Category: Sejenak Merenung

  • Sacred Pause: Resting the Spirit

    Mari kita membaca dan merenungkan Matius 11:28: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

    Di era modern saat ini, kehidupan berjalan dengan kecepatan yang luar biasa. Kemajuan teknologi telah mengubah cara kita berkomunikasi, bekerja, dan hidup. Informasi terus mengalir tanpa henti, dan kita sering kali merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu terhubung, responsif, dan produktif. Budaya serba cepat ini, meskipun membawa banyak manfaat, juga menimbulkan beban yang berat bagi jiwa. 

    Kelelahan emosional dan spiritual menjadi hal yang biasa di tengah kesibukan ini. Dalam konteks ini, istilah “Sacred Pause” atau jeda suci menjadi semakin relevan. Sacred Pause adalah momen yang kita ambil untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, untuk merenung dan menyegarkan kembali roh kita di hadapan Tuhan. Ini bukan sekadar istirahat fisik, tetapi juga istirahat yang mendalam bagi jiwa, “Resting the Spirit”. Pada saat kita mengizinkan diri kita untuk berhenti dan mendekat kepada Tuhan, kita menemukan kelegaan yang sejati seperti yang dijanjikan Yesus dalam Matius 11:28.

    Yesus mengundang kita yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya. Ini adalah panggilan yang penuh kasih untuk melepaskan segala beban kita dan menemukan kedamaian yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Resting the Spirit berarti menyerahkan segala kekhawatiran, ketakutan, dan stres kita kepada Tuhan. Ini adalah tindakan iman di mana kita memilih untuk memercayakan hidup kita kepada-Nya, percaya bahwa Dia mampu memberikan kelegaan yang kita butuhkan.

    Namun, mengambil Sacred Pause dalam kehidupan modern bukanlah hal yang mudah. Budaya kita cenderung memandang kesibukan sebagai tanda produktivitas dan keberhasilan. Ada tekanan sosial untuk terus bergerak maju, dan seringkali kita merasa bersalah jika berhenti sejenak. Ini menjadi tantangan besar bagi orang Kristen masa kini, bagaimana kita dapat menemukan waktu untuk beristirahat dalam Tuhan di tengah segala tuntutan hidup?

    Untuk bisa melakukan Sacred Pause, kita perlu memprioritaskan waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan. Ini bisa berupa waktu doa, membaca Alkitab, atau hanya duduk dalam keheningan, merenungkan kasih dan kebaikan-Nya. Tantangannya adalah bagaimana kita melawan dorongan untuk selalu aktif dan memilih untuk taat pada ajakan Tuhan untuk beristirahat.

    Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjaga kesehatan spiritual kita. Sacred Pause adalah BAGIAN PENTING  dari KEHIDUPAN yang SEIMBANG,  DI mana kita tidak hanya fokus pada pekerjaan dan tanggung jawab, tetapi juga pada pemulihan jiwa kita. Kita perlu ingat bahwa kedamaian sejati hanya dapat ditemukan dalam kehadiran Tuhan.

    Saudaraku, Matius 11:28 mengajarkan kita bahwa kelegaan sejati datang saat kita melepaskan beban kita kepada Yesus. Ini adalah panggilan untuk mengandalkan Dia, bukan pada kekuatan kita sendiri. Di tengah tantangan kehidupan modern, mari kita berkomitmen untuk secara teratur mengambil Sacred Pause, menemukan ketenangan di dalam Tuhan, dan membiarkan roh kita diperbarui. Hanya dengan demikian kita dapat menjalani hidup yang sehat secara spiritual, siap menghadapi setiap tantangan dengan hati yang tenang dan penuh percaya. (EBWR)

  • Pray Until Something Happens

    MAZMUR 28. Sahabat, Mazmur 28  terdiri atas tiga bagian, yaitu: Seruan minta tolong (Ayat 1-2), permohonan agar jangan dibinasakan bersama orang fasik (Ayat 3-5), dan ucapan syukur, pengakuan percaya, dan doa syafaat (Ayat 6-9). 

    Melalui Mazmur 28 kita dapat melihat pengalaman yang dialami oleh Daud ketika ia merasa ditinggalkan Allah. Sesaat ia merasa bahwa Allah tidak mendengar seruan doanya. Ia tidak tahu mengapa Allah diam. Daud merasa tidak ada lagi harapan.

    Pemazmur berpikir bahwa TUHAN hendak menghukumnya seperti orang fasik. Namun, ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun (Ayat 3-4). Dalam pengalaman doanya yang panjang, fajar harapan pun tiba. TUHAN menjawabnya. Karena itu ia bersyukur dan memuji TUHAN, sebab TUHAN adalah perisai dan gunung batu tempat perlindungan yang aman dan dapat diandalkan.

    Sahabat, Mazmur dari Daud ini mengajarkan kita untuk tidak berhenti berdoa. Terkadang Allah memang terlihat begitu jauh sehingga doa kita pun sepertinya tidak pernah sampai ke telinga-Nya. 

    Kalaupun Allah mendengar, mungkin Ia tidak mau menjawabnya. Pikiran kita mulai membentuk asumsi negatif. Misalnya: apakah aku dihukum oleh Tuhan atau Tuhan itu tidak pernah ada. Tetapi dari mazmur ini kita tahu satu hal, yaitu Allah mendengar dan menjawab doa orang-orang yang berseru kepada-Nya, dari orang-orang yang berkeluh-kesah, dan dari orang-orang yang menggantungkan harapannya hanya kepada Allah.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Pray Until Something Happens (Berdoa Sampai Sesuatu Terjadi). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 28:1-9 dengan penekanan pada ayat 6. 

    Sahabat, pengalaman kita bercerita, sangat tidak mengenakkan bukan bila ada saudara, teman, pacar, istri atau suami yang diam tak mau bicara pada kita. Ditambah lagi pada saat itu adalah saat-saat di mana kita sangat membutuhkan mereka. Rasanya seperti tidak punya siapa-siapa lagi yang peduli pada kita. Itu masih manusiawi? 

    Tampaknya itu yang dirasakan Daud pada bacaan kita hari ini. Daud adalah orang kepercayaan Tuhan. Dia begitu taat dan mengasihi Tuhan. Namun mengapa dia berkata-kata dalam doanya seolah-olah Allah membisu dan tidak mau mendengarnya? Daud berpikir apakah Tuhan sedang menghukumnya karena dia berbuat salah? Tapi Daud tidak merasa ada kesalahan yang sedang diperbuatnya. 

    Apakah kemudian Daud berhenti berdoa? Apakah Daud malah menjadi seorang yang mengutuki Tuhan? Tentu saja tidak. Dia malah semakin giat berseru kepada Tuhan dan tidak peduli apakah nanti seruannya didengar atau tidak oleh Tuhan. Hingga pada akhirnya, Daud berkata, “Terpujilah Tuhan karena Ia telah mendengar suara permohonanku.” (Ayat 6). Kesetiaannya untuk tetap berpengharapan kepada Allah membuahkan hasil dan Tuhan pun menjawab doanya.

    Sahabat,   apakah akhir-akhir ini  sedang mengalami persoalan yang cukup berat? Apakah Sahabat sekarang sedang bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak segera menjawab doa dan keluh kesahmu? 

    Yakinlah, Allah tidak pernah menutup telinga dan memalingkan wajah-Nya untukmu. . Kalau Sahabat belum menerima jawaban doa, hanya ada dua jawabannya, Sahabat bukan Anak Tuhan yang taat, atau Tuhan masih ingin melihat kesetiaan Sahabat seperti halnya Daud. 

    Maka bacaan kita pada hari ini ingin mengajarkan untuk tidak pernah berhenti berdoa. Maka janganlah terlalu cepat untuk menghakimi dan menolak Tuhan. Seberapa banyak dan berat persoalan kita, Tidak ada yang tidak bisa diselesaikan-Nya. Berharaplah pada Tuhan, maka Dia akan menolong kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan ajar aku untuk tidak berhenti berdoa dan berharap hanya kepada-Mu. (pg).

  • EXCELSIOR!

    Saudaraku,  Stan Lee merupakan seorang komikus legendaris Marvel yang selalu mengucapkan dan menuliskan satu kata di bagian penutup sesi wawancara : EXCELSIOR!.   Dengan Excelsior, Stan Lee menunjukkan optimisme dan daya juang dalam setiap karyanya yang terbukti mampu menjadi karya yang mendunia dan dicintai semua lapisan usia.  

    Tentunya cukup banyak orang tak asing dengan superhero ciptaan Stan Lee seperti Spiderman, Hulk, dan lain sebagainya.  Apa arti Excelsior yang sering diserukan Stan Lee?  Berasal dari Bahasa latin, Excelsior memiliki arti: TERUS NAIK, LEBIH TINGGI, TERUS NAIK LEBIH TINGGI. 

    Kitab Yesaya menuliskan dengan indahnya kondisi iman orang yang memercayakan diri kepada Allah.  Jika membaca dan merenungkan Yesaya 40:27-31, maka penulis Yesaya mengomentari  ucapan pesimis orang Israel yang meragukan perhatian dan perlindungan Tuhan di masa pembuangan.  

    Alih-alih pesimis, penulis Yesaya justru menuliskan bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan yang baru seumpama rajawali yang terbang tinggi.  Karakter rajawali dipakai untuk menjadi gambaran tentang KEKUATAN dan DAYA JUANG  yang TANGGUH.   Seekor rajawali tak gentar menghadapi badai dan bahkan ia mampu terbang lebih tinggi di atas awan badai itu untuk mendapatkan arus angin yang lebih tenang.  

    Dalam Gambaran Yesaya, orang Israel akan diberi kekuatan oleh Tuhan sehingga dalam kondisi terpuruk seburuk apa pun, ia akan tetap kuat untuk tetap “terbang” lebih tinggi hingga menemukan ketenangan pada akhirnya.

    Bagi seekor rajawali, badai hanya sebuah lapisan udara yang bila ia mampu menaklukkannya maka akan didapati lapisan ketenangan di atas badai itu. Excelsior!

    Kekuatan untuk terus naik dalam kehidupan dibutuhkan oleh setiap orang yang percaya, bukan untuk kebanggaan dan pencapaian  melainkan untuk melewati setiap permasalahan dalam kehidupannya.  Selama manusia hidup, masalah akan datang silih berganti dan manusia tak akan berhenti untuk memacu dirinya dengan target-target yang baru.  

    Namun manusia dibatasi oleh ambang batas kekuatan yang unik, yang mampu membuat mereka letih secara fisik dan mental, jasmani dan rohani.  Dalam keadaan krisis seperti inilah manusia perlu untuk menyadari bahwa mereka butuh kekuatan tak terbatas untuk memberikan semangat baru sehingga membuat mereka memiliki daya juang konstan untuk melewati lapisan masalahnya. 

    Saudaraku, itulah KEKUATAN TUHAN.   Hanya dengan memercayai Tuhan saja maka manusia akan mampu menembus lapisan masalah itu, terbang lebih tinggi untuk menikmati perlindungan dan pemeliharaan-Nya.  

    Mari beranikan diri untuk bersandar pada kekuatan Tuhan saat dalam masa kelam.  Percayalah lapisan masa sulit ini akan mampu ditembus dengan daya juang yang ditopang penuh oleh rasa percaya kepada Sang Khalik.  Mari terus naik lebih tinggi. EXCELSIOR!    Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • TAK TERDUGA

    Saudaraku, seorang ibu membuat satu dana khusus dalam pembukuan bulanan sederhana yang dibuatnya, yang dinamai dana tak terduga. Dana tak terduga dipakai untuk antisipasi kejadian yang tak masuk dalam rencana pengeluaran agar tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga.  Para murid Yesus pernah mengalami hal tak terduga dan untung saja Yesus hadir di situ sehingga mereka selamat.  Mari merenungkan Yohanes 21:1-14.

    Tidak ada lagi alasan untuk tetap berkumpul tanpa tujuan pasti.    Maka para murid mulai bergerak untuk kembali menjala, kembali ke profesi semula setelah kematian Yesus.  Namun keanehan demi keanehan mulai terjadi:

    Pertama, Mereka gagal mendapat ikan walau sudah semalaman berusaha. Sebagai nelayan professional, mereka mengenal benar Danau Galilea.  Tapi mereka gagal malam itu.  Mereka terjebak dengan situasi tak terduga,  bahkan ketrampilan dan pengalaman tak dapat menolong mereka.

    Kedua, Yesus hadir dan menyapa dengan panggilan “anak-anak” kepada para murid (Yohanes 21:5). Panggilan seperti itu bahkan tak pernah Yesus sampaikan saat Ia bersama mereka.  Yesus paham benar kalau para murid dalam keadaan khawatir tentang masa depan mereka sepeninggal Dia, maka Ia menyapa mereka seperti seorang Bapa kepada anak-anaknya.

    Ketiga, Konten pertanyaan Yesus tentang lauk pauk.  Yesus menampilkan sisi keibuan dengan menanyakan tentang makanan tambahan, pendamping makanan utama untuk memastikan rasa puas mereka.  Para murid mendengarkan perintah Yesus dan  Dia memberikan apa yang mereka cari, bahkan berlimpah ruah.  Sungguh aneh, mereka sudah mencarinya semalaman dan gagal namun Yesus memberi mereka dalam sekejap.

    Para murid belajar bahwa Yesus sanggup untuk memenuhi dan memelihara segenap kehidupan mereka, bahkan hal yang menjadi kebutuhan tambahan mereka maka mereka perlu untuk menjaga sikap ketaatan kepada-Nya.  Yesus menggenapi janji-Nya untuk memelihara mereka, maka mereka perlu untuk tetap respek dengan kehadiran-Nya.  Pengalaman mereka puluhan tahun tentang JALA MENJALA  tak membuat mereka mampu menghadapi saat TAK TERDUGA. 

    BEKERJA a itu sebuah KEHARUSAN  untuk memenuhi KEBUTUHAN, namun mendengarkan Tuhan dalam setiap usaha kita bukanlah hal yang mudah.  Segala pengalaman, kekuatan, kepandaian kadangkala tidak berguna saat menghadapi peristiwa yang tak terduga.  

    Saudaraku, bila Kristus selalu beserta dan ada sikap respek dari anak-anak-Nya, maka KEADAAN TAK TERDUGA  itu akan MENJADI BERKAT  bagi mereka.  Mari LIBATKAN KRISTUS  dalam KEHIDUPAN  agar HAL TAK TERDUGA  dapat dihadapi dengan KEPALA YANG TEGAK  karena Ia sendiri berkata, Sebab itu ingatlah; janganlah khawatir tentang hidupmu, yaitu apa yang akan kalian makan dan minum, atau apa yang akan kalian pakai. Bukankah hidup lebih dari makanan, dan badan lebih dari pakaian?” (Matius 6:25, BIS). Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)    

  • Break The Darkness

    Saudaraku, mari kita baca dan renungan Kejadian 1:3: Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

    Suatu kali saya dan 2 teman saya pernah terkunci di gudang dari perusahaan yang cukup besar. Saat itu saya dan teman saya tidak terlalu panik, karena memang itu jam makan siang. Saya berpikir mungkin gudang sengaja dikunci demi keamanan, tapi sayangnya mereka tidak mengecek lebih lanjut jika di dalam masih ada saya dan teman-teman, karena kami sedang stock dan input barang dari gudang. Kami berpikir, setelah jam makan siang pasti gudang akan dibuka kembali, dan sambil menunggu kami tetap melanjutkan untuk bekerja. 

    Namun setelah ditunggu sampai 3 jam, gudang tidak juga dibuka, kami sudah sedikit panik, karena 1 jam lagi, jam kerja kantor sudah berakhir. Tapi kami masih yakin, jika akan ada orang yang kembali ke gudang sebelum jam kantor berakhir. Namun ketika 5 menit lagi jam kantor akan berakhir, Gudang tetap belum terbuka. 

    Kami mulai panik, karena tiba-tiba listrik padam, sehingga tidak ada cahaya yang menyinari kami. Tentu saja pada saat kejadian ini terjadi, saya dan teman saya belum memiliki Handphone, sehingga kami tidak bisa menghubungi siapapun atau menyalakan senter di HP.

    Kepanikan mulai bertambah karena jam kantor benar-benar sudah selesai. Saya yang agak phobia dengan kegelapan, mulai merasa sesak nafas karena panik tidak bisa melihat sekitar. Saya mengajak teman saya untuk mencari pintu keluar, supaya kami bisa menggedor pintu, dan berharap ada orang yang mendengar dan membukakan pintu tersebut. 

    Bersyukur kejadian tersebut tidak berlangsung lama, karena 15 menit kemudian (disaat kami masih kesulitan mencari pintu keluar), ada seseorang yang tiba-tiba membukakan pintu untuk kami. Ya itu adalah atasan kami, yang sadar ketika kami tidak kunjung kembali ke ruang kantor bahkan setelah jam kantor berakhir. 

    Momen yang melegakan adalah ketika kami melihat pintu terbuka, dan saya secara pribadi melihat sinar masuk ke gudang, membuat saya merasakan ada kehidupan. Puji Tuhan akhirnya saya dan teman-teman dapat keluar dari gudang yang sangat gelap tersebut.

    Saat ini kita akan merenungkan bagian dari kisah penciptaan di Alkitab,  Allah berfirman, “Jadilah terang.” Kalimat singkat ini menyiratkan banyak hal. Sebelum terang diciptakan, bumi masih dalam keadaan kosong dan gelap. Dengan adanya terang, kegelapan pun tercerai-berai. Ini adalah momen pertama di mana Allah memperkenalkan keteraturan dan kejelasan di tengah-tengah kekacauan.

    Kejadian 1:3 mengingatkan kita bahwa Allah adalah sumber terang sejati. Terang ini bukan hanya tentang terang fisik, tetapi juga terang rohani dan moral. Dalam kehidupan,  kita sering mengalami saat-saat kegelapan: kegelapan dalam bentuk ketakutan, kebingungan, dosa, atau putus asa. Namun, kita diingatkan bahwa Allah mampu MEMBAWA TERANG  ke dalam setiap SITUASI KEGELAPAN  yang kita hadapi.

    Seperti cerita saya di awal. Saya terkunci ruangan yang benar-benar gelap. Tidak ada yang bisa dilihat, saya merasa tersesat serta bingung. Tetapi, saat pintu dibuka, meskipun sinarnya kecil (Karena juga sudah sore), sinarnya tetap bisa menerangi ruangan tersebut. Saya merasa lebih nyaman serta aman. Sinar tersebut adalah gambaran dari terang yang Allah berikan dalam hidup kita. Meskipun kegelapan terasa mencekam dan menakutkan, namun SECERCAH TERANG  dari ALLAJ  cukup untuk mengubah situasi yang terjadi dalam hidup kita.

    Perenungan :

    Adakah hari-hari ini kita sedang merasakan kegelapan menyelimuti hidup kita? Kita merasakan kesepian, karena orang-orang di sekitar meninggalkan kita sendiri? Atau kita sedang merasakan keputusasaan karena kita sedang banyak mengalami kegagalan dalam hidup kita? Atau justru kita sedang jatuh dalam dosa yang membuat diri kita merasa tidak berharga? 

    Percayalah bahwa TERANG ALLAH  mampu membawa kita kepada KEBENARAN,  MEMBERIKAN ARAH,  dan MENAWARKAN PENGHARAPAN.  Dengan mengingat ini, kita bisa yakin bahwa tidak peduli betapa gelapnya situasi kita saat ini, terang Allah akan selalu lebih kuat. Kita hanya perlu meminta-Nya untuk berbicara “Jadilah terang” ke dalam hidup kita, dan kita akan melihat bagaimana terang-Nya MENGUBAH KEGELAPAN  menjadi terang. 

    Pesan:

    Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  (Inthan). 

  • The Caring and Understanding God

    MAZMUR 27. Sahabat, manusia di dunia ini selalu berusaha mencari rasa aman. Namun, sesungguhnya tidak ada tempat yang betul-betul aman selain berlindung dalam naungan Tuhan yang Mahatinggi dan Mahakuasa (bnd. Mazmur. 91). 

    Melalui Mazmur 27  kita akan belajar betapa amannya tinggal dalam lindungan Tuhan yang Mahatinggi dan Mahakuasa. Dalam Mazmur 27 Pemazmur menggambarkan perlindungan TUHAN bagaikan Terang dan Benteng. Jika TUHAN menjadi Terang dan Benteng kita maka kita akan aman dari segala gempuran musuh kita. 

    Dalam Mazmur 27 Daud menyatakan bahwa ada banyak tantangan yang datang dari mana saja yang mungkin terjadi dalam kehidupan orang percaya.  Tantangan itu bisa datang dari orang-orang di sekitar yang berniat jahat untuk menjatuhkan dan menghancurkan kita  (Ayat 2);  masalah atau persoalan yang sedang terjadi dan kita alami  (Ayat 3);  ditinggalkan oleh orang-orang terdekat dan yang kita kasihi  (Ayat 10);  orang-orang yang iri dengki yang berusaha memfitnah kita  (Ayat 12) dan masih banyak lagi.  Sikap dalam menghadapi semua itu adalah harus tetap percaya kepada Tuhan dan terus bertekun mencari Dia.  

    Melalui Mazmur 27 kita juga belajar menghadapi pergumulan dengan melakukan nyanyian sukacita. Mengapa? Karena Pemazmur mengimani bahwa segala ancaman dan kebutuhan hidup ini akan diatasi oleh Tuhan sendiri. Pemazmur menyatakan Allah sebagai terang dan benteng keselamatan, dan kekuatan, maka tidak ada alasan baginya untuk merasa takut atau panik. Ketenteramannya tidak dengan syarat-syarat lahiriah, tetapi tanpa syarat.  

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: ”The Caring and Understanding God (Tuhan yang Peduli dan Memahami).” Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 27:1-14 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, hidup dalam ketidakpastian! Apakah saat ini Anda sedang mengalaminya? Sungguh, sangat tidak mudah menjalani kehidupan di mana segala sesuatu yang kita lihat hanyalah hamparan gurun pasir yang sangat luas dan tak berujung. Kita berdiam diri berdoa, namun tahun-tahun berlalu tanpa tanda jawaban. Akankah kita tetap berharap dan percaya bahwa Tuhan pasti akan bertindak pada saat dan waktu-Nya?

    Daud pernah mengalaminya. Apa yang bisa diharapkan dari seorang yang sehari-harinya tinggal bersama dua ekor kambing domba di padang rumput? Tetapi Daud belajar memahami maksud Tuhan di balik ketidakpastian itu. Daud belajar untuk sabar, setia dengan panggilannya, dan percaya bahwa suatu saat Tuhan akan mengangkatnya. Daud belajar percaya bahwa Tuhan akan mewujudkan impian-impiannya dalam waktu yang tepat. Ia barangkali berkata, “Tuhan, aku tahu Engkau memegang kendali. Walaupun aku tidak melihat apa pun sedang terjadi, Engkau sedang bekerja di belakang layar.” Syukur, di waktu yang tepat, Tuhan membawa Daud keluar dari padang itu dan mengurapinya menjadi raja Israel. Siapa sangka?

    Belajar dari Daud, meski kita tidak mampu memahami mengapa Tuhan tidak bersegera melepaskan kita dari sebuah keadaan yang tanpa kepastian, Tuhan ingin kita tetap setia, sabar, dan memegang erat janji-Nya. Ya, Tuhan sangat peduli dan memahami kehidupan kita. Dia merasakan kecemasan dan ketakutan kita. Bertahanlah untuk sedikit waktu lagi dan tetaplah setia! Di satu waktu yang telah ditentukan-Nya, Ia pasti bertindak. Dia tahu saat yang tepat untuk menolong dan mengangkat kita. Haleluya! Tuhan itu baik! Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam ketidakpastian, Tuhan menguji kesetiaan dan kesabaran kita untuk menantikan waktu-Nya. (pg)

  • Ketika Kepercayaan Hancur: Renungan dari Kisah Yudas

    Saudaraku, mari kita baca dan renungkan Yohanes 13:18 (TB-1): “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.”

    Di malam yang penuh kesyahduan, Yesus dan murid-murid-Nya duduk di sekeliling meja, berbagi roti dalam sebuah perjamuan yang akan dikenang sepanjang masa. Di tengah mereka, Yudas Iskariot, salah seorang dari yang terdekat dengan Yesus, menyembunyikan sebuah pengkhianatan di dalam hatinya. 

    Pengkhianatan ini, yang tak terduga dan menghancurkan, menjadi salah satu kisah paling memilukan dalam Injil. Ia mengkhianati Yesus, Sang Guru, demi 30 keping perak, memutar balikkan sebuah hubungan yang dibangun dengan cinta dan kepercayaan.

    Pengkhianatan Yudas bukanlah sekadar peristiwa sejarah; ia mencerminkan kenyataan pahit yang sering kita alami dalam hidup ini. Kepercayaan, sebuah fondasi yang begitu vital dalam setiap hubungan, bisa dihancurkan dalam sekejap. 

    Ketika seseorang yang kita percayai dengan sepenuh hati mengkhianati kita, luka yang ditimbulkan seringkali sulit sembuh. Ini adalah kenyataan yang kita temui di berbagai aspek kehidupan kita, dalam keluarga, di tempat kerja, bahkan dalam komunitas gereja.

    Di era modern ini, penghancuran kepercayaan sering kali terjadi dengan cara yang lebih halus namun tidak kalah menyakitkan. Dalam keluarga, misalnya, perselingkuhan atau ketidakjujuran finansial dapat menghancurkan kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. 

    Di tempat kerja, pengkhianatan dari rekan kerja atau pemimpin yang seharusnya menjadi panutan bisa merusak atmosfer kepercayaan dan kolaborasi. Di gereja, isu-isu seperti penyalahgunaan kekuasaan atau gosip bisa menyebabkan perpecahan yang mendalam, menghancurkan iman dan kepercayaan jemaat terhadap pemimpin rohani mereka.

    Kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga dalam hubungan manusia. Tanpa kepercayaan, hubungan menjadi rapuh dan rentan terhadap perpecahan. Ketika Yesus mengatakan bahwa salah satu dari murid-Nya akan mengkhianati-Nya, itu adalah peringatan tentang betapa berharganya kepercayaan itu dan betapa menyakitkannya ketika kepercayaan tersebut dihancurkan. Yudas adalah bukti tragis dari kenyataan ini.

    Namun, dari kisah ini, kita juga belajar tentang panggilan kita sebagai orang Kristen untuk menjaga dan memulihkan kepercayaan. Di tengah dunia yang sering kali penuh dengan pengkhianatan, kita dipanggil untuk hidup dengan integritas, menjadi teladan dalam menjaga kepercayaan. Di gereja, kita harus menghindari gosip, fitnah, dan segala bentuk manipulasi yang bisa merusak komunitas iman. Dalam keluarga, kita harus menjaga kesetiaan dan kejujuran, menjadi batu karang yang kokoh di tengah badai kehidupan. 

    Di tempat kerja, kita dipanggil untuk bekerja dengan jujur dan profesional, membangun lingkungan yang mendukung dan saling percaya. Ketika kepercayaan dihancurkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga oleh pelaku. 

    Yudas, setelah mengkhianati Yesus, akhirnya memilih jalan yang tragis karena rasa bersalah yang begitu dalam. Kisahnya adalah peringatan bagi kita semua bahwa setiap tindakan kita memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.

    Saudaraku, oleh karena itu, mari kita renungkan pentingnya menjaga kepercayaan dalam setiap aspek kehidupan kita. Mari kita hidup dengan ketulusan, menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepada kita, dan membangun hubungan yang kuat dan penuh kasih. 

    HANYA dengan MENJAGA KEPERCAYAAN,  kita dapat menciptakan DUNIA YANG LEBIH BAIK,  penuh dengan CINTA, dan saling PENGERTIAN. (EBWR).

  • Integrity of the Believer

    MAZMUR 26. Sahabat, Mazmur 26 diawali dengan permohonan Daud agar ia menerima keadilan. Mungkin saat itu ia difitnah oleh musuh-musuhnya, sehingga ia memohon agar Tuhan membersihkan nama baiknya.

    Maka tidak mengherankan jika dalam beberapa ayat berikutnya, Daud menyatakan bahwa dirinya akan tetap hidup dalam kebenaran, bahkan bersedia diuji dan diselidiki oleh Tuhan (Ayat 2).

    Daud juga menyatakan bahwa ia tidak duduk dengan penipu dan orang fasik. Ia tidak bergaul dengan orang munafik dan ia membenci perkumpulan orang jahat (Ayat 4-5). Komitmen Daud untuk hidup benar bukan sekadar perkataan karena ia melakukan apa yang menjadi komitmennya. Salah satu bukti nyatanya adalah ia menjaga lingkaran pertemanannya. Di tengah lingkungan yang hidup dalam kejahatan dan dosa, ia memilih untuk tetap hidup saleh dan menyembah Tuhan (Ayat 6-7).

    Syukur kepada Tuhan hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Integrity of the Believer (Integritas Orang Percaya)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 26:1-12. Sahabat, ada perbedaan yang cukup mencolok antara orang sombong dengan orang jujur. Kesombongan berangkat dari keinginan pribadi untuk mendapatkan hormat atau sanjungan dari orang lain. Sedangkan kejujuran berangkat dari ketulusan dan kelurusan hati tanpa ada motivasi mencari keuntungan. Motivasi utama dari kejujuran adalah cinta akan kebenaran dan kerinduan agar kebenaran itu diungkapkan dengan nyata.

    Sahabat, Mazmur 26 bukanlah mazmur yang ditulis dengan motivasi kesombongan. Daud menuliskan mazmur ini dari kesadaran bahwa ia membutuhkan pembebasan dan belas kasihan Tuhan (Ayat 11). Kesadaran akan anugerah ini membawanya kepada cinta dan kerinduan akan rumah Tuhan (Ayat 8) serta komitmen untuk hidup dalam ketulusan dan iman tanpa keraguan (Ayat 1). 

    Daud tidak merasa dirinya suci dan saleh seolah-olah ia tidak pernah melakukan dosa. Sebaliknya, ia menyandarkan diri kepada pengampunan dan karya Allah dalam membentuk dan menuntunnya (ayat 1-7 dan  11). Sebab, Daud menyadari bahwa Allah adalah Allah yang Mahatahu. Karena itu, ia membuka dirinya untuk diuji dan diselidiki oleh Allah (Ayat 1-3). Dia menegaskan bagaimana dirinya menjauhi pergaulan dan perkumpulan orang-orang yang berbuat jahat dengan cara menceritakan kemuliaan Allah (ayat 4-7). Ia mengakhiri mazmurnya dengan menegaskan kerinduan hatinya akan rumah Tuhan (Ayat 8-12).

    Ketika Allah berkarya dalam diri manusia, Ia bukan hanya memberikan status yang baru kepada mereka (Yohanes 1:12). Ia juga memberikan kepada mereka cara pandang yang baru (2Korintus 5:16) dan selera hidup yang baru (Mazmur 26:3-8). Allah menginginkan setiap umat-Nya hidup dalam kekudusan (1Tesalonika 4:3). Kerinduan ini masih berlaku sampai hari ini.

    Integritas orang percaya tidak dibangun atas keberhasilan dan kemampuan manusia, melainkan semata-mata oleh karya Allah dalam iman. Marilah kita menghidupi iman dengan berkomitmen kepada kebenaran dan kekudusan demi kemuliaan Allah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang menjaga lingkaran pertemanan kita?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kiranya komitmen Daud juga menjadi komitmen kita untuk terus menjaga hidup yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan. (pg).

  • TAK HANYA SETENGAH

    Pemahaman iman yang setengah itu sungguh berbahaya.  Itulah yang terjadi pada para murid Yesus  sehingga mereka begitu pesimis walau mereka menjadi pengikut Sang Guru yang adalah Tuhan.  Mari renungkan Yohanes 20:1-10.

    Para murid yang berlarian ke kubur  setelah diberitahu oleh Maria Magdalena tentang lenyapnya jasad Sang Guru, termangu melihat kubur itu kosong dan hanya tersisa kain kafan.  Mereka tak pernah menyangka kalau jasad Yesus bisa hilang.  

    Siapa yang mengambilnya?  Tak ada orang Yahudi yang mau menjamah jenazah karena najis.  Itulah sebabnya para murid tidak memercayai ucapan Maria, namun setelah melihat kenyataan itu mereka percaya kepada Maria bahwa Sang Guru telah lenyap.  Petrus dan Yohanes yang menyaksikan hanya tahu bahwa jasad Yesus hilang.  Itu sungguh menyedihkan.  Maria Magdalena bahkan tak sanggup kembali ke rumah tempat mereka berkumpul dan meratap di taman itu. 

    Mereka tak pernah berpikir bahwa jasad itu hilang karena Yesus sudah bangkit.  Benar-benar tak terpikir oleh mereka.  Penulis Yohanes menyertakan satu ayat yang memberi keterangan: Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati (Yohanes 20:9). Senada dengan Injil yang lain, Yohanes menjelaskan bahwa para para murid juga tidak memahami pesan Guru bahwa Ia akan bangkit di hari ketiga setelah kematian-Nya.  

    Menemani Yesus siang dan malam tak menjamin para murid paham terhadap perkataan-Nya.  Mereka mendengarkan pengajaran-Nya namun tak memahami pesan-Nya.  Pemahaman iman mereka HANYA SETENGAH  dan berhenti di situ saja.   SETENGAH PAHAM  itulah yang membuat mereka punya respons negatif saat Yesus menjumpai mereka kembali, antara lain Maria mengira Dia penjaga taman, Thomas ingin memegang luka di tubuh-Nya dan para murid bertanya-tanya tentang lelaki yang memberi petunjuk untuk menebarkan jala.  

    Betapa pentingnya menjadi seorang murid sejati yang tak hanya berada di dekat dan di sekitar gurunya melainkan MEMAHAMI APA YANG DIINGINKAN.  Mengikut Yesus tak bisa setengah-setengah, maka Yesus mengatakan kalau mau mengikut-Nya seseorang harus meninggalkan segalanya untuk fokus kepada-Nya (Lukas 18:29).  

    Karena setengah paham inilah, mereka berada dalam kemuraman dan ketakutan bahkan kehilangan harapan di tengah keadaan yang susah.  Mereka tak berani memandang kehidupan karena tak belajar untuk melengkapi ‘puzzle’ pesan Yesus.  

    Saat ini kehidupan makin kompleks dan tantangan makin berat.  Banyak orang meninggalkan iman dalam Kristus dan keluar meninggalkan-Nya.  Inilah realitas kehidupan dan dibutuhkan IMAN YANG TAK HANYA SETENGAH  untuk dapat bertahan tanpa meninggalkan panggilan-Nya.  

    Saudaraku, iman yang terus belajar, makin diperlengkapi dan makin kuat untuk bertahan dan terus setia dalam panggilan-Nya. Mari terus belajar makin mengenal Dia dan makin dilengkapi sehingga makin kuat berakar dalam iman percaya dan bertahan dalam kasih karunia-Nya. JANGAN SETENGAH-SETENGAH  dalam mengikut Yesus.  TERUSLAH BELAJAR.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Keep Trusting God in Difficult Times

    JALAN TUHAN. Sahabat, bagi orang-orang percaya segala jalan Tuhan adalah kasih dan kebenaran. Di dalam jalan-Nya ada cinta yang hangat, kasih yang memulihkan dan memuaskan hasrat kita, dalam kasih-Nya ada kesetiaan kepada kita. Orang yang siap menerima hadirat Allah setiap hari, akan mengalami Tuhan dan berkobar sepanjang waktu. Firman Tuhan menjamin, barangsiapa berpegang pada perjanjian dan peringatan-Nya, maka dia akan mengalami jalan Tuhan yang penuh kasih setia dan kebenaran.

    Jalan kasih setia adalah jalan yang diberikan oleh TUHAN kepada manusia yang penuh dengan kasih setia. Jalan ini diberikan sebagai wujud kasih setia ALLAH. Wujud perhatian dan pembelaan ALLAH kepada orang-orang yang berpegang pada perjanjian ALLAH dan peringatan-peringatan-Nya. 

    Mengapa kasih setia harus diberikan? Karena tidak banyak orang yang tetap berpegang kepada jalan TUHAN. Jalan TUHAN seakan adalah beban. Jalan TUHAN seakan adalah tidak sesuai dengan kebutuhan. Jalan TUHAN adalah seakan tidak sanggup memberikan solusi atas persoalan-persoalan hidupnya, sehingga mereka lebih suka memilih jalan sendiri. 

    Segala jalan TUHAN adalah kasih setia. Artinya tidak ada malapetaka di dalam jalan TUHAN. Tidak ada kecelakaan atau kehancuran di dalam jalan TUHAN. Meski sering jalan TUHAN susah dimengerti dengan akal sehat. Kadang jalan TUHAN tidak sanggup kita mengerti. Tetapi apa pun yang terjadi, Firman TUHAN menyatakan bahwa segala jalan TUHAN adalah kasih setia. 

    Pengalaman hidup kita bercerita bahwa  tidak mudah memahami dan mengerti jalan-jalan Tuhan itu, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”  (Yesaya 55:8-9). 

    Karena tak mampu memahami jalan Tuhan, kita seringkali memaksa Tuhan untuk mengikuti kemauan, kehendak dan rencana kita, tetapi kita sendiri tidak mau mengikuti jalan-jalan Tuhan. Jalan Tuhan itu kadang sulit untuk dimengerti dan serasa tidak masuk akal.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Keep Trusting God in Difficult Times (Tetap Percaya Tuhan di Masa Sukar)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 25:1-22. Sahabat, pepatah lama  mengatakan, “Sudah jatuh, tertimpa tangga pula”, kira-kira seperti itulah gambaran kondisi Daud. Dalam Mazmur 25, Daud berhadapan dengan orang-orang yang membencinya (Ayat 2, 19). Ia juga merasa kesepian dan menderita (Ayat 16). Ia berada dalam kondisi terdesak (Ayat 17). Ia sengsara dan mengalami kesukaran karena dosa (Ayat 18).

    Bila kita mengalami seperti yang dialami Daud, kita mungkin akan putus asa, mengeluh, bahkan marah kepada Tuhan. Namun menariknya, Daud tidak merespons seperti itu. Ia memilih berdoa dan tetap percaya Tuhan di tengah kesukarannya. Perhatikan cara Daud menyatakan kepercayaannya kepada Tuhan: Kuangkat jiwaku (Ayat 1), kepada-Mu aku percaya (Ayat 2), Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari (Ayat 5), mataku tetap terarah kepada Tuhan (Ayat 15), aku berlindung kepada-Mu (Ayat 20), aku menanti-nantikan Engkau (Ayat 21).

    Mengapa Daud tetap percaya Tuhan di masa sukar? Karena ia mengenal Allahnya. Ia mengenal bahwa Allah adalah penyelamatnya (Ayat 5), penuh rahmat dan kasih setia (Ayat 6), yang memberi kebaikan (Ayat 7), yang bergaul dekat dengan orang yang takut akan Dia (Ayat 14), yang peduli pada sengsara umat-Nya (Ayat 15-20). Kepada Tuhan yang demikian, Daud berseru. Oleh karena itu, di tengah kesesakannya, Daud mencari Tuhan (Ayat 4), terbuka pada ajaran-Nya (Ayat 5), memohon pengampunan-Nya (Ayat 7, 11), dan berharap pada penghiburan dan kekuatan-Nya (Ayat 16-19).

    Meski situasi hidup menyesakkan dada, tetapi Daud tetap percaya bahwa Allah akan menolong. Bahkan kepercayaan itu membuat Daud berseru kepada Tuhan untuk membebaskan umat Israel dari segala kesesakannya (Ayat 22).

    Sahabat, dalam menjalani hidup, pengenalan kita terhadap firman-Nya dan pengalaman kita bersama-Nya akan memupuk kepercayaan dan kasih kita kepada-Nya. Nantikanlah Tuhan dan tetaplah percaya pada-Nya dalam segala keadaan, karena Dialah Allah Penyelamat kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Jalan Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berjalanlah dalam jalan Tuhan maka kita akan menikmati kasih setia- Nya. (pg).