami. 

    Saudaraku, God is so good. Kami aman dalam perlindungan-Mu. (Novi Reksanto).

  • Nǐ Hǎo Ma?

    Saudaraku, Nǐ Hǎo Ma? Merupakan salam yang  sering disampaikan  warga Tionghoa untuk menyapa sesamanya, seperti salam “How do you do” ataupun “Piye kabare awakmu?” bagi warga Inggris ataupun teman-teman kita dari Surabaya. Nah bagi warga Tionghoa setelah salam nǐ hǎo ma, biasanya dilanjutkan salam berikutnya: 吗 (chī fàn le ma) artinya apakah sudah makan? 

    Zaman dulu khususnya di Tiongkok, saat berkunjung ke rumah saudara di luar kota jarang menemukan rumah makan atau penginapan, jadi saat bertemu dengan saudara pastilah akan disapa apakah sudah makan? Ucapan salam gabungan ini dianggap baik, jadi dirangkai menjadi salam yang lazim, ni hao ma, chi fan le ma. Khususnya salam apakah sudah makan? Atau sudah makan belum? Dipandang sebagai hospitality atau keramah-tamahan bagi sesama. 

    Mengajak makan dan menghidangkan makanan seadanya, saat makan bersama ada suasana hangat, dan terjadilah komunikasi yang lancar. Bahkan dalam acara rapat yang dihadiri banyak orang, bila dihidangkan minuman atau makanan kecil, maka suasana akan lebih rileks, bandingkan dengan rapat yang berjam-jam, tidak ada minuman, dan peserta rapat mesti terus menerus mendengarkan pimpinan rapat.

    Saudaraku, di kitab Wahyu 3:20 diceritakan Tuhan Yesus suatu hari mau berkunjung ke rumah hati kita: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” 

    Aku membayangkan,  Tuhan Yesus lama mengetok di depan pintu. Sementara keluarga yang di dalam rumah, ngintip-ngintip dikit, siapa yang datang. Eh … Ternyata Tuhan Yesus. Ketika yang di dalam sedang bergumul,  Dia tetap mengetok di depan pintu …

    Sang Suami bergumul: “Saya mau berangkat kerja nih. Ngapain Yesus kok datang? Saya baru repot, pekerjaan lagi banyak,  mau tender, mana Si Anu minta duit 30% duluan, kalau tidak diberi maka kompetitor yang dimenangkan. Selain itu urusan pajak juga baru ruwet, laporan SPT diperiksa pajak. Buruh juga  minta kenaikan gaji, padahal usaha baru sepi.”

    Sang Istri bergumul: “Wah aku baru sibuk ngurus anak, anak perempuanku suka pulang malam-malam, ikutan merokok sama temannya. Yang remaja laki-laki,  teman-temannya banyak yang kupingnya ditindik sebelah, pakai tato.

    Selain itu  aku juga bingung ngurus Papaku yang sudah sakit-sakitan, rewel lagi, ongkos dokter banyak. Mamaku juga cerewet terus, maunya itu ini, diturutin tidak ada habis-habisnya. Apakah ada Panti Jompo yang bisa menerima langsung suami-isteri yang sudah tua? Cukup bayar bulanan sudah beres.”

    Sementara itu Tuhan Yesus tetap mengetok di luar, cukup sabar menanti pintu yang tidak   dibukakan. Tapi, kalau kita yang di dalam rumah mau membukakan pintu. siapa yang pertama bilang Ni hao ma? Tuhan Yesus duluan atau diri kita yang duluan? Setelah itu, mungkin kita melihat Tuhan Yesus datang dari jauh, lalu kita tanya chi fan le ma? Sudah makan atau belum? Ayo, ayo masuk, silakan duduk, saya ambilkan Aqua atau mau kopi atau teh? Ini ada kacang atom dan nanas tar di meja, silakan Tuhan Yesus nikmati dulu sementara saya siapkan teh wasgitel (wangi, sepat, legi, kenthel), atau kopi tubruk yang manis?

    Tuhan Yesus tentu tidak akan menikmati segala hidangan yang kita siapkan. Tidak perlu. Malahan Tuhan Yesus akan bilang: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yohanes 6:35)

    Juga, Tuhan Yesus akan berkata lembut: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:13-14).

    Nah, Tuhan Yesus sebagai tamu malahan menawarkan roti hidup dan air hidup yang bisa dinikmati selamanya oleh sang empunya rumah yang mau membuka pintu hatinya bagi-Nya.

    Saudaraku, umurku saat  ini  65 tahun. Sudah sekian kali aku membaca Wahyu 3:20, dan setiap kali membayangkan gambar Tuhan Yesus yang mengetok di depan pintu, aku semakin memahami apa arti membuka pintu hati bagi Tuhan Yesus: Mengundang Dia masuk, segala apa yang aku capai dan miliki selama ini tidak ada artinya di hadapan-Nya, karena Roti Hidup dan Air Hidup itu sungguh berlimpah. (Surhert).

  • Christ for all, all for Christ

    Saudaraku, aku kurang ingat secara pasti kapan orangtua kami mengenal Om Andreas Christanday. Belakangan aku tahu ternyata Om Andreas adalah adik kandung Pdt Charles Christano, Gembala Jemaat GKMI Kudus. Om Andreas alumni dari Institut Injil Indonesia (STT “I3”) Batu Malang. Kemudian Om Andreas sempat melanjutkan studi ke STT “Baptis” Simongan, Semarang. 

    Setelah lulus dari STT “I3” Om Andreas melayani di GKMI Kudus dan sudah ditahbiskan sebagai Guru Injil (GI). Tetapi pangggilannya untuk menginjil melalui satu yayasan yang bersifat mandiri dan interdenominasi semakin menguat, maka dia kemudian meninggalkan pelayanannya di GKMI Kudus. Dengan dukungan beberapa orang temannya, pada tanggal 3 Mei 1972 Om Andreas mendirikan Yayasan Christopherus.

    Aku sering melihat Om Andreas mengendarai VW Combi warna kuning dengan tulisan “Kristus Jawabnya” di bagian belakang mobil. Itulah satu-satunya mobil VW Combi yang berwarna kuning di Semarang. Dia bercerita kepada kami, penginjilan yang dia lakukan melalui khotbah (KKR), pelayanan musik (Vokal Grup, kadang band), dan pemutaran film.

    Christopherus  sering putar film di desa-desa sekitrar Semarang,Kudus, Jepara, Demak, dan Pati,  dengan memakai proyektor Sekonic dan film-film rohani Kristen produk dari luar negeri, kadang ada terjemahannya, kadang tidak.  Ya zaman itu masyarakat umum memang tahunya film “Beranak Dalam Kubur”,  “Satria Bergitar”, dan film-film Kung Fu produk dari Hong Kong,  yang mesti ditonton di bioskop dengan membayar karcis, maka mereka sangat antusias melihat tontonan film gratis di lapangan.

    Proyektor dipasang di atas kap mobil VW Combi,  layarnya kain seprei yang diikat bambu atau batang pohon. Ada  speaker yang dipakai untuk pengeras suara. Pemasangan properti sejak jam 3-4 sore, dikerjakan oleh  Ko Hok Djoen, yang rambutnya agak gondrong. Ko Djoen dibantu oleh beberapa orang teman. 

    Biasanya selewat maghrib film mulai diputar. Sebelumnya  ada pengantar pendek dari film yang akan diputar. Nah masyarakat yang datang menonton bisa ratusan, sering dari desa lain ikutan datang, lapangan jadi meriah karena banyak angkringan yang menawarkan berbagai makanan, terutama bakso. Sekitar jam 9 malam acara selesai, dan selanjutnya diharapkan ada gereja di daerah situ yang mau menindak lanjutinya.

    Saudaraku, karena Papa usahanya membuat sirup, pernah aku mengirimkan 1 krat sirup ke rumah Om Andreas di Pringgading Utara untuk digunakan dalam pelayanan di Mranggen. Ceritanya saat putar film disiapkan 1 drum besar dengan kran di bagian bawahnya untuk air minum, diisi air hampir penuh dan kira-kira ¼ blok es batu, sirup rasa jeruk dituang ke dalamnya. 

    Tim dari Christopherus dan anggota panitia setempat minum es sirup, pakai gelas plastik atau gelas kaleng. Zaman itu belum ada air botolan Aqua. Es setrup jadi favorit, hingga beberapa kali drum ditambah air dan es batu, bahkan botol sirup yang masih ada sirupnya juga diisi air es dibawa pulang oleh beberapa penduduk.

    Oh ya, karena Om Andreas sering pelayanan ke luar, maka kemana-mana dia sering membawa gitar. Juga saat beliau diundang khotbah ke Kelas Remaja maupun Komisi Pemuda di gereja kami, dia datang dengan gitarnya dan tim musik, menyampaikan khotbah dan puji-pujian. Nah ini, saat itu umumnya gereja tradisional alat musiknya memakai piano, maka kedatangan tim musik yang membawa gitar sering ditafsirkan mewakili denominasi gereja tertentu.

    Kemudian ada pelayanan Panti Asuhan Christopherus yang berlokasi di jalan  Karang Rejo Timur, jadi dari jalan Teuku Umar ke arah tanjakan Gombel belok ke kanan dan jalannya turun cukup tajam. Aku beberapa kali bersama Mama ke situ untuk membawakan beras atau sirup. Anak-anak panti sekitar 20-an orang ramai-ramai menggotong bahan makanan dari mobil, dan sepulangnya merupakan tantangan nyopir, karena jalan menanjak dari panti ke arah Teuku Umar, pakai mobil dengan kopling manual dan gigi satu mesin tidak boleh mati.

    Juga sebelum tahun 1980-an Christopherus punya pelayanan semacam sisterhood. Aku kurang paham pelayanan ini, tapi kemudian Yayasan Christopherus membuka pelayanan di pedalaman Kalimantan Tengah, yakni di Tumbang Marikoi. Untuk mencapai lokasi ini mesti menyusuri sungai Kahayan selama 4 hari. Pelayanan di sini berupa klinik pengobatan, dan pendidikan bagi warga masyarakat . Pelayanan ini  oleh beberapa orang Suster dari “Christustraeger” Jerman. Kita bisa membaca secara lengkap pelayanan mereka di buku “Cahaya Dalam Hutan Rimba” yang diterbitkan oleh Yayasan Christopherus pada tahun 2023.

    Saudaraku, setelah keluarga kami pindah ke Jakarta, aku tidak mengikuti lagi perkembangan aktivitas Yayasan Christopherus. Tahun ini Yayasan Christopherus sudah berusia 52 tahun. Selama 52 tahun lebih Christopherus tetap setia dengan visinya yaitu mengabarkan Injil ke seluruh dunia.

    Aku paling terkesan dengan motonya: “Christ for all, all for Christ” (Kristus untuk semua, semua untuk Kristus) yang diambil dari 2 Korintus 5:14-15. KRISTUS UNTUK SEMUA mendorong kita untuk selalu mengingat,  semangat dan setia mengabarkan Injil di mana pun kita ditempatkan Tuhan. Sedangkan semua untuk Kristus akan selalu mengingatkan kita untuk mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati dan memberikan segala sesuatu yang terbaik, karena SEMUA UNTUK KRISTUS. Bagaimana dengan kita sebagai Pendukung Christopherus? (Surhert).

  • Silent Before God

    BERDIAM DIRI DI HADAPAN TUHAN. Sahabat, berdiam diri di hadapan TUHAN akan membuat kita lebih mampu mendengarkan suara Allah. Pendengaran yang baik itu akan membuat kita sungguh mampu mengetahui kehendak-Nya. Persoalan manusia adalah begitu disibukkan dengan banyak suara sehingga tidak mampu lagi mendengarkan suara Allah. dan akhirnya terus bertanya-tanya dalam hatinya: ”Apakah kehendak Allah bagi saya?” 

    Dengan berdiam diri di hadapan Tuhan, kita bisa memercayai-Nya dengan segenap hati. Dia tak perlu teriakan kita atau sikap kritis kita supaya Dia bertindak membereskan kekacauan di bumi. Dia hanya butuh hati  dan iman kita untuk menggerakkan surga terbuka. 

    Saat kita datang dengan segenap hati kepada Tuhan, Dia akan menyatakan diri-Nya dan hadirat-Nya akan kita rasakan. Meskipun kondisi dunia saat ini seperti api yang menghaguskan dan menghancurkan, tapi mereka yang hidup di dalam Dia tidak akan terbakar. Allah itu ibarat aliran air hidup yang menyegarkan. Kita akan mengalami kelegaan di dalam Dia kalau kita datang, berseru dan fokus kepada hadirat-Nya.

    Syukur hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Silent Before God (Berdiam Diri Di Hadapan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 4:1-9 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat, kemarahan dapat menghinggapi siapa saja. Pemicunya pun dapat dari mana saja. Mulai dari masalah diri sendiri, sampai pada fitnah yang keluar dari mulut orang-orang yang dengki. Di tengah kemarahan tak jarang muncul keinginan untuk segera memuaskan hati dengan melampiaskannya. Membela diri, mengumpat, mengutuk, membeberkan keburukan orang lain, hingga mengutip ayat dengan maksud menghakimi sesama. Terlebih di masa kini kita dimudahkan dengan sarana yang sangat praktis yakni melalui media sosial.

    Namun demikian sang pemazmur dengan bijak menasihatkan supaya ketika marah, kita tetap diam. Berdiam diri untuk mengambil waktu merenung, menyelidiki hati supaya kita dapat mengoreksi diri sendiri serta bertobat jika ternyata telah melakukan tindakan yang melenceng dari kehendak Tuhan. 

    Sahabat, mengambil waktu untuk diam juga memberi kesempatan supaya hati kita menjadi lebih tenang. Menghindarkan kita dari emosi yang meledak-ledak serta pengambilan keputusan yang salah, yang dapat semakin memperburuk keadaan. Diam menjadi sarana yang baik untuk menghindari dosa. Menahan diri untuk tidak mengumbar emosi negatif tentu akan membuahkan hasil yang lebih baik daripada sekadar mendapatkan kepuasan sesaat.

    Mungkin dengan diam kita tampak lemah, salah dan kalah. Dengan diam kemarahan kita seakan tak tersalurkan. Namun memilih diam akan menjadi lebih bijak daripada membela diri dengan menjatuhkan orang lain. Bukankah Yesus pun memberi teladan demikian? Jika kita merasa harus berbicara, bicara saja pada Tuhan. 

    Dalam berbagai situasi yang kita hadapi, kita seringkali berespons yang salah. Kita berusaha mendesak Tuhan untuk mengubah kondisi kita atau memberikan solusi. Tapi lupa bahwa sebenarnya yang Tuhan mau adalah supaya kita berdiam diri sejenak dan mendengarkan suara-Nya. Dia mau kita lebih dulu tenggelam dalam hadirat-Nya dan tak terpengaruh dengan semua kekhawatiran kita.  

    Sahabat, Jadi, kalau  hari ini kita merasa Tuhan rasanya tak peduli dengan kondisi kita, pasti TUHAN mau kita berdiam diri sejenak di hadapan-Nya. Karena itu, berdiam dirilah di hadapan TUHAN, maka Ia akan memberikan jalan keluar atas setiap pergumulan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Dalam diam kita bisa semakin jelas mendengar suara Bapa. (pg).

  • BABILONIA VERSI PETRUS

    Saudaraku, Rasul Petrus meninggal di tahun 65–68 M. Sebelumnya ia ditangkap oleh Pemerintah Roma dan kemudian disalib secara terbalik. Di Wikipedia, sekitar musim semi antara bulan Maret – Juni tahun 65 M Rasul Petrus menuliskan kitab 1 dan 2 Petrus, yang ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil, yakni mereka disebut “umat pilihan Tuhan”. Jadi kitab Petrus ditulis oleh Rasul Petrus pada saat dia ada dalam tahanan di kota Roma.

    Nah, yang membuat aku terkejut, 1 Petrus 5:13 Rasul Petrus menulis: “Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon …”  Lho kok menyebut kota Babilon atau Babel, padahal kota ini letaknya jauh jauh di arah tenggara kota Roma berjarak sekitar 3.600 km, kalau naik pesawat Boeing 737 saat ini butuh waktu sekitar 5 jam dari Roma ke Babilonia di negara Irak.

    Mengapa Rasul Petrus menyebut kota Roma sebagai Babilonia? Apalagi zaman itu mungkin kota Babil sudah bukan kota utama lagi, tapi malahan kemudian banyak disebut di kitab Wahyu sebagai kota besar yang durhaka, yang akan dihukum oleh Tuhan dan akan dimusnahkan (Wahyu 18:21).

    Dalam Kejadian 10:9-10 disebutkan Kerajaan Babel didirikan oleh Nimrod, dan kota Babel menjadi terkenal karena rakyat di situ mencoba membuat sebuah menara yang tinggi menjulang ke langit. Tuhan turun dari surga melihat Menara Babel, kemudian Tuhan mengacaubalaukan bahasa orang-orang saat itu, dari satu bahasa menjadi berbagai macam bahasa, sehingga tidak bisa saling berkomunikasi lagi, pekerjaan Menara Babel terhenti, dan akhirnya orang-orang menyebar ke seluruh bumi sesuai bahasanya.

    Setelah kisah ini Babel tidak disebut-sebut lagi di Perjanjian Lama meskipun muncul berbagai raja di daerah itu, yang terkenal antara lain Raja Hamurabi (1792–1750 SM) yang menyusun undang-undang Babilonia dan ada prasastinya yang sekarang disimpan di museum Louvre France. 

    Babilonia menjadi lebih terkenal karena para intelektualnya dapat menerapkan ilmu matematika dalam penghitungan variasi waktu siang sepanjang satu tahun surya, memuat daftar bintang dan rasi bintang, juga memprakirakan kemunculan bintang dan terbenamnya planet-planet. Jangan lupa ya, itu orang Majus dari Timur – diperkirakan dari Babel, mengunjungi bayi Yesus karena telah melihat bintang-Nya di Timur.

    Saudaraku, kemudian sekitar tahun 747–562 SM, ada dinasti Kasdim yang memerintah di Babilonia, raja-raja yang terkenal yakni Nebukadnezar yang menundukkan Kerajaan Yehuda dan menawan orang-orang Yahudi ke Babel. 

    Raja Nebukadnezar bermimpi melihat patung yang menjulang tinggi, dengan kepala dari emas tua, dan Daniel menyebutkan kepala patung dari emas ini adalah Raja Nebukadnezar, dan kemudian akan muncul kerajaan-kerajaan lain yang menggantikan Babel (Daniel 2). 

    Memang setelah cerita kemegahan kerajaan Babilonia di kitab Daniel, kemudian Babel pudar dan muncul kerajaan-kerajaan lain yakni Persia, Yunani dan Kerajaan Romawi yang menahan Rasul Petrus di Roma.

    Saat Petrus ditangkap, yang menjadi penguasa di Roma adalah Kaisar Nero yang berkuasa sejak tahun 54-68 M. Zaman Kaisar Nero terkenal dengan sebagai tirani dan kekejaman, melakukan banyak eksekusi, termasuk kepada ibunya dan saudara kandung adopsinya. Nero juga dikenal sebagai kaisar yang menyuruh anak buahnya “membakar Roma” untuk mendirikan kota Roma yang baru, namun Nero menuduh orang-orang Kristen yang membakar Roma dan memerintahkan penangkapan besar-besaran.

    Rasul Petrus sangat tertekan melihat situasi saat itu, dan mungkin teringat untuk membandingkannya dengan Babilonia zaman Nebukadnezar, meskipun negara dan masyarakatnya menyembah berhala dan kehidupannya tidak tertib, namun di situ ada tokoh-tokoh keteladanan yakni Daniel, juga kisah heroik ketiga teman Daniel: Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang berani dibakar karena tidak mau menyembah patung raja, ternyata tidak terbakar di dapur perapian, bahkan Raja melihat adanya orang yang keempat, yang rupanya seperti anak dewa.

    Jadi Rasul Petrus menulis dalam 1 Petrus 5:13: “Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon.”

    Saudaraku, mungkin Petrus berharap semoga ada mukjizat di Roma seperti telah terjadi di Babilonia dulu, sehingga orang-orang Kristen yang ditangkap oleh pasukan Roma bisa bebas, bisa pulang ke rumah, bisa bebas beribadah. Tapi itu tidak pernah terjadi, bahkan terjadi pembunuhan atau penyaliban massal kepada orang-orang Kristen.

    Berikut inilah penghiburan yang ditulis Rasul Petrus bagi orang-orang Kristen:  “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1 Petrus 4:12-13). 

    Saudaraku, apa yang dituliskan Rasul Petrus saat itu, juga berlaku saat ini bagi diri kita, meskipun kita tidak mengalami  mukjizat pertolongan dari Tuhan sebagaimana yang kita harapkan dan doakan, bahkan menghadapi penderitaan sebagai murid Kristus, namun percayalah, bahwa TUHAN Allah, SUMBER SEGALA KASIH KARUNIA,  yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya (1 Petrus 5:10). (Surhert).

  • GELISAH vs PERCAYA

    Saudaraku, kegelisahan diberikan Tuhan kepada manusia untuk menjadi mekanisme bertahan hidup.  Gelisah membuat manusia tidak nyaman dan berhati-hati.  Gelisah menjadi alarm batin manusia untuk waspada dan tak lalai.  Rasa gelisah yang amat sangat dirasakan para murid saat Yesus “berpamitan” kepada mereka.  Mari merenungkan Yohanes 14:1-4

    Kegelisahan yang dirasakan Petrus saat Yesus “berpamitan” ternyata juga dirasakan murid yang lain.  Selama ini mereka selalu bersama dalam suka dan duka dan mendadak setelah makan Paskah, Yesus berkata bahwa Ia akan pergi.  Bagaikan petir menyambar di siang bolong.  Itulah sebabnya mereka mulai bertanya dan bahkan berjanji muluk.  Murid yang mengungkapkan kegelisahan itu adalah Petrus, Tomas dan Filipus.  Yesus berusaha menenangkan mereka dengan menyatakan :

    1. Tak perlu gelisah.

    Kata gelisah berarti takut, khawatir, hancur, tertekan dan campur aduk.  Tidak ada ketenangan dalam kegelisahan.  Para murid gelisah karena mereka merasa akan ditinggalkan sendiri, sementara situasi yang akan dihadapi bukan situasi yang mudah.  Selama ini Sang Guru menjadi pelindung dan bahkan bisa membungkam mereka yang memusuhi.  Kalau Guru pergi, bagaimana nasib mereka?  Mereka sudah meninggalkan semua demi mengikut Yesus, mengapa Dia malah pergi ke tempat yang tak akan bisa mereka ikuti?  Tentu saja mereka gelisah setengah mati karena memikirkan masa depan mereka.  Namun Yesus melarang mereka gelisah.

    1. Percaya kepada Allah dan kepada Dia

    Satu-satunya cara mengatasi gelisah adalah percaya.  Yesus mengarahkan para murid untuk percaya kepada Allah yang berkuasa melindungi nyawa mereka dan percaya kepada pribadi Yesus sendiri yang mengatakan semua itu.  Yesus menyuruh para murid untuk mengalihkan energi negatif kegelisahan kepada hal yang positif: Kepercayaan kepada Yang Dapat Dipercaya.  INILAH IMAN.  Tak disangkal mereka akan berhadapan dengan situasi yang berat, namun rasa percaya akan membuat mereka tetap bertahan dalam keadaan apapun karena Sang Penguasa Semesta ada di pihak mereka.

    Saudaraku, ada banyak alasan orang gelisah pada saat ini , seperti yang murid Yesus rasakan.  Salah satunya adalah rasa sendiri menghadapi masalah.  Memang mungkin ada banyak kolega dan ada pasangan hidup yang menemani namun tidak semua hal dapat dipahami mereka. Saat rasa sendiri itu muncul dan kegelisahan mencengkeram, belajarlah PERCAYA kepada TUHAN.  

    Manusia mencoba mengatasi kegelisahan dengan banyak pertanyaan untuk menerima keadaan dengan logika, namun Tuhan menginginkan manusia untuk percaya kepada-Nya.  Penulis Amsal mengatakan ”Percayalah kepada TUHAN dengan sepenuh hatimu, dan janganlah mengandalkan pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5, BIS).  

    Saudaraku, bukan berarti Tuhan menghalangi manusia untuk menganalisis masalah dengan logika, namun Tuhan menginginkan manusia tetap memercayai kekuasaan dan otoritas-Nya yang berada diatas semua analisis itu.  Tidak mudah untuk percaya, namun Tuhan akan menolong umat untuk melakukannya.  Masih juga gelisah??? LAWANLAH DENGAN PERCAYA.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • L G B T

    Saudaraku, LGBT singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender, jadi ditujukan untuk suatu kelompok masyarakat yang orientasi seksualnya menyimpang dari lazimnya sebagaimana laki-laki dan perempuan. 

    Kalau kita  berkunjung ke Los Angeles,  California,  Amerika, poster maupun atribut LGBT dapat dilihat di hampir setiap daerah, seperti benderanya yang strip warna-warni, alat-alat make-up atau kosmetik yang mendukung, dan toilet umum bukan hanya untuk MEN dan WOMEN, tapi juga ditambah dengan kategori ALL GENDER, jadi kalangan LGBT bisa punya pilihan toilet.

    Mengapa ada LGBT? Entahlah.  Ada ilmuwan yang mengetengahkan teori bahwa homoseksualitas adalah bawaan sejak lahir karena kelainan kromosom/gen Xq28, tapi banyak pula dokter yang membantah homoseksualitas sebagai bawaan sejak lahir, melainkan terjadinya karena pengaruh lingkungan. Melihat jumlah kalangan penganut LGBT semakin membesar, sehingga pemerintah Amerika mendorong adanya semakin banyak fasilitas kesehatan atau rumah sakit yang membuka pelayanan untuk kalangan ini.

    Ini juga di kawasan California, maaf ya, ada beberapa gereja yang menerima jemaat dari kalangan LGBT dan membolehkan mereka mengadakan upacara pernikahan sesama jenis. Aku tanya kepada seorang rohaniwan yang pelayanan di San Fransisco, mengapa? Dia bilang gereja memang dasarnya ingin menjangkau jiwa-jiwa dari berbagai kalangan, jadi termasuk membuka bagi kalangan LGBT untuk datang ke gereja secara terang-terangan, selain itu pemerintah setempat melarang adanya perbedaan gender dalam hal pelayanan keagamaan, jadi bila ada permintaan pemberkatan nikah sesama jenis ya mesti dilayani.

    Aku pernah bertanya ke seorang rohaniwan di Jakarta yang menjadi gembala di suatu denominasi gereja yang jumlah jemaatnya ribuan, mengapa. Dia bilang, Sinodenya sudah berketetapan, bahwa mereka memang membenci dosanya karena bertentangan dengan ajaran Alkitab, namun mereka perlu melihat kenyataan untuk mengasihi orang-orangnya, karena itu dibuka suatu Persekutuan untuk menampung kalangan LGBT, dengan harapan semoga kalangan ini bisa bertobat dan berbalik bisa hidup normal sesuai ajaran Alkitab.

    Saudaraku, yang mesti menjadi pemikiran kita bersama, mengapa jumlah kalangan LGBT semakin bertambah terutama di kalangan anak-anak muda. Jelas bukan karena keturunan atau adanya kelainan kromosom, tapi mungkinlebih disebabkan karena adanya keluarga-keluarga yang kurang serius dalam mendidik anak-anaknya, dan lingkugan anak yang saat bertumbuh besar ternyata banyak bergaul dengan orang-orang dari kalangan LGBT.  

    Awas-awas ya, orangtua mestinya bisa mengenali teman-teman anaknya yang berperilaku kurang pada tempatnya  seperti kaum laki-laki  yang memakai anting-anting atau suka merias diri secara berlebihan. 

    Jadi anak-anak sejak kecil mesti diajarkan secara jelas tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan masing-masing gender ini memiliki mainan, pakaian, alat-alat make-up atau perias diri dan asesoris yang berbeda. Juga kecenderungan banyaknya acara hiburan di TV yang menampilkan aktor yang kemayu atau keperempuan-puanan, ini jangan dianggap lucu-lucuan, anakmu bisa terpengaruh!

    Apalagi kaum remaja dan pemuda kita menggandrungi penyanyi-penyanyi boyband khususnya dari Korea. Memang tampilan gerak dan nyanyinya sangat menarik, kostum yang cemerlang, tapi perhatikan muka setiap penyanyi prianya yang dipoles make-up, lipstik dan rata-rata memakai anting satu sisi, sebagai salah satu tanda menganut LGBT. Model-model ini malahan digandrungi para gadis muda, dan pria-pria muda yang obsesif ingin mendapatkan perhatian dari gadis-gadis muda cenderung ikut-ikutan seperti tampilan boyband. 

    Saudaraku, saat kita membaca Alkitab, jelas sejak semula Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, tidak ada yang transgender atau gendernya abu-abu.

    Kejadian 1:27:  “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” KJV version: “God created man in his own image, in the image of God created he him; male and female created he them.” Jadi Tuhan hanya menciptakan male dan female. Ditegaskan lagi oleh Tuhan Yesus di Matius 19:4: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?”

    Jadi jelaslah, ciptaan Tuhan tentang manusia hanya ada laki-laki dan perempuan, tidak ada gender yang lain. Adanya LGBT lebih terjadi karena salah asuhan oleh orangtua, adanya lingkungan anak-anak yang bertumbuh dalam pergaulan yang kurang sehat atau menyimpang, dan adanya pengaruh dari dunia hiburan yang hanya bertujuan untuk membuat tampilan aktor atau artis berbed, a kelihatan wah dan atraktif. 

    Saudaraku, mari kita membuka hati, tangan, dan telinga kita untuk kalangan LGBT. Mari kita doakan dan dampingi mereka sehingga suatu saat mereka dapat mengalami jamahan, pengampunan, pemulihan, dan kesembuhan dari Tuhan. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. (Surhert).

  • Firm Faith in the Midst of Problems

    MAZMUR 3. Sahabat, Mazmur 3 merupakan sebuah mazmur yang berisi curahan hati raja Daud ketika ia lari dari kejaran Absalom, anaknya sendiri. Absalom mengadakan persekongkolan melawannya, berusaha untuk merenggut bukan hanya takhtanya tetapi juga hidupnya. Kisahnya dapat kita baca dalam 2 Samuel 15:1-37.

    Saat itu Raja Daud sungguh  menghadapi dilematik, dalam keadaan yang sangat sedih dan dalam bahaya besar. Persekongkolan melawannya sudah matang. Pihak yang berusaha menghancurkannya sangatlah menakutkan, dan masalah ini sungguh tak terperikan, karena anak kandungnya sendiri yang menjadi dalang pemberontakan. Absalom pun berhasil merebut hati rakyat. Akibatnya, raja Daud terpaksa melarikan diri dari istananya. 

    Mengapa Daud harus melarikan diri? Bisa jadi salah satu alasannya adalah agar tidak terjadi perang saudara yang pasti akan membawa penderitaan bagi kedua belah pihak. Dalam pelariannya dicatat: “Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut. … ” (2 Samuel 15:30). Walau dalam keadaan demikian, raja Daud masih dapat menulis sebuah mazmur yang menghibur dan menguatkan setiap orang yang menyanyikan atau membaca mazmurnya. Ia tetap teguh dan tidak bimbang hati kepada Allah. 

    Syukur hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Firm Faith in the Midst of Problem.(Iman yang Teguh di Tengah Masalah)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 3:1-9. Sahabaat, kadang kala hidup menjadi amat rumit dan serba sulit.. Tantangan, kesulitan, dan masalah tak berpamitan datang  menerpa kehidupan kita. Belum selesai yang satu, sudah datang yang lain. Kita dapat saja menyerah, namun kita memilih untuk bertahan. Alasannya tidak lain karena kita meyakini Tuhanlah sumber pertolongan kita, asalkan kita berlari kepada-Nya.

    Hati Daud pedih mengetahui kenyataan bahwa Absalom, anaknya, sedang berusaha membunuhnya untuk mengambil alih takhta. Pula ia gentar melihat betapa banyak lawan yang bangkit menyerang (Ayat  2). Sungguh, situasi ini dapat membuat Daud kewalahan! Hal ini dapat menjadi titik akhir ia menyerah. Namun ada alasan mengapa Daud tetap bertahan, mengapa ia mampu mengatasi setiap halangan untuk keluar menjadi pemenang? 

    Berkatalah Daud: “Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku” (Ayat 4a). Daud meyakini Tuhan adalah tempat perlindungannya. Tangan perlindungan Tuhan ibarat perisai yang menghadang setiap senjata yang dilontarkan musuh. Saat Daud ada dalam kesesakan, ia tinggal berseru kepada Tuhan (Ayat 5). Tidak heran sekalipun situasi masih mencekam, Daud dapat membaringkan diri, lalu tidur dengan tenang (Ayat  6).

    Sahabat, Tuhan memegang kendali atas kehidupan kita. Dia sanggup melepaskan kita dari mara bahaya, pula menunjukkan jalan keluar bagi setiap masalah. Kesulitan mungkin mengancam, namun bersama Tuhan kita selalu aman. Ya, inilah alasan kita bertahan, sekalipun mungkin hari ini persoalan mengimpit di kiri dan kanan. Yakinlah Tuhan memberi pertolongan tepat pada waktunya! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tidak peduli bagaimana situasi di depan, kita dapat terus bertahan sebab tangan Tuhan terus menopang. (pg).

  • OVER OPTIMIS

    Saudaraku, bertemu dengan orang yang optimis sungguh menyenangkan karena masalah seberat apa pun akan terasa lebih ringan.  Namun optimisme perlu diimbangi dengan pengamatan yang cermat karena optimisme yang berlebihan akan merugikan.  Mari renungkan Yohanes 13:36-38.

    Yesus mengenal Petrus dengan baik karena Petrus masih ada hubungan kekerabatan dengan-Nya.  Hubungan itu dipererat dengan kebersamaan selama tiga tahun yang membuat Yesus semakin mengenal karakter murid-Nya ini.  Itulah sebabnya Yesus menanggapi dengan skeptis perkataan Petrus yang dengan yakin akan menyertai-Nya walau harus bertaruh nyawa. 

    Secara terbuka Yesus menyatakan keraguan-Nya bahkan Ia berkata Petrus akan menyerah dalam beberapa jam ke depan.  Bukan karena Petrus adalah pribadi yang lemah, namun Yesus tahu benar beratnya tantangan itu tak sebanding dengan kemampuan Petrus.  

    Walaupun ada nada optimis dalam ucapan Petrus, namun Yesus tak sependapat.  Petrus mengasihi Yesus dan khawatir ditinggalkan, namun Yesus ingin menyadarkan Petrus tentang sebuah realitas yang memang harus dihadapi, realitas pahit namun membawa kemuliaan yaitu kematian-Nya.  Yesus juga mengajar Petrus untuk mengikuti kehendak Allah dan tidak mengandalkan kekuatannya sendiri.

    Saudaraku, sebagaimana manusia yang lain, para pengikut Kristus juga diperhadapkan dengan tantangan kehidupan.  Banyak pengkhotbah menekankan bahwa posisi sebagai umat pilihan Allah membuat pengikut Kristus diberi keistimewaan untuk menjadi pemenang dan klaim ini membuat mereka seringkali merasa over yakin.  

    Umat Tuhan tidak mungkin kalah, dan karena memegang klaim tersebut justru umat seringkali ‘terpeleset’, meyakini kemampuan sendiri alih-alih bersandar kepada Tuhan, dan bahkan menyangkal realitas yang tidak seperti yang diharapkannya.  

    Dari teguran Yesus kepada Petrus menunjukkan bahwa sebenarnya manusia perlu untuk melihat tantangan dengan menyandarkan diri kepada Dia yang lebih tahu hari esok.  Memang Tuhan selalu melindungi umat-Nya namun Tuhan lebih menginginkan umat bersandar kepada-Nya dengan penuh kerendahan hati.  

    Sekalipun menjadi umat pilihan, namun para pengikut Kristus diharapkan untuk meminta petunjuk-Nya di setiap jalan.  Itulah sebabnya Daud menuliskan nyanyian agar para orang saleh tetap meminta petunjuk-Nya dalam menempuh perjalanan hidup, sebagaimana tertulis dalam Mazmur 32:8 yang mengatakan, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”

    Saudaraku, RELASI.  Tuhan menginginkan RELASI TETAP TERJALIN  walaupun sudah ada hak Istimewa sebagai umat pilihan. Dengan relasi yang benar, maka umat Allah tak akan jumawa dalam iman percayanya.  OPTIMIS BOLEH boleh namun jangan OVER OPTIMIS.   Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)