Category: Sejenak Merenung

  • Pure Promise

    PERAK MURNI. Sahabat, Perak Murni didefinisikan sebagai perak murni 99,9%, tetapi terlalu lunak untuk sebagian besar kegunaan, dan 925 sterling silver sebenarnya adalah paduan perak. 925 sterling silver mengandung 92,5% perak, dan sisanya 7,5% adalah logam lain, yang paling umum adalah tembaga. 

    Menambahkan logam berbiaya lebih rendah-digunakan untuk mengeraskan paduan yang dihasilkan sehingga logam dapat dicetak menjadi bentuk yang tidak akan berubah selama penggunaan.

    Perak murni kehilangan kilaunya selama bersentuhan dengan udara.Perak murni, seperti emas, tidak menghitamkan atau mengoksidasi permukaan. Ini adalah logam paduan yang menarik korosi.

    Gosok sepotong perak murni yang tampak berkilau dengan ibu jari,  dan kita mungkin menemukan noda samar di kulit ibu jari, yang menunjukkan bahwa 925 sterling silver mulai kehilangan kilaunya.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Pure Promise (Janji yang Murni)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 12:1-9 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, di masa sekarang pemurnian perak dilakukan dengan proses elektrolisis, yaitu dengan memasukkan beberapa unsur kimia, maka biji-biji perak akan terpisah dari kotoran atau logam lainnya sehingga dihasilkan perak murni. 

    Di masa Perjanjian Lama, untuk mendapatkan perak terbaik harus melalui pemurnian dengan dipanaskan diatas api sampai tujuh kali. Jika ditanyakan hasilnya, tentu saja proses yang membutuhkan ketekunan dan waktu yang panjang akan menghasilkan perak kualitas terbaik.

    Raja Daud mengibaratkan janji Allah seperti perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah (Ayat 7). Ada tiga hal penting untuk kita pahami dalam bacaan kita pada hari ini. Pertama, perak teruji menyatakan bahwa janji Allah adalah janji yang murni dan ditepati. Allah tidak pernah ingkar janji. Jika Ia berbicara, Ia akan menepatinya. 

    Kedua, tujuh kali dimurnikan yang artinya Allah mempertimbangkan baik-baik sebelum mengucapkan janji-Nya. Angka tujuh adalah angka yang sering muncul di Alkitab yang banyak dipercayai para ahli tafsir sebagai angka kesempurnaan.

    Ketiga, dapur peleburan di tanah, yang melambangkan kesabaran, seperti para perajin perak Ibrani yang melakukan pembakaran perak dengan duduk sabar semalaman di dapur peleburan di tanah untuk menjaga agar api tetap hidup, dan tungku berada pada suhu sempurna.

    Sahabat, analogi janji Allah dan perak murni yang dinyatakan Daud dalam Mazmur 12 menggambarkan demikian sempurnanya janji Allah. Karena janji tersebut telah teruji, maka sebelum pantas menerimanya, kita juga harus tahan uji dalam menjalani kehidupan. Jika kehidupan kita terasa seperti dibakar tujuh kali dalam tungku yang membara, ingatlah bahwa proses yang panjang dan detail akan memberikan hasil yang terbaik.  Bertahanlah dalam ujian kehidupan, ALLAH TIDAK PERNAH INGKAT JANJI. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semoga Allah menolong kita untuk tetap setia berpegang pada janji-Nya, sebab Dia setia. (pg).

  • Live Courageously

    ORANG BENAR. Sahabat, banyak orang menginginkan hidupnya sebagai orang benar. Namun menjadi orang benar yang senantiasa benar-benar hidup dalam kebenaran tidaklah semudah mengatakannya. Dalam Alkitab, Daniel adalah orang benar, yang senantiasa berpegang pada kebenaran yang sudah diketahuinya. 

    Apa buktinya? Tuhan berfirman kepada Yehezkiel ketika Ia hendak menghukum dosa orang Israel: “Dan biarpun Nuh, Daniel dan Ayub berada di tengah-tengahnya, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak laki-laki maupun anak perempuan, melainkan mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka,” (Yehezkiel 14:20). Luar biasa, pujian yang diberikan Tuhan pada Daniel, bahwa kebenaran itu dihidupinya, ternyata benar-benar penting hingga diulang tiga kali (Yehezkiel 14:14,16,20). 

    Daniel adalah satu dari empat pemuda Yehuda yang ditawan Nebukadnezar raja Babel, saat menaklukan Yoyakim Raja Yehuda di Yerusalem, yakni Hananya yang dinamai Sadrakh, Misael yang dinamai Mesakh dan Azarya yang dinamai Abednego. Karena mereka tidak bercela, berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, berpengetahuan banyak dan memiliki pengertian tentang ilmu, mereka pun diajarkan tulisan dan bahasa Kasdim selama tiga tahun untuk bekerja di istana Raja. Lalu, Raja juga menetapkan makanan enak dan anggur yang biasa diminumnya untuk diberikan kepada empat pemuda tersebut. Namun, Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan diri dengan santapan itu. 

    Jadi, Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat, dan mendapatkan pengertian tentang berbagai penglihatan dan mimpi. Ketika Raja memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, terbuktilah Daniel 10 kali lebih cerdas dari semua orang berilmu dan ahli jampi di seluruh kerajaannya. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Live Courageously (Hiduplah Dengan Berani)”. Bacaan Sabda diambil dari : Mazmur 11:1-7. Sahabat, diperlukan keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan dalam menghidupi kebenaran firman Tuhan.

    Pemazmur tidak takut dengan ancaman ataupun bahaya yang ia hadapi karena ia tahu bahwa tidak ada satu pun manusia yang luput dari pandangan Allah (Ayat 1-4). Allah menguji setiap hati, baik orang benar maupun orang fasik (Ayat 5). Allah tidak membiarkan orang-orang fasik dengan segala kekerasan mereka. Keadilan Allah akan menghukum dan membinasakan mereka (Ayat 6). Sedangkan, bagi orang-orang benar, mereka akan memandang wajah Allah (Ayat 7).

    Pemazmur sadar betul bahwa menghidupi kebenaran di dalam Allah penuh dengan risiko yang harus dihadapi. Meski demikian, ia tidak lari untuk menghindari segala risiko itu. Meski nyawanya terancam oleh karena mempertahankan kebenaran Allah, ia tidak takut. Ia justru menghadapinya dengan berani. Imannya kepada Allah menjadi dasar yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dasar ini tidak boleh hancur hanya karena kenyataan hidup serta situasi kehidupan yang mengancam kehidupan.

    Keberanian Pemazmur ini datang bukan dari dirinya, melainkan dari pengenalannya akan Allah. Ia percaya bahwa Allah tidak akan tinggal diam. Ia akan bertindak dalam kasih dan keadilan-Nya. Inilah yang menjadi jaminan bagi Pemazmur dalam menghadapi berbagai ancaman yang datang. Allah adalah satu-satunya tempat perlindungan yang paling aman baginya. Ia hanya perlu hidup takut akan Allah dan hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah.

    Selalu ada pilihan untuk lari mencari keamanan dan kenyamanan diri. Namun, iman kepada Allah harus tetap menjadi dasar dalam kehidupan orang percaya.

    Sahabat, sebagai orang percaya, tujuan kita bukanlah untuk hidup aman dan nyaman di dunia ini, melainkan hidup benar di hadapan Tuhan. Jika iman kita mulai terancam oleh kenyataan pahit dalam hidup ini, ingatlah bahwa ada Allah yang siap menyelamatkan kita. Mari kita jalani hidup ini dengan berani karena ada Allah bersama kita dan siap menyelamatkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang orang benar?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mata Tuhan memandang orang benar dengan kasih-Nya. (pg).

  • PERSEMBAHAN HIDUP

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Roma 12:1:  “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

    Ayat tersebut  sering dikhotbahkan untuk tema bagaimana kita bisa beribadah dengan benar. Juga ayat tersebut sering dibacakan  sebelum kantong kolekte diedarkan dengan tujuan agar jemaat dapat memberikan persembahan yang terbaik. 

    Jika kita menelisik kapan ayat Roma 12:1 ditulis, kita akan mengetahui bahwa ayat tersebut ditulis oleh Rasul Paulus antara tahun 55 dan 56 M, ditujukan khususnya untuk jemaat Kristen yang ada di kota Roma. 

    Nah di tahun-tahun itu Kaisar Nero menjadi penguasa Kekaisaran Romawi, memerintah dari tahun 54M sampai tahun 68M, terkenal sebagai tirani dan kekejaman, melakukan banyak eksekusi, termasuk ibunya dan saudara kandung adopsinya, juga kaisar yang membakar kota Roma, dan membunuh ratusan umat Kristen yang dituduh membakar Roma sebagai pemberontakan.

    Ratusan orang Kristen dijadikan budak dan tawanan, dibawa ke arena Koleseum yang dihadiri hingga 50.000 penonton, dijadikan tontonan untuk melawan serigala, singa dan tawanan-tawanan perang dari berbagai daerah jajahan Romawi yang dilatih sebagai gladiator. Orang-orang hukuman, budak dan tawanan harus mati di arena ini, jika ada yang masih sekarat, maka gladiator harus memenggal lehernya dan suara erangan terakhir ini sangat dinikmati oleh Nero dan rakyatnya.

    Orang Kristen saat itu bisa menyelamatkan diri, hanya lari meninggalkan kota Roma namun dikejar-kejar pasukan Romawi, bisa selamat atau tertangkap. Namun cara yang paling selamat dan tetap bisa hidup yakni bila menyangkal sebagai orang Kristen, mengaku sebagai rakyat Romawi yang menyembah puluhan dewa-dewi dan ikutan melakukan perbuatan a-susila dalam kuil-kuil salah satu dewata perempuan. 

    Tapi kalau tetap setia pada Tuhan Yesus, ya siap-siap saja segera tertangkap atau ditangkap, disiksa dan menunggu waktu dijadikan giliran sebagai umpan di arena gladiator.

    Saudaraku, karena itu apa yang disebutkan di Roma 12:1 supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati; Ini menjadi ujian dan tantangan yang sesungguhnya, hidup atau mati bagi umat Kristen saat itu, siap mempersembahkan diri sepenuhnya, tetap menjaga kekudusan di tengah kebobrokan moral rakyat Romawi, hingga berani menghadapi kematian dengan cara-cara yang paling keji dan menyakitkan di arena gladiator.

    Apa arti ibadah? Tuhan sendiri memfirmankan kepada orang Israel untuk melaksanakan ibadah, dan perintah ini diturunkan segera setelah Sepuluh Perintah Allah diucapkan oleh Tuhan sendiri.

    Keluaran 20:22-24:  Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Kamu sendiri telah menyaksikan, bahwa Aku berbicara dengan kamu dari langit.  Janganlah kamu membuat di samping-Ku allah perak, juga allah emas janganlah kamu buat bagimu. Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya korban bakaranmu dan korban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu. Pada setiap tempat yang Kutentukan menjadi tempat peringatan bagi nama-Ku, Aku akan datang kepadamu dan memberkati engkau.” 

    Arti ibadah sesuai perintah Tuhan ini: Ketaatan pada Tuhan, tidak menduakan Tuhan, diwujudkan dengan membuat mezbah bakaran,

    Mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah, di setiap tempat yang ditentukan oleh Tuhan sendiri, berarti di setiap tempat kehidupan kita sehari-hari bisa menjadi tempat untuk beribadah, dan Tuhan akan datang untuk memberkati.

    Bagi orang-orang Kristen pada abad pertama di Kerajaan Roma, memang tidak bisa membuat mezbah bagi Tuhan, namun arena gladiator menjadi mezbah yang ditonton puluhan ribu rakyat Romawi, dan yang menjadi korban bakaran bukan kambing domba atau sapi, tapi justru dirinya sendiri, yang darahnya dicurahkan karena kekejaman Kaisar Nero. 

    Saat itu, Tuhan tidak datang turun dari surga melawat dan menolong umatnya, bahkan tidak terdengar berkat-berkat dari Tuhan, hanya sorak sorai penonton yang senang menyaksikan adegan kejam berdarah. Tapi ini yang menjadi persembahan yang hidup, ibadah yang sejati.

    Saudaraku, sekarang kita mungkin tidak mengalami masa tirani dan kekejaman seperi zaman Nero, semuanya kelihatan aman, enak dan lancar, namun jangan kita lengah, karena singa atau binatang buas yang dulu ada di arena gladiator sekarang ini tidak nampak wujudnya, tapi sudah berganti dengan berbagai pencobaan dan kenikmatan duniawi. Di zaman yang serba mudah dan enak ini, tetaplah bersiap menjadi persembahan yang hidup, mempersembahkan diri kita seutuhnya, jiwa dan raga untuk kemuliaan Tuhan. (Surhert).

  • WARGA YANG BENAR

    Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus antara 55 dan 56 M saat dia ada di Korintus, kepada jemaat di Roma yang belum pernah dikunjunginya dan Paulus berharap dapat mengunjunginya. Sekitar tahun 60 M barulah Paulus tiba di Roma dan dapat mengajar dengan lancar selama 2 tahun (Kisah Para Rasul 28), juga saat itu ada Rasul Petrus di Roma, jadi komunitas orang Kristen dapat terbentuk.

    Ketika Paulus dan Petrus ada di Roma, yang menjadi penguasa Roma adalah Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus, yang terkenal sebagai Kaisar Nero, berkuasa sejak tahun 54M sampai tahun 68M, tercatat di sejarah dunia sebagai kaisar yang kejam. Sejarah mencatat, pada malam tanggal 18 Juli 64 M, terjadi kebakaran besar di Roma, selama enam hari tujuh malam, membakar habis 4 dari 14 belas distrik di Roma dan 7 distrik lainnya mengalami kerusakan parah. 

    Saat kebakaran berlangsung Kaisar Nero malah berpakaian opera, berdiri di menara dan memetik kecapi, melantunkan sebuah balada, menikmati pemandangan kobaran api dengan takjub. Berita saat itu mengatakan bahwa Nero-lah yang melakukan pembakaran, karena hendak mendirikan kota Roma baru. 

    Tapi Nero menuduh orang-orang Kristen yang ada di Roma melakukan pembakaran dengan tujuan pemberontakan, untuk itu mesti ditangkap dan dijatuhi hukuman. Dan hukuman yang paling terkenal ya sebagai gladiator di arena yang disaksikan hingga 50.000 orang penonton, budak dan tawanan – laki-laki maupun perempuan, bertanding melawan pasukan atau sesama gladiator hingga tewas, juga melawan binatang-binatang buas serigala dan singa.

    Nah dalam surat Roma 13:1-2 Paulus menulis: “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.  Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.”  

    Kenyataannya orang-orang Kristen di Roma saat itu ada di bawah kekuasaan Kaisar Nero, jadi sesuai anjuran Paulus, orang-orang Kristen tetap harus takluk kepada pemerintahan yang sangat kejam. Lho, mengapa pemerintah yang kejam itu juga ditetapkan Allah, dan barangsiapa yang melawannya berarti melawan ketetapan Allah?

    Sungguh ini merupakan ayat Alkitab yang sulit, jadi orang mesti mau menerima segala kondisi pemerintahan, yang baik-baik, terlebih lagi juga menerima pemerintahan yang buruk. 

    Tempo hari di tahun 1998, ada banyak warga dari sini yang pindah atau kabur ke suatu negara dan minta visa sebagai refugee atau pengungsi, karena situasi politik dan keamanan yang sangat bergolak saat itu. Tapi hari ini kalau kita mengajukan visa ke suatu negara lain dan menuliskan maksudnya sebagai refugee, pasti akan ditolak, dan malahan akan dicurigai mengapa mau kabur dari Indonesia sebagai refugee, apakah karena masuk ke kolompok teroris atau kriminal? 

    Pokoknya, mengapa kita mesti menerima keberadaan pemerintah yang berkuasa, bukan melawannya?

    Di bagian lain Alkitab mengajarkan: Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. (Ayub 2:10) Jadi semestinya kita bersiap untuk menerima yang baik yang merupakan anugerah Tuhan, tapi juga bersiap menerima sesuatu yang dirasa buruk bagi diri kita, tidak berbuat dosa dengan bibir kita yang menyumpahin situasi.

    Seperti Tuhan sudah menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45). Bagi orang jahat, matahari atau terang menjadi sumber ketakutan karena segala perbuatan jahatnya akan diketahui dan dia akan menghadapi hukuman, tapi bagi orang baik, saat terang berarti bisa bekerja, kondisi sehat, dan seterusnya

    .

    Juga Alkitab mengajarkan, Ulangan 8:2-3: “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.”  

    Jadi Ia merendahkan hati bangsa Israel, mengizinkan mereka lapar dan memberi mereka makan manna, yang tidak mereka kenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangnya, untuk membuat mereka mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. 

    Bangsa Israel, 40 tahun di padang gurun, bukan langsung dari Mesir masuk Tanah Kanaan. Melewati berbagai kondisi dan percobaan, susah atau senang, sehat atau sakit, dari satu generasi ke generasi anak-anaknya, hanya satu maksud Tuhan, yakni supaya mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.

    Jadi saat kita, sekalipun tinggal di zaman pemerintahan atau situasi kondisi yang kejam dan lalim, tetaplah teguh beriman kepada Tuhan, untuk menunjukkan kemurnian iman, dan kita semakin paham bahwa hidup bukan dari roti atau materi saja, tetapi juga hidup dari segala yang diucapkan Tuhan. (Surhert)

  • MERANGKUL PERBEDAAN

    Saudaraku, orang Kristen hampir selalu diajarkan dan ditarik pada polarisasi antara dunia atau Tuhan, yang selalu beriringan bagaikan rel kereta api yang tak pernah bertemu.  Maka setiap orang Kristen hampir selalu diperhadapkan pada pilihan kontras: Mau ikut Tuhan atau ikut dunia.  Itukah yang diinginkan Yesus?  Mari merenungkan Injil Yohanes 15:18-20.

    Kekhawatiran para murid yang merasa akan ditinggalkan mendorong Yesus untuk menjelaskan posisi mereka terhadap lingkungan mereka dimana posisi Yesus dan para pengikut-Nya akan berseberangan dengan dunia.  Kata “dunia” mengarah kepada norma, nilai dan bahkan sudut pandang yang berlaku, juga tentang sistem pemerintahan yang sedang berlangsung.  

    Yesus mengusung dan mengajarkan tentang Kerajaan Allah dimana para pemimpin adalah pelayan, dimana penghargaan tertinggi diberikan kepada yang melayani orang lain.  Nilai-nilai ini berbeda dengan nilai yang dianut masyarakat pada umumnya, maka ketika menjadi pengikut Yesus otomatis juga menjadi agen Kerajaan Allah sehingga konsekuensi untuk menjadi berbeda harus ditanggung para murid Yesus.

    Namun perbedaan yang dinyatakan Yesus di ayat-ayat ini tidak berbicara tetang superioritas Kerajaan Allah dan merendahkan yang berbeda.  Yesus justru memberikan gambaran tentang tantangan yang besar yang akan dihadapi para murid yaitu perbedaan nilai yang membuat mereka harus berhadapan dengan masyarakat dan pemerintah.  

    Yesus meyakinkan bahwa hal itu memang akan dialami oleh para murid dan mereka tidak boleh takut karenanya.  Ya, Injil Yohanes memang dituliskan untuk para jemaat yang menghadapi pengajaran sesat dan pemerintah yang kejam, maka ayat-ayat ini menjadi penguat untuk mereka tetap setia kepada Kristus.  

    Alih-alih memandang rendah kepada dunia, justru para murid diajak untuk tetap menjadi warga Kerajaan Allah dan memahami situasi yang mereka hadapi tanpa menyalahkan siapa pun serta giat mengerjakan keselamatan yang dianugerahkan kepada mereka.  Yesus justru menyuruh mereka harus menjadi garam dan terang dunia yang memengaruhi dunia dengan Kerajaan Allah (Matius 5:5-7).  MERANGKUL DUNIA UNTUK KRISTUS dan bukan merendahkannya.

    Memang disadari bahwa umat Kerajaan Allah memiliki nilai yang berbeda, namun tugas mereka adalah memperkenalkan nilai yang mentranformasi dunia bukan untuk membanggakan superioritas sebagai umat pilihan.  

    Sejarah membuktikan bahwa  kolonialisme masa lalu yang mengusung 3G (gold, glory and gospel) justru berdampak fatal  dan jauh dari nilai Kerajaan Allah serta menimbulkan luka yang mendalam.  Maka sikap umat Tuhan seharusnya bukan bukanlah merasa superior dan jatuh dalam polarisasi kebenaran melainkan mengusahakan nilai itu terus dihidupi dan diberitakan dalam kondisi dan situasi apa pun.  

    Saudaraku, mari TERUS SETIA  dan MENGHIDUPI  nilai Kerajaan Allah dengan memberitakan Kabar Baik bagi dunia dengan merangkul mereka untuk Kristus.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • SI MAMON

    Saudaraku, ini kelanjutan tentang kisah Dewa Uang, Si Mamon. Apakah jika seseorang sudah menyembah dan memuja Si Mamon agar mendapatkan banyak rezeki, maka apakah Mamon akan terbang turun dari langit untuk menyertai orang itu dalam bekerja agar mendapatkan banyak uang? 

    Kita tidak pernah melihat hal ini. Hanya Si Mamon masuk ke dalam hati orang itu, dan orang itu akan lebih bersemangat dalam bekerja, tidak mengenal lelah dan upaya, pokoknya mesti mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dan mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang dirasa merugikan. Jadi setiap pengeluaran uang yang keluar dari dirinya mesti diperhitungkan, apakah ini sekadar keluar duit pemborosan, atau nanti dapat prospek dan imbalan yang besar.

    Bagi orang yang gemar memancing pasti paham, kalau pakai umpan yang hanya roti tawar ya dapat ikan kecil-kecil yang benar-benar kelaparan. Tapi kalau ingin mendapatkan ikan tuna, ya mesti melaut ke tempat yang dalam tempat banyak ikan tuna bergerombol, dan memakai umpan ikan cakalang atau cumi atau ikan tertentu lainnya yang punya warna cerah dan sedikit kilau untuk memancing ikan tuna datang.

    Nah ini kok sepertinya mirip-mirip dengan upaya mendapatkan proyek-proyek tertentu, ada yang mesti menabur uang di depan hingga 30% dari suatu proyek untuk mendapatkan order dari orang-orang dalam. Ini juga yang menyebabkan banyak barang yang dipasok jauh dari kualitas dan kuantitas yang ditentukan, seperti kita sering membaca berita tentang robohnya suatu bangunan atau jembatan karena material yang dipakai dikurangi kualitasnya karena tidak mampu menanggung beban berat dinamis yang timbul.

    Inilah kalau Si Mamon dari dalam hati yang memberikan motivasi, akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan proyek meskipun mesti menabur banyak uang di depan, dan proyek yang dipasok nanti dapat dikurangi kualitasnya, terutama untuk bagian-bagian yang tidak terlihat langsung, seperti kedalaman pondasi di dalam tanah dikurangi 20-40 cm, ukuran besi beton cor dikurangi 1-2 mm toh tidak kelihatan, pemakaian semen yang dikurangi, dan lain-lain.

    Aku pernah ikutan dalam panitia Pembangunan Gereja dan mencari saniter untuk dipakai. Datang ke seorang pemilik pabrik saniter ternama, menjelaskan bahwa produknya ingin dipakai di gereja. Surprise, owner ini memanggil sales managernya, dan mengatakan, ini khusus untuk gereja beri harga dari daftar harga lama dipotong 30%, sementara dalam daftar baru sudah naik 10% dan diskon hanya maksimal 17%. 

    Lalu owner juga berpesan, gereja supaya diberi produk tipe terbaru, dan kalau ada customer mau lihat contohnya, supaya pergi datang melihat di gereja, sebab pemakai kamar mandi dan WC jumlahnya ratusan dan gereja sering kurang perawatan untuk kamar mandi, jadi customer bisa lihat produk kita dipakai secara asal-asalan tanpa perawatan, tapi tidak rusak dan tetap bagus. Aku ingat persis, ini di tahun 1989, dan hingga kini sudah 35 tahun, gereja tetap memakai produk saniter itu, tidak ada yang retak maupun rusak, juga warna tidak pudar meskipun timbul kerak karena kurang perawatan.

    Belakangan hari saya ketemu lagi sama si owner, sudah sepuh dia, saya bilang barang saniternya tetap bagus digunakan di gereja. Dia senyum, bilang, pabriknya tetap jaga kualitas sejak semula berdiri, cacat produksi meskipun hanya satu rambut tetap disortir supaya hasil akhir tetap bagus, karena dari satu rambut retak lama-lama akan menjadi satu milimeter dan crack lebih lebar lagi. Lebih jauh, waste atau barang yang disortir saat produksi bisa 70%-80% karena sering bahan baku material tidak stabil kualitasnya, juga panas pembakaran kalau tidak dijaga benar-benar akan naik turun dan ini mempengaruhi pembakaran.

    Nah, ini seperti bunyi Amsal 22:29: “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.” Bagi pabriknya, karena bisa menghasilkan produk yang bagus dan cakep, harga jual bisa disegmen atas atau harga mahal, dan yang bisa membeli yang orang-orang yang berduit, termasuk kalangan raja-raja ya.

    Lalu ada seorang pemuda masih umur di bawah 35 tahun bisa menjadi wapresdir salah satu apps online terbesar, dan mamanya cerita bangga kalau anak sulungnya itu sekarang digaji Sin$ 25,000 per bulan dan dapat fasilitas apartemen 180 meter persegi. Dan cerita-cerita seperti ini masih banyak lagi saya lihat dan dengar di sepanjang usia saya yang sudah punjul 60 tahun, intinya orang yang cakap dalam pekerjaannya akan mendapatkan hasil yang lebih besar.

    Jadi Si Mamon punya saingan, yakni cakap dalam perkerjaan. Hati boleh dikuasai Si Mamon, tapi kalau orang itu tidak cakap, tidak trampil, tidak bijaksana, tidak tekun, ya motivasi dari Si Mamon tidak bermanfaat, karena akan menghasilkan sesuatu yang kualitasnya tidak baik. Mungkin masyarakat atau instansi mau membelinya, tapi hanya sekali atau dua kali, akhirnya merasa tertipu dan tidak memilih produk itu lagi. 

    Jika Anda saat ini dapat tergolong sebagai orang yang cakap, supaya Si Mamon tidak masuk di hatimu dan menjadi penguasanya, sadarlah bahwa untuk mendapatkan kecakapan dan berkat itu karena adanya berkat dari Tuhan, yang dicurahkan setiap hari kepadamu, namun tidak kelihatan, seperti datangnya gajah yang besar tapi tidak nampak. Tuhan menguatkan perjuangan dalam pekerjaanmu, saat menghadapi kesukaran berdoalah, hanya berdoa ya, Tuhan pasti memberikan petunjuk jalan yang terbaik. 

    Saudaraku, percayalah, seperti dituliskan di Amsal 22:4:  “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” Selamat menikmati berkat Tuhan ini. (Surhert).

  • When God Seems So Far Away

    TERASA JAUH. Sahabat, terkadang kita merasa Tuhan  TERASA JAUH  dan menyembunyikan wajah-Nya bagi kita saat kita mengalami kesesakan dan pergumulan. Kita merasakan seolah-olah kita sendirian dalam menghadapi pergumulan hidup yang berat. Saat seperti itu sangatlah menyakitkan. Suatu ketika kalau kita dijauhi oleh seorang sahabat saja,  kita sudah resah dan gelisah, apalagi Tuhan yang adalah Sang Pencipta dan pemberi hidup,  menjauhi kita, PASTILAH TERASA SAKIT DAN MENYEDIHKAN. 

    Ketika kita sedang bergulat dengan masalah atau kita sedang sakit yang serius, kita mulai bertanya: “Di manakah Tuhan?”. Mungkin beberapa dari kita merasa bahwa Tuhan jauh dari kehidupan kita. Lalu, pertanyaannya adalah: Apa yang harus kita lakukan ketika Tuhan terasa berjuta-juta mil jauhnya dari kita? Apakah bisa kita tetap sama menyembah Dia seperti ketika keadaan kita baik-baik saja?

    Justru masa-masa seperti itulah Tuhan pakai untuk mendewasakan hubungan kita dengan-Nya. Untuk membentuk karakter dan iman kita. Seperti halnya kita menjalin persahabatan dengan manusia yang sering diuji, persahabatan kita dengan Tuhan sering juga diuji oleh perpisahan dan kesunyian; kita dipisahkan oleh jarak fisik atau kita tidak dapat berbicara. Untuk mendewasakan hubungan kita, Tuhan akan mengujinya dengan apa yang tampaknya sebagai masa-masa perpisahan, masa dimana seolah-olah Ia telah meninggalkan atau melupakan kita.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “When God Seems So Far Away (Ketika Tuhan Terasa Begitu Jauh)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 10:1-18 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, Daud pun yang mempunyai hubungan persahabatan yang paling akrab dengan Tuhan,  pernah mengalami keadaan yang demikian. 

    Ayat 1 jelas mengatakan seruan dari Daud: “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya Tuhan dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” Apakah Tuhan sungguh-sungguh meninggalkan Daud? Tentu saja tidak benar-benar meninggalkan Daud, dan Ia juga tidak meninggalkan kita. Di dalam Ulangan 31:8 Ia berjanji: “Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati”.

    Ada saat-saat dimana Ia kelihatannya tidak ada dalam kehidupan kita. Hampir setiap orang percaya pernah mengalaminya setidaknya sekali, dan biasanya beberapa kali. Itu memang menyakitkan dan tidak nyaman rasanya, tetapi sangat penting untuk perkembangan iman kita. Jika kita masih seorang percaya yang baru, mungkin Tuhan memberikan kita banyak emosi yang meneguhkan dan sering mengabulkan doa-doa yang  mementingkan keinginan diri sendiri dan tidak dewasa, supaya kita tahu bahwa Ia ada. tetapi ketika kita sudah tumbuh dalam iman, Ia akan menyapih kita dari ketergantungan tersebut.

    Sahabat, lalu pertanyaannya, bagaimanakah sikap kita dalam suatu krisis seperti itu? Bagaimana kita bisa terhubung dengan-Nya kembali? Bagaimana kita tetap mengarahkan mata kepada Yesus jika mata kita penuh air mata? 

    Pertama, katakanlah kepada Tuhan apa yang kita rasakan. Curahkanlah isi hati kita kepada Tuhan secara jujur. Tuhan menyukai kita apa adanya. Jujur pada diri sendiri dan jujur pada setiap perasaan yang kita alami. Kalau kamu terluka, katakan terluka pada-Nya. Kalau kamu marah, katakan marah pada-Nya. Kejujuran yang Tuhan minta. 

    Saya kadang melakukan itu. Jujur pada perasaanku sendiri kepada Tuhan. Tuhan dapat menangani keraguan, kemarahan, ketakutan, kesedihan, kebingungan, dan pertanyaan-pertanyaan kita yang lain. Mengakui keputusasaan kita kepada Tuhan dapat menjadi suatu pernyataan iman kita. Mazmur 116:10 merupakan suatu pernyataan iman Daud: “Aku percaya, sekalipun aku berkata: Aku ini sangat tertindas”.

    Kedua, pusatkan perhatian pada Tuhan.  Bagaimanapun situasi dan perasaan kita, berpeganglah pada sifat Tuhan yang tidak berubah. Ingatkanlah diri sendiri tentang kebenaran kekal Tuhan: Ia baik, Ia mengasihiku, Ia menyertaiku, Ia mengetahui apa yang sedang aku hadapi, Ia peduli, Ia memegang kendali, Ia mempunyai rencana atas hidupku. 

    Sahabat, teruslah percaya kepada-Nya walaupun perasaanmu kacau, sembahlah Dia dengan cara yang paling dalam. Justru di dalam situasi yang tidak mengenakan, iman kita diuji. Biarlah Tuhan mendapati iman kita murni seperti emas. Bersyukur dan sembahlah Dia dalam kondisi bagaimanapun. Karena itu, yakinlah dan percayalah bahwa TUHAN tidak pernah jauh dari kita di kala kita sedang dalam kesesakan tetapi Ia sedang menggendong kita untuk memulihkan, menyembuhkan, dan memenangkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Pernahkah Sahabat merasakan “Masa Keterpisahan Dengan Tuhan”? Bagikanlah secara singkat.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Janganlah iri kepada kemakmuran dan kenyamanan hidup orang fasik. (pg).

  • MENJALIN RELASI YANG SEHAT DAN MENGUATKAN DI ERA DIGITAL

    Saudaraku, marilah kita membaca dan merenungkan Efesus 4:2-3: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:”

    Pada zaman sekarang, di era digital, dunia terkoneksi dan terintegrasi secara menyeluruh selama 24 jam. Seluruh aktivitas di dunia ini berjalan selama 24 jam terkoneksi. Dari dunia usaha, media sosial, dan interaksi antar pribadi dapat dilakukan dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Akibatnya pola pikir, budaya, psikologi manusia mengalami perubahan.

    Menariknya dunia yang terkoneksi dan terintegrasi ini justru membuat hubungan antar manusia terasa makin jauh. Nilai-nilai kerendahan hati, kesabaran, kelemahlembutan, saling membantu, kesatuan Roh, dan damai sejahtera mulai langka dan asing dalam interaksi sehari-hari, baik secara online maupun offline. Hal ini dipengaruhi juga dengan kecerdasan sosial manusia yang menurun atau terdegradasi.

    Budaya yang tampak di era digital yaitu kecenderungan manusia hidup dalam high-speed. Simbol-simbol atau emoticon menjadi gaya bahasa sehari-hari dalam WA dan itu menjadi pesan singkat dan instan. Dalam IG, hitungan detik, manusia mendapat banyak informasi tentang berbagai hal: Makanan, Lokasi healing, kursus, dunia penghasil uang, informasi kegiatan Rohani suatu gereja, pesan moral, pesan motivasi, renungan singkat, dan sebagainya.

    Kita dipanggil oleh Allah untuk menjadi garam dan terang dunia. Bagaimana kita dapat menggarami dan menerangi bila kita terbawa kondisi arus zaman ini? Karena itu Efesus 4:2-3 menjadi pesan supaya kita menjadi orang-orang Kristen yang dapat menjalin relasi yang sehat dan menguatkan di era digital ini agar mampu menggarami dan menerangi dunia. 

    Sikap-sikap yang perlu kita perhatikan dan kembangkan supaya dapat menjalin relasi yang sehat dan menguatkan di era digital, adalah:

    KERENDAHAN HATI  adalah menjadi dasar atau pondasi dari setiap hubungan yang sehat. Kerendahan hati mengajarkan kita untuk melihat diri kita dengan jujur dan menghargai orang lain tanpa merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Namun di era digital ini, kita cenderung merasa iri dan cenderung membandingkan diri dengan orang lain secara tidak sehat. Kita terjebak dalam persaingan dan keinginan untuk tampil lebih baik dari orang lain. Kita perlu belajar kerendahan hati sebab sikap ini menjadikan kita melihat setiap orang memiliki keunikan dan kontribusi masing-masing.

    KELEMAHLEMBUTAN adalah bukan sikap yang lemah, tetapi kekuatan yang terkendali. Artinya kita dapat memberi respons dengan tenang dan bijak. Ada pendapat bahwa hanya 10% tentang kehidupan ini sedangkan 90% tentang bagaimana sikap kita terhadap kehidupan. Jadi kelemahlembutan sangat penting untuk membantu kita menghindari konflik yang tidak perlu dan menjaga hubungan tetap harmonis. Media sosial adalah media yang seringkali dipakai tanpa dengan “hati”. Komentar dan kritik dapat begitu tajam, sehingga kita sebagai orang Kristen harus dapat memberikan tanggapan yang positif dan membangun.

    Di era digital ini, kita lebih mudah kehilangan kesabaran. Ciri khas di era ini adalah terjadinya ekselerasi global. Hal yang terjadi adalah sulitnya masyarakat untuk dapat mensikronkan dengan berbagai ritme kehidupan. Stres dan penurunan metalitas menjadi efek samping dari desinkronisasi tersebut. Ketidaksabaran, keresahan dan kecemasan sangat tinggi. Padahal, firman Tuhan mengingatkan kita untuk sabar dalam segala hal. Kesabaran bukan hanya soal menunggu, tetapi jya soal merespons dengan tenang dalam situasi sulit.

    Era digital mempermudah segala sesuatu dengan kemajuan teknologi. Namun, interaksi sosial menjadi berkurang, kehilangan tenggang rasa antar sesama dan bahasa komunikasi langsung menjadi miskin sebab banyak melalui layar saja. Sifat individualisme tumbuh dan kecenderungan orang untuk makin mementingkan diri sendiri. Kasih menjadi inti ajaran Kristus menghadapi tantangan. Sikap saling membantu dan membangun kesatuan Roh tidak mudah diwujudkan. Paulus dalam surat di Efesus mendorong supaya pengikut Kristus kembali pada panggilan Tuhan untuk menghidupkan kasih.

    Tujuan akhir dari semuanya ini adalah bagaimana damai sejahtera Allah dapat dihadirkan oleh kita sebagai pengikut Kristus. Kita menghadirkan damai sejahtera Allah dalam relasi yang sehat dan saling menguatkan.

    Di zaman sekarang yang penuh destraksi dan tekanan ini, kita dipanggil untuk menjalin relasi yang sehat dan menguatkan. Firman Tuhan memberikan prinsip-prinsip melalui Efesus 4:2-3 ini, Mari kita menjalin relasi terhadap sesama dengan baik dan benar. Mari kita mewarnai zaman di era digital ini dalam terang firman Tuhan agar dunia tahu bahwa kita adalah anak-Nya dan murid-murid-Nya. Tuhan Yesus memberkati. (EBWR).

  • Telling About the Miraculous Deeds of God

    HATI YANG BERSYUKUR. Sahabat, bersyukur adalah kunci di dunia dan akhirat. Bersyukur merupakan wujud ungkapan perasaan terima kasih kepada Tuhan atas semua kenikmatan dan anugerah yang setiap hari kita rasakan. Namun, tidak jarang kita semua luput dan lupa untuk bersyukur, apalagi ketika kita sedang mendapatkan masalah dan cobaan yang berat.

    Pemazmur merasakan perbuatan Allah yang ajaib dalam dirinya. Perasaan yang mendalam itu hendak diberitakannya kepada setiap orang. Itulah sebabnya Pemazmur menuliskan Mazmur 9. 

    Hati yang bersyukur adalah hati yang berterima kasih. Tuhan telah berbuat, maka kita patut berterima kasih. Tidak menceritakan berarti tidak berterima kasih. Inilah dasarnya mengapa ada ibadah syukur, yakni ibadah untuk berterima kasih kepada Tuhan. Tuan rumah biasa menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialami dari Tuhan. 

    Sahabat, perbuatan Tuhan mana yang diceritakan? Menurut Pemazmur, perbuatan Tuhan yang ajaib. Ajaib di sini maksudnya, datangnya tindakan Tuhan disaat kita tidak bisa menolong diri kita sendiri. Hanya Tuhan yang dapat melakukannya. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur  dengan topik: “Telling About the Miraculous Deeds of God (Menceritakan Perbuatan Tuhan yang Ajaib)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 9:1-21 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, mengapa syukur atau rasa terima kasih, kemudian, harus dinyatakan dengan menceritakan perbuatan Tuhan? Karena hati yang berterima kasih selalu berorientasi ke situ. Inilah inti kekuatan pemberitaan gereja di mana-mana: menceritakan kebaikan-kebaikan Tuhan: “… beritakanlah perbuatan-perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa” (Ayat 12). 

    Perbuatan Tuhan, dalam segala bentuknya, selalu berakibat baik dan orang yang menerimanya akan berbahagia. Kebahagiaan ini biasanya tidak terbendung, orang ingin meluapkannya melalui doa, pujian, air mata bahagia dan seruan. Tetapi ternyata ini tidak cukup, kebahagiaan itu ingin keluar melalui kesaksian, melalui kata-kata lisan atau pun tulisan agar orang lain tahu. Alkitab penuh dengan kesaksian-kesaksian orang yang menerima perbuatan Tuhan. Gereja-gereja diwarnai dengan kesaksian seperti ini.

    Dorongan ini jugalah yang bergelora di dada Pemazmur sehingga dia berseru, “Aku mau bersyukur kepada Tuhan …aku mau menceritakan perbuatan-Mu yang ajaib.” (Ayat 2). Ia tidak dapat menahan rasa bahagianya untuk konsumsi sendiri melainkan meluapkan itu dalam kata-kata sehingga orang lain pun tahu. Andaikan dia tidak menyatakan kesaksiannya, kita tentu tidak tahu bagaimana Allah bertindak membela perkaranya, melindunginya dari orang fasik. Kita juga mungkin tidak tahu betapa kuat keyakinannya pada Tuhan. Tapi dari kesaksiannya itu kita boleh mendengar lagi tentang kebaikan Tuhan. 

    Salah satu moto gereja adalah bersaksi. Apa yang kita saksikan? Yang kita saksikan bukanlah keluarga kita, pekerjaan kita, jabatan kita atau diri kita, melainkan perbuatan Tuhan! Perbuatan Tuhan dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam kehidupan anak-anak dan dalam diri kita. 

    Sahabat, jikalau kita mampu mematahkan rasa enggan untuk bersaksi, maka “ruang-ruang kesaksian” tidak akan sepi atau kekurangan orang yang bersaksi karena banyak orang rindu menguraikan ceritanya tentang perbuatan Tuhan dalam hidupnya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Tolong sharingkan secara singkat apa yang Sahabat lakukan ketika menerima kebaikan dan pertolongan Tuhan dalam hidupmu?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Janganlah lupa untuk bersyukur. Bagaimanapun keadaan kita, sejatinya semua itu adalah karunia Tuhan semata. (pg).

  • GAJAH TIDAK KELIHATAN

    Saudaraku, kemarin aku menghadiri pameran lukisan yang diselenggarakan oleh seorang pelukis, ternyata pelukis ini gemar melukis gambar gajah, dalam berbagai model, warna dan ukuran. Aku tanya dia kenapa, dan dia fasih sekali menjelaskan sifat-sifat gajah yang suka berkelompok, yang terutama solidaritas gajah dalam kelompoknya yang sangat tinggi, bahkan gajah akan menunggui rekannya yang dalam kondisi sakit atau menjelang ajal. Oh begitu ya.

    Nah ini sepulang dari pameran aku berpikir mengapa gambar gajah jarang atau mungkin tidak pernah ditampilkan di lukisan-lukisan China. Memang negeri China bukan habitat binatang gajah, tapi gajah banyak di India dan Siam atau Burma, bahkan dijadikan kendaraan tempur oleh raja-raja. Juga yang paling terkenal yakni Jenderal Hannibal dari Kartago (247-181 SM) yang memiliki pasukan gajah perang melawan Kerajaan Roma.

    Gajah dalam bahasa mandarin ditulis 大象 dà xiàng, dan ketika saya cari-cari lagi di pepatah China ternyata di Daodejing ada disebutkan 大象无形 dà xiàng wúxíng, daxiang artinya gajah, sedangkan wuxing artinya di google translate sebagai tidak terlihat, formless, jadi daxiang wuxing secara harafiahnya berarti gajah yang tidak kelihatan atau tidak terlihat. Lho, gajah, binatang yang besar, tapi kok tidak kelihatan? 

    Nah ternyata artinya lebih lanjut yakni menunjukkan suatu aset atau harta yang tidak berwujud, seperti ilmu pengetahuan, hak paten, kebijaksanaan, tutur kata yang halus, semuanya itu nampak ada, memberikan pengaruh dan ada harganya, tapi wujudnya tidak bisa dipegang, hanya bisa dirasa. Menarik ya.

    Di Alkitab memang tidak ada kata gajah, karena memang di negeri Israel sana tidak ada binatang gajah, jadi memang tidak disebutkan adanya gajah, hanya di gambar-gambar bahtera Nuh selalu disertakan gambar gajah sepasang yang berbaris masuk ke bahtera. Tapi tentang gajah tidak kelihatan sebenarnya secara tidak langsung disebutkan di Alkitab.

    Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” (Yohanes 3: 5-8) 

    Jadi ada pekerjaan besar yang dilakukan oleh Roh Kudus, memberikan kelahiran baru bagi orang yang percaya, namun proses yang dilakukan oleh Roh Kudus itu bagaikan angin, tidak kelihatan, tapi hasilnya ada, nampak, dan orang yang dilahirkan kembali akan berubah perilaku kehidupannya.

    Memang di beberapa bagian Alkitab ada disebutkan tentang penampakan Roh Kudus. Yohanes Pembaptis mengatakan: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.” (Yohanes 1:32). Di Kisah Para Rasul 2: 2-3: “Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.” 

    Saudaraku, akhirnya Roh Kudus dalam gambar-gambar Kristiani dilukiskan sebagai burung merpati atau lidah-lidah api. Namun itu semua hanya gambar, tapi wujud aslinya tidak nampak. Kuasa Roh Kudus yang Maha Besar, bisa mengubah segalanya, terutama mengubah perilaku manusia yang cenderung berdosa menjadi manusia baru yang melakukan kehendak-kehendak Tuhan. Roh Kudus benar ada, tapi tidak nampak.

    Penjara disebut sebagai lembaga pemasyarakatan (lapas) karena dimaksudkan untuk membantu memperbaiki perilaku seseorang sehingga tidak lagi melakukan kejahatan, tapi kita sering membaca berita eks napi yang kembali melakukan tindakan kriminal justru belajarnya dari penjara. Jadi adanya rumah penjara belum tentu bisa mengubah perilaku seseorang, tapi saat orang itu mau bertobat dan membuka diri kepada Tuhan, turunlah Roh Kudus bagaikan angin ke dalam hatinya, mengubah kehidupannya.

    Banyak promosi tentang turunnya Roh Kudus, yang sering digambarkan sebagai penumpangan tangan, orang yang mendadak rebah atau bahkan menari-nari, atau juga sebagai bahasa lidah yang disebut-sebut sebagai bahasa roh. Semuanya itu yang kelihatan, dalam berbagai bentuk dan cara, tapi saat-saat turunnya Roh Kudus yang Maha Besar itu tidak kelihatan. Ya bagaikan gajah yang tidak kelihatan.  Coba simak 2 Korintus 5:17: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

    Saudaraku, kapan yang lama berlalu, dan kapan yang baru datang, tidak ada yang tahu, tidak bisa dinantikan dalam sekejap, karena ini hanya dimungkinkan karena pekerjaan Roh Kudus. Mau bertobat, menyerahkan diri kepada Tuhan, membuka hati, dan Roh Kudus yang Maha Besar datang, tapi tidak terlihat, namun memberikan perubahan dari MANUSIA LAMA  menjadi MANUSIA BARU  yang memiliki PERILAKU YANG YANG BARU. (Surhert).