Category: Sejenak Merenung

  • BUKAN DARI ROTI SAJA

    Saudaraku, aku memiliki kelompok kecil yang suka berbagi cerita-cerita akrab. Cerita-cerita kisah nyata pengalaman hidup kami masing-masing. Nah pada kesempatan ini aku bagikan salah satu cerita akrab yang aku terima dari temanku yang dilahirkan dan dibesarkan di Medan. 

    Saya merupakan anak sulung dalam keluarga. Keluarga saya dulu tinggal di Medan. Kami 3 orang bersaudara, dua orang laki-laki dan seorang  perempuan. Papa dan Mama kami jualan telur asin di salah satu kios di Central Market. Kulakan telur asin dari pemasok dari luar kota. Papa kena sakit kanker dan meninggal dunia di usia 50 tahun lebih dikit, jadi Mama kerja keras membesarkan kami bertiga. Saat Papa meninggal, Mama nangis-nangis sambil berkata: “Papamu mati tidak meninggalkan warisan, rumah masih kontrak di kampung, jadi laki-laki tidak berguna, tidak bisa membesarkan anak.”

    Tentu kami bertiga sebagai anak merasa gundah mendengar tangisan Mama. Sumbangan duka dari keluarga, teman-teman dan diakonia gereja cukup berarti bagi kami, bisa untuk membayar biaya rumah sakit, beli peti mati, ongkos rumah duka dan kremasi, dan ada masih ada sisa Rp 750 ribu. 

    Nah adik saya yang laki-laki bilang ke Mama: “Ma, saya yakin Papa tidak ingin kita terus hidup menderita, bagaimana kalau sisa uang duka kita belikan lotre buntut Singapura, kalau menang dapat 1.000 kali sebagai warisan.” Akhirnya Mama setuju, dan berdua dengan adik saya  naik bentor (becak motor) ke tempat penjual lotre. Mama pasang Rp 600 ribu, kalau  menang dapat Rp 600 juta.

    Saudara, minggu depannya, hari Senin, Mama sudah gelisah, siapa tahu jadi jutawan. Dia pergi sendiri ke yang jual lotre, karena sudah tahu alamatnya. Hampir dua jam kemudian Mama pulang. Ketika  masuk rumah, Mama  diam saja, matanya kadang-kadang melihat ke atas, lalu Mama menangis sesenggukan. Ternyata lotre Mama tidak tembus, tidak menang. Duit Rp. 600 ribu kabur. Mama mesti tetap kerja jualan telur asin di pasar untuk menghidupi tiga orang anaknya yang sudah kuliah.

    Tepat sepuluh tahun kemudian, bertepatan dengan  hari Papa dikremasi,saya  kumpulkan Mama dan dua orang adik  di rumah. Ceritanya saya sudah menikah dan punya dua 2 orang anak dan tinggal Jakarta, Mama ikut saya.  Saya usaha di bidang impor bahan makanan, cukup maju, bisa punya rumah di kompleks yang lumayan di Jakarta.

    Adik saya yang laki-laki juga sudah menikah, bisa usaha sendiri membuat ban dalam motor, cukup laris dan ada pabrik kecil-kecilan. Sedang adik saya yang perempuan tinggal di Singapura, buka kios di Bugis Junction jualan tas wanita, suaminya warga Singapura kerja di bank. Kiosnya laris, jualan banyak ke turis-turis dari Indonesia yang suka royal beli tas, apalagi yang jualan bisa ngomong Indonesia.

    Kita ngumpul di hari itu, adik perempuan tidak bisa datang, tapi Mama senang sekali dikelilingi 3 orang cucu yang masih di bawah usia 6 tahun, tentu suasana rumah sangat ceria. Sebelum makan bersama, saya bercerita tentang Papa yang telah mewariskan iman kepada Yesus Kristus. Mengajak kami  sekeluarga ke gereja di Medan. Mengantarkan anak-anak ke Sekolah Minggu dan kadang-kadang mengajak kami berdoa bersama. Meski dalam usaha jualan telur asin kondisinya naik turun, dan dapat cuannya (untungnya)  tipis karena banyak saingan, tapi nyatanya bisa membiayai tiga orang anaknya kuliah hingga lulus.

    Saudara, memang rumah masih ngontrak, tapi dua tahun setelah Papa meninggal ternyata rumah yang dikontrak bisa dibeli, jadi sebenarnya dari penghasilan jual telur asin ada peningkatan, juga saya dan adik sudah mulai bekerja jadi ada pendapatan tambahan. Apalagi di tahun ke-6 kami semua bisa pindah ke Jakarta, rumah di Medan dijual dan bisa dijadikan uang muka untuk beli rumah di Jakarta.

    Hari itu saya menceritakan kembali bagaimana Mama menangis-nangis dan adik menawarkan bagaimana kalau sisa uang sumbangan kedukaan dibelikan lotre buntut. Cerita saya didengar oleh istri dan adik iparku  dan mungkin anak saya yang berumur 6 tahun ikutan mengerti. Mama hanya senyum-senyum kecut, cuman diam. Ini kisah nyata. Adik saya memecahkan suasana: “Yah, itu semua kan zaman susah, zaman berdosa”. Kami semua tertawa, mentertawakan diri sendiri ya, zaman kemiskinan dan kebodohan.

    Pokoknya dalam sepuluh tahun, ya pas sepuluh tahun, kami sekeluarga bisa menikmati berkat dan penyertaaan Tuhan.  Kami semua bekerja secara legal, tidak kerja barang selundupan atau barang-barang terlarang, nyatanya produk yang kami kerjakan bisa diterima baik oleh pasar, tidak ada komplain bahkan permintaan meningkat.

    Usaha semakin maju, bisa rutin memberikan persembahan ke gereja bahkan ikutan memberikan persembahan syukur untuk pembangunan gereja, Memang belum bisa membeli mobil yang harganya mahal, tapi untuk operasional Innova sudah cukup, dan di akhir pekan atau hari libur bisa ajak Mama jalan-jalan ke Bogor hingga Bandung.

    Kami percaya bahwa Tuhan selalu melihat perjuangan dan kerja kami sekeluarga, tetap berusaha setia di jalan Tuhan, karenanya berkat Tuhan dicurahkan. Memang dari usaha kami bisa mendapatkan uang dan rezeki, tapi kami juga perlu mendengarkan Firman Tuhan yang bisa menuntun kami bagaimana hidup menjadi orang benar, dan kami mencoba menjalankan Firman Tuhan itu, sebisa kami. Memang tidak mudah, tapi ya pokoknya tetap ikut saja Firman. Apalagi Tuhan Yesus sudah menebus dosa-dosa kami, jadi bagaimana kami sekarang mesti hidup yang memuliakan Tuhan.

    Saudara, ingatlah selalu sabda Tuhan Yesus: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). (Surhert)

  • The Water of Life Flows From Jerusalem

    SUNGAI AIR KEHIDUPAN. Sahabat, dari GotQuestions saya mendapatkan info bahwa frasa “sungai  kehidupan” sebenarnya tidak pernah muncul di Alkitab. Namun, Wahyu 22:1-2 memang menyebutkan tentang sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. Rasul Yohanes, dalam penglihatannya mengenai Yerusalem Baru, menggambarkan bahwa sungai tersebut mengalir di tengah-tengah jalan kota itu.

    Di Alkitab, air merupakan representasi simbolis yang umum untuk kehidupan kekal. Yesaya menyebutkan tentang menimba air dari mata air keselamatan dengan kegirangan (Yesaya 12:3). Nabi dalam Perjanjian Lama, Yeremia, menegur Israel karena meninggalkan Allah, sumber air yang hidup, dan menggali untuk diri mereka sendiri sumur yang tidak dapat menahan air (Yeremia 2:13). 

    Sahabat, Israel telah meninggalkan Allah yang hidup, satu-satunya yang dapat memberikan kehidupan kekal. Mereka bahkan mengejar ilah-ilah palsu, keduniawian, dan agama-agama yang mengajarkan bahwa keselamatan bisa diperoleh dengan perbuatan baik. Ada cukup banyak orang melakukan hal yang sama pada saat ini, menolak air kehidupan yang hanya bisa disediakan oleh Kristus. Kita lebih suka mengejar kehidupan yang kering dan berdebu, yang mengutamakan materialisme dan pemuasan hawa nafsu.

    Yesus mendorong perempuan Samaria di pinggir sumur untuk menerima air kehidupan (kekal) dari-Nya, sehingga dia tidak akan merasa haus lagi, secara rohani (Yohanes 4:13-14). Mereka yang percaya kepada-Nya akan memiliki aliran air hidup yang mengalir dari mereka (Yohanes 7:38). 

    Air merupakan simbol yang tepat untuk melambangkan kehidupan, yang juga mudah dipahami. Sama seperti air, dalam arti yang sebenarnya, diperlukan di kehidupan jasmani di bumi, air hidup dari Juru Selamat juga diperlukan untuk menopang kehidupan kekal bersama-Nya. Yesus adalah Roti Hidup (Yohanes 6:35) dan sumber air hidup, yang dapat menopang orang pilihan-Nya untuk selama-lamanya.

    Sahabat, sungai air kehidupan dalam kitab Wahyu 22 ini kemungkinan besar merupakan representasi simbolis dari kehidupan kekal yang Allah sediakan, yang dapat diambil dengan cuma-cuma oleh semua orang yang percaya di dalam Kristus.

    Syukur hari ini kita akan  belajar dari pasal terakhir dari kitab Zakharia dengan topik: “The Water of Life Flows from Jerusalem (Mengalir Air Kehidupan dari Yerusalem)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 14:1-21 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, penglihatan Zakharia ini menunjukkan bahwa Yerusalem menjadi sumber air kehidupan. Yerusalem adalah kota tempat Bait Allah, tempat kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Dari Yerusalem mengalir air kehidupan, air yang memberi kehidupan pada makhluk hidup mengalir dari Yerusalem di setiap musim.

    Penglihatan Zakharia merupakan janji Allah kepada bangsa Israel yang sedang dalam pembuangan dan kota Yerusalem sudah tinggal reruntuhan. Allah berjanji akan memulihkan kembali Yerusalem dan air kehidupan mengalir dari sana. 

    Penglihatan yang sama mengenai air kehidupan juga dialami oleh Yehezkiel. Yehezkiel melihat air kehidupan mengalir dari Bait Allah dan terus mengalir menjadi suatu sungai yang memberi kehidupan tidak hanya bagi makhluk hidup di dalam air tetapi juga di sepanjang sungai (Yehezkiel 47). Sumber air kehidupan yang dilihat oleh Zakharia dan Yehezkiel sama yaitu berasal dari Bait Allah atau tempat Allah hadir. Jadi di mana ada kehadiran Allah maka akan mengalir air kehidupan yang memberi kehidupan bagi setiap makhluk hidup.

    Sahabat, demikian halnya dengan hidup kita yang adalah Bait Allah. Yerusalem itu adalah gambaran kehadiran Allah di dalam diri kita. Jika Allah hadir dan berdiam di dalam diri kita, maka air kehidupan akan mengalir dari dalam diri kita kepada orang di sekitar kita untuk menyirami mereka dengan Firman TUHAN. 

    Kehadiran kita membawa kesejukan dan kehidupan yang damai sejahtera. Ada air kehidupan yang mengalir dari hati kita dan memberi kehidupan tidak hanya bagi diri kita tetapi juga bagi sesama sekeliling kita. Oleh karena itu, jaga hidup kita tetap kudus sehingga Allah berkenan atas hidup kita dan mengalirkan air kehidupan bagi diri kita sendiri dan bagi sesama. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Air Kehidupan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita yang telah menerima kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus, dipanggil untuk menjadi sungai berkat. (pg). 

  • WAKTU YANG TEPAT

    Saudaraku, manusia masa kini cenderung mudah untuk melontarkan penilaian dan berkomentar pedas terhadap orang lain.  Hal ini menyebabkan orang yang yang menjadi sasaran komentar merasa perlu untuk membela diri demi nama baik.  Tak jarang saking fokusnya pada pembelaan diri, mereka kehilangan fokus hidup.  Ada yang putus asa dengan penilaian publik sehingga mereka memutuskan mengakhiri hidup.  Mari renungkan bagaimana Yesus menghadapi komentar pedas kepada-Nya, bacalah Yohanes 7:1-13.

    Ada hal yang menarik dari kisah yang dituliskan oleh Yohanes ini yaitu bagaimana sikap Yesus Ketika Ia diprovokasi oleh saudara-saudaranya untuk unjuk diri dalam salah satu festival besar dalam budaya Yahudi yaitu Perayaan Pondok Daun, saat semua orang Yahudi berkumpul di Yerusalem.  Mungkin para saudara Yesus sudah jengah dengan situasi Yesus yang dinilai membuat ‘masalah’ dengan para pemuka agama Yahudi dan bahkan menghindari Yudea yang menjadi pusat keagamaan mereka.  Para saudara  memberikan komentar pedas kepada Yesus untuk keluar dari Galilea dan unjuk kemampuan di depan massa yang mengadakan festival di Yerusalem.  

    Kalau Yesus memang mesias, jangan tanggung kalau mau menunjukkan kekuatan.  Jangan “jago kendang” dengan mengajar dan mengadakan mukjizat di Galilea tapi tunjukkan kemampuan di hadapan orang banyak supaya dunia tahu, supaya viral dan akhirnya kemesiasan itu diakui semua orang. Komentar itu provokatif karena diucapkan oleh orang-orang yang tak percaya kepada-Nya.  Para saudara itu seakan mau melepaskan Yesus ke massa dan “melempar” Yesus kepada Masyarakat untuk menilai dan menentukan kebenaran.  Sungguh menyedihkan karena orang-orang terdekat Yesus bahkan tak memercayai siapa diri-Nya. 

    Kenyataan hidup manusia yang paling menyedihkan adalah saat ia tidak dipercayai oleh keluarga.  Yohanes menuliskan bahwa Yesus mengalami kenyataan pahit itu.  Bahkan mereka dengan tega menganggap Yesus sudah tidak waras lagi (Markus 3:21) dan hendak membawa-Nya Kembali ke rumah.  

    Yesus memahami sikap para saudara-Nya dan tidak menyalahkan mereka.  Ia hanya mengatakan bahwa waktu-Nya belum tiba, yaitu waktu untuk meyakinkan semua orang termasuk para saudaranya tentang kemesiasan-Nya.  Ini hanya masalah waktu.   Kenyataannya Lukas mencatat bahwa Ketika Yesus sudah tidak ada lagi di dunia, saudara-saudara-Nya masuk dalam bilangan orang yang menantikan kedatangan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:14).  

    Saudaraku, manusia cenderung tidak mau diremehkan atau diragukan oleh orang dekatnya.  Itulah yang membuat manusia merasa penting untuk unjuk diri kepada orang lain agar ia memperoleh kepercayaan.  Kadang mereka tidak sabar untuk membela diri karena fokus hidupnya sudah terbagi, tak lagi berkarya namun juga mempertahankan harga diri.  

    Mari belajar dari Yesus untuk menahan dan menguasai diri saat menghadapi sikap skeptis dan komentar pedas orang lain.  Pusatkan perhatian pada panggilan dan pekerjaan yang dipercayakan Tuhan daripada sibuk unjuk kemampuan untuk membela diri dan menangkal komentar negatif.  Unjuk diri memang perlu namun fokus untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab akan jauh lebih baik.  Jawablah semua komentar dengan karya dan kerja sehingga hidup ini lebih bernilai.  Tuhan punya waktu yang tepat untuk menyatakan pembelaan-Nya kepada umat yang setia kepada-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • AJI MUMPUNG

    Saudaraku, aku pernah janjian breakfast meeting dengan seorang supplier (pemasok)  jam 8.30 di salah satu hotel ternama yang kondang dengan masakannya yang lezat. Pagi itu hujan lebat, ada beberapa genangan air di jalan, dan jadinya aku tiba di hotel sekitar beberapa menit sebelum jam 9.30. 

    Jam 9.20an lebih dikit masuk ke area restoran, lalu buru-buru ambil makanan ala buffet, perlu 15 menit, all you can eat.  Nah saat mulai menyendokan makanan ke mulut, salah seorang petugas restoran datang ke meja dan berkata sopan: “Sir, our buffet will be closed by 10.00am. Please you could take your meal soon before we clean up all. (Pak, prasmanan kami akan ditutup pada pukul 10.00. Tolong Bapak bisa segera makan sebelum kami membereskan semuanya).”

    Wah tinggal 20 menit lagi semua makanan akan kukut. Aku memandang sebentar Si Supplier, dia senyum: “Ayo Ko,  kita cepat-cepat ambil hidangan, buah dan free es krim.”  Kami berdua segera ambil 2 piring kosong dan langsung menyapu beberapa makanan, 1 piring kecil untuk dessert, buah dan 1 gelas untuk juice. Beberapa tamu lain malahan mengambil 4 piring besar dan mengisinya dengan berbagai lauk, salad dan buah, juga beberapa mangkok kecil es krim Gelato. 

    Aji mumpung ya. Di medsos tempo hari ada berita Pizza Hut China  terpaksa menghapus menu all you can choose salad untuk satu piring dengan satu harga, hal ini karena konsumen di sana ternyata pintar mengatur dan menumpuk berbagai sayur dan buah dalam satu piring, ditumpuk hingga munjung hampir 20 cm menjadi salad tower. Puluhan hingga ratusan konsumen mengantri menu salad ini, mau tidak mau restoran mesti tetap menambah sayur, buah dan 4 macam saus salad, dan kasir tetap menghitungnya satu harga salad tower dalam 1 piring. Berlangsung setiap hari hampir di semua gerai, di akhir bulan hitungannya tekor, dan akhirnya pemilik grup restoran memutuskan menghapus menu salad tersebut.

    Aji mumpung. Saat seseorang berkesempatan dilantik menjadi pejabat publik untuk lima tahun, terutama di departemen yang memiliki anggaran tahunan sekian triliun per tahun. Setelah dilantik, nah si pejabat berusaha mengambil hati pendukungnya untuk memenuhi janji-janji saat kampanye, yakni dalam 100 hari pertama bisa mengaplikasikan semua janji kampanye. 

    Lalu tahun pertama, kedua, lancar- lancar dan saat masa-masa jabatan akan berakhir, nah kondisinya jadi mirip-mirip di restoran all you can eat saat akan berakhir, bukan ambil piring banyak-banyak menyapu makanan, tapi … ambil kesempatan banyak-banyak untuk menyapu proyek dan anggaran.

    Saudaraku, persentase yang disisihkan untuk IOH (inderect overhead) yang diminta pejabat bukan sekadar uang lelah, atau 1-2 persen, bahkan lebih, konon puluhan persen. Di medsos kita bisa membaca adanya kasus order fiktif, nyaris 100% proyek yang dianggarkan ternyata fiktif, dan uang proyek dibagi-bagi ke berbagai pihak, bukan untuk pembangunan fisik atau suplai barang sesuai yang disebutkan proyek turun anggarannya. Yah, itu kenyataan hidup, silih berganti dapat dibaca hampir setiap hari di medsos.

    Pejabat kalau menerima uang IOH yang disetorkan oleh anak buah maupun rekanannya, saat jumlah uangnya sedikit, ya mungkin disetorkan ke berbagai pihak, jadi semua kebagian. Tapi kalau uang-uang ini semakin melimpah ruah, ya bisa kaget-kagetan, hingga membelanjakannya untuk yang aneh-aneh. Ada yang digunakan untuk steam cell agar tetap awet muda, atau beli durian impor hingga ratusan kwintal, lalu mikir-mikir untuk punya istri lagi, cari yang pernah jadi pemenang kontes kecantikan, beli ratusan hektare tanah, dan sebagainya.

    Aji mumpung, saat uang mendadak dicurahkan dari langit, apalagi  jika tindakannya mendapatkan dukungan dari pihak yang lebih berkuasa, dan tidak terendus KPK maupun kejaksaan.

    Saudara, jangan kira hanya di dunia birokrasi hal tersebut terjadi, juga ada di dunia kegerejaan. Beberapa tahun lalu ada seorang pendeta besar yang disebut konglomerat karena bisa menggerakkan ribuan jemaatnya untuk mendermakan uangnya untuk pembangunan suatu church center, hingga saat meninggalnya pendeta itu, ternyata proyek tidak pernah terwujud, padahal dana jemaat masuk ke satu rekening Yayasan. 

    Di medsos, nitizen  yang galak, mereka menguliti beberapa orang rohaniwan yang memakai jam tangan super mewah yang harganya hingga 10 digit rupiah. Belum lagi uang hasil persembahan gereja digunakan untuk pembelian mobil sport mewah untuk anak atau istri si rohaniwan …

    Saudaraku, karena itulah Tuhan Yesus bersabda, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:4)

    Jadi pesaing utama terhadap ajaran Tuhan Yesus ternyata bukan Si Iblis atau Si Setan yang kepalanya bertanduk dan lidahnya menjulur, tapi justru Si Mamon. Di Wikipedia Isitilah ini diadopsi dari bahasa Yunani Helenistik μαμ Hellνᾶς (mam hellnás = ibu kamu adalah neraka), adaptasi dari bahasa Aram מָמוֹנָא māmōnā, dari kata māmōn ‘kekayaan, untung’, Mamon yang digunakan dalam kitab Perjanjian Baru mempunyai arti merendahkan, mencari keuntungan secara tidak benar, keserakahan, sesuatu yang materi seperti uang, harta benda, kekayaan duniawi yang menguasai seseorang dibandingkan dengan pelayanan kepada Allah.

    Ternyata bujuk rayu harta duniawi yang diwujudkan melalui Mamon menjadi tantangan terbesar bagi pengikut Tuhan Yesus. Aji mumpung, pas ada kesempatan dan peluang untuk mendapatkan harta benda,  meskipun  cara-cara mendapatkannya bertentangan dengan Firman Tuhan. 

    Saudaraku, apakah hati kita tetap teguh berpegang pada Firman Tuhan, atau kerap melirik-lirik kepada Si Mamon? (Surhert)

  • KOBOI JALANAN

    Saudaraku,  kita membaca di detik.com, ada 3 orang anak muda di bawah usia 20 tahun yang ditangkap Polda Jatim karena terbukti menembak setidaknya 4 orang sopir truk di jalan tol Surabaya – Sidoarjo di malam hari dan seorang pengepul barang bekas usia 61 tahun yang sedang berjalan dengan gerobaknya. Menurut kesaksian para korban mengatakan ada yang dipepet dan ditembak dari mobil Pajero atau CRV hitam, lalu ada yang ditembak dari mobil Innova Zenix, dan lainnya ditembak dari dalam mobil Odyssey 

    Polisi yang menerima laporan penembakan segera bertindak cepat, dapat menemukan bekas-bekas peluru airsoft gun, dan dalam waktu kurang dari 4 hari polisi dapat menangkap 3 orang pelaku, 2 orang berstatus mahasiswa dan 1 pelajar di bawah umur. Benar ternyata dari kalangan orang kaya, tiga mobil yang digunakan menembak harganya minimal Rp 450 juta, harga airsoft gun sekitar Rp 10 juta dibeli dari online. 

    Setiap tersangka memiliki peran masing-masing, mengganti pelat nomor mobil, mengemudi di malam hari dan mematikan lampu mobil, melakukan penembakan saat berada di jalan tol, ada yang sebagai pengemudi dan juga menembak, anak di bawah umur juga berperan menembak serta duduk di kursi tengah, masing-masing tersangka memiliki airsoft gun.

    Saudaraku, motif menembak orang, membuat polisi dan kita semua geleng-geleng kepala dan  terkejut, karena ketiga pelaku mengakui bahwa aksi penembakan itu cuma iseng dan terinspirasi dari game online. Jadi keseringan atau kecanduan game online yang genrenya saling membunuh agar tetap eksis dan menang, kebetulan pas menjadi anak orang kaya, bisa mendapatkan uang saku sangat banyak dari orangtua, bisa membeli airsoft gun dari online, berpikir bahwa peluru-peluru yang digunakan hanya dari plastik, yah akhirnya terpengaruh bagaimana kalau ditembakkan ke orang atau binatang, karena pelurunya kecil dan tidak berakibat fatal mematikan. Itulah, jalan pikir di otaknya hanya sumbu pendek …

    Saudaraku, kalau kita membaca “Sejenak Merenung” yang telah kami bagikan pada tanggal 15 Mei 2024 yang berjudul “FAT CAT”, kami sudah mengingatkan tentang bahaya kecanduan game online bagi anak-anak muda, main MOBA Multiplayer Online Battle Arena, yakni game saling membunuh dan menyerang yang anggotanya terdiri dari satu kelompok, umumnya 5 orang. Ironisnya game online yang genrenya kekerasan saling membunuh dikategorikan sebagai esports (olahraga elektronik), dianggap sebagai olahraga otak, tidak jelas kriterianya otak mana yang diolahragakan, yang pasti ada turnamennya yang berhadiah uang dalam jumlah besar, dan penyelenggara turnamen bahkan ada di tingkat kecamatan hingga di mal-mal perbelanjaan mewah.

    Saudaraku, mohon perhatikan ya. Anak-anak muda yang kecanduan game online, bisa main berjam-jam, hanya menunduk melihat ke handphone terutama yang layarnya besar, dan yang bergerak-gerak memainkan kursor hanya 1-3 jari tangan kanan kiri, sering kali keluar teriakan dari mulut dan reflek kaki menendang jengkel atau kesenangan. Tujuannya hanya bagaimana untuk menang, mengalahkan orang lain, bagaimana menggunakan senjata, bagaimana menembak dan membunuh, hanya itu yang diajarkan!!! Tidak ada orang yang mengajak bicara atau tegur sapa dalam game online, dunia rohani yang sebenarnya sepi, hanya ada dunia musik game yang hingar bingar memacu emosi dan pokoknya ayo jadi satu tim untuk menang perang.

    Jika Saudara sebagai orang tua yang memiliki anak atau cucu remaja atau pemuda tanggung, mungkin Saudara merasa senang dan bahagia bila dapat mengajak mereka untuk ke gereja seminggu sekali, duduk manis memuji Tuhan dan mendengarkan segala khotbah dari pendeta. Tapi selanjutnya apakah Saudara mengikuti kegiatan anak cucumu di sekolah, setelah pulang sekolah, pergaulannya dengan teman, kegiatannya di luar jam sekolah, dan apakah tahu kalau anakmu ikutan main game online? Karena bagi anak-anak muda zaman now aktivitas main game online merupakan trend level dunia, ada iming-iming bisa mendapatkan uang kalau berhasil menjadi jagoan dan dapat menjual figur jagoan yang dimainkan, atau bisa menjadi joki atau game boosting bagi orang lain.

    Saudaraku, jangan mengira kalau anak-anak atau cucu-cucu perempuanmu tidak ikutan main game online. Ada artikel di www.sciencedirect.com/science/ yang menyebutkan highlight penelitian terhadap game online ternyata: Valensi,  yang berarti kekuatan atau kapasitas, dan motivasi berprestasi lebih relevan bagi pemain perempuan dibandingkan pemain laki-laki. pemain perempuan tampak lebih bersemangat untuk membuktikan diri dalam permainan berperingkat dan karena itu lebih kompetitif dibandingkan pemain laki-laki. Budaya dalam game juga menjadi dimensi relevan yang mempengaruhi partisipasi perempuan, secara keseluruhan, budaya beracun seperti esports tampaknya sangat cocok untuk menutup kesenjangan gender.

    Sekali lagi aku mengingatkan kita semua untuk selalu mengingat nasihat Rasul Paulus:  “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33). 

    Saudaraku, tolong ingatkan anak cucumu yang kecanduan game online, ini semua hanya tipu muslihat iblis untuk menjerumuskan generasi muda, bukan membina generasi muda. Ini sudah menjadi gangguan kejiwaan, Gangguan obsesif-kompulsif (OCD) yakni kelainan di mana orang memiliki pikiran, ide, atau sensasi (obsesi) yang berulang dan tidak diinginkan, jadi penderitanya selalu merasa terdorong untuk melakukan tindakan tertentu secara berulang-ulang (kompulsif). Kalau tidak bisa mengontrol diri lagi, ya hidup di dunia lamunan fantasi, seperti 3 anak orang kaya di Surabaya yang iseng jadi koboi jalanan. (Surhert).

  • SALAH MENGIDAMKAN

    Saudaraku, Nabi Mikha (740-670 SM) bernubuat menyampaikan Firman Tuhan pada zaman pemerintahan Raja Yotam (742-735 SM), Raja Ahas (735-715 SM), dan Raja Hizkia (715-687 SM) dari Kerajaan Yehuda. Saat itu juga ada beberapa nabi yang lain yakni Amos, Hosea dan Yesaya,  yang paling terkenal. 

    Salah satu nubuatan Nabi Mikha yang paling terkenal, bahkan selalu diingat orang-orang Farisi dan Saduki pada zaman Perjanjian Baru, yakni kitab Mikha 5:1: “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” 

    Nah kedatangan Mesias atau Juru Selamat inilah yang ditunggu-tunggu orang Israel karena akan memerintah Israel dan membebaskan Israel dari penjajahan Kerajaan Roma yang terkenal dengan pasukan perangnya Legiun Romawi. Bahkan seorang nabi lain setelah Mikha, yakni Zakharia pada sekitar tahun 520 – 518 SM menubuatkan lebih spesifik tentang kedatangan Sang Mesias. Coba kita simak Zakharia 9:9: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” 

    Saudaraku, kondisi yang wajar, saat negara atau bangsa dalam kondisi tertekan, apalagi dijajah orang asing, maka banyak orang, terutama yang mengaku sebagai ahli kitab – saat itu para imam dan ahli Taurat, menubuatkan atau meramal bahwa akan datang seseorang yang akan membebaskan orang Israel dari penjajahan. Bandingkan dengan situasi di sini yang saat-saat ada kampanye kemarin meramalkan akan datangnya Ratu Adil yang akan memakmurkan Nusantara.

    Nah, saat Yesus lahir di Bethlehem, ada orang-orang Majus yang datang ke Yerusalem dan bertanya: “Dimanakah raja orang Yahudi yang baru dilahirkan?” Tentu membuat heboh dan menjadi bukti bahwa nubuatan Mikha sekitar 350 tahun sebelumnya ternyata benar. Juga ketika Yesus naik keledai diarak orang-orang Israel masuk ke kota Yerusalem, persis situasinya seperti yang dinubuatkan nabi Zakharia, karenanya orang-orang Yahudi bersorak-sorai menyambut kedatangan Mesias yang akan membebaskan dari penjajahan Roma.

    Tapi kedatangan Yesus bukan seperti paslon presiden yang naik podium besar di Stadion Utama Senayan dan meneriakkan: “Merdeka!” Tapi justru Yesus  ternyata membandingkan dirinya sebagai gembala, sebuah pekerjaan yang dianggap rendahan saat itu karena selalu berkelana bersama ternak domba yang lemah, mesti mencari padang-padang rumput, juga mesti bergadang di malam hari agar tidak ada serangan serigala terhadap kawanan ternak, mungkin zaman itu kira-kira belum ada anjing German Shepherd yang bisa membantu menjaga kumpulan domba.

    Coba simak Yohanes 10:11-13:  “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; … ketika melihat serigala datang,  …  Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.” 

    Lho, Mesias atau Juru Selamat yang diidam-idamkan segenap orang Israel sejak keruntuhan Kerajaan Yehuda karena dihancurkan Raja Babilonia Nebukadnezar, kok bukan Mesias yang gagah perkasa, jago pidato dan jago perang, tapi kok lemes dan mengibaratkan dirinya sebagai gembala? Bahkan Mesias ini malah mengatakan sesuatu tentang Bapa, yang abstrak tidak jelas arah dan wujudnya:  “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6) 

    Saudaraku, bahkan Filipus, seorang murid yang sudah ikut Yesus selama 3 tahun berkata: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” (Yohanes 14:8) Juga Petrus di saat malam Perjamuan Terakhir bersama Yesus mengatakan: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” (Lukas 33:33). Maksudnya, Petrus siap berperang bersama Yesus, bahkan ketika Yesus kalah dan tertangkap lawan maka Petrus juga siap. Jadi murid-murid Yesus-pun sebenarnya masih mempertanyakan siapa Yesus, apakah benar sebagai Mesias yang dinubuatkan? 

    Ketika segenap murid Yesus, segenap orang Israel, segenap orang Farisi dan Saduki menyaksikan pengadilan Yesus di muka umum yang dipimpin Pilatus, dan Pilatus mengabulkan tuntutan untuk menyalibkan Yesus. Idam-idaman orang Israel tentang Mesias yang akan datang justru runtuh ketika melihat Yesus mati disalib.

    Saudaraku, ketika Paskah, Tuhan Yesus bangkit, murid-murid Yesus pun tidak percaya, hingga ada beberapa kali penampakan Yesus yang hadir di tengah-tengah mereka, bahkan karena tidak semua murid percaya bahwa Yesus sudah bangkit, maka penampakan ini berlangsung hingga 40 hari. 

    Puncak yang menunjukkan ketidakpercayaan para murid, bahkan beberapa saat ketika Yesus sebelum diangkat naik ke surga, bertanyalah mereka yang berkumpul di tempat kenaikan itu: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kisah Para Rasul 1:6)  Masih saja orientasinya pada kebangkitan kembali Kerajaan bagi Israel, seperti zaman Raja Daud dan Salomo ratusan tahun sebelumnya.

    Barulah ketika Roh Kudus dicurahkan,  maka mata hati para murid diubahkan, dari mengidam-idamkan datangnya Mesias yang akan mendirikan kerajaan fisik di dunia, diubah menjadi Kerajaan Rohani yang bersifat kekal dan melebihi segala kekuasan yang ada di dunia. Fokus kepada Mesias yang semula mengharapkan dapat memberikan dunia kebahagiaan materi yang fana, berubah menjadi Mesias yang sesungguhnya yang memberikan keselamatan dan penebusan dari dosa, dan orang yang percaya kepada-Nya akan memperoleh kehidupan kekal.

    Itulah yang mengubah murid-murid Yesus, kini menjadi rasul-rasul Yesus, yang berani mengabarkan Injil dan menyerukan: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12)

    Saat Saudara datang kepada Tuhan Yesus, Saudara mengidam-idamkan apa dari Yesus? Berkat-berkat materi dan jasmani? Atau keselamatan dan penebusan dari dosa, dan karenanya Saudara mendapatkan hidup kekal? (Surhert)

  • MAU DENGAR SIAPA?

    Saudaraku, mari kita telaah kisah Kain dan Habil, anak Pak Adam dan Bu Hawa atau Bu Eva (Kejadian 4). Setelah Kain dan Habel akil balig zaman itu sekitar usia 16 tahun, Kain menjadi petani dan Habel menjadi gembala kambing domba. Jelas Adam dan Eva mengajarkan kedua anaknya ini menyembah Tuhan dan membuat korban bakaran sesuai aturan Tuhan, khususnya korban bakaran dari hasil usaha.

    Dikisahkan Kain menjadi petani mempersembahkan hasil tanah kepada TUHAN sebagai korban persembahan, dan Habel sebagai peternak mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya. Ini tidak ada yang salah. 

    Ternyata Tuhan mengindahkan Habel dan menerima korban persembahannya, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Alkitab mencatat korban persembahan Habel yakni anak sulung kambing domba, termasuk lemak-lemaknya, jelas saja kalau daging dan lemak yang dibakar ya baunya harum semerbak seperti bau bakaran sate kambing. Karena Kain sebagai petani maka hasil bumi untuk persembahan tentulah gandum, juwawut (barley) dan sayur mayur termasuk buah-buahan, tentu saja saat dibakar tidak ada bau harum.

    Saudaraku, Tuhanpun bertanya ke Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”  Kain tidak bisa meredam amarahnya, dia mengajak Habel ke padang, dan Kain membunuh Habel. Bahkan ketika Tuhan bertanya: “Di mana Habel, adikmu itu?” Dijawab Kain: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?”

    Mari kita analisa tindakan Kain sesuai psychoanalytic theory id, ego, superego Sigmund Freud. Id adalah kumpulan hasrat naluri yang tidak terkoordinasi, yakni apa saja kejengkelan Kain terhadap Habel, mungkin bukan saja karena korban bakaran, tapi ada beberapa lainnya yang bertumpuk di dalam hati, tidak jelas, pokoknya jengkel dan marah, ini yang menyebabkan kurang bisa tidur nyenyak di malam hari karena selalu kepikiran.

    Ego (Kain) adalah perasaan dan sifat-sifat yang terbentuk di dalam dirinya, sudah jadi kebiasaannya, terorganisir dan benar-benar realistis, dan bisa menjadi stimulus atau rangsangan yang menimbulkan hasrat naluriah. Freud menyebutkan sebagai mempunyai kebiasaan untuk mengubah keinginan id menjadi tindakan, seolah-olah tindakan itu adalah keinginannya sendiri. 

    Saudaraku, karena ada rangsangan-rangsangan dari ego, maka id yang tidak jelas itu muncul sebagai tindakan, yakni super ego. Kalau id berbentuk kejengkelan dan iri hati, sedangkan perasaan ego mendukung, apalagi merasa bisa dan merasa tidak ada apa-apa bila dilaksanakan, maka muncullah tindakan super ego yang ditujukan untuk mengalahkan atau memusnahkan pihak lawan.

    Jadi mulainya dari id yang tidak jelas maunya, tapi sebenarnya bisa dikontrol atau dibiarkan liar. Tuhan bisa membaca wajah Kain yang sedang suram tidak berseri, dan memperingatkan Kain untuk mengendalikan perasaan dan insting id yang membujuk untuk tidak berbuat baik, dan Tuhan meperingatkan, hati-hati kalau kamu tidak menjaga id di hatimu, karena dosa sudah mengintip di depan pintu dan sangat menggoda, tetapi engkau harus berkuasa atasnya. Kain gagal menjaga hatinya, cerita selanjutnya kita sudah tahu, pembunuhan berencana.

    Saudaraku, Pengamsal mengingatkan kita: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Dengan kata lain, jagalah id yang tidak jelas maunya apa, jagalah dengan segala kewaspadaan, jangan sampai mempengaruhi ego dirimu yang sudah terbentuk. Kalau kamu bisa mengontrol, ya dari dirimu akan timbul super ego yang mendatangkan kebaikan, memancarkan kehidupan. Kalau gagal kontrol, ya timbul tindak kejahatan.

    Kalau bisa mengontrol id dan ego, mungkin kita akan mengalami hal-hal yang penuh tantangan, tidak cepat-cepat menjadi kaya atau segera meraih sukses, ini menyakitkan, apalagi ada orang lain yang mengolok-ngolok bikin hati semakin panas. Tapi jangan lupa Firman Tuhan dalam Yesaya 30:20-21: “Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: ‘Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,’ entah kamu menganan atau mengiri.”

    Selamat berjalan bersama Tuhan. Selamat menghadapi dan mengalahkan tantangan. (Surhert).

  • DIMASUKKAN KOPER

    Saudaraku,  akhir-akhir ini ramai diberitakan pembunuhan dan mayat korbannya dimasukkan dalam koper besar yang memakai roda, agar dapat digelandang dengan mudah ke kendaraan dan dibuang entah kemana. Korbannya sering perempuan,  karena postur tubuhnya lebih kecil daripada laki-laki yang membunuhnya. Mengapa dibuang?  Ya jelas maksudnya  tentu untuk menghilangkan jejak pembunuhannya. Ini modus pembunuhan dan penghilangan jejak barang bukti yang sering terjadi.

    Nah kok polisi dengan mudah menemukan tersangka pembunuhan dalam waktu yang singkat. Ini sedikit bocorannya. Setelah mayat tidak dikenal diketemukan oleh entah siapa, sesuai prosedur mayat harus dikirim ke rumah sakit polisi dan polisi akan menyidik lokasi pembuangan dan saksi-saksi sekitar tempat itu sekiranya mereka melihat siapa yang membuang koper atau pembungkus mayat, juga mungkin ditemukan barang bukti yang lain seperti dompet, KTP, handphone, dan lain-lain. 

    Bila mayat dibuang dalam koper akan dapat direka kira-kira koper besar dibeli dimana, karena tidak setiap toko menjual koper ukuran besar yang muat mayat orang dewasa. Ada sedikit kesamaan dalam modus pembuangan barang bukti, korban dewasa sering dibunuh di tempat lain dan jasadnya dibuang di tempat yang jauh, sedangkan mayat balita, terutama bayi, biasanya dibuang tidak jauh-jauh di sekitar lokasi pembunuhan.

    Dokter forensik di rumah sakit polisi sudah berpengalaman melakukan otopsi jenazah, dapat dibuat perkiraan kira-kira mengapa meninggal. Saat otopsi dilakukan tim polisi bidang forensik juga akan datang mengambil sidik jari, foto wajah mayat, foto mata dan memeriksa kondisi gigi. 

    Data yang didapat akan dicocokkan dengan data di e-KTP, SIM atau paspor, karena saat pembuatan e-KTP/SIM/paspor ada sidik jari dan foto wajah sekaligus mendeteksi mata, dan data-data ini diolah dalam algoritma yang sangat kompleks dan disimpan oleh pihak yang berwajib. 

    Bahkan korban pesawat yang meledak dan jatuh di laut bila diketemukan potongan tangan atau wajah, maka dapat dianalisa dengan data di kepolisian, dan dapat diketahui nama dan alamat korban. Juga polisi menunggu sekiranya ada laporan tentang orang hilang, dan data yang dilaporkan dicocokan dengan data mayat. Ini zaman teknologi canggih ya, dalam beberapa waktu dapat dikenali identitas mayat.

    Saudaraku, kemudian polisi akan mendatangi alamat korban, memeriksa orang-orang di sekitar alamat, juga minta nomor handphone korban. Dari sini dapat dilacak pergerakan korban di saat-saat terakhir, menelepon/WA siapa, karena data ini tersimpan baik oleh provider kartu selular. 

    Penyidikan selanjutnya dapat diketahui tujuan akhir korban sebelum dibunuh, seperti ke hotel, nah pihak hotel harus memberikan seluruh data CCTV yang ada, juga resepsionis hotel akan dimintai keterangan yang cukup rumit, membuat orang kelelahan saat penyidikan. Data CCTV dapat diketahui pergerakan korban terakhir dan kira-kira dia datang dengan tamu siapa, dan dengan teknologi face recognition dapat dikenali wajah-wajah orang yang bersama korban, dan data ini dicocokkan dengan database di e-KTP/SIM/paspor. Tidak berapa lama kemudian pastilah si pembunuh dapat dikenali dan dikejar kemana dia pergi melarikan diri. Ini tugas standar operasional kepolisian untuk kasus-kasus pembunuhan.

    Saudaraku, Musa pernah membunuh orang Mesir dan menyembunyikan mayatnya dalam pasir (Keluaran 2:11-12), namun tindakannya dilihat oleh orang Ibrani yang lain, dan peristiwanya didengar oleh Firaun, akibatnya Musa kabur ke tanah Midian. Dalam Kejadian 4, Kain membunuh adiknya dan mungkin membuang jasad adiknya ke suatu tempat, tapi Tuhan tahu dan berfirman kepada Kain: Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.” (Kejadian 4:10), Jadi darah Habil, si korban berteriak ke Tuhan. 

    Kitab Imamat 17:14 menyebutkan, karena darah itulah nyawa segala makhluk, dan ciptaan Tuhan baik umat manusia dan binatang ada darahnya, ada nyawanya,  yang merupakan anugerah Tuhan terbesar, sehingga seluruh makhluk hidup dapat bertumbuh, dapat bergerak dan memiliki indra. 

    Dalam Sepuluh Hukum Perintah Allah ke-6 Tuhan tegas berfirman: “Jangan membunuh” (Keluaran 20:13). Jadi manusia tidak boleh merusakkan atau membinasakan ciptaan Allah yang paling utama, yakni manusia. Perintah Allah itu ditegaskan lagi dalam 1 Samuel 2:6, hanya TUHAN yang berkuasa mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana. 

    Perintah Allah ini tegas dimaksudkan agar kita dilarang membunuh orang lain, tapi juga dimaksudkan untuk diri kita sendiri, jangan membunuh, yakni melakukan tindak bunuh diri, dan tindakan-tindakan yang merusak diri sendiri secara pelan-pelan merusak kesehatan seperti kecanduan narkoba, miras, dan lain-lain.

    Saudaraku, hargailah kehidupan, baik bagi orang lain maupun bagi dirimu sendiri, karena tubuh hidup ini adalah milik Tuhan: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). (Surhert).

  • DILUPAKAN ORANG

    Saudaraku, ada seorang pejabat yang ketika masih berkuasa sikapnya arogan dan maunya menang sendiri. Kalau naik mobil mesti ada voorrijder, 4 kendaraan yang mengiringi, dan tidak pernah mau berhenti di lampu merah maupun ikut bermacet-ria. Acara-acara kondangan maupun rapat tidak boleh dimulai jika dia belum datang, mesti duduk di depan, memberikan sambutan sekadarnya, namun hadirin diminta bertepuk tangan meriah. Bahkan aku pernah melihat dia ketika menandatangani suatu perjanjian di depan sebuah rapat, ternyata bolpoin Parkernya ngadat tidak keluar tinta, dan bolpoin itu dilemparkan ke ajudannya hingga baju ajudan berlepotan tinta.

    Tahun ini dia sudah lebih dari 20 tahun pensiun, aku melihat fotonya di medsos, wajahnya kuyu, sedang dibantu seseorang naik ke motor besar, kecapaian nampak di fotonya. Zaman berkuasa dia gagah sekali naik motor besar, bisa sekali nyengklak dan tancap gas, ajudan dan rekan-rekannya mesti ikut di belakangnya, sementara polisi lalu lintas menyetop kendaraan-kendaraan di jalan yang akan dilalui. 

    Umurnya sudah lewat masa hidup 70 tahun yang disebutkan Musa di Mazmur 90, jadi nyengklak motor besar kini butuh bantuan orang. Tentu yang lebih ironis, dahulu banyak orang dan pengusaha mesti membuat surat mohon courtesy call (panggilan resmi) bila ingin menghadap, kini orang-orang tersebut entah kemana, kalau dia menelepon, pasti tidak diangkat.

    Yah, itulah hidup, saat berkuasa dielu-elukan orang, saat sudah pensiun dan hilang kuasa, habislah ceritanya, bahkan koranpun malas mengeksposenya. Saat dia dilantik, pidatonya bilang dia memegang jabatan yang amanah, yang dijelaskan di google sebagai suatu janji atau titipan atau tugas mulia yang dipercayakan kepada seseorang untuk dijalankan dengan sebaik-baiknya, bahkan amanah termasuk sebagai salah satu sikap orang beriman. Ah, terlalu banyak mendengar janji di negeri ini yang diucapkan pejabat …

    Nah si pejabat tahu bahwa suatu hari nanti dia akan dilupakan oleh generasi mendatang, karenanya dia menyuruh orang untuk menuliskan biografinya dan koran-koran mesti mengekspose keberhasilannya, dan ada satu biro di bawahnya yang tiap hari mesti mengkliping koran-koran, ada lebih dari 50 koran lokal dan nasional, semua ada kliping tentang keberhasilannya, dijilid rapi dan dipasang hard cover, ditempatkan di perpustakaan. Jadi legacy atau warisannya bisa dibaca generasi mendatang … Mungkin, dan mungkin akan memberikan manfaat. 

    Saudaraku, kumpulan kliping mula-mula diletakkan di rak bawah, supaya mudah diambil dan dibaca, lama-lama pindah ke rak atas, jadi mesti perlu tangga, dan suatu hari akan masuk dos-dos besar yang digunakan untuk pengiriman rokok, atau boleh jadi akan dibakar bila kena rayap atau halaman tepi kertasnya jadi geripis atau cuil-cuil sedikit dan sobek,  ada kutu-kutu yang tinggal di dalam buku kliping.

    Warisan biografi yang dituliskan dalam bentuk buku atau kliping suatu hari akan tidak dibaca, demikian juga bila diupload dalam bentuk digital, karena ada terlalu banyak biografi tokoh yang layak menjadi panutan dan diakui kiprahnya. Mungkin warisan dalam bentuk koin mas atau batangan yang tetap dicari orang, contohnya koin uang emas British Gold Sovereign King George V tahun 1912, yang oleh pedagang emas disebut ukon emas. Ini koin emas meskipun warnanya tarnish atau pudar, tapi kalau dicuci dan disikat pakai odol akan kembali berkilau. 

    Nah, Saudaraku bila Anda ingin meninggalkan warisan yang tetap akan diakui oleh generasi mendatang, buatlah sesuatu karya yang bermanfaat dan berkualitas bagi orang banyak dan tetap dibutuhkan, orang akan selalu ingat. Di bidang kuliner misalnya ada ayam goreng Mbok Berek, yang kita dapat membayangkan bentuk ayam goreng renyah, empuk, ada kremesannya dan disajikan lengkap dengan sambal, kecap manis dan timun.

    Saudaraku, Daud  memohon kepada Tuhan: “Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.” (Mazmur 71:9).  Kita tahu Daud sejak muda percaya sungguh-sungguh pada Tuhan, melakukan banyak peristiwa besar yang senantiasa diingat orang Israel, terutama Daud mengalahkan raksasa Goliat dengan menggunakan umban. Namun Daud di masa usia lanjutnya mulai sadar bahwa dia suatu hari akan dilupakan generasi-generasi mendatang. Karena itu Daud memohon agar Tuhan tidak membuangnya saat dia menjadi tua, memohon agar Tuhan tidak meninggalkannya saat kekuatan fisiknya melemah.

    Daud di Mazmur 71:7-8 menyebutkan bahwa Tuhan telah menjadi perlindungannya yang kuat, sehingga Daud bisa melakukan hal-hal yang gemilang, orang melihat dia melakukan tanda-tanda yang ajaib, seperti dengan batu dan umban mengalahkan Goliat. Daud juga menuliskan banyak Mazmur doa dan puji-pujian yang setiap hari dinyanyikan di Bait Allah oleh tim-tim paduan suara yang direkrutnya. 

    Jadi Daud sudah meninggalkan warisan yang memiliki kadar emas bagi bangsa Israel, bahkan warisan ini tetap diingat orang hingga ratusan hingga ribuan tahun kemudian, yakni Yesus Kristus disebut Anak Daud. Bahkan Mesias yang dirindukan kehadirannya oleh bangsa Israel disebut sebagai Anak Daud. Perhatikan Lukas 20:41 Yesus berkata kepada mereka: “Bagaimana orang dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah Anak Daud?” 

    Perenungan kita hari ini: Jika Saudara tidak ingin dilupakan orang di masa tuamu, tetaplah hidup benar di hadapan Tuhan sejak masa mudamu, dan tinggalkanlah warisan yang baik bagi orang-orang sekitarmu, bagi keluargamu,  bagi Gereja Tuhan, dan bagi perusahaan atau lembaga dimana engkau mengabdikan hidupmu di masa muda. (Surhert).

  • Uncover A Source of Salvation

    NABI-NABI PALSU. Sahabat, pada zaman Zakaria melayani ada cukup banyak nabi-nabi palsu yang memberikan janji-janji keselamatan. Orang Yahudi memiliki kisah tentang nabi-nabi mereka, yang baik dan yang buruk. 

    Kita sudah tahu tentang  ratusan nabi Baal yang didatangkan oleh Ratu Izebel. Mereka jelas nabi-nabi palsu. Tapi tidak semua nabi palsu berkaitan dengan dewa-dewi berhala. Di antara umat Allah pun muncul nabi-nabi yang mengaku berbicara atas nama TUHAN tapi sebenarnya gadungan. Sesungguhnya tidak selalu mudah menentukan mana nabi yang bertindak di pihak Allah dan mana yang bukan. Yeremia pun kelihatan bimbang ketika menghadapi Hananya yang ternyata adalah nabi palsu. 

    Pada prinsipnya TUHAN tidak menghargai para penipu. Coba perhatikan 2 ayat berikut: Pertama:  “Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta… serta menyesatkan umat-Ku dengan dustanya dan dengan bualnya. Aku ini tidak pernah mengutus mereka dan tidak pernah memerintahkan mereka” (Yeremia 23:32). Kedua: “Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubu- atkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri” (Yeremia 14:14). 

    Nabi-nabi palsu itu khususnya jahat karena mereka tidak menyatakan kesalahanmu, dan karena itulah ramalan-ramalan mereka adalah dusta dan menyesatkan (Ratapan 2:14). Nubuatan yang asli mempunyai sebuah sasaran yang penting: Memulihkan kembali umat Allah.  

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “Uncover A Source of Salvation (Membuka Suatu Sumber Keselamatan)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 13:1-6. Sahabat, menurut Zakharia, dalam masa kejayaan yang akan datang akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran (Ayat 1). 

    Selanjutnya, Allah berjanji,  para nabi dan roh najis akan Kusingkirkan dari negeri itu (Ayat 2).  Sebagai akibatnya, nabi-nabi palsu itu akan menjadi orang-orang yang tak dikehendaki. Orangtua mereka tidak akan mengakui mereka bahkan lebih buruk lagi. Lalu ayahnya dan ibunya, yang telah memperanakkan dia, akan menikam dia pada waktu ia bernubuat. (Ayat 3).  

    Sahabat, bahkan para nabi, yang menyandang bekas luka yang nyata itu, akan merasa malu bahwa mereka telah menolak pekerjaan mereka. Mereka menyimpan jubah berbulu mereka di gudang (Ayat 4), yang biasanya mereka kenakan untuk meniru-niru Elia. Ketika orang-orang menuding bekas luka mereka, yang dengan jelas menunjukkan klaim mereka sebagai nabi, maka mereka mengaku bahwa mereka sebenarnya adalah petani (Ayat 5) dan mereka memperoleh bekas luka itu di rumah sahabat-sahabat mereka (Ayat 6). 

    Satu kebohongan pasti membawa pada kebohongan lain, yang membuat sedih Allah, karena Ia adalah Allah kebenaran. Karena itu, TUHAN memberikan jaminan akan datangnya sumber keselamatan bagi Daud dan penduduk Yerusalem.

    Sama seperti Allah rindu untuk memulihkan Israel, Ia juga rindu untuk memulihkan kita. Allah menginginkan totalitas penyembahan kita mengarah kepada-Nya. Itulah sebabnya, Allah mengutus Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, untuk menyelamatkan kita. Allah membuka suatu  sumber keselamatan bagi kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang kebohongan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: KEBOHONGAN hanya akan MENYELAMATKAN kita untuk sementara waktu, tapi akan MENGHANCURKAN kita untuk selamanya. (pg).