Category: Sejenak Merenung

  • NYANYIAN PUJIAN MARIA

    Saudaraku, tidak dapat dipungkiri, manusia cenderung akan bersukacita ketika mendapatkan hal-hal yang menyenangkan secara daging. Siapa yang tidak senang ketika kita memiliki keluarga yang harmonis, pekerjaan yang bagus, pelayanan yang menjadi berkat? Saya yakin semua orang pasti akan mensyukuri ketika hal-hal itu terjadi di dalam hidupnya.

    Tetapi pertanyaannya, bagaimana jika hal yang kita dapatkan justru sebaliknya? Akankah kita tetap dapat bersukacita?

    Lukas 1:46-56 berisi tentang nyanyian pujian dari seorang perempuan yang bernama Maria. Dia diceritakan sebagai seorang perempuan yang belum bersuami tetapi hamil. Hal ini bukan perkara yang mudah diterima oleh Maria maupun masyarakat sekitar (sekali pun dalam sudut pandang Allah, Maria sedang mengandung Sang Juruselamat). Karena bagaimanapun, hamil di luar nikah adalah suatu kekejian dan aib bagi seorang perempuan. 

    Tidak mudah untuk menjadi Maria pada saat itu, seandainya kita yang diperhadapkan pada hal itu, akankan kita dapat  tetap bersukacita atau justru hal ini dianggap sebagai musibah?

    Di kisah lain, diceritakan bahwa sanak saudaranya yang bernama Elisabet juga mengandung. Kisah Maria dan Elisabeth sangat berbanding terbalik. Wajar jika Elisabeth bersukacita karena kehamilannya, karena bertahun-tahun Elisabeth menantikan seorang anak tetapi Tuhan tidak kunjung memberi. Di usianya yang semakin senja, justru Tuhan memberikan mukjizat bagi Elisabeth  untuk memiliki keturunan.

    Tetapi bagaimana dengan Maria? Tidak ada hujan maupun angin, dikabarkan hamil sebelum menikah?

    Dari kisah Maria, Kita dapat melihat contoh nyata seseorang yang sangat mengasihi Tuhan. Bukan hanya dalam keadaan tertentu Maria memuji Tuhan, tetapi Maria mau memuji Tuhan di dalam semua keadaan yang terjadi dalam hidupnya, karena : “Maria menyadari, kasih dan penyertaan Tuhan juga tidak hanya hadir di masa atau musim tertentu saja (kasih dan penyertaan Tuhan selalu ada di segala musim hidupnya).

    Saudaraku, pujian dalam Lukas 1:46-56 ini lahir “bukan pada saat Maria mendapatkan sesuatu yang menyenangkan secara daging.” Atau pujian ini lahir “ditengah-tengah pergumulan Maria.” Bukan tentang itu semua, pujian ini lahir sebagai wujud cinta kasih Maria atas kasih dan penyertaan Tuhan di segala musim kehidupannya.

    Refleksi :

    Bagaimana dengan hidup kita? Akankah kita dapat bersukacita dan memuji Tuhan hanya dalam keadaan tertentu? Atau justru sebaliknya? Sekalipun hari-hari ini kita mungkin sedang diperhadapkan pada pergumulan atau tantangan kehidupan, tetapi kita tetap dapat bersukacita dan memuji Tuhan.

    Orang dunia hanya dapat bersukacita ketika mendapatkan hal-hal yang menyenangkan secara daging, Bagi orang percaya hanya satu alasan kita dapat bersukacita, yaitu KARENA TUHAN (sekalipun selama hidup tidak banyak hal yang kita dapatkan).

    Pesan:

    Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  (Inthan). 

  • BETTER THAN CHATTING

    Saudaraku, tidak seperti sesuatu yang kita lakukan sehari-hari, seperti makan, berjalan, dan berbicara, ternyata doa sering bukan menjadi kegiatan yang wajar dan natural bagi orang Kristen. Sebaliknya sebagian orang menganggap : “O doa itu gampang, anggap saja seperti bercakap-cakap dengan Tuhan”; “Seperti chatting saja sudah cukup.”

    Tragedi yang terbesar dalam kehidupan orang Kristen adalah kecenderungan untuk berdoa hanya seperlunya. Doa sedikit saja, seadanya, mungkin dapat disamakan dengan chatting dengan Tuhan: Selamat pagi Tuhan; Terima kasih untuk makanan ini; Terima kasih untuk sehari ini. 

    Faktanya doa lebih sering menjadi ritual chatting dengan Tuhan yang diwajibkan ada dalam diri seorang Kristen. Berdoa cuma sebentar-sebentar, jangan lama-lama karena berdoa itu berat, membosankan, akhirnya menjadi kegiatan yang mudah terlupakan.

    Memang sebagian orang melihat doa hanya sebagai alat untuk meminta, atau sebagai pelarian belaka ketika terjepit, dan tidak melihat doa sebagai suatu jalan komunikasi dengan Tuhan dari hati ke hati yang selalu ada. Memanjatkan doa sebenarnya lebih dari sekadar chatting dengan Tuhan.

    Dalam Lukas 18:2: “ … Ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.” Pengadilan agama yang tertinggi di Israel adalah Sanhedrin Agung, terdiri dari 71 hakim, mereka menganggap diri ahli dalam kitab-kitab nabi PL dan tradisi pengajaran Israel. Tetapi dalam PB, digambarkan perbuatan mereka diwarnai dengan penindasan, korupsi dan bersikap tidak adil. Tidak heran, Dewan Sanhedrin dapat melakukan konspirasi, persekongkolan, bahkan membawa Tuhan Yesus dianiaya dan disalibkan. 

    Di masing-masing kota di seluruh Israel ada dewan Sanhedrin lokal untuk mengadili kasus-kasus pelanggaran agama berdasarkan aturan dan tradisi yang diterapkan semau mereka. Pemerintahan Romawi yang menjajah bangsa Yahudi juga mengutus hakim-hakim dan pemerintah lokal untuk mengadili perkara kriminal dan menjalankan kemauan kaisar Romawi. Mereka dibayar dengan gaji yang sangat tinggi dari perbendaharaan Bait Allah, meskipun mereka orang non Yahudi dan tidak percaya kepada Allah. 

    Hakim yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 18:1-8 tergolong hakim yang ditunjuk pemerintah Romawi. Hakim ini lalim, artinya kejam, tidak adil, sewenang-wenang, korup, dan suka menindas. Suatu gambaran yang biasa saat itu, hakim yang tidak mau mempedulikan kebutuhan rakyat dan masalah-masalah mereka. Ia menjadi hakim hanya supaya dapat gaji yang tinggi dan mendapat kuasa, dan bukan karena mencintai keadilan.

    Di posisi lain ada seorang janda, gambaran rakyat yang ditindas, yang mencari haknya di pengadilan. Zaman itu pengadilan hanya dipenuhi oleh laki-laki, tidak ada perempuan yang pergi ke gedung pengadilan dan menghadap hakim, karena biasanya ada seorang laki-laki yang mewakili atas namanya. Perempuan itu janda dan tidak punya keluarga laki-laki maupun tetangga laki-laki yang bersedia mengajukan permohonan kasusnya. 

    Perempuan itu mewakili golongan masyarakat yang bukan saja miskin dan sangat kekurangan, tetapi juga tidak punya kekuatan, rendah, tidak diketahui siapa keluarganya, tidak dicintai, tidak dipedulikan, dan tidak berpengharapan.

    Perempuan itu terus memohon, minta keadilan, Lukas 18:3: “Belalah hakku terhadap lawanku.” Dia tidak memiliki apa-apa lagi, karena itu tiap hari ia datang kepada sang hakim, agar hak-haknya dipulihkan.

    Semula hakim ini merespons dengan dingin. Dengan gampangnya ia akan menolak dan menghapus kasus perempuan itu tanpa pertimbangan apa pun. Buat hakim itu, menolak tidak berakibat apa pun, tetapi bagi perempuan itu akan sangat kehilangan. Ini sampai beberapa waktu lamanya. 

    Tiba-tiba hakim lalim itu berubah pikiran. Memang ia tidak bertobat dari kejahatannya, tetapi ia sangat terganggu dengan permohonan janda itu yang datang terus menerus. Hakim ini dapat membuat perempuan itu berhenti berbicara, hanya dengan melakukan keadilan, “… supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” (Ayat 5)

    Apa artinya untuk kita? Yesus mengatakan perumpamaan ini untuk menegaskan, bahwa murid-murid-Nya HARUS SELALU BERDOA DENGAN TIDAK JEMU-JEMU,  tidak hanya sekadar chatting. Yesus menggambarkan, bahwa berdoa dengan tidak jemu-jemu adalah seperti seorang janda yang tidak memiliki apa pun, tidak punya kekuatan, tetapi terus menerus memohon. 

    Saudaraku, perumpamaan janda yang selalu memohon ini mengajarkan kita untuk berdoa tanpa lelah, memberikan diri sepenuhnya untuk berdoa dengan kuat, terus teguh meskipun keadaan tetap sulit, tidak kehilangan iman dan pengharapan, karena kita percaya Tuhan akan memberikan perubahan, bukan seperti seorang hakim yang kejam dan tidak adil. (Yohana Ang).

  • Masa Lalu Bukan Penghalang: Menggapai Hidup Baru

    Saudaraku, setiap orang memiliki masa lalu, dengan berbagai kenangan dan pengalaman, baik yang indah maupun yang pahit. Namun, ada kalanya seseorang terjebak dalam masa lalu, membiarkannya menjadi alasan atas sikap dan tindakan yang tidak baik di masa kini. 

    Menyalahkan masa lalu menjadi jalan pintas untuk menghindari tanggung jawab atas perubahan diri. Pola pikir seperti ini tidak sehat dan dapat menghambat pertumbuhan rohani dan emosional, serta membawa dampak buruk pada komunitas atau lingkungan di sekitarnya.

    Bayangkan seseorang yang terus-menerus menyalahkan masa lalu. Ia merasa terjebak dan tidak mampu bergerak maju, beranggapan bahwa luka-luka masa lalu, kegagalan, atau kesalahan yang pernah terjadi menjadi alasan sah untuk perilakunya yang sekarang. 

    Mungkin ia pernah mengalami penolakan yang menyakitkan sehingga kini sulit memercayai orang lain dan membangun hubungan yang sehat. Alih-alih mencari penyembuhan, ia bersembunyi di balik alasan bahwa masa lalu terlalu menyakitkan untuk diatasi.

    Namun, menyalahkan masa lalu bukanlah solusi. Pola pikir ini hanya memperpanjang penderitaan dan menghalangi kita dari menjalani hidup yang penuh dan bermakna. Ini adalah sikap yang berakar pada ketidakmauan untuk mengakui dan menghadapi masalah, serta ketakutan akan perubahan dan pertumbuhan. 

    Terus-menerus menyalahkan masa lalu menciptakan pola pikir yang tidak sehat. Ini menciptakan lingkaran setan di mana seseorang merasa tidak berdaya untuk berubah, terus-menerus mengulangi alasan yang sama untuk tidak bergerak maju. Pola pikir ini tidak hanya merusak hubungan dengan orang lain, tetapi juga dengan diri sendiri dan dengan Tuhan. Ketika kita terus melihat diri kita sebagai korban masa lalu, kita gagal melihat potensi kita untuk menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.

    Dampaknya pada komunitas atau lingkungan pun tidak bisa diabaikan. Seseorang yang terus-menerus menyalahkan masa lalu dapat menyebarkan energi negatif di sekitarnya. Sikap pesimis dan keluhan yang terus-menerus dapat merusak semangat kolektif dan mengurangi produktivitas serta keharmonisan dalam komunitas. Orang-orang di sekitarnya mungkin merasa lelah, frustrasi, dan bahkan terpengaruh secara negatif oleh sikap tersebut. Ini bisa menciptakan atmosfer yang penuh ketegangan dan menghambat pertumbuhan bersama.

    Sebagai orang yang percaya, kita dipanggil untuk hidup dalam kebaruan yang diberikan oleh Kristus. Dalam 2 Korintus 5:17, Paulus menulis, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 

    Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa di dalam Kristus, kita tidak lagi didefinisikan oleh masa lalu kita. Yang lama telah berlalu, dan kita telah diberi hidup baru yang penuh harapan dan kemungkinan.

    Pernytaan Rasul Paulus tersebut mengajarkan kita bahwa transformasi sejati hanya dapat terjadi melalui hubungan kita dengan Kristus. Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita menjadi ciptaan baru. Masa lalu kita, dengan segala dosa dan kesalahannya, dihapuskan dan digantikan dengan identitas baru di dalam Kristus. 

    Untuk menjalani hidup baru ini, kita harus mengakui bahwa masa lalu tidak lagi mendefinisikan kita adalah langkah pertama menuju kebebasan. Kita harus melepaskan diri dari penyesalan, rasa bersalah, dan luka-luka masa lalu dengan percaya bahwa Kristus telah menebus semuanya di atas kayu salib.

    Roma 12:2 mengingatkan kita untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi untuk diperbarui dalam pikiran kita. Pembaruan ini terjadi ketika kita mengisi pikiran dan hati kita dengan Firman Tuhan, membiarkan Roh Kudus bekerja di dalam kita untuk mengubah cara kita berpikir dan merasakan. 

    Saudaraku, mengampuni adalah kunci untuk pembebasan sejati. Matius 6:14-15 mengingatkan kita akan pentingnya mengampuni, sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita. Mengampuni diri sendiri dan orang lain membantu kita melepaskan beban masa lalu dan melangkah maju dengan hati yang ringan.

    Dalam menghadapi orang-orang yang terus-menerus menyalahkan masa lalu, sikap kita juga harus didasarkan pada kasih dan kebenaran. Memaklumi dan mentoleransi tanpa batas bukanlah solusi yang tepat. Kita perlu mengasihi mereka dengan tulus, tetapi juga membantu mereka melihat kebenaran. 

    Ini berarti kita harus berani mengajak mereka untuk melihat bahwa masa lalu tidak harus menjadi penghalang bagi hidup mereka sekarang. Orang-orang ini memerlukan bimbingan untuk mengakui kesalahan, mencari penyembuhan, dan memperbarui diri di dalam Kristus.

    Masa lalu bukanlah penghalang jika kita memilih untuk hidup dalam kebaruan yang diberikan oleh Kristus. Dengan mengakui dan meninggalkan masa lalu, memperbarui pikiran dan hati, mengandalkan kasih karunia Tuhan, dan mengampuni, kita dapat menggapai hidup baru yang penuh dengan harapan dan potensi. 

    Saudaraku, ingatlah selalu bahwa di dalam Kristus, KITA ADALAH CIPTAAN BARU: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Mari kita berjalan dalam kebaruan ini, meninggalkan masa lalu di belakang, dan HIDUP dalam KASIH  dan PENGAMPUNAN  Tuhan. (EBWR).

  • God is Real and Exist

    KITAB MAZMUR. Sahabat sesungguhnya kitab Mazmur merupakan satu kitab pergumulan naik-turunnya emosi dan jiwa manusia; tidak ada yang tersembunyi di situ, kita bisa membaca di dalamnya kehidupan orang-orang saleh yang semuanya terbuka bagi kita. Selain itu  kita juga bisa mendapati diri kita dalam pergumulan tersebut,  kalau memang kita merupakan orang-orang yang bergumul. 

    Tapi yang penting di sini bukan pergumulan itu sendiri, lalu dengan bergumul, kita seakan-akan jadi lebih hebat daripada orang lain karena banyak pergumulan. Kita tidak mempermuliakan pergumulan itu sendiri. Hal yang penting kita pelajari di sini adalah bagaimana seseorang berespons di hadapan Allah, bahwa di dalam segala keadaan relasinya dengan Allah makin dekat dan semakin dekat, dia mengenal Allah dengan lebih baik, dia mengenal dirinya dengan lebih baik, dan dia juga mengenal dunia sekelilingnya dengan lebih baik.

    Sahabat, Mazmur 14 sangat mirip dengan Mazmur 12, sebuah mazmur yang menguatkan orang-orang benar yang minoritas, yang keadaannya di bawah, tidak punya kekuatan. Di sini juga ada semacam kontras antara kebebalan dan bijaksana; dalam pengertian paradoksal, apa yang dilihat Tuhan dengan yang dilihat dunia itu berbeda, yang biasanya dianggap hebat ternyata di hadapan Tuhan sebetulnya bodoh/bebal. 

    Sebaliknya, orang yang hidup bergantung kepada Tuhan, dari mata dunia kelihatan seperti orang-orang bodoh, yang tidak berjuang, yang tidak punya kemampuan, tapi itulah orang-orang yang bijaksana menurut Tuhan.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “God is Real and Exist” (Tuhan itu Nyta dan Ada). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 14:1-7. Sahabat, mengapa kejahatan terus merajalela? Jawabannya karena manusia tidak lagi takut akan Allah, bahkan tidak percaya akan keberadaan Allah. Mungkin mereka tidak lagi percaya kalau Allah itu ada dan nyata.

    Pemazmur mengungkapkan bahwa orang bebal tidak mengakui keberadaan Allah di dalam hatinya (Ayat 1). Tidak ada kebaikan di dalam perbuatan mereka (Ayat 2). Tidak ada satu pun yang mencari Allah dan tidak ada yang berbuat baik (Ayat 3). Mereka tidak menyadari keberadaan Allah dan menikmati setiap perbuatan jahat mereka (Ayat 4), dan mereka tidak menyadari penyertaan dan perlindungan Allah atas umat-Nya (Ayat 5-6).

    Menyangkali keberadaan Allah membuat manusia hidup di luar kebenaran. Manusia makin percaya diri untuk melakukan apa yang menjadi kehendak pribadinya. Mereka berpikir bahwa perbuatan mereka benar dan baik, tetapi tidak ada hal baik yang berasal dari hati yang penuh dengan dosa. Hati yang dipenuhi dosa, akan tampak dari perbuatan. Semua yang bersumber dari dosa pasti menghasilkan perbuatan dosa. Inilah yang membuat kejahatan terus ada. Mereka menyangka Allah tidak ada sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati mereka.

    Sahabat, ketidakpercayaan mereka terhadap keberadaan Allah juga membuat mereka tidak takut pada hukuman Allah. Mereka melakukan berbagai kejahatan tanpa rasa takut dan gentar sedikit pun. Padahal, pada kenyataannya Allah itu ada. Keselamatan-Nya bagi orang percaya dan keadilan-Nya atas dosa adalah kebenaran yang pasti akan terlaksana. Pada waktu-Nya nanti, keselamatan kekal akan dinyatakan bagi orang percaya dan hukuman kekal bagi mereka yang hidup menyangkal Allah.

    Kita patut bersyukur karena kita adalah orang-orang yang hidup dalam anugerah Allah. Kita diizinkan untuk mengenal Allah dan hidup di dalam keselamatan-Nya. Inilah alasan mengapa kita harus hidup sebagai orang benar dan bukan seperti orang bebal.

    Sahabat, mari kita hidupi sikap takut akan Allah dengan mengerjakan keselamatan yang sudah dianugerahkan Allah bagi kita, hingga semua orang menyaksikan dan mengakui karya Allah yang nyata dalam hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apakah Sahabat yakin Allah itu ada dan terus berkarya hingga saat ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Percayalah bahwa Allah itu sungguh ada dan Dialah satu-satunya sumber keselamatan kita. (pg).

  • GEREJA MULA-MULA

    Saudaraku, zaman Tuhan Yesus mengajar di dunia, tidak ada gereja, tapi hanya ada Bait Suci, yang di Alkitab disebut Bait Allah. Ada dua Bait Suci di Yerusalem:

    Pertama, Bait Salomo atau Bait Suci Pertama dibangun sekitar abad ke-10 SM untuk menggantikan Kemah Suci. Bangunan ini dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar  pada tahun 586 SM.

    Kedua, Bait Suci Kedua dibangun setelah bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel, sekitar tahun 536 SM, selesai pada 12 Maret tahun 515 SM. Kemudian Raja Herodes Agung melakukan perluasan bangunan sekitar tahun 19 SM.

    Sedangkan Yesus Kristus disalib antara tahun 30-33 M (beda penghitungan kalender). Menurut penanggalan Yahudi, disalib tanggal 14 Nisan, beberapa jam sebelum hari Paskah Yahudi dirayakan, 15 Nisan yang dimulai pada jam 18:00. Paskah Yahudi pada hari Sabat atau Sabtu.

    Yohanes  20:1 mencatat:  “Pada hari pertama minggu itu (berarti hari Minggu), pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, …”  Tuhan Yesus bangkit.

    Kisah Para Rasul 1:3  mencatat:  “ … selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri …”

    Kisah Para Rasul  2:1-3 mencatat: “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat … lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.”

    Kisah Para Rasul 2:14 mencatatat:  Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, …”

    Jadi data tentang gereja mula-mula dapat diketahui: Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta, atau hari ke-50 setelah Tuhan Yesus bangkit. Hari ke-50 adalah hari Minggu tahun 33 Masehi, bukan hari Sabat atau Sabtu.  Tempat dicurahkannya Roh Kudus bukan di Bait Allah, tapi di satu tempat di Yerusalem.  SedangkanPetrus berkhotbah, ada kira-kira 3.000 orang bertobat dan dibaptis. Siapa anggota pertamanya? Sesuai Kisah Para Rasul 2:5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.

    Cerita selanjutnya:

    Kisah Para Rasul 2:42-43 mencatat:  “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul … selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa … sedang rasul-rasul mengadakan banyak mujizat dan tanda.”

    Kisah Para Rasul 3:1 mencatat:  “Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah.” Mereka pergi ke Bait Suci Yerusalem.

    Kisah Para Rasul  4 mencatat:  Petrus dan Yohanes berkhotbah di Bait Allah, akhirnya ditahan oleh imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. Mulailah terjadi penekanan terhadap gereja mula-mula.

    Kisah Para Rasul  6 mencatat:  Para rasul mengangkat 7 orang untuk melakukan pelayanan kepada jemaat, sedangkan rasul-rasul memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman. Inilah 7 orang anggota majelis gereja yang pertama, bukan dari kalangan orang Lewi.

    Kisah Para Rasul 7 mencatat:  Stefanus, salah seorang majelis pertama, berkhotbah dan mendapatkan perlawanan dari Mahkamah Agama. Akhirnya Stefanus ditangkap, dihukum mati dirajam batu.  Tahunnya dicatat di Wikipedia: tahun 34 Masehi.

    Selanjutnya  Kisah Para Rasul 8:1 mencatat:  Mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Dengan kata lain gereja mula-mula mulai menyusut jemaatnya, hanya rasul-rasul yang tertinggal. 

    Informasi dari Wikipedia selanjutnya, 

    Pada tahun 48 M ada sidang di Yerusalem – sesuai Kisah Pata Rasul 15. Antara tahun 64-67 M Petrus dan Paulus ditangkap di kota Roma dan dihukum mati.

    Akhirnya pada tanggal 4 Agustus 70 Masehi Bait Allah di Yerusalem dihancurkan oleh tentara Romawi di bawah Jenderal Titus. Tentu saja gereja mula-mula juga ikut bubar dan jemaatnya melarikan diri ke tempat-tempat lain.

    Saudaraku, coba perhatikan:  Umur gereja mula-mula, berdiri tahun 33 M, masa jaya, hingga mulai ada penganiayaan pada 34 M, masih bertahan hingga 48 M, akhirnya bubar pada tahun 70 M. Umur totalnya hanya sekitar 37 tahun.

    Jika gereja mula-mula tetap bertahan di Yerusalem, tidak ada aniaya yang hebat, maka tidak ada jemaatnya yang melarikan diri ke tempat-tempat lain, ke seluruh dunia, namun tetap sambil memberitakan Firman Tuhan.  Hal tersebut sesuai sabda Tuhan Yesus Kristus: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” (Matius 28:19)

    Saudaraku, memang, pemberitaan Firman Tuhan ke segala bangsa memerlukan upaya dan pengorbanan yang besar dan sungguh-sungguh, seperti yang dilakukan oleh jemaat gereja mula-mula. (Surhert). 

  • MENABUR DOA

    Saudaraku,  Minggu sore kemarin aku bertemu dengan seorang ibu yang menjadi anggota tim doa suatu gereja besar di Jakarta yang setiap kebaktian minggunya dihadiri lebih dari 3.000 orang di Jakarta saja, belum yang di cabang. Ibu ini penampilannya biasa-biasa saja, ya seperti jemaat umumnya, namun dia rajin seminggu sekitar dua kali datang ke gereja untuk berdoa, sesuai jadwal doa yang dipilihnya, yakni sepanjang 2 jam per sesi, dan hebatnya sesi ini ada di sepanjang hari. Jadi Si Ibu bisa memilih jam doa mana yang cocok.

    Apa yang didoakan? Ya untuk kegiatan-kegiatan gereja sepanjang minggu, program gereja, dan yang terutama untuk kebaktian umum yang akan berlangsung di hari Minggu nanti, mohon dipenuhi kuasa Roh Kudus, Firman Tuhan bisa lancar disampaikan, tidak ada gangguan dari si Iblis, jemaat yang datang mendengar Firman dan pulangnya bisa bersyukur. Ya pokok-pokok doa ini seperti yang gereja kita doakan, hanya saja mungkin tidak rutin setiap hari, bahkan setiap dua jam dalam sehari.

    Nah Si Ibu lalu sharing. “Pak, doa itu seperti menabur. Jadi kalau kita doa setiap saat, maka kita itu menabur, jadi kita akan siap mendapatkan hasil panennya.”

    Wah …, aku kok agak bingung ya, karena di Alkitab tidak ada kata-kata yang mengaitkan doa dengan menabur. Di Alkitab, jika kita cari kata “menabur” akan dijumpai dalam 40 ayat, dengan pembagian kelompoknya:

    Kata menabur digunakan  dalam kaitan bercocok tanam 13 ayat. Kata menabur sebagai bentuk kiasan atau metafora 19 ayat.. Kata menabur yang dipergunakan oleh Tuhan Yesus sewaktu mengajar 8 ayat.  Tapi tidak tidak ada kata menabur yang dikaitkan dengan hal berdoa. 

    Saudaraku, kita melihat Stefanus (Kisah Para Rasul 6-7) yang penuh dengan karunia dan kuasa, bahkan saat Stefanus disidang oleh Mahkamah Agama yang hadir melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat. Namun akhirnya Stefanus dirajam batu, Stefanus tetap berdoa: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia. Jadi Stefanus tetap kokoh berdoa hingga mati dirajam batu.

    Jeanne d’Arc (6 Januari 1412 – 31 Mei 1431), pahlawan Perancis, dieksekusi dengan dibakar di muka umum terutama karena mencela ajaran gereja saat itu yang menyimpang. Saksi mata menggambarkan suasana eksekusi, terikat pada tiang tinggi, Jeanne meminta dua petugas, untuk memegang salib di belakangnya. Seorang prajurit Inggris juga membuatkan salib kayu untuk ditempatkan di dadanya. Jeanne berulangkali berkata dengan suara keras menyebut nama Yesus dan memohon dan berdoa tanpa henti untuk bantuan orang suci dari surga. Mati syahid dibakar di depan umum, dalam kondisi berdoa.

    Saudaraku, jadi kalau kita menabur doa dengan tujuan agar dapat menuai hasil panen berupa harta benda atau kesembuhan/kelepasan secara langsung, ya siap-siaplah kita akan mendapatkan kekecewaan yang sangat dalam, dan jangan menuduh Tuhan tidak mendengarkan doa-doa yang seperti itu.

    Perhatikan beberapa ajaran Alkitab tentang berdoa, antara lain: Matius 26:41: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Maksudnya:  Berdoa supaya tidak mudah jatuh dalam pencobaan.

    Mazmur 32:6: “Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui.”  Efesus 6:18: “Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya.” Maksudnya: Tekunlah berdoa.

    Yesaya 16:6 dan 12: “Kami telah mendengar tentang keangkuhan Moab, alangkah angkuhnya dia, tentang kecongkakannya, keangkuhannya dan kegemasannya, dan tentang cakap anginnya yang tidak benar. Maka sekalipun Moab pergi beribadah dan bersusah payah di atas bukit pengorbanan dan masuk ke tempat kudusnya untuk berdoa, ia tidak akan mencapai apa-apa.”  Maksudnya: Kalau hidup tetap fasik, ya percuma saja bila berdoa.

    Yesaya 59:1-2:  “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”  Maksudnya: Mohon ampun dulu kepada Tuhan, karena dosa menghalangi doa kita. (Surhert).

  • Believe in the Faithful Love of God

    MATANYA TIDAK BERCAHAYA. Sahabat, kalau kita membaca Mazmur 13, Pemazmur memulai doanya dengan pertanyaan “Berapa lama lagi Tuhan?” Pertanyaan itu diulangi sampai lima kali dalam 6 ayat. Hal itu menunjukkan betapa kuatnya perasaan Pemazmur seolah-olah dirinya ditinggalkan Allah. Artinya, derita yang dirasakan Pemazmur sangat berat dan sudah mencapai batas yang dapat ditanggungnya.

    Sebenarnya apa pokok masalah yang sedang dihadapi Pemazmur? Apakah dirinya sakit parah? Apakah nyawanya terancam? Ternyata tidak. Jika demikian, mengapa Pemazmur mengatakan MATANYA TIDAK BERCAHAYA ? Bila mata Pemazmur tidak bercahaya, hal itu berarti Allah tidak bersama dengannya. Apakah benar Allah sudah tidak menyertai Pemazmur?

    Sahabat, Mazmur 19:9 menyatakan bahwa mata seseorang akan bercahaya karena firman Tuhan. Jika dilihat dari sudut pandang Mazmur 19:9, maka ungkapan Pemazmur menunjukkan bahwa Allah tidak lagi berfirman kepadanya. Tidak adanya firman Allah itulah yang membuat hati Pemazmur goyah. Ia seolah-olah kehilangan pegangan dan tuntunan hidup karena selama ini hidupnya berlandaskan pada firman Allah. Itulah alasannya pemazmur meratap, “Berapa lama lagi Tuhan?”

    Ada batas kekuatan manusia untuk bertahan menghadapi persoalan hidup. Jika kita merenungkan ungkapan hati Daud dalam kitab Mazmur ini, tentu kita dapat menarik kesimpulan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Ya, Daud merasa sangat lelah dan tidak mampu lagi menghadapi beragam persoalan yang bertubi-tubi menimpanya.

    Syukut kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Believe in the Faithful Love of God (Percaya Kepada Kasih Setia Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 13:1-6 dengan penekanan pada ayat 6-a. Sahabat, doa Pemazmur dalam bacaan kita pada hari ini berisi banyak pertanyaan: “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus menerus?”;  “Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku?”; “Berapa lama lagi aku harus menaruh kekhawatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?”;  “Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?”.  

    Bukankah doa-doa seperti itu juga yang sering kita ucapkan kepada Tuhan untuk menyatakan ketidakmampuan kita mengatasi persoalan hidup? Menurut saya, ungkapan hati seperti ini sangat wajar muncul dalam pikiran atau ucapan kita. Daud pun merasa seolah-olah Tuhan meninggalkannya. Tetapi, satu ucapan terakhir yang patut kita cermati dan kita teladani: Daud tetap menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan! Itulah yang membuatnya dapat bertahan dan tampil sebagai pemenang pada akhirnya.

    Apakah yang memampukan Daud bertahan? KASIH SETIA TUHAN.  Kasih setia-Nya menyediakan perlindungan dan kekuatan baginya sehingga ia mampu bertahan jauh melampaui batas kemampuannya sebagai manusia. 

    Begitu juga, di tengah pergolakan badai hidup, Sahabat,  dan saya dapat mengandalkan kasih setia Tuhan. Dia tidak akan membiarkan kita tergeletak, tetapi kita akan menyaksikan kuasa-Nya menolong dan meneguhkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ungkapan: “Matanya tidak bercahaya”?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa kasih setia Tuhan, dengan apakah kita akan bertahan dalam menghdapi berbagai persolan hidup? (pg).

  • Spiritual Nourishment (Memaknai Pertumbuhan Rohani Berdasarkan 1 Petrus 2:2-3)

    Dalam kehidupan sehari-hari, istilah “stunting” sering digunakan untuk menggambarkan kondisi dimana anak-anak mengalami gangguan pertumbuhan fisik akibat kurangnya asupan gizi yang memadai. Stunting menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dari rata-rata anak seusianya dan dapat berdampak negatif pada perkembangan kognitif serta kesehatan mereka di masa depan. 

    Namun, tahukah kita bahwa ada juga yang disebut “stunting rohani”? Sama seperti tubuh fisik yang membutuhkan nutrisi yang tepat untuk tumbuh dan berkembang, demikian juga kehidupan rohani kita. Kita memerlukan “nourishment” atau nutrisi rohani yang sesuai untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan.

    Dalam 1 Petrus 2:2-3, Rasul Petrus menulis, “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.” Ayat ini mengandung makna yang sangat mendalam tentang kebutuhan kita akan makanan rohani yang murni dan tepat untuk bertumbuh dalam iman.

    Bayangkan seorang bayi yang baru lahir. Seorang bayi sangat bergantung pada susu untuk tumbuh dan berkembang. Susu memberikan semua nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik dan kesehatan bayi. Dalam konteks rohani, kita adalah bayi-bayi yang baru lahir yang memerlukan air susu rohani yang murni – Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah sumber nutrisi utama yang kita butuhkan untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan.

    Namun, tidak sedikit orang Kristen yang mengalami “stunting rohani.” Mereka mungkin telah lama berada di gereja, tetapi pertumbuhan rohani mereka stagnan. Mereka tidak lagi haus akan Firman Tuhan seperti seorang bayi yang selalu ingin akan susu. Mereka puas dengan pengetahuan yang dangkal dan tidak mencari kedalaman yang lebih dalam dalam pengenalan akan Tuhan. Kondisi ini mirip dengan anak yang mengalami stunting fisik; meskipun secara fisik mereka tampak ada, tetapi mereka tidak berkembang dengan semestinya.

    Salah satu penyebab stunting rohani adalah kurangnya asupan Firman Tuhan yang murni dan berkualitas. Kita mungkin terlalu sibuk dengan rutinitas sehari-hari sehingga melupakan waktu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Atau mungkin kita lebih sering terpapar pada “junk food” rohani – pengajaran-pengajaran yang tidak berdasarkan kebenaran Alkitab atau yang hanya memberikan kenyamanan sesaat tanpa menantang kita untuk bertumbuh.

    Selain itu, stunting rohani juga bisa disebabkan oleh kurangnya komunitas yang mendukung pertumbuhan rohani. Seperti bayi yang membutuhkan perhatian dan dukungan dari orang tuanya, kita juga membutuhkan komunitas orang percaya yang saling membangun dan menguatkan. Tanpa komunitas yang sehat, kita bisa kehilangan semangat untuk bertumbuh dan berkembang dalam iman.

    Petrus mengingatkan kita bahwa kita harus selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani. Ini berarti kita harus terus menerus mencari dan mengonsumsi Firman Tuhan dengan kerinduan yang besar. Kita perlu menjadikan pembacaan dan perenungan Firman Tuhan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. Hanya dengan demikian kita bisa bertumbuh dan beroleh keselamatan.

    Spiritual Nourishment atau nutrisi rohani adalah konsep yang sangat penting dalam kehidupan iman kita. Sama seperti tubuh fisik yang memerlukan makanan yang sehat dan bergizi untuk bertumbuh, demikian juga roh kita memerlukan makanan rohani yang murni dan berkualitas – Firman Tuhan. 

    Saudaraku, stunting rohani adalah kondisi yang serius dan perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan. 

    Marilah kita mengambil waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan, mencari komunitas yang mendukung, dan selalu haus akan pertumbuhan rohani. Dengan demikian, kita dapat menghindari stunting rohani dan mencapai potensi penuh yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Amin. (EBWR)

  • RUMAH MAKAN PRASMANAN SEDERHANA

    Letaknya di jalan raya ke Kawasan industri Cikarang di Jawa Barat. Berdiri sejak tahun 1986, buka dari jam 09.00 hingga 20.00, ada 20-an karyawan dan juru masak, ruang tidak pakai AC cukup kipas angin, meja kayu dan kursi plastik, juga punya fasilitas pendukung seperti beberapa toilet dan washtafel, dan hingga hari ini menjadi suatu ikon untuk rumah makan yang murah meriah di kawasan itu, favorit bagi ribuan karyawan dan direksi yang pernah bersantap di situ.

    Hidangannya sederhana saja, ada hampir 40 lauk yang dimasak enak dan gurih. Orang yang datang ambil piring sendok sendiri, mencedok nasi putih atau merah sendiri, dan mengambil sendiri hidangan-hidangan yang disajikan, boleh banyak atau sedikit, asal jangan tidak dihabiskan. Selesai santap tinggal lapor ke pemilik apa saja yang disantap, dan si ibu menghitung dengan menggunakan kalkulator, ditunjukkan ke pembeli dan kemudian membayar kontan. Kalau ada lauk yang dimakan dan lupa lapor, jika bersantap lagi ya tinggal bilang tempo hari lupa lapor lauk ini, lalu kekurangan akan ditambahkan.

    Kami sekeluarga bila berkunjung ke Bandung dari Jakarta tidak lewat tol MBZ, nyaris selalu santap siang di sini. Anak-anak sudah hafal apa menu favoritnya, cumi dan sotong, rempeyek dan sate udang, macam-macam sayur terutama tumis jamur, gorengan lengkap dan krupuk, per orang sekitar Rp 35.000. Saya ingat di tahun 1986 jika santap dengan menu nasi, daging, sayur, krupuk, teh botolan dan es krim harganya Rp 11.000, dan kini sekitar Rp 40.000.

    Rumah makan prasmanan sederhana ini demikian diberkati Tuhan, dan pemiliknya bisa memiliki lahan yang luas, membangun mushola yang bersih di situ, dan sekitar 100 meter juga ada mesjid yang warna corak hiasannya sama seperti mushola, tetapi si pemilik warung bilang itu dibangun ramai-ramai oleh warga. Dan setiap Jumat pasti ada puluhan nasi box diletakkan di tangga masjid, diambil oleh anak-anak kecil dibawa pulang, – isinya nasi, satu daging, dan satu lauk sayur seperti di rumah makan, sedangkan umat yang dewasa nampaknya tidak ada yang mengambilnya. Nah ini, tidak ada pengemis atau pengamen di daerah itu, jadi kehidupan warga nampak berkecukupan.

    Sering aku berpikir kalau saat santap di situ, mengapa di gerejaku jarang ada orang yang sedemikian berhati sosial seperti pemilik rumah makan. Untuk kolekte dan sumbangan pembangunan gereja mesti Pak Pendeta mengingatkan jemaat setiap minggu, itupun sering dibumbui bahwa memberikan persembahan itu seperti orang yang menabur, lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat. (Markus 4:20).

    Juga ayat ini sering dikutip, 2 Korintus 9:7: Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

    Wajib dikhotbahkan setahun sekali saat presentasi anggaran untuk tahun depan, yakni dari Maleakhi 3:11: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”

    Wah jadi untuk memberikan persembahan mesti warga jemaat dimotivasi, terutama karena ada imbalannya dari Tuhan, padahal segala persembahan itu digunakan untuk operasional gereja dan gaji rohaniwan yang ada di dalamnya.

    Apalagi jika mesti menyediakan konsumsi atau makanan kecil tiap minggu bagi jemaat usai bubaran kebaktian, mesti diabsen dulu siapa yang mau menyumbang dan untuk periode berapa lama. Bahkan di gereja sebelah baru-baru ini ada pengedaran kupon Rp 25.000 per lembar untuk dana pembangunan dan di akhir tahun akan diadakan lucky draw dengan hadiah utama pelesir ke Holy Land, kulkas, sepeda listrik, dan lain-lain maksudnya agar banyak yang menyumbang dan anggaran pembangunan dapat dipenuhi.

    Nampaknya di lingkungan gerejaku untuk managemen persembahan kok cukup rumit dan mesti melibatkan banyak orang.

    Saudaraku, yakin percayalah, jika kita bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai ajaran Alkitab, yakni menghasilkan produk atau jasa yang baik kualitasnya, pas timbangannya, tidak menipu bahan-bahan atau materialnya dan tidak memeras buruh, maka mata Tuhan akan melihat apa yang engkau buat. Dan sangat mudah bagi Tuhan untuk menurunkan berkat, sesuai Firman Tuhan: Mazmur 115:11-13: “Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! — Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. TUHAN telah mengingat kita; Ia akan memberkati … orang-orang yang takut akan TUHAN, baik yang kecil maupun yang besar.” (Surhert).

  • TURUN LAYAR

    Ini tentang salah satu company terpanjang usianya di dunia, namanya The Royal Mint (TRM), ada di Kerajaan Inggris. Berdiri sejak tahun 886 Masehi (DCCCLXXXVI) pada abad ke-9, merupakan perusahaan pembuat koin bagi Kerajaan Inggris (UK, United Kingdom). Lokasi perusahaan dari semula satu komplek dengan istana Kerajaan, ada di bagian belakang, menerbitkan uang logam koin resmi yang dipakai transaksi, dan atas perintah Raja diedarkan oleh Bendahara Negara atau Treasury ke berbagai pelosok negeri, bahkan ke seluruh dunia. Ini dilakukan selama beratus-ratus tahun, sejak tahun 886, sudah 1.138 tahun hingga tahun 2024.

    Setiap Kerajaan pasti memiliki dan mengedarkan uang sendiri, terutama uang logam koin sebelum penggunaan uang kertas menjadi lazim. Bentuk koin berbagai macam, umumnya bundar, ada pula yang kotak, dan materialnya paling umum dari nickel karena tahan lama dan mengkilap (di Indonesia Rp1000 koin). Ada juga uang dari logam emas dan logam perak, dipakai untuk koin pecahan besar, sedangkan copper (tembaga) dan brass (kuningan) bersama nickel dipakai untuk koin pecahan kecil guna transaksi sehari-hari.

    Uniknya koin produksi TRM bisa turun temurun dipakai oleh Raja-raja Inggris dari tahun 886 hingga hari ini, terutama karena Wangsa atau dinasti Kerajaan Inggris runut turun temurun, tidak ada pergantian kekuasaan. Di negara atau kerajaan-kerajaan lainnya memiliki koin sendiri, namun jika terjadi pergantian kekuasaan atau negara dijajah oleh negara lain maka pemerintah baru umumnya mengganti koin dan diproduksi oleh anak buahnya sendiri, dan celakanya para pembuat koin jaman sebelumnya sering dibinasakan atau dibunuh dengan maksud agar tidak bisa menerbitkan koin palsu di jaman pemerintah baru.

    Ada Direktur TRM yang sangat terkenal, yakni fisikawan Sir Isaac Newton (25 Des 1642 – 20 Mar 1726/27 –beda kalender Julian dan Gregorian) yang menjabat sebagai Direktur atau Master of Mint sejak tahun 1699 hingga akhir hayatnya. TRM sendiri juga menjadi pemasok dan eksportir uang logam ke lebih dari 60 negara setiap tahunnya, juga memproduksi bullion atau logam emas.

    Nah ada berita yang mengejutkan pada bulan April 2024, ternyata divisi pembuatan koin TRM turun layar, bukan bangkrut, alasan utamanya karena pesanan koin dari negara-negara pelanggannya jauh menurun, harga logam material naik tajam, dan produksinya terkenal awet bagus jadi bisa digunakan bertahun-tahun tanpa perlu diganti, juga HM Treasury UK tidak memesan lagi koin karena transaksi yang menggunakan koin banyak beralih menjadi digital, tidak perlu uang logam koin.

    Saudaraku, perhatikan, itu company milik Raja Inggris yang umurnya 1.138 tahun ternyata turun layar di tahun 2024. Nah kalau gereja, yang katanya milik Tuhan, bisa berlangsung kekal tidak bakalan tutup? Siapa bilang? Di Eropa, Amerika dan Australia kita melihat puluhan bahkan ratusan gereja tutup, lalu gedungnya diambil alih pemerintah sebagai ikon budaya masa lalu dan untuk pembiayaan maintenance maka pemerintah mengenakan “church tax” bulanan kepada warga.

    Bagaimana supaya  gereja tidak  turun layar bahkan semakin beretumbuh? Masing-masing gereja harus berdoa dan berjuang untuk menjadi JEMAAT YANG DISUKAI BANYAK ORANG. Untuk itu mari kita merenung Kisah Para Rasul 2:38-47 dengan penekanan pada ayat 47. 

    Saudaraku, beragam usaha manusia agar diri mereka disukai. Ada yang mati-matian menjaga penampilan fisiknya. Sebagian berupaya agar populer. Cukup banyak pula yang bermurah hati dan berbagi dengan banyak orang. Ada yang selalu melontarkan lelucon dan banyak bercanda. Namun kerap usaha-usaha ini berakhir dengan kekecewaan. Sebab relasi yang terjalin bersifat dangkal dan tidak permanen.

    Cerita berbeda dengan jemaat mula-mula. Bukan hanya satu atau dua jemaat saja yang disukai, melainkan segenap kelompok mereka. Padahal biasanya orang tidak suka dengan kumpulan orang bila dirinya tidak tergolong ke dalam kumpulan itu. Orang juga sering merasa terganggu jika ada kelompok, apalagi kelompok besar, mengadakan acara yang asing bagi mereka. 

    Apakah rahasianya sehingga jemaat mula-mula bahkan semakin bertambah jumlahnya? Mereka ternyata telah bertobat dan menerima karunia Roh Kudus (Ayat 38). Kesatuan dan saling berbagi terus terpelihara (Ayat 44). Juga senantiasa mengenang dan bersyukur atas pengorbanan Kristus yang menebus dosa (Ayat 46). Selain itu, mereka hidup tulus, tidak punya agenda terselubung agar diri mereka diuntungkan dan disukai.

    Jika diri kita atau gereja tidak bertumbuh, patutlah kita becermin kepada jemaat mula-mula. Benar bahwa kita tidak bisa meniru sepenuhnya kehidupan orang percaya yang pernah sukses di masa silam. Namun kita dapat meneladani jemaat mula-mula yang mengejar KASIH YANG TULUS. Kasih itu muncul oleh pengenalan dan relasi mereka dengan Kristus Yesus.   

    Saudaraku, rahasia menjadi diri dan jemaat yang bertumbuh adalah mengenal Yesus melalui doa dan pembacaan Alkitab, serta mengembangkan kasih yang tulus kepada semua orang. (Surhert).