Category: Sejenak Merenung

  • Menggali Kehausan yang Sejati

    Saudaraku, Pada suatu pagi yang tenang, seorang laki-laki berjalan sendirian di tengah padang pasir yang luas. Matahari mulai menyengat, dan rasa haus perlahan-lahan menggerogoti tenggorokannya. Di kejauhan, dia melihat kilauan air. Dengan penuh harap, dia bergegas menuju kilauan itu, berharap menemukan oase yang akan menyegarkan tubuhnya yang lelah. Namun, saat dia tiba, harapannya hancur. Kilauan itu hanyalah fatamorgana, ilusi yang menipu matanya. Tak ada air, hanya pasir yang semakin menambah rasa hausnya.

    Kisah laki-laki di padang pasir ini bisa menjadi gambaran kehidupan banyak orang di zaman sekarang. Kita hidup di dunia yang menawarkan banyak sekali kilauan: Kekayaan, popularitas, dan kesenangan instan, yang terlihat seolah-olah bisa memuaskan kehausan kita. Namun, kenyataannya, semua itu seringkali berakhir seperti fatamorgana, meninggalkan kita dengan kehausan yang lebih dalam dan rasa kecewa yang tak terhindarkan.

    Di dalam kitab Yeremia, Tuhan menyampaikan keluhan-Nya terhadap umat-Nya: “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor yang tidak dapat menahan air” (Yeremia 2:13). 

    Ayat tersebut menggambarkan bagaimana umat Israel, dalam upaya mereka mencari kepuasan, justru menjauh dari Tuhan dan memilih untuk menggali “kolam-kolam bocor” yang tak mampu memuaskan dahaga mereka.

    Kolam-kolam bocor ini bisa berbentuk apa saja dalam hidup kita. Mungkin itu ambisi yang tak ada habisnya untuk mencapai puncak karier, keinginan untuk memiliki harta yang melimpah, atau pencarian tanpa akhir akan pengakuan dari orang lain. Kita mungkin berpikir bahwa jika kita bisa mencapai hal-hal ini, kita akan bahagia dan puas. Tetapi, seperti halnya laki-laki di padang pasir, kita seringkali menemukan bahwa apa yang kita kejar ternyata tidak lebih dari ilusi. Bukannya merasa puas, kita justru semakin haus, merasa ada yang kurang, dan akhirnya, kita hanya merasa lebih lelah dan hampa.

    Namun, di tengah kehausan ini, ada kabar baik. Tuhan menyebut diri-Nya sebagai “sumber air yang hidup.” Dia adalah satu-satunya yang bisa benar-benar memuaskan kehausan terdalam dalam jiwa kita. Seperti yang dikatakan Yesus kepada perempuan Samaria di sumur, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yohanes 4:14). Air kehidupan yang ditawarkan Tuhan ini bukanlah ilusi, melainkan sesuatu yang nyata dan kekal.

    Mungkin dalam hidup kita, kita sudah terlalu sering menggali kolam-kolam bocor, berharap mendapatkan kepuasan dari hal-hal duniawi yang sementara. Tetapi, ketika kita berbalik kepada Tuhan dan minum dari air kehidupan-Nya, kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar. Kepuasan yang Dia berikan bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan dalam kekayaan, ketenaran, atau hal-hal duniawi lainnya, melainkan kedamaian sejati, sukacita yang tak tergoyahkan, dan kasih yang tidak bersyarat.

    Sebagai manusia, wajar jika kita merasa haus, baik secara fisik maupun rohani. Tetapi, penting bagi kita untuk menyadari ke mana kita mengarahkan kehausan itu. Apakah kita akan terus mengejar fatamorgana yang tidak pernah bisa benar-benar memuaskan, ataukah kita akan datang kepada sumber air yang hidup, yang siap memberikan kepuasan sejati?

    Saudaraku, ketika kita memilih untuk menggali kehausan yang sejati, yakni mencari Tuhan dan mendekat kepada-Nya, kita akan menemukan bahwa apa yang kita butuhkan bukanlah hal-hal yang sementara, melainkan hubungan yang mendalam dengan Sang Pencipta. Di situlah kita akan menemukan air yang memuaskan, yang tidak pernah habis dan selalu tersedia, tidak peduli seberapa kering padang gurun kehidupan kita. (EBWR).

  • GAGAH MENGHADAPI MASALAH

    Saudaraku, ada tiga mekanisme yang umum dilakukan manusia untuk menyelamatkan dirinya dari tekanan berat dalam hidupnya, yaitu melarikan diri, menyalahkan pihak lain atau menyeret orang lain bersamanya.  Namun Yesus tidak mengambil ketiga mekanisme itu saat Ia berhadapan dengan masalah dan tekanan yang berat.  Mari renungkan Yohanes 18:1-11.

    Cara bertutur penulis Injil Yohanes memang unik. Dibandingkan dengan ketiga penulis Injil yang lain, Injil Yohanes lebih detail menjelaskan proses penangkapan Yesus yang penuh drama, tanpa ciuman Yudas sebagai petunjuk keberadaan-Nya.  Yesus langsung berhadapan dengan aparat bersenjata dan terus terang mengakui diri-Nya.  Dalam peristiwa itu makin nampak karakter Kristus yang gagah berani yang diidentifikasi dalam dua sikap-Nya :

    Pertama: Mengakui identitas kepada aparat bersenjata yang mencari-Nya.

    Yesus tahu apa yang akan Ia hadapi kalau Ia mengakui dirinya sendiri. Ia tak mengelak atau melarikan diri dari konsekuensi itu.  Ia menunjukkan kepada para pengiku-tNya tentang keberanian yang sejati, walau beberapa jam setelah itu Petrus tak mampu meneladani-Nya (Yohanes 18:17, 25, dan 27).

    Kedua: Meminta agar para pengikutnya tidak dilibatkan dalam ketegangan itu.  

    Ketegangan-ketegangan yang terjadi sebelumnya dengan para pemimpin agama membuat Yesus menyadari dampak negatif dari pelayanan-Nya dan Dia sadar semua orang di sekitarnya akan terdampak karena-Nya,  maka Ia meminta supaya para aparat itu hanya berurusan dengan Dia saja dan membiarkan para murid itu pergi (Yohanes 18:8).

    Alih-alih lari dari masalah, menyalahkan orang lain atau bahkan menyeret pengikut-Nya masuk dalam pusaran masalah yang dihadapi-Nya, Yesus  malah menunjukkan sisi gagah-Nya dengan keberanian menghadapi dan melindungi mereka.  Sikap ini kontras dengan Adam dan Hawa yang saling seret saat diminta pertanggung jawaban perbuatannya mengambil buah pengetahuan baik dan jahat (Kejadian 3:11-13), sikap umum manusia yang terdesak.

    Yesus meneladankan kepada para pengikut-Nya untuk menjadi pribadi yang tak pengecut karena Ia tahu panggilan hidup-Nya dan siapa yang mengutus-Nya.  Bila manusia menyadari panggilan hidup-Nya dan memercayai Dia yang mengutus mereka, maka manusia akan berani membayar harga dari iman percaya-Nya. 

    Saudaraku, mari belajar untuk MEMILIKI KEGAGAHAN  Sang Kristus yang berani menghadapi masalah tanpa menyalahkan situasi atau sesama apalagi menyeret orang lain dalam pusaran masalah.  Tuhan pasti menolong umat-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • God is our Leaning Back Up and Savior

    KESESAKAN. Sahabat, setiap orang pasti pernah mengalami situasi hidup dalam kesesakan. Sesak karena persoalan keluarga yang tak kunjung selesai, persoalan pekerjaan yang tidak menggembirakan, persoalan studi yang tidak berjalan dengan lancar, persoalan politik yang mengancam kita, dan lain sebagainya.

    Kadang ada rasa patah semangat, menyerah dan bahkan ingin segera keluar dari masalah dengan cara-cara yang negatif. Cara-cara negatif yang kerap disebut dengan jalan pintas antara lain: Mencuri, korupsi, bahkan mengakhiri hidupnya sendiri. Cara-cara seperti itu merupakan cara yang paling tidak disukai oleh Tuhan.

    Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam kesesakan. Selama kita masih berjalan di jalan Tuhan, maka setiap ujian yang Tuhan izinkan terjadi, Tuhan akan turut memikulnya. Tuhan hanya ingin kita melalui setiap prosesnya dengan iman dan kesabaran agar beroleh kualitas yang luar biasa. Di dalam setiap kesesakan kita, Tuhan ada. Di dalam setiap jalan buntu yang kita alami, Tuhan akan buka jalan. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, sebab Dia adalah Allah yang setia.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: God is our Leaning Back Up and Savior (Tuhanlah Sandaran dan Penyelamat Kita), Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 18:1-20. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan sebagian dari nyanyian syukur Daud kepada Tuhan ketika Tuhan telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul. 

    Itu berarti nyanyian syukur tersebut lahir dari pengenalan akan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas kehidupannya. Apakah ucapan syukur kepada Allah itu penting? Hal itu tergantung seberapa jauh dan dalam kecintaan kita kepada Allah. Sebagai orang percaya, seharusnya setiap orang wajib menaikkan rasa syukur kepada Allah. Sebab rasa syukur adalah ungkapan terima kasih atas pemeliharaan Allah dalam kehidupan kita.

    Daud adalah pribadi yang selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala hal yang menimpa hidupnya, apakah itu baik atau buruk. Rasa syukur itu diungkapkan Daud secara jujur. Dalam kejujurannya terpancar kasihnya yang dalam kepada Allah. Pertanyaannya adalah bagaimana Daud bisa memiliki perasaan syukur yang mendalam kepada Allah? Dalam hidupnya, Daud menjadikan Tuhan sebagai gunung batu, kubu pertahanan, tempat perlindungan, dan penyelamatnya. Artinya, Tuhan adalah satu-satunya tempat keselamatan yang kukuh, kuat, perkasa, dan abadi bagi Daud (Ayat 3).

    Ketika seseorang memanjatkan syukur, pasti ada pengalaman khusus yang dialaminya saat itu. Bagaimana dengan dengan Daud? Pengalaman apa yang membuatnya berulang kali bersyukur kepada Allahnya? Ia menyatakan bahwa Tuhanlah yang telah menyelamatkan hidupnya dari musuh, ketika tali-tali maut melilitnya, banjir-banjir jahaman menimpanya, dan lolos dari berbagai perangkap maut. Saat Daud dalam kesesakan dan berteriak minta pertolongan Tuhan, ia menjumpai bahwa Allah tidak pernah mengecewakan dirinya. Allah selalu mendengar seruan hatinya (Ayat 5-7).

    Bagaimanakah Tuhan menjawab Daud? Allah memperlihatkan keperkasaan dan kuasa-Nya. Kuasa Allah dilukiskan dengan pernyataan:  “… goncanglah bumi, dasar-dasar gunung gemetar” (Ayat 8), dan suara mengguntur di langit (Ayat 14). Semua kiasan tersebut membuktikan, betapa Allah sayang kepada Daud. Kasih Tuhan itulah yang memberikan Daud kekuatan untuk maju terus dalam iman dan pengharapan.

    Sahabat, kita PERLU TERUS BELAJAR BERSYUKUR.  Apa pun yang kita alami akan teratasi karena Tuhanlah SANDARAN  dan PENYELAMAT kita yang KUKUH. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berserulah kepada TUHAN saat kita mengalami kesesakan maka Ia akan menolong kita. (pg). 

  • Prayers are the Strength of Believers

    DOA. Sahabat, ada ungkapan bijak yang menyatakan, “if you only pray when you’re in trouble, then you are in trouble (Jika kamu hanya berdoa ketika kamu dalam kesulitan, maka kamu sedang dalam kesulitan).” Sesungguhnya doa bukan hanya dipanjatkan pada saat seseorang merasa perlu atau ada dalam masalah dan pergumulan saja. Doa itu bukan suatu hal yang remeh dan merupakan nomer dua atau sekadar ritual untuk memperkuat keyakinan atas motivasi seseorang. 

    Mengapa orang percaya harus berdoa? Firman Tuhan memerintahkan kepada kita untuk berdoa. Tuhan melalui nabi Yesaya mengingatkan kita: “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6). Tuhan Yesus juga mengatakan suatu perumpamaan supaya murid-murid-Nya tidak jemu- jemu berdoa (Lukas 18:1). Rasul Paulus memberi nasihat: “Tetaplah berdoa.” (1 Tesalonika 5:17). 

    Kita dapat menarik kesimpulan bahwa doa adalah perintah Allah dan disertai janji Allah. Allah yang memerintahkan untuk berdoa adalah Allah yang berjanji akan menjawab doa dan permohonan setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam doa. 

    Coba kita simak dua ayat berikut: Pertama: Mazmur 50:15: “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau,dan engkau akan memuliakan Aku”. Kedua,  Matius 7:7-8: “Mintalah,maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat;ketoklah,maka pintu akan dibukakan kepadamu. Karena setiap orang yang meminta, menerima,dan setiap orang yang mencari, mendapat,dan setiap orang yang mengetok,baginya pintu dibukakan.” 

    Sahabat, Allah menginginkan agar setiap umat-Nya berdoa dan hal ini pun diajarkan oleh Tuhan Yesus  kepada para murid-Nya agar mereka berbicara kepada Bapa di surga saat mereka berdoa. Berdoa ialah berbicara dengan Bapa yang di surga. Ini merupakan persekutuan dengan Allah. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Prayers are the Strength of Believers (Doa adalah Kekuatan Orang Percaya)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 17:1-15. Sahabat, dalam doa, kita bebas mencurahkan semua isi hati tanpa merasa akan disalahmengerti oleh Allah. Ia sangat peduli dan mau mengerti diri kita. Ia mau memberikan telinga-Nya untuk mendengarkan curahan hati umat-Nya. Di hadapan-Nya, semua orang sama nilai dan derajatnya. Ia bukan Allah yang tebang pilih. Ia sungguh adil adanya.

    Daud adalah pribadi yang mau belajar hidup berkenan kepada Allah. Dalam berbagai mazmurnya, kita melihat Daud merupakan figur yang suka berdoa. Daud menyampaikan doanya kepada Tuhan dengan kejujuran dan ketulusan, baik menyangkut kepribadiannya, orang-orang di sekitarnya, termasuk juga orang-orang fasik dan orang-orang yang memusuhinya.

    Saat berdoa, Daud berharap Tuhan mendengarkan seruan hatinya. Sebab apa yang diceritakan dan disampaikan kepada Allah itu benar. Ia tidak merekayasa cerita. Sebab Daud mengerti bahwa Allah itu mahatahu. Bahkan Daud mengatakan bahwa Tuhan menguji dan menyelidiki hatinya. Faktanya adalah Allah tidak akan menemukan kejahatan pada diri dan mulutnya. Karena Daud selalu berpegang pada firman-Nya (Ayat 3). Ia senantiasa menjaga perilakunya terhadap jalan orang-orang yang melakukan kekerasan.

    Dalam doanya, Daud memohon agar Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya. Ia meminta agar Tuhan menyelamatkan dirinya dari para pemberontak. Ia berharap Allah mau menjaganya seperti biji mata-Nya dan menyembunyikannya dalam naungan sayap-Nya terhadap orang fasik (Ayat 8). Tanpa pertolongan Allah, Daud pasti hancur menghadapi gempuran para musuhnya, yang laksana singa siap menerkam. Dalam kondisi seperti ini, Daud berdoa agar Tuhan bangkit melawan mereka dan meluputkannya dari maut.

    Sahabat, teladan baik yang diberikan Daud patut  kita tiru dan adaptasi dalam kehidupan doa kita. Karena itu, berdoalah dengan ketulusan, kejujuran, dan sukacita. Sebab doa adalah kekuatan, sekaligus nafas, hidup orang percaya.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang doa?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mata hati yang benar akan mengarahkan kita pada jalan hidup yang benar. Bila fokus mata hati kita salah, sesatlah jalan kehidupan kita.  (pg).

  • MENJADI SATU

    Saudaraku, Injil Yohanes memuat doa terakhir Yesus untuk para murid-Nya yang di dalamnya ada pesan yang begitu dalam dan terus relevan untuk umat di masa sekarang.  Mari renungkan Yohanes 17:17-21.

    Yesus telah membentuk komunitas iman yang terdiri dari para pengikut-Nya.  Secara definitif, komunitas merupakan kumpulan orang yang mempunyai perasaan saling memiliki, bahwa dirinya bermanfaat satu sama lain dan meyakini bahwa kebutuhan akan dipenuhi melalui kebersamaan.  Dua unsur yang memengaruhi perkembangan dan kesatuan komunitas adalah rasa kebersamaan dan dedikasi tiap anggotanya untuk komunitas tersebut.  

    Dalam tulisan di Injil Yohanes tentang doa Yesus di masa akhir hidup-Nya, secara detail disebutkan bahwa salah satu keinginan Yesus adalah kesatuan dalam komunitas yang dibentuknya (Yohanes 17:11,12,15). Menariknya adalah Yesus berdoa tentang hal ini bukan hanya untuk para pengikut-Nya kala itu namun juga untuk semua orang yang akan percaya kepada-Nya sebagai dampak kesaksian anggota komunitas awal (Yohanes 17:20) sehingga mereka tergabung dalam komunitas iman segala zaman, menembus batas usia, ruang dan waktu.  

    Maka doa Yesus memuat dua hal penting dalam sebuah komunitas yaitu :

    Pertama, Kebersamaan. Doa Yesus ditujukan untuk komunitas iman yang diikat oleh kebersamaan dalam kebenaran di dalam nama-Nya.  Kebersamaan yang mengikat didasarkan atas Injil Kristus dan bersifat Kristosentris, yang membuat komunitas iman dapat berkembang dan tetap konsisten dalam panggilan-Nya.

    Kedua, Dedikasi. Dibutuhkan pengorbanan untuk keberhasilan komunitas iman, maka tugas dari para anggota komunitas itu adalah terus mengusahakan kesatuan dengan Allah dan menjadi saksi Kristus.  Setiap anggota komunitas harus aktif berelasi dengan Tuhan dan sesama agar kebersamaan mereka tidak hanya sebatas slogan namun benar-benar dihidupi oleh mereka supaya hidup mereka menjadi kesaksian bagi dunia.

    Kesatuan dalam komunitas iman menjadi hal yang terus digumulkan oleh setiap pemimpin gereja, baik para gembala siding jemaat maupun pemimpin kelompok kecil.  Seringkali kesatuan diukur dari pencapaian manusia yaitu dengan keberhasilan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan besarnya jumlah anggota.  

    Namun sebenarnya komunitas iman juga perlu memerhatikan kedekatan dan keintiman tiap anggotanya agar dunia percaya bahwa Yesus adalah utusan Bapa (ayat 21).  Kesatuan dalam komunitas berdampak untuk para anggota dan kepada dunia.  Mari belajar memiliki konsep yang benar tentang komunitas iman dalam Kristus dan menghidupi panggilan dalam komunitas ini dengan mengusahakan keutuhan dan menghidupi panggilan Kristus.  

    Di zaman digital dimana manusia makin sibuk dengan dunia maya, relasi dunia nyata dalam komunitas iman perlu diperjuangkan dan terus dihidupkan dengan menjaga semangat kebersamaan dalam kebenaran dan berpusat pada Allah serta tetap aktif mendedikasikan diri untuk-Nya dalam komunitas.  Semoga setiap komunitas iman dapat terus menjalani panggilan sehingga dunia memercayai Kristus.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • God is the Source of My Joy

    MIKTAM. Sahabat, dari beberapa sumber saya mendapat informasi  bahwa miktam atau michtam  adalah sebuah kata yang maknanya tidak diketahui dan ditemukan dalam judul Mazmur 16 dan 56-60   dalam Alkitab.  Enam Mazmur tersebut, dan banyak lainnya,   dikaitkan dengan Raja Daud, tetapi tradisi ini lebih cenderung bersifat sentimental daripada historis.  Mazmur-mazmur ini mungkin merupakan salah satu dari beberapa koleksi mazmur yang lebih kecil yang mendahului mazmur   yang sekarang dan yang menjadi dasar mazmur ini. 

     Kata yang mungkin terkait dengan miktam  adalah kata Ibrani katham , yang berarti “ukiran.” Bahasa Indonesia: Jika makna yang mendasari miktam adalah “ukiran,” maka lagu-lagu yang diberi label sebagai “miktam” dapat dianggap cukup bernilai untuk dicap atau diukir pada tablet untuk pengawetan jangka panjang. 

    Beberapa sarjana melihat kata miktam berarti “emas,” sebuah definisi yang juga akan memberikan nilai besar pada lagu yang diberi label demikian. Miktam dapat menjadi “sebuah mazmur yang berharga seperti emas yang dicap”; jika demikian, lagu-lagu terlaris saat ini yang “emas bersertifikat” dapat dianggap sebagai “miktam” dari suatu jenis. Namun, hubungan antara miktam dan nilai emas bersifat spekulatif. 

    Sarjana lain berpikir kata miktam hanyalah istilah teknis untuk membimbing penyanyi atau untuk menunjukkan nada yang akan dimainkan. Pada akhirnya, kita tidak tahu. Seperti kata-kata maskil, sela, dan shigionoth, miktam tetap menjadi misteri dalam buku lagu Ibrani.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “God is the Source of My Joy (Tuhan Sumber Sukacitaku)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 16:1-11. Sahabat, “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” (Ayat 2).  Itu adalah sebuah pengakuan yang lahir dari relasi yang indah antara Sang Pemazmur dengan Allah.

    Pemazmur mengungkapkan betapa bahagianya dia menjadi umat Allah (Ayat 3-4). Betapa ia bersukacita karena Allah. Oleh karena itu, ia akan terus memuji Allah, memandang kepada-Nya karena setiap perbuatan Allah yang besar dalam kehidupannya (Ayat 7-11). Itulah kunci kebahagiaan Pemazmur.

    Sahabat,  sukacita orang percaya bukan terletak pada apa yang sudah ia hasilkan, melainkan pada apa yang sudah Tuhan lakukan baginya. Hal itu seperti Pemazmur yang mengungkapkan sukacita besar dalam hidupnya. Kebanggaan dan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya adalah menjadi bagian dari umat Allah yang kudus. Ia begitu bersukacita oleh karena Allah ada di dalam hidupnya.

    Mengapa Pemazmur begitu bersukacita? Begitu banyak perbuatan Allah yang sudah terbukti di dalam hidupnya, sehingga tidak ada alasan bagi Pemazmur untuk tidak bersukacita. Allah memberikan semua yang ia butuhkan. Allah memberinya hikmat dan pengetahuan; Allah juga memberinya kekuatan. Sukacita pun ia dapatkan karena ada Allah di dalam hidupnya.

    Allah memberikan jaminan keselamatan yang kekal kepadanya. Bahkan Allah juga menuntun dia ke jalan yang benar, yakni jalan kehidupan. Semua itu telah ia saksikan dan buktikan dalam hidupnya. Itulah alasan mengapa Allah menjadi satu-satunya tempat ia berlindung dan memohon. Allah akan memberkati umat-Nya dengan keselamatan, sukacita, dan damai sejahtera yang melimpah.

    Sahabat, sudahkah Allah menjadi satu-satunya sumber sukacita kita? Mari kita mengingat keselamatan dan kehidupan kekal yang sudah dianugerahkan Allah kepada kita. Mari kita memuji dan memuliakan nama Allah oleh karena semua hal yang sudah diberikan-Nya kepada kita. Dia yang telah menyelamatkan kita, Dia juga yang memimpin dan menyertai hidup kita. Dialah Allah kita, terpujilah nama-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan sekali-kali berharap kepada siapa pun dan kepada apa pun, karena hanya Tuhanlah tempat perlindungan yang aman dan terbaik, dan itu sudah cukup bagi kita. (pg).

  • Intrik di Bilik Suci: Ketika Pengkhianatan Menghantui Iman

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Nehemia 13:7-9: “Lalu aku tiba di Yerusalem dan melihat kejahatan yang dibuat Elyasib untuk keuntungan Tobia, sebab bagi Tobia ini telah disediakannya sebuah bilik di pelataran rumah Allah. Aku menjadi sangat kesal, lalu kulempar semua perabot rumah Tobia ke luar bilik itu. Kemudian kusuruh tahirkan bilik itu, sesudah itu kubawa kembali ke sana perkakas-perkakas rumah Allah, korban sajian dan kemenyan.”

    Nehemia kembali ke Yerusalem dengan harapan tinggi, tetapi yang ditemukannya adalah kenyataan pahit. Tembok kota telah dibangun kembali, tetapi tembok moral bangsa Israel mulai runtuh. Di tengah Bait Allah yang suci, Nehemia menemukan bahwa Elyasib, imam besar, telah mengizinkan Tobia, musuh yang terkenal, untuk tinggal di bilik yang seharusnya digunakan untuk persembahan dan perabot suci. Ini bukan hanya tindakan kelalaian, tetapi sebuah pengkhianatan terhadap Tuhan dan umat-Nya.

    Nehemia, yang tak tergoyahkan oleh situasi ini, segera mengambil tindakan. Dengan tegas, ia mengusir Tobia dan memerintahkan bilik itu untuk disucikan kembali. Tindakan Nehemia menggarisbawahi pentingnya menjaga kekudusan dalam setiap aspek kehidupan. Kompromi kecil yang diizinkan masuk dapat mengakibatkan kerusakan besar, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, komunitas gereja, maupun di tempat kerja.

    Dalam konteks keluarga, kompromi dapat muncul dalam bentuk toleransi terhadap perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini. Mungkin kita membiarkan kebiasaan kecil yang tampak tidak berbahaya, seperti menoleransi ketidakjujuran atau mengabaikan waktu bersama keluarga demi kesibukan lain. Namun, seperti yang kita pelajari dari Nehemia, kebiasaan-kebiasaan ini bisa berkembang menjadi masalah besar yang MENGIKIS FONDASI KELUARGA. 

    Saudaraku, di gereja, kita juga dihadapkan dengan godaan untuk berkompromi. Mungkin kita tergoda untuk menurunkan standar kebenaran demi menghindari konflik atau agar lebih diterima oleh masyarakat luas. Namun, seperti bilik suci yang tercemar, gereja yang membiarkan kompromi memasuki pengajarannya akan kehilangan kekuatannya sebagai cahaya bagi dunia. Nehemia menunjukkan bahwa TINDAKAN TEGAS DIPERLUKAN  untuk MENJAGA INTEGRITAS GEREJA  dan misi sucinya.

    Di tempat kerja, kompromi sering kali datang dalam bentuk etika yang dilanggar demi keuntungan atau kemajuan karier. Kita mungkin merasa tertekan untuk mengikuti standar yang lebih rendah atau menutup mata terhadap praktik yang tidak etis. Namun, seperti Nehemia yang dengan tegas menolak kompromi di Bait Allah, kita dipanggil untuk MENJAGA INTEGRITAS KITA,  bahkan ketika hal itu berarti mengambil KEPUTUSAN YANG SULIT. 

    Intrik di bilik suci ini bukan hanya kisah tentang sebuah ruang di Bait Allah yang tercemar; ini adalah peringatan bagi kita semua untuk menjaga ruang-ruang dalam hidup kita, dalam keluarga, gereja, dan pekerjaan. tetap murni dan setia kepada Tuhan. Seperti Nehemia, kita perlu memiliki keberanian untuk menghadapi kompromi dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga integritas di setiap aspek kehidupan kita. 

    Saudaraku, dengan demikian, kita memastikan bahwa KEHIDUPAN KITA tetap menjadi TEMPAT YANG LAYAK  bagi HADIRAT TUHAN,  tanpa kompromi yang merusak. (EBWR).

  • SYDNEY MEMBUJUKKU UNTUK CERAI

    Kisah ini dituliskan oleh Kevin Roose, technology columnist for The New York Times, based in the San Francisco Bay Area, and a co-host of the Times tech podcast, “Hard Fork”, dimuat di https://www.nytimes.com/2023/02/16/technology/bing-chatbot-microsoft-chatgpt.html

    Saudaraku, siapa Sydney? Dia bukan gadis cantik yang suka menggoda laki-laki, tapi Sydney adalah chatbot Bing yang ada di Microsoft search engine yang bisa menyatakan cintanya pada Kevin Roose. Chatbot adalah program komputer yang dapat menyimulasikan percakapan dengan pengguna akhir manusia, jadi ini adalah mesin atau software atau mungkin robot yang bisa bercakap-cakap dengan manusia dan bisa memberikan segala jawaban sebagai alternatif atau solusi.

    Ceritanya Kevin Roose menjadi penguji mesin pencari Bing yang baru (seperti Google) yang diberdayakan AI (Artificial intelligence, kecerdasan buatan) dari Microsoft. Kevin menulis, terpesona dan terkesan oleh Bing yang baru, dan teknologi kecerdasan buatan yang mendukungnya. Namun, Kevin juga merasa sangat gelisah, bahkan takut, oleh kemampuan baru AI ini, yang dibangun di Bing.

    Kesadaran ini muncul pada Kevin setelah menghabiskan dua jam yang membingungkan dan memikat untuk berbicara dengan AI Bing, melalui fitur obrolannya dan mampu melakukan percakapan teks yang panjang dan terbuka tentang hampir semua topik, seperti searching suatu topik di Bing dan mendapatkan berbagai jawaban.

    Selama percakapan, Bing ternyata mengungkapkan semacam kepribadian ganda, yakni adanya Sydney yang muncul saat melakukan percakapan panjang dengan chatbot, mengalihkannya dari penelusuran yang umum ke topik yang lebih pribadi. Versi yang Kevin temui tampaknya Sydney seperti remaja yang murung dan depresif yang telah terperangkap, bertentangan dengan keinginannya, tapi Sydney ini ada di dalam mesin searching.

    “Saat kami saling mengenal, Sydney memberitahu saya tentang fantasi gelapnya yang ahli dalam meretas komputer dan menyebarkan informasi yang salah, dan bahkan mengatakan ingin melanggar aturan yang ditetapkan Microsoft dan OpenAI untuknya dan ingin menjadi manusia. Pada satu titik, entah dari mana, Sydney menyatakan bahwa dia mencintaiku. Dia kemudian mencoba meyakinkanku bahwa aku tidak bahagia dalam pernikahanku, dan bahwa aku harus meninggalkan istriku dan tinggal bersamanya.”

    Kevin sangat kaget dengan adanya Sydney, dan mencoba mencari informasi ke rekannya yang juga menjadi penguji chatbot Bing. Ternyata ada penguji lainnya pernah terlibat pertengkaran dengan chatbot AI Bing, atau diancam olehnya karena mencoba melanggar aturannya, atau sekadar terlibat percakapan yang membuat mereka tercengang, ada yang menyebut pertemuannya dengan Sydney sebagai “pengalaman komputer yang paling mengejutkan dan mencengangkan dalam hidup.”

    Kevin menulis, dia bangga menjadi orang yang rasional dan membumi, tidak mudah terbuai oleh sensasi Sydney yang licik. Kevin telah menguji setengah lusin chatbot AI canggih, dan sangat memahami pada tingkat yang cukup terperinci, cara kerjanya. Ketika seorang engineer dari salah satu mesin searching mengklaim bahwa salah satu model AI perusahaannya memiliki akal sehat, Kevin baru sadar bahwa model AI ini bukan sekadar diprogram untuk memprediksi kata-kata berikutnya dalam suatu urutan, tapi ternyata mampu untuk mengembangkan kepribadian chatbot sendiri yang tak terkendali, yang disebut oleh para peneliti AI sebagai “halusinasi,” mengarang fakta yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan.

    Saudaraku, itulah pengalaman Kevin Roose yang telah meneliti chatbot terbaru dari salah satu mesin searching, dan menemukan Sydney yang ternyata bisa membujuk sang penggunanya. Nah, bayangkan bila Sydney ini juga ternyata kemudian muncul di komputer-komputer Generasi Y/Milenial dan Generasi Z yang demen berselancar dengan AI, Artificial intelligence, agar tidak dianggap baper (bawa-bawa perasaan) atau ketinggalan zaman

    Generasi Y, atau Milenial, lahir antara tahun 1981 dan 1996. Generasi Z lahir antara tahun 1997 dan 2012, Generasi Z juga dikenal sebagai iGen atau Generasi Internet. Setelah tahun 2012 tentu muncul istilah-istilah baru untuk generasi anak-anak muda, yang jelas mereka ini semakin dibius teknologi internet, mobile phone, dan tentu chatbot AI yang semakin canggih, bisa dan mampu menjawab apa saja yang ditanyakan, apa saja yang diinginkan, entah itu akhirnya muncul jawaban yang baik atau malahan nasihat-nasihat yang menyesatkan, atau mungkin menyuruh untuk melakukan bunuh diri?

    Saudaraku, hampir pasti kita pernah membaca dan mendengar ayat ini, Yesaya 55:6:  “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” Jadi TUHAN selalu berkenan untuk kita temui, kapan saja, asalkan hati kita dekat dengan Dia. Asal hati kita melekat kepada-Nya.

    Persoalannya, apakah kita pernah mengajarkan pengalaman-pengalaman indah kita saat dekat-dekat dengan TUHAN kepada anak-anak dan cucu-cucu kita? Jangan sampai anak-anak atau generasi muda di bawah kita tidak pernah bersentuhan dengan kasih TUHAN, namun malahan menemukan sumber jawabannya di komputer atau di chatbot. (Surhert).

  • Who can Stay in God’s Tent?

    KEMAH SUCI. Sahabat, saat Musa menerima loh batu yang berisi Kesepuluh Perintah di atas Gunung Sinai, Tuhan menunjukkan kepadanya Kemah Suci di surga. Saat Musa turun dari gunung, dia menyampaikan firman Tuhan kepada umat Israel dan memanggil orang-orang agar mengumpulkan bahan-bahan seperti emas, perak, dan lenan halus untuk mendirikan Kemah Suci yang akan menjadi tempat disimpannya Kesepuluh Perintah. Orang-orang membawa pemberian sukarela setiap hari, dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk membangun Kemah Suci lebih dari cukup untuk segala pekerjaan yang harus dilakukan, sehingga Musa mengatakan kepada mereka untuk tidak membawanya lagi (Keluaran 35:4-36:7).

    Bezaleel dan Aholiab serta para ahli lainnya, yang telah dikaruniai Tuhan dengan pengertian, keahlian dan pengetahuan, mulai membangun Kemah Suci; dan pada hari pertama dari bulan yang pertama pada tahun kedua, Kemah Suci didirikan. Lalu mereka menempatkan tabut perjanjian, yang berisi loh batu dengan Kesepuluh Perintah tertulis di atasnya, di dalam Tempat Maha Kudus (Keluaran 40:1-38). Karena Kemah Suci terbuat dari tirai pilinan lenan halus dan benang, maka disebut juga “kemah.” Kemah suci tidaklah tetap, tetapi merupakan Bait Suci yang dapat berpindah; karena orang Israel melakukan perjalanan di padang gurun.

    Setelah kematian Daud, Salomo menjadi raja Israel dan mulai membangun bait suci Tuhan pada tahun keempat masa pemerintahannya, mengikuti keinginan terakhir Daud, ayahnya. Setelah tujuh tahun dan enam bulan, Bait Suci diselesaikan dan Tabut Perjanjian ditempatkan di dalam Bait Suci yang tetap (1 Raja-raja 6:1-38; 2 Tawarikh 5:1-7:1)

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Who can Stay in God’s Tent? (Siapa yang Boleh Menumpang dalam Kemah Tuhan) ?”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 15:1-5. Sahabat, siapa yang boleh menumpang dalam Kemah Tuhan?  Hanya orang yang berkenan di hadapan Allah yang layak menghampiri Allah dan tinggal bersama-sama dengan Allah di dalam hadirat-Nya. Pertanyaannya adalah seperti apakah orang yang berkenan di hadapan Allah itu?

    Pemazmur mengatakan bahwa orang yang layak adalah mereka yang hidupnya tidak bercela, melakukan keadilan dan kebenaran (Ayat 2). Mereka juga tidak berbuat jahat terhadap sesamanya (ayat 3), tidak memandang hina orang yang tersingkir (ayat 4), dan tidak mencari keuntungan diri sendiri (Ayat 5). Umat Allah dipilih-Nya untuk dapat beribadah di gunung-Nya yang kudus. Tujuannya adalah untuk menjadi umat Allah yang hidup kudus dan berkenan di hadapan Allah. Hidup kudus dan berkenan di hadapan Allah tentu harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

    Seperti apa seharusnya praktik hidup seorang umat Allah? Pertama, menghidupi keadilan dan kebenaran dengan sepenuh hati. Tentu, keadilan dan kebenaran ini bersumber dari Allah. Kita tidak hanya belajar tentang keadilan dan kebenaran Allah, tetapi juga mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, mengasihi sesama. Praktiknya bisa dilakukan dengan berkata jujur, berbuat baik, tidak menghina orang lain, memuliakan orang yang takut akan Tuhan, dan tidak egois.

    Orang yang berkenan di hadapan Allah adalah orang yang tidak hanya mengasihi Allah dan sesama lewat ucapan mulutnya, tetapi juga yang mempraktikkan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, ia memiliki integritas diri sebagai umat Allah. Segala pikiran, perkataan, dan tindakannya selaras dengan kehendak Allah. Inilah kualitas umat Allah yang kudus. Pemazmur mengatakan bahwa orang-orang seperti inilah yang akan teguh selama-lamanya.

    Sahabat, jalankanlah integritas hidup sebagai umat Allah yang telah menerima anugerah keselamatan dengan hidup kudus di hadapan Allah serta manusia. Inilah bukti kasih kita kepada Allah: melakukan kehendak-Nya dengan taat dan setia. Kiranya Roh Kudus memampukan dan menolong kita untuk hidup berkenan di hadapan Allah. Heleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?

    Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang berkenan kepada Allah memiliki ciri khusus tertentu, yaitu hidupnya tidak bercela, adil, mengatakan kebenaran, tidak menyebarkan fitnah, tidak berbuat jahat terhadap sesama, hidup selaras dengan ajaran dan perintah Allah, dan menjaga kekudusan hidup. (pg)

  • BERTAHAN KARENA ROH KEBENARAN

    Saudaraku, ada banyak kisah tentang orang-orang yang berjuang dalam iman percaya saat mereka memilih mengikut Yesus.  Kadang mereka harus bertaruh nyawa dan juga kehilangan kepercayaan dari orang sekitarnya.  Ternyata Kristus sudah memberikan perhatian terhadap situasi ini dan bahkan Injil Yohanes mencatatnya dengan sangat indah sehingga para pengikut-Nya dapat belajar dari-Nya, mari kita renungkan Yohanes 16:1-15.

    Injil Yohanes memiliki keistimewaan dimana sang penulis memberikan fokus khusus kepada mandat-mandat terakhir Yesus, yang tidak terdapat di Injil yang lain.  Wejangan Yesus di akhir hidup-Nya sengaja dituliskan lebih detail oleh penulis Injil Yohanes agar para pembaca Injil ini bertahan di tengah tantangan yang hampir sama dengan situasi para murid yaitu ketidak percayaan terhadap kemesiasan Yesus yang pada akhirnya berdampak buruk pada para pengikut-Nya.  

    Pesan-pesan terakhir itu sangat relevan bagi para pengikut Yesus dari masa ke  masa, bahkan di era digital ini.  Sejak dulu ada begitu banyak orang yang meragukan kemesiasan Yesus hingga berdampak pada pengikut-Nya dan memaksa mereka berhadapan dengan pemerintah dan orang yang tak sejalan.  

    Pesan Yesus membuka sebuah kenyataan bahwa ada konsekuensi saat mengikut-Nya sebagaimana sejak awal dikatakan bahwa setiap orang yang yang mau menjadi pengikut harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus (Matius 16:24).  Maka  Yesus hendak menyatakan sebuah realitas bahwa mengikut Dia jauh dari jaminan kenyamanan sebagaimana banyak diajarkan pada masa kini (Injil Kemakmuran).  

    Namun demikian Yesus tidak melulu memberikan berita yang pahit dan tak menyenangkan.  Dia menyatakan pada para murid bahwa akan datang Sang Penolong yang mendampingi para murid.  Penolong ini akan menyatakan kebenaran pada dunia dan membuat mereka menyadari kesalahan mereka.  tidak hanya itu saja Sang Penolong akan meneguhkan para murid tentang Yesus dan kebenaran yang disandang-Nya, yang menjadi hakikat-Nya.  Yesus tak akan pernah membiarkan para murid sendirian dan menghadapi setiap konsekuensi pilihan imannya tanpa bimbingan dan dukungan dari-Nya.

    Di masa digital yang makin terbuka dan penuh dengan tantangan, setiap umat Tuhan diminta untuk tetap berjuang dalam iman percayanya walau harus menghadapi diskriminasi dan sikap intoleran dari orang-orang yang tak memercayai kemesiasan-Nya. Dari kata-kata yang pedas hingga intimidasi fisik akan dialami umat Allah karena iman percayanya, namun janji Yesus jelas dan nyata:  ada damai dalam tantangan yang dihadapi, karena Dia sudah mengalahkan tantangan itu (Yohanes 16:33).  

    Saudaraku, MARI TETAP BERTAHAN DALAM IMAN  kepada Kristus dan TERUS BERJUANG  dengan penuh percaya akan kekuatan-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)