Category: Sejenak Merenung

  • King of Glory

    RAJA KEMULIAAN. Sahabat, jika Mazmur 23 menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja yang memelihara segala aspek kehidupan manusia, maka Mazmur 24 menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja Kemuliaan.

    Pernyataan bahwa Tuhan adalah Raja Kemuliaan menjadi penekanan dalam Mazmur 24 karena dinyatakan sampai 5 kali (Ayat 7-10). Tuhan berdaulat atas bumi dan isinya (Ayat 1-2). Ia juga berdaulat atas manusia (Ayat 3-6). Ialah Allah yang kudus, yang hanya dapat disembah oleh mereka yang bersih tangannya dan murni hatinya (Ayat 3-4). Ia adalah Raja yang penuh anugerah, memberikan berkat dan keadilan kepada orang yang diselamatkan-Nya (Ayat 5). Ia juga Tuhan yang perkasa, yang kedatangan-Nya dinantikan oleh pintu-pintu gerbang yang sudah berabad-abad lamanya menunggu-Nya (Ayat 7-10).

    Dalam sejarah keselamatan, Mazmur 24 dapat dilihat sebagai mazmur yang diberikan untuk menyambut Allah ketika Daud memindahkan tabut ke Yerusalem (2Samuel 6). Daud mengerti bahwa yang menjadi raja besar bukanlah dirinya, melainkan Allah, Raja Kemuliaan yang bertakhta di atas Kerubim. Karena itu, Daud membawa tabut tersebut ke Yerusalem supaya Allah sebagai Raja Besar bertakhta di ibu kota kerajaan. 

    Secara teologis, Mazmur 24 dapat ditafsirkan sebagai penyambutan terhadap Kristus sebagai Raja Kemuliaan ketika Ia datang untuk yang kedua kalinya nanti. Kristus akan berjalan masuk melalui pintu-pintu gerbang yang sudah berabad-abad menantikan-Nya. Ia akan disambut dengan meriah oleh umat-Nya yang dengan setia menantikan-Nya.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “King of Glory (Raja Kemuliaan)”, Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 24:1-10 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Mazmur 24 dimulai dengan pengakuan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan, dan seluruh alam semesta adalah hasil karyanya. Mazmur ini kemudian berbicara tentang orang yang dapat mendekati Tuhan, dan pada akhirnya, pintu gerbang dan pintu-pintu gerbang yang kekal akan terbuka bagi Raja Kemuliaan.

    Bacaan kita pada hari ini menyoroti pertanyaan retorik: “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” yang dijawab dengan, “TUHAN, gagah dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!” (Ayat 8). Hal itu merujuk pada pengakuan akan kebesaran Tuhan sebagai Raja yang perkasa, yang memiliki otoritas mutlak atas segala sesuatu, termasuk kemenangan dalam peperangan. 

    Mazmur 24 memiliki kaitan dengan upacara memasuki Bait Suci di Yerusalem, di mana raja atau pahlawan perang membawa Tabut Perjanjian ke dalam kota dengan upacara kebesaran. Pertanyaan, “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” mencerminkan kekaguman dan hormat terhadap kehadiran Tuhan yang gagah dan perkasa. 

    Sahabat, bacaan kita pada  hari ini memberikan beberapa poin untuk kita renungkan: 

    Pertama, pengakuan akan Kebesaran Tuhan. Pernyataan ini adalah sebuah pengakuan tentang kebesaran Tuhan sebagai Raja Kemuliaan. Hal ini mengajak kita untuk merenungkan dan menghormati keagungan dan keperkasaan Tuhan dalam segala hal. 

    Kedua, kemuliaan Tuhan dalam pertempuran. Ungkapan “TUHAN, perkasa dalam peperangan” menyoroti bahwa Tuhan adalah penguasa yang memiliki kekuatan dan kemenangan mutlak, bahkan dalam situasi peperangan atau tantangan hidup. Hal ini bisa menginspirasi kita untuk menempatkan kepercayaan dan harapan kita pada Tuhan ketika kita menghadapi cobaan atau pertempuran dalam hidup. 

    Ketiga, refleksi atas pemimpin dan kepemimpinan. Pernyataan ini merujuk pada pemimpin-pemimpin manusia, seperti raja atau pemimpin perang, yang harus mengakui kekuatan dan kepemimpinan Tuhan di atas segalanya. Hal ini dapat memberikan dorongan untuk mencari pemimpin yang taat kepada Tuhan dan mengingat bahwa keberhasilan sejati datang dari-Nya.

    Keempat, penghargaan terhadap kekuatan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan “gagah dan perkasa” juga dapat mengingatkan kita untuk menghargai kekuatan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Meskipun Tuhan memiliki kekuasaan yang luar biasa, Ia juga peduli dengan kehidupan sehari-hari kita. Karena itu, renungan ini dapat membangkitkan rasa kagum, rasa hormat, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan yang kuat dan mulia dalam hidup kita. Haleluya! Tuhsn itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenungan kita dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari frasa “Raja Kemuliaan”?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita hidup dengan setia menantikan hari kedatangan Raja Kemuliaan. (pg).

  • HIDUP ADALAH PERJALANAN

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Mazmur 119:105: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

    Ada satu pengalaman menarik, saya pernah tersesat dengan seorang teman ketika menuju suatu tempat. Kami tersesat karena salah satu aplikasi yang kami gunakan, tidak bisa memberi arah yang benar. Alhasil bukannya kita sampai ke tempat yang kita tuju, justru kita disesatkan melewati jalan yang sangat sempit yang hampir membuat kami celaka.

    Tentu saja pengalaman saya ini bukan satu-satunya. Mungkin Saudara-saudara juga pernah mengalami kejadian serupa, karena menggunakan aplikasi petunjuk jalan, yang justru menyesatkan perjalanan kita. 

    Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan lika-liku, pilihan, dan tantangan. Dalam perjalanan ini, kita seringkali dihadapkan pada jalan yang penuh dengan ketidakpastian. Namun, kita bersyukur karena kita memiliki Firman Tuhan yang dapat kita gunakan sebagai pelita yang dapat menerangi, memberikan arah, bimbingan, dan kekuatan dalam langkah hidup kita.

    Firman Tuhan berbeda dengan aplikasi petunjuk jalan. Walaupun sama-sama dapat memberikan arah, tetapi keakuratan Firman Tuhan 100% dan sudah teruji.

    Renungkan !

    Mungkin hari-hari ini kita sedang hidup dalam kebimbangan dan keragu-raguan. Banyaknya masalah yang terjadi, justru membuat kita jauh dari Sang Firman itu sendiri.

    Masihkah kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan? Memiliki waktu pribadi dengan bersaat teduh setiap hari? Atau justru kita menggantikan Tuhan dengan hobi, kegiatan-kegiatan yang justru menjauhkan kita dari Sang Firman itu sendiri?

    Hidup ini adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan dinamika. Kadang kita menghadapi jalan yang terang dan mudah dilalui, namun ada kalanya kita juga berhadapan dengan jalan yang gelap dan penuh ketidakpastian. Mazmur 119:105 mengingatkan kita bahwa firman Tuhan adalah pelita yang dapat menerangi langkah-langkah kita. Dengan firman-Nya, kita tidak perlu takut tersesat atau salah langkah, karena Tuhan akan selalu memberikan kita petunjuk yang tepat pada waktu yang tepat.

    Marilah kita selalu menjadikan firman Tuhan sebagai panduan utama dalam setiap langkah dan keputusan kita, agar perjalanan hidup kita senantiasa berada di jalur yang benar dan menuju kepada rencana-Nya yang indah. Amin, Tuhan Yesus memberkati.

    Pesan:

    Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  (Inthan). 

  • Yang Terbatas di Tangan Yang Tak Terbatas:Belajar dari Kisah Gideon

    Pernahkah Saudara merasa seperti pensil tua yang hampir habis? Terkadang, hidup bisa membuat kita merasa terbatas, terbatas oleh kemampuan, keadaan, atau bahkan oleh pandangan orang lain terhadap kita. 

    Ada sebuah pelajaran luar biasa yang bisa kita ambil dari sebuah pensil biasa. Pensil, meski tampak sederhana, bisa menjadi alat untuk menciptakan karya seni yang luar biasa jika berada di tangan seorang maestro. Demikian juga dengan hidup kita, ketika kita menyerahkannya ke tangan Tuhan yang tak terbatas, hidup kita yang tampak terbatas bisa berubah menjadi luar biasa.

    Kisah Gideon dalam Alkitab adalah salah satu contoh terbaik tentang bagaimana Tuhan mengubah yang terbatas menjadi alat yang luar biasa. Gideon adalah seorang yang sangat biasa, mungkin lebih dari biasa, dia merasa dirinya paling kecil dan paling lemah di antara bangsanya. 

    Dalam Hakim-Hakim 6:15, dia mengungkapkan keraguannya kepada Tuhan, “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan aku pun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.” 

    Gideon melihat dirinya seperti pensil yang tumpul dan pendek, tidak berguna untuk menulis cerita yang hebat. Namun, justru di saat itulah Tuhan datang dan memanggilnya untuk melakukan sesuatu yang besar.

    Saudaraku, mari kita ambil ilustrasi sederhana: Bayangkan sebuah pensil kecil yang hampir habis dan sudah tumpul. Pensil itu sendiri mungkin merasa tidak berguna lagi, namun ketika seorang seniman hebat mengambilnya, dia bisa mengubah lembaran kertas putih menjadi karya seni yang mengagumkan. 

    Demikian juga dengan Gideon. Ketika Tuhan memegang hidupnya, Tuhan mengubahnya menjadi seorang pemimpin besar yang menyelamatkan bangsa Israel. Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan kita bukanlah penghalang bagi Tuhan untuk melakukan karya besar melalui hidup kita.

    Rasul Paulus juga pernah mengalami hal yang sama. Dalam 2 Korintus 12:9, Paulus menulis, “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’” 

    Di sini, kita diajak untuk menyadari bahwa dalam kelemahan kita, kuasa Tuhan bisa bekerja dengan cara yang jauh melampaui pemahaman kita. Seperti pensil yang tampak lemah, namun di tangan Tuhan, kita bisa menjadi alat yang menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

    Ketika Tuhan memanggil Gideon, Dia tidak melihatnya sebagai orang yang lemah atau terbatas. Tuhan melihat potensi yang besar di dalam diri Gideon, potensi yang hanya bisa terwujud jika Gideon bersedia menyerahkan dirinya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan. Tuhan berkata kepada Gideon, “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau?” (Hakim-Hakim 6:14). 

    Ini adalah momen penting di mana Tuhan mulai menulis cerita baru dalam hidup Gideon. Sama seperti seorang seniman yang mulai menggambar, Tuhan mulai menggoreskan rencana-Nya melalui hidup Gideon.

    Hal yang sama berlaku bagi kita. Mungkin kita merasa hidup kita biasa saja, atau bahkan tidak berarti. Namun, dalam Yeremia 29:11, Tuhan berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” 

    Saudaraku, Tuhan memiliki rencana yang indah untuk setiap dari kita, meskipun kita merasa terbatas atau tidak cukup baik. Seperti pensil di tangan seorang seniman, hidup kita ada dalam rancangan Tuhan yang sempurna.

    Puncak dari kisah Gideon adalah ketika dia memimpin pasukan yang sangat kecil, hanya 300 orang, melawan ribuan tentara Midian. Secara manusiawi, ini adalah misi bunuh diri, sebuah pertempuran yang tidak mungkin dimenangkan. Namun, Tuhan tidak membutuhkan banyak orang atau kekuatan yang besar. Dia hanya membutuhkan hati yang taat dan bersedia dipakai. 

    Sama seperti pensil yang mungkin tidak menyadari bahwa dia sedang digunakan untuk menciptakan sebuah mahakarya, Gideon juga mungkin tidak menyadari bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu yang besar melalui dirinya.

    Dalam 1 Korintus 1:27, tertulis, “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.” Tuhan sering kali memilih yang lemah dan terbatas untuk menunjukkan betapa besar kuasa-Nya. Gideon, yang merasa dirinya tidak layak, akhirnya menjadi alat yang luar biasa di tangan Tuhan.

    Kesimpulannya, mungkin saat ini Saudara merasa seperti hidupmu adalah pensil kecil yang tumpul dan hampir habis. Tapi ingatlah, di tangan Tuhan, Sang Maestro, hidupmu bisa menjadi alat yang luar biasa untuk karya-Nya. Tuhan bisa memakai setiap kita, seperti Dia memakai Gideon, untuk melakukan hal-hal besar. Jangan pernah meremehkan dirimu sendiri, karena di tangan Tuhan, keterbatasanmu bisa menjadi kekuatan yang memuliakan nama-Nya.

    Marilah kita serahkan hidup kita kepada Tuhan, seperti pensil yang diserahkan kepada seorang seniman. Biarkan Dia yang menggambar dan menulis cerita hidup kita. Tidak peduli seberapa terbatasnya kita, di tangan Tuhan yang tak terbatas, kita bisa menjadi berkat dan menciptakan sesuatu yang indah dan bermakna. Percayalah, Tuhan punya RENCANA BESAR BAGI HIDUPMU! (EBWR).

  • LEMAH SAAT MARAH

    Saudaraku, titik terlemah manusia bukan pada kemiskinan atau ketimpangan melainkan saat ego yang terusik dan memicu kemarahan tak terkendali.  Sejarah mencatat banyaknya kematian diakibatkan hal ini.  Mari ikuti salah satu kisahnya dengan merenungkan dari Yohanes 19:1-16.

    Pilatus memang licik. Ia sengaja mengulang kata yang membuat para imam Bait Suci alergi terhadap Yesus untuk membuat mereka makin marah dan brutal.  Kata itu adalah “raja Yahudi”.  Pilatus dengan jitu memanfaatkan orang-orang yang marah itu dan hingga pada akhirnya terlontar kalimat yang haram diucapkan oleh orang yahudi biasa sekalipun yaitu Kami tak punya raja selain Kaisar (Yohanes 19:15).  

    Kalimat tersebut janggal mengingat kolotnya pemikiran pemimpin agama Yahudi yang haram untuk tunduk di bawah Kaisar Romawi dan bahkan rela mati dibandingkan tunduk kepadanya.  Tapi Pilatus berhasil menggoyangkan prinsip dan akal sehat mereka sehingga mereka bahkan mengatakan hal yang diharamkan oleh mereka sendiri, membelakangi prinsip suci mereka untuk hanya tunduk kepada Tuhan dan bahkan mengkhianati Taurat. 

    Wow … betapa lemahnya orang yang sudah dibakar kebencian dan kemarahan, saat egonya diobarak abrik oleh orang lain sehingga ia bahkan tak mampu berpikir logis dan benar.  Penulis Amsal mengingatkan bahwa orang yang tak dapat menahan diri bagaikan kota yang runtuh temboknya (Amsal 25:28).  Ego yang terhina menimbulkan kemarahan, menggerogoti penguasaan diri dan pada akhirnya membobol benteng kewarasan sehingga mereka menjadi lemah untuk dimanfaatkan.  Kemarahan selalu membawa kelemahan.

    Berhati-hatilah dengan usikan ego yang menimbulkan kemarahan yang meledak karena saat itulah manusia berada di titik terlemahnya karena ada banyak prinsip ditanggalkan, dijual dan dikhianati olehnya.  Para imam Yahudi yang terkenal kuat menjaga prinsip dan independensi, terbukti telah masuk dalam jebakan Pilatus dan mengakui Kaisar sebagai raja.  Daripada mengakui anak tukang kayu sebagai raja, lebih baik dikuasai kaisar.  Mungkin itu cara berpikirnya.  

    Betapa berbahayanya kebencian dan betapa dahsyatnya daya lebur kemarahan sekaligus menunjukkan betapa lemahnya manusia yang marah sehingga ia kehilangan kekuatannya sendiri. Oleh karena itu nasihat Rasul Paulus yang mengatakan saat kemarahan menguasai, jangan sampai pada akhirnya berbuat dosa (Efesus 4:26) menunjukkan betapa lebarnya jalan kepada pelanggaran dan lemahnya manusia saat logikanya dirampas dan dikuasai oleh api amarah.  

    Saudaraku, logika dan prinsip menguatkan dan menyeimbangkan manusia namun KEMARAHAN  bisa MENGHABISINYA  dalam SEKEJAB, bahkan ia bisa mengambil Langkah yang ditolaknya sendiri dalam kondisi biasa.

    Hidup bukanlah mudah, marah adalah hal yang biasa ditemui sebagai respons ketidak puasan manusia.  Namun berhati-hatilah Ketika memutuskan untuk marah dan meletupkan kebencian karena saat itu adalah saat genting hilangnya logika dan terbukanya kesempatan untuk berdosa dan bahkan dikendalikan orang lain.  

    Saudaraku, tetaplah mohon Roh Kudus memimpin sehingga mampu MENJAGA LOGIKA KETIKA MARAH MELANDA.   Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • One Episode of Life

    LEMBAH KEKELAMAN. Sahabat, di Israel, di jalanan antara Yerusalem dan Yerikho, ada sebuah lembah yang disebut Lembah Kekelaman. Di zamannya,  Raja Daud mungkin telah melalui jalanan itu berkali-kali. Beberapa lembah di sepanjang jalan Yerikho menyempit di bagian dasar, dalamnya sekitar 243 meter. Satu-satunya waktu di mana kita bisa melihat sinar matahari ialah di waktu siang hari dan ketika matahari berada tepat di atas kepala. 

    Di dalam Alkitab, lembah seringkali dijadikan sebagai metafora untuk masa-masa sulit, masa kegelapan, keputusasaan, kekalahan, atau ketidakberdayaan. Lembah adalah bagian dari kehidupan.  Lembah tidak bisa dihindari. Saat ini kita bisa saja sedang mendaki keluar dari lembah kesukaran atau sedang berada di tengah-tengah kesukaran atau akan menuju lembah kesukaran lainnya, karena inilah yang namanya kehidupan. Kita tidak bisa menghindari lembah kesukaran, tetapi sebaliknya kita bisa melewati lembah itu  BERSAMA dengan TUHAN. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “One Episode of Life (Satu Episode Kehidupan)”. Bacaan Sabda diambil dari: Mazmur 23:1-6 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini,  Daud menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang baik. Dalam salah satu kutipannya Daud mengatakan: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”  (Ayat 4). Mungkin kita pernah berpikir: “Jika Tuhan itu Gembala yang baik, mengapa ada lembah kekelaman?”

    Dunia penuh dengan tantangan. Setiap saat kita mungkin dihadapkan pada masalah kesehatan, keuangan atau hubungan. Inilah yang disebut LEMBAH KEKELAMAN dalam hidup! Berita baiknya, dalam lembah kekelaman itu kita BERJLAN, bukan TINGGAL atau BERHENTI. Hal itu menunjukkan bahwa lembah kekelaman bersifat SEMENTARA! Ada batas kedaluwarsa bagi setiap persoalan kita. 

    Sahabat, tantangan yang kita hadapi hari ini mungkin tidak akan berarti di kemudian hari. Satu hal yang pasti, saat kita berjalan, kita tidak dibiarkan sendirian. Tuhan, Gembala yang baik, senantiasa BESERTA kita. Tuhan siap sedia menolong dan menyelamatkan kita. Inilah yang menjadi jaminan bahwa setiap persoalan, tidak peduli entah berat atau ringan, semua pasti akan DAPAT TERSELESAIKAN!

    Lembah kekelaman seperti apakah yang kita hadapi saat ini? Tidak perlu khawatir ataupun cemas! Yakinlah kita tidak akan selamanya ada di sana! Kita hanya berjalan melewatinya bersama Sang Gembala. 

    Tidak ada bahaya dapat mengancam kehidupan kita selama kita berjalan bersama Tuhan. Saat persoalan datang menerpa, katakan kepada diri sendiri: “Masalahku akan berlalu. Tangan Gembalaku akan menuntunku berjalan melewati lembah kekelaman sampai akhirnya mataku melihat sinar terang.” 

    Sahabat, LEMBAH KEKELAMAN seumpana SATU EPISODE KEHIDUPAN yang akan kita lewati bersama dengan Tuhan. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat pahami dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Teruslah jalani lembah kekelaman bersama Tuhan, sebab TUHAN punya rencana dalam setiap lembah yang kita lewati. (pg).

  • Rely to God

    MAZMUR 22. Sahabat, Mazmur 22 menerangkan bahwa Mazmur ini dituliskan oleh Daud, seperti tertulis di ayat 1. “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud”. 

    Menariknya sebagai sebuah pujian kepada TUHAN Pemazmur memulai nyanyiannya dengan ratapan-ratapan kehidupannya, tetapi kemudian diakhir dengan suatu pengharapan dan pujian akan kekuasaan TUHAN. Oleh karena itu, ketika membaca Mazmur 22, setidaknya kita dapat membaginya menjadi dua bagian. 

    Pertama menggambarkan ratapan dan permohonan Pemazmur akan perasaannya ditinggalkan oleh Allah (Ayat 1-22); sedangkan bagian kedua (ayat 23-32), menjadi ucapan syukur atau jawaban Pemazmur atas pemeliharaan Allah kepada umat-Nya di masa lalu dan akan datang, sekaligus menyatakan kedaulatan ALLAH atas dunia ini. 

    Bagian pertama itulah yang akan menjadi bahan renungan kita pada hari ini. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Rely to God (Bersandar pada Allah). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 22:1-22. Sahabat, pergumulan hidup senantiasa terjadi dan dialami orang percaya. Sebab Yesus pernah mengatakan bahwa tekanan dan pergumulan iman akan dialami oleh para murid-Nya (Markus 4:17). Bagaimana sikap hati dan hidup orang percaya saat menghadapi pergumulan iman?

    Mazmur 22 merupakan buah perenungan Daud saat ia menghadapi pergumulan iman. Di satu sisi, ia mengakui bahwa Allahnya Mahakuasa. Namun, pada saat itu Allah terkesan “berdiam diri” (Ayat 2). Mazmur ini menyingkapkan dengan jelas bagaimana seorang percaya berseru kepada Tuhan dalam pergumulannya: ia berseru, tetapi tetap menyadari bahwa Allah berkuasa dan akan menyelamatkannya (Ayat 4, 9, 11, dan 22).

    Sahabat, keadaan seperti itu dapat menggoda orang percaya jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Namun, Daud mengajarkan untuk menengadahkan iman ke surga dan melihat bagaimana Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya pada masa lampau, bagaimana mungkin Ia akan meninggalkan kita saat ini? (Ayat 4-6).

    Untuk sementara imannya dikuatkan, namun perasaan dapat menggoyahkan iman (Ayat 7-9). Maka Pemazmur mengajak kita melihat pada fakta, bukan kepada fenomena. Allah adalah Penolong umat-Nya sejak saat mereka masih tidak berdaya sebagai anak. Jadi, bagaimana mungkin Ia akan meninggalkan umat-Nya (Ayat 10-12)? 

    Di sinilah Pemazmur mendapatkan kekuatannya kembali bahwa Allah akan menolongnya demi kesetiaan-Nya (Ayat 21). Tugas kita adalah PERCAYA dan BERSANDAR kepada-Nya.

    Sahabat, masalah utama yang sering kali kita hadapi adalah ketidaksabaran menantikan waktu Allah. Kita mungkin sudah sangat lama mendoakan satu pokok pergumulan, dan kita belum mendapatkan jawabannya. Sebagaimana Pemazmur, kita bisa mengatasi kegalauan pergumulan kalau kita berani BERSANDAR kepada ALLAH. Renungkan karya Allah pada masa lalu dan berpeganglah kepada janji penyertaan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kesusahan dan sakit penyakit menghimpit kita, datang dan berserulah kepada Tuhan. Katakan kepada-Nya: “Tolonglah Aku, ya Tuhan!” (pg).

  • BERAWAL DARI KEBIJAKSANAAN

    Saudaraku, beberapa tahun lalu seorang selebritis Korea Selatan yang terkenal ditemukan meninggal di rumahnya dan diduga ia melakukan bunuh diri.  Beberapa jam sebelum ia bunuh diri, dia merekam video yang berisi curahan hatinya yang tidak tahan dengan komentar negatif di media sosialnya sehingga membuatnya sangat putus asa.  Kasus bunuh diri dengan alasan yang sama makin banyak dijumpai.  Lalu apa kata Alkitab tentang komentar negatif yang dilontarkan manusia?  Mari renungkan Yakobus 3: 5-10 dan Amsal 16:24.

    Rasul Yakobus memberikan pesan yang sangat penting berkaitan dengan interaksi antar manusia melalui peringatannya tentang fungsi lidah yang memiliki kekuatan yang dahsyat sehingga digambarkan bagaikan api yang bisa saja membakar segalanya bila tak dikendalikan (Yakobus 3:5).  

    Peringatan Yakobus diberikan kepada para pengajar yang perlu selalu berhati-hati dengan pengajarannya karena kata-kata seorang pengajar memiliki pengaruh kepada para pendengarnya.  Kata-kata memang dahsyat pengaruhnya dan itulah sebabnya manusia perlu hikmat untuk mengucapkannya.  Amsal menuliskan bahwa kata-kata yang baik akan dimiliki oleh orang yang bijaksana.  

    Bahkan lebih lanjut ia mengatakan bahwa perkataan yang baik bagaikan madu yang menyehatkan dan mengobati kelemahan (Amsal 16:24).  Ini menunjukkan korelasi antara kebijaksanaan dan perkataan baik yang memberi pengaruh yang baik pula.  

    Di zaman digital ini manusia perlu untuk memiliki kebijaksanaan sebelum ia melontarkan berbagai bentuk perkataan, baik yang diucapkan secara verbal maupun yang diketikkan dalam percakapan di berbagai platform media sosial.  Karena identitasnya tersembunyi maka seringkali manusia tak merasa bersalah saat ia merespons negatif sebuah unggahan di media sosial, sebenarnya ia sedang menyulut api yang bisa saja membakar habis sebuah relasi sosial dan bahkan memadamkan semangat orang lain. 

    Saudaraku, bila manusia ingin memiliki dampak yang baik bagi sesamanya maka penulis Amsal mengatakan bahwa setiap orang sebaiknya memiliki bijak dalam perkataan dalam bentuk apapun.  Kebijakan ini akan didapat manusia saat ia tunduk kepada Allah karena Dialah sumber segala hikmat dan pengetahuan (Amsal 1:7)

    Mari belajar untuk memiliki kebijaksanaan dalam mengucapkan perkataan ataupun menuliskan pendapat di dunia digital sehingga apa yang dikatakan dan dituliskan akan membangun dan menyehatkan untuk orang lain. 

    Saudaraku, mari menjaga relasi dengan Tuhan agar hikmat itu membuat perkataan menjadi berkat dan menguatkan orang lain.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • True Joy is the fruit of Faith Work

    SUKACITA SEJATI. Sukacita merupakan hal yang agak langka pada hari-hari ini. Mengapa? Karena beratnya himpitan ekonomi, banyak sekali orang kehilangan sukacita. 

    Apakah sukacita itu? Sukacita merupakan suatu kondisi hati yang meluap dengan syukur, bukan karena kondisi tetapi karena merupakan suatu kesadaran.

    Sukacita berbeda dengan gembira, senang, atau bahagia. Gembira, senang, atau bahagia timbul karena sesuatu yang terjadi di luar diri kita: Menang tender, mendapat kenaikan gaji, berhasil mendapat calon pasangan hidup, sembuh dari sakit kronis, dan lain-lain. 

    Sukacita jauh melebihi gembira, senang, atau bahagia. Sukacita adalah keputusan. Ya, suatu bentuk kesadaran kita untuk memutuskan bahwa kita memang ingin bersukacita, tanpa menghiraukan kondisi yang kita alami.

    Sumber sukacita ada di dalam hati kita. Ya, kita tidak perlu jauh-jauh mencari sukacita itu, apalagi harus membayar mahal. Biaya bersukacita adalah gratis. Karena sukacita merupakan sikap hati dan bukan kondisi, itu sebabnya dalam Alkitab diajarkan bagi kita untuk bersukacita, dan bukan bergembira. Sukacita merupakan suatu hal yang mutlak kita miliki. 

    Bagi orang percaya sukacita merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Semua persoalan boleh terjadi, namun sukacita adalah hak kita. Sudahkah kita memilih untuk bersukacita? 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “True Joy is the Fruit of Faith Work  (Sukacita Sejati Merupakan Buah dari Karya Iman)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 21:1-14. Sahabat, sukacita merupakan sebuah ungkapan rasa ketika kita berhasil menggapai keinginan hati kita. Namun, pernahkah kita mengaitkan sukacita dengan pemeliharaan Allah secara nyata dalam hidup? Bagaimana kita mendapatkan sukacita sejati?

    Pemazmur menjelaskan perihal sukacita sejati ketika ia menguraikan keberhasilan seorang raja yang berjalan bersama Tuhan. Kebanggaan diperoleh bukan sekadar karena keberhasilan dalam kehidupan atau pun kemenangan dalam peperangan, melainkan semata-mata karena karya Allah dalam hidup orang beriman.

    Perhatikan bagaimana Daud menggambarkan peranan Allah dalam keberhasilannya, antara lain: Pertama,  sukacita datang dari Allah semata (Ayat 2-3); Kedua,  Allah menjadikan raja sebagai pengantara keberhasilan dan kemenangan-Nya (Ayat 4-7); Ketiga,  penyertaan dan pemeliharaan Allah ada bersama umat-Nya (ayat 8-14). 

    Berbagai kemenangan yang dialami Raja Daud (Ayat 3) menjadi dasar pujian umat kepada Allah (Ayat 7-12). Puji-pujian itu juga diarahkan kepada masa depan, yaitu ketika Allah hadir dalam penghakiman-Nya pada akhir zaman (Ayat 10-11). Selain itu, Raja Daud juga mengakui bagaimana Allah terlibat secara nyata dalam setiap pergumulan kehidupannya, termasuk dalam pemerintahannya. Itulah sumber sukacita yang sejati.

    Memang tidak mudah meletakkan segala orientasi hidup kita kepada Allah. Namun, oleh Kristus kita diberikan pemahaman tentang Allah yang benar dan ditunjukkan tentang keberadaan Allah secara nyata dalam hidup (Yohanes 1:18; 17:3). Jalan untuk mendapatkan sukacita hanyalah dengan menerapkan iman sejati dalam kehidupan keseharian.

    Sahabat, iman yang sejati akan menghadirkan sukacita karena karya Allah dalam hidup orang percaya. Persoalannya adalah apakah kita mendasarkan sukacita pada hal yang bersifat sementara, atau hanya untuk memuaskan keinginan mata dan kedagingan kita. Sesungguhnya, sukacita sejati adalah buah dari karya iman yang kita terima dari Allah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Sukacita Sejati?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berserah merupakan tindakan iman kita bahwa Allah akan memelihara dan memberikan yang terbaik untuk hidup kita. (pg).

  • HE’s Just as far as Prayer

    MAZMUR 20. Sahabat, dari berbagai sumber saya mendapat informasi bahwa Mazmur pasal 20  dikategorikan pada genre Mazmur Raja. Syair ini mengungkapkan tentang permohonan bagi raja Israel, keyakinan atas karya Tuhan bagi raja, perbandingan dan hasil serta seruan untuk kemenangan raja. 

    Syair ini telah disajikan dengan berbagai karakteristik tertentu yang menunjukkan bahwa teks ini memiliki kualitas tersendiri sebagai teks syair. Ciri khas sebagai teks syair dalam pasal ini nampak pada kesejajaran atau perimbangan gagasan antar baris. 

    Keindahan teks syair pada pasal ini dikategorikan sebagai Mazmur Raja nampak pada pemilihan kata-kata kunci yang berhubungan dengan raja Israel, misalnya: Kesesakan dan membentengi (Ayat 2), rancangan (Ayat 5), memegahkan (Ayat 8) dan kemenangan (Ayat 5, 6 dan 9). 

    Keindahan lainnya nampak pada ciri teks syair dalam bentuk paralelisme sintesis (Ayat 3, 7) dan paralelisme antitesis (Ayat 8 dan 9). Syair ini diakhiri dengan sentuhan keindahan penutup yakni pengulangan pokok penting yang menjadi kebutuhan raja Israel, yakni kemenangan. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “HE’s Just as far as Prayers (DIA Hanya Sejauh Doa)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 20:1-10. Sahabat, satu-satunya sumber kekuatan bagi orang percaya dalam menghadapi kesulitan hidup adalah berdoa. 

    Salah seorang reformator, Martin Luther, pernah mengatakan bahwa menjadi orang percaya tanpa berdoa tidak lebih menjadi seorang yang hidup tanpa bernafas. Jika dilihat dari sisi medis, orang yang sudah tidak bernafas biasanya disebut sudah meninggal dunia. Kalau frasa “tidak bernafas” dikaitkan dengan kerohanian berarti sudah mati rohani. Atau dengan kata lain, hidupnya telah putus hubungan dengan Allah.

    Daud pun mengakui bahwa doa memainkan peranan penting dalam kehidupan jasmani dan rohani seseorang. Sebab doa bukan hanya menjadi sumber nafas kehidupan, tetapi juga motor penggerak utama bagi umat Allah untuk memperoleh perlindungan dan berkat Allah.

    Daud juga meyakini bahwa dalam doa terdapat kekuatan Allah. Wujud konkret kekuatan Allah terlihat bagaimana Allah memberikan kemenangan dalam setiap masalah yang dihadapi oleh umat-Nya. Hal itu tampak saat umat-Nya berada dalam kesesakan, Allah memberikan solusi dan meluputkan mereka dari bahaya. Karena itu, Daud tidak ragu-ragu mengajak bangsanya untuk berseru kepada Tuhan dan Ia hanya bisa ditemui dalam doa. 

    Sahabat, keyakinan Daud inilah yang memberikan harapan dan sukacita. Harapan dan sukacita itu pada akhirnya menjadi kekuatan bagi umat Allah untuk tidak takut dan gentar dalam menghadapi siapa pun. Sebab mereka menyadari bahwa Allah senantiasa bersama dengan umat-Nya. 

    Bahkan Allah tidak ragu-ragu turun tangan untuk berperang membela umat-Nya dari para musuh mereka. Semua pertolongan Allah ini membuat umat Allah dapat bermegah dan memuliakan nama-Nya.

    Sahabat, masihkah kita  berdoa setiap hari? Bagaimana kondisi hidup kita saat jauh dari Allah? Bertambah baik atau semakin buruk? Marilah kita bertobat dan bertekad kembali kepada Allah. Ia dapat ditemui sejauh doa. DIA hanya sejauh doa. 

    Karena dalam doa kita menemukan kekuatan, penghiburan, dan sandaran yang kukuh untuk berlindung. Bahkan melalui doa, Allah akan memberikan kita KEMENANGAN hari demi hari. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesungguhnya kemenangan sejati atas pergumulan hidup kita hanya ada di dalam Tuhan. (pg).

  • God Speaks Through His Word

    MAZMUR 19. Sahabat, dari beberapa sumber saya menemukan bahwa hal yang sangat diharapkan dari pengenalan akan sifat dan karakteristik dari firman Tuhan adalah takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya. Pengertian suci, tidaklah sebatas bersih melainkan lebih dalam dari itu; suci artinya tetap ada untuk selamanya. Jika ada sebutan: Janji pernikahan adalah janji suci, maka hal itu berarti janji yang tetap ada, yang tidak akan berubah oleh hal apa pun yang terjadi. 

    Firman Tuhan dan takut akan Tuhan memiliki hubungan sebab dan akibat yang searah. Jika benar mengenal dan memahami firman Tuhan maka sesungguhnya akan tercipta sikap yang takut akan Tuhan. Kedua hal itu disebutkan dalam Mazmur 19 sebagai sesuatu yang lebih indah dari pada emas bahkan lebih indah dari emas tua; dan lebih manis daripada madu bahkan lebih manis dari madu tetesan sarang lebah. Firman Tuhan dan sikap takut akan Tuhan mengungguli keindahan dan rasa manis yang ada.

    Sedangkan ungkapan syukur kepada Allah atas firman Tuhan yang sempurna, tak boleh lepas dari permohonan pada perlindungan Tuhan atas banyak hal yang tidak sempurna dalam hidup ini. Banyak hal yang tidak sempurna dalam dunia ini, sehingga terjadi penyesatan oleh oknum-oknum tertentu yang ingin berkuasa. Bahkan diri kita ini adalah oknum yang tidak sempurna, karena akan mati dan mudah tergoda. Mari tetap menjaga diri kita agar setiap gerak langkah hidup tetap diperkenan oleh Tuhan.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajr dari kitab Mazmur dengan topik: “God Speaks Through His Word (Tuhan Berbicara Melalui Firman-Nya)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 19:8-15. Sahabat, Tuhan berbicara kepada umat-Nya melalui firman-Nya. Firman-Nya menguatkan kita yang letih, juga menegur kita ketika langkah kita mulai serong. Firman-Nya menuntun kita untuk hidup seturut dengan kehendak-Nya. Bagian ini jugalah yang menjadi doa dari Pemazmur agar Tuhan selalu menuntunnya dengan firman-Nya sehingga hidup Pemazmur berkenan di hati Tuhan.

    Sahabat, berbicara mengenai menaati firman Tuhan, di satu sisi ada banyak orang percaya yang merasa kebebasannya hilang dan kesenangannya diambil sehingga memilih untuk hidup dalam keinginannya sendiri tanpa merasa bersalah. Ia tidak mau membiarkan firman Tuhan menuntun hidupnya sehingga ia pun kehilangan arah. Di sisi lain, ada orang percaya yang berusaha dengan gigih melakukan firman-Nya; tetapi, ketika mendapati dirinya gagal dan gagal lagi, ia merasa bersalah karena hidupnya tidak bisa memenuhi standar yang Tuhan inginkan. Mereka akhirnya putus asa dan menyerah.

    Melalui bacaan kita pada hari ini , di satu sisi, kita diingatkan bahwa ketika kita menaati kebenaran firman Tuhan, sukacita yang sesungguhnya akan memenuhi hati kita. Ketika kita hidup seturut dengan firman-Nya, kita menemukan kebebasan yang sejati. Hidup kita tidak lagi diikat oleh dosa, melainkan kita bisa melakukan kebenaran (Ayat 8-11). Di sisi lain, kita juga diingatkan untuk senantiasa mengevaluasi diri dan mengandalkan Roh Kudus untuk hidup seturut kehendak-Nya. Allah kita penuh rahmat dan pengampun, Ia tahu siapa kita. Ketika kita gagal, jangan menyerah, melainkan berusaha lagi dengan memohon pertolongan-Nya.

    Sahabat, mari kita bersyukur karena kita memiliki Allah yang mau menyatakan kehendak-Nya dan mau berkomunikasi dengan kita melalui Firman-Nya. Mari kita bersyukur karena Allah kita penuh rahmat dan maha pengampun serta selalu siap menolong kita yang mau sungguh-sungguh menaati firman-Nya. Dengan memahami hal ini, mari kita senantiasa berdoa seperti Pemazmur agar pikiran, ucapan, dan tindakan kita senantiasa dikoreksi oleh Tuhan sehingga hidup kita dapat berkenan di hadapan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Aturan dan sistem nilai itu diberikan Allah agar manusia menjadi mahkota ciptaan yang bermartabat dan memiliki makna dalam hidupnya. (pg).